FF KAILU-DIFFICULT to SAY PART 2

Title : Difficult to Say

Leght : 2 of?

 

Main cast :

 

Kim Jong In

 

Xi Luhan

 

Oh Se Hun

 

Huang Zi Tao


Genre:

 

Sad romance.angst.

 

Author: @LarasYang

 

Mungkin wajah ini terlihat lelah

 

Dan fisik ini tak lagi mendukungku untuk tetap tegar

 

Tapi sungguh. .

 

Jauh di dasar hatiku

 

Aku tak pernah lelah untuk menunggumu

 

Menunggu untuk mengucapkan

 

Satu kata yang selama ini ku buat rumit

 

>>>>Difficult to Say>>>>

3 bulan kemudian

.

.

.

Author pov

Seorang namja tampan bermata sendu tengah melakukan aktifitas rutinnya selama tiga bulan belakangan ini.

Tanpa pernah absen, kadang pagi, siang, sore bahkan malam Ia pasti selalu menyempatkan diri untuk memantau namja cantiknya dari balik jendela kamar rumah sakit.

Hanya memperhatikannya dari jauh, sudah membuat suatu kelegaan dalam hati namja tampan bernama Sehun itu.

Meskipun dengan begitu Ia malah terlihat seperti seorang stalker,tapi Ia tak peduli. Bukankah cinta itu harus menutup telinga dari hal-hal yang merapuhkan?

Sehun hendak beranjak dari posisinya, namun langkahnya terhenti saat mendapati seorang di belakangnya.

Seorang namja imut dengan sorot mata tajam namun terkesan mengiba. Mata itu terlihat garang sekilas, namun apabila diperhatikan secara gamblang, ada secercah kerapuhan didalamnya.

Sehun tak sengaja menatap lekat mata namja dihadapannya itu, membuatnya tersihir untuk beberapa menit, seakan waktu berhenti berputar di sekitar mereka.

Setelah beberapa menit terpaku, akhirnya Sehun tersadar akibat deheman kecil dari bibir menggemaskan namja imut itu.

“Oh, annyeong. Saya permisi dulu” ucap Sehun akhirnya setelah bingung ingin berkata apa pada namja imut yang tergolong sangat asing di penglihatannya.

“Chankaman” ucap namja imut itu tiba-tiba dan Sehun menghentikan gerakan kakinya langsung berbalik.

“Nae? Kau memanggilku?” Tanya Sehun ramah sambil menunjuk mukanya sendiri.

“Siapa lagi” jawabnya ketus sambil menatap Sehun dingin.

“Ada apa?” Tanya Sehun lagi tanpa mengambil pusing gaya anak itu berbicara, meskipun terkesan sedikit tidak sopan untuk orang baru.

“Siapa namamu?” Tanya namja imut itu langsung tanpa basa-basi dan tatapannya masih sama-dingin.

Sehun mengerutkan sekilas keningnya sebelum menjawab pertanyaan normal dari namja imut itu, tapi gaya bicaranya sunguh-sunguh tidak normal. Sehun mulai sedikit kesal.

“Naneun Oh Sehun imnida” ucap Sehun ramah sambil membungkuk sopan lalu tersenyum kearah namja imut yang masih betah memasang tampang horornya. Apa lagi matanya. . .

“Berapa umurmu?”Tanya namja imut itu lagi masih dengan gaya spontanitasnya yang malah terkesan tidak sopan dan Sehun mulai tak bisa menolerir.

“YA! Apa kau seorang wartawan? Mengapa bertanya sedetail itu? Bahkan cara bertanya wartawan lebih sopan dibandingmu” ketusnya sambil lalu meninggalkan namja asing tak penting dihadapannya.

Namja imut itu terlihat panik, mulai menekan tombol otomatis di samping kanannya hendak mengejar Sehun dan Ia berhasil mendahului Sehun lalu berhenti tepat di depannya.

Sehun memutar bola matanya malas mendapati namja imut angkuh itu lagi dihadapannya.

