Another Promise Chapter 5

Annyeong~

come back dengan ff Another Promise

ini emg rada lama ya update nyaaa… Mianhae X3

masih ada yang ingat kan cerita ini FF

komen ny jgn lupa yaaa chingu

biar aku lebih semangat post ff nyaaahh

hwaiting!

salam exotics!

Genre : School life, romance, drama, angst

Cast : Oh Sehoon, Xi Lu Han, Kim Jong In

Other : Byun Baekhyun

Pairing : KAIHAN/KAILU, HUNHAN

OTHER OTP : KAIBAEK- HUNBAEK

ANOTHER PROMISE

CHAPTER 5

Kim Hyobin

Luhan mengamati rumah Sehun dari jendela kamarnya. Kai sudah tertidur dikamar tamu. Entah mengapa kejadian tadi siang tidak membuat matanya mengantuk. Ia malah sangat mencemaskan Sehun.

“Lampunya masih hidup.” Bisik Luhan sambil menghela nafas. “…Apa Sehun masih bangun?”

Perlahan Luhan naik keatas ranjangnya dan melirik jendela berkali- kali. Ia tak bisa tenang. Karena punggungnya terluka, Luhan harus tidur dengan posisi tertelungkup.

“Tidak! Aku tak bisa tenang!” Luhan kembali bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Ia ambil jaketnya yang ada diruang tamu dan berjalan menuju pintu rumahnya.

Tok

Tok

 

Luhan mengetuk pintu rumah Sehun pelan. Ia tahu betul kalau ini sudah terlalu larut untuk bertamu kerumah seseorang.

Tok

Tok

Luhan mengulanginya lagi sambil menelan ludahnya dan…

Klek

“Ah.. Mianhae..” Luhan tersenyum saat melihat Baekhyun membuka pintu rumah Sehun. “Baekhyun-sshi menginap dirumah Sehun, ya.

“Luhan-sshi?” mata sipit Baekhyun nampak membulat. “Ada apa malam- malam begini…”

“Se…Sehun ada?” tanya Luhan sambil meremas jarinya.

“Sehun sudah tidur.. Hmm.. Lebih baik kau istirahat saja. Kau terluka, kan? Bagaimana keadaanmu?” Baekhyun nampak khawatir.

“Aku baik- baik saja.. Kalau begitu aku pulang dulu. Gomawo..” Luhan berbalik badan kemudian kembali berjalan menuju rumahnya. Baekhyun kembali menutup pintu rumah Sehun.

“Siapa?” tanya Sehun keluar dari dapur.

“Bukan siapa- siapa.” Baekhyun berjalan kembali kekamar tamu untuk tidur. Sehun mengangguk kemudian masuk kembali kekamarnya.

… 

Keesokan harinya.

“Ah.. Kai kau sudah bangun? Annyeong~” Luhan tersenyum saat melihat Kai keluar dari kamar tamu sambil menggaruk kepalanya.

“Ne.. Annyeong.” Sapa Kai sambil menuju kamar mandi.

Luhan kembali sibuk dengan peralatan masaknya. Benar, Luhan sedang memasak sarapan untuk mereka berdua.

Kring

Kring

Luhan langsung mengecilkan kompor dan berjalan keruang tengah untuk mengangkat telpon.

“Yoboseyo?”

Luhannie- chagiya! Ini noona~~ Bogoshippoyo!!” Terdengar teriakan manja diseberang telpon.

“Mwo! Heechul-noona~ Apa kabar, noona?”

Baik.. Hmm.. Bagaimana kabarmu disana? Mianhae, noona baru bisa menelponmu sekarang.”

“Gwechanayo, noona. Aku baik- baik saja. Kai selalu membantuku.”

Kai? Jongin? Aigoo.. Anak itu selalu saja berceloteh tentangmu. Pasti dia langsung menemuimu saat kau sampai di Korea. Noona sudah sengaja memasukkanmu ke sekolah yang sama dengan Jongin.”

“Ne, noona. Kami sekelas.”

Nampaknya kau bahagia tinggal di Korea.. Hmm noona lega kalau begitu.”

“Noona tak perlu cemas. Bagaimana keadaan noona?”

Tentu saja baik, chagiya. Kyuhyun sangat cerewet. Salah sedikit dia langsung overprotektif. Oh ya, noona sepertinya belum bisa pulang ke Korea dalam waktu dekat.

“Tidak masalah, noona.”

Kalau begitu nanti noona telpon lagi, chagiya. Jangan lupa makan dengan benar dan telpon noona kalau kau ada masalah atau membutuhkan sesuatu.”

“Xie xie , noona.”

Saranghaeyo, Luhannie.”

“Nado saranghae, Heechul- noona.”

Tuuut… Tuuut…”

Heechul mematikan sambungan telpon. Luhan tersenyum senang kemudian meletakkan telpon tadi ketempat semula. Sosok Heechul terlihat sebagai sosok seorang ibu bagi Luhan. Ia sangat menyayangi Heechul yang selalu berusaha melindunginya.

“Dari Heechul-noona?” tanya Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ne.” Luhan kembali berjalan menuju dapur dan bergulat dengan masakannya. Kai mengikuti Luhan dan berdiri disamping Luhan.

“Apa yang Heechul-noona katakan?”

