“The Betrayed Angel” Part 4

uhohohohoho

annyeonghaseyo ~

hyobin sedang senaaaaaanngg sekali karena banyak beredar pict pict mesra exo di happy camp x3

makasih happy camp :* sudah mempersatukan otp otp kami😄

seneng bgt ~~~ 

hujan hunhan kailu krisyeol dll~ yummyyyyy😄

okeee daripada dngrin celoteh hyobin.. Ayo lihat chap 4 nyaaahh~

RCL yaaaa🙂 gomawo

CAST : XI LUHAN, KAI, OH SEHUN, WU FAN. YI XING, KYUNGSOO, CHEN, SUHO, BAEKHYUN, CHANYEOL, TAO, XIUMIN.

with : Chunji (Teen Top)

MAIN PAIR : KAI-LUHAN, SEHUN-LUHAN

GENRE : FANTASY, SAD ROMANCE, ANGST

Ego similis vobis
A principio et finem
Sed tradidit
Non admittere
Superbia propter nimiam
Ego amare et sentire tradidit
Propter mea superbia
Sicut homo putredo ad finem saeculi

VALE

I like you
From the beginning and the end
But I betrayed
I would not admit
Because of my pride is too high
I  kill my love and my felling
for the sake of my pride
As the man who put the end of this rotten era

GOOD BYE

=Oh Sehun=

.

“The Betrayed Angel”

Part 4

Kim Hyobin

“Kajja.” Suho tersenyum lebar.

Klek

Pintu ruangan Kris terbuka lebar. Nampak Suho dan Luhan masuk kedalam ruangan Kris.

“Aku membawa Luhan..” Suho dengan semangat masuk kedalam ruangan.

Kris menatap lekat Luhan yang masih takut- takut untuk masuk sampai akhirnya Kai menghampiri Luhan dan menarik lembut Luhan masuk kedalam dan mendudukkannya di sofa.

Hanya Luhan yang duduk di sofa.

Chanyeol, Baekhyun, Lay, Suho, Kai dan Kris berdiri mengelilinginya.

 

[Luhan POV]

Kenapa hanya aku yang duduk?

Aku memandangi wajah mereka yang nampak asing bagiku. Sebenarnya aku masih merasa asing didekat Chanyeol dan Baekhyun. Padahal aku sudah mengenal mereka beberapa jam yang lalu. Kai berdiri tepat disampingku.

“Namaku Wu Fan.” Tiba- tiba orang yang paling tinggi diantara mereka membuka suara. Tatapannya sangat tajam menusukku.

Aku menatapnya takut- takut, entah mengapa rasanya aku tahu siapa dia. Senyumnya yang khas itu.

Aku yakin belum pernah bertemu dengan namja tinggi ini. Tapi aku tahu aku mengenalnya. Bahkan rasanya aku merindukannya.

“K..Kris..”

Semua yang ada diruangan itu menatapku agak kaget. Ah! Apa yang kukatakan tadi?

Aku membekap mulutku sendiri. Kris? Mengapa aku spontan saja mengatakan nama itu saat melihat namja tinggi itu.

“Kau tahu kalau panggilanku adalah Kris?” namja itu tersenyum kemudian mendekatiku. Ia menumpukan lututnya dilantai agar menyamai tinggiku karena aku duduk disofa.

Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat senyuman namja tinggi itu. Senyuman kasih sayang yang menenangkan.

“Aku tahu ingatanmu tentang klan tak sepenuhnya hilang. Luhan.. Panggilanku disini memang Kris. Seperti yang kau sebutkan barusan.”

Aku menunduk. Kalau memang benar ..

Kenapa aku bisa tahu?

Kris kembali berdiri dan mengambil posisi disamping Suho.

“Aku Yixing. Tapi biasanya dipanggil Lay. Lama tak jumpa Luhan.” Namja bermata lembut itu tersenyum setelah memperkenalkan diri. Namun yang ia sebut bukanlah salam kenal melainkan lama tak berjumpa.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Kemudian mataku terhenti pada namja yang menjemputku kekamar tadi.

“Namaku Suho. Lama tak bertemu.”

Aku mengangguk lagi. Memang mereka sangat familiar walau aku baru kali ini bertemu mereka.

Tapi apa benar aku pernah hidup bersama mereka dimasa lalu?

Sama seperti Kai yang mengaku sebagai suamiku dimasa lalu?

Aish! Aku sama sekali tidak ingat!

Pandangan mataku beralih pada Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdua tersenyum manis kemudian membentangkan tangannya.

“SELAMAT DATANG, LUHAN!!” teriak mereka berdua bersamaan.

Aku tersenyum tipis melihat tingkah mereka. Kemudian aku kembali menatap Kris. Ada sesuatu yang membuatku lebih penasaran padanya. Ia memandangku lekat tanpa berkedip sekalipun. Seakan ia mencari sesuatu didalam diriku.

“Anu.. Aku tak mengerti sama sekali. Bisakah kau jelaskan semuanya?” tanyaku pada Kris serius. Ia mengangguk pelan. Kris memulai penjelasannya.

“Jaman dahulu.. Saat bumi masih memiliki dua matahari, yaitu matahari biru dan matahari merah. Dibumi hidup dua klan yang berbeda. Saling mengayomi dan saling mendukung. Klan Angel dan Devil.”

Aku mengerutkan keningku. “Angel? Devil?” seketika itu aku ingat akan sesuatu kemudian menatap Kai yang masih dengan tatapan dinginnya menatap Kris yang masih berbicara.

“Angel dan Devil tak pernah menyerang satu sama lain walau kekuatan mereka sangat berlawanan. Hitam dan putih. Namun ada saja yang tak menyukai keharmonisan itu.  Salah satu Devil mengadu domba  hingga terjadi pertempuran antara dua klan. Akibat pertempuran hanya beberapa anggota klan yang tersisa. Matahari biru memberi kekuatan pada klan Angel dan matahari merah memberi kekuatan pada klan Devil. Sampai akhirnya mereka saling menyerang satu sama lain hingga matahari tercipta menjadi satu. Namun pertempuran itu belum berakhir sampai saat ini.”

