Kind Of Heart Chapter 5

Akhiirrnya poosttt juga nih Hyobin. setelah perdebatan sengit dengan saeng berebut modem =__=a

walah~ Tadi heboh sama Luhan Sehun nah sekarang Hyobin mimisan liat foto Tao!! oke every one T-A-O !!!! TAO!!

DEMI APA COBA!!! KENAPA TAO JADI CANTIK BGT SEKARANG!

Woyyyyyyy!!!!!!!!!!!!!!!!

sangkain cuma fto MV History di sm art aja yang bkin hyobin merinding, eh ternyata sekarang tao jadi cantik bner! MasyaAllah!!

ini anak gimana kris g nempel terus! Tao aku padamu dah!!😄

Lanjut ke FF ~

habis baca yang pasti RCL ya reader sayang :***

makasihhhh ^^

MAIN CAST : HUNHAN / KAIHAN

 

OTHER CAST :BAEKYEOL – TAORIS

 

GENRE : SCHOOL LIFE, DRAMA, SAD ROMANCE

Keindahanmu untuk kulindungi

Kelembutanmu kekuatanku untuk bangkit

Kau memang berbeda

Kau bukanlah kehidupanku sebelumnya

Kau begitu liar dan tidak tahu diri

Seakan terus memojokkan hatiku yang memilihmu

Kau tahu, cantik?

Kau begitu jujur hingga hal itu menyesakkan jantungku

Membakar hatiku yang dahulunya dingin

Tanpamu

Aku hanya boneka yang tidak bisa apa-apa

Hanya mengikuti tanpa tahu..

Arti kehidupan yang sebenarnya.

KIND OF HEART

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

[Twitter: @ranalunabila]

Chapter 5

“Kim Jongin kembali kekelas. Dan.. Xi Luhan, kau dipanggil keruang kepala sekolah.” Ucap songsaenim itu tegas.

“Eh?” Kai melirik Luhan kemudian menatap songsaenim-nya lagi.

“Kenapa Luhan dipanggil?” tanya Kai menyelidik.

Songsaenim menatap Kai tajam. “Kembali kekelas sekarang, Kim Jongin.”

“Kai.. Kembalilah kekelas. Aku keruang kepala sekolah dulu, ya.” Luhan berusaha tersenyum. Walau dia bingung sekali.

Kai mengangguk kemudian berjalan menuju kelas meninggalkan Luhan berdua saja dengan songsaenim. Setelah Kai menghilang dibalik koridor, songsaenim dan Luhan berjalan menuju ruang kepala sekolah.

Namun…

Kai tak kembali kekelasnya. Ia bersembunyi ditoilet.

 

 

“Ayo, angkat!” umpat Kai karena telpon dari tadi tak diangkat oleh Sehun.

Ne?

“Ya! Kenapa lama sekali sih!”

Memangnya ada apa?

“Ahjussi mengatakan apa saja tadi malam? Apa dia menanyakan tentang Luhan?”

Ne. Memangnya kenapa?

“Aish!! Tentu saja! Luhan dipanggil keruang kepala sekolah. Pasti menyangkut tentang kau.

Apa!” suara Sehun terdengar panik. “Dimana dia sekarang?

“Ruang kepala sekolah.” Jawab Kai malas.

Aku akan kesana!

“Ya! Jangan dulu. Nanti akan menambah masalah. Kau mengerti posisi Luhan, kan? Kalau kau tiba- tiba masuk keruang kepala sekolah dan ternyata appa-mu ada disana malah lebih membahayakan Luhan.”

Sehun mendesah kesal. “Appa-ku? Dia ada disini?

“Aku tak tahu. Yang pasti kau dimana sekarang?”

Aku diatap.”

“Aku akan segera kesana.”

Kai mematikan sambungan telponnya.

 

>>>

“Dugaanmu benar. Appa-ku ada disini.”

Sehun menunjuk mobil mewah berwarna silver yang terparkir rapi diparkiran sekolah.

Mereka masih berada diatas atap sekolah. Kai mengangguk sambil mengacak- acak rambutnya. “Mau apa appa-mu kesini?”

“Aku tak tahu. Dia tak main- main dengan ucapannya.”

“Maksudmu?”

“Appa mengatakan akan menyelidiki Luhan. Dan kau pasti tahu aku akan dilarang berhubungan dengan Luhan setelah appa tahu kalau Luhan bukanlah dari kalangan atas. Sama seperti dulu..”

Kai menghela nafas panjang. Sehun nampak sangat gelisah. Ia tak dapat membayangkan kalau Luhan sampai dimarahi habis- habisan dan disuruh menjauhinya. Sehun benar- benar tak mau hal mengerikan seperti itu terjadi.

“Aish!” Sehun berlari keluar dari atap.

“Ya! Oh Sehun!!” Kai mengejar Sehun. Tujuan mereka hanya satu.

 

>>>

Ruang kepala sekolah.

“Xi Luhan. Kemarilah.”Sapa kepala sekolah ramah ketika Luhan masuk kedalam ruangan. Luhan mengangguk kemudian tersenyum.

Ah.. Bukannya itu papa Sehun.” bisik Luhan dalam hati.

Tuan Oh tersenyum saat Luhan berdiri didepan meja kepala sekolah. Tuan Oh berdiri ketika Luhan ada disampingnya.

“Kita bertemu lagi, nak Luhan.”

“I..Iya..” Luhan menunduk. Ia bahkan aneh ayah Sehun mengetahui namanya. “Apa Sehun yang bilang ya?

“Kau tahu mengapa dipanggil kemari?” tanya kepala sekolah lagi.

Luhan menggeleng.

“Ada yang Tuan Oh akan sampaikan padamu.”

Luhan mengalihkan pandangannya pada Tuan Oh. “Aku?”

“Iya. Kalau begitu saya akan keluar. Lebih baik kalian bicarakan berdua saja.” Kepala sekolah berdiri dan berjalan keluar ruangannya.

 

 

Setelah Tuan Oh dan Luhan tinggal berdua saja. Tuah Oh langsung memulai pembicaraannya.

“Saya datang kemari karena ingin membicarakan sesuatu denganmu, Xi Luhan.”

“Membicarakan apa..ahjusshi?” ucap Luhan sopan.

“Saya tahu kalau kau anak yang lulus tes masuk kesekolah ini. Awalnya saya lumayan kaget saat tahu kalau nilai tes-mu selisih satu angkat dengan anak saya, Oh Sehun.”

