Kind Of Heart Chapter 4

halohaaaa~

pulang taraweh langsung bayar janji post FF ini >o<

RCL RCL RCL

hyobin g akan pernah bosan buat ingatan yang satu ini.. hehe

semoga kelanjutannya memuaskan. oh ya, kalo mau req ff bilang aja ya.. kasih tahu pair-nya apa, genre gimana, trus endingnya mau gmana.. Kalo bisa hyobin buatin deh. soalnya ada beberapa pair yang hyobin g dapet feelnya ssiih -_____-V

oke, lanjut ke FF ^^

MAIN CAST : HUNHAN / KAIHAN

 

OTHER CAST :BAEKYEOL – TAORIS

 

GENRE : SCHOOL LIFE, DRAMA, SAD ROMANCE

Kamu seperti hantu.

Hantu?

Ya, namja pabo sepertimu hanya bisa kudeskripsikan seperti itu.

Kau pabo namun selalu membuatku tak bisa membiarkanmu.

Kenapa kau membuat hidupku berubah?

Kau membingungkan

Namun…

Aku membutuhkanmu.

Kind Of Heart

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

[Twitter: @ranalunabila]

Chapter 4

“Bisa jelaskan padaku tentang pembicaraan kalian tadi?”Sehun langsung to the point menanyakannya pada Kai.

Kini mereka ada didalam mobil Kai menuju rumah Sehun.

“Pembicaraan?”

“Jjangmyeon.” Ujar Sehun sambil memutar bola matanya.

“Oh! Tadi malam aku kabur dari pesta oemma-ku. Saat aku tersesat dijalanan yang tidak kukenal, tak sengaja aku bertemu dengannya. Dan dia mentraktirku jjangmyeon.” Jelas Kai.

Sehun terdiam sesaat. “Jadi tadi malam kalian bersama?”

“Ne.. Walau lebih banyak adu mulut dengannya, sih.” Kai tersenyum simpul. Teringat akan kejadian tadi malam yang sangat menyenangkan.

“Kau nampaknya sangat senang.” Sehun menatap wajah Kai yang masih tersenyum.

“Ah! Mana mungkin! Dia sangat ribut. Kau tahu bagaimana ia memakan jjangmyeon-nya? Seperti anak kecil.” Kai kembali tersenyum.

Sehun menunduk kemudian menghela nafasnya.

“Kau terlihat gembira membicarakannya.”

“Aku? Shireo! Mana mungkin.” Kai membuang tatapannya keluar jendela mobil.

Sehun kembali menghela nafasnya.

 

 

>>>

Keesokkan harinya~

Luhan berjalan mendahului Kai yang juga ada dikoridor menuju kelas mereka.

“Ya! Tidak sopan sedikit, pendek!” sahut Kai melihat Luhan mendahuluinya tanpa menyapa atau memberi salam.

Luhan membalikkan badannya. “Tidak sopan? Siapa yang tidak sopan? Apa ‘pendek’ adalah panggilan yang sopan?”

Kai memutar bola matanya. “Baiklah. Luhan-sshi! Aku sudah memanggil namamu, kan?”

Luhan menghela nafas panjang. “Terima kasih kalau begitu.” Luhan beranjak pergi dan Kai mengejarnya.

“Kapan kita makan jjangmyeon lagi?” tanya Kai sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

“Kapan kau ada waktu.” Jawab Luhan santai.

“Waktu? Aku selalu ada waktu kok.”

Luhan menghentikan langkahnya kemudian menatap Kai tajam. “Aku tahu kau sibuk.”

“Sibuk? Tidak.. Aku sih masih sedikit bebas karena aku mempunyai hyung. Kalau membahas masalah sibuk, sih. Sehun jauh lebih sibuk dariku.”

“Sehun?”

Kai mengangguk. “Hari ini dia tak masuk sekolah.”

“Tentu saja. Diakan masih sakit.”

Kai tersenyum pahit. “Bukan karena itu.”

“Lalu?” Luhan melipat dahinya.

“Dia sekarang sedang ada di China. Mengunjungi salah satu cabang perusahaan milik keluarganya disana.”

“MWO?” Luhan membulatkan matanya. “Tapi Sehun sedang sakit.”

“Orang tuanya sudah kuberitahu kalau Sehun sakit.. Namun ahjusshi hanya mengatakan kalau ia memiliki dokter yang hebat. Sehun akan sembuh dalam waktu singkat.”

Luhan tak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Kai.

“Apa- apaan ini! Sehun bukan boneka!”

Luhan berbalik arah kemudian berlari. Kai mengejar Luhan kemudian menggenggam tangan Luhan erat. Gerakan mereka terhenti begitu saja.

“Mau kemana?”

“Aku.. Aku mau kerumah Sehun.” Luhan terlihat panik. Mata Luhan sudah tidak fokus lagi.

“Percuma. Sehun sudah berangkat tadi malam menuju Beijing.”

“Apa!”

Kai menatap tajam Luhan. Mengapa sakit sekali hatinya saat melihat Luhan panik untuk namja lain?

“Tapi.. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik- baik saja?”

“Entahlah. Ia hanya menelponku setelah sampai di Beijing malam tadi.”

Luhan menunduk. Ia terlihat sangat sedih.

