Kind Of Heart Chapter 3

Baby dont kraaaayyy ~

X3

exo m hari ini ke korea HORAAAY~ foto nya di airport dah ada di twitter.. Meh! entar lagi hyobin bakal terbang ke tumblr nih😄

oh ya… Ada shipping war ya kemarin”. kita sesama exotic jgn saling serang karena hal sepele ya. exo itu satu dan jangan gara- gara itu exotic jadi terpecah. kita arus dukung 12 member exo tanpa terkecuali. jangan gara- gara otp atau shipping, exotic jadi pecah.

okk sekian rasa prihatin sayaa melihat shipping war. semoga g berlarut-larut. Keep calm and STOP SHIPPING WAR!! 

hwaiting!

EXO! WE ARE ONE!!!

lanjut ke FF yaa… semoga suka dan selaluuuuu RCL ne. gamsahamnida #bow

Main Cast : HUNHAN / KAIHAN

 

Other Cast :BAEKYEOL – TAORIS

 

Genre : School Life, Drama, SAD Romance

Author : Kim Hyobin

Kind Of Heart

Bagian dari cinta yang indah

Kisah cinta yang terlalu murni dan suci

Jika kita lihat lebih dalam

Maka kita pasti akan berdecak kagum

Pada malaikat cinta yang bersayap

dan memiliki panah asmara

Menyatukan hati sang dua sejoli

Bahagia selamanya

Arti cinta sebenarnya

“KIND OF HEART”

chapter 3

“Ah! Sampai!”

Kai melongo melihat Luhan membawanya kemana.

“Kau mau jjangmeyeon?” Luhan langsung duduk di kedai kecil itu. Kai masih melongo diposisinya.

“Aish!” Luhan menarik Kai duduk disebelahnya.

“Dua ahjumma. Yang paling enak, ya.” ujar Luhan ramah disambut anggukan dari ahjumma penjual jjangmyeon.

“Kau membawaku makan disini?” Kai masih tak percaya. Biasanya orang akan membawanya ke restoran mahal yang megah dan mewah. Bukannya kedai kecil yang hanya terbuat dari tenda dan kayu saja.

Luhan mengangguk mantap. “Supaya kau kembali semangat. Disini jjangmyeon-nya sangat enak.”

Kai merasa perutnya seperti digelitik oleh jawaban polos Luhan.

“Hmmppp..HAHAHAHAHAHHA”

Kai tertawa keras sekali. Luhan melongo melihat Kai yang tertawa memegangi perutnya. Walau jadi tontonan gratis tapi Luhan dan Kai tak ambil pusing.

“Kau memang aneh.” Ucap Kai setelah puas tertawa.

“Maksudmu?”

Kai menggeleng pelan. “Kau yang traktir, ya.”

“Haha.. Oke! Lain kali kau yang traktir!”

Kai tertawa lagi. Padahal tadi punggungnya terasa sangat berat. Tapi bertemu dengan Luhan membuatnya melupakan semua bebannya. Membuatnya bahagia walau dengan cara yang paling aneh (menurut Kai).

Mereka menyantap jjangmyeon dengan lahap. Walau awalnya Kai bingung bagaimana cara memakannya, Luhan dengan semangat mempraktikan cara makan yang benar. Kai sesekali tertawa melihat Luhan yang makan seperti anak kecil.

Gomawo..” bisik Kai dalam hati.

>>>

Keesokan harinya.

Sehun berjalan penuh dengan wibawa menuju kelasnya. Sesekali murid lainnya menyapa Sehun.

Namun ada yang salah pada diri Sehun pagi ini. Ia kelihatan sangat pucat. Sehun memang sedikit merasa pusing sejak tadi pagi.

NYUT

Tiba- tiba pandangan mata Sehun mulai memburam. Ia sandarkan tubuhnya kedinding koridor sekolah. Karena masih terlalu pagi, belum begitu banyak yang lalu lalang dikoridor itu. Kepalanya terasa sangat pusing.

“Sehun!”

Luhan ternyata baru saja datang. Dengan cemas Luhan membantu Sehun berdiri tegap. Luhan memeluk lengan Sehun.

“Kau baik- baik saja?”

Sehun menatap wajah cemas yang kini sangat dekat dengan wajahnya.

Deg

Sehun langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Luhan.

“Bukan urusanmu.” Sehun melepaskan tangan Luhan dari lengannya dan mencoba kembali berjalan.

