[Oneshoot] Hidden Face

banyak amat ya yang hyobin post?

bakal bosan ntar nih yaaa >.<

nih FF req dari LarasYang🙂

RCL tetap jalan yaaaa~ jangan ada yang sideeeerrrr #siapain petir Chen😄

yang g suka ff ini juga boleh marahin hyobin di komen ..😮

oke, leggo~

[Oneshoot] Hidden Face

Kim Hyobin

CAST : KAI-LUHAN-SEHUN

SUPPORT CHARA : KRIS – CHANYEOL – TAO – KYUNGSOO

Tidak masalah aku dibuang oleh semua orang

Tidak masalah jika aku harus disalahkan

Tidak masalah jika aku harus dipersalahkan

Aku akan menerimanya walau aku tahu tak seharusnya begitu

Tapi jangan harap!

Jangan harap aku akan diam

Saat dia merampasmu dariku

Aku tidak akan menunjukkannya

Namun tunggulah

Tunggulah waktu aku membuatmu melihatku

Dan hanya melihatku!!

Hidden FACE

 

[Kai POV]

 

“Dasar anak haram!” desis salah satu pembantu dirumah baruku. Ya! Rumah baruku. Sekarang aku tinggal bersama keluarga sah appa-ku. keluarga sah? Kenapa disebut keluarga sah? Karena aku memang anak dari wanita yang ia selingkuhi. Menarik bukan?

Jika kalian tahu bagaimana rasa mendapat pandangan semacam ini… Mungkin kalian ingin mati saja. Tapi tidak denganku. Kini usiaku memang masih 7 tahun, tapi setelah dewasa aku akan meninggalkan keluarga ini dan akan melupakannya.

Aku hanya ingin mengingat ibuku yang ada disurga. Wanita yang baik dan lembut. Wanita yang paling aku cintai didunia ini.

Setelah aku dewasa, aku akan lari dan tidak ingin mengingat segala yang bersangkutan dengan ahjusshi bangsat itu! Aku tidak sudi memanggilnya appa walau aku adalah anak kandungnya. Mungkin terkesan tidak tahu malu atau tidak tahu balas budi karena bagaimanapun ahjusshi brengsek itu yang membesarkanku, namun anggap saja ia memang bertanggung jawab memanggilku kedunia ini. Persetan dengan pandangan orang.

Aku tidak peduli.

 

[Author POV]

 

Kai berjalan menuju kekamarnya. Namun didepan pintu kamarnya berdiri seorang anak yang nampak hampir seumuran dengannya. Bisa dibilang hanya berbeda 3 bulan.

Anak bermata sayu yang memiliki kulit seputih susu dan sangat tampan. Ia menatap Kai dengan tatapan benci. Seakan- akan Kai adalah beban terberat dalam hidupnya.

“Sehun?” sapa Kai berusaha ramah.

Anak yang bernama Sehun itu meneteskan air matanya kemudian menangis terisak. “…Kenapa kamu rebut oemma dari sisiku, oeh!! Karena kamu… Karena ada kamu oemma sakit dan meninggalkanku untuk selamanya!! Hiks…”

Kai diam menunduk. Dia bernasib sama dengan Sehun. Oemma Sehun juga sudah meninggal sebulan yang lalu. Shock akibat tuan Oh membawa Kai kerumah mereka.  Tapi… Haruskah Kai yang disalahkan?

Kenapa seakan semua kesalahan orangtua mereka dilimpahkan pada anak sekecilnya?

Apa dia bersalah?

Ia yang bahkan tidak tahu apa- apa mengenai hal itu selalu dilecehkan dan dianggap pengganggu. Ia bahkan lebih memilih tidak dilahirkan daripada harus menanggung kesalahan yang sama sekali tidak ia buat.

PRAAAKK

Sehun melempar robot gundam yang ia pegang kearah Kai. Bagian kaki robot itu mengenai pipi kanan Kai hingga terukir luka goresan. Kai merasa darah mulai turun dari luka kecil itu hanya memegang pelan pipinya.

“Hikss… Seharusnya kau tidak ada!! Seharusnya hidupku bahagia!! Semua gara- gara KAU!! Huaaaa!!” Sehun terisak hingga ia terduduk memeluk lututnya. Ia menangis sekuat- kuatnya.

Kai masih diam diposisinya.

Ia juga ingin menangis seperti Sehun. Dia juga ingin melampiaskan rasa sakit didalam hatinya. Ia sangat ingin menangis dan mengutuk dunia ini.

Tapi ia tidak bisa.

Air matanya terlanjur habis.

Kepedihannya terlanjur mengeringkan kasih sayang bahkan perasaannya sebagai manusia.

 

“Ada apa ini?!” tuan Oh yang bisa disebut appa mereka terkejut melihat Sehun menangis terduduk dilantai.

“Appa!!” Sehun langsung memeluk appa-nya dan menangis tersedu- sedu. Tuan Oh menggendong anak laki- lakinya dan mengelus punggungnya pelan. Sehun masih menangis kencang. Tuan Oh menatap Kai dengan tatapan sInis.

“Apa kau membuat Sehun menangis, oeh! Jangan ganggu adikmu lagi, Jongin! Atau tidak appa akan menghukummu!”

Adik? Bahkan Kai sama sekali tidak pernah menganggap Sehun itu adiknya.

Benar saja, Kai memang lahir lebih dahulu daripada Sehun. Itu menandakan tuan Oh terlebih dahulu menghamili ibunya daripada menghamili istri sahnya sendiri. Menjijikkan!

 Tuan Oh membawa Sehun menjauh dari Kai menuju kamarnya.  Kai membuka pintu kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya. Pelan Kai berjalan menuju ranjangnya dan ia menangis.

Kai menangis dan ia bertekad ini yang terakhir kalinya.

Karena ia akan membuktikan pada dunia.

Dia tidak lemah!!

 

 >>>

10 Tahun kemudian.

 

“Kyaaaa!! Kau sudah lihat anak kelas 3 yang bernama Sehun-oppa? Dia tampan sekali yaaa!!” ujar salah satu anak kelas satu dengan centilnya.

“Ne! Kau juga tahu Kai-oppa? Dia sangat lihai nge-dance, lho!!”

“Oh! Kai-oppa yang sangat tampan itu? Aku tahu! Tatapan matanya itu, lho!! Mematikan!”

“Kabarnya Jongin oppa dan Sehun oppa itu kakak beradik, lho!”

“Omo~ Tentu saja! Mereka bahkan sangat sempurna! Sama- sama tampan dan enak dipandang!”

 

Tap

Tap

 

Ocehan segerombolan yeoja tadi terhenti saat melihat namja yang mereka bicarakan berjalan dengan gagah dan elegannya.

“Kyaaa~ Itu Sehun oppa!!” teriak yeoja- yeoja itu dengan liar.

Oh Sehun. Namja tinggi yang sangat tampan ini mendekati kata sempurna. Mata sayunya membuat wajah tampannya seakan penuh misteri dan itu membuat salah satu point daya tariknya. Nilainya yang selalu berada diposisi teratas sekolah membuatnya tentu tidak bisa diremehkan. Seakan memperkuat kata ‘SEMPURNA’yang selalu melekat pada dirinya.

Sehun masuk kedalam kelasnya dengan santai tanpa mempedulikan yeoja- yeoja yang sudah mati kepanasan dengan melihatnya saja.

“Yaaahhh~ Dicuekin!” ujar salah satu yeoja kecewa.

“Tentu saja kita dicuekin. Kalian tidak tahu kalau Sehun-oppa sudah punya pacar?” cerocos anak kelas 2.