“Oppa. . Help me please!” Ucap namja imut itu tiba-tiba sambil memasang tampang aegyo nya.

Sehun terbelalak kaget melihat tingkah namja asing itu, bukan karena ke aegyoannya tapi. . . . Dia menyebut kata “Oppa”? Apa dia seorang Yeoja? Bingung Sehun.

“Kau ini Yeoja?”Tanya Sehun hati-hati.

Namja imut itu tak minat untuk menjawab, Ia malah menatap memohon pada Sehun dan itu semakin membuat Sehun kebingungan.

“Naneun. . Toilet. .”

Namja imut itu menghentikan kalimatnya sebentar, lalu mengeluarkan sebuah buku kecil tebal yang terlihat seperti kamus dari dalam saku bajunya, membaliknya cepat lalu tersenyum saat menemukan apa yang dicarinya.

“Ah, hwajangsil i eodie?” Tanya namja imut itu polos sambil tersenyum. Ternyata senyum anak ini polos sekali. Fikir Sehun beberapa detik.

“Geogi” ucap Sehun sambil menujuk belokan di sebelah kirinya. Namja imut itu tampak mengangguk pelan setelah mengikuti arah tunjuk Sehun.

“Hemm, bisa antar aku kesana?” Tanya namja imut itu dalam bahasa asing yang tidak dimengerti Sehun, sepertinya bahasa mandarin.

“Eh, sorry?” Tanggap Sehun menandakan Ia tak mengerti maksut dari namja imut itu.

“Can you take me there?”Ulang namja imut itu lagi dalam bahasa inggris.

“Oh i see! But why?” Tanya Sehun spontan tanpa melihat kondisi namja imut itu terlebih dahulu, dari tadi pun sepertinya Sehun tak menyadarinya.

“See my condition oppa!” jawab namja imut itu seadanya.

Sehun melihatnya sekilas dan. . Ya. . Sepertinya Ia terlalu tak memperhatikan. .

“Aishh. Mian. . . Aku tak bermaksut.” Ucap Sehun dalam bahasa koreanya yang sangat kental, membuat gantian kening namja imut itu yang berkerut, hanya kata mian yang ia mengerti. Sedikit mengerti maksut Sehun meminta maaf, namja imut itu hanya mengangguk.

“So?” Tanya namja imut itu kemudian meminta kepastian pertolongan dari Sehun.

“Baiklah. . As your wish” ucap Sehun akhirnya membuat sebuah senyum manis kembali terukir dari bibir namja imut itu. Kyeopta.

“Gomawo” balas namja imut itu sambil membungkuk sopan.

Sehun tersenyum sekilas saat melihat perubahan drastis pada diri namja atau yeoja(?) asing yang ditemuinya itu. Sepertinya dia memiliki kepribadian yang unik.

“Jangan sungkan. Kajja” ucap Sehun kemudian sambil mendorong kursi roda namja imut itu menuju toilet.

Langkah Sehun sempat terhenti saat tiba didepan pintu toilet, melihat sekilas kebagian tengah pintu toilet.

Namja – yeoja?

Sehun bingung sendiri degan gender namja imut ini sesungguhnya. Ia tak terlihat seperti Yeoja, tapi mengapa memanggilnya dengan sebutan oppa?

“Left or right?” Tanya Sehun polos yang terdengar sedikit konyol bagi namja imut itu.

“Hahaha, kau bercanda? Definitely right oppa. Naega namja” jawabnya sambil menahan tawa.

“Oh” 

Sehun tak terlalu ambil pusing dengan kebingungan ini, mungkin namja imut itu hanya salah memanggilnya, karena toh dia tak terlalu mengerti hangul.

Sehun memapah tubuh kurus namja imut itu menuju ambang toilet dan mendudukannya tepat di atas kloset.

“Kau teruskanlah” ucap Sehun sebelum menetup pintu toilet.

.

.