Nada bicara ramah sudah berubah jadi nada bicara sombong. Tatapan Tuan Oh berubah dingin. Luhan menelan ludahnya saat menyadari kalau Tuan Oh sudah bersikap dingin padanya.

“Kau anak satu- satunya dari keluarga sederhana. Ayahmu pegawai negeri di kedutaan China dan Ibumu tidak bekerja. Intinya, kau bukan dari kalangan kami.”

Deg

Jantung Luhan berdenyut sakit saat mendengar perkataan Tuan Oh yang sedikit menyakitinya.

“Maksud ahjusshi?”

Tuan Oh tersenyum sinis. “Kau tak pantas berteman dengan Sehun.”

Luhan membulatkan matanya. “Tak pantas? Apa aku berbuat hal yang salah?” Luhan berusaha menahan emosinya.

 

“Kau tahu peraturan bangsawan hanya boleh berteman dengan bangsawan? Begitulah!”

 

Luhan teringat apa yang dikatakan Sehun kemarin malam. “Jadi ini ya.” Luhan berbisik didalam hati.

“Duniamu dan Sehun berbeda. Sadarilah kalau kau tak pantas berteman dengan Sehun.”

Luhan menggeleng pelan. “Apa maksud anda? Pantas atau tidaknya saya berteman dengan Sehun bukanlah anda yang menentukan. Saya dan anak anda sama- sama manusia. Mungkin saya memang bukan dari kalangan anda, tapi… Saya bukan manusia yang bisa anda lecehkan!” Luhan tentu saja membela harga diri dan martabat keluarganya.

Tuan Oh tersenyum sinis. “Berkacalah dahulu sebelum menjawab ucapanku. Cih! Apa kau hanya memanfaatkan anak saya untuk tujuanmu? Saya sangat menghargai kalau sampah sepertimu menjauhi anak saya.”

Deg

Luhan merasakan hatinya sakit minta ampun. “Tolong jaga bicara anda, ahjusshi!”

“Jauhi Sehun atau aku akan bertindak lebih kas-“

 

BRAK

 

Tuan Oh dan Luhan mengalihkan tatapannya kearah pintu yang baru saja dibuka dengan kasar.

 

“Sehun.. Kai..” ucap Luhan lirih melihat siapa yang baru saja datang. Tuan Oh tersenyum penuh makna.

“Sehun, anakku. Kau tahu appa sedang berada disini, ya? Dan kenapa kau tidak ada dikelas?” Tuan Oh hanya tersenyum tipis.

Sehun dan Kai masuk kedalam ruangan kemudian berdiri disamping Luhan.

“Aku mendengar semua yang appa katakan pada Luhan.” Ucap Sehun dengan nada bicara yang sangat bengis.

“Lalu kenapa?” balas Tuan Oh santai.

“Aku ingin appa minta maaf pada Luhan atas apa yang appa katakan barusan.”

Tuan Oh membulatkan matanya mendengar anak lelakinya semata wayang memerintahnya seperti itu.

Luhan juga kaget sekali. Tak percaya dengan apa yang baru saja Sehun lakukan untuknya. Sehun membelanya.

“Sehun..” desis Luhan pelan.

Kai menggenggam tangan Luhan erat.

“Kau baik- baik saja?” tanya Kai lembut. Luhan mengangguk sambil tersenyum. namun Kai tahu Luhan hanya berbohong, wajah Luhan sangat pucat.

 

“Sehun! Sejak kapan kau berani memerintah appa?” teriak tuan Oh keras. Sehun tak gentar dan terus ada diposisinya.

“Aku sudah mengatakan pada appa tadi malam, kan? Aku tak akan pernah membiarkan appa menyentuhnya apalagi menyakitinya. Aku sudah memperingatkannya!”

“Untuk membela namja yang tidak memiliki apa- apa, oeh! Kau berani melawan orang tuamu?!”

Luhan mengerti suasana semakin menegang. Kai menarik tangan Luhan menjauh dari Sehun dan tuan Oh yang bersitegang. Mereka berdiri didekat pintu ruangan kepala sekolah itu.

“Kai..” Luhan tak percaya kalau Kai malah menariknya menjauh.

“Biarkan Sehun menyelesaikan masalahnya.”

“Tapi..”

“Sehun pasti bisa mengatasinya.”

Luhan mengangguk pelan kemudian kembali melihat Sehun dan tuan Oh.

 

“Orang tua? Hah! Aku tak merasa aku memilikinya!”Sehun berteriak sejadi- jadinya.

PLAK

Tuan Oh menampar Sehun.

“Jaga bicaramu!” maki tuan Oh.

Dengan marah, tuan Oh keluar dari ruangan kepala sekolah. Sebelum keluar dari ruangan nampak Tuan Oh memandang Luhan dengan tatapan marah kemudian pergi begitu saja. Kai menghela nafas panjang sedangkan Luhan langsung mendekati Sehun.

Sehun masih terdiam ditempatnya.

“Kau baik- baik saja?” Luhan memegangi pipi Sehun yang baru saja ditampar. Sehun menjauhkan tangan Luhan dari pipinya.

“Seharusnya aku yang bertanya, kau baik- baik saja atau tidak?” Sehun tersenyum pada Luhan.

Tes

Tes

Air mata jatuh membasahi pipi Luhan yang memerah. Sehun dan Kai yang melihat itu langsung panik.

Bagaimana bisa Luhan yang begitu liar menangis seperti itu?

“Ya! Ya! Andwae!!” Kai merangkul pundak Luhan.

“Apa aku menyakitimu?” Sehun memegangi pipi Luhan.

“Ani.. Gomawo..”

Sehun terdiam mendengar Luhan berterima kasih padanya.

“Kenapa? Padahal appa-ku sudah mengatakan hal yang menyakitimu. Mianhae.. Kau jadi menangis karena ulah appa-ku.”

Luhan menggeleng. “Aku bukannya menangis karena itu, Pabo.. Aku hanya takut.. Kalau aku tak diperbolehkan lagi berteman denganmu dan Kai. Aku takut.”

Kai tersenyum tipis mendengar Luhan menangis karena hal itu. Sehun memejamkan matanya sesaat kemudian kembali menatap Luhan yang tertunduk menangis.

“Tenang saja. Aku akan melindungimu. Aku berjanji.”

Tangis Luhan terhenti mendengar perkataan Sehun. Luhan mengangguk kemudian tersenyum. Walau tak secerah senyumannya yang biasa. Seketika itu Luhan menatap Kai.

