Another Promise Chapter 4

ada yang nunggu ff ini?? ^^

hehe

mianhae lama update nya

mohon pengertiannya ya

seperti yang seharusnya~

setelah baca tinggalkan jejak >> RCL RCL RCL 

hehehe

kasih tau author gmna karya ini berjalan dengan baik atau tidak ^^

gomawo~

Heenim HWAITING >__< 

Genre : School life, romance, drama, angst

Cast : Oh Sehoon, Xi Lu Han, Kim Jong In

Other : Byun Baekhyun

Pairing : KAIHAN/KAILU, HUNHAN

OTHER OTP : KAIBAEK- HUNBAEK

ANOTHER PROMISE

CHAPTER 3

Kim Hyobin

“Apa yang kau lakukan bersama Kai!” Sehun memegang pundak Luhan. Wajah Sehun nampak sangat marah.

“Kai bermaksud mengantarkanku pulang kerumah.” Jawab Luhan pelan.

Sehun menggeleng cepat. “Aku tak mau kau berhubungan dengan Kai.”

“Tapi-”

“Masuk kedalam mobil! Aku akan mengantarmu pulang!!” Sehun menarik tangan Luhan kasar menuju mobilnya.

“Sakit! Sehun!!” Luhan merintih kesakitan.

Kai tak tinggal diam langsung menarik tangan Luhan dari tangan Sehun. Namun Kai bisa menjaga tangannya tetap lembut saat menarik tangan Luhan agar namja manis itu tidak kesakitan.

“Kau menyakitinya, Oh Sehun!” kata Kai bengis. Seketika itu Kai mendekap tubuh Luhan.

Sehun menatap tajam Kai. Baekhyun langsung memegang lengan Sehun. Takut menimbulkan perkelahian karena emosi Sehun memang sulit dikontrol. 

“Sudah..” bisik Baekhyun. “Kumohon.”

Sehun menghela nafasnya kemudian masuk kedalam mobil. Baekhyun menatap Luhan sesaat kemudian menyusul Sehun masuk kedalam mobil.

“Ah…” Luhan hanya bisa melihat mobil Sehun berputar kemudian pergi dari tempat mereka. Kai menghela nafasnya lega.

“Sehun marah padaku…” Mata Luhan nampak berkaca- kaca. Kai menggeleng pelan.

“Dia tak marah padamu. Lebih baik jauhi dia yang seperti itu. Sehun hanya akan meyakitimu kalau dia sedang marah.” Ujar Kai lembut.

Luhan hanya menunduk. “Sehun..” bisik Luhan lirih.

>>

Luhan masuk kedalam rumahnya. Kai baru saja mengantarkannya pulang dan yang kini Luhan butuhkan hanyalah istirahat.

Ia begitu takut bertemu Sehun esok harinya. Wajah Sehun yang merah akibat marah tadi tak bisa hilang dari pikiran Luhan.

Setelah mengganti bajunya Luhan mencoba untuk tidur karena sudah terlalu larut untuk masih berjaga. Luhan berbaring diatas ranjangnya.

“Aish!” Luhan duduk diranjangnya dan berjalan kearah jendelanya.

Ia pandang rumah Sehun yang masih terlihat gelap menandakan Sehun belum pulang kerumahnya. Luhan menghela nafas pelan.

“Kemana ia pergi?” bisik Luhan sambil kembali berbaring diranjangnya.

>>

Esok harinya.

Luhan masuk kedalam kelasnya. Ia sengaja datang agak terlambat karena tak tahu harus bersikap seperti apa pada Sehun jika bertemu.

Namun Luhan tak menemukan sosok Sehun dikelasnya. Luhan berjalan menuju bangkunya dan melirik kearah Kai yang duduk dibangkunya sambil mendengarkan musik melalui earphone.

Luhan duduk dibangkunya kemudian menunduk.

Ia tak berani membuka pembicaraan dengan Kai. Bukannya ia takut namun ia hanya merasa segan.

Luhan kembali melirik bangku Sehun yang kosong.

