KAITO Chapter 1

Title: KAITO

kaito

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo

Other Cast: Oh Sehun, Lu Han

Genre: romance, comedy, sci-fi

Length: 1 of ?

Rate: 15+

Summary: -

Disclaimer: -

 

Terinspirasi dari…udah pada tau dong~ Yup! Benar sekali, DETECTIVE CONAN.

 

Kaido pertama saya, semoga memuaskan!

 

Kalo ada beberapa bagian yang sama dengan kisah lain, atau kalian merasa pernah membaca cerita ini sebelumnya, itu hal yang tidak disengaja…mungkin saya juga pernah membaca cerita itu sebelumnya, jadi terinspirasi secara tidak langsung.

 

Okeeee?

Lanjut mau?!!

Pegangan!

Pasang sabuk pengaman!!

 

ME-LUN-CUR!

 

… … … … …

 

Continue reading

In Frame Love [Take Two]

In Frame Love

[Take Two]

Infram Love

‘Kai-men Rider’

Anonim Sinestesia

A Romance Comedy Tragedy Fanfiction

EXO

 

Sebelumnya Author Anonim Sinestesia mau minta maap dulu sama readerdeul ya… soalnya ini epep udah pakum lama bener, maklumi lah ya author lagi dalam masa maha sibuk sebagai mahasiswa, tapi author janji deh, kelanjutan epep ini sama epep baru dari Anonim Sinestesia bakal lebih lancar lagi, soalnya author abis minum diapet. Sekali lagi GOMENASAI ~~~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Continue reading

KAISOO / KAIDO | TwoShot : PLEASE, JUST STAY ! [ENDING]

 

KAISOO/KAIDO shipper ayo berkenalan!! hehehehe

selain Taoris ama Hunhan, Kaisoo termasuk kopel yang aku sukai di EXO.walau aku belum begitu tahu tentang KAISOO, maka dari itu maaf jika FF ini kurang bahkan sangat kurang memuaskan ;__;

makasih banyak atas dukungan FF KAISOO abal saya ini pada chapter pertama, jujur aku sangka bakal banyak yg g suka karena aku jarang buat FF KAISOO.

Nah langsung ke FF yah!

ENJOY~

line

PLEASE, JUST STAY!

KAISOO/ KAIDO 

 

KAISOO

 

 

Author : KIM HYOBIN

 

Main Cast : Kim Jongin and Do Kyungsoo

Other Cast : Kim Joonmyeon and Zhang Yixing

Support Cast : Park Chanyeol and Byun Baekhyun

 

Genre : Romance , Drama, School Life, Hurt

*gak bohong, TEMA FF INI PASARAN! *kabur

 

Warning : This is Y A O I !

 

UNTUK 16 TAHUN KEATAS !

 

Inspirated : Granade – Bruno Mars , Only Hope – Mandy Moore , Who You Are – Jessie J , A Day – Super Junior

*sebagian besar berdasarkan lagu GRANADE – Bruno Mars

 

DONT LIKE, DONT READ !!!

*gak suka masih tetep baca, tanggung jawab sendiri yaaaaa~

line 

 

 

-“… bersediakah memulai lembaran baru.. bersamaku?”-

 

 

Walau menyebalkan.. aku ingin menjadi orang yang egois

Tidak apa-apa, bukan?

Aku sudah lelah selalu mengalah

 

 

 

Part 2

 

 

“… bersediakah memulai lembaran baru.. bersamaku?”

 

DEG

 

Mata Kyungsoo mengerjap pelan, ia mendongakkan wajah. Menatap tidak percaya pada sosok pemuda tampan berwajah malaikat. Wajah putih itu menenangkan.. wajah Joonmyeon. Baru saja, Joonmyeon menyatakan hal hebat. Mengajak seseorang untuk berhubungan dengannya, oeh? Bukankah itu cukup berani?

 

“Apa—maksudnya?” suara lirih Kyungsoo terdengar.

 

Joonmyeon mempererat pelukan pada pundak Kyungsoo. Anak manis ini pasti kedinginan.. lihat saja wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang bergetar halus. Apalagi kulit tangannya sudah nampak keriput karena belaian air hujan yang tadi mengguyur.

 

 

“Aku akan menghapus lukamu.. Aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti saat kau mencintai Jongin.”

 

 

Kyungsoo mengerjapkan mata. “..rasa sakit itu… tidak akan kurasakan lagi? Benarkah?”

 

 

Joonmyeon mengangguk. “Jika kau mau membuka hatimu untukku, Kyungsoo.”

 

 

Kyungsoo mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Menatap hujan lebat yang masih saja meriah diluar sana. Terdengar desahan nafas Kyungsoo, ia masih berfikir. Ingin sekali ia membuang rasa sakitnya. Ingin sekali!!! Ia ingin lepas saja rasanya…

 

Tapi.. Dia mencintai Jongin.

 

Demi Tuhan, ia amat mencintai Jongin. Walau yang ia dapat adalah kesesakkan dan sakit hati. Kyungsoo ingin mengingat masa- masa bahagianya dengan Jongin. Namun… Kyungsoo sudah sampai batas. Ia… Lelah.

 

Lelah.

 

 

“Hyung… Berarti kau tahu cara menyembuhkan luka hatiku?”

 

 

Mendengar ucapan polos Kyungsoo, Joonmyeon mengangguk dan mengusap puncak kepala pemuda manis yang kembali mengeluarkan air mata. “Ya.. aku tahu.”

 

 

“Kalau begitu.. sembuhkan aku.”

 

 

 

Lagu cinta mengalun bersamaan riak air

Kemarilah wahai kekasih

Buat riak air itu semakin besar

Agar cinta kita tak ada habisnya

 

 

Bukankah.. kau suka tantangan?

 

 

Jongin menatap pintu kelasnya yang kosong, ia duduk dibangkunya. Diam. Mengamati pintu sedari tadi adalah kebiasaan barunya belakangan ini. Ia sendiri didalam kelas, menunggu tepatnya. Ini sudah jam pulang sekolah akan tetapi… orang yang ditunggu Jongin tidak kunjung datang.

 

Masih saja memikirkan harga diri setinggi langitnya, Jongin tidak pernah menyusul Kyungsoo kekelas pemuda manis tersebut. Padahal ini sudah hari ketiga ia tidak bertemu dengan Kyungsoo. Tepatnya tiga hari setelah Kyungsoo menangis didepan matanya.

 

“Haahh!!” Jongin mendesah pelan dan  berdiri dari kursi yang dari tadi ia duduki. Ia menyandang tas sekolah kemudian saat ia membalikkan tubuhnya.

 

 

DEG

 

 

“Kyung—soo”

 

Jongin melihat sosok pemuda manis yang amat ia rindukan itu, berdiri tegap didepan pintu kelasnya. Tidak sadar, bahkan Jongin tersenyum senang. Buru- buru Jongin berlari kearah pintu kelasnya, ingin sekali memeluk pemuda berparas lembut itu.. tetapi..

 

“A—ah?”

 

 

.

 

 

..Kyungsoo tidak ada disana.

 

 

Jongin hanya berhalusinasi. Saking rindunya ia kepada sosok Kyungsoo.. Jongin sampai berhalusinasi seperti itu. Pemuda tampan tersebut menunduk dan merebahkan kepalanya dipintu kelas tempat tadi dimana ia melihat halusinasi sosok Kyungsoo.

 

 

 

“Aku merindukanmu..” bisik Jongin lirih. “Kyungsoo…”

 

 

 

Hey…

Tuhan itu maha adil, bukan?

Balasannya setimpal…

 

 

 

“Dimana dia!!”

 

 

Akhirnya tembok harga diri Jongin hancur berantakan. Ia tidak perduli lagi dengan apapun, yang pasti.. kini ia sudah cukup tersiksa! Ia sudah buta.. dia buta akan kerinduannya pada sosok lembut Kyungsoo. Ia rindu akan semua yang ada pada diri Kyungsoo. Bayangkan jika nyaris saja 5 hari berlalu tanpa kehadiran Kyungsoo dihadapannya.

 

Dia sudah seperti orang gila memikirkan keberadaan Kyungsoo.

 

 

Dimana?

 

Apa yang terjadi padamu?

 

Kau sedang melakukan apa?

 

Mengapa tidak menghubungiku?

 

 

Semuanya terngiang- ngiang dipikiran Jongin. Seperti tidak mau membiarkan Jongin sendiri. Menghimpit dada pemuda tampan itu dengan apa ketat. Sesak ia rasakan tidak kunjung hilang, bahkan ia yakin ia mulai memiliki kelainan jantung dan penyakit asma jika ia tidak secepatnya bertemu dengan Kyungsoo.

 

Kesesakan yang ia rasakan berawal dari satu manusia… ‘Kyungsoo’.

 

 

“Brengsek!!” Jongin berteriak frustasi saat ia tidak menemukan Kyungsoo dimanapun. Ia sudah mencoba mencari Kyungsoo dikelasnya, ditaman tempat biasa Kyungsoo menghabiskan waktu istirahat dan perpustakaan. Semua tempat yang mungkin saja Kyungsoo singgahi.

 

 

Akan tetapi Kyungsoo seakan hilang ditelan bumi. Ia sudah mencoba untuk mencari Kyungsoo dirumahnya, namun ibu Kyungsoo berkata bahwa Kyungsoo menginap dirumah temannya untuk beberapa hari. Alasan Kyungsoo, ia akan belajar untuk ujian kenaikan kelas sebulan lagi. Karena alasan Kyungsoo untuk belajar, sang ibu tidak melarang. Justru mendukung. Sepertinya sang ibu tidak tahu perihal Kyungsoo yang tidak datang kesekolah. Dan Jongin juga tidak mau Kyungsoo terkena masalah. Ia tidak memberitahu ibu Kyungsoo.

 

Tetapi aneh nya saat Jongin bertanya siapa teman Kyungsoo tersebut, sang ibu mengatakan tidak tahu. Tidak mungkin sang ibu melepas anaknya menginap dirumah orang yang tidak ia ketahui siapa. Mustahil, bukan?

 

 

Apakah ada yang disembunyikan?  

 

 

Jongin berbalik badan bermaksud pergi dari kelas Kyungsoo, ia ingin mencari Kyungsoo lagi. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat Chanyeol dan Baekhyun yang baru saja keluar dari kelas mereka. Tanpa menunggu, Jongin berlari menuju Chanyeol. Menghentikan gerak langkah sepasang kekasih tersebut saat melihat Jongin berdiri dihadapan mereka.

 

“Mau apa?” tanya Chanyeol dingin. Baekhyun bahkan bergidik ngeri saat mendengar ucapan Chanyeol yang begitu dingin. Bisa Baekhyun simpulkan bahwa Chanyeol benci pada lelaki tampan yang ada dihadapan mereka.

 

“Kyungsoo! Dimana dia? Kau pasti tahu dimana Kyungsoo berada, bukan?!” tanpa basa basi, Jongin langsung menembak Chanyeol dengan pertanyaan.

                                                                  

“Kyungsoo? Mau apa mencarinya? Dia ingin menenangkan diri.” Jawaban santai Chanyeol tentu tidak disambut baik oleh Jongin.

 

“Jangan bertele- tele, Chanyeol!”

 

“Aku tidak bertele- tele. Aku hanya tidak ingin memberitahumu tentang keberadaan Kyungsoo. Kau pikir aku bodoh!!!”

 

“Jangan membuatku marah!” Jongin mengertakkan giginya tanda ia sudah sangat jengah. Chanyeol benar- benar membuatnya kesal. Apa sulitnya memberitahu keberadaan Kyungsoo! Jongin sangat menahan dirinya untuk tidak memukuli Chanyeol. Yah, sepertinya Chanyeol mengetahui keberadaan Kyungsoo.  

 

Chanyeol menyeringai. “Dia ingin lepas darimu.”

 

Mendengar itu, kesabaran yang ditahan Jongin hilang. Ia mendorong tubuh Chanyeol hingga namja tinggi tersebut jatuh tersunggur. Membuat Baekhyun terpekik keras melihat kekasihnya akan dipukuli oleh Jongin. Beruntung reflek ditubuhnya baik, secepatnya Chanyeol mendorong Jongin hingga namja tampan itu membentur tembok koridor.

 

“TIDAK TAHU DIRI! LEPASKAN KYUNGSOO! JANGAN DEKATI DIA LAGI!” Teriak Chanyeol amat keras. “Saat Kyungsoo pergi baru kau menginginkannya, oeh? Apa selama ini kau pernah menghargainya? Cih!”

 

“Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan! Dimana Kyungsoo?!” Jongin masih tidak mau menyerah. Lupakan masalah harga diri dan keras kepala dirinya.

 

Chanyeol mengepalkan tangan, ingin sekali ia memberi pelajaran pada manusia seperti Jongin. Akan tetapi ia menahan diri, ia tidak mau melakukan tindakan kekerasan apapun didepan Baekhyun. Apalagi kini Baekhyun sudah nampak sangat ketakutan.

 

“Kau cari sendiri.” Chanyeol kemudian berjalan pergi bersama Baekhyun.

 

Mata Jongin seperti pedang, tajam memandang marah Chanyeol dan Baekhyun yang gelisah disamping Chanyeol.

 

 

“Joonmyeon, kah?”

 

Langkah panjang Chanyeol berhenti, seakan berat ia membalikkan tubuhnya. Kembali menatap Jongin dengan tatapan jijik dan meremehkan. Sepertinya Chanyeol benar- benar membenci Jongin, seperti anak kecil yang membenci wortel jika tersemat dikotak makanannya.

 

 

“Oh.. Jadi benar?” Seringai Jongin.

 

 

Chanyeol mendengus kesal. “…Joonmyeon-hyung lelaki yang jauh lebih baik untuk Kyungsoo daripada dirimu. Biarkan Kyungsoo menenangkan dirinya bersama Joonmyeon-hyung.”

 

Setelah mengatakan hal itu Chanyeol benar- benar pergi dari sana. Tidak mengindahkan ekspresi wajah Jongin yang nampak amat terluka dan terkejut. Ternyata dugaan paling tidak ingin ia pikirkan… menjadi kenyataan.

 

Memang benar… Joonmyeon?

 

Tunggu… Mengapa harus Joonmyeon?

 

Bukankah Jongin sudah mengatakan pada Kyungsoo untuk menjaga jarak dengan Joonmyeon?

 

Apakah Kyungsoo meninggalkannya demi Joonmyeon?

 

Bukankah Kyungsoo tidak akan meninggalkannya?

 

 

 

Bukanlah Kyungsoo mencintainya?

 

 

 

—Kyungsoo mencintaiku…

 

 

Tidak!!

 

 

 

Biarkan aku pergi

Lebih baik seperti ini, bukan?

Berakhir seperti ini juga tidak masalah

 

 

 

Jongin mencoba mencari Joonmyeon setiap saat, ia tidak mendengarkan lagi ucapan sinis orang- orang yang mengatakan bahwa dirinya terlihat amat berantakan. Ia seperti orang yang kehilangan jati diri. Kyungsoo sudah 7 hari tidak masuk sekolah, ia benar- benar khawatir. Sebenarnya Kyungsoo berada dimana? Pastinya disuatu tempat yang hanya Kyungsoo dan Joonmyeon ketahui.. Lupakan Chanyeol yang benar- benar bungkam. Jongin sudah tidak mau lagi mengharapkan kesediaan Chanyeol untuk memberitahunya tentang keberadaan Kyungsoo.

 

 

Dan… Joonmyeon sangat sulit untuk ditemui. Mengingat ia adalah ketua organisasi intra sekolah. Walau Joonmyeon tidak pernah absen sekolah, ia benar- benar sibuk jika sedang berada di sekolah. Bahkan jam istirahat, Joonmyeon selalu berada diruang Dewan Sekolah. Sungguh siswa berprestasi.

 

 

Merasa mustahil menemui Joonmyeon disekolah, Jongin memutuskan menyelinap keruang guru saat pulang sekolah dan mencuri angket personal milik Joonmyeon. Jongin hanya ingin mengetahui dimana alamat rumah Joonmyeon. Ia hanya ingin bertemu Kyungsoo.

 

 

Ingin bertemu…

 

 

Seperti tubuh Jongin akan meledak, hancur lebur menjadi abu jika.. ia tidak menemukan Kyungsoo secepatnya.

 

 

—Aku ingin minta maaf.

 

 

Ia sudah tidak tahan lagi, Kyungsoo selalu merasuki pikirannya. Ia tidak peduli lagi dengan semua lelaki cantik yang ia kencani. Satu pikirannya terpatok pada Kyungsoo. Ia tidak bisa tidur dan selalu saja termenung memikirkan Kyungsoo. Tidak jarang Jongin seperti melihat bayangan Kyungsoo menghampirinya namun saat ia mencoba menggapai Kyungsoo… namja manis itu menghilang. Bayangan.. bahkan bayangan Kyungsoo tidak sudi tertangkap oleh Jongin.

 

 

Jongin.. kehilangan kontrol perasaannya. Ia merasa seakan nyaris gila.. gila memikirkan Kyungsoo. Hidup tanpa Kyungsoo sama saja hidup tanpa nyawa bagi Jongin kini dan ia… baru menyadarinya. Ia baru menyadari keberadaan Kyungsoo disaat namja manis itu berlari meninggalkannya. Jongin tidak habis fikir… mengapa ia bisa sebodoh itu?

 

 

Bisakah Engkau mengulangi waktu yang berlalu, Tuhan?

Sehingga aku bisa memperbaiki hatinya yang luluh lantak mencintaiku?—

 

 

Namun…

 

 

Kyungsoo sudah terlanjur pergi dari sisinya, Kyungsoo sudah pergi. Memutuskan untuk meninggalkan Jongin yang ia anggap sudah tidak memperdulikannya. Jongin yang sudah membuatnya bersedih dan tersakiti. Jongin yang ia cintai daripada dirinya sendiri… Jongin yang ia cintai dengan mengemban berat beban sakit hati dan rasa dicampakkan setiap saat.

 

 

…Kyungsoo yang manis dan lemah lembut.. berhak bahagia, kan?

 

 

 

Jangan pergi

Tetaptlah disampingku…

Kyungsoo—

 

 

Sore menjelang senja, Jongin sudah berada didepan rumah Joonmyeon, mengamati rumah yang lumayan besar itu dari luar. Benar saja, sepertinya Joonmyeon anak dari keluarga terpandang. Rumah itu sangat besar dan megah. Apakah Kyungsoo ada didalam sana?

 

 

Apakah rumah megah itu menyimpan sosok Kyungsoo hingga tidak dapat Jongin temui beberapa hari ini?

 

 

Sangat berharap bisa menemukan Kyungsoo, Jongin mengelilingi pagar rumah tersebut. Sebenarnya perilaku Jongin sangat memalukan. Apa yang ia lakukan disana sebenarnya? Ia bisa disangka oleh orang- orang yang tidak sengaja lalu lalang sebagai pencuri atau semacamnya, bukan? Lihat saja pandangan orang yang mulai miring melihat Jongin.

 

Ah, siapa peduli?

 

 

Dan saat ia sudah berada dipagar bagian paling kiri, samar ia melihat…

 

 

DEG

 

 

…Kyungsoo.

 

 

Demi Tuhan, kelegaan meliputi hati Jongin. Kyungsoo berada beberapa ratus meter dari tempatnya berada. Kyungsoo sedang duduk disebuah ayunan besar sembari mendengarkan sebuah MP4 dengan earphone. Pemuda manis itu terlihat menikmati alunan musik dengan menutup matanya dan bersenandung.

 

Kyungsoo ada disana!! Jongin seakan ingin berteriak dengan lantang!

 

Tidak bodoh, Jongin pasti diusir oleh Joonmyeon jika ia bertamu secara baik- baik. Terlintas sebuah pikiran untuk memanjat pagar besi tersebut dan menyelinap kedalamnya. Kyungsoo masih duduk diayunan nyaman tersebut tidak menyadari keberadaan Jongin nampaknya. Seulas senyuman damai nampak terpampang diwajah Kyungsoo. Manis sekali.. damai.

 

DEG

 

 

Membuat Jongin tersentak disana.

 

 

Cantik.

 

 

Tubuh Jongin kembali kaku saat ia melihat senyuman itu, gerakannya yang akan memanjat pagar tersebut terhenti. Senyuman manis Kyungsoo… membuatnya semakin merasa kotor dan bodoh. Mengapa bisa ia sebodoh itu menyakiti seorang namja yang lemah lembut seperti Kyungsoo? Kyungsoo-nya yang polos harus merasakan rasa sakit itu terus menerus dahulunya…

 

DEG

 

Dan jantung Jongin seakan meledak saat melihat Joonmyeon keluar dari rumah dan menghampiri Kyungsoo, duduk disamping Kyungsoo dengan perlahan. Pemuda manis yang dari tadi hanyut dengan dunianya sendiri terkejut, Kyungsoo membuka matanya dan tersenyum pada Joonmyeon. Melepas sebelah earphone yang ia gunakan untuk mendengar lantunan musik dan menyematkan disebelah telinga Joonmyeon. Mereka mendengarkan musik itu bersama- sama..

 

Dan..

 

 

Itu semua menyergap Jongin begitu dalam.

 

 

Seharusnya aku… Kyungsoo.

Seharusnya aku yang ada disampingmu.

 

 

Senyuman Kyungsoo yang begitu manis, kini tertuju pada Joonmyeon. Tatapan mata penuh kasih itu tertuju pada Joonmyeon… tangan mungil yang biasanya digenggam oleh Jongin kini bergenggaman dengan tangan Joonmyeon. Tawa lepas yang terdengar begitu lega… kini terdengar menyesakkan jantung Jongin.

 

 

Rasanya  sakit bukan main, kan?

 

 

Bagaimana rasanya, Jongin?

 

 

Dan sesuatu yang lebih menyakitkan adalah saat Jongin sadar akan satu hal lagi. Pertanda Kyungsoo ingin.. melepaskan cintanya. Sejauh itu jarak mereka.. Jongin bisa melihat ditelinga Kyungsoo… disana, ditelinga kiri tersebut.

 

 

Tidak ada lagi piercing berinisial ‘J’.

 

 

Demi Tuhan, tubuh Jongin terasa dipotong- potong saat ia tahu bahwa… Kyungsoo sudah tidak mengenakan piercing itu lagi. Kyungsoo tidak lagi… memakainya. Hanya ada bekas lubang tindikan yang polos disana. Tidak ada lagi.. keberadaan Jongin dihati Kyungsoo, kah?

 

 

Kyungsoo… sudah benar- benar ingin pergi dari Jongin?

 

 

Bibir tebal Jongin ingin sekali terbuka memanggil Kyungsoo, namun bibir itu kelu. Seakan Tuhan tidak mengizinkan Jongin mengganggu ketenangan yang kini Kyungsoo rasakan. Rasa tidak pantas dan bersalah semakin besar dihati Jongin. Mengutuknya hingga sesak seakan adalah sahabat barunya untuk menjalani hidup mulai saat ini.

 

 

Jongin genggam pagar besi tersebut dengan kedua tangannya. Ia begitu ingin menggapai Kyungsoo namun yang bisa ia lakukan hanya melihat Kyungsoo dari sana, menatap Kyungsoo yang kini nampak sangat bahagia… tanpa dirinya.

 

 

Kyungsoo tersayangnya nampak bahagia dengan tawa lepas. Melantunkan lagu yang ia dan Joonmyeon dengarkan berdua. Lagu apa itu? Lagu apa yang mereka dengar hingga Kyungsoo nampak bahagia sekali. Tertawa lega seperti ada beribu kelopak bunga yang menhujaninya. Murni, sosok Kyungsoo saat ini.

 

 

Namun… benarkah Kyungsoo bahagia?

 

 

“Tidak… kebahagiaan Kyungsoo adalah bersamaku… Kyungsoo milikku.” Nafas Jongin tergesa- gesa. Matanya sudah tidak fokus lagi bahkan ia nampak begitu pucat. Tangan Jongin gemetaran. Ia tidak kuat lagi… Ia ingin Kyungsoo kembali padanya. Kyungsoo… Ia hanya ingin Kyungsoo.

 

 

Detik itu, mata menawan Jongin menangkap Joonmyeon menarik Kyungsoo kedalam rumah, mereka masuk kedalam rumah Joonmyeon. Kyungsoo sudah tidak ada lagi dilingkup pandangan Jongin. Membuat pemuda tampan tersebut ingin berteriak dan meraung agar Kyungsoo kembali padanya. Agar Kyungsoo melihatnya berdiri disana.. menyaksikan kesesakan yang timbul karena takut… takut Kyungsoo melarikan diri darinya.