 

“Gomawo oppa” ucap namja imut itu setelah mereka menjauh dari toilet. Tersembur rona merah di pipinya saat mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi Ia sudah menyusahkannya seperti tadi. Sedikit memalukan, meminta orang asing mengantar kita ke toilet lalu mendudukan kita dikloset. Seperti anak kecil.

“Tak perlu sungkan” balas Sehun sambil tersenyum cool

“Naneun Tao imnida” ucap namja imut itu ramah sambil membungkuk sopan seperti yang Sehun lakukan tadi.

‘Ah jadi namamu Tao? Sedikit aneh’ Gumam Sehun

“Itu, , hem how old are you?” Tanya Sehun hati-hati.”

“19 years old oppa”

“Mwo? Jinjjaeo? Omo, aku baru 18 years old tahun ini” jujur Sehun membuat kening Tao berkerut sempurna saat mencerna kata 18, karena hanya itu yang dia mengerti.

“OMG, i’m older than you?” Tanya Tao tak percaya dengan sebelah alis terangkat.

“Nae. . . Seharusnya aku yang memanggilmu Hyung” balas Sehun.

“Hyung?” Tanya Tao bingung.

“Nae, hyung not oppa. . Just check in your dictionary hyung!”

Tao mengikuti saran Sehun, mulai membuka kamus kecilnya tadi, dan betapa malunya dirinya membaca maksut kata oppa yang tertera disana.

Oppa: panggilan untuk kakak laki-laki oleh adik perempuan.

‘Oh shit’ Tao mengumpat dalam hati sambil menghilang meninggalkan Sehun yang masih berdiri bingung melihatnya.

“Tao Hyung, eodiga?” Teriak Sehun melihat Tao semakin memacu kencang kursi rodanya.

Aishhh. . . Bikin malu saja, gerutu Tao tanpa menghentikan kursi rodanya lalu menghilang di belokan.

“Eoh? Dasar orang asing aneh!” ucap Sehun kemudian sambil tersenyum dan pergi menuju pintu luar rumah sakit.

Author pov end

 

Luhan pov

 

Ini sudah 3 bulan aku menunggu Kai sadar, namun tak terlihat sedikitipun perkembangan yang berarti.

Aku sedikit putus asa, karena selama 3 bulan ini juga aku hanya sendiri menemaninya tanpa mama dan appa Kai dan juga Sehun tentunya.

Sehun menghilang semenjak aku menyakiti hatinya waktu itu, padahal aku harap dia masih ingin berteman denganku hingga aku bisa berbagi keluh kesahku padanya. .

Ya. . Jujur saja, aku sangat amat membutuhkan dukungan saat ini. Kedua orangtua ku dan Kai menetap di Beijing, karena appa Kai dipindah tugaskan kesana, sekitar 2 bulan yang lalu. .

Mereka mengajakku dan Kai untuk melanjutkan pengobatan Kai kesana, tapi aku menolaknya. . Aku tak tega melihat tubuh lemah Kai harus terusik dengan pemindahan mendadak itu.

Maka aku putuskan untuk tetap menetap di Seoul,menemani Kai hingga Ia sembuh.

Sejujurnya orangtua kami sudah pesimis dengan kesembuhan Kai. Bahkan sejak masuk bulan kedua, Ia tak kunjung menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik.

Tapi aku tetap optimis saat itu, dan meyakinkan kedua orangtua kami bahwa Kai pasti sembuh, termasuk meyakinkan diriku sendiri.

Waktu itu aku sangat kuat, tapi entah mengapa setelah semuanya pergi dan aku merasa sendiri ada sedikit keputusasaan mendera hatiku. .

Aku tidak lelah.. sama sekali tidak, hanya saja. . . Aku mulai takut untuk berharap. Takut seketika harapanku dihempaskan dan membuatku harus kehilangan Kai.

Mungkin semua ini akan terasa lebih ringan jika orang-orang yang aku sayangi berada disini, menemaniku. Sekurangnya Sehun. .

