[OneShoot- HUNHAN] Rainy Night

Title: Rainy Night

Author: Nine-tailed Fox

Genre: Romance, Fluff

Cast: Oh Sehun

          Lu Han

Length: 1 shoot

Warning: OOC, BL, DLDR!

 

Aiyooooo!! Ketemu lagi sama sayah! Haha!

Aduuhh! Ini niatnya bikin romance tapitapitapi…yah beginilah jadinya, maaf kalo ga memuaskan! Ini ff Hunhan pertamakuuu!

 

Rada susah juga sih…saya sebenernya udah mulai bosen sama kisah-kasih disekolah, tapi sayangnya main otp saya di EXO ini…si Sehun selaku seme-nya, masih bocah! Masih petek! Jadi susah membayangkan dia kerja kantoran pake jas jadi Exmud…haha! Terlalu muda.

 

Eh, rumah Sehun disini terinspirasi setelah nonton drama Korea can you hear my heart…jadi bayangin aja rumahnya si Cha Dong Joo.

 

Okelah!

Tarik mang!

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

Malam berhujan yang cukup lebat.

 

Langit terus menjatuhkan butiran air-nya bertubi-tubi untuk menyerang bumi. Petir sesekali waktu menggelegar memecah hamparan langit, memperdengarkan gemuruhnya yang menyeramkan, membuat malam semakin menakutkan.

 

-“Sehun, ini Chanyeol…hari ini kau kemana? Kenapa tidak masuk kerja? Awas kalau besok bolos lagi.”-

 

-“Bos! Apa kau gila, hah! Hari ini Komisaris Jung mencarimu, dia memarahi kami habis-habisan karena lagi-lagi kau tidak ikut rapat direksi! Besok akan kubunuh kau!!-

 

-“Sehun, ini aku Baekhyun. apa kau sehat? Sudah dua hari kau tidak masuk kerja tanpa kabar…apa ada masalah lagi dengan Luhan, dia kelihatan tidak bersemangat saat aku menemuinya di toko?”-

 

‘Pip~’

 

Sehun menon-aktifkan mesin penjawab telponnya seraya berjalan menuju jendela yang masih setia menyuguhkan pemandangan malam berhujan diluar sana.

 

Ia menghela nafas panjang. Pesan kedua tadi adalah pesan dari Jongin, teman satu SMA-nya yang kini bekerja bersamanya dalam satu divisi disebuah perusahaan pemproduksi peralatan olahraga nomor satu di Korea Selatan yaitu Hunter’s Enterprise. Perusahaan yang sebenarnya adalah usaha milik keluarga Sehun sendiri, keluarga Oh.

 

Berbicara mengenai masalah pekerjaan. Sehun tak lupa jika ini adalah hari kedua ia membolos kerja. Tanpa memberi kabar atau menelepon salah satu rekannya di kantor. Tak heran jika Jongin mengamuk, sejak dulu sahabatnya itu memang paling tidak suka kalau Sehun mulai bersikap seenaknya.

 

Dan mendengar suara Baekhyun yang menyebut nama Luhan tadi…membuat perasaannya kembali gundah.

 

“Hhhh…~”

 

Sehun membuang nafas lagi…kali ini hingga pita suaranya bergetar. Ia duduk ditepi jendela yang memang sengaja didesain khusus menyerupai sebuah sofa, dengan tambahan beberapa bantal di tiap ujungnya agar dapat bersandar lebih nyaman.

 

Sehun suka hujan…tapi ia jauh lebih menyukai Luhan hingga tak dapat diukur seberapa besar perasaannya itu. Tentu saja, Luhan adalah kekasihnya tercinta. Luhan pun menyukai hujan…namun Sehun yakin sekali kalau Luhan jauh lebih menyukai dirinya.

 

Mereka saling menyukai…

Mereka saling mencintai…

Bukan hanya karena mereka adalah sepasang kekasih…namun karena mereka adalah Oh Sehun dan Lu Han.

 

Tapi saat ini…seorang Sehun hanya seorang diri menikmati malam berhujan yang ia dan Luhan sukai. Padahal biasanya, tak hanya satu atau dua malam ia habiskan bersama dengan Luhan-nya tercinta…bermain game, memasak, menyusun puzzle atau memecahkan rubik. Setiap hal yang ia lewati bersama Luhan…meski hanya hal-hal kecil namun terasa begitu menyenangkan dan menghangatkan hati.