“MWO!!!!” Teriak yeoja- yeoja kelas satu itu kecewa.

“Ah!! Itu tuh orangnya baru datang.” Tunjuk anak kelas 2 yang sebenarnya tadi juga ikut berteriak histeris melihat Sehun.

Mata semua yeoja anak kelas 1 itu melotot.

 

Seorang namja manis atau lebih tepatnya sangat cantik melewati mereka. Wajah mulus, kulit putih bercahaya, senyuman manis, bibir pink merekah, tubuh tinggi dan ramping.

Rambut coklat madunya yang sangat indah menghiasi wajah sempurna namja cantik itu. Pembawaannya yang anggun dan sangat cute membuat semua yeoja yang melihatnya jadi minder setengah mati.

 

“Namanya Xi Luhan…  Itu kekasihnya Sehun-oppa.” Jelas anak kelas dua itu lagi.

“Uwaaa!! Kalah telak!! Kalah telak!!”

“Gak bisa nyaingin!!”

“Malaikat? Apa yang tadi lewat itu malaikat?”

“Oh Tuhan! Wajah sempurna itu!!”

“Tidak bisa dikalahkan! Cantik sekali!!”

Semua anak kelas satu itu langsung mengakui kecantikan sang namja cantik yang bernama Luhan itu. Kecantikan yang bahkan menenggelamkan cahaya matahari yang ada disekitarnya. Begitu cantik dan sempurna.

 

“Pasangan yang tanpa celah ya..” gumam salah satu yeoja kagum dan yeoja lain mengangguk bersamaan. Tidak menyadari seorang namja mendengarnya dan seketika itu hatinya bagai ditusuk pedang.

 

 

“Luhan!” teriak Sehun saat melihat namja cantik itu tengah masuk kedalam kantin bersama sahabat dekatnya Kyungsoo.

“Thehunnie~” Luhan melihat namjachingu-nya langsung sumringah dan bermaksud menghampiri Sehun yang bisa dibilang masih jauh darinya. Luhan berlari dan…

 

BRUAAAKKKK

 

Luhan terjatuh dengan wajah duluan mencium lantai. Mata Sehun dan Kyungsoo langsung membulat saat melihat Luhan terjatuh dengan… tidak elit.

“Luhannie!!” Sehun membantu Luhan bangkit.

“Aigoo, Luhannie! Harus berapa kali kau jatuh dalam sehari, oeh?” Kyungsoo menepuk lembut celana Luhan yang terkena debu. Sehun yang mengendong Luhan untuk berdiri langsung menatap Kyungsoo heran.

“Maksudmu dia tadi jatuh lagi?” tanya Sehun pada Kyungsoo. Dengan mantap Kyungsoo menganggukkan kepalanya.

“Ya!! Tadi itu ada kulit pisang saat aku mau masuk kekelas!” bela Luhan sambil mengusap hidung mancungnya.

“Nah sekarang tidak ada apa- apa kenapa kau bisa jatuh?”  Sehun memutar bola matanya. Luhan mem-pout-kan bibirnya lucu. Seketika itu Sehun jadi gemas bukan main pada Luhan.

“Uwaaa!! Atatatatatatata!!! Appo! Thehunnie!!!” Luhan memukul lengan Sehun saat namja tampan itu mencubit pipinya gemas.

“Hahahaha!! Kau ini!!” Tanpa aba- aba Sehun langsung memeluk Luhan dengan posesif. Membuat Kyungsoo jadi tersenyum manis. Luhan mengembungkan pipinya dan memasang wajah ngambek andalannya.

“Aigoo~ Malaikatku jadi imut sekali!” goda Sehun masih memeluk Luhan dari belakang.

“Thehunnie jahat! Mencubit pipiku!!” Luhan masih mengembungkan pipinya. Sehun semakin gemas dibuat oleh Luhan. Kyungsoo yang memang dari tadi saat lapar melambaikan tangan pada Luhan menandakan kalau ia kekantin duluan.

Alhasil Luhan tambah ngambek ditinggal Kyungsoo.

“Tuh, Thehun, kan!! Aku ditinggal Kyungsoo!!!”

Sehun mempererat pelukannya dan berbisik ditelinga Luhan. Suara Sehun tiba-tiba terdengar serius. “Luhan.. Berjanjilah tidak akan meninggalkanku… Hanya kau yang aku miliki.”

Luhan terdiam kemudian tersenyum manis. “Ne…Aku menyayangi Sehun. Saranghaeyo.”

“Nado, Luhan. Nado saranghae!!” Sehun mengecup leher Luhan pelan kemudian melepas pelukannya. Ia tatap wajah Luhan dalam. Luhan juga melakukan hal yang sama.

Tanpa memperdulikan tatapan siswa lain yang lewat. Sehun mencium bibir Luhan lembut. Setelah kedua bibir itu terpisah, mereka melangkahkan kaki masuk kedalam kantin dan menikmati jam istirahat bersama- sama.

 

[Kai POV]

 

Aku melihat mereka lagi. Aku melihat Sehun dan Luhan… berciuman lagi. Ya entah ini sudah yang keberapa.  Entah sudah keberapa kalinya aku menahan rasa sakit ini.

Dan harus berapa kali lagi aku merasakan rasa sakit melihat Luhan, namja yang sangat aku cintai, dicumbu dan disentuh oleh Sehun?

Harus berapa kali Sehun membuat hidupku menderita?

 

 

>>>

[Author POV]

 

“OMO!!! KENAPA HUJAAAANNN!!!” Teriak Luhan yang baru saja pulang dari tugas kelompoknya. Karena ia memutuskan ke toilet dulu sebelum pulang, ia jadi tidak sempat menumpang payung bersama temannya. Alhasil, Luhan sendirian mengharapkan hujan reda. Haripun nampak mulai senja.

“Aku tidak mungkin meminta Sehun menjemputku!” Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! Eottokaji!!”

 

Sementara itu, Kai yang memang kebiasaan pulang lama –karena tidur dilabor- melihat Luhan dari dalam gedung sekolah. Luhan nampak berdiri diteras sekolah sambil memandangi hujan. Kai tersenyum simpul kemudian menatap Luhan dari sana.

Menatap namja cantik itu tidak pernah membuatnya bosan. Dari tadi Luhan nampak mengoceh. Namun karena suara hujan menghalangi, Kai tidak dapat mendengar perkataan Luhan. Kai memutuskan lebih dekat walau ia tidak melakukan secara terang- terangan.

 

“Hyaaaaa!!! Oh Hujan~~ Tolong redalah! Kasihan aku yang belum makan TT^TT” Luhan berbicara sendiri seakan memohon pada hujan. Kai menahan tawa mendengar ucapan Luhan yang begitu jujur.

“Kenapa belum berhenti!! Atau aku roll like a buffalo nih!!” ancam Luhan namun hujan masih belum berhenti. Kai semakin sulit menahan tawanya.

“YAAAAA!!! AKU MAU PULAAANGG!!” Rengek Luhan seperti anak kecil sambil mengempas- hempas kakinya. “Hujaaaannn!! Dengarkan suara jeritan anak yang sedang kelaparan donk!!”

Kai  mati- matian menahan suara tawanya. Luhan sangat polos dan terus terang. Tapi apakah ini hanya kepolosan? Kai sering sekali menganggap Luhan sedikit bodoh.. Tapi itu lah yang Kai suka dari namja cantik itu. Murni tanpa kebohongan.

Tanpa menipu dan sangat innocent.

 

“Baiklah! Jika itu maumu, hujan! Aku akan menerobosmu!!” pekik Luhan sambil memanyunkan bibirnya.