“Duduk ditempatnya anak- anak!!” Shin Dong songsaenim telah masuk sambil memegang tongkat kayu kesayangannya. Luhan menghela nafas dan mengeluarkan buku fisika-nya.

“Sehun… Dimana kamu?” bisik Luhan pelan.

>>

Jam Istirahat

Kai menghela nafas pelan saat melihat Luhan menunduk sedari tadi.

“Makanlah.” Ujar Kai pelan.

Luhan menggeleng pelan.

“Nanti jam istirahat keburu selesai, lho.” Kai menggigit sandwich-nya. Luhan menatap Kai dengan wajah innocence-nya.

“Kau belum sarapan,kan?” tanya Kai sambil mengunyah.

Bagaimana bisa Luhan makan kalau ia terus saja memikirkan Sehun yang marah padanya.

“Luhan?” tanya Kai sekali lagi.

“Ah! Mianhe..” Luhan seakan tersadar dari lamunannya. Kai menghela nafas panjang.

“Sehun! Kau pasti memikirkan Sehun.”

Luhan mengangguk. “Ne… Aku khawatir padanya.”

“Khawatir? Karena dia tak masuk sekolah?”

“Lebih tepatnya karena ia tak pulang kerumahnya.”

Kai menyipitkan matanya. “Tidak pulang?”

Luhan mengangguk. Kai nampak berfikir kemudian mengeluarkan ponselnya. Kai mencari nama kontak diponselnya dan menekan tombol ‘Call’ yang ada dilayar ponsel touch screen-nya. Luhan memperhatikan tingkah Kai tanpa bertanya.

“Yoboseyo.. Ne! ini aku.” Ucap Kai saat sambungan telponnya terhubung.

“…”

“Sudah kuduga. Lalu?”

“…”

“Baiklah. Tak usah katakan padanya kalau aku menelponmu.”

“…”

“Aku? Disekolah.”

“…”

“Bersama Luhan. Ya sudah. Gomawo.”

Kai mematikan sambungan telponnya. Luhan sebenarnya tak mau bertanya karena takut dianggap ikut campur, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.

“Kau menelpon siapa?”

“Baekhyun.”

“Jadi… Sehun?”

“Diapartemen Baekhyun.”

Deg

Mata Luhan membulat seketika. “Diapartemen… Baekhyun-sshi…?”

“Jangan khawatir. Kami sudah lama mengenal sejak kecil. Hal seperti itu bukanlah hal yang aneh, kan?” kata Kai santai.

“Mengenal sejak kecil?”

“Ne…”

Kini Luhan mulai penasaran dengan hubungan ketiga namja itu. “Kalau kalian teman sejak kecil… Kenapa kalian nampak bermusuhan?”tanya Luhan akhirnya.

Kai menghentikan acara makannya. Ia tatap Luhan dalam kemudian menghela nafas panjang.

“Ceritanya panjang.”

“Sepanjang apa sampai kau tak mau memberitahuku?”

Kai membungkus kembali sandwich yang baru setengah ia makan itu. Luhan yakin Kai akan menjelaskan padanya perihal tentang Sehun dan Baekhyun. Mungkin Luhan memang sangat penasaran karena Baekhyun menanyakan dirinya pada Kai seakan- akan Kai menceritakan tentang dirinya pada Baekhyun.

“Aku, Sehun, dan Baekhyun mengenal sejak masuk sekolah dasar. Kami memang tak sengaja berteman baik. Aku sering bermain kerumah Heechul-noona yang bertetangga dengan Sehun. Karena hal itu kami jadi dekat dan memilih masuk sekolah dasar yang sama. Dan kami mengenal Baekhyun karena kami sekelas dengannya.”

Luhan mengangguk pelan.

“Sehun menyukai Baekhyun pada pandangan pertama.” Kai terhenti kemudian menghela nafas panjang.

“Jadi Sehun… Menyukai Baekhyun-sshi?” Luhan sedih sekali mendengar kenyataan itu. Sehun adalah semangat hidupnya semenjak ia tinggal di Korea dan hal ini membuatnya tergantung pada Sehun.