Aku mulai mengerti jalan cerita Kris walau terdengar sangat mustahil. “Jadi kita klan apa?” tanyaku sedikit berbisik.

“Angel.”jawab Lay tegas. Aku mengangguk kemudian kembali menatap Kris.

“Matahari biru memiliki ‘jantung’. Dan salah satu klan Angel menjadi wadah menyimpan ‘jantung’ itu. Begitupun sebaliknya, Matahari merah juga memiliki ‘jantung’.”

“Jantung?” Aku memegang dadaku secara spontan.

“Bukan jantung seperti milik manusia. ‘Jantung’ itu menyerupai mutiara biru yang berwarna biru laut yang terang. Dan ‘Jantung’ itu adalah pusat kekuatan bagi klan Angel.”

Aku mengangguk mengerti.

“’Jantung’ itu ada padamu, Luhan.”

“MWO?” Aku membelalakkan mataku saat mendengar pernyataan Kris.

Ada padaku?

“Makanya para klan Devil mencoba mendapatkanmu. Jika kau dibunuh oleh mereka.. Kami semua akan mati. Klan Devil akan menguasai planet ini dengan segala bentuk kejahatan.” Kata Baekhyun pelan.

“Tapi.. Tapi kenapa aku? Aku bahkan baru saja mengetahui kenyataan itu.” Aku tetap tak habis pikir mengapa aku bisa menjadi penyimpan benda yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

“Matahari-lah yang menentukan siapa yang berhak menyimpan jantungnya.” Kris mendekati Luhan. “Hanya orang yang memiliki hati yang sangat murni yang bisa menyimpan jantung itu, Luhan.”

Aku hanya menunduk dalam. Pelan aku layangkan tanganku memegang dadaku yang berdetak tak karuan.

“Dan kekuatanmu telekinesis. Kau bisa menggerakkan benda yang kau mau dengan kekuatan pikiran. Kekuatanmu terpusat pada pikiranmu. Aku rasa kau tahu kalau kau bisa melihat masa lalu seseorang jika kau menyentuh orang itu.”

Aku mengangguk menyetujui perkataan Kris. “Aku memang bisa melakukannya dari kecil. Walau aku tak menyukai hal itu. Tapi.. untuk Telekinesis yang kau bilang barusan.. Aku tak yakin.” Aku menunduk lagi setelah mengatakan hal itu.

“Kekuatanmu masih terkunci karena kau tak menyadarinya.” Lay mendekatiku kemudian tersenyum manis. “Kau harus melatihnya terlebih dahulu. Sama seperti kami.”

Kai tiba- tiba memegang tanganku. “Tenang saja. Kau tak perlu memikirkan apapun. Aku akan melindungimu.”

Deg

Tiba- tiba jantungku bergetar lebih cepat. Apa aku senang Kai mengatakan hal seperti itu?

Kenapa aku ini?

Bodoh! Bukannya aku menyukai Sehun! Pabo!!

[End Luhan POV]

“Luhan? Apa yang kau pikirkan?” Kai memanggil nama Luhan lembut. Luhan menatap mata Kai yang menurutnya selalu terlihat sayu itu.

“Bukan.. Bukan apa- apa.” Balas Luhan pelan sambil berbisik.

Kai mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu. Lay memegang dahi Luhan dengan lembut.

“Sepertinya kau sudah pulih. Hmm.. Lebih baik kau mandi dulu. Sudah mau malam.” Ucap Lay lembut. Sepertinya bukan hanya tatapan matanya saja yang lembut tapi pembawaannya sangat menenangkan.

“Kalau begitu kita mandi sama- sama saja.” Chanyeol langsung exited.

Kris menatap tajam Chanyeol.

Saat itu juga Kai tiba- tiba ada dibelakang Luhan dan men-death glare Chanyeol. “Mau kubawa kepulau tak berpenghuni?” ucap Kai dingin.

“A..Ahahaha~ Ka.. Kalian kenapa sih? Luhan kan bukan yeoja.. Jadi tak apa- apa, kan?”

Pletak

Baekhyun menjitak kepala Chanyeol kemudian pergi begitu saja keluar dari ruangan. Baekhyun ngambek.

“Ya! Baekhyun! Jangan ngambek!” Chanyeol mengejar Baekhyun keluar dari ruangan. Suho dan Lay hanya bisa menghela nafas melihat tingkah bodoh Baekhyun dan Chanyeol.

“Aku akan memasak makanan dulu. Suho-hyung, bisa bantu aku~” Lay keluar dari ruangan diikuti oleh Suho yang manggut- manggut sendiri.

Alhasil diruangan itu tinggal Kai, Luhan, dan Kris.

“Kenapa kau kembali lagi?” tanya Luhan menatap Kai tajam.

“Mana mungkin aku membiarkan Chanyeol mengajakmu mandi bersama.” Kai masih tetap dengan wajah sok datarnya. Padahal tadi sudah kalang kabut sendiri.

 Kris menghela nafas panjang kemudian mendekati Luhan.

“Aku minta maaf.” Kris menunduk dalam. “Aku benar- benar minta maaf. Aku baru tahu saat oemma dan appa-ku meninggal.”

Kai merasa harus pergi dari ruangan itu. Kai berteleportasi entah kemana.

Luhan menatap tajam Kris. “Maksudmu?”

“Aku.. Kita adalah saudara. Aku hyung-mu.” Mata Kris berkaca- kaca. Luhan membulatkan matanya saat mendengar Kris mengatakan hal itu.

“Ap..Apa? Tapi.. Kenapa aku ada dipanti asuhan? .. Jadi aku punya keluarga?”

“Awalnya aku tak tahu. Ingatanku dimasa lalu sama sekali tak hilang. Dan dalam ingatan itu, aku dan kau bukanlah saudara. Namun dimasa ini berbeda Luhan. Kita terlahir sebagai saudara.”

Air mata jatuh membasahi pipi Kris.  “…Aku mewakili orang tua kita minta maaf kepadamu, Luhan. Mereka sangat menyayangimu. Namun mereka terpaksa melakukan hal itu.”

