Kind Of Heart Chapter 6

Annyeonghaseyo ^^

Hyobin minta maaf kalo agak lama ya post nya ^^ #mianhae

saya sibuk fangirling sajo di twitter =__= #plak! tabok bolak balik

Hyobin sudah berusaha secepat mungkin buat update.. jangan timpukin hyobin >.<

oh ya follow twitter hyobin ya #modus! soalnya setiap ff yang ada disini nanti pas chap ending di PROTECT jadi minta PASSWORD nya ke twitter, FB, atau invite pin BBm juga gapapa^^ ntar dikasih tahu cara pastinya buat dapetin PW..maaf ya jadi rada ribet😀 #yang komen tiap chap mah aman ya, langsung dapat PW ^^

oke lanjut FF😀

hwaiting !! #plak!

Kind Of Heart

Kim Hyobin

Twitter : @ranalunabila

Chapter 6

MAIN CAST : Oh Sehoon – Luhan – Kim Jongin / KAI

 

OTHER CAST : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Wu Yifan / KRIS, Huang Zitao / TAO

 

GENRE : SCHOOL LIFE, DRAMA, SAD ROMANCE, ANGST

YAOI /Boy x Boy /BL

 

***

Malaikat

Apakah benar adanya?

Awalnya aku tidak percaya

Sama sekali tidak!

Dan saat ini…

Bolehkah aku mengakui sesuatu?

Sosokmu melebihi seorang malaikat dihatiku

***

 


Sehun berjalan mondar mandir didalam kamar megahnya. Ia sama  sekali tidak terlihat sedang dalam suasana hati yang baik. Ia tidak boleh bersekolah dan dikurung oleh orang tuanya dikamar sampai Sehun mau minta maaf pada tuan Oh.

Wajah Sehun tertekuk marah dan gerakan liarnya yang seakan ingin menghancurkan segala yang ada didepannya.

 

“AAAGHHH!!” Teriak Sehun keras.

 

BRUAAKKK

 

PRANGG

 

PRANGG

 

Sehun menjatuhkan semua yang ada diatas meja belajarnya. Membanting lampu tidurnya, melempar sebuah buku tebal kearah jendela kamarnya hingga kaca jendela itu pecah. Seakan tidak puas, Sehun membanting semua yang ada didalam ruangan itu. Kursi kayu yang ada disudut kamarnya sudah tidak berbentuk lagi, beberapa guci dan lukisan sudah tergeletak tidak berbentuk dilantai.

 

PRAAANGGG

 

Kali ini Sehun memecahkan meja kaca dengan batangan kayu yang berasal dari kursi yang baru saja itu ia patahkan.

Suara gaduh terus saja memekakkan telinga sampai akhirnya pintu kamar Sehun yang dari tadi terkunci rapat terbuka.

Nampak dua namja tinggi yang memakai jas hitam masuk kedalam kamar Sehun.

Seketika itu Sehun melempar batangan kayu yang ia pegang kesembarangan tempat.

“Tuan muda, apa yang anda lakukan!” salah satu bawahan orang tua Sehun terlihat kaget dengan keadaan kamar Sehun yang sudah hancur total. Bisa dipastikan tidak ada satupun perabot yang ada dikamar Sehun utuh seperti sedia kala.

Sehun benar- benar mengamuk.

Salah satu bawahan orang tuanya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tahu betul siapa yang akan dihubungi oleh bawahan orang tuanya, Sehun langsung merampas ponsel bawahan orang tuanya itu dan..

 

PRAAK

 

..Sehun membantingnya.

 

“Siapa yang akan kalian hubungi, oeh!” Teriak Sehun keras. Wajah Sehun memerah menahan amarah.

 

Kedua bawahan orangtua Sehun hanya menghela nafas panjang kemudian keluar begitu saja. Sehun tidak tinggal diam dan menggedor pintu kamarnya yang kembali terkunci sempurna.

 

DUM

 

DUM

 

 “BRENGSEK! KELUARKAN AKU!!”

 

Harapan Sehun pupus karena mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Berkali- kali Sehun meluncurkan kata- kata carutan dan menendang pintu kamarnya sendiri.

Amarah masih menguasai Sehun dan sekali lagi ia lemparkan sebuah vas bunga yang tergeletak dilantai.

 

PRAANGG

 

Vas bunga itu mengenai kaca jendela yang kini tampak bolong karena semua kacanya sudah berhamburan entah kemana.

Dan sebuah ide gila masuk kedalam otak Sehun saat melihat jendela kamarnya itu. Dengan cepat Sehun melirik selimut panjang yang ada diatas ranjanganya.

Senyuman tipis terukir diwajah Sehun.

“Got you!”

 

 

 

>>> 

 

 

Sepulang sekolah.

 

Baekhyun, Luhan, dan Chanyeol berjalan dikoridor sekolah. Mereka tampak membahas sesuatu yang serius.

 

“Luhan, kami akan antar kau ke Cookies, ya.” Ujar Baekhyun cemas.

 

“Benar! Lebih baik kami antar.”Chanyeol mengangguk setuju.

 

Luhan tersenyum manis dan menggeleng pelan. “Tidak perlu. Memangnya ada apa sampai harus diantar? Lagipula kalian buru- buru, kan? Jangan bohong!”

 

Chanyeol dan Baekhyun hanya bisa mengangguk mantap karena ucapan Luhan benar. Baru saja Chanyeol dan Baekhyun dapat telpon dari orang tua mereka agar cepat.

Baekhyun ditelpon karena ibunya hari ini diundang kesebuah pesta dengan kolega bisnis keluarga Wu. Tentu saja Tao akan ada dipesta itu nantinya. Sedangkan Chanyeol nampaknya akan pergi ke Eropa malam ini selama dua hari satu malam bersama orang tuanya.

