“The Betrayed Angel” Part 6

terlalu cepatkah saya post?? -___-a

jangan pada bosan ya reader karena si Hyobin ngebet bgt post FF >.< hehe

nah nah pada heboh di twitter soal Chanyeol-oppa dan Lay-oppa kan yak, jadi yang nnton SMTown jangan pada brutal ama semua oppa” kita ya. g kebayang deh kalo Lay kenapa- kenapa #AGH!!! Pengen jitak Kai!!! *Dirajam EXOtic =___= yang bener donk oiiii

oke lah ke FF lagi..

TBA yang kali ini panjang atau enggak saya g tau tapi semoga puas yaaa~ 

yang sekarang lebih ke BaekYeol di episode ini #caelah! 

check aja gih ~ ayuk yak yukkk ~😄

CAST : XI LUHAN, KAI, OH SEHUN, WU FAN. YI XING, KYUNGSOO, CHEN, SUHO, BAEKHYUN, CHANYEOL, TAO, XIUMIN.

MAIN PAIR : KAI-LUHAN, SEHUN-LUHAN

GENRE : FANTASY, SAD ROMANCE, ANGST

You don’t remember me but i remember you
I lie awake and try so hard not to think of you
but who can decide what they dream?
and dream i do…

I believe in you
I’ll give up everything just to find you
I have to be with you to live to breathe
You’re taking over me

Have you forgotten all i know
and all we had?
You saw me mourning my love for you
and touched my hand
I knew you loved me then

The Betrayed Angel 

Part 6

“Apapun yang terjadi aku akan melindungi Baekhyun.”

“Kenapa?”

“Karena Baekhyun teman pertamaku.”

 

Chanyeol kecil memamerkan gigi rapinya. Baekhyun kecil mengangguk kemudian tersenyum senang. Usia mereka yang terpaut tidak terlalu jauh membuat mereka cepat akrab. Chanyeol dan Baekhyun bertemu kembali (setelah bereikarnasi) saat berusia 10 tahun. Mereka seakan terikat saat memandang mata satu sama lain dan mengenang masa lalu yang memang mengikat nasib mereka.

Chanyeol sudah menguasai kekuatannya sejak berumur 5 tahun. Hal itu membuat Chanyeol tak punya teman karena mereka menganggap Chanyeol aneh.

 

“Jangan dekat- dekat!!”

“Kau aneh! Tubuhmu panas dan kadang kau terlihat menyeramkan.”

“Kami tak mau berteman dengan orang sepertimu.”

“Seperti monster.”

 

Chanyeol terbiasa mendengarkan cercaan dan hinaan teman sebayanya. Tak ada yang mau berteman dengannya karena menganggap Chanyeol aneh. Karena saat itu masih kecil, Chanyeol belum bisa mengontrol dirinya yang memang memiliki kekuatan besar. Sehingga kadang kekuatan itu meluap begitu saja hingga kadang melukai orang- orang yang ada didekatnya.

Dan hanya satu orang anak yang mau membuka dekapannya untuk Chanyeol.

Baekhyun.

 

“Aku ini monster. Jangan dekati aku!” Chanyeol berteriak dari dalam kamarnya.

“Jangan dengarkan mereka Chanyeol!”

“Jika kau berteman denganku… Kau juga akan dianggap monster, Baekhyun!!”

“Aku tak peduli! Aku akan selalu disisimu.”

“PERGI!!”

Baekhyun menjauhi pintu kamar Chanyeol.

 

Sejak saat itu Chanyeol dan Baekhyun tak pernah bersama lagi hingga mereka masuk ke SMP. Walaupun Chanyeol dan Baekhyun satu sekolah, Chanyeol selalu menjaga jarak dari Baekhyun. Takut jika Baekhyun diperlakukan sama seperti dirinya.

Diperlakukan seperti monster.

 

“Jadi kau pernah berteman dengan Chanyeol yang itu?”

Baekhyun hanya menunduk saat teman- temannya mulai menyelidikinya.

“Berarti Baekhyun sama saja dengan monster itu!” teriak salah satu anak.

 

“TIDAK! Jangan bicara seperti itu tentang Chanyeol! Kalian tak tahu apa- apa!!” Baekhyun membela diri.

 

“Kau juga monster Baekhyun!!”

“Baekhyun juga monster seperti Chanyeol?! Jangan dekat- dekat!!”

“Kalau dekat- dekat nanti kita bisa dibunuhnya!”

 

“DIAM!!” Chanyeol datang dan langsung melindungi Baekhyun. Anak- anak lain sudah mulai melempari mereka dengan batu dan berbagai hal lainnya.

“DIAM! BAEKHYUN BUKAN MONSTER!” Chanyeol mencoba melindungi Baekhyun dari lemparan batu.

 

“Kalian sama- sama monster!”

“Tempat kalian bukan disini!”

“Hahahaha! Pergi kalian jauh- jauh!!”

 

“Chanyeol jangan dengarkan mereka!!” bisik Baekhyun. Chanyeol menatap mata Baekhyun yang kini sudah meneteskan mutiara bening. Air mata.