Kai mengerutkan dahinya. “Dia mengancam hujan? Wah! Berani sekali! hihihi..” bisik Kai sambil terus menahan tawa.

Namun nampaknya Luhan tidak main- main, ia memang bermaksud menerobos hujan. Luhan sudah berlari dengan cepat.

“Cih! Pabo!!” Kai langsung melepas jaketnya dan berlari menyusul Luhan.

Tanpa sepengetahuan Luhan, Kai mengikutinya dari belakang sambil ikut berlari dan..

 

PUUKK

 

“Eh!!” Luhan menyadari air hujan tidak lagi menyentuh kepalanya. Kini sebuah jaket kulit tengah melindungi kepalanya. “Jaket?”

 Luhan tetap berlari namun ia menengok kebelakang.

“Tidak ada siapa- siap-“

 

BRUAAAKKK

 

“UWAAAAAHHHH >.<!!” Luhan lagi- lagi terjatuh dengan wajah duluan. Sepertinya sekarang ia tersandung batu yang ada jalan. Dengan cepat Luhan kembali bangkit dan berlari menuju rumahnya.

Kai menatap Luhan dari balik tembok, tidak tahan lagi menahan tawanya dan..

“BUAHAHAHAHAHA!! DAEBAK!! Xi Luhan! Kau daebak!! Hahahahahhahaha!!!” suara tawa keras Kai redam bersama hujan.

Seketika itu Kai mendongakkan wajahnya dan membiarkan Hujan menghujatnya sekeras mungkin. Senyuman manis terpampang diwajah Kai.

…Rasa bahagia ini hanya bisa dibuat olehmu… Xi Luhan..

 

 

>>> 

 

Ceklek

 

Kai masuk kedalam rumah dengan senyuman tipis. Wajah Luhan masih menguasai pikirannya. Hebatnya, Kai bahkan tidak peduli dengan keadaannya sendiri yang pulang basah kuyub.

“Tuan Kai… Sebentar saya ambilkan handuk..” ujar salah satu pembantu yang melihat Kai. Kembali kemimik wajah asli, Kai mengangguk dengan dingin.

Setelah pembantu itu mengambilkan handuk kering untuknya, Kai masuk kedalam kamarnya meninggalkan pembantu yang kini tersipu malu karena melihat ketampanan Kai.

 

 

Sementara itu dikamar Sehun.

 

Sehun memencet ponselnya dengan cepat. Ia khawatir pada namja cantik yang menjadi kekasihnya itu. Sehun tahu kalau Luhan pulang telat karena tugas kelompok.

“Aish!! Kalau tahu begini aku tunggui saja tadi.” Sesal Sehun sambil duduk ditepi ranjangnya.

“Jinjja!!” Sehun kembali mendesah kesal karena telponnya tidak kunjung diangkat oleh Luhan. “Dimana anak itu sekarang!”

 

 

Roll like a buffalo~

“Eh!!” Luhan melirik ponselnya yang berbunyi. Ia baru saja siap mandi. “Glek! Thehunnie!..Yoboseyo~”

Ya! Kenapa lama sekali mengangkatnya!”

“Mwoya! Kenapa Thehunnie marah- marah!”

Terdengar suara desahan nafas Sehun. “Mianhae.. Aku hanya khawatir. Kau dimana?”

“Dirumah.”

Hmm.. Kau bawa payung, ya? Syukurlah! Hujan masih lebat sih.”

“E..Ehh~~” Luhan yakin sekali kalau ia mengatakan pada Sehun ia pulang menerobos hujan, Sehun akan memarahinya habis- habisan.

Xi Luhan.. Jangan bilang kalau kau pulang menerobos hujan?” tanya Sehun dengan suara nyaring.

Mati aku!!” pekik Luhan dalam hati. “Aku tidak kehujanan kok.”

Bagaimana bisa tidak kehujanan sedangkan kau menerobos hujan!” pekik Sehun marah. Luhan memanyunkan bibirnya kemudian menatap jaket coklat kulit yang tadi melindunginya.

“Aku benar- benar tidak kehujanan. Tadi ada malaikat yang menolongku. Pasti karena aku ngomong macam- macam sama hujan. Jadi hujan kasihan melihatku kehujanan dan memberiku jaket ini.”

“Hah?” Bisa dipastikan Sehun melongo mendengar penjelasan Luhan.  “Kau yakin kepalamu baik- baik saja, chagiya?”

“Tentu! Walau aku tadi jatuh lagi.. Hehehe!”

Dengan wajah duluan lagi?

“Ne~” jawab Luhan sambil terkekeh. Bangga pula.

Sehun hanya menepuk dahinya. “Luhannie… Kau sangat mengkhawatirkan! Aigoo!! Bagaimana bisa wajahmu tetap cantik dan mulus jika tiap menit kau jauh dengan wajah duluan, oeh?!

Pipi Luhan merona merah. “Aihhh~ Thehunnie bisa saja menggombal!”

Sehun kembali melipat dahinya. Ia sedang tidak menggombal. Ia benar- benar bertanya pada Luhan dan kini namja cantik itu menyangka ia sedang menggombal? Luhan benar- benar sangat … polos?

Hahahaha~ Ne! Ne! (Terserah, sih) Nampaknya kau baik- baik saja (Karena sikap bodohmu tidak hilang). Baiklah! Nanti malam aku telpon lagi, ya!

“Ne, Thehunnie~ Saranghaeyo~”

Nado, Saranghaeyo, Luhannie pabo~”

“Ya!”

Kyeopta chagiya~ Annyeong~

“Annyeong~”

 

Luhan memutuskan sambungan ponselnya dan berjalan cepat menuju jaket yang tergantung dikamar mandinya. Ia langsung mencuci jaket kulit itu saat ia mandi. Luhan tersenyum manis dan meraba permukaan jaket coklat kulit itu.

“Apa benar hujan yang menjatuhkan jaket ini untuk melindungiku?”

Wajah Luhan merona merah. “Siapapun itu… Aku benar- benar tertolong. Xie xie…”

 

 >>>

Keesokan harinya.

 

“Aku akan menemukannya Kyungsoo!!” ujar Luhan berapi- rapi didalam kelasnya. Kyungsoo mengangguk dan mengiyakan dengan malas.

“Andwae~ Kyungsoo tidak mendengarkanku ya?” Luhan mengerucutkan bibirnya.

“Luhan bermaksud mencari siapa yang memiliki jaket itu, kan? Aku mendengarkannya kok chagiya~” Ujar Kyungsoo sambil menunjuk jaket yang dipeluk Luhan.

“Tapi bisa gak ya? Tidak ada petunjuk sama sekali, sih!”

“Nah! Itu dia!!” Kyungsoo langsung berteriak membuat Luhan kaget. “Makanya menyerah saja.”

“Wae! Kenapa begitu! Aku harus mengembalikan jaket ini!”

“Kalau orang itu memberikan padamu saat hujan berarti dia tidak membutuhkannya. Anggap saja ia memberikannya padamu.” Jawab Kyungsoo yakin.

Luhan memanyunkan lagi bibirnya. “Tapi aku ingin berterima kasih.”

Kyungsoo tersenyum manis dan membelai rambut Luhan lembut. “Baiklah! aku bantu sebisaku deh.”

“Kyaaaa~ Xie xie, Kyungsoo! Poppo!!” Luhan mencium pipi Kyungsoo manja. Namja manis itu hanya bisa geleng- geleng melihat tingkah sahabatnya itu.