 

 

Mereka sudah sampai diparkiran mobil SMA Dong Soo. Chanyeol masih enggan masuk kedalam mobilnya. Ia  menatap Luhan dengan tatapan cemas.

“Dua hari kedepan aku tidak akan masuk sekolah. Aku mencemaskanmu.” Chanyeol terlihat sangat khawatir. Baekhyun merangkul pundak Luhan dan tersenyum manis.

 

“Chanyeol tidak perlu khawatir. Kau harus cepat bersiap. Bukankah kau akan pergi dua jam lagi?” Baekhyun berusaha tersenyum. Sebenarnya ia sedih karena akan berpisah dari Chanyeol dalam dua hari kedepan.

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan mengusap rambut Baekhyun. Bisa dipastikan kalau namja manis satu ini nantinya yang paling ia rindukan.

“Kalian berdua baik- baik disini ya. Aigoo.. Appa sangat berat meninggalkan oemma dan anak appa.”

 

Mendengar perkataan Chanyeol Luhan terkekeh pelan. “Baiklah! Hati- hati dijalan, appa!”

 

Wajah Baekhyun merona merah. “Cara bicaramu benar- benar mirip ahjusshi- ahjusshi! Memangnya berapa usiamu, oeh?”

 

Chanyeol tersenyum manis dan menatap Baekhyun lembut. “Daripada mengomel… Oemma tidak mau memberikan ciuman hangat sebelum appa pergi bertugas?”

 

“YA! Kau berbicara seperti akan pergi perang saja!” Baekhyun memutar bola matanya. Luhan masih tertawa kecil. Ia pasti merindukan Chanyeol dan Baekhyun yang  heboh seperti ini.

 

“Ciumnya mana?” Chanyeol masih kekeuh dengan keinginannya. Baekhyun mencibir dan mencubit lengan Chanyeol keras hingga namja itu terpekik kesakitan.

 

“Appo, Baekhyunnie..”

 

“Sudahlah sana pergi! Aku akan mengantar Luhan dahulu ke Cookies.” Baekhyun mengayunkan tangannya seraya mengusir Chanyeol.

 

Masih dengan senyuman manis, Chanyeol mengangguk mantap dan membuka pintu mobilnya. “Hati- hati.. Setibanya di Belanda, aku akan menghubungi kalian.”

“Ne..” jawab Baekhyun dan Luhan berbarengan.

 

Mobil Chanyeol sudah melaju keluar perkarangan Sekolah. Baekhyun masuk kedalam mobilnya bersama Luhan. Nampaknya Luhan tidak bisa menolak permintaan Baekhyun kali ini.

 

 

>>> 

 

Kai berjalan masuk kedalam rumahnya dan melihat Taemin yang membaca majalah diruang keluarga. Nampaknya Taemin baru saja pulang kuliah karena tas nya masih ia sandang.

 

“Ah~ Kai sudah pulang ya!!” sapa Taemin girang sambil melempar malajah yang ia baca kearah Kai.

 

Dengan sigap Kai menangkap majalah itu sebelum mengenai wajahnya.

 

“YA! ORANG GILA! KAU MAU MENGHANCURKAN WAJAHKU!” Pekik Kai frustasi. Kapan hyung-nya yang satu ini berhenti mengerjainya?

Taemin tertawa keras dan mengangkat bahunya. “Sampai aku bosan.”

Kai menghela nafas panjang. Ia tahu Taemin akan menjawab seperti itu. Ia sudah pasrah dengan kelakukan sang hyung yang memang sering sekali menjahilinya. Pasrah? Tentu saja! Memangnya dia bisa melawan?

 

“Waahh~ Nampaknya Jonginnie sedang badmood..” Taemin mengikuti Kai yang berjalan kekamarnya.

 

“Jangan ikuti aku!” Kai memutar bola matanya.

 

“Pelit!” Taemin terus mengekori adiknya itu tanpa mendengarkan protesan Kai. “Bagaimana kabar Luhan?” Tanya Taemin lagi saat masuk kedalam kamar Kai.

 

“Kurasa baik. Memangnya kenapa?” Tanya Kai sambil merebahkan dirinya diatas ranjang.

 

“Kau dingin sekali pada namja yang kau sukai.”

 

Kai memutar bola matanya. “Memangnya aku pernah bilang kalau menyukainya? Dasar sok tahu!”

 

Taemin ikut berbaring diranjang Kai. “Dari ekspresi wajahmu saja aku tahu kalau kau menyukainya.”

 

Dengan malas Kai menghela nafas panjang. “Aku memang tertarik padanya namun.. kurasa aku tidak menyukainya dalam artian lain.”

 

Mendengar ucapan Kai, Taemin menghela nafas malas. “Ahh.. Pandai sekali kau mengelak, Jongin!”

 

“Sesukamulah!” Kai membalikkan tubuhnya membelakangi Taemin.

 

“Aku sudah memiliki orang yang kucintai..” bisik Kai dalam hati.

 

 

>>> 

 

 

“Gwenchana, Luhan?” Tanya ahjumma pemilik took cake itu.

“Ah.. Mianhae..Ahjumma..” sesal Luhan karena baru saja berbuat kesalahan. Luhan salah memberikan pesanan pelanggan, salah mengembalikan uang kembalian, salah mencatat pesanan dan berbagai kesalahan lainnya. Luhan sama sekali tidak konsentrasi melakukan apapun.

Apa yang terjadi pada dirinya?

Dari tadi ia hanya memikirkan Sehun..

Ya..

Sehun..