 

 

“Kyung—soo.. Kyung..soo!! KYUNGSOO!!” Teriak Jongin akhirnya lolos. Ia berteriak keras dibalik pagar rumah Joonmyeon, kaki dan tangannya bergetar hebat. Suara Jongin bahkan terdengar sangat lirih dan memilukan. Jika saja ia bisa menghancukan besi pagar itu sekarang juga. Pasti ia akan berlari menuju Kyungsoo..  

 

 

“Kyungsoo!! Kumohon keluarlah! KYUNGSOO!!”

 

Jongin tidak bisa lagi, ia tidak bisa menahan lagi. Rasanya sakit bukan main saat melihat Joonmyeon dan Kyungsoo bersama dan—

 

Deg

 

Jongin melebarkan matanya. Teriakannya tertelan begitu saja. Terkesiap dengan kenyataan yang baru saja ia pikirkan. Rasa sakit luar biasa ini…

 

 

Apakah rasa sakit seperti ini yang Kyungsoo tahan berlarut- larut? Setiap… saat?

 

 

Rasa sakit seperti ini yang ratusan kali Kyungsoo rasakan ketika Jongin berkali- kali menyakitinya. Rasa sakit setiap melihat Jongin bermain dan bermanis- manis pada semua lelaki cantik yang bermain dengannya… Selalu Kyungsoo rasakan. Berulang kali.. Terus menerus.. Hingga hatinya tembus dalam.

 

Rasa sakit itu baru sekali saja Jongin rasakan.. Sudah membuat tubuh pemuda tampan itu kaku total. Tidak sepadan!

 

Lantas… bagaimana jika hal seperti ini yang kau bawa terus menerus? Kau pasti ingin bunuh diri, Jongin.

 

 

Bagaimana jika rasa sakit hati tak tertahankan bahkan dianggap lebih baik ketika mencintaimu daripada melepasmu?

 

 

“Kyu—“

 

 

“Jongin.”

 

 

DEG

 

 

Suara lembut itu menghentikan tubuh dan suara Jongin. Suara seseorang yang ia rindukan terdengar jelas ditelinganya… disampingnya. Perlahan, Jongin menitik wajahnya untuk menghadap kearah samping. Memfokuskan tubuhnya untuk mengikuti alihan tersebut.

 

 

Ada.. dia disana.

 

 

“Kyungsoo..” desis Jongin pelan dengan mata terbuka sempurna.

 

 

Benar, Kyungsoo ada disana. Sedang berdiri disana.. disamping Jongin. Sejak kapan Kyungsoo keluar dari rumah? Sejak kapan Kyungsoo keluar dari pagar kokoh ini? Sejak kapan—

 

 

“Apa yang Jongin-sshi lakukan disini?”

 

 

DEG

 

Suara Kyungsoo masih sama lembutnya.. tetapi… ‘Jongin-sshi’? Panggilan apa itu? Mengapa tidak ‘Jongin’ seperti biasa?

 

 

Dia menciptakan pembatas.

 

 

“Kenapa—“

 

 

Akhirnya hanya kata itu yang lolos dari bibir Jongin. Hanya kata penuntut dan ia menyembunyikan lagi hatinya yang ingin menerjang Kyungsoo dengan pelukan. Kyungsoo menunduk dan tersenyum, akan tetapi senyumannya berbeda. Kesedihan jauh lebih nampak disana.

 

 

“Jongin-sshi.. Maaf.”

 

 

Kata maaf yang diucapkan Kyungsoo membuat Jongin membulatkan mata. Tunggu! Disini seharusnya Jongin lah yang meminta maaf akan tetapi mengapa Kyungsoo? Mengapa Kyungsoo yang menjadi korban keegoisan Jongin yang minta maaf?

 

 

“Maaf karena aku…tidak bisa melanjutkannya lagi.”

 

 

DEG

 

 

Mata Jongin membulat sempurna. Melanjutkan apa? Apa yang tidak bisa dilanjutkan lagi? Apa yang membuat Kyungsoo kini terlihat begitu tersiksa hingga wajahnya memerah. Matanya memerah.. semuanya terlihat semerah dan semenyakitkan darah. Ah, bahkan darah Jongin terasa dingin hingga membuat tubuhnya beku dan tidak bisa bergerak.

 

 

“..Jongin-sshi.. bukankah ini yang kau inginkan? Sepertinya.. kau bisa bebas menjalani kehidupanmu lagi seperti dulu tanpa pengganggu sepertiku. Maafkan aku, Jongin-sshi.. aku baru menyadari jika kau selama ini terganggu. Maafkan aku.. karena aku terlalu egois selalu memaksakan kehendakku padamu hingga tak mengetahui kemuakanmu pada sikapku yang selalu ingin mempertahankanmu.. ak—aku..”

 

 

Kini isakan yang lolos dari bibir Kyungsoo. Isakan halus yang membuktikan betapa dalamnya hati yang ia tekan. Betapa cintanya ia dengan sosok beku yang ada dihadapannya. Kyungsoo menangis dan Jongin hanya bisa mematung tanpa tahu harus melakukan apapun. Ia terlalu lumpuh untuk berfikir karena… malaikat tanpa sayap-nya kini menangis terisak.

 

 

Apa yang bisa Jongin lakukan untuk menghapus rasa sakit itu?

 

Apa keberadaan Jongin tidak bisa menjadi obat penyembuh?

 

 

Kyungsoo menatap Jongin yang masih saja diam. Diam yang tidak diketahui oleh Kyungsoo bahwa didalam diri Jongin kini lumpuh sama sekali karena perbuatannya. Semua yang terjadi hanya karena seorang pemuda manis dengan mata besar sendu yang menatapnya penuh tanya.

 

 

Mengapa kau masih diam, Jongin?

 

Bicaralah…

 

 

Akhirnya Kyungsoo menghela nafas serta menutup sejenak matanya, putus asa. Pemuda manis tersebut putus asa pada sosok Jongin yang masih saja diam seribu bahasa, kesunyian dalam beberapa ratusan detik berlangsung. Kediaman tak kunjung berakhir. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Jongin?

 

Tep

 

Kyungsoo berbalik badan dan berjalan pelan meninggalkan Jongin yang tetap saja diam. Punggung itu ia amati, punggung kecil yang akan dipeluk oleh… Joonmyeon nantinya? Tubuh mungil yang biasa ia peluk akan dipeluk oleh orang lain nantinya. Suara itu akan memanggil nama orang lain nantinya.. dan semua akan tertuju pada… Joonmyeon?

 

 

Bukan Jongin.

 

 

Bukan Jongin lagi.

 

 

Jongin kalut, pemuda tampan tersebut berlari cepat. Tanpa ragu sama sekali ia memeluk tubuh Kyungsoo dari belakang kelika pemuda itu sedang membuka pagar. Gerakannya yang terhenti sepenuhnya membuat Kyungsoo mengerjapkan matanya pelan. Ia lirik lengan kokoh yang memeluk pinggangnya erat. Ia rasakan surai lain didaerah tengkuknya.. rambut Jongin. Ia bisa merasakan detak jantung berantakan kini menyeruak dari dada seseorang yang memeluknya.

 

“J—Jong..”

 

Posisi mereka terhenti disana untuk beberapa menit. Tidak ada yang berani memulai untuk melepaskan pelukan erat tersebut. Atau memang keduanya sengaja? Kyungsoo menunduk dan jujur saja ia senang setengah mati karena Jongin memeluknya. Betapa ia merindukan pemuda tampan ini.. pelukan pemuda tampan yang amat ia cinta dan ia yakini selamanya. Akan tetapi…

 

DEG

 

… aku tidak mau berulang lagi dikesalahan yang sama.—

 

 

Kyungsoo membuka paksa lengan Jongin dari tubuhnya. Membuat pemuda tampan tersebut terkesiap dan terlonjak kaget. Kini tubuhnya sudah terpisah dari tubuh Kyungsoo dan ketika Jongin ingin kembali meraih tubuh mungil Kyungsoo dengan lengannya… terlambat.

 

Kyungsoo sudah masuk kedalam pekarangan rumah Joonmyeon dan mengunci pagar itu dengan gembok kecil yang sudah dari tadi menggantung disana. Kyungsoo menatap Jongin yang tengah memandanginya nanar sekali.

 

 

“Kenapa Kyungsoo!! Kenapa kau lari dariku?!”

 

 

Kyungsoo mundur selangkah menjauhi pagar yang kini sudah digenggam oleh Jongin erat. Mata bulat Kyungsoo merah, dia akan kembali menangis akan tetapi ia tahan semua keinginan itu dalam diam dan tenang. Melihat wajah Jongin yang begitu terluka tak pernah ia alami.. akan tetapi rasa sakit itu mengubur simpati Kyungsoo.

 

“Kyungsoo! Kumohon, buka gembok ini! Mengapa kau tidak mau berdekatan denganku lagi? Bukankah kau suka dengan pelukanku? Bukankah kau mencintaiku?!”

 

DEG

 

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, sudah tak bisa ia tahan lagi bulir bening yang luluh dari matanya. Perasaan sakit ketika ucapan Jongin selalu benar dan tepat sempat menghujam jantungnya untuk berdetak tidak normal.

 

“Kau masih mencintaiku, kan? Kyungsoo… kumohon… Kumohon.. Jangan buat aku seperti ini.”

 

Bruk

 

Jongin terduduk disana, masih mencengkram besi pagar yang membatasi ruang miliknya dengan ruang Kyungsoo. Jongin menunduk dan Kyungsoo bisa melihat tubuh pemuda tampan tersebut bergetar hebat. Kemudian kedua tangan Jongin bergerak menggoyang- goyangkan pagar besi dengan brutal. Menimbulkan suara berisik yang amat bising.

 

“Jongin-sshi! Hentikan!!” Kyungsoo berteriak keras dan mendekati Jongin. Kyungsoo berjongkok lalu memegangi tangan Jongin yang menggenggam pagar besi dengan kuat. Menghentikan gerakan Jongin agar tidak merusak pagar rumah milik Joonmyeon. Dan ketika itu, Jongin mengangkat wajahnya. Menatap mata bulat Kyungsoo yang masih basah tepat berada didepannya. Seandainya tubuh mereka tidak berbatas pagar besi tersebut, Jongin pasti akan meraih Kyungsoo dengan pelukan.

 

“Kyungsoo..” Jongin memasukkan tangannya disela- sela celah pagar, mengusap pipi Kyungsoo yang basah. Kyungsoo menutup matanya perlahan merasakan jemari Jongin dipipinya, merasakan dengan sadar kini Jongin mulai menarik tengkuknya cepat. Begitu cepat hingga yang Kyungsoo rasakan hanyalah sentuhan bibir Jongin pada bibirnya.

 

 

Mereka berciuman disela- sela pagar besi tersebut.

 

 

Terkejut, Kyungsoo reflek mendorong tubuh Jongin hingga mereka terpisah lagi. Menyebabkan tubuh Jongin terdorong kebelakang cukup keras. Kyungsoo berjalan mundur sembari membekap mulutnya sendiri. Bukannya ia marah…

 

 

..Kyungsoo yang polos hanya begitu tercengang.

 

 

Jongin dan dirinya hanya pernah berciuman ketika memakai piercing beberapa waktu silam kemudian mereka melakukan hubungan intim tanpa ciuman lagi. Kyungsoo masih belum terbiasa dengan perlakuan seperti itu.

 

Akan tetapi hatinya begitu bergejolak riang, dia senang dan bahagia. Padahal sentuhan itu bukanlah sentuhan yang terlalu lama. Singkat tetapi manis dan berharga.

 

Jongin bangkit berdiri, matanya tetap saja menatap pemuda manis yang terdiam dengan wajah merah. Dan kali itu, tangan Jongin jauh lebih masuk kesela- sela pagar besi untuk menggapai Kyungsoo. Akan tetapi pemuda itu mundur hingga Jongin tak bisa menggapainya.

 

 

“Maafkan aku.”

 

 

Suara Jongin lirih sekali memohon maaf. Tentu saja ucapan yang Kyungsoo sangka mustahil untuk keluar dari bibir Jongin membuatnya terkejut. Perlahan tangannya turun dan tubuhnya diam menatap Jongin tidak percaya. Seorang Kim Jongin meminta maaf?

 

 

“Kyungsoo.. Kumohon.. Maafkan aku.”

 

 

 

Sekali lagi.

 

 

Jongin meminta lagi.. Meminta belas kasih Kyungsoo agar bersedia memaafkannya.

 

“Kenapa.. Jongin-sshi.. Kenapa kau minta maaf?”

 

Pertanyaan polos itu membuat Jongin merasa semakin bersalah. Mengapa Kyungsoo bertanya penyebab Jongin minta maaf padanya?

 

“…kau masih bertanya? Kau bahkan tidak menganggapku bersalah padamu? Demi Tuhan, Kyungsoo! Kau akan membunuhku jika kita terus seperti ini!” Jongin mulai frustasi.

 

 

Kyungsoo menunduk, tidak mau menatap sosok yang kini sedang memohon padanya. Betapa menyedihkan wajah Jongin jika diperhatikan, akan tetapi pemuda itu tidak mau sekadar mendekati Jongin atau membukakan gembok pagar tersebut. Kyungsoo takut.. Ia takut berdekatan dengan Jongin. Ia takut pertahanannya goyah dan runtuh begitu saja. Takut.. ia tidak bisa membentuk perasaannya pada Jongin.

 

 

“Pergilah.. Jongin-sshi.” Mohon Kyungsoo lirih.

 

“Apa yang kau katakan?!”

 

“Pergilah! Aku sudah membebaskanmu, bukan? Kau bebas kini! Kau bebas!!!”

 

“Tidak! Kau menginginkanku, kan? Kau menginginkanku, Kyungsoo! Setelah ini kita akan hidup bahagia, aku tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitimu. Kumohon.. Kembali-“

 

DEG

 

Suara Jongin tertelan ketika melihat seseorang berdiri tepat dibelakang Kyungsoo. Menutup mata Kyungsoo dengan sebelah lengannya dan menumpukan dagu runcingnya pada pundak Kyungsoo. Sedangkan tangan sebelahnya memeluk pinggang pemuda manis dengan amat posesif. Dan itu… Membuat Jongin kehilangan kesabaran.

 

“Joonmyeon-hyung..” Bisik Kyungsoo tahu dengan pasti siapa yang membekap tubuhnya kini.

 

Joonmyeon tersenyum, ia masih menutup mata Kyungsoo dan mengarahkan bibirnya tepat disekitar telinga Kyungsoo. Berbisik disana..

 

 

“Waktunya menyelesaikan semua, Kyungsoo.”

 

 

DEG

 

 

“Brengsek!! Buka pagar sialan ini!” Teriak Jongin sembari menendang pagar besi tersebut hingga menyebabkan bunyi dentuman keras. Ia sangat tidak terima dengan perlakuan Joonmyeon pada Kyungsoo-nya… Kyungsoo milik Jongin.

 

 

Bukankah begitu dahulunya?

 

 

Kyungsoo tersentak mendengar erangan marah dari Jongin, namun ia tidak bisa melihat apapun karena matanya ditutup oleh Joonmyeon. Akan tetapi ia bisa merasakan, bahwa kemarahan yang dirasakan Jongin sudah jauh diambang batas. Kyungsoo tahu dengan jelas jika pemuda itu marah, ia bisa melakukan apapun. Kyungsoo harus menghentikan Jongin secepatnya, sebelum ada yang terluka.

 

 

“Kim Joonmyeon!” Pekik Jongin makin mengerikan. “Lepaskan kekasihku! Kau ingin mempengaruhinya, oeh?!”

 

 

“Kekasih? Kau gila, Kim Jongin? Ia bahkan sudah tidak mau lagi bersamamu!” Joonmyeon tersenyum mengerikan, tentu hanya Jongin yang bisa melihat senyuman Joonmyeon. Seperti bukan Joonmyeon saja.

 

“Benarkan, Kyungsoo? Kau ingin lepas dari rasa sakit itu? Kau tidak ingin Jongin menyakitimu lagi, bukan?” Sambung Joonmyeon lirih.

 

Kyungsoo tersentak, ia gigit bibir bawahnya dan menunduk pelan. Ia genggam tangan Joonmyeon yang masih menutup matanya kemudian.. Menggeleng. “Aku tidak mau, hyung.”

 

Jongin membulatkan matanya tidak percaya dengan jawaban Kyungsoo. Apa!! Kyungsoo benar- benar ingin lepas dari Jongin? Bagaimana bisa?! Bukankah Kyungsoo selama ini mencintai Jongin? Bukankah karena itulah Kyungsoo bersabar selama ini? Bukankah karena itu Kyungsoo… menusuk perasaannya sendiri akibat perlakuan Jongin yang amat seenaknya.

 

“Kyungsoo!? Tidak! Tidak! Kau hanya dipengaruhi oleh Joonmyeon!” Jongin kembali mengguncang pacar besi itu, berharap ia bisa merusak pagar tersebut dan menggapai Kyungsoo. Namun nihil. Pagar sialan itu sangat kuat.

 

Joonmyeon menyeringai kejam dan mengusapkan hidungnya pada pipi Kyungsoo, ia menatap Jongin yang semakin saja brutal menendang keras pagar rumahnya. “Kyungsoo..” Bisik Joonmyeon amat pelan.

 

 

“Jangan dengarkan dia, Kyungsoo!!” Jongin masih berteriak lantang.

 

 

“Selesaikan.” Sambung Joonmyeon sembari melepas tangkupan tangannya dari mata Kyungsoo, sehingga pemuda itu bisa melihat sosok Jongin kembali. Joonmyeon juga sudah melepas pelukannya dari tubuh Kyungsoo. Mata bulat Kyungsoo yang basah membuat Jongin terdiam. Tatapan mata mereka berdua mulai intens. Beberapa saat kemudian Kyungsoo membuka katub bibirnya, menanyakan sesuatu yang nyaris membuat Jongin menjerit pilu.

 

 

“Apakah dulu aku adalah kekasih yang buruk untukmu, Jongin-sshi?”

 

 

Oh tidak, Kyungsoo sudah menggunakan kata lampau. Kyungsoo sudah mematenkan dirinya.. Sebagai mantan kekasih Jongin?

 

 

“..hingga kau selalu menyakitiku.” lirih Kyungsoo amat menyedihkan.

 

 

Belum sempat Jongin menjawab, Kyungsoo kembali membuka suara.

 

 

“Pernahkah kau mencintaiku?”

 

 

DEG

 

 

Jongin bersumpah tubuhnya seperti dilempar kedalam lahar panas. Wajah Jongin menegang dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak! Apa yang dipertanyakan Kyungsoo? Masalah cinta? Jongin… seorang Jongin tidak akan pernah mau membahas hal yang ia anggap menjijikkan. Cinta adalah permainan, dan ia akan memainkannya sesuka hati. Cinta bukanlah konsumsi Jongin awalnya, ia bahkan tidak mau menyentuh kata itu.

 

 

Tetapi… Kini… tidak bisakah Kyungsoo membaca jika Jongin.. bahkan sudah menyadari keberadaan Kyungsoo.. sebagai..

 

 

—Cinta?

 

 

Atau.. Jangan- jangan selama ini Kyungsoo selalu bertahan walau dia tidak tahu secara pasti bagaimana perasaan Jongin padanya?

 

 

Mengemban rasa sakit tidak tertahankan dalam ketidakpastian akan penyambutan cinta?

 

 

Bodoh!

 

 

 

Kyungsoo kembali tersenyum, dan kali ini menyedihkan. Senyuman itu memilukan. “Kau bahkan tidak bisa menjawabnya, Jongin-sshi.”

 

 

Jongin menggeleng cepat. “Kyung-“

 

 

“Semua sudah berakhir, Jongin-sshi.”

 

 

Bahkan kau tidak memberikanku waktu

Kau tidak sudi lagi mendengar pilu hatiku

Kau meninggalkanku

Please…

Just stay.

Stay for me…

 

Sudah nyaris satu bulan setelah Jongin dan Kyungsoo benar- benar berakhir. Kyungsoo sudah bersekolah seperti biasa. Dia menghabiskan waktu istirahatnya bersama Chanyeol, terkadang bersama Joonmyeon. Dan yang bisa Jongin lakukan hanyalah mengamati Kyungsoo dari jauh. Walau sampai saat ini ia masih belum mau menerima keputusan Kyungsoo untuk berpisah. Pemuda tampan itu sudah hidup layaknya manusia tanpa rasa. Ia tidak lagi bersinar layaknya pemenang beribu hati manusia diluar sana seperti dulu. Kini..

 

..ia tidak butuh ratusan pemuda cantik ataupun gadis cantik yang menunggunya.

 

 

Dia hanya membutuhkan Kyungsoo.

 

 

Jongin, harus bisa berpuas hati mengawasi Kyungsoo dari jarak yang cukup jauh. Chanyeol selalu berada didekat Kyungsoo, apalagi Joonmyeon yang entah sudah memiliki hubungan apa dengan Kyungsoo. Jongin amat tidak ingin tahu karena ia pikir… Kyungsoo tidak mungkin menemukan pengganti dirinya secepat itu. Dan Jongin tidak akan pernah membiarkan Kyungsoo menemukannya.

 

Kali ini, Jongin tengah menatap Kyungsoo dari balik tembok, beberapa meter didepannya Kyungsoo sedang duduk dibangku taman belakang sekolah bersama Baekhyun. Tempat favorit Kyungsoo tentunya. Pemuda manis itu memang suka menghabiskan waktu ditempat yang tenang, sembari memakan sandwich sayur kesukaannya. Kedua pemuda cantik itu bersenda gurau.. Kyungsoo tertawa.. benar. Namun wajah Kyungsoo tidak pernah seceria dahulu, tidak! Tidak! Sebenarnya sinar pemuda manis itu sudah meredup sejak menjalin hubungan dengan Jongin. Bagaimana tidak, setiap detik hanya rasa sakit tak dianggap dan dibuang yang Kyungsoo rasakan.

 

 

Kini ia sudah bebas.

 

 

Namun mengapa rasanya…

 

..jauh lebih hampa?

 

 

Kau terlihat jauh lebih cantik

Kau terlihat jauh lebih manis

Kau bahkan tidak pernah terlihat buruk dimataku

Kau selalu sempurna dimataku

Selalu…

 

 

Jongin tidak bisa sedikitpun melepas pandangan matanya dari Kyungsoo, semakin hari pemuda manis itu semakin saja terlihat cantik dimata Jongin. Ia semakin anggun dan.. Jongin ingin menjaga pemuda bertubuh mungil itu dalam dekapannya. Semakin saja penyesalan yang ia rasakan seperti bom waktu yang meledak setiap ia melihat Kyungsoo. Rasa tak pantas mulai membuatnya gila.. Ia gila karena rasa ingin memiliki itu semakin memuncak, bukannya hilang.

 

Ia masih mengamati Kyungsoo yang tengah meneguk susu strawberry kotak miliknya. Jongin hanya berani mengambil jarak sejauh itu karena ia.. ia tidak mau mengganggu Kyungsoo. Jika Kyungsoo ingin melepasnya, Kyungsoo tidak ingin berada didekatnya.. Jongin akan coba menerima. Tetapi ia tidak bisa melepas matanya dari Kyungsoo. Ia tidak bisa..

 

 

..maka ia harus berpuas diri..

 

 

… menjadi sosok yang nyaris terlupakan.

 

 

 

Kali ini biar aku yang merasakan sakit itu

Kau tahu rasanya terbakar?

Jauh lebih menyakitkan ketika melihatmu bersamanya..

Bukan.. aku..

 

 

 

Kyungsoo berlari keluar dari kelasnya, kali ini ia tidak berlari kearah kelas Jongin lagi. Melainkan kelas Joonmyeon. Jongin yang sudah mengawasi kelas Kyungsoo dari tadi hanya bisa menghela nafas pelan dan berjalan mengikuti Kyungsoo. Walau ia tetap menjaga jarak.

 

Koridor sekolah itu seketika penuh karena murid- murid kelas lain sudah keluar dari kelas. Ada beberapa yang berlari, bersenda gurau, melempar kertas. Heboh sekali. Namun mata Jongin tetap terfokus pada sosok yang masih berlari kecil beberapa meter dihadapannya. Langkah Jongin semakin cepat ketika, segerombolan murid lelaki berbadan tegap tengah bersenda gurau didekat persimpangan koridor. Mata Jongin membulat ketika salah satu murid lelaki berjalan mundur secara tiba- tiba. Hey! Kyungsoo bisa bertabrakan dengan murid lelaki berbadan besar itu!

 

Jongin berlari ingin menarik Kyungsoo, namun…

 

 

Grep

 

 

“Berhati- hatilah.”