“Ugh!” Chanyeol merasakan perih dikepalanya saat batu itu berbenturan dengan kepalanya. Baekhyun melihat darah menetes dari kepala Chanyeol.

“Hentikan!” Baekhyun berlari menerjang anak- anak itu.

“Waaa! Monster mengamuk!!” salah satu anak melemparkan batu kearah Baekhyun.

 

Buaakk!!

 

Baekhyun jatuh tersungkur. Batu itu tepat mengenai telinga Baekhyun hingga berdarah.

“Baekhyun!” Chanyeol langsung berlari kearah Baekhyun yang merintih kesakitan sambil memegangi telinganya.

Chanyeol naik pitam. Seketika itu api yang sangat besar keluar dari tubuh Chanyeol. semua anak yang melempar batu langsung tercengang.

Baekhyun membulatkan matanya saat Chanyeol akan menyerangkan apinya kepada anak- anak itu.

“Chanyeol berubah menjadi monster!!” anak- anak itu berlari menjauh. Suasana menjadi tegang, Chanyeol akan melempar api dari tangannya kekerumunan anak itu. Namun…

 

“JANGAN!!” Baekhyun memeluk  tangan Chanyeol yang berapi. “Kumohon!!”

 

Mata Chanyeol membulat saat melihat apinya membakar dada Baekhyun. “BAEKHYUN! BAEKHYUN!!”

 

 

 

“TIDAAK!!!”

Chanyeol terbangun dari mimpi buruknya. “Haah! Haah!!” Ia mencoba mengatur nafasnya. ia masih berbaring diranjangnya. Peluh menjelajahi setiap lapisan kulit ditubuh Chanyeol.

“Chanyeol..” bisik Baekhyun yang terbangun dari tidurnya. Baekhyun bangkit dan duduk ditepi ranjang Chanyeol. Kegelapan yang menyelimuti kamar itu membuat Chanyeol terhenyak saat Baekhyun duduk ditepi ranjangnya.

“Bae,,Baekhyun..” Chanyeol memegang pipi Baekhyun.

“Kau mimpi buruk?” Baekhyun menepis peluh yang ada ditubuh Chanyeol dan mengusap dahi Chanyeol.

Srak

Chanyeol membuka kancing baju piyama Baekhyun secara tiba- tiba dengan tangannya yang gemetaran.

“Mwo!!” Baekhyun membulatkan matanya. “Ya!! Apa-”

Chanyeol meraba dada Baekhyun. Dada yang penuh dengan bekas luka yang ia timbulkan. Bekas luka bakar yang tak bisa disembuhkan walau sudah dicoba berkali- kali oleh Lay. Baekhyun terdiam.

Chanyeol menitikkan air matanya.

“..Mianhae..”

Baekhyun kembali memasang kancing bajunya. “Kau bermimpi tentang hal itu…”

“Mianhae.. Bekas luka itu seperti kutukan bagiku. Ia tak akan pernah hilang dan…” Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat. “Aku…”

Baekhyun membalas pelukan Chanyeol. “Lupakanlah…”

“Aku menyakitimu.”

Baekhyun melepas pelukan Chanyeol kemudian berjalan keranjangnya. Chanyeol bangkit dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang.

“Maaf.. Aku tak pernah bermaksud mengingatkanmu.”

Baekhyun menggeleng. “Aku yang seharusnya minta maaf.”

“Kau tak salah… Baekhyun.. Aku…” Chanyeol membenamkan wajahnya dipundak sempit Baekhyun. “Aku hanya tak bisa melihatmu tersiksa. Kau begitu berarti dalam hidupku.”

Baekhyun membulatkan matanya mendengar pengakuan Chanyeol. Wajahnya memerah seketika itu.

“Aku mencintaimu Baekhyun… Maaf… Aku baru mengatakannya sekarang.”

Deg

Deg

“Chan-“

“Aku mencintaimu.”

Baekhyun merasakan pundaknya basah. Chanyeol masih menangis.

“Aku mencintaimu lebih dari apapun.”

“Chanyeol!!” Baekhyun akhirnya melepas pelukan Chanyeol dan berjalan menjauhi Chanyeol. “Bisa tidak kau tak mengulang hal seperti itu berkali- kali.” Baekhyun membelakangi Chanyeol.

“Baekhyun aku serius.”

Baekhyun berjalan lagi keranjangnya dan langsung berbaring. Chanyeol ikut berbaring diranjang Baekhyun kemudian memeluk Baekhyun dari belakang.

“Tidurlah diranjangmu, Park Chanyeol.”

“Tidak.”

Baekhyun menghela nafas pelan. “…Se..Selamat tidur.”

Chanyeol tersenyum dan mempererat pelukannya. “Selamat tidur.”

 

 

Pagi hari.

Lay baru saja siap berpakaian. Ia berencana akan ikut dengan Kris ke Seoul untuk pergi kedepartemen pertahanan Negara. Tempat Kris bekerja selama ini menggantikan orang tuanya.

Lay bergegas dan menyandang tasnya.

Saat ia membuka pintu kamarnya.

“YA! Kau mengagetkanku!!” teriak Lay saat melihat Kai berdiri tepat didepan pintu kamarnya.