“Kau jangan menangis lagi. Hmm… Kau tahu? Hyung-ku sangat penasaran denganmu. Tadi malam dia tak henti- hentinya berceloteh tentangmu. Dia ingin bertemu denganmu.” Kai melenceng jauh dari topik.

Sehun mengerutkan dahinya. “Maksudmu Taeminnie-hyung?”

“Siapa lagi.” Kai menghela nafasnya.

Luhan hanya mengamati Sehun dan Kai. Sebenarnya Luhan senang keluarga Kai ada yang ingin bertemu dengannya. Tapi apakah akan sama? Apakah Luhan akan dilabrak lagi oleh keluarga Kai?

Apa dia sebegitu tidak pantasnya berteman dengan Kai ataupun Sehun? Luhan benar- benar mengerti dunia yang ia masuki kini bukanlah dunia orang- orang yang sembarangan.

Seketika itu entah mengapa Luhan merasa Kai dan Sehun begitu jauh… Bahkan Tao, Chanyeol, dan Baekhyun…

Aish, sejak kapan Luhan jadi namja yang suka berfikir negatif?!

“Kalau begitu nanti sepulang sekolah aku akan mengajakmu kerumahku.”

Luhan membulatkan matanya kearah Kai. “Tapi..” Luhan tampak ragu.

“Aku juga ikut kerumahmu, ya.” kata Sehun pelan.

Kai mengangguk.“Kalau begitu sudah diputuskan.”

Luhan hanya menghela nafas melihat Kai dan Sehun bahkan tidak mendengarkan jawabannya.

“Sesuka kalian saja.”

 

 >>>

Sementara itu~

 

Kediaman Tao.

 

[Tao POV]

Apa yang harus aku lakukan!

Aish! Jinjja!

Gege akan datang 10 menit lagi bersama dengan tunangannya. Apa yang harus aku lakukan!!

Jantungku seakan- akan mau copot.

Sudah beberapa hari kami tidak bertemu.

 

Aish!

 

Aku menghempaskan tubuhku diranjangku. Ranjang berwarna biru ini sedikit membuatku lega.

Jujur saja aku tak nyaman tidur dengan baju rapi begini. Tuxedo memang sangat tidak cocok denganku.

Malas, aku buka kancing jas-ku dan membiarkannya begitu saja. Masih belum puas aku buka dua kancing atas kemeja berwarna putih yang kupakai.

“Begini lebih baik.” Ungkapku sambil tersenyum.

 

[END Tao POV]

 

CEKLEK

 

“Omona!! Tao-chagiya~ Apa yang kau lakukan pada pakaianmu?” mama Tao tersenyum maklum dengan kelakukan anak manja semata wayangnya itu.

“Aku hanya tak nyaman, mama.” Tao bangkit dari tempat tidurnya.

“Ya sudahlah. Kris sudah datang. Dia menanyaimu. Ayo kita keruang tengah.” Ajak mama Tao.

Deg

Deg

“Ak..Aku nanti saja turunnya. Aku..” Tao mencari- cari alasan agar ia tak menemui Kris. Jujur saja Tao belum siap.   

 

“Kau tidak mau bertemu denganku?”

 

Suara bass yang terdengar manis itu tiba- tiba mengejutkan Tao dan mama-nya.

“Kris..” Mama Tao tersenyum manis.

Sedangkan Tao hanya menunduk. Berusaha mengatur kerja jantungnya yang melebihi batas.

“Hmm.. Kalau begitu kalian ngobrol saja dulu, ne~” Mama Tao memegang pundak Kris kemudian keluar dari kamar Tao.

Tao masih menunduk belum mau menatap wajah Kris.

“Apa kabar, Tao?” tanya Kris berbasa basi.

Perlahan Tao menaikkan wajahnya menatap Kris yang kini begitu dekat dengannya. “Kris-gege..”

“Kau tak merindukanku?” tanya Kris sekali lagi sambil membuka lebar tangannya.

Tao tersenyum manis. “Tentu..”

Tanpa buang waktu Tao langsung memeluk tubuh tinggi Kris.

“Waa.. Adikku yang manja satu ini.” Kris membalas pelukan Tao kemudian tersenyum manis.

Tak tahu kalau hati Tao tersakiti saat dirinya mengatakan Tao adalah adik kecilnya.

 

>>>

Dikediaman Kim.

 

“MWOYA~~ Cantik sekali!!!” Taemin langsung membulatkan matanya saat melihat Luhan.

“Jangan seperti itu donk, hyung. Lihat! Dia jadi ketakutan.” Kai melirik Luhan yang berlindung dipunggungnya sambil menggenggam lengan baju Kai.

“Ah~Mianhe! Aku menakut- nakutimu?” tanya Taemin sambil menunjukkan wajah memelas.

“Ani.. Aku hanya… Kaget..” Luhan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Ne.. Hm.. Ayo masuk..” ajak Kai kemudian. Sehun yang merasa diacuhkan dari tadi langsung menggenggam erat tangan Luhan sambil masuk kedalam rumah Kai. Jadinya wajah Luhan seketika merah merona.

Taemin menatap pemandangan indah dihadapannya kemudian tertawa pelan.

“Kenapa hyung?” tanya Sehun.

“Hihiihi~ Kalian ini. Lihat.. Luhan memegangi lengan baju Kai dan Sehun memegang tangan Luhan. Kalian seperti terlibat cinta segitiga saja.”

Pessshhh

“Ja..Jangan pegang- pegang!” Luhan menyembunyikan wajah merahnya.

“Ih! Siapa yang mau pegang.” Sehun mencibir.

Seketika itu juga Luhan melepas genggaman tangannya dari lengan baju Kai dan Sehun melepas genggamannya dari tangan Luhan. Rona wajah ketiga namja yang ada dihadapan Taemin itu seketika memerah.

 

“Hyu..Hyung bicara apa?!” Kai memutar bola matanya. Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Luhan menunduk diam. Intinya mereka bertiga jadi salah tingkah

 

“Ne~” Taemin hanya tertawa pelan sambil terus berjalan menuju ruang tengah.

 

Diruang tengah kediaman Kim yang sangat megah dan mewah itu, Luhan hanya duduk diam. Luhan bersama Taemin duduk berhadapan.