 

“Luhan.. berhentilah memikirkan Sehun dan berkonsentrasilah!” ujar Luhan dalam hati.

 

 

“Kalau kau sedang tidak enak badan, kau bisa pulang Luhan.” Ahjumma pemilik Cookies tampak khawatir.

“A..Ani.. Aku baik- baik saja ahjumma. Aku hanya sedikit lelah.”

“Kau yakin?”

“Tentu.”

“Baiklah..Kembali bekerja.” Ujar ahjumma pemilik toko itu.

Luhan tersenyum dan kembali berjalan menuju kasir. Salah pelayan toko cake itu tersenyum melihat Luhan yang kembali bekerja bersamanya.

“Lain kali kalau kau letih bisa minta tolong padaku, kan?” ujar namja manis itu sambil memberikan uang kembalian pelanggan sambil tersenyum manis.

“Ne~ Akan kulakukan lain waktu, Xiumin.” Luhan menyusun cake- cake mungil didalam etalase dan pendingin.

 

Criiinggg

 

Bunyi bell tanda pintu terbuka tertangkap oleh pendengaran Luhan. Secara reflek Luhan melihat kearah pintu yang terbuka..dan mata Luhan membulat seketika itu.

 

“Selamat siang.. Mau pesan apa?” Tanya Xiumin lembut pada namja tampan yang baru saja datang.

 

“Se..Sehun?!” ujar Luhan kaget.

 

Namja yang baru datang itu ternyata adalah Sehun. Jujur Luhan kaget sekali dan ia tidak menyangka Sehun akan datang ketempat ia bekerja.

 

Sehun menatap Luhan kemudian mulai memesan pada Xiumin. “Aku ingin bubble tea.”

 

“Hanya itu?” Tanya Xiumin sambil mencatat pesanan Sehun pada computer khusus.

“Ne..”

Sehun kembali melihat Luhan kemudian berjalan menuju meja kosong yang terletak disudut ruangan. Luhan menatap Sehun hingga duduk dimeja kosong itu.

“Bi..Biar aku yang membuatkan bubble tea-nya.” Luhan memegang lengan Xiumin yang akan membuat Bubble tea kedalam dapur.

“Hmm.. Baik.”

 

 

[Luhan POV]

 

Kutatap tajam bubble tea yang baru saja aku buat untuk Sehun. Oh Tuhan! Jantungku berdebar- debar!

Ini berlebihan, Luhan!

Yang datang hanyalah Sehun dan..kenapa aku harus gugup seperti ini!

Oke! Calm down.. Fuuh!

Dengan sangat hati- hati kuletakkan segelas bubble tea diatas nampan kayu dan membawanya menuju meja Sehun. Dari jauh sudah kurasakan tatapan mata Sehun yang menatapku dalam hingga aku sampai dihadapannya.

 

“Hai..”sapanya saat aku meletakkan bubble tea diatas mejanya.

 

“..Tumben tuan Sehun ketoko kue kecil seperti ini..”

 

Ah! Kenapa kau malah menyindirnya Luhan! Seharusnya kau menanyakan keadaannya, bukan menyindirnya seperti itu.

 

Sehun tertawa pelan. “Tidak bolehkah?”

 

“Tentu saja boleh..” jawabku sangat yakin. Seandainya ia tahu betapa aku ingin melihat wajahnya dan..aku merindukannya.

Aku mengakui hal itu.. aku memang merindukannya.

 

“Kau pulang jam berapa?” Tanya Sehun lagi.

 

“Mungkin satu jam lagi..”

 

“Baiklah.. Tidak keberatan jika aku menunggumu?”

 

Mataku membulat mendengar ucapan Sehun. “Eh? Kau mau menungguku?”

 

“Ya..”

 

Walau aku bingung, aku hanya bisa mengiyakan ucapan Sehun. Dengan kikuk aku tersenyum dan memeluk nampan kayu itu.

 

“Kalau begitu aku kembali bekerja dulu..”

 

“Ah..Silahkan..” Sehun mengangguk kemudian meminum bubble tea-nya.

 

Aku berbalik badan dan berjalan menjauhi mejanya. Namun aku tidak bisa berhenti tersenyum. Oh Tuhan! Bisakah menstabilkan kembali detak jantungku?

 

 

Author POV

 

Sehun berdiri diluar Cookies sambil melipat tangannya didada. Ia benci sekali menunggu, namun kali ini berbeda.

Ia sama sekali tidak keberatan jika harus menunggu Luhan. Bahkan ia begitu bersemangat dan dengan senang hati melakukannya.

Asal ia bisa melihat senyuman manis Luhan.

Menunggu berjam- jam pun ia rela.

 

Klek

 

Sehun membalikkan tubuhnya dan melihat Luhan yang baru saja keluar dari Cookies.

 

“Maaf lama menungguku..”

 

“Tumben kau minta maaf.” Kali ini Sehun yang menyindir Luhan. “Biasanya kau akan mengataiku yang aneh- aneh.”

 

Luhan menghela nafas panjang dan mencubit lengan Sehun.

 

“Ap..Appo!! Iiiishh.. Ahh!!” Sehun Nampak sangat kesakitan.

 

Luhan mengerutkan dahinya melihat respon berlebihan Sehun. “Hey! Aku tidak mencubitmu terlalu keras.”

 

Sehun tersenyum tipis dan wajahnya benar- benar menyiratkan rasa sakit. Luhan menyadari sesuatu.

Dengan cepat Luhan memegang tangan Sehun dan menyingkap lengan baju Sehun. Mata Luhan membulat saat melihat beberapa luka gores yang terukir dilengan putih Sehun.

 

“Bisa jelaskan semua luka ini padaku, tuan Sehun?” Tanya Luhan menyelidiki.

