Another Promise Chapter 1

Teasernya dah lama keluar tapi chapnya baru keluar hari ini ~

hahaha

EXOtics salam kenal😀

tinggalkan keluh kesah kalian di comen ya

RCL please~~

gamsahamnida

Genre : School life, romance, drama, angst

Cast : Oh Sehoon, Xi Lu Han, Kim Jong In

Pairing : KAIHAN/KAILU, HUNHAN 

Kim Hyobin 

ANOTHER PROMISE

Chapter 1

masa lalu adalah masa yang tak ingin kuingat

aku benci masa laluku

aku ingin membuangnya

hingga aku menjadi manusia baru

yang tak akan dibayangi oleh kejamnya masa lalu

aku tak mau mengingatnya

-Xi Luhan-

“Dasar anak tak tahu diri! Sudah kubilang kalau kau mau masuk kerumah ini harus bawa uang, kan!!”

PLAK

Tamparan keras melesat dipipi mungil anak lelaki manis itu. air mata mengalir begitu saja saat ia merasakan pipinya yang mulai perih akibat tamparan tadi. Umurnya yang masih terbilang sangat muda sangat tak pantas mendapat perlakuan kasar dari sang ayah.

“Maafkan aku, papa.” Ucapnya lirih sambil terisak pelan.

“Kali ini kau kumaafkan! Namun jika besok kau pulang dengan tangan kosong lagi, kau akan tidur diluar selamanya! Kau mengerti anak sialan!!” teriak papa anak itu tak peduli suaranya begitu nyaring hingga terdengar sangat menakutkan bagi si anak.

Anak itu mengangguk cepat. “Ba..Baik, papa.”

“Masuk kekamarmu! Cepat!” maki sang papa lagi. anak itu berlari masuk kekamarnya.

“Mama.. Cepat pulang..” rintih anak itu sambil mengunci pintu kamarnya. “Aku takut.. hiks..”

SIIING

“UGH!!! Haaahh…” namja manis itu terbangun. Nafasnya terengah- engah bagaikan baru saja berlari sekencang- kencangnya. Badan mungilnya penuh dengan keringat dingin.

“Tuhan.. Ternyata hanya mimpi.. Syukurlah..” desisnya perlahan duduk dan memeluk lututnya. “Luhan.. Itu hanya mimpi.. Itu.. hanya masa lalu.. hiks..”

Tiba- tiba namja manis yang bernama Luhan itu menangis. “Gwechanayo, Luhan.. Kini kau ada di Korea. Bukan di China..”

Luhan menepis air matanya pelan. “Aku akan baik- baik saja disini.” Luhan memeluk kedua lengannya yang gemetaran.

.

.

BIIPPP BIIIPPP BIIIPPP

“Agh! Ribut sekali!!” Teriak namja tampan itu frustasi. Ia gapai jam alarm yang ada dimeja kecil disamping ranjangnya.

“Eh.. Bukan alarm-ku yang berbunyi?”

Namja itu bangkit dari tempat tidurnya. Suara alarm itu masih saja berbunyi. Namja tampan itu berjalan menuju jendela. Ia sibak kain gorden yang menutupi jendela.

BIIP BIIP BIIP

Bunyi alarm itu terdengar lebih keras. “Alarm tetangga sebelah? Nyaring sekali..” namja tampan itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hey! Matikan alarm-mu! Berisik sekali!” teriak namja itu keras keluar jendela. “AISH!” desah namja itu kesal karena bunyi alarm itu tak kunjung hilang.Namja tampan itu berjalan keluar kamarnya menuju kamar mandi.

.

.

Ting tong

“Nae..Nae.. Tunggu sebentar.” Namja tampan itu berlari kecil dari dapur menuju pintu depan rumahnya. “Aish! Siapa sih yang datang pagi- pagi? Aku kan mau sekolah.” Gumam namja tampan itu.

Klek

“Ah.. Annyeonghaseyo.” Sapa namja manis yang bernama Luhan itu saat pintu terbuka.

Mata namja tampan tak berkedip sama sekali melihat pemandangan indah yang ada dihadapannya. Wajah manis Luhan menyihir tubuhnya hingga tak bisa bergerak.

Melihat keanehan, Luhan mengayunkan tangannya tepat didepan wajah sang namja tampan.

“Ah! Mianhe..” namja tampan itu seakan sadar dari mimpi indah. Luhan hanya tersenyum manis.

“Siapa.. ya?” tanya namja tampan akhirnya.

“Ah! Naneun Lu Han imnida. Aku baru saja pindah dari China. Rumahku tepat disebelah kanan rumahmu. Salam kenal.. Err..”

“Aku Sehun..” kata namja tampan yang ternyata bernama Sehun. Luhan tersenyum manis.

