“The Betrayed Angel” Part 8

Annyeong~

Hyobin minta maaf jika ini update terlalu lama ya

#sujud ala MV MAMA #lempar Kai ke empang #peluk Luhan #plak!!

 

Sumpah aku ngakak bgt baca komen reader di KOH chapter 7

Saoloh~ Ayo kapan- kapan kita gila- gilaan bareng yuk readerdeul *ajakan macam apa ini*

Hahaha

 

Aku seneng deh banyak reader yang mulai bicara blak-blakan ama Hyobin. Entah cuma mau gila- gilaan atau apalah tapi berkat blog ini aku banyak dapat kakak-kakak dan adek- adek baru..mau yeoja maupun namja >.<

Adohh mulai ngawur #kebiasaan Hyobin -__-

Okelah ke FF aja yaah ~

Lanjutkan pernikahan Hyobin dan Chanyeol #ehhhhh!!! *tabok bolak balik*

 

Maksudnya lanjutkan ke FF ~

 

 

The Betrayed Angel

Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila


 

 

EXO FanFiction

 

Cast : Luhan – Oh Sehun – Kim Jongin / Kai

Other : Kim Minseok / Xiumin – Kyungsoo / D.O – Wu Yifan / Kris – Hyung Zitao / Tao – Byun Baekhyun – Park Chanyeol – Kim Jongdae / Chen – Kim Joonmyeon / Suho

Genre : Fantasy – Drama – Romance – Action – ANGST

Warning : Shounen Ai/ BOY x BOY / YAOI / BL

 

 

Kau memberiku uluran tanganmu saat aku terjatuh

Kau memberiku sebuah kehangatan saat aku kedinginan

Kau memberikan aku sebuah cinta saat aku membutuhkannya

Kau membuatku merasakan sebuah kehidupan yang kudambakan

 

Sampai akhir..

Bisakah kita selalu seperti ini?

 

Bisakah kau selalu berada disisiku?

 

Aku akan selalu berada disisimu

 

Walau kau dihujat oleh dunia

Aku akan terus mempercayaimu

 

 

Kembalilah padaku..

 

Kumohon… tangkaplah kembali tanganku yang kini menggapaimu

 

 

 

 

 

 

Part 8

 

”Namaku Huang Zitao.. Aku berasal dari China.” seru anak laki- laki manis yang kini berada didepan kelasnya. ”Mohon bantuannya..” sambung anak yang bernama Tao itu sambil menunduk. Namun…

 

Hening.

 

Tao kembali mendongakkan wajahnya. Wajah ceria tadi kini berganti dengan wajah penuh dengan kesedihan.

 

”Kenapa.. Kenapa semuanya diam?”

 

Tao berjalan menuju teman- teman barunya yang tertahan diposisi masing- masing.

 

”Kenapa kalian semua tidak bergerak? Kemana.. Kemanakalian selalu pergi? Kenapa tidak mengajakku?”

 

 

Dengan wajah sedih Tao kembali kedepan kelas dan terdiam disana. Ia menunduk dan.. ricuh.

 

Tao mendongakkan wajahnya , ia melihat teman- teman sekelasnya bergerak. Senyuman kembali terukir diwajah Tao.

 

”Ah.. Mereka kembali..” bisik Tao sangat pelan.

 

 

 

 

Tao sedang bermain disebuah taman bermain. Usianya yang masih 6 tahun membuatnya selalu ingin tahu dan hiperaktif.Namun tidak seperti kebanyakan anak- anak seusianya, Tao lebih suka bermain sendirian.

 

Jujur saja ia kesepian..tapi jika ia mengajak anak- anak lain bermain ia akan merasakan lagi..

 

Perasaan ditinggalkan.

 

Tao kecil mengaduk- aduk pasir dan membuatnya menjadi sebuah miniatur gedung mini. Karena sudah terbiasa bermain sendirian, Tao bisa menikmati permainannya dengan wajah ceria.

 

”Zitao~” Panggil seorang yeoja sembari mendekati Tao.

 

“Mama!” teriak Tao senang dan menghentikan permainannya.

 

“Maaf Tao, sudah lama menunggu mama dan papa?” tanya sang ibu seraya mengambil tissue basah dari dalam tasnya dan mengusap telapak tangan Tao yang penuh pasir.

 

Setelah tangan mungil itu bersih, sang ibu menggendong Tao dan membawanya keluar dari taman bermain menuju sebuah mobil mewah yang terparkir diseberang jalan.

 

“Hari ini kita akan makan direstauran. Tao bisa makan sepuasnya!” ujar sang ibu sambil menyeberangi jalan.

 

”Sungguh?” tanya Tao dengan suara yang sangat lembut dan memainkan rambut lurus panjang ibunya.

 

”Tentu anak manis.”

 

Ibu Tao membuka pintu mobil dan mendudukkan Tao dibangku belakang. Setelah itu sang ibu duduk dikursi depan tepat disamping sang ayah.

 

 

”Jagoan papa sudah puas bermain?” tanya sang ayah dengan suara dibuat- buat sedikit menyeramkan.

 

Tao mengangguk mantap. ”Sudah! Papa tidak melihat gedung yang aku buat tadi! Tidak kalah dengan gedung- gedung buatan papa.

 

”Wah! Papa jadi ingin melihatnya.” ujar sang ayah sembari melajukan mobilnya kejalan raya.

 

 

Suasana hangat dan bahagia menyelimuti keluarga kecil itu. Tao anak satu- satunya karena itu ia sangat dimanjakan oleh orangtuanya. Gurauan dan candaan tidak ada habis- habisnya dilontarkan keluarga bahagia itu.

 

 

BRUAK

 

 

Sampai akhirnya Tao melihat sebuah mobil besar menerjang mobil mereka dari depan.

 

PRAAANGGG

 

Terdengar teriakan keras dan bunyi hantaman yang begitu memekakkan telinga dan… hening.

