Another Promise Chapter 3

Annyeeongg~~ 

^^

akhirnya chapter 3 post.. ~~ yeay

ada yang nunggu kelanjutan FF ni gag yaaaa ?

hehehe

RCL please ^^

aku senang kalau dapat bnyk komen.. jadi semangat buat lanjutin FF nya 

gomawoo XD~~~~

Genre : School life, romance, drama, angst

Cast : Oh Sehoon, Xi Lu Han, Kim Jong In

Pairing : KAIHAN/KAILU, HUNHAN 

aku akan mengingatmu

kau hanya tergabung dengan masa lalu yang ingin kubuang

maafkan aku

aku yakin kita akan selalu bersama

mulai detik ini

-Xi Luhan-

ANOTHER PROMISE

CHAPTER 3

“Luhan.. Kau baik- baik saja!” Sehun menundukkan tubuh lemas Luhan dibangku taman.

Sehun memang membawa Luhan ketaman yang berada tak jauh dari caffe. Tentu saja Luhan memerlukan tempat yang tenang dan tak berisik.

Sehun mulai panik walau ekspresi wajahnya masih terlihat tenang. Jujur saja ia tak mau kejadian tadi sore terulang lagi. Ia tak sanggup melihat Luhan menderita seperti itu.

“Haah… Haah.. Hiks…” tangis Luhan. Sehun berjongkok didepan Luhan. Ia pandangi wajah mungil yang kini menunduk ketakutan. Luhan memeluk lengannya erat. “Haah.. Haahh..” nampaknya Luhan mengontrol nafasnya kembali stabil.

“Luhan..” desis Sehun saat menggenggam tangan yang gemetaran itu.

“Aku takut… Aku ..” Luhan mulai bicara. Sepertinya Luhan kali ini bisa mengendalikan dirinya.

“Sehun. Aku tahu.. hiks.. Aku memiliki trauma… Tapi tadi.. Saat aku akan kembali mengingat kenangan itu..Hiks.. Kau datang dan… Hiks..”

Sehun tersenyum tipis. “Ne.. Sudah.. Jangan bicara lagi.” Sehun membelai rambut Luhan lembut.

“Xie xie..” ulang Luhan. “Kau membuatku tak mengingatnya..”

Sehun menepis air mata Luhan.

“Syukurlah. Kukira aku akan melihatmu menderita lagi. Aku benar- benar tak sanggup Luhan.” Sehun menatap Luhan lembut.

“Sehun..” Luhan merasa jantungnya mulai kembali tak stabil. Bukan karena mengingat traumanya, tapi karena kehangatan yang diberikan Sehun.

“Aku selalu berterima kasih karena kau baik padaku. aku benar- benar senang. Sejak aku di Korea, aku merasa bahagia karena ada kau. Aku tak pernah merasa sedih lagi..”

“Aku juga.. Mianhe, Luhan. Aku baru menyadarinya.”

Luhan memandang Sehun bingung. “Maaf untuk apa? Menyadari apa?”

Sehun menghela nafasnya. Nampak senyuman tulus terpancar dibibir tenang Sehun. Mungkin sudah saatnya Luhan tahu bagaimana perasaannya.

“Luhan.. Sebenarnya aku..”

.

“Sehunnie!”

.

Sehun dan Luhan langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara.

“Sehunnie! Ternyata benar!” teriak namja manis itu sekali lagi. Nampaknya namja itu sedikit berlari ketempat Sehun dan Luhan berada.

Sehun langsung berdiri. Ia terlihat sangat kaget saat melihat namja manis itu. Luhan juga berdiri dan tersenyum pada namja manis itu.

“Baekhyun-sshi.. Maaf aku keluar dari pesta ulang tahunmu. Apa kau ingin sesuatu?” tanya Luhan pelan.

Namja manis yang bernama Baekhyun itu menggeleng kemudian tersenyum pada Luhan.

“Ani.. Aku keluar karena merasa melihat kenalanku. Ternyata benar! Sehunnie.. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini.” Ucap namja itu riang.

Luhan mengangguk mengerti. “Kenalan Sehun ternyata.” bisik Luhan dalam hati.

.