“Banyak. Tentangmu dan tentang dia yang tidak bisa pulang ke Korea dalam waktu dekat.” Jelas Luhan sambil mengaduk sayurannya.

Kai mengangguk kemudian mengerutkan dahinya. “Eh? Tentangku?”

Luhan tersenyum dan manatap Kai. “Tentang kau yang selalu berceloteh tentang diriku. Heechul-noona bilang kau selalu ribut tentangku jadi saat aku sampai di Korea kau pasti akan langsung menemuiku.”

“Cih! Noona banyak omong!” Kai berjalan pergi menuju ruangan TV. Luhan hanya tertawa pelan melihat Kai yang mengomel karena Heechul. Bukannya apa- apa, itu menandakan kedekatan Kai dengan Heechul memang sangat erat. 

“Ah.. Kai~ Sarapan kita sudah siap nih!!” teriak Luhan akhirnya.

***

Sehun menatap Baekhyun penuh selidik pagi ini. Sikap Baekhyun yang dari tadi pagi agak aneh membuat Sehun jadi penuh tanda tanya.

“Baekhyun.. Kau yakin baik- baik saja?”

Sehun menggaruk kepalanya. “Ne? Ada apa?”

“Tak biasanya kau memasak sarapan untuk kita berdua. Kau akan memilih membeli makanan daripada memasak sarapan. Bukankah dahulu kau mengatakan kalau kau sangat malas jika baru bangun tidur harus langsung memasak? Dulu kau bahkan menyuruh Kai untuk memasak sarapan saat kita menginap diapartemenmu.” Jelas Sehun panjang lebar.

Baekhyun hanya menghela nafas panjang. “Jadi kau tak mau aku membuatkanmu sarapan?”

“Bu.. Bukan begitu sih.”

“Nah! Terima saja kalau begitu!” Baekhyun mencibir kecil kearah Sehun.

“Baiklah~” Sehun akhirnya duduk dengan tenang dimeja makan menunggu masakan Baekhyun siap. Tersungging senyuman tipis diwajah Sehun.

***

Kai melirik Luhan yang nampak memasukan ramyun dan sayuran yang tadi ia masak kedalam sebuah kotak makanan kemudian menutupnya.

“Untuk siapa?” tanya Kai sambil memakan telur gorengnya.

“Sehun.” jawab Luhan sambil tersenyum.

Aktifitas Kai terhenti saat itu juga. Ia menelan kasar telur dadarnya kemudian menatap Luhan tak percaya. “Untuk Sehun?”

“Ne.. Ada yang salah?”

“Aku tak mau kau menemuinya lagi.” ujar Kai tegas.

“Wae? Kai jangan- jangan kau menyalahkan Sehun atas kejadian kemarin?” Luhan menggeleng pelan. “Dia tidak sengaja melukaiku Kai.”

Kai terdiam. “Aku hanya… Mencemaskanmu. Aku takut kau tersakiti lagi.”

Luhan tersenyum mengerti kemudian memegang pundak Kai. “Gomawo, Kai. Tapi kurasa Sehun belum makan…Jadi aku akan mengantarkan makanan ini dulu.”

Kai langsung menghentikan langkah Luhan dengan memegang lengan Luhan.

“Biar aku yang mengantarnya.”

“Eh?” Luhan menatap tajam Kai.

“Makanlah. Tunggu aku disini dan aku akan segera kembali.” Kai mengambil kotak makan dari tangan Luhan kemudian berjalan keluar begitu saja. Luhan hanya bisa menghela nafas panjang dan menuruti kata- kata Kai.

***

Tok

Tok

Baru saja Sehun akan menyendok makanannya. Ia mendengar suara ketokan pintu. Baekhyun langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju pintu rumah. Sehun hanya menghela nafasnya. Ia memilih menunggu Baekhyun dan makan bersama.

“Ne?” Baekhyun membuka pintu rumah Sehun dan matanya membulat melihat siapa yang baru saja datang.

“Lho? Baekhyun? Kau ada disini?” tanya Kai saat melihat Baekhyun.

“K..Kai?” Baekhyun agak tergagap. “Mengapa pagi- pagi kau sudah kesini?”

“Aku? Aku menginap dirumah Heechul-noo.. Ah! Maksudku rumah Luhan. Sehun ada?”

Baekhyun terdiam sesaat namun secepatnya ia menjawab pertanyaan Kai. “Ada.. Dia diruang makan.”

“Mwo? Dia sudah sarapan?”

“Ne, sedang.. Aku yang memasaknya.” Ujar Baekhyun bangga. 

Kai melirik kotak makanan yang ada ditangan kanannya. “Luhan pasti sedih kalau aku membawa kotak makan ini pulang.

“Hm.. Boleh aku bertemu dengan Sehun?” tanya Kai lagi.

Baekhyun mengangguk pelan. “Silahkan masuk.”

Kai berjalan masuk kerumah Sehun kemudian berjalan bersama Baekhyun kedalam ruangan makan.

“Siapa yan-“

Ucapan Sehun terhenti dan mata Sehun membulat sempurna saat melihat Kai mendekatinya. Sehun langsung berdiri dari posisinya.

“Mau apa kau kesini?”