Bisakah Tuhan kirimkan dia sedetik saja, untuk menyemangatiku?

Luhan pov end

 

Author pov

 

Luhan menatap nanar wajah Kai yang semakin mengurus dan pucat. Membelai lembut pipi tirus Kai dengan tangannya yang bebas, sedang tangan kananya selalu terpaut dengan jari-jari lemah Kai. .

Luhan tersenyum perih saat menyadari semakin banyak daging yang berkurang di pipi Kai.

Kai lebih mirip mayat hidup saat ini, meskipun tetap terlihat tampan.

Ya. . Bagaimanapun itu, Kai tetap terlihat tampan di mata Luhan.

Luhan melepas belaiannya pada pipi menyedihkan Kai, dan beralih kemulutnya sendiri.

Susah payah Luhan menutup mulut mungilnya agar tangisnya tidak pecah dan mengganggu kenyamanan Kai.

Luhan masih menggenggam tangan Kai dengan sebelah tangannya, meski tubuhnya tengah bergetar hebat saat ini.

Air mata telah membanjiri wajah Luhan, membasahi hingga bajunya. Ia lagi-lagi menangis hebat saat mengingat kenyataan, betapa menderitanya Kai dibawah sadarnya. Cidera kepala hebat, itu begitu menyakitkan kau tahu?

Tidak. . . Rupanya luhan tak hanya sekedar menangis hebat, dia Menangis sangat Dahsyat dalam diamnya, tanpa suara, tanpa raungan yang terdengar.

Selalu seperti ini. . .

“Eungg”

Suara lengungan kecil menyeruak ke gendang telinga Luhan yang masih sibuk mengatur dirinya yang tengah menahan tangis,namun Ia mendengarnya. Luhan kaget, matanya membulat menerima pendengaran itu.

Hanya ada mereka berdua disini, Luhan dan Kai.

Dan Luhan pastikan, Ia sama sekali tak membiarkan suara tangisnya pecah begitu saja sedari tadi. .

Tapi meskipun sempat pecah, yang Ia dengar sebentar ini bukanlah suara tangis, tapi sebuah lengungan halus. . .

Apa mungkin?

“Kai?” Luhan menatap intens kearah Kai masih dengan wajah penuh air mata.

“———–” tak ada jawaban,bibir tebal milik Kai pun masih tertutup indah. Kening Luhan mulai berkerut mendapati kenyataan.

“Ahhh, ternyata bukan. Mungkin aku hanya berhalusinasi.” Luhan menunduk lesu sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Kai.

“Kai. . . Kau ingat? Kau pernah mengatakan padaku waktu itu! Bahwa suatu saat, kau pasti bisa membuatku menggenggam tanganmu,tanpa pernah melepasnya”

Hiks 

Hiks

Hiks

“Dan. . Hiks. . . kau lihatlah aku sekarang! Kau berhasil Kai. Kau berhasil” ucap Luhan lirih 

Air mata itu kembali mengalir dari kedua bola mata indah Luhan. Tangisnya kali ini pecah tanpa sempat Ia tahan.Membuat ruangan yang tadinya begitu sepi, menjadi sedikit gaduh penuh dengan isakan dan segukan.

Sepertinya kamar rumah sakit ini akan menjadi saksi bisu kerapuhan seorang Luhan untuk kesekian kalinya.

Jika saja Kai mengetahui ini, Ia pasti akan sangat membenci dirinya sendiri, karena dirinya lah Hyung yang tanpa sengaja Ia cintai terluka hebat.

“Jeongmal saranghae Luhan Hyung. Saranghae. . Saranghae. . Saranghae”

“Kai? Kau sadar”

Luhan menghentikan tangisnya cepat, dan menghapus kasar air matanya saat mendengar suara lirih Kai.

Kini Ia berdiri dan mengguncang tubuh Kai pelan.

“Saranghae Hyung, Sarangahe. .”

“Kai. . .?” 