Sehun masih terdiam melihat Baekhyun yang kini tersenyum manis padanya. Luhan bingung karena ekspresi Sehun tetap dingin.

Bukan, Sehun seperti terpaku.

“Kenapa kau ada disini!” suara Sehun terdengar sangat bengis. Luhan kaget, ia tatapi wajah dingin yang kini menatap tajam Baekhyun.

“Sehunnie.. Kenapa kau bicara seperti itu?” Baekhyun nampak sedih.

“Aku tanya kenapa kau bisa ada disini!!!” teriak Sehun. Luhan kaget mendengar teriakan Sehun. Baekhyun terlihat mundur selangkah dari Sehun.

.

“Ah..” Sehun membekap mulutnya sendiri. Terlihat raut penyesalan diwajah Sehun. 

.

Baekhyun memutuskan berbalik badan dan berlari meninggalkan Sehun dan Luhan. Namun secepat kilat Sehun menarik lengan Baekhyun.

“Mi..Mianhe..” Sehun langsung membekap tubuh Baekhyun.

.

Luhan melihat adegan itu tentu terdiam mematung.

.

“Sehun…” Luhan menggeleng pelan. Rasa cemburu menguasai hati Luhan.

“Mianhe.. Jeongmal. Aku tak bermaksud meneriakimu seperti itu.” ucap Sehun lembut sambil memeluk Baekhyun.

“Na..Nae.. Kau membuatku ketakutan. Padahal kita sudah lama tidak bertemu. Apa kau masih membenciku?” tanya Baekhyun melepas dekapan Sehun.

“Ani.. Mana mungkin aku bisa membencimu. Aku hanya kaget kau.. Kau sudah ada di Korea..”

“Eh? Kau baru tahu? Aku sudah 6 bulan lebih disini. Aku sudah memberitahu Kai kalau aku kembali. Apa kau tak memberitahumu?” jelas Baekhyun.

Mendengar hal itu, tentu Sehun naik pitam. Kai tak mengatakan apapun tentang kembalinya Baekhyun ke Korea. Sama sekali tidak!

Sehun tersenyum pahit. “Mana mungkin dia memberitahuku.”

Baekhyun hanya menghela nafas pelan. Tatapan mata Baekhyun tertuju pada Luhan yang sedari tadi menunduk.

“Ah.. Luhan-sshi.. Kau teman Sehunnie, ya?” tanya Baekhyun tiba- tiba. Luhan hanya mengangguk pelan kemudian kembali menunduk.

Sehun kembali berjalan kesisi Luhan.

“Luhan.. Kau baik- baik saja? Wajahmu pucat.” Sehun memegang pipi Luhan lembut.

Luhan tiba- tiba menepis tangan Sehun.

“Aku.. Aku akan kembali bekerja.” Luhan berlari menuju caffe meninggalkan Sehun dan Baekhyun.

Sehun hanya menghela nafasnya pelan. Baekhyun kemudian tersenyum.

“Kau lupa, ya? Hari ini..”

“Hari ulang tahunmu. Aku tak lupa.” Sambung Sehun cepat. Baekhyun mengangguk mantap.

“Lalu… Luhan itu.. “

Sehun menatap tajam Baekhyun. “Dia.. “ Sehun seperti kehilangan kata- kata. Kenapa kini berat sekali mengatakan kalau dia menyukai Luhan?

.

Apa karena Baekhyun.. Orang yang pernah ia cintai ada dihadapannya?

.

Atau karena Sehun sebenarnya belum yakin pada perasaannya?

.

“Sehunnie?” tanya Baekhyun lagi.

“Ah.. Nae?”

“Namja mungil tadi kekasihmu?”

“Aniyo!” Sehun langsung menolak.

“Hooh! Kupikir kau sudah punya pacar.”

“Kenapa kau malah lega seperti itu? Dasar! Apa kau senang kalau aku tak laku?” ujar Sehun sambil mengacak- acak rambut Baekhyun.

“Mana mungkin!” Baekhyun memanyunkan bibirnya.

Sehun sangat merindukan sosok Baekhyun. Walau ia tahu perasaannya pada Baekhyun sudah sepenuhnya hilang. Tapi benarkah begitu?

.