Mengapa hanya mereka berdua? Taemin menyuruh Sehun dan Kai untuk membuatkan mereka minuman dan membawakan beberapa makanan kecil. Sebenarnya bisa saja meminta para pembantu, namun sifat jahil sang hyung tak bisa hilang sama sekali.

“Luhannie~ Kenapa kau menunduk terus?” tanya Taemin akhirnya.

“Ah.. Aku…” Luhan tersenyum tipis kemudian menunduk lagi.

“Jangan khawatir… Kau tak perlu takut padaku. Keluarga kami sangat terbuka untuk menerima semua teman Jongin.”

Luhan menatap wajah cantik Taemin. “Xie xie…” Luhan akhirnya tersenyum manis.

Taemin menatap lekat sang namja cantik dan mungil yang ada dihadapannya.

“Aku penasaran sekali padamu Luhan.”

“Eh?” Luhan yang tadinya menunduk kembali menatap Taemin. “Kenapa .. er..hyung? Dan… ada yang ingin kutanyakan dari tadi… Hyung tahu namaku darimana?” Luhan merasa dari tadi ia belum memperkenalkan dirinya namun Taemin telah mengetahui namanya.

“Aku tahu dari Jongin. Tadi malam aku menginterogasinya. Kemarin kau pergi bersama Jongin, kan?”

“Oh.. Ah.. Ne..” Luhan mengangguk membenarkan perkataan Taemin.

“Aku begitu penasaran padamu yang bisa merubah Jongin.”

Luhan melipat dahinya tak mengerti. “Merubah?”

“Jongin itu sangat dingin. Ia sangat perhitungan dan tidak mau kalah. Sikapnya yang seperti itu membuatnya sulit mendapatkan seorang teman. Sejak kecil teman yang ia punya hanya Sehun. Dan sekarang..” Taemin tersenyum sesaat.

“Dan sekarang dia dengan mudahnya mempercayaimu.” Sambung Taemin.

“Mempercayaiku?”

“Ne.. Siapa sangka Jongin akan mengantarkanmu kebandara hanya untuk bertemu dengan Sehun beberapa menit? Seorang Jongin yang kukenal tak akan mau repot- repot toh besoknya kalian bisa bertemu dengan Sehun disekolah, kan?”

Nampaknya Kai menceritakan semuanya pada Taemin.

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Tapi.. Kai sendiri yang menawarkan padaku untuk pergi kebandara disaat Sehun pulang ke Korea.”

“Itulah alasan aku penasaran padamu, little angel.” Taemin tersenyum manis.

“Eh? Little angel?” wajah Luhan memerah saat Taemin mengatakannya ‘little angel’. Walau panggilan itu tidak berlebihan karena Luhan memang cocok mendapat sebutan itu.

“Jongin memang sangat parah dalam bersosialisasi.. Namun Sehun jauh lebih parah dari Jongin. Aku menyangka Jongin adalah satu- satunya teman Sehun dalam hidup ini namun kau kembali mematahkan paradigma-ku. Sehun nampaknnya ingin memonopolimu untuk dirinya sendiri.”

“Eh?” Luhan kembali bingung dengan perkataan Taemin.

“Sehun itu paling sulit percaya pada orang lain. Aku butuh waktu beberapa tahun untuk bisa dekat dengannya. Sehun itu anak yang tak memikirkan orang lain. Ia sama sekali tak percaya pada orang lain… Hati anak itu sudah tertutup. Begitulah anggapanku tentangnya.. Namun ia bisa dekat denganmu. Ini pasti karena Jongin dan Sehun sangat menyukaimu.”

DEG

Mata Luhan membulat. “Eh ? Me..Menyukaiku?”

“Ne.. Kau tak sadar ya? Aku saja yang pertama kali melihat kalian bersama langsung tahu kalau kedua anak itu menyukaimu.”

Luhan berfikir sejenak kemudian mengangguk mantap.

“Aku juga.. Aku juga sangat menyukai mereka berdua.” Luhan tersenyum manis.

“Eh?” Taemin merasa kalau kalau Luhan kini salah mengerti maksud yang ia katakan. “Mwoya Luhannie.. Maksudku..”

“Jangan ngomong macam- macam!” Kai masuk kedalam ruangan sambil membawa beberapa minuman kaleng dan Sehun membawa beberapa bungkus makanan ringan ataupun keripik kentang.

Taemin mem-pout-kan bibirnya kemudian menyandar disandaran sofa. Luhan tersenyum memandang Kai dan Sehun.

“Bukan omongan macam- macam, tahu. Aku benar- benar menyukai Kai dan Sehun.” ujar Luhan polos sambil memamerkan senyuman andalannya.

Deg

Wajah Kai dan Sehun mulai merona merah. Sangat merah. Taemin langsung membulatkan matanya saat melihat perubahan ekspresi Kai dan Sehun. Jujur saja ini baru pertama kali Taemin melihat kedua namja itu tersipu malu.  

“Ah.. Kenapa kalian jadi diam begitu?” tanya Luhan tak sadar kalau dirinya lah membuat dua namja tampan itu kaku seketika.

Kai langsung duduk disamping Taemin. Sehun mengambil posisi disamping Luhan sambil membuka potato chips.

“Hihihihihi” Taemin menahan tawa. Namun sepertinya Kai mengetahui kalau hyung-nya itu sedang tertawa.

“Wae?” tanya Kai sambil menyipitkan matanya.

“Tidak.. Hanya saja lucu sekali.” Bisik Taemin agar Luhan dan Sehun yang sedang sibuk dengan potato chips itu tidak mendengarkan mereka.

“Lucu apanya?” Kai ikut- ikutan berbisik.

“Medan yang kau sukai ternyata sangat sulit, ne~” Taemin terkekeh pelan. Sontak wajah Kai kembali memerah.

“Mak..Maksud hyung?”

“Halah! Jangan pura- pura tidak tahu.”

Kai hanya memutar bola matanya kemudian menghela nafas panjang. Ia tatap Sehun yang kini menyuruh Luhan untuk buka mulut.

“Ini.” Sehun menyodorkan potato chips kearah Luhan. Sehun bermaksud menyuapi Luhan.

Luhan hanya memandang potato chips itu kemudian menatap Sehun. “Ne?”

“Ini..”

Nampaknya Luhan tak mengerti Sehun ingin menyuapinya. Dengan polosnya Luhan mengambil potato chips itu dengan tangannya dari tangan Sehun kemudian memakannya.

Taemin dan Kai langsung mengerjapkan matanya berkali- kali melihat kepolosan Luhan.