“Dulu. Sekarang kurasa ia sudah tak memiliki perasaan seperti itu lagi.”

“Lanjutkan ceritamu, Kai.”

Kai mengangguk. “Aku selalu menceritakan tentangmu pada Baekhyun tanpa tahu bagaimana perasaannya padaku. Ternyata Baekhyun selalu menceritakan apa yang kukatakan tentangmu pada Sehun. Dan Sehun merasa aku sengaja menyakiti Baekhyun.”

“Baekhyun-sshi menyukaimu..  Jadi karena hal itukah kalian bertengkar?”

“Tidak. Saat beranjak SMP. Kami jadi agak renggang. Sehun lebih cenderung memusuhiku dan berada dibelakang Baekhyun walau kami masih tetap jadi sahabat baik. Sampai akhirnya saat kami akan naik kekelas 3, Baekhyun menyatakan perasaannya padaku. Aku menolaknya dan Baekhyun frustasi akan hal itu. Baekhyun mencoba menabrakkan dirinya kemobil yang melaju kencang dijalan raya. Beruntung Sehun berhasil menyelamatkan nyawa Baekhyun. Semenjak itu Baekhyun dipindahkan ke Amerika oleh orang tuanya karena merasa tak aman membiarkan anaknya tetap di Korea karena tekanan mental. Sehun menyalahkan aku akan hal itu dan membenciku hingga kini.”

Luhan membekap sendiri mulutnya mendengar cerita Kai. Ternyata hubungan mereka serumit ini. Sehun yang nampak hangat dan baik hati itu ternyata menyimpan dendam yang amat dalam pada Kai dan itu menyangkut Baekhyun, namja yang sangat Sehun sayangi. Jujur Luhan sangat cemburu mendengar perjuangan Sehun untuk Baekhyun. Seakan- akan Baekhyun-lah pusat hidup Sehun saat itu.   

“Maaf… Aku tahu kau menyukai Sehun.” ujar Kai pelan.

Luhan menggeleng. “Walaupun aku menyukainya, aku hanya ingin ia bahagia. Jika memang ia masih menyukai Baekhyun-sshi… Aku hanya bisa berdoa agar ia bahagia.” Luhan tersenyum walau matanya nampak berkaca- kaca.

“Kalau kukatakan Sehun sepertiya tak memiliki perasaan yang sama pada Baekhyun lagi bagaimana?”

Luhan memiringkan kepalanya. “Maksudmu?”

“Jika ia tak mencintai Baekhyun lagi?”

Luhan menunduk. “Entahlah… Semua tergantung Sehun.”

>>

Diapartemen Baekhyun.

Baekhyun baru saja mandi dan membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri. Sehun masih tidur dikamar tamu.

Baekhyun menghela nafas dalam kemudian melirik jam dindingnya. “Pukul 12.45, ini sudah keterlaluan jika ia masih ingin tidur.” Bisik Baekhyun sambil meletakkan cangkir teh nya dan berjalan kekamar tamu untuk membangunkan Sehun.

“Ireona Oh Sehun!!” teriak Baekhyun pada namja tampan itu yang masih betah berbaring diranjang empuk berwarna kuning itu.

“Hmm.” Gumam Sehun sambil membalikkan badannya.

“Ya! Kau membuatku membolos sekolah hari ini dan kau enak- enakan tidur diapartemenku. Kita pergi kesuatu tempat kek. Atau kemana kek. Kau malah bermalas- malasan.” Omel Baekhyun sambil mengguncang- guncang tubuh Sehun.

“Aku masih ngantuuuukkk!!!” Sehun menarik selimutnya hingga seluruh tubuhnya tertutup. Baekhyun memutar bola matanya kemudian berjalan keluar kamar.

Ia duduk diruang TV kemudian mencoba menonton.

“Lu..han…” bisik Baekhyun pelan.

Flash back

“Siapa Kai? Lu.. Luhan? Jadi namanya Luhan?”

“Ne.. Aku bertemu dengannya 3 tahun yang lalu saat aku dan Heechul-noona ke China.”

“Jadi dia tinggal di China?”