“Dia akan pulang malam ini.” kata Kai sambil memegang pundak Luhan erat. Luhan mengangguk.

“Aku hanya mengkhawatirkannya.”

“Kalau begitu.. Nanti malam kita jemput Sehun dibandara?”

Luhan langsung mengangkat kepalanya dan menatap tajam Kai. Wajahnya kembali cerah.

“Benarkah? Apa bisa?”

“Tentu.” Kai mengacungkan jempolnya. “Nanti sore aku jemput kau kerumahmu.”

“Baik!” Luhan tersenyum manis.

Kai merasa dadanya kembali berdenyut sakit.

Sakit melihat Luhan begitu antusias menyangkut soal Sehun.

Kenapa?

Kai belum mengetahui jawaban pasti mengapa ia begitu tersakiti kini.

 

>>>

Beijing, 12.00 siang.

“Saya sangat senang tuan besar Oh dan tuan muda Sehun bisa hadir dirapat rutin perusahaan ini.” ujar salah satu staff perusahaan sopan.

Tuan Oh (appa Sehun), tersenyum bangga.

“Tentu saja. Anak ini harus dipersiapkan sedini mungkin untuk melanjutkan usaha kami.” Ujar Tuan Oh penuh dengan wibawa.

Sehun hanya tersenyum tipis.

Nyut

Tiba- tiba kepala Sehun kembali terasa pusing. “Aish! Bertahanlah!” bisik Sehun dalam hati. Ia kepalkan tangannya menahan sakit.

“Aku baik- baik saja.” Bisik Sehun sangat pelan pada dirinya sendiri.

Tiba- tiba sosok Luhan terbesit dalam pikirannya. Sosok Luhan yang tersenyum dan merawatnya kemarin.

Sosok yang kini ia rindukan. Sosok yang sangat ia inginkan kini ada disampingnya.

“Luhan.” Bisik Sehun sambil tersenyum manis.

 

>>>

Pukul 17.00 KST

Kai mengambil kunci motor besarnya kemudian berjalan keluar dari rumahnya yang megah.

“Ya! Jongin! Kau mau kemana?!” teriak salah seorang dari dalam rumah megah itu.

Kai menghela nafas kemudian membalikkan badannya. Ia lihat sosok namja cantik kini ada dihadapannya.

“Aku mau kerumah temanku.” Ujar Kai malas. Namja cantik itu memanyunkan bibirnya.

“Lalu aku sendirian, donk? Kerumah Sehunnie, ya?” ujar namja cantik itu manja.

Kai menggeleng. “Kerumah temanku yang lain, Taeminnie-hyung.”

Namja cantik yang bernama Taemin itu mengerutkan dahinya. “Memangnya kau punya?”

Kai menghela nafas. “Aku punya! Sudahlah! Aku pergi dulu.” Kai langsung berjalan menuju motor besarnya dan pergi begitu saja.

Taemin masih ditempatnya dan tersenyum jahil. “Jadi penasaran. Siapa ya teman baru Jongin? Sampai mau pergi sore- sore begini?”

Taemin masuk kedalam rumah dengan senyuman evil. Entahlah apa yang namja cantik itu rencanakan.   

 

>>>

Dirumah Luhan.

Luhan masih memperbaiki penampilannya didepan cermin. Ia mengenakan baju kaos berwarna merah dengan gambar abstrak berwarna hitam ditengahnya. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru dan memakai sepatu convers berwarna hitam.

“Luhannie~ Kai sudah datang.” Teriak mama Luhan dari lantai bawah.

“Ah! Ne!!” Luhan bergegas turun kebawah dan menghampiri Kai yang ada diruang tamu.

“Maaf. Lama menungguku?”

“Tidak juga. Ayo kita berangkat.”

Luhan mengangguk kemudian pamit pada mama-nya. Kai juga melakukan hal yang sama. Setelah berpamitan, Kai dan Luhan menuju motor besar yang diparkir Kai didepan rumah Luhan.

“Wow! Ini motormu?” Luhan takjub melihat motor besar yang berwarna hitam milik Kai itu.

“Biasa saja.”

Luhan menghela nafasnya panjang. “Memang bagimu begitu.”

“Ayo naik!”

“Iya iya..”

 

>>>

Di bandara.

 

Luhan dan Kai berjalan pelan kearah Gate 5 yang pastinya menunggu kedatangan pesawat Sehun.

“Jam berapa pesawatnya datang?” tanya Luhan sambil melirik Kai.

“Kurasa beberapa menit lagi.”

Luhan mengangguk mengerti kemudian duduk disalah satu bangku tunggu disana. Kai duduk disamping Luhan.

“Mengapa kau begitu mencemaskan Sehun?”

Luhan menatap Kai yang tiba- tiba bertanya. “Maksudmu?”

Kai menghela nafasnya. “Kau begitu perhatian pada Sehun.”

“Perhatian? Biasa saja, kok. Sehun sedang sakit. Aku hanya tak bisa menerima kalau ia dipaksa bekerja seperti itu padahal ia sedang sakit.”

“Hanya karena itu?”

“Tentu. Sebenarnya.. Aku bukannya mau ikut campur. Tapi kurasa kalian juga punya hak untuk sedikit menikmati kehidupan kalian.”