Luhan merasa air matanya akan tumpah. Rasa bahagia karena menemukan keluarga aslinya dan rasa kecewa karena tahu orang tuanya ternyata sudah meninggal bercampur menjadi satu.

“Hyu..Hyung.” Luhan langsung memeluk tubuh Kris. “Syukurlah.. Syukurlah aku menemukanmu. Aku bahagia.. Hiks..”

Kris membalas pelukan Luhan. “Mianhe. Aku baru bisa menemukanmu. Itupun berkat bantuan semuanya. Aku pikir kau akan membenciku.”

“Ani.. Mana mungkin aku membencimu!” Luhan menggeleng cepat.

“Gomawo… Jeongmal.. Mianhe, Luhan.”

“Gwechanayo.. Mulai sekarang jangan tinggalkan aku lagi.”

Luhan melepas pelukannya dan menghapus air matanya. “Jangan tinggalkan aku lagi. Berjanjilah!”

“Tentu. Aku berjanji. Aku akan melindungimu.” Kris memeluk Luhan lagi. Melepas rindunya pada adik semata wayangnya. Keluarga yang hanya ia miliki.

Suho mengintip dari balik pintu ruangan Kris. Suho mengembangkan senyumannya saat melihat pertemuan mengharukan Kris dengan Luhan.

“Syukurlah.. Setidaknya Kris masih bisa tersenyum bahagia..” Suho berjalan menjauh dari pintu ruangan Kris dengan perasaan lega.

***

“Sehun.. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya seseorang yang ada dihadapan Sehun.

Sehun duduk diam di singgasananya. Rumah orang tua yang mengasuhnya kini tidak seperti dahulunya lagi. Orang tua yang mengasuh Sehun kini berada dirumah sakit jiwa.

Sehun membuat mereka stress. Akibatnya, rumah itu menjadi markas rahasia kelompok mereka. Kelompok yang berpusat pada matahari merah.

Devil.

“Jika aku tahu Kai sudah bergabung secepat ini dengan mereka.. Aku akan membunuh Luhan saat kami masih di panti asuhan.” Desis Sehun bengis.

“Tak perlu disesali lagi Sehun-ah. Kami juga merasa bodoh karena tak segera membunuhnya.” Chen tiba- tiba ada didalam ruangan. Kyungsoo yang dari tadi ada didalam ruangan bersama Sehun menghela nafas panjang.

“Akting kalian berpura- pura menjadi temannya sangatlah mengagumkan. Itu sudah cukup membuktikan setiaan kalian padaku.” Sehun tersenyum dingin.

“Kami menunggu perintahmu, Sehun.” Kyungsoo menunduk dalam.

Sehun berdiri dari singasana-nya. Ia tatap wajah Kyungsoo yang nampak cemas.

“Jangan cemas, Kyungsoo. Walau kini Luhan ada ditangan mereka.. Jangan pikir kita akan kalah begitu saja. Tenang saja. ‘Jantung’ Matahari merah ada pada Kai. Mereka tak akan membunuh Kai. Tandanya.. Kita tak akan kehilangan kekuatan.” Sehun tersenyum penuh keyakinan. Chen mengangguk pelan.

“Dan kita punya tambang emas, kan?” Sehun memandang seseorang yang baru saja datang.

“Tao..”

Malam hari menjelang. Tak bisa dipungkiri kalau Luhan masih sangat belum nyaman dengan keadaannya.

Yang ia pikirkan kini adalah panti asuhannya. Ia bahkan belum berterima kasih telah dibesarkan oleh ahjumma pemilik panti asuhan dan mengucapkan kata- kata perpisahan.

Luhan tiba- tiba rindu dengan panti asuhan yang hangat itu. Tapi Luhan mengerti kalau ia hidup untuk membantu orang- orang klan-nya. Tempatnya adalah disini.

Luhan berjalan menjelajahi isi rumah itu. Karena sudah tengah malam, tak ada lagi yang berkeliaran. Semua sudah tidur dikamar masing- masing.

Saat kaki Luhan melangkah mendekati balkon yang ada dibagian selatan Minor House, Luhan melihat Kai sedang termenung memandangi bulan yang nampak sangat besar malam itu.

Luhan mendekati Kai diam- diam.

“Kau belum tidur?” tanya Kai tanpa melihat kearah Luhan.

Tertangkap basah, Luhan menggaruk kepalanya kemudian duduk disamping Kai yang duduk diatas pagar balkon yang memang bisa dijadikan tempat duduk untuk menikmati alam yang terbentang disekitar Minor House. 

“Kau sendiri?” Tanya Luhan sambil ikut- ikutan menatap bulan.

“Aku tidak tidur.”

“Eh? Kenapa?”

Kai mengalihkan pandangannya pada wajah Luhan. Ia tatap wajah Luhan yang memandangnya bingung.

“Karena aku bukan manusia. Aku tak butuh istirahat.”

Luhan nampaknya masih belum terbiasa dengan ucapan Kai. Luhan membulatkan matanya saat Kai mengatakan kalau dirinya bukanlah manusia.

“Memangnya kenapa kalau bukan manusia? Tubuhmu pasti lelah, kan? Kau membawaku kemari kemudian Chanyeol dan Baekhyun. Setidaknya istirahatkan tubuhmu.” Celoteh Luhan sambil melipat tangannya didada.

Kai membulatkan matanya mendengar perkataan Luhan yang ia anggap begitu polos. Sesaat nampak senyuman hangat terkembang dibibirnya.

“Uwaaaaa ~ Daebak!!” teriak Luhan tiba- tiba. Kai langsung mengernyit bingung yang melihat perubahan ekspresi Luhan yang langsung berbinar- binar.

“Baru kali ini aku melihat senyumanmu.” Luhan tersenyum riang.

Kai lagi- lagi dibuat melongo oleh Luhan. “Senyum? Hanya karena aku tersenyum kau bisa sesenang itu?”

Luhan mengangguk mantap. “Aku rasa senyumanmu sesuatu yang berharga.”

“Kau mengatakan senyuman setan berharga?”

Luhan mem-pout-kan bibir merahnya. Dengan cepat Luhan langsung mencubit pipi Kai.