“Xie xie, Sehun.” ucap Luhan kemudian. Sehun hanya menghela nafas karena moment romantis yang ia harapkan tak menjadi kenyataan.

“Buhahahahhahaha!!” tawa pecah diantara kedua adik kakak itu. wajah Sehun langsung memerah.

“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Sehun sinis. Luhan kini asyik memakan potato chips yang baru saja diberikan Sehun.

Kai menahan tawanya. Sehun hanya mem-pout-kan bibir kecilnya.

Taemin tersenyum melihat keceriaan yang tercipta diruangan itu. Seketika itu Taemin menatap Luhan yang masih makan dengan tenang tanpa memperdulikan ocehan Kai dan Sehun.

Gomawo, Luhan.” Bisik Taemin didalam hati.

 

 

1 Jam kemudian.

 

Kai hanya memandang kericuhan yang terjadi dikamarnya. Hanya ia yang kini masih berdiri tegap sedangkan 3 namja lain sudah terkapar ditempat masing- masing. Sehun tertidur di ranjangnya yang sangat berantakan. Bantal dan selimutnya yang tersusun rapi kini sudah berserakan dilantai. Luhan tidur dilantai beralaskan selimut Kai dan ada majalah fashion yang terbuka disebelahnya. Sementara Taemin (Sumber keributan) malah enak- enakan tidur dibantal tidur Kai yang ia susun dan disamping tubuh Taemin yang terbaring, makanan ringan berserakan dan ada tumpahan cola didekat ranjang Kai. Sepertinya milik Sehun.

“Aish! Jinjja! Mereka menyuruhku membeli beberapa makanan kecil disupermarket kemudian menghancurkan kamarku!” Kai mengeluh kemudian berjalan menuju meja belajarnya untuk meletakkan barang belanjaannya.

Kai dengan sabar memunguti remah makanan dan menyusun kembali majalah yang berserakan. Ia memang tak bisa marah karena ini memang hukumannya karena kalah bermain kartu.

Taemin yang ternyata belum tidur mengintip dengan salah satu matanya. Kai nampak sangat sabar membenahi kamarnya sendiri.

“Mwoya~” Kai melihat Luhan yang tidur seperti kucing diatas selimutnya. Seketika itu senyuman terlukis jelas diwajah Kai.

Uwooo.. Langka banget nih!!” teriak Taemin dalam hati.

Kai berjongkok dan menatap wajah mungil Luhan yang tertidur. Dengan ragu Kai membelai rambut Luhan. Senyuman tak hilang dari wajahnya.

Kai! Kau benar- benar sedang jatuh cinta ya!” Taemin masih heboh sendiri didalam pikirannya.

“Hey… Kau bisa masuk angin kalau tidur dilantai.”

Suara Kai terdengar sangat sangat sangat lembut. “Berbeda sekali saat membangunkanku.” Taemin langsung membandingkannya dengan kebiasaan Kai yang selalu menendangi kakinya saat Kai membangunkan Taemin dipagi hari.

“Hmm..” Luhan hanya menggumam. Ia belum juga bangun dari tidurnya.

Kai kembali tersenyum. ia putuskan duduk disamping tubuh Luhan yang berbaring untuk tetap menatap wajah angelik itu.

“Kau cantik sekali.” Bisik Kai sambil tersenyum penuh makna.

Taemin terus mengawasi gerak- gerik Kai yang ia anggap sangat langka itu. Taemin tersenyum tipis saat melihat Kai sejenak menghela nafas kemudian menggendong Luhan menuju kasurnya. Namun Sehun yang tertidur disana membuat Kai mengurungkan niatnya.

“Aish! Anak ini tidur dengan benar kenapa!” Kai mengeluh menyadari Sehun menguasai kasurnya yang padahal berukuran King Size.

Kai masih menggendong Luhan bergaya bridal.

Melihat Kai kebingungan, Taemin akhirnya berdiri dan berjalan kearah Kai.

“Kau sudah bangun?” tanya Kai sambil terus menggendong Luhan.

“Hmm..” Taemin langsung menggeser tubuh Sehun agar Luhan bisa berbaring dikasur Kai.

“Gomawo..” ujar Kai sambil membaringkan tubuh Luhan tepat disamping tubuh Sehun. Taemin menatap wajah Sehun yang pipinya lumayan merah.

“Kenapa pipinya?” tanya Taemin sambil men-toel toel pipi Sehun.

“Sebenarnya sebelum kemari ada sedikit masalah dengan appa-nya.” Jelas Kai sambil membenarkan poni Luhan. Kai duduk ditepi ranjang sambil membelai rambut Luhan. Taemin hanya mengamati wajah Kai yang terus menatap Luhan dengan lembut.

“Masalah?” tanya Taemin akhirnya.

“Sehun dengan appa-nya…” Kai mengalihkan tatapannya kearah Sehun yang tertidur. Sepertinya Sehun kelelahan makanya ia langsung tertidur. Taemin menghela nafasnya panjang.

“Ia ditampar? Tumben tuan Oh menampar anaknya.”

Kai terdiam kemudian menatap Luhan yang masih tertidur pulas. “Dia membela anak ini. Hyung tahu sendiri kalau tuan Oh sangat keras pada Sehun. Hanya orang yang dipandangnya pantas bisa berteman dengan Sehun.”

Taemin mengangguk. “Makanya anak ini tadi agak takut berbicara padaku. Mungkin ia pikir aku juga akan menyuruhnya menjauhimu.”

Kai menghela nafasnya pelan. “Aku hanya tak mau ia disudutkan seperti tadi. Dia tak pantas menerima segala cercaan yang dilayangkan tuan Oh tadi.. Sehun yang mendengarnya langsung naik pitam dan membentak tuan Oh.”

“Sehun membentak appa-nya?” Taemin seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sehun sama sekali tak pernah membantah perkataan appa-nya. Semenjak Taemin hidup, ia tak pernah sekalipun melihat Sehun berani melawan perkataan appa-nya.

“Aku juga kaget awalnya… Tapi itulah yang ia lakukan.”

Taemin duduk ditepi ranjang sambil menatap wajah Sehun yang ada disampingnya.

“Apa sih yang dilakukan Luhan sampai kalian jadi berubah 180 derajat.”

Kai tersenyum. “Karena dia bodoh. Hanya itu.”

“Eh?” Taemin tak mengerti ucapan adiknya. Namun ia hanya mengangkat bahu kemudian tersenyum melihat wajah Luhan yang tertidur pulas.