“Karena kau sudah ada disini.. Bagaimana kalau kau juga ikut merayakan ulang tahunku.” Ajak Baekhyun.

Sehun menghela nafasnya. “Mana bisa aku menolak ajakanmu.”

“Kajja!” Baekhyun tersenyum riang.

.

.

.

Didalam caffe.

D.O berjalan masuk kedapur. Ia mencari seseorang, Luhan. Dan seketika itu, D.O melihat Luhan melamun disudut dapur.

“Luhannie?” D.O menyentuh pundak Luhan.

“A..Ah!! Nae? Apa ada pesanan lain!!” Luhan berbalik badan dan langsung berceloteh tak jelas.

“Kau melamun, ya?” tanya D.O sambil mengelus dadanya.

Luhan menggeleng pelan. “Tidak..”

“Ah! Temanmu hari ini banyak yang datang, ya?”

“Eh? Hanya Sehun kok. Lagipula orang yang mengadakan pesta disini ternyata kenalan Sehun.” ucap Luhan malas.

“Bukan. Kalau Sehun aku sudah bertemu tadi. Barusan ada seorang temanmu yang datang lagi. Dia tampan sekali walau sedikit menakutkan.” Jelas D.O sambil mengingat sosok yang baru saja ditemuinya diluar caffe.

“Oh ya?” Luhan mencoba mengingat sosok yang dijelaskan D.O

“Ne.. Temui dia diluar caffe sekarang. Sepertinya dia ingin sekali bertemu denganmu.” Tambah D.O dengan nada serius.

“Hm.. Baiklah. Xie xie, D.O-sshi.”

Luhan berjalan keluar melalui pintu belakang caffe.

.

.

.

.

“Kai!”

Ternyata yang dimaksud D.O adalah Kai. Luhan berlari kecil menyampiri sosok Kai yang berdiri tegak didepan caffe. Kai menunggu tanpa masuk kedalam caffe.

“Luhan.” Kai langsung tersenyum melihat orang yang ditunggunya dari tadi kini ada dihadapannya.

“Kai.. Kau tahu dimana aku bekerja, ya?”

Kai mengangguk pelan. “Sebenarnya aku salah satu tamu undangan dipesta ini.”

“Ah, ya. Aku tahu, Baekhyun-sshi itu pasti temanmu juga, kan?” 

Kai membulatkan matanya saat Luhan mengatakan nama Baekhyun dengan lugunya.

“Kau bertemu dengannya?” tanya Kai sambil memegang kedua pundak sempit Luhan.

“Ne.. Bahkan kini ia dan Sehun sedang berpesta didalam.” Jelas Luhan dengan nada bicara yang agak kesal.

Kai langsung mengalihkan pandangannya kedalam caffe. Walau samar- samar, terlihat jelas Sehun dan Baekhyun sedang bersenda gurau.

Kai menghela nafasnya kemudian kembali menatap Luhan.

“Kau pulang bersamaku.”

“Eh?” Luhan kaget dengan perkataan Kai yang ia pikir sangat seenaknya.”Tidak bisa begitu, Kai. Sehun sudah menungguku sejak tadi. Aku..” Luhan mengalihkan pandangannya kearah caffe. Terlihat Sehun yang membelai rambut Baekhyun. Kai mengikuti arah pandangan Luhan.

“Sehun.. Sehun bilang aku akan pulang bersamanya..” wajah Luhan terlihat sangat sedih. Kai menghela nafasnya kembali.

“Dia tak akan ingat pada siapapun kalau bersama Baekhyun.” Ucapan Kai membuat Luhan tambah sedih.

“Siapa sebenarnya.. Baekhyun.. itu?” Luhan menunduk dalam.

“Banyak sekali yang ingin aku bicarakan denganmu Luhan. Untuk kali ini saja.. Ikutlah denganku.”

Luhan menggeleng pelan. “Aku tak bisa. Mianhe.”

Kai melirik jam tangannya. “ Kau pulang jam berapa?” tanya Kai serius.

“Aku pulang jam 9.” Jawab Luhan bingung. Mengapa Kai bertanya hal itu?

“Baiklah aku akan kembali jam 9.”

“Hah?”

“Aku akan menjemputmu.”

