Sequel : YOUR WOLRD [ Into Your World Part 1] BaekYeol / ChanBaek

Annyeong~ 

Dari pada ngegalau  ama SMTOWN INA lebih baik baca ep ep Hyobin daaaah /modus aamaaatt/

hahaha

iya deh Hyobin juga galau  u,u  tapi gak apa- apa lagi🙂 ayo chingu jangan galau yaaah 

semoga tahun depan ada lagi, ayo nabung buat SMTOWN tahun depan (^o^)9 temangaaatttt >.<

OH YA MASALAH PASSWORD LOVE FAILED CHAP 7, jangan TAKUT minta ama Hyobin yaaa.. Kalau belum komen, silahkan komen dulu. Pada nyangka g bisa dapatin lagi ya PW nya kalo belum komen😦 Hyobin pasti kasih kok PW nya kalau chingu komen ^^ jadi silahkan komen chap sebelumnya dulu baru minta ama Hyobin. Cara mintanya silahkan lihat di IMPORTANT TO READ ^^

hwaiting ya chingu yang belum komen ^^ Ayo  komen LF chap sebelumnya supaya dapat PW~ 

gomawoyo chinguya~ ILOVEUALLSOMUCH~

FF BAEKYEOL / FF CHANBAEK

INTO YOUR WORLD

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

 

 

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun

Other : Lu Han – Kyungsoo / D.O – Kim Jongin 

Genre : Action, Drama, Angst, Psycho, Blood, Romance

Disclaimer: EXO belong to themselves. 

WARNING : FOR 15+ AND THIS FF IS YAOI / BL/ BOY X BOY

 

INTO YOUR WORLD

PART 1

 

“Aku menginginkanmu.”

 

Kupikir itu kata- kata kutukan yang akan mengikatku pada takdir mengerikan

Namun kenyataannya…

Itu adalah mantra kebahagiaan darimu untuk menarikku…

Kedalam duniamu.

 

If you want me

Come on, FIGHT ME!!

Close your eyes

And

I will be anything for you.

 

 

 

 

 

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Chanyeol dan Baekhyun bertemu.

ITALIA, malam harinya.

Dikediaman keluarga Mafia Corolla keturunan Korea, Italia Utara.

 

 ————————————————— 

“Benarkah apa yang barusan kau katakan?” Tanya namja cantik bernama Baekhyun sangat penasaran kepada bawahan ayahnya itu.

 

“Menurut ramalan saya memang seperti itu, tuan muda. Percintaan anda sangat tidak terduga dan saya rasa pasti sangat mengesankan.”

 

“Tapi kenapa aku berfikir akan terjadi hal yang menyeramkan?”

 

Sang pelayan itu tersenyum. “Semua tergantung anda, tuan muda. Ah.. Saya permisi tuan muda.”

 

Pelayan keluar dari kamar megah Baekhyun dan namja cantik itu menghela nafas panjang.

 

Baekhyun diam sejenak. Entahlah, yang dipikirkannya selalu saja menerawang. Ia memang belum pernah merasakan bagaimana jatuh cinta ataupun memiliki kekasih. Cinta bukanlah hal yang umum dibicarakan keluarga mafia. Dan Baekhyun dibesarkan dengan hal- hal semacam itu.

 

Cinta…

 

Bukan masalah hidup yang harus ia pikirkan karena tujuan hidup Baekhyun adalah belajar sebaik mungkin menjadi penerus keturunan Mafia itu. Baekhyun memang memiliki seorang kakak laki- laki dan ia sangat bangga pada kakak laki- lakinya itu. Sungguh tampan, cerdas, dan sangat berwibawa.

 

Baekhyun berdiri dari sofa besar yang dari tadi ia duduki dan beranjak menuju beranda kamarnya yang bersibakkan tirai sutra putih nan lembut dan wangi. Baekhyun berdiri dipagar pembatas beranda dan memandang pemandangan malam kota Italia yang sangat romatis. Kamarnya yang terletak dilantai 4 sangat stategis untuk menatap pemandangan malam indah berkilau itu.

 

Srek

 

Baekhyun mengambil sesuatu dari kantong jas kulitnya yang berwarna hitam. Ia tatap amplop putih itu dan tersenyum pasti, sebuah tiket pesawat.

 

“Ini tugas pertamaku.”

 

 

 

>>>

Sementara itu di Jepang.

 

Namja tampan yang kini duduk dikursi kerjanya dari tadi sibuk memainkan tablet-nya. Beberapa kali ia hentakkan jari panjangnya untuk menekan screen ponselnya.

“Eh? Mafia Byun? Ah! Aku hampir saja lupa kalau besok ada transaksi penting dengan mafia Itali itu.” sentak namja tampan bernama Park Chanyeol.

Seketika itu, Chanyeol menekan tombol hitam yang ada dimeja kerjanya. “Lay, masuk keruanganku.”

 

Tidak menunggu lama, Lay, kaki tangan Chanyeol masuk kedalam ruangan dan berdiri tegak didepan meja Chanyeol.

“Ada apa, Chanyeol-nim?”

 

“Besok ada transaksi lagi?”

 

“Ya, Chanyeol-nim.”

 

“Waktunya?”

 

“Sekitar  jam 10 pagi.”

 

Chanyeol mengangguk. “Kau sudah menyelidiki siapa utusan yang akan bertransaksi denganku?”

“Tentu. Utusan dari keluarga Byun adalah anak beliau langsung. Namanya Byun Baekhyun.”

“Mereka orang Korea?”

“Tepatnya keturunan Korea, Chanyeol-nim.” Jawab Lay tegas. Chanyeol kembali mengangguk dan memainkan tablet-nya dengan malas.

“Kau ada foto atau data tentang si utusan itu?”

“Sebentar, Chanyeol-nim.”

 

Lay keluar dari ruangan Chanyeol dan tidak sampai 5 menit kemudian ia masuk kembali sambil membawa beberapa map data. Dengan sopan ia serahkan map itu dan Chanyeol langsung membuka map data itu dengan cepat.

Chanyeol mengambil sebuah foto yang diambil secara diam- diam. Namun saat mata besarnya menatap foto itu..

 

Oh Tuhan.

 

Chanyeol merasakan dunianya berhenti berputar dan nafasnya tersekat.

 

 

“Setelah pengeboman di Tokyo Dome, keluarga Byun mengerti sekali utusan yang dikirim pasti akan dimusnahkan. Jadi beliau mengirim anaknya yang akan dijual di pelelangan gelap di  Brazil, Chanyeol-nim.” Lanjut Lay.

“Heh?” mata Chanyeol mengarah pada Lay tajam.

“Kita tidak perlu memusnahkan utusan kali ini.”

Chanyeol kembali menatap foto namja cantik yang sedang menyebrangi jalan itu dengan tajam.  Kemudian senyuman manis terpampang jelas diwajah namja tampan itu.

 

“Welcome, cantik.”

 

 

>>> 

 

Chanyeol tersenyum manis saat melihat Baekhyun memberikan koper hitam besi itu pada Chanyeol.

 

 

“Setelah perdebatan selama 2 jam akhirnya cocok juga, ya. Kau namja yang keras kepala rupanya.” Chanyeol menghisap cerutunya.

 

 

Baekhyun tersenyum manis dan membuka kopernya. Ia perlihatkan apa yang ia bawa kehadapan Chanyeol.

 

 

“Deal!” jawab Chanyeol tegas.

 

 

“Baguslah.”

 

 

“Tapi ada syaratnya…”

 

 

Baekhyun menyipitkan matanya menatap Chanyeol. “Syarat?”

 

Chanyeol melirik tiga bawahannya dan mengisyaratkan untuk keluar dari ruangan itu. Alhasil Chanyeol dan Baekhyun hanya tinggal berdua saja.

 

 

“Kamu mau apa?” Baekhyun mulai waspada.