Kai meletakkan kotak makan itu dimeja makan dan menatap Sehun tajam. “Ini.”

“Apa ini?” tanya Sehun nampak bingung walau nada bicaranya masih sinis.

“Luhan membuatkanmu sarapan.”

Baekhyun seketika itu membulatkan matanya. Sehun nampak terdiam dan tak bisa berkata- kata. Ia tatapi kotak makan berwarna pink itu dengan sendu. Sehun terduduk dikursinya. Ia membenamkan wajahnya dikedua telapak tangannya.

Kai menghela nafas panjang kemudian menatap Baekhyun yang menunduk dibelakangnya.

“Mianhae.. Kau memasak pagi ini untuk Sehun, kan?” tanya Kai sepertinya mengetahui keresahan Baekhyun.

“Ne.. “ Baekhyun mengangguk. “Tapi jika Sehun ingin memakan makanan dari Luhan.. Aku tak apa- apa, kok.” Baekhyun berusaha tersenyum.

“Wae? Padahal aku sudah menyakitinya? Kenapa?” Sehun berbisik lirih. Kai dapat melihat air mata Sehun turun begitu saja. Nampaknya namja tampan itu memang sangat menyesal. Sehun menatap kotak makan itu lekat kemudian menggeleng pelan.

“Katakan pada Luhan aku tak bisa menerimanya.” Sehun berdiri dan berjalan kekamarnya.

“Tunggu!” Kai langsung mencegah Sehun. “Apa maksudmu! Luhan akan sangat sedih jika kau tak menerimanya.”

Sehun berbalik badan kemudian menatap Kai sendu. “Aku serahkan Luhan padamu. Jika didekatku dia akan menderita. Aku rela jika ini yang terbaik untuknya.” Air mata jatuh dipipi Sehun. Matanya yang berkaca- kaca nampak sangat menyakitkan bagi Kai. Baru kali ini ia melihat Sehun seperti ini.

“Jika denganku… Dia akan menderita. Aku hanya akan melukainya.” Sehun menunduk dan mengepalkan tangannya. “…Awalnya aku ingin menjadikan dirinya alat balas dendamku untuk menghancurkanmu. Namun dengan cepat anak itu merubah hatiku. Aku jatuh cinta padanya.”

Kai menunduk mendengar pengakuan Sehun. Namun bibir tebal Kai serasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Baekhyun juga lebih memilih diam dan tak berkomentar apapun.

“Aku benar- benar tak bisa melihat dia lebih tersakiti lagi jika ada didekatku.” Sehun menatap tajam Kai kemudian tersenyum. “Aku lebih memilih mundur, Kai.”

Blam

Kai tak bisa berbuat apa- apa saat melihat pintu kamar Sehun tertutup. Baekhyun memeluk kedua lengannya sendiri.

Hiks

Kai membalikkan badannya dan menatap Baekhyun yang menangis. Hati Kai ikut resah melihat namja manis itu menangis.

“Jangan menangis lagi. Apa yang meresahkan hatimu?” tanya Kai sambil mengusap air mata Baekhyun.

“Aku… Aku hanya tak tahan melihat kalian bersitegang seperti tadi.”

Kai memeluk tubuh Baekhyun sambil mengusap rambut halus Baekhyun lembut.

“Jangan salahkan dirimu lagi.”

“Kalian saling memusuhi seperti ini karena aku. Bahkan awalnya Sehun akan menjadikan Luhan sebagai alatnya balas dendam padamu. Seandainya aku tidak ada..”

“Sttt!”

Kai meletakkan jari telunjuknya dibibir Baekhyun. Hal itu sontak membuat namja itu terdiam sesaat.

“Aku beruntung mengenalmu. Aku tak pernah menyesal menjadi sahabatmu. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu.”

Baekhyun menggeleng pelan. “Jangan menghiburku.”

“Walau aku tak bisa menyayangimu seperti aku menyayangi Luhan, tapi kau orang yang penting dalam hidupku. Yang bisa menenangkan Sehun kini hanyalah dirimu, Baekhyun.”

“Yang bisa menenangkan dia hanya Luhan.”

Kai menghela nafasnya panjang. “Yang ia butuhkan hanya menentukan perasaannya. Ia sedang kacau.”

Baekhyun mengangguk kemudian tersenyum. “Kembalilah kerumah Luhan. Aku akan menenangkan Sehun.”

“Aku mengandalkanmu, Baekhyun.”

Baekhyun mengangguk. Kai berjalan keluar. Baekhyun menghela nafasnya saat ia mendengar bunyi pintu tertutup. Seketika itu Baekhyun melirik kotak makanan yang ada dimeja makan.

“Luhan… Kau membuat semuanya semakin buruk.” Bisik Baekhyun kemudian berjalan kekamar Sehun.

Klek

Baekhyun menghela nafas lega ketika tahu kamar Sehun tidak dikunci. Perlahan ia masuk dan melihat Sehun tengah duduk ditepi ranjangnya.

“Sehun.. Uljima.” Baekhyun duduk disamping Sehun.

Kini Sehun menatap Baekhyun dalam. “Apa hal ini yang kau rasakan saat kau merelakan Kai? Apa sesakit ini?”

Baekhyun menunduk kemudian mengangguk.