 

 

>>>

Jam Istirahat

 

Bruaakk

 

“Uwaaaa!!” Luhan lagi- lagi jatuh tertelungkup. Kyungsoo menepuk dahinya dan bermaksud menolong Luhan namun gerakan Kyungsoo terhenti melihat seseorang kini tengah menjongkok dihadapan Luhan kemudian mengangkat tubuh Luhan seperti mengangkat anak kecil.

Luhan membulatkan matanya melihat siapa namja yang masih mengangkatnya. “Harus berapa kali aku melihat tingkah bodohmu, hah?”

“K..Kai?!” Luhan malah memiringkan wajahnya dengan polos. Memperhatikan wajah Kai yang nampak sangat dekat dengan wajahnya. Seketika itu Luhan menatap kakinya yang masih melayang. Kai masih mengangkat tubuh Luhan.

“Turunkan aku.” Pinta Luhan sambil tersenyum manis.

Kai malah tersenyum sinis kemudian melepas tangannya dengan tiba- tiba. Otomatis tubuh Luhan kembali akan jatuh namun Luhan merasa seseorang menangkap tubuhnya dan menggendongnya ala bridal style.

“Thehunnie!!” pekik Luhan senang.

 

Kai menatap Sehun tajam. Luhan tidak menyadari perang tatapan antara dua namja tampan itu terus saja mengoceh kalau ia baru saja terjatuh dan Kai mengangkatnya kemudian melepaskannya begitu saja.

Sehun menatap Luhan sekilas dari sudut matanya kemudian menatap Kai. Luhan masih berceloteh. Kyungsoo menepuk jidatnya lagi melihat tingkah sahabatnya yang sama sekali tidak peka. Sehun dan Kai sedang dalam keadaan tegang namun Luhan terus saja mengoceh.

“Ya! Thehunnie! Kau tidak mendengarkan omonganku?!” Luhan memanyunkan bibirnya. Kyungsoo lagi- lagi mengangkat bahu dan memutuskan pergi kekantin sendirian.

Kai tersenyum sinis melihat Luhan yang digendong oleh Sehun. “Kekasihmu ternyata pabo sekali ya. Aku tak menyangka seorang Oh Sehun bisa terpikat pada namja pabo seperti dia.”

Luhan membulatkan matanya mendengar perkataan Kai. Ia baru saja diejek secara terang- terangan.

“Mwo!! Kau namja jelek! Suka- suka deh! Kayak kamu pintar saja!!” Luhan turun dari gendongan Sehun dan berkacak pinggang  dihadapan Kai.

“Siapa yang suka sekali terjatuh, oeh! Kau pikir aku tidak bosan melihatnya.”

“Memangnya kalau suka terjatuh disebut bodoh?”

“IYA! Karena otakmu tidak beres!”

“OH-HO-HO-HO! Kalau otakmu beres kau tidak akan melepas tanganmu yang masih mengangkatku begitu saja! Kalau tadi Thehunnie-chagiya tidak menangkapku, aku pasti sudah jatuh dengan pantat duluan!”

“Memang aku peduli? Dan apa tadi? Thehunnie chagiya? NORAK!!”

“YAAA!! Kau menyebalkan!!”

Kai dan Luhan masih beradu argumen. Seakan tidak mau kalah, Luhan selalu menjawab hinaan Kai dan begitu juga sebaliknya.  Sehun hanya menatap heran Luhan yang biasanya cute jadi marah- marah seperti itu.  Kai juga nampak sangat semangat membalas perkataan demi perkataan Luhan. 

“HA-HA!  Kalau begitu ingat namaku XI LUHAN!”

“OH! Kau juga ingat namaku juga KIM JONGIN!!”

Seketika itu Kai membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Luhan dan Sehun.

“Ya! Ya! Jangan kabur! Dasar menyebalkan!!” teriak Luhan sambil menghempas- hempaskan kakinya. Sehun menghela nafas panjang kemudian memeluk Luhan dari belakang. Seketika itu Luhan terdiam.

 “Thehunnie~”

“Kenapa kau jadi marah- marah begitu pada Kai? Kalian nampak akrab!” Sehun membenamkan wajahnya dipundak Luhan.

“Akrab? Kenapa Thehunnie bilang begitu?” tanya Luhan heran.

“Sudahlah. Yang penting jangan dekat- dekat dengan Kai lagi ya.” ujar Sehun sambil mencium leher Luhan seraya menggigitnya kecil.

“Thehunnie! Jangan digigitin! Sakit!!” pekik Luhan keras. Alhasil beberapa murid yang lewat jadi menatap Sehun dengan tatapan Orang-Mesum-Beraninya-Menyerang-Anak-Polos-Seperti-Luhan.

 

>>> 

 

“Siapa ya yang punya jaket ini..” bisik Luhan sambil tiduran diatas ranjangnya.  Ia ciumi jaket coklat itu kemudian memeluknya erat.

“..Kenapa aku jadi ingin sekali bertemu pemilik jaket ini, ya.”

Sejurus kemudian Luhan tertidur dengan memeluk jaket kulit itu. Masuk kedalam alam mimpi lebih dalam lagi.

 

 

>>> 

 

Tok

Tok

 

Sehun mengetuk pintu kamar Kai dengan keras. Setelah beberapa ketukan lagi, pintu kamar Kai baru terbuka dan nampaknya namja tampan itu baru bangun tidur.

“Mau apa?” tanya Kai jutek.

Sehun melipat tangannya didada. “Kau jangan pernah dekati kekasihku.”

Mata Kai yang tadinya nampak mengantuk kini berubah menatap Sehun sinis. “Hah! Tidak salah dengar? Siapa yang mendekatinya, Oh Sehun?”

Sehun mengepalkan tangannya.

“SIAPA YANG MENDEKATI XI LUHAN HAH! SAAT KAU TAHU AKU MENYUKAINYA KAU LANGSUNG MENDEKATINYA !” Pekik Kai keras.

Sehun tersenyum sinis. “Kau terlalu lama bertindak, Oh Jongin.”

“Jangan sebut namaku dengan marga itu! Namaku KIM JONGIN!!” Kai mencengkram kerah baju Sehun dan wajahnya menyiratkan kemarahan yang amat sangat.

Sehun mendorong tubuh Kai keras dan merapikan kerah bajunya. “Dengar aku, Kim Jongin. Aku akan selalu merebut apa yang kau miliki! Karena kau telah merusak hidupku dan keluargaku!”

Kai menatap tajam Sehun kemudian melipat tangannya didada. “…Kau boleh mengambil semuanya dariku. Aku tidak akan merebutnya kembali.  Tapi hanya satu yang akan aku ambil kembali… Xi Luhan.”

“Maaf saja. Dia sudah jadi milikku. Bermimpilah!” Sehun berjalan menuju kamarnya. Kai tersenyum remeh dan membanting pintu kamarnya.

 

 

>>>

 

 

Keesokan harinya disekolah.

 

Luhan duduk dibangkunya sambil terus memandang jaket yang ia bawa. Selalu ia bawa kesekolah dan tidak pernah ia tinggalkan dirumah. Kyungsoo sedang pergi ketoilet. Luhan baru saja selesai menghabiskan sandwich-nya. Jam istirahat kali ini Luhan lebih memilih memandangi jaket kulit berwarna coklat itu.

“Ne Luhannie~ Masih saja memandang jaket itu?” Kyungsoo baru saja kembali dari toilet. Luhan mengangguk dan tersenyum.

“Tapi… Aku entah mengapa pernah melihat jaket ini..” Kyungsoo nampak berfikir.

“Benarkah?!” Luhan langsung histeris.

“Entahlah! Aku lupa..” Kyungsoo mengangkat bahunya.