“Jangan keras kepala. Aku tahu kau sedang tidak sehat. Wajahmu pucat!”

Sehun menatap Luhan yang kini ada didepannya, tatapan mata tak percaya. Luhan menghentikan langkah Sehun saat itu.

“Pucat?”

“Ya!” jawab Luhan pasti.

Sehun tertegun. Bahkan appa dan oemma-nya sendiri tak mengatakan apa- apa tadi pagi saat Sehun akan berangkat sekolah. Orang tuanya bahkan tak menyadari kalau wajah Sehun pucat pasi.

Yang menyadarinya malah namja yang baru saja beberapa hari ia kenal.

Ironis.

“Tak ada urusannya denganmu.” Tukas Sehun kasar.

“Jelas ada. Kalau kau pingsan bagaimana?!” Luhan langsung menarik lengan Sehun menuju UKS.

“Tidak! Aku tak mau kesana! Pihak sekolah akan menelpon orang tuaku jika aku sakit.”

“Tapi..” Luhan tetap tak bisa membiarkan Sehun mengikuti pelajaran jika ia terlihat pucat seperti itu. “Kalau begitu.. Kau kerumahku saja.”

Sehun membulatkan matanya. “Mwo!”

“Kau akan demam jika tak segera diobati. Lihat! Suhu tubuhmu sudah mulai panas.” Luhan memegang leher Sehun.

Sehun terlonjak kaget. Luhan menarik tangannya dari leher Sehun.

“Maaf.. Aku mengagetkanmu?”

Sehun menghela nafasnya. Luhan kembali menarik tangan Sehun.

“Ya! Mau kemana!”

“Kerumahku!”

Sehun hanya bisa pasrah dengan kelakuan Luhan.

>>>

Dirumah Luhan

“Mama.. Aku pulang!” Luhan membuka pintu rumahnya. Sehun mengamati rumah Luhan yang terkesan sederhana. Rumah Luhan bertingkat dua dengan 1 garasi mobil dan taman kecil yang ada disamping rumahnya.

Sehun menghirup aroma sup ketika masuk kedalam rumah Luhan. Aroma yang hangat. Aroma rumah.

“Lho? Luhan, kau tidak sekolah?” nampak seorang yeoja yang cukup cantik keluar dari dapur. Nampaknya mama Luhan sedang memasak didapur.

“Mama. Temanku sakit. Aku tak bisa membiarkan kalau dia mengikuti pelajaran.” Luhan melirik Sehun yang menunduk.

“Ah! Maafkan aku. Aku baik- baik saja. Aku akan kembali kesekolah.” Sehun akan berbalik namun Luhan kembali menarik tangannya.

“Istirahatlah dulu.” Luhan menatap Sehun serius.

Sehun malah tak enak dengan usaha Luhan. Sehun mengangguk pelan.

“Ya ampun. Kau pucat sekali. Istirahatlah dikamar Luhan. Tante akan buatkan sup hangat dan bubur untukmu.” Ujar mama Luhan sambil tersenyum pada Sehun.

Sehun merasa hatinya tiba- tiba hangat.

“A-yo!””Luhan menarik Sehun lebih masuk kedalam rumahnya.

Setelah masuk kedalam kamar Luhan yang ada dilantai 2, Sehun diam sesaat memperhatikan kamar mungil itu.

Kamar mungil berwarna hijau pekat dan dibeberapa tempat bertabur manik- manik berwarna merah. Lampu hias berbentuk bintang disudut ruangan. Ranjang untuk satu orang yang mungil dilapisi dengan bed cover berwarna hijau daun terang.

“Berbaringlah.” Luhan meletakkan tasnya dan Sehun diatas meja belajarnya. Sehun mengalihkan pandangannya kejendela. Karena kamar Luhan terletak dilantai 2, pemandangan kota terlihat walau tak begitu jelas.

NYUT

Kepala Sehun kembali terasa pusing. Luhan menyadari tubuh Sehun yang mulai oleng, tak makan waktu laman Luhan langsung membantu Sehun berbaring dikasurnya. Dengan perlahan Luhan menyelimuti Sehun.

Aroma green tea tercium oleh indera penciuman Sehun. Aroma yang berasal dari kamar Luhan. Aroma yang hangat. Sehun begitu nyaman berada disana.

Luhan meletakkan tangannya didahi Sehun.

“Omona!” desis Luhan pelan.

Benar saja! Sehun sudah demam. Tubuh Sehun sangat panas.