 

 

“Ini hanya syarat sederhana.”

 

 

“Heh?”

 

 

 

 

“Aku menginginkanmu.”

 

 

 

Mata Baekhyun membulat. Ia berdiri dan merasakan aura disekitar Chanyeol berubah. Ia memang diperingatkan oleh ayahnya untuk berhati- hati pada anak yakuza yang satu ini.

 

 

 

“Aku bukan untuk dijual.” Jawab Baekhyun setegas yang ia bisa.

 

 

 

Chanyeol ikut berdiri dan membuang cerutu yang ia hisap kesembarangan tempat. Baekhyun menelan ludahnya.

 

Chanyeol mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia tekan tombol virtual ‘Loudspeaker’di layar ponselnya. Seakan sengaja membiarkan Baekhyun mendengar percakapan telpon itu.

 

 

“Yoboseyo?”

 

 

Mata Baekhyun membulat saat mendengar suara ayahnya diseberang sana. Ternyata Chanyeol menelpon ayah-nya.

 

“Tuan yang terhormat, aku Park Chanyeol.”

 

 

“Hmm.. Apa anakku sudah melakukan transaksi dengamu?”

 

 

“Sudah… Tapi aku lebih tertarik dengan anakmu. Bagaimana ini?” tanya Chanyeol seakan merajuk. Baekhyun menggeleng pelan.

 

 

Hening sesaat sampai akhirnya ayah Baekhyun kembali memulai pembicaraan.

 

 

 

 

“Harga yang kau tawarkan?”

 

 

 

 

Mata Baekhyun membulat. Ia tidak pernah menyangka ayah-nya akan membiarkan Chanyeol membelinya.

 

 

Dengan seringai menakutkan, Chanyeol tersenyum mantap. “Harga yang kau mau?”

 

 

“10 Kali lipat dari yang kita janjikan untuk barang yang ditransfer hari ini.”

 

 

Chanyeol tersenyum pasti. “Boleh.”

 

 

“Baiklah. Kau kirim uangnya sekarang dan anak itu jadi milikmu.”

 

 

Chanyeol mengambil I-Pad nya dan mengacak- acak sebentar. Senyuman manis terukir lagi diwajah Chanyeol saat membaca tulisan dilayar I-Pad nya,Transfer Succes.

 

 

“Sudah kukirim. Silahkan check.”

 

 

Hening sejenak dan tawa renyah terdengar dari seberang sana. Ayah Baekhyun tertawa keras.

 

 

“Senang berbisnis dengan anda, Park Chanyeol.”

 

 

“Saya juga, Tuan Byun.”

 

 

 

 

Bruaakk

 

 

 

 

Baekhyun terduduk lemas. Wajahnya seketika itu basah dengan air mata. Ia benar- benar tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Ayah-nya benar- benar menjualnya pada namja bengis ini.

 

 

 

“Nah… Kuharap kau jadi anak baik..” Chanyeol mengendong tubuh Baekhyun membawanya keluar dari ruangan rapat restoran itu.

 

 

 

Baekhyun tahu mulai sekarang ia hanya sebuah boneka seorang Park Chanyeol. Namun.. tidak secepat itu.

 

Dengan keberanian yang ia kumpulkan Baekhyun berusaha melawan. Hey! Dia tidak lemah!

 

 

“LEPASKAN AKU BRENGSEK!!” Teriak Baekhyun sambil memukuli badan tinggi Chanyeol. Tidak bergeming, Chanyeol tidak mengindahkan teriakan Baekhyun.Tentu Baekhyun tidak putus asa, ia menggigit pundak Chanyeol.

 

“AGH!!” Pekik Chanyeol keras merasakan perih dipundaknya akibat ulah Baekhyun.

 

Dengan cepat, Baekhyun turun dari gendongan Chanyeol dan berlari. Baekhyun ingat betul kalau Kai masih menunggunya. Ya semoga Kai menunggunya.

 

“XIUMIN!” Teriak Chanyeol keras sambil memegangi pundaknya.

 

Tanpa ditunggu Xiumin langsung berlari menangkap Baekhyun dan dengan lihainya Baekhyun dapat ditangkap dengan cepat. Xiumin memegangi kedua tangan Baekhyun dari belakang dan berjalan kembali menghampiri Chanyeol.

 

“Berani juga kau melawanku.” Chanyeol tersenyum licik dan menjentikkan tangan kanannya. Lay menghampiri Chanyeol dan berdiri disebelah Chanyeol sambil membawa sebuah alat suntik yang sudah berisi obat bius.

 

Baekhyun menggeleng pelan. “Ja..Jangan!!”

 

“Suntik dia.” Perintah Chanyeol pada Lay.

 

“Baik.” Jawab Lay sopan dan berjalan mendekati Baekhyun.

 

“TIDAK!!” Pekik Baekhyun keras dan terus saja meronta. Hal itu mempersulit Lay untuk membius Baekhyun. Xiumin tampak memperkuat pegangannya pada kedua lengan Baekhyun.

 

GREP

 

Seketika itu Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dan mata mereka bertautan dengan dalam. Baekhyun terdiam seakan terpesona dengan mata besar nan indah yang kini begitu dekat dengan matanya.

 

“A..Ah…” Baekhyun mendesah pelan saat jarum suntik menembus kulit putih susunya.

 

Mata Baekhyun dan Chanyeol masih bertatapan.

 

Namun kekuatan mata Baekhyun mulai melemah akibat obat bius yang baru saja memasuki tubuhnya. Dengan cepat tubuh yang tadi meronta terkulai lemah dan Chanyeol menangkap tubuh itu didalam gendongannya.

Lay menjentikkan jarum suntik itu dan kembali memasukkannya kedalam koper sedangkan Xiumin berjalan cepat menuju mobil mereka. Lay mengikuti Xiumin dari belakang dan Chanyeol masih berada ditempatnya menggendong tubuh Baekhyun ala bridal.

 

“Cantik..” ujar Chanyeol pada Baekhyun yang sudah mulai tidak sadarkan diri. Mata Baekhyun sudah tertutup setengah.

 

“B..Breng..sek..” bisik Baekhyun akhirnya tertidur dalam pengaruh obat bius.

 

Chanyeol tersenyum mantap dan berjalan menuju mobilnya. Senyuman sama sekali tidak hilang dari bibir tebalnya. Sepertinya mood Chanyeol sangat bagus hari ini.

 

>>> 

 

Chanyeol masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan Xiumin dan Baekhyun tidur dipangkuannya. Xiumin yang menjadi supirnya melirik kaca spion fokus, menatap wajah Chanyeol yang juga sedang memandang kaca spion itu.

 

“Hari ini aku tidak akan pulang. Kita menuju markas pusat.”

 

Xiumin mengangguk dan membawa mobil mewah itu keluar dari perkarangan restouran diikuti mobil Lay dan satu mobil mengawal Chanyeol.

“..Hey, Xiumin..” ujar Chanyeol tiba- tiba.

“Iya, Chanyeol-nim?”

“Warna apa yang cocok dengan namja cantik ini?”

Xiumin tampak heran namun ia menjawab dengan suara tegas dan sopan seperti biasa. “Putih, Chanyeol-nim.”

“Kita se-ide kalau begitu. Setelah ini perintahkan beberapa bawahanku agar menyiapkan kamarnya. Aku ingin semuanya serba putih.”

Xiumin mengangguk. “Baik, Chanyeol-nim.”

 

 

>>> 

 

Baekhyun POV

 

Papa… Kenapa kau menjualku?

Apa aku tidak berguna lagi?

Mama… Apa aku tidak bisa bertemu denganmu lagi? Walau aku tidak pernah merasakan belaian kasih sayangmu…

 

Apa seperti ini rasanya dibuang?