 

 

Suara itu…

 

 

Jongin berhenti melangkah dan.. ia terdiam ditempatnya berdiri.

 

 

Melihat…

 

Joonmyeon yang sudah merangkul atau memeluk pundak Kyungsoo dan berbicara pada murid berbadan tegap tersebut agar berjalan lebih hati- hati. Murid lelaki yang nyaris menabrak Kyungsoo langsung menunduk minta maaf dan pergi dari tempat itu. Jongin masih saja menatap tanpa ekspresi kepada Joonmyeon dan Kyungsoo yang berjarak cukup jauh. Kyungsoo tidak menyadari keberadaan Jongin karena pemuda itu membelakangi Jongin.

 

Joonmyeon tersenyum amat manis dan mengusap wajah serta rambut coklat Kyungsoo. Ia peluk pemuda manis bertubuh mungil itu dalam kehangatan. Kyungsoo tersenyum dan membalas pelukan Joonmyeon, Jongin bisa mendengar suara tawa dari bibir Kyungsoo. Amarah mulai ia rasakan ketika, tatapan mata Joonmyeon terpatok pada Jongin.

 

Ternyata Joonmyeon tahu, Jongin dari tadi memperhatikan mereka. Kyungsoo yang masih membelakangi Jongin tidak tahu menahu soal tatapan tajam antara Jongin dan Joonmyeon. Pemuda manis itu masih saja berbicara, Joonmyeon menanggapi perkataan Kyungsoo dengan suara amat lembut. Padahal wajah Joonmyeon jauh dari kata lembut saat ini. Wajahnya bengis menatap Jongin, seakan ia sudah memenangkan sesuatu dari Jongin.

 

Seketika..

 

Seketika.. Jongin merasa tubuhnya dililit oleh batang bunga mawar yang penuh duri. Menancapkan duri tajamnya disetiap permukaan kulit Jongin… yang merasa terluka melihat kedekatan Joonmyeon dan Kyungsoo yang ada dihadapannya. Kini kedua pemuda itu bergerak meninggalkan Jongin yang masih membeku ditempat. Tangan Jongin terkepal, seakan ingin menghancurkan semua yang ada dihadapannya. Namun ia tahu.. dia tidak punya hak lagi.

 

Dia bukan siapa- siapa Kyungsoo.

 

Dia tidak pantas cemburu—

 

 

 

Harus kubawa kemana cinta ini?

Apakah harus kusimpan sampai mati?

Hingga kau sadar…

.. bahwa bagiku, kau adalah dunia tempatku berputar

    

 

 

Setahun kemudian—

 

 

 

Kesempatan bagi Jongin tidak pernah datang untuk berlama- lama bersama Kyungsoo. Hingga nyaris sudah setahun kurang Jongin mengikuti Kyungsoo. Mengamati pemuda manis itu dari jauh, tanpa sepengetahuan Kyungsoo tentunya. Jongin tidak pernah bicara dengan Kyungsoo, malangnya Jongin mengira Kyungsoo sudah benar- benar melupakan dirinya.

 

 

Dan selama itu pula…

 

 

 

…selama itu pula Jongin dan Kyungsoo menyiksa perasaan mereka satu sama lain.

 

 

Tidak ingatkah dimana kita saling tertawa

Walau kau masih mengemban beban penderitaan dengan mencintaiku

Namun mengapa kini.. ketika aku sudah memusatkan segalanya padamu

 

Kau membuangku—

 

 

 

Saat ini Kyungsoo menangis tersedu- sedu, seakan dunia yang ia injak tidak lagi menerimanya. Ia menghempaskan punggungnya disebuah tembok bangunan belakang sekolah. Tempat paling sunyi dan jarang sekali dikunjungi oleh murid- murid lain. Kyungsoo terduduk sembari memeluk lututnya. Tubuhnya gemetaran hebat, mencoba meluapkan semua yang ia rasakan didalam hatinya. Mencoba mengeluarkan rasa yang selama ini ia pendam dengan menekan hatinya, hingga sesak itu tak tertahankan lagi. Sudah selama itu rupanya…

 

 

“Kenapa… Kenapa!!!” Kyungsoo berbisik sembari terisak.

 

 

Ia gamang, ketika… masih ia sadari bahwa ia.. tidak bisa melupakan orang itu. Mencoba berlagak tidak perduli dan ingin menjalani hidup baru tanpa.. orang itu. Ingin mendapat kebahagiaan tanpa rasa sakit yang orang itu selalu torehkan padanya. Ingin menutup dan mengobati luka itu hingga sembuh sepenuhnya. Namun…

 

 

.. aku terlalu mencintainya—

 

 

Dia tidak bisa.

 

 

Selama apapun dan sekuat apapun ia mencoba.. untuk membuangnya. Ia tak bisa—

 

 

Topeng yang Kyungsoo pakai selama ini hanyalah hiasan kebahagiaan semu yang ia rasakan bersama Joonmyeon. Dengan jelas, Kyungsoo mengetahui bahwa.. Joonmyeon menjadikannya sebagai tempat pelarian karena kekasih Joonmyeon, Yixing, meninggalkannya. Yixing bahkan sudah pindah kesebuah sekolah swasta yang berada di China. Joonmyeon sangat terpukul saat mengetahui hal itu, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Joonmyeon melepas Yixing- untuk saat ini.. dan Joonmyeon mengatakan bahwa semua ini ia lakukan demi kebahagiaan Yixing. Sudah nyaris 6 bulan yang lalu Yixing pindah sekolah.. dan sejak saat itu pula.. Joonmyeon seperti orang lain.

 

Joonmyeon sudah lulus setahun yang lalu dari sekolah ini. Dahulu ia sering kali mengunjungi sekolah walau ia sudah lulus hanya untuk menjumpai Yixing, namun sejak Yixing pindah sekolah.. Joonmyeon jarang sekali mengunjungi sekolah lagi. Dan Kyungsoo tahu Joonmyeon frustasi. Disaat Kyungsoo terjatuh dan tersungkur, Joonmyeon yang mengangkat pemuda itu hingga ia bisa yakin bahwa ia bisa lepas dari Jongin dan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih indah diluar sana. Walau Kyungsoo tahu… ia tidak akan pernah bahagia karena..

 

 

..yang ia cintai hanya Jongin.

 

 

Hingga saat ini dan.. perasaan Kyungsoo pada Jongin terlalu dalam. Membuatnya sesak nafas dan sulit bergerak jika tidak sengaja bertemu Jongin disekolah. Dan ketika Kyungsoo ingin mengeluarkan air matanya, Chanyeol selalu datang untuk menutupi tangisan sahabatnya itu. Semua usaha sudah dilakukan oleh Kyungsoo.. untuk melupakan Jongin. Menekan hatinya, menekan semuanya.. Bukannya ia meninggalkan Jongin untuk satu alasan tidak jelas, bukan! Namun ia tidak mau lagi menjalani kisah yang sama jika nanti ia kembali bersama Jongin. Ia ingin dicintai selayaknya manusia lain.

 

 

Apakah Kyungsoo egois?

 

 

 

Dan sekarang.. saat ini.. detik ini… alasan pemuda itu menangis karena.. ia tahu. Ia sadar bahwa dirinya tidak pernah berubah dan.. Jongin-pun demikian. Jongin tetaplah Jongin.. mungkin pemuda itu memang memohon dahulunya pada Kyungsoo tetapi lihatlah kini. Mereka masih saja berada ditempat yang sama. Tidak berubah seperti Joonmyeon yang kini memiliki beribu cita untuk kembali menggapai Yixing kembali.

 

 

Dan… hari kelulusan mereka hanya tinggal dua bulan lagi.

 

 

Hari kelulusan… perpisahan.

 

 

Setelahnya..

 

 

 

Mereka akan pergi dan.. terpisah jauh.

 

 

Kyungsoo takut…

 

 

 

…Kyungsoo takut jika ia masih tidak bisa melepas Jongin.

 

 

 

Sebelum ia bisa membersihkan hatinya dari nama ‘Kim Jongin’.

 

 

 

“Hyung… Berarti kau tahu cara menyembuhkan luka hatiku?”

 

“Ya.. aku tahu.”

 

“Kalau begitu.. sembuhkan aku.”

 

“Apakah kau… menerima aku menjadi… kekasihmu?”

 

“Ha? Hyung.. aku… mencintai Jongin.. aku—“

 

“Hahaha! Jangan berwajah seperti itu. Tidak apa- apa. Kita jalani saja seperti ini. Kita akan saling menguatkan dan memberi semangat ketika kita sedang terpuruk. Aku tidak akan memaksamu.. namun.. Kyungsoo, satu hal yang aku minta padamu.”

 

“Apa itu, hyung?”

 

 

“Buat dia mengerti.. rasa sakit pengorbanan yang kau rasakan.”

 

 

 

Jongin terduduk disatu sisi tembok, ia menengadahkan wajahnya keatas. Berusaha menahan sesuatu yang akan jatuh dari matanya. Isakan pilu yang ia dengar dari arah belakangnya tentu saja cukup merobek dan mengoyak hatinya. Tepat dibelakangnya, hanya berbataskan tembok lusuh tersebut, Kyungsoo ada dibelakang Jongin. Menangis seakan tidak ada hari esok untuknya. Jongin menggigit bibir bawah. Matanya memanas seperti terkena asap pembakaran.

 

 

Dan usahanya gagal…

 

 

 

 

… Jongin menangis saat itu.

 

 

 

Sayang, luka hatimu terlampau dalam

Ucapan maaf ku tidak akan cukup

Walau mungkin saja suatu saat kau akan memaafkanku

Namun…

 

… masih bisakah kau mempercayaiku?

 

Sekali lagi?

 

 

 

 

Joonmyeon yang kebetulan sedang mengurus surat rujukan dan beberapa sertifikat disekolah itu setelah ia lulus setahun yang lalu sedang mencari Kyungsoo. Sudah lama sekali ia tidak melihat Kyungsoo, menurut beberapa teman Kyungsoo, pemuda manis itu tadi berjalan kearah belakang sekolah. Joonmyeon tahu tempat favorite Kyungsoo. Tidak sabar rasanya melihat Kyungsoo yang sudah ia anggap sebagai adik. Keinginan Joonmyeon melanjutkan sekolah di China sedikit banyak menyita waktu pemuda itu untuk memiliki waktu senggang.

 

 

Namun…

 

 

Deg

 

Joonmyeon melihat keadaan itu dari jauh… Ia melihat Kyungsoo yang menangis sembari memeluk lututnya sedangkan.. Jongin tepat dibelakang Kyungsoo ikut menangis tanpa suara. Mereka hanya dipisahkan oleh tembok lusuh bangunan sekolah yang akan segera mereka tinggalkan kurang lebih 2 bulan lagi. Joonmyeon tahu, Kyungsoo pasti tidak tahu jika Jongin berada dibelakangnya. Kyungsoo tidak tahu… Jongin ikut menangis pilu walau ia tidak terisak.

 

 

Tidak ada yang mengatakan semua ini adalah hal yang mudah, bukan?

 

 

Jika saja semuanya bisa dikembalikan keawal.. Andai saja Jongin bisa menjadi lelaki setia sejak awal. Andaikan saja Yixing tidak perlu terlena akan pesona Jongin.. andai saja.. Joonmyeon tidak harus terikat pada takdir memilukan ini. Bukan hanya dirinya.. mereka.

 

Ini misteri hidup.

 

Joonmyeon membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi tempat itu dan.. seketika ia gamang, terduduk. Kakinya gemetaran, dan Joonmyeon mencoba mengontrol emosinya yang mulai meledak. Seketika ia mendekati sebuah pondasi untuk bersandar. Ia mengatur sesaknya nafas dan hatinya yang selalu ia tahan. Sekelebat kenangan dengan Yixing mulai kembali terlintas bagaikan pemutaran video, otak Joonmyeon seakan terus menekan tombol ‘replay’.

 

“…Demi Tuhan..” lirih Joonmyeon kemudian.

 

 

 

Kita tak pernah bermaksud mengatakan ‘Selamat tinggal’

Tidak pernah ingin berpisah sesungguhnya

Mimpi itu yang menyatukan kita

Kenyataan yang memisahkan kita

 

 

Sepulang sekolah…

 

Dikoridor sekolah yang lengang… –saat terakhir.

 

 

Kini mereka berhadapan, hari terakhir sebelum mereka melakukan ujian akhir sekolah. Kyungsoo menunduk ketika Jongin berada tepat dihadapannya. Tidak ada yang akan menolongnya kini, Chanyeol dan Baekhyun sudah punya janji berdua. Joonmyeon sedang berada diruang guru, mengurus beberapa sertifikat yang ia miliki dulu ketika bersekolah disana untuk melanjutkan studi ke Universitas di China.

 

 

Kini.. Kyungsoo sendiri yang harus mempertahankan dirinya.

 

 

Mempertahankan diri dari Jongin..

 

 

“Kyungsoo.”

 

 

Panggilan Jongin membuat pemuda manis itu tersentak. Sudah setahun lebih ia tidak bertegur sapa dengan Jongin. Sudah sangat sering Kyungsoo merindukan suara Jongin memanggilnya. Akan tetapi ia tidak mau lagi, sungguh. Ia sudah susah payah mengubur perasaannya sendiri pada Jongin. Bohong besar jika ia tidak mencintai Jongin lagi. Jongin adalah cinta pertamanya, Jongin adalah pemuda yang bisa membuatnya merasakan bahagia dan sakit secara bersamaan. Jongin mengajari segalanya. Berbagai rasa pahit dan manis ketika mencintai seseorang.

 

 

“Aku—aku harus pergi.” Hanya itu balasan Kyungsoo lalu ia menggerakkan kakinya melewati Jongin.

 

 

“Belum puaskah kau menghukumku?”

 

 

DEG

 

 

Langkah kaki Kyungsoo terhenti setelah mendengar ucapan tajam namun lirih dari Jongin. Mata bulat Kyungsoo memerah dan terasa panas. Oh tidak, dia akan segera menangis, kah? Ternyata dia belum bisa mempertahankan dirinya dari Jongin. Ia tidak bisa mengontrol perasaannya walau sudah lama waktu berlalu tanpa Jongin disisinya.

 

 

Apakah seperti ini tulusnya mencintai?

 

 

“Apa—Apa yang kau bicarakan?” Kyungsoo tidak berniat membalikkan tubuhnya hanya untuk melihat wajah Jongin yang masih berdiri disana. Jongin pun demikian, ia tidak membalikkan tubuhnya hanya untuk melihat punggung sempit Kyungoo. Mereka berdiri membelakangi satu sama lain dengan jarak yang tidak terlampau jauh. Namun.. mereka berdua tahu, tidak ada yang berwajah bahagia. Bahkan keduanya nampak tersiksa. Menahan tangis.

 

 

“Aku mengerti mengapa.. kau tidak mau kembali padaku, Kyungsoo.”

 

 

Mendengar ucapan Jongin yang amat pelan, Kyungsoo menunduk dan memilin tali tas sandangnya. Menggigit bibir bawah menahan isakan. Kyungsoo tidak akan menangis! Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Jongin. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah Kyungsoo yang kuat tanpa Jongin. Ia hanya ingin..

 

 

 

…Jongin menganggapnya berharga—

 

 

 

“Aku merindukanmu, Kyungsoo.. Walau aku selalu mengikutimu sejak kita berpisah.. Haha.. seperti orang bodoh, bukan? Bahkan kenangan manis kita terkadang menyakitkan untuk dikenang. Dan dari semua kenangan itu… aku mengerti rasa sakit itu, Kyungsoo. Sakitnya diacuhkan dan tidak dianggap. Seperti.. selama ini.. saat ini… aku bahkan tidak kau anggap sama sekali.”

 

 

Diamlah, Kim Jongin.

 

 

Kyungsoo tersayang bisa menangis lagi jika kau mengatakan hal itu dengan nada suara yang amat pilu. Ia paling tidak tahan jika memikirkan Jongin. Siapa yang tidak menganggap Jongin? Siapa? Bahkan dikala tidur dan bangun, Kyungsoo hanya mendoakan kebahagiaan Jongin, walau itu tanpa dirinya. Kyungsoo mengutuk dirinya yang sampai saat ini belum bisa melupakan jongin barang sekali. Itu menyakitkan.. padahal Kyungsoo sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jongin.

 

“Walau waktu berjalan cepat.. tidak kusangka satu tahun lebih… aku merasakan sakitnya kau tinggalkan, sendirian. Dan.. tahukah, Kyungsoo? Waktuku tidak pernah berjalan.. selalu kembali kewaktu dimana kita berpisah. Aku tidak pernah.. bisa berjalan tanpamu.. waktuku.. tidak pernah berjalan tanpamu.”

 

 

Aku merindukan tubuh hangatmu ketika memelukku

Mencium pipiku dan membisikkan bahwa aku adalah milikmu

Aku merindukan senyuman manismu…

Aku merindukanmu..

 

 

“Aku.. Aku tidak—“

 

 

“Kyungsoo… kau juga merasakan hal yang sama, bukan? Kita.. selalu kembali kemasa lalu. Mengingat semuanya adalah beban untuk kita kini.. namun melupakan kenangan itu.. kitapun tidak sanggup.. karena walau menyakitkan, kenangan itu berharga.”

 

 

Menunggumu lebih baik

Daripada melupakanmu didalam hidupku

 

 

Kyungsoo menitikkan air matanya, ia menggeleng pelan. Mencoba menelan isakannya agar tidak terdengar oleh Jongin. Menggigit bibir bawahnya terlalu keras.Oh Tuhan, hentikan semua ini. Hentikan! Kyungsoo merasa tidak adil, mengapa ucapan Jongin begitu tajam menghentak perasaannya. Karena semua yang Jongin katakan adalah kebenaran? Semuanya benar!

 

 

Mengakuinya tidaklah mudah

Kau pikir semudah itu mempercayai lagi orang yang sudah mengkhianatimu?

 

 

Jongin tersenyum miris. Walau mereka saling membelakangi, Jongin tahu bahwa Kyungsoo masih disana. Masih mendengarkan Jongin berbicara. Dan mirisnya, Jongin mendengarkan isakan halus dari arah belakangnya, arah Kyungsoo.

 

 

“Sudah berapa lama kau menangis sendirian karena diriku.. Kyungsoo?”

 

 

“Bagaiamana… caranya agar kau mengerti, Jong—in.. aku.. aku mencintaimu sepenuh hatiku.. waktu itu.. aku merasa kita sudah bersatu.. Kita mulai saling memahami setelah kita melakukan hal itu.. aku memberimu harga diriku. AKU MEMPERCAYAIMU!!”

 

Teriakan Kyungsoo bersambung dengan isakan memilukan. Kini tidak tertahankan lagi sakit hati itu karena telah dikorek kembali. Seakan luka itu tidak akan rusak, namun kenyataannya jauh lebih parah. Luka itu bersimbah darah. Luka hati Kyungsoo dan.. Jongin.

 

“Maaf.”

 

Ucapan lirih Jongin tidak memperbaiki keadaan. Hanya menambah pilunya hati Kyungsoo ketika mendengarnya. Ini yang tidak ingin ia ungkit lagi. Dia tidak ingin ada yang saling menyalahkan atau disalahkan. Maka dari itu selama ini ia menghindari Jongin, ia rasa cukup tersimpan didalam hati dan terlupakan oleh ribuan hari. Ratusan ribu detik, pasti bisa menguburnya hingga luka itu sembuh dengan sendirinya.

 

Tetapi… takdir tidak memperkenankan hati Kyugsoo dan Jongin berakhir seperti itu.

 

 

“Su—sudahlah! Lebih baik kita ti—“

 

 

Grep—

 

 

Kyungsoo terdiam, ia merasakan pelukan hangat menyergap tubuhnya dari belakang. Jongin menerjangnya dengan dekapan, menyembunyikan wajah tampannya dipundak sempit Kyungsoo. Membiarkan aroma tubuh Kyungsoo yang ia rindukan hingga nyaris terasa ribuan tahun lamanya menyeruak menyentuh indra penciuman. Kyungsoo masih terisak dan itu semakin saja memperburuk keadaan hati Jongin. Ia mempererat pelukannya dipinggang ramping Kyungsoo sedangkan sebelah tangannya lagi melingkar didada hingga pundak Kyungsoo. Posisi Kyungsoo benar- benar terkurung didalam dekapan Jongin.

 

 

“Lepaskan aku, Jongin-sshi!” Kyungsoo berusaha melepas pelukan Jongin.

 

 

“Sebentar saja, Kyungsoo.. kau tidak perlu menahan diri lagi. Kumohon.. jangan buat aku jauh lebih gila lagi. Kumohon.”

 

 

Jongin memohon.

 

 

Deg

 

Kyungsoo terdiam kali ini. Tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal seperti itu. Apakah selama ini pemuda tampan bernama Jongin, pemuda sombong dengan seribu pesona, memohon pada Kyungsoo? Memohon agar.. membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Jongin?

 

 

Bahkan dulu Kyungsoo yang memohon agar Jongin melihatnya..

 

 

Agar Jongin meliriknya saja, Kyungsoo harus memohon—

 

 

Isakan halus terdengar kembali, Kyungsoo menunduk dan menggenggam lengan Jongin yang melingkar didada hingga pundak Kyungsoo dengan kedua tangan mungilnya. Jongin mencium pundak Kyungsoo cukup lama, kemudian mempererat kembali dekapannya, seakan takut pemuda itu melepas atau terlepas dari dekapannya. Mereka cukup lama berdiam diri, dari jendela koridor nampak cahaya matahari tenggelam merambat masuk. Menyinari tubuh mereka yang bergetar halus.. indah jika diamati. Mereka hanya berdua saja berdiri ditengah koridor sekolah kosong dan sinar matahari berwarna jingga seakan menjadi saksi bisu bahwa kedua nya tengah melepas hati masing- masing.

 

 

“Tidak cukupkah waktu… membuktikan hatiku padamu, Kyungsoo?”

 

 

Masih saja lirihan suara tangis yang Kyungsoo pamerkan. Ia benci mengetahui bahwa ia begitu lemah jika dihadapkan oleh Kim Jongin. Kyungsoo berharap ia bisa kuat jika Jongin tidak perrnah menemuinya lagi setelah ini. Menjalani kehidupan masing- masing dengan melupakan semua yang yang terjadi dimasa lalu.

 

“Rasanya sulit.. mempercayaimu kembali..” bisik Kyungsoo lirih sembari menggeleng pelan. Ia hapus air matanya , namun sia- sia saja. Pipi itu tetap saja basah dan teraliri butiran hangat air matanya.

 

Jongin melepas pelukannya dan memutar tubuh Kyungsoo dengan amat perlahan, berhati- hati agar pemuda itu tidak memberontak. Kini, wajah merah yang basah milik Kyungsoo terpat berhadapan dengan Jongin. Wajah manis Kyungsoo yang ia lihat dari dekat, baru kali ini sejak setahun yang lalu. Semuanya sama, Kyungsoo tetap cantik.. Kyungsoo tetap manis.. mata itu masih mata kesayangan Jongin, bibir itu masih saja bibir merah nan indah kesukaan Jongin.. Kyungsoo-nya yang manis.

 

“Aku tahu.. dan aku tidak akan pernah memaksamu.”

 

“Maafkan aku..” isak Kyungsoo lagi.

 

 

Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo, mengaitkan kening mereka. Membiarkan mata mereka berdua tertutup untuk beberapa saat, meresapi deru nafas mereka yang bersentuhan. Isakan halus yang Kyungsoo perdengarkan  terhenti dan ia memegang tangan Jongin yang menangkup kedua pipinya. Mengusapnya lembut. Dan kini ujung hidung mereka sudah bersentuhan, mempersempit jarak kehidupan mereka berdua dengan perlahan.

 

 

“Aku mencintaimu, Do Kyungsoo.”

 

 

 

Kau tahu bagaimana rasanya tersakiti dan..

..kau juga tahu bagaimana rasanya mencintai dengan tulus

Sudah jalannya, sudah waktunya, dan.. sudah takdir

Bahwa manusia memang harus menderita dikala bahagia terasa

Begitu juga sebaliknya

 

Yang bisa manusia lakukan hanyalah…

..bersyukur.

 

Karena semua tidak akan sama seperti semula…

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Seorang pemuda tampan, sembari memegangi kopi kalengnya duduk disebuah bangku taman. Mata tajamnya yang menawan, dan perawakannya tegas dan dewasa… cukup mengalihkan pandangan beberapa orang untuk menatapnya.

 

 

Dia—Jongin.