 

 

Hampa.. waktu terhenti.

 

 

Mata mungil Tao membulat sempurna. Tao tercekat ditempatnya. Nafasnya terengah- engah dan ia melihat mobil besar itu sudah menabrak bagian mobil depannya.

 

“Haah..hahh..” Tao menelan kasar liurnya.

 

Dengan kaki gemetaran Tao mencoba membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil itu.

 

Tao bernafas lega karena mobil besar itu baru menabrak bagian paling depan mobilnya. Hantaman mobil besar itu belum sampai ditempat orangtuanya duduk.

 

Tanpa menunggu, Tao membuka pintu mobil tempat ibunya duduk dan.. ia tidak bisa menarik keluar ibunya.

 

“Mama! Cepat keluar!!”

 

Tidak putus asa, Tao mencoba membuka pintu kemudi ayahnya dan..sama. Ia tidak bisa menarik keluar sang ayah.

 

”Tidak! Kalian harus cepat keluar!” Tao mulai panik dan ia mencoba meminta bantuan pada semua orang yang ada ditrotoar. Ekspresi wajah para pejalan kaki itu kebanyakan kaget karena melihat tabrakan mobil besar itu dengan mobil Tao. Namun tidak ada satupun dari mereka yang bergerak.

 

”Ahjussi! Tolong mama dan papaku!” Tao memegang erat sembari mengguncang- guncangkan tubuh seorang lelaki tua yang terhenti ditempatnya. ”Ahjusshi! Kenapa kau tidak bergerak! Cepat tolong ibuku dan ayahku!”

 

Tao kemudian berjalan kearah seorang wanita yang ekspresi wajahnya nampak ketakutan. ”Ahjumma! Mama dan papaku masih didalam! Hiks..

 

Namun semua sia- sia.

 

Tidak ada yang mendengarkan Tao.

 

Semua terhenti.. Waktu sedang terhenti dan Tao tidak mengetahui itu. Ia selalu menganggap orang- orang yang mendadak diam itu karena kini mereka sedang pergi meninggalkan Tao sendirian didunia ini.

 

Tao kembali berjalan menuju mobilnya, air mata sudah tertumpah dimata mungilnya. Tao takut jika waktu kembali berputar dan…

 

BRUAAAKKK

 

PRANGG

 

Mata Tao membulat. Waktu kembali berjalan dan didepan matanya sendiri mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya hancur terhimping mobil besar itu dari depan.

 

 

TIDAK!! MAMA! PAPA!!”

 

 

 

 

 

Bertahun- tahun berlalu sampai akhirnya Tao mengerti akan sesuatu.

 

Dia spesial.

 

Dirinya menyimpan kekuatan yang spesial dan hanya dirinya lah yang bisa menggunakannya.

 

 

Kini Tao adalah namja manis yang berusia 16 tahun dan ia sudah bisa menguasai beberapa variasi dari kekuatannya. Ia mempelajarinya sendiri.

 

Sewaktu ia masih kecil, kekuatannya belum bisa ia kontrol dan kini.. Tao sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya hingga ketingkat yang mengerikan.

 

 

 

Siang yang terik dan matahari seakan berada sejengkal dengan kepalanya. Namun Tao masih betah berdiri ditempat itu sambil terus menatap jalanan yang ada dihadapannya. Tidak ada yang berubah dengan jalanan itu dan masih tetap sama dengan 10 tahun yang lalu.

 

Tao melempar sebuah buket bunga kejalanan itu dan senyuman kesedihan terpancar diwajah sang namja manis yang kini mengenang kecelakaan orangtuanya 10 tahun yang lalu.

 

Ztttttttt

 

Tao menghentikan waktu saat itu juga. Semua dalam keadaan diam dan mematung. Bahkan anginpun sama sekali tidak terasa menyentuh kulit Tao.

 

Tao masih berdiri disana dengan tegap dan..

 

TES

 

TES

 

Tao menangis.

 

“Maaf.. Papa.. Mama.. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian.. Apa kalian membenciku.. hiks..”

 

 

Bruak

 

 

Tao terduduk dan menangis tersedu- sedu. Ia hanya akan menangis jika waktu terhenti seperti ini. Ia tidak mau ada satu orangpun melihatnya menangis dan lemah.

 

 

PUK

 

 

Tao terhenyak karena baru saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Tangisan Tao terhenti seketika itu. Tapi…

 

Tunggu!!

 

Mustahil!

 

Bukankah Tao sudah menghentikan waktu?

 

Dengan cepat Tao berdiri dan membalikkan tubuhnya.

 

 

 

”Kenapa kau menangis?”

 

 

 

Mata Tao membulat melihat namja tinggi yang kini ada didepannya. Dan.. air mata Tao kembali tertumpah begitu saja.

 

Sosok namja itu terlihat seperti malaikat dimata Tao. Sangat bersinar… dan membuatnya terpedaya.

 

 

GREP

 

 

Tao langsung memeluk tubuh namja itu tanpa tahu siapa namja asing itu dan menangis terisak. Ada kelegaan dihati Tao saat melihat namja itu. Sangat lega.. dan perasaan seperti inilah yang ia tunggu selama bertahun- tahun.

 

Namja itu bergerak!

 

Namja itu kini memelukkanya didalam dunia yang sedang ia hentikan.

 

Namja itu membuat Tao merasa tidak sendirian lagi. Dan itu membuat Tao sangat merasa lega.

 

 

”Uljima.. ne.. Kau pasti selalu merasa kesepian didunia yang hampa seperti ini.” ujar namja itu mengusap punggung Tao.

 

Tao mengangguk dan masih menangis dipelukan namja itu.

 

 

 

Namja itu tersenyum manis dan membisikkan sesuatu tepat ditelinga Tao. ”Namaku Sehun.. Maukah kau ikut denganku?”

 

 

Dan ..

 

 

Sebuah perjanjian diikat.