“Jika kebodohannya membuat kalian seperti ini… Berarti dia hebat sekali.” Bisik Taemin dalam hati.

 

30 menit kemudian.

 

[Sehun POV]

Wangi…

Aku merasa tangan mungil kini sedang memeluk pinggangku. Kehangatan yang membungkus tubuhku.

[Loading 20%]

Mataku masih terpejam sempurna. Rasanya malas membuka mataku sekarang jika kehangatan ini hanya sebuah mimpi.

[Loading— 50 %]

Aku merasakan hembusan nafas seseorang menerpa wajahku.

Dan itu membuatku nyaman. Aku mempererat pelukanku.

[Loading 80%]

Tunggu!!

Aku membuka mataku cepat dan melihat Luhan yang tertidur begitu dekat denganku.

[Loading—100%]

 

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

 

Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan melihat Luhan masih tertidur.

Dia masih tidur setelah aku berteriak sekeras itu?

 

“Ada apa?” Kai dan Taemin-hyung masuk kedalam kamar karena mendengar teriakanku. Entah dari mana mereka berdua!!   

Aku langsung menujuk Luhan yang tidak terganggu sama sekali. “Kenapa dia bisa tidur disampingku?!”

“Memangnya kenapa?” Taemin-hyung menggaruk kepalanya.

“Bukannya dia tidur dibawah tadinya?!” Aku masih membela diriku.

“Sehun, kau ini terlalu berlebihan sekali. Memangnya kau takut diapain kalau kalian tidur berdua?” Taemin-hyung nampak tertawa pelan. Aish!

“Wajahmu merah tuh.” Kai menunjuk wajahku.

Benarkah?

Merah?

Jinjja!!

Kai mendekati Luhan yang masih tertidur dengan pulasnya.  Kai duduk ditepi ranjang tepat disamping Luhan.

“Dia tidak terbangun karena teriakanmu?” Kai menatap heran namja manis itu.

“Mana kutahu! Padahal aku berteriak tepat di wajahnya.” Aku juga merasa aneh pada Luhan yang nampak tidur dengan enak sekali.

Luhan menggeliat dan berbalik badan.

Tep

Aku membulatkan mataku. Tangan mungil Luhan melingkar sempurna dipinggang Kai yang duduk disampingnya.

Kai menatap Luhan kemudian bergantian menatapku dan Taemin-hyung.

“Huahahahaha!!! Kita tahu satu sifatnya kalau begitu!” Taemin-hyung mengacungkan jempolnya.

Kai hanya menghela nafasnya kemudian membelai rambut Luhan dengan lembut.

Deg

Kenapa?

Kenapa aku sangat tidak suka melihat Kai bersikap lembut padanya?

Kenapa begitu sakit melihat Luhan memeluk Kai?

 

 

Aku tak tahu.

[End Sehun POV]

 

Taemin memperhatikan perubahan wajah Sehun saat melihat Luhan memeluk pinggang Kai. Ekspresi wajah Sehun yang belum pernah Taemin lihat.

Seketika itu Taemin mendorong tubuh Sehun keatas ranjang. Kai hanya melihat tingkah hyung-nya itu.

“Mwoya, hyung!” teriak Sehun saat mendapati dirinya sudah tertidur diatas ranjang.

“Aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kau langsung tertidur saat kita menunggui Kai pulang dari supermarket, oeh?”

Sehun menggaruk kepalanya. “Mungkin karena … aku lelah.”

“Kau sendiri tahu! Dengar namja sok kuat! Kau baru saja pulang dari Beijing dan kondisi tubuhmu sedang tidak baik. Jadi kau pasti butuh istirahat, kan! Sana tidur lagi!!” Taemin melipat tangannya didada. Sehun menghela nafas kemudian melirik Luhan yang tidur disampingnya sambil memeluk Kai.

 

Pip

 

Ponsel Sehun berbunyi. Ia ambil ponsel yang ada didalam sakunya. Mata Sehun membulat saat melihat siapa yang menelponnya.

Sehun berdiri dan berjalan keluar kamar Kai.

“Siapa yang menelpon?” tanya Taemin pada Kai.

“Appa-nya.” Jawab Kai agak khawatir.

 

Dimana kau! Kenapa jam segini belum ada dirumah!!” teriak sang appa.

Sehun menghela nafasnya. “Aku dirumah Jongin.”

Apa yang kau lakukan disana! Appa mau kau sampai dirumah setengah jam lagi.

“Aku tak akan pulang hari ini.”

Apa!”

“Aku hanya ingin appa minta maaf pada Luhan.”

Masih namja sampah itu!!”

“Jika appa tak minta maaf. Aku tak akan pulang kerumah.”

Jangan mengancam appa, Oh Sehun.”

“…Hanya dia yang mengerti aku… Hanya dia yang mau menerima keluh kesahku dan appa menghinanya seakan appa jauh lebih baik. Aku akan membelanya tak peduli appa akan menyakitiku atau menghukumku.”

“…”

Tak ada jawaban dari tuan Oh. “Trek.

Sehun menghela nafas panjang saat tahu appa-nya memutuskan sambungan telponnya begitu saja. Sehun memasukkan kembali ponselnya kesalam saku.

Tangan Sehun gemetaran. Baru kali ini ia berkata jujur pada appa-nya tentang apa yang ia rasakan. Baru kali ini ia bisa mempertahankan keinginannya. Baru kali ini ia merasa bahwa ia pemilik kehidupannya sendiri. Ialah yang mengendalikan apa yang ia anggap benar.

Tes

Sehun menepis air mata kelegaannya. Baru kali ini ia menangis karena merasakan kelegaan. Ia lupa akan arti hidup selama ini. Yang ia lakukan hanyalah mengikuti keinginan appa dan oemmanya.

 

Luhan mengembalikannya.

 

Mengembalikan hati Sehun sebagai manusia yang utuh.

 

Pukul 7 malam.

Luhan akhirnya terbangun. Kai bernafas lega karena ia mulai penat dengan posisinya yang sudah 1 jam lebih tak bisa bergerak karena dipeluk namja mungil itu.

“Hmmm…” Luhan melepas pelukannya dan menatap Kai.

“Sudah bangun, ya.. Kau tidur seperti orang mati.” Kai menggelengkan kepalanya.

“Ah..” Luhan langsung bangkit dan duduk disamping Kai. “Mwo! Aku ketiduran!!”