Kai membulatkan matanya. Luhan menghela nafasnya. “Aku sudah dengar dari Chanyeol.. Kau dan Sehun sangat difokuskan untuk menjadi penerus perusahaan keluarga kalian. Mianhe.. Aku bukannya mau ikut campur.”

Kai mengangguk pelan. “Aku mengerti. Banyak yang mendambakan kehidupan seperti kehidupan kami. Tapi mereka tidak tahu berat beban yang kami tanggung. “ Kai tersenyum sesaat.

“Aku tak pernah menyalahkan siapapun dalam kehidupanku. Oemma dan appa sangat mengerti bagaimana cara membahagiakanku dan hyung-ku. Walau kadang aku sangat merasa kalau hal- hal seperti itu membebaniku.”

Luhan masih menatap lekat wajah Kai yang perlahan tersenyum. Senyuman memaksa.

“Jangan berwajah seperti itu.”

Agak ragu, Luhan memegang pipi Kai  dengan salah satu tangannya. “Jika kau bersedih, tak ada yang memaksamu untuk tersenyum, kan?”

Kai terkesiap mendengar kata- kata Luhan. Kai menatap wajah Luhan yang sangat dekat dengan wajahnya.

“Kai.. Awal aku bertemu denganmu, kupikir kau namja yang sangat jahat. Mengataiku dan memerintahku seenak perutmu. Namun sekarang aku mengerti bagaimana sikapmu yang pantang kalah dan seenaknya itu. Kau namja yang berusaha tegar dan berangsur- angsur menjadi namja yang kuat.” Luhan tersenyum.

Kai merasa baru kali ini ada yang mengerti bagaimana betul dirinya. Mengerti apa yang ia inginkan. Mengerti akan apa yang benar- benar ia butuhkan.

“Luhan..”

TING TONG TING TONG PENERBANGAN DARI BEIJING CHINA TELAH LANDING. DIHARAPKAN PENERBANGAN MENUJU OSAKA JEPANG MENUJU GATE 5. GAMSAHAMNIDA. TING TONG TING TONG

Mendengar itu Luhan langsung bangkit dari kursinya dan berjalan kearah Gate 5. Kai mendesah pelan kemudian mengikuti Luhan.

Nampak orang- orang berdasi dan berkelas keluar dari pintu gate. Luhan mencari sosok Sehun.

Tap tap tap

Langkah kaki berat terdengar dari pintu gate. Terlihat seorang ahjusshi yang terkesan sangat berwibawa keluar dari pintu gate. Namja yang dari dari tadi ditunggu oleh Luhan dan Kai mengikuti ahjusshi itu dibelakangnya.

“Sehun..” Luhan tersenyum melihat Sehun keluar dari pintu gate. Namun senyuman itu pupus karena melihat sosok Sehun yang sangat pucat.

“Ahjusshi.” Panggil Kai sopan sambil menunduk pada ahjusshi itu. Luhan mengikuti Kai dan berdiri dibelakang Kai.

“Luhan?!” Sehun tak percaya melihat Luhan ada dibandara. Bersama Kai pula. Tatapan Sehun dan Luhan kemudian tertaut. Luhan tersenyum manis pada Sehun.

“ Ah! Jong In.” Tuan Oh tertawa kecil melihat Kai. “Kau mau menemui Sehun?”

“Ne, ahjusshi. Bolehkan? Aku sudah mengatakan pada appa-ku untuk bertemu Sehun kini.” Jawab Kai sambil tersenyum palsu.

“Hahaha.. Tentu saja! Mana mungkin bisa menolak permintaanmu, Jongin.” Ucap Tuan Oh sambil menepuk punggung Kai.

“Hmm? Saudaramu?” mata Tuan Oh beralih pada Luhan yang sedari tadi menunduk dibelakang Kai.

“Oh.. Ah… Dia kekasihku.”

“MWO!!”

Ucapan Kai langsung menbuat Luhan dan Sehun berteriak bersamaan. Tuan Oh melihat kearah Sehun yang baru saja berteriak. Dengan wajah bingung, Tuan Oh kembali menatap Kai.

“Kekasih? Pilihan yang tepat. Dia cantik sekali.” Tuan Oh kembali menepuk pundak Kai kemudian berjalan pergi meninggalkan Luhan, Kai, dan Sehun bertiga saja.

 

“Apa maksudmu barusan, Kai?” teriak Luhan sambil mencubit lengan Kai.

“Appo! Memangnya kenapa? Kalau aku bilang kau temanku dan Sehun,  bisa- bisa kita tak dibolehkan bertemu lagi.”

Sehun menghela nafas lega saat mendengar perkataan Kai. Lega karena Kai tidak sungguh- sungguh.

“Tidak boleh bertemu?”tanya Luhan bingung.

Sehun kembali menghela nafasnya. “Kau tahu peraturan bangsawan hanya boleh berteman dengan bangsawan? …Begitulah!”

Luhan terlihat sedih mendengar perkataan Sehun barusan. Begitukah?

Luhan menunduk dalam. Sehun mendekati Luhan kemudian mengusap rambut Luhan. Alhasil, Luhan kembali mengangkat kepalanya.

“Kenapa menjemputku?” tanya Sehun dengan wajah dinginnya.