“Sebenarnya Heechul-noona dan Kyuhyun-hyung ingin membawanya ke Korea namun Wookie-noona tak mau.”

“Wae?”

“Karena appa tiri Luhan sudah minta maaf. Tapi aku masih mengkhawatirkannya.” Kai tampak sedih. “Aku ingin cepat tamat sekolah dasar kemudian beranjak dewasa. Aku ingin menyelamatkannya.”

Baekhyun kecil tersenyum tipis. “Kenapa Kai mau menyelamatkannya?”

“Karena aku sangat menyukainya.”

“Kai menyukainya? Kan Kai tak pernah bertemu lagi setelah itu.”

“Walaupun begitu aku ingin menjadi pelindungnya.”

“Kai sangat menyukainya ya?”

“Ne. Sangat!” Kai tersenyum ceria.     

 END Flash back

Baekhyun tersenyum. “Apa hal itu lumrah dibicarakan anak- anak kelas 4 SD, Kai?”

Baekhyun membaringkan tubuhnya disofa sambil tetap menatap TV yang menyala. Pikiran Baekhyun melayang.

“Kau sangat menyukainya… Bahkan tak menyadari besarnya perasaanku padamu.”

Tes

Tes

Air mata jatuh begitu saja dari pipi Baekhyun. “Kai… Saranghaeyo… Jeongmal..”

>>

 

“Terima kasih telah mengantarkanku ke Caffe.” Ucap Luhan ceria. Kai tersenyum dan turun dari motor besarnya.

“Kenapa Kai ikut turun?” tanya Luhan sambil memiringkan wajahnya.

“Karena aku akan jadi pelanggan di Caffe mu hari ini.”

“Eh? Baiklah! Akan aku beri pelayanan special!!” Luhan menarik lengan Kai untuk masuk kedalam caffe.

“Wah! Aku beruntung sekali!” Kai tersenyum manis.

Saat Luhan dan Kai masuk. Gerakan mereka terhenti tepat dipintu masuk melihat dua namja duduk di kursi paling ujung Caffe.

Kai menatap tajam Sehun dan Baekhyun yang nampak sedang menyeruput coffee yang mereka pesan.

“Sehun..” bisik Luhan. Entah bagaimana perasaan Luhan kini antara senang melihat Sehun namun takut bertemu dengan Sehun karena kejadian tadi malam.

Seketika itu, Luhan melepas tangannya dari lengan Kai. Sehun menyadari Luhan sudah datang dan ekspresi wajah Sehun mendingin setelah melihat Kai ada disamping Luhan.

Sehun berdiri dari posisinya. Sementara Baekhyun lebih memilih duduk di kursi sambil mengamati mereka.

“Selalu bersama Kai rupanya.” Sehun memandang Luhan marah. Luhan menunduk ia tak tahu harus mengatakan apa. Kai menarik Luhan kebelakangnya.

“Tidak ada hakmu untuk mengatur dengan siapa Luhan berteman, kan?”

Sehun seketika itu mencengkram kerah baju Kai. Luhan dan Baekhyun membulatkan matanya. Baekhyun langsung berlari kearah Sehun dan mencoba menahan Sehun. Kai hanya diam.

“Kau! Sudah kubilang jangan dekati Luhan! Mengapa kau tak juga mengerti!”

“Apa hakmu, oeh! Luhan dan aku lebih dulu saling mengenal!”

“Aku tak peduli!”

Buak!

Sehun memukul wajah Kai hingga Kai tersungkur dilantai. Semua mata di caffe itu tertuju pada mereka. Keributan mulai terdengar di caffe itu.

“Kai!!” Luhan langsung membantu Kai yang mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Luhan meletakkan kepala Kai dipangkuannya. Luhan cemas sekali melihat darah yang keluar dari sudut bibir Kai. “Kau baik- baik saja!!”

“Hentikan Sehun!!” Baekhyun mencoba menahan Sehun namun kemarah namja itu ternyata tak bisa dibendung.

Sehun kembali mendekati Kai dan mencengkram kerah baju Kai, saat sebuah pukulan akan melayang lagi.