“Aish! Kyungsoo kalau gitu tidak usah bilang,kan!” Luhan memanyunkan bibirnya.

 

Drap

Drap

 

Seketika itu Luhan dan Kyungsoo melihat banyak orang yang berlarian dikoridor. Sepertinya ada sesuatu yang menarik terjadi.

“Ada apa tuh?” tanya Luhan pada Kyungsoo.

“Entah.” Jawab Kyungsoo tidak tertarik.

Luhan yang memang selalu ingin tahu memberikan jaket yang ia pegang pada Kyungsoo.

“Titip dulu, ya. Aku mau lihat.” Ujar Luhan sambil keluar dari kelasnya. Kyungsoo mengangguk pelan kemudian tersenyum manis. “Aigoo~ Anak itu memang hyperactive.”

 

Luhan melihat kerumunan yang ada didekat perpustakaan. Suara ricuh terdengar sangat memekakkan telinga. Tentu saja Luhan makin penasaran dan mendekati kerumunan itu.

“Permisi! Permisi!” Luhan akhirnya berada dikurumunan paling depan.

Namun matanya membulat sempurna saat melihat perkelahian 3 lawan satu itu. Ya, tiga namja tinggi memukuli satu namja yang tersungkur dilantai.

“KAI! YA TUHAN!!” Pekik Luhan langsung menghambur  ketempat perkelahian itu. “YA! YA! YA!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!”

Luhan membentangkan tangannya melindungi Kai yang tersungkur dibelakangnya. Tiga orang namja terhenti sesaat.

“Yah! Kau mau menghalangi kami, oeh!” ujar namja paling tinggi bernama Kris.

“Sana pergi! Kami mau menghajar anak tidak tahu sopan santun itu! Atau kau mau dihajar juga cantik!!” teriak namja yang bername tag Park Chanyeol itu.

“Kalian berani main keroyok saja, oeh!!” Luhan berteriak marah. Namun setelah itu ia rasakan seseorang memegang pundaknya. Ternyata Kai sudah berdiri walau nampak masih sempoyongan.

“Kai.. Gwechanayo?” tanya Luhan khawatir. Kai tidak menjawab hanya menatap ketiga namja itu marah.

“Siapa yang bilang akan menghajar anak ini tadi!!” teriak Kai marah. Chanyeol tersenyum sinis, ia kembali mengepalkan tangannya.

Namja yang dari tadi berdiri dibelakang Kris agak terkejut menyadari sesuatu.

“Kris-gege! Namja cantik itu kekasih Sehun. Kalau dia kenapa- kenapa bisa gawat lho!”bisik namja bernama Tao. Sebenarnya dia tidak ikut memukuli Kai. Hanya melihat kedua temannya menghajar Kai.

Kris langsung memegang lengan Chanyeol dan membisikkan apa yang dikatakan Tao padanya.

“Cih!!” Chanyeol menggertakkan giginya dan berbalik badan. Kris dan Tao ikut membalikkan badan pergi meninggalkan Luhan dan Kai.

Melihat 3 namja tampan itu pergi, kerumunan murid itu juga ikut bubar. Kai menghela nafas panjang dan menyender didinding.

Luhan langsung memegang lengan Kai erat. Prihatin melihat wajah Kai terlihat ada beberapa luka goresan.

“Ayo kuantar ke UKS.” Luhan membantu Kai berjalan menuju UKS. Kai tak banyak bicara hanya menatap Luhan yang berusaha menolongnya lalu menunduk dalam.

Entah apa yang dipikirkan Kai. Namun bisa dilihat sesaat senyuman manis menghiasi wajah dinginnya.

Hanya sesaat.

 

 

>>> 

 

“Kau sungguh sial, Kai. Guru kesehatanpun tidak ada di UKS.” Luhan terkekeh pelan sambil mengobati luka Kai yang ada ditangannya. Mereka duduk berhadapan dikursi UKS.

“Ya! Bisa pelan- pelan tidak!” Kai langsung memaki Luhan saat namja cantik itu sengaja menekan kapas beralkohol keluka Kai.

“Ini biar kamu CEPAT sembuh! Hihihi!”

“Cepat sembuh atau mengerjaiku, oeh! Dasar!”

Luhan mencibir dan kembali fokus pada luka Kai. Sesaat Kai nampak memperhatikan wajah Luhan lalu membuang muka dan kembali memperhatikan wajah Luhan dan kembali membuang muka. Kai nampak salah tingkah walau dengan pintarnya ia menyembunyikan wajah lembutnya itu.

 

“Tanganmu sudah siap! Yey!! Hasil kerjaku sangat memuaskan!” Luhan tersenyum bangga. “Nah! Sekarang wajahmu!”

Deg

Mata Kai membulat merasakan tangan mulus namja manis itu menyentuh sudut bibirnya. Menyeka darah yang ada disana kemudian menekan pelan kapas beralkohol.

Namun seakan tersihir, Kai tidak merasakan rasa sakit sama sekali saat alkohol itu menyentuh lukanya. Ia hanya memperhatikan ekspresi hati- hati Luhan yang mengobatinya. Ekspresi polos dan murni. Ekspresi yang sangat ia sukai.

Wajah mereka sangat dekat.

Luhan masih mengobati luka yang ada dipipi kanan Kai tapi…

Grep

Kai memegang tangan Luhan. Sontak Luhan menatap mata Kai heran. Ia tidak mengerti namun tatapan mata Kai memintanya tidak bersuara. Mereka bertatapan cukup lama. Sangat lama.

Seakan mencari sesuatu dibenik mata masing- masing lawan.

Kai mendorong tengkuk leher Luhan dan seketika itu bibir Kai menempel pada bibir mungil Luhan. Tentu saja Luhan tidak terima dan berusaha mendorong Kai namun Kai mulai memainkan bibir Luhan dan melumatnya beberapa kali. Ciuman singkat yang berubah jadi ciuman panas.

“Hnggg!!!” Luhan terus berusaha mendorong Kai sampai akhirnya Kai sendiri yang melepas tautan itu.

Mata Luhan berkaca- kaca. Ia memegang bibirnya yang sedikit bengkak akibat perbuatan Kai. Kakinya seakan melemas. Kai tersenyum dan mengacak- acak rambut Luhan.

“Gomawo.” Kai keluar dari ruang UKS meninggalkan Luhan yang masih terpaku ditempatnya.

Tes

Tes

Air matanya turun. “Hiks.. Sehun… Hikss…” Luhan menangis terisak. Ia merasa bersalah. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan Kai menciumnya seperti itu.

Luhan sangat memegang teguh kata ‘Setia’ dan Kai menghancurkannya.

Bagaimana ia bertemu Sehun jika ia sudah melakukan ‘Deep Kiss’ dengan saudara Sehun sendiri?

“Tuhan… Hiks.. Ampuni aku…” Luhan terduduk dilantai dan menangis sambil membenamkan wajahnya dikursi yang ia duduki tadi.

“..Tidak.. Aku tidak boleh.. Hiks..”

Ia menangis dan tidak memperdulikan lonceng tanda jam istirahat berakhir.

 

>>> 

 

Kyungsoo merasa aneh karena Luhan belum juga masuk kedalam kelas. Sedikit khawatir, Kyungsoo terus melirik pintu kelas. Songsaenim sudah masuk sejak tadi. Kemudian Kyungsoo menatap jaket yang ada didalam lacinya dan menghela nafas.

 

Flash back

 

“Titip dulu, ya. Aku mau lihat.” Ujar Luhan sambil keluar dari kelasnya. Kyungsoo mengangguk pelan kemudian tersenyum manis. “Aigoo~ Anak itu memang hyperactive.”