 

Luhan-nya…

Ia merindukan Luhan-nya…sangat.

 

“Menurut kalian…aku harus bagaimana?”

 

Namja tampan itu kini telah berdiri didepan akuarium besar yang berdiri kokoh ditengah-tengah ruang keluarga rumahnya. Rumah milik Sehun yang bergaya modern-minimalis. Sudah dua tahun ini ia memang tinggal terpisah dari keluarganya.

 

“Kenapa kalian tidak menjawabku? Apa kalian lapar? Baiklah…aku akan memberi makan kalian…”

 

Sehun meraih setoples kecil makanan ikan yang terletak disebelah alat pembuat udara dalam air diatas akurium lalu menjatuhkan beberapa butir makanan ikan. Senyum terlukis indah dibibirnya ketika dilihatnya ikan-ikan kecil nan lucu itu menyerbu makanan mereka.

 

“Dasar kalian rakus…banyak makan tapi tidak tumbuh besar sama sekali.”

 

Ia mendengus lalu meletakan kembali toples berisi makanan ikan ditangannya pada tempat semula. Sehun tak dapat memberi makan ikannya terlalu sering atau banyak karena dapat membuat air akuarium-nya menjadi keruh. Ikan hias seperti ini memang terlihat lebih cantik jika airnya bersih.

 

Semua ikan-ikan ini Luhan yang memilihnya. Banyak sekali warna, ada kuning bersirip biru, biru dengan corak hitam, bergaris hitam putih seperti zebra, motif polkadot merah, berwarna keperakkan juga ungu gelap. Semua berjumlah tak lebih dari sepuluh dengan ukuran sebesar ibu jari Sehun.

 

“Hei…kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa yang seharusnya kulakukan?”

 

Sehun bersedekap seraya menatap tajam ikan-ikan lucu tak berdosa didepannya. Kedua mata teduhnya melebar saat mendapati seekor ikan berwarna hitam mendekati ikan lainnya yang berwarna putih.

 

“Menurut kalian…aku harus minta maaf, begitukah?” Sehun kembali berkata pada ikan-ikannya, mengingat kembali kejadian dua hari lalu dimana tanpa sengaja ia memecahkan pot berisi bunga daisy putih kesayangan kekasihnya itu “Ah, tidak tidak…aku tidak salah, aku tidak akan minta maaf padanya.”

 

Ikan putih itu lalu berenang menjauhi sang ikan hitam. Sehun kembali melebarkan kedua matanya. Hei, mengapa ikan putih itu terlihat seperti…Luhan? Tanpa diduga sang ikan hitam melesat dengan cepat menghampiri ikan putih yang telah bersembunyi dibalik karang, seolah ia tak dapat jauh terlalu lama dari sang ikan putih.

 

Seperti halnya ia yang tak dapat jauh dari Luhan.

Dua hari ini adalah dua hari terhampa dalam hidup seorang Oh Sehun.

 

“Yah…aku, aku memang merindukannya…sangat merindukannya…”

 

Sehun menyentuh permukaan kaca akuarium tepat dibagian ikan hitam-putihnya berada…sorot matanya berubah sendu, seandainya itu adalah dirinya dan Luhan. Hati ini pastilah sungguh bahagia sekali rasanya.

 

Luhan…

Satu nama yang membuat tidurnya tak tenang dua hari ini…

Luhan…

Satu nama yang membuat resah dan gundah enggan pergi dari hatinya.

Luhan.

Satu nama yang dirindukannya melebihi apapun didunia ini.

 

Meminta maaf memang bukan gaya dari seorang Oh Sehun. Selama dua setengah tahun hubungan ini terjalin, tentu saja diwarnai kisah-kasih yang selalu berbeda. Dan entah bagaimana bisa terjadi…tiap kali mereka bertengkar, pastilah selalu Luhan yang terlebih dulu memohon maaf padanya.

 

Oh lihatlah…

Betapa egoisnya seorang Oh Sehun ini.

Bahkan terhadap orang yang dicintai sepenuh hati saja…diri ini tetap tak sudi merendahkan hati untuk mengalah dan membuatnya bahagia.

 

Bukan hanya dua hari ini…namun selama ini, Sehun telah salah dalam memilih cara menunjukan rasa cintanya pada sang kekasih.

 

“Aku tahu…sepertinya…aku berhutang budi pada kalian.”