Luhan bingung. . . Kai sama sekali tidak membuka matanya. Tubuhnya pun tak merespon sentuhan Luhan, tapi mengapa? Mengapa bisa Ia berbicara.

“Saranghae.”

“Kai. . . . Kai. .! Ada apa ini?aishh”

Luhan panik, marah dan bingung langsung memencent tombol pemanggil berwarna merah. .

5 menit berlalu.

 

Teett

 

Teett

 

Teett

Luhan semakin menekan tombol itu brutal, sambil sesekali melihat kearah Kai yang masih saja mengucap kata yang sama sejak 5 menit yang lalu. Dokter dan perawatnya tak kunjung datang, membuat Luhan menggeram marah, ia membelai pipi Kai sekilas sebelum akhirnya berlari dan meninggalkan kamar Kai.

“Aku akan segera kembali Kai”

Luhan berlari sekencang mungkin, tanpa mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang yang menjadikannya bahan tontonan saat ini.

Bagaimana tidak, Luhan benar-benar terlihat kacau. Matanya sembab, dengan bekas air mata yang masih terlihat kontras diwajahnya, dan bajunya disekitar leher juga basah karena air mata.

Luhan berlari pasti menuju ruang dokter yang menangani Kai, cukup jauh dan membutuhkan energi yang lumayan.

“Agrrhhh. Kepalaku. . Tolonglah, jangan sekarang. Shit, harusnya aku makan sedikit tadi” umpat Luhan kesal saat merasakan pening bukan main akibat belum makan dari beberapa hari yang lalu.

“Luhan, ada apa?”

Luhan tak membalik ataupun menghentikan langkahnya, tujuannya sekarang adalah ruang dokter. Meski Ia tahu, itu adalah suara Sehun.

Sehun yang melihat kepanikan Luhan pun langsung mengekor dan ikut berlari dibelakang Luhan.

 

Brug 

“Aishhh”

“Luhan”

Sehun berlari panik menghampiri Luhan yang terjatuh begitu saja tanpa sebab.

“Gwaenchana?” Tanya Sehun khawatir sambil membantu Luhan untuk berdiri.

“Ya! Kau pucat sekali Luhan!”ucap Sehun lagi sambil menakup kedua pipi Luhan, namun Luhan menepisnya.

“Aku baik-baik Sehunnie, aku harus pergi”

“Kau mau kemana?” Tanya Sehun sedikit kesal sambil menahan tangan Luhan.

“Ruang dokter” balas Luhan pendek sambil melepaskan tangan Sehun dan berlalu.

“Ck, dasar keras kepala.”

.

“Dok, apa yang terjadi sebenarnya pada adik saya?” tanya Luhan panik saat Ia telah berhasil membawa dokter ke kamar rawat Kai.

“Tenanglah Luhan ssi! Hal seperti tadi wajar dialami oleh pasien yang menderita cidera kepala”

“Apa itu merupakan sebuah pertanda baik dok?”

“Bisa dikatakan begitu. Ada sedikit kemajuan pada sarafnya. Meski Itu sepenuhnya dilakukan pasien dialam bawah sadarnya.”

“Maksut dokter?” Tanya Luhan tak mengerti.

“Begini. . .pasien belum bisa dikatakan sadar, meski Ia terdengar jelas mengucapkan sebuah kalimat ataupun kata-kata. Karena kata itu terucap tanpa pasien sadari dan rasakan. Alam bawah sadarnya lah yang menuntunnya untuk mengucapkan kata-kata seperti tadi”

“Lalu dimana letak kemajuannya Dok?”

“Sudah ada koneksi antara alam bawah sadarnya dan indra sarafnya. Itu sudah cukup baik, meski kemungkinan untuk sadar masih berkisar 25%”

Luhan menunduk lesu mendengar penjelasan panjang lebar dokter Shin. Ia sedikit kecewa dengan persentase kesadaran untuk Kai.

“Sabarlah Luhan ssi, kita sudah upayakan yang terbaik untuk pasien. Hanya tinggal menunggu” ucap dokter sambil menepuk bahu Luhan untuk menyemangatinya.