 

 

Jongin duduk disebuah bangku taman yang tepat berada dibawah pohon yang berdaun warna jingga. Itu mengingatkan Jongin pada janji mereka 4 tahun yang lalu dikoridor sekolah. Tepat empat tahun lalu. Kini pemuda bermarga Kim, melirik jam ditangannya. Tersenyum miris sekali. Sudah menjadi kebiasaannya untuk terus mengunjungi tempat itu dihari sama dan tanggal yang sama. Waktu yang sama dijanjikan saat itu—Kembali ia ingat serpihan ingatannya tentang masa lalu.

 

.

.

.

 

 

“Aku mencintaimu, Do Kyungsoo.”

 

 

DEG

 

 

Mata Kyungsoo membulat sempurna. Ia terhenyak begitu dalam, sakit menggeroroti dadanya. oh Tuhan! Tidakkah ia bermimpi? Jongin mengatakan bahwa…

 

 

Bahwa ia mencintai Kyungsoo?

 

 

Ya Tuhan! Ini adalah mimpi Kyungsoo, doa dan harapannya yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan. Agar suatu saat Jongin mencintainya, menyayanginya dan.. menganggapnya. Agar suatu saat Do Kyungsoo benar- benar berada didalam hati Kim Jongin.

 

Namun…

 

 

Mengapa… baru sekarang?

 

 

“Maaf! Aku tida—“

 

 

“Jangan menjawab sekarang. Kumohon! Berfikirlah terlebih dahulu…”

 

 

Kyungsoo menunduk dan mengangguk beberapa kali. “Aku—butuh waktu untuk memikirkan semuanya.”

 

Jongin mengusap pipi Kyungsoo dengan lembut, kemudian tersenyum amat manis. Walau kesan luka itu sama sekali tidak luntur diwajah tampannya. “Dihari kelulusan.. tunggu aku ditaman kota. Tempat dimana dulunya kau menyatakan perasaanmu padaku. Tepat dibawah pohon berdaun jingga.”

 

“Kau—masih ingat?” Kyungsoo membulatkan matanya, mengakibatkan air mata kembali jatuh. Dengan sigap Jongin mengusap air mata itu dan mengangguk dengan pelan. Ia bisa merasakan tubuh Kyungsoo yang bergetar. Mengapa anak ini terlihat begitu rapuh, pikir Jongin.

 

 

“Aku menunggumu disana.. dihari kelulusan kita. Dan .. kau harus memberiku jawaban.”

 

 

“Jawaban?”

 

 

Jongin memegang tangan Kyungsoo kemudian mengecup punggung tangan itu. “…Maukah kau kembali padaku, Do Kyungsoo?”

 

 

 

Mata itu memerah dan terasa berat. Jongin mengusap wajahnya dan.. ia tidak akan pernah malu untuk selalu mengulang kata- kata itu pada… Do Kyungsoo. Air mata yang tidak pernah habisnya ketika mengenang semuanya.

 

 

“Aku mencintaimu, Kyungsoo.”

 

 

 

Jongin memeriksa detik dan waktu pada jam tangannya, ia sudah menunggu beberapa menit disana. Tepat ditaman yang dijanjikan. Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Hari dimana mereka bukan lagi murid Sekolah Menegah Atas. Mereka sudah lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan. Masih mengenakan pakaian sekolah dan jas kebanggaan sekolahnya untuk terakhir kali, Jongin menunggu Kyungsoo ditaman itu. Suasana siang hari yang menyenangkan, ia tidak akan bosan menunggu Kyungsoo disana. Beberapa menit berlalu sia- sia hingga sejam sudah berlalu. Jongin sadar kini.. apakah Kyungsoo tidak akan datang?

 

Dengan kesabaran Jongin tetap menunggu Kyungsoo disana. Walau ia sudah menunggu nyaris 3 jam lamanya.

 

Dia akan menunggu karena Kyungsoo—

 

 

 

Akan datang!!

 

 

 

“Kumohon, Kyungsoo..” bisik Jongin berharap.

 

 

 

 

 

Namun kenyataannya Kyungsoo tidak pernah datang. Hingga sudah empat tahun berlalu, Kyungsoo tidak pernah datang. Jongin bukannya tidak mau menyusul Kyungsoo kerumahnya, atau mencari Kyungsoo. Akan tetapi, Kyungsoo kembali seperti ditelan bumi. Bahkan keluarganya tidak menetap lagi di Korea—kabar terakhir yang Jongin dengar.

 

 

Hari ini mungkin juga adalah—hari terakhir Jongin berada di Korea. Karena esok ia akan wisuda, ia sudah menyelesaikan studi-nya disalah satu universitas elit Seoul. Jongin bukanlah pemuda yang bodoh walau suka seenaknya. Setelah lulus, Jongin akan pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja disana. Prestasi nya yang baik selama ini saat berkuliah, membuat ia mendapat pekerjaan dengan cepat. Bahkan sudah ditarik sebelum lulus kuliah. Membanggakan!

 

 

 

Namun—tetap saja ia merasa hampa.

 

 

 

Aku ingin bertemu denganmu, Kyungsoo

Mengucapkan kata maaf dengan benar

Kau tidak tahu, betapa manis dan berharganya dirimu

Aku harus menemukanmu— memberitahumu bahwa aku membutuhkanmu

Memberitahumu— bahwa kau berbeda..

 

 

 

Jongin tersenyum pahit, kata- kata itu hanya bisa ia simpan didalam hati. Ia belajar dengan tekun tanpa menjalin hubungan dengan siapapun hanya untuk menghilangkan Kyungsoo dari pikirannya. Masih sama—perasaan Jongin masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali.

 

 

 

Beritahu aku, bahwa kau mencintaiku

Kembalilah dan hantui aku seperti yang kau lakukan dulu

 

 

 

Ia tatap langit biru yang indah, selalu saja pada tanggal itu langit seakan terang dan bersinar. Apakah itu bertanda baik? Jongin selalu berdoa. Bahwa Kyungsoo ingat pada janjinya. Ini hari terakhirnya di Korea dan Jongin tidak tahu ataupun dapat memastikan bahwa pada tanggal yang sama di tahun depan ia bisa kembali ke Korea untuk menunggu Kyungsoo seperti biasa. Ia berharap semoga Tuhan mempertemukannya dengan Kyungsoo, walaupun jawaban itu—menolak Jongin.

 

Sejam.

 

 

Dua jam.

 

 

Tiga jam.

 

 

Dan kini langit mulai meredup, digantikan cahaya orange yang mengabarkan bahwa senja sudah datang. Jongin tersenyum tipis seakan harapannya redup kala itu. Apakah ini pertanda bahwa Jongin seharusnya menyerah saja? Melupakan Kyungsoo dan menemukan cinta yang baru?

 

 

Apakah seperti itu?

 

 

“Kyungsoo— kumohon.”

 

 

Harapanku..

 

..kau kubur jauh didalam harapanmu

 

 

Dan disaat itu, ketika kau sudah nyaris lelah menunggu. Karena kau yakin orang yang kau tunggu tidak akan datang. Kau berdiri dan menatap pelan bangku taman itu dalam diam dan lirikan lirih. Matamu sudah memberat. Malam yang menjelang, membuat tubuhmu kedinginan. Kau hanya tinggal seorang diri ditaman itu.

 

 

Sendirian—

 

Kau—Jongin tersenyum manis. Ia sudah menetapkan, suatu saat jika ia diperkenankan lagi bertemu dengan Kyungsoo. Jika Tuhan masih mengasihaninya.. ia bersumpah tidak akan pernah menyakiti Kyungsoo lagi. Dia tidak akan pernah menyakiti Kyungsoo—demi hidupnya.

 

 

“Sayonara.”

 

 

 

Jongin melangkah pergi dari tempat itu.

 

 

 

Jagalah orang- orang yang kau anggap berharga dengan sepenuh hati

Jika kau merusaknya

Tidak ada jaminan semua kasih sayangnya akan sama lagi

Tidak akan ada jaminan jalan yang ditempuh masih sama lagi

Tidak ada jaminan bahwa Tuhan akan membiarkan kebahagiaan terasa lagi

Tidak ada yang menjamin—

 

Maka..

 

Jangan pernah menyianyiakan kehangatan itu

 

Karena.. tidak akan ada kesamaan takdir yang menunggu

Semua akan berakhir dengan caranya sendiri

 

Meninggalkan dirimu dalam penyesalan menyakitkan..

 

…selamanya.

 

 

Pemuda manis berambut lumayan panjang kini berlari seperti orang gila, ia memacu tubuhnya yang baru sampai di bandara Incheon. Tidak perduli dinginnya malam, ia langsung berlari memasuki taman tempat dimana selalu ia pikirkan disetiap waktu selama empat tahun belakangan. Adanya kesempatan ia untuk kembali ke Seoul membuatnya amat gembira. Kemalangan yang terjadi sebelum hari kelulusannya memaksa pemuda manis itu meninggalkan Seoul menuju Jepang. Orang tuanya mengalami kecelakaan dan—meninggal dunia. Paman pemuda manis yang tinggal di Jepang kemudian menjemputnya tepat sehari sebelum hari kelulusan. Ia tidak sempat memberi tahu siapapun—termasuk Jongin.

 

 

Tep

 

 

Langkah kaki pemuda manis itu terhenti tepat disebuah pohon berdaun warna jingga. Tidak ada yang berubah dengan susunan taman itu. Masih tetap sama dengan empat tahun yang lalu. Namun—

 

 

Tidak ada siapapun disana.

 

 

Sang pemuda manis terduduk lemas, ia mengontrol nafasnya yang amat cepat. Jantungnya seakan ikut bergerak abnormal, ia merebahkan tubuhnya dibangku taman tersebut. Mencoba mengatur tubuhnya agar sedikit tenang.

 

 

“Apa aku terlambat?” bisiknya lirih. “Oh Tuhan!!!”

 

 

Masih dalam kepanikan, mata pemuda manis itu lalu terpatok pada sebuah kaleng minuman yang terletak disudut kanan bangku taman tersebut. Ia ambil kaleng minum itu, masih terasa hangat. Menandakan bahwa beberapa menit yang lalu ada seseorang yang menggenggamnya. Seseorang?

 

Deg

 

 

Pemuda itu tersentak, tangisnya tiba- tiba pecah seakan ingin merobek langit menjadi dua. Kaleng minuman itu terjatuh dari tangannya yang gemetaran. Ia menangis seperti berteriak, amat kencang dan menyakitkan. Ia pegangi dadanya yang sesak. Tuhan, rasanya sakit sekali.

 

 

“Jongin!! JONGIN!!” teriak pemuda itu terjatuh dari bangku taman, ia menangis keras sekali. Dan menenggelamkan wajahnya diantara telapak tangan dan lutut. Mengapa? Mengapa pesawatnya harus delay tadi dan menyebabkan penerbangan ditunda hingga 7 jam? Mengapa Tuhan seperti tidak memberikan jalan untuknya dan—Jongin bersatu?

 

 

“KIM JONGIN!!” pemuda manis itu masih berteriak amat keras.

 

 

Dan—

 

 

Tangisan Kyungsoo terhenti ketika seseorang berhenti tepat dihadapannya, nafas memburu ia dengar diarah seseorang yang kini berdiri sembari menunduk memegangi lutut, bisa dibaca bahwa pemuda itu berlari amat kencang hingga sampai ketujuannya. Desahan nafas itu pernah ia dengar—masih ingat jelas dipikirannya.

 

Pemuda manis itu mendongakkan wajahnya, menatap seseorang yang kini memandangnya seakan tidak percaya. Air mata jatuh di pipi pemuda tampan yang tersenyum manis dihadapannya. Demi Tuhan, pemuda itu menangis? Dia menangis?

 

Tanpa menunggu lama, pemuda manis itu berdiri tegap, menghapus air mata yang kembali jatuh dan mencoba tersenyum. Sama halnya dengan sosok tampan yang kini berhadapan dengannya. Mata mereka sama—tersirat kerinduan yang amat memuncak. Seakan kerinduan itu adalah beban yang mengikat mereka dimasa lalu.

 

 

 

“Kyungsoo—kau datang?”

 

 

Pemuda manis—Kyungsoo, mengangguk dan memandang pemuda tampan amat lirih dan pilu. Ia tersenyum dan mengapus air matanya dengan cepat. “Aku datang, Jongin.”

 

Apa yang bisa dilakukan pemuda tampan bernama Jongin itu jika tidak tertawa kecil dan menghapus air matanya. Air mata itu jatuh begitu saja, menandakan bahwa ia begitu bahagia. Merasa penantiannya terjawab sudah walau waktu—menghambatnya. Ia tidak mau jika Kyungsoo melihatnya lemah seperti ini. Ia begitu terharu atas kehadiran Kyungsoo yang amat ia inginkan selama ini. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun.

 

Kebahagiaan itu belum berakhir ketika ia melihat ditelinga Kyungsoo, terpasang piercing yang mereka pasang beberapa tahun yang lalu. Ada piercing berinisialkan ‘J’ disana. Kyungsoo memasangnya lagi? Apa berarti—

 

 

“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Jongin tanpa melepas tatapan matanya dari Kyungsoo. Wajah Kyungsoo yang tampak cantik, menggemaskan, dan tidak terlupakan. Kyungsoo-nya tetap seperti dulu, yang berbeda hanya rambut coklatnya yang sedikit lebih panjang dan garis wajahnya yang semakin tegas. Dia cantik. Postur tubuh mungil Kyungsoo bahkan tidak berubah, begitu juga dengan suaranya.

 

“Bolehkah aku memberimu jawaban terlebih dahulu?” Kyungsoo mengusap air matanya yang masih saja tidak berhenti. Jongin membantu Kyungsoo, mengusap air mata itu dengan amat lembut. Dan seketika mereka terdiam, meneliti kerinduan pada tubuh satu sama lain. Sentuhan kulit yang tidak pernah mereka lakukan sejak lama.

 

“Kau cantik, Kyungsoo.”

 

Kali ini tanpa pikir panjang, Jongin langsung memeluk Kyungsoo. Membenamkan tubuh mungil pemuda manis didalam dekapannya. Kyungsoo yang terkejut hanya bisa tersenyum bahagia dan membalas pelukan Jongin. Menyengkram pakaian dibagian punggung Jongin. Demi apapun, ia tidak mau melepas Jongin lagi. Besarnya cintanya pada Jongin selama ini adalah kekuatannya untuk bertahan hidup. Disaat ia terpuruk atas kehilangannya, cintanya pada Jongin yang menjadi penguat. Atas itu semua, Kyungsoo ingin berterima kasih… ingin kembali—

 

 

Kyungsoo sedikit menjinjit agar bisa mendekatkan bibirnya ke telinga Jongin. Berbisik disana…

 

 

“Jawabanku adalah—

 

 

 

Jika merusak kebahagiaan itu pada awalnya

Kau akan kembali dengan rintangan yang menyakitkan

Lalui itu!

Kemudian kau bisa mendapatkannya lagi

 

 

 

—ya”

 

 

Cinta itu perjuangan

Bukan permainan

Jangan pernah mempermainkan cinta

Jika tidak mau kehilangan cinta itu selamanya

 

 

The End 

*wanna another kaisoo?

ONESHOT | Memories |

Title: Memories

Childhood_memories_by_Korpinkynsi2

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Wufan-Tao/Chanyeol-Baekhyun/Jongin-Kyungsoo/Sehun-Luhan

Genre: pas~ ^_^

Length: Oneshoot

Rate: balita keatas~

Aduh ini sebenernya saya bukan shippernya kristao sama kaisoo…saya Cuma nge-shipping Hunhan sama Baekyeol. Nah, Kristao sama Kaisoo ini couple lain yg saya suka tapi ga ampe dishipperin…kalo couple lain sih ya belom dapet aja pecerahannya. Haha!

Maaf ini dari kemaren Cuma kepikiran ide yg ga beres, jauh dari kata serius ato romantic ya. Gapapalah buat penyegaran, hehe~

Sok!

Silahken dibaca!

… … … … …

Kenangan jauh lebih berharga daripada harta karun.

Kenangan tidak dapat dapat diperjualbelikan layaknya suatu benda.

Kenangan yang hilang tidak akan kembali.

Namun sesungguhnya, tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan…ia hanya bersembunyi di sudut terdalam kotak kenangan dikepala kita dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Continue reading

ONESHOOT | TAORIS | BED TIME

PS From HYOBIN : SETELAH BACA INI FF, SAAT KALIAN MELIHAT FOTO TAO AKAN BEREFEK : GEMES AMA TAO, MAU NYULIK TAO BAWA PULANG, MAU CUBIT PIPI TAO SAKING GEMESNYA DAN PASTI AKAN SANGAT SANGAT SANGAT GEMESSSSSSSSSSSSS SE GEMEEEESSSSSSSSSSSS GEMESSSSSSSSSSSSSSSSSS NYA! INI FF BIKIN GOOD MOOD * dan buat Hyobin diusir dari kamar Mama saking ketawa sambil ngeces -__- BEWARE!

MOSHI-MOSHI!!

Yooo! Saya comeback niih~ bukan bawa FF yg lama sih tapi judul baru, hahaha! Soalnya yg Soulmate itu lagi buntu ide…maaf, maaf~

Tapi gapapa sih yaa, ini Cuma oneshoot!

Kristao lageeeee~ ini yah gara2 saya ngobrol sama si Hyobin ngomongin Kristao moloooo! Dan sekarang saya lagi seneng-senengnya sama si Tatao. Aduuh~ anak itu lucuuuu…gemes!

Oh iyaaaa! Ff ini mungkin agak ga beres yah, pokoknya disini ga ada kata2 romantis, ga ada kata puitis, yg ada Cuma kata2 ngaco, soalnya saya nulis ini ga pake mikir langsung bablasin aja, hahaha! Maaf kalo ceritanya ngawur, jelek dan sembarangan.

Semua yg ada di FF ini hanya khayalan dan ga REAL! Seratus persen tidak nyata!!

LANJOODDD~

Title: BED TIME

(Eh, meski judulnya ada kata2 ‘bed’ jangan ngarep yg ‘asik-asik’ dulu yee~)

precious_by_roxas_358-d5cbu1v

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Upan & Tatao

Supporting Cast: Bekun-Cahyo, Lulu-Bihun (Cuma disebut doang) & Uco-BarongKai (Cuma disebut doang)

Genre: Mati lampu

Rate: Susu 1, 2, 3

Length: Sepanjang jalan kenangan

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = 

 

Continue reading

KAISOO / KAIDO | TwoShot : PLEASE, JUST STAY ! Part 1

Hmm, mau ngmong apa yah. Lagi, aku minta maaf jika ada yang nunggu FF aku yang lain. Apalagi beberapa tittle belum sempat lanjutin. Mianhamnida. Jujur sampai pertengahan maret aku belum bisa post apa- apa dlu alias HIATUS sementara. Ini FF Kaisoo aku buat karena aku udah terlanjur janji buatin FF Kray untuk kak TERMAKAN SEHUN, tapi dasarnya Taoris Shipper, aku belum bisa bikin T^T maafkan aku kak. Anggap aja ini pengganti sementara karena engkau sudah membuatkanku sebuah FF TAORIS yang mengagumkan dan SANGAT DAEBAK! SATU KATA BUAT AUTHOR, DAEBAK! *jangan kubur gue kak TERMAKAN SEHUN.

Doh kepanjangan yah kata pengantarnya. Pokoknya ini FF KHUSUS buat TERMAKAN SEHUN dan NINE  TAILED FOX! DAN TENTU SAJA BUAT SEMUA READER RUNRUNKA TERCINTA ESPECIALLY FOR ALL KAISOO OR KAIDO SHIPPER ! I LOVE YOU!

 

*pembuatan FF ini melibatkan Nine Tailed Fox and Termakan Sehun. tapi ini ide dan alur semuanya beneran punya gue yah. Makasih kakak- kakakku tercinta atas bantuannya. I lop U *digampar bibir Chanyeol

 

Enjoy~

 

PLEASE, JUST STAY!

KAISOO / KAIDO

PJS 

KIM HYOBIN a.k.a RANA NABILA 

@ranalunabila

 

Main Cast : Kim Jongin and Do Kyungsoo

Other Cast : Kim Joonmyeon and Zhang Yixing

Support Cast : Park Chanyeol and Byun Baekhyun

Words : 9632

 

Genre : Romance , Drama, School Life, Hurt

*gak bohong, TEMA FF ini pasaran! *kabur

 

Warning : This is Y A O I !

 

UNTUK 16 TAHUN KEATAS !

soalnya ada sedikit “ehem ehem”

 

Inspirated : Granade – Bruno Mars , Only Hope – Mandy Moore , Who You Are – Jessie J , A Day – Super Junior

*sebagian besar berdasarkan lagu GRANADE – Bruno Mars

 

DONT LIKE, DONT READ !!!

*gak suka masih tetep baca, tanggung jawab sendiri. Jangan marah- marah ke gue!

Kalau masih marah ke gue, yang bales Tuhan bukan gue!

 

 

 

Pertama..

..kupikir tak semudah yang kuharapkan.

 

 

Continue reading

TRUST Chapter 1

TRUST

243__602x0_2819y3my5

Author : Kim Hyobin

 

Main : KAIHAN / KAILU FANFICTION

Cast : KIM JONGIN – LUHAN

 

Other : HUNHAN – HUNSOO – KAISOO

 

Genre : Drama , Romance , School Life , Hurt, Mature

 

BL / BOYS LOVE / YAOI

 

WARNING:

NO NC in this Fanfiction but I used MATURE genre! MATURE !

So just for 15 + !

 

FF ini terinspirasi dari lagu jepang yang kudengar, beberapa komik yang aku baca dan imajinasi aneh yang berkembang diotakku. Jadi aku gak plagiat ya ! kalo ada yang sama ya mungkin kebetulan.

 

*Hey, ‘HANTU’ (SILENT READER), I WARN YOU !

 

 

Part 1

 

Continue reading

In Frame Love [Take One]

In Frame Love

[Take One]

 

Anonim Sinestesia

 

A Romance Comedy Fanfiction

EXO

ifl 

 

 

 

“Kopi yang anda pesan tuan.”

sebuah sapaan yang memulai romansa cinta antara aktor pendatang baru terfavorit, Dio, terhadap seorang waiters sempurna berkulit cokelat bernama Kai. Fans menjadi pertimbangan mereka. Kasta aktor dan waiters menjadi pemisah mereka.

 

Meski satu saat mereka jadian. Mampukah Kai tahan dengan dunia gemerlap Dio? Mampukah Kai sabar melihat drama percintaan kekasihnya?

 

Kalau satu waktu mereka pacaran. Tahankah Dio mendengar ledekan teman artisnya tentang Kai? Tahankah Dio melihat kekasihnya diperintah orang lain?

 

Satu saat mereka sadar apa yang harus dilakukan.

Membiarkan kisah mereka berjalan dalam frame film dan terus tayang sampai endingnya?

 

Atau membiarkannya jadi potongan gambar kenangan dalam sebuah frame photo didinding hati masing – masing?

 

 

Continue reading

Another Promise Chapter 10 | END|

ANOTHER PROMISE

 

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

Cast : Kim Jongin- LuHan- Oh Sehoon

Other : Byun Baekhyun – Park Chanyeol

Genre : Angst, Romance, Drama, School Life, Sad Romance, Hurt

BoyBand : EXO ( EXO K and EXO M)

Disclamer : This story MINE! EXO just belong to Exostan and SMEnt

Warning : YAOI / Boy x Boy / BL

So, If you don’t like, DON’T READ ^^

DISARANKAN UNTUK UMUR 15 +

 

 

Aku mencintaimu walau sakit saat kau melihat ketempat lain

Tempat dimana bukan aku yang tegak berdiri disana

Seperti boneka rusak yang bermimik sedih, aku akan terus menunggu

Lebih baik begini daripada nafasmu tidak menderu duniaku

Bagiku waktu tanpamu adalah siksaan

Dan dari ruang yang penuh kesesakan ini

Aku melihatmu bahagia bersamanya

Dan…

Itu turut membuatku… bahagia.

 

 

Part 10 – END

 

Seorang namja cantik yang tidak lain adalah Luhan sedang memasang sepatunya diruang tengah ia hendak berangkat kesekolah. Sedangkan Taemin daritadi sibuk memasak telur goreng untuk sarapannya dengan Luhan.

 

 

“Cantik, ayo sarapan dulu.”ajak Taemin sembari meletakkan telur goreng dengan kentang dan sedikit daging cincang diatas meja makan. Luhan yang selesai memakai sepatunya kemudian duduk dimeja makan bersama Taemin.

 

“Terima kasih, Taeminnie-hyung!”Luhan mengambil sumpit dan memakan telur gorengnnya dengan lahap. Taemin tersenyum manis dan ikut makan bersama Luhan.