“Kalau begitu aku pamit dulu. Hanya ingin berkenalan saja.”

“Hmm.. Jadi tadi pagi bunyi alarm-mu ya?”

Luhan mengerjapkan matanya. “Mi..Mianhe.. Aku memang sangat sulit bangun pagi.. Makanya..” wajah Luhan memerah. Malu.

Sehun tersenyum. “Gwechanayo.. Berkat alarm-mu yang sangat dasyat itu aku jadi terbangun lebih pagi.”

“A..Aku akan menyetelnya lebih pelan esok. Permisi!!” Luhan langsung berlari meninggalkan rumah Sehun.

“Ah..” Sehun hanya menghela nafas melihat tingkah tetangga barunya itu. “Anak yang pemalu, ya.”

.

.

Disekolah.

“Perkenalkan. Naneun Lu Han imnida. Aku berasal dari China. Mohon bantuannya.” Luhan tersenyum manis kepada seluruh murid yang ada dikelas barunya itu.

“Eh?” Sehun yang dari tadi mendengar i-pod nya langsung antusias melihat kedepan kelasnya. “Luhan!!” Sehun langsung melambaikan tangannya pada Luhan yang masih memperkenalkan diri didepan kelas.

Akibat teriakan Sehun, semua anak yang ada dikelas melihat kearahnya. Termasuk Luhan. Sehun duduk dibangku paling belakang tepi kanan.

“Ah… Se..Sehun..” Luhan nampak kaget. Sehun tersenyum manis kearahnya.Sepertinya Luhan tak menyadari kalau dia sekelas dengan Sehun.

“Nampaknya kalian saling kenal, ya.” ucap Leeteuk songsaenim. Luhan hanya tersenyum malu. “Kalau begitu, duduklah dikursi yang ada disebelah Sehun. Disana kosong.” Tunjuk Leeteuk songsaenim. Luhan mengangguk pelan dan berjalan kearah bangku barunya itu.

Walau agak risih karena tiba- tiba ada bisik- bisik tak jelas, Luhan duduk dengan tenang dibangkunya.

“Aku tak menyangka kita sekelas.” Ujar Sehun sambil menatap tajam Luhan.

“Aku juga begitu.” Luhan tersenyum kemudian menunduk.

Sehun hanya mengerjapkan matanya berkali- kali melihat tingkah Luhan yang sangat tertutup.

“Mungkin dia namja yang sangat pemalu.”pikir Sehun dalam hati.

 

Jam istirahat

Luhan masih duduk sendirian sambil mendengarkan music dari i-pod nya. Ia tak berniat keluar kelas. Bukannya malas, hanya saja ia tak tahu dimana letak kantin sekolah dan parahnya ia malas bertanya.

Kruyukkk~~

Luhan menghela nafas panjang. Sebenarnya ia lapar sekali. Namun apa daya, ia tak mau tersesat disekolah yang cukup luas ini.

“Aku harus gimana nih? Lapar..” gumam Luhan sambil memegangi perutnya. Ia lirik bangku Sehun yang kosong. “Seharusnya aku tadi menerima ajakannya pergi kekantin. Huft!” Luhan menghela nafas panjang.

“Kau mau?”

Tiba- tiba namja yang duduk didepan Luhan memberikan ia sebungkus roti keju.Luhan mencopot handsfree nya dan mematikan music yang mengalun di i-pod merah kesayangannya itu.

“Ah.. Tidak usah. Terima kasih.” Ucap Luhan segan.

“Kalau kekurangan gizi, kau tak akan tumbuh dengan baik. Lihat saja tubuh pendekmu itu. Cepat makan!!”

Kata- kata namja itu otomatis membuat Luhan melongo. Bukannya Luhan tak suka dibilang pendek, tapi namja itu begitu terus terang. Sangat terus terang!

“Ah.. Ba..Baik. Gomawo..” Luhan mengambil roti keju yang diberikan namja itu dengan takut- takut.

“Kau dari China, ya?” tanya namja itu saat Luhan menggigit roti keju yang kini jadi miliknya. Luhan mengangguk.

“Hmm.. Namaku… Kai.”

Luhan mengangguk. “Luhan.”

“Aku tahu. Kau sudah memperkenalkan diri.”

Luhan tersenyum dan menghabiskan roti keju yang sangat lezat itu. Kai tersenyum melihat cara makan Luhan yang seperti anak kecil.

“Kenal Sehun dari mana?” tanya Kai dingin.

“Ya.. Tak sengaja juga sih. Dia tetanggaku.” Jelas Luhan sambil mengunyah suapan terakhirnya.

“Aigoo..Kau makan seperti anak kecil. Lihat, ada remah roti di pipimu.” Kata Kai sambil mengambil remah roti yang ada dipipi Luhan.