“Ya ampun. Tunggu sebentar aku akan ambilkan kompres.” Ketika Luhan beranjak akan keluar dari kamarnya, tangan Sehun menangkap tangan Luhan.

“Tetaplah disini.”

Luhan menatap Sehun yang begitu lemah.

“Kumohon.”

“Ba..Baiklah. Aku akan meminta mama mengambilkannya.” Luhan kembali duduk ditepi ranjang menemani Sehun.

Mata Sehun terpejam. Tangan Sehun masih menggenggam tangan Luhan erat. Seakan tak mau kehilangan sosok mungil itu dari hadapannya.

“Sehun..” desis Luhan pelan.

>>>

Jam 9 – waktu istirahat SMA Dong Soo.

Kai berjalan bolak balik didepan pintu kelas, dia mengkhawatirkan Sehun dan lebih tepatnya Luhan.

Mengingat tadi malam mereka berpisah dengan pertengkaran tak jelas. Memang Kai salah bicara mengatakan Luhan seperti anak SD dan sebagainya. Luhan kabur begitu saja pulang kerumahnya.

“Bagaimana kalau terjadi apa- apa padanya? Aish! Namja cantik sepertinya berkeliaran di malam hari.” Kai mengacak- acak rambutnya. “Sehun malah tidak datang juga. Jinjja!!!”

Disudut kelas lainnya…

“Uwaaa!! Kemana ‘Uri Hannie’~ Kenapa tidak masuk sekolah?” teriak Baekhyun dari dalam kelas.

Kai memandang aneh Baekhyun yang berteiak kemudian ia tersenyum tipis.

“Mungkin mereka tahu.” Bisik Kai dan menghampiri Baekhyun, Chanyeol dan Tao yang duduk dibangkunya masing- masing.

“Sehun-mu tidak datang juga?” Chanyeol melirik Kai yang tiba- tiba duduk dibangku sebelahnya, bangku Luhan.

“Kau lihat sendiri, kan? Aish! Apa aku telpon saja dia.”

Chanyeol dan Baekhyun mengangguk bersamaan. Sementara Tao masih serius dengan laptopnya.

Kai mencoba menghubungi nomor Sehun.

“Tidak diangkat.” Ujar Kai putus asa.

“Coba sekali lagi.” saran Baekhyun.

Kai mencoba menelpon Sehun sekali lagi. Sampai akhirnya…

Yo.. yoboseyo..

Kai melipat dahinya. “Lho? Siapa ini? Mana Sehun?” Kai menyadari kalau suara itu bukan suara Sehun.

Ini aku Luhan.”

“MWO!! Kenapa bisa kau yang mengangkat!!” teriak Kai. Chanyeol, Baekhyun, dan Tao langsung melihat kearah Kai.

Sehun sakit.. Jadi.. Aku bawa saja dia kerumahku. Kini ia sedang tidur.

Kai terdiam sesaat kemudian melirik Chanyeol, Baekhyun, dan Tao yang nampaknya tertarik dengan pembicaraannya. “Jadi Sehun bersamamu?”

Ne.. Kalau kau mau, kau bisa melihatnya nanti sepulang sekolah.”

Kai mengangguk. “Kami akan kesana.”

Kami? Chanyeol,Baekhyun, dan Tao juga?”

“Siapa lagi?” Kai memutar bola matanya.

Baiklah.”

“Jaga dia baik- baik.”

Pasti!” ucap Luhan mantap.

Kai menutup telponnya.

“Pembicaraanmu tadi membingungkan. Apa yang terjadi pada Sehun?” tanya Chanyeol to the point.

Kai meghela nafasnya. “Sehun ada dirumah Luhan. Yang tadi mengangkat telpon Sehun adalah Luhan.”

“MWO?!” Chanyeol, Baekhyun, dan Tao berteriak keras bersamaan.

“Lebay deh! Tak usah sekaget itu.” Kai menyentil kening Baekhyun yang paling keras berteriak.

“Tadi dia mengatakan boleh datang kerumahnya setelah pulang sekolah.” Kai kemudian berfikir sejenak. “Oh Tuhan! Aku lupa menanyakan alamatnya!! Aish!”

Tao tersenyum bangga kemudian membalikkan laptop-nya kearah Kai.“Sudah dapat, kok.”

Kai melihat data pribadi Luhan terpampang jelas dilayar LCD laptop Tao. Sepertinya Tao dari tadi mencoba membobol data pribadi siswa dari server sekolah.