“Kris-hyung akan siap beberapa menit lagi.” ujar Kai santai.

Lay mengangguk kemudian melihat jam tangannya. “Masih jam 6 pagi. Tak usah terburu- buru.”

“Kita punya banyak waktu… Red Night.”

Mendengar itu, Lay menelan ludahnya. Kai berbalik badan dan berjalan menuju ruangan Kris. Lay mengikuti Kai namun langkahnya tiba- tiba terhenti didepan kamar Suho.

Suho memang partner Lay namun entah mengapa ia ingin memiliki kamar terpisah dari Lay. Suho memang agak tertutup. Kadang ia bisa sangat ceria namun kadang ia akan  sangat menjaga mulutnya untuk mengeluarkan satu kata saja.

Lay mendekati kamar Suho. Saat Lay akan membuka kamar itu…

“Lay-hyung! Kris-hyung sudah menunggu.” Teriak Kai dari ruangan Kris.

“Ah! Ne!!” Lay langsung berlari keruangan Kris.

 

>>>

 

“Mwo!!” Luhan bangkit dari ranjangnya. Ia menyadari kalau ia bangun kesiangan lagi. “Aku harus bertemu Kris-hyung.” Tanpa mengganti piyama-nya Luhan berlari dari kamarnya keruangan Kris.

Klek

Luhan tak melihat siapapun ada didalam ruangan itu. “Luhan pabo!! Aish! Padahal aku sudah berusaha bangun lebih pagi. Aku kan mau bertanya tentang kekuatanku.”

Luhan menatap ruangan serba putih itu. Ia langkahkan kakinya lebih masuk kedalam ruangan Kris. Luhan menutup pintu ruangan itu pelan.

Ia layangkan tatapannya kelangit- langit ruangan kemudian matanya terhenti pada salah satu figura besar. Sangat besar. Foto seorang yeoja yang sangat cantik duduk diatas kursi megah dengan anggunnya. Luhan tersenyum. ia tahu betul yeoja itu adalah dirinya dimasa lalu.

Luhan kembali berjalan menuju jendela besar yang ada diruangan Kris dan membukanya. Tempat biasa Kris menenangkan dirinya. Ia pandang pemandangan yang ada diluar Minor house dari jendela besar itu. Luhan tersenyum.

“Indah!” Luhan membentangkan kedua tangannya merasakan udara pagi yang begitu segar. Burung- burung kecil beterbangan didekat pepohonan yang sangat rimbun. Pepohonan yang mengelilingi Minor house.

“Tempat ini sunyi sekali. Apa hanya rumah ini ya yang ada didaerah ini?” gumam Luhan sambil menggembungkan pipinya.

Deg

Luhan sedikit menyipitkan matanya. Ada keanehan yang ia rasakan. Angin sejuk yang dari tadi menyentuh wajahnya kini tak terasa lagi.

Hampa.

Seketika itu Luhan menjauh dari jendela dan menutup jendela itu. Mata Luhan membulat saat melihat jam diruangan Kris terhenti.

“Tidak… Mungkin hanya habis baterai.” Bisik Luhan pelan. Ia edarkan tatapannya pada pepohonan yang dari tadi ia lihat dari balik jendela. Mata Luhan membesar melihat gerakan burung yang ia pandangi tadi terhenti.

Situasi yang sama saat ia disekolahnya  waktu itu.

“Oh Tuhan!”

Luhan langsung berlari keluar dari ruangan Kris. Ia tahu pasti klan devil kini berada dekat dengan Minor house. Ia berlari menuju kamar Chanyeol dan Baekhyun.

“Chanyeol! Baekhyun!!” teriak Luhan saat mendapati pintu kamar Chanyeol dan Baekhyun dikunci dari dalam. “Kumohon buka pintunya!!”

 

Klek

 

“Luhan?” Baekhyun mengucek matanya kemudian menguap lebar. “Hoaaammm~”

“Wae? Bukankah terlalu pagi untuk sarapan?” Chanyeol yang sedari tadi memeluk tubuh Baekhyun dari belakang ikut nimbrung. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Baekhyun dan Chanyeol yang ia pikir.. sangat mesra.

Baekhyun sadar Luhan memperhatikan mereka langsung mendorong Chanyeol agar menjauhi dirnya.

“Kau! Menjauh! Luhan bisa salah paham, tahu!!” Baekhyun menggertakkan giginya.

“Mwo! Baekhyunnie jangan kasar seperti itu! Kita sudah menjadi sepasang kekasih, kan!”

“MWO!!” Baekhyun dan Luhan langsung berteriak keras.

“YA! Sejak kapan aku menjadi kekasihmu!” wajah Baekhyun semerah tomat.

“Bukankah kita sudah melakukannya tadi malam!!”

Luhan menatap Chanyeol dan Baekhyun berulang kali. “Maksud kalian?”

“Luhan! Kau jangan percaya perkataan sibodoh ini! Dia hanya tidur diranjangku tadi malam setelah mimpi buruk. .. Hahaha..” Baekhyun nampak sekali menjadi salah tingkah.

“Ah.. Oh..” Luhan mengangguk.

