Kind Of Heart Chapter 7

Assalamu’alaikum.. annyeong~

KOH telah hadir dan semakin aneh- aneh ..

Adoh.. aku takut deh ini ep ep makin panjang.. soalnya yah ide untuk KOH selalu muncul yang aneh- aneh

Apalagi Kai.. okeh.. saya sedang fangirling in Kai ama Suho sekarang #tidak penting

Lanjut ke FF deh

Jangan Lupa RCL yaaahhh

Terima kasih .. ILOVEUALL *muaaaahhhhhhh

 

Kind Of Heart

Kim Hyobin

HUNHAN – KAIHAN FanFiction

Main Cast : Luhan – Oh Sehoon – Kim Jongin

Another Cast : Kim Jongin – Taemin – Byun Baekhyun – Park Chanyeol – Wu Yifan / Kris – Huang Zitao

Genre : School Life, Drama , Romance

BOY X BOY / YAOI / BL / Boys Love / Shounen Ai

 

 ***

 

Ikatan bukanlah penghalang kisah cinta kita

Hanya saja…

Takdir yang membuatnya semakin rumit

Cinta memang tidak mengenal apapun

Namun memiliki batas yang jelas

Agar para pecandu cinta tidak terhempas terlalu dalam

Saat cinta itu melepaskan pelukannya

Hanya akan ada akal sehat

Karena Cinta itu buta dan.. menyesatkan

 

 

Chapter 7 

 

 

Kai POV

 

Terus saja.. Sudahlah!

Aku malas membahasnya.

Aku yang selalu menganggap apa yang kurasakan adalah hal yang serius.

Entahlah.. apa yang ada didalam otak dan hatiku. Aku sendiri tidak yakin dengan semua yang kurasakan. Hanya saja saat aku melihat sebuah cahaya, yang kulihat hanya dirinya.

Apa aku salah?

Bodoh..

Tentu saja aku salah.. mau bagaimanapun perasaanku salah dan.. terlarang. Aku tahu semua itu hanya akan mempermalukanku. Aku tahu jika semua yang kurasakan hanya akan menjadi cacian dan cemoohan. Apalagi jika dirinya mengetahui perasaanku.

Dia pasti menjauhiku…

Dan semua tidak akan sama lagi. Semua akan berbeda dan aku takut jika perasaanku nantinya akan membuatnya merasa iba padaku.

Aku memang patut dikasihani.

Bukan karena aku lemah…

Melainkan karena cintaku padanya.

 

 

Author POV

 

Kai dari tadi tidak bisa memejamkan matanya. Bukankah ia sangat letih? Namun mengapa ia tidak jua bisa mengistirahatkan tubuhnya. Yang ia pikirkan hanya perasaan bodohnya.

“Sial!” desis Kai sembari duduk ditepi ranjangnya.

 

Drrttt

 

Drrrttt

 

Kai melirik ponselnya yang bergetar. Dengan malas ia ambil dan angkat ponsel itu setelah melihat siapa yang menghubunginya malam- malam begini.

 

“Ne, Sehun?” sapa Kai cepat.

 

“Aku tidak mengganggumu, kan?”

 

“Tidak. Ada apa?”

 

“Hmm.. Begini apa tadi appa-ku menghubungimu?”

 

Kai mengerutkan dahinya. “Oh Sehun.. jangan bilang kau kabur atau semacamnya?”

 

“Kau bisa menebaknya.”

 

Kai memutar bola matanya. “Sejak kapan kau jadi bebal seperti ini, oeh?”

 

“Sejak kapan? Kurasa kau tahu pasti sejak kapan.”

 

“Ne.. Kurasa aku tahu.” Terdengar tawa kecil dari mulut Kai. “Sekarang kau dimana?”

 

“Aku dirumah Luhan.”

 

DEG

 

“Eh?” Kai merasakan hatinya sedikit terhenyak. “Dirumah Luhan?”

 

“Aku tidak mungkin bersembunyi dirumahmu, kan? Bisa- bisa aku diseret pulang lagi.”

 

“O..Oh.. Ya. Tentu saja.”

 

“Aku ingin membagi sebuah berita baik pada satu- satunya sahabatku ini.” ujar Sehun girang.

 

“Wah? Apa? Apa?” Kai mulai merasakan hatinya membaik.

 

“Aku dan Luhan sudah menjadi sepasang kekasih.”

 

DEG

 

DEG

 

Kai terdiam ditempatnya. Ia merasakan sebuah perasaan aneh. Hatinya terkoyak.. ya.. terasa sakit luar biasa dan begitu ngilu.

Kenapa?

Seharusnya ia senangkan?

Sahabatnya kini sudah mendapatkan seorang kekasih..

Namun..

Bukan Sehun yang kini ada didalam pikirannya..

 

Luhan.

 

Namja cantik itu kini sudah membuka hatinya pada sahabatnya sendiri.

 

“..Kai?”

 

“…N..Ne?”

 

“Kenapa kau terdiam?”

 

“Ah.. aku hanya terkejut. Tidak kusangka kau dan Luhan bisa menjadi sepasang kekasih secepat ini.  Masih kuingat kau yang masih berlagak memusuhinya. Dan.. Chukae!!” jawab Kai dengan senyuman aneh.

 

“Terima kasih, Kai. Ah.. jika appa-ku datang, katakan saja kau tidak tahu dimana aku berada. Arra?”

 

“Arraseo~ Oke.. berhati- hatilah.”

 

“Ne. Annyeong.”

 

“Annyeong.”

 

 

Kai meletakkan ponselnya ditempat semula. Jantung Kai kembali tidak tenang. Ia merasakan sebuah perasaan.. cemburu? Tidak terima?

Oh Tuhan..

Kenapa dirinya?

Ia merasa kalau kini ia sangatlah lemah.

Baru saja ia memikirkan orang yang ia cintai.. tapi sekarang saat Luhan dan Sehun sudah berpacaran.. mengapa ia tidak bisa terima?

 

“Agh!!” Kai mengacak- acak rambutnya frustasi.

 

“Sebenarnya aku ini kenapa!!”

 

“Kenapa aku begitu tidak rela.. Luhan menjadi milik.. Sehun?” bisik Kai didalam hati.

 

 

 

>>> 

 

Sehun dan Luhan kini berada didalam kamar Luhan. Mereka berdua baru saja selesai makan malam dan mereka juga sudah berganti pakaian dengan piyama. Walau piyama yang Sehun kenakan adalah piyama pinjaman dari papa Luhan.

Piyama Luhan tidak ada yang muat dengan Sehun. Lagipula motif piyama Luhan terlalu lucu digunakan untuk Sehun. Dengan anggukan mantap Sehun menerima piyama pinjaman yang papa Luhan tawarkan. Bermotif corak zebra yang terkesal dewasa. Berbanding terbalik dengan corak piyama Luhan yang terkesan kekanak- kanakan.