“Apa hal ini yang terbaik, Baekhyun?” Sehun menghapus air matanya kasar. “Aku tak suka terlihat lemah didepan orang lain. Tapi…”

“Didepanku kau tak perlu menahan dirimu.”

“Gomawo..” Sehun menangis terisak. Hanya kali ini saja ia akan menangis seperti ini.

Ini yang terakhir.

Sehun menetapkan hatinya.

***

“Bagaimana? Kenapa lama sekali?” tanya Luhan saat Kai kembali dan duduk dikursinya untuk melanjutkan kembali makannya.

“Makanlah dulu.” Kai menunjuk makanan Luhan yang belum ia sentuh sama sekali. “Kau menungguku, ya?”

“Tentu.” Jawab Luhan cepat.

Apa yang harus kukatakan pada Luhan? Apa aku harus mengatakan kalau Sehun akan menjauhinya mulai dari sekarang?” batin Kai.

Luhan baru saja selesai mandi begitu juga dengan Kai. Luhan mendekati Kai yang terlihat sedang menonton acara TV. Ia lirik jam dinding yang masih menunjukkan jam 9 pagi.

“Hey.” Sapa Luhan sambil duduk disamping Kai.

“Kau sudah siap mandi?” Kai tersenyum sesaat.

Luhan mengangguk kemudian ikut menatap layar TV. Agak ragu Luhan menatap Kai kemudian menghela nafas panjang.

“Pasti terjadi sesuatu tadi, kan?” ucap Luhan tiba- tiba.

Kai hanya diam menatap acara TV walau tak ada satupun makna acara TV yang dari tadi ia tonton tertangkap oleh otaknya.

“Kai? Aku tahu Baekhyun-sshi ada disana.”

“Tidak ada apa- apa. Kau tak perlu cemas.”

“Kau tak berbohong padaku, kan? Lalu … Sehun memakan makanan yang kuberikan?”

Deg

Kai merasa jantungnya jadi tak karuan. Apa yang harus ia jawab?

Apa yang harus ia katakan?

“Kai?” Luhan mengayunkan tangannya ditepat didepan wajah Kai.

“Ah!” Kai tersentak dan menggaruk kepalanya.

Ting tong

Kai dan Luhan mengarahkan pandangan mereka pada pintu.

“Siapa, ya?” desis Luhan pelan sambil berjalan kearah pintu. Kai hanya berdoa didalam hati agar yang datang bukanlah Baekhyun atau Sehun.

“MWO~”

Kai medengar teriakan Luhan. Namun bukan teriakan takut atau hal buruk lainnya. Kai penasaran langsung berjalan menyusul Luhan dan seketika itu matanya membulat.

“Luhannie~ Aku pulang~”

“Taemin-hyung!!” Luhan dan Taemin langsung berpelukan.

“Kau merindukanku?”

“Tentu.. Oh ya? Tadi Heechul-noona menelponku.”

“Oemma menelpon? Padahal aku sudah bilang ini kejutan.”

“Memang menelpon tapi Heechul-noona tak mengatakan apapun tentang kepulangan hyung. Aku sangat kaget.”

“Oh begitu~ Berarti ini masih surprice, kan?”

“ Masih dan sangat!” Luhan dan Taemin kembali berpelukan.

“Aku merindukan adikku yang cantik!” Taemin melepas pelukannya kemudian mencubit pipi Luhan pelan. “Syukurlah ia terlihat baik- baik saja.” Bisik Taemin didalam hati.

Mata Taemin kini teralih pada namja yang seketika itu terdiam terpaku melihat Taemin dan Luhan saling melepas rindu.

“JONGIIIINNNN~” Senyum Taemin langsung mengembang dan seketika itu Taemin melompat ketubuh Kai.

“Waaa!! Kenapa kau ada disini!” Kai berusaha melepaskan pelukan Taemin.

“Kenapa kau bertanya? Ini rumahku tahu!” Taemin mencibir.

“Oh iya…” Kai menggaruk kepalanya.

“Seharusnya aku yang bertanya? Kalian tinggal serumah?” tatapan Taemin langsung menyelidiki Kai dan Luhan.

“Kai kebetulan menginap disini, hyung.”

“Oh.. Kebetulan ya?” Taemin menyipitkan matanya melihat Kai.

“Ini benar- benar kebetulan!” Kai langsung menegaskan. Taemin memutar bola matanya kemudian merangkul tubuh Luhan.

“Ne Ne.. Terserah kau!” Taemin menarik tangan Luhan dan berjalan menuju dapur. “Aku lapar Luhannie~”

“Hyung mau aku masakkan sesuatu?” tanya Luhan lembut.

Taemin menggeleng pelan. “Kita makan diluar saja yuk!”

“Kami baru saja selesai makan!” Kai langsung menarik tangan Luhan menjauhi Taemin.

“Mwo? Kalau begitu siang nanti kita jalan- jalan yuk.” Ajak Taemin tidak menyerah.

“Luhan tak bisa keluar. Dia harus banyak istirahat karena dia sedang sakit!”

“Eh?” Taemin langsung menatap Luhan cemas. “Kau sakit?”

Luhan hanya menghela nafas kemudian mengangguk. Padahal ia ingin merahasiakannya dari Taemin.