 

“Hm.. Ada apa Luhan?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Oh ya! Kenapa membangunkan kami?” ulang Baekhyun.

“Itu…”

Luhan melirik jam dinding yang ada didalam kamar BaekYeol itu.

 

Tik

Tik

Jam dindingnya tak terhenti.

“Eh?”

Luhan berlari kembali keruangan Kris.

“Lho? Luhan!!” Chanyeol dan Baekhyun mengikuti Luhan yang masuk kedalam ruangan Kris.

 

Tik

Tik

 

Jam diruangan Kris berjalan dengan seharusnya. Luhan menelan ludahnya kemudian menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian.

“Tadi… Waktunya..” Luhan menggeleng pelan. “Tadi…Terhenti…”

Mata Chanyeol dan Baekhyun membulat. Seketika itu Baekhyun merasa tubuhnya gemetaran.

“Kenapa bisa…Mereka ada didekat sini.” Bisik Baekhyun. “Mereka dekat sekali..”

 

>>>

 

“Kai?” Kris menyadari perubahan wajah Kai. “Ada apa?”

Mereka ada didalam mobil Kris menuju ke Seoul walau belum terlau jauh dari Minor house dan lagi mereka belum masuk kejalan raya. Sebenarnya bisa saja menggunakan teleportasi namun Kai belum pernah ikut ketempat kerja Kris. Kai tidak bisa melakukan teleportasi ketempat dimana ia belum pernah kesana. Lagipula jarak Seoul dari Minor house hanya 45 menit.

“Kau tak merasakannya?” tanya Kai pada Lay yang sedang mengendarai mobil. Tatapan mata Kai beralih pada Kris. “Hampa..” kata Kai lagi.

Kris membulatkan matanya. “Maksudmu…”

Lay menghentikan mobil mereka ditepi jalan.

“Tidak.. Hanya sesaat..” Kai menghela nafas dalam. “Ia hanya menghentikan waktu sebentar saja.”

 Kris merasakan firasat tidak enak. “Kai.. Kembalilah ke Minor house.”

“Tapi.. Jika Kai tidak ikut kali ini…” Lay terdiam melihat wajah Kris yang benar- benar cemas. Lay kemudian menatap Kai dengan tatapan takut.

Kris memegang tangan Lay erat. “Semua akan baik- baik saja.”

SET

Kai bertelportasi. Kris menghela nafas kemudian menatap Lay tajam.

“Kita lanjutkan perjalanan.”

Lay mengangguk. “Baik.”

 

>>>

 

Chanyeol berlari kedalam kamarnya dan Baekhyun sambil menarik lengan Luhan dan Baekhyun.

“Baekhyun… Kita tidak tahu dimana pasti mereka berada, namun jika waktu di Minor House bisa terhenti berarti mereka sudah menembus dinding pembatas. Lindungi Luhan dengan cahayamu dan jangan keluar kamar.” Perintah Chanyeol sambil memakai jaketnya walau ia masih belum mengganti piyama-nya. Luhan berusaha tidak panik, ia duduk dikasur Baekhyun sambil memeluk lututnya.

Baekhyun mengangguk kemudian mengarahkan tangannya mengelilingi kamarnya. Seketika itu cahaya putih menyelimuti ruangan itu. Chanyeol mengangguk kemudian keluar dari kamar mereka.

 

Chanyeol berjalan cepat menuju kamar Suho.

Tok

Tok

“Hyung! Bangunlah!” Chanyeol mengetuk kamar Suho pelan. “Suho-hyung!” ulang Chanyeol lagi.

Klek

“Ne?” Suho nampak baru saja bangun tidur.

“Hyung! Sepertinya anggota devil berhasil melewati dinding pembatasnya.”

“Eh? Maksudmu?” Suho nampak mulai panik.

“Mereka berhasil menghentikan waktu di sekitar sini. Itu menandakan mereka ada didekat sini, kan?”

 

Suho mengangguk kemudian keluar dari kamarnya. Seketika itu Suho pergi keluar minor house bersama Chanyeol. Ia tatap lingkungan sekitar Minor House.

Suho memejamkan matanya kemudian mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dadanya.

Seketika itu air dari segala arah berdatangan. Chanyeol berdiri tepat dibelakang Suho menatap tajam air itu. Suho membuka matanya. Seakan berbicara dengan air itu, Suho mengangguk mengerti kemudian mengangkat kedua tangannya keatas. Seketika kumpulan air yang sangat banyak itu menghilang diangkasa.

“Haruskah menambah dinding pembatas dengan air yang tak tampak dengan mata manusia biasa?”

“Memang itu yang harus dilakukan.”

“Bukankah lebih baik menggunakan api sekarang?”

“Kau mau membunuh makhluk lain yang melewati pembatas, oeh?” Suho memutar bola matanya. Jika api Chanyeol yang digunakan sebagai pembatas tak kasat mata, sangat berbahaya bagi makhluk lain yang tak sengaja melewatinya.

Jika memakai air, hanya Klan Devil yang tidak bisa melewatinya. Api tak bisa dikendalaikan jika tak nampak oleh mata, namun air bisa dikendalikan. Suho sudah berlatih untuk hal itu sedangkan Chanyeol belum melatih hal itu.