 

“Hmm.. Sehun tidur diranjangku saja dan aku tidur dibawah.” Ujar Luhan seraya membuka sebuah kasur lipat kecil dan membentangkannya tepat disamping ranjang.

 

Sehun tersenyum dan menggeleng pelan. “Lebih baik kau yang tidur diranjang. Nanti kau sakit.”

 

“Kurasa pertahanan tubuhku jauh lebih kuat daripada tubuhmu. Jadi kau saja yang tidur diranjang.”

 

Sehun memutar bola matanya. “Rakyat jelata memang akrab dengan lantai, ya?”

 

“Mwo! Kau masih saja menyebutku rakyat jelata?” Luhan mengerucutkan bibirnya. “Aku ini kekasihmu, tuan Sehun! Panggil aku dengan sebutan yang lebih baik.”

 

“Maka dari itu.. kau tidur diranjang saja.” Sehun malah tidak merespon protesan Luhan.

 

Luhan tertawa pelan. “Jadi tuan Oh Sehun yang sekarang belajar jadi rakyat jelata?”

 

“Kau sudah berani melawanku, rusa kecil!” Sehun berlari berusaha menangkap Luhan. Dengan sigap Luhan juga berlari menjauhi Sehun.

 

“Kyahahaha! Sehun wajahmu terlihat mesum!” Luhan tertawa seraya terus berlari menjauhi Sehun.

 

Mereka berlari mengitari kamar mungil Luhan. Tawa terdengar jelas dari kedua bibir mungil mereka. Suasana kamar yang hangat menambah manisnya perdebatan kecil yang kini mulai menyemarakkan canda sepasang sejoli itu.

 

“Kyaaaaa!!” teriak Luhan saat Sehun berhasil menangkap tubuh mungilnya. Kedua tubuh namja itu jatuh terbaring diatas ranjang Luhan. 

 

“Si pemburu mendapatkan seekor rusa kecil!” ujar Sehun bangga.

 

“Lepaskan aku tuan pemburu!” Luhan mencoba mengikuti alur.

 

“Tidak bisa. Jika aku melepaskanmu.. aku bisa mati kelaparan. Kau adalah makan malamku.”

 

“Jadi tuan pemburu akan memakanku?” Luhan kini menatap tepat kebenik mata Sehun. Tatapan polos andalan Luhan yang kini membuat Sehun..

 

DEG

 

Oh Tidak!

 

Sehun begitu tergoda dengan wajah memelas sang rusa mungil yang kini ia himpit diatas ranjang. Sehun menelan kasar salivanya. Berusaha mengembalikan akal sehatnya agar bisa menahan diri. 

Wajah merah merona Luhan yang begitu polos membuatnya tergiur. Mata Sehun kini menatap bibir pink lembut milik Luhan.

 

“Hey, pemburu?” Luhan nampaknya tidak sadar dengan pergolakan hati yang dialami Sehun.

 

Tanpa memperdulikan ocehan Luhan, Sehun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Luhan. Mata Luhan membesar setelah itu, ia bisa membaca apa yang akan Sehun lakukan.

 

TEP

 

“Tu..Tunggu, Sehun!” cegah Luhan seraya meletakkan telapak tangannya tepat dibibir mungil Sehun. “Jangan bilang kau ingin menciumku!”

“Memangnya tidak boleh?” ujar Sehun setelah melepaskan tangan Luhan dari bibirnya.

“Bu..bukan begitu. Hanya saja…” Luhan mendorong tubuh Sehun agar ia bisa duduk dengan benar. Sehun dan Luhan kini duduk ditepi ranjang yang menghadap kearah jendela kecil yang mengekspos langit malam. Memang kebiasaan Luhan tidak menutup jendela itu dengan gorden saat malam hari. Agar ia bisa melihat bintang- bintang sebelum tidur.      

 

“Hanya saja apa?” Sehun buka suara.

 

“Aku malu.” Balas Luhan cepat.

 

Mata Sehun membulat dan setelah itu terdengar tawa dari bibir Sehun. “Hahahaha… Bisa juga si liar Luhan malu- malu seperti ini?”

“Ya!” Luhan mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didada. “Kau ini benar- benar tidak romantis, ya! Cara kau menyatakan perasaanmu padaku juga tidak ada romantis- romantisnya. Penuh dengan ejekan. Hu uh!!” dengus Luhan sebal.

Sekali lagi, Sehun dibuat gemas melihat kekasihnya yang kini tengah merajuk. Sehun nampak berfikir sesaat kemudian tersenyum manis. Sehun bangkit dari duduknya dan berdiri sedikit jauh dari posisi Luhan yang masih duduk ditepi ranjang.

 

“Oh simungil yang kukasihi… ketika kau berbicara padaku.. aku bersumpah, dunia seakan berhenti berputar.. Kau adalah kekasih hatiku.. dan aku bersyukur kau menjadi milikku..you are of a kind and… kau sangat berarti bagiku..”

 

Luhan terdiam mendengar nyanyian pelan Sehun. Wajah Luhan memerah malu, padahal suara Sehun tidak terlalu merdu namun.. nyanyian yang kini terlantun dari bibir mungil Sehun mengalahkan semua lantunan lebih merdu yang pernah Luhan dengar sebelumnya.

 

 “Karena aku mendapatkamu..Aku tidak membutuhkan uang.. aku tidak membutuhkan mobil.. Hey, sweetheart kau adalah segalanya bagiku.. bersamamu.. aku tidak membutuhkan dunia.”

 

Oh Tuhan!

 

Air mata Luhan tertetes begitu saja. Nyanyian Sehun terdengar begitu tulus dan sangat menyentuh hatinya.

 

“Luhan..” ujar Sehun lemah sembari mendekati Luhan.

 

Mengusap cepat air matanya, Luhan tegak dari posisinya dan tersenyum manis pada Sehun. Sangat manis hingga jantung Sehun berdetak sangat cepat.

 

“Mengapa si rusa kecil menangis?” tanya Sehun seraya mengusap pipi merah Luhan.

 

“..karena… Sang pemburu sudah menancapkan belati tajamnya tepat dihati sang rusa..” jawab Luhan menatap mata tajam Sehun. “Ah.. bukan belati.. lebih tajam dari belati manapun didunia.”

 

“Eh?” Sehun nampak tidak mengerti.

 

“..cinta sang pemburu.”

 

Mata Sehun membulat mendengar ucapan Luhan. Senyuman manis kini menguasai kedua namja yang makin mendekatkan tubuh mereka. Sehun melingkarkan kedua lengannya dipinggang kurus Luhan. Kini Luhan yang mengurangi jarak bibir mereka.