“Aku hanya khawatir. Lihat, wajahmu pucat sekali.” Luhan terlihat sangat sedih. Rasanya Luhan sangat terpukul jika melihat sosok Sehun seperti itu.

“Aku baik- baik saja. Aku sudah minum obat dari dokter.”

“Tapi wajahmu tak menunjukkan kalau kau baik- baik saja.”

Sehun berusaha tersenyum. “Aku baik- baik saja. Aku sudah terbiasa seperti ini.”

“Tapi..”

“Pulanglah. Tak baik jika kau masih berkeliaran ketika hari menjelang malam.”

Sehun berjalan gotai meninggalkan Kai dan Luhan. Otomatis Luhan mengejar Sehun dan memegang lengan Seh1un.

Deg

Dingin.” Bisik Luhan dalam hati. Perlahan Luhan melepas tangannya dari lengan Sehun.

“Appa-ku sudah menunggu dibawah. Ia hanya memberiku waktu 10 menit untuk berada disini. Aku permisi dulu.”

Luhan menunduk. Sehun kemudian menatap Kai sesaat. Kai menangkap maksud tatapan Sehun. Dengan pasti Kai mengangguk pelan.

“Sampai jumpa besok.” Sehun berjalan pergi meninggalkan Kai dan Luhan yang masih diposisinya. Luhan masih menunduk. Ia memegangi tangannya yang tadi menyentuh lengan Sehun.

Kai memegang pundak Luhan. “Ada apa?” Tanya Kai lembut kerena aneh pada sikap Luhan.

“Dingin.. Tubuhnya dingin.” Bisik Luhan pelan.

Kai mengangkat wajah Luhan yang masih menunduk. Mata Kai membulat saat melihat wajah Luhan basah. Basah akan air mata.

“Ya! Wae?! Kenapa menangis!?” Kai mencoba menenangkan Luhan. Panik? Sangat! Kai sangat terlihat panik.

“Dingin.. Sehun.. Hiks..” Luhan kembali menitikkan air mata. Kai memeluk tubuh Luhan yang bergetar.

 

>>>

Dirumah Kediaman Oh.

 

“Siapa namja tadi?” tanya Tuan Oh serius.

“Siapa?”

“Aku tahu Jongin berbohong. Namja tadi bukan kekasihnya, kan?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku tak tahu.”

“Apa perlu aku selidiki anak itu?”

Sehun langsung menatap tajam appa-nya. “Apa yang akan appa lakukan!”

Tuan Oh tersenyum menang. “See? Kau pasti ada hubungannya dengan namja tadi. Jika appa tahu kalau namja itu bukanlah dari kalangan atas, appa melarangmu berhubungan dengannya. Mengerti?”

“Tapi appa..”

“Kembali kekamarmu.”

Sehun muak sekali. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi. Sudah cukup appa-nya mengatur hidupnya. Kini ia malah dilarang berhubungan dengan Luhan.

“Aku tak akan pernah membiarkan appa menyentuhnya sedikitpun!” teriak Sehun memenuhi ruangan kerja appa-nya itu.

Tuan Oh sedikit kaget melihat anaknya meneriakinya seperti itu. Baru kali ini terjadi.

“Apa maksudmu, Oh Sehun?” tuan Oh memandang Sehun sinis.

“Aku sudah mengikuti semua permintaan appa. Jadi jangan larang aku berteman dengan siapapun.”

Sehun langsung keluar dari ruangan kerja tuan Oh. Membiarkan tuan Oh terdiam melihat kelakukaan anaknya yang ia nilai kurang ajar.

“Kita lihat saja nanti.”

 

>>>

Sehun masuk kedalam kamarnya.

Brak

Ia banting pintu kamarnya sekeras yang ia bisa. Hatinya bergemuruh tak karuan.

“Aish!!”

Sehun melepas bajunya dengan kasar kemudian memakai kaos oblong yang tergeletak diatas kasurnya. Sehun masuk kekamar mandi seketika itu ia melihat pantulan sosoknya didepan cermin. Sosok yang begitu sempurna.

“Aku muak.. Aku benar- benar muak.”

 

>>>

Keesokan harinya disekolah.

Luhan berjalan dengan langkah gotai. Tao menemaninya. Chanyeol tak datang kesekolah karena ada urusan mendadak. Baekhyun juga tak hadir karena menemani oemma-nya pergi ke Jepang untuk meresmikan produk keluaran baru perusahaannya.

“Waeyo?” Tao akhirnya berani bertanya.

“Ani.” Luhan menggeleng pelan.

“Walau aku tak tahu kenapa kau begini.. Tapi..Semuanya akan baik- baik saja.” Tao mencoba menghibur Luhan.

“Xie xie, Tao.” Luhan tersenyum kemudian mengangguk mantap.

Tao dan Luhan masuk kedalam kelas. Kai dan Sehun ternyata sudah datang terlebih dahulu. Sehun nampak sudah sehat, terbukti karena ia tak lagi pucat. Luhan tersenyum lega.

Luhan dan Tao duduk bersama- sama karena teman sebangku mereka tak datang. Luhan duduk ditempat Tao.

Drrrtttt Drrrttt

Tiba- tiba ponsel Tao berbunyi, dengan riang seperti biasa Tao membuka ponselnya. Sepertinya baru saja dia dapat pesan singkat.