 

 

 

 

 

 

Tao tersenyum manis saat mengingat pertama kali ia bertemu dengan Sehun. Dimata Tao saat itu, sosok Sehun terlihat sama seperti sosok seorang malaikat. Begitu indah dan menenangkan.

 

Tao sangat mencintai Sehun..bukan dalam artian lain. Ia menganggap Sehun seperti keluarganya sendiri dan rasa sayang tidak cukup mengambarkan perasaan yang ia rasakan pada Sehun.

 

Sepenuhnya Tao mendukung hubungan Sehun dan Suho. Karena Tao sendiri yang melihat seberapa besarnya perjuangan Sehun untuk menyelamatkan Suho.

 

 

Kini Tao, Sehun dan Baekhyun sedang berjalan menuju sebuah ruangan yang akan Baekhyun tempati. Mereka dari tadi menuruni sebuah tangga yang lumayan panjang.

 

”Mengapa Tao senyum- senyum saja dari tadi?” tanya Sehun akhirnya.

 

Tao terkekeh. ”Karena aku teringat saat pertama kali kita bertemu.. soalnya.. Sehun juga terlihat seakan ingin menyelamatkan Baekhyun.”

 

 

Ucapan polos Tao membuat Baekhyun tersenyum pahit. Kepolosan Tao tidak juga berubah. Bahkan ia tidak mengerti kalau Baekhyun adalah ’sandera perang’ mereka.

 

Sehun hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Tao. Sambil terus menarik lengan Baekhyun kasar, Sehun menatap Baekhyun dari sudut matanya.

 

Tatapan Sehun sangat meremehkannya.

 

 

 

 

Sampai akhirnya mereka tiba disebuah pintu. Tao mengerutkan dahinya dan menatap Sehun yang masih tersenyum manis.

 

”Sehun.. bukankah ini bilik hukuman yang kau bilang itu?” tanya Tao bergidik ngeri.

 

”Memang..” jawab Sehun sembari membuka pintu ruangan itu dan..

 

 

BRUAAAKK

 

 

Sehun mendorong tubuh Baekhyun kasar masuk kedalam ruangan itu hingga tubuh mungilnya tersungkur dilantai. Tao membulatkan matanya saat melihat bagaimana kasarnya Sehun memperlakukan Baekhyun.

 

”Se..Sehun.. kenapa?” tanya Tao tergagap.

 

Mata Sehun menatap Baekhyun tajam. Dengan susah payah Baekhyun berdiri dengan kondisi kedua lengannya terikat dibelakang.

 

Melihat Baekhyun kesulitan untuk bangkit, Tao bermaksud menolong Baekhyun. Namun tangan Sehun dengan sigap menahan lengan Tao yang hendak mendekati Baekhyun.

 

”Tao tidak usah mengkhawatirkannya. Dia..tidak pantas untuk Tao khawatirkan.”

 

Tao menatap Sehun bingung. ”Tapi.. dia..” Mata Tao menatap Baekhyun yang masih berusaha bangkit.

 

Sehun tersenyum manis. ”Panggilkan Xiumin, Tao..”

 

Tao mengangguk ragu. ”Baik..”

 

Walau ia tidak tega melihat Baekhyun seperti itu, Tao akhirnya mengikuti perintah Sehun untuk memanggil Xiumin. Dengan langkah berat Tao berjalan meninggalkan ruangan itu.

 

 

 

Sehun dan Baekhyun kini tinggal berdua saja didalam ruangan itu. Baekhyun juga sudah berdiri dengan tegap. Namun tubuh Baekhyun nampak tidak begitu terlihat baik. Air keruh yang tergenang dilantai lusuh ruangan itu melekat ditubuh Baekhyun. Keadaan didalam kamar itu memang bisa dibilang tidak baik.

 

Didalam ruangan yang cukup luas itu hanya ada sebuah tempat tidur kecil dan meja kecil tepat disampingnya. Dinding ditumbuhi lumut dan beberapa tanaman menjalar. Keadaan lantai yang sedikit becek dan kumuh memperburuk ruangan itu.

 

”..Bagaimana dengan kamar barumu.. ah! Maksudku… penjara.” ujar Sehun bengis.

 

Baekhyun menatap tajam namja tampan yang berdiri lumayan jauh dari posisinya.

 

”Cih!” Baekhyun meludah. ”Jangan meremehkan aku, Sehun!”

 

Sehun tersenyum tipis dan melipat tangannya didada. ”Masih saja sok kuat, oeh? Kau itu hanya umpan untuk menjauhkan Chanyeol dari Luhan. Jangan besar kepala!”

 

”Brengsek! Jadi itu tujuanmu membawaku kemari, oeh!”

 

Sehun berjalan mendekati Baekhyun hingga posisi mereka berjarak kurang dari satu langkah. Sehun menatap Baekhyun tidak suka.

 

”Kau licik sekali, Sehun!”

 

 

PLAK

 

 

Mata Baekhyun membulat. Pipinya terasa  perih. Sehun menamparnya dengan sangat kasar. Tangan Sehun terasa seperti batu saat menampar pipinya.

 

 

”Jaga bicaramu.” ujar Sehun dingin.

 

 

Merasa terlalu diremehkan, Baekhyun berusaha menendang kaki Sehun. Namun..

 

 

BRUUKK

 

 

Baekhyun terpental akibat angin yang Sehun kendalikan dan.. kedua kaki Baekhyun kini terikat erat oleh es. Sekarang tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terkulai dilantai lusuh itu. Pergerakan Baekhyun terkunci sama sekali.

 

Seketika itu terlihat sosok Xiumin berdiri disamping Sehun. Baekhyun menelan kasar liurnya.

 

”Ada apa Sehun?” tanya Xiumin.

 

”Mana Tao?” tanya Sehun yang menyadari kalau Tao tidak ada.