“Nae, gomawo dok” balas Luhan sopan sambil membungkuk dan tersenyum sedikit dipaksakan.

“Baiklah, saya permisi dulu. Bersemangatlah, perjuangan anda masih panjang Luhan ssi.” Ucap dokter Shin terakhir sebelum menghilang di balik pintu.

Huffffff.

Luhan menarik nafasnya panjang. Sedikit lega mendapat semangat dari orang lain.

“Ck. Kau membuatku cemas Kai ssi. Nappeun!” lirih Luhan sambil menatap sendu Kai yang sudah kembali tenang.

Pok

Luhan merasakan sebuah tangan hangat menyentuh bahu kananya. Berniat membalik, namun terhenti saat sebuah suara keluar dari mulut si pemilik tangan.

“Luhan ah~.”

Sehun??

“Mianhae”

Suara lirih itu berhasil menggetarkan hati Luhan yang memang sedang rapuh.

Selama 3 bulan ini Ia menanti kehadiran sahabat karibnya-Sehun. Jujur Luhan merindukannya dan sangat membutuhkannya.

Luhan berbalik dan menatap wajah Sehun lekat.

“Sehunnie” tanpa Ia sadari setetes air mata kerinduan membasahi pipinya dan juga Sehun,hanya setetes. Karena mereka sama-sama sudah lelah untuk menangis.

 

Grep

Sehun membawa tubuh kurus Luhan dalam dekapannya lalu mengusap punggung Luhan lembut.

“Kau semakin kurus chagi. Pasti kau jarang makan” ucap Sehun lembut.

“Nae. . . Aku. . Aku merindukanmu. Aku begitu membutuhkanmu saat ini. Maaf waktu itu”

Kata-kata Luhan terputus saat Sehun memberi jarak pada tubuh mereka.

Kening Luhan berkerut mencoba membaca ekspresi Sehun yang sedikit sulit, sedang Sehun tengah menangkup kedua sisi pipi Luhan dengan kedua tangannya dan menatap Luhan penuh arti.

“Ani. . Kau tak perlu meminta maaf padaku Luhan. Tak seharusnya aku bersifat kekanakan, dengan memaksakan cintaku padamu. Aku tahu, mencintai itu tidak mudah” ucap Sehun masih menatap dalam Luhan.

“Jadi. . Kau tak marah padaku kan?” Tanya Luhan ragu-ragu.

“Tidak, babo! Bagaimana mungkin aku marah padamu”

“Jinjja? Woah, gomawo Sehunnie. Kau memang sahabatku yang paling mengerti” ucap Luhan bahagia dan tanpa sadar memeluk tubuh Sehun kuat.

“Gomawo Sehunnie”

Hangat

Sehun merasakan kehangatan itu lagi. Kehangatan yang selalu membuatnya merasa nyaman sekaligus rapuh.

Tapi itu bukan masalah bagi Sehun, selagi Luhan bahagia.

“Kau belum makan kan? Kajja kita cari makan!”

Luhan melepaskan pelukannya dan mengangguk senang dengan mata berbinar.

Luhan dan Sehun melenggang pasti menuju pintu keluar,Luhan melirik sekilas kearah Kai, tersenyum lembut sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu. Tanpa Luhan sadari, ada setetes cairan bening mengalir di pelupuk mata Kai.

Kai menangis . . . .

Aku tak pernah mengira,

 

Bahwa cintaku akan menjadi malapetaka bagimu.

 

Bagaimana bisa rasa ini disebut cinta?

 

Jika yang aku tawarkan padamu hanya kesedihan dan air mata!

 

Aku lebih memilih melupakannya, daripada harus terus melihatmu menangis.

 

Tersenyumlah. . .! Karena senyummu adalah kekuatanku untuk tetap bertahan.