Namun setelah membaca massage itu, Tao terdiam. Luhan yang melihat keanehan itu langsung menganyunkan tangannya kedepan wajah Tao. “Andwae?”

Tao menggeleng pelan. “Tidak apa- apa, kok.” Tao berusaha tersenyum.

“Apa yang tidak apa- apa? Wajahmu nampak murung setelah melihat ponsel.”

Tao kembali diam. Nampak sekali wajahnya berubah murung. Berbeda dengan Tao yang biasanya manja dan ceria.

“Tao? Ceritakan padaku.”

Tao menggeleng pelan. “Ani. Luhannie sedang ada masalah. Aku tak mungkin menambah bebanmu.”

“Ya! Tao pabo! Aku sedih kalau kau bilang begitu!!” Luhan langsung memanyunkan bibirnya. Tao jadi tak enak hati.

“Tapi..”

“Ceritakan padaku! Tao sayang padaku, kan?”

Tao mengangguk mantap. “Aku sayang sekali pada Luhannie.”

“Kajja! Ceritakan padaku. Tao tidak mau melihat aku sedih, kan?”

“Tentu tidak.”

Tao menghela nafas panjang. “Sebenarnya aku bertemu dengan seseorang saat di Canada waktu itu.. Anak dari kolega papa-ku. Dia sangat manis dan tampan. Namanya Kris.”

Luhan mengangguk kemudian menatap Tao tajam. “Lalu?”

“Hmm.. Bagaimana ya.. Aku.. Aku senang dia akan ke Korea besok. Tapi..”

Tao menunduk dalam. Luhan memegang pundak Tao. Wajah Tao nampak sangat sedih.

“Tapi.. Dia datang bersama tunangannya.”

Luhan mengerti kalau ternyata Tao menyukai orang yang dia temui di Canada itu. “Jadi kau sedih karena itu?”

Tao hanya diam. “Ne.”

“Gwechanayo.. Kau sudah mengatakan perasaanmu padanya?”

“Tentu saja tidak. Aku.. Aku malu.” Jawab Tao dengan wajah merahnya. Luhan tersenyum.

“Kalau begitu coba kau katakan bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya kepada orang itu saat ia sampai di Korea.”

“Tapi Hannie.. Dia sudah bertunangan.” Tao menggeleng cepat.

“Ah.. Benar juga..”

“Aku tak punya harapan.”

“Tao..” Luhan merangkul pundak Tao erat.

 

 

>>>

Jam istirahat.

Kai menatap Luhan yang kini duduk sendirian dibangkunya. Tao pulang lebih dahulu karena dijemput oleh orang tuanya. Mungkin akan ada pesta penyambutan untuk namja yang akan datang dari Canada itu.

Luhan membaca buku pelajarannya. Ia lebih memilih meminum susu kotak yang ia bawa dari rumah dari pada belanja di kantin.

“Sendirian?” tanya Kai akhirnya sambil menghampiri Luhan. Kai duduk disebelah Luhan.

“Kau juga… Sehun mana?” Luhan menatap Kai sambil menyeruput susu kotaknya.

“Dia? Hmm.. Entahlah. Tadi ada telpon, jadi dia keluar sebentar. Mungkin ke toilet.” Kai mengangkat bahunya.

“Hmm..” Luhan kembali melihat buku pelajarannya.

“Sudah kenyang walau hanya meminum susu kotak?”

Luhan tersenyum. “Ne. Memangnya kenapa?”

“Ini..” Kai memberikan sandwich yang dari tadi ada ditangan kanannya.

“Eh? Tidak usah.” Tolak Luhan halus.

“Makanlah.” Kai menatap Luhan tajam. “Jika kau tak makan dengan benar, pertumbuhanmu akan terhambat dan tubuhmu akan tetap pendek.”

Mendengar itu, Luhan langsung membulatkan matanya dan mencubit lengan Kai.

“Appo!! Ya! Aish!” Kai mengelus- elus dengannya yang sangat perih akibat ulah Luhan.

“Kau selalu mengataiku pendek!”

“Memang kenyataannya, kan!” Kai mencibir pada Luhan.

“Kai pabo! Napeun namja!!”

Mendengar kata- kata Luhan, otomatis Kai tertawa. “Hahahaha.. Kau seperti yeoja saja.”

“Ya!! Kim Jongin!” Luhan kembali mencubit lengan Kai.

“Uwaaa!! Hentikan!”

Kai dan Luhan asyik bersenda gurau. Tawa terdengar diantara perkelahian mereka. Sepertinya taktik Kai untuk membuat Luhan semangat berhasil. Kai sebenarnya mencemaskan Luhan yang dari tadi tak bersemangat. Pasti karena Chanyeol dan Baekhyun tak datang hari ini. Apalagi tadi Tao dijemput oleh orang tuanya untuk mempersiapkan pesta penyambutan kolega papa-nya yang datang dari Canada.

 

Ternyata Sehun mengamati Kai dan Luhan yang tengah tertawa bersama dari depan pintu kelas. Dada Sehun terasa seperti ditusuk duri. Sakit.