“Baiklah.. Hmm.. Lalu apa yang kau tangkap dari pembicaraanmu dengan air tadi, hyung?” tanya Chanyeol ragu.

“Mereka baru saja meninggalkan tempat ini. Dua orang dari klan Devil.”

“Siapa saja?”

“Kalau Tao kau pasti tahu… Satu lagi..Sehun..” ujar Suho pelan. “Sehun tadi ada disini.”

Chanyeol menelan ludahnya. “Bagaimana ia bisa menerobos masuk? Bukankah tubuh mereka bisa hancur jika melewati pembatas yang hyung buat?”

“Kurasa Tao memanfaatkan kekuatannya. Kau pasti tahu kalau Tao bisa memadatkan waktu, kan? Aku tak tahu betul bagaimana cara yang ia pakai… Tapi… Entahlah..”  Suho berfikir sejenak.

Chanyeol memegang pundak Suho pelan.

“Hyung…”

Suho merasakan tangan Chanyeol gemetaran hebat.

“Semua akan baik- baik saja.” Suho tersenyum kemudian memegang tangan Chanyeol. “Kita sebagai ‘Guardian’ harus kuat, Chanyeol.”

Chanyeol mengangguk. “Aku hanya takut tak bisa menjaga Luhan.”

“Jangan khawatir.. Kau bisa bergantung pada hyung-mu ini, kan?” Suho tersenyum manis.

“Ne.. Gomawo hyung.” Chanyeol merasa lega setelah mendengar ucapan Suho. Perlahan Suho dan Chanyeol kembali masuk ke Minor House.

 

“Kai?” Chanyeol melihat Kai kini ada diruang tengah Minor House itu. “Kau tak jadi ikut bersama Kris-hyung?”

“Kurasa kau tahu kalau sesaat tadi waktu sempat terhenti.” Ujar Kai sambil memandang kesekitar Minor House. Chanyeol dan Suho mengangguk mantap.

“Mereka sudah pergi.” Kata Suho sambil melipat tangannya didada.

“Mobil kami belum melewati pembatas yang dibuat Suho saat waktu dihentikan.. Berarti mereka berhasil menembus pembatas itu? Bagaimana bisa?” tanya Kai bingung.

Chanyeol menggeleng pelan. “Entahlah.”

“Kita tak bisa meremehkan klan Devil.” Bisik Suho sambil menunduk. Kai hanya diam sambil memperhatikan Suho.

 

>>>

“Baekhyun.. Luhan…” Chanyeol masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Kai dan Suho. Mata Suho membulat saat melihat cahaya yang mengelilingi kamar Chanyeol.

Kai yang memang tak tahan melihat cahaya itu memutuskan tak masuk kedalam kamar BaekYeol. Suho juga menunggu diluar kamar saja.

“Sudah aman?” tanya Baekhyun dan Luhan serentak melihat Chanyeol masuk.

“Ne..”

Baekhyun memejamkan mata sejenak. Dengan perlahan cahaya itu hilang dan Suho langsung melangkah masuk kedalam kamar BaekYeol itu.

Kai kembali melipat dahinya. Ada yang aneh!

“Luhan.. Gwechanayo? Kau nampak pucat..” Suho mendekati Luhan.

“Ne.. Gomawo.” Luhan tersenyum manis.

“Kau yakin tidak apa- apa?” tanya Suho lagi.

“Tentu.. Malah nampaknya Suho-hyung yang pucat.” Luhan akan memegang pipi Suho, namun Suho segera mundur dan alhasil Luhan jadi sedikit bingung.

“Aku?” tanya Suho pelan. Chanyeol dan Baekhyun seketika itu memperhatikan wajah Suho.

“Hyung! Benar.. Hyung pucat sekali.” Chanyeol langsung memegangi pundak Suho. “Gwechanayo, hyung?”

“Aku baik- baik saja. Mungkin karena agak kaget. Aku akan mandi dulu. Setelah itu…” Suho melirik Luhan. “Mau membantuku membuat sarapan, Luhannie?”

“Tentu, hyung.” Luhan mengangguk mantap.

 

>>>

 

Luhan dan Suho sudah sibuk didapur membuat sarapan bersama- sama. Baekhyun dan Chanyeol sedang ada dikamarnya dan Kai dari tadi berkeliling diluar Minor House.

“Luhannie~ Sebaiknya ditambah sedikit garam.” Suho menunjuk panci yang berisi sayuran. Luhan mengangguk dan menambahkan garam. Suho kini sibuk membuat bulgogi dan jjangmyeon untuk sarapan mereka.

Suho beberapa kali melap keringatnya dengan sapu tangan. Luhan merasa Suho memang sedang tidak enak badan, setelah mandi wajah Suho jadi jauh lebih pucat.

“Hyung, biar  aku yang melanjutkan memasak, ne.” Luhan jadi khawatir.

“Lho? Waeyo?” Suho jadi bingung.

“Hyung pucat sekali.”

“Hahahaha! Tidak apa- apa, Luhannie. Aku baik- baik saja, kok. Jika tak melakukan apapun, aku malah jauh lebih tidak enak badan.”

“Hyung yakin?”