 

“Sepulang sekolah nanti aku akan kesekolah Baekhyun.. bagaimana menurut, hyung?” tanya Luhan sembari meneguk susu coklatnya.

 

Taemin mengangguk pelan. “Ide bagus. Katakan bahwa lebih baik ia menerima kenyataan kalau Kai memang tidak menyukainya dan jangan dekati Kai untuk urusan yang menyusahkan.”

 

Luhan tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan. “Aku tidak akan mengatakan hal sekejam itu, hyung. Bisa- bisa Baekhyun nantinya akan bertambah sakit hati.”

 

“Lalu kau mau mengatakan apa?” tanya Taemin heran.

 

“Sehun… aku ingin membicarakan tentang Sehun padanya. Nampaknya Baekhyun harus tahu kalau Sehun masih menyukainya. Aku ingin membantu Sehun..”

 

“Eh?” Taemin menghentikan acara makannya.

 

Luhan kemudian diam dan kembali memakan kentang goreng dan daging cincangnya.

 

“Luhan..” Taemin menatap Luhan dengan tatapan penuh arti.

 

“Ya?”

 

“Ingat… Baekhyun bukanlah namja berhati lemah dan rapuh seperti yang terlihat diluarnya. Aku mengenalnya sudah lama…walau sebenarnya ia anak yang baik.”

 

“Aku tahu, hyung. Baekhyun pasti akan mengerti jika aku mencoba berbicara dan berdiskusi dengannya.”

 

Taemin menghela nafas pelan. “Baekhyun berbeda, Lu.. fikirannya sulit ditebak dan… dia benar- benar hanya akan mendengarkan kata hatinya. Tidak peduli dengan keadaan orang lain.”

 

Luhan mengerutkan dahinya kemudian menatap piringnya yang masih penuh dengan beberapa irisan kentang dan daging. Lalu tatapan Luhan kembali tertaut pada Taemin.

 

“Jika ia ingin Kai dan Sehun bahagia, dia harus mendengarkan ucapanku.” Luhan berucap dengan penuh keyakinan.

 

 

‡‡‡

 

Sehun keluar dari rumahnya sembari menyandang tas ranselnya. Saat Sehun mengunci pintu rumahnya, seseorang mendekati namja tampan itu perlahan.

 

“Permisi.” Sapa suara itu.

 

Sehun berbalik badan sembari mengantongi kunci rumahnya. “Iya?”

 

Ia melihat sesosok namja tampan yang terlihat sudah lumayan tua.Umurnya sekitar 30-35 tahunan.

 

“Ada yang bisa saya bantu, ahjusshi?” ulang Sehun.

 

“Ada.”jawab orang itu sembari tersenyum.

 

 

‡‡‡

 

 

 

Luhan berjalan keluar dari rumahnya setelah berpamitan dengan Taemin. Ia lirik jam tangan mungilnya dan menghela nafas pelan. Ia tidak jadi pergi sekolah bersama Kai. Baru saja Kai menelpon dan mengatakan bahwa ia tidak bersekolah hari ini.

Awalnya Luhan ingin bertanya mengapa, namun mendengar suara Kai yang begitu dingin. Luhan tahu kalau namja itu perlu waktu untuk sendirian.

 

Baru beberapa langkah Luhan berjalan keluar pekarangan rumahnya, Luhan dikejutkan oleh sesuatu.

 

 

Aroma..

 

 

Ya..

 

Aroma yang tidak asing dipenciumannya. Dan aroma itu membuat Luhan sedikit merinding. Berbalik badan, Luhan mendekati rumah Sehun dan berjalan masuk kepekarangan rumah Sehun. Firasatnya sungguh tidak enak.

 

TOK

 

TOK

 

“Se..Sehun!” panggil Luhan sembari terus mengetuk pintu rumah Sehun. Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Luhan melirik kenop pintu tersebut dan mencoba memutarnya.

 

KLEK

 

Terkunci…

 

“Apa Sehun sudah pergi?”

 

Luhan menghela nafas pelan dan berbalik badan kemudian melangkah menjauhi rumah Sehun.

 

“Tenang..Luhan.. kau hanya terlalu memikirkannya..” bisik Luhan berkali- kali. Tangan putihnya kini sedikit gemetaran. Tidak membuang waktu, Luhan berjalan cepat menuju sekolahnya.

 

Ya.. dia pasti akan bertemu Sehun disekolah.

 

Langkah Luhan semakin cepat hingga tanpa sadar ia sudah berlari kencang.

 

 

‡‡‡

 

 

 

Kai menatap ponselnya lama. Baru saja ia menghubungi Luhan, mengatakan bahwa ia tidak ingin bersekolah hari ini. Namja tampan itu menghela nafas pelan dan kembali meletakkan ponselnya disembarangan tempat. Ia tarik kembali selimutnya untuk menutupi tubuhnya.

Ia mencoba menutup matanya untuk kembali tidur, namun sia- sia… pikirannya membuat ia tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya. Sejak tadi malam ia sama sekali tidak bisa tidur.

Mengapa ia selemah ini?

Mengapa ia tidak bisa setegar dulu?

 

 

Akhirnya Kai duduk diatas ranjang. Berdiam diri disana sejenak kemudian membaringkan tubuhnya lagi.

 

“Chagiya~ Kamu tidak sekolah?” sahut ibu Kai dari luar pintu kamarnya.

 

Kai menghela nafas. “Ani. Aku sedang tidak enak badan, oemma.”

 

KLEK

 

“Jongin.. kau baik- baik saja?” kini sang ibu masuk kekamar tidur Kai dan mendekati si anak yang masih bergelumung dengan selimut tebalnya. Sang ibu duduk ditepi ranjang dan mengusap rambut Kai dengan lembut. Begitu lembut hingga Kai merasakan ketenangan.

 

“Waeyo, Jongin? Oemma tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu.”

 

Kai membuka selimutnya dan menatap sang ibu yang begitu cantik. Kai duduk diposisinya kemudian kembali menatap sang ibu.

 

“Bagaimana keadaan Luhan?”

 

Kai mengangguk pelan. “Dia baik- baik saja, oemma.”

 

“Lalu apa yang kau gundahkan? Sejak tadi malam saat kau pulang, wajahmu terlihat sangat kusut. Kau bahkan tidak makan malam.”

 

Mengerti sang ibu sadar kegundahannya. Kai mulai membuka pembicaraan. “…Oemma sudah menghubungi Heechul-noona? Bisakah oemma mengatakan pada Heechul-noona saat Taemin-hyung pulang ke Jepang, ia tidak usah membawa Luhan. Luhan bisa tinggal bersama kita disini. Itu akan lebih aman, kan?”

 

Sang ibu tersenyum manis dan mengusap rambut anak satu- satunya itu. “Jongin.. jadi itukah yang kau gundah, kan? Baiklah… oemma akan bicara pada Heechul-oennie masalah itu. Kau jangan memikirkannya lagi, ne.. serahkan pada oemma.”

 

“Terima kasih, oemma.” Kai tersenyum.

 

“Nah.. kenapa kau masih lesu, anakku?”

 

Seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Membaca jelas setiap topeng yang anaknya kenakan untuk menutupi kegundahan. Benar saja.. Kai memang lega namun tidak sepenuhnya lega. Ia menggeleng pelan dan kembali membaringkan tubuhnya. Menyelimuti dirinya hingga hanya wajahnya yang tampak oleh sang ibu.

 

“…aku hanya tidak enak badan, oemma.”

 

“…Apa terjadi sesuatu lagi, Jongin?”

 

Kai menutup matanya sejenak. “Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, oemma. Sehun dan Luhan…saling mencintai. Aku tidak punya tempat lagi.. dan Baekhyun..ia masih menginginkanku dan.. sikapnya tambah membuatku takut.. semakin membuat penyesalanku bertambah dalam, oemma..”

 

“Takut?”

 

“Oemma.. Baekhyun begitu berubah. Dahulu ia memiliki senyuman yang indah menenangkan. Membuatku terpesona pada awalnya. Dia anak yang memiliki keteguhan hati dan begitu…hangat. namun.. sejak itu.. dia berubah oemma. Walau aku tahu.. Baekhyun anak yang ambisius sejak awal. Tapi sekarang.. sifatnya jauh lebih parah.” Kai mencoba menceritakan kegundahan hatinya pada sang ibu. Ia betul- betul tidak tahu harus berbicara pada siapa lagi.

 

“..sekarang yang kulihat dimatanya..hanya ambisi dan obsesi. Semua salahku oemma. Aku yang membuatnya seperti ini… dan aku takut ia menyakiti Luhan. Semua salahku, oemma. Salahku.”sambung Kai lirih.

 

Sang ibu mengusap rambut Kai dan tersenyum manis. “..Jadi karena hal itu anak oemma jadi gundah seperti ini? hmm.. oemma rasa kau hanya harus menegaskan perasaanmu pada Baekhyun.”

 

Kai seketika itu kembali duduk dan menatap ibunya. “Jika aku setegas dulu menolak perasaannya, oemma. Apa ada jaminan ia tidak akan melakukan percobaan bunuh diri atau melakukan hal- hal lainnya yang mencelakai dirinya sendiri? Aku tidak sanggup jika ia tersakiti lagi.. tidak.”

 

“Apa yang membuat Baekhyun jadi seperti itu, nak?”

 

Kai menunduk. “Baekhyun mengatakan bahwa aku dan Sehun menderita karena Luhan… Baekhyun membenci Luhan dan.. ia benci melihat kami menderita karena Luhan..”

 

“Kau tahu sendiri watak Baekhyun yang selalu berjalan sesuai dengan apa yang ia tangkap, jika ia mengatakan ia benci melihatmu dan Sehun menderita didekat Luhan, berarti itulah yang ia tangkap. Kalian menderita dan ia..ingin menolong.”

 

DEG

 

Mata Kai membulat.. Benar! Saat mereka berempat pertama kali bertemu, memang bukan pertemuan yang menyenangkan. Sehun tengah dikuasai emosi dan mereka sempat baku hantam hingga membuat Luhan terluka. Pasti Baekhyun menangkap bahwa Luhan penyebab kedua sahabatnya itu menderita.. Baekhyun yang berfikiran bahwa Luhan lah penyebab mereka tidak bahagia.

 

“Jongin… tunjukkan bahwa kau dan Sehun bahagia jika didekat Luhan.. itulah yang harus kau lakukan. Agar Baekhyun mengerti.. bahwa Luhan bukanlah sumber penderitaan kalian. Tapi cahaya kalian…”

 

Benar!

Itu benar!

 

Mengapa ia tidak berfikir seperti itu sejak awal? Yang salah bukan Baekhyun, hanya saja ia dan Sehun yang terlalu egois. Memperjuangkan perasaan mereka tanpa tahu bahwa seseorang memikirkan mereka hingga nyaris kehilangan akal.

Dan.. lihatlah.. Luhan yang akan mendapatkan dampaknya, bukan?

Hingga membuat Baekhyun salah mengira bahwa Luhan adalah sumber masalah yang sesungguhnya. Kebohonganlah yang menutupi semuanya. Mereka yang bermain ditepian hingga riak air semakin lama semakin besar dan membuat mereka akhirnya terhenti ditempat yang membingungkan.

Semuanya terjadi hanya karena kesalahpahaman.

 

“Oemma!” Kai kemudian memeluk ibunya dengan erat. Senyuman kelegaan kini nampak terlukis indah diwajah Kai. “Jeongmal.. gamsahamnida, oemma.”

 

“Ne… sekarang kau akan sekolah? Oemma pikir masih ada waktu sekitar 10 menit lagi.”

 

Kai melepas pelukannya dan mengangguk. “Ya, oemma. aku akan bersiap!”

 

 

‡‡‡

 

 

DRAP

 

DRAP

 

Luhan berlari keluar dari gedung sekolahnya, tidak peduli beberapa guru yang menegurnya karena keluar dari kelas begitu saja saat jam pelajaran baru saja dimulai. Sehun tidak datang kesekolah. Panik.. Luhan tiba- tiba panik sekali. Jujur ia sangat ketakutan. Perasaannya sudah tidak enak sejak awal dan lebih parahnya, Luhan sudah menduga.

Dugaan yang sangat ia takuti.

 

Aroma tajam manusia yang menorehkan tragedi didalam hidup Luhan.

 

“Sehun! Sehun!!” desis Luhan terus.

 

Ia tidak tahu harus pergi kemana, namun.. entah mengapa Luhan berlari menuju sekolah Baekhyun. Kakinya melangkah begitu saja.. berharap Baekhyun bisa membantunya. Membantunya menemukan Sehun. Untung saja tadi Taemin memberikan alamat sekolah Baekhyun yang sudah dimintanya dari Kai beberapa hari yang lalu.

 

Luhan bukannya tidak mau memberitahu Kai, hanya saja ia pikir Kai sedang ingin sendirian. Luhan tidak tega memberitahu Kai tentang firasatnya yang tidak pasti. Tidak mau menambah beban Kai jauh lebih banyak. Luhan tidak mungkin lupa bagaimana resahnya wajah namja tampan itu sebelum pulang kerumahnya.

Dan Luhan sungguh tidak menyukai ekspresi wajah Kai yang seperti itu.

 

 

 

‡‡‡

 

 

Baekhyun duduk diatas lemari setinggi satu meter didalam ruang olahraga. Dengan alasan tidak enak badan, Baekhyun bisa keluar dari kelas dengan mudah. Sedikit bersyukur Chanyeol tidak datang kesekolah, atau tidak Chanyeol pasti ribut sekali dan itu membuat kepala Baekhyun tambah pusing. Mungkin Chanyeol sudah menjalankan rencana yang sudah disusun oleh Baekhyun.

 

Piip

 

Dari tadi Baekhyun sibuk mengotak- atik ponselnya. Wajahnya tertekuk, kesal akan sesuatu.

 

Mata Baekhyun membulat saat itu.

 

“Sial!” desis namja cantik itu keras. Wajahnya memerah lalu ia melompat dari atas lemari mini yang tadi ia duduki. Mata sipit Baekhyun mengambarkan betapa buruknya mood ia hari ini.

 

“Brengsek! Ahjusshi brengsek itu!”

 

PRAANGG

 

Baekhyun membanting ponselnya hingga hancur berkeping- keping. Ia marah sekali, benar- benar marah. “Sudah kubilang jangan menyentuh Sehun!! SUDAH KUBILANG!”

 

Nafas Baekhyun naik turun. Tangan mungilnya sudah mengepal hingga ujung- ujung jarinya memutih, membiarkan kuku indahnya menggores sedikit telapak tangannya.  

 

“SUDAH KUBILANG JANGAN MEMANFAATKAN SEHUN!! PENGKHIANAT BRENGSEK!!”

 

PRAANGG

 

Kali ini Baekhyun melempar sebuah pemukul bisbol pada akuarium kering yang terletak disudut ruangan. Tidak puas, ia banting sebuah kursi lipat hingga patah. Keringat sudah mengucur dipipi putih Baekhyun. Wajahnya yang merah tadi seketika itu pucat pasi.

 

“Ugh..”

 

Baekhyun memegang kepalanya dan terduduk dilantai. Kambuh.. Baekhyun memang tidak bisa terlalu banyak bergerak. Apalagi melakukan aktifitas seperti tadi. Ini adalah efek dari kecelakaan yang ia alami saat percobaan bunuh dirinya dua tahun yang lalu. walau Sehun berhasil menyelamatkannya, tubuh Baekhyun sempat tertabrak hingga terpental beberapa meter. Akibatnya, berpengaruh pada sistem kekebalan tubuhnya.

 

“haa..haah..aah..” Baekhyun mencoba mengatur pernafasannya dan bangkit dengan perlahan. Ia seka keringatnya kemudian berjalan tertatih keluar dari gedung olahraga. Sedikit pusing, Baekhyun hendak berjalan masuk kedalam gedung sekolah, namun matanya tertaut pada sosok yang kini mencoba masuk dari gerbang sekolahnya, dicegat oleh satpam.

 

Langkah Baekhyun terhenti dan menatap tajam namja manis yang tidak lain adalah Luhan yang kini tengah berbicara dengan satpam sekolah Baekhyun.

 

“Ahh.. dia datang untuk menjadi sansak kekesalanku? Bagus.. hihihi..”

 

 

>>> 

 

 

“Ahjusshi.. aku mohon. Aku ingin bertemu dengan salah satu murid yang bersekolah disini.” Mohon Luhan karena tidak diperbolehkan untuk masuk.

 

“Tidak bisa! Jam belajar mengajar sudah berlangsung. Maaf!” jawab satpam itu dengan tegas.

 

“Luhannie~”

 

Teriakan ceria itu membuat Luhan dan satpam sekolah itu sedikit terkejut. Baekhyun tiba- tiba datang. Luhan tidak tahu harus senang atau bagaimana melihat Baekhyun datang kearahnya. Dengan senyuman manis dan wajah malaikat andalan Baekhyun, ia menatap satpam yang masih terbilang cukup muda itu.

 

“Ahjusshi.. maaf. Dia temanku.. dia datang pasti karena mencemaskan aku.. tadi aku memberitahunya bahwa aku sakit. ahh.. kepalaku masih pusing. Bolehkah aku keluar sebentar bersamanya?” Baekhyun memegang kepalanya sembari mengaduh.

 

Luhan sepertinya juga ikut tertipu dengan akting Baekhyun, wajah Luhan kini terlihat mengkhawatirkan Baekhyun. Sebenarnya tidak bisa dibilang berakting, wajah Baekhyun masih pucat dan keringat dinginnya masih mengalir dipipi putihnya.

 

“Baekhyunnie..” Luhan langsung memegang pundak Baekhyun karena khawatir. Namun.. Baekhyun langsung menatap tajam tangan Luhan yang memegang pundaknya. Kebencian terlihat jelas dari mata Baekhyun. Reflek Luhan menjauhkan tangannya dari tubuh Baekhyun.

 

“Baiklah. Jika sudah merasa baikan, kembalilah kesekolah. Kau memang tampak pucat, nak. Mungkin kau memang memerlukan udara segar.” Ujar satpam itu sembari memberi Baekhyun surat izin.

 

“Terima kasih, ahjusshi.” Baekhyun berjalan keluar dengan pelan. Diikuti Luhan yang sebelumnya sempat tersenyum pada pak satpam sebelum berjalan menyusul Baekhyun.

 

 

 

 

Baekhyun berjalan cepat menghindari Luhan yang kini tengah mengejarnya. Peluh masih menguasai tubuh Baekhyun, Luhan yang melihat itu tentu jadi sangat khawatir. Apalagi nafas Baekhyun yang terdengar berat.

 

“Baekhyun-sshi.. gwencaha?” Luhan mencoba menyetarakan langkah kakinya dengan kaki Baekhyun.

 

Tanpa mengindahkan perkataan Luhan, Baekhyun terus berjalan hingga terlihat gang sepi diujung jalan. Senyuman kini tertarik dibibir pucat Baekhyun. Dengan langkah yang semakin cepat, Baekhyun masuk kedalam gang itu disusul oleh Luhan.

 

“Bae-“

 

BRUAAAK

 

Punggung Luhan langsung berbenturan dengan tembok keras akibat dorongan Baekhyun. Memejamkan matanya, Luhan menahan sakit pada punggungnya, bagaimanapun luka dipunggungnya waktu itu belum sembuh total walau sudah mengering. Luhan sama sekali tidak mengaduh hanya menggigit bibir bawahnya.

 

“Luhan yang picik! Cih!” Baekhyun menyudutkan Luhan disudut gang sepi itu.

 

Perlahan Luhan mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah pucat Baekhyun. Ya.. Luhan masih saja mencemaskan keadaan Baekhyun, nafasnya yang berat dan tubuhnya yang pucat. Pasti kondisi tubuh Baekhyun sedang tidak fit.

 

“Baekhyun-sshi.. kau baik- baik saja? Wajahmu sangat pucat.” Luhan mencoba mendekati Baekhyun.

 

PLAAK

 

Baekhyun mundur selangkah dan wajahnya terlihat jijik saat Luhan mencoba memegang pipinya, bermaksud mengusap keringat Baekhyun. Dan akhirnya hanya tamparan yang Luhan dapatkan.

 

“SIAPA KAU BERANI MENYENTUHKU!” Teriak Baekhyun kini melempar Luhan dengan kardus kosong yang terletak begitu saja disana.

“Kau brengsek! Gara- gara kau! Semuanya! KINI SEHUN BERADA DITANGAN AHJUSSHI SIALAN ITU!”

Baekhyun menjambak rambut Luhan dengan kasar. “KAU SEHARUSNYA TAK USAH ADA!!”

 

“Ba..ekhyun!! aaghh!!” Luhan mencoba melepas tangan Baekhyun yang menjambak rambutnya. Begitu tanpa perasaan. Seakan ingin mencabut nyawa Luhan saat itu juga. “Kumohon lepaskan! Bae- Baekhyun-sshi!”

 

BRUUUAAKK

 

Baekhyun mendorong tubuh Luhan dengan keras hingga kepala Luhan terbentur pada tembok. Menahan sakit, Luhan hanya memegang kepalanya dan mencoba untuk berdiri.

 

“Ap..apa maksudmu dengan ahjusshi.. Baekhyun-sshi? Dimana Sehun?” suara Luhan terdengar sangat lirih. Tidak memperdulikan kepalanya yang begitu sakit, Luhan bertanya tentang Sehun.

 

“Kau mau tahu? HAHAHA!.. Untuk apa? Ahjusshi itu akan kubunuh jika ia berani menyakiti Sehun. Untung saja ia masih belum melukai Sehun.. jika ia menyakiti Sehun sedikit saja.. Kau akan mati Luhan! Kau yang akan MATI!!”

 

Luhan tidak mengerti. “Apa maksudmu Baekhyun-sshi? Aku.. aku tid-“

 

“Papamu. Sehun kini bersamanya.”

 

DEG

 

Mata Luhan membulat sempurna. Nafasnya tertahan..

 

“P..papa?”

 

Tidak! Bagaimana mungkin.. papanya ada di Korea? Sejak kapan? Dan.. bagaimana bisa Baekhyun mengetahuinya?

 

“Huh! Bingung mengapa aku mengetahui tentang ini semua?” Baekhyun melipat tangannya didada. “..Aku yang membantu ahjusshi itu masuk ke Korea. Ckck.. kasihan. Dia sangat ingin balas dendam padamu karena.. kau telah membunuh ibumu..”

 

TES

 

Air mata Luhan terjatuh begitu saja. Ia menggeleng pelan dan tersandar ditembok. “Bukan.. aku bukan pembunuh! Papa yang ingin membunuhku! Mama melindungiku dan.. papa.. tidak..” Luhan memeluk tubuhnya sendiri. Tangannya bergetar hebat. Air mata membasahi pipi Luhan.

 

Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan remeh dan menyeringai. Ia lirik beberapa botol bir bekas yang terletak berserakan di gang itu. Baekhyun tahu betul trauma mendalam Luhan.

 

“Malaikat kecil yang penuh dosa… lihatlah.. hidupmu hanyalah benalu bagi semua orang. Aku tidak peduli bagaimana hancurnya keluargamu..” Baekhyun merendahkan tubuhnya dan menggapai salah satu botol bir.

 

“..Tapi kau sudah mengusik kedua sahabatku.. dan hidupku. Maaf Lu Han..”

 

Baekhyun mengangkat tangannya yang menggengam botol kaca itu diudara, matanya masih menatap Luhan yang kini menangis menunduk. Seringai kembali menghiasi bibir mungil Baekhyun hingga…

 

“BAEKHYUN!!”

 

 

PRAAANNG

 

Sebuah panggilan bersamaan dengan bunyi hantaman kaca pecah…

 

 

 

 

“K..Kai..”

 

Baekhyun membekap mulutnya sendiri melihat Kai kini memeluk tubuh Luhan yang meringkuh diaspal lusuh yang berlumut itu. Ia melihat Kai menutup kedua telinga Luhan. Melindungi Luhan dari bunyi pecahan kaca yang baru saja ditimbulkan oleh Baekhyun.

 

“Luhan!” Kai mengangkat wajah Luhan yang tengah menunduk. Betapa terkejutnya Kai melihat sudut bibir Luhan yang berdarah dan pipi Luhan yang memerah akibat tamparan Baekhyun.

 

“Kai.. Kai… hiks..” Luhan langsung memeluk tubuh Kai erat. Lega.. lega sekali ia melihat Kai tengah memeluknya dan mengusap rambutnya lembut.

“Aku disini Lu.. tenang.. tidak akan ada yang menyakitimu.” Bisik Kai penuh kasih sayang.