 

Sehun menelan kasar air liurnya. “I..Ini..Hahaha.. Kenapa ya?”

 

Luhan menghela nafas panjang dan menarik tangan Sehun yang sebelahnya. Luhan membawa Sehun kesebuah taman didekat sana dan mendudukkan Sehun disebuah bangku taman.

 

“Tunggu aku disini!” perintah Luhan pada Sehun.

 

“Kau mau kemana?” sergah Sehun cepat dan menangkap lengan Luhan.

 

“Aku akan keapotik membeli obat luka dan perban. Tunggu aku disini saja.”

 

Sehun mengangguk dan melepas tangannya dari lengan Luhan. “Cepat! Jangan lama- lama!”

Luhan memutar bola matanya. “Ne!”

 

 

 >>>

“Ah! Bisakah kau mengobatiku dengan sedikit rasa sayang?” protes Sehun saat Luhan menaruh alkohol diluka goresan Sehun.

“Memangnya kau  kenapa bisa terluka seperti ini?” Tanya Luhan penasaran dan mengambil kapas baru.

Sehun tampak berfikir sejenak dan senyuman manis terukir dibibir tipisnya. “Kalau aku katakan kabur dari rumah bagaimana?”

“Eh?” Luhan menatap Sehun tidak percaya. “Apa maksudmu Oh Sehun!!”

“Aku dikurung dikamar.. dan dengan beraninya aku memecahkan jendela kamarku.. Boom! Aku turun menggunakan selimutku.. kemudian..” Sehun melirik luka- luka pada lengan kanannya. “..terciptalah luka ini.” Sambungnya penuh kebanggaan.

 

“UWAAA!! LUHAN, APPO!” Sehun merasakan lukanya perih bukan main karena Luhan menekan keras kapan beralkohol keluka- luka Sehun. “Ya! Apa kau tidak tahu seberapa perihnya itu?!”

 

“Kau yang tidak tahu! Orang tuamu pasti sangat cemas.”

 

“Mereka pasti cemas!” Sehun malah menyetujui kata- kata Luhan.

 

“Lantas? Kau sendiri tahu orang tuamu akan khawatir!”

 

Sehun tersenyum tipis. “Mereka khawatir karena penerus keluarga mereka kabur..bukan anak mereka yang kabur.”

 

DEG

 

Gerakan Luhan terhenti. Ia tatap wajah Sehun yang kini menampakkan sebuah kesedihan. Mungkin Luhan tidak akan paham karena ia dibesarkan dengan kasih sayang penuh kedua orangtuanya.

Namun ia mengerti.. rasa kesepian Sehun yang mengharapkan kehangatan yang seharusnya ia dapatkan dari sebuah keluarga.

 

“Sehun.. Maaf jika aku terlalu ikut campur.. aku bukannya mau menasehatimu atau bermaksud menyinggungmu.. tapi.. tidak seharusnya kau berfikir seperti itu.”

 

Sehun menatap Luhan tidak mengerti.

Luhan tersenyum sesaat kemudian mengambil perban dan melilitkan perban itu pada luka Sehun. Tidak mendapat respon, Sehun ikut diam dan menatap tangannya yang diperban Luhan.

Suasana hening dan Luhan masih belum mau berbicara hingga lilitan perban dilengan Sehun selesai ia kerjakan.

 

“Selesai!” ucap Luhan girang kemudian menatap lembut mata tajam Sehun yang ternyata sudah menatapnya dengan dalam.

 

“Tidak! Kau belum menyelesaikan perkataanmu yang tadi..”

 

Luhan menghela nafas dan kini ia menatap langit yang mulai berwarna orange. Langit senja yang nampak begitu indah melingkupi suasana hening dan senyap dua namja yang larut dalam pikiran masing- masing.

 

“..Luhan?” Sehun mulai bosan menunggu.

 

Akhirnya Luhan memulai. “Sehun.. cara orangtua membahagiakan anak disetiap keluarga berbeda- beda…karena setiap manusia mempunyai pemikiran yang berbeda. Maka dari itu manusia sangat unik.”

 

Sehun mengerutkan dahinya tidak mengerti. Namun ia masih tetap diam karena Luhan nampaknya akan segera menyambung perkataannya.

 

“..ada cara yang salah namun benar menurut mereka.. dan menimbulkan salah paham setelahnya.”

“Maksudmu?”

Luhan menatap Sehun dalam dan menggenggam tangan Sehun. “Pernahkah kau menceritakan kegundahan hatimu pada orang tuamu, Sehun?”

 

Sehun menggeleng.

 

“Orangtua adalah orang terdekat yang kita miliki. Saat kau mendapat masalah atau sedang kebingungan.. orangtua-lah yang akan menjadi penenang luar biasa yang akan membuatmu merasa lebih baik.. saat kau merasa bahagiapun orangtua-lah tempat terdekat untuk membagi kebahagiaan itu.. Apa kau pernah melakukannya Sehun?”

 

Sekali lagi Sehun menggeleng. “..Mereka tidak akan pernah mendengarkanku.. oemma hanya sibuk dengan organisasi social dan urusannya sendiri.. appa hanya menganggapku sebagai penerus nama besar keluarga Oh.. mereka bukan menganggapku sebagai anak..”

 

Luhan menggenggam erat tangan Sehun dan tersenyum manis. “Pernahkah kau mencoba membicarakannya dengan orang tuamu?”

 

“Sudah kubilang mereka tidak aka-“

 

“Kau belum mencobanya Sehun… Itulah yang membuatmu dan orangtua-mu jauh..”

 

“Kau tidak mengerti!”