“Ne~ Ah! Itu sudah matang! Ayo kita susun kemeja makan sebelum duo troublemaker itu mengamuk.” Suho mengedipkan sebelah matanya pada Luhan.

Luhan tersenyum manis mendengar Suho memberi julukan pada BaekYeol couple itu. “Ne~”

 

 

“Makanan siap~” teriak Luhan dan langsung dapat sambutan baik dari BaekYeol yang berlari kencang dari kamarnya.

“Hmm~~ Pasti enak sekali, nih!” Chanyeol langsung mengambil tempat. Baekhyun duduk tepat disebelah Chanyeol.

SET

Kai tiba- tiba sudah duduk dibangku meja makan yang berhadapan dengan Baekhyun.

“HNG! Kai berhenti mengagetkanku!!” teriak Baekhyun memegang dadanya.

“Dari masa saja kamu!” Luhan duduk disamping Kai yang sudah bersiap melahap jjangmyoun.

“Aku tidur dikamar Lay.” Jawab Kai santai. “Karena cahaya Baekhyun tadi aku jadi tidak enak badan.”

“Hmm..” Angguk Luhan mengerti.

Suho duduk disamping Baekhyun dan tersenyum melihat Kai dan Luhan sudah mulai dekat. Baekhyun dan Chanyeol nampaknya menikmati sekali sarapan mereka.

Luhan menyuap bulgoginya dan menatap Kai yang makan dengan tenang.

Keadaan hening seketika itu.

“Anu… Hmm… Boleh aku bertanya sesuatu?” Ujar Luhan tiba- tiba.

Kai langsung mengalihkan padangannya pada Luhan, Suho dan BaekYeol juga menghentikan acara makan mereka sejenak.

“Ini masalah kekuatanku… Aku ingin… melatihnya.”

“Jadi kau sudah cukup kuat berlatih?” tanya Chanyeol antusias.

“Aku tidak mau selalu dilindungi dan terus melihat kalian bertarung demi aku. Aku ingin melatihnya kalau memang aku punya kekuatan seperti kalian.”

“Kalau begitu bagaimana kalau siang ini kita latihan ditaman belakang.” Baekhyun tersenyum manis.

Luhan mengangguk. “Ne!”

Kai tersenyum penuh makna, kini matanya teralih pada Suho yang diam melanjutkan makannya.

 

>>> 

 

“Angkat benda ini.”

“Eh?”  Luhan menggaruk kepalanya.

Kini Luhan dan Chanyeol sedang berlatih. Chanyeol meletakkan sebuah bola basket didepan Luhan dan ia menginstruksikan agar Luhan mengangkatnya tanpa memegangnya sama sekali.

“Konsentrasikan seluruh pikiranmu. Kekuatanmu terpusat pada pikiran. Kau hanya perlu berkonsentrasi dan yakin kalau kau bisa.”

Luhan menghela nafas panjang kemudian menatap bola itu tajam.

 

Tak ada yang terjadi.

 

“Mwo! Sudah lebih dari 5 menit aku memandangi bola ini!” Luhan mem-pout-kan bibirnya.

“Kau sepertinya belum yakin dengan kekuatan yang kau miliki.”

“Yakin..? Entahlah.”

Chanyeol menghela nafasnya. “Maaf jika aku bertanya hal ini… Sehun pasti melatih kekuatannya sejak lama. Apa kau pernah melihatnya?”

Luhan berfikir sejenak.

 

 

“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Luhan bingung.

Sehun tersenyum manis kemudian menunjuk kearah dahan- dahan pohon yang tertiup angin. Luhan mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh Sehun.

“Eh? Ada apa dengan angin itu?”

“Tidakkah kau pikir itu indah?”

Luhan menggaruk kepalanya tak mengerti arah pembicaraan Sehun.

“Hanya dedaunan dan dahan pohon yang terbawa angin.”

Sehun mengangguk dan tersenyum manis. “Bagiku itu hal yang indah.”

 

Luhan menghela nafas panjang. “Sehun begitu menyukai kekuatannya. Baru kusadari kini mengapa sejak dulu Sehun suka sekali melihat angin yang bertiup disekitar kami.”

“Nah itu dia! Tanpa sadar, Sehun selalu melatih kekuatannya. Sebenarnya itu adalah angin ciptaannya. Hanya ia belum sadar. Dan hal itu berasal dari keinginan yang kuat. Kau juga harus percaya pada dirimu sendiri, Luhan.”

Mendengar ucapan Chanyeol, entah mengapa Luhan menjadi sedikit tenang. Kini ia menetapkan hatinya.

“Untuk apa kau melatih kekuatanmu Luhan?” tanya Chanyeol sambil memegang pundak Luhan.

“Eh?”

“Tujuan kau menginginkan kekuatan itu bangkit?”

“Tujuan?”

“Semua yang kau kerjakan tentu harus punya tujuan  yang jelas, kan? Begitu juga dengan melatih kekuatanmu.”

Seperti aku yang bertujuan melindungi Baekhyun.” Bisik Chanyeol dalam hati.

 

“Chanyeol sendiri punya tujuan?” tanya Luhan pelan.