 

Sehun tersenyum lembut memandang ikan-ikannya yang entah mengapa sangat ia suka malam ini…terutama yang berwarna hitam dan putih yang kini tengah berenang bersama dengan gesit, ehm, lebih tepatnya yang berwarna hitam itu selalu mengejar kemana pun yang putih pergi.

 

“Aku pergi sebentar…kalian jaga rumah, oke?!”

 

Setengah berlari Sehun meraih jaket kulitnya yang tersampir pada sandaran sofa, didalam sakunya telah terdapat kunci mobil dan ponsel miliknya. Segera ia melesat menuju pintu geser rumahnya yang terbuat dari kaca lalu membukanya dengan cepat.

 

‘Sreegg!’

 

Tubuh Sehun membeku seketika saat kedua mata teduhnya menemukan sebuah benda yang menarik perhatian terparkir tepat dihalaman rumahnya. Skuter matic milik Luhan yang berwarna putih ada disana…tak jauh dari mobilnya yang tertutupi penutup parasut. Skuter itu dihantam jutaan butiran air, lengkap dengan helm yang digantung di kaca spion.

 

Mengapa…benda itu ada disini?

 

“Di…dingin…~”

 

Indera pendengaran Sehun menangkap suara pelan nan lirih diantara deru air hujan yang masih setia berjatuhan dari langit kelam.

 

Lelaki tampan bermata teduh itu menoleh…dan nafasnya tercekat saat mendapati sosok mungil mengigil dalam keadaan basah kuyup tengah duduk memeluk kedua lututnya dan terduduk tak berdaya disamping pintu.

 

Ia mengenali sosok tersebut…meski sosok itu tengah menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

 

“Lu…han?”

 

“Ng?”

 

Sosok itu bereaksi…kepalanya terangkat dengan lemah lalu menoleh pada Sehun, hingga ia dapat melihat sorot matanya yang sayu dan nampak lelah. Namun tak lama mata sayu itu segera melebar dan menunjukan keterkejutannya.

 

“Se-Sehun?!!”

 

Luhan langsung berdiri tegap setelah mengusap wajahnya yang basah dengan tangannya yang basah pula…sekujur tubuhnya basah dari ujung kaki hingga kepala, bibirnya bergetar dan giginya saling beradu memperdengarkan suara gemertak kecil yang membuat Sehun merasa pilu.

 

“Se-Sehun…aku…aku datang karena ada yang ingin kukatakan padamu…aku min…-“

 

“Jangan katakan.”

 

“Eh?”

 

“Jangan katakan apapun, aku tidak ingin mendengarnya.”

 

“Ke-kena…-“

 

Deru hujan terdengar pelan, udara terasa hangat ketika Luhan mendapatkan pelukan dari orang yang dicintainya saat itu juga…ia bahkan tak sanggup melanjutkan ucapannya. Sehun telah lebih dulu merengkuh tubuhnya erat…mengusir hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya dan membuainya dalam kehangatan ditengah malam berhujan ini.

 

“S-Sehun…”

 

“Maafkan aku…”

 

Tubuh Luhan menegang…nafasnya terhenti tepat didadanya, jantungnya berdegup kencang hingga rasanya seolah gempa.

 

Suara Sehun yang terdengar seperti bisikan itu…menciptakan gejolak tak biasa dalam hatinya.

 

“Aku minta maaf…bukan hanya untuk kesalahanku dua hari lalu, tapi juga kesalahanku selama ini. Maaf… telah membuatmu bersusah payah menghadapi sikapku yang egois dan tak mau mengalah….”

 

Nafas Sehun terasa panas ditelinganya…membuat telinga beserta pipi Luhan merona dengan cepat. Lelaki cantik itu menyadari hal tersebut, ia sedikit merasa tersipu lalu memutuskan untuk membalas pelukkan Sehun dan mendekap tubuh namja tampan itu tak kalah erat.

 

Tangan mungilnya membelai lembut punggung Sehun, Luhan juga menekan bibirnya pada bahu Sehun dan menghirup aroma cologne sang kekasih yang memanjakan indera penciumannya.

 

Wangi tubuh Sehun yang begitu ia sukai dan membuatnya merasa nyaman.

 

“Apa kau bersedia untuk memaafkanku…Ruru?”