Tatapan mata mereka tertaut cukup lama.

 

“..bolehkah aku mengulangi ciuman kita?” tanya Sehun sedikit berbisik.

 

Seakan tergoda, Luhan menutup matanya dan mengangguk pelan. Sehun tersenyum dan memandangi bibir pink Luhan yang ia yakini lebih manis daripada madu.

 

Detakan jantung Luhan semakin tidak terkendali saat bibir Sehun sudah menyatu dengan bibirnya. Nafas Sehun yang memburu menderu wajah Luhan. Perlahan namun pasti Sehun membuka mulut Luhan untuk memperdalam ciuman mereka.

 

Luhan mencengkram piyama Sehun menahan liarnya ciuman Sehun. Luhan masih menahan nafasnya, namun ini hanya bisa berlangsung beberapa detik saja.

 

“Seh.. Seh..un..” Luhan mencoba mendorong tubuh Sehun untuk melepaskan ciuman mereka.

 

Mengerti Luhan yang nyaris kehabisan nafas, Sehun melepas ciuman mereka dengan perlahan. Sepertinya Sehun jadi sedikit merasa bersalah.

 

“Maafkan aku, Luhan..”

 

“Ah.. aku bukan marah Sehun.. hanya saja.. aku tadi kesulitan bernafas.” Luhan tersenyum setelah menghirup oksigen sebanyak- banyaknya.

 

Sehun mengangguk pelan kemudian pandangannya tertaut kearah jendela kecil kamar Luhan yang terbuka. Ia tatap bintang- bintang kini berkerlap kerlip.

 

“Luhan.. lihat berbagai bintang itu sangat indah. Mereka memiliki cahaya sendiri dan menerangi bumi saat malam hari,” ujar Sehun mendekati jendela sembari menarik lengan Luhan lembut.

 

Luhan ikut menatap langit berbintang dan mengangguk mantap. “Iya.. tanpa bintang malam sangatlah hampa.”

 

Sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan yang masih menatap langit berbintang dengan senyuman manis.

 

“..akankah keberadaanku bisa menggantikan para bintang- bintang yang indah itu, Luhan?”

 

“Eh?” Luhan kini menatap Sehun tidak mengerti.

 

“..bolehkah aku yang menemani tidur malammu seperti bintang- bintang itu yang selalu menemani tidurmu selama ini?”

 

Luhan tersenyum dan mengangguk. “Keberadaanmu melebihi sosok bintang yang paling sempurna didalam hatiku, Sehun.”

Tangan Luhan dan Sehun tertaut dan mereka kembali menatap langit berbintang yang menjadi saksi bisu kemesraan dua namja yang mempererat benang cinta mereka.

 

“Sehun! Lihat ada bintang jatuh!!” teriak Luhan tiba- tiba.

 

“Mana! Mana!!” teriak Sehun.

 

“Itu!” tunjuk Luhan cepat. “Ayo, ucapkan permohonan!”

 

“SEMOGA KITA BISA BERSAMA SELAMANYA!” Teriak Sehun tanpa malu kearah bintang itu.

 

Luhan yang baru saja mengucapkan permohonannya dalam hati langsung mencubit sayang lengan Sehun. “Mwo! Kenapa malah kau meneriaki bintang itu!”

 

“Lalu?” Sehun mengusap lengannya yang sebenarnya sedikit sakit.

 

“Ucapkan didalam hati saja, Pabo!” Jawab Luhan sembari mengangguk mantap.

 

“Lebih baik diucapkan dengan lantang! Memangnya kau memohon apa?”

 

Luhan tersenyum manis dan kembali menatap langit berbintang. “Semoga semua orang yang kusayangi berbahagia.. Tao, Chanyeol appa, Baekhyun umma.. Kai… dan..” Luhan mengalihkan pandangan matanya kembali kearah Sehun. “.. kekasihku Oh Sehoon..”

 

“Rusa kecilku!” Sehun terkekeh pelan mendengar doa Luhan yang ia fikir terlalu polos. “..kau memang tipe manusia bodoh seperti itu.”

 

“Ya! Lagi- lagi kau mengejekku!”

 

Perdebatan kecil terdengar dikamar mungil yang hangat itu. Malam yang lumayan dingin itu terasa sangat hangat oleh kedua sejoli itu. Semoga saja doa yang mereka panjatkan pada malam itu akan menjadi kenyataan.

 

  

>>> 

 

“Appa! Bagaimana mungkin kau masih terlihat tenang- tenang saja!” teriak sang ibu yang nampak sangat khawatir.

“Umma tenang saja… hanya kali ini ia bisa berbuat seenaknya. Appa yakin Sehun akan segera pulang.” Seru kepala keluarga bermarga Oh tersebut.

“Tapi… Baru kali ini aku lihat Sehun berani kabur dan menghancurkan kamarnya. Sebenarnya apa yang merubahnya seperti ini?!”

Sang ayah terdiam sejenak kemudian tersenyum tipis. “…Sebentar lagi tikus kecil itu akan kubuat meninggalkan Korea.”

 

>>> 

 

 

Keesokan harinya.

 

“Jongiinn~ Ayo bangun! Kau harus sekolah!!” Teriak Taemin sangat nyaring sembari mengguncang- guncang tubuh adik kandung itu.

 

“Aisshh!!” Desis Kai kesal karena langsung terbangun. Kai merasakan kepalanya sangat pusing karena apalagi kalau bukan suara Taemin yang sangat melengking.

 

“Ya! Siapa yang menyuruhmu mendengus! Aku menyuruhmu bangun!!!” Taemin menendang bokong Kai hingga tubuh namja tampan itu terjatuh kelantai.

 

BRUAK

 

“YA! YA! YA! KIM TAEMIN!!!” Teriak Kai kesal seraya mengusap bokongnya yang ditendang Taemin plus mendapat ciuman langsung dari lantai.

 

Taemin memutar bola matanya dan mendesah pelan. “Cepat bangun!!”

 

“Tidak bisakah membangunkanku dengan cara yang lebih baik?!” Kai berdiri dengan cepat dan terus saja mengomel. Taemin mengangkat bahunya dan tersenyum manis. Alhasil Kai hanya bisa menelan kembali omelan yang akan ia lontarkan. Kelemahan terbesarnya masih terletak pada senyuman manis Taemin.

 

“Nah! Kau sudah bangun, cepat mandi dan kita akan berangkat bersama. Kebetulan aku ada kuliah pagi.”

 

Kai mengangguk pelan.

Saat Taemin berbalik badan hendak meninggalkan kamar Kai, tiba- tiba Kai memegangi lengan Taemin dengan sangat erat.

Sadar akan perlakuan Kai, Taemin berbalik badan kembali menatap Kai yang kini sudah menatapnya dengan penuh arti.