Sehun hanya bisa berbalik badan pergi entah kemana. Yang jelas dia tak mau melihat Luhan bersama namja lain. Termasuk Kai, sahabatnya sendiri.

 

“Anu.. Sehun-sshi.”

Tiba- tiba ada yang memanggil Sehun. Dengan malas, Sehun membalikkan badannya dan melihat seorang yeoja yang cukup cantik berdiri dihadapannya.

Sehun memandang yeoja itu dingin dari atas sampai bawah.

“Ada waktu sebentar?” tanya yeoja itu malu- malu.

“Aku sibuk.”

“Ha..Hanya sebentar saja, Sehun-sshi.”

Sehun masih memandang yeoja itu dingin. Yeoja itu seakan tersentak kemudian tersenyum malu.

“Ah, mianhe. Namaku Kristal. Aku satu tingkat diatasmu. Hmm..”

Sehun masih diam. Sebenarnya ia sama sekali tak tertarik dengan yeoja yang ada dihadapannya kini. Yang ia pikirkan hanya Luhan.

Entah mengapa ia memikirkan Luhan. Terus saja Luhan.

“Sehun-sshi? Bagaimana?”

“Bicara disini saja.” Jawab Sehun singkat.

“Baiklah kalau begitu.. Begini.. Aku suka kamu..” yeoja yang bernama Kristal itu menunduk dan tersipu malu.

Sehun menghela nafas panjang. “Terima kasih.”

“Eh?” Kristal memandang Sehun bingung.

“Apa kita pernah berbicara atau bertemu sebelumnya?”

Kristal menggeleng. “Ini yang pertama.”

“Lalu mengapa menyukaiku?”

Kristal kembali tersenyum. “Kau sangat tampan dan pintar. Jarang sekali ada namja sepertimu. Lagipula kau dari keluarga terpandang. Kita pasti akan menjadi pasangan yang sempurna.”

“Hanya karena itu?” Sehun tersenyum sinis.

“Tentu saja karena kau .. hm.. baik hati..” Kristal tampak ragu.

Sehun berbalik badan meninggalkan Kristal begitu saja.

“Hei! Mau kemana Sehun-sshi?”

Sehun tetap diam dan tak menggubris teriakan Kristal. Karena dicuekin, tentu Kristal mengejar Sehun dan menarik lengan Sehun agar pergerakannya terhenti.

“Jahat! Padahal aku sudah membuang harga diriku untuk menyatakan cinta padamu.” Maki Kristal.

Sehun menatap dingin Kristal. “Jahat? Kau menyukaiku karena aku tampan, pintar, dan kaya. Kalau aku jelek, bodoh, dan miskin. Apa kau masih menyukaiku? Jadi siapa sebenarnya yang jahat!”

Kristal terdiam dan melepas tangannya dari lengan Sehun.

“Jadi kau menolakku?!” teriak Kristal lagi. Sepertinya ia ta percaya kalau ia baru saja ditolak oleh Sehun.

“Aku benci nenek- nenek menyebalkan sepertimu.”

Sehun kembali pergi meninggalkan Kristal yang terdiam marah mendengarkan ocehan Sehun.

“Napeun!” teriak Kristal kemudian pergi entah kemana.

Sehun menghela nafas panjang. Ia tak memikirkan apapun yang dikatakan yeoja tadi mengenai dirinya.

Sehun berjalan menuju atap sekolah padahal bel istirahat tanda berakhir baru saja berbunyi. Ia tak mengerti mengapa hatinya sangat kacau. Sehun tahu betul kalau ia akan dapat masalah jika membolos. Tapi ia butuh ketenangan.

Sehun menutup pintu atap sekolah kemudian ia menatap langit yang sangat cerah. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang sangat muram.

Sehun merebahkan dirinya sambil menatap langit biru. Membiarkan cahaya matahari menerpa lembut tubuhnya. Sehun memejamkan matanya. Ketenangan merasuki hatinya.

Namun tiba- tiba cahaya yang menerpa wajah Sehun terhalang sesuatu. Tentu saja Sehun membuka matanya perlahan.

“Bisa juga ya peringkat 1 sekolah membolos?”

Sehun kaget melihat siapa yang kini ada tepat diatas kepalanya. Dengan polosnya Luhan duduk sejajar dengan kepala Sehun dan menghalangi cahaya matahari menerpa wajah Sehun.

Sehun yang kaget langsung duduk dan menatap Luhan. “Ya! Kukira siapa!!” Sehun memegangi dadanya.

“Kau pikir aku hantu?” Luhan memutar bola matanya.

“Kau mengagetkanku!!” teriak Sehun lagi.

“SSSTTTT!!” Luhan meletakkan jari teluntuknya dibibirnya sendiri. “Kau mau ketahuan oleh songsaenim? Pabo!!”

Sehun kembali membulatkan matanya. “Mwo! Kau mengataiku pabo?”

“Memangnya kenapa?” Luhan menatap Sehun sambil mencibir.

Sehun menghela nafas panjang. “Benar juga. Kau manusia yang seperti itu, ya.”

“Hah?”

“Lupakan.” Kata Sehun tegas.

Sehun kembali merebahkan dirinya dilantai. Luhan tersenyum sesaat kemudian mengangkat kepala Sehun.

“Ya! Apa yang kau ..”