Kyungsoo menatap jaket itu kemudian memeriksanya. Nampaknya ada saku rahasia dibalik jaket itu. Tanpa pikir panjang Kyungsoo memasukkan tangannya dan menemukan sebuah buku kecil.

“Heh? Ini kan buku siswa sekolah ini.” Kyungsoo membulak balikkan buku itu. “Waah~ Berarti yang memiliki jaket ini anak sekolah ini ya.”

Tidak sabar Kyungsoo membukanya dan betapa kagetnya ia melihat biodata siswa yang ada didalam buku itu.

“..Kim Jongin? Hah?” Kyungsoo mengucek matanya kasar kemudian membaca biodata itu lagi. “Ya! Ini milik Kai! Saudara Sehun itu, kan?” Kyungsoo yakin ia tidak salah lihat karena foto yang terpampang disana memang foto Kai.

“Jadi… Yang memiliki jaket ini… Kai.”

 

End Flashback

 

Kyungsoo menghela nafas panjang. Ingin sekali ia beritahu pada Luhan kalau ia sudah menemukan sipemilik jaket kulit itu, namun Luhan tidak juga kunjung masuk kedalam kelas. Perasaan Kyungsoo mulai tidak enak. Ia memutuskan untuk mencari Luhan dulu.

 

>>> 

 

Kyungsoo menatap pintu toilet dan menghela nafas panjang. “Mungkin dia disini, ya?”

Klek

Kyungsoo melihat Luhan sedang mencuci wajahnya diwastafel. Heran, Kyungsoo mendekati Luhan dan memegang pundak Luhan dari belakang.

“UWAAAAAAAA!!!” Pekik Luhan sambil mengibaskan tangannya yang masih penuh dengan air. Alhasil baju Kyungsoo jadi sedikit basah.

“Ya! Luhannie!!” Kyungsoo memanyunkan bibirnya.

Melihat Kyungsoo, Luhan kembali menangis. “Kyu..Kyungsoo… Hiks…”

“Wae? Andwae?!” Kyungsoo dibuat langsung panik karena Luhan menangis. Luhan memeluk tubuh Kyungsoo dan menangis dipundak Kyungsoo.

“Aku jahat! Hiks…”bisik Luhan lirih.

“Jahat kenapa?” tanya Kyungsoo sambil mengusap punggung Luhan lembut.

Luhan menggeleng dan menghapus air matanya. Ia melepas pelukannya dan menunduk. Kyungsoo rasa ia harus memberitahu siapa pemilik jaket yang Luhan anggap malaikat itu. Mungkin saja malaikat itu kembali senang.

“Hmm.. Biar kamu senang aku kasih tahu deh sama kamu.”

“Heh?”

“Aku tahu siapa pemilik jaket itu.”

Mata Luhan membulat seketika itu. “Si…Siapa!!”

Kyungsoo tersenyum manis. “Tadi aku memeriksa jaket itu dan menemukan tanda kepemilikan jaket itu. Ia murid sekolah ini.”

“Jinjja?!” teriak Luhan senang seakan lupa dengan kesedihannya barusan.

“Kau kenal kok. Namanya Kim Jongin alias Kai.”

Jdeeer!!

Luhan merasakan petir menyambar kepalanya. “K..Kai?”

“Ne! Kau harus lebih teliti lagi lain kali, ne! Masa’ kamu tidak memeriksa saku jaket itu terlebih dahulu, sih?”

Luhan memantung. Ia bekap mulutnya sendiri dan menunduk. “Kai..”

 

 

>>> 

 

Sehun menunggu Luhan diluar kelas Luhan.  Namun namja cantik itu tidak kunjung keluar walau kelas sudah mulai kosong. Jadinya Sehun masuk begitu saja dan ia menemukan bangku Luhan sudah kosong.

“Sehun..?” Kyungsoo ternyata belum keluar dari kelas. Kyungsoo nampak menyandang tasnya dan bersiap- siap akan keluar kelas.

“Mana Luhan?” tanya Sehun cepat.

“Luhan? Dia tadi langsung keluar saat bel pulang. Kurasa dia mau mengembalikan jaket itu.”

“Jaket?” Sehun mengerutkan dahinya.

“Ne.. Kau tidak diberitahu tentang jaket kulit itu?” Kyungsoo menebak- nebak.

Sehun berpikir sejenak kemudian ingat dengan percakapannya dan Luhan beberapa hari yang lalu.

 

 

“Aku benar- benar tidak kehujanan. Tadi ada malaikat yang menolongku. Pasti karena aku ngomong macam- macam sama hujan. Jadi hujan kasihan melihatku kehujanan dan memberiku jaket ini.”

 

  

“Jaket.. Iya Luhan memang bicara tentang hal itu.”

Kyungsoo mengangguk kemudian tersenyum. “Luhan mencari orang pemilik jaket itu dan sekarang Luhan sudah mengetahui pemilik jaket itu.”

“Siapa?” Perasaan Sehun tiba- tiba jadi tidak enak.

“Kai.” Kyungsoo menjawab dengan senyuman mantap.

Mendengar nama Kai, Sehun langsung berlari keluar kelas Luhan meninggalkan Kyungsoo begitu saja.

“Sial!!” umpat Sehun.

 

>>> 

 

Kai menatap Luhan yang menghalangi jalannya. Kai tertahan didalam kelasnya kerena Luhan menutupi pintu keluar kelas Kai dengan mengembangkan tangannya. Didalam kelas memang hanya tinggal Kai saja.

“Si Pabo ini mau apa lagi?” Kai memutuskan kembali duduk dibangkunya.

Luhan menatap Kai dengan tatapan membunuh. “Neomu NAPEUN!!!” teriak Luhan.

Kai memutar bola matanya. “Soal ciuman tadi? Hey! Kenapa kau begitu memikirkannya? Di Barat, ciuman itu sudah seperti salam.”

Luhan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kai. Bahkan Kai tidak menanggapi ciuman yang dipikirkan Luhan mati- matian hingga ia menangis.

“Aku benci Kai!!” Luhan berjalan kebangku Kai dan memukuli Kai. Karena tubuh mungil dan tangannya yang kecil, Kai sama sekali tidak merasa sakit dipukuli oleh Luhan. Ia malah menatap Luhan yang tengah memukuli lengannya.

Grep

Kai memegang kedua tangan Luhan dan melihat mata namja cantik itu berkaca- kaca.

“Kenapa…? Padahal aku kekasih Sehun… Kau keterlaluan..” bisik Luhan yang mulai menangis.

Kai menghela nafas panjang kemudian melepas tangan Luhan dari genggamannya. Kai berdiri dan berjalan keluar kelasnya.

“Ya!” Luhan memegang lengan Kai dan mengeluarkan jaket kulit dari tasnya. Luhan berjalan kedepan Kai dan memberikan jaket kulit itu kedepan dada Kai. Ekspresi Kai masih dingin menatap jaket itu yang memang jaketnya.

“Ini milik Kai, kan?”

“Kalau iya?” Ekspresi wajah Kai masih tetap dingin.

“Terima kasih karena telah menolongku. Kai namja yang baik. Aku tahu itu.”

Mata Kai membulat dan mengambil jaket itu dari tangan Luhan. Nampak smirk terukir dibibir tebal Kai kemudian menutup kepala Luhan dengan jaket itu.

“MWO!! K-“ teriakan Luhan terhenti saat bibirnya kembali dikunci oleh bibir Kai. Tanpa bisa melawan, Kai mendorong tubuh Luhan menempel didinding. Mereka masih berciuman dengan panas. Tangan Luhan sudah ditahan oleh Kai dengan kedua tangannya dan dinding. Luhan benar- benar terkunci.