“Itu namanya bukan ketiduran, pabo! Kau memang tidur nyenyak. Kutegaskan nyenyak sekali!!”

Luhan mengerucutkan bibirnya. “Lalu apa yang kau lakukan saat aku tidur? Jangan- jangan kau menjahiliku, ya.”

“Mwo! Aish!! Kau memeluk pinggangku dan tak membiarkanku kemana- mana, tahu! Jinjja!!”

“Eh?”

“Apanya yang ‘Eh?’ ??”

Luhan menggaruk kepalanya kemudian tersipu malu. “Mianhe..Hehehe..”

“Aigoo.. Sudahlah. Kita harus tenang. Sehun sedang tidur.” Tunjuk Kai kearah Sehun yang tertidur disamping Luhan.

“Woaa..” Luhan berteriak kecil. Melihat Sehun tertidur dengan wajah lucu seperti itu sangat membuatnya exited. Wajah yang sangat polos.   

“Hmm.. Sudah jam berapa?” tanya Luhan sambil berbisik.

“Jam 7.” Jawab Kai singkat.

“Mwo!!” Luhan bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan mengambil tasnya. Kai ikut bangkit kemudian berjalan kearah Luhan.

“Mama bisa marah! Eottokaji!!” Luhan panik. Ia merapikan seragamnya kemudian menyandang tasnya.

“Kau sudah mau pulang?” tanya Kai santai walau ia berhasil menyembunyikan nada kecewanya.

“Ne.. Daripada aku dipukul pakai centong nasi!”

“Hah?”

“Bu…Bukan apa- apa! Jangan dipikirkan.” Luhan menggaruk kepalanya.

Kai menghela nafas. “Aku antar, ya.”

“Tidak usah.”

“Kalau kau menolak aku akan menjahilimu esok disekolah.” Kai langsung mengancam Luhan. Alhasil Luhan mengerucutkan bibirnya dan mengiyakannya saja.

Luhan melirik Sehun yang masih tidur. Kai mengikuti arah pandang Luhan kemudian menghela nafas. “Taemin-hyung kan ada disini. Dia tak akan sendirian.”

Luhan mengangguk. “Dia anak yang gampang merasa kesepian. Namun tak pernah mengatakan dengan jujur kalau dia sedang kesepian.”

Kai membulatkan matanya kemudian tersenyum. “Kau mengerti sekali tentang Sehun.”

“Bu..Bukan apa- apa!” wajah Luhan seketika memerah.

“Baiklah. Ayo keluar.” Kai menarik tangan Luhan keluar dari kamar Kai.

Blam

Pintu kamar tertutup. Sehun perlahan membuka matanya. Ternyata namja bermulut pedas itu hanya pura- pura tidur. Sepertinya ia ikut terbangun saat Luhan terbangun dan berbuat gaduh(?).

“Aku mudah kesepian..ya…?”

Sehun tersenyum kemudian tertawa pelan. “Mungkin memang hanya dia yang mengerti aku.”

Sehun kembali berbaring diranjang Kai. Ia rasa ia akan mimpi indah malam ini.

 

 

Keesokan harinya.

Luhan berlari kecil masuk kedalam kelasnya. Senyumannya merekah saat melihat dua namja yang ia rindukan kini sedang bersenda gurau.

“Chanyeol! Baekhyun!”

Luhan langsung menghampiri mereka dan..

GREP

“LUHAAAAAAAAAAAAAAAANNN!! BOGOSHIPPOYO!!!!!~~~~~”

BaekYeol langsung memeluk Luhan secara bersama- sama. Karena teriakan super kencang BaekYeol mereka langsung menjadi pusat perhatian walau tak terlalu banyak yang berkomentar.

“Ne!! Bogoshippo!!” Luhan tersenyum mantap dan membalas pelukan BaekYeol couple itu. Hatinya senang sekali melihat dua namja yang menjadi sahabat dekatnya itu. Padahal baru sehari tidak bertemu namun kangennya udah enggak ketolongan lagi.

“Pasti kau sangat merindukan oemma, kan? Aigoo~” Baekhyun mencubit pipi Luhan lembut.

“Ne~ Aku benar- benar tak punya semangat hidup kalau tak ada kalian..”

Baekhyun dan Chanyeol langsung memandang Luhan dengan mata yang berbinar- binar.

“Uuuuuuuu~~~ Lucunyaaaa~~ Kyoepta~~”

BaekYeol kembali memeluk Luhan. Yang bisa Luhan lakukan hanya tertawa geli merasakan kasih sayang kedua sahabatnya itu. Namun Luhan menyadari sesuatu.

“Lho? Tao mana?” tanya Luhan sambil melepas pelukan BaekYeol.

“Tao tidak masuk hari ini.. Kolega bisnis ayahnya yang datang dari Canada masih ada di Korea. Tao dan anak kolega bisnis ayahnya itu lumayan dekat.” Jelas Chanyeol.

“Hm.. Kolega bisnisnya keluarga Wu, kan? Aku juga pernah bertemu dengannya saat aku dan Tao ke Canada waktu itu. Namanya Kris.. Wu Yi Fan.. Hmm, dia namja yang sangat tampan dan berkarisma. Tao sangat lengket padanya.” Baekhyun mengembungkan pipinya alhasil Chanyeol yang gemas mecubiti pipi Baekhyun lembut.  #BaekYeol moment >.<

Luhan mengangguk pelan. “Aku tahu.. Tao menyukainya, kan?”

BaekYeol mengangguk bersamaan. Sepertinya mereka sudah tahu kalau Tao memang menyukai namja yang bernama Kris itu.

Luhan duduk dibangku Tao mempersilahkan Baekhyun dan Chanyeol duduk sebangku.

“Luhannie duduk saja bersama Chanyeol.” ucap Baekhyun pelan. Sepertinya ia khawatir kalau Luhan duduk sendirian dibelakang.

“Ani.. Kalian terlihat manis jika bersama.”

Wajah Baekhyun memerah saat itu. Chanyeol tersenyum manis dan mengangguk pelan.

“Ne~ Benarkah? Gomawo Luhannie~” Chanyeol menusuk- nusuk pipi Baekhyun dengan telunjuknya. “Ah.. Biar aku yang duduk dibelakang deh. Mending Luhan duduk dengan Baekhyun.”

 

“Dia bisa duduk denganku.”

 

Mendengar itu sontak Luhan membalikkan badannya. “Kai..”