“Tao memang pintar!!” Baekhyun memeluk Tao erat. Chanyeol manggut- manggut.

“Sepertinya hari ini akan panjang.” Chanyeol tersenyum manis.

>>>

[Sehun POV]

Dingin..

Kepalaku terasa dingin.. Nyaman sekali.

Perlahan aku buka mataku kembali.

“Ah.. Mianhe. Aku membangunkanmu?”

Sosok malaikat yang kini ada didepan mataku. Begitu murni dan bersinar.

Malaikat itu meletakkan kain basah diatas dahiku. Rasanya sangat nyaman.

“Kau sudah makan?” tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan. Sebenarnya aku hanya makan roti dan segelas susu tadi pagi. Roti dan susu yang sangat dingin.

“Mama-ku sudah membuatkanmu bubur dan sup hangat.”

Lucu juga mendengar namja cantik ini memanggil oemma-nya dengan sebutan mama. Aku tahu betul kalau di bukan orang Korea.

“Lu…Han..” aku memanggil namanya pelan.

Mata Luhan terlihat membulat. Nampaknya ia sangat kaget. Apa aku salah memanggil namanya? … Namanya yang indah.

“Ba..Baru kali ini kau memanggil namaku..” wajahnya Luhan nampak sangat merah.

Apa dia malu?

Kepalaku masih sedikit pusing. Tapi rasanya sangat lumayan dari yang tadi. Pasti Luhan merawatku dengan sangat baik. Buktinya aku lumayan kuat untuk duduk diranjang itu.

“Ah.. Sehun.. Bisa lepaskan tanganku? Aku tak akan kemana- mana, kok.”

Aku melirik tanganku yang menggenggam erat tangannya.

“Maaf!” sontak aku langsung melepas tangannya dari genggamanku. Luhan tersenyum dan mengangguk pelan.

“Tak masalah.” Luhan berjalan kearah meja belajarnya dan membawa sebuah mangkok sup.

“Apa aku terlihat lapar?” tanyaku malu- malu.

“Tidak, kok. Tapi tak ada salahnya kau mengisi perutmu dulu, kan?”

Aku mengangguk pelan. Luhan mengaduk isi mangkok yang ternyata berisi bubur dan sup hangat.

“Aaa.. Buka mulutmu.”

“Eh?!”

Aku membulatkan mataku.

Apa dia mau menyuapiku?

“Buka mulutmu. Bukannya malah bingung seperti itu.”

Aku hanya bisa mengikuti perkataannya. Saat makanan yang ia suapkan padaku memenuhi isi mulutku. Hanya satu kata yang bisa kukatakan.

Lezat.

Aku tak tahu mengapa ia begitu baik padaku. Bahkan ia menyuapiku dengan sangat sabar. Tak ada keluhan yang ia layangkan untukku. Beberapa suapan yang ia layangkan padaku begitu membuat hatiku luluh. Polos dan ikhlas. Hanya itu yang bisa kutangkap dari sikapnya.

Bubur yang ada dimangkok itu mulai habis. Memang sih bubur itu tidak terlalu banyak.

“Syukurlah kau tidak kehilangan nafsu makanmu.” ujarnya sambil menatapku dan kembali menyuapiku bubur itu.

Aku sangat menyukai matanya yang menatap lurus padaku. Mata yang bersinar. Menarikku dari kegelapan yang selalu kurasakan.

“Sehun? Kau melamun?” Luhan menatapku dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Tak berkedip, aku pandangi wajahnya yang cantik dan menenangkan.

“Suapan terakhir!” ucap Luhan kemudian sambil tersenyum manis. Luhan kembali menyuapiku.

“Yeah!! Sudah habis. Mama pasti senang.” Luhan berjalan kemeja belajarnya dan meletakkan mangkok tadi serta membawakanku segelas air putih.

“Gamsahamnida.” Ucapku sembari mengambil air putih ia berikan padaku. Luhan mengangguk mantap.

Setelah meneguk habis air putih itu. Aku memberikannya pada Luhan dan ia menaruh gelas itu diatas meja belajarnya.

Luhan duduk ditepi ranjang. “Syukurlah. Panasmu sudah turun.”

Aku menatapnya dalam. Mencoba mencari jawaban semu atas semua pertanyaanku tentang dirinya.

“Kenapa? Kenapa kau menolongku?”