“Go..Gomawo..” Luhan tersenyum sesaat kemudian kembali menunduk. Kai menatap Luhan tajam.

“Kau tak ingat, ya?”

“Eh?” Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Kai heran. “Ingat apa?”

Kai menggeleng pelan. “Tidak. Aku hanya bicara sendiri.” Kai berbalik badan. Luhan menatap punggung lebar Kai bingung. “Jelas- jelas ia bicara kepadaku. Orang aneh.”

 

Sepulang sekolah

 

Luhan POV

Aigoo.. Hari ini capek sekali. Padahal ini hari pertamaku masuk sekolah. Haah.. Setelah ini aku akan singgah di minimarket dekat jembatan untuk membeli bahan makanan.

“Aku sudah dapat kerja partime di coffe latte. Besok pasti sangat sibuk. Sepulang sekolah aku harus langsung kesana. Aish! Semoga aku bisa bertahan.” Keluhku sambil menendang lembut kerikil yang ada dijalanan.aku perhatikan deretan rapi toko- toko dijalan itu. Seoul memang sangat indah.

“Kalau jalan sambil melamun begitu kau bisa jatuh, lho.” Tiba- tiba seseorang berbisik tepat dibelakangku. Aku reflex membalikkan badanku.

“Kau! Mengagetkanku saja!” aku mengelus dadaku.

Sehun tersenyum. “Padahal rumah kita searah. Lebih baik kita pulang bersama- sama, kan?” ucapnya sambil mengacak- acak rambutku.

“Hmm.. Mungkin lebih baik begitu. Tapi hari ini aku akan singgah ke mini market dulu sebelum pulang kerumah.”

“Mini market yang ada didekat jembatan, kan? Aku juga ingin kesana. Aku harus membeli bahan makanan.”

Aku menatapnya tajam kemudian mengangguk. Entah mengapa rasanya tenang jika didekat Sehun. Apa karena ia sangat ramah padaku? Mungkin memang begitu.

Kami melanjutkan perjalanan kami. Cukup banyak yang kami bicarakan. Ternyata Sehun sama denganku. Ia tinggal sendiri dirumahnya.Bedanya, orang tua Sehun bekerja di Jepang.Sedangkan orang tuaku…

“Luhan?”

“Ah.. Maaf. Aku melamun.”

“Sangat mengkhawatirkan. Hilangkan kebiasaanmu melamun jika sedang berjalan.”

Aku mengangguk. “Nae.. Aku memang ceroboh.”

Sehun tersenyum. “Oh, ya. Kenapa kau pindah ke Seoul? Kau tinggal bersama siapa disini?”

Aku terdiam sesaat. “Aku pindah ke Seoul sejak mama meninggal sebulan yang lalu… Aku tinggal sendirian disini.” Aku mencoba tersenyum.

“Maafkan aku. Aku tak tahu itu hal yang sensitive.” Sehun terlihat sangat menyesal. Aku menggeleng pelan.

“Biasa saja, kok. Sebenarnya rumah yang kutempati itu milik bibiku. Ibuku orang Korea.”

“Oh.. Jadi kau keponakan Heechul-noona? Kukira rumah itu dijual padamu.”

“Ani.. Aku memang keponakan Heechul-noona. Sekarang ia ikut Kyuhyun-hyung ke Jepang.Jadinya aku tinggal sendirian di Seoul.”

“Pekerjaan Kyuhyun-hyung, ya?”

“Nae.. Kyuhyun-hyung ditugaskan di Jepang.”

“Sama seperti orang tuaku.” Sehun mengangguk mengerti. “Heechul-noona adalah yeoja yang sangat cantik. Tapi sifatnya yang pemarah sangat menakutkan… Aku sempat dengar kalau dongsaeng-nya yang tinggal di China meninggal dunia.”

“Ya.. Itu ibuku.. Nama ibuku Kim Ryeowook.” Aku berusaha tersenyum namun entah mengapa air mataku jatuh begitu saja.

“Mwo! Ah! Mianhe.. Jeongmal mianhe, Lu Han. Jangan menangis.” Sehun panik sekali.

“Gwe.. Gwechanayo.. Aku.. Hiks..” tangisku malah tambah menjadi- jadi.

Grep

Aku terkejut ketika menyadari Sehun kini tengah memelukku. Mendekap tubuhku dengan lembut. Kehangatan yang kurasakan dari tubuhnya membuatku agak tenang.

“Menangislah.. Aku tahu rasanya kehilangan seseorang.”

Air mataku jatuh perlahan dan semakin lama semakin sulit dikendalikan. Aku menangis dalam pelukan Sehun. Mungkin aku terlihat bodoh karena menangis didepan orang yang baru saja aku kenal. Tapi.. Aku percaya pada Sehun.Aku percaya padanya.