Makian Sehun terhenti ketika menyadari kepalanya kini berada dipangkuan Luhan. Sehun menatap wajah Luhan dari dari posisinya. Luhan tersenyum manis kemudian mendongakkan wajahnya kelangit.

“Apa yang kau cari disana?” tanya Luhan tiba- tiba. “Kau menatap langit seakan mencari sesuatu.”

Sehun memejamkan matanya. “Aku tak mencari apapun disana. Aku hanya mencari ketenangan.”

“Karena kau bertengkar dengan yeoja tadi?”

Sehun membuka matanya kemudian menatap wajah Luhan yang kini menatapnya juga.

“Kau melihatnya?”

“Tadi aku mencarimu. Tak sengaja aku mendengar pertengkaran kalian.”

Sehun menghela nafasnya. “Kau jadi melihat hal yang tak menyenangkan.”

Luhan membelai rambut Sehun perlahan. Walau sebenarnya kaget, Sehun menikmati sentuhan tangan mungil Luhan. Sangat menenangkan.

“Aku hanya berfikir… Jadi karena itu kau terlihat sulit mempercayai orang lain.” Kata Luhan tiba- tiba. Sehun tersenyum pahit.

“Karena aku tampan.. Karena aku pintar… Karena aku dari keluarga Oh. Karena aku memiliki segalanya.. Itulah yang membuat orang- orang dekat denganku. Itulah alasan orang –orang ingin berada didekatku. Mereka bilang menyukaiku, tapi aku tahu betul maksud mereka yang sebenarnya. Semua orang pura- pura baik didepanku tapi entah apa yang mereka katakan dibelakangku.”

Luhan mendengar keluh kesah Sehun sepenuh hati. Luhan tetap membelai lembut rambut Sehun. Sesekali Sehun menutup matanya meresapi sentuhan tangan Luhan yang membuatnya tenang. Bahkan ibunya sendiri tak pernah membelai rambutnya seperti yang Luhan lakukan.

“Tak ada salahnya jika kau tampan, pintar, ataupun kaya. Itulah dirimu Oh Sehun. Walau omonganku terdengar seperti omong kosong. Tapi tak ada salahnya kalau kau mulai menghargai dirimu sendiri, kan?”

Mata Sehun menatap tajam mata Luhan. Melihat Luhan dari posisi itu membuat Sehun bisa dengan puas memandangi wajah teduh yang menenangkan itu.

“Semua orang mengandalkanku.. Aku tak tahu pada siapa aku harus mengatakan semua keluh kesahku.”

“Aku ada disini.”

Sehun tersenyum. Ia tahu betul Luhan akan mengatakan hal seperti itu. Namun seketika itu, Sehun menghela nafas panjang.

“Jangan munafik, Xi Luhan. Kaupun sebenarnya sama saja, kan.”

Luhan membulatkan matanya saat Sehun tiba- tiba memojokkannya seperti itu. Sehun bangkit dan duduk berhadapan dengan Luhan.

“Apa maksudmu?” Luhan nampak menekukkan dahinya.

“Kau juga sama… Aneh sekali jika kau selalu baik padaku tapi tak ada maksud tertentu dibalik itu. Aku tak pernah memperlakukanmu dengan baik namun kau begitu perhatian padaku. Apa kau pikir hal itu tidak aneh?” Sehun menatap tajam wajah Luhan yang kini memerah.

“Apa aku terlihat menginginkan sesuatu darimu?” Luhan berteriak keras.

“Mungkin saja, mana tahu kau akan memanfaatkan aku nantinya.”

Luhan menatap Sehun tak percaya. Tega sekali Sehun mengatakan hal seperti itu padanya.

“Memang ada! Sekarang aku menginginkan sesuatu darimu.” Luhan menatap tajam Sehun.

GREP

“YA!!” Sehun kaget bukan main. Luhan menjambak rambut Sehun.“Ya!Ya! Xi Luhan! Lepaskan rambutku! Appo!!”

Luhan melepas tangannya dari rambut Sehun kemudian berlari menuju pintu atap. Sebelum Luhan pergi, Sehun berhasil menangkap lengan Luhan kemudian mengunci pergerakan Luhan dengan merapatkan tubuh mereka didinding.

Sehun masih menatap Luhan tak percaya. “Berani- beraninya kau menjambak rambutku!”

“Memang berani! Kau hanya namja jelek yang tak punya otak!” balas Luhan sambil berusaha melepas kuncian Sehun. Jujur saja Luhan tak nyaman karena jarak wajah mereka sangat dekat.

Sementara Luhan berusaha melepaskan dirinya, Sehun terhipnotis dengan wajah Luhan yang begitu dekat dengan wajahnya. Saking dekatnya Sehun bisa mendengarkan hembusan nafas Luhan yang tertahan.

“Sehun pabo!” teriak Luhan lagi. “Lepaskan aku! Ya! kakek- kakek mesum!!”

Grauu

Luhan menggigit lengan Sehun. “Mwo! Kau gila?!” Sehun melepas tangannya dari lengan Luhan yang membuat pergerakan Luhan bebas. Sehun mengusap- usap lengannya yang digigit Luhan.

Seketika itu juga Luhan berlari keluar dan menghilang dibalik pintu. Sehun masih memegangi lengannya yang digigit Luhan. Sepertinya lumayan sakit karena bekas deretan gigi Luhan terpampang rapi disana. Pastinya sakit.

“Dia mengataiku bodoh kemudian menjambak rambutku seperti orang gila lalu menggigit lenganku. Aish! Sebenarnya apa yang ada didalam otaknya?!”  Sehun mengacak- acak rambutnya.

“Hmmpf!” Sehun tertawa pelan. “Mana mungin anak seperti itu bisa memanfaatkan orang. Yang ada malah dia yang akan dimanfaatkan. Aigoo!”

 

>>>

Luhan sedikit berlari menuju kelasnya. “Sehun pabo!!” umpat Luhan sekali lagi. Namun pergerakannya terhenti ketika sebuah tangan meraih lengannya.

“Kai!”

“Kau mau kekelas?”

“Iya..” Luhan menghela nafas. “Mau kemana lagi.”

“Kau pabo, ya. Kau membolos lalu dengan polosnya kembali kekelas. Sebenarnya kau sebodoh apa sih?!”

PLETAAAK

Luhan menjitak kepala Kai.

“Ya! Xi Luhan!!” Kai memegangi kepalanya.

“Tak perlu mengataiku seperti itu, kan!”

Kai menghela nafas. “Kita kekantin saja.” Ajak Kai sambil menarik tangan Luhan.

“Baiklah.” Luhan setuju. Dia juga tidak mau cari mati dengan kembali kekelas jam segini. Bisa- bisa ia dimarahi habis- habisan.

Namun belum sampai mereka melangkahkan kakinya. Seorang songsaenim datang kehadapan mereka.

“Kim Jongin kembali kekelas. Dan.. Xi Luhan, kau dipanggil keruang kepala sekolah.” Ucap songsaenim itu tegas.

“Eh?” 

TBC

jangan tanya kenapa TAEMIN lagi- lagi jadi kakak laki- laki Kai disini. kenapa aku milih Taemin? karena Taemin mirip sama Kai.

mianhae abis gak kepikiran yang lain >.<

RCL a-yoooooooooooooooooooooo~~~

gamsahamnidaaaa~

242 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 4

  1. wah.. kai kenapa kamu juga jadi ikut-ikutan deket ke luhan -.-
    author please lah pokonya harus HunHan (?) *Maksa biarin kai sama aku aja *apadah
    wkwkwk taeminie kakanya kay? ya ampun, dari wajah emang mirip tapi warna kulitnya kai gak mendukung, kai kan hitam-hitam manis,eksotis gitu. xD xD

  2. Xiao Lu polos sama bodoh ga keliatan/? Semuanya sama -_- bikin gemes. Sakit hati masa pas sehun bilang luhan juga punya maksud lain sama sehun -_- padahal lagi romantis, memang sehun pabbo kak rrwr. Itu luhan di panggil ke ruang kepsek kenapaa…………? Gegara Tuan oh ya pasti. Jahat bgt masa. Lanjoott ahhh :3

  3. Omoooo bapaknya sehun galak banget sih, belum nyoba dilempar ke sungai han aja tuh bapak-_- aissssh kasian thehunnie:(
    Aigoooo luhan udah kayak punya 9 nyawa kali yak berani jambak sama gigit tuan muda oh:P
    Kekeke daebak thor, walaupun hunhan momentnya masih dikit, tapi keren. Aku lanjut baca ya thor chap 5nya:)

  4. Appa Sehun, pergilah kau ke penjara. -_- Kau melanggar sila kedua tahu?! *serasa di ruang sidang* *ruang sidang mainan*
    Luhan dipanggil keruang kepsek pasti ulah Taemin noh -_- atau ayahnya kakek-kakek mesum. Iya kan?!

    Sehun geloooo, sakit-sakit bisa ke luar negri.. Aku kalo sakit bangun dari tempat tidur aja males-_- *kalo enggak sakit juga males kok*
    Tebak ending ah~ Endingnya hunhan ya :p lebih banyak momen hunhannya di sini ._.
    Dan perasaan kristao selalu nyempil deh di FF chaptered wordpress ini-,- KT akut kak?

    Udah ah~ Aku lanjut baca yaaa😀

  5. Sehun menatap dingin Kristal. “Jahat? Kau
    menyukaiku karena aku tampan, pintar,
    dan kaya. Kalau aku jelek, bodoh, dan
    miskin. Apa kau masih menyukaiku? Jadi
    siapa sebenarnya yang jahat!”
    bagian ini keren..
    knpa di panggil ke ruang kepsek?aigoooo something happen….lanjut baca ^^

  6. baca chap ini KEGALAUANISASI saya bertambh meningkat…
    kan bener sehun udah mulai cemburu,😦 duh.duh bingung sendiri jadinya…
    untuk pairing hunhankai ane serahkan ke author aja begimana nya.

    disini lagi tertarik sama paring KRISTAO kyaaaaa !!!!!!!!!! to anak gue yg polos udah mulai jatuh cinta sama si naga garong eoh, ahhh😀
    tapi itu kenapa jd murung, ck… aku yakin naga bakalan sama dirimu kok nak tenang aja /siapin samurai/ /ancam kris/

    lanjutttt =>>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s