“JANGAN!” Luhan menahan tangan Sehun dan menyebabkan ia tak sengaja terkena pukulan Sehun.

BRUAK!!

PRANG!!

Kai membulatkan matanya saat melihat Luhan tersungkur sambil memegangi punggungnya yang berbenturan dengan tembok. Tepatnya ditempat sebuah vas bunga yang tergantung ditembok. Vas bunga itu jatuh kelantai dan pecah.

“A..Ah!!” Sehun menatap tangannya yang baru saja memukul Luhan. Sehun terdiam ditempat. Tangannya gemetar hebat. Baekhyun membekap mulutnya sendiri.

“LUHAN!!” Kai langsung berlari kearah Luhan. Yang bisa Kai tangkap adalah Luhan yang meringis kesakitan. Bisa ia lihat darah merembes di seragam sekolah Luhan.

“BRENGSEK!” Teriak Kai keras.

Kai menatap Sehun tajam kemudian berjalan hendak memukul Sehun. Namun melihat wajah Sehun yang diselimuti rasa bersalah, tinju Kai terhenti. Baekhyun langsung menarik tubuh Sehun kebelakangnya seperti melindungi Sehun dari pukulan Kai.

Mata Baekhyun dan Kai bertemu.

“SHIT!!” Carut Kai sampai akhirnya ia membalikkan badannya dan berlari kearah Luhan.

“Luhan!! Kau baik- baik saja?!” Kai menggendong Luhan.

“Ugh…” Luhan hanya meringis kesakitan. Sepertinya benturan dipunggung Luhan cukup keras dan punggung Luhan terkena bagian yang cukup runcing dari vas bunga. Kai melihat sedikit air mata di sudut mata Luhan walau namja manis itu tidak menangis. Hanya saja ia merintih kesakitan.

“Ada apa ini?!” pemilik caffe menghampiri mereka. Ia lihat Luhan yang meringis kesakitan digendongan Kai.

“Luhan-sshi!” Pemilik caffe tampak cemas. “Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi?”

“Ahjusshi… Sepertinya Luhan akan izin hari ini.” Kai berlari keluar masih menggendong Luhan. Ahjussi pemilik caffe hanya mengangguk kemudian menatap Sehun yang terdiam.

“Sehun..” ujar Baekhyun pelan.

Sehun masih menatap kosong kedepan. Tangannya gemetar hebat. Ia tak pernah bermaksud menyakiti Luhan, dan yang terjadi kini ia menyakiti malaikat yang berusaha ia jaga. Sehun tak percaya ia bisa melakukannya walau ia tak sengaja.

“Sehun.. Semua akan baik- baik saja!” Baekhyun menarik tangan Sehun keluar dari caffe dan mencoba mencari sosok Kai dan Luhan. Namun sepertinya mereka sudah pergi.

“Aku … Menyakitinya…” bisik Sehun lirih.

>>

Diklinik yang ada ditengah kota Seoul.

“Ah…” Luhan menahan perih saat lukanya yang ada dipunggung diobati. Kai menggenggam tangan Luhan erat. Demi Tuhan ia tak tega melihat Luhan tersakiti seperti ini. Dan ini terjadi karena Luhan melindunginya.

“Lukanya cukup dalam. Namun jika diobati secara rutin akan cepat sembuh.” Ujar sang dokter sambil melilitkan perban dipunggung Luhan. Kai mengangguk pelan.  

Setelah selesai. Kai dan Luhan berterima kasih pada dokter dan pergi keapotek untuk menebus resep obat. Kai masih diam tak berbicara sedikitpun semenjak pulang dari klinik.

“Kai?” Luhan memegang pipi Kai yang kini sedang melamun. Mereka ada dibangku taman tepat ditengah kota Seoul. Tempat yang sama dengan kemarin malam saat mereka bertemu dengan Sehun dan Baekhyun.

“Mianhae.” Kai menunduk dalam.

“Wae?”

Kai akhirnya menatap mata Luhan. Rasa bersalah nampak jelas diwajah sayu Kai. “Karena aku tak bisa melindungimu.”