“Mwo! Apa yang kau lakukan!” Kai hanya bisa pasrah ketika pipinya ditarik tarik oleh Luhan dengan gemasnya.

“Kai jelek!! Selalu saja bicara seperti itu! Kini kau ada disini, berarti kau bagian dari kami. Ingat itu.”

Lagi- lagi Kai tersenyum dengan ucapan Luhan.

“Kalau begitu kita masuk kedalam rumah kemudian istirahatlah.” Luhan menarik lengan Kai masuk kedalam rumah kembali kemudian mengunci pintu balkon.

“Sudah kubilang aku tak perlu istirahat.” Protes Kai lagi saat Luhan berjalan menuju kamarnya.

“Eh! Tunggu dulu. Kamarmu dimana?” Luhan membalikkan tubuhnya kemudian menatap Kai tajam.

Kai memutar bola matanya. “Sudah kubilang, kan? Aku ini tidak tidur. Jadi aku tidak punya kamar.”

“Jadi kau tidak pernah tidur sama sekali?”

“Kan sudah kubilang. Harus berapa kali aku memberitahumu.”

Luhan berfikir sejenak. Ia tatap banyak pintu yang ada dirumah ini.

“Tapi sepertinya dirumah ini kamar banyak sekali.”

Kai menatap pintu kamar yang banyak itu. “Seharusnya orang- orang klan lainnya ada disini. Salah satu yang membekukan sekolahmu tadi siang adalah anggota klan Angel. Dan yang menghentikan waktu tadi juga adalah anggota klan.” Jelas Kai.

Luhan mengangguk pelan. “Mengapa mereka mengkhianati klan?”

“Karena mereka dihasut oleh seseorang.”

“Dihasut?”

Kai memegang pipi Luhan.

Deg

Jantung Luhan kembali bergemuruh. Rasanya pipi yang disentuh oleh Kai terasa panas. Padahal suhu tubuh Kai sangat dingin.

“Kau tak perlu tahu.” Ujar Kai sambil berbisik ditelinga Luhan. Otomatis Luhan merasakan hal aneh menjalari hatinya.

Kai melingkarkan tangannya dipinggang Luhan yang kecil. Kai membenamkan wajahnya dipundak sempit Luhan.

“Kai?” Luhan berbisik pelan saat tahu kini Kai tengah memeluknya.

Kai tak menjawab panggilan Luhan. Menghirup aroma tubuh Luhan membuat Kai sedikit tenang. Aroma yang sangat ia rindukan berpuluh- puluh tahun lamanya.

Kai mendorong tubuh Luhan hingga merapat ke dinding. Luhan hanya bisa diam menerima perilaku Kai. Entah mengapa dirinya tak menolak sama sekali.

Masih memeluk pinggang Luhan, Kai menatap mata Luhan yang kini sibuk meneliti seluk beluk wajah tampan Kai. Jarak wajah mereka sangat sempit. Luhan bisa merasakan hembusan nafas Kai menerpa wajahnya.

“Kau tahu apa yang dilakukan suami istri malam hari?” kata Kai tiba- tiba.

Wajah Luhan langsung semerah tomat.

“Y..Ya! Kau.. Kau tidak berniat buruk, kan!!” Luhan jadi panik sendiri.

Kai tersenyum nakal. “Bukankah kau yang mengajakku untuk istirahat? Dan kau tahu.. Sebenarnya kamarmu adalah kamarku.. Kamar kita berdua.”

Luhan mendorong tubuh Kai. Tubuh mereka kini terpisah. Wajah Luhan tambah merah.

“K..Kai kakek- kakek mesum!!!!”

Luhan langsung berlari menuju kamarnya. Kai hanya memandang sosok Luhan yang masuk kedalam kamarnya. Tawa pelan terdengar dari bibir Kai.

“Menggodanya memang hal yang paling menyenangkan.” Kai masih tertawa.

 

“Kai jelek!! Selalu saja bicara seperti itu! Kini kau ada disini, berarti kau bagian dari kami. Ingat itu.”

Kai tersenyum mantap kemudian menghela nafasnya. “Aku hanya membutuhkanmu, Luhan. Aku tak butuh siapapun lagi.”

***

“Sehun mengapa menangis?”

Anak kecil yang bernama Sehun itu mengangkat wajahnya dan melihat namja manis tengah duduk disampingnya.

“Mereka bilang aku ini menyusahkan. Hiks..” Sehun masih menangis. Kedua tangan mungilnya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

Anak lelaki yang sangat cantik itu tersenyum kemudian memegang pundak Sehun pelan.

“Jangan menangis. Kalau mereka mengganggu lagi. Beritahu aku nee~.” Bujuk namja cantik itu sambil terus tersenyum manis.

Sehun mengangguk pelan kemudian menghapus air matanya.

“Luhan selalu tersenyum.. Apa kau tak merasa sedih tinggal dipanti asuhan?” tanya Sehun masih menyusap air matanya.

Luhan menggeleng. “Tidak. Aku sangat bahagia ada disini. Aku bisa bertemu Sehun dan ahjumma Kim. Aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian.”

Sehun membulatkan matanya. “Benarkah? Luhan senang mempunyai keluarga sepertiku?”

“Tentu.. Makanya jangan menangis lagi. Mulai sekarang kita akan selalu bersama- sama. Janji?” Luhan mengarahkan jari kelingkingnya kearah Sehun.

“Janji!” Sehun mengangguk mantap dan menyambut jari kelingking Luhan dengan kelingkingnya.

Tawa pecah diantara mereka setelahnya. Menandakan sebuah kebahagiaan tengah mereka rasakan.

Kebahagiaan yang tidak abadi.

 

 

Mata Sehun terbuka perlahan. Seketika itu ia duduk diranjangnya dan menghela nafas panjang. Kenangan masa lalu nya bersama Luhan ternyata masih saja menghantuinya.

“Mimpi tak penting.” Sehun mendengus kemudian turun dari ranjangnya. Sehun berjalan menuju jendela kamarnya. Ia sibak tirai kelabu yang menutupi jendela besar dikamarnya itu.

Sehun memandangi bulan yang nampak besar sekali malam itu.