 

“Tentu saja.” Jawab Chanyeol mantap. “Nah sekarang.. Apa tujuanmu?”

Luhan menutup matanya sejenak kemudian mengangguk pelan. Ia tatap Chanyeol dengan tatapan pasti.

 

“Menyelamatkan Sehun.” jawab Luhan mantap.

 

Chanyeol membulatkan matanya. “Eh?”

“Menyelamatkan Sehun dan juga melindungi kalian semua… Keluargaku.”

Chanyeol terpaku. Luhan kini kembali berkonsentrasi menatap bola basket, ia tak menyadari Chanyeol tertunduk memikirkan sesuatu.

 

>>> 

Baekhyun memperhatikan Chanyeol dan Luhan yang sedang berlatih ditaman belakang melalui balkon lantai 2.

Baekhyun nampak tersenyum manis kemudian  wajahnya berubah menjadi sedih.

“Baekhyun.” Sapa Suho yang berdiri disampingnya.

“Hyung…” Baekhyun tersenyum.

“Kau tak ikut melatih Luhan? Padahal tadi kau nampak lumayan bersemangat.”

Baekhyun menggeleng kemudian kembali menatap Chanyeol dan Luhan yang masih mencoba berlatih walau nampaknya belum berhasil.

“Chanyeol nampak bahagia, ya.” ujar Suho pelan.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Suho. “Iya.”

“Tadi saat kami memperbaiki pembatas disekitar Minor House, Chanyeol nampak sangat cemas. Ia benar- benar mencemaskan Luhan. Sebagai keturunan ‘Guardian’ kami memang memegang peran yang berat.”

Baekhyun mengangguk. “Suho-hyung pasti juga lelah, kan?”

“Tidak…”

“Hyung nampak lelah sekali. Kenapa wajah hyung pucat?” Baekhyun mendekati Suho dan memegang dahi Suho. “Tidak panas, sih. Tapi kurasa hyung harus istirahat.”

“Istirahat? Malah nampaknya kamu yang butuh istirahat, Baekhyun.” Suho tersenyum penuh makna.

“Aku?”

“Kau nampak tidak bersemangat.”

“Ha..Hah?” Baekhyun menggaruk kepalanya.

“Ada apa? Ceritakan pada hyung.” Ujar Suho lembut. Baekhyun menatap Suho dengan tatapan sendu kemudian menunduk dalam.

“Mau menceritakan keluh kesahmu padaku?” tanya Suho sekali lagi.

Baekhyun menghela nafas panjang. “Ne.”

Suho dan Baekhyun berjalan masuk kedalam  Minor House.

 

 

Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah balkon yang dari tadi ia perhatikan diam- diam. Ia tahu kalau Baekhyun memperhatikan mereka dari balkon itu.

“Eh?” Chanyeol tidak melihat Baekhyun lagi disana. Chanyeol menghela nafas dalam kemudian kembali memperhatikan Luhan yang masih berkonsentrasi. Ia masih ingat betul pembicaraannya dengan Baekhyun sejam yang lalu.

 

“Lho? Kau tidak ikut berlatih bersamaku dan Luhan?” tanya Chanyeol bingung.

“Aku disini saja.” Baekhyun tersenyum manis dan duduk diruang tengah sambil membaca majalah.

“Ada apa?”

“Hah? Maksudmu?”

Chanyeol menggeleng pelan. “Tidak. Aku dan Luhan akan berlatih ditaman belakang. Kalau kau ingin bergabung, silahkan datang.”

“Ne~” Baekhyun kembali membaca majalah.

Chanyeol masih  memandang Baekhyun. “Aku menunggumu disana.”

Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. “Baiklah. berhati- hatilah. Jaga Luhan dengan baik.”

“Tentu.” Setelah mengatakan hal itu, Chanyeol membalikkan badannya dan pergi menuju halaman belakang.

 

“Chanyeol!”

“Ah!” Chanyeol seakan tersadar dari lamunannya. “M..Mianhae..”

“Kau melamunkan apa?”

Chanyeol menggeleng. “Tidak usah kau pikirkan. Lebih baik kau terus berlatih.”

“Baiklah.”

Mereka menlanjutkan latihan.

 

 

Taman sebelah timur Minor House. Taman yang memiliki patung air mancur yang indah dan ada beberapa tiang berwarna putih dibeberapa sisi taman. Dedaunan kering yang menghiasi taman itu nampak tertiup oleh angin.  Suara air mancur kecil seperti menyenandungkan lagu merdu.

Suho bersandar disalah satu tiang tembok itu dan Baekhyun memperhatikan patung air mancur itu sembari memainkan air itu.

“Suho hyung bisa berbicara dengan air, kan?” tanya Baekhyun masih bermain dengan air itu.

“Ne.” Suho mengiyakan walau ia sangat bingung.

“Kalau begitu apa yang air ini katakan tentangku?”

Suho tersenyum dan berjalan kesamping Baekhyun. Suho menatap tajam air didalam kolam air mancur itu dan tersenyum tipis.

“Mereka bilang… Mereka tidak suka wajahmu yang menyembunyikan rasa kehilangan.”