Luhan tersenyum mendengar pertanyaanku. “Kenapa bertanya seperti itu?”

“Wajar aku bertanya padamu. Aku tak pernah memperlakukanmu dengan baik. Selalu mengejekmu.”

“Lantas? Memangnya kenapa?”

Aku tak percaya dengan jawabannya. “Kau aneh! Aku ini tak pernah baik padamu dan kini kau menolongku bahkan merawatku dengan baik.”

“Jadi aku harus jahat padamu jika kau jahat padaku?”

“….Seharusnya seperti itu.”

“Dan kau harus baik padaku baru aku boleh berbuat baik padamu?”

“Mungkin..” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Aigoo.. Kalau pemikiran manusia semuanya seperti itu… sangat menyedihkan. Saling tolong menolong tak ada harga pasnya. Itulah yang harus kau ingat, Sehun.” Luhan menatapku dalam.

“Kau benar- benar pabo!” aku menunduk. Yang kini kurasakan dadaku bergemuruh.

“Pabo? Ya! Apa seperti itu cara berterima kasih? Jinjja!!” Luhan menggembungkan pipinya. Ingin sekali aku mencubit pipinya yang merah itu. Sangat lucu.

Deg

Apa yang kupikirkan! Aish! Jinjja pabo!

Aku menatapnya kembali. Ternyata Luhan tengah menatapku. Saat tatapan kami bertautan, ia langsung membuang muka.

Ada apa dengannya?

Wajahnya merah.

“Kau baik- baik saja?” Aku mencoba bertanya padanya. Ia menggeleng cepat.

Kulayangkan tanganku menyentuh pipinya. Ia terkesiap. Entah setan apa yang merasukiku, aku mendekatkan wajahku kewajahnya. Tak ada perlawanan hingga jarang wajah kami semakin dekat. Dan..

“Kami dataaaaaaaaaaaaaaaaaanggggg!!!”

Teriakan itu menghentikan pergerakanku. Luhan sontak menjauh dari tubuhku dan membukakan pintu kamarnya.

“Aish!” desahku pelan saat melihat gerombolan ribut itu datang.

“Hannieee~~ Kami kangeeeeeeennnn!!” Tao langsung memeluk Luhan dengan erat.

Deg

Apa- apaan dia memeluk Luhan seperti itu! Cih! Badannya saja yang besar.

“Uweeee~ Oemma sangka kamu kenapa- kenapa! Oemma sangat khawatir. Apalagi kau bersama kakek- kakek mesum seperti Sehun.” Baekhyun memberi penekanan pada beberapa kalimat dan  menatapku tajam. Aku tahu dia sengaja. Cih!

Dan sepertinya aku punya panggilan baru? Kakek- kakek mesum? Baiklah! panggilan itu sangat buruk.

“Jika dia berani menyentuh anak appa.. Dia akan appa cincang!” Chanyeol ikut- ikutan menatapku tajam.

“Ribut sekali kalian.” Tiba- tiba Kai masuk kedalam kamar Luhan.

“Kai!” panggilku. Kai hanya tersenyum manis kemudian duduk ditepi ranjang.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kai sambil memegang dahiku.

“Lebih baik.” Jawabku mantap. “…Berkat anak itu.” Aku menatap Luhan yang kini sibuk dengan teman- temannya yang tukang ribut.

“Oh, ya. Kenapa kalian bisa ada disini?” tanyaku membuyarkan lamunan Kai.

“Tadi aku menelponmu. Anak itu yang menjawab. Dia bilang kau sakit kemudian memberitahuku untuk datang kerumahnya sepulang sekolah.” Jelas Kai.

“Begitu…” Aku mengangguk.

Kai menunduk dan kembali diam. Tak biasanya dia seperti itu.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tidak. Hanya saja.. Anak itu begitu berbeda.”

Aku mengangguk mantap. “Sangat. Bahkan ia menyadari kalau aku sedang sakit.. Oemma dan appa saja sama sekali tak sadar.”

Kai tersenyum kemudian menepuk pundakku pelan.

“Hm.. Bagaimana kalau makan siang disini?” tiba- tiba Luhan mengajukan saran.

“Bolehkah?” Chanyeol nampak berbinar- binar. Baekhyun yang masih memeluk Luhan mengangguk mantap. Tao juga melakukan hal yang sama.

“Aku mau makan sama Luhannie~” Tao mengeluarkan agyeo-nya. Aish! Mengapa ia begitu manja pada Luhan? 