“5 hari lagi… Red Night. Saat itu kekuatan kami akan bertambah besar dan dengan mudah aku akan membunuh Luhan. Setelah itu aku akan menghancurkan Klan yang sudah berani membuangku.”

Sehun mengepalkan tangannya. “Luhan.. Masa lalu akan terulang lagi. Dan aku akan kembali membunuhmu. Setelah itu… Semua akan berakhir. Kehancuran yang kami inginkan…”

***

Sraaakk

Jendela besar yang ada disamping ranjang Luhan tersibak. Cahaya matahari memenuhi ruangan yang tadinya gelap itu.

“Nggg…” Luhan bergumam saat matahari menerpa wajahnya.

“Bangunlah.”

Suara itu membuat Luhan membuka matanya.

“Hyung..” Luhan langsung duduk menyadari Kris ada dikamarnya. Kris tersenyum melihat dongsaeng-nya itu mengucek matanya dengan imut.

“Sepertinya tadi malam kau tidur larut.” Ucap Kris duduk ditepi ranjang Luhan.

Luhan mengangguk kemudian menggaruk kepalanya. “Tadi malam aku berdebat cukup panjang dengan Kai.” Jawab Luhan sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hahaha.. Tetap saja seperti dulu ya.” kata Kris sambil mengusap rambut Luhan.

“Hmm.. Hyung juga tahu ya… Kalau aku.. istri Kai dimasa lalu?” tanya Luhan takut- takut.

“Tentu. Mana mungkin aku melupakan saat dimana aku kehilangan tunanganku.” Kris melipat tangannya didada.

“Eh?”

“Hm.. Seharusnya waktu itu akulah yang menjadi suamimu. Klan awalnya tak menyutujui pernikahan kalian. Bagaimanapun Kai berasal dari klan yang memusuhi klan Angel. Ditakutkan hal yang buruk akan terjadi.. Tapi cinta kalian mengalahkan segalanya dan Kai membuktikan kesetiannya sampai sekarang pada klan kita.”

Luhan mengangguk mengerti. “Kai ternyata sangat mencintai ‘Luhan’ ya?”

“Tentu saja. Dia sangat mencintaimu.”

Luhan terdiam sesaat. “Bukan aku. Ia mencintai Luhan sebagai yeoja. Aku yakin bukan aku.” Wajah Luhan nampak sedih. Kris menghela nafas panjang.

“Aku juga tak mengerti dengan takdir. Kali ini susunan klan kita benar- benar dicampur aduk. Bahkan 2 orang anggota klan kita berhasil ditarik ke klan Devil. Banyak hal yang membingungkan kali ini. Kau terlahir sebagai namja.. Aku terlahir sebagai hyung-mu.. bahkan..”

“Kau hidup bersama dengan.. Sehun…” bisik Kris dalam hati.

Kris terdiam menunduk.

“Bahkan apa hyung? Apa ada keanehan lagi?”

Kris menggeleng. “Untuk yang ini kau tak usah tahu.”

“Wae?” Luhan semakin penasaran.

“Sudahlah. Cepat mandi dan bersiap untuk sarapan.”

Kris bangkit dari tempatnya kemudian keluar dari kamar Luhan.

“Masih adakah yang belum kuketahui?” Luhan bergumam.

***

“Uwaaa~ Akhirnya makaaan ~.” Ucap Baekhyun dan Chanyeol bersamaan dengan sangat teramat sangat riang.

Luhan hanya geleng- geleng melihat perilaku BaekYeol couple itu.

Meja makan besar itu memang cukup untuk 15 orang. Namun kursi yang dipakai kurang dari 10. Lay dari tadi sibuk mengantar makanan dari dapur ke meja makan. Dibantu oleh Suho dan Luhan. Kris duduk berhadapan dengan Kai. Disebelah Kai duduk Chanyeol dan Disebelah Kris duduk Baekhyun.

Setelah semua makan siap tertata rapi dimeja makan, Luhan mengambil posisi duduk disamping Baekhyun. Suho duduk disamping Luhan dan Lay duduk berhadapan dengan Luhan.

“Selamat makan.” Ucap mereka bersama kecuali Kai.

“Lay memang paling bisa ya kalau masak! Enak sekali!!” puji Chanyeol sambil mengacungkan kedua jempolnya. Baekhyun dan Luhan mengangguk setuju.

“Gomawo~ Aku senang kalian selalu menerima masakanku dengan wajah bahagia.” Lay jadi tersipu malu.

Kris tersenyum melihat suasana hangat yang tercipta. Suasana yang sangat ia rindukan.

Luhan sudah asyik bersenda gurau bersama Lay, Suho, dan Baekhyun. Chanyeol menikmati makannya dengan sesekali nimbrung dengan menyambung- nyambung perkataan Baekhyun.

Kai tersenyum tipis sambil memperhatikan Luhan yang tengah tertawa bersama.

“Kau berencana kesuatu tempat hari ini?” tanya Kris agak berbisik pada Kai.

Kai mengalihkan pandangannya pada Kris. “Ne.”

Kris menatap tajam Kai yang menyuap soup-nya. “Kemana?”

“Jangan khawatir. Aku akan pergi sendiri.”

“Kutanya kau mau kemana?” ulang Kris masih teguh bertanya.

Kai menghela nafasnya. “Bukan urusanmu. Yang harus kau lakukan hanya menjaga Luhan baik- baik agar tetap di Minor House.”

Kris nampak marah. Namun ia menahan emosinya dan melanjutkan acara makannya. Suho sebenarnya dari tadi mengawasi Kai dan Kris yang dari tadi berbicara.

Kris-hyung..” bisik Suho dalam hati.

Selesai makan, Baekhyun secara sukarela membersihkan meja makan dan Chanyeol yang mencuci piring. Kris masuk lagi kedalam ruangannya bersama Suho dan Lay. Luhan membantu Chanyeol mencuci piring.

Dan Kai…

Tepat selesai makan, Kai langsung menghilang begitu saja.

“Aigoo.. Apa sudah jadi hobby nya selalu menghilang begitu saja?” tanya Luhan sambil mencuci piring sedangkan Chanyeol mengeringkan piring yang Luhan cuci.