 

“Apa?” tanya Taemin to the point.

 

“Kenapa masih berpacaran dengan namja itu?”

 

Mata Taemin membulat. “Me..Memangnya kenapa?”

 

Kai melonggarkan genggamannya pada lengan Taemin. “Haruskah dengan si bodoh Minho yang pernah mencampakkanmu lagi? Sadarlah! Kusangka kau sudah melupakannya.”

 

Taemin tersenyum manis. “Dia sudah berubah, Jongin!”

 

“Kau hanya ditipu olehnya!”

 

Taemin menggeleng cepat. “Dia sudah berubah dan.. aku percaya padanya.”

 

“Mengapa kau bisa begitu mudah mempercayainya!?” Kai tidak habis fikir. Mengapa Taemin masih saja membuatnya menderita seperti ini.. Kai tidak berharap Taemin tahu perasaannya, hanya saja.. siapa yang akan menderita jika Taemin kembali disakiti oleh Minho?

Siapa yang akan memikirkan namja manis itu?

Siapa yang akan ikut terluka dan tersakiti?

 

Taemin kembali tersenyum sangat manis.“Karena aku memiliki hati dan aku melihat ketulusannya dari hatiku.. bukan mataku.”

 

Mata Kai membulat dengan ucapan telak Taemin. Ternyata Taemin benar- benar mencintai kekasihnya, Minho. Dan sampai kapanpun Kai.. tidak akan punya tempat.

 

“Cepat berbenah.. aku tunggu diruang makan.” Taemin melepas tangan Kai dan keluar dari kamar Kai dengan cepat. Meninggalkan sang adik yang kini tengah termenung.

 

Kai menunduk. Ia rasakan dadanya sakit bukan main.. sesak. Dan rasa seperti itu akan selalu ia rasakan jika menyangkut soal Taemin. Ia tahu.. perasaannya salah. Namun.. Kai mencoba menutupi rasa cintanya dengan sikap keras pada Taemin.

Karena.. saat Kai membutuhkan sandaran.. Taemin bersedia menerima Kai apa adanya. Memberikan pelukan hangat dan kebahagiaan.. walau hanya sebatas rasa persaudaraan untuk Taemin. Tapi bagi Kai.. Taemin adalah segalanya.

 

“..aku yang membiarkan diriku terluka karena cintaku padamu.. hyung..”

 

 

>>> 

 

 

“Sehun kau yakin tidak pergi sekolah bersamaku?” tanya Luhan sembari menyandang tas sekolahnya. Luhan dan Sehun masih berada dikamar Luhan dan mereka baru saja sarapan.

Sehun mengangguk dan membantu Luhan menyandang tas sekolahnya. “Aku akan ketempat appa-ku. Bagaimanapun lari seperti ini tindakan pengecut.”

Luhan tersenyum manis dan mengangguk. “Uri Sehunnie sudah besar!!”

Dengan polosnya Luhan menepuk pelan kepala Sehun dan mengusapnya lembut. Wajah Luhan yang tersenyum seperti anak kecil seketika itu membuat Sehun ikut tersenyum manis dan tersipu malu. Oh Tuhan, betapa murninya kekasih mungilnya ini. Betapa sayangnya Sehun pada namja mungil nan penyayang ini..

Perlahan namun pasti, Sehun kembali mencium bibir mungil Luhan dengan sangat lembut. Luhan dengan senang hati menyambut ciuman manis Sehun. Semanis sari bunga manapun. Begitu menenangkan dan begitu penuh kasih.

Sehun menautkan hidungnya dan hidung Luhan setelah ciuman mereka usai.

“..Aku mencintaimu.” Bisik Sehun.

Luhan mengaitkan tangan mereka dan… air matanya tiba- tiba menetes begitu saja. Luhan membulatkan matanya melihat air matanya. Ia pun nampak terkejut melihat dirinya menangis.

 

DEG

 

DEG

 

Keanehan..

 

Luhan merasakan keanehan..

 

Sehun mengerutkan dahinya melihat keanehan Luhan. “Hey! K..Kenapa kau menangis?”

 

Luhan menggeleng pelan. “A..aku tidak tahu, Sehun.. air mataku jatuh begitu saja. Hatiku..terasa sangat berat. Ada apa ini?” Luhan memegangi dadanya. “…rasanya.. hatiku terluka.. sangat dalam..”

 

Sehun membawa tubuh Luhan duduk diatas ranjang. Ia peluk pundak Luhan yang terus saja memegangi dadanya sambil menangis. Suara isakan Luhan semakin keras. Sehun jadi semakin panik.

 

“Luhan..” bisik Sehun. “..tenanglah, sayang. Aku disini..”

 

Luhan menghela nafas pelan seraya menenangkan emosi tiba- tibanya. Dengan mata yang masih berlinang air mata, Luhan menatap Sehun.

 

“…Kai..”

 

Mata Sehun membulat mendengar Luhan menyebut nama Kai. “Ap..apa?”

 

“Kai.. kenapa aku merasakan kalau Kai sedang terpuruk, Sehun?”

 

Sehun menelan kasar air liurnya dan memeluk tubuh Luhan dengan erat. “Kai baik- baik saja, Luhan. Mungkin kau hanya kepikiran.. lupakanlah. Semua akan baik- baik saja.”

Luhan mengangguk dalam pelukan Sehun. “..kuharap juga begitu, Sehun.”

 

 

>>> 

 

“Sampai!” teriak Taemin girang saat mobil yang dikendarakan supir pribadi mereka berhenti didepan SMA Dong Soo.

“Kenapa tidak kekampusmu dulu saja?” Kai memutar bola matanya.

“Aku kan ingin mengantar adik kesayanganku terlebih dahulu.”

Kai menghela nafas pelan kemudian membuka pintu mobilnya. “Sampai nanti.”

 

GREP

 

Tangan Taemin mencegah Kai untuk beranjak keluar.

 

“Kirim salam untuk si Angel Luhan.”

 

“Ne~” balas Kai cepat.

 

Tangan Taemin belum juga melepaskan lengan Kai.

 

“Apa lagi?” tanya Kai mulai jengkel.

 

“Kau tidak mau menciumku? Cium pipi kanan dan cium pipi kiri seperti yang ada didrama siang hari.. kau dingin sekali pada kakakmu ini, Jongin.”

 

Ucapan Taemin berhasil membuat jantung Kai meledak seperti bom waktu. Wajah Kai sudah semerah tomat dan Taemin menyadari gelagat aneh sang adik. Ini memang bukan yang pertama Taemin menggodanya seperti ini.

 

“Tidak asyik! Kusangka kau akan kembali mengomel lagi, ternyata kau malah jadi malu seperti itu. Dasar bocah!”