Kai tersenyum simpul sambil memandangi Luhan yang berjalan kearah kami.

“Bagaimana?” tanya Luhan sekali lagi pada aku dan Kai.

“Asalkan lebih enak dari jjangmyeon tadi malam.”ujar Kai tiba- tiba.

“Tentu! Masakan mama adalah masakan nomor satu didunia!”

Eh? Tunggu! Apa maksud perkataan mereka? Jjangmyeon? Tadi malam?

Belum sempat aku bertanya, Kai sudah berdiri dan keluar dari kamar bersama rombongan rusuh itu. Luhan membantuku berdiri.

“Aku bisa kok.”

“Yakin kuat?” tanyanya sambil melepaskan tangannya dari lenganku. Aku mengangguk.

Luhan berjalan bersamaku beriringan keruang makan. Ia begitu memperhatikanku. Saat menuruni tangga, ia genggam kuat tanganku.

Aku tak tahu mengapa ia begitu perhatian  padaku. Yang pasti kini aku tersenyum senang.

Aku senang sekali.

[END Sehun POV]

>>>

Setelah diruang makan.

“Sudah baikan, nak Sehun?Buburnya sudah habis, kan? Kali ini kau juga harus menghabiskan masakan tante, ya.” kata mama Luhan.

Sehun mengangguk kemudian tersenyum manis. “Gamsahamnida, ahjumma. Aku benar- benar tertolong. Sup dan bubur yang ahjumma buat sangat lezat.”

“Hohoho.. Tentu saja. Ah! Jangan panggil aku ahjumma, terkesan tua dan tidak keren. Hmm .. Bagaimana kalau panggil saja aku mama. Kau teman Luhan, kan? Berarti anakku juga.”

Sehun membulatkan matanya mendengar perkataan mama Luhan.

“Tentu saja, mama. Sehun adalah temanku.” Luhan mengangguk dan menatap Sehun teduh.

“Boleh..kah?” Sehun menatap Luhan dan mama Luhan secara bergantian.

“Tentu.” Luhan tersenyum manis.

“Ga..Gamsahamnida.. Mama..” Sehun merasa dadanya berdebar- debar saat memanggil mama Luhan juga dengan sebutan mama.

“Baiklah. Bergabunglah dengan teman- temanmu yang lain di meja makan. Akan mama siapkan makanan yang paling enak.” Ajak mama Luhan.

Luhan dan Sehun mengangguk dan menghampiri Chanyeol, Baekhyun, Tao dan Kai yang sudah ambil tempat duluan.

Sehun tersenyum bahagia.

Ia merasa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

To be continue

 Thehunnie~

jangan manja deh

luhan itu punya Hyobin #dilindes Kai dan Sehun

kyahahahha

RCL jangan lupak yahh chingu~

maap kalo chap ini agak pendek. soalny mau fokus ama perkembangan perasaan sehun dulu..

okeee

hujat saja hyobin di komentar ne~ 

annyeong! salam exotic #poppo

254 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 3

  1. huwah kailu sama hunhan sama lucunya disini.. tapi tetep hunhan no.1 apalagi adegan yang tadi kepotong gr2 4 orang itu dateng.. 😀 nice ff author ^^

  2. Kesian banget yah sehun ma kai walaupun uang bejibun tapi terkurung kan percuma..

    Tapi baekyeoltao kan juga tajir kenapa mereka nggak gt yah..

    Penasaran deh.. Lanjuutttt..

  3. CIEEE thehun thuka thama luhan nih yeee cieee
    Tapi luhan kenapa mukanya merah? Naksir juga eoh?
    Duhh sayang baekyeoltaokai keburu dateng kalo engga udah kissu tuh *reader sotoy*
    Thehun udah dianggap anak sendiri nih hehehehe
    Jadi pengen berakhir hunhan
    Lanjoooot dehhhh

  4. Yaa…saat chapter ini Sehun oppa sudah mulai cemburu ya…gak sangka Sehun Oppa bisa cemburu!Bukan luhan Oppa rakyat jelata mu.huhuhuhuhu…daebak chapter author aku suka!!

  5. di chapter ini luhan mendapat scane masing-masing sama sehun dan kai
    tapi aku lebih suka yang scane nya sehun, romance-romance gimana gitu….