 

”Tadi dia tarik oleh Suho untuk melakukan sesuatu. Entahlah.. nampaknya Suho merindukan Tao.” jawab Xiumin sambil mengangkat bahunya.

 

Sehun mengangguk dan menatap Baekhyun yang terkulai dilantai. ”Ada tugas untukmu, Xiumin.”

 

Xiumin mengarahkan pandangannya kearah pandang Sehun. ”Namja ini? Mau diapakan?”

 

 

”Siksa saja.. tapi jangan sampai mati. Dia harus mati didepan mata Park Chanyeol.”

 

 

”Park Chanyeol? Namja api itu?”

 

 

Sehun mengangguk. ”Waktunya membalaskan dendammu, Xiumin. Bukankah kau sempat sakit karena es-mu menyentuh api Chanyeol. Nah.. kau bisa membalaskan dendammu pada kekasih Chanyeol ini.”

 

 

Senyuman manis tergambar diwajah Xiumin. ”Dengan senang hati.”

 

 

Sehun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ia berjalan begitu cepat tanpa memperdulikan teriakan Baekhyun.

 

 

”YA! SEHUN!” Baekhyun masih berteriak namun Sehun kini sudah pergi.

 

 

 

Xiumin menyentuh lantai ruangan dan seketika ruangan lusuh tak terurus itu membeku. Termasuk ranjang dan meja kecil diruangan itu.

 

 

Baekhyun merasakan tubuhnya kedinginan seketika itu. Xiumin tersenyum manis dan mengambil beberapa serpihan es dan membentuknya dengan mudah.. membentuk sebuah cambuk.

 

 

”Sayang jika wajah cantikmu terluka.. tapi aku sedang bosan.” Xiumin mendekati Baekhyun yang nampak sangat pucat.

 

 

”Nikmati saja..”

 

 

 

>>> 

 

 

 

 

Lay menghela nafas panjang. Kini mereka tidak sedang terbang dengan Phoniex Chanyeol.

 

“Kupikir kau tahu alamat rumah Sehun!” cercah Lay sambil menghentak- hentakkan kakinya.

 

“Aku tidak mungkin mengingat hal kecil seperti itu, kan! Lagipula hyung tahu sendiri hanya Luhan dan Kai yang tahu rumah Sehun.”bela Chanyeol.

 

Lay hanya mengangguk malas. “Iya…iya..”

 

Sebenarnya sekarang mereka sedang menuju panti asuhan Luhan dan Sehun. Untuk apalagi kalau bukan menanyakan alamat rumah Sehun. Angin malam mulai merasuki tulang mereka. Lay yang hanya memakai kaos tipis dan cardigan jaring- jaring tentu merasa kedinginan.

 

Chanyeol menyadari hal itu dan langsung melepas jas hitam yang terbuat dari bahan yang hangat ketubuh mungil Lay.

 

“Ah..” Lay menatap Chanyeol yang kini memasangkan jas itu dengan benar ketubuh Lay. “..Chanyeol.. kau bisa kedinginan.”

 

“Ani.. Apa hyung lupa aku ini manusia api.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis.

 

Lay menatap Chanyeol yang selesai mengancingi jas itu dengan sempurna ditubuh Lay. Senyuman manis menghiasi wajah cantik Lay seketika itu.

 

“Xie xie..” ujar Lay lembut.

 

“..Tidak masalah, hyung.”

 

Chanyeol dan Lay kembali melanjutkan perjalanan mereka. Memperhatikan hitamnya langit malam yang kini menguasai.

 

“Chanyeol…”

 

“Ne?”

 

Lay menunduk dan terseyum tipis. “..Jika nantinya kita kalah.. dan tidak ada yang selamat. Apa takdir kita akan terulang lagi?”

 

Chanyeol sedikit kaget mendengar ucapan Lay. “Kenapa hyung bertanya hal seperti itu?”

 

“Aku.. hanya penasaran saja, Chanyeol…”

 

“Kita harus menang dan tidak akan ada yang terluka. Kau harus percaya itu.” Jelas Chanyeol dengan suara tegas.

 

“Aku juga berharap seperti itu.. sangat.”

 

 

Setelah pembicaraan itu, keadaan hening. Tidak ada yang memulai berargumen ataupun membuka pembicaraan. Membiarkan diri mereka masing- masing hanyut dalam pemikiran yang kini bergulat diotak mereka.

 

 

 

“Kita sudah sampai, hyung.” Ujar Chanyeol setelah mereka sampai didepan panti asuhan Luhan dan Sehun dahulunya.

 

Lay mengangguk. “Ayo cepat.”

 

 

 

 

>>> 

 

 

 

“Aku tidak menyangka akan kedatangan teman Luhan dan Sehun.” Ujar Kim ahjumma pemilik panti asuhan.

 

Chanyeol dan Lay tersenyum segan. “Maaf mengganggu malam- malam seperti ini.”

 

“Tidak apa- apa.”

 

Kim ahjumma membawa Chanyeol dan Lay masuk lebih dalam menuju kantor panti asuhan tersebut. Suasana hangat dan begitu menyenangkan. Mereka melewati ruang makan saat menuju kantor dan Chanyeol melihat anak- anak makan dengan riang gembira. Lay tersenyum saat melewati ruang makan tersebut.

 

“Silahkan masuk.” Ujar Kim ahjumma saat mereka sampai dipintu kantor mungil itu. Chanyeol dan Lay langsung masuk setelah dipersilahkan. Kim ahjumma mencari berkas- berkas tentang keluarga yang mengadopsi Sehun.

 

Chanyeol tidak mau diam, ia berjalan pelan menatap berbagai foto yang tergantung didinding. Lay yang awalnya diam ditempat ikut memperhatikan berbagai foto yang ada didalam ruangan mungil yang hangat itu.

 

Lay mengambil figura foto Luhan yang nampak masih berusia 5 tahun. Sungguh begitu lucu dan mungil. Senyuman Lay mengembang saat itu.