“Sakit apa?” tanya Taemin sambil membelai lembut pipi Luhan.

“Aku hanya terjatuh, hyung. Ada sedikit luka dipunggungku.”

Taemin langsung membalikkan tubuh Luhan dan mengangkat begitu saja kaos Luhan hingga punggungnya terekspos. Kai membulatkan matanya melihat sikap Taemin yang semena- mena.

“Hyung!” Luhan nampak kaget.

“MWOYA! Kau mau menelanja-“ kata- kata Kai terhenti melihat ekspresi wajah Taemin yang seketika itu terlihat sedih melihat punggung Luhan diperban.

“Kenapa kau bisa terluka seperti ini?” tanya Taemin lirih. Luhan langsung menurunkan bajunya agar menutupi kembali punggung dan tubuhnya.

“Aku hanya terjatuh, hyung. Aku memang ceroboh.” Ucap Luhan sambil tertawa pelan. Kai menatap Luhan tajam. Sepertinya Luhan menyembunyikan kenyataan kalau Sehun-lah penyebab luka yang ada dipunggungnya.

“Sudah diperiksakan ke dokter, kan?” tanya Taemin cemas.

“Ne.. dan Kai tadi membantuku memasangkan perbannya saat aku mandi.”

Mata Taemin langsung beralih ke Kai. “Saat mandi?”

“Omo! Sudahlah, hyung! Aku tak mengambil kesempatan dalam kesempitan!” ujar Kai malas. Luhan malah tersenyum manis.

“Kai sangat sabar dan menolongku dengan hati- hati. Dia sama sekali tak bermaksud macam- macam, hyung.” Luhan menatap Kai lembut.

“Kuharap begitu.” Taemin mencibir pada Kai.

Kai hanya memutar bola matanya kemudian melipat tangannya didada. “Oh ya.. Kau sedang libur?”

Taemin mengangguk. “Ne… Makanya aku pulang kesini. Libur kuliah itu sangat lama. Aku bosan jika terus di Jepang.”

“Oemma juga mengatakan kalau lebih baik aku menemani Luhan di Korea selama aku libur semester.” Tambah Taemin lagi.

Kai dan Luhan mengangguk mengerti. Taemin kemudian melirik travel bag besarnya yang masih ada didekat pintu masuk.

“Jongin! Letakkan travel bag-ku dikamarku.” Perintah Taemin begitu saja.

“Mwo? Kenapa harus aku?!” Kai langsung protes.

“Biar aku saja, hyung.” Luhan akan melangkah namun Kai langsung memegangi lengan Luhan.

“Biar… aku saja.” Kai berjalan kepintu depan sambil menggerutu. Luhan menghela nafas.

“Hyung mengerjainya ya?” tanya Luhan polos.

“Hobby lama, kok.” Taemin terkekeh girang. Luhan ikut tertawa walau ia sedikit iba melihat Kai yang dari tadi menggerutu.

Setelah meletakkan semua barang- barang Taemin didalam kamarnya. Kai langsung menuju ruang TV dimana kedua namja cantik itu sedang ngobrol dengan santai.

Kai duduk disamping Luhan sambil melingkarkan tangannya dipinggang ramping Luhan.

“Mwo?” Luhan memperhatikan Kai yang dengan seenaknya memonopoli pinggangnya. Taemin tersenyum tipis melihat Kai yang ia pikir.. Err… Sedikit posesif.

“Aku menahan agar punggungmu tak menyentuh sandaran sofa. Takutnya lukamu bisa terbuka.” Jelas Kai. Luhan mengerti dan mengangguk pelan.

“Oh.. Hehe…Gomawo Kai.” Luhan tersenyum manis.

“Hu-uh! Alasanmu banyak sekali Kim Jongin.” Cibir Taemin.

“Biar saja.” Kai memutar bola matanya.

Sebenarnya Luhan sedikit tak nyaman atas perlakuan Kai. Dekapan Kai yang terasa sangat hangat dan dekat membuat jantung Luhan sedikit tidak tenang.

Semburat merah nampak menghiasi pipi putih Luhan.

Taemin menyadari perubahan ekspresi Luhan hanya bisa tertawa kecil dan memaklumi.

“Kalian seperti sepasang kekasih!!” ujar Taemin penuh semangat.

Kai dan Luhan seketika itu hanya diam. Tidak membenarkan dan juga tidak menolak. Hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing- masing.

“Aigoo~” Taemin tersenyum manis. “Mungkin memang pilihan tepat oemma membawa Luhan ke Korea.”

… 

Luhan melirik jam dinding diruang tengah. “Pukul 15.00 KST… Apa aku jemput saja kotak makanan yang tadi pagi diantar Kai, ya?” pikir Luhan sambil mengerucutkan bibirnya.

Taemin sedang tidur dikamarnya dan Kai sepertinya juga sedang tiduran diruang TV.

“Kai?” Luhan memanggil nama Kai lembut sambil berjalan keruang TV.

“Ng?” Kai nampak sedang asyik menonton acara battle dance di TV. Kai memang sangat memiliki minat dalam dunia dance dan semacamnya. Luhan tersenyum kemudian duduk disebelah Kai.

“Asyik sekali.” ujar Luhan pelan.