 

DEG

 

Baekhyun mundur selangkah. Tubuhnya gemetar hebat, hatinya sakit. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.. Kai miliknya dan Kai tidak boleh memeluk tubuh Luhan seperti itu.

 

“Ja..jangan.. jangan merebut apa yang menjadi milikku! Tidak! Kai milikku!” teriak Baekhyun keras. “Tidak! Tidaak! Jahat sekali! Semua orang jahat!!”

 

Menyadari Baekhyun yang mulai kehilangan kendali, Kai melepas pelukannya dan berbalik badan. Mendekati Baekhyun yang kini terlihat menjauhinya.

 

“Baekhyun..” Kai mencoba mendekati Baekhyun. Melihat namja itu pucat dan ujung rambutnya yang kini basah oleh keringat, Kai mengerti kondisi tubuh Baekhyun sedang tidak baik.

 

“Kai.. jahat.. Kai jahat..” Baekhyun menggeleng cepat.

 

“Tidak, Baekhyun. Kemarilah.. biarkan aku memelukmu.” Bujuk Kai mengarahkan tangannya pada Baekhyun.

 

Luhan melihat Kai yang mencoba menenangkan Baekhyun, hanya bisa terdiam ditempatnya. Kai begitu menyayangi Baekhyun.. jelas. Luhan berharap Baekhyun mau mendengarkan Kai, kondisi tubuh Baekhyun yang tidak baik serta kelabilan jiwanya membuat semua orang mencemaskannya. Ia begitu rapuh.. hanya mencoba memakai topeng super keras yang menyembunyikan sakit hati yang membuatnya terlihat lemah.

Perasaan takut kehilangan..

takut ditinggalkan..

membuat namja cantik itu membangun pondasi kokoh bernama kebencian.

 

 

“Tidak.. Kai tidak membiarkan aku membuang masalahmu.. Kai tidak menginginkanku! Kai pasti membenciku!” Baekhyun menutup telinganya dan kini Baekhyun menangis.

 

Kai menggeleng cepat. “Aku tidak akan pernah bisa membenci Baekhyun. Tidak akan pernah bisa! Aku mencintaimu sebagai sahabatku. Kau salah satu matahariku.. kau salah satu kebahagiaanku.”

 

Baekhyun menatap Kai dengan mata sendunya. “Tidak.. aku ingin menjadi satu- satunya kebahagiaanmu.”

 

Kai mendekati Baekhyun selangkah namun namja cantik itu masih saja menjauhi Kai. Seakan takut jika Kai menyentuhnya. Hingga tubuh Baekhyun kini tersudut ditembok gang itu, seperti menguncinya. Tidak membiarkan dirinya pergi kemana- mana.

 

Hati Kai begitu teriris melihat Baekhyun yang seperti itu.

 

“Baekhyun..” Kai mencoba memegang pipi Baekhyun. Membiarkan air mata Baekhyun mengalir ditangannya. Tidak menolak Baekhyun tertunduk pasrah sembari memeluk tubuhnya sendiri.

 

“Mengapa Kai tidak pernah marah… hiks.. aku akan membunuh Luhan! Aku akan melakukannya dan Kai pasti akan membenciku!! Membuangku!” teriak Baekhyun keras. Luhan terhenyak mendengar ucapan Baekhyun. Sebenci itukah Baekhyun pada dirinya?

 

Kai menatap sendu sosok yang kini menangis terisak. Ia tidak sanggup mengatakan apapun. Membantah saja ia tidak berani, rasa bersalah.. ya. Perasaan seperti itu kadang perasaan paling menyakitkan jika semakin membuncah. Tangan Kai gemetaran, menahan semua rasa hatinya.    

 

Luhan kemudian mendekati Kai. Mengambil posisi dibelakang Kai lalu memegang pundak namja tampan itu perlahan. Reflek Kai membalikkan tubuhnya dan menatap Luhan yang tengah memandang wajah Kai lekat.

 

TES

 

Sedikit terkejut.. Luhan baru kali ini melihat air mata Kai. Hanya akan luluh jika hatinya benar- benar merasakan kegundahan tiada akhir.

Luhan tersenyum tipis. Bibir Kai terkunci rapat, tetesan air mata itu tidak seperti tangisan. Lebih pada rasa bersalah yang mendalam.

Perlahan Luhan membawa tangannya dan menepis air mata Kai. Kembali tersenyum kemudian mengangguk pelan. Seakan mengerti kegundahan namja tampan itu yang sesungguhnya. Kai membulatkan matanya saat melihat senyuman Luhan. Membiarkan perasaannya nyaman sesaat.

Benar..

Malaikatnya memang namja cantik ini.. melihat senyuman itu saja, bisa membuat perasaan Kai begitu lega. Hanya senyuman itu. Mengembalikan dunia buram yang Kai lihat menjadi lebih jelas.

 

Kai menutup matanya dan meresapi lembutnya telapak tangan Luhan yang kini mengusap wajahnya. Begitu lembut dan menenangkan.

 

Baekhyun mendongakkan wajahnya dan melihat Kai tengah meresapi ketenangan dari sentuhan tangan Luhan. Isakan Baekhyun terhenti. Membuat keadaan hening seketika itu. Namun Baekhyun merasakan sesuatu..

…ia terpana.

 

Begitu terpana dengan sosok tampan yang kini menunjukkan…ekspresi damai.

 

Ekspresi wajah Kai yang sama sekali tidak pernah ia lihat.

 

 

BRUAK

 

Kai langsung membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya ia melihat Baekhyun jatuh terduduk. Dengan mata yang masih menatap lurus sosok namja yang sangat ia cintai.

 

“Baekhyun! Andwae?! Kau baik- baik saja?” Kai nampak sangat cemas dan memegang pinggang Baekhyun, membantunya untuk kembali berdiri. Wajah Kai yang begitu dekat dengan Baekhyun membuat namja cantik nan rapuh itu kembali meneteskan air matanya.

 

“Kai..” bisik Baekhyun sangat lirih.

 

“Iya? Apa yang sakit? Peluk tubuhku jika kau tidak kuat berdiri.” Kai mengusap keringat yang berada diwajah Baekhyun dan merapikan rambut namja cantik yang kini menatapnya begitu taat.

 

Berbeda..

Yang dilihat Baekhyun sangat berbeda.

Mengapa?

Padahal Baekhyun begitu senang melihat ekspresi wajah Kai yang begitu tenang dan bersinar saat bersama Luhan. Mengapa Kai tidak memperlihatkannya juga saat berhadapan dengan Baekhyun?

 

“..sakit Kai.” Bisik Baekhyun terus meneteskan air mata kepedihan.

 

“Dimana, Baekhyun? Aku akan-“

 

“Hatiku… hatiku, Kai. Begitu sakit saat kau melihatku dengan mata yang penuh dengan beban. Mata yang melihatku dengan tatapan sendu.. aku tidak suka…”

 

Kai terdiam ditempatnya kemudian menatap Luhan yang tengah mengamati mereka. awalnya mata Kai dan Luhan tertaut kemudian dengan lembut Luhan mengalihkan pandangan matanya menatap Baekhyun yang kini menangis terisak didada Kai. Seakan mengikuti, Kai kembali menatap Baekhyun.

 

“Sungguh.. aku hanya tidak tahu bagaimana cara menghadapimu, Baekhyun.”

 

Ungkapan jujur Kai sontak membuat Baekhyun terdiam.

 

“Aku tidak akan bisa membencimu. Aku tak sanggup.. Aku minta maaf karena membuatmu memikirkan segala hal tentangku yang membebanimu. Aku tidak menderita, Baekhyun. Aku bahagia… dan kau sudah melihatnya. Kau mengerti. Cintamu begitu berharga. Kau namja yang begitu kuat.. namun aku tidak bisa melihatmu terlalu jauh menguntai sakit hatimu.. aku menyakitimu..”

 

Baekhyun benar- benar bungkam.

 

“..aku takut.. benar- benar takut jika nantinya kau akan menyesal dan itu.. akan menyakitimu.  Aku tidak akan sanggup lagi melihat dirimu tersiksa. Cukup, Baekhyun. Kumohon… pikirkan kebahagiaanmu.”

 

Seketika itu Baekhyun melepaskan pelukan Kai dan mundur. Ia memikirkan sesuatu. Ya.. Baekhyun hanya menatap kosong aspal lusuh seakan memaparkan kebenaran.

 

 

 “Justru dengan sikapku selama ini.. aku menyiksamu secara tidak sadar. Maafkan aku Baekhyun.. maaf. Aku-”

 

 

“Tidak! Aku..tidak mau mendengar kata maaf.” Suara Baekhyun terdengar begitu dingin. Mata lirihnya tadi hilang, berganti dengan tatapan tajam. Betapa terkejutnya Kai menerima tatapan tajam dari mata Baekhyun untuk pertama kalinya.

 

“Baek-“

 

DRAP

 

“Baekhyun!!”

 

Saat itu juga Baekhyun berlari menjauh dari Kai dan Luhan. Melihat Baekhyun berlari, sontak Kai dan Luhan mengikuti Baekhyun. Entah kerasukan setan apa, Baekhyun berlari dengan sangat lincah dan cepat. Mereka sudah memasuki jalan raya, beberapa kali mereka berlari menyeberangi jalan untuk mengejar Baekhyun.

Langkah kaki Kai semakin cepat, namun Luhan tidak terlalu kuat untuk menyambung larinya. Ia terhenti dan menatap punggung Kai yang masih mengejar Baekhyun.

 

“Ha..haah..” Luhan mengatur nafasnya yang tidak teratur. “S..Sehun.. Baek..hyun…haaah.. ketem..pat.. Sehun..”

 

Luhan mulai melangkahkan kakinya lagi, namun…

 

“Maaf.. Namamu Luhan?”

 

Suara yang lumayan berat itu membuat langkah Luhan terhenti. Ia tatap namja tinggi yang kini berada disampingnya. Namja tampan dengan ekspresi kebingungan.

 

“Y..Ya.. aku Luhan.”

 

Namja tinggi itu membulatkan matanya dan ia terlihat tegang. Wajahnya pucat. Tampak sekali bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang amat memusingkan. Luhan menatap sang namja itu aneh.

 

“A..aku harus pergi!” Luhan tersenyum sebentar lalu mulai melangkahkan kakinya.

 

“Tunggu!!” cegah namja tinggi itu memegang lengan Luhan cepat. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Jika kau mencari namja yang benama Sehun.. aku tahu tempatnya.”

 

Mata Luhan membulat sempurna. “Benarkah?”

 

Namja tinggi itu mengangguk. “Ah.. perkenalkan. Namaku.. Park Chanyeol.”

 

 

 

‡‡‡

 

 

 

Kai merasakan sesak pada rongga pernafasannya. Nafasnya benar- benar sesak karena mengejar Baekhyun. Namun ia tidak peduli, jika ia kehilangan Baekhyun siapa yang akan menjamin nyawa namja itu tetap berada diraganya? Beberapa tahun yang lalu Baekhyun tanpa ragu menabrakkan dirinya kejalan raya, tentu tidak menutup kemungkinan akan apa yang akan ia lakukan selanjutnya adalah melakukan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri.

 

Menyadari bahwa Baekhyun mulai lelah berlari, saat Baekhyun akan menaiki sebuah gedung tua bertingkat 1o. Kai menambah kecepatan larinya hingga jarak mereka hanya terpaut 2 meter. Kai menggigit bibir bawahanya dan mencoba meraih lengan Baekhyun… dapat!

 

“Baekhyun!!” Kai menghentikan langkah Baekhyun.

 

“Haahh…haaahh…haahh..”

 

Nafas kedua namja itu terdengar menderu. Keduanya bermandikan peluh, wajah Kai memerah karena berlari tadi. Berbeda dengan wajah Baekhyun yang pucat. Benar- benar pucat.

 

“Le..haah..pas.. haahh..” ujar Baekhyun terbata.

 

Kai menggeleng cepat sembari mengatur nafasnya. “..aku.. tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal berbahaya..lagi.. hah.. apa yang akan kau rencanakan, Baekhyun? Menaiki gedung ini dan menjatuhkan dirimu! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku? hah.. apa kau menginginkan aku menderita, Baekhyun? Menderita karena melihatmu seperti ini? Kumohon…”

 

DEG

 

Baekhyun menatap mata Kai yang benar- benar berat. Ia tertunduk dalam.. memikirkan kata- kata yang diucapkan oleh Kai barusan.

 

Bukan penderitaan dan keresahan hati yang ingin Baekhyun berikan pada  Kai, bukan! Ia hanya ingin membuat namja tampan pengisi relung hatinya itu bahagia. Bahagia melebihi siapapun. Bukan menyiksa Kai karena kelemahan hatinya.

 

“Ya Tuhan.. apa yang aku lakukan.. hiks…” Baekhyun menangis terisak. “Maafkan aku.. hiks.. maaf Kai.. maaf.. hiks..”

 

GREP

 

Kai langsung memeluk tubuh rapuh Baekhyun. “Jangan minta maaf Baekhyun..”

 

Baekhyun mempererat pelukannya ditubuh Kai kemudian… senyuman menyeramkan terhias diwajah Baekhyun. Tatapan matanya yang tadi sendu berubah.

 

“Hiks.. Kai.. aku…”

 

“Tidak apa- apa.. berjanjilah tidak melakukan hal- hal yang membahayakan dirimu lagi, Baekhyun.” Kai mengusap rambut Baekhyun lembut dan memperkuat pelukannya.

 

Mata yang tadinya mengeluarkan air mata kini kering dan menatap tajam kosong kedepan. Perlahan Baekhyun melepas pelukannya dan kembali..ia memasang wajah memelas penuh rasa bersalah. Menyembunyikan ekspresi dingin yang tadi terpampang sempurna diwajah Baekhyun.

 

“Hikss.. papa Luhan.. papa Luhan menculik Sehun, Kai..”

 

“APA! Ba..bagaimana bisa!!” Mata Kai membulat. Betapa terkejutnya ia.

 

“Hiks.. nanti aku jelaskan.. Kai ayo kita selamatkan Sehun!” Baekhyun menitikkan air matanya. “Aku.. tahu tempatnya.”

 

Kai menatap Baekhyun penuh arti, walau ia bingung. Kai hanya mengangguk. Lalu mengikuti langkah namja manis itu menuju suatu tempat.

 

 

 

 

‡‡‡

 

 

“Ugh..” keluh namja tampan berkulit putih susu itu karena kepalanya terasa amat berat. Nampaknya ia baru sadar, namun ia tidak bisa bangkit karena kepalanya terlalu berat. Membuka kelopak matanya agar lebih lebar saja rasanya sangat sulit. Ia hanya tergolek lemah tak berdaya didalam ruangan yang nampak seperti gudang.

 

“Sudah bangun dari tidurmu anak muda?” suara yang begitu bengis itu tertangkap dipendengaran namja tampan yang masih belum bisa mengendalikan tubuhnya.

 

“Hm.. lebih enak kupanggil Sehun.. sama seperti anak sialan itu memanggilmu, bukan?” sindir orang itu sembari mendekati Sehun.

 

“Siapa?” desis Sehun didalam hati.

 

“Malangnya dirimu, Sehun. Menjadi orang yang dicintai anak sialan itu.. HAHAHA! Dia juga harus merasakan! Bagaimana sakitnya kehilangan orang yang benar- benar ia cintai!”

 

Sehun bisa menangkap.. apakah orang yang kini menyekapnya adalah.. ayah Luhan? Entahlah.. bahkan ia tidak ingat lagi bagaimana wajah orang yang tadi pagi memanggilnya. Setelah itu yang Sehun ingat hanyalah sebuah pukulan keras yang terasa dibelakang tengkoraknya.

 

“Hmm.. masih terasa sakitkah? Sepertinya namja tinggi bernama Chanyeol itu terlalu keras memukul kepalamu. HAHAHA!”

 

Sehun memejamkan matanya sesaat kemudian menatap lelaki itu tajam. Penglihatannya kini sudah sedikit membaik walau masih terlihat buram.

 

“..si..apa?” desis Sehun begitu pelan.

 

“Aku..siapa? hmm… kalau aku katakan aku ayah tiri Luhan, bagaimana? Kau tahu?”

 

Mendengar itu Sehun hanya berdecis pelan. Mata Sehun mulai tajam menatap ayah tiri Luhan yang bernama Yesung itu. Sosoknya tampan dan berwajah lembut, jika melihatnya sekilas, tidak akan ada yang menyangka bahwa ia bisa bertindak kejam pada anak semurni Luhan.

 

“..Kau..telah..membuat Luhan…menderita..” ujar Sehun terbata.

 

Yesung menatap Sehun tajam kemudian menghela nafas pelan. “Aku membuatnya menderita? Tidak salah? Anak sialan sok manis itu selalu mengingatkan Ryeowook-ku dengan sosok suaminya yang dulu. Aku membenci anak itu! Dialah yang harusnya lenyap dari muka bumi ini! Bukan Ryeowook-ku! BUKAN RYEOWOOK!!” Teriak Yesung begitu keras. Sedikit membuat telinga Sehun berdengung.

 

“…kau hanya mencari…kambing hitam, ahjusshi.. kau hanya membenci Lu..Han..hingga mengambing hitamkan Luhan atas kematian..istrimu!”

 

Mendengar ucapan Sehun, Yesung sontak naik pitam.

 

BUAKK

 

Sehun memejamkan matanya merasakan sakitnya tendangan Yesung tepat diperutnya. Sakit.. namun tidak sesakit apa yang Sehun rasakan didalam hatinya. Tendangan ini… pasti Luhan terima setiap hati dahulunya. Mungkin lebih.. Sehun tersenyum tipis, bukankah Luhan ditemukan oleh Heechul dan Kyuhyun dalam keadaan hampir tewas?

Sial..

Sehun mengepalkan tangannya. Mencoba memberi dirinya sendiri kekuatan. Sedikit saja.. ia ingin sekali memukul Yesung. Sekali saja… membalas semua yang telah namja itu lakukan pada orang yang paling ia kasihi.

Izinkan ia Tuhan..

 

Mata Yesung membulat saat melihat Sehun sudah setengah berdiri. Darah tertetes dari kepala belakangnya. Sepertinya pukulan Chanyeol tadi melukai Sehun lumayan parah.

 

“Rupanya kau anak yang cukup kuat.” Sindir Yesung tajam.

 

Sehun menatap Yesung penuh kebencian. Rasanya benar- benar ingin ia membunuh namja bernama Yesung itu. Namja yang menjadi mimpi buruk bagi Luhan.

 

“Aku datang jauh- jauh dari China ke Korea..hanya untuk membunuh anak itu. Membalaskan dendam Ryeowook.. andai saja anak itu tidak selalu mengganggu Ryeowook, bermanja- manja dan meminta ini itu.. aku tidak akan

 

“Kau yang gila, ahjusshi. Kau terlalu membenci Luhan hingga semua yang Luhan lakukan berlebihan dimatamu. Membuatnya seakan- akan.. ialah yang bersalah.” Balas Sehun tegas. “Aku benar- benar kasihan padamu.”

 

“DIAM!”

 

Yesung menarik kerah baju Sehun dan…

 

BRUAAKK

 

BUAK

 

DUAAKK

 

 

“Kau tidak mengerti!! Luhan lah penyebab semua kekacauan! Dalam hidupku! Dan hidupmu!! HAHAHA!!”

 

 

DUAAKK

 

 

“Marahlah.. Bencilah.. Luhan yang membuatmu mati mengenaskan nantinya!! Salahkan Luhan!!”

 

 

DUAAKKK

 

 

Sehun mencoba melawan dari serangan Yesung namun ia tidak kuat. Tubuhnya pasrah mendapat pukulan dan tendangan bertubi- tubi. Sial! Seharusnya ia tidak selemah ini.

 

“LUHAN ADALAH MASALAH BAGI SEMUA ORANG!!”

 

Mata Sehun membulat. Ia benar- benar tidak terima kali ini.

 

DUAAKK

 

Sehun seketika itu memukul rahang Yesung keras hingga membuat namja itu mundur beberapa langkah kebelakang.

 

“Jaga bicaramu, brengsek! Siapa kau hingga berani menghina Luhan seperti itu!! Kau hanya manusia rendahan yang menyalahkan orang lain atas kesalahanmu!!”

 

Yesung menyeringai dan menepis darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tatapan mata tajam itu seakan memakan Sehun yang kini menjadi patokan mata kelamnya.

 

“Bocah sok tahu!” sebilah pisau lipat sudah tergenggam ditangan Yesung. Sehun menatap pisau lipat itu dan mengalihkan pandangan matanya yang mulai memburam pada balok kayu yang ada disamping kakinya.

 

“Sebenarnya aku ingin membunuhmu tepat didepan mata Luhan… tapi kau membuatku muak.” Yesung memainkan pisau yang ada ditangannya. Menatap Sehun bagaikan maksanya.

 

Sehun mundur selangkah dan mengapai balok kayu dengan cepat. Yesung masih menatap Sehun dengan remeh, tatapan matanya seperti mengatakan tidak ada pengaruhnya bagi ia Sehun memiliki senjata untuk melawan atau tidak.

 

“Kau mengatakan bahwa kau akan membunuh Luhan, bukan? dan kau pikir aku akan membiarkanmu? Jika memang harus, aku yang akan membunuhmu dan melenyapkanmu dalam hidup Luhan!” ujar Sehun penuh keyakinan.

 

Kali ini tidak ada senyuman yang menghiasi wajah Yesung. “…Mengapa kau begitu menjaga Luhan, oeh? Apa yang ada dalam diri anak itu hingga semua orang menyayanginya! ITU MEMBUATKU MUAK!!”

 

Kemarahan nampak jelas terlukis diwajah Yesung. Sedikit membuat Sehun merinding. Bisa Sehun pahami bahwa Yesung benar- benar membenci Luhan. Itu tidak adil, bukan? Keegoisan Yesung membuat hidup Luhan bagaikan neraka.

Dan Sehun tidak mau Luhan menyentuh neraka itu lagi.

Sehun tidak akan rela.. jika Luhan harus kembali tersakiti.

 

 

“Kau seharusnya bersyukur ahjusshi! Kau seharusnya menjaga Luhan. Apa kau tidak pernah bersyukur memiliki anak seperti Luhan?”

 

“DIAM!”

 

Yesung langsung menerjang Sehun dan mencekik leher Sehun dengan sebelah tangannya. Gerakan Yesung yang begitu cepat membuat Sehun terkejut dan tidak sempat melakukan perlawanan. Kini Sehun tersungkur dan Yesung menghimpit tubuh Sehun agar tidak bisa digerakkan. Dengan usaha yang amat keras, terpaksa ia melepaskan balok kayu yang ada ditangannya dan mencoba melepaskan tangan Yesung dari lehernya.

 

“HAHAHA! SETELAH KAU MATI, LUHAN AKAN SEGERA MENYUSULMU!” teriak Yesung kesetanan.

 

“AAGGH!!” Sehun mencoba melepaskan cekikan itu, namun nihil. Kekuatan Yesung ternyata sangat kuat. Padahal ia hanya mencekik leher Sehun dengan sebelah tangan, namun mengapa begitu kuat? Apakah seperti ini kekuatan dendam?

 

“Bye bye!”

 

Yesung mengayunkan sebelah tangannya yang menggenggam pisau lipat yang begitu tajam keatas dan.. seringai menyeramkan kini tergambarkan diwajah tampan Yesung. Sedetik kemudian, Yesung kembali mengayunkan tangannya yang menggenggam pisau lipat itu kearah jantung Sehun.

 

Sehun menutup matanya pasrah.

 

“Lu.. maafkan aku. Aku mencintaimu.”

 

 

 

DUUAAAKKKK

 

 

 

BRUAK

 

 

“Sehun!!”

 

 

Seketika itu Sehun kembali membuka matanya, melihat tubuh Yesung yang terkulai disampingnya. Betapa bersyukurnya Sehun, Yesung belum sempat melukainya.

 

“Sehun, gwencahana?” Kai membantu Sehun untuk duduk.

 

DUAAKK

 

DUAAKK

 

“BRENGSEK!”

 

DUAK

 

“Baekhyun! Hentikan!!” Sehun langsung mencegah Baekhyun yang masih memukuli tubuh Yesung yang kini sudah dipenuhi luka. Pukulan Baekhyun yang tepat mengenai kepala Yesung, membuat namja itu tidak sadarkan diri. Kai meraih tongkat kayu yang Baekhyun gunakan untuk memukuli Yesung. Kai memeluk Baekhyun yang masih memberontak .

 

“Biar aku membunuh ahjusshi brengsek itu! Dia sudah melukai Sehun! Brengsek!!” teriak Baekhyun terus saja berusaha melepaskan pelukan Kai yang kini menahannya.