 

“Lu..han.. Aku janji.. kamu..”

 

Aku langsung melepas pelukan Sehun dan mundur beberapa langkah. Sehun memandangku bingung.

“Kau mengatakan sesuatu?” tanyaku serius.

Sehun melipat dahinya. “Sesuatu? Tidak.”

Suara… Aku memang mendengar suara. Suara anak kecil. Tentu saja itu bukan suara Sehun.Bodohnya aku!

Suara itu berasal dari kepalaku.

Aku memegang kepalaku yang tiba- tiba berdenyut. Aku seakan teringat pada sesuatu.Tapi aku tak tahu.. Mengingat apa?

“Luhan.. Kau baik- baik saja?”

“Ah.. Nae. Aku hanya sedikit pusing. Sepertinya aku akan langsung pulang. Sampai jumpa Sehun.”

“Mwo! Tunggu ..”

Belum sempat Sehun menyambung kata- katanya, aku langsung berlari meninggalkannya yang masih terpaku melihatku.

End Luhan POV

    

Sehun POV  

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan. Begitu sulit ditebak.

“Aish.. Kenapa dia seperti itu sih?” aku mengacak- acak rambutku sendiri.

Aku mencoba berlari kecil mengejarnya, namun sosok Luhan sudah tak terlihat dimanapun. “Cepat sekali dia lari.” Gumamku pelan.

Ya sudalah.. Aku langsung pergi ke mini market saja.

END Sehun POV    

 

-Malam hari-

Luhan baru saja selesai mandi.

Kruyuk~~

“Aish! Aku tak jadi ke mini market. Tak ada bahan makanan yang tersisa pula. Apa aku cari ramyun saja keluar ya?”

Ting Tong

“Ada tamu?” Luhan berjalan cepat menuju pintu depan. Tapi sebelum itu Luhan menyempatkan dulu meletakkan handuk kecil yang ia pakai tadi dikursi yang ada diruang tengah.

 

“Sehun!?” Pekik Luhan kaget saat tahu siapa yang datang bertamu kerumahnya.

“Annyeong. Kau baru siap mandi?” sapa Sehun khas dengan senyuman manisnya.

Luhan mengangguk pelan. “Na..Nae. Ada perlu apa, ya?”

“Ini.. Aku hanya buat sedikit sih. Tapi kurasa cukup untuk makan malammu.” Sahut Sehun sambil menyodorkan panci berukuran sedang. Luhan melotot memandangi panci itu.

“Eh?”

“Kenapa malah melongo seperti itu? Terimalah.”

Luhan mengerjapkan matanya berkali- kali. “Oh..Ah.. Itu.. Ayo masuk dulu.” Ajak Luhan akhirnya.

Sehun tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan menuju dapur.

“Bagaimana kalau kita makan bersama.” ajak Luhan saat memindahkan ramyun dari panci Sehun ke pancinya.Ternyata ramyun itu lumayan banyak.

“Ide bagus.” Sehun mengangguk mantap. Luhan tersenyum riang. Setelah memindahkan dari panci ke mangkok, mereka mengambil posisi duduk saling berhadapan dimeja makan. Luhan memberikan sumpit kepada Sehun.

“Selamat makan.” Ucap mereka berdua bersemangat.

Luhan menatap Sehun yang baru saja menyuap ramyun-nya. Luhan tersenyum manis.

“Sehun-ah.. Gamsahamnida.” Ucap Luhan tiba- tiba.

Sehun menghentikan aktifitasnya dan menatap Luhan. Sehun tersenyum manis kemudian menghela nafas.

“Kalau begitu, habiskan ramyun-nya ya.”

Luhan mengangguk mantap. “Pasti.”

Luhan merasa dadanya tiba- tiba bergetar lembut. Ia tak mengerti mengapa getaran itu begitu menyesakkan. Apalagi jika ia sedang melihat sosok Sehun.

“Kenapa ya?” pikir Luhan.

To be continue

Yeeeaaayyy !!!!!!!!!!!

rcl rcl rcl rcl yaaaaaaaaaaaaaaaa ~~

HunHan shipper dan KaiLu shipper RCL please ~

gomawo ^^

267 thoughts on “Another Promise Chapter 1

  1. kenapa luhan tiba2 pusing.. apa luhan lupa ingatan.. suara anak kecil..? kai kah..?
    kau tanya kenapa kau berdebar luhan.. jawabannya cuma satu.. cinta.. kau mencintainya bung..

  2. uwaaaa bagusss bgtt, aku penasaran nih sama part part selanjutnya nih, ijijn baca sampe part teraohir ntar aku comment di sana yah hehehe, maaf sebelumnya *bow*

    p.s : ceritanya bagus lho, tulisannya juga rapi dan enak bgt buat dibaca ^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s