Kai hanya tersenyum. Matanya tak lepas dari layar TV. Luhan tersenyum sesaat kemudian membuka pembicaraan.

“Aku kerumah Sehun ya.”

Mendengar itu, Kai langsung mengalihkan pandangannya kearah Luhan. Ekspresi wajahnya sontak berubah tegang.

“Mau apa?” tanya Kai menyelidik.

“Mengambil kotak makananku.” Ujar Luhan beralasan.

“Biar nanti saja aku yang ambilkan.”

“Tapi-“

“Nanti saja.” Potong Kai cepat.

Luhan mengerti sekali kalau Kai berusaha melarangnya untuk bertemu Sehun.

“Kenapa? Kau sangat marah pada Sehun? Aku sudah melupakannya. Ia pasti tidak sengaja menyakitiku, Kai.”

Masalahnya kini bukan itu, Xi Luhan!” bisik Kai dalam hati. “Aku bukannya mau melarang. Hanya saja saat tadi aku datang kesana… Sehun moodnya masih tidak terkontrol. Dia terguncang karena tak sengaja melukaimu.”

“Kalau begitu.. Aku.. Aku harus kesana untuk memberitahunya aku baik- baik saja!” Luhan akan beranjak dari tempat diduduknya namun tangan Kai lagi- lagi menariknya lembut untuk duduk disampingnya.

“Masalahnya tidak semudah itu, Luhan. Sebenarnya…” Kai menggaruk kepalanya. Luhan memperhatikan Kai yang akan kembali berucap.

“Dia kalut dan… Dia belum mau bertemu denganmu.”

Mata Luhan membesar mendengar ucapan Kai. “Tidak mau bertemu dengan..ku?”

Kai membenarkan posisi duduknya menghadap ke Luhan dan membelai lembut pipi kurus Luhan yang putih.

“Luhan… Mungkin saatnya aku mengatakan hal ini padamu.”

“Apa?” tanya Luhan penasaran.

Kai memejamkan matanya sejenak kemudian menghela nafas panjang.

“Sejak pertama kali aku bertemu denganmu… Aku sangat ingin melindungimu. Kau begitu lemah…. Kau begitu rapuh dan aku ingin menjagamu agar tidak hancur.” Kai tersenyum tipis. Ia menunduk kemudian menghela nafas lagi,

“Waktu itu aku masih kecil.. Aku tak bisa melakukan apapun.. Aku tidak bisa mencegah hal buruk terjadi padamu. Kau ada di China dan aku di Korea. Aku merasa tak berdaya.. Setelah bertahun- tahun kemudian.. Akhirnya tiba saatnya kita bertemu. Aku sangat senang walau kau sama sekali tak mengingatku.”

“..Kai..” Luhan terlihat sedih mendengar pengakuan Kai.

“Tak masalah bagiku… Jujur aku tak marah saat kau sama sekali tak mengingatku. Walau aku tak pernah bisa melupakanmu sedetikpun.”

Kai menggenngam tangan Luhan erat. Mata mereka bertautan.

“Aku tahu kau mencintai Sehun. Aku berusaha menerima hal itu. Tapi Luhan… Kau juga harus tahu…”

Mata Kai nampak berkaca- kaca. “Aku menyukaimu.”

Luhan kaget sekali mendengar pengakuan Kai. Pengakuan yang ia siapkan bertahun- tahun lamanya. Pengakuan akan perasaannya yang sangat dalam.

“K..Kai..”

“Saranghaeyo, Luhan.” Bisik Kai lagi. “Aku benar- benar mencintaimu.”

Luhan tak tahu harus mengatakan apa. Bibirnya kelu. Tangan Kai yang menggenggam tangannya terasa bergetar hebat. Pasti Kai sangat mempersiapkan hatinya untuk mengatakan hal ini.

“Aku tak memaksamu menjawab perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu. Kau segalanya bagiku.”

Kai tersenyum. “Aku lebih memilih melihatmu bahagia, Luhan. Aku tak akan memaksa apapun padamu.”

Ucapan Kai begitu tulus. Luhan sangat tersentuh. “Kai!” Seketika itu Luhan memeluk Kai erat. Mata Kai membulat saat merasakan lengan mungil Luhan melingkar dilehernya.

“Xie xie, Kai.. Xie xie.” Luhan membenamkan wajahnya dipundak Kai.

Luhan melepas pelukannya. Ia tatap wajah Kai yang masih nihil ekspresi itu, walau wajah Kai sudah memerah.

“Aku sangat berterima kasih Kai.. Tapi kau tahu sendiri.. Kalau aku menyukai.. Sehun.” Luhan menunduk.

“Aku tahu..” Kai tersenyum.

“Maafkan aku, Kai.. Tapi hal ini tidak merubah apapun, kan?” Luhan nampak sangat khawatir. Kai menggeleng pelan kemudian tersenyum mantap.

“Tentu tidak. Aku hanya ingin kau tahu, Luhan.”

“Kai..” Luhan kembali memeluk Kai. Tak menyadari kalau namja tampan itu menitikkan air mata kepedihan.

 

 

Disekolah esok harinya.

Kai dan Luhan berangkat sekolah bersama. Saat memasuki kelas, mata Luhan tertuju pada Sehun yang ternyata sudah datang dari tadi.