 

“Tenang, aku baik- baik saja..” Sehun mencoba menenangkan Baekhyun.

 

“Se..Sehun… hiks..” Baekhyun kemudian melepas pelukan Kai dan memeluk Sehun. Betapa leganya Baekhyun ia tepat waktu. Sehun tersenyum dan memeluk Baekhyun dengan sangat erat. Entah sudah berapa kali Baekhyun menyelamatkan nyawanya.

 

“Terima kasih, Baekhyun.” Bisik Sehun seraya mempererat pelukannya.

 

Kembali.. senyuman aneh terlukiskan dibibir mungil Baekhyun. Ia eratkan pelukannya pada tubuh Sehun. Dari sela punggung Sehun, mata Baekhyun menangkap sosok Yesung yang sudah babak belur akibat ulahnya. Kebencian kembali merasuki tatapan mata Baekhyun yang masih tergenang air mata.

 

“Semoga kau mati.” Bisik Baekhyun dalam hati.

 

Kai mengusap rambut Baekhyun dan menatap Sehun dengan tatapan lega. Tidak dapat Sehun pungkiri, ia juga lega melihat Kai disana. Senyuman kemudian menguasai wajah Sehun. Kai sedikit ragu, matanya membulat saat Sehun tersenyum lembut kearahnya.

 

“Terima kasih.” Gerak bibir Sehun tanpa suara pada Kai.

 

Kai seketika itu tersenyum dan mengangguk.

 

Apakah Sehun sudah mulai memaafkan dirinya?

 

Apakah Sehun sudah bisa melupakan kesalahan Kai dimasa lalu?

 

Apakah mereka bisa kembali menjadi sahabat seperti dahulunya?

 

 

DEG

 

Tunggu… Kai menyadari sesuatu. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar daru gudang itu.

Dimana Luhan?

Ya Tuhan! Kai baru menyadari bahwa Luhan tidak ada. Padahal Kai yakin sekali bahwa Luhan ikut mengejar Baekhyun tadinya.

 

Kemana ia sekarang?

 

 

 

Drrttt

 

Drrrttttt

 

Getaran ponsel tertangkap dipendengaran Sehun. Ia lihat sebuah ponsel yang tergeletak didekat sebuah kotak kayu. Mungkin saja itu ponsel Yesung. Mengerti akan sesuatu, Sehun melepas pelukannya dengan Baekhyun kemudian mengatakan kepada Baekhyun agar menyampiri Kai.

 

 

Sehun mendekati ponsel itu. Secepatnya Sehun berniat menghubungi polisi, untuk mengangkap Yesung. Pasti pihak kepolisian sangat mencari buronan mereka yang satu ini.

 

‘You Have 1 Message ’

 

Sehun mengerutkan dahinya, pesan? Apakah dari komplotan Yesung?

 

Dengan cepat Sehun membuka pesan singkat itu.

 

 

-‘Ini aku Chanyeol. Luhan sudah kubawa kegudang dekat pelabuhan. Cepat kau kemari, ahjusshi. Dan hubungi Baekhyun. Aku tidak menemukannya disekolah. Apa dia bersamamu? Aku tidak bisa menghubungi ponselnya.’-

 

DEG

 

-... Dan hubungi Baekhyun….-

 

 

-…Baekhyun.-

 

 

Mata Sehun membulat seketika itu. Jantungnya berdetak cepat sekali. ia alihkan pandangan matanya pada namja cantik yang kini sedang berbicara dengan Kai. Namja cantik yang tidak pernah ia duga… akan terlibat sejauh ini.

 

Dengan langkah cepat, Sehun mendekati Kai dan Baekhyun. Kemarahan nampak jelas diwajah Sehun. Seketika itu Sehun menarik lengan Kai, menjauhi Baekhyun, membuat namja tampan itu terkejut dan namja cantik itu sedikit merengut. Ekspresi wajah Sehun membuat kedua namja itu diam.

 

“Kenapa, Baekhyun?!” Sehun berucap lemah, menatap sahabatnya itu.

 

“KENAPA?!”

 

Teriakan Sehun membuat Baekhyun terkejut. Kai langsung mendorong Sehun dengan keras. Marah karena Sehun membentak Baekhyun.

 

“Apa yang kau lakukan Oh Sehun! Kau membuat Baekhyun takut!” Kai tidak terima atas perlakuan Sehun pada Baekhyun.

 

“Ini! Kau lihat sendiri!! Aku akan pergi ketempat Luhan!”

 

Sehun menyerahkan ponsel Yesung pada Kai dan langsung berlari sekencang yang ia bisa. Sempat Baekhyun tangkap sorot mata kekecewaan yang amat sangat dari mata Sehun..untuknya. Membuat Baekhyun terhenyak dan sakit.

 

Masih bingung, Kai menatap Baekhyun yang kini terdiam ditempatnya lalu pandangan matanya mengarah pada ponsel Yesung. Sesuai dengan apa yang dikatakan Sehun, Kai mengamati tulisan yang ada dilayar ponsel itu. Tepatnya pesan singkat.

 

 

-‘Ini aku Chanyeol. Luhan sudah kebawa kegudang dekat pelabuhan. Cepat kau kemari, ahjusshi. Dan hubungi Baekhyun. Aku tidak menemukannya disekolah. Apa dia bersamamu? Aku tidak bisa menghubungi ponselnya.’-

 

 

PRAAKK

 

Ponsel Yesung terjatuh dari tangan Kai. Tatapan mata Kai yang kosong kini beralih pada Baekhyun. Namja cantik yang bingung itu kemudian mengambil ponsel Yesung dan..membaca pesan dari Chanyeol. Seketika itu Baekhyun menggeleng cepat dan membuang ponsel itu dari tangannya.

 

“Kai… ini tidak seperti yang-“

 

“Apa yang membuatmu membenci Luhan hingga seperti ini?!” suara Kai mengeras. Mata tajam itu menggambarkan sebuah kekecewaan yang amat sangat.

 

“Kai.. aku-“

 

“Aku selalu mengusahakan semua yang kau butuhkan! Membuatmu lebih nyaman dan tidak ingin kau menderita jauh lebih dalam. Namun apa yang kau lakukan?! Kau menyakiti Luhan! Kau sendiri tahu bahwa aku begitu mencintainya. Kau tahu dengan jelas Baekhyun! DAN KAU YANG PALING TAHU BAGAIMANA PERASAANKU!!”

 

Deru nafas Kai seketika itu membuat nafas Baekhyun tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mengatakan apa untuk menjelaskan semuanya. Diam.. hanya itu yang bisa Baekhyun lakukan.

 

“Atau kau hanya ingin menyiksaku? Kau ingin membalas sakit hatimu, Baekhyun? Dengan membuatku menderita atas semua yang menimpa Luhan?”

 

Baekhyun menggeleng cepat. “Tidak!”

 

“Lalu apa? Apa yang kau lakukan ini sudah sangat keterlaluan Baekhyun..Aku tidak menyangka kau akan sekejam ini!”

 

Kai menyudutkannya.

 

Baekhyun mengepalkan tangannya dan menatap Kai tajam. “Karena dia kau tidak membalas perasaanku! Karena dia yang kulihat hanya penderitaan kalian! Yang kulihat hanya air mata Sehun! Kesakitan hatimu! Semua karena dia! Aku ingin melenyapkannya agar Kai dan Sehun tidak perlu terpuruk lagi! Agar Kai dan Sehun bisa bahagia-”

 

Plak

 

Tamparan kecil menghentikan ucapan Baekhyun. Kai menamparnya… namun tidak keras. Mungkin hanya benturan lembut yang menyentuh pipi Baekhyun.

 

“Benarkah hanya untuk kami? Bukankah hanya keegoisan hatimu, Baekhyun? Bukankah hanya untuk memuaskan keinginan hatimu.”

 

Air mata tertetes dipipi Baekhyun. Ia pegang pipinya yang mendapat tamparan halus…namun jauh lebih menyakitkan daripada tamparan kasar atau makian yang ia terima.

 

“Maafkan aku, Kai… hiks..”

 

“Bagaimana kalau Luhan terluka?”

 

“Maaf.. hiks… aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu marah dan sedih seperti ini.”

 

“Aku tidak marah Baekhyun… aku kecewa padamu.”

 

DEG

 

Tangisan Baekhyun terhenti seketika itu. Ia tatap mata Kai yang nampak berat dan memerah. Kekecewaan yang membuat Baekhyun terhenyak. Ya Tuhan… mata hati Baekhyun seakan terbuka saat melihat tatapan mata Kai yang begitu menyakitkan.

 

“Maafkan aku, Kai. Jangan menatapku seperti itu… kumohon.. hiks..” Baekhyun terduduk dan meringkuh dilantai berdebu itu. Kai tidak tega.. namun ia kecewa sekali pada Baekhyun. Sangat kecewa.

 

Maka ia membiarkan dahulu namja itu berfikir…

 

 

“Jangan membenciku..kumohon. aku tidak akan sanggup.” Baekhyun menangis terisak. “Hiks… Kai.. Kai.. jangan diam saja.. hiks”

 

 

Kai masih tidak mau menjawab sahutan Baekhyun.

 

 

“Kai… maaf.. jangan menatapku seperti itu. Jawab aku… hiks.. Kai..”

 

Seketika itu Kai menyadari bahwa tubuh Baekhyun bergetar hebat. Keringat mengucur dengan deras ditubuh namja itu. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya gemetaran.

 

 

“Bae..BAEKHYUN!!”

 

 

Kai langsung menangkap tubuh Baekhyun yang rubuh. Mata Baekhyun tertutup rapat. Keringat dingin membasahi tubuh kurus namja itu.

 

“Baekhyun! Hey, kau mendengarkanku? Baekhyun!! Sial!!” Kai menggendong tubuh Baekhyun dan keluar dari gudang itu. Tidak lupa Kai mengunci pintu gudang itu, agar Yesung tidak bisa keluar. Pastinya Kai akan menghubungi polisi setelah ini.

 

Namun.. Kai mengambil ponsel Yesung dan… ia bermaksud memusnahkannya.

 

Untuk apa lagi… kalau bukan melindungi..

 

Baekhyun.

 

 

 

“Sehun.. kumohon selamatkan Luhan.. jangan biarkan ia terluka.” Bisik Kai didalam hati.

 

 

Kumohon Sehun.. selamatkan matahariku.

 

 

 

‡‡‡

 

 

Sehun berlari sekencang yang ia bisa, membiarkan rasa sakit dikepalanya yang mulai mengilu. Sebisa mungkin Sehun tidak mengidahkan respon tubuhnya yang semakin melemah. Yang ia pikirkan hanya Luhan!

 

Ya Tuhan.. jangan sampai namja cantik itu terluka.

 

 

 

Gudang pelabuhan.

 

Tempat yang dituju oleh Sehun sekarang.

 

“Luhan! Luhan!!”

 

Nama itulah yang menjadi penyemangat Sehun agar terus bertahan dalam langkahnya yang mengejar.

 

“Luhan!!”

 

 

 

‡‡‡

 

 

 

Luhan masuk kedalam sebuah gudang yang terdapat didekat pelabuhan. Tanpa curiga ia mengikuti sang namja tinggi yang sangat tampan bernama Chanyeol.

 

“Cih!” desis Chanyeol kembali memeriksa ponselnya, tidak ada balasan dari Yesung.

 

“Chanyeol-sshi, dimana Sehun?” tanya Luhan begitu pelan.

 

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Luhan dari atas kebawah beberapa kali. Menyadari tatapan namja tampan yang ada dihadapannya agak lain, Luhan merasakan ada yang tidak beres.

 

“Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga membuat Baekhyun-ku menderita?”

 

“Eh?”

 

Chanyeol menyeringai, ia melipat tangannya didada. Wajah tampan yang tadinya ramah kini terlihat sangat dingin. Luhan mundur beberapa langkah, menyadari bahwa namja tampan yang membawanya kesana punya maksud yang tidak baik.

 

“Kau bodoh, oeh? Begitu saja menurut dan percaya pada orang lain.”

 

“Chanyeol-sshi, apa yang kau katakan! Kau mengajakku kesini karena kau tahu tempat Sehun berada, bukan?”

 

“Masih belum mengerti? Aisshh!! Aku benci sekali namja bodoh sepertimu. Tentu saja bukan!” Chanyeol mengeluarkan smart phone- nya dan mengutak- atik sesaat. “Kau tahu ramalan cuaca hari ini? Sepertinya akan terjadi badai didekat daerah pelabuhan.”

 

Mengerti akan maksud Chanyeol, Luhan langsung berbalik badan. Bermaksud lari keluar dari gudang besar yang seperti tempat penyimpanan logam dan besi. Namun langkah pendek Luhan tentu saja kalah jauh dari langkah kaki Chanyeol yang panjang. Mudah bagi Chanyeol untuk menangkap Luhan dalam waktu singkat.

 

“Lepaskan aku!!” teriak Luhan sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Chanyeol dari lengannya.

 

BRUUAKKK

 

Chanyeol menghempas kasar tubuh Luhan hingga namja cantik itu tersungkur dilantai beton yang dingin itu. Telapak tangan Luhan bahkan lecet. Chanyeol kemudian menatap Luhan dengan tatapan dingin yang menakutkan. Menutupi wajah tampannya yang sebenarnya begitu ramah.

 

“Musuh Baekhyun adalah musuhku. Kau sudah menyakiti Baekhyun-ku.. aku akan membalasnya seribu kali lipat, Luhan-sshi. Jika aku memang harus membunuhmu, akan kulakukan. Agar beban penderitaan Baekhyun lenyap. Baekhyun tidak boleh menderita… dia hanya boleh bahagia.”

 

Luhan menggeleng cepat. “Aku tidak pernah menyakiti Baekhyun.”

 

“Bohong!”

 

“Aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun. Sungguh! Kumohon padamu Chanyeol-sshi.. antar aku ketempat Sehun! Aku harus cepat atau tidak papa akan menyakiti Sehun. Kumohon!!” Mohon Luhan dengan mata yang sudah berair.

 

Chanyeol menggertakkan giginya. “Cih! Bukan waktunya mencemaskan orang lain, Luhan-sshi.”

 

“Tapi-“

 

“Baiklah!” Chanyeol menepuk tangannya sekali kemudian senyuman manis tergambarkan diwajah Chanyeol. “Akan kuberi kau kesempatan untuk ketempat Sehun berada.”

 

Ucapan Chanyeol membuat Luhan tersenyum senang. “Benarkah?”

 

Chanyeol mengangguk dan merendahkan tubuhnya, kemudian mengambil sebuah tongkat besi sepanjang lengan. Luhan membulatkan matanya saat melihat Chanyeol menyeringai dan mengangkat tongkat besi itu keudara.

 

“Bagaimana jika kakimu kuhancurkan dulu. Pasti akan lebih seru, bukan?”

 

 

 

‡‡‡

 

 

 

Kai memasuki sebuah rumah sakit, beruntung rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari tempat dimana Baekhyun pingsan. Baekhyun langsung mendapat penanganan medis dan yang membuat Kai lega, Baekhyun mulai sadar saat Kai keluar dari ruang medis.

Semoga Baekhyun baik- baik saja.

Kai terus berdoa.

 

Tanpa membuang waktu, setelah memastikan Baekhyun sedang dalam pemeriksaan, Kai langsung berlari menuju telpon umum yang terdapat dirumah sakit itu.

 

Sedikit gemetaran, Kai mengingat kembali dengan apa yang ia lakukan sebelum pergi kerumah sakit. Kai membuang ponsel Yesung saat melewati jembatan menuju rumah sakit. Bisa dipastikan ponsel itu rusak karena Kai melihat ponsel itu membentur sebuah batu besar hingga hancur kemudian terbawa arus air yang amat deras.

 

Menelan kasar liurnya, Kai mengambil ganggang telpon umum itu dan memencet nomor telpon.

 

 

“Yoboseyo, ini kantor polisi?”

 

 

 

‡‡‡

 

 

 

DUAAKK

 

 

Pukulan terakhir yang melukai betis Luhan. Nampak celana panjang yang Luhan kenakan robek didaerah lutut hingga mata kaki. Chanyeol benar- benar tidak tanggung- tanggung.

 

“Agh!!” Luhan meringis kesakitan setelah Chanyeol memukuli kakinya dengan tongkat besi itu. Air mata jatuh tertetes dipipi Luhan, menandakan bagaimana sakitnya hantaman benda tumpul itu menyerang kakinya. Bahkan ujung besi itu beberapa kali menggores kulit Luhan dan merobek bagian bawah celananya.

 

Chanyeol tersenyum puas dan membuang tongkat besi itu kesembarangan tempat. “Gudang ini akan dibuka 2 hari lagi. Hmm.. mungkin saja para buruh digudang ini akan menemukanmu sekarat.. Lihat.. besi itu berkarat, Lu Han-sshi, jika tidak segera diobati. Bisa dipastikan kau akan kehilangan kakimu.”

 

Luhan mengepalkan tangannya. Mencoba sedikit bangkit namun kakinya sangat sakit. Digerakkan saja sakit sekali, apalagi jika Luhan mencoba untuk berdiri. Apa kakinya patah? Tulang kering Luhan bahkan terasa sangat ngilu. Tak bisa Luhan hentikan air mata yang kini terjatuh satu persatu dari matanya.

 

“Hmm.. kau begitu lemah dan bodoh. Mengapa Baekhyun bisa menganggapmu musuhnya?” Chanyeol nampak heran. Tanpa rasa bersalah ia kembali melihat ponselnya dan mendecak kesal.

 

“Ahjusshi sialan itu sedang apa, oeh! Mengapa ia tidak juga membalas pesanku.”

 

Chanyeol berbalik badan, melangkah meninggalkan Luhan yang masih menahan rasa sakit. Melihat itu sontak Luhan berteriak memanggil Chanyeol.

 

“Tunggu! Kumohon jangan tinggalkan aku disini! Kumohon, Chanyeol-sshi!! Sehun.. hiks.. aku harus menolong Sehun!”

 

Chanyeol terhenti ditempatnya kemudian membalikkan tubuhnya menatap dingin Luhan yang tengah mencoba merangkak mendekatinya. Namja tampan itu kemudian merogoh sakunya, ia keluarkan sebuah gembok besar beserta kunci.

 

“Ini..” Chanyeol membuka kuncian gembok itu dan mengarahkan kunci gembok itu pada Luhan. “Kuncinya akan aku… tinggalkan.”

 

“Eh?”

 

“Silahkan ambil..”

 

PRAAKK

 

 Chanyeol melempar kunci gembok itu kesebuah tumpukan beton- beton besar yang begitu banyak. Luhan membulatkan matanya dan kembali menatap Chanyeol.

 

“Bagaimana aku mengambilnya!” teriak Luhan frustasi.

 

Chanyeol mendekati Luhan dan berjongkok. Seketika itu ia dekatkan wajahnya pada wajah Luhan. Mata besarnya kini menatap tajam mata Luhan yang begitu sendu. “..kau masih bisa bergerak, bukan? Mau merangkak, merayap ataupun menarik tubuhmu, aku tidak peduli. Kau pantas mendapatkan semua ini karena kau menyakiti orang yang paling aku cintai.”

 

Luhan menggeleng cepat. “Tolong.. aku mohon.. hiks..”

 

Chanyeol berdiri diposisinya dan tersenyum manis. “Semoga berhasil, sayang. Ah, aku sampai lupa. Kurang dari setengah jam lagi akan ada badai, menurut perkiraan cuaca.. hmm.. berhati- hatilah.”

 

Dengan santai Chanyeol kembali berjalan keluar gudang. Setelah sampai dipintu gudang yang sangat luas itu, Chanyeol sempat melirik Luhan yang tengah merangkak menuju tempat dimana Chanyeol melemparkan kunci gembok itu, Chanyeol nampak ragu. Matanya tidak fokus, namun akhirnya ia menggeleng cepat dan keluar dari gudang itu.

 

 

 

KLEEKKK

 

Luhan mendengar suara kuncian gembok, Chanyeol benar- benar menguncinya di gudang itu. Kemudian Luhan mendengar bunyi suara mobil yang hidup dan menjauh pergi.

 

“Chanyeol-sshi! Kumohon! CHANYEOL-SSHI!!”

 

 

Teriakan Luhan begitu nyaring. Namun hanya menjadi gema yang menguasai ruangan itu. Dengan tangan mungil yang kini terhias luka lecet, Luhan mencoba untuk terus merangkak ketempat Chanyeol melempar kunci gembok itu. Setidaknya jika ada orang yang lewat, Luhan bisa melempar kunci itu dari kolong pintu pada orang tersebut dan membantunya keluar dari sana.

 

“Ahhh…” Luhan merasakan perih bukan main saat lukanya bergesek dengan lantai yang entah mengapa sedikit kasar. Apa dilantai itu ada bubuk besi? Oh Tuhan.. Luhan bahkan tidak memperdulikan perihnya luka yang ia derita. Didalam pikiran Luhan hanya ada Sehun. Ia ingin menyelamatkan Sehun.

 

“Sedikit lagi!!” Luhan terus berusaha. Kunci itu nampak terselip diantara beton- beton besar. Jaraknya hanya sekitar 2,5 meter lagi dari tempat Luhan. Terus, Luhan menarik tubuhnya agar mendekati kumpulan beton itu hingga jaraknya tinggal 2 langkah lagi.

 

“Sehun! Sehun!!” Luhan menitikkan air matanya. Sedikit lagi… tangannya menggapai kunci gembok itu. Sedikit lagi.. Luhan menggigit bibir bawahnya. Menahan perih saat tubuhnya sedikit terangkat untuk menggapai kunci itu. Kakinya seakan terikat dengan beban yang sangat berat.

 

 

GREEPP

 

Tubuh Luhan langsung tumbang. Senyuman terlihat jelas diwajah Luhan, ia genggam erat kunci gembok itu. Nafasnya yang terengah- engah membuat keadaan sedikit ribut. Kelegaan sedikit menjalari hati Luhan. Setidaknya ia sudah memegang kunci gembok itu.

Kini mata Luhan menatap pintu besar gudang itu. Terlihat begitu jauh dari tempat Luhan meringkuh. Letih sekali, kenapa rasanya begitu jauh? Jika Luhan tidak keluar sebelum badai, ia pasti akan kedinginan ditumpukan besi itu. Pasti gedung itu juga tidak terlalu aman jika menjadi tempat berteduh saat badai nantinya. Mengingat beberapa atap seng gudang tinggi itu terlihat jarang- jarang dan bolong.

 

 

Sekuat tenaga Luhan menarik tubuhnya untuk mendekati pintu… sampai akhirnya sebuah teriakan membuat Luhan tercekat.

 

 

“LUHAN! KAU DIDALAM!!”

 

DUUM

 

DUUMM

 

 

Bunyi hataman dipintu besi itu membuat Luhan merasakan harapan.

 

 

“Se..SEHUN!! AKU DIDALAM! SEHUNN!!” teriak Luhan mencoba menarik tubuhnya lebih cepat. Namun yang ia dapatkan luka disikunya bertambah besar.

Luhan terhenti saat itu juga, lututnya yang pendarahan membuat rasa sakit yang Luhan rasakan bagaikan menusuk jantungnya. Air mata kembali terjatuh akibat rasa sakit itu.

 

“LUHAN!! TUNGGU, AKU AKAN MENGELUARKANMU!!” Sehun mulai menendang pintu gudang itu. Bunyi dentuman terdengar namun usaha Sehun tidak berbuah banyak karena pintu gudang besi itu sangat kuat.

 

“A..AKU ADA KUNCINYA SEHUN! KUNCI GEMBOK ITU!” Teriakan Luhan menghentikan tendangan Sehun.

 

“MANA? LEMPAR PADAKU!!” Sehun memasukkan tangannya pada kolong pintu yang amat sempit. Bahkan hanya telapak tangan saja yang bisa melewati kolong pintu gudang itu.

 

Luhan kali ini tidak memperdulikan sakit yang terasa pada tubuhnya. Ia seakan mati rasa, mencoba berdiri dengan kondisi kakinya yang babak belur. Kaki kanan Luhan terasa sangat sakit, pasti patah.  

 

Ia berusaha untuk berdiri, setelah itu ia langkahkan kaki kirinya cepat dengan menyeret kaki kanannya. Baru 4 langkah penuh dia berjalan, ia tersungkur tepat 3 meter dari pintu gudang itu.

 

Sehun yang mendengar bunyi tubuh ambruk tentu saja langsung panik. “LUHAN! KAU BAIK- BAIK SAJA?!”