 

Sebisa mungkin Kai menstabilkan aliran pernafasannya dan memegang dagu Taemin seraya mendekatkan wajahnya kewajah sang kakak.

 

“Suatu saat.. aku akan menciummu! Tunggu saja!”

 

Setelah mengatakan hal itu Kai keluar dari mobil meninggalkan Taemin yang mengerjapkan matanya berkali- kali dan terdiam atas ucapan Kai barusan.

 

“Isssh! Dasar sakit jiwa! Ayo jalan ahjussi!” Taemin hanya menganggap omongan Kai dengan candaan saja.

 

Tidak tahu kalau Kai serius sekali dengan ucapan yang dikatakannya.

 

>>> 

 

Luhan berjalan masuk melalui gerbang sekolah. Ia dan Sehun berpisah arah beberapa menit yang lalu. Dengan langkah cepat Luhan menapakkan kakinya dilantai gedung sekolah megah tersebut.

 

“Luhan!!”

 

Teriakan Kai membuat Luhan menghentikan langkahnya. Namun Luhan tidak membalikkan tubuhnya, ia hanya mematung disana dan merasakan jantungnya berdebar- debar.

 

“Selamat pagi!” sapa Kai saat ia berdiri disamping Luhan.

 

“Pa…Pagi!” Luhan menatap Kai dalam. Begitu lama hingga Luhan menyipitkan matanya dan menatap Kai dari atas hingga kebawah berkali- kali.

 

“Hey! Kenapa kau menatapku seperti itu?”

 

Luhan kembali menatap wajah Kai. “Kau baik- baik saja?”

 

“Iya, tentu. Memangnya ada apa?” Kai mulai aneh dengan perlakuan Luhan.

 

“Ti..tidak. Mungkin hanya perasaanku saja.” Luhan mengangguk mantap dan tersenyum manis. Kai yang sebenarnya tidak mengerti akhirnya ikut mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan kekelas.

 

“Chukae.. kau dan Sehun sudah berpacaran.” Ujar Kai kembali membuka pembicaraan.

Luhan mengangguk pelan. “Ne.. kau tahu dari mana?”

“Sehun…Oh ya, dimana Sehun? Kukira dia akan sekolah bersamamu.” Ujar Kai.

Luhan tersenyum dan mengangguk. “Dia ingin berbicara dengan papa-nya. Kurasa memang ia harus lebih membuka diri pada orang tuanya.”

Kai membalas senyuman Luhan. “Dia memang sudah berubah. Dia jauh lebih berani dan… mau berjuang. Tidak seperti dulu yang selalu menurut saja.”

 

Luhan diam kemudian menghentikan langkahnya. “Tunggu, Kai.”

 

“Ya?” Kai ikut menghentikan langkahnya.

 

“Kau berbohong padaku, kan!”

 

Mata Kai menyipit. “Apanya?”

 

Luhan menatap Kai tajam dan memegang pundak Kai. “Apa terjadi sesuatu tadi pagi? Jujur saja tadi pagi perasaanku tidak enak terhadapmu… kau seperti.. terluka akan sesuatu.. dan itu menyesakkan dadaku.”

 

DEG

 

Mata Kai membulat mendengar ucapan Luhan. Bagaimana mungkin namja mungil itu merasakan kegundahan hatinya? Saat dimana Taemin mengatakan bahwa ia sudah kembali berhubungan dengan kekasihnya… saat dimana hati Kai kembali hancur berantakan.

Bagaimana  bisa Luhan merasakannya?

Ini aneh!

 

Kai akhirnya tersenyum dan wajahnya nampak sangat cerah.

“Luhan.. memang benar tadi pagi keadaan hatiku sedang tidak baik. Namun.. kenapa kau juga bisa merasakannya?” tanya Kai dengan senyuman lembut.

 

Luhan menunduk dan menggeleng pelan. “Aku tidak mengerti Kai.. emosiku tiba- tiba naik dan..”

 

Kai mengusap rambut Luhan lembut. “..Maukah kau menemaniku kesuatu tempat hari ini?”

 

“Eh?” Luhan mendongakkan wajahnya menatap Kai. “Maksudmu?”

 

“Hanya kali ini saja… temani aku.”

 

 

>>> 

 

Baekhyun yang berdiri dekat jendela kelas melihat Kai dan Luhan berjalan menuju keluar gerbang. “Eh? Mereka mau bolos?”

“Ada apa Bacon?” tanya Tao sembari berdiri disamping Baekhyun. Ia sedang memakai cake vanila yang dibungkuskan oleh Kris tadi pagi.

Baekhyun menggeleng pelan. “Tidak.. hmm.. Tao, menurutmu Kai dan Sehun memiliki perasaan khusus pada Luhan atau tidak? Apalagi kemarin Luhan terus bersama Sehun, kan?”

Tao nampak berfikir dan mengangguk pelan. “Kalau Sehunnie aku rasa ada, Bacon.. tapi kalau Kai.. entahlah. Aku tidak tahu.. walau begitu aku rasa Luhannie juga memiliki perasaan khusus pada mereka.”

“Menurutmu berat kemana?”

Tao menjilat cream pada cake vanilla nya dan mengangkat bahu. “Mungkin Sehunnie.”

“Kalau mereka menjadi sepasang kekasih.. bagaimana?”

Tao kini menghentikan aktivitasnya memakai cake-nya kemudian menatap Baekhyun tajam. “Bacon.. kenapa begitu penasaran? Kalau aku.. bagaimana baiknya di Luhannie. Lagipula Sehunnie maupun Kai namja yang baik, kita sudah mengenal mereka sejak sekolah dasar, kan? Walau mereka sama- sama sombong dan keras kepala.”

Baekhyun mengangguk. “Tidak penasaran juga… Hanya saja aku takut Luhannie jadi jauh dari kita karena ia menjadi salah satu kekasih dari dua namja aneh itu. Lagipula aku ini umma Luhannie.. jadi tidak apa- apa jika aku khawatir, kan?”

Tao tertawa kecil. “Bacon.. daripada mengkhawatirkan itu, mengapa tidak memikirkan hubunganmu dengan Chanyeollie saja? Kurasa kalian jauh lebih mencurigakan!” ujar Tao polos.

“Y..Ya! Kenapa larinya ke Chanyeol bodoh itu!”

“Bodoh? Bacon tidak boleh mengatakan Chanyeollie bodoh! Chanyeollie walau terlihat bodoh tapi dia namja yang baik dan hangat.” Tao mengerucutkan bibirnya.

“Ah.. iya, mian Tao. Aku tahu itu… tapi kau tahu sendiri bagaimana Chanyeol, kan? Aku rasa dia belum serius.”

Tao tersenyum tipis dan menggenggam tangan Baekhyun erat. “Justru aku iri melihat kalian berdua.. sedangkan aku..”