“Ne. Dia selalu seperti itu.” Chanyeol meletakkan piring yang baru saja ia keringkan dirak.

“Selalu? Aish, jinjja!” Luhan kembali mengeluh.

“Sebenarnya kau ingin selalu didekat Kai, kan? Ngaku saja~” goda Chanyeol sambil mengedipkan matanya. Luhan memutar bola matanya.

“Jujur saja aku tak mengingat sama sekali tentang masa lalu-ku bersama Kai. Hmm.. Apa menjadi istri Kai menyenangkan?” tanya Luhan sambil menyipitkan matanya kearah Chanyeol.

“Hahaha!! Pertanyaanmu ada- ada saja.” Chanyeol tersenyum mendengar pertanyaan Luhan.

“Lagipula.. Aku lebih mencemaskan seseorang.” Luhan berbisik.

“Eh? Seseorang?” Chanyeol mendekatkan wajahnya kearah Luhan. “Siapa?”

Luhan menggeleng pelan. “Tak usah dipikirkan.”

“Jangan bilang kalau kau menyukai orang lain!” tebak Chanyeol sambil tetap mengeringkan piring yang ada ditangannya.

Wajah Luhan langsung memerah.

“Ya! Beneran nih!!” Chanyeol nampak kaget sekali.

“Apanya yang beneran?!” Luhan malah salah tingkah. Ia mempercepat mencuci gelas yang ada ditangannya.

“Mwo? Kau menyukai seseorang selain Kai?!” tambah Chanyeol lagi. Beruntung mereka hanya berdua didapur karena Lay mengajak Baekhyun entah kemana. Kalau Chanyeol berteriak- teriak seperti itu siapapun pasti penasaran, kan?

“Aku menyukai orang itu sebelum aku bertemu Kai, tahu!” cibir Luhan.

“Ya!!! Luhan sadarlah! Kau ini istri Kai.” Chanyeol agak lebay kemudian menguncak- guncang pundak Luhan.

“Hentikan, Chanyeol. Aku sedang cuci piring nih!” Luhan menempelkan busa sabun cuci piring di pipi Chanyeol. Alhasil Chanyeol hanya mengerucutkan bibirnya.

Piip piip

Ponsel Luhan tiba- tiba berbunyi. Dengan sigap Luhan mencuci tangannya dan Chanyeol membantu mengeringkan tangan Luhan dengan kain lap yang ia pegang.

“E-mail?” Luhan mengerutkan dahinya. Chanyeol mendekatkan wajahnya kearah Luhan dan ikut melihat ponsel Luhan.

“Dari siapa tuh?” tanya Chanyeol penasaran. Luhan mengangkat bahunya kemudian menekan tombol ‘OK’.

Mata Luhan membulat seraya membaca pesan itu. seketika itu Luhan berlari keluar dari dapur.

“YA! Luhan!” Chanyeol langsung mengejar Luhan.

“Mana Kris-hyung! Aku harus ke panti asuhan!!” teriak Luhan sambil berlari keruangan Kris.

“Kris-hyung baru saja pergi. Ia tak ada diruangannya.”Chanyeol memegang lengan Luhan agar gerakan Luhan terhenti.

“La..Lalu bagaimana caranya aku ke Seoul? Kai-pun tak ada disini.” Luhan terlihat sangat panik.

“Memangnya ada apa? Apa isi e-mail itu?!” tanya Chanyeol tambah penasaran.

“Anak- anak panti asuhan.. Donghae.. Donghae diculik!” teriak Luhan menahan emosinya. Namun Chanyeol terlihat tenang saja.

“Lalu mengapa?” tanya Chanyeol santai.

Luhan tak percaya dengan apa yang dikatakan Chanyeol.

“Apa! Kenapa kau bicara seperti itu! Donghae adalah keluargaku!”

“Mereka bukan keluargamu! Lupakan mereka! Lihat saja sekarang mereka membuatmu repot, kan?! Tempatmu yang sebenarnya disini.” Chanyeol memegang pundak Luhan erat.

Luhan menggeleng cepat.

“Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!” Luhan mencoba melepaskan tangan Chanyeol yang ada dipundaknya.

“Tidak akan kubiarkan kau pergi kemana- mana.” Chanyeol menarik tangan Luhan menuju kamar Luhan. Perbedaan kekuatan nampak jelas. Chanyeol yang berbadan tinggi dan memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dari Luhan tentu mudah saja menyeret Luhan masuk kedalam kamarnya.

“Chanyeol!!” Luhan berteriak saat Chanyeol mengurung Luhan didalam kamarnya.

Dum

Dum

“Chanyeol! Buka pintunya! Aku ingin ke panti asuhan sekarang juga!”

“Tidak!” jawab Chanyeol masih tetap pada pendiriannya.

“Kumohon! Mereka keluargaku! Hiks…”

Luhan sudah meneteskan air matanya. Sebenarnya Chanyeol tak tega mendengar tangisan Luhan.

“Chanyeol..” Suho tiba- tiba ada disamping Chanyeol.

“Hyung..” Chanyeol menatap Suho agak segan.

“Kenapa kau mengunci Luhan dikamarnya?” tanya Suho menatap pintu kamar Luhan bingung.

“Salah satu anak panti asuhan diculik.. Dan Luhan akan pergi ke Seoul untuk menyelamatkan anak itu.” jelas Chanyeol dingin.

“Lantas mengapa kau mengurungnya?” Suho membulatkan matanya.

“Aku tak mau Luhan celaka. Apa hyung tahu bagaimana cemasnya aku pada dirinya saat ia diserang oleh anggota klan kita yang bergabung dengan devil?”

Suho menghela nafas. “Kau punya phoniex, kan? Gunakan phoniex-mu untuk pergi ke Seoul.” Ujar Suho tiba- tiba.

“MWO! Aku tak mau mengantarnya ke Seoul!” Chanyeol kukuh pada pendiriannya.