Wajah Luhan memerah. Ia benar- benar memerlukan oksigen. Namun Kai tidak memberinya celah dan masih melumat bibir Luhan.

“K..Kai!!” Luhan memohon dan Kai menghentikan ciumannya. Mata kelamnya menatap mata Luhan yang berkaca- kaca.

“K..Kenapa.. Kau menciumku..” Luhan berbisik pilu.

“Tidak bisakah kau membacanya?” Kai berbisik pelan sambil terus menatap mata Luhan. “Tidak bisakah kau membacanya, Luhan?”

Deg

Deg

Luhan merasa jantungnya tidak stabil. Jelas terlihat ekspresi terluka terukir diwajah tampan Kai.

Seketika itu kuncian Kai melemah. Kai mundur perlahan kemudian tersenyum miris. “Kau bahkan tidak sadar aku selalu melihatmu dari jauh. Apa Sehun sebegitu pentingnya untukmu? Dengan cepat kau melupakanku dan… Sehun selalu menang. Ia akan selalu dapat apa yang ia inginkan..”

“Apa yang kau bicarakan!” Luhan berjalan mendekati Kai namun namja tampan itu keluar dari kelasnya begitu saja. Luhan bermaksud mengejar Kai namun kakinya serasa lemah.

Bruak

Luhan jatuh terduduk. Sekuat tenaga ia menahan air matanya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia jadi selemah ini. Kenapa begitu menyakitkan mendengar ucapan pilu Kai?

 

“LUHAN!”

 

Sehun masuk kedalam kelas Kai dan melihat Luhan yang terduduk. Wajah Luhan yang berantakan membuat Sehun tambah cemas.

“Apa yang terjadi!!” Sehun membantu Luhan berdiri dan duduk dibangku terdekat. Luhan menggeleng pelan kemudian memeluk Sehun erat. Bingung, Sehun hanya diam mendapat perlakuan Luhan. Ia lihat jaket coklat milik Kai berada ditangan Luhan.

“Luhannie? Gwecahana?”

“Sehun… Mianhaeyo…” Luhan mempererat pelukannya.

“Apa Kai melakukan sesuatu padamu?! Beritahu aku!” Sehun mulai tersulut amarah. Luhan diam dan menggeleng pelan.

“Aku baik- baik saja.”

“Kau yakin?” Sehun mengusap punggung Luhan lembut. Luhan mengangguk pelan. Ia mulai merasakan ada yang berubah didalam hatinya. Dan ia tahu pasti apa itu. Rasa yang mulai kembali.

“Sehunnie… Bolehkah aku berkata jujur padamu?” tanya Luhan sangat pelan. Sehun menelan ludahnya kemudian mengangguk.

“Katakan saja…”

 

 

>>> 

 

 

“Apa yang kau lakukan pada Luhan, oeh!! KAU BENAR- BENAR MEMBUATKU MUAK!!!” pekik Sehun saat masuk begitu saja kedalam kamar Kai. Tentu saja Kai yang sedang tiduran diranjangnya langsung berdiri.

“Menurutmu apa yang aku lakukan?”

Sehun mendorong tubuh Kai hingga Kai tersungkur dilantai. Ia tatap wajah Kai yang penuh bekas luka kemudian tersenyum sinis. Sehun sebenarnya ingin memukuli Kai namun itu urungkan niatnya.

“Masih belum puas dengan lukamu itu, Jongin? Apa kau lebih mengerti jika salah satu kakimu patah?”

Kai bangkit dan berdiri tegap. Ia lipat kedua tangannya didada. “Aku tahu yang tadi itu teman- temanmu, Sehun. Aku tahu kau yang menyuruh mereka.”

“Syukurlah jika kau tahu. Suatu saat aku akan menambahkan lebih banyak luka ditubuhmu.”

Kai menunjukkan senyuman remeh. “Cara licik yang menarik. Berkat itu Luhan menolongku dan kami menghabiskan waktu berdua saja di UKS. Menarikkan?”

Sehun mengepalkan tangannya. “Belum puas kau mengambil semua dari hidupku KIM JONGIN!!”

 

Duaak!!

Buk

Duaak

 

Sehun memukul Kai dengan brutal. Menambah luka yang masih ada ditubuh Kai. Dengan cepat Kai menyeka luka yang ada disudut bibirnya dan kembali berdiri menatap Sehun tajam. 

Kai menggertakkan giginya. “Kau pikir aku mengambilnya, hah! Sedikitpun aku tak pernah bermaksud merebut apapun darimu! Jika kau pikir kau yang paling menderita didunia ini. COBALAH HIDUP MENJADI DIRIKU!!”

Sehun kaget namun dengan cepat ia membuang muka.

“Kau yang selalu dilindungi oleh Ahjusshi sialan itu! Aku yang selalu dinomor duakan. Tidak pernahkah kau sedikit bersyukur dengan keadaanmu!! Aku tahu aku ini anak HARAM! AKU TAHU DAN AKU CUKUP TAHU DIRI! DAN APA KAU PERNAH BERFIKIR UNTUK MATI. OEH!! KAU PERNAH BERFIKIR LEBIH BAIK KAU TIDAK ADA DIDUNIA INI JIKA SELALU DIPANDANG YANG PALING BERSALAH!!”

Kai berteriak sekeras yang ia bisa. Kai muak sekali. Ia muak menjadi manusia yang selalu disalahkan. Sehun selalu menyalahkannya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sehun selalu membuatnya seolah- olah ialah sumber penderitaan Sehun selama ini.

Sehun diam kemudian berjalan keluar dari kamar Kai. Sehun terhenti sebentar dan bergumam pelan. “Jaga Luhan baik- baik.”

Kai tidak dapat mendengar gumaman pelan dari bibir Sehun.

 

Kai menggertakkan giginya lagi dan membating pintu kamarnya. “Aku tidak tahan lagi!!”

 

 

>>> 

 

[Kai POV]

 

Aku baru saja keluar dari rumah itu. Ya! Rumah terkutuk yang selama ini mengurungku. Aku tidak memperdulikan para pembantu yang menanyakan kemana aku akan pergi.

Aku tidak tahu namun yang pasti, aku tidak akan kembali kerumah ini lagi.

Tidak akan pernah!!

 

 

[Author POV]

 

Kai tidak membawa apapun. Ia hanya memakai baju kaos hitam dan jeans biru tua keluar dari rumahnya. Hanya dompet dan ponsel yang ada disakunya.

 

Kini Kai ada dijalan ramai kota Seoul. Ia sendirian dan tidak tahu harus kemana. Ia memang memutuskan pergi dari rumah itu. Ia sudah tidak kuat lagi dan ia ingin memulai hidup baru. Sebenarnya ia juga merasa bersalah membentak Sehun seperti tadi. Sehun sebenarnya juga tidak bersalah. Sehun sama sepertinya. Sama- sama korban keegoisan orang tua mereka.

 

Tap

 

Langkah Kai terhenti dan seketika itu ia mendongakkan wajahnya kelangit malam yang sangat hitam namun cerah. Banyak bintang yang bertebaran disana. Malam yang cerah namun hatinya malah semakin muram. Orang- orang yang berlalu lalang tidak mengindahkan Kai yang berdiri diantara mereka.

 

Grep

 

Kai merasakan sesuatu membungkus tubuhnya. Ia lihat jaket kulit berwarna coklat kini menempel ditubuhnya walau tidak terpasang sempurna. Seketika itu Kai berbalik badan dan melihat namja mungil itu berlari meninggalkannya.