Deg

Jantung Luhan terpompa lebih cepat melihat Sehun. Luhan langsung melangkahkan kakinya menuju meja Sehun, namun Kai memegang lengan Luhan.

“Jangan.” Bisik Kai pelan.

Luhan memperhatikan wajah Kai yang terlihat sangat serius. Luhan akhirnya mengangguk dan berjalan menuju mejanya yang ada disebelah Sehun,

Puk

Saat Luhan duduk dikursinya, Sehun mengalihkan pandangan matanya pada Luhan. Kai yang duduk didepan Luhan hanya mengawasi dalam diam. Hanya ketiga namja itu yang baru ada dikelas.

Sehun menghela nafas pelan kemudian berdiri dari kursinya.

“Chankaman!” teriak Luhan refleks sambil memegang lengan Sehun erat.

Mata Sehun membulat melihat tangan Luhan yang memegang lengannya. Kai juga membulatkan matanya namun ia tak melakukan apapun. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan.

“Kumohon.. Kenapa kau menghindariku?” tanya Luhan sedih. Sehun menelan ludahnya kemudian melepaskan tangan Luhan dari lengannya.

“Aku tidak menghindarimu.” Kata Sehun dingin.

Luhan menunduk. Ia tak pernah menyangka Sehun akan sedingin ini padanya. Apa ia salah karena tak mengikuti kata- kata Sehun pada malam itu?

Apa Sehun masih marah padanya?

“Mianhae, Sehun.”

Sehun terkejut mendegar Luhan meminta maaf padanya. Ia tak habis pikir, bukankah seharusnya ia yang minta maaf pada Luhan?

“Kenapa?” tanya Sehun pelan. “Kenapa kau yang malah minta maaf?!”

Luhan memberanikan diri untuk menatap Sehun.

“Kenapa kau yang minta maaf atas kesalahanku?!” teriak Sehun tiba- tiba.

Kai menyadari Sehun yang mulai kehilangan kendali, langsung menarik Luhan menjauh dari Sehun.

“Kai.. Kumohon.” Luhan kembali mendekati Sehun.

“Aku minta maaf padamu. Aku sama sekali tak bermaksud menyakitimu.” Ujar Sehun pelan.

“Aku tahu, Sehun. Makanya-“

“Jangan dekati aku lagi.”

Mata Luhan membulat mendengar perkataan Sehun. “Ap..Apa?”

“Jangan dekati aku lagi.. Anggap saja kita tak pernah mengenal lagi.”

Sehun memandang Kai sejenak kemudian keluar dari kelasnya meninggalkan Luhan yang masih terpaku ditempatnya.

Hiks

Hiks

Hiks

Kai melihat pundak Luhan yang bergetar. Luhan sedang menangis. Kai langsung membalikkan badan Luhan dan menatap wajah namja manis itu.

Grep

Kai memeluk tubuh Luhan. Hatinya hancur. Ia lebih memilih menderita daripada melihat namja manis yang ia peluk ini menangis.

Sedangkan Sehun, ia memilih bersandar didinding yang ada disamping pintu kelasnya. Dengan jelas ia dengarkan suara tangisan Luhan.

Tes

Tes

Air matanya jatuh. “Mianhae..”

Sehun kemudian berjalan menjauh dari ruang kelasnya.   

… 

Jam pulang sekolah.

Luhan menunduk sambil merapikan buku- buku pelajarannya. Sehun malah nampak langsung menyandang tasnya dan keluar begitu saja. Kai menghela nafas panjang melihat Sehun keluar dari kelas tanpa berbicara pada Luhan.

Tangan Luhan yang dari tadi memasukkan buku- bukunya kedalam tas terhenti.

Kai yang melihat itu kembali mengehal nafas panjang. Ia bantu Luhan memasukkan kembali perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Kai menutup tas Luhan.

“Sudah kumasukkan semua.” Ujar Kai sambil tersenyum.

Luhan masih menunduk. Ia hanyut dalam pikirannya sendiri.

Tanpa menunggu waktu lama, ruang kelas itu sudah kosong dan hanya tinggal Kai dan Luhan.

Kai  membelai rambut Luhan lembut.

“Kita pulang sekarang?” tanya Kai lembut. Luhan mendongakkan wajahnya kearah Kai. Luhan mengangguk pelan.

Luhan berdiri dan menyandang tasnya. Kai mengikuti Luhan. Tak ada pembicaraan diantara keduanya.

Kai hanya memperhatikan wajah Luhan dalam diam. Wajah yang menampakkan kepedihan.

Dan…

Kai benci itu.

Setelah mengantarkan Luhan pulang, Kai langsung pulang kerumahnya.

“Oemma!” teriak Kai saat melihat oemma-nya ada didapur.

“Jongin-chagiya.. Kau sudah pulang?” oemma Kai yang bernama Kim Kibum itu langsung tersenyum menyambut anaknya. Tak lupa ia kecup pipi kanan Kai dengan mesra.

“Ne.. Oemma ada yang ingin aku katakan.” Ujar Kai sambil membantu Kibum memasukkan beberapa sayuran kedalam kulkas.

“Apa?”

“Luhan.. Hmm…” Kai terhenti sementara kemudian menghela nafas panjang.