“Kekuatanmu yang terkuat Chanyeol. Bantulah Luhan. Dia akan menyalahkan dirinya seumur hidup jika terjadi sesuatu pada anak yang diculik itu. Kau mau membiarkan matahari kita menyimpan penyesalan seumur hidup?”

Chanyeol terdiam sesaat. “Cih!”

Seketika itu Chanyeol membukakan pintu kamar Luhan. Chanyeol melihat Luhan menangis terduduk dilantai.

Melihat pintu terbuka, Luhan langsung berhambur kearah Chanyeol dan Suho.

“Pakai  jaketmu. Aku akan mengantarmu ke Seoul.” Ucap Chanyeol tegas.

Luhan tersenyum cerah. “Go..Gomawo, Chanyeol!!” Luhan menghapus air matanya kemudian berlari kearah lemari untuk mengambil jaketnya.

“Aku siap.”

Chanyeol mengangguk. “Ayo.”

Suho tersenyum melihat Chanyeol dan Luhan pergi menuju halaman belakang.

“Hati- hatilah.” Bisik Suho dengan senyuman aneh.

Ditaman belakang.

Awalnya Luhan bingung mengapa Chanyeol mengajaknya ke halaman belakang. Luhan berfikir Chanyeol akan mengantarnya ke Seoul menggunakan mobil atau kendaraan lain.

Tepat ditengah halaman belakang yang cukup luas itu, Chanyeol menggumamkan sesuatu kemudian mengangkat tangan kanannya kelangit.

Seketika itu, langit berubah mendung. Luhan merasakan angin mulai mengamuk.

Chanyeol masih menggumamkan sesuatu. Sampai akhirnya sesosok burung yang amat besar dan sangat terlihat kuat turun dari langit.

“Mwo!!”Luhan membulatkan matanya saat melihat burung yang luar biasa indah dengan warna api itu.

Burung phoniex itu berhenti dihadapan Chanyeol seperti menghormati master-nya. Chanyeol tersenyum kemudian menghadap ke Luhan.

“Ayo naik. Ini peliharaanku yang bernama phoniex.” Kata Chanyeol bangga.

Luhan masih melongo melihat Phoniex raksasa itu. Dia tak pernah membayangkan akan bertemu dengan hewan yang disangkanya hanya ada didongeng atau cerita fiksi lainnya.

Chanyeol tersenyum melihat Luhan yang masih terpaku. Seketika itu, Chanyeol menggendong tubuh Luhan menaiki sang Phoniex.

“Mwo! Park Chanyeol!!” Luhan langsung memegang bulu burung itu sekuat tenaga. Chanyeol duduk dibelakang Luhan.

“Kau siap? Terbang!” Chanyeol terlihat riang sekali.

“UWAAAA” wajah Luhan pucat pasi.

Burung itu terbang dengan kencangnya keangkasa. Luhan bisa melihat minor house yang nampak sangat kecil dibawahnya.

“Indahnya..” Gumam Luhan walau ia masih takut.

Phoniex itu melaju menuju Seoul.

***

Tap

Tap

“Masih terlalu siang untuk menculik seorang anak, kan?” sindir seseorang yang mendekati Chunji yang tengah gelisah didalam gudang sekolah.

“Ma..Mau apa kau!” Chunji langsung memandang tajam orang itu.

“Caramu memang licik. Namun aku suka idemu untuk membawa Luhan keluar dari rumah persembunyiannya.” Kyungsoo tersenyum sinis.

“Tahu apa kau?” Chunji memandang Kyungsoo dengan tatapan remeh.

Kyungsoo menyunggingkan senyuman sinis dan merendahkan. “Akulah yang selama ini memberimu perintah, Chunji. Aku yang memberimu kekuatan untuk membunuh Luhan. Tapi kau selalu saja gagal. Padahal aku suka caramu saat mengunci tubuh Luhan dijalan raya.. Walau akhirnya ia ditolong oleh namja brengsek itu…”

Chunji membulatkan matanya. “Ja..Jadi kau! Setan itu!!” teriak Chunji dan mundur menjauh dari Kyungsoo.

Tiba- tiba baju sekolah yang dipakai Kyungsoo berubah menjadi baju serba hitam dengan jubah hitam.

Mata Kyungsoo tajam seperti pedang menembus tatapan mata Chunji yang ketakutan.

“K..Kau.. Kau sebenarnya siapa?!! Bukankah kau teman baik Luhan!” teriak Chunji.

Kyungsoo tersenyum. “Teman baik? Aku ada untuk membunuhnya!”

“Ti..Tidak mungkin.. Kau begitu bahagia ada disampingnya, kan!” teriak Chunji lagi.

Kyungsoo terdiam mendengar perkataan Chunji. “Ba…hagia?”

Seketika itu bumi terasa bergetar. Lantai gudang itu retak. Semua benda bergetar hebat. Bahkan beberapa tembok mengeluarkan serpihan pasir karena getaran semakin kuat.

Chunji menyender didinding. “Gempa!” teriak Chunji sambil melirik Donghae yang pingsan disudut ruangan. Lemari yang ada disamping Donghae terlihat akan rubuh. Seketika itu Chunji berlari dan menarik tubuh Donghae kecil itu.

PRAAAKKK

Lemari yang rubuh itu tak menimpa Donghae. Chunji menyelamatkannya.

Kyungsoo hanya menatap Chunji dengan tatapan super tajamnya. Getaran ditanah sudah tak terasa lagi. Semua sudah kembali tenang.

“Apa yang kau lakukan barusan!” teriak Chunji menatap Kyungsoo aneh.

Kyungsoo hanya diam tanpa ekspresi.

“Kenapa kau meyelamatkan anak itu?” tanya Kyungsoo akhirnya.

“Tentu saja. Yang kuincar hanya Luhan!”

Kyungsoo tersenyum sinis. “Naif.”

DEG

Tiba- tiba Kyungsoo merasakan firasat. Ia berjalan pelan menuju jendela gudang itu. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu.

“Ini bukan ulah Chen.” Bisik Kyungsoo.

Agak berlari Kyungsoo keluar dari gudang sekolah itu. Chunji hanya melihat kepergiaan Kyungsoo.