Luhan hanya tercengang melihat kegigihan hati Kai. Seketika itu, Kai membalikkan badannya. Pergi begitu saja meninggalkan Luhan yang masih bingung dengan sikap Kai.

“Dia benar- benar aneh.” Gumam Luhan kemudian masuk kembali kedalam caffe.

.

Jam 8.55

“Luhan..” Sehun masuk kedalam dapur mencari Luhan. Ternyata Luhan sedang membereskan peralatan dapur. Pesta ulang tahun Baekhyun juga sudah selesai sejak 15 menit yang lalu.

“Nae?” Luhan mengunci lemari peralatan.

“Luhan, Jeongmal mianhe. Aku akan mengantar Baekhyun pulang lebih dulu. Kau bisa menunggu disini sebentar?”

Kata- kata Sehun membuat Luhan jadi tak enak hati. Wajah ceria Luhan berubah menjadi wajah murung.

“A.. Aku bisa pulang sendiri kok.” ucap Luhan akhirnya.

“Tidak! aku akan menjemputmu kembali. Jadi..”

“Sudahlah, Sehun. Aku bisa pulang sendiri. Sepertinya Baekhyun-sshi lebih penting, kan?”

Sehun menghela nafas panjang. “Mianhe, Luhan. Kau benar- benar bisa pulang sendiri?”

Walau tadinya Luhan mengatakan demikian, tetap saja hati Luhan sakit. Sehun terlihat jauh lebih mementingkan Baekhyun.

Luhan mengangguk pelan.

“Berhati- hatilah. Setelah aku sampai dirumah, aku akan kerumahmu untuk mengecek keadaanmu.” Lanjut Sehun dijawab oleh anggukan Luhan.

“Aku pergi dulu.” Sehun membelai rambut Luhan sekilas lalu keluar dari dapur. Luhan hanya menghela nafas.

“Xi Luhan, jangan bodoh! Sehun itu bukan milikmu! Mengapa harus cemburu…” Luhan mencoba menguatkan hatinya. Ia sandang tas nya dan kemudian pamit pada D.O yang masih berada di caffe. Tak lupa juga pada ahjussi pemilik caffe itu.

“Huuuft..” Luhan menghela nafas keluar dari caffe. Namun…

Tin Tiinn

Luhan melihat dihadapannya, Kai sedang duduk diatas motor besar berwarna hitam. Luhan menatap Kai yang mengisyaratkannya untuk naik.

“Ka..Kai..” Luhan tersenyum tipis.

“Naiklah. Aku tepat waktu, kan?” ucap Kai sambil tersenyum.

Luhan akhirnya menghela nafas dan tersenyum manis.

“Dasar! Kau sebenarnya siapa? Malaikatkah?” kata Luhan sambil mendekati Kai.

“Memangnya ada malaikat seperti aku?” Kai memutar bola matanya.

“Saat aku lapar waktu itu, kau memberikan aku roti keju. Dan sekarang.. Seakan kau tahu.. semuanya.”

Kai tersenyum kembali. “Tenang saja. Untukku, kau sama sekali tak ada tandingannya.”

Deg

Luhan merasakan detakan jantungnya mulai cepat. Kata- kata Kai begitu manis. Seakan- akan Kai bisa melakukan apapun untuknya.

“Naiklah.” Ulang Kai melihat Luhan melamun.

“Ah.. Ne.” Luhan langsung naik keatas motor besar Kai.

“Pegangan.”

“Eh?”

“Lingkarkan tanganmu dipinggangku.” Jelas Kai.

“Tapi..” Luhan jadi salah tingkah. Ia pikir tak perlu sampai seperti itu, kan?

“Aku tak bisa menjamin keselamatanmu.” Ucap Kai datar.

Luhan langsung melingkarkan lengannya dipinggang Kai. Sepertinya Kai tak bisa membawa motor dengan kecepatan standar. Kai tersenyum pasti merasakan tangan mungil kini melingkar kuat dipinggangnya.

“Ayo pergi!” ucap Kai semangat.

.

18 MENIT KEMUDIAN~

“KAU GILA KAI!!” teriak Luhan frustasi.

“HAHAHAHA! Baru segitu saja kau sudah merengek. Xi Luhan?”

Kai tertawa keras melihat Luhan yang masih meributkan cara Kai mengendarai motornya. Apalagi Kai bukannya membawa Luhan kerumah malah membawa Luhan ketaman yang ada ditengah kota. Taman yang memiliki banyak lampu hias.

Kota Seoul malam hari bukanlah suasana yang buruk jika dinikmati. Mobil yang masih lalu lalang menjadi pemanis pada pemandangan kota yang Kai dan Luhan nikmati. Mereka duduk dipagar tembok taman yang hanya setinggi lutut sambil memperhatikan mobil yang lalu lalang di jalan raya.

Luhan terdiam sejenak. Baru kali ini ia melihat Kai tertawa lepas. Wajah Kai yang dingin berubah menghangat. Padahal udara malam sama sekali tak sehangat yang dirasakan.

“Kai.. Sebenarnya kau siapa?”

Ekspresi wajah Kai berubah serius. Begitu juga dengan Luhan.

Kai berdiri dan berjalan menjauhi Luhan selangkah. Kai membelakangi Luhan.

“Kalau aku katakanpun.. Kau mungkin tak akan ingat.”

Luhan mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Kai kembali mendekati Luhan. Tatapan mereka bertautan. Kai berdiri tegap sambil meletakkan kedua tangannya didalam saku celananya.

“Xi Luhan.. Apa kau ingat padaku? Aku Kim Jong In.”

Luhan mengerutkan dahinya. “Kim Jong In? Itu namamu Kai?”

“Ne. Sudah kuduga kau tak mengingatku.”

Luhan menunduk dalam.

“Aku memang tak mengingatmu.”

“Tidak masalah. Lagipula kenangan tentangku dalam ingatanmu bukanlah kenangan yang menyenangkan. Aku malah tak mau kau mengingatnya.” Kai terlihat sangat terluka.

Luhan berdiri dari posisinya dan mendekati Kai.

“Mianhe, Kai. Jika aku dan kau memang punya kenangan dimasa lalu, aku ingin mengingatnya.”

Kai membulatkan matanya mendengar ucapan Luhan.

“Walau itu hal yang menyakitkan, aku rela. Daripada aku melupakanmu.” Luhan memegang pipi dingin Kai.

Kai tersenyum. “Kita bertemu beberapa tahun yang lalu. Saat kau masih di China dan tinggal bersama orang itu.. Ayah tirimu..”

Kai menghentikan perkataannya lalu meghela nafas dalam.

“Kau bahkan tahu kalau aku tinggal dengan ayah tiriku?” Luhan menunduk dan tersenyum pahit. Ternyata Kai dahulu memang mengenalnya.

“Sudahlah.. Aku tak mau kau mengingat kenangan itu.”

Luhan menggeleng cepat. “Lanjutkan, Kai. Aku ingin mengingat semuanya.”

“Untuk apa? Kalau memang harus mengulang dari awal, aku rela. Lebih baik kau tak mengingat kenangan pahit yang berusaha kau lupakan, Luhan.”

“Tidak.. Kumohon lanjutkan, Kai.”

Kai awalnya tak percaya akan kata- kata Luhan. Namun kehangatan yang terpancar dari kedua mata Luhan membuat Kai tersenyum dan mengangguk.

“Kau tetap seperti Luhan yang dulu. Luhan yang hangat dan begitu baik hati.” Ujar Kai sambil mengusap lembut rambut kecoklatan Luhan.

Luhan mencubit pipi Kai.

“Wae?! Appo!” Kai langsung memegangi pipinya.

“Itu karena kau mengatakan hal aneh. Kalau aku baik hati… Aku tak akan melupakanmu.”

“Aku maklum kok. Siapapun pasti ingin melupakan kenangan pahit yang pernah dialami. Aku sangat mengerti jika akhirnya kau melupakanku sama seperti kenangan pahit itu.” Kai mencoba menjaga hati Luhan. “Bahkan aku berharap kau tak mengingatku dengan kenangan pahit itu.”

Luhan menunduk kemudian menghela nafas panjang.

“Aku selalu lari dari masa lalu. Dengan melupakannya kupikir akan membuat hidupku terasa lebih ringan. Tapi aku malah merasakan sebaliknya… Beban yang kurasa malah makin berat.”

Kai membelai rambut Luhan yang tertiup angin malam.

“Aku Kim Jong In… Tapi kau memanggilku Kai. Kau sendiri yang memberiku nama panggilan itu karena dulu kau tak begitu bisa melafaskan nama ku dalam bahasa Korea. Aku anak dari adik laki- laki Kyuhyun-hyung. Kau mengenal Kim Kibum?”

“A… Ah! Kurasa aku pernah bertemu sekali. Dia dekat sekali dengan Heechul-noona.” Luhan berusaha mengingat. Ia mengerti kalau Kai dan dirinya memiliki hubungan darah walau tidak terlalu dekat.

“Kibum adalah oemmaku . Istri dari adik laki- laki Kyuhyun-hyung yang bernama Siwon.” jelas Kai lagi. “Aku sangat dekat dengan Heechul-noona. Dan sewaktu aku berusia 7 tahun…” Kai berhenti bercerita. Ia menghela nafas panjang mengingat kejadian yang terjadi 9 tahun yang lalu.

Flash back

“Noona! Aku senang sekali kau membawaku ke China.” Ujar Kai kecil dengan eratnya menggandeng tangan Heechul. Seakan menyesuaikan dengan irama kaki mereka yang seirama, Kai mengayunkan tangan Heechul kedepan dan kebelakang.

“Hmm.. Sepertinya kalian seumuran.” gumam Heechul sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir pink cherry yang jadi kebanggaannya itu.

“Eh? Siapa?” tanya Kai kecil dengan polosnya.

“Kau akan bertemu dengannya nanti. Ah! Ayo kita naik bus itu.”

Heechul dan Kai kecil berlari sambil berpegangan tangan menuju bus yang akan kembali melaju sebentar lagi. Tawa riang terdengar diantara keduanya.

45 menit kemudian.

Setelah sampai pada tujuan, apartemen sederhana yang terletak di kota Beijing. Heechul dan Kai berdiri didepan pintu apartemen itu.

“Aku sudah menelpon Wookie.. Tapi tak diangkat.” Ujar Heechul pelan.

“Waeyo, noona?” tanya Kai saat melihat guratan cemas diwajah cantik Heechul.

“Ah.. Ani…” Heechul kembali mencoba menghubungi Ryeowook, adik perempuan satu- satunya.

Ya! Ryeowook menikah dengan lelaki yang berkebangsaan China 8 tahun yang lalu. Namun setelah 4 tahun pernikahan dan anak mereka masih berusia 3 tahun, suami Ryeowook meninggal dunia akibat kecelakaan.

Kini Ryeowook sudah menikah lagi. Tepatnya 2 tahun yang lalu dengan namja berkebangsaan Korea. Namun karena Ryeowook terikat pekerjaannya di China, Ryeowook masih menetap di China. Lagipula makam almarhum suaminya ada di China. Itulah salah satu alasan Ryeowook memilih menetap di China daripada kembali ke Korea.

Suami kedua Ryeowook bernama Yesung. Namja yang terlihat baik dan lembut.

Heechul menghela nafas dan kembali memasukkan ponselnya kedalam tas sandangnya yang berwarna pink. “Kalau pergi ketempat kerja Wookie, waktunya tak akan sempat. Kyuhyun kan mengatakan kita harus sampai di hotel jam 6 sore karena kita akan kembali ke Korea jam 7 malam.” Desis Heechul kesal.

Ia juga tak bisa menyalahkan Ryeowook karena kedatangan mereka ke China memang mendadak.

“Bagaimana noona?” tanya Kai yang mulai bosan menunggu diluar apartemen bersama Heechul.

“Kalau begitu kita ke..”

PRANG

Heechul dan Kai langsung mengalihkan pandangannya ke apartemen Ryeowook. Bunyi sesuatu yang pecah berasal dari dalam apartemen Ryeowook.

“Ada orang?” Heechul langsung berjalan menuju pintu apartemen diikuti Kai yang memegang ujung baju Heechul.

Klek

“Eh? Terbuka. Mungkin Yesung atau Ryeowook sudah ada dirumah, ya.” Heechul tersenyum dan kembali memegang tangan mungil Kai.