 

Hati Luhan kembali bergejolak aneh, seluruh pembuluh darahnya seolah meletup-letup riang mengirimkan sinyal kebahagiaan keotaknya…saat ia dengar Sehun menyebut sebutan kesayangan untuknya ditengah deru hujan deras.

 

Luhan tak dapat berkata-kata…hati ini telampau bahagia hingga ia tak dapat mencegah senyum terukir dibibir manisnya.

 

“Aku tidak pernah marah pada Sehun, sekalipun ingin…sekeras apapun aku mencoba, aku tetap tidak bisa marah pada Sehun…jadi sebenarnya, Sehun tak meminta maaf pun, tidak masalah bagiku.”

 

Malam ini langit menggantikanku untuk menangis.

Air matanya jatuh satu persatu membasahi bumi…

 

Namun, suara merdumu selalu terngiang jelas …

Meski butiran air mata langit terus berjatuhan menciptakan musiknya sendiri.

 

Mulut ini tanpa kusadari selalu menyebut namamu.

Otakku ini tanpa kusadari selalu membayangkan sosokmu.

Hati ini tanpa sadar…selalu mengharapkan kehadiranmu.

 

Dirimu…yang begitu kucintai.

 

Sehun memeluk Luhan semakin erat saat ia sadari kalau ia begitu mencintai sosok bertubuh mungil ini. Tak habis Sehun berpikir…bagaimana caranya, tiap untaian kata yang keluar dari mulut Luhan…selalu mampu membuat hatinya bergetar dan membawa perasaannya mengawang melewati lapisan atmosfer bumi.

 

Astaga.

Ia mencintai namja ini.

Ia tak bisa kehilangan namja ini.

Sungguh ia tak kan mampu bertahan tanpa Luhan disisinya.

 

“Sehun…?”

 

Sadar rengkuhannya terlalu erat…ia memutuskan untuk mengakhirinya karena tak ingin Luhan merasa sesak. Ditatapnya paras indah itu yang kini sedikit merona meski bibirnya masih sedikit bergetar karena dingin.

 

Tatapan keduanya saling bertemu saat Sehun mengusap pipi Luhan dengan punggung jemari tangannya…berusaha membuat kekasihnya itu sedikit merasa hangat.

 

“Sehun…bagaimana kalau kau ganti kalimat ‘Aku minta maaf.’ dengan kalimat ‘Aku mencintaimu.’ ?”

 

Sehun tertegun menatap Luhan yang kini tersenyum jahil padanya…oh god! Manis sekali dia! keduanya lalu tetawa kecil bersama…lebih tepatnya, tertawa untuk menutupi ke-tersipu-an mereka.

 

“Aku mencintamu…aku sangat mencintaimu.”

 

Keheningan menyeruak dengan cepat…hanya senyum dibibir Sehun yang masih bertahan sementara senyum Luhan telah sirna sepenuhnya. Hanya tersisa sorot mata ketidak-percayaan dihadapan Sehun saat ini.

 

Namja tampan itu hanya tersenyum lalu meraih satu tangan Luhan dan menuntun telapak mungilnya untuk menyentuh dada kiri Sehun.

 

“Kau bisa merasakannya? Karena dirimu…jantungku bekerja dua kali lipat. Rasanya lelah tapi menyenangkan. Terima kasih…telah memberiku perasaan ini.”

 

Luhan masih belum mampu berkata-kata atau sekedar membalas ucapan Sehun…entahlah, ini terlalu aneh ia rasa. Suatu perasaan aneh membuat hatinya bergejolak tak karuan, ia tak tahu harus melakukan apa, ia tak tahu harus berkata apa…ia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum. Apa disaat seperti ini lebih baik tersenyum…atau bagaimana?

 

“Ak-aku…aku…aku…”

 

Pernyataan cinta Sehun yang begitu mendalam ini…membuat jantungnya seolah ingin meledak begitu saja.

 

Dan Sehun yang sepertinya menyadari hal tersebut…hanya menahan tawa lalu menangkupkan tangan dikedua sisi wajah Luhan.

 

“Ru…tatap aku.”

 

Tak terhindari lagi, Luhan mau tak mau menghadapi mata teduh Sehun yang menatapnya lembut dan dalam. Seketika itu juga kedua pipinya terasa panas, bahkan telinganya juga…dan jantungnya semakin berdegup kencang ketika Sehun memejamkan kedua matanya dan dengan perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan. Mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, Luhan mencoba menenangkan diri dan turut memejamkan mata. Menanti sentuhan hangat dan lembut bibir Sehun terhadap bibirnya.

 

Namun belum sempat semua itu terjadi…suara petir menggelegar memecah sunyi disusul oleh padamnya listrik yang menghanguskan saat penting mereka berdua.

 

.

.

.

 

“Sehun, kau masih menunggu diluar kan??!!”

 

“Iya aku masih disini, kau tenang saja!!”

 

Sehun sedikit berteriak untuk menjawab Luhan yang masih berada didalam kamar mandi…padamnya listrik membuat namja cantik itu tidak berani mandi sendirian, namun tidak mungkin juga jika Sehun mandi bersamanya didalam. Akhirnya tak ada cara lain selain menunggui Luhan selesai dan berjaga dipintu kamar mandi.

 

Hampir dua puluh menit berlalu Sehun berdiri sambil memainkan senter ditangannya, Luhan mandi ditemani penerangan lilin didalam sana. Sebenarnya cukup pegal juga, namun kekasihnya itu selalu bertanya apakah ia masih ada diluar setiap lima menit sekali membuatnya tak dapat melarikan diri.

 

‘Klek~’

 

Suara terbukanya pintu menarik perhatian Sehun dan membuatnya berhenti melempar-lempar senter merahnya.

 

Sosok mungil Luhan muncul dibalik daun pintu. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Sehun yang tampak menenggelamkan tubuh mungilnya. Sehun tertegun…segera ia telusuri sosok dihadapannya ini dari ujung kaki hingga puncak kepala. Astaga! Astaga! Manis sekali! Membuat namja tampan tersebut tak kuasa untuk tak kembali melayangkan pelukkannya…begitu ingin melindungi dan menghangatkannya.

 

“Se-Sehun…ada apa?”

 

“Kau mandi tidak menggunakan air hangat dan tanpa mengeringkan rambutmu karena listriknya mati…kau tidak merasa kedinginan?”

 

Luhan menggeleng pelan dalam pelukan Sehun…dalam keadaan seperti ini, ia dapat mendengar suara degup jantung Sehun yang begitu cepat sama seperti miliknya. Irama hati yang begitu ia sukai.

 

“Aku baik-baik saja.”

 

Perlahan Sehun melepas pelukkanya dan keduanya saling bertemu pandang. Namja tampan itu lalu meraih satu tangan Luhan dan membawa namja cantik itu mengikutinya.

 

“Ayo kita periksa tegangan listriknya.”

 

Keduanya berjalan menuju bagian belakang rumah dengan Sehun yang terus menyalakan senter sebagai penuntun jalan. Dirasanya Luhan menggenggam tangan kirinya erat dengan kedua tangan.

 

“Kenapa kau ketakutan sekali? Tidak biasanya…”

 

Sehun bicara sambil terus menatap kedepan…lagi-lagi ia merasa genggaman Luhan semakin erat terhadap tangannya.

 

“I-iya, tadi siang Baekhyun datang ke toko sambil membawa film horror, dia memaksaku menemaninya menonton karena takut kalau sendirian…akhirnya aku ikut menonton juga.”

 

“Sudah tahu penakut kenapa masih tetap menontonya?”

 

“Ha-habisnya…aku penasaran.”

 

Langkah Sehun berhenti dengan tiba-tiba membuat Luhan tersentak kaget…namja tampan itu lalu membalikan tubuhnya menghadap sang kekasih dan dengan cepat menyentil pelan kening namja cantik tersebut.

 

“Auh!”

 

Luhan memekik kaget sekaligus sakit kemudian segera mengusap keningnya…dan dengan kedua pipi yang menggembung lucu ia menatap kesal Sehun yang menatapnya datar.

 

“Booo…~ doh.”

 

Dengan cepat Sehun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya…sambil sesekali membayangkan kepolosan dan keluguan kekasihnya itu, tak jarang rona merah tipis hadir menghiasi kedua pipi putihnya.

 

“Bagaimana?”

 

Luhan bertanya dengan was-was pada Sehun yang kini tengah menaiki tangga untuk memeriksa sakelar tegangan listrik didekat ventilasi pintu gudang. Namja tampan itu menggigit senter dengan cahaya tetap mengarah pada sakelar.

 

“Sepertinya rusak karena petir tadi…dan dalam keadaan hujan deras seperti ini, petugas perbaikan kemungkinan baru bersedia datang esok hari.”

 

“Lalu…sekarang bagaimana?”

 

Sehun turun dari tangga dan melipatnya lalu menyandarkannya didinding…ia kembali meraih tangan Luhan dan membawa kekasihnya itu menuju ruang kelurga.

 

“Kita gunakan lilin saja. Aku punya banyak dirumah ini.”

 

.

.

.

 

“Wuah! Lilin yang ini lucu sekali, bentuk gajah! Kalau yang ini bentuknya beruang…wah lucu-lucu semua!”

 

Luhan mengeluarkan satu persatu lilin dari dalam dus. Ia tak mengira Sehun ternyata menyimpan lilin begitu banyak, dengan berbagai bentuk, warna dan wangi pula.

 

Ia kini tengah duduk beralaskan karpet didekat grand piano putih milik Sehun seraya membongkar dus lilin didepannya, hanya dengan penerangan seadanya dari sebuah lampu listrik tenaga batrai kecil di atas meja. Sehun masih sibuk mencari persediaan korek api dengan bantuan senter ditangannya.

 

“Bagaimana? Sudah ketemu koreknya?”

 

“Iya, sudah…ayo kita susun lilinnya.”

 

Keduanya lalu mulai menyusun lilin-lilin tersebut dilantai dekat grand piano. Atas keinginan tidak penting Luhan yang tak kuasa Sehun tolak, jadilah mereka menyusun lilin berbentuk hati dengan ukuran cukup luas.

 

“Kurasa lilinnya terlalu banyak…”

 

“Sudah tidak apa-apa…ayo cepat nyalakan pasti akan bagus sekali!”

 

Sehun menghela nafas pasrah merutuki ketidaksanggupannya menolak Luhan…ia beranjak dari duduknya bersama Luhan ditengah-tengah lilin bentuk hati tersebut untuk membubuhi api pada lilin satu persatu. Luhan hanya memandangnya dengan kedua matanya yang berbinar senang…dan setelah semua lilin menyala, Sehun melangkah menuju meja untuk mematikan lampu listriknya lalu kembali ketengah-tengah lilin dan duduk dibelakang Luhan seraya memeluk pinggang ramping kekasihnya.

 

“Lihat apa kataku…lilinnya jadi bagus sekali bukan kalau disusun seperti ini?”

 

“Ya…kau benar, Ru…”

 

Sehun tersenyum tipis seraya mengeratkan pelukannya dipinggang Luhan membuat tubuh mereka semakin menyatu, ia menyamankan dagunya di bahu kanan Luhan yang kecil sementara Luhan memposisikan tangannya diatas tangan Sehun yang melingkari pinggangnya.

 

Keheningannya tercipta dengan cepat…tak ada seorang pun dari sepasang kekasih tersebut yang mengeluarkan suara. Dalam sunyi mereka asyik menikmati api-api kecil disetiap lilin yang menari-nari lincah tertiup angin entah dari mana.

 

Luhan merasa sangat nyaman dan hangat dalam pelukan Sehun…begitu pula Sehun yang merasa kalau tubuh mungil Luhan begitu pas dan menyenangkan untuk ia peluk.

 

“Setelah ini apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita tak mungkin terus seperti ini sampai waktunya tidur, bukan?”

 

“Ng…” Luhan mulai berpikir mengenai ucapan Sehun. Memang benar tak mungkin juga terus berpelukan seperti ini dikelilingi lilin berbentuk hati. Situasi ini terlampau romantis layaknya drama atau novel asmara…Luhan dapat memastikan kalau jantungnya benar-benar akan meledak jika ia dan Sehun terus berpelukan seperti ini sampai waktunya tidur “Bagaimana kalau kita langsung tidur saja?”

 

“Aku belum mengantuk…”

 

Sehun menggeleng dan Luhan kembali berpikir…ia harus cepat berpikir sebelum rasa kantuknya semakin menjadi. Jujur saja dalam posisi seperti ini, bersandar didada Sehun dalam pelukannya yang hangat membuat matanya ingin cepat-cepat terpejam.

 

“Bagaimana kalau kita main piano saja?” namja cantik itu segera melepaskan pelukan Sehun dan berdiri menghadap sang kekasih yang masih terduduk. Dengan wajah antusias, ia meraih lengan Sehun dan menariknya agar namja tampan itu segera berdiri “Ayo main piano saja…lagipula kau pernah berjanji akan mengajarkanku piano, bukan?”

 

“Disaat seperti ini?”

 

“Tentu saja…ayo cepatlah berdiri, Oh Sehun!”

 

Lagi-lagi Sehun tak kuasa menolak permintaan kekasih manisnya itu. Ia tak melawan sama sekali ketika Luhan menarik lengannya dan menyeretnya menuju grand piano putih didekat mereka. Dan karena Sehun yang akan mengajarkan Luhan…jadilah hanya Luhan yang duduk sementara Sehun tetap berdiri, dibelakang sang kekasih dengan tangan kiri yang merangkul pundak Luhan sementara tangan kanannya sibuk menuntun tangan sang kekasih di atas tuts piano.

 

“Seperti ini?”

 

“Bukan, tapi seperti ini…lalu seperti ini…ini rendah dan ini tinggi. Kau mengerti? Ikuti aku…”

 

Jemari kanan Sehun menuntun jemari Luhan bergerak dengan benar diatas tuts…jemari kurus dan kecil Luhan yang tentu saja tak sebesar dan sekokoh miliknya. Sehun dapat melihat raut wajah Luhan yang tampak gembira, suara tawanya bahkan lebih merdu dari deru hujan yang tak kunjung berhenti membasahi bumi.

 

“Mengapa susah sekali, ya?”

 

“Karena kau bodoh…”

 

“Hei! Enak saja! Minggir, aku bisa melakukannya sendiri!”

 

Namja tampan itu menahan tawa dan rasa geli di perutnya…terlebih saat Luhan malah menepis tangan Sehun dan dengan sok pintar mencoba memainkan music-nya sendirian.

 

Ah…adakah saat-saat yang lebih indah dari saat ini?

Pasti ada.

Selama ia dan Luhan bersama…akan selalu ada saat-saat menyenangkan yang tercipta untuk mereka lewati bersama.

 

Sehun tersenyum tipis namun lembut. Menatap lekat namja terkasihnya itu dengan tanpa sadar tangan kirinya yang memeluk leher Luhan mencengkram lembut bahu kanan kekasihnya tersebut…satu kecupan manis mendarat di puncak kepala Luhan. Namja cantik itu sepertinya menyadari hal tersebut namun tak menggubrisnya karena masih asyik menguntai melodi diatas tuts piano.

 

“Sehun, lihat…aku bisa melakukannya sendiri.”

 

Wangi tubuh Luhan yang tiba-tiba saja menguar, membuat Sehun terbuai dengan cepat…wangi tubuh Luhan begitu harum. Entah parfum atau sabun apa yang digunakan kekasihnya itu…namun harumnya selalu tercium manis seperti permen dan manisan.

 

Sehun bukanlah penikmat makanan manis…ia justru menghindarinya.

Namun hanya satu yang tak dapat ia hindari apalagi menolaknya…yaitu manisnya seorang Lu Han.

 

Namja tampan itu semakin merendahkan tubuhnya seolah tertarik akan aroma tubuh Luhan yang menghipnotis seluruh indera di tubuhnya.

 

“Bagaimana, Sehun? Kenapa sedari tadi kau diam saja?”

 

Dan tanpa disengaja puncak hidung mereka saling beradu saat Luhan menoleh kebelakang, kedua matanya membulat sempurna saat menemukan sepasang mata teduh milik Sehun didepannya.

 

Luhan membeku seketika…begitu pula dengan Sehun. Hanya kelopak mata yang berkedip, menjadi satu-satunya bagian tubuh yang dapat bergerak sementara degup jantung dan serbuan derasnya hujan menjadi satu-satunya sumber suara diantara mereka.

 

“S-Se-Sehun…”

 

Namja tampan itu bertahan dalam diam…sorot mata teduhnya yang tajam seperti elang, menatap langsung dan dalam mata Luhan membuat namja cantik tersebut merasa tidak tenang…dan gugup. Dan Luhan mulai kesulitan mengatur irama nafasnya saat tangan Sehun, entah sejak kapan telah beralih menyentuh leher jenjangnya.

 

Perlahan, dengan punggung jemarinya Sehun menyusuri leher Luhan…pelan dan lembut menikmati halus serta lembutnya permukaan kulit putih bersih sang kekasih.

 

Luhan meneguk liurnya paksa…seluruh tubuhnya terasa mendidih, sentuhan Sehun membuat darahnya berdesir hebat. Darah hangat yang kemudian naik ke kepala lalu menghadirkan rona merah dipipinya.