Tanpa aba- aba Kai mengejar namja mungil itu dan beruntung namja mungil itu berlari tidak terlalu cepat dan…

 

BRUAAAKKK

 

Namja mungil itu terjatuh dengan wajah duluan (lagi). Kai mempercepat larinya dan mengangkat tubuh namja mungil yang tidak lain adalah Luhan. Mereka jadi tontonan orang- orang yang lewat. Tidak nyaman, Kai menggendong Luhan ala bridal dan membawanya kesalah satu taman didekat sana.

 

 

>>> 

 

Luhan dan Kai duduk disalah bangku taman dan pertengkaran kembali mendominasi suasana.

“Ya! Kau ini punya penyakit apa sih? Berapa kali harus jatuh seperti itu?!” pekik Kai sembari mengusap pipi Luhan. Takutnya namja super ceroboh itu terluka. Tapi entah mengapa wajahnya tidak pernah terluka walau selalu jadi korban kemalangan Luhan.

Luhan memanyunkan bibirnya dan memukul lengan Kai. “Mana kutahu. Itu hobby tahu!”

“Ngeles!” Kai mencibir.

“Aku tidak ngeles, kok.”

Kai menhela nafas kemudian melepas jaket kulitnya yang tadi dipasangkan oleh Luhan.

“Ini, pakailah. Tubuhmu kedinginan, kan?” Kai memberikan jaket itu kembali pada Luhan.

“Kai nampaknya juga kedinginan.” Luhan menatap Kai tajam kemudian menunduk.

 

Puuk

 

Kini jaket itu kembali menghangatkan tubuh Luhan. Kai tersenyum manis dan itu membuat Luhan membulatkan matanya tidak percaya.

“KAU TERSENYUM!!” teriak Luhan super keras.

Sontak Kai kaget setengah mati dan mengelus dadanya. “Kau mau membuatku mati muda karena serangan jantung, oeh!!”

“Hehehe~ Bukan begitu! Baru kali ini aku melihatmu tersenyum seperti itu, tahu.”

“Memangnya kenapa?”

“Kau sangat tampan jika tersenyum seperti itu.” jawab Luhan polos tidak menyadari rona wajah Kai mulai memerah.

“Ada- ada saja.” Balas Kai berusaha senormal mungkin.

Luhan menyandarkan punggungnya dibangku taman dan menatap langit berbintang itu. Kai ikut menatap langit. Tidak menghiraukan udara malam yang dingin.

 

“Namamu Oh Jongin didalam absen namun kau sama sekali tidak pernah mengatakan namamu Oh Jongin. Kau akan selalu menyebut dirimu Kim Jongin. Kau saudara Sehun walau kalian nampak sama sekali tidak akrab. Kita pertama kali bertemu saat aku tak sengaja jatuh menubrukmu diupacara penerimaan siswa baru dua tahun yang lalu.” Ucap Luhan tiba- tiba masih menatap langit indah itu sambil tersenyum. Kai mendengarkan ucapan Luhan dalam diam dan mengingat masa dimana ia pertama kali terpana melihat Luhan.

“…Awalnya aku pikir kita akan dekat karena kita satu kelas. Namun semuanya salah. Kau menjauhiku dan Sehun mulai mendekatiku. Mulanya aku menanggapi Sehun biasa- biasa saja. Namun semakin hari Sehun membuatku jatuh cinta padanya dan kami berpacaran.”

Kai menghela nafas panjang. “…Kau mencintainya..”

“Sangat… Namun… Kau membuatku kembali mengingat perasaan itu lagi. Perasaan yang kurasakan saat pertama kali kita bertemu.”

Kai membulatkan matanya. Kini ia menatap wajah Luhan dengan sangat taat. Luhan tersenyum sedih.

“…Kau tidak tahu perasaan apa yang aku pendam sebelum aku bersama Sehunnie.. Ciumanmu membuatku berharap lagi tapi… Aku tidak mau mengkhianati Sehunnie.. Aku harus memilih.”

Kai memegang kedua pundak Luhan. Kini mereka bertatapan. Menatap benik mata satu sama lain dan Luhan menunduk dalam.

“Aku menyukaimu Kai… Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Dan sekarang aku memutuskan untuk mengejarmu.” Mata Luhan nampak berkaca- kaca. Tidak beda jauh dengan mata Kai.

“Aku sempat melupakanmu karena Sehun… Namun tadi… Saat kau menciumku. Aku tahu kalau aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih menyukaimu dan karena itulah aku tidak bisa berhenti menangis…”

Kai tersenyum dan air matanya jatuh begitu saja. “Gomawo… Luhan.. Gomawo..” Kai memeluk Luhan dengan erat dan mencium kepala Luhan sekilas. Ia sangat bahagia.

Baru kali ini Kai merasa begitu bahagia.

Luhan melepas pelukan Kai dan menatap mata sendu itu lekat. “Aku sudah membicarakan semua ini dengan Sehun.”

Kai membulatkan matanya. “..Benarkah!?”

“Dia memang tidak terima namun… Aku yakin suatu saat ia bisa menerimanya.” Luhan kembali memeluk Kai. “…Kami sudah putus..”

“Hmm.. Pantas saja tadi dia kekamarku sambil marah- marah. Membuatku pusing saja.”

“Eh? Sehunnie marah- marah?”

Kai mengangguk. “Makanya aku kabur dari rumah itu.”

Mata Luhan membulat. “Kabur?”

Kai kembali mengangguk. Luhan berfikir dan tersenyum manis menatap Kai penuh arti.

“Apa? Jangan senyum- senyum begitu deh. Serem tahu!” ujar Kai sambil mencubit pipi Luhan.

“Begitukah sikapmu pada namjachingu-mu?” Luhan memanyunkan bibirnya.

Kai sedikit kaget mendengar Luhan langsung mencap-nya sebagai namjachingu-nya. Kai tertawa pelan kemudian membelai rambut Luhan lembut.

“Siapa yang namjachingu-mu, oeh?” Kai memeletkan lidahnya.

“Mwo!!” Luhan terlihat kecewa.

“Kamu itu istriku. Kau harus ingat itu!!” Kai memegang hidung Luhan. Sontak wajah Luhan memerah. Mereka berpelukan dimalam yang dingin itu.

“Kalau begitu Kai tinggal diapartemenku saja.” Kata Luhan semangat. Kai mengerutkan dahinya.

“Diapartemenmu?”

“Aku tinggal sendirian kok. Lagipula Kai kan suamiku.” Ujar Luhan polos.

“Bolehkah?”

“Tentu! Aku akan sangat senang.” ujar Luhan sambil tersenyum mantap. Kai mengangguk dan mereka bangkit dari bangku taman. Menuju tempat dimana mereka akan berbagi kehangatan dan menjalin kasih sayang untuk seterusnya.

Cinta mereka tidak akan pernah pudar.

Selamanya.

 

THE END

 

 

 yeeeee~ udah jaddiii nihhh onyu-beb :d

RCL ya chingu

siapapun yang baca wajib RCL atau enggak Chen akan beraksi #apasih? -____-

Gomawo dah mau baca FF hyobin yaaaa🙂

 

 

 

129 thoughts on “[Oneshoot] Hidden Face

  1. Keren.. Lebih seneng HunHan sih daripada KaiLu, tapiii gegara sikap Sehun begitu jdi lebih setuju sama KaiLu (di ff ini).. Chanyeol nyempil nyenpil ajin :v

    Abaikan komentar saya yg tidak berguna ini :v
    Yg penting aku udh komentar :v
    Keep Fighting !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s