“Kita beruntung mer..”

PLAK

Bunyi tamparan membuat Heechul langsung mengalihkan pandangan matanya kedalam rumah. Heechul membuka pintu apartemen itu lebar dan masuk begitu saja.

“YESUNG!!” Teriak Heechul keras saat melihat Yesung memukuli anak kecil yang kini meringkuh dilantai.

Heechul langsung melepas genggaman tangannya dari tangan Kai. Heechul berlari menghampiri Yesung dan anak kecil yang meringkuh itu.

“Ya Tuhan! Luhan!” Heechul langsung memeluk anak laki- laki yang bernama Luhan itu. Anak dari Ryeowook dan suami sebelum Yesung, Zhoumi.

“Kau gila, Yesung-sshi! Apa yang kau lakukan pada Luhan!” Heechul berteriak sambil menggendong tubuh anak kecil yang kini gemetaran hebat. Anak itu menangis sekencang- kencangnya.

Kai hanya memperhatikan kejadian itu dari jauh.

“Noo..Noona.. Aku bisa jelaskan ini.” Yesung terlihat salah tingkah.

“Kau mau membunuh Luhan, oeh!! Kau memukulinya seperti orang gila, Yesung!!” sepertinya amarah Heechul memuncak. Ia lihat tubuh mungil Luhan yang memar. Ia tak habis pikir bagaimana Yesung setega itu pada anak sekecil Luhan.

“A.. Aku hanya mengajarinya..” Yesung menghela nafas panjang.

“Dengan cara memukulinya dengan brutal?” Heechul menatap tajam Yesung.

“Tadi dia menjatuhkan piring kaca kesayangan Ryeowook saat mencuci piring.” Yesung berusaha mencari alasan sambil menunjuk pecahan piring yang terletak tak jauh dari posisi mereka.

“Persetan dengan itu! Apapun alasanmu, tak ada pembenaran atas sikapmu tadi. Kau hampir membunuh Luhan!”

Yesung hanya diam. Luhan masih menangis ketakutan dipelukan Heechul. Tak tega, Heechul mempererat pelukannya.

“Ternyata aku salah menilaimu, Yesung-sshi.”

Heechul berbalik dan berjalan menuju pintu apartemen. Heechul masih menggendong Luhan dan berusaha menenangkannya. Yesung menatap punggung Heechul panik.

“Noona mau kemana? Luhan..” Yesung terhenti saat pintu rumah kembali Heechul tutup.

Kai mengikuti Heechul yang menggendong Luhan. Kai perhatikan tubuh Luhan yang memar dan banyak sekali bekas luka. Sebenarnya Kai takut melihat situasi tadi.

Heechul mendudukkan Luhan yang masih menangis dikursi taman yang terletak lumayan jauh dari apartemen Ryeowook.

Heechul melihat Kai sekilas kemudian tersenyum. “Gwechanayo, Jongin?”

Kai mengangguk, wajahnya tampak pucat namun Kai tak menangis. Malah ia ingin sekali menghibur Luhan kecil yang masih menangis.

Heechul mendudukkan Kai disebelah Luhan.

Luhan duduk sambil memeluk lututnya. Tubuhnya masih gemetaran.

“Jongin, tunggu aku disini. Aku akan ke apotik sebentar membeli obat untuk Luhan.” Ujar Heechul lembut. Kai mengangguk mantap.

Heechul berjalan meninggalkan kedua namja yang masih kecil itu ke apotek yang ada diseberang jalan.

“Hiks… Huhuhu..” Luhan masih menangis.

“Gwechanayo?” tanya Kai sambil memegang pundak Luhan.

Seketika itu Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Kai.

Kai terpana oleh wajah cantik Luhan. Wajah bagaikan malaikat. Wajah yang sangat menenangkan.

Tapi wajah itu ternodai oleh air mata. Sangat disayangkan.

“Uljima.” kata Kai mencoba menenangkan Luhan yang masih menangis.

Luhan menatap Kai tajam. Perlahan Luhan menghapus air matanya.

“Ni shi shui?” ujar Luhan dengan suara mungilnya.

Kai menggaruk kepalanya. Ia sama sekali tak mengerti bahasa China.