Luhan menghela nafas dalam. “Luka yang kurasakan tidak sebanding dengan rasa sakit saat aku melihat kalian berkelahi.”

Kai kembali menunduk. “Sehun memang mudah tersulut amarah. Apalagi saat ia sedang dikuasai emosi. Hal seperti itu sudah sering terjadi saat kami masih SMP.”

“Karena Baekhyun-sshi?” tanya Luhan pelan.

Kai mengangguk. “Kini ia marah bukan karena Baekhyun lagi.” Kai menghela nafas panjang kemudian membuka jas sekolahnya. Ia pasangkan ketubuh Luhan.

“Eh?” Luhan memandang bingung Kai.

“Rembesan darah diseragammu kelihatan.” Ujar Kai datar. Luhan mengangguk kemudian memakai jas sekolah Kai dengan benar. Walau jas sekolah Kai kebesaran ditubuh mungilnya. Jas sekolah Luhan sudah penuh dengan darah, jadi ia tak memakainya.  

“Tak kah kau mengerti amarah Sehun tadi?”

Luhan menunduk. “Apa yang harus kulakukan untuk kalian berdua?”

Kai menggeleng. “Aku tak tahu.”

>>

 

Hari sudah menjelang sore. Kai mengantarkan Luhan kerumahnya.

“Gomawo.” Ujar Luhan sambil tersenyum manis.

“Ne… Kau bisa sendiri dirumah?”

“Tentu. Memangnya kenapa?”

“Aku masih mencemaskanmu.” Kai menunduk. Ia tampak masih sangat merasa bersalah karena kejadian tadi. Luhan tersenyum kemudian membelai rambut Kai.

“Aku harus bagaimana agar kau tak merasa bersalah lagi?”

Kai memandang mata Luhan sendu. “Biarkan aku merawatmu.”

Luhan membulatkan matanya kemudian melipat tangannya didada. “Baik. Kau harus merawatku hingga lukaku sembuh!”

Kai tersenyum kemudian mengangguk senang. “Gomawo..”

“Seharusnya aku yang berterimakasih padamu.”

“Tidak. Kau mencoba melindungiku. Hal seperti itu tak pernah kubayangkan sama sekali.”

Luhan menunduk. “Aku hanya tak mau kalian merasakan perasaan bersalah setelah kalian bertengkar seperti itu. Jika salah satu dari kalian terluka… Pasti kalian akan menyesal suatu saat nanti dan aku tak mau kalian merasakan hal seperti itu.”

“Kau memang terlalu baik.”

“Kau yang terlalu baik padaku, Kai.”

Kai tersenyum. “Hmm… Bagaimana kalau aku masakkan sesuatu?”

“Kau bisa?” tanya Luhan sambil berlagak meremehkan.

“Tentu saja.”

Luhan terkekeh kemudian mengajak Kai masuk kedalam rumahnya. Sepertinya malam ini mereka akan sibuk untuk mencicipi eksperimen masakan Kai. Toh esoknya mereka tak akan bersekolah karena besok adalah hari minggu.

>>

Rumah Sehun.

“Sehun… keluarlah dahulu.” Panggil Baekhyun sambil mengetuk pintu kamar Sehun. Baekhyun memang sengaja menginap dirumah Sehun mengingat namja tampan itu lumayan terguncang akibat kejadian di caffe tadi siang.

Tak ada jawaban dari kamar Sehun.

Sehun mengunci dirinya sejak sampai dirumah. Baekhyun menghela nafas pelan. “Sejam lagi waktunya makan malam. Kau mau makan apa? Biar aku masakkan.” Ujar Baekhyun sekali lagi.

Tetap tak ada jawaban dari kamar Sehun.

“Sehun.” Baekhyun tetap pantang menyerah. “Kumohon jawab aku atau aku akan pulang!”

Klek

Pintu kamar Sehun terbuka. Baekhyun menghela nafas lega dan masuk kedalam kamar Sehun. Nampak Sehun sudah membaringkan tubuhnya diranjang kearah dinding membelakangi Baekhyun yang duduk ditepi ranjang Sehun.

“Hai namja tampan.” Ujar Baekhyun sambil memegang pundak Sehun.

Sehun nampaknya masih belum mau berbicara. Baekhyun berbaring disebelah Sehun kemudian memeluk punggung Sehun.

Tak menolak Sehun membiarkan namja manis itu memeluknya dari belakang.

“Kau mengkhawatirkan Luhan? Aku yakin ia sudah tidak apa- apa.”

“…”

“Luhan sangat berharga, kah?”

“…”

“Oh Sehun?”

Sehun berbalik badan. Baekhyun melepas pelukannya. Sehun kini menatap matanya dalam. Posisi mereka yang kurang nyaman membuat Baekhyun akan bangkit, namun tangan Sehun mengcegahnya.

Sehun memeluk Baekhyun erat.

“Sehun…”

“Kumohon… Biarkan seperti ini.. Hanya sebentar.”

Baekhyun menghela nafas kemudian membalas pelukan Sehun. “Kau menangis?”

Sehun tak menjawab tetap berbaring sambil memeluk tubuh Baekhyun. Lebih tepatnya wajah Sehun tenggelam didada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum dan membelai rambut Sehun. ia tahu Sehun sedang menangis. Sisi Sehun yang seperti ini hanya ia tunjukkan pada Baekhyun. Sehun tak akan pernah menangis jika hatinya benar- benar sakit. Ia namja yang sok kuat dan sangat mempertahankan pertahanan dirinya. Namun… Jika didepan Baekhyun, Sehun akan meluluhkan pertahanannya.

Dan hal ini berlaku juga pada Luhan.

Mungkin bukan untuk saat ini namun Sehun menangis karena rasa bersalahnya membuat Luhan terluka. Membuat orang yang ia cintai menderita karena dirinya.

“Uljima, Sehunnie.” Bisik Baekhyun pelan.

Sehun masih membenamkan wajahnya didada Baekhyun.

“Sehun sama sekali tidak jahat. Sehun tidak sengaja, kan? Luhan pasti mengerti itu.”

Sehun melonggarkan pelukannya kemudian duduk diranjangnya. Baekhyun juga melakukan hal yang sama.

Mata Sehun nampak merah. Baekhyun mengusap air mata Sehun.

“Sehun tetap saja kekanak- kanakan.”

“Jika kau lebih memilih cintaku dahulunya mungkin aku akan menjadi namja yang lebih dewasa.”

Baekhyun membulatkan matanya. “Sehun!!”

“Ne ne.. Mianhe.. Aku tahu sampai saat ini bahkan sampai detik ini kau masih sangat mencintai Kai.”

“Aku hanya belum bisa melupakan perasaan cintaku yang terlalu dalam kepadanya.”

Sehun mengangguk. “Saat aku mendapatkan namja yang kucintai dan ingin kujaga… Lagi- lagi Kai merebutnya dariku.”

“Kau menyukai Luhan?” Baekhyun mengecilkan volume suaranya.

Awalnya Sehun hanya dia tak mau menjawab, namun…

“Aku menyukai Luhan.” Jawab Sehun tegas. Baekhyun tersenyum kemudian mengangguk mantap.

“Aku akan mendukungmu, Sehun.”

“Gomawo…” Sehun menggenggam tangan Baekhyun erat. “Tapi jangan tinggalkan aku lagi… Hanya kau sahabat yang kumiliki.”

Baekhyun mengangguk. “Ne. Aku juga akan melindungi Sehun.”

To be continue…

 

 

 

rcl rcl rcl

kalo mau lanjut ne

hehe

mianhae kalo rada kacau

silahkan komentar kalo mau marahin hyobin >.<

gomawo

227 thoughts on “Another Promise Chapter 4

  1. tegang tegang baca.y

    ya sehun masalah baekhyun si kai nolak jg
    salahin baekhyun sana
    *dihajarbaekhyun

    ini cinta segi berapa ini ???
    ngga 1xan datengin chanyeol juga biar rame

    aeuhh penasaran
    loncat ke next part🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s