 

Ia tak sanggup lagi menghadapi situasi seperti ini.

Luhan memutuskan berpaling namun tangan Sehun menahan pergerakan lehernya dan memaksa namja cantik itu kembali menatap mata teduh nan tajam miliknya.

Senyum terlukis indah dibibir Sehun…senyum lembut dan tulus.

 

“I Love You.”

 

Dan…

Terjadilah apa yang seharusnya terjadi ketika mereka masih berada didepan pintu rumah Sehun…kali ini langit berbaik hati dengan tidak menghadirkan kilatan petir yang mampu menghanguskan saat-saat bahagia mereka.

 

Dua bibir itu menyatu dengan sempurna dan mendalam. Saling berbagi rasa dan kasih sayang dalam perpaduan cinta yang tak tersurat hanya dengan untaian kata semata.

 

Tidak semua pelangi hadir dikala hujan telah usai.

Ada satu pelangi yang selalu hadir…bahkan tatkala air mata langit masih setia berjatuhan membasahi daratan.

Pelangiku satu-satunya…Lu Han.

 

~THE END~

 

Emak apa ini!

Malu lah saya ngetiknya sumpah!

Lebay ya…iya saya tau ini lebay.

Makasih udah bacaaaa!

 

AKTF!!

138 thoughts on “[OneShoot- HUNHAN] Rainy Night

  1. thehunnie thombong…. wkwkwkwk
    tapi untunglah mereka baikan.
    HunHan-Hunhan! mereka serasi banget sih!
    jadi gemes pengen nikahin..
    FFnya keren!! pembahasaannya juga bagus..
    Terus berkarya ya!

  2. kereeeennn thor😀 paling suka ff oneshoot berakhir happy ending dan kalau yg ada dalam cerita itu couple hunhan baekhyeol ,kaisoo,taoris itu pas bangett.dan disini banyak ffnya komplit wkwk😀

  3. Huuaaa,FFnya manis banget u_u
    Makin kesemsem sama couple yang satu ini ^^
    Bahasanya juga keren. Duhh, ga tau mau comment apa lagi.

    Buat author, makin sering bikin FF HunHan ya /puppy eyes/? kkk
    Figthing thor ~

  4. demi apa,ini keren banget! daritadi gue ngomong dalem hati ‘jangan dulu end dong ffnya’ eh gak lama,end juga! tapi gak apalah,ini keren! author sip banget deh! keep write!

  5. huwaaaaaaaa
    ini manissssss pas bgt saat mlm2 gini *apadeh*
    kwkwkwkwkw
    sayang dsini ujannya dah berhenti..
    hunhan kyeowo~~~~~
    bener tuh oh sehun egois banget. gamau deh luhan punya pacar kayak dia.. hehehehe maunya kaya gue kali ya? *ngimpi*
    jjang author~~~
    nice story
    kaya poke2 rainbow nih hehehe

  6. Tidakkkk!!!!!!
    Someone Call The doctor
    thor tanggung jawab aku diabetes hunhan.. aigoo..aigooo..ini manis bangetttttt+!!!!!!!!!
    Buat yang kayak gini lagi dong… samaa… ff nya ChanLu yg heart to heart cepet lanjut yaaaaaaa…….
    -gomawo ♥♥

    #KibarBannerHunHan

  7. Kyaaaaa demi luhan yang manis, sumpah ini so sweet banget aaaaaaa bahasa nya keren bikin merinding/? ini romantis bgt author coba kalo di bikin sequel lg pasti tambah keren wkwk ditunggu ff lainnya author😄

  8. huaaaaaaaa…..!!!! thoorr… otak gue lepaaassss :v :v :v sumvah gua bcanya smbil ggit2 bntal, lmpar2 kaoskaki, bnerin tv yg rusak << halahh :v :v sumvah thor,daebak bingit ^_^ jdi senyam senyum gaje sndri dahh :`v akooh terhura \^_^/ gumaweo ne buat ff daebaknya😀

  9. Nggak tau ini ff kapan tapi suasana nya romantic banget >< gabisa move on dr hunhan kopel. Minnnn.. baper tenggo
    Love love i♥♥♥♥♥♥♥

  10. anjayyy keren bangett aseli…
    suka banget,, romance’nya ngena banget>,<
    HunHan'nya juga pada imut elaah…
    sequel kali thor…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s