“Tao..” Baekhyun mempererat genggaman tangan Tao. “Jangan bersedih.”

“Bacon beruntung memiliki Chanyeollie.. sedangkan aku harus berpuas diri melihat Yifan-ge bersama yeoja lain.. dirumahku sendiri pula.” Tao tertunduk sedih.

Baekhyun merasa sedih melihat kesedihan Tao. “Hmm.. bagaimana kalau Tao menginap dirumahku saja jika Tao tidak tahan melihat Wu Yifan ge bersama tunangannya.”

“Jinjja? Bolehkah?”

“Tentu saja, Tao panda. Bagaimana? Daripada kau jadi murung terus..”

Tao berfikir sejenak dan menggeleng pelan. “Tapi Bacon.. walau begitu aku bahagia jika selalu didekat Kris ge. Biarkan saja yeoja itu.. walau rasanya berat saat melihat mereka tertawa bersama.. tapi aku lebih senang jika terus didekatnya, Bacon.”

Baekhyun mengusap rambut Tao pelan dan tersenyum manis. “Jika kau tidak kuat menahan rasa sakit itu.. lebih baik kau katakan langsung pada Kris.”

Tao mengangguk. “Aku memang akan menyatakan perasaanku saat Kris ge akan kembali ke Canada. Aku pasti akan mengatakannya, Bacon. Kris ge harus tahu bagaimana perasaanku padanya.”

“Aku akan selalu mendukung Tao.” Baekhyun mengangguk mantap.

“Terima kasih, Bacon.”

 

>>> 

 

Sehun menatap tajam gedung tinggi 50 lantai yang kini ada dihadapannya. Gedung itu hanyalah salah satu bukti bisu kesuksesan keluarga Oh.

Dengan sedikit gamang, Sehun masuk kedalam gedung itu dan langsung berjalan menuju lift. Tidak menunggu waktu yang terus berputar, Sehun menuju ruang kerja ayah nya yang terletak dilantai 5 gedung itu.

“Jangan takut, Oh Sehun! Kali ini kau harus benar- benar menjadi dirimu sendiri!!” desis Sehun berkali- kali. Jujur saja Sehun tidak bisa tenang- tenang saja memikirkan apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan orang tua nya setelah apa yang ia perbuat.

TING

Lift terbuka dan Sehun melangkahkan kaki panjangnya untuk mendekati ruangan sang ayah. Berkali- kali Sehun meneguk paksa air liurnya.

“Hwaiting!” ujar Sehun seraya mengepalkan tangannya dan mengangguk mantap.

 

KLEK

 

Sehun masuk kedalam ruangan ayahnya dan… ia melihat sesosok lelaki tua yang tersenyum manis menyambut Sehun.

“Akhirnya kau menemuiku, Sehun.” Ujar lelaki tua itu yang tidak lain adalah tuan Oh. Ayah Sehun.

Sehun kembali menelan liurnya. “Appa..”

“Bagaimana jalan- jalannya, Sehun anakku? Apa kau mendapat pelajaran yang berharga..atau hanya membuang waktu?”

Sehun berjalan mendekati ayah nya dan mengangguk. “Aku mendapat pelajaran berharga, appa.”

Tuan Oh tersenyum sinis. “Cih.. apa yang dilakukan namja sampah itu hingga membuat anakku yang bermartabat tinggi dan berpendidikan menjadi anak pembangkang?”    

 

Sehun mengepalkan tangannya dan menunduk. Bukannya ia tidak mau melawan namun ia sedang menenangkan emosinya. Ingin sekali ia berteriak melawan ayah nya saat menghina Luhan, namun.. Sehun tahu bukan hal itulah yang harus ia lakukan untuk melindungi Luhan.

 

“Appa.. saat aku menganggap appa dan umma sebagai orang lain dalam hidupku.. ada seseorang yang mengatakan bahwa.. tidak seharusnya aku menganggap kedua orang tuaku seperti itu. Seharusnya..” Sehun menatap sang ayah tajam. “..seharusnya.. orangtua lah tempat dimana aku mengadukan segala keluh kesahku.”

 

Mata tuan Oh membesar. Jujur ia terkejut mendengar ucapan Sehun. Jauh didasar lubuk hatinya yang paling dalam, ayah Sehun merasakan sesuatu yang membuatnya sesak. Ucapan Sehun membuatnya sedikit terhenyak.

 

“..mungkin memang anggapanku yang selalu menganggap appa dan umma adalah sosok yang begitu jauh dari kehangatan membuatku menciptakan batas. Namun aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada appa dan umma..”

 

Tuan Oh terdiam ditempatnya. Bulu kuduknya meremang mendengarkan ucapan jujur yang selama ini Sehun pendam didalam hati.

 

“Aku menyayangi appa dan umma.”

 

DEG

 

Mata tuan Oh seketika itu memerah. Ia menahan sesuatu yang membuat ia terlihat lemah dihadapan anak semata wayang nya itu. Tuan Oh tersenyum tipis dan mendekati Sehun.

“Apa yang sudah appa usahakan selama ini hanya untukmu, anakku. Appa minta kau jangan salah paham dengan cara appa yang sangat keras untuk mendidikmu.”

“Aku berusaha mengerti appa.. tapi aku tertekan dengan semuanya. Tidak ada ruang dimana aku bisa bernafas lega. Semua yang kurasakan hanyalah kesesakkan. Maafkan aku, appa. Tapi.. aku ingin mencari jalanku sendiri.”

Tuan Oh menghela nafas pelan. “Appa tidak akan membiarkanmu salah jalan, Sehun. Appa tahu yang mana yang terbaik untukmu.”

Sehun sedikit lega mendengar ucapan ayah nya yang mulai melunak. “..jadi appa tidak marah jika aku..terus berhubungan dengan Luhan, kan?”

Sang ayah tersenyum tipis. “Kalau masalah itu… biarkan appa fikirkan sejenak.”

“Appa! Kumohon.. Luhan adalah segalanya bagiku!” mohon Sehun. “Aku.. aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya.”

“Sehun.. biarkan appa dan umma mendiskusikan hal ini.” ucap tuan Oh tegas.

Sehun menatap marah sang ayah dan berbalik badan meninggalkan ruangan kerja sang ayah. Tuan Oh hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan Sehun yang ia anggap sangat terlihat kekanak- kanakan.

 

“..mungkin memang anggapanku yang selalu menganggap appa dan umma adalah sosok yang begitu jauh dari kehangatan membuatku menciptakan batas. Namun aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada appa dan umma..”

 

Tuan Oh terduduk dikursi kerjanya yang sangat empuk dan nyaman. Ia pijat pelipisnya dan ia menunduk.