  6. aduh pas sehun ngomong “bolehkah?”
    itu bener2 bikin terharu sumpah.
    as usually ya, hyobin. keren!! X3
    sehuuuun, come to mamaaaa~!!! *diwushu tao*

    *terbang ke chapter selanjutnya*

  7. cie hunhaaaaaan >,<
    ini kai sama sehun kesiksa amat ya ga kekurangan sih tp yg kurang cuma perhatian orang tua, kasian…
    tp aku jg suka ama part kai luhan,gimana ini T.T

  8. yeaaay!!!!! moment manis KaiLu dibalas dgn Moment Indah HunHan!!!
    luhan kalau mau manggil, mama sama aku juga boleh😀
    kenapa aku berasa Luhan juga cinta sama sehun, hahaha semoga di endingnya tetep HunHan!! xD

  9. Si tuan ‘Oh’ jatuh cinta sama putri ‘rakyat jelata’/?? Sehun di suruh manggil eommanya luhan ‘mama’ berarti udh dapet lampu hijau/? Semoga awal yang baik untuk hunhan ;u;; kenapa ga munculin kyungsoo aja/???? Biar kai-soo-an/? Wkwk. Udah ah lanjooott ga sabar mau liat hunhan :3

  10. KYAAAAA ASDFGHJLLPOIUYZRUPSL >.< omooooo, aku suka banget baca hunhan momentnya, hihihi luhan kenapa wajahnya merah? Terpesona eoh sama tuan sehun? Kkkkk
    Pokoknya daebak deh thor, aku lanjut baca ya thor:)

  11. hya… akhirnya luhan bisa bangun pagi…. kekekeke jadiny sehun selamat… aigooo.. sehunnnn lucu bgt …. ya type sehun dan kai pasti paling paling bahagia di lingkungan luhan. klo chanbaektao….. yakin orangnya pasti bahagia.

  12. Aku gatau harus comment apa kak .__.
    Jadi seadanya aja ya?😀
    Chapter ini nyerempet fluff, sumpah. =_= padahal genrenya drama..

    Lulu perhatian banget ya ._. aku ngerasa kalah… hatinya tulus banget ;;w;;
    Oke deh, pesan moral chapter ini: “berbuat baiklah pada siapa saja!! Jangan mau kalah sama Lulu!”

  13. jadi Tuan besar Oh….ternyata lebih nyaman berada di lingkungan rakyat jelata…bener2 miris dan kasian juga….lanjut baca🙂

  14. kan,kan udah mulai bimbang kan gue disini..
    aduh thor, ini begimana endingnya???? T^T gak tega sama kedua2 sme nya, *udeh sama gue aje luhannya* haha, /abaikan/😀
    Setelah acara jjanggamyun-an(?) dgn si kkamjong yg sgt soooooooosweeeeeeettt kenapa harus ada adegan hunhan dirumah luhan yang sangat sosweeeeeeeettttttttt juga ????????? kan gue jadi galau /plakk/ *kebanyakan ngomong lu*😦 untung aja itu acara *pip* nya kagak jadi gegara geng rusuh datang,
    ck setidaknya bisa mncairkan suasana, hh😀
    daku paling suka sama adgan :

    “Uweeee~ Oemma sangka kamu kenapa- kenapa! Oemma sangat khawatir. Apalagi kau bersama kakek- kakek mesum seperti Sehun.” Baekhyun memberi penekanan pada beberapa kalimat dan menatapku tajam. Aku tahu dia sengaja. Cih!

    Dan sepertinya aku punya panggilan baru? Kakek- kakek mesum? Baiklah! panggilan itu sangat buruk.

    “Jika dia berani menyentuh anak appa.. Dia akan appa cincang!” Chanyeol ikut- ikutan menatapku tajam.

    wkwkw chanbaek gw mau mau jadi anak kalian !!!!!!!!!!!!!!! *terik dari atas atap*
    nextttt=>>>>>>>

  15. Mereka bener bener trio penggembira hahaha.. suasana nya jadi rusuh banget.. agak heran sama sifatnya chanyeol.. dia heboh tapi kadang pembawaannya tenang..

  16. Uah~~~
    Jahat amat omma and appa sehun.. Anal sendiri dibiarin sakit…..

    Baekhyun sama chanyeol mesra….. Sampe sampe luhan punya ibu baru…

  17. Thehun jadi cintah(?)
    sehun mengambil kesempatan dalam kesempitan nih.. untung gagal wkwkwkw
    luhan jg uda mulai suka ya sama sehun cie… wkwkwwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s