“Ah.. Anu.. Apa yang harus kukatakan.” Kai mengacak- acak rambutnya sendiri. “Baiklah.. Mungkin kau memintaku memperkenalkan diri. Aku Kim Jong In.” ujar Kai akhirnya. Tebakannya kali ini tepat karena memang Luhan bertanya tentang diri Kai.

“Ki? Kai?” ujar Luhan dengan polosnya.

“Eh? Kai? Bukan. KIM JONG IN.” Kai mengejakan namanya pada Luhan.

Luhan menggeleng pelan. “Kai.”

Kai menghela nafas. “Baiklah. Terserah kau mau memanggilku apa. Hmm.. Uljima. Aku akan membantumu.”

Luhan menatap Kai bingung. Luhan sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Kai. Luhan menggeleng pelan.

“Hmm.. Begini saja.” Kai menunjuk dirinya sendiri. “Aku..” kemudian memeluk Luhan “Melindungi..” lalu menunjuk diri Luhan. “Kamu!”

Luhan tambah tak mengerti.

Kai menyerah dan menghela nafas panjang. “Sudahlah.” Ujar Kai kecil malas.

Kemudian Kai memperhatikan tubuh mungil Luhan yang penuh bekas luka. Kai kembali teringat kejadian tadi. “Aku tak pernah membayangkan kalau appa-ku melalukan hal sekejam tadi padaku.”

Kai kembali menatap Luhan yang terdiam dan menatap kosong kedepan.

“Luhan, Aku janji akan melindungimu.”

END Flash back

“Begitu.. Kau tak sengaja datang saat papa sedang menyiksaku.” Ujar Luhan sambil menunduk. Kai mengangguk pelan.

“Aku.. Aku tak pernah memecahkan piring mama. Papa yang menjatuhkannya karena papa benci piring kaca itu… Itu piring kaca yang diberikan papa Zhoumi pada mama.”jelas Luhan sambil tersenyum pahit. “Aku mencegah papa untuk memecahkannya.. Tapi yang kudapatkan malah pukulannya.”

Kai langsung memeluk Luhan erat. “Inilah yang paling tak kuinginkan. Wajahmu yang terlihat menderita.”

Luhan tersenyum kemudian menggeleng.

“Janjimu.. Waktu itu aku tak mengerti betul apa yang kau katakan padaku.”

Kai melepas pelukannya dari tubuh mungil Luhan.

“Aku akan melindungimu. Aku akan menepati janji itu.” Kai membelai pipi Luhan lembut.

“Xie xie, Kai.” Luhan kembali memeluk Kai. “Gamsahamnida.”

.

.

Seketika itu, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti didekat mereka. Mobil Sehun. 

Kai dan Luhan langsung melepas pelukannya. Kai membulatkan matanya saat melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.

“Baekhyun.” Desis Kai kemudian menggenggem tangan Luhan. Tak bisa melawan, Luhan membiarkan Kai menggenggem tangannya.

Seketika itu, Sehun juga keluar dari mobil mewah itu.

“Luhan.” Sehun langsung berlari menghampiri Luhan yang tengah berdiri disamping Kai. Baekhyun menatap Kai tajam.

“Kai… Apa ini namja yang kau bilang dulu?” wajah Baekhyun nampak sangat sedih.

Kai mengangguk mantap. Luhan menatap Kai bingung.

“Jadi kau… Luhan-sshi.” Baekhyun menatap Luhan tajam.

Sehun langsung menarik tangan Luhan dari genggeman Kai. Luhan merintih kesakitan saat Sehun menarik tangannya begitu saja.

“Appo! Sehun apa yang kau lakukan!” Luhan hanya bisa protes saat Sehun menarik tubuh Luhan menjauhi Kai.

“Apa yang kau lakukan bersama Kai!”

TO BE CONTINUE

yeaaahh~ aa
RCL please ^^
gomawooooo

222 thoughts on “Another Promise Chapter 3

  1. apa yg dia lakukan dengan kai..? membuatmu cemburu eoh.. sehun jahat deh.. ohh jadi gtu critanya.. tapi kai masih sodaraan dong brati ama luhan.. hehehe.. baekhyun sapa sih disini..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s