Senyuman Baekhyun memudar. Segera ia menjauh dari kolam air mancur itu dan membelakangi Suho.

“Baekhyun… Kau tidak seperti dirimu yang sebenarnya. Biasanya kau sangat ceria dan selalu membawa suasana menjadi hangat.” Suho memegang pundak Baekhyun.

Seketika itu Baekhyun membalikkan badannya. Ia menunduk tidak menatap Suho.

“Tadi malam… Chanyeol… Ia bermimpi tentang masa lalu kami… Dimana kami dibuang oleh semua orang dan… Itu membuatku sakit. Aku tahu kalau hal itu sudah berlalu sejak Kris-hyung membawa kami ke Minor House.. Aku tahu.. Tapi…” Baekhyun menitikkan air matanya. “..Aku tidak cukup…”

Suho tidak mengerti dengan pembicaraan Baekhyun. “Tidak cukup apa?”

“… Tujuan Chanyeol hidup bukanlah aku… Tapi melindungi manusia yang memiliki ‘Jantung’… Dan dia sudah menemukan tujuan hidupnya. Aku hanya partner.. Orang yang menetralkan kekuatannya disaat ia ‘meledak’.”

“Baekhyun..” Suho memeluk Baekhyun dan mengusap punggung Baekhyun lembut.

“Aku tidak.. hiks… Aku tidak cemburu atau merasa dilupakan hanya saja… Dia tidak butuh aku lagi, hyung.” Baekhyun terisak didada Suho.

 

“Baekhyun yang manis… Jangan buang air matamu.”

 

Baekhyun melepas pelukannya karena merasa ada yang aneh pada Suho. Ia lihat mata Suho menatapnya tajam.

Dingin.

“Hyung?” Baekhyun mundur beberapa langkah.

 

Tap

Tap

 

Baekhyun mendengar suara langkah kaki tepat dibelakangnya. Seketika itu Baekhyun membalikkan badannya.

Mata Baekhyun membulat.

Ia tidak percaya dengan penglihatannya kini.

“K..KALIAN!!” Pekik Baekhyun keras.

 

Sehun dan Xiumin kini ada dihadapan Baekhyun.

 

Baekhyun kembali membalikkan badannya kearah Suho. “Hy..Hyung! Mereka!”

“Kenapa takut Baekhyun? Mereka adalah anggota klan kita, kan?” ucap Suho kini berjalan kearah Sehun dan Xiumin.

Baekhyun membulatkan matanya. “Bo..Bohong! Hyung, apa yang kau lakukan bersama mereka!! Kita harus bertarung melawan mereka!” Baekhyun mundur beberapa langkah.

Sehun tersenyum. “Baekhyun kau polos sekali. Apa Chanyeol tak pernah memberitahumu tentang… pengkhianatan atau mata- mata?”

Baekhyun membekap mulutnya sendiri. “Ti..Tidak! Suho-hyung!! Ini bohong! Kembali kesini hyung!”

Suho tersenyum kemudian masuk kedalam dekapan Sehun. “Aku tak mungkin mengkhianati namjachingu-ku, kan?”

To be Continue…

huahahahaha

bacon minta hyobin poppo niiih :3

RCL ya chinguuuuuu XD~

makasih udah baca FF hyobin ~ wink bareng TAO

143 thoughts on ““The Betrayed Angel” Part 6

  1. ishhhhhhh….. emang aku sudah curiga sama suho saat ia menjadi pucat akibat cahaya nya Baekhyun….

    membaca ini kok aku jadi ikut-ikutan deg-degan gini pas waktu nya berhenti? aku kira mereka udah siap perang …. kekekeke😀

  2. Kan… Dari chapter sebelumnya sudah curiga sama suho…
    Dia sempet tersenyum aneh
    Apalagi suho kok jadi gak enak badan akibat cahaya baekhyun

    Ternyata malah pacar sehun
    Aigoo
    Ini semakin rumit…rumit sekali

  3. Chanyeol, kamu pasti nggak sengaja melukai Baekhyun. dan aku yakin kalau Baekhyun pasti ngerti….
    di part ini ada sedikit rasa curiga sama si Suho…

  4. dih, q juga udah ngrasa curiga pas luhan mau sentuh suho, dia kan menjauh, sdngkan luhan bkalan mmbca fikiran seseorang jika bersentuhan, dasar pengkhianat, crita.a makin seru dah .. Daebak !!!!

  5. Dr awal yg d tunjukin sisi klan angel terus, pdhal judulnya betrayed angel hrusnya yg mnonjol para betrayednya
    .
    .
    Tp mau gmana lg, ff’y kereen sih jd tetep pgn baca.. Hehe ^^V

  6. Tuh kan bener apa kata aku. di chap sebelumnya aku udah curiga sama si suho. beneran kan kebuktian??? Jahat banget si suho. baikin baekki tapi dia nya yang jahat. Dasar!!

  7. Suhooo ya ampun akh! Kayaknya keberuntungan itu bener bener gak berpihak sama klan angel yaaa baekhyun itu lagi terpuruk, takutnyaaa.. ugh, gak nyangka sama sekali masa lalunya chanbaek itu bener-bener beda sama mereka yang sekarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s