 

Chanyeol terus menelusuri foto- foto yang tergantung dan.. tatapan matanya terhenti pada sebuah figura berukuran sedang yang tergantung dekat dengan jam tua.

 

 

 

“Ah.. itu foto Luhan dan Sehun saat baru lulus sekolah menengah pertama. Mereka memang sangat akrab. Lihatlah senyuman mereka…” mata Kim ahjumma nampak berkaca- kaca. Chanyeol tersenyum tipis kearah Kim ahjumma dan kembali menatap foto itu.

 

 

 

“Mereka memang terlihat sangat akrab.” Ujar Chanyeol sembari mengambil berkas tentang keluarga yang mengadopsi Sehun yang baru saja diberikan Kim ahjumma.

 

 

“Tentu saja.. mereka benar- benar saling memiliki. Seakan terikat dalam satu jiwa.. jika Sehun sakit, Luhan juga akan sakit.. jika Luhan menangis, Sehun juga akan menangis.. bahkan mereka tidak bisa tidur terpisah. Selalu bersama- sama..” kenang Kim ahjumma.

 

Chanyeol dan Lay saling tatap kemudian kembali memandang Kim ahjumma.

 

Mana mungkin?

 

Luhan dan Sehun bisa sedekat itu?

 

Mustahil!

 

 

 

Ingin sekali Chanyeol dan Lay mempercayai ucapan Kim ahjumma adalah kebohongan.. namun sepertinya ucapan itu bukanlah sekedar kebohongan dan omong kosong.

 

“Masih segar dalam ingatanku.. saat dimana Luhan demam tinggi dan parahnya waktu itu ada badai salju. Mobil dokter yang menuju kepanti asuhan ini terjebak badai salju.. dan dengan beraninya Sehun menjemput dokter itu seorang diri…”

 

Chanyeol dan Lay mendengar cerita Kim ahjumma dengan sangat seksama. Walau sulit rasanya mempercayai itu.

 

“… aku sendiri terkejut saat melihat Sehun membawa dokter itu kepanti asuhan. Dokter itu mengatakan kalau Sehun seakan mengusir arah angin badai agar menjauhi mobil dokter itu. Kurasa dokter itu hanya salah lihat.. namun.. bisa dipastikan Sehun selalu mengusahakan apapun untuk Luhan.” Sambung Kim ahjumma sembari mengusap air matanya yang jatuh.

 

 

Lay tersenyum dan mendekati sang ahjumma dan mengusap punggung ahjumma itu lembut. “..Ahjumma pasti begitu merindukan Luhan dan… Sehun..”

 

 

Kim ahjumma mengangguk pelan. “Sangat.”

 

 

Chanyeol mengembalikan berkas itu setelah yakin mengingat alamat rumah Sehun. Kim ahjumma meletakkan kembali berkas itu kedalam laci.

 

“Terima kasih, Kim ahjumma.” Ujar Chanyeol sopan. Lay ikut menunduk.

 

 

“Tunggu..anak muda.. bisakah beritahu pada Luhan.. bahwa kami sangat merindukannya.” Tahan Kim ahjumma.

 

 

Chanyeol dan Lay mengangguk mantap.

 

 

“Tentu ahjumma. Suatu saat Luhan pasti akan menceritakan semuanya pada ahjumma.” Lay tersenyum manis.

 

 

“Ah..” Kim ahjumma seakan teringat akan sesuatu dan berjalan cepat menuju sebuah lemari kecil yang ada didekat meja kerjanya. Chanyeol memperhatikan barang mungil yang baru saja dikeluarkan dari lemari kecil itu.

 

 

“Ini.. bisakah kalian memberikan benda ini pada Luhan? Ini adalah hadiah ulang tahun Luhan  yang diberikan Sehun tahun lalu. Kurasa Luhan pasti merindukan boneka rusa mungil ini.”

 

 

Lay mengambil gantungan kunci itu kemudian melirik Chanyeol yang mengangguk.

 

 

“Baiklah, ahjumma. Aku pasti akan memberikannya pada Luhan.”

 

 

Tetes air mata nampak kembali teralir dipipi tua Kim ahjumma. “Terima kasih..”

 

 

 

>>> 

 

 

Keadaan didalam mobil Kris bisa dibilang sangat mencekam. Kris mengendarai mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Kai berulang kali menghela nafas lega saat Kris berhasil melewati beberapa mobil yang sama ngebutnya.

Luhan nampak pucat. Rasanya kepalanya berputar- putar akibat cara Kris mengendarai. Kai menyadari ketakutan Luhan akhirnya buka suara.

 

“Kris.. kurangi kecepatanmu.”

 

Sepertinya ucapan Kai masih dianggap angin lalu oleh Kris. Ia sama sekali tidak mengindahkan perkataan Kai dan  tetap mengendarai mobil itu dengan kecepatan lebih tinggi.

 

“Kau bisa membunuh kita semua, Kris!”

 

Akhirnya Kris menurunkan kecepatan mobilnya secara pertahan dan menghela nafas panjang. “Maaf… tadi emosiku tidak terkontrol.”

 

Luhan menghela nafas lega. “Hyung… apa yang kau fikirkan?”

 

Kris terdiam beberapa saat dan tersenyum pahit. “..Tao..”

 

Kai menutup matanya sejenak dan memandang jalanan yang bergerak melalui jendela mobil. “Partner bukanlah belahan jiwa, Kris. Partner bukanlah orang yang mengendalikan emosimu. Partner hanyalah sahabat saat kita merasa sendirian dan peredam kekuatan masing- masing.. namun kau dan Chanyeol sepertinya sudah melanggar semua itu.”

 

“Aku tahu..” bisik Kris sangat pelan. “…tapi bisakah kau melanggar perasaan tulus yang bernama cinta?”

 

Kai menghela nafas. “Justru hal itu yang menguatkan sebuah ikatan Kris..”

 

Luhan menatap Kai dengan tajam. “…Kai dahulunya adalah partner Sehun, bukan?”

 

Pertanyaan Luhan sontak membuat Kai sedikit kaget.

 

“Dari mana kau tahu, Luhan?” tanya Kris dengan nada yang lumayan dingin.

 

“Aku bertanya, jawab Kai!” Luhan nampaknya sangat penasaran.

 

“Kami hanya ditetapkan sebagai partner karena kau menikah denganku. Sehun tidak menyetujui hal itu.. jadi kami sama sekali tidak pernah menjadi partner atau bekerja sama.” Jelas Kai.

 

“Mengapa karena kau menikah denganku lantas Sehun dijadikan partnermu?”

 

Kris menatap jalanan tajam. “Karena dahulunya klan Angel tidak mempercayai Kai, Sang ‘Jantung’ klan Devil. Maka dari itu, Sehun ditetapkan sebagai partner Kai, itu dilakukan agar Sehun bisa mengawasi Kai agar tidak melakukan tindakan macam- macam padamu dan klan Angel. Sehun adalah keturunan ‘Guardian’, jadi diperkirakan bisa mengawasi Kai.”

 

Luhan mengangguk dan memegang pundak Kai dari belakang, refleks Kai mengalihkan pandangannya kearah Luhan. “Ya?”

 

“Tidak… hanya saja.. aku ingin mengatakan bahwa aku mempercayaimu.”

 

Ucapan polos Luhan membuat Kai dan Kris tersenyum. Walau Kai tidak menjawab perkataan Luhan, bisa dilihat kalau ia benar- benar senang atas ucapan itu. “Aku juga mempercayaimu… Luhan..” bisik Kai didalam hati.

 

 

 

Mobil Kris berhenti disebuah jalanan yang lumayan ramai. Ia parkir kendaraannya disalah satu sisi jalan dan Luhan sedikit bingung melihat keramaian diluar sana.

 

“Hyung… kita sebenarnya mau kemana?”

 

Kris dan Kai keluar dari mobil. Dengan cepat Kai membuka pintu mobil Luhan dan memegang erat tangan namja itu agar keluar dari dalam mobil.

 

Kris menunjuk salah satu tempat. “Disana… tempat klan Angel yang sebenarnya.” Ujar Kris dengan suara berat.

 

Luhan tidak menemukan apapun. Tempat yang Kris tunjuk sama sekali tidak menujukan apapun. Hanya jalan raya yang dipenuhi banyak orang yang sedang lalu lalang. Bisa dikatakan tempat itu ramai sekali, nyaris sama dengan keramaian di Akihabara, Jepang. Sangat ramai.

 

“Aku tidak melihat apapun, hyung.” Jawab Luhan akhirnya.

 

Kris tersenyum manis. “..percaya padaku, Luhan. Tutup matamu dan percayalah bahwa disana kau akan melihat istana indah berwarna putih perak yang bersinar. White House..”

 

Luhan mengangguk ragu dan menutup matanya.

 

“Istana putih perak yang bersinar… tempat Klan Angel yang sesungguhnya.” Bisik Luhan berkali- kali. Ia mengokohkan dirinya untuk terus percaya dan percaya.

Percaya bahwa takdir yang memang mengikatnya lebih dari kenyataan dan.. ia memang harus percaya.

 

Perlahan Luhan membuka matanya dan…

 

“Mwo!!” pekik Luhan keras saat melihat sebuah bangunan bak istana yang berwarna putih perak. Bersinar bagaikan mutiara dan begitu menenangkan ditempat yang ditunjuk Kris. “Se..sejak kapan bangunan itu ada disana?!”

 

“Hanya manusia keturunan Klan Angel lah yang bisa melihatnya, Luhan.” Jelas Kris.

 

“Begitukah?” Luhan kemudian menatap Kai yang berdiri disampingnya. “Kalau begitu Kai tidak bisa melihat istana itu?”

 

Kai menggeleng pelan. “Tidak.”

 

“Masuklah, Luhan. Kau akan aman disana dan… kau hanya harus menunggu kami menjemputmu hingga Red Night usai.” Ujar Kris penuh penekanan.

 

Luhan menatap Kai sekilas kemudian menatap Kris dengan tatapan yang benar- benar penuh makna. “Jadi aku hanya harus menunggu tanpa harus melakukan apa- apa?”

 

“Prioritas klan Angel adalah melindungimu, Luhan. Bukannya membiarkanmu ikut pertarungan kami.” Jawab Kris dengan suara bijaksana. Kai mengangguk menyetujui perkataan Kris.

 

“Berjanjilah untuk menjemputku secepatnya, hyung… Kai..” ujar Luhan pelan setelahnya.

 

Kai menatap Luhan dengan begitu khawatir. Genggaman tangan mereka tambah erat dan tangan Kai terasa bergetar. Luhan menyadari kegundahan Kai.

 

“Kai.. aku akan baik- baik saja.”

 

Kai terlihat begitu khawatir. “..Saat bulan berwarna merah.. semua akan berpihak pada klan Devil. Klan yang dikendalikan oleh Sehun sekarang.”

 

Luhan menunduk.

 

“..dalam pertempuran pasti akan ada yang kalah dan menang… begitu juga dengan pertempuran ini. Jika.. kami kalah dan mereka mendapatkanmu..” Kai terhenti.

 

“Kalau mereka mendapatkanmu, memangnya kenapa? Aku ini tidak lemah Kai. Aku manusia yang menyimpan ‘Jantung’ dan.. aku yakin ada alasan kuat mengapa aku dipilih menjadi penyimpan ‘Jantung’. Yang harus kalian lakukan hanyalah memenangkan pertempuran ini.. dan tidak ada yang terluka.” Luhan mengusap tangan Kai dan menatap Kris dengan tatapan pasti.

 

Kris mengangguk mantap dan tersenyum manis. “..Kami akan menang, Luhan!”

 

Luhan mengangguk mantap. “Begitulah seharusnya, hyung!!”

 

Kai tersenyum dan merasakan hatinya sedikit tenang. “..Baik- baiklah disini dan jangan pernah keluar dari White House.”

 

Luhan mengangguk dan melepas genggaman Kai.

 

Kris mengusap rambut Luhan. “Masuklah sekarang Luhan.”

 

Luhan kembali mengangguk dan mengarahkan kakinya mendekati White House. Tepat saat Luhan dekat dengan pintu megah nan besar itu, pintu tersebut terbuka lebar. Luhan membalikkan tubuhnya sesaat melihat Kris dan Kai.

 

“Aku mencintamu, Luhan..” bisik Kai saat Luhan melangkah masuk dan sosok Luhan hilang. Kai tidak melihat Luhan masuk kerumah itu karena ia memang tidak bisa melihat White House. Yang ia lihat hanya sosok Luhan yang hilang begitu saja.

 

“Pintu White House sudah tertutup rapat, Kai. Luhan sudah aman.” Ujar Kris sembari memegang pundak Kai.

 

Mereka masuk kembali kedalam mobil Kris dan tanpa membuang waktu melajukan mobil itu… menuju ketempat kegelapan.  

 

 

 

>>> 

 

 

 

Suho masuk kedalam sebuah ruangan yang kini terlihat gelap. Ia menghela nafas pelan saat melihat Sehun tengah tegak didepan jendela besar. Membiarkan cahaya bulan yang menguasai ruangan.

 

“Mengapa kau suka sekali tempat gelap Sehun?”

 

Sapaan Suho membuat Sehun membalikkan tubuhnya dan menatap sang kekasih dengan tatapan manis dan menenangkan. “Suho-hyung..”

 

Suho duduk dikursi goyang yang terletak dekat dengan perapian setelah menghidupkan lampu ruangan itu. Sehun kembali melihat keluar jendela besar itu… menatap bulan yang sangat terang.

 

“Esok.. matahari pun akan berwarna merah padam dan bulan akan berwarna merah. Red Night hanya akan datang 1000 tahun sekali dan kebetulan yang entah disengaja atau tidak.. dijaman ini kita bisa merasakan Red Night.” Suho menatap perapian.

 

Sehun menunduk sesaat kemudian mendekati Suho. Sehun mengusap rambut Suho dengan lembut dan tatapan mata mereka tertaut.

 

“..Suho-hyung.. sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu.”

 

“Apa?”

 

Sehun menghela nafas pelan. “.tentang namja bernama Kris.. kau menyukai pemimpin klan Angel itu, kan?”

 

Mata Suho membulat saat mendengar ucapan Sehun. Jujur jantung Suho langsung berdetak kencang saat Sehun menyebutkan nama ‘Kris’.

 

Suho menunduk. “Kenapa kau malah bertanya tentang hal itu?”

 

Sehun tersenyum dan kembali mengusap rambut Suho lembut. “Rona merah diwajahmu sudah menjelaskan semuanya, Suho-hyung. Kau memang menyukai namja bernama Kris itu.”

 

“Ap! Apa.. Sehun! Aku ini kekasihmu!” Suho menatap benik mata Sehun.

 

“Justru karena aku adalah kekasihmu.. maka aku tahu dirimu yang sesungguhnya. Aku bisa merasakan perubahan emosimu jika menyangkut pemimpin klan Angel itu.”

 

Suho menunduk tidak berani menatap mata Sehun. Suho takut jika kebenaran terpancar dari matanya. “Sehun… maafkan aku..”

 

“Tidak masalah, hyung. Hanya saja…” Sehun mendudukan diri dilantai kemudian merebahkan kepalanya dikedua paha Suho. Dengan perlahan Suho mengusap rambut panjang Sehun.

 

“..jangan pernah tinggalkan aku, hyung… jangan pernah menjadi dirinya yang meninggalkanku dalam dendam seperti ini… jangan pernah menjadi seperti.. Luhan..”

 

 

 

>>> 

 

 

 

Tao berjalan mondar mandir dikamarnya. Ia masih saja gelisah, walau tadi Tao lupa akan rasa khawatir nya pada Baekhyun karena diajak makan es krim bersama Suho, namun setelah itu tetap saja Tao merasa cemas.

 

Apa yang akan dilakukan Xiumin pada Baekhyun?

 

Tao ingin sekali melihat keadaan Baekhyun, namun ia takut nantinya Sehun akan marah padanya. Tao sangat menghormati Sehun dan sebisa mungkin Tao ingin menjaga hati Sehun. Apalagi tadi Sehun melarang Tao untuk terlalu khawatir dengan keadaan Baekhyun.

 

“Sebenarnya.. siapa Baekhyun itu? Mengapa aku benar- benar mengkhawatirkannya?”

 

Dan..

 

DEG

 

Tao teringat dengan sosok yang memanggilnya tadi…saat ia berada di Minor House. Ya.. sosok itu memanggil namanya dan karena itulah ia mengetahui api Chanyeol mendekati dirinya dan Chen. Tao tidak tahu siapa namja tinggi itu..

 

Sama sekali tidak tahu dan… Tao bingung mengapa namja itu menatapnya dengan tatapan sendu. Walau tidak terlalu memperhatikan, Tao ternyata menangkap tatapan mata Kris.

 

DEG

 

DEG

 

Tao memegang dadanya yang tiba- tiba berdetak tidak karuan. Ia kembali ingat wajah tampan namja tinggi itu.

 

TES

 

“Oh Tuhan.. aku.. kenapa?” Tao mengusap air matanya yang tiba- tiba jatuh.

 

Rasa rindu tiba- tiba meresap didalam hatinya. Tao tidak mengerti… rasa rindu pada siapakah yang kini ia rasakan?

Tao membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan ia benamkan wajahnya disalah satu bantal tidurnya. “Siapa namja itu… mengapa wajahnya kini menguasai pikiranku? Hiks…”

 

Suara tangisan Tao redam dibawah bantal tidurnya.

 

 

>>> 

 

 

 

Kris mengendarai mobil itu menuju rumah Sehun dengan kecepatan tinggi. Wajah Kai yang menegang membuat Kris membuka pembicaraan.

 

“Jangan khawatir.” Ucap Kris pelan.

 

Kai mengangguk. “Kris.. ada yang kupikirkan. Waktu itu.. saat aku dan Sehun bertemu untuk membicarakan sesuatu dan akhirnya terjadi pertarungan kecil….”

 

“Sewaktu salah satu anak panti asuhan Luhan diculik itu?” tanya Kris tetap memperhatikan jalanan malam yang begitu sepi.

 

Kai mengangguk. “Kau tahu mengapa aku bertarung disana bersama Sehun walau akhirnya Luhan dan Chanyeol datang mengehentikan pertarungan kami.”

 

Kris menggeleng.

 

“Sehun meminta pertukaran ‘Jantung’ yang kumiliki.”

 

“EH!”

 

Kai terdiam sesaat. “..Ia menginginkan ‘Jantung’ matahari merah.”

 

“APA!” teriak Kris sangat keras.

 

“…’Jantung’ matahari merah masih ada padaku, Kris. Hanya saja.. aku berfikir akan sesuatu.”

 

Kris kini menatap Kai dari sela- sela konsentrasinya menatap jalanan karena menyetir.

 

“Benarkah Sehun sudah melanggar sumpah?”

 

 

>>> 

 

 

DEG

 

DEG

 

Kyungsoo memegangi dadanya yang terasa berat. Ia mendengar bisikan yang membuat telinganya berdengung.

 

“Se.. Sehun!!” tiba- tiba Kyungsoo berteriak.

 

 

 

Mendengar teriakan Kyungsoo, Sehun dengan sigap berdiri dan kelur dari ruangan itu. Suho juga mengikuti Sehun. Sebenarnya Sehun mulai merasakan sebuah firasat akan sesuatu dan sepertinya Kyungsoo juga merasakan. Perasaan Kyungsoo yang paling sensitif diantara semua klan Devil.

 

 

“Ada apa?” tanya Sehun saat sudah berada didapur. Nampaknya Kyungsoo akan memasak namun sesuatu membuatnya terkejut. Bahkan kini Kyungsoo tengah terduduk sembari memeluk tubuhnya,

 

“Kau baik- baik saja?” Sehun membantu Kyungsoo berdiri. Suho menarik salah satu kursi dan Sehun membimbing Kyungsoo untuk duduk dikursi itu.

 

“Maaf.. aku hanya mendengar ‘mereka’ berbisik padaku.” Jawab Kyungsoo pelan.

 

“Tanah?” ujar Sehun cepat.

 

Kyungsoo mengangguk. “…..’Mereka’ membisikkan padaku jika sang api mendekat. Aura nya menyeramkan dan tanah mengatakan.. kalau mereka benci itu.”

 

Sehun tersenyum tipis. “Waktunya penyambutan klan Angel.”

 

DEG

 

Suho merasakan dadanya berdetak cepat. Klan Angel.. Kris.. Oh tidak! Apa yang dia pikirkan?!

 

“Suho- hyung… beritahu kepada yang lain. Bersiap di formasi masing- masing… seperti rencana tadi malam.” Sambung Sehun dengan suara begitu dingin.

 

“Baik!”

 

 

>>> 

 

 

Chanyeol dan Lay sudah berada didepan rumah Sehun yang terlihat sangat megah. Wajah Lay nampak pucat karena merasakan perasaan tertekan saat merasakan aura kegelapan yang begitu kuat.

 

“Kau baik- baik saja hyung?” tanya Chanyeol cemas.

 

Lay mengangguk. “Tenang saja.. aku.. bisa menahannya.”

 

Chanyeol memperbaiki posisi jaketnya ditubuh Lay agar namja itu merasa lebih nyaman. “Hyung.. aku tidak mungkin membiarkanmu bertarung. Kekuatanmu bukanlah kekuatan untuk bertarung.”

 

Lay menunduk. “Maaf.. aku tidak berguna.”

 

Chanyeol tersenyum dan mengusap rambut Lay. “Hyung jangan bicara begitu…ah! boneka mungil itu..”

 

Chanyeol mengambil boneka rusa mungil dari saku jaketnya yang dikenakan Lay. Sebenarnya jaket Chanyeol terlihat sangat kebesaran ditubuh mungil Lay. 

 

“Ada apa dengan boneka itu, Chanyeol?”

 

Dengan tatapan pasti Chanyeol menatap Lay. “Jika Sehun dan Luhan benar- benar dekat, pasti Sehun tidak akan lupa dengan boneka ini.. jika Sehun nanti menyerangmu dan aku tidak bisa melindungimu.. perlihatkan saja boneka itu padanya. Kurasa hal itu bisa mengacaukan hatinya…”

 

“Cha..Chanyeol..Bukankah itu licik?”

 

“.. siapa yang lebih licik, hyung?”

 

Chanyeol menggengam tangan Lay erat. “Jangan lepaskan tanganmu dari tubuhku, hyung. Aku yakin sekali jika Baekhyun sudah mereka lukai… saat aku mengalihkan perhatian mereka, masuklah kedalam rumah itu dan .. carilah, Baekhyun.”

 

Lay mengangguk. “Baik!”

 

Chanyeol menutup matanya sesaat dan menghela nafas pelan. Lay mengangguk mantap dan hatinya terlihat begitu kuat.

 

“..Waktunya kita yang menghancurkan pintu mereka, hyung!” Chanyeol tersenyum licik. Ia mengarahkan tangannya yang bebas kearah pintu itu dan seketika api merah yang terlihat menyeramkan menjalar dari tubuh Chanyeol. Lay mempererