Sequel : YOUR WOLRD [ Into Your World Part 2 - END] BaekYeol / ChanBaek

Annyeong chingudeul ~

Maaf terlalu lama menunggu ya..

Pokoknya bagaimanapun akhirnya aku mau REVIEW yah

Komen komen komennnn~

Aku g tau deh bakal gimana .-.

Lanjut aja ke FF yah~ tarik mang!!

 

INTO YOUR WORLD

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

 

 

CHANBAEK/ BAEKYEOL

 

 

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun

 

Other : Lu Han – Kyungsoo / D.O – Kim Jongin 

 

Genre : Action, Drama, Angst, Psycho, Blood, Romance

 

Disclaimer: EXO belong to themselves. 

 

WARNING : FOR 15+

 

THIS FF IS YAOI / BL/ BOY X BOY

 

 

Tangkap aku jika kau mampu

Buat aku terhanyut dalam duniamu

Biarkan ciumanmu membuatku mabuk

 

Jangan pikir aku bisa kau perdaya semudah itu

 

Jika kau menginginkanku..

Belahlah dunia

 

Buat aku takjub dan terhenti.. didalam jaring cintamu

Buat aku merasakan indahnya sentuhanmu

Karena aku…

Tidak akan semudah itu hanyut dalam kisahmu

 

 

 

PART 2

 

Baekhyun baru saja siap berbenah. Pagi ini ia akan pergi bersama Chanyeol kemarkas utama Mafia besar di Jepang itu.  

Seperti yang dikatakan Chanyeol, Baekhyun diawasi 24 jam oleh matanya dan… Baekhyun harus menerima itu dengan lapang dada.

Bukankah perangai Baekhyun sendiri yang membuat Chanyeol semakin sulit meninggalkannya sendirian?

 

Perban ditubuh Baekhyun baru saja diganti oleh salah satu geisha yang bekerja dirumah Chanyeol. Penampilan Baekhyun benar- benar sudah rapi dan siap untuk pergi.

Chanyeol tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya kepada Baekhyun yang kini sedang duduk ditepi ranjang Chanyeol. Sosok tinggi Chanyeol memang sangat tampan jika berbaut dengan pakaian resmi namun casual.

 

“Ayo pergi..”

 

Baekhyun menatap uluran tangan Chanyeol kemudian tersenyum sinis. “Kau pikir aku tidak bisa berjalan sendiri?”

 

Chanyeol menghela nafas pelan dan menarik kembali tangannya dari Baekhyun. Masih diposisi masing- masing kedua namja itu saling menatap tajam. Bagaikan bilah pedang yang siap bertemu kapan saja.

 

“Kurasa tidak seharusnya kau mengintimidasiku seperti ini.” ujar Chanyeol dengan nada suara datar.

 

“Mengintimidasi? Oh ya?” nada suara Baekhyun terdengar sangat meremehkan.

 

Seketika itu Baekhyun berdiri dihadapan Chanyeol dengan senyuman sinis luar biasa. “Akan kubuat kau menyesal karena membiarkan aku hidup, tuan Park!”

 

Chanyeol membulatkan matanya melihat perubahan sikap Baekhyun. Hey! Baekhyun yang ia tahu adalah Baekhyun yang lemah dan selalu menangis ketakutan.

 

Sejak kapan sikap Baekhyun berubah seperti ini?

 

Namun bukannya marah.. senyuman mantap terlukiskan dibibir tebal Chanyeol. Perlahan ia peluk pinggang kurus Baekhyun dan menarik tubuh mungil itu lebih dekat dengan tubuhnya hingga tidak ada ruang yang memisahkan tubuh mereka.

 

Baekhyun membulatkan matanya saat Chanyeol meresapi aroma tubuh Baekhyun yang wangi dan manis. Hidung mancung Chanyeol menyentuh kulit yang tepat berada dibelakang telinga Baekhyun.

 

Baekhyun mencengkram lengan baju Chanyeol dan menggigit bibir bawahnya. “Le..Lepaskan aku!”

 

Chanyeol tersenyum tipis dan membuka pelukannya pada tubuh Baekhyun yang kini sudah menjauh selangkah dari dirinya. Tatapan mata Chanyeol kembali membuat nyali Baekhyun sedikit ciut. Padahal ia sudah bertekad tidak akan terlihat lemah lagi didepan Chanyeol.

 

“..kau cantik sekali.”

 

 

DEG

 

 

Ucapan Chanyeol membuat pipi Baekhyun merona merah. Tidak.. ini bukan kali pertamanya hati Baekhyun berdebar mendengarkan ucapan tajam sang namja tampan yang kini menjadi tuannya itu.

Namun harga diri masih menjadi penghalang Baekhyun untuk mengakui sedikit rasa kagumnya pada tampan itu.  

 

Sekali lagi… Chanyeol mengulurkan tangannya pada Baekhyun dan kini Chanyeol tersenyum dengan begitu manis.

 

Mata Baekhyun membulat sempurna melihat senyuman itu. Senyuman manis Chanyeol yang baru saja ia lihat.. sangat manis dan terkesan begitu kuat. Baekhyun menunduk perlahan kemudian melirik tangan Chanyeol yang masih mengarah padanya.

 

Sedikit ragu Baekhyun menyambut uluran tangan Chanyeol.

 

Melihat Baekhyun yang menyambut uluran tangannya, Chanyeol sedikit terhenyak. Walau ekspresi wajahnya datar dan nampak kembali dingin. Bisa dirasakan oleh Baekhyun gejolak hati Chanyeol yang mengalir melalui genggaman tangan yang menghubungkan mereka.

 

“Ayo berangkat.” Ujar Chanyeol cepat.

 

 

>>> 

 

 

Chanyeol memakaikan mantel kulit berwarna putih bersih pada Baekhyun. Disekitar kerah mantel itu nampak bulu halus yang memberi kesan hangat dan indah. Cocok sekali dengan kulit bening Baekhyun.

 

 

Klek

 

 

Dengan penuh sopan santun, Lay membukakan pintu mobil untuk Baekhyun dan Chanyeol.

 

“..Te..rima kasih.” Ucap Baekhyun pelan pada Lay kemudian masuk kedalam mobil.

 

Sebelum masuk kedalam mobil, tatapan mata Chanyeol seakan mengatakan sesuatu pada Lay. Mengerti akan maksud Chanyeol, Lay melihat kesekitar pekarangan rumah kemudian mengangguk pelan.

 

“Akan saya laksanakan, Chanyeol-nim.”

 

Lay berjalan masuk kedalam rumah keluarga Mafia tersebut dan Chanyeol tersenyum meremehkan. “Kau pikir aku tidak bisa mencium keberadaanmu..KAI..”

 

Chanyeol masuk kedalam mobil dan duduk disamping Baekhyun yang kini terdiam. Chanyeol mengambil tablet nya kemudian terlihat beberapa pesan masuk.

 

Seketika itu Chanyeol membuka pesan yang ternyata adalah video CCTV keadaan diluar rumahnya.  Video itu baru saja dikirim oleh Lay dari ruang monitor. Mata Chanyeol meneliti setiap detik putaran Video itu hingga ia menemukan sebuah petunjuk. Senyuman menyeramkan kembali terlihat dibibir tebal Chanyeol.

 

Baekhyun menelan kasar salivanya melihat perubahan ekspresi wajah Chanyeol.

 

 

“Xiumin.. biar aku yang mengendarai  mobil kali ini. Kau duluan saja ke Markas utama dengan mobil lain.” Tegas Chanyeol.

 

“Baik, Chanyeol-nim.”

 

Xiumin mengangguk pelan dan keluar dari mobil itu. Chanyeol kemudian duduk dikursi kemudi membiarkan Baekhyun duduk dibangku belakang. Sebenarnya Baekhyun ingin bertanya namun ia urungkan niatnya karena ia tidak terlalu tertarik dengan urusan Chanyeol.

 

 

Tanpa menunggu waktu lebih lama, Chanyeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Baekhyun hanya menatap santai keluar jendela, belum membaca situasi yang kini sebenarnya tidak sesantai itu. Mobil Xiumin berada paling depan sedangkan mobil Chanyeol tepat dibelakang mobil Xiumin.

 

Setelah kedua mobil mewah itu keluar dari gerbang besar yang dijaga oleh bawahan Chanyeol, seketika itu Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Baekhyun mengerutkan dahinya dan sedikit bingung karena mobil yang Chanyeol kendarai berpisah arah dengan mobil yang Xiumin kendarai.

 

Mobil Chanyeol berbelok arah sedangkan mobil Xiumin terus melaju lurus kedepan. Chanyeol kali ini membawa mobil itu dengan kecepatan sangat tinggi. Baekhyun harus memegang ujung bangku menahan tubuhnya agar tidak terombang ambing.

 

Baekhyun mengerti kalau Chanyeol memutar arah kembali kerumahnya. Namun.. untuk apa?

 

Kecepatan mobil Chanyeol berkurang saat mobil itu sampai disalah satu sisi tembok pagar rumahnya yang lumayan tertutup. Chanyeol kembali melihat tablet-nya dan kini wajah Chanyeol berubah penuh dengan amarah.

 

Baekhyun melihat Chanyeol mengambil pistol dari dalam saku mantelnya. Wajah Baekhyun memucat karena melihat pistol itu. Apa Chanyeol akan menembaknya disini? Oh Tuhan…

 

Jantung Baekhyun berdetak begitu cepat.

 

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan menatap Baekhyun yang kini terdiam diposisinya. “Kau tunggu disini. Jangan pernah mencoba untuk kabur, jika kau tidak mau sebelah kakimu kupatahkan. Mengerti?”

 

Ancaman Chanyeol berhasil membuat Baekhyun merinding. Tanpa suara Baekhyun menjawab ucapan Chanyeol dengan anggukan cepat.

 

“Bagus.”

 

Chanyeol membuka pintu mobilnya dan langsung berlari keluar. Ada sedikit kelegaan didalam hati Baekhyun saat ia tahu kalau Cahnyeol tidak akan membunuhnya disana. Mungkin pikiran Baekhyun jadi sedikit berlebihan. Ia jadi sangat paranoid jika melihat pistol.

 

 

“Eh? Itu KAI?”

 

Baekhyun membulatkan matanya saat menyadari kalau Kai dan adik laki- laki Chanyeol kini terlihat berpelukan diluar sana dan Chanyeol berlari kearah mereka. Baekhyun melirik tablet yang ada dibangku kemudi. Terlihat disana adegan yang kini terpampang diluar mobil.

 

Baekhyun memegang ujung kursi mobil itu dengan erat. Chanyeol benar- benar menyeramkan.. matanya dimana- mana. Chanyeol seakan tahu apapun yang tersembunyi dibelakangnya. Dan Baekhyun merasa kalau Chanyeol benar- benar menguasai hidupnya.

 

Entah mengapa Baekhyun yakin.. Chanyeol tidak akan pernah melepaskannya lagi. Tidak akan..

 

Dan itu menakutkan.

 

Sangat.

 

 

Baekhyun melihat Chanyeol mengarahkan pistol pada Kai. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena Baekhyun berada didalam mobil, ia memutuskan untuk mengamati Chanyeol, Kai, dan adik lelaki Chanyeol dari tablet milik Chanyeol. Walau terdengar samar, suara Chanyeol terdengar dari tablet itu.

 

-“BRENGSEK! JAGA BICARAMU!”- Teriak Kai marah.

 

 

-“Kau pikir malam itu aku memperkosanya? Tidak, KAI! Aku tidak sepicik itu. Luhan bisa masuk kedalam rumahku karena kau berurusan denganku atas ikatan pekerjaan. Dia memanfaatkanmu agar bisa masuk kerumahku dan menemuiku.”-

 

 

Baekhyun mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Chanyeol.

 

Baekhyun mengambil tablet milik Chanyeol agar ia lebih fokus mengamati kedua namja yang kini sedang bersitegang.

 

Masih bingung, Baekhyun dikejutkan oleh sosok adik lelaki Chanyeol yang pingsan.

 

 

-DOOORRR-

 

 

Nafas Baekhyun kembali tertahan saat melihat Chanyeol menembakkan pistolnya pada Kai. Tangan Baekhyun bergetar hebat.

 

-“Baekhyun! Keluar!!”-

 

Teriakan Chanyeol terdengar dari tablet itu. Dengan tangan gemetaran Baekhyun melepas mantel bulu putihnya kemudian keluar dari mobil dan berlari kearah adik lelaki Chanyeol. Baekhyun sendiri tidak tahu mengapa ia begitu menurut pada ucapan Chanyeol.

 

Lengan Baekhyun masih terluka dan itu mempersulit gerakannya.

 

Baekhyun menahan sakit dilengannya saat membopong tubuh Kyungsoo. Sekilas Baekhyun menatap Chanyeol yang masih membidik Kai. Sosok Chanyeol terlihat seperti malaikat pencabut nyawa dimata Baekhyun.

 

Semakin menyeramkan dan.. menakutkan.

 

 

 

Dengan tangan yang gemetaran Baekhyun membuka pintu mobil dan membaringkan tubuh Kyungsoo dengan hati- hati dibangku belakang. Baekhyun kembali masuk kedalam mobil dan memangku kepala Kyungsoo. Wajah namja manis itu terlihat sangat pucat.

 

“Apa yang harus aku lakukan!” Baekhyun tidak mengerti bagaimana cara menangani orang pingsan. Sedikit panik Baekhyun mengambil tissue yang berada didekatnya dan mengusap keringat yang berada dipelipis Kyungsoo.

 

 

-“Aku jatuh cinta padanya dan aku benar- benar ingin menyelamatkannya. Namun.. Yang ia lakukan bermain belakang dengan bawahanku. Kris, Sehun… Entahlah. Aku tidak bisa mengatakan satu persatu. Dan yang paling aku sesalkan.. ia benar- benar jatuh cinta pada Sehun.”-

 

 

 

Baekhyun kembali mendengar perkataan Chanyeol. Sebenarnya apa yang sedang Chanyeol katakan? Mengapa.. rasanya hati Baekhyun sedikit ngilu?

                                                                           

 

 

-“Se..Sehun?”-

 

 

 

- “Aku membunuh Sehun didepan matanya dan mengusir Luhan keluar dari rumahku.” - lanjut Chanyeol.

 

 

DEG

 

Mata Baekhyun membulat sempurna mendengar ucapan Chanyeol. Membunuh.. ya.. Chanyeol tipe namja yang seperti itu, bukan?

Nyawa orang lain hanyalah mainannya.

 

Dengan mudah Chanyeol merenggut nyawa orang lain yang ia anggap tidak berguna.

 

Bukankah Baekhyun sudah melihat sendiri bagaimana mudahnya Chanyeol merenggut nyawa orang lain?

 

 

“ya..Tuhan..” Baekhyun merasakan tubuhnya gemetaran. “Apa .. Chanyeol akan membunuh KAI? Apa… apa yang harus kulakukan..” Mata Baekhyun sudah tidak fokus.

“Apa yang… apa gunanya aku disini? Apa yang harus kulakukan?!” Baekhyun nampak sangat kebingungan.

 

 

Cukup lama pergulatan didalam hati Baekhyun berlangsung, sampai akhirnya lamunan Baekhyun disadarkan oleh pintu mobil yang terbuka.

 

 

Terlihat Chanyeol membantu Kai untuk duduk dibangku depan. Kaki Kai nampak berlumuran darah. Setelah itu Chanyeol berlari menuju pintu mobil tempat kemudi dan langsung menghidupkan mesin mobilnya setelah ia masuk.

 

Sebenarnya Baekhyun tidak mengeti.. setelah Chanyeol menembak Kai, mengapa kini Chanyeol menolong Kai?

 

 

Tapi pikiran Baekhyun kini tidak terpatok pada hal itu. Baekhyun menelan kasar liurnya. Chanyeol sudah mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Sesekali Baekhyun menangkap tatapan mata Chanyeol yang terlihat dari kaca spion kearahnya. Dengan tangan yang masih gemetaran, Baekhyun memeluk kedua lengannya.

 

Ketakutan..

 

Sekali lagi… Baekhyun melihat sosok Chanyeol dengan perasaan takut luar biasa.

 

 

 

>>> 

 

 

Setelah sampai dirumah sakit, Kai dan Kyungsoo langsung mendapat penanganan medis. Kini Baekhyun tengah duduk disalah satu bangku tunggu rumah sakit. Walau Chanyeol tidak bersamanya, tentu Baekhyun tidak dibiarkan sendirian oleh Chanyeol. Lay, kaki tangan kepercayaan Chanyeol kini mengawasi Baekhyun dengan sangat intens.

 

Awalnya Baekhyun merasa tidak nyaman, walau akhirnya ia pasrah saja dipandangi tanpa berkedip oleh namja yang tidak kalah manis itu.

 

 

 

“..Ja..jangan pandangi aku seperti itu.” Ucap Baekhyun ragu pada akhirnya.

 

“Maaf.. apa anda takut, Baekhyun-nim. Maafkan saya.” Lay menunduk sopan.

 

“Bu..bukan begitu… tidak usah terlalu sopan padaku, Lay-sshi.. aku jadi tidak enak.” Baekhyun tersenyum segan.

 

“Pasti anda takut pada saya karena beberapa kali saya menyuntikkan obat bius pada anda, Baekhyun-nim.”

 

“Ani.. aku tahu kalau itu suruhan namja gila itu.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

 

“Na..namja gila?”

 

“Benar. Apa dia psycho, oeh? Seenaknya membeli orang lain. Dan.. kadang aku merasa dia sedikit tidak waras. Kau pasti juga berfikir seperti itu, kan?”

 

Lay nampak tersenyum segan. “..maafkan saya, Baekhyun-shhi.” Tatapan Lay kemudian beralih pada sosok yang ada tepat dibelakang Baekhyun.

 

 

“Sudah puas menghinaku?”

 

 

GLEK!

 

Baekhyun menelan kasar salivanya. Lay berdiri dan menunduk sopan kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun dan.. Chanyeol.

Merasa terancam, Baekhyun menunduk saat Chanyeol berdiri dihadapannya.

 

 

“Jadi didalam pikiranmu aku ini orang gila?”

 

Baekhyun diam tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dengan suara yang terkesan sangat dingin dan menyeramkan. Seakan namja tampan itu bisa menelan tubuh Baekhyun bulat- bulat. Chanyeol memang pandai sekali mengintimidasi orang lain.

 

GREP

 

 

Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar tubuh mungil itu berdiri. Baekhyun masih menunduk dan belum berani menatap wajah Chanyeol. Seberapapun tampannya setan yang membelinya itu, Baekhyun pasti akan selalu ketakutan jika itu menyangkut soal Chanyeol.

Hal itulah yang membutakan mata hati Baekhyun tentang apa yang sebenarnya ia rasakan tentang Chanyeol.

 

 

“Hari ini aku ada transaksi dengan bandar narkoba Amerika. Aku harap kau menurutiku jika tidak mau orang- orang itu mengusikmu.”

 

 

Baekhyun mendongakkan wajahnya dan mengangguk pelan. “B..Baik.. tapi.. haruskah kau membawaku? Lebih baik aku disini saja menjaga .. adikmu.”

 

Chanyeol tersenyum sinis. “Jangan harap kau bisa menipuku, Baekhyun. Sudah kukatakan padamu aku yang akan mengawasimu 24 jam hingga kau jengah.”

 

Baekhyun kembali menunduk. Wajah Baekhyun pucat dan tangannya gemetaran. Chanyeol bisa merasakan getaran tangan Baekhyun. Chanyeol menghela nafas pelan kemudian dengan salah satu tangannya yang bebas mengusap rambut Baekhyun pelan.

 

 

“Aku bukan monster hingga harus kau takuti seperti ini.”

 

 

Bisikan lirih yang baru saja terlontarkan dari bibir  Chanyeol membuat Baekhyun kembali mendongakkan wajahnya, menatap lekat wajah tampan Chanyeol yang masih terkesan sangat dingin.

 

Dingin… kaku… seakan tidak pernah menyentuh kasih sayang. Kesan wajah Chanyeol dimata Baekhyun. Kesan yang membuat Baekhyun enggan menatap wajah Chaneyol lebih lama.

 

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Baekhyun dengan lembut namun begitu kuat. Baekhyun kembali berfikir…

 

Sebenarnya..

 

Chanyeol itu… orang seperti apa?

 

Mengapa… kini Baekhyun merasa penasaran dengan namja yang membelinya itu?

 

 

>>> 

 

 

Mobil Chanyeol terhenti disebuah gudang yang cukup terisolir dan jauh dari ibu kota Tokyo. Jepang memang negara yang penuh dengan tipu muslihat. Dibalik kedamaian yang terasa dinegara itu. Organisasi gelap menjalar bagaikan akar terpanjang. Begitu kuat dan terstruktur dengan rapih. Tanpa celah dan menghanyutkan.

 

TAP

 

Chanyeol keluar dari mobilnya dan membuka kaca mata hitamnya. Beberapa mobil pengawal Chanyeol sudah terparkir beruntun dibeberapa tempat. Baekhyun menelan liurnya dan belum mau keluar dari mobil. Seakan jika ia keluar dari mobil itu, ia akan berpijak pada neraka yang mengerikan.

 

Chanyeol berjalan kesisi pintu mobil satunya dan membukakan pintu mobil untuk Baekhyun. Dengan ragu Baekhyun menatap Chanyeol. Ketakutan kembali menguasai Baekhyun. Ia memang anak dari mafia Italia, namun sejak ia kecil, ia sama sekali tidak pernah ikut campur masalah organisasi keluarganya. Kakak laki- laki Baekhyun-lah yang mengendalikan semuanya.

 

 

“Keluarlah.” Perintah Chanyeol.

 

Baekhyun mengangguk dan keluar dengan sangat perlahan. Chanyeol menutup pintu mobilnya setelah Baekhyun berdiri disampingnya. Wajah pucat Baekhyun cukup membuat Chanyeol mengerti.

 

“Jangan jauh- jauh dariku. Ingat.. kau sudah masuk kedalam duniaku dan.. kau harus terbiasa.”

 

Baekhyun kembali mengangguk.

 

Chanyeol berbalik badan berjalan menjauh menuju tempat yang sudah dijanjikan. Baekhyun langsung berlari mengikuti Chanyeol. Beberapa namja berbadan kekar sudah berjalan dibelakang Chanyeol dan Baekhyun. Mereka adalah pengawal Chanyeol.

 

KLEK

 

Salah satu namja kekar itu membukakan  pintu kayu usang untuk Chanyeol. Dengan langkah yang begitu angkuh Chanyeol masuk kedalam ruangan gelap yang hanya disinari cahaya lilin. Baekhyun kembali menelan liurnya. Posisi Chanyeol dengan dirinya menjauh sehingga membuat Baekhyun kembali berlari mengejar sosok Chanyeol.

 

 

“Welcome, Mr.Park.” sapa suara yang lumayan berat.

 

Chanyeol terhenti dan senyuman remeh kembali terlihat diwajahnya. “..Hy, Mr. Wu. Kau tampak lebih baik setelah melepaskan diri dari kelompokku.”

 

Baekhyun membulatkan matanya saat melihat sesosok namja yang amat tampan dan.. sempurna. Begitu sempurna. Tubuhnya tinggi dan wajahnya seperti pengeran. Namun sayangnya… ekspresi wajah namja itu tidak jauh beda dengan wajah Chanyeol.

 

Dingin dan menyeramkan.

 

“Silahkan duduk, Mr. Park.” Ujar namja itu sembari duduk dikursi kayu yang sudah disiapkan oleh bawahannya. Chanyeol melirik kursi kayu itu dan duduk disana. Baekhyun mengikuti Chanyeol dan berdiri dibelakang kursi Chanyeol. Keberadaan Baekhyun rupanya cukup menarik perhatian namja yang menjadi lawan transaksi Chanyeol.

 

“Tidak kusangka kau mendapatkan namja cantik lagi, Mr.Park.”

 

Chanyeol tersenyum dingin dan melipat tangannya didada. “Bisakah kita membicarakan transaksi saja? Aku tidak mau berlama- lama bersamamu, Mr.Wu.”

 

Namja itu tertawa keras kemudian menatap Baekhyun tajam. Tatapan mata namja itu membuat Baekhyun sedikit merinding. “Apa kau sudah menikmatinya? Nampaknya ia sangat lemah. Berbeda dengan… Luhan.”

 

 

BRAKK

 

 

Chanyeol menggebrak meja yang menjadi pembatasnya dengan namja yang bernama Kris itu. Wajah Chanyeol kini benar- benar melambangkan amarah. Kris tersenyum penuh kemenangan melihat Chanyeol yang kini tersulut emosi. Baekhyun mundur selangkah karena terkejut melihat Chanyeol yang marah.

 

“Mulai transaksinya atau aku akan membuat kepalamu hancur.”

 

Suara Chanyeol begitu bengis. Baekhyun memeluk lengannya dan merasakan angin dingin menyentuh tengkuknya. Para pengawal Chanyeol juga sudah nampak memasang kuda- kuda penyerangan. Itu semua membuat suasana semakin tegang.

 

Tenanglah, Baekhyun.. tenanglah.” Bisik Baekhyun mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak peduli dengan pembicaraan antara Chanyeol dengan lawan transaksinya. Sama sekali tidak. Yang ada dipikiran Baekhyun adalah keluar dari tempat itu secepatnya. Semua itu membuat Baekhyun mual.

 

“Baiklah.. kita mulai transaksinya.” Ujar Kris santai namun mata Kris tetap menatap Baekhyun dengan sangat lekat.

 

Chanyeol menyadari akan hal itu langsung menarik Baekhyun untuk duduk dipangkuannya. Kaget bukan main Baekhyun bermaksud untuk berteriak namun suaranya tertelan melihat ekspresi wajah Chanyeol yang sangat dingin.

 

 

“Dia milikku, Wu Fan.”

 

 

DEG

 

 

Baekhyun membulatkan matanya mendengar ucapan tajam Chanyeol. Tanpa keraguan dan terkesan menguasai. Kedua tangan Baekhyun kini menumpu pada kedua pundak Chanyeol. Tangan Chanyeol yang memeluk pinggang Baekhyun membuat pergerakan Baekhyun terkunci.

 

Apakah tubuhnya semungil itu hingga pergerakannya benar- benar terkunci hanya dengan sebelah lengan Chanyeol?

 

Satu tangan Chanyeol yang bebas kini mengambil sebuah cerutu. Ia selipkan cerutu itu diantara bibir tebalnya dan salah satu bawahan Chanyeol mematikkan api pada cerutu itu. Senyuman menyeramkan kembali terlukis dibibir Chanyeol.

 

“Aku mulai bosan.. bisa secepatnya kita selesaikan?”

 

Kris tersenyum tipis. “Baiklah.”

 

 

>>> 

 

 

Baekhyun duduk diam didalam mobil yang kini melaju kencang menuju markas utama. Transaksi sudah selesai sejam yang lalu dan Chanyeol enggan bersuara sama sekali. Suasana tegang yang mendominasi membuat Baekhyun tidak nyaman dan menggeser posisi duduknya mejauhi Chanyeol.

 

 

GREP

 

 

Namun dengan sigap tangan Chanyeol kembali menarik Baekhyun untuk tidak terlalu jauh darinya. Baekhyun menghela nafas pasrah dan kembali melihat pemandangan yang buram diluar sana.

 

 

“Siapa Luhan itu, Chanyeol?” pertanyaan tidak terduga terlontarkan dari bibir Baekhyun.

 

Chanyeol yang masih tersulut amarah menjawab dengan nada bicara yang sangat sinis. “Jangan bertanya tentang hal yang tidak perlu kau ketahui.”

 

 

DEG

 

 

Benar.. ucapan Chanyeol benar..

 

Baekhyun sama sekali tidak berhak bertanya apapun. Ia hanya manusia yang dibeli oleh Chanyeol dan.. dia bukan siapa- siapa Chanyeol. Namun… untuk apa Chanyeol mengatakan bahwa tadi Baekhyun adalah miliknya?

Jujur ia masih memikirkan ucapan Chanyeol yang mengatakan bahwa Baekhyun adalah miliknya. Itu membuat Baekhyun… marah. Harga dirinya terasa diinjak- injak oleh namja tinggi itu.

 

 

“Aku bukan barangmu, Park Chanyeol. Aku manusia.”

 

 

Chanyeol membulatkan matanya mendengar ucapan Baekhyun.

 

Baekhyun sama sekali tidak menghadap kearahnya. Chanyeol menatap lekat sosok Baekhyun yang masih menatap pemandangan melalui jendela mobil. Sepertinya masih ada yang Baekhyun fikirkan.

 

Merasa tidak diacuhkan Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun dengan kuat. Membuat namja mungil itu terkejut dan menatap Chanyeol dengan tatapan tegang.

 

“Apa maksudmu!”

 

Baekhyun menatap benik mata Chanyeol yang kini terlihat penuh dengan makna. Entahlah.. Baekhyun bukanlah namja yang ingin mengetahui apa sebenarnya arti kelakukan Chanyeol selama ini pada dirinya.

 

Yang ia yakini Chanyeol adalah namja jahat yang menghancurkan hidupnya.

 

 

“Aku milikmu? Tentu saja, hah… kau memang bisa membeli tubuhku tapi kau tidak bisa membeli hatiku, Park Chanyeol. Hatiku.. hanya aku yang bisa mengendalikannya.” Dengan keberanian penuh Baekhyun berucap.

 

 

Wajah Chanyeol memerah marah. Cengkraman tangan Chanyeol pada kedua lengan namja mungil itu semakin kuat. Tentu saja membuat Baekhyun meringis kesakitan karena luka- luka dilengan Baekhyun masih sangat rawan.

 

“Hentikan! Aaaah! Chanyeol!!”

 

Baekhyun berusaha membuka tangan Chanyeol yang menggenggam erat lengannya. Akan tetapi kekuatan Chanyeol jauh lebih kuat.

 

Kini dari perban itu nampak darah sudah merembes. Sepertinya beberapa luka Baekhyun kembali terbuka. Namun Chanyeol masih larut dengan pikirannya. Kekalutan menguasai pikiran Chanyeol hingga membuatakan matanya.

 

 

“Chanyeol-nim!” teriak Xiumin dengan nada suara yang amat tegas. Sepertinya Xiumin menyadari kalau Chanyeol sedang sangat marah.

 

 

Ucapan Xiumin membuat Chanyeol tersentak seketika itu. Ia lihat darah merembes diperban Baekhyun dan sepertinya darah itu ikut tertempel ditelapak tangan Chanyeol. Baekhyun menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan perih yang bukan main.

 

Sesegera mungkin Chanyeol melepas genggamannya dari lengan Baekhyun. Rasa bersalah mulai merasuki hati Chanyeol.

 

Apa yang baru saja ia lakukan? Menyakiti namja yang ingin ia lindungi? Bodoh!

 

 

“Ma..maafkan aku!” Chanyeol melepas jasnya bermaksud menyeka darah dari luka Baekhyun yang terbuka.       

 

 

Plak

 

 

Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar.

 

“Ja..jangan sentuh aku. Hiks..” Baekhyun menjauh dari Chanyeol dan menahan darah yang kini mulai meleleh dari lengannya.

 

 

“Jangan sentuh!”

 

 

 

>>> 

 

 

Apa yang harus aku lakukan lagi untuk membuatmu mengerti?

Tak adakah ruang dihatimu untukku?

Yang mungkin bisa untukku singgahi…

Tak bisakah kau membaca maksudku?

Aku hanya bisa menikmati pedihnya luka hatiku

 

Aku memelukmu

Namun hatimu menghujatku

 

Aku mencumbumu

Namun hatimu mengutukku

 

Aku mencintaimu

Dan… hatimu membenciku

 

 

 

>>> 

 

 

 

 

“Bagaimana Kuroi-sensei?” tanya Chanyeol setelah dokter pribadi kelompok itu keluar dari kamar Chanyeol. Sang dokter menghela nafas pelan.

 

“Lain kali kendalikan emosi anda, Chanyeol-sama. Kalau lukanya infeksi.. bisa berakibat sangat fatal. Luka- luka ditubuh Baekhyun-nim lumayan dalam. Jadi kita tidak bisa sembarangan memperlakukannya.”

 

Chanyeol tertunduk menyesal. “Wakatta. Gomenasai..”

 

Kuroi-sensei mengangguk pelan dan menepuk pundak Chanyeol. “Satu lagi… saya rasa ia lumayan tertekan. Saya takutkan jiwanya bisa terguncang. Lebih baik anda memberikan sedikit pengertian padanya. Jika ia terus- terusan merasa tertekan dengan kondisi tubuhnya yang lemah… dia bisa kehilangan akal sehatnya.”

 

“….Ba..baik..”

 

Kuroi-sensei berlalu meninggalkan Chanyeol yang terdiam didepan pintu kamarnya. Tidak berlebihan jika Chanyeol sangat terkejut mendengar kondisi Baekhyun.

 

Benar… Chanyeol hanya memaksakan kehendaknya pada namja itu.

 

Tanpa tahu apa- apa.. namja manis itu harus terus berfikir dan mengira- ngira. Menerima semua perlakukan Chanyeol yang mungkin membuatnya merasa amat tertekan dan tersiksa.

 

Berada didunia yang mengurungnya dengan berjuta pertanyaan.. Bukankah itu kejam?

 

Bahkan kini Baekhyun pasti terus bertanya.. untuk apa ia hidup bersama namja seperti Park Chanyeol?

 

Untuk apa ia mengikuti semua perkataan namja yang bernama Park Chanyeol?

 

Haruskah ia tunduk pada namja yang membelinya dan mengikat semua keinginannya dalam ambisi buta namja bernama Park Chanyeol?

 

Oh Tuhan..

 

Baekhyun pasti sangat kebingungan..

 

Dan Chanyeol membiarkan Baekhyun larut dalam pikiran yang sangat menyedihkan seperti itu terus menerus… tanpa menjelaskan apapun.

 

 

 “Aku bukan barangmu, Park Chanyeol. Aku manusia.”

 

 

Chanyeol kembali mengingat perkataan Baekhyun yang begitu menusuk hatinya. Perkataan itu membuat pikiran Chanyeol tumpul seketika. Hingga ia sulit mengendalikan emosinya.

 

Apa yang salah?

 

Ia hanya ingin menyelamatkan Baekhyun… namja yang membuat seluruh dunianya buram dalam sekejap.

 

Namja yang membuat Chanyeol lupa sama sekali akan dirinya sendiri..

 

Namja yang bahkan dapat menguasai emosi Chanyeol dengan cepat..

 

Namja yang begitu ia gilai hingga membuat semua arahnya tumpul..

 

 

 

Chanyeol menyandarkan tubuhnya dipintu kamarnya. Membiarkan tubuh tingginya merosot jatuh hingga kini ia terduduk dilantai.

 

“…Baekhyun… tidak bisakah kau membaca bahasa perasaanku.. tidak bisakah kau merasakan gejolak hatiku yang menginginkanmu?”

 

 

 

>>> 

 

 

 

Baekhyun menatap kosong langit- langit kamar Chanyeol. Ia terbaring diranjang Chanyeol yang terasa dingin dan itu membuat Baekhyun tidak nyaman.

Semua luka ditubuh Baekhyun sudah diobati dan perbannya juga sudah diganti dengan perban yang lebih steril.

Pikiran Baekhyun kembali melayang jauh.

Ia ingin lepas…

Biar saja jika ia harus menjadi gembel di negara ini..

Tidak apa- apa..daripada  harus hidup seperti orang bingung tanpa harus tahu jawaban dari segala pertanyaan yang kini menguasai hatinya.

 

 

 

KLEK

 

Pintu kamar Chanyeol terbuka dan Baekhyun tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang baru saja masuk. Derap langkah yang berat dan aroma tubuh yang entah sejak kapan Baekhyun hapal membuat Baekhyun tahu siapa yang mendekatinya tanpa harus melihat sosok namja tinggi itu.

 

Chanyeol duduk ditepi ranjang dan menatap wajah Baekhyun yang masih menatap tajam langit- langit kamar Chanyeol. Tatapan kosong Baekhyun membuat penyesalan Chanyeol bertambah dalam. Jemari lentik Baekhyun kini berada didalam genggaman tangan Chanyeol.

 

Namun Baekhyun sama sekali tidak merespon tindakan Chanyeol.

 

“Maafkan aku.”

 

Ucapan tulus Chanyeol berlalu begitu saja melewati pendengaran Baekhyun. Seakan Baekhyun tidak peduli dengan setiap untaian kata yang dilontarkan oleh Chanyeol.

 

“Maaf telah membuatmu bingung.. Baekhyun.”

 

Kali ini mata Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang menggambarkan sebuah penyesalan. Namun seakan buta, Baekhyun tidak mau menangkap makna dari tatapan mata Chanyeol. Dengan cepat Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya kearah lain.

 

Perlahan namun pasti, Baekhyun menarik tangannya yang digenggam oleh Chanyeol. Menyembunyikan kedua tanganya dibalik selimut yang kini menutupi tubuhnya kemudian Baekhyun berbalik badan membelakangi Chanyeol.

 

Chanyeol tidak kehabisan ide dan mengusap rambut Baekhyun dengan kasih sayang.

 

 

Plak

 

 

Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol kasar hingga namja itu sedikit terperanjat. Namun Chanyeol dengan sabar kembali mengusap rambut coklat Baekhyun yang begitu lembut. Berharap perasaannya tersampaikan.

Berharap Baekhyun merasakan dalamnya palung jiwa Chanyeol yang hanya terisi oleh sosok Baekhyun.

 

 

PLAK

 

 

Baekhyun menampar pipi Chanyeol dengan amat keras. Mata tajam Baekhyun yang nampak berat kini menatap tajam Chanyeol. Baekhyun sudah duduk diposisinya.

 

“Sudah kukatakan jangan sentuh aku!” teriak Baekhyun.

 

Chanyeol menepis darah dari sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan Baekhyun kemudian menatap mata Baekhyun dengan tajam. Sosok Baekhyun terlihat begitu lemah dimata Chanyeol.

 

Begitu rapuh.

 

Baekhyun menunduk dan air mata nampak jatuh dari mata rapuh Baekhyun. Chanyeol terdiam ditempat. Isakan Baekhyun terdengar bagaikan lantunan nada menyedihkan.

 

“Ka..kamu siapa.. bahkan aku tidak tahu apapun tentangmu? Apa maumu..? Mengapa kau membuatku menderita seperti ini? hiks..” Baekhyun menggeleng pelan. “Mengapa kau mengacaukan duniaku..?”

 

Chanyeol kali ini tidak main- main, ia bawa tubuh Baekhyun kedalam pelukannya. Mata Baekhyun membulat saat merasakan kedua lengan kokoh Chanyeol menangkup tubuhnya dengan hangat… ya.. hangat sekali. Namun Baekhyun tidak mau menyerah pada pemikiran yang ia anggap lemah seperti itu.

 

Baekhyun tidak siap terluka jika berharap lebih jauh… tidak bisa Baekhyun pungkiri, ia sedikit berharap. Berharap akan sesuatu yang tidak ia mengerti.

 

 

“Lepaskan aku!” Baekhyun mencoba meronta. “LEPAS!”

 

 

“Kumohon.. kali ini saja.. terima hatiku.”

 

 

DEG

 

 

Perkataan Chanyeol membuat perlawanan Baekhyun terhenti. Debaran jantung yang tidak biasa membuat Baekhyun terdiam. Mungkin Chanyeol bisa merasakan debaran jantung Baekhyun yang.. bukan.. bukan hanya Baekhyun. Detakan jantung yang berantakan kini juga Baekhyun rasakan.

Detakan jantung Chanyeol.

 

 

GREP

 

 

Baekhyun mencengkram baju Chanyeol. Mempererat pelukan mereka yang entah sejak kapan menjadi lebih dalam. Isakan tangis kembali terdengar dari mulut mungil Baekhyun. Chanyeol mengusap rambut Baekhyun dengan lembut dan membisikkan sesuatu tepat didaun telinga Baekhyun.

 

“.. percayalah padaku.. aku tidak akan pernah menyakitimu.”

 

 

 

>>> 

 

 

Hidupku jauh lebih berarti saat kau disisiku

Kau menggambarkan sebuah deskripsi tentang cinta yang ingin kubuang

Memberiku harapan dalam kebencianmu

Walau akhirnya kau akan menatapku dengan tatapan jijik

Walau akhirnya aku akan menangis

Hanya kau yang bisa..

Membuatku rela.. rela menangis karenamu

 

 

 

>>> 

 

 

Sudah beberapa minggu Baekhyun tinggal bersama Chanyeol. Walaupun begitu hubungannya dengan Chanyeol tidak juga membaik. Baekhyun hanya semakin akrab dengan adik Chanyeol, Kyungsoo.

 

Ia memang merasakan perubahan sikap Chanyeol yang mulai memberinya kebebasan. Membiarkan Baekhyun sedikit bernafas lega walau Chanyeol masih kerap memaksanya untuk melakukan hubungan tubuh.

 

 

Kini Baekhyun duduk disebuah ayunan yang lumayan besar. Ayunan yang terletak ditaman belakang rumah kediaman mafia Jepang tersebut. Matahari senja memang indah  jika dinikmati sendirian, membuat renungan bertambah hikmat.

 

“Masuklah.. nampaknya akan hujan.”

 

Suara itu membuat lamunan Baekhyun terhenti. Dengan sebuah senyuman tipis, Baekhyun mengalihkan pandangan matanya melihat sosok tampan yang tadi menginterupsinya.

 

“Kai…” sapa Baekhyun.

 

“Chanyeol akan pulang sebentar lagi. Kau tidak mau menyambutnya? Sudah beberapa hari ini kau tidak bertemu dengan Chanyeol.”

 

Baekhyun menggeleng pelan. “Jika ada didekatnya, pikiranku tak terkendali, KAI…Aku terlalu lelah mengira- ngira.”

 

Kai terdiam sejenak dan ikut duduk diayunan yang lumayan besar tepat disamping Baekhyun. Kai menatap langit sore yang nampak mendung itu.

 

“Apa yang membuatmu terus bingung, Baekhyun?”

 

Baekhyun menunduk. “…Ini sudah minggu ke 8 aku hidup bersamanya… sosoknya sama sekali tidak berubah dimataku, KAI. Sosok Chanyeol masih begitu menakutkan… walau kini ia sudah tidak membawaku kemanapun ia pergi.. aku masih merasa tertekan. Aku tidak mengerti… dadaku terasa sesak jika ada didekatnya.”

 

Kai tersenyum manis. “Kau hanya belum mengerti tentang perasaan itu, Baekhyun. Kau hanya harus melihat sisi lain dari Chanyeol.”

 

Mata Baekhyun menyipit. “A..apa yang kau katakan?”

 

Kai menggeleng pelan. “Lebih baik kau membuka hatimu dan melihat dengan mata hatimu semua yang ia perbuat untukmu, Baekhyun.”

 

Baekhyun terdiam ditempatnya dan kembali menunduk. “..Kai aku memang buta dengan yang namanya cinta. Aku hanya tidak mengerti.. apa yang sebenarnya aku rasakan..”

 

Kai melihat wajah Baekhyun sangat pucat dan tubuhnya gemetaran. “Baekhyun..”

 

“Setiap aku melihat sosok Chanyeol.. aku seperti melihat malaikat pencabut nyawa yang siap mengurungku. Aku takut Kai… aku takut.”

 

Dengan cepat Kai memeluk pundak Baekhyun. Sepertinya Baekhyun benar- benar ketakutan pada Chanyeol. Walau mereka sudah tinggal cukup lama dan bersama cukup lama, Baekhyun masih belum bisa menangkap perasaan tulus Chanyeol.

 

Kai merasa harus melakukan sesuatu.

 

 

 

>>> 

 

 

 

Malam menjelang, Chanyeol dan Kai kini duduk berdua didekat kolam ikan koi kesayangan orang tua Chanyeol dan Kyungsoo.

 

“Chanyeol.. bolehkah aku membicarakan sesuatu?”

 

Chanyeol yang dari tadi asyik melempar beberapa makanan ikan kedalam kolam menghentikan aktivitasnya dan mengangguk. “…Aku tahu kau akan membahas masalah Baekhyun.”

 

“Ya.. Tak bisakah kau mengatakan yang sesungguhnya agar Baekhyun mengerti? Ia mengaku padaku.. sampai saat ini ia masih takut padamu dan dia bingung akan perasaannya..”

 

Chanyeol meletakkan makanan ikan itu diatas sebuah batu kemudian duduk ditepi kolam.

 

“..Dia trauma, Kai.. sosok ku dimatanya tidak akan berubah. Aku yang salah… sejak awal aku memaksakan semua kehendakku padanya. Tanpa tahu apa- apa dia harus selalu memuaskan semua keinginanku.. secara perlahan Baekhyun membangun sebuah karakter menyeramkan tentang sosokku.”