“Luhan? Anak dari Wookie-onnie.. Kenapa dia? Apa dia baik- baik saja?!” ada nada cemas dari suara lembut Kibum.

“Hmm.. Dia terluka cukup parah karena jatuh.” Jelas Kai.

“Mwo! Bagaimana keadaannya sekarang? Ia tinggal sendirian dirumah Heechul-onnie, kan? Bagaimana kalau dia tinggal bersama kita saja? Oemma sangat cemas.”

“Tenang, oemma. Semua sudah membaik.. Hanya saja aku mencemaskannya. Bolehkah aku merawat Luhan? Menginap dirumah Heechul-noona dalam beberapa hari?”

Kibum nampak berfikir sejenak. “Tentu, chagiya…. Oemma akan memasakkan sesuatu. Kau bawa kerumah Heechul-onnie dan makan bersama Luhan, ne!”

“Taemin-hyung juga ada, oemma.”

“Taeminnie? Baiklah! Oemma akan masak enak malam ini.” Kibum tersenyum manis.

Kai mengangguk kemudian memeluk oemma-nya. “Gomawo, oemma. Saranghae~”

“Nado chagiya~” Kibum terkekeh pelan. Anak ini kalau ada maunya pasti selalu bilang ‘saranghae’, bisik Kibum dalam hati.

Sore harinya.

Luhan menonton TV bersama Taemin. Ia belum bisa melanjutkan kerja sambilannya karena punggungnya masih sangat sakit jika tangannya digerakkan terlalu sering.

“Kau melamun, kan?” tanya Taemin akhirnya. Ia sadar betul kalau Luhan sama sekali tak menyimak acara TV yang mereka tonton.

Luhan menunduk. “Hyung… Jika orang yang kita cintai.. Meminta kita untuk menjauhinya.. Apa yang harus kita lakukan?”

Taemin membulatkan matanya mendengar pertanyaan Luhan. Matanya mengerjap beberapa kali namun setelah itu senyuman manis tersungging dibibir tebal Taemin.

“Ini tentang siapa?”

“Orang yang kucintai.” Jawab Luhan polos.

“Baiklah. Bisakah memberitahu hyung orang yang kau cintai itu?” tanya Taemin sambil memegang tangan Luhan.

Luhan nampak ragu namun akhirnya Luhan memutuskan untuk memberitahu Taemin.

“Oh Se..Sehun.”

“OMO! OH SEHUN TETANGGA SEBELAH!!” Teriak Taemin tak percaya.

Luhan hanya menutup telinganya karena takut tuli. Taemin berteriak sangat kencang.

“Hyung.. Kau mau membuat indera pendengarku tak berfungsi, ya?” ujar Luhan sambil mem-pout-kan bibir mungilnya.

“Hehehe~ Mianhae, Luhannie~” Taemin menggaruk kepalanya. “Aku hanya kaget saja kau menyukainya. Berarti kejadian masa lalu terulang dua kali donk!”

“Masa lalu?” Luhan menyipitkan matanya.

“Hm.. Kau belum tahu ya tentang Baekhyun?”

“Hyung juga tahu?”

“Tentu… Sewaktu mereka SMP tiap hari aku harus melihat mereka bertengkar karena Baekhyun. Padahal Jongin dan Sehun dahulunya adalah sahabat baik. Aku yang mempertemukan mereka. Aigoo.. Aku tak menyangka saja pertemanan mereka hancur total hanya gara- gara Baekhyun.”

Luhan mengangguk mengerti. “Aku tahu.”

“Sehun menyukai Baekhyun dan sayangnya Baekhyun menyukai Jongin. Dan sekarang.. Err.. Kurasa kau tahu kalau Jongin.. menyukaimu.”

Luhan mengangguk pelan. “Aku tahu, hyung.”

“Berarti terulang lagi kan? Jongin menyukaimu tapi kau menyukai Sehun. Lain halnya jika Sehun juga menyukaimu, kan?”

“Eh? Sehun tidak menyukaiku, hyung. Kini ia membenciku.”

“Siapa yang bilang?”

“Dia bilang padaku agar aku menjauhinya.”

Taemin berfikir sejenak. “Ayo kita kerumah Sehun.”

“EH?” Mata Luhan membulat seketika. “Ani!! Aku tidak mau hyung.”

“Wae? Apa hanya gertakan sekali saja kau jadi lemah Luhannie?” Taemin melipat tangannya didada.

“Tapi hyung…”

“Tak ada tapi- tapian! Ayo ikut saja!” Taemin langsung menarik tangan Luhan menuju rumah Sehun. Tentu saja yang bisa Luhan lakukan adalah pasrah pada hyung kesayangannya itu.

[To be continue]

 

 

 

apa dirumah sehun akan terjadi perang dunia ke 3??

jangan lewatkan another promise chap 6

hahahaha

promosi

rcl nyaaa ditungguuu..

sok atuh ejek aja ff abal ini TT3TT

gamsahamnida~

220 thoughts on “Another Promise Chapter 5

  1.  huaaa ada tetem juga ternyata.. aneh juga ya bayangin luhan jd adeknya taem.. hehehe.. aduh sehun jahat bnget sih jadi orang.. udh deh gg usah munak gitu.. ntr nyesel lg kalo udh d rebut jongin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s