 

“Aku menyayangi appa dan umma.”

 

“Sehun..” bisik sang ayah dengan suara lirih. “..anakku.”

 

 

>>> 

 

“Woaahh.. kau mengajakku membolos untuk pergi ketempat seperti ini?” ujar Luhan lumayan kaget. Kai tersenyum manis dan menarik tangan Luhan menuju ketengah ruangan besar atau lebih dikenal dengan gelanggang olahraga.

Kini mereka berada ditempat bermain basket.

Karena masih terlalu pagi, belum ada orang lain selain mereka yang bermain di arena sport itu. Luhan berlari kecil mengelilingi ruang basket yang lumayan luas itu. Kai tersenyum manis melihat tingkah Luhan yang tidak bisa diam.

“Kai suka bermain basket?” tanya Luhan sembari melempar salah satu bola basket pada Kai.

“Hmm.. tidak juga. Hanya saja jika suasana hatiku sedang tidak enak.. aku lebih suka menggerakkan tubuhku.” Jawab Kai sembari menangkap operan bola Luhan.

“Aku lebih suka bermain bola kaki.”

“Basket lebih menarik!” Kai memang namja yang tidak mau kalah.

“Pendapat orang memang berbeda- beda.”

“Ya.” Jawab Kai asal sembari men-dribble bola basket itu dan berlari menuju gawang basket.

 

SLAM

 

Bola basket yang Kai lempar masuk sempurna kedalam keranjang basket yang tergantung lumayan tinggi.

“WOW!” pekik Luhan kagum dan bertepuk tangan melihat gol pertama yang Kai ciptakan. “Ternyata kau mahir bermain basket, ya? Tidak kuduga!”

 

Kai tersenyum sombong. “Baru tahu? Sayang sekali.”

 

“Hey! Kau sombong sekali!” Luhan mencibir.

 

Kai men-dribble bola sambil mengelilingi Luhan yang berdiri ditengah lapangan basket. Luhan berusaha mengikuti putaran tubuh Kai namun akhirnya ia menyerah.

 

“Aduuh! Kai kau membuatku pusing!” Luhan mengerucutkan bibirnya. “Berhenti mengelilingiku seperti itu!”

 

Kai tertawa pelan dan kembali memasukkan bola kedalam gawang basket dan … Berhasil!

 

Luhan membulatkan matanya melihat kelihaian Kai. Jarak Kai dan keranjang basket itu lumayan jauh dan Kai berhasil memasukkan bola basket itu dengan sekali ayun. Daebak!

 

“Wow! Kau bisa menjadi pemain basket handal, Kai!!” pekik Luhan masih nampak kegirangan.

 

Kai terseyum tipis. “Memangnya bisa? Impian seperti itu hanya akan membuatku terpuruk, Luhan. Semakin dalam aku mengharapkan sesuatu yang ada didepan mataku.. semua akan semakin jauh.”

 

“Eh?”

 

“Aku mahir bermain basket.. namun aku tidak mungkin menjadi pemain basket karena keluargaku. Menyakitkan bukan? Jika seperti ini.. untuk apa Tuhan membuatku mahir bermain basket?”

 

DEG

 

Luhan terdiam mendengar ucapan Kai. Suasana menjadi hening dan tidak ada yang memulai pembicaraan.

 

“Maaf.. omonganku membuatmu bingungnya.” Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Luhan tersenyum simpul. “Tidak.. aku hanya berfikir.. kau ternyata memikirkan banyak hal ya?”

 

“Mungkin.” Kai mengangkat bahunya.

 

“Dan.. memangnya ada yang memaksamu bermain basket? Sampai kau jadi sangat mahir seperti itu?”

 

Kai berfikir sejenak. “Tidak ada.. basket hanya hobby.”

 

“Kalau begitu kenapa kau menyalahkan Tuhan atas kemauanmu sendiri?”

 

DEG

 

Mata Kai membulat mendengar ucapan Luhan. Entahlah pertanyaan Luhan membuat tubuhnya terpaku disana. Bola basket yang Kai pegang jatuh dari tangannya.

 

“Hap!” Luhan mengambil bola basket Kai yang jatuh bergelinding kearahnya. “..kau hanya kurang bersyukur Kai. Seharusnya kau jalani saja semampumu dan terus berjalan kemana hatimu tertaut. Cukup berjalan dijalan yang seharusnya kau tuju dan.. jangan berfikir terlalu jauh. Kau hanya akan menambah kekosongan hatimu jika pertanyaan baru yang selalu muncul didalam hatimu tidak terjawab.”

 

Kai tersenyum dan mengambil salah satu bola basket lainnya. Ia men-dribble bola itu ditempatnya berdiri. “Luhan… jika pertanyaan yang selalu datang itu adalah pertanyaan tentang cinta.. aku harus mencari jawabannya dimana?”

 

Luhan menatap bola basket yang ia pegang kemudian mencoba melemparkan bola itu kedalam keranjang basket.. “YAH! Tidak masuk!!” Luhan mengerucutkan bibirnya.

“Hey.. jangan mengacuhkanku.” Kai menghentikan dribble- an nya karena merasa diacuhkan Luhan.

Luhan berbalik badan dan menatap Kai dengan tatapan pasti. “Tanyakan pada hatimu, Kai. Jika masalah perasaan kau sendiri yang tahu jawabannya dan orang lain tidak bisa ikut campur.”

Kai menghela nafas. “..tidak semudah itu.”

“Apanya?”

“Cinta yang kurasakan jauh dari kata mudah dan… kupikir.. menyedihkan.” Kai terlihat sangat sedih dan Luhan merasakan dadanya sedikit terhenyak melihat ekspresi wajah Kai yang terbilang… langka. Wajah yang begitu terluka.

 

“Kai.. cinta seperti apa yang kau maksud?”

 

Keheningan kembali mendominasi ruangan luas itu. Kai berjalan menuju bangku penonton dan Luhan mengikutinya. Mereka duduk dibangku penonton itu dan tatapan Kai lurus kedepan.

 

“Jika aku mengatakan bahwa cinta yang kurasakan salah.. apa aku berhak terus mempertahankannya dan terus membiarkan perasaan cinta itu terus tumbuh?” Kai kali ini menatap Luhan dengan tatapan penuh makna.

 

“Cinta tidak pernah salah, Kai. Hanya saja cinta memiliki batas yang tak boleh kita lewati..”

 

“Bagaimana jika batas itu yang aku hancurkan, Luhan? Bagaimana jika yang kucintai adalah namja yang tidak boleh kusentuh sama sekali? Bagaimana jika kami hanya dipisahkan oleh dinding transparan yang sangat kokoh dan kuat?”