 

Kai memegang pundak Chanyeol. “Kau bisa merubahnya, Chanyeol.”

 

“… aku memilikinya, Kai.. aku sudah memilikinya. Dan aku pikir itu sudah cukup… walau hatinya masih menganggapku sosok yang paling ia benci.”

 

“Kau bohong. Sesungguhnya kau ingin memiliki Baekhyun sepenuhnya, kan? Kau menginginkan raga dan jiwanya. Sepenuhnya utuh untukmu.”

 

Chanyeol tersenyum tipis. “Cinta yang kurasakan tidak perlu mendapatkan balasan cintanya, Kai. Biarkan aku melindungi Baekhyun seperti ini… cukup seperti ini saja.”

 

Kai menghela nafas panjang. “ Jika seperti itu… kau tidak hanya menyiksa dirimu sendiri.. kau juga menyiksa Baekhyun. Tanyakan pada dirimu sendiri, Chanyeol.”

 

 

Mata Chanyeol membulat mendengarkan perkataan Kai. Setelah menepuk pundak Chanyeol, Kai masuk kedalam rumah meninggalkan Chanyeol yang kini termenung sendirian.

 

 

 

>>> 

 

 

 

Baekhyun memandang bulan yang begitu indah dari jendela kamarnya. Sudah beberapa minggu ia tidak tidur sekamar lagi dengan Chanyeol. Itu membuatnya sedikit lega. Bahkan Baekhyun berharap kalau lebih baik ia tidak bertemu dengan Chanyeol.

 

Namun benarkah…?

 

Sudah beberapa hari ia sama sekali tidak bertemu dengan Chanyeol. Saat Chanyeol pergi ke markas pusat, Baekhyun masih tidur dan saat Chanyeol pulang, Baekhyun akan langsung meloncat keatas ranjang dan berpura- pura untuk tidur. Hingga saat Chanyeol akan masuk kedalam kamar Baekhyun dan melihat Baekhyun sudah tertidur, Chanyeol tidak akan masuk kedalam kamar Baekhyun.

 

Baekhyun menghindari Chanyeol.

 

Bukan karena rasa takut… namun dari rasa sesak yang menggerogoti dadanya setiap Chanyeol berada didekatnya. Perasaan yang berbeda…

 

 

 

KLEK

 

 

Kali ini pintu kamar Baekhyun terbuka dan Baekhyun tahu siapa yang baru saja masuk.

Chanyeol.

 

 

 

“Kau belum tidur?” tanya Chanyeol lembut.

 

Baekhyun menggeleng pelan tanpa membalikkan tubuhnya dan terus menatap bulan yang terlihat sangat besar malam itu. Entah mengapa jantung Baekhyun terasa berdebar mendengar suara berat Chanyeol. Suara yang kini terdengar lembut dipendengaran Baekhyun.

 

GREP

 

 

Baekhyun merasakan lengan Chanyeol kini melingkar dipinggangnya. Baekhyun mencium aroma shampoo Chanyeol yang begitu ia rindukan..

oh tidak! Baekhyun bahkan merindukan kecupan yang kini mulai menjamahi leher putihnya.

 

Ia tidak bisa memungkiri lagi… kini ia menginginkan Chanyeol. Ia sudah terlalu terbiasa dengan sentuhan Chanyeol yang membiarkannya berharap. Membuat Baekhyun merasakan raganya terpaut dalam pada pelukan namja tinggi itu.

 

 

“Aku merindukanmu..” bisik Chanyeol begitu lirih.

 

 

Baekhyun memejamkan mataya meresapi sentuhan Chanyeol yang begitu memabukkan. Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun dan menatap mata Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

Baekhyun memalingkan wajahnya.

 

 

“Tatap aku Baekhyun.”

 

 

Tidak!

 

Baekhyun tidak sanggup menatap wajah Chanyeol yang kini terlihat begitu rapuh. Ya.. namja kuat yang bernama Park Chanyeol kini menjatuhkan harga dirinya didepan Baekhyun. Sosoknya yang selama ini begitu kuat dan menakutkan terlihat samar dimata Baekhyun.

 

 

“Baekhyun… lihat aku… sekarang apa yang kau lihat? Apa yang kau rasakan? Apa kau masih berfikir bahwa aku adalah ketakutan terbesarmu. Kumohon Baekhyun.. temukan diriku yang sebenarnya. Temukan perasaanku padamu.”

 

 

Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. “Chan..yeol..?”

 

 

“Aku mencintaimu.”

 

 

DEG

 

 

Mata Baekhyun membulat sempurna mendengar pengakuan telak Chanyeol. Jantung Baekhyun serasa bergetar hebat atas ucapan yang terdengar begitu manis. Sangat manis…

 

 

“Bo..hong…” Baekhyun menggeleng pelan.

“Tidak mungkin kau mencintaiku! Cinta yang kuketahui bukan seperti ini… Cinta yang kuketahui sangat manis dan menyenangkan. Perasaan yang kurasakan padamu dan perlakukanmu padaku tidak pernah membuatku merasa kebahagiaan.”

 

 

GREP

 

 

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat. “Aku memang melakukan kesalahan diawal Baekhyun. Aku membuatmu takut.. aku membuatmu bingung hingga membiarkanmu larut akan semua kesalahpahamanmu tentang diriku..” pelukan Chanyeol bertambah erat.

“…namun..izinkan aku mengulanginya. Izinkan aku memperbaiki semuanya.”

 

Baekhyun melepas pelukan Chanyeol dan menggeleng pelan. “Aku tidak mau..”

 

Mata Baekhyun terlihat tidak fokus, ia semakin menjauhi tubuh Chanyeol. Tidak menyadari tatapan sendu yang Chanyeol layangkan.

 

Dengan langkah cepat Baekhyun berlari kearah pintu kamarnya, ia hendak keluar.

Hendak pergi jauh dari sangkar emas yang kini mengikat nafasnya hingga terasa begitu sesak.

 

 

“Baekhyun.”

 

 

Panggilan Chanyeol membuat langkahnya terhenti seketika.

 

 

“Jika kau memang menderita berada didekatku… aku akan melepasmu…”

 

 

DEG

 

 

Baekhyun merasakan tubuhnya mendingin. Tangan dan kakinya serasa kaku untuk digerakkan. Apa yang kau tunggu Baekhyun?

 

Chanyeol sudah mengatakan akan melepasmu, bukan?

 

Gerakkan tanganmu untuk membuka kenop pintu dan langkahkan kakimu untuk pergi dari rumah yang kau anggap neraka ini!     

 

Apa yang kau tunggu?!

 

Cepat!

 

 

“..dan saat kau berbalik untuk melihatku lagi…” suara Chanyeol terdengar bergetar.

 

 

“…Kau hanya akan melihat kehancuranku.”

 

 

DEG

 

 

Jantung Baekhyun terasa sakit bukan main. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya kembali menyetarakan arah pandangnya dengan namja tinggi itu.

 

Seberapa terkejutnya Baekhyun melihat sosok Chanyeol. Mata yang besar  Chanyeol yang biasa menatapnya tajam kini terlihat meluluhkan setetes pelambangan kelemahan, air mata.

 

Oh Tuhan… betapa hancurnya hati Baekhyun melihat sosok Chanyeol terlihat begitu lemah. Sosok yang seharusnya menatapnya tajam kini menatapnya dengan mata rapuh yang memancarkan rasa kehilangan.

 

 

“Chanyeol…” bisik Baekhyun terperangah.

 

 

“..kehilanganmu adalah kematian bagiku. Jika kau benar- benar pergi meninggalkanku..aku..”

 

 

TAP

 

 

Baekhyun berlari kearah Chanyeol dan membawa dirinya kedalam pelukan namja tampan itu. Mata besar Chanyeol membulat sempurna. Ia begitu terhenyak melihat Baekhyun berlari kearahnya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

 

Sesuatu yang bahkan Chanyeol anggap mustahil terjadi.

 

“Kau jahat,Park  Chanyeol! Kau membuatku lemah dan tidak berdaya! Selama ini aku selalu mengira- ngira akan apa yang sebenarnya ada didalam pikiranmu. Hikss.. aku tidak pernah bisa membaca matamu.. aku takut salah menafsirkan semuanya hingga membuatku berharap lebih jauh.”

 

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat. Ia benamkan wajahnya dipundak kurus Baekhyun yang bergetar.

 

“Maafkan aku tidak bisa jujur sejak awal.”

 

“Kau bodoh! Selalu membuatku membentengi diriku dengan rasa takut.. kenapa kau selalu menyiksaku?! Kenapa kau selalu membuatku seperti orang bodoh! Ken-“

 

Bibir Chanyeol mengunci bibir merah Baekhyun ketika itu. Mata Baekhyun membulat sempurna merasakan manisnya bibir Chanyeol untuk pertama kalinya. Mereka memang melakukan hubungan badan berkali- kali.. namun Chanyeol tidak pernah menciumnya.

 

Ciuman pertama yang terasa begitu manis dibibir Baekhyun. Ciuman yang membuatnya berfikir akan awal yang indah dan membahagiakan.

 

Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun hingga tubuh mereka terjatuh diatas ranjang. Ciuman yang tadinya lembut kini perlahan menjadi ciuman yang lebih dalam. Baekhyun melingkarkan kedua lengannya dileher Chanyeol dan mereka semakin memperdalam ciuman manis itu.

 

 

Baekhyun melepas ciuman mereka dan mendonggakkan wajahnya. Menghirup oksigen yang kini paru- parunya butuhkan.

 

Chanyeol menatap wajah Baekhyun dengan lekat. Senyuman manis kini terhias jelas diwajah Chanyeol, amat jelas dan Baekhyun menyukainya.

 

 

“Apakah sekarang aku memilikimu seutuhnya?”

 

 

Baekhyun nampak berfikir sejenak kemudian menggeleng pelan. “Belum..”

 

 

“Eh?”

 

 

“Jadikan aku sepenuhnya milikmu, Chanyeol.. dengan hatiku yang sudah memilihmu.”

 

Chanyeol kembali tersenyum manis kemudian mencium telinga Baekhyun dengan lembut. “Kau milikku, Baekhyun. Hanya milikku.”

 

 

 

Takdir kedua sejoli itu kini sudah terikat dengan kuat. Menambah kebahagiaan dan cinta kasih yang begitu manis dalam hangatnya senyuman mereka. Melukiskan jalan indah yang akan menyertai mereka. Selamanya dan tidak akan pernah berubah.

 

 

 

>>> 

 

 

 

Disebuah ruang perundingan yang begitu pengap dan gelap.

 

 

“Jangan meremehkan aku.” Ujar namja cantik yang kini menatap tajam lawan transaksinya.

 

“Maaf.. aku tidak bermaksud meremehkan anda.” Jawab lelaki setengah baya itu dengan takut. Rupanya ia menyadari kesalahannya karena menggoda namja cantik itu.

 

Namja cantik itu tersenyum tipis dan melipat tangannya didada. Terlihat seorang namja tampan kemudian datang dari balik pintu ruang perundingan. Namja itu mengarahkan sebuah pistol pada lawan transaksi namja cantik itu.

 

“Benar- benar sampah. Beraninya kau menggoda istriku, tua bangka!”

 

 

DOORR

 

 

Namja tampan itu menembak lelaki lawan transaksi namja cantik itu. Dengan wajah sebal namja cantik itu menatap si namja tampan.

 

“Chanyeol! Aku kan belum selesai bertransaksi.”

 

Namja tampan yang tidak lain adalah Chanyeol , mengangkat bahunya kemudian mencium tengkung namja cantik yang masih duduk dikursi kayu.

 

“Mana mungkin aku membiarkan istriku dilecehkan seperti tadi.” Bisik Chanyeol sembari kembali mencium pundak Baekhyun mesra.

 

“Mwo! Aku ini namja! Tidak cocok dengan sebutan ‘istri’!” Baekhyun mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau suka sekali memanggilku dengan sebutan ‘istriku’! jinjja!!”

 

Chanyeol tertawa kecil tidak menjawab celotehan Baekhyun dan mengambil koper berwarna hitam legam yang menjadi objek transaksi mereka. Baekhyun berdiri dari posisinya dan menggandeng lengan Chanyeol erat.

 

“Setelah ini kita akan bermain judi di Kasino besar Los Angeles, kan?”

 

“Ya.. Tapi kita harus pulang dulu. Memberitahu Kyungsoo dan Kai bahwa kita akan pergi ke LA. Sekalian saja kita liburan berdua disana, Baekhyun. Kau mau, kan?”

 

Baekhyun tersenyum sangat manis. “Tentu saja! Aku jadi tidak sabar, suamiku yang angkuh.”

 

Chanyeol tertawa keras mendengar ucapan Baekhyun. “Hahaha! Ayo pulang.. keistana kita.”

 

 

 

 

Cinta memang manis

Menepis rasa gelisah dan membawa rasa tentram yang menyejukkan

Walau cinta bisa terbaca secara tak tersirat

Namun kepastian akan penegasan rasa itu tidak dapat diabaikan

Keluarkan suara hatimu dengan lantang

Biarkan sang pujangga mendengarnya

Setinggi apapun perasaan itu

Jika diungkapkan dengan ketulusan

Cinta akan menjadi kebahagiaan abadi yang tak tergantikan

 

 

 

THE END

 

 

 

 

Jangan bunuh saya karena ending-nya

Pendek yah?

Enggak kok #malah jawab sendiri

Pokoknya RCL yah. Wajib!

Kalo mau FF Baekyeol lanjut sih -_-

Okesip!

Wasallam~

 

About these ads

168 thoughts on “Sequel : YOUR WOLRD [ Into Your World Part 2 - END] BaekYeol / ChanBaek

  1. ya allah, manis banget… Sedih gue pas chanyeol ngmng gini “saat lo balikin bdan, lo hnya bsa liat gue hancur” ini nyesek bnget yaallah.. Critanya bgus :’) ya ampun makasi udah bkin q cirambayan+deg degan menghdapi jalan crita ini . . Good job pko.a !!! Love you thor :D

  2. Ni ff yg daebak lh pokok nya apa lgi main cast nya chanbaek tmbah daebak lh….

    thor sringa2 aja bkin ff chanbaek…. ;)

  3. Okehh ini gue baca lagi fic ini ..
    Aaaaaaa manis nyaaaaaaaaa
    baek cepat banget luluhnyaaa ..
    Chanyeol pen digigit .. Gemessss liatnya … Tapi kocak ih di ending .D

  4. Ah~ aku reader baru disini wkwk, salam kenal._.
    CERITANYA BAGUS NIH AUTHOR;A; aku seneng banget akhirnya kkk~
    Keep Writing ff lain ya :3

  5. kereeennnnn :o sumpah thor keren *kasih 4 jempol
    akhirnya baekhyum menerima chanyeol \^o^/
    suka banget sama endingnya thor,susah di tebak ceritanya
    Daebak Daebak !
    keep writing thor ‘-‘9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s