 

TBC

44 thoughts on “FF KAILU-DIFFICULT to SAY PART 2

  1. ai bebeb jangan sampai kai dibuat amnesia yaaa…

    bangun kai wake up
    wake up

    ntar luhan diambil Sehun lho
    hahahha

    tao!
    ada tao!!!
    mwo ya tao kyeopta bgt pasti buing-buing tadi ma Sehun ne
    kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    ada taaaaooooo anakku sayang

    haha

    padahal nana seumuran ma TAO ..
    tao so cute !!!

    lanjut bebeb!! >,< gak pake lama

  2. Hahahahahahahaha!!!! Tao x lucu,.
    Psti wjah tao imut bgt pas malu,,,
    kasihan sama Luhan,smpai segitu x ngejagain Kai, Kai-ah irona!! Kata x kmu cinta sma Luhan,cpt sadar!!
    Aq tunggu part slnjut x!!

  3. aku kira namja yg kata sehun nyeremin tapi imut itu baekhyun awalnya, eh pas tau dia ngomong mandarin ternyata tao ! XDD
    Luhan sabar ya! luhan pasti kuat!
    jangan bilang nanti kai kalo sadar malah jadi amnesia?
    ampun…
    ayoo lanjutin~
    naiseu part!

  4. Kai jangan nangis Luhan sama Sehun cuman mau makan doang TT_TT
    *peluk Kai*

    thor ini FFnya amazing banget,aku bingung mau comment apa

  5. eiyy… Part 2 mkin nyesek nih…
    Aigoo ampe gigit jari q baca’a gegara trlalu mendalami.
    Knapa pas baca ff ini q brasa luhan ya?
    Ok q lanjut baca next ya.

  6. enggak tega ngebayangin kondisi hunkailu…😥

    sehun kasian banget diam-diam selalu ngejagain lulu dari jauh.. kai juga belum sadar dari komanya.. luluuuuu kisah cintamu miris banget #ngelus-ngelus punggung lulu

  7. lagi-lagi, nyesek bacanya😥
    lulu sabar banget nungguin kai sampe 3bulan ckck

    nice ff thor, sayangnya kurang panjang hehe :p
    next~

  8. Huwaa,,tao mncul dg kekikukanny,kekeke…
    hadoh,,ckup sdikit mghibur dtengah crita sdih hunkailu diatas,hikz.. T.T
    wah,ksian kai,,ditinggal gt,,mlupakan?skit dkpala?jgn2 ntr kai amnesia?aduuh,,mg2 hepiend.. >o<

  9. cinta kailu terhalang takdir *astaga itu bhsanya* hah sehun jagain luhan dri jauh woah tulus tulus bnget..lulu rumit ye cintanya *hug lulu* kai bangun dong.. T_T aku nangis ni..it yg merah itu kata hati kai ya, aku mati aja deh.. *mati sono*

    #deepbow

  10. Thoor pokonya harus lanjut ya. Ga sabar nih pgn cepet tau endingnya. Bakal giman huhu. Mangat terus thor lanjutinnya. Aku tunggu terus ya. Hiatusnya udahan dulu ne🙂
    Itu kenapa tiba” ada tao muncul? Jgn” sehun bakal suka sama tao :-O

  11. huaaa!!taooo polosnya dirimu nak-__-manggil sehun oppa-_-lol karakternya mana aneh bet-_-v huaa gakebayang badan luhan kuruss gitu:” kai sadarlaah nak/pukpuk/ ksiankan luhan:”~ sehun mana bertepuk sebelah tangan;”(( *poorsehuna* sad thor!huhuhu…lanjut ne!^^ GANBATTE/HWAITING:D

  12. hiks,hiks,hiks…………
    kenapa alur ceritanya bisa sesedih ini, pada akhirnya siapa dengan siapa klo begini

    kai nangis??? itu artinya dia sadar dong???

  13. Aaaahhh…. Gak sabar pengen lanjut nerusin baca chapter selanjutnya.
    Nah lho kenapa Kai nangis? Jangan bilang pas dia sadar dia mau ninggalin Luhan?
    Aduh penasaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s