Sakit sekali…

 

 

 

Author POV

 

Chanyeol sejak tadi memperhatikan Baekhyun yang tertidur diatas sofa megah motif negara bamboo kebanggaannya. Hanya orang- orang tertentu saja yang boleh menduduki sofa itu. Hanya adiknya Kyungsoo, mantan kekasihnya Luhan, dan… namja ini.

Chanyeol duduk disebuah kursi kayu dan terus membelai rambut namja cantik itu. Ia perhatikan lekuk wajah cantik yang begitu sempurna dimata Chanyeol.

 

Tes

 

Chanyeol terhenti ketika air mata jatuh dari sudut mata Baekhyun.

 

”Apa kau bermimpi buruk?” bisik Chanyeol seketika itu mengusap wajah Baekhyun. ”Beritahu aku, sayang…”

 

>>> 

 

Baekhyun akhirnya tersadar setelah lebih dari 6 jam tertidur. Ia berada disebuah ruangan besar yang megah. Sangat megah dan begitu luas iahu betul kalau ruangan itu adalah ruangan kerja mengingat banyak sekali laptop yang hidup dan meja- meja panjang yang berisikan berkas- berkas penting.

Namun ia hanya sendirian di ruangan itu.

Baekhyun kemudian duduk dan baru sadar kalau ia tertidur disebuah sofa yang seperti tempat tidur. Berwarna merah darah bermotif naga khas negara bamboo, China. Sangat indah. Baekhyun mengakui kalau ia bahkan menyukai sofa besar itu sekali lihat.

Dan yang Baekhyun herankan, bagaimana mungkin ia bisa ada disini? Ia bebas tanpa borgol atau ikatan lainnya.

Jujur saja ia membayangkan begitu ia terbangun, ia akan berada disebuah penjara dengan tubuh yang diborgol dan penuh bekas luka. Tapi kenyataannya berbeda, bahkan diatas sebuah meja kayu yang berhadapan dengan sofa yang ia dudukin terdapat coklat hangat dan beberapa sushi. Apa sengaja disiapkan untuknya?

”Aku lapar…” bisik Baekhyun sambil memegangi perutnya. ”Terserah saja, aku tidak peduli jika ada yang marah padaku!!”

Baekhyun langsung mengambil sushi lezat itu dan melahapnya dengan cepat. Seperti orang kelaparan yang tidak makan selama berminggu- minggu.

 

”Uhuk!!” Baekhyun tiba- tiba tersedak dan menepuk- nepuk dadanya. “Uhuuk!!”

 

“Igo!” seseorang tiba- tiba memberikan segelas coklat hangat pada Baekhyun dan dengan sigap tanpa melihat wajah sang pemberi, Baekhyun meneguk habis coklat hangat itu.

 

“Fuuhh.. Gamshamanida.”

 

“Kau makan seperti orang kelaparan. Santai saja, tidak akan ada yang mengambil sushi itu. Aku membelikannya khusus untukmu.”

 

Baekhyun membulatkan matanya saat melihat dengan jelas siapa yang baru saja menolongnya. ”KAU!!”

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan kembali berjalan kemeja kerjanya.

 

Baekhyun masih duduk disofa besar itu namun tubuhnya kini bersandar disudut sofa sambil memeluk lututnya. Seakan takut dan waspada kepada namja tinggi yang kini sangat ia benci.

Chanyeol tidak begitu peduli dengan reaksi Baekhyun dan terus melanjutkan pekerjaannya. Ia sibuk membaca berkas sambil meminum coffe hangat yang ia bawa. Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang nampak sibuk sekali.

 

”YA!! UNTUK APA KAU MEMBELIKU!!” Teriak Baekhyun merasa tidak diacuhkan.

 

Chanyeol diam tidak menggubris pertanyaan Baekhyun, malah asyik mengotak atik tablet-nya dan meremas beberapa berkas yang tidak diperlukan lagi. Baekhyun menghela nafas panjang kemudian kembali memakan sushi-nya sampai habis.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun dari sudut matanya kemudian tersenyum manis. Hanya sekilas hingga tidak akan ada yang tahu kalau baru saja Chanyeol tersenyum manis.

 

>>> 

 

Malam harinya, Chanyeol tidak pulang seperti biasanya ke rumah. Ia masih berkutat dengan kerjaannya dan Xiumin selalu membantu Chanyoel dalam menyelesaikan pekerjaan kelompok mereka.

Sedangkan Baekhyun, ia masih betah dalam posisinya beringkuh disudut sofa sambil memeluk lututnya.

”Xiumin, pulanglah. Katakan pada Kyungsoo kalau aku tidak pulang hari ini.”

”Baik, Chanyeol-nim.” Xiumin keluar dari ruangan kemudian Chanyeol dan Baekhyun kembali tinggal berdua saja.

 

Piip

 

Tiba- tiba terdengar bunyi tombol ditekan, dibalik pintu Chanyeol.

 

”Masuk!” perintah Chanyeol dan seketika itu beberapa orang bertubuh besar dan tegap membawa seseorang yang nampaknya luka parah. Chanyeol hanya melihat orang yang dibawa oleh lebih dari 4 orang namja kekar itu dengan tajam.

 

”Belum mau mengubah keputusan?” tanya Chanyeol dingin pada namja yang nampak sekarat itu.

”Cih! Aku lebih rela mati!!” namja sekarat itu meludah.

Alhasil ia mendapat tendangan dari salah satu namja kekar. ”Kau pikir kau siapa!!”

 

Baekhyun mempererat pelukan lututnya karena jujur saja ia merasa tubuhnya membeku. Ia memang masih belum terbiasa melihat kekerasan seperti itu.

 

Srak

 

Chanyeol mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya dan mata Baekhyun membulat saat Chanyeol mengisi benda itu.

”Pistol..” bisik Baekhyun pelan. Keringat dingin membasahi tubuh putih Baekhyun. Apa yang akan Chanyeol lakukan dengan pistol itu? Jangan katakan Chanyeol akan..

 

DOORR

 

Mata Baekhyun terbelalak sempurna melihat Chanyeol dengan mudahnya merenggut nyawa orang lain. Begitu mudah dan terkesan tidak peduli.

Keempat namja kekar tadi keluar dari ruangan Chanyeol sambil membopong namja yang mati ditembak itu. Entah akan dibuang kemana tubuh namja itu yang pasti Chanyeol tidak akan suka melihat markas utamanya kotor apalagi oleh tubuh manusia yang ia anggap sampah.

 

Dengan santai Chanyeol memasukkan kembali pistol yang ia gunakan kedalam laci dan melempar beberapa helai kertas kelantai yang terpecik noda darah.

Sedangkan Baekhyun?

Dia masih menggigil ketakutan dan wajahnya nampak sangat tegang. Sekuat tenaga Baekhyun menutupi rasa takutnya dan menahan air mata dimata sipitnya. Menakutkan, hal itulah yang terus saja dipikirkan Baekhyun tentang Chanyeol.

 

 

”Tolong bersihkan ruanganku!!” ujar Chanyeol pada seorang pesuruh perempuan yang baru saja datang keruangan Chanyeol.

”Baik, tuan.” pesuruh itu langsung mengerjakan tugasnya dan Chanyeol berjalan menuju tempat Baekhyun dari tadi duduk meringkuh. Chanyeol duduk ditengah- tengah sofa megah itu sedangkan Baekhyun masih betah menyudutkan diri duduk disudut sofa sambil terus memeluk lututnya.

 

Ctaak

 

Chanyeol meghidupkan cerutunya dan bersandar disandaran sofa. Baekhyun tidak menatap Chanyeol hanya menunduk kemudian membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

 

Fuuhh

 

Asap cerutu Chanyeol menguasai ruangan itu dengan bau yang khas. Sang pesuruh wanita itu sudah pergi meninggalkan ruangan Chanyeol beberapa detik yang lalu. Baekhyun sadar kini ia dan Chanyeol hanya akan berdua saja. Dan parahnya, Baekhyun sudah membayangkan nasib sial yang akan diterimanya jika ia melawan.

Sama seperti namja yang tadi baru saja dibunuh Chanyeol.

 

”Kau takut padaku?” suara berat Chanyeol kini memecah keheningan.

 

Baekhyun belum berniat menjawab sama sekali.

 

”Kau tahu sudah berapa orang yang kubunuh seperti itu?”

 

Baekhyun masih diam.

 

”Bukankah mereka yang ingin mati?”

 

Baekhyun kini mengangkat wajahnya menatap Chanyeol yang sedang bersandar disandaran sofa megah itu sambil menatap langit- langit ruangan dan terus menghisap cerutunya. Ia tatap wajah Chanyeol yang fokus menatap langit- langit.

 

Tampan..” bisik Baekhyun dalam hatinya.

 

Memang ia tak bisa pungkiri namja yang membelinya itu sangatlah tampan dan… memiliki karakter yang sangat kuat.

 

”…Kau pasti bingung mengapa aku membelimu?”

 

Pertanyaan tiba- tiba Chanyeol membuat Baekhyun terhenyak kemudian melemahkan pelukan pada lututnya, kini ia sudah duduk seperti Chanyeol disofa megah itu. Baekhyun menghela nafas panjang dan mengangguk. Walau ia tidak yakin Chanyeol akan melihat ia mengangguk.

 

”Apa tujuanmu?” tanya Baekhyun seperti berbisik. Chanyeol meletakkan cerutu yang sudah ia hisap setengah diatas piring sushi yang sudah kosong dan menatap tajam Baekhyun.

Merasa terancam, Baekhyun berdiri dan berjalan menjauh dari Chanyeol. Namun sedetik kemudian ia dapat merasakan sepasang tangan hangat yang kuat memeluk tubuh mungilnya dari belakang, nyaris tenggelam.

”Lepas!!” pekik Baekhyun sekeras yang ia bisa.

”Kau tahu tujuannya, kan? Kau pasti tahu kalau kini kau adalah milikku. Seluruh yang ada ditubuhmu, hatimu, keinginanmu.. Semuanya milikku dan hanya aku yang bisa mengaturnya.”

Baekhyun menelan kasar air liurnya. ”Ti..Tidak!!”

 

Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun dengan gerakan cepat dan menangkap mata Baekhyun yang berkaca- kaca.

 

”Kau ingin menangis?” tanya Chanyeol sambil tersenyum tipis.

 

Baekhyun menggeleng cepat.

 

”Baguslah. Karena aku benci manusia cengeng.”

 

Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun bergidik ngeri. Mati- matian ia berusaha menahan air matanya agar tidak luluh.

 

”Malam ini aku ingin kau membuatku terkesan..”

 

Baekhyun menggeleng pelan. ”Ja..Jangan! Kumohon!!” Baekhyun tahu betul apa yang dimaksud oleh Chanyeol.

 

”Apakah kau berhak memohon?”

 

Baekhyun kini tidak bisa menahan air matanya. ”Kumohon jangan.. Aku tidak siap.”

Melihat air mata Baekhyun Chanyeol langsung mendorong tubuh mungil itu hingga tertidur disofa megah tadi, Baekhyun menggeleng pelan.

 

”Jangan.. Aku.. Hiks..” Baekhyun menangis terisak.

 

”Siapa suruh kau menangis?” Chanyeol membuka jas hitamnya kemudian melempar jas itu kesembarang tempat. 

 

”Kau akan kubuat menjadi milikku seutuhnya.” ucap Chanyeol sembari melepas kemeja yang ia kenakan. Baekhyun hanya bisa menangis pasrah.

 

>>> 

 

 

Pagi harinya.

 

”KAI, sudah menampakkan keberadaannya di Korea?!” ujar Chanyeol yang duduk dikursi kerjanya sedikit kaget.

”Benar, Chanyeol-nim. Sepertinya mata- mata kita dibeberapa tempat sudah mencium keberadaannya. Namun ia belum bergerak mendekati rumah anda dan markas utama ini.” jelas Lay.

”Benarkah? Hm.. Berarti ada yang membuatnya sibuk. Terus  lacak keberadaannya.”

”Baik, Chanyeol-nim.”

Lay keluar dari ruangan Chanyeol walau ia sempat melirik sebentar sofa besar yang kini ditiduri oleh Baekhyun tanpa busana. Ya.. Tanpa busana namun nampak selimut tebal bercorak zebra membungkus tubuhnya hangat.

 

Chanyeol menghela nafas panjang setelah pintu ruangannya ditutup pelan oleh Lay. Dengan hanya memakai baju mandi berwarna merah bercorakkan motif macam tutul, Chanyeol mengambil sebotol tequilla dari lemari pendingin yang ada disudut ruangan dan menuangkannya kegelas anggur.

”..Bodohnya dirimu, KAI. Diperalat oleh namja jalang seperti Luhan.” Chanyeol tertawa pelan sambil meneguk tequilla-nya.

 

”Ah..” desahan kecil terdengar dari bibir Baekhyun. Chanyeol meletakkan gelas tequilla-nya dan berjalan kearah sofa besar yang kini menjadi tempat dimana Baekhyun terkulai lemas.

 

”Kau sudah bangun? Ohayou gozaimasu.” Sapa Chanyeol kemudian mencium rambut Baekhyun yang nampak basah oleh keringat.

Baekhyun tidak menjawab hanya menarik selimut hangat itu menutupi seluruh tubuhnya dan kepalanya. Chanyeol tersenyum tipis kemudian berjalan menuju meja kerjanya. Ia kembali berkutat pada semua berkas yang ia baca tadi.

 

“Kalau kau ingin mandi, langsung saja ke kamar mandi yang tersedia diruangan ini. Pakaianmu sudah kuletakkan dilemari yang ada didalam kamar mandi. Kau tinggal mandi dan mengenakannya.” Jelas Chanyeol sambil terus memeriksa berkas.

 

Baekhyun hanya diam dan tidak mengindahkan perkatan Chanyeol. Ia masih saja bersembunyi dibalik selimut hangat itu. Sebenarnya ia menangis.

Baekhyun menangis pilu karena ketidak berdayaannya dan parahnya…

Ia sudah dikotori.

 

 

>>> 

 

Setelah yakin ia bisa menahan tangisnya, Baekhyun duduk disofa besar itu dan menatap Chanyeol yang masih saja berkutat dengan kerjaannya. Ia nampak sedang menelpon. Dari percakapannya, bisa diketahui kalau Chanyeol sedang menelpon kolega bisnisnya.

Baekhyun menatap tajam Chanyeol dan Chanyeol sadar akan hal itu. Dari sela- sela ucapannya, Chanyeol menyunggingkan seringai menyeramkan saat membalas tatapan Baekhyun.

 

DEG

 

Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha berdiri. Namun sialnya, ia tidak bisa berdiri karena rasa sakit yang ia rasakan. Ia kembali terduduk disofa itu dan mengaduh kesakitan.

 

“… Chotto matte kudasai.. Ima janai no… Hai, Matta na~” Chanyeol mengakhiri sambungan telponnya dan langsung menghampiri Baekhyun.

*Tolong Tunggu sebentar.. Tidak sekarang.. Iya, sampai nanti~

 

Baekhyun terdiam dan menunduk saat Chanyeol berdiri didepannya. Beberapa kali ia menelan air liurnya, takut. Entah mengapa sosok tampan Chanyeol begitu menyeramkan baginya sekarang. Ia takut dan begitu lemah jika dihadapkan oleh Chanyeol.  

 

“Apa yang sakit?” tanya Chanyeol lembut sambil menumpukan lututnya dilantai. Menyamakan tinggi badannya dengan Baekhyun yang kini duduk ditepi sofa itu sambil menunduk.

 

“A..Ani…” bisik Baekhyun.

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan menangkap dagu Baekhyun. Kini mata rapuh Baekhyun dan mata tajam Chanyeol berkaitan dan untuk keberapa kalinya sang mata tajam itu mempesona Baekhyun. Sangat hingga mata rapuh Baekhyun tidak mengedip sama sekali.

 

“Kakimu sakit?” tanya Chanyeol lagi dengan suara yang tetap lembut.

 

Baekhyun akhirnya mengangguk. “N..Ne…”

 

Chanyeol tersenyum dan tanpa banyak bicara langsung menggendong tubuh Baekhyun. Kaget, Baekhyun hanya bisa membulatkan matanya. Kain Sutra putih kini menutupi tubuhnya yang polos. Baekhyun merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Ia menunduk dan kedua tangan Baekhyun meremas jari- jari tangannya.

Detak jantung yang dirasakan Baekhyun semakin kencang.

Namun…

Itu bukan cinta…

Baekhyun tengah ketakutan oleh sosok yang membawanya dalam dekapan hangat yang dirasakan Baekhyun dengan kehampaan dan rasa takut luar biasa.

 

 

>>> 

 

 

Baekhyun kini didalam kamar mandi. Sendirian.

 

Chanyeol baru saja keluar. Chanyeol mengatakan bahwa ia memberikan Baekhyun waktu 10 menit untuk membersihkan dirinya.

 

“Aku..” Baekhyun memegang tepian wastafel mewah bercorak merah dan emas itu dengan erat. Kaca besar dihadapannya membuat pantulan sempurna wajah dan tubuh mungilnya hingga sebatas pusar. Baekhyun menatap tajam pantulan tubuhnya dan sekali lagi… Ia membenci dirinya.

Yang menerima perlakuan tak pantas dari Chanyeol, yang hanya bisa menangis tanpa bisa membantah, yang hanya bisa mengutuk tanpa bisa berbuat apa- apa.. Ya, itulah dirinya.

“Aku.. kotor..” bisik Baekhyun lirih dan beberapa butir mutiara jatuh dipelupuk mata Baekhyun.

“Kau kotor, Byun Baek.. Tidak.. Bahkan sekarang aku bukan lagi anggota keluarga Byun.. Aku ini..” Baekhyun menunduk. Menatap ukiran indah yang menghiasi setiap sudut wastafel megah itu. Ia tatap hingga matanya merah dan gumpalan mutiara indah itu kembali luluh.

 

“Hiks… Aku ini siapa? Aku bukan siapa- siapa lagi.. Hiks..” tangisan Baekhyun melemahkan persendian kakinya dan ia terduduk dilantai dingin itu.

 

Ia menangis sambil mengigit bibir bawahnya. “Aku takut… Siapapun.. Tolong aku!!” bisik Baekhyun pelan. “Kumohon…”

 

>>> 

 

Chanyeol mendengar tangisan Baekhyun dari luar kamar mandi. Ia dari tadi berdiri tegak disana dan mendengarkan semua keluh kesah yang diucapkan Baekhyun sayub- sayub. Chanyeol menghela nafas panjang dan menunduk.

“..Gomenasai.. Aku hanya ingin menyelamatkanmu.”

 

>>> 

 

 

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian rapi. Kemeja panjang berwarna putih serta celana jeans ketat berwarna putih. Kemeja putih yang ia kenakan menutupi pahanya hingga batas lutut. 3 kancing atas kemeja itu terbuka dan mengekspos tanktop hitam yang ia kenakan didalamnya.

Baekhyun terlihat sangat manis, apalagi rambutnya yang panjang dan halus memperindah ukiran wajahnya yang cantik dan innocent. Mata sayu Baekhyun nampak sembab namun tidak menutupi betapa memikatnya ia.

Chanyeol yang melihat Baekhyun tentu saja menghentikan kegiatannya membaca sebuah berkas. Ia tatap Baekhyun dari atas kebawah hingga beberapa kali. Baekhyun menelan air liurnya karena ia takut melihat mata tajam Chanyeol yang seakan menelanjanginya.

 

“Lama sekali mandinya.” Hal itulah yang diucapkan Chanyeol saat Baekhyun berjalan menuju sofá besar yang sudah rapi. Nampaknya pesuruh Chanyeol sudah membereskan sofa itu saat ia mandi. Tidak ada lagi selimut tebal, bantal tidur ataupun hal- hal lainnya. Chanyeol-pun sudah berpakaian rapih dan formal seperti biasa.

 

“Kau lapar? Kita akan makan diluar.” Chanyeol berdiri dan memakai mantel bulu tebal miliknya. Bisa dipastikam mantel bulu itu sangat mahal.

 

“Aku tidak..lapar..” jawab Baekhyun pelan.

 

“Kau harus makan.” Chanyeol kini berjalan menuju tempat Baekhyun dan menarik tangannya pelan. Baekhyun berdiri dan menatap mata Chanyeol.

 

Padahal mereka sama- sama namja, tapi perbedaan tinggi tubuh Chanyeol dan mungilnya tubuh Beakhyun nampak jelas. Wajah tampan Chanyeol dan wajah cantik Beakhyun seakan saling melengkapi satu sama lain.

 

SLEP

 

Saat Chanyeol membuka pintu ruangannya, ia merasakan sebuah besi menyentuh lehernya dari belakang.

 

Mata Chanyeol yang bulat menyipit dan dengan pelan melihat Baekhyun sedang menempelkan sebuah obeng kecil tepat dileher Chanyeol. Sepertinya dari tadi Baekhyun menyembunyikan obeng itu didalam saku celananya.

 

“Darimana kau dapatkan benda itu?” tanya Chanyeol santai.

 

Tangan Baekhyun yang bergetar hebat membuat Chanyeol sadar sebenarnya Baekhyun sangat ketakutan.

 

“Lepaskan benda ini da-“

 

“DIAM ATAU AKU AKAN MENUSUKKAN BENDA INI TEPAT DISYARAFMU!!” Teriak Baekhyun dengan wajah pucat.

 

Chanyeol menghela nafas pelan kemudian tersenyum. “Coba saja.”

 

Baekhyun membulatkan matanya mendengar ucapan Chanyeol yang terkesan tidak takut. Kedua tangan Baekhyun masih menempelkan obeng besi itu dileher jenjang Chanyeol.

 

Walau ragu, Baekhyun menekan ujung obeng itu namun akhirnya ia menjatuhkan obeng itu dari tangannya.

 

Ia tidak sanggup membunuh orang.

 

BRUK

 

Tubuh Baekhyun terduduk dilantai.

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan menendang obeng yang ada dilantai itu kesembarang arah. Baekhyun menangis sesegukan.

 

Kenapa?

 

Bahkan ia tidak bisa membunuh orang yang paling ia benci.

 

Apa karena kelemahan hatinya itu ia dibuang oleh orang tuanya. Karena kelemahan hatinya yang bahkan tak bisa membunuh seekor binatangpun dengan teganya. Sungguh lemah.

 

Chanyeol menepuk kepala Baekhyun lembut kemudian menjongkok didepan Baekhyun yang kini tengah menunduk menangis.

 

“..Uljima..” bisik Chanyeol lembut.

 

Baekhyun mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Chanyeol tajam. Seketika itu Baekhyun mengayunkan tangannya dan…

 

PLAK

 

“KAU BRENGSEK!!” Teriak Baekhyun keras.

 

Chanyeol lagi- lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Baekhyun berdiri dan mendorong tubuh Chanyeol yang masih berjongkok hingga terjatuh dilantai.

 

Secepat kilat Baekhyun berlari menuju pintu ruangan Chanyeol. Secepatnya ia ingin kabur dan ketika itu membuka pintu ruangan itu…

 

Baekhyun mundur selangkah.

 

 

TEP

 

 

Tubuh Chanyeol ternyata menahan langkah Baekhyun. Kini tangan Chanyeol sudah memeluk Baekhyun dari belakang. Air mata Baekhyun terus turun dan ia menggeleng pelan.

 

Lay masuk kedalam ruangan dengan sebuah jarum suntik ditangan kanannya.

 

“Makanya… Jangan nakal, Baekhyun.” Bisik Chanyeol tepat ditelinga Baekhyun.

 

Lay menjentikkan jarum suntik itu dan meraih lengan Baekhyun. Seakan pasrah, Baekhyun hanya bisa menangis pelan.

 

“Ja..Jangan! Kumohon jangan!!” mohon Baekhyun saat lengan bajunya dilipat oleh Lay.

 

“Sttt.. Diam dan bermimpilah dengan indah.” Chanyeol mempererat pelukannya dan menggigit leher Baekhyun pelan.

 

“Aahh..” Baekhyun merasakan jarum suntik menembus kulit putihnya. Dan beberapa detik setelahnya Baekhyun merasakan semua organ ditubuhnya melemah.

 

Setelah selesai, Lay membuka lipatan baju Baekhyun dan keluar dari ruangan Chanyeol.

 

Tubuh Baekhyun yang terkulai lemah membuat Chanyeol memperbaiki pelukannya. Kini Chanyeol tengah menggendong Baekhyun seperti pangeran mengendong tuan putri. Baekhyun sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya. Chanyeol sebenarnya tidak tega harus terus membius Baekhyun, namun kalau sampai Baekhyun kabur itu jauh lebih menyusahkan.

 

“Mian..” bisik Chanyeol seraya membawa Baekhyun keluar dari ruangannya.

 

 

>>> 

 

Malam harinya dirumah Chanyeol.

 

 

Chanyeol masuk kedalam kamarnya sambil membopong tubuh Baekhyun. Pelan ia bawa tubuh mungil Baekhyun berbaring diranjang megahnya. Chanyeol melakukan peregangan otot sesaat kemudian duduk ditepi ranjang. Ia tatap dalam wajah Baekhyun yang sangat cantik.

Sungguh seperti malaikat.

Chanyeol menghela nafas sesaat dan mencium kening Baekhyun cukup lama.

 

“Jangan membenciku..” bisik Chanyeol lirih kemudian menjauh dari ranjang. Chanyeol melepaskan mantel bulunya dan beberapa aksesoris yang ia pakai seperti jam dan kalung panjang yang tersembunyi dibalik kemejanya.

Setelah melonggarkan dasinya, Chanyeol keluar dari kamarnya.

Tak lupa, Chanyeol mengunci pintu kamarnya untuk berjaga- jaga.

 

Setelah keluar dari kamarnya, Chanyeol berjalan menuju dapur dan melihat beberapa geisha dan pesuruhnya bersenda gurau didekat kolam koi yang terletak tidak jauh dari dapur. Dengan langkah cepat Chanyeol menghampiri mereka.

Melihat Chanyeol, para pesuruh wanita dan geisha itu langsung merubah posisi duduk mereka dan menunduk sopan. Chanyeol tersenyum dan menghela nafas panjang.

“Bisakah kalian masak makanan tradisional Korea? Aku minta porsi yang banyak dan harus selesai dari satu jam kedepan? Antarkan semua makanan itu kekamarku. Wakarimasuka?”

 

“Wakarimashita, Chanyeol-sama.” Para pesuruh mengangguk mantap.

 

Chanyeol berbalik badan dan kembali berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum itu, Chanyeol sempatkan melihat kamar Baekhyun yang sudah ia persiapkan. Xiumin sudah menatanya dari kemarin. Tepatnya sejak Chanyeol meminta Xiumin menyiapkan kamar Baekhyun.

 

“Chanyeol-nim.” Xiumin menunduk hormat pada Chanyeol yang baru saja masuk kedalam kamar yang cukup luas dan berhiaskan warna putih bersih yang dari tadi ia dan beberapa bawahannya tata. Serba putih dan sangat menenangkan.

Mulai dari ranjang, gorden beranda dan jendela, perabot kayu, lemari, meja hias, semua yang ada dikamar itu serba putih bersih. Chanyeol tersenyum puas melihat hasil kerja Xiumin dalam menata kamar itu.

 

Perfect!!

 

“Semua perabot sudah tersusun rapi, Chanyeol-nim. Hanya saja ranjang yang dipesan belum datang. Ranjang ini adalah ranjang murah yang didapat dari membeli semua perabot.”jelas Xiumin.

“Baiklah. Sampai ranjang itu datang, Baekhyun bisa tidur dikamarku.”

 

“Hyung…”

 

Chanyeol melihat Kyungsoo yang sudah memakai piyama bergambar anak ayam mengintip dibalik pintu kamar baru Baekhyun dengan tatapan sungguh polos.

“Kyungsoo? Kau belum tidur?” tanya Chanyeol seraya menghampiri Kyungsoo.

“Aku belum mengantuk.”

“Heh? Tumben~” Chanyeol menarik masuk Kyungsoo kedalam kamar baru Baekhyun.

“Menurutmu bagaimana, Kyungsoo? Pasti kau kaget sekali saat tahu barang- barang ini tiba tadi siang.” Chanyeol meminta pendapat Kyungsoo yang hanya tertawa pelan.

“A..Ahaha~ Aku tidak tahu barang- barang ini datang, hyung. Sejak siang hingga sore aku tertidur.” Dusta Kyungsoo sambil tersenyum manis. Ia memang tidak berada dirumah sejak siang hingga menjelang sore. Pastinya Kyungsoo memiliki seribu rahasia tentang kegiatannya dari siang hingga menjelang sore ini.

Chanyeol mengangguk pelan walau agak bingung dengan kebiasaan Kyungsoo yang ia anggap sedikit berubah.

 

“Hm.. Sejujurnya aku penasaran dengan namja manis yang tadi hyung bilang. Sejak kapan hyung memiliki kekasih secantik itu?” Kyungsoo mulai mengalihkan pembicaraan. Chanyeol hanya tersenyum manis dan mengangkat bahunya.

 

Xiumin keluar dari kamar itu meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol yang masih betah memandangi kamar Baekhyun. Kadang Chanyeol memperbaiki letak perabot yang menurutkan tidak cocok berada disana.

 

“Hyung~ Aku mau bertemu dengan kekasihmu lagi.. Sebelum tidur..” rajuk Kyungsoo dengan manjanya.

“Mwo? Kenapa tiba- tiba kamu jadi manja seperti ini? Lebih baik bantu aku memindahkan lampu hias ini.” Chanyeol menyentuh hidung Kyungsoo sesaat.

“Aku capeeek, hyung.. Tidak mau!”

Chanyeol hanya tertawa pelan melihat Kyungsoo yang memanyunkan bibir pink beningnya.

“Kalau begitu tidur saja sana.” Ujar Chanyeol sambil menyipitkan matanya seakan pura- pura marah. Namun Kyungsoo tahu kalau Chanyeol hanya berpura- pura.

“Tidak mau~”

 

 

>>> 

 

 

Baekhyun terbangun.

 

“Ini..dimana?”

 

 

Dengan badan yang masih terasa berat, Baekhyun duduk diatas ranjang megah itu. Ia edarkan mata sipitnya menjelajahi semua sudut kamar megah itu. Kamar yang sangat dingin dan menyeramkan. Warna merah mendominasi kamar itu.

Warna yang identik dengan warna darah.

Dan Baekhyun mengerti kalau ia kini mungkin saja ada dikamar Chanyeol. Entah mengapa warna darah itu sudah melekat pada diri Chanyeol. Baekhyun mencoba bangkit walau akhirnya ia kembali terduduk karena masih pusing.

“Aish..” Baekhyun memegang kepalanya pelan dan menghela nafas panjang.

Dengan hati- hati kini ia mencoba bangkit dan berjalan menjauhi ranjang. Ia lihat meja rias yang memiliki kaca yang sangat besar. Pantulan diri Baekhyun dengan sempurna terpampang disana.

Baekhyun mendekati cermin besar itu sambil memegang pipinya.

 

Cantik.

 

Kesan yang selalu ia dapatkan jika menatap dirinya dari pantulan cermin.

Baekhyun sendiri mengakui wajahnya yang lebih pantas disebut cantik walau ia adalah seorang namja. Wajah cantik yang selalu membuatnya diremehkan.

Mata Baekhyun masih menatap tajam sosoknya didepan cermin. Lama sekali hingga matanya tertaut pada berbagai aksesoris dimeja. Jam tangan, kalung dengan liontin berhuruf L lumayan besar dan.. Tunggu.

Baekhyun mengambil kalung dengan liontin berbentuk huruf L besar itu. Ia tatap dalam sudut huruf L yang lumayan tajam itu dan tiba tiba Baekhyun mengarahkannya kelengannya sendiri.

 

“Agh..” Baekhyun merasakan perih diluka yang kini ternganga dikulit putihnya.

 

Namun seakan tidak puas, Baekhyun terus melukai tubuhnya dengan liontin itu. Darah merah mulai menguasai lengannya yang putih. Nyaris semua kulit kedua lengan Baekhyun tertutup oleh darah segar, air mata sudah menggenangi mata sipit Baekhyun. Terlihat jelas wajah Baekhyun yang menahan rasa sakit luar biasa. Perih bercampur luka hatinya membuat Baekhyun mengarahkan sudut liontin itu kelehernya.

 

“..Lebih baik aku mati..”

 

Tanpa ragu Beakhyun mengarahkan sudut liontin itu kearah lehernya dan..

 

KLEK

 

“Jangan terlalu rib-“

 

BRUAAK

 

Perkataan Chanyeol terhenti saat ia membuka pintu kamarnya. Keadaan Baekhyun yang tersungkur dilantai dengan bersimbah darah tentu membuat Chanyeol langsung berlari kearah Baekhyun. Kyungsoo membekap mulutnya sendiri melihat pemandangan yang ada didepan matanya.

 

“BAEKHYUN!!” Teriak Chanyeol seraya memeluk tubuh yang kini seakan sulit bernafas.

 

“Kyungsoo!! Panggil dokter sekarang!!” teriak Chanyeol dengan suara sangat tinggi.

Tidak makan waktu lama, Kyungsoo berlari menuju ruangan dokter pribadi dikediaman itu.

 

“Baekhyun!! Bertahanlah!” bisik Chanyeol seraya memeriksa denyut nadi Baekhyun yang masih berdetak. “Ya Tuhan!! Kumohon jangan ambil Baekhyun!!”

 

Luka yang ada disekujur tubuh Baekhyun membuat Chanyeol serasa ingin menangis. Apalagi goresan cukup panjang yang ada dileher Baekhyun.

 

Namun mata Chanyeol kini terfokus pada tangan Baekhyun yang masih menggengam liontin yang ia gunakan untuk percobaan bunuh dirinya.

 

Chanyeol menggenggam liontin yang penuh darah itu dan..

 

TES

TES

 

Air mata Chanyeol tumpah.

 

’L’

 

’Luhan’

 

“Jangan ambil Baekhyun dari sisiku, Lu… Kumohon..” bisik Chanyeol lirih. “Jangan..”

>>> 

 

Kyungsoo dan Chanyeol kini berdiam diri diruang keluarga. Tidak ada apa- apa selain sebuah meja kotatsu besar dan lemari kecil yang bertengger foto orang tua mereka yang sudah meninggal. Nampak bunga dan beberapa dupa yang masih harum.

Chanyeol membenamkan wajahnya dimeja kotatsu megah dan Kyungsoo dari tadi menepuk lembut punggung Chanyeol agar namja tinggi itu tenang.

Kyungsoo yang datang bersama dokter pribadi mereka menemukan Chanyeol yang menangis terisak disamping tubuh Baekhyun sambil menggengam erat kalung yang digunakan Baekhyun untuk bunuh diri. Jujur baru kali ini ia melihat Chanyeol menangis sesegukan seperti itu. Bahkan saat orang tuanya meninggal, Chanyeol nampak sangat tegar.

 

“Hyung..” Kyungsoo menyandarkan kepalanya kepundak Chanyeol seraya memeluk Chanyeol yang tengah menangis tanpa suara.

 

“Semua akan baik- baik saja, hyung..” sambung Kyungsoo.

 

Chanyeol masih diam.

 

Menyesali diri sendiri. Menyesali kecerobohannya dan…

 

Ketidak berdayaannya untuk pertama kali.

 

 

 

>>> 

 

 

Baekhyun membuka matanya perlahan. Ia merasakan sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Namun ia tidak berada dikamar Chanyeol. Melainkan sebuah taman dengan berbagai bunga matahari yang sangat hangat dan bermekaran.

Baekhyun melihat tangannya yang terlihat tidak terluka sama sekali. Padahal seluruh tubuhnya merasa sakit yang luar biasa.

 

“Baekhyun..”

 

Dengan cepat Baekhyun membalikkan tubuhnya dan melihat sesosok namja yang sangat cantik berdiri didepannya.

Baekhyun sedikit terpana melihat wajah cantik namja itu.

 

“Namaku Luhan.”

 

Baekhyun mengangguk pelan namun dari raut wajahnya terlihat sangat bingung. “Kau tahu namaku? Kamu siapa dan.. Ini dimana?”

Luhan tersenyum manis dan menggeleng pelan.

 

“Kembalilah, Baekhyun… Kau tidak seharusnya ada disini.”

 

“Eh?”

 

“Kau tidak seharusnya ada disini.. Jangan melukai dirimu lagi. Dia sangat mengkhawatirkanmu.”

 

“Dia?”

 

“Dia namja yang sangat tulus. Aku bodoh karena tidak bisa mencintainya walau ia sangat baik padaku. Namun.. Kau bisa membahagiakannya, Baekhyun.”

 

“Aku tidak mengerti maksudmu..” Baekhyun menggeleng pelan.

 

“Jika kau ingin mengerti… Kembalilah ketempat dimana seharusnya kau berada.”

 

Luhan mengulurkan tangannya kearah Baekhyun yang nampak masih sangat bingung. Dengan ragu Baekhyun menggapai tangan Luhan dan..

 

Terang.

 

Baekhyun merasakan cahaya yang sangat silau menghujani matanya dan sosok Luhan yang ada dihadapannya perlahan sirna.

“A..Apa ini!!”

 

 

 

 

>>> 

 

Dokter pribadi Chanyeol masuk kedalam ruang tengah tempat Chanyeol dan Kyungsoo dari tadi menunggu.

Mendengar suara pintu yang digeser, Chanyeol dan Kyungsoo langsung bangkit.

 

“Bagaimana, Kuroi-sensei!” tanya Chanyeol panik.

 

“Tenang.. Dia baik- baik saja. Syukurlah dia cepat ditemukan. Kalau terlambat semenit saja saya yakin nyawa ano bishounen* tidak bisa diselamatkan.” Jelas sang dokter dengan logat bahasa jepang yang kental.

*Namja cantik itu

 

Chanyeol dan Kyungsoo menghela nafas lega.

“Anda sudah bisa melihatnya, Chanyeol-sama.”

“Arigatou gozaimashita! Hontou ni arigatou gozaimasu!” Chanyeol berkali- kali berterima kasih apa dokter pribadinya itu dan langsung berlari menuju kamarnya. Kyungsoo mengikuti Chanyeol.

 

 

 

 

 

Chanyeol masuk kedalam kamarnya dengan langkah pelan. Ia pikir Baekhyun sedang beristrahat, namun mata Chanyeol membulat saat melihat Baekhyun malah duduk termenung ditepi ranjang Chanyeol.

 

“..Baekhyun..” panggil Chanyeol lembut sembari mendekati Baekhyun. Chanyeol mengambil sebuah kursi dan duduk tepat didepan Baekhyun. Melihat leher Baekhyun yang diperban, Chanyeol merasakan sebuah luka dalam tergores dihatinya. Begitu menyakitkan.

Kyungsoo yang juga merasa khawatir ikut masuk kedalam kamar Chanyeol namun ia tidak berani mendekat. Kyungsoo hanya menatap dari depan pintu.

 

Tes

 

Air mata Baekhyun turun begitu saja. Ia menangis.

 

Chanyeol menghela nafas pelan dan menangkup pipi Baekhyun. Betapa sedihnya Chanyeol saat melihat lilitan perban ditangan Baekhyun. Seakan ia tidak bisa menjaga Baekhyun dengan baik..

Dan..

Kenyataannya Chanyeol memang belum bisa menjaga Baekhyun dengan baik.

 

“..Jangan menangis.” Bisik Chanyeol.

 

Baekhyun menatap mata tajam Chanyeol dan kebencian kembali merasuki Baekhyun. Betapa bencinya ia pada namja tampan yang kini menangkup kedua pipinya. Betapa inginnya ia menghancurkan namja tampan itu dengan sekali pukul.

 

Chanyeol menyadari tatapan mata Baekhyun yang sangat membencinya. Dengan ragu Chanyeol kembali menarik tangannya dari pipi Baekhyun. Suasana menjadi hening dan sampai akhirnya Baekhyun tersenyum tipis dan menyeka air matanya.

 

“Kenapa kau menyelamatkanku?”

 

Mata Chanyeol membesar saat mendengar ucapan tajam Baekhyun.

 

“SEHARUSNYA KAU BIARKAN AKU MATI!”

 

PLAK

 

Kyungsoo membekap mulutnya sendiri saat melihat Chanyeol menampar Baekhyun. Wajah Chanyeol nampak dingin sekali menatap Baekhyun yang kini diam menunduk. Keadaan seketika itu hening dan tidak ada yang memulai pembicaraan.

Kyungsoo yang tidak terlalu ingin ikut campur memutuskan keluar dari kamar Chanyeol.

Kini Chanyeol dan Baekhyun berdua saja didalam kamar sunyi itu. Chanyeol masih berdiri menatap tajam sang namja mungil yang duduk ditepi ranjang. Tidak ada respon apapun dari Baekhyun.

 

“Katakan sekali lagi..” ucap Chanyeol memecah keheningan.

 

Baekhyun mendongakkan wajahnya dan dengan sudut bibir yang berdarah, Baekhyun tersenyum tipis.

 

“BUNUH AKU!!” Teriak Baekhyun.

 

Chanyeol kembali naik pitam dan mendorong tubuh Baekhyun hingga tubuh mungil itu tertidur diranjang. Chanyeol mengambil sebuah pistol dari dalam jasnya. Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang mulai menghimpit tubuhnya. Chanyeol duduk diatas kedua paha Baekhyun sedangkan tangan kiri Chanyeol menumpu diantara pundak dan kepala Baekhyun.

 

TRAK

 

Pistol yang Chanyeol pegang mengarah pada leher Baekhyun.

 

Namun entah mengapa, Baekhyun tidak ketakutan sama sekali. Ia pikir akan lebih baik jika Chanyeol benar- benar membunuhnya. Mata besar Chanyeol mulai menggerayangi tubuh Baekhyun.

 

“..Kau pikir setelah kau mati.. kau akan terbebas, Baekhyun? Maaf saja… aku tidak akan pernah membiarkan dirimu lari dariku.”

 

Mata Baekhyun membulat saat mendengar ucapan Chanyeol.

 

Seketika itu Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya kewajah Baekhyun. Pistol Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun dan seringai menyeramkan terukir diwajah Chanyeol.

 

“..kau kira kematian bisa memisahkan kita, Baekhyun? Jangan bodoh.. Tuhan-pun tak akan punya hak memisahkanmu denganku..”

 

Bulu kuduk Baekhyun meremang karena ucapan Chanyeol yang ia pikir menakutkan. Bagaimana bisa ia bisa berfikir seperti itu? Apa dia waras?

 

Baekhyun memalingkan wajahnya dengan cepat. Akibatnya, ia merasakan perih pada luka yang ada dilehernya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Chanyeol kembali menyeringai kemudian melemparkan pistol yang dari tadi ia pegang kelantai.

 

“Ah..” Baekhyun menahan sakit saat Chanyeol mencengkram lengannya yang penuh dengan luka. “Hentikan!!” pekik Baekhyun kesakitan.

 

Chanyeol kembali menatap wajah Baekhyun tajam. “..Sekali lagi aku melihat kau menyakiti dirimu, Baekhyun. Jangan harap aku akan melepaskanmu sedetik saja. Mataku akan mengawasimu hingga kau jengah.”

 

Baekhyun menelan kasar air liurnya. Chanyeol mulai menjamah tubuh Baekhyun. Menahan suaranya yang akan mengerang, Baekhyun mencengkram alas ranjang Chanyeol.

Baekhyun tahu.. apapun yang ia lakukan. Ia tidak akan lepas dari setan tampan ini.

Tidak akan pernah.

“Nikmati saja hukumanmu, sayang.” Bisik Chanyeol setelahnya.

Kedua namja itu menyatukan pembatas kasat mata dan mengusir kegundahan walau dengan paksaan. Akankah paksaan itu menjadi sebuah benang cinta yang menghubungkan kedua takdir mereka yang tidak terikat awalnya?

 

 

TBC

RCL yaaahh Chinguya~ 

bagaimanakah FF req ini? apa lanjut ato berenti disini?

RCL pastinya kalau mau lanjut yaaaaa~

gomawo yo~

237 thoughts on “Sequel : YOUR WOLRD [ Into Your World Part 1] BaekYeol / ChanBaek

  1. kasian amat deh baek kerjaannya disiksa mulu(?)
    aku gk ngerti chanyeol mau nolong baek apa?
    baek luluh aja kek ama yeol. wkwk
    lanjut thoor

  2. Love at the first sigh itu benar adanya itu terbukti pada yeol,pertama kali liat foto baek aja dia udah jatuh cinta😄
    Msh sedikit confuse itu Lu ge mati ato apa yah? Dan aku pengen liat Kai-nim

  3. Aaaaaaaaaaa… Senangnya dapet ff macam beginian, ChanBaek pula aargghh >_<
    ffnya seru abis, asli sumpah, kenapa aku baru nemu ff yg ini? Padahal ff kak Rana yg lainnya aku udah baca kayak Silent Eyes. Argh sumpah aku gk mau berhenti bacanya, sayangnya tbc T.T
    lanjut ah, gk sabar nih xD

  4. Huaaaaaaaa byuuuun baekk jangan nakalll..
    Ya ampunnn chanyeol juga kejam amatt .. Lembut dikit donggg biar byun baek nurutttt .. Wanita itu harus dilembuti chanyeol *eh ..

  5. ini ff bagus benerrrr,,, bahasanya gk maen2,,
    bikin bulu kuduk merindingggggggggggggggggg,,, Chanyeolnya Jahaaddd zkaliiiiiii

  6. Ya ampunnn Bagus Banget Thor smpe mau nangis baca ini😥
    Tega amat sihh ayahnya Baek jual anak seimut ithu😥

    Padahalkan suamiku itu imut banget #ngelirik baekhyun

    Aku baca ini karena aku penasaran soal yang FF KrisTao itu ‘ Pretend We Never Loved ‘
    Ternyata bagus bngt ^^ Tak pernah mengecewakn nihh ceritanya Author😀❤😀

    Gomawo❤🙂❤

  7. Keren :”) suka ih ceritanya! Awas aja thor kalo ni ff ntar sampe gaada end nya, hm pokoknya musti happy end chanbaek wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s