“Lho? Sehun nya gimana?” tanya Baekhyun sambil melirik kebelakang Kai, namun ia tak melihat siapapun disana. “Sehun tidak masuk lagi?” Ulang Baekhyun.

“Ne..” Kai duduk disamping Luhan.

“Memangnya dia kenapa lagi?” Chanyeol melipat tangannya didada.

Mata Luhan langsung menyipit. “Kenapa?”

Kai menatap wajah Luhan dalam kemudian menghela nafas panjang. “Appa Sehun tadi malam datang kerumahku dan menyeretnya pulang dengan paksa.”

“Eh?” Chanyeol menatap Kai heran. “Memangnya ada apa? Sampai diseret pulang seperti itu?”

“Apa ada sesuatu yang terjadi saat kami tak masuk sekolah kemarin?” Baekhyun memandang Luhan dan Kai secara bergantian.

“Kalian pasti tahu bagaimana watak appa Sehun. Ini juga pernah terjadi saat kita masih SMP. Apa kalian ingat? Anak yang bernama Suho dilarang oleh tuan Oh untuk berteman dengan Sehun. Akhirnya Suho lebih memilih pindah sekolah?”

“Eh? Jadi pernah kejadian sebelum ini?” tanya Luhan kaget. Kai mengangguk.

Mata Chanyeol yang besar nampak menjadi lebih besar. Kini mata itu memandang Luhan cemas. “Kau baik- baik saja, kan! Apa saja yang tuan Oh katakan padamu?!” ada nada cemas disetiap tutur kata Chanyeol.

“Luhannie.. Mianhae.. Jika aku tahu tuan Oh melabrakmu.. Aku..” Baekhyun nampak sangat merasa bersalah.

“Mwoya~ Aku baik- baik saja, kok. Tenang saja! Lihat~ Aku tak kekurangan apapun, kan? Lagipula Kai dan Sehun membantuku.” Kata Luhan menenangkan kedua sahabatnya.

Chanyeol dan Baekhyun masih diam. Mereka tahu betul ini tak akan berakhir sampai disini. Tuan Oh tipikal orang yang sangat obsesif. Ia tak akan berhenti jika tujuannya tidak tercapai.

Luhan menunduk. Kini ia sangat cemas dengan Sehun. Bagaimanapun ia tak mau Sehun sampai tersakiti karena ulahnya. Kai memegang pundak Luhan sambil menatap mata sendu namja manis itu.

“Tuan Oh tak akan menyakiti anaknya. Kau harus percaya itu. Jangan dipikirkan lagi ya.” Kai membelai rambut Luhan pelan.

Luhan mengangguk pelan. “Ya Tuhan.. Lindungi Sehun.”

To be Continue…

panjang gak nih ya??

kalo terlalu oanjang mian jadi rada bosan ya -__-a

pundung >.<

rcl ya chingu ^^ makasih banyak😀

250 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 5

  1. kasihan sama sehun, dia cuma di jadiin boneka sama keluarganya😥
    kasihan juga sama tao, cintanya bertepuk sebelah tangan😥

  2. uuhh ayahnya sehun ngajak ributt!! uwaa taoris!! taonya lucu bingit !! smoga aja kris suka nya sama tao O:)

  3. YAAAAA! BAPAKNYA SEHUN NYEBELIN!

    tapi sehun keren ngebela luhan di depan bapaknya… hehehe
    cup,cup,cup buat magnae exo m kungfu panda tao… cinta kamu gak berbalas ya? yaudah sama aku aja, pasti berbalas (?) *ApaIni

  4. Hanya luhan yang mengerti sehun. Suka deh moment hunhan yang di atas ranjang hannie nya meluk hunnie/?kkk
    Kak kok ff nya malah bikin aku galau ya -_- ga bisa ngerti luhan nya mau sama sehun apa kai :3 lanjoootttt aaahh

  5. errrr babe sehun sombong amet, sian uri luhannie /_\
    sian juga ya kehidupan sehun, punya segalanya tapi di kekang ga bole berteman dengan sembarang orang hffffft
    baekyeol momentnya manis ya ><
    lanjut baca ah

  6. RCL di tiap chapter ribet juga ya-_- *kebiasa ngeRCL satu cerita sekaligus*
    AKU GATAU HARUS COMMENT APA KAK ;;A;;

    btw itu bapaknya kakek mesum brutal banget ye. sekandang sama singa bisa lah. bisa ntar singanya mati.
    aku curiga luhan jangan-jangan udah pernah masuk jurusan psikologi. kenapa dia bisa tau segala hal tentang sehun padahal sehun gapernah ngomong apa-apa?! wayolo luhan stalker…
    terus itu baekyeol busetdah-_- emak bapak kerjaannya teriak-teriak mulu. ntar lahiran lagi anaknya toa(?) kembarannya tao(?)
    DAN PAK OH YANG AMAT SANGAT (tidak) TERHORMAT, SAYA INGIN ANDA MASUK PENJARA SEKARANG JUGA.

  7. “Kenapa begitu sakit melihat Luhan memeluk Kai?” AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH OH SEHUNNNNNNNNNNNNN. daebak banget thor alurnya❤

  8. itu luhan kasian banget diancam sama ‘tuan OH’ yg terhormat,,
    ahh rasa pengen gue bakar itu OH tuan /plkk/ kan jadi trauma noh abang gue yg paling kce (re;lu) tenang aja lu gk semua orang kaya begitu kok🙂

    dan disini saya terfokus k anak saya yg paling sekseh dan montok alias panda alias tao alis itao alias kungfu panda alias ISTRI TUAN WU, ALIAS NYONYA BESAR WU *plakk*😀
    kamu knpa galau toh ndok, toh kang mas kris mu kan udah nongol noh, udeh nak percaya ama emak mu itu orang kgk bakal lari kmana2 yakin deh *kecup* :*

    chanbae?? masih bingung. ini sebenarnya begimana hubungan mereka? pacaran atu apa????:/

  9. kasian Sehun sama Luhan ditentang terus, penuh cobaan dan lain-lain
    oh ya… tadi aku baca yang paragrafnya nyeritain suho gak pantes berteman sama Sehun. berarti suho miskin dong? Huwaaaa HolangKaya jadi miskin…. =D

  10. dipukul pke centong nasi?? hahahaha…… suerr…. nih cerita lucu bnget….eh,tpi pnsrn jga sih ama keadaan sehun…. ah capcus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s