 

Luhan menghela nafas pelan. “Maafkan aku Sehun.. tapi tidak ada salahnya kau mencoba, kan? Yang kau perlukan berbicara pada orang tuamu.. kau masih memiliki kesempatan untuk merubahnya.”

 

“Mereka tidak akan mendengarkanku!” suara Sehun terdengar meninggi.

 

“Mereka pasti mendengarkanmu!” sergah Luhan. “Bicaralah sebagai Oh Sehun.. Bicaralah sebagai seorang anak..”

 

Mata Sehun membulat mendengarkan pernyataan tajam Luhan. “A..Aku..”

 

“Selama ini anggapanmulah yang membuat dinding pemisah Sehun.. kau selalu menganggap dirimu sebagai boneka orangtuamu.. dan kau tidak mau membuka hatimu untuk mengembalikan sesuatu yang seharusnya kau usahakan..”

  

Sehun menunduk dan melepas genggaman tangan Luhan. “..Percuma!”

 

“Sehun.. Aku minta maaf jika ucapanku menyinggungmu.” Luhan tampak tidak enak hati. “Apa ucapanku terdengar seperti omong kosong?”

 

Sehun berdiri dan melangkah menjauhi Luhan. Dengan cepat Luhan memasukkan sisa perban dan alcohol kedalam tasnya kemudian mengejar Sehun.

 

“Mianhae..” ucap Luhan pelan menyamakan langkah kakinya dengan Sehun. Luhan melihat guratan kemarahan dan wajah Sehun sangat merah.

“Sehun!” Luhan berjalan kedepan Sehun dan menghentikan langkah Sehun dengan memegang kedua pundak namja tampan itu. Mata Sehun melihat kearah lain tidak berani menatap mata Luhan yang memandangnya tajam.

 

“Maafkan aku.. apa aku membuatmu merasa terpojok?”

 

Sehun menghela nafas panjang dan menatap Luhan dengan dalam. “..Aku hanya berfikir ucapanmu.. benar.”

Luhan menunduk dan melepaskan kedua tangannya dari pundak Sehun.

 

“Luhan.. maaf.. aku bukannya mengatakan ucapanmu salah atau.. aku tidak tahu! Selama ini aku tidak mempermasalahkan apapun perintah appa dan oemma-ku.. aku akan menerimanya walau hatiku tidak ingin.. namun..” ucapan Sehun terhenti.

 

“..bukanlah kau yang mengajariku untuk melakukan apa yang kuanggap benar Luhan?”

 

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap mata Sehun. Angin senja mulai merasuki tulang mereka.

 

“..Tidak masalah bagiku jika harus mengikuti semua perkataan appa-ku..lagipula selama ini aku memang hidup seperti itu.. tapi hanya ada satu alasan mengapa aku tidak bisa mengikuti alur hidupku yang dulu..” Sehun tersenyum tipis.

 

“A..Apa?” Tanya Luhan ragu.

 

Sehun menghela nafas panjang dan menarik tangan Luhan agar posisi mereka tambah dekat. Sehun menatap mata Luhan dengan tajam.

 

“Kau.”

 

Mata Luhan membulat mendengar ucapan Sehun. “..Aku?”

 

Sehun menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya. Luhan hanya bisa terdiam ditempat.

Atau..

Luhan memang tidak bisa menolak perlakuan Sehun?

 

Mata mereka semakin dekat, desahan nafas masing- masing mulai menyentuh wajah kedua namja yang kini saling menautkan hatinya.

Tidak menunggu sebuah penghalang, Sehun menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Luhan. Penyatuan yang sangat lembut tanpa paksaan. Sangat manis.

Mata Luhan melebar merasakan bibir Sehun yang mengunci bibirnya. Namun bukannya menolak Luhan menutup matanya menikmati ciuman hangat pemberian Sehun.

Ciuman singkat itu terputus saat Sehun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Luhan. Walau ciuman itu hanya terjadi beberapa detik, namun bisa dipastikan perubahan wajah kedua namja itu akan bertahan beberapa menit lamanya.

Kedua wajah namja itu memerah.

 

Luhan memegangi bibirnya dan menunduk. “.Napeun..K..Kau mencuri ciuman pertamaku..”

 

Ucapan Luhan membuat wajah Sehun semakin merah. “..Kau juga..”

 

Luhan mendongakkan wajahnya menatap wajah merah namja tampan yang merebut ciuman pertamanya. Ungkapan yang begitu polos dari Luhan.

 

“…itu juga ciuman pertamaku.” Sambung Sehun.

 

Mereka diam seketika itu. Rona merah masih menguasai wajah mereka.  Seakan menjadi saksi bisu akan sebuah perasaan manis yang akan mereka perjuangkan.

 

“..Maaf aku tiba- tiba menciummu..” Sehun buka suara.

 

Luhan menunduk dan meremas tali tasnya. “Ke..Kenapa?”

 

Mendengar pertanyaan Luhan, Sehun seketika itu terdiam. Ia tampak berfikir namun jawaban pasti tidak ia dapatkan. Hanya sebuah jawaban samar- samar yang harus ia akui.

Mengapa ia mencium Luhan?

Sehun mengepalkan tangannya dan menatap Luhan dalam. “Aku..aku tidak tahu mengapa bisa denganmu..namja bodoh yang sangat cerewet dan pikirannya terlalu lugu. Dimataku kau sama sekali tidak menarik, sangat menganggu dan selalu membuatku pusing dengan setiap tindakanmu yang kupikir..tidak normal.”

 

“Hey! Jangan mengejekku!” mendengar ejekan Sehun tentu Luhan menjadi sangat sebal. Sehun mencercah dirinya tanpa ampun.

  

“Aku tidak mengejekmu. Itu fakta yang kurasakan tentangmu! Kau mengacaukan pikiranku dan duniaku dalam sekejap! Kau.. Kau membuatku bingung dan membuatku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sama sekali..”

 

“Maksudmu?” Luhan nampaknya belum mengerti dengan pernyataan Sehun.

 

Sehun menelan kasar air liurnya dan menghela nafas panjang. “Ternyata kau memang pabo..”

“Ya! Ka-“

“Aku menyukaimu.”

 

Perkataan telak Sehun membuat Luhan terkejut bukan main. Tubuh Luhan seketika itu membeku dan jantungnya tidak berdetak dengan kecepatan normal. Bisa ia rasakan wajahnya memanas dan tangannya berkeringat.

 

“Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya Sehun kemudian.

 

“Se..Sehun..”

 

“Aku.. tidak akan memaksamu. Aku ingin kau memikirkannya, Luhan. Aku bersungguh- sungguh.”

 

Luhan merasakan hatinya bergemuruh. Ia senang dan sangat teramat senang. Tidak bisa ia pungkiri kalau ia sangat menginginkan ucapan manis yang baru beberapa detik lalu terlontar dari bibir Sehun.

 

“Sehun.. Jika aku bodoh katakan dengan sangat lantang.”

 

“Eh?” Sehun tidak mengerti dengan ucapan Luhan.

 

“..Sejak pertama bertemu denganmu.. aku sudah merasakan sebuah perasaan aneh. Entah mengapa aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja..padahal kau sama sekali tidak pernah memperlakukanku dengan baik. Dan.. sejak awal aku menyukai namja jahat itu yang selalu memperlakukanku dengan seenaknya. Apakah aku bodoh?”

 

Sehun tersenyum manis dan ia menarik tangan Luhan agar bisa memeluk tubuh mungil itu. Luhan masuk kedalam dekapan Sehun.

“Iya.. Kau bodoh, Luhan.”

Luhan membalas pelukan Sehun. “Syukurlah kalau begitu… karena aku bodoh… aku menyukaimu.”

 

 

 

>>> 

 

Kediaman Tao.

 

“Bacon!” rajuk Tao pada sahabat baiknya itu.

Baekhyun menghela nafas panjang. “Baiklah~ Aku tidak akan mengatakan apapun pada Yifan-ge.”

Tao mengangguk pelan dan matanya menatap tajam Kris dan tunangannya yang sedang menikmati makanan yang tersedia di pesta besar itu. Dirumah Tao memang sedang diadakan pesta. Tepatnya berpesta sambil berbisinis. Dan salah satu alasan Keluarga Wu datang dari Canada ke Korea adalah pesta ini.

 

“Tao.. Aku jadi tidak tega jika melihatmu murung seperti ini.” Baekhyun memegang pundak Tao.

“Tidak apa- apa, Bacon. Aku..Aku tidak mau merusak kesenangan Kris-ge. Lihatlah.. yeoja itu sangat cantik.”

“Aku akui yeoja itu sangat cantik dan sepertinya ia yeoja yang cukup baik dan lembut. Saat ia menyapa kita tadi.. hmm.. Namanya Lay, kan?”

Tao mengangguk. “Iya. Dia sangat lembut dan perhatian. Selama ia tinggal disini, ia sama sekali tidak pernah berbuat hal- hal aneh.”

 

 

Baekhyun menarik tangan Tao agar menjauh dari pesta dan duduk diberanda. Angin malam tidak membuat kedua namja manis itu merasakan kedinginan.

“Lebih baik kita membicarakan hal lain… Oh ya.. Padahal aku sangat merindukan Chanyeollie, tapi dia malah pergi ke Belanda.”

Baekhyun tersenyum manis dan mengeluarkan ponselnya. “Bagaimana kalo kita menelpon Chanyeol.”

“Ide bagus!”

 

Baekhyun menelpon Chanyeol dan setelah beberapa detik, Chanyeol mengangkat sambungan telponnya.

 

“Oh yes baby! Baekhyunnie, kau menelponku!” teriak Chanyeol diseberang sana.

 

Tao dan Baekhyun tertawa pelan mendengar suara riang Chanyeol yang memang di loudspeaker-kan oleh Baekhyun.

 

“Chanyeollie..” sapa Tao dengan sangat riang.

 

“Tao? Ahh! Aku merindukanmu.. Bagaimana pesta dirumahmu?” Tanya Chanyeol.

 

“Tidak begitu menyenangkan tanpa ‘Happy Virus’.” Jawab Tao sambil tersenyum sedih.

 

“Aigoo.. Tao jangan bersedih. Aku akan berada di Korea dua hari lagi. Aku akan langsung menemuimu. Aku berjanji. Ah! Baekhyunnie~ Kau masih disana?”

 

“Ne~ Aku disini, Yeollie.” Jawab Chanyeol.

 

“Kirim foto kalian berdua yang sedang berpesta. Aku ingin melihatnya..”

 

Tao dan Baekhyun tersenyum. “Baiklah.. nanti akan kami kirim. Kau sekarang sedang ada dimana?” Tanya Baekhyun.

 

“Aku? Aku masih dibandara. Aku baru sampai dan saat aku menghidupkan ponselku, kau langsung menelpon.”

 

“Hmm.. Baiklah. Kalau begitu nanti kami telpon lagi.” Baekhyun mengakhiri.

 

“Tunggu! Er.. Kau sudah menelpon Luhan? Apa dia baik- baik saja?”

 

“Aku sudah menelponnya sebelum datang kepesta Tao. Dan.. kau tahu? Sekarang dia bersama Sehun.”

 

“Woah? Benarkah? Kalau begitu Luhan aman, kan?”

 

“Kurasa begitu nanti aku akan menghubungi Luhan lagi.”

 

“Hmm.. Baiklah. Selamat bersenang- senang. Tao.. kau mendengarkanku?”

 

“Ya?” jawab Tao.

 

“Tao.. jangan murung kau harus terus semangat ya. Jangan terlalu dipikirkan.” Ujar Chanyeol seakan mengetahui kegundahan hati Tao.

 

“Xie xie.. Cepatlah pulang.” Tao tersenyum senang.

 

“Ne.. Baekhyunnie~ Nanti malam pastikan kau belum tidur sebelum aku menelponmu. Kau tahu? Aku langsung merindukanmu.. aku bersumpah.. wajahmu selalu membayangi setiap langkahku.”

 

Baekhyun memutar bola matanya. “Ne ne.. kau selalu begitu kalau sudah berpergian. Aku tidak akan tidur sampai kau menelpon. Oke?”

 

“Oke.. Ah! Sudah dulu ya. Aku harus mengambil koper.”

 

“Ne.. annyeong.” Ujar Tao dan Baekhyun bersama- sama.

 

Setelah sambungan telpon putus. Tao menatap Baekhyun tajam seakan menyelidiki.

“Wae?” Tanya Baekhyun heran.

 

“Apa terjadi sesuatu pada Luhan? Kenapa kalian mengatakan seolah- olah Luhan sedang dalam bahaya?” Tanya Tao yang ternyata menyadarinya.

 

Baekhyun menghela nafas panjang. “Maaf Tao.. aku bukannya tidak mau membicarakannya denganmu.. hanya saja kau sedang ada masalah. Aku  tidak mau menambah beban pikiranmu.”

“Katakan saja, Bacon. Kumohon..” rajuk Tao.

 

Akhirnya Baekhyun menceritakan semua yang terjadi saat Tao tidak masuk sekolah. Tao mendengarkan penjelasan dan cerita Baekhyun dengan serius. Sangat serius hingga mata Tao tidak berkedip menatap Baekhyun.

Tao dan Baekhyun tidak sadar, dari kejauhan ada sepasang mata yang mengamati kedekatan mereka. Sepasang mata yang menatap tidak suka atau lebih jelasnya.. cemburu.

 

 

>>> 

 

Kai baru saja selesai private pelajaran bahasa Inggris. Dengan malas ia kembali berjalan kekamarnya, ia sangat mengantuk dan ingin cepat- cepat beristirahat. Pelajaran membosankan itu baru berakhir pukul 10 malam. Tentu Kai sangat kelelahan kini.

Namun langkahnya terhenti saat melihat Taemin dengan seseorang sedang bersenda gurau diruang tamu. Melihat seberapa dekatnya mereka, tentu bisa ditebak namja tampan itu adalah kekasih Taemin.

Kai hanya menatap dua namja yang kini tampak sangat mesra dari balik pintu. Ia bahkan tidak berani walau sekedar bertegur sapa. Sosok Taemin yang begitu berbeda jika bersama  namja tampan itu.

“Andai saja kau tahu siapa yang benar- benar kusukai, hyung..” bisik Kai pilu.

 

TBC

 

 

 RCL ya chigu ^^

Siapapun yang baca tolong RCL yaaaa ^^

kebanyakan FF disini sudah mau tamat semua😀 hehe

kalau ada masukan silahkan kasih tau hyobin😀

Yang pada req FF hyobin baru bisa masukin ke LIST dulu ya.. soalnya lagi fokus buat ulang FF yang ilang. kalo udah bisa buat yg baru hyobin akan usahakan FF req didahulukan😀

RCL nya jangan lupa ya… KOMEN NYA PASTI HYOBIN BACA DEH! kalau ada yang nanya pasti hyobin jawab ^^ okesip!!

gamsahamnida😀

 

247 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 6

  1. ciyeee yang jadian uhuy

    jangan-jangan kai suka taemin???
    cinta terlarang

    aaaa iri sama baekyeol u.u

    penasaran ini gimana perasaan kai
    *gigit bantal

  2. wahh… hunhan jadian.. yeyeye lalala..😀 daebak dah.. tapi bingung juga yang disukai kai itu taemin atau pacarnya taemin.. -_-”
    kayaknya yang memandang cemburu ke baektao kriss kann?? baekyeol lucu >< hehehe.. nice ff ^^

  3. seneng banget akhirnya hunhan jadian :* chukkae! oh yah makin penasaran aja nih,, oh iya ini aku udah RCL eon.

  4. Huwaaaaaaa akhirnya hunhan jadian chukkae.. Tapi kayaknya jalannya nggak mulus deh..

    Baekyeol so sweeeeetttttt.. Aku suka baekyeol yg mesra begini..

    Jangan bilang kai suka sama taemin.. Itu minho kan kkkkkkk…

    Lanjuuutttt..

  5. Ehhh kai suka siapa omgomg penasaran
    CIE HUNHAN AAAAAAA *happy shipper*
    Cuma balik lagi penasaran…. Kai suka siapa?
    Ah senangnya ada baekyeol, tapi itu siapa pula yang jealous sama tao?
    Ah lanjut lanjut jut jut

  6. Sehun Oppa kabur dari rumah.Abis bagaimana dengan ayah Sehun Oppa.Sehun juga melakukanini kerana lulu ku…sedih…aku suka part luhan Oppa mengubati Sehun Oppa.Daebak author cerita kamu selalu bikin aku penasaran.

  7. sehun sabar nak-.- uwaaa hunhan jadian ulalaa~~ baekyeol moment!!! uughh!! jangan bilang kai suka sama taemin? oh~ tidaaakk!!!