 

Luhan menatap kolong pintu itu, ia mencoba menarik kakinya lagi. Wajah Luhan sudah pucat. Ia tidak kuat.. sungguh.. akhirnya tubuh Luhan terhenti. Mata Luhan menatap buram tangan Sehun yang seakan menggapai kearahnya.

 

“Se..Sehun…” bisik Luhan dengan mata yang masih mengeluarkan air mata. “..syukurlah Sehun bisa lolos dari ..papa… terima kasih Tuhan..”

 

Tidak mendengarkan bisikan Luhan, Sehun terus saja memanggil nama Luhan dengan keras. Tidak memperdulikan rintik hujan yang mulai turun dan langit sudah menghitam. Menandakan langit akan segera menurunkan murka alamnya.

 

“LUHAN! KAU DENGAR AKU!”

 

Luhan kembali mencoba untuk menarik tubuhnya. Tangannya dengan tangan Sehun kini hanya berjarak 30 cm. Begitu dekat.. Luhan kembali berusaha, akhirnya ia benar- benar tidak bisa bergerak. Luhan bermaksud melempar kunci itu namun gerakannya terhenti mendengar ucapan Sehun.

 

 

“Maafkan aku..Lu.. aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku minta maaf selama ini berbohong padamu. Kusangka dengan merelakanmu bersama Kai… kau akan mendapatkan kebahagiaan sejati.. aku minta maaf Lu. Aku tahu kalau aku egois. Tapi… sungguh.. aku mencintaimu. Mencintaimu hingga membuatku gila seperti ini.. aku mencintaimu. Sangat..”

 

 

Mata Luhan membulat sempurna mendengar pengakuan Sehun yang terdengar samar ditelinganya. Air mata kembali luluh, namun bukan karena rasa sakit yang ia rasakan. Rasa bahagia yang amat sangat. Sehun membalas cintanya.. selama ini ternyata Sehun juga mencintainya.

 

Luhan memejamkan matanya sesaat, ia kumpulkan kekuatannya dan…

 

 

“..terima kasih, Sehun..”

 

 

 

SRAAKKK

 

 

Sehun langsung mengalihkan pandangan matanya pada sesuatu yang baru saja keluar dari kolong pintu. Sesuatu yang tepat melewati samping tangannya.

Kunci gembok itu.

Tanpa buang waktu Sehun langsung menarik tangannya dari kolong pintu dan mengambil kunci itu. Tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah basah kuyub dan lukanya yang memerih akibat terkena air hujan, Sehun terus berusaha membuka gembok itu. Tangannya gemetaran hebat membuat Sehun sedikit terhambat membuka gembok.

 

 

KLEK

 

Sehun langsung membuka pintu besar itu dan… mata Sehun membulat melihat keadaan Luhan.

 

“LUHAN!!” teriak Sehun begitu keras. Sehun menangkap tubuh Luhan yang terkulai lemah. Sangat lemah. Tubuh Luhan yang babak belur membuat hati Sehun sakit bukan main. Keadaan tubuh Luhan jauh lebih parah dari keadaan tubuhnya.

 

“LU! LUHAN!!” Sehun memeluk tubuh Luhan yang tidak berdaya. Mata Luhan yang terbuka perlahan sedikit membuat Sehun lega. Air mata jatuh dipipi Sehun, membuat Luhan sedikit tersenyum.

 

“Se..hun.. kenapa.. menangis..?”

 

Sehun menggeleng pelan. “Maaf.. aku terlambat, kah?”

 

Luhan tersenyum manis dan berusaha mengalungkan tangannya dileher Sehun. “Tidak… kau tidak pernah terlambat Sehun.. aku mencintaimu… sampai aku mati. Aku bersumpah.”

 

Air mata kembali terjatuh dipipi Sehun, senyuman manis kini menguasai wajah namja tampan yang juga terlihat banyak luka. “…Sampai mati.. aku juga.. mencintaimu.”

 

Ciuman manis menghentikan tangisan mereka. Mengikat mereka pada takdir yang dahulunya penuh dengan kebohongan. Ciuman yang begitu dalam dan mendasari perasaan cinta mereka yang entah sejak kapan semakin kuat dan tidak akan terlepas lagi. Selamanya…

 

 

 

“SEHUN! LUHAN!!”

 

Teriakan seseorang memutuskan ciuman dalam itu, nampak seorang namja tampan dan beberapa anggota kepolisian berlari menuju tempat mereka ditengah derasnya hujan yang mulai menampakkan tanda- tanda akan adanya badai besar.

 

Sehun menghela nafas lega melihat namja tampan itu, siapa lagi kalau bukan Kai. Mata Sehun kemudian menatap Luhan yang masih berada didalam dekapannya. Luhan tersenyum manis dan memeluk tubuh Sehun.

 

 

“Syukurlah..”

 

 

 

Dua hari kemudian.

 

 

Seorang namja cantik duduk ditepi ranjang rumah sakit. Ia ayunkan pelan kakinya yang melayang karena kakinya tidak terlalu panjang untuk menyentuh lantai. Tatapan mata kosongnya, menyiratkan bahwa ia sedang berfikir.

 

“Baekhyun.” Panggilan seseorang membuat namja cantik bernama Baekhyun itu mengalihkan pandangannya pelan, menuju namja yang entah sejak kapan berada disampingnya. Ikut duduk ditepi ranjang itu, tepat disamping Baekhyun.

 

“Apa yang kau lihat diluar jendela itu?” tanya namja tampan itu ikut memperhatikan pemandangan luar jendela. Baekhyun menghela nafas pelan dan menunduk.

 

“Maafkan aku, Chanyeol…”

 

Namja tampan bernama Chanyeol,  kemudian tersenyum manis. “..Aku tahu kau hanya memanfaatkanku. Saat aku memukuli namja bernama Luhan itu.. sungguh aku tidak tega. Maka aku meninggalkan kunci itu didalam sana. Berharap namja itu bisa keluar dengan selamat.”

 

Baekhyun mengalihkan pandangan matanya kearah Chanyeol.

 

“Kau tahu mengapa aku melakukannya?….. Itu semua demi kau, Baekhyun.”

 

“Eh?”

 

Chanyeol berdiri dan berjalan mendekati jendela. Membelakangi Baekhyun yang masih menatap punggung Chanyeol dengan tatapan sendu.

 

“Jika nantinya Luhan itu meninggal dan kau… menyesal. Itu akan semakin menyakitimu. Aku tidak mau kau merasakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu. Kupikir… jika aku turun tangan, kau tidak perlu turun tangan untuk menyakiti Luhan. Jika aku yang menyakiti Luhan… kau tidak perlu merasa sakit saat menyesal nantinya.”

 

Baekhyun membulatkan matanya. “Chan..yeol..”

 

Seketika itu Chanyeol membalikkan tubuhnya. “Luhan itu sangat baik. Ia tidak mengatakan apapun tentangku yang telah memukulinya, ia hanya mengatakan bahwa ia diserang preman- preman disekitar sana…dan kau tahu dengan apa yang ia katakan saat aku bertanya mengapa ia tidak berkata dengan jujur saja dan membiarkan polisi menangkapku?”

 

Baekhyun menggeleng pelan.

 

 

“..Aku sudah memaafkanmu. Dan nampaknya kau memiliki hati yang tulus dan begitu menyayangi Baekhyun-sshi. Aku hanya berfikir… jika kau tidak ada, apa Baekhyun-sshi masih bisa bertahan? Aku yakin sekali… Baekhyun-sshi memerlukan namja yang kuat sepertimu disampingnya.”

 

 

“Itulah yang ia katakan Baekhyun… ia begitu memikirkanmu.”

 

Baekhyun tercekat, ia menangis.. menangis sesegukan. Ia remas alas ranjangnya dengan erat. Tangisan yang terdengar penuh penyesalan dan menyayat hati. Baekhyun benar- benar menyesal. Ia menyesal karena selama ini larut dalam dendamnya yang mengerikan. Bahkan membutakan hatinya sebagai manusia.

 

Chanyeol tersenyum tipis dan memeluk Baekhyun yang masih terduduk ditepi ranjang. Getaran ditubuh namja mungil itu membuat Chanyeol begitu merasakan penyesalan yang Baekhyun rasakan. Seketika itu tangan mungil nan kurus milik Baekhyun membalas pelukan Chanyeol. Ia menangis didada Chanyeol, mengeluarkan isakan yang begitu memilukan.

 

 

“Dengarkan aku, Baekhyun. Aku tidak mau menjadikanmu pelarian. Kau terlalu berharga. Suatu saat.. pasti.. akan datang seorang namja yang sungguh- sungguh mencintaimu. Lebih baik dariku dan dapat membahagiakanmu.”

 

 

“Maafkan aku… maaf…. Chanyeol.. maaf..”

 

Chanyeol mengusap rambut Baekhyun begitu lembut. Ia tersenyum manis dan mengangguk pelan. “Aku selalu memaafkan segala salahmu.”

 

Baekhyun mencengkram baju Chanyeol, memperdalam pelukan mereka. Membiarkan Baekhyun menangisi semuanya hingga hatinya sedikit tenang.

 

“Berjanjilah padaku… untuk membuatku jatuh cinta padamu. Jangan… tinggalkan aku..” bisik Baekhyun sangat pelan.

 

Chanyeol membulatkan matanya mendengar ucapan Baekhyun. Apakah artinya Baekhyun membuka hatinya dan memberikan kesempatan untuk Chanyeol?

 

Chanyeol mempererat pelukannya. “Terima kasih, Baekhyun.. terima kasih.”

 

 

 

‡‡‡

 

 

 

Kai menatap lembut Baekhyun yang tengah memeluk Chanyeol dari luar pintu ruang inap Baekhyun. Mata Chanyeol menangkap sosok Kai, kemudian tersenyum manis. Kai mengangguk pelan sembari membalas senyuman Chanyeol. Lalu Kai berbalik pergi meninggalkan kedua namja yang nampaknya memerlukan waktu berdua saja.

 

Langkah kaki Kai tertuju pada ruang inap yang terletak 2 kamar dari kamar inap Baekhyun. Kai membuka pintu ruang inap itu dan…tersenyum manis.

 

“Kai..” sapa namja manis yang masih terbaring diranjang rumah sakit.

 

“Luhan.” Kai mendekati Luhan, ia tatap kaki Luhan yang dimasih di gips. Tulang kaki kanan Luhan retak dan itu menyebabkan ia harus istirahat total. Diperkirakan Luhan belum bisa berjalan hingga sebulan kedepan. Walau begitu, namja cantik itu selalu tersenyum manis.

 

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kai sembari mengganti bunga pada vas bunga diatas meja nakas.

 

Luhan tersenyum manis. “Baik. Hanya menunggu luka- luka ini sembuh saja.”

 

“Syukurlah.. oh ya, setelah ini aku akan kekantor polisi menyangkut tentang… ayahmu sampai Kyuhyun-hyung dan Heechul-noona sampai di Seoul nanti malam. Ia akan dipenjara dalam waktu yang lama.”

 

Helaan nafas lega terdengar dari bibir mungil Luhan. “Aku sungguh berterima kasih pada Kai. Berkat Kai… berkat tindakan cepat Kai, papa… bisa ditangkap oleh kepolisian dan Kai menemukan kami digudang pelabuhan itu.”

Kai tersenyum manis.

 

“Kau yang menghentikan semua kegilaan ini Luhan dan aku berusaha menahannya agar tidak meledak dan hancur berantakan.”

 

“..Kai.. sampai akhir.. aku tidak bisa menjaw-“

 

“Tidak apa- apa, Lu. Aku mengerti. Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku menyayangimu dan mencintaimu bukan karena mengharapkan balasan perasaanmu. Sungguh.. mencintaiku padamu membuatku belajar banyak hal. Suaramu.. beberapa kali menyelamatkan hatiku dari kegundahan. Cahayamu selalu menerangiku disaat aku hanyut dalam kegelapan. Itu saja sudah cukup Luhan. Aku sudah menerima banyak darimu.”

 

Kai lalu duduk ditepi ranjang Luhan, membantu namja cantik itu untuk duduk sembari menekan tombol yang terletak ditepi ranjang agar ranjang Luhan bagian atas sedikit terangkat. Mempermudah Luhan untuk duduk bersandar.

 

Luhan manatap Kai teduh, beruntungnya jika ia memiliki Kai. Namun tetap saja, Luhan mencintai Sehun. Walau begitu, ketulusan akan cinta dapat Luhan rasakan dari ucapan Kai.

 

Kekuatan cinta yang sesungguhnya.

 

 

“Terima kasih, Kai. Aku…” Luhan menunduk sesaat kemudian menatap lembut wajah namja tampan itu. “..aku sungguh beruntung memiliki sahabat sepertimu.”

 

Kai mengangguk dan membuka dekapannya. Luhan tersenyum manis kemudian masuk kedalam pelukan Kai.

 

Saat itu… saat Kai memeluk Luhan..

 

Kai mencoba melepas Luhan.

 

Merelakan Luhan.

 

Cintanya selama bertahun- tahun.

 

Tidak apa- apa jika memang harus tersakiti.. bukankah itu yang Kai pegang selama ini. Namun merelakan seseorang itu tidak sesakit yang dibayangkan… karena bagi Kai, kebahagiaan Luhan lah yang terpenting.

 

Kai tidak akan menangisi apapun saat melepas Luhan.

 

Karena Luhan akan bahagia dengan Sehun.

 

Kai tidak akan menodai kebahagiaan Luhan dengan air matanya.

 

 

“…Selamat tinggal, Luhan. Cinta pertamaku… dan selamat datang, Luhan. Luhan yang selalu tersenyum bahagia dihidupku.”

 

 

 

‡‡‡

 

 

Aku selalu berharap

..karena aku adalah milikmu

Maka

Kau adalah milikku

Namun…

Kau bukan milikku.. karena hanya aku yang beranggapan begitu

Selamat datang… pada dirimu yang milik dirinya..

 

 

‡‡‡

 

Sehun melangkah mundur. Senyuman manis terhias diwajahnya, Kai begitu dewasa. Sehun sadar, selama ini ia hanya dibutakan rasa benci yang tak beralasan pada Kai. Sekilas mata Sehun nampak sangat berat, namun kemudian sebisa mungkin Sehun menutupi hal itu. Ia ingin menyongsong semuanya dengan kebahagiaan.  Tanpa air mata lagi.

 

Sehun mengangguk pelan dan berjalan masuk kedalam kamar inap Luhan.

 

 

 

“Aku datang.”

 

Luhan dan Kai melepas pelukan mereka, Kai berbalik badan dan menatap Sehun. Senyuman manis kini tergambar jelas diwajah Kai, membuat Sehun membuka pembicaraan.

 

“Hmm… Kai… Setelah Luhan pulang dari rumah sakit, bagaimana kalau kita pergi kesuatu tempat bersama- sama? Kurasa sedikit liburan.. ngg.. tidak masalah.” Sehun menggaruk kepalanya yang masih terlilit perban.

 

“Ide bagus.” Kai mengangguk mantap.

 

 

“Aku…diajakkah?”

 

Suara seorang namja cantik membuat mereka mengalihkan pandangan mata kearah pintu. Terlihat Baekhyun yang mengintip disana bersama Chanyeol.

 

Kai tersenyum manis dan mendekati Baekhyun. Ia tatap wajah manis namja yang masih diliputi rasa bersalah.

 

“K..Kai..” desis Baekhyun ragu.

 

Kai mengarahkan tangannya pada Baekhyun, menyambut Baekhyun dengan senyuman hangat. Sedikit malu Baekhyun menyambut uluran tangan Kai.

 

“Tentu. Jika tidak ada kau tidak akan lengkap, Baekhyun.” Sahut Sehun lembut.

 

Luhan tersenyum manis dan mengangguk mantap. “Masuklah Baekhyun-sshi!”

 

Wajah Baekhyun saat itu memerah, ia menunduk dalam. Namun sentuhan tangan Chanyeol dipundak Baekhyun membuat namja cantik itu kuat. Baekhyun menatap Chanyeol dan mengangguk pelan.

 

Setelahnya Chanyeol dan Baekhyun masuk. Baekhyun memandang Kai yang menuntunnya masuk kedalam kamar Luhan.

 

Baekhyun melepaskan tangannya dari tangan Kai.

 

 

“Lu..Han… maaf..”

 

Kai, Sehun, dan Chanyeol tersenyum manis saat melihat Baekhyun berlari kearah Luhan dan memeluknya erat. Baekhyun menangis minta maaf dan Luhan dengan senang hati memaafkannya.

 

 

Terlihat seakan tidak ada yang terjadi memang. Padahal kesalahan yang tertoreh tidak mungkin bisa begitu saja dilupakan. Namun kemurnian menutup dendam yang seharusnya tercipta setelah itu. Bukanlah putusan bijaksana jika terus mengingat hal yang seharusnya dilupakan. Lembaran baru tentu harus dimulai dengan kertas baru, bukannya menggunakan kertas lama yang isinya dihapus dengan kasar. Karena sama saja, masa lalu akan membekas walau tidak sejelas dulu.

 

Luhan memaknai semuanya dengan kasih sayang. Hal itu yang membuat semua orang menyayanginya. Menjadi pelita disaat seseorang membutuhkan cahaya. Walau redup.. cahaya tersebut dapat menyelamatkan orang lain. Walau tertatih, pertolongan pasti akan datang.

 

Sehun mengalihkan pandangan matanya pada Kai. “Sahabatku.”

 

Kai mendengar ucapan Sehun kemudian tersenyum mantap, tatapan Kai tidak lepas memperhatikan Luhan dan Baekhyun. “Sudah lama kau tidak memanggilku seperti itu.”

 

“Ya..setidaknya kau memang sahabatku yang sok kuat dan sok keren.” Sehun melipat tangannya didada, ikut memperhatikan kedua namja cantik yang kini terlihat memperbaiki takdir mereka.

 

 

“Hey, namaku Park Chanyeol. Kekasih Baekhyun.”

 

Mendengar perkataan Chanyeol, sontak Sehun dan Kai mengalihkan padangan matanya pada Chanyeol yang dari tadi berdiri disamping Sehun. Dan tatapan kedua namja itu begitu menusuk Chanyeol yang terlihat bingung.

 

“Ya! Sejak kapan aku merestui hubungan kau dengan Baekhyun!!” Sehun langsung berkacak pinggang. “Setelah kau memukuli kepalaku, menyiksa istriku, kini kau ingin mengambil anakku! Langkahi dulu mayatku, tuan Romeo!”

 

“Tunggu! Aku juga belum merestui Baekhyun denganmu. Tentu aku tidak akan membiarkan Baekhyun berpacaran dengan lelaki sembarangan.” Kai ikut menyudutkan Chanyeol.

 

“Mwo?! Aku.. aku kan sudah minta maaf!! Dan apa tadi… Baekhyun anak siapa?” Chanyeol malah membahas hal lain.

 

Melihat itu Baekhyun dan Luhan saling tatap, kemudian tawa terdengar dari mulut dua namja manis yang sudah akur itu. Keceriaan seketika itu menguasai keadaan.

 

“Sepertinya Baekhyun punya ayah baru.” Canda Luhan.

 

 

“Woaahh~ Aku datang! Aku datang!!” Taemin tiba- tiba masuk dan melihat keramaian dikamar Luhan. “Ramai sekali, ini aku membawa makan siang. Sepertinya cukup banyaakk~”

 

“Ayo makkaaannn~”

 

 

Setelah itu, gurauan ringan terdengar dikamar inap yang hangat Luhan. Menyambut hari yang akan membaik seterusnya.

 

Tak ada lagi dendam.

 

Tidak ada lagi sakit hati.

 

Yang ada hanya kebahagiaan.

 

 

 

‡‡‡

 

 

Malamnya.

 

Luhan menatap bintang dari jendela kamar inapnya. Bintang begitu banyak dan bersinar. Suara pintu terbuka bahkan tidak membuyar kusyuk namja cantik itu.

 

“Luhan.”

 

Panggilan lembut membuat Luhan mengarahkan pandangan matanya. Menatap lembut namja tinggi yang membawakan susu hangat dan meletakkannya dimeja nakas.

 

“Bunga lili ini dari Kai?” tanya namja tinggi itu duduk ditepi ranjang.

 

Luhan mengangguk. “Ne, Sehun.. tapi aku lebih suka bunga mawar.”

 

Sehun tersenyum manis dan mengusap rambut Luhan. “Mawar? Saat kau sudah pulih, aku akan mengiasi rumahku dengan bunga mawar dan kau harus merawatnya. Bagaimana?”

 

Luhan terkekeh. “Kau seperti ingin mengajakku tinggal bersama Sehun.”

 

“Ka..kalau bisa.” Wajah Sehun merona merah.

 

Kedua namja itu kemudian diam dan hanyut dalam pikiran masing- masing.

 

 

GREEP

 

Sehun menatap tangannya yang digenggam oleh Luhan. Namja tampan itu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan yang masih berbaring. Ia tatap pelangi indah yang seakan terlukis dimata Luhan. Ia usap wajah cantik itu yang memerah.

 

 

“Aku..mencintaimu, Lu.”

 

Sehun mengecup bibir Luhan dengan sangat lembut. Membiarkan bintang menjadi saksi dimana kesungguhan hati yang tersembunyi terkuak. Luhan membalas ciuman panjang Sehun. Membiarkan rasa nyaman mengikat kedua sejoli itu lebih dalam.

 

Luhan untuk Sehun dan Sehun untuk Luhan.

 

Begitulah selamanya.

 

 

Happily ever after.

 

 

 

 

‡‡‡

 

 

Satu bulan setelahnya.

 

 

Kai berjalan namun sedikit berlari, ia melirik jam tangannya beberapa kali. Sepertinya ia akan terlambat menuju tempat janjiannya bersama Baekhyun dan Chanyeol, mereka bertiga bermaksud membeli hadiah untuk menyambut kepulangan Luhan yang sudah sembuh total dari rumah sakit. Motor Kai sedang diservice. Jadi ia harus jalan kaki ketempat janjian mereka.

 

 

BRUAK

 

“Maaf! Aku terburu- buru.” Sesal Kai saat menyadari tengah menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah toko.

 

“Gwenchana.” Jawab namja itu sembari tersenyum.

 

DEG

 

Kai membulatkan matanya saat melihat namja manis yang ada didepan matanya. Namja memiliki rambut hitam yang indah dan tatapan mata polos yang begitu menghanyutkan. Jujur saja Kai merasakan gejolak aneh saat melihat namja manis yang ada dihadapannya itu.

 

“Eh? Bukankah kamu teman Luhan-sshi yang waktu itu?”

 

Kai seakan tersadar. “Ah.. kamu yang waktu itu… teman Luhan dicafe tempat Luhan bekerja.”

 

Namja manis itu tersenyum lagi dan mengangguk cepat. “Ne. Namaku Do Kyungsoo.”

 

Kai menggaruk tengkuknya dan kembali membuka pembicaraan.

 

“Namaku Ka-“ Kai terdiam sesaat kemudian tersenyum pasti.  “… maksudku.. Kim Jongin.”

 

Namja bernama Kyungsoo itu memiringkan wajahnya. “Kkamjong.”

 

“Ne?” Kai mengerutkan dahinya.

 

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Kkamjong saja?”

 

Kai nampak berfikir lalu mengangkat bahunya. “Kkamjong, tidak buruk…Baiklah, sampai jumpa lagi.”

 

“Tunggu!” cegah Kyungsoo saat itu.

 

“Ne?” Kai berbalik badan.

 

“Err… nampaknya aku sedikit kesulitan membawa barang belanjaanku. Maukah… kau membantuku membawakannya?” Kyungsoo terlihat malu- malu. Memang kedua kantong plastik besar yang dijinjing kedua tangan Kyungsoo nampak sangat berat.

 

Kai menatap namja manis itu dan senyuman manis terpampang jelas diwajahnya. Tanpa bicara, Kai mengambil salah satu kantong plastik dari tangan Kyungsoo.  

 

 

“Sepertinya membantu orang lain jauh lebih penting.”

 

 

 

Bukankah semua manusia…

…berhak bahagia?

 

 

 

TAMAT

 

 

Dapet pasangan semuanya yahh.. yang maunya KaiLu maaf yah.. emg pada blum jelas hubungan kopel lain selain hunhan yahhh~

Aku bukannya g mau jadiin ini ff KaiLu tapi menurut pertimbanganku ya seperti ini *SUJUD AMPUN

Maaf jika ada yang kecewa *pundung*

FF dengan judul baru mungkin akan menyusul ^^

Makasih udah mau RCL dan nyimak FF ini dari awal sampai akhir. Terima kasih banyak chinguya~

Saranghamnida :*

#bow bareng Luhan, Sehun, dan Kai