 

Pertanyaan bertubi- tubi Kai membuat Luhan sedikit memiliki prasangka. Entahlah.. hanya saja Luhan seperti menangkap maksud Kai.

 

“..aku mencintai hyung kandungku sendiri, Luhan. Apa aku masih bisa berjalan ditempat yang menjadi tujuanku seperti yang kau katakan tadi?”

 

Mata Luhan membulat sempurna mendengar pengakuan Kai. Walau Luhan memiliki prasangka tadinya, namun ia tidak menyangka Taemin lah yang dicintai oleh Kai.  

 

“K..Kai..”

 

“..Apa aku bisa Luhan?”

 

 

TBC

 

 

Entah apa- apalah ini jadinya -__-

Bacok saja sayah  #Chanyeol langsung meluk Hyobin 

Adoohhhh semakin gajelasss yah

KaiTae nih buat saya galau

Tapi ingat ya ini tetap FF percintaan HUNHANKAI jadi.. jangan salah pengertian dulu sama KaiTae

RCL yaaahhh

Wasalam, Kim Hyobin cantik istri Park Chanyeol.

 

241 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 7

  1. hiiyaaaaaah #gubrak~~ kenapa kai nya malah suka sma hyung nya sendiri
    aduh kai malangnya nasib mu nak kkkkk
    semoga bokapnya sehun bisa sadar~~
    semoga bokap nya sehun ngizinin sehun sama luhaaan….

  2. kalopun kai dan luhan gak bisa bersama, semoga taemin bukan kakak kandung kai…
    jangan sampai kai sendirian ._.

  3. Sesungguhnya appa sehun masih memiliki perasaan ke anaknya :’)
    Aih luhan…jangan2 luhan ada rasa dikit sama kai😐

  4. cinta segita yang rumit…..
    huaaaa…… kenapa ini? luhan mempunyai perasaan kah terhadap kai?
    HunHan romantis banget…
    I like ff kind of heart❤

  5. kira2 luhan mau jawab apa’an ya?? o.0 oh tuhan.. tuan Oh izinkanlah anakmu yang tampan itu berbahagia dengan kekasihnya,.. amin.. kakak hebat kalo bikin author.. ditunggu ff yang lainnya yak ^^

  6. mwo?? kai? aish! kau ini suka dengan hyung mu sendiri -.-
    oh yah yah yah! semoga appa mu cepat sadar sehunnie, tetap kuat dan selalu bersama luhannie.

  7. kai suka taemin…??tp kyk ny jg suka luhan…cma blm sadar…tp luhan suka sehun…kai gx dpt 22 ny donx…kasian…sama noona az…
    *ditendangkekutubutara..

  8. Oh no…. Kayaknya luhan dikit” masih demen sama kai
    Ahhhhhh uri jonginiee kasian bangetttt
    Jongin sama aku ajadeh *digampar massa*
    Makin ga ketebak aja nih endingnya
    Lanjooottttt

  9. ehh…Kai Oppa meyukai Taemin Oppa bukan Luhan Oppa.Gimana ni author tapi tak ku sangka author…Sehun berani menemui Appanya.Takkah itu membahayakan…huh…aku takut sekarang ini…aku penasaran..

  10. aduh abang kai….. ternyata perkiraanku salah, awalnya aku mikir kalau kamu itu sukanya sama luhan, tapi ternyata…:\

  11. daebaaakk!! jangan bilang luhan dikit dikit suka sama kai lagi? oh tidak jangaaaannn!! udah sama baby thehun ajaaaa.. hahaha😀

  12. jangan sampe kai jadi orang ketiga antara HunHan!!
    aku gak pengen HunHan putus!!!!
    ya ampun moment pas sehun nginep bikin gemes!!! aku jadi pengen nyempil diantara mereka! *Ganggu
    tapi asli aku juga kasian mikirin perasaan kai ke taemin, ckck sabar ya kai, aku padamu ko! xD😀

  13. Aissshh,pengen nyakar mukanya Tuan Oh,jahat banget jadi orang tua :@ Luhan,jan bilang Luhan juga suka Kai,rumiiit banget :3

  14. Asdfghjkl hunhan momentnya bikin melayang, senyum-senyum sendiri ga jelas kkk. Ternyata kai suka sama tetem ya…….. Baru engeh masa-_- kisahnya kai lebih rumit dari hidupnya sehun/?? Eh sama aja ding, kasian luhan/? Lanjoooot :3

  15. Thor aq reader baru ke maklum ya.. Keren banget ceritanya thor..

    Boleh ngusul nggak? Aq pengen ff tpi si main cast nya baekyeol… Plissss… Permintaanku untukmu thor.. Hanya kau yang diharapkan… *lebaylebay!

    And just one kata dari ayke..

    DAEBAKK!!!!!!

  16. Aigoooo sweet banget si hunhan~ diabetes bacanya.
    Hem appa sehun pikirkan baik-baik, izinin sehun dengan luhan, arra? Kkkk.
    Omooo luhan kenapa sih? kok bisa tau kalo kai lagi patah hati? kok bisa ngerasain juga apa yg kai rasain? aigo wae thor wae? jangan2 ada rasa lagi sama kai, nginget ini hunhankai, noooo andwaeeT.T luhan hanya boleh dengan sehun *angkat banner*
    Bagus thor, aku baca chap selanjutnya ne:)

  17. Kenapa kainya jd suka sama taemin??? Kyaaaa taekai moment >< ada 2min mome nt juga hihihi
    Sumpah min, kata2 admin di ff ini bagus2 semua, mau aku jadiin quotes ah hahaha😀
    Daebak daebak!!

  18. HYAA TERNYATA AKU SALAH—
    Bukan KaiSoo tapi KaiTae. Oke. Sip. …. *otak masih loading*
    Kenapa Sehun gak sekalian aja bilang kalo seseorang yang mengatakan semua hal itu Luhan? Jadi hati bapak kakek mesum itu bisa bergeser dikitlah menerima Luhan. Elah, Sehun lemot-_-

    Btw kak, aku iriiiiii sekali dengan kemampuan menulis kakak. =3=

  19. hah, akhirnya sehun berani ngambil tindakan walaupun cuma kabur dari rumah tapi kan udah ada peningkatan😀
    Itu adegan sbelum idur so sweeeettt banget….
    lanjut kak, aku gk mau bahas kegalauan kkamjong… *dibakar kai*

  20. Brother complex yaaaa itu sedikit yah, mengejutkan.. masalahnya sejak awal gak disinggung sama sekali.. tapi itu bener2 rasa cinta ya? Kayaknya agak ganjil hehe

  21. setuju….*apanya yg setuju neng? hehehe…. thehunnie… klu kau jdi kmu,aku sudah mengajak luhan kawin lari… *dibacok sehun *ditimpuk kai. tapi …. hwaiting sehunnnnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s