“Sebenarnya siapa mereka.. bu.. bukan..” Chunji memeluk lengannya. Bulu kuduknya berdiri.

“Mereka itu apa?”

***

Disuatu tempat yang ada di Seoul. Tepatnya di lapangan hijau yang ada disamping sekolah Luhan.

Kai melihat awan kelabu itu. “Chanyeol..” bisik Kai pelan.

“Mencemaskan seseorang?”tanya Sehun yang dari tadi ada dihadapan Kai.

Kai kembali menatap tajam Sehun. “Kau merencanakan sesuatu?!”

Sehun tertawa pelan. “Memangnya apa yang bisa aku rencanakan?”

Angin disekitar lapangan itu tiba- tiba mulai ribut. Sehun menatap Kai dengan kebencian.

“Kali ini kita bertemu memang untuk menyelesaikannya, kan?” Sehun mengayunkan tangannya. Seketika itu Kai menghindari amukan angin yang menuju kearahnya.

Kai tiba dibelakang Sehun. Secepat kilat Sehun membalikkan badannya. Mereka kembali bertatapan. Saat Sehun kembali membuat angin dibelakangnya berputar cepat, Kai memandang Sehun sejam yang ia bisa.

“Apa yang membuatmu membenci Luhan? Kusangka perasaanmu sedikit melunak karena kau hidup bersama Luhan pada kehidupan kali ini.”

Sehun tersenyum kecut. “Hidup bersamanya tak merubah apapun. Aku tetap membencinya.”

Kai menatap tajam Sehun. “Kau bohong.”

Sehun membulatkan matanya mendengar sanggahan Kai.

“Apa yang membuatmu berfikir kalau aku berbohong, oeh?!”

“Kalau kau memang membencinya. Mengapa kau tak membunuhnya saat kami belum menjemput Luhan ke Minor House. Aku yakin kau sudah lama menyadari kalau kau Oh Sehun sang pemberontak.”

“Kenapa aku tidak membunuhnya? Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?”

Kai menghela nafas panjang. “Dan… Seharusnya kau lebih mencemaskan dirimu.” Sehun tersenyum dan mengarahkan angin besar yang ia cintakan tadi. “..Karena aku akan membunuhmu.”

Kai siap- siap berteleportasi, namun..

“KAI!”

Pekikan seseorang menghentikan angin Sehun. 

[TBC]

masih membingungkankah?

tanya aja sama hyobin ya kalo masih bingung..

RCL please🙂

gamsahamnida ~~~

144 thoughts on ““The Betrayed Angel” Part 4

  1. whoaaaaa!!!!! Sehun mau bunuh Luhan?!!!!! #plak!! lebay
    jangan dunz,,,,, ceritanya semakin tegang yah….. bagus banget…:D

  2. Kai sehun luhan ok cinta segi tiga dan aku membenci itu , kenapa karna akan membuat org lain menderita, ughhhh… Sehun adik kris .. Dan d.o serta chen pura” jadi tmen baik luhan, haha jahatnya . Sehun arghhhh kaga ada perasaan apa lu bang sma skali ke luhan walau lu benci dia, ? Tp seenggaknya kan udh hidup brg dipanti asuhan lama

  3. kyaaaaaa sehuuuunnn
    iya bnet kata kai,sbnrnya sehun itu punya rasa ma luhan.
    nnti klo dh berhadapan langsung ma luhan juga sehun gk akan sanggup buat bunuh luhan.

  4. Sumpah belum ngerti alurnya tapi usahain ya warna tulisannya jangan warna warni!!! susah bacanya, mata aku sakit

  5. Chanyeol… kamu itu gimana sih? udah dapet Baekhyun masih aja mau Luhan…
    lihat aja ntar nanti kalau di kirim sama Kai di pulau tak berpenghuni😄

  6. AAAAAAA~ SERU!!!! (●≧▽≦)
    ADUH MAKIN PENASARAN!!!! KYAAA~ *teriak bareng Chen
    Kak kok disini belum Ada baozi sih?
    Ya ampun beneran gak kebayang kalo kenyataannya Chen sama Kyungsoo jahat. Padahalkan dia temennya Luhan.😦
    Hah~
    Bingung masa mau comment apa? -,- oh iya chap.2nya maaf gak comment , ketiduran😀
    Jadi yang ngendaliin Chunji itu sih Kyungsoo? YAK~ KYUNGSOO KAU TAK PANTAS JADI JAHAT. SEHARUSNYA KAU DI PIHAK ANGEL AJA! Huhuhu~ sudah kecewa dengan Tao yang milih jadi devil , eh si kyungsoo ikut-ikutan
    YAK ~ CHEN JUGA SAMA ! Huaa~ *nangis dipojokan T.T
    Hufft~ capek yaa comment banyak , yasudah sekian ~
    Keep writing author rurunka and ~
    Annyeong \(^o^)/

  7. critanya udah ga bkin q pusing lg, dan q rada kcewa kai ga cium luhan , wae~ T.T
    q kira sehun orang baik” eh trnyta dia munafik.
    dan emang ya, q rasain sndri lo, tatapan kai i2 hangat, tajam, dan menintimidasi. Pko.a love you Kai

  8. baekyeol couple di mana2 tetep rusuh ya -_- tapi mereka couple kesayangan ku #cium😄
    pokoknya di ff ini aku gak mau siapapun mati termasuk lulu apalagi baekki! inget itu thor!😄

  9. Kyungsoo sama chen yaa gak nyangka sama sekali padahal mereka deket sama luhan.. duh, waktu ketemu hunkai tegang sendiri, sehun dia… aaa baca masa lalu mereka jadi sedih sendiri.. setega itu ya sehun..

  10. Hwa!! ga nyangka~ Sehun Appa~ tega-teganya kau ingin membunuh Umma😥

    Jujur ngaku, aku gasuka KaiLu. egois emang, karena aku HunHan hardshipper😥 rasanya heart-breaking banget liat momen mereka diatas penderitaan Sehun
    /jiah malah curcol -_-/

    Tapi nggak apa, aku suka tema FF ini, fantasy >< dan plot nya~ ah, nggak sabar baca kelanjutannya
    #terbang ke Chapie 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s