  8. hunhan finally *o* unyu bangeeeet, kebayang sehunnya gantle gitu, luhannya jg lembut amat yak. wkwkwk
    tao kasian atuh ih, tp aku selalu suka part chanbaektao. mereka selalu punya kesan manis🙂
    aku curiga sama orang yg disukai ama kai-_-

  9. Waaaaaaa…. BaekYeol moment lucu bgt!!! mereka cocok jadi eomma sama appanya luhan..
    YEEEEAAAAY! AKHIRNYA HUNHAN JADIAN!!! Sehun-Luhan bikin aku gemes pengen cubit pipinya!!!
    semoga yang cemburu sama kedekatan tao-baekhyun itu KRIS!!! meski kris udah punya tunangan tapi tinggalin aja, demi tao.
    imajinasi authornya keren banget!

  10. Kyaaa hunhan jadian :3 seneng banget masa pas bacanya kkk. Kai suka sama siapa………? Sama sehun ya? Apa sama minho? ‘-‘ lanjut ah biar tau jawabannya/??

  11. Yaaaaaaayyyy hunnie nembak luhan baby, kkkkk akhirnya! Chukkae hunhan, apapun rintangannya harus dihadapi bersama ne? kekeke. Bagus thor! Daebak. Aku suka ffnya^^
    Aku baca chap selanjutnya ne:)

  12. Yaaaaaayyy hunnie nembak luhan baby! Akhirnya mereka jadian juga, kkkkk. Chukkae hunhan! Apapun rintangan dari appa sehun, kalian harus tetap bersama sampai maut memusahkan kalian *udah kayak pendeta aja-.-”

    Yang natap cemburu ke arah baekyeol itu kris ya thor? Hem, ternyata oh ternyata.

    Ah siapa sih yang disukain kai? Taemin apa pacarnya?:/ hmmm. Sulit sekali cintamu kai.

    Daebak thor, aku suka ffnya. Aku lanjut baca chap selanjutnya ne:)

  13. cieee yang baru jadian, cieee yang ciuman hihihi manis banget momentnya ;a;;; baekyeol apalagi so sweet banget ><
    yaampun kai jangan-jangan kai suka sama hyung-nya/? oh noooo cinta terlarang uu
    lanjut baca ah~~~~

  14. Aku punya feeling ujungnya HunHan KaiSoo *ketawa iblis*
    HAHAHA THOR.. jalan ceritamu ketahuan >:3
    Chapter ini kayaknya lebih fokus ke other pairingnya ya._. *author nunjuk-nujuk adegan Sehun nembak Luhan* *nyengir tak berdosa*
    Engga tau kenapa adegan nembaknya kurang nyantol kak ._.

    btw btw— asekasek kris cemburu eaaaa😄
    Lay dikemanain? ((*kris nendang lay ke laut* Kris: Tuh ke laut..))
    Oke itu sadis😄
    aku lanjut baca yaaa😀

  15. di chap ini aku gak mau bahas hunhankai kak,
    soalnya makin sulit ditebak, takut2 salah tebak ntar kecewa..😦
    Soalnya belum berani nntuin itu abang saya yg paling keceh bakalan untk siapa sehun atau kai???? #GALAUNISASI😦
    mlah sehun udah maju satu langkah dari kai lagi, haduh luhan juga udah nerima… *pusing*
    lanjutkan, semoga pilihannya gk salah..

    ane mau bahs CHANBAEK, alias emak dan abah saya,
    kak aku galau gegara adegan ini,
    “Dua hari kedepan aku tidak akan masuk sekolah. Aku mencemaskanmu.” Chanyeol terlihat sangat khawatir. Baekhyun merangkul pundak Luhan dan tersenyum manis.

    “Chanyeol tidak perlu khawatir. Kau harus cepat bersiap. Bukankah kau akan pergi dua jam lagi?” Baekhyun berusaha tersenyum. Sebenarnya ia sedih karena akan berpisah dari Chanyeol dalam dua hari kedepan.

    Chanyeol menghela nafas panjang dan mengusap rambut Baekhyun. Bisa dipastikan kalau namja manis satu ini nantinya yang paling ia rindukan.

    “Kalian berdua baik- baik disini ya. Aigoo.. Appa sangat berat meninggalkan oemma dan anak appa.”

    Mendengar perkataan Chanyeol Luhan terkekeh pelan. “Baiklah! Hati- hati dijalan, appa!”

    Wajah Baekhyun merona merah. “Cara bicaramu benar- benar mirip ahjusshi- ahjusshi! Memangnya berapa usiamu, oeh?”

    Chanyeol tersenyum manis dan menatap Baekhyun lembut. “Daripada mengomel… Oemma tidak mau memberikan ciuman hangat sebelum appa pergi bertugas?”

    “YA! Kau berbicara seperti akan pergi perang saja!” Baekhyun memutar bola matanya. Luhan masih tertawa kecil. Ia pasti merindukan Chanyeol dan Baekhyun yang heboh seperti ini.

    “Ciumnya mana?” Chanyeol masih kekeuh dengan keinginannya. Baekhyun mencibir dan mencubit lengan Chanyeol keras hingga namja itu terpekik kesakitan.

    “Appo, Baekhyunnie..”

    “Sudahlah sana pergi! Aku akan mengantar Luhan dahulu ke Cookies.” Baekhyun mengayunkan tangannya seraya mengusir Chanyeol.

    Masih dengan senyuman manis, Chanyeol mengangguk mantap dan membuka pintu mobilnya. “Hati- hati.. Setibanya di Belanda, aku akan menghubungi kalian.”
    itu sebenarnya hubungan chanbaek apa??????? penasaran😦😦😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s