“The Betrayed Angel” Part 5

annyeong ^^

maaf ya kelamaan post nya.. banyak sekali kendala yang menhadang #caelah!!

semoga puas sama kelanjutan FF ini.. 

makasih atas semua komennya ya.. sangat membuat hyobin terpacu dan semangat. 

dont be SIDER baby🙂 kasih aja komentar dan kesan kamu di blog ini. hyobin akan terima semua kok. kalau bisa hyobin balas soalnya hyobin mau bersilaturahmi sama sesama reader

^^ 

mumpung bulan puasa pun~ nah dont be SIDER ok? #wink~

lanjut ke FF yaaaa~ tariiikk >o<

CAST : XI LUHAN, KAI, OH SEHUN, WU FAN. YI XING, KYUNGSOO, CHEN, SUHO, BAEKHYUN, CHANYEOL, TAO, XIUMIN.

WITH : CHUNJI (TEEN TOP)

MAIN PAIR : KAI-LUHAN, SEHUN-LUHAN

GENRE : FANTASY, SAD ROMANCE, ANGST

If this is the end,
if there are no more chances,
it is said that everyone is wrong.

In this world like a farce,
the people can’t even laugh,
they are so disgusted with it.

The world is mine. I’m the law of this world!!
while the the people are still waiting solely for their happiness.

It’s just that i grabbed the chance before anyone did,
I have no consideration for the weak.

DON’T DON – Super Junior

The Betrayed Angel

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

PART 5

“KAI!”

 

Teriakan Luhan terdengar dari arah belakang Sehun. Tahu siapa yang berteriak Sehun merasa dirinya terpaku untuk tidak menoleh sosok yang mulai mendekat.

“Luhan!” Kai melihat Sehun sejenak kemudian langsung berlari ketempat Luhan. Chanyeol tampak mengikuti Luhan.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Luhan saat Kai menghampirinya.

Kai menarik tangan Luhan agar menjauh dari tempat itu. Tepatnya sebelum Luhan menyadari kalau Sehun ada disana.  

“Orang itu..” bisik Chanyeol menatap Sehun yang masih berdiri tegak membelakangi mereka.

“Tunggu!!!” Luhan tiba- tiba menghentikan langkahnya.

“Siapa dia?” tanya Luhan sambil menunjuk sosok Sehun yang masih membelakanginya. Karena agak jauh Luhan jadi tak mengenali Sehun.

“Seharusnya aku bertanya padamu, mengapa kau bisa ada disini? Dan apa artinya ini Chanyeol? Mengapa kau membawa Luhan keluar dari Minor House?” Kai nampak marah.

Chanyeol hanya diam kemudian mengalihkan pandangannya kearah Kai.

“Kau sedang bertarung?” tanya Chanyeol mengacuhkan pertanyaan Kai.

Luhan mengamati Sehun yang masih terpaku diposisinya.

DEG

Luhan dengan cepat mengetahui siapa yang sedang memunggunginya itu. Sosok yang selama bertahun- tahun hidup dengannya. Sosok yang sangat ia hapal.

“Sehun?”

Luhan langsung berlari kearah Sehun. Kai membulatkan matanya karena Luhan berlari mendekati Sehun. Chanyeol tak kalah panik dan langsung mengejar Luhan.

“LUHAN! JANGAN!!” Teriak Chanyeol panik.

Namun lari Luhan lebih cepat.

“SEHUN!”

GREEPP

Luhan langsung memeluk tubuh namja tinggi itu  dari belakang.

Tak bergeming Sehun hanya mematung merasakan hangat tubuh Luhan dipunggungnya.

Tapi…

Kenapa ia sama sekali tidak bergerak.

 

“Sehun.. Hiks..”

 

Bukankah dia mau membunuh Luhan?

 

“Akhirnya kita bertemu disini.. Aku merindukanmu..”

 

Bukankah itu tujuannya ?

 

“Hiks.. Kenapa kau diam saja…”

 

Mengapa tubuhnya kini tak bergerak?

 

“Sehun.. Donghae.. Donghae diculik.. Hiks”

 

Tangisan Luhan terdengar begitu menyesakkan didada Sehun. Perlahan Sehun membalikkan tubuhnya. Otomatis Luhan melepaskan pelukannya.

“Sehun..” Luhan menatap mata Sehun yang dingin.

Chanyeol dengan sigap langsung berdiri dibelakang Luhan. Dengan waspada tinggi Chanyeol tak melepaskan sedikitpun tatapannya dari Luhan dan Sehun. Sementara Kai hanya mengamati dari jauh. Jujur hatinya terluka karena Luhan mengejar Sehun.

Sehun yang menyadari kalau ia tak mungkin menang jika menyerang Luhan saat itu hanya menatap tajam Chanyeol.

“Sehun.. Ayo kita selamatkan Donghae!” ajak Luhan lagi tanpa tahu apa- apa.

Sehun menatap Luhan yang kini masih menitikkan air matanya.

“Aku tak bisa.” Ujar Sehun dingin.

Luhan membulatkan matanya. “Wae!!”

Sehun mendekatkan wajahnya kewajah Luhan. Jarak wajah mereka hanya beberapa cm. Chanyeol tambah waspada memperhatikan Sehun dan Luhan. Tangan Chanyeol mulai berapi.

Sehun memeluk Luhan kemudian tepat ditelinga Luhan membisikkan sesuatu.

“Luhan yang cantik.. Aku akan membunuhmu… Sebentar lagi..”

DEG

Luhan membelalakkan matanya mendengar ucapan Sehun.

Sehun menatap Chanyeol sambil terus membisikkan sesuatu pada Luhan.

“Aku akan membunuhmu.”

Seketika itu Chanyeol langsung mengeluarkan api besar dari tangannya hendak menyerang Sehun namun Sehun dengan sigap sudah menghilang bersama angin.

“Cih.” Chanyeol berdecis kesal.

“Ah! Luhan kau baik- baik saja?!” Chanyeol langsung berlari kehadapan Luhan. Kaget bukan main Chanyeol melihat tatapan kosong dari mata Luhan.

“Xi Luhan!!” teriak Chanyeol sambil mengguncang pundak Luhan.

 

“Kenapa.. Kenapa Sehun…” Luhan berbisik. “Apa yang dia bicarakan? Apa maksudnya..” Air mata jatuh begitu saja dari mata Luhan yang menatap kosong.

“Luhan..” Chanyeol memeluk Luhan sembari menenangkan Luhan.

Kai melihat kejadian itu dalam diam.

Mata Chanyeol dan Kai bertemu. Kai berjalan mendekati Chanyeol yang memeluk Luhan. Luhan menangis didada bidang Chanyeol dalam diam.

“Bawa dia pulang. Biar aku yang mengurus anak panti asuhan yang diculik itu.” ujar Kai tegas.

Luhan langsung melepas pelukan Chanyeol dan membalikkan badannya menghadap ke Kai.

“Kumohon, Kai. Tolong selamatkan Donghae.” Luhan menitikkan air mata kesedihan. Luhan  mulai terisak.

Kai mengangguk. “Aku berjanji. Hentikan tangisanmu. Sehun tak pantas kau tangisi.”

Luhan hanya menunduk mendengar perkataan Kai. Ia tak masu menjawab apapun kini. Sakit hati dan perngkhianatan Sehun cukup membuatnya stress.

Kai langsung berteleportasi. Chanyeol kembali memanggil phoniex. Chanyeol masih memeluk Luhan , khawatir namja lemah itu akan pingsan atau roboh.

Setelah phoniex datang. Chanyeol dan Luhan segera menaiki Phoniex agar secepatnya kembali ke Minor House.

 

>>>

“Phoniex..”

Chen yang sedari tadi memperhatikan dari atap gedung sekolah tersenyum miris.

Chen mengangkat kedua tangannya keatas mengarah kelangit. Sejurus kemudian petir menyambar dan langit seketika itu kelam kelabu. Petir berwarna hitam pekat.

Chanyeol menyadari kalau ini adalah penyerangan. Ia arahkan pandangan matanya mencari sosok membuat langit mengamuk.

“Sial!” Chanyeol mengumpat saat tahu ada yang mengawasinya diatas atap sekolah.

Luhan memeluk tubuh Chanyeol karena phoniex terbang begitu kencangnya. Dengan lihai phoniex dapat menghindari petir yang menyambar kearahnya.

“Cih..” Chen langsung meludah menyadari ia kehilangan phoniex. Seketika itu Chen mengayunkan tangannya kearah tanah. Langit kembali tenang namun masih mendung dan kelabu.

 

“Aku takut kalau Chen-gege sudah mengeluarkan kekuatannya..” ujar salah satu anggota baru klan devil itu.

Tao.

Chen menghadap kearah Tao.

“Kalau begitu tidak usah ikut, kan?” ucap Chen sambil memutar bola matanya.

“Aku menghentikan waktu di area sekolah saat kalian akan bertarung. Tentu aku harus ikut.” Tao mem-pout-kan bibirnya.

“Ne~ Tao yang manja. Ayo kita kembali ke tempat Kyungsoo.” Ujar Chen sambil menghela nafasnya.

“Ne~” Tao mengangguk cepat.

 

>>>

 

Kai berjalan masuk kedalam gedung sekolah. Seperti yang dia duga. Time control ada disekolah itu karena waktu terhenti. Semua orang yang ada disekolah mematung.

“Selamat datang.”

Suara Chen langsung tertangkap oleh indera pendengar Kai. Perlahan Kai membalikkan badannya.

“Senangnya melihat anggota asli klan jika dia tak berkhianat.” Sindir Chen. Tao yang dari tadi berada dibelakang Chen langsung mengambil posisi tepat disamping Chen.

Kai mengerutkan dahinya saat melihat sosok Tao.

“Chen-gege.. Siapa orang itu?” tanya Tao menatap Kai tajam.

“Pengkhianat.” Jawab Chen bengis.

Wajah manja Tao langsung berubah menjadi wajah serius.

“Ini yang namanya Kai itu, gege?” suara Tao sudah terdengar bengis.

Kai menyipitkan matanya saat melihat Tao berjalan kedepan Chen seperti melindungi Chen.

“Gara- gara kau Sehun jadi menderita. Gara- gara kau semua klan Devil jadi menderita!!!”teriak Tao marah.

Tao langsung mengarahkan tangannya kearah Kai. Kaget, Kai hendak berteleportasi namun seketika itu juga Kai terpental dan tersungkur karena dadanya tiba- tiba terasa ditindih batu.

“UHUK!! UHUK!!” Kai terbatuk ia merasakan tubuhnya sakit bukan main.

 

“Chen- gege.. Kita bunuh saja dia. Tekanan tenagaku sudah membuatnya lumpuh. Karena dia anggota klan aku tak bisa menghentikan waktunya.” Tao terlihat menyesal.

“Gwechanayo.. Kau sudah sangat membantuku. Kali ini biar aku yang bereskan.” Chen menatap Kai yang tersungkur dilantai. Kai mengatur nafasnya yang terengah- engah. Ia pegangi dadanya yang terasa terbakar.

Tekanan kekuatan Tao itu merupakan kekuatan pemadatan waktu. Pemadatan waktu secara tiba- tiba pada ruang disekitar Kai membuat jantung Kai tidak siap dan jika dalam jangka waktu lama dalam keadaan seperti itu, berakibat mematikan.

 

“Hentikan! Chen! Tao!” Kyungsoo tiba- tiba berlari kearah mereka.

 

“Kyungsoo-gege..” Tao memandang Kyungsoo aneh. “Wae?”

Kyungsoo berjalan kearah Chen dan Tao yang memandangnya bingung.

“Jangan kotori tanganmu, Chen. Jika ‘Pure Blood’ Devil seperti kita membunuh sesama Devil…” Kyungsoo tertunduk. Chen mengangguk pelan.

Tao yang tak mengerti hanya diam saja.

“Biarkan Sehun yang menyelesaikannya. Bukankah Sehun juga mengatakan pada kita agar kita tak membunuh Kai?” Kyungsoo memegang tangan Chen.

“Baik.” Chen mengangguk.

Namun saat Chen dan Tao mengarahkan pandangannya ketempat Kai tersungkur tadi, sudah tak ada siapa- siapa lagi disana.

Kai sudah berteleportasi.

 

>>>

 

“Aish..” Kai memegang dadanya yang terasa sangat berat. Ia berteleportasi kekelas Luhan.

Tap

Tap

Kai berjalan terengah- engah. Nafasnya tak stabil. Kai mengalihkan pandangannya keluar kelas dan melihat seseorang mematung sambil menggendong anak kecil yang nampaknya pingsan. Seseorang itu hendak masuk kedalam toilet.

Kai langsung berjalan kearah namja tersebut. Kai lirik anak yang sedang ia gendong.

“BINGO.”

Kai tersenyum kemudian menggendong anak yang ada didalam dekapan sang namja.

Kai berteleportasi ke panti asuhan Kim.

 

>>>

 

Chanyeol melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sudah sejam lebih setelah Chanyeol dan Luhan sampai di Minor House.  

“Chanyeol..” Baekhyun duduk ditepi ranjang tempat Chanyeol kini berbaring.

Chanyeol tak kunjung menjawab sapaan Baekhyun.

“.. Aku tahu kau tidak sedang tidur.”

Chanyeol bangkit kemudian duduk ditepi ranjangnya mengikuti Baekhyun.

“Mood-mu akhir- akhir ini jelek sekali.” Kata Baekhyun sambil memegang pundak Chanyeol.

Chanyeol hanya menunduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan kekarnya.

“Aku seperti pecundang.” Bisik Chanyeol pelan.

“Kenapa kau bilang begitu, Chanyeol?”

“Aku tak bisa melindunginya. Seharusnya aku tak membiarkannya untuk keluar dari Minor House. Kini ia mengurung dirinya dikamar.. Dia menangis..” Chanyeol nampaknya sangat menyalahkan dirinya.  

Baekhyun merangkul pundak Chanyeol seraya menenangkan Chanyeol.

“Ini bukan salahmu. Kau sudah berusaha lebih dari siapapun.”

“Apa gunanya aku menjadi salah satu keturunan ‘Guardian’ jika aku tak bisa menjaganya?!” teriak Chanyeol keras.

Baekhyun agak terhenyak kemudian berjalan kehadapan Chanyeol. Baekhyun menumpukan lututnya dan mengangkat wajah Chanyeol yang dari tadi tertunduk dalam.

“Chanyeol.. Aku terluka jika melihatmu seperti ini. Kumohon..”

Tes 

Baekhyun menitikkan air matanya.

Melihat Baekhyun menangis, Chanyeol langsung memeluk Baekhyun erat.

“Mianhe.. Baekhyun maafkan aku. Aku terlalu menyalahkan diriku hingga membuatmu terluka.”

Chanyeol membelai lembut rambut partner yang sangat ia cintai itu.

Baekhyun menggeleng pelan. “Jangan terpuruk seperti itu lagi.”

“Ne.. Uljimma, Baekhyun.”

 

>>>

 

Luhan mematung menatap keluar jendela kamarnya. Ia duduk ditepi ranjangnya menghadap kejendela.

Air mata turun begitu saja dari matanya.

 

“Luhan yang cantik.. Aku akan membunuhmu… Sebentar lagi..”

 

Kata- kata Sehun terus terngiang- ngiang dipikirannya. Ia tak menyangka Sehun akan mengatakan hal seperti itu.

 

“Kenapa.. Sehun… Ternyata kau yang ada dibalik semua ini..”

 

Luhan tetap menangis dalam diam. Ia sama sekali tak berniat menghapus jejak air mata yang tertinggal dipipinya.

 

“Sehun…”

 

Luhan kembali menggumam nama Sehun. “Bukankah kita berjanji.. Akan selalu bersama- sama…”

Luhan terduduk dilantai. Kini ia menangis sesegukan. Luhan mengeluarkan semua bebannya. Luhan meringkuh dilantai yang dingin itu.

 

“Sehun.. Wae!! Hiks..”

 

Luhan memukul lantai yang dingin itu pelan. Berkali- kali ini ayunkan tangan kecilnya seakan ingin menghancurkan segala yang ada dihadapannya.

“Sehun!!”

 

“Mulai sekarang kita akan selalu bersama- sama. Janji?”

“Janji!”   

 

“.. Padahal kau orang yang paling kupercayai.. Hiks…”

  

“Luhan yang cantik.. Aku akan membunuhmu… Sebentar lagi..”

 

“Apa artinya selama ini kita saling menyayangi!!”

 

“Aku akan membunuhmu.”

 

“SEHUN!!”

 

 

>>>

Kai mendengar tangisan Luhan dari balik pintu kamar Luhan yang terkunci rapat. Mudah untuknya masuk kekamar Luhan begitu saja. Namun ia tak mau melakukan hal itu. yang Luhan butuhkan kini hanyalah ketenangan.

 

Deg

 

“Ugh..” Kai memegangi jantungnya yang masih belum stabil karena serangan Tao tadi. Kai tersandar di pintu kamar Luhan kemudian tubuhnya merosot kelantai.

“Haah..” Kai menahan sakit yang dia rasakan.

 

“KAI!”

Baekhyun yang baru keluar dari kamarnya, melihat Kai tengah tersungkur kesakitan didepan pintu kamar Luhan  langsung berlari menghampiri Kai.

“Apa yang terjadi Kai!” tanya Baekhyun panik.

“Uhuk! Uhuk!” Kai berusaha berdiri namun ia tak sanggup. Dadanya seperti terbakar.

“Lay! Lay-hyung!!” teriak Baekhyun akhirmya.

“Ja..Jangan panggil Lay! Uhuk!” Kai kembali terbatuk.

“Bicara apa kau!”

Baekhyun langsung membopong Kai menuju kamarnya. Chanyeol kaget sekali ketika Baekhyun membawa masuk Kai kekamar mereka.

“YA! Ada apa ini?!” Chanyeol membantu Baekhyun membopong tubuh Kai.

“Aku juga tidak tahu!” jawab Baekhyun cemas.

 

Setelah Kai terbaring diranjang Chanyeol.

“Chanyeol! Panggil Lay-hyung.”kata Baekhyun cepat. Chanyeol langsung berlari menuju kamar Lay.

Baekhyun sangat khawatir pada keadaan Kai. Jujur saja, sejak Baekhyun bertemu Kai, baru kali ini lihat sosok Kai jadi lemah seperti ini.

 

Grep

 

Kai menggenggam tangan Baekhyun erat. Menahan sakit Kai masih memegang dadanya dengan sebelah tangannya.

“Kai..” Baekhyun mengusap rambut Kai sembari menyingkirkan keringat dingin yang mengaliri pelipisnya.

“Bertahanlah..”

 

>>>

Lay langsung memasuki kamar Baekhyun dan Chanyeol. Diikuti dengan Chanyeol  dibelakang Lay.

“Kai!” Lay langsung memegang dahi Kai.

Baekhyun melepas pegangan tangan Kai kemudian menjauh dari ranjang. Lay duduk ditepi ranjang. Baekhyun memeluk lengan Chanyeol.

“Ha..Haaa..” Kai memejamkan matanya menahan sakit. Ia gigit bibir bawahnya.

Lay melepas tangannya dari dahi Kai. Menelan ludah, Lay meletakkan tangannya tepat didada Kai. Ia tahu betul sakit yang diderita Kai bisa berakibat fatal jika pindah kedalam tubuhnya.

“Ja..Jangan!” Kai langsung mencegah Lay untuk menggunakan kekuatannya.

“Wae!” tanya Lay bingung.

“Jika..Jika kau menyembuhkanku.. Kau juga akan merasakan sakitnya.. Uhuk!” Kai menghempas jauh tangan Lay.

“Tapi jika tidak kusembuhkan kau akan menderita! Aku hanya akan merasakan sakit itu beberapa menit!” Lay kembali meletakkan tangannya kedada Kai.

“Tapi..”

“Kumohon jangan menolak.”

Kai akhirnya mengangguk. Lay tersenyum kemudian memejamkan matanya.

Sinar putih bersih seperti mutiara keluar dari telapak tangan Lay. Cahaya itu masuk kedalam tubuh Kai. Perlahan Kai merasakan rasa sakit yang dari tadi menyiksanya perlahan- lahan sirna.

“Ugh..” wajah Lay tertekuk. Sepertinya Lay mulai merasakan dampaknya. Buktinya tangan Lay yang memegang dada Kai bergetar hebat. Kali ini wajah Lay benar- benar sangat tersiksa. Rasa sakit yang luar biasa mulai menjalari tubuhnya.

“CUKUP!” Kai langsung menarik tangan Lay dari dadanya. Kai memegang erat pergelangan tangan Lay.

Seketika itu cahaya ditelapak tangan Lay redup. Keringat dingin mengucur deras ditubuh Lay. Wajah Lay pucat sekali.

“Lay!” Kai langsung menangkap tubuh Lay yang sempoyongan. Lay berada didalam dekapan Kai.

“Lay-hyung!” Baekhyun dan Chanyeol berlari mendekati ranjang. Baekhyun memegang tangan kanan Lay dan Chanyeol menggenggam tangan kiri Lay.

“Haaahh..Uhuk!!” Lay berusaha menahan rasa sakit yang berpindah ketubuhnya.

“Sudah kubilang tidak usah, kan!” Kai nampak sangat merasa bersalah.

“Ti..Tidak.. haaah.. Tidak masalah… Rasa sakitnya hanya sebentar.” Lay berusaha tersenyum. keringat terus mengucur ditubuh putih Lay.

“Lay-hyung…” Chanyeol mempererat genggaman tangannya. Baekhyun nampak menitikkan air matanya.

“Hey.. Jangan.. uhuk.. menangis.. Aku baik- baik saja. Nee~?” Lay tersenyum melihat Baekhyun menangis. Jujur saja ia tak mau membuat Baekhyun, Chanyeol, dan Kai mencemaskannya seperti ini.  

“Ba..Bagaimana Kai?.. Kau baik- baik saja?”tanya Lay sambil mendongakkan kepalanya menatap Kai.

“Pabo! Pikirkan kondisimu sendiri.” Kai menghela nafasnya.

Berkat Lay, Kai sudah tak merasakan rasa sakit lagi. Baekhyun dan Chanyeol melepas genggaman mereka dari tangan Lay karena Lay berusaha berdiri. Kai dengan hati- hati membantu Lay berdiri.

“Aku..Aku sudah tidak apa- apa. Kalian tak usah khawatir.”Lay menghela nafas panjang. Walau Lay bilang begitu tetap saja Kai, Chanyeol, dan Baekhyun nampak masih sangat khawatir.

 “Hyung mau kemana? Biar aku antar..” Ucap Baekhyun cepat sambil membantu Kai untuk membopong Lay.

“Wae~ Kalian memperlakukannku seperti orang sakit. Lihat aku sudah bisa berdiri tegap, kan? Sudah kubilang efeknya hanya beberapa menit.” Lay nampaknya sudah membaik karena ia bisa mengomel tanpa henti.

Chanyeol menghela nafas lega. “Hyung ini~Membuat jantungku copot saja.”

Baekhyun tersenyum namun tiba- tiba memeluk lengan Lay dengan manjanya. Kai melepaskan tangannya dari pundak Lay saat tahu Lay agak membaik.

 

“Anu.. Jangan beritahu Kris-hyung..” bisik Lay sambil meletakkan jari telunjuknya tepat dibibirnya.

 

“Sudah ketahuan!”

 

Suara bass milik orang yang paling dihormati di Minor House itu membuat Lay, Chanyeol, Baekhyun, dan Kai kaget.

Kris masuk kedalam kamar BaekYeol sambil melipat tangannya didada.

BaekYeol langsung mengangkat tangan kanan mereka bersamaan kemudian tersenyum lebar.

“Ka..Kami sepertinya ada urusan mendadak.. Haha~”

Dengan kecepatan kilat mereka berdua keluar dari kamar. Kai mengusap rambut Lay lembut kemudian membisikkan sesuatu.

“Gamsahamnida, Lay. Aku benar- benar berterima kasih padamu.”

Lay tersenyum dan mengangguk mantap. Kai menatap Kris sesaat kemudian berteleportasi entah kemana. Alhasil Lay hanya berdua saja dengan Kris.

Kris menatap tajam Lay.

“A~ Aahahaha~ Kenapa?” Lay menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kris menghela nafasnya kemudian mendekat kearah Lay. Ia sisipkan tangan besarnya dipipi Lay.

“Kau baik- baik saja?” tanya Kris serius.

Lay membulatkan matanya kemudian mengerjapkan beberapa kali.

“Terlalu berlebihan. Kalian menganggap aku akan mati jika menyembuhkan orang, oeh?!” Lay mengerucutkan bibirnya. Kris tersenyum manis kemudian mengusap keringat yang mengalir dipipi Lay.

“Melihatmu tersiksa membuatku merasa tidak berdaya. Aku bukannya ingin melarangmu.. Tapi kumohon jangan terlalu sering memakai kekuatanmu untuk hal yang tidak perlu.”

Lay mengangguk. “Tapi.. Kai tadi membutuhkanku.”

Kris mengerutkan keningnya. “Memangnya Kai kenapa?”

“Lho? Hyung bukannya tadi mengintip?”

“Aku baru saja datang saat kau dibopong oleh Kai dan Baekhyun. Dan jangan bilang aku mengintip.” Kris menyipitkan matanya.

“Hehe.. Mianhe, hyung. Hm.. Kai mendapat serangan tepat dijantungnya. Sepertinya serangan itu sangat kuat. Dan aku yakin sekali serangan itu dari anggota klan kita. Hanya orang itu yang bisa menyerang dengan tekanan kekuatannya. Pemadatan waktu.”

“Tao.” Kris menyipitkan matanya. “Hanya Tao yang bisa.”

Lay menunduk. “Hyung pasti sangat merindukan Tao.”

Kris menghela nafas pelan. “Jika dikatakan merindukannya .. Entahlah.. Aku tidak tahu.. Yixing..”

“Hyung… Kita harus menarik Tao kembali ke klan. Atau tidak… Kita bisa kalah telak. Tao memiliki kekuatan yang paling menakutkan walau Chanyeol yang terkuat.” Kata Lay sangat serius.

“Aku tahu.. Tapi… Watak Tao sangat keras kepala dan sangat teguh pada jalan yang ia pilih. Aku mengenalnya lebih baik daripada mengenal diriku sendiri. Tao bukan anak yang mudah menurut. Jika Tao sampai ikut dengan mereka berarti ada alasan kuat mengapa ia tetap ada disana, kan?”

Lay mengangguk sambil berfikir. “Benar juga… Apa yang membuat anak itu memberontak? Atau ingatannya juga hilang tentang klan kita?”

Kris mengerutkan dahinya. “Sama seperti Luhan?”

Lay kembali mengangguk.

“Berarti kita dipermainkan oleh takdir.” Kris mengepalkan tangannya.

 

>>>

 

“Kita kekamar Luhan saja.” Ajak Chanyeol kepada Baekhyun setelah mereka lari meninggalkan Lay dan Kris dikamar mereka.

Baekhyun mengangguk. “Baiklah. Kita coba menenangkannya.”

Tok

Tok

“Luhan~ Ini kami~” teriak BaekYeol bersamaan.

 

Sing

 

Tak ada jawaban.

 

“Luhanniee~~” panggil Baekhyun sekali lagi.

 

Klek

 

Luhan membukakan pintu sambil menunduk. Ia tak bisa berbohong jika ia masih saja menangis. Air mata nampak masih membasahi pipinya.

“Oh Tuhan!” Baekhyun langsung masuk kedalam kamar Luhan dan memeluk Luhan sambil mengusap punggungnya.

“Hiks..” Luhan menangis dipelukan Baekhyun. Chanyeol masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu kamar Luhan.

“Chanyeol sudah menceritakannya padaku..” Baekhyun mengeluarkan suaranya dengan pelan.

Luhan melepaskan pelukannya kemudian menatap Baekhyun.

“Aku sangat menyukainya. Aku mencintainya sepenuh hidupku. Aku sangat terpukul saat tahu ia diadopsi oleh keluarga Oh. Tapi aku merelakannya karena dari dulu dia ingin merasakan bagaimana memiliki sebuah keluarga.. Sejak itu… Aku dan dia memiliki jarak yang sangat jauh. Aku tahu kalau hubungan kami tak mungkin sama seperti dulu.. Tapi.. Aku tak menyangka..” Luhan terhenti. Air matanya luluh membasahi pipinya.

“Aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu..Hiks.. Ia ingin mem..bunuhku..”

“Luhan..” Baekhyun kembali memeluk tubuh Luhan yang bergetar hebat. Chanyeol hanya terdiam mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

 

Flash back

 

“Kita sampai Luhan.” Chanyeol menggendong Luhan turun dari Phoniex. Setelah itu, Phoniex langsung kembali ke langit.

Luhan masih menunduk. Chanyeol menghela nafasnya.

“Aku benar- benar minta maaf..” Chanyeol memeluk Luhan erat.

“Siapa Sehun.. Siapa Sehun sebenarnya..” bisik Luhan lirih.

Chanyeol menghela nafas. “Kau dapat menyimpulkannya sendiri, kan?”

Luhan menggeleng. “Jawab aku Chanyeol.. Kumohon..”

Hening.

“Baiklah. Kurasa kau harus tahu yang sebenarnya.” Chanyeol menarik tangan Luhan agar memasuki Minor House.

Mereka duduk diruang tengah Minor House karena Luhan enggan masuk kedalam kamarnya.

 

“Sehun adalah anggota klan ini..” mulai Chanyeol. “Saat pernikahanmu dengan Kai berlangsung. Sehun-lah yang paling tidak setuju. Sehun cemas akan kelangsungan klan ini karena Kai bukanlah dari klan Angel. Namun pernikahan kalian tetap dilaksanakan bahkan Kai ditetapkan sebagai partner Sehun setelahnya.”

Luhan hanya diam mendengarkan penjelasan Chanyeol yang kini duduk berhadapan dengannya.

“Sehun adalah salah satu keturunan ‘Guardian’ di klan Angel. Harga diri dan martabatnya sangat tinggi. Ia merasa dilecehkan karena memiliki partner dari klan yang selama ini ia perangi.”

Luhan mengangguk mengerti. “Karena itu dia membelot?”

Chanyeol mengangguk pelan kemudian menghela nafas panjang. “Merasa tidak dihargai dia keluar dari klan Angel dan melanggar sumpah. Semenjak itu ia memerangi klan Angel. Dimasa lalu… Sehun-lah…” Chanyeol terhenti.

“Sehun yang membunuhku.” Sambung Luhan.

Chanyeol sekali lagi mengangguk pelan. “Sehun membunuhmu didepan mata Kai.”

Deg

Luhan memegangi jantungnya. Sakit. Sakit sekali rasanya mengetahui yang sebenarnya. Air mata Luhan kembali turun begitu saja.

Luhan bangkit kemudian berlari kekamarnya. Chanyeol menghela nafasnya. merasa bersalah karena tak bisa melindungi Luhan.

“Mianhe..”

 

End Flash back

 

Baekhyun menghela nafas melihat Chanyeol yang melamun. Luhan masih menangis dipelukannya.

“Aku keluar sebentar.” Chanyeol bangkit dan keluar dari kamar Luhan. Baekhyun hanya memandang punggung Chanyeol yang hilang dibalik pintu yang tertutup.

“Chanyeol…”

 

>>>

Chanyeol berjalan menuju balkon yang ada dibagian selatan Minor House. Ia duduk dipagar Balkon sambil memandang langit yang mulai berubah warna menjadi orange akibat matahari mulai  enggan berjaga lagi.

“Sehun…” bisik Chanyeol lemah.

 

Set

 

“Hai, Kai.” Mata Chanyeol masih menatap langit.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Kai yang tiba- tiba duduk disamping Chanyeol.

“Entahlah. Semua bercampur aduk.” Chanyeol memejamkan matanya sejenak.

“Oh, ya. Bagaimana dengan anak yang diculik tadi?” sambung Chanyeol sambil beralih menatap Kai.

“Sudah kuselamatkan.”

“Syukurlah…Hmm.. Kenapa kau sampai terluka seperti tadi?”

Kai menatap langit kemudian menghela nafasnya,

“Aku diserang oleh Tao saat akan menyelamatkan anak panti asuhan itu. Tao tidak berubah… Hanya saja sepertinya dia sama seperti Luhan. Ingatannya tentang klan hilang dan itu dimanfaatkan oleh Sehun dan anggota klan-ku yang bergabung dengan Sehun.”

 

Chanyeol mengangguk mengerti. “Setelah ini apa rencana kita?”

 

“Kita harus melatih kekuatan Luhan. Hanya Luhan yang bisa melawan Tao, mengingat kekuatan mereka sama- sama terpusat pada pikiran.”

 

“Melihat sosok Luhan yang lemah.. Aku jadi ragu ia bisa berlatih dalam waktu dekat ini.”

 

Kai mengela nafasnya. “Ia masih menangis kerena Sehun?”

“Tentu… Sepertinya Sehun adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.”

“Mereka hidup bersama selama bertahun- tahun… Wajar Luhan merasa dikhianati.” Kai terlihat sedih.

Chanyeol langsung merangkul pundak Kai.

“Jangan cemas. Aku yakin Luhan akan kembali padamu.”

Kai menggeleng pelan. “Aku tak akan memaksanya untuk kembali padaku atau memilihku. Aku hanya ingin ia bahagia.”

“Kebahagiaannya adalah bersamamu.”

Kai memandang Chanyeol kemudian tersenyum tipis. “Kau sepertinya sangat memikirkan Luhan.”

“Tentu saja. Aku hidup untuk melindungi orang yang menyimpan ‘jantung’ matahari.”

“Apa hanya itu?” Kai menyipitkan matanya.

“YA! Kau mau meragukan tulusnya cintaku pada Baekhyun, oeh!” Chanyeol langsung mem-pout-kan bibirnya.

Kai menghela nafasnya. “Baekhyun bisa salah paham, lho. Aku saja sampai salah paham menafsirkan perhatianmu pada Luhan.”

“Mwo? Kau cemburu?” Chanyeol langsung terkekeh pelan.

Kai yang menyadari kalau ia baru saja mengatakan kalau dia cemburu langsung men-death glare Chanyeol.

“Daripada mengurusiku.. Lebih baik kau perjelas hubunganmu dengan Baekhyun.”

Wajah Chanyeol merah seketika itu. “YA! Kau bicara apa Kai!”

“Dasar!” Kai hanya menghela nafas.“Baekhyun anak yang sangat sensitif. Kau harus menjaganya.”

“Tentu saja. Kalau itu tanpa diberitahu aku akan menjaganya walau aku harus mati.”

Kai tersenyum. “Syukurlah.”

 

 

Malam hari.

 

Suho masuk kedalam ruangan Kris. “Hyung memanggilku?” tanya Suho langsung sambil maju mendekati Kris.

“Ah.. Ne, Suho. Lay sepertinya kelelahan setelah mengobati Kai. Bisakah kau membantuku membuat makan malam? Sejam lagi waktunya makan malam, kan?” ucap Kris sambil meletakkan berkas yang baru ia baca.

Pipi Suho langsung memerah. “Maksud hyung… Kita masak bersama..?”

Kris menggaruk kepalanya. “Ye..”

“Hihihi..” Suho tertawa pelan.

“Wae?! Apa salah? Aku hanya ingin membantumu daripada kau masak sendirian, kan?” Kris melipat tangannya didada. Nampak semburat merah menghiasi wajah cool Kris yang sangat tampan.

“Mianhe, hyung. Hanya saja aku tak bisa menahan tawa ketika aku membayangkan hyung memakai celemek..Hihihi..” Suho kembali tertawa geli.

Kris menghela nafas panjang kemudian menarik tangan Suho keluar dari ruangannya.

“Kajja~” Kris berjalan menuju dapur sambil menarik tangan Suho.

 

Deg

 

Suho menatap tangannya yang digenggam oleh Kris. Suho menunduk menyembunyikan wajah merahnya.

 

1 jam kemudian~

 

Baekhyun menatap datar kearah dua manusia yang sejak tadi ada didapur. Baekhyun berdiri tepat dipintu dapur.

 

“YA! Hyung! Apa yang kau lakukan! Jangan memasukkan bumbu itu kedalam sup!” Suho langsung mencegah perbuatan biadab Kris.

“Tentu saja harus ditambah bumbu, kan?”

“Tapi yang hyung masukkan itu merica! Semua akan mati kepedesan kalau hyung menambahkan lebih banyak lagi.”

“Mana mungkin. Lihat warna sop ini.. Terlalu bening!”

“Memang warnanya seperti itu, hyuuunggg!!!”

 

Merasa sangat kelaparan.

Baekhyun masuk kedalam dapur kemudian memegang tangan Kris.

 

Sontak Kris dan Suho melirik Baekhyun yang tiba- tiba mengganggu acara masak memasak mereka.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Kris menyipitkan matanya.

Baekhyun menatap Kris sangar.

“Biar aku yang membantu Suho-hyung memasak!”

“MWO?” Kris hanya bisa pasrah ketika tubuhnya didorong oleh Baekhyun keluar dapur.

“Biar kami yang urus. Hyung tunggu saja diruang makan.” Baekhyun langsung masuk kedalam dapur setelah mencibir pada Kris.

“Aigoo..” Kris membalikkan badannya. “WAA!!”

Kris dikagetkan dengan sosok Chanyeol yang tepat ada dibelakangnya. “YA! Kau membuatku kaget!”

“Kami sudah lapar, hyung~ Baekhyun kalau sudah kelaparan memang sangat sensitive.”

Kris mengangguk pelan. “Ne~”

Seketika itu Kris kembali masuk kedalam dapur. Chanyeol langsung membulatkan matanya.

“Mwo? Hyung! Baekhyun bisa ngamuk! Gak tanggung ya kalau nanti malam Minor House gelap gulita karena Baekhyun menyerap semua cahaya lampu disini.” Cegah Chanyeol.

Namun Kris sudah keburu masuk dan Chanyeol dengan malas mengikuti Kris masuk kedalam dapur.

“YA! Kenapa semua masuk?!” Baekhyun ngomel sambil mengaduk sop korban kebiadapan Kris tadi.

 

“Waaaaa!! AWASSSS~~~” Suho yang membawa tepung tiba- tiba terpeleset.

 

Blussssshhh

 

Alhasil Kris dan Chanyeol yang ada dihadapannya jadi penuh tepung.

“Mi..Mianhe… Hehehe..” Suho menggaruk kepalanya.

(=__=) ekspresi itulah yang nampak pada wajah kedua namja tinggi itu kemudian dengan diam keluar dari dapur menuju kamar mandi.

“BUAHAHAHHAHAHHA!!” Baekhyun tidak bisa menahan tawanya. Suho jadi ikut tertawa melihat ulahnya yang berhasil membuat Kris dan Chanyeol mandi dua kali.

“Nice punch, hyung!!” Baekhyun memberikan jempolnya pada Suho.

“Nampaknya kau senang sekali melihat mereka kesusahan.” Suho melanjutkan aktifitasnya untuk membuat masakan.

Baekhyun mengangkat bahunya. “Karena aku sedang kesal.”

“Aigoo ~” Suho hanya bisa menghela nafas.

 

 

Sementara itu dikamar Luhan.

 

Tok

Tok

“Masuk..” ucap Luhan lemah.

Klek

“Kau tidak keluar kamar?” Kai masuk kedalam kamar Luhan kemudian menutup kamar itu kembali.

“Aku…” Luhan menunduk.

Kai duduk di ranjang Luhan. Ruangan itu gelap. Luhan tak menghidupkan lampu kamarnya. Alhasil, hanya cahaya bulan lah yang menerangi kamar itu. Luhan masih betah memandangi bulan sambil berdiri didepan jendela besar itu.

Kai menghela nafasnya. “Kau sudah mandi?”

Luhan mengangguk namun matanya masih menatap bulan itu tajam. Kai berdiri tepat disamping Luhan.

Tes

Air matalah yang dilihat pertama kali oleh Kai saat menatap wajah Luhan yang masih menatap bulan itu dengan tatapan sendu.

Kai memengang kedua pundak Luhan tiba- tiba.

“Ka..Kai?” sepertinya Luhan agak shock.

“Berhenti menangisi namja itu.”

Luhan menunduk. “Maafkan aku Kai. Aku tak bisa menahan air mataku…”

Kai langsung memeluk Luhan. Tentu saja Luhan membulatkan matanya saat menyadari Kai kini tengah memeluknya sangat erat.

“Kai..”

“Bersandarlah padaku.”

Luhan membulatkan matanya. “Tapi…”

“Aku akan selalu ada untukmu.”

Luhan membalas pelukan Kai. Dan dengan reflex Luhan membenamkan wajahnya kedada bidang Kai.

“Lu..Luhan..”

Tangisan Luhan terhenti. Kai tersenyum saat Luhan mempererat pelukannya.

“Kau sudah berhenti menangis?” tanya Kai sambil mengusap rambut Luhan.

Luhan mendongakkan kepalanya namun ia masih memeluk Kai.

“Entah mengapa saat kau memelukku… Rasanya perasaanku sangat tenang.”

“Benarkah?”

Luhan mengangguk kemudian membenamkan kembali kepalanya didada Kai.

“Maukah kau memelukku seperti ini terus?” tanya Luhan polos.

Kai membulatkan matanya. “Eh?”

“Padahal tadi Baekhyun dan Chanyeol memelukku.. Tapi.. Aku hanya merasa tenang saat kau yang memelukku.”

Kai kembali tersenyum. Hati Kai mulai menghangat karena suhu tubuh Luhan yang kini mendominasi tubuhnya.

Kai mendorong tubuh Luhan pelan hingga Luhan tertidur diranjang.

“Mwo?”

“Kau ini… Istirahat saja.” Sepertinya Kai mulai malu dengan kelakuan Luhan yang tiba- tiba jadi manja.

“Tidak.. Kau mau pergi lagi, ya!” Luhan langsung mencengkram lengan baju Kai.

“Aku..” Kai nampaknya mencari alasan untuk pergi dari kamar Luhan.

“Tidak boleh!” Luhan menarik lengan baju Kai tambah kencang. Dan…

Bruk

Akibat ulah Luhan, Kai jatuh menimpanya. Kini tubuh Kai menindih tubuh Luhan diatas ranjang. Jarak wajah mereka yang hanya 3cm itu membuat mereka terpaku.

Kai menatap mata Luhan yang begitu membuatnya penasaran. Luhan juga melakukan hal yang sama. Entah apa yang mereka cari di benik mata masing- masing lawannya.

“K..Kai..” bisik Luhan pelan.

Kai langsung mendekatkan bibirnya kebibir mungil Luhan. Tak menolak, Luhan hanya meremas alas ranjangnya yang berwarna putih. Mata Luhan sudah tertutup rapat.

DEG

DEG

“Luhan..” bisik Kai sambil memandangi bibir dan mata Luhan yang tertutup secara bergantian.

 

“AYO  MAKAANN~!!!!!”

 

Chanyeol yang tiba- tiba masuk kedalam kamar Luhan langsung membelalakkan matanya melihat pemandangan indah yang terpapar apik diatas ranjang Luhan.

 

“MWOOO!!! MAAF AKU MENGGANGGU KESENANGAN KALIAN!”

BLAM

Chanyeol kembali menutup pintu kamar Luhan.

 

Kai dan Luhan memisahkan diri mereka. Wajah Luhan merah padam. Wajah Kai tak jauh beda. Walau ruangan itu gelap gulita namun cahaya bulan cukup memperkuat kalau mereka sedang tersipu.

“Ma..Maaf..” ucap Luhan pelan.

Kai menggaruk kepalanya. Mereka masih duduk diatas ranjang. Canggung.

“Cih! Pasti sekarang dia lagi menggosip!” Kai menyipitkan matanya. Luhan langsung memegang pipinya yang terasa memanas.

 

Blam

 

Mata Luhan dan Kai kembali membulat saat pintu kamar Luhan kembali terbuka.

“Kris-hyung.” Luhan tersenyum saat Kris memasuki kamarnya, handuk kecil masih tergantung dilehernya. Sepertinya Kris langsung berlari kekamar Luhan setelah keluar dari kamar mandi. Seketika itu Kris menghidupkan lampu kamar Luhan dan menatap Luhan dan Kai secara bergantian.

“Kai! Kau mau mencoba menodai adikku, oeh?” Kris langsung memeluk Luhan yang masih duduk diatas ranjang.

Mata Luhan membulat. “Mwo? Tadi kami tidak sengaja terjatuh diposisi seperti itu.”

Kai langsung menghela nafas panjang. “Apa yang dikatakan Chanyeol?”

“Itu tak penting! Yang pasti dia ribut dan teriak- teriak kesenangan karena baru saja memergoki kalian akan melakukan adegan dewasa.” Jelas Kris panjang lebar.

“Omo! Adegan dewasa? Sudah kubilang Kai tak sengaja terjatuh menimpa tubuhku.” Luhan melipat tangannya didada.

“Aigoo~ Anak bodoh itu.” Kai menepuk dahinya sendiri.

“Ingat Kai! Sampai kalian menikah tak akan kuizinkan kau menodai adikku.” Kris men-death glare Kai.

Kai hanya memutar bola matanya. “Ne.”

Wajah Luhan kembali memerah. “Menikah?

Deg

Mwo! Luhan bodoh! Apa yang kau pikirkan!!

 

>>>

 

 Dimeja makan.

 

Semua hadirin menatap menu makanan yang dibuat malam ini tanpa koki mereka tercinta, Lay.

“Jangan buang- buang makanan. Begitulah kata pepatah.” Kata Baekhyun sambil tersenyum senang ketika mendapati Kris, Kai, dan Chanyeol hendak beranjak keluar dari ruang makan.

“MWO! Kau mau membunuh kami, oeh!!” teriak Chanyeol frustasi karena melihat menu makanan malam ini.

Bagaimana tidak? Adakah sup hangat yang berwarna merah pekat? Dan adakah telur mata sapi dengan kerak telur dibeberapa tempatnya? Dan adakah ramyun dengan brokoli dan sayuran lainnya yang nyaris lebih penuh dari ramyunnya sendiri?

Kai menelan ludahnya menatap ramyun yang mengerikan itu. Jujur saja ia bukan vegetarian.

Kris bergidik ngeri melihat telur ceplok yang masih ada cangkang telurnya itu. Walau itu hasil kerjaannya sendiri.

“Lho? Kenapa bergidik ngeri, hyung? Bukankah ini telur buatan hyung?” kata Suho sambil mendorong pelan tubuh Kris untuk kembali duduk di kursinya.

Kai sudah berteleportasi entah kemana.

Sial kau, Kai! Kabur sendirian.” bisik Kris dan Chanyeol dalam hati.

Luhan nampak santai saja karena dia mendapat ramyun dengan beberapa sayuran yang lezat. Sama dengan menu Baekhyun dan Suho. Sedangkan Kris harus menghabiskan sop buatannya tadi dan Chanyeol?

Entah mengapa ia ikut disiksa disini =_=   

 

“Baekhyunnie~ Ramyun dimangkuk itu untuk aku ya??” Chanyeol berharap ramyun yang baru saja diambilkan Baekhyun adalah untuknya.

“Bukan. Hm… Ini untuk Lay-hyung.” Jawab Baekhyun mantap.

“Biar aku yang mengantarkannya.” Luhan mengajukan dirinya. Baekhyun mengangguk dan memberikan mangkuk itu pada Luhan. Tanpa menunggu lama Luhan langsung mengatarkannya kekamar Lay.

 

Chanyeol menepuk jidatnya. “Jadi menu makananku adalah sup merah aneh ini dan telur yang menyeramkan ini?” Chanyeol berteriak frustasi.

“Tidak sopan!” Kris langsung men-death glare Chanyeol yang baru saja mengejek masakan yang dia buat.

“Habiskan saja makanannya.” Ujar Kris tegas. Chanyeol hanya bisa menghela nafas kemudian mencicip sedikit sup merah aneh itu. Kris mengamati Chanyeol. Namun saat Chanyeol menelan sup itu, Kris menelan ludahnya. Ternyata Kris walau stay cool juga takut keracunan masakan yang ia buat sendiri.

“Tidak terlalu buruk.” Ungkap Chanyeol kembali menelan sup merah itu.

“Benarkah?” Kris mengikuti jejak Chanyeol dan mencicipi sup buatannya.

“Iya.. Walau agak pedas ini bisa dimakan.” Kris mengangguk kemudian menuangkan beberapa sendok sup ke mangkuknya. Chanyeol juga melakukan hal yang sama.

Penasaran, Baekhyun mencoba sup merah tersebut.

“MWO!! PEDAS SEKALI!!”

Suho langsung memberikan segelas air putih pada Baekhyun. Tanpa basa basi Baekhyun meneguk isi gelas itu sampai habis. Chanyeol dan Kris saling tatap kemudian menyendok sup itu lagi.

“Baekhyun… Lidahmu sensitive sekali.” Chanyeol merasa sup itu tidak sepedas yang dikatakan Baekhyun. Kris mengangguk.

“Uri Baekhyun cute banget deh!” goda Chanyeol merasa menang. Entah mengapa seperti itu. Chanyeol memang kadang tak bisa dimengerti.

“Chanyeol!” Baekhyun mem-pout-kan bibirnya kemudian melanjutkan memakan ramyunnya.

Suho melirik Kris yang makan dengan tenang. Ia lirik juga telur goreng yang dibuat Kris. Ia ambil salah satu kemudian menyingkirkan kulit telur yang ada ditelur goreng itu.

“Igo..” Suho memberikannya pada Kris.

“Eh?” Kris menatap Suho.

“Aku sudah menyingkirkan kulit telurnya. Jadi bisa dimakan.”

Kris memandang Suho penuh makna. “Go..Gomawo…” Kris langsung menyantap telur goreng itu. Terselip senyuman manis dibibir Kris sambil mengunyah telur goreng itu yang entah mengapa terasa sangat lezat dilidahnya.

Chanyeol melirik telur goreng yang Suho berikan pada Kris dan Chanyeol lagi- lagi menatap Baekhyun. “Hmm.. Baekhyunnie~ Aku juga mau telur goreng.”

Baekhyun yang mood nya memang lagi tidak stabil menatap Chanyeol kesal. “Kau juga mau aku menyingkirkan kulit telur juga seperti yang dilakukan Suho-hyung?” tanya Baekhyun panjang lebar.

“Ne.” Chanyeol malah dengan polosnya mengiyakan.

“Park Chanyeol! Kau habiskan semua telur goreng itu beserta semua kulit telurnya. Jika tidak, kau akan tidur diluar selama seminggu!” teriak Baekhyun.

“MWO!!”

Bodoh!” bisik Suho dan Kris dalam hati.

 

>>>

Tok

Tok

 

Klek

 

“Hai..” Luhan tersenyum saat melihat Lay membukakan pintunya.

“Oh.. Luhannie..” Lay membukakan pintu kamarnya lebar. “Masuklah.”

Luhan mengangguk kemudian masuk kedalam kamar Lay.

“Ini.. Makananmu.. Hmm.. Lay-shhi.” Luhan tersenyum kemudian meletakkan nampan itu dimeja kecil yang ada disamping tempat tidur Lay.

“Tak usah memanggilku sesopan itu. Lagipula kita seumuran.” Ujar Lay sambil melihat ramyun buatan Baekhyun dan Suho.

“Pasti yang membuat ramyun ini Suho dan Baekhyun. Selalu banyak sayuran.” Lay tertawa pelan.

Luhan mengangguk. “Kau baik- baik saja?”

“Ne~ Kris-hyung yang terlalu mencemaskanku. Dia menyuruhku istirahat terus.”

“Boleh aku bertanya padamu?” tanya Luhan serius.

“Ne.. Apa?”

“Hmm… Kekuatanmu apa ?”

Lay tersenyum. “Kekuatanku bukanlah elemen seperti Chanyeol. Kekuatanku dalam penyembuhan.”

“Penyembuhan?”

“Ne.. Bila ada yang terluka aku bisa menyembuhkan mereka. Begitulah!”

Luhan tersenyum manis. “Keren!” Luhan memberikan 2 jempolnya pada Lay.

“Benarkah?” tanya Lay sambil tertawa pelan.

“Ne!! Sangat!” Luhan kembali meyakinkan Lay.

“Kalau begitu terima kasih.”

“Hm.. Ada lagi.. Aku masih belum tahu kekuatan Suho-hyung.. Kai… dan Kris-hyung..” ulang Luhan.

“Kalau Suho-hyung itu menguasai elemen. Ia pengendali air. Sedangkan Kris-hyung tak menguasai elemen. Namun Kris-hyung bisa terbang dan melayang.”

“Terbang?” mata Luhan membulat. “Benarkah?”

“Hmm.. Bukan hanya terbang. Kris-hyung memiliki Dragon. Sama seperti halnya Chanyeol yang mempunyai Phoniex.”

Luhan mengangguk mengerti. “Kalau Kai?”

“Kau mungkin tahu kekuatan Kai.. Ia melakukannya setiap saat.”

“Teleportasi?” Kata Luhan tiba- tiba. Lay mengangguk membenarkan tebakan Luhan.

“Berarti yang menguasai elemen ada berapa orang?” tanya Luhan.

“Ada 4 orang.. Chanyeol, Suho… ” Tiba- tiba ucapan Lay terhenti. Mata Lay menerawang.

“Siapa lagi?” tanya Luhan seakan menuntut.

Lay menggeleng. “Sebenarnya dari klan Angel yang berhak menguasai elemen hanya dua orang. Dua dari klan Angel dan dua dari klan Devil.” Kata- kata Lay kembali terhenti.

“Jadi.. Dari klan kita hanya ada Chanyeol dan Suho?”

“Seharusnya begitu…”

Luhan melipat dahinya tak mengerti. “Maksudmu?”

“Tidak us-”

“Ceritakan saja. Aku harus tahu semuanya, kan?”

Lay nampak ragu kemudian mengangguk. “Sehun.. Dia menguasai angin.”

Deg

Jantung Luhan langsung bereaksi saat nama itu disebut.

“Sehun?” Luhan menelan ludah.

“Salah satu penyebab terjadinya perpecahan dan peperangan di klan Angel dan Devil adalah hal itu. Elemen yang dikuasai klan Angel seharusnya hanya api dan air. Elemen angin seharusnya dikuasai oleh klan devil. Namun keturunan Angel- lah yang mendapatkannya.”

“Sehun..” bisik Luhan lirih. “Seberapa berat beban yang kau tanggung?

Luhan nampak sedih. Lay jadi merasa bersalah.

“Hmm… Kau sudah makan?” tanya Lay mencoba mengalihkan pembicaraan.

Luhan menggeleng pelan. “Ah.. Aku harus kembali keruang makan. Apa tak apa- apa Lay makan sendirian?” tanya Luhan cemas.

Lay mengangguk pelan. “Tentu.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Xie xie telah memberitahuku.” Luhan tersenyum kemudian keluar dari kamar Lay.

Lay menutup pintu kamarnya.

 

“Haruskah kau bersembunyi, Kai?”

Sosok Kai keluar dari kamar mandi Lay. “Kupikir harus.”

“Wae?” Lay duduk sambil memakan ramyun yang dibawakan oleh Luhan. Kai duduk ditepi ranjang satunya kemudian berbaring diranjang Lay sambil memandang langit- langit kamar Lay.

“Kau mau?” tanya Lay yang duduk bersila dikasurnya. Kai yang ada disamping Lay hanya mengangguk. Sebenarnya ia lapar. Namun karena benci sayuran ia memutuskan untuk kabur begitu saja.

“Igo..” Lay mengarahkan sumpitnya hendak menyuapi Kai. Seketika itu Kai duduk dari posisinya.

Hap

Kai menerima suapan Lay. Kai tersenyum saat menyadari Lay menyuapinya ramyun tanpa sayuran. Lay memang mengerti tentang dirinya.

“Kau kelarapan?” tanya Lay sambil tersenyum seperti anak kecil. Kai kembali menatap ramyun yang ada dimangkuk Lay.

“Ne~” Lay kembali menyuapi Kai. “Makan yang banyak.”

“Kau juga makan.” Ujar Kai yang dibalas oleh anggukan Lay.

Setelah Lay menyuap makanan itu kedalam mulutnya sendiri, Lay kembali menyuapkan ramyun itu kepada Kai.

 

Ceklek

 

Mata Kai dan Lay melirik kearah pintu. Berdiri Kris yang menatap adegan suap- suapan KaiLay.  

“Kris-hyung…” Lay masih menyuapi Kai.

Wajah Kris seketika itu tertekuk.

“Kau lari kesini.” Kris melipat tangannya didada menatap Kai yang kembali menerima suapan Lay.

“Mau bagaimana lagi.” jawab Kai sambil mengunyah.

Kris duduk ditepi ranjang berhadapan dengan Lay yang kini sedang menyuap ramyun untuk dirinya sendiri.

“Kau makan belepotan.” Kai menyeka sayuran kecil yang ada disudut bibir Lay.

“Oh..Xie xie.” Lay kemudian menyuapkan ramyun itu kepada Kai. Namun..

 

Grep

Tangan Kris mencegah hal itu terjadi. Seketika itu Kris memberikan mangkuk ramyun pada Kai.

“Makan sendiri. Makanan Lay akan kubuatkan yang baru.”

Kai hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Lay memandang aneh pada Kris.

“Sini! Aku buatkan yang baru.” Kris menarik tangan Lay keluar kamar namun Lay menolak.

“Ani, hyung. Aku sudah kenyang.”

“Apanya? Kau menyuapi 3 kali lipat lebih banyak kepada Kai daripada dirimu sendiri.”

“Karena Kai lapar.”

“Dan kau tidak?”

“Memang tidak.”

Kris menghela nafas panjang.

“Lagipula kenapa hyung makannya cepat sekali? Yang lain nampak belum selesai makan.” Lay melihat keluar kamarnya.

“Suho dan Luhan masih makan. Baekhyun sudah siap hanya saja dia mengawasi Chanyeol memakan makanannya sampai habis.”

Lay mengerutkan keningnya. “Chanyeol? Harus diawasikah? Bukankah ia akan mengabiskan makanannya dengan begitu bersemangat?”

“Tidak kali ini. Mood Baekhyun sedang jelek sekali.”

“Mwo? Apa kalian membuatnya kelaparan?” Lay langsung mengerti.

“Lebih tepatnya aku.” Kris menghela nafas.

“Lalu kenapa Chanyeol yang kena imbasnya?”

Kris hanya mengangkat bahunya. Lay tertawa pelan membayangkan nasib jelek Chanyeol.

Kai berdiri dari ranjang Lay kemudian menghampiri Lay yang berdiri disamping ranjangnya bersama Kris.

“Suapan terakhir.” Ucap Kai sambil menyuapi Lay.

Hap

Lay mengangguk sambil mengunyah ramyun yang Kai suapi.

“Nah.. Ini mangkuk nya.” Kai memberikan mangkuk ramyun itu ketangan Kris.

“Mwo!” Kris menatap Kai dengan wajah tak percaya. “Kenapa aku!”

“Sudahlah, hyung.” Ucapan Lay berhasil membuat Kris tak jadi marah. Kai tersenyum jahil kemudian membelai rambut Lay lembut.

“Gomawo..” Kai berjalan keluar kamar Lay.

“Anak itu…” Kris bergumam.

“Kenapa hyung?”

“Dia mencari kesempatan mendekatimu.” Ujar Kris kesal.

“Haaa? Kai memang sering main kekamarku kok. Tak jarang jika ia ingin tidur saat malam hari ia tidur dikamarku.”jelas Lay.

Mata kris seketika itu membesar. “MWO!”

“Lho kenapa?” Lay masih belum menangkap sikap cemburu Kris.

“Bagaimana kalau dia bermaksud macam- macam?”

“Macam- macam? Kai itu orang yang setia, hyung. Dia tak akan mengkhianati Luhan. Jangan khawatir.” Lay menepuk bahu Kris sambil tersenyum polos.

Aigoo! Dia masih belum mengerti!!” gerutu Kris dalam hati.

 

>>>

 

“Kau belum tidur?” Tao masuk kedalam kamar Sehun sambil memeluk bantalnya.

Sehun tersenyum melihat Tao kemudian menghela nafasnya. “Aku belum mengantuk.”

Tao mengangguk kemudian duduk ditepi ranjang Sehun tepat disamping kiri Sehun.

“Bagaimana keadaan Xiumin-hyung?” tanya Sehun.

“Lebih baik dari yang sebelumnya. Sepertinya ia tak bisa terlalu memaksakan diri menggunakan kekuatannya.”

“Tentu saja. Aku sudah bilang kalau es nya sampai terlalu banyak menyentuh api Chanyeol akan berakibat fatal pada dirinya sendiri.”

“Kami kan tidak tahu kalau Chanyeol ada disekolah itu.” Tao memanyunkan bibirnya. Sehun tersenyum melihat sikap manja Tao, padahal Tao setahun lebih tua dari dirinya.

“Ne… Aku tahu. Tenang saja. Kita punya seseorang disana yang siap membantu kita. Dan satu- satunya yang bisa melawan Chanyeol.”Sehun tersenyum penuh makna. 

TBC

ini aku kasih panjaaaaanggggg >.<

maaf ya kalo jadinya bosan -______-

kepanjangan yaaa chingu?

pokoknya tinggalkan RCL neee~

gamsahamnidaaaaa #tebar poppo#

131 thoughts on ““The Betrayed Angel” Part 5

  1. bhahahahahahaha ngakak guling”😀 kocak abis dah chap ini… smpe disangka orang gila ma adik sendiri… baek kejem bener dah ma chanyeol *poor chan kekekke😀

    suka bgt deh pas kailu moment😀 tp syng neh bang chan ganggu… -_- huhuhu

    keep writing🙂

  2. Kepanjangan juga gak apa2 kok, aku malah suka FF panjang daripada pendek ._. hihihi
    Keren deh ka FFnya! penasaran sama endingnya ><

  3. ya ampun lg, q geregetan ama kai, kai please ya cipok si luhan dong… Chanyeol lg bkin suasana kailu jd kacau T.T
    kai ama lay jga sosweet q suka, bikin kris cemburu wkwk

  4. “Luhan yang cantik.. Aku akan membunuhmu… Sebentar lagi..”
    bukan cuman lulu yang kaget pas sehun ngomong gitu. aku juga kaget thor! si sehun kejam banget sihh..
    aku curiga deh kaki tangan sehun di klan angel tuh suho. Ga tau kenapa suho aja. di chapter ini dia mencurugakan soal nya.

  5. Uwaaa lucu banget chapter ini ya ampun hahahaha suasana kekeluargaannya berasa banget.. chanbaek.. aduh, mereka selalu deh ya penghibur banget

  6. Aku teryarik jika endingnya bisa dibedain maksunya sehu. Bisa kembalig ke klan angel. Dan hunhan bisa terjadj di akhir ya walaupun kailu memang main cast. Tapi tak apa kan kalo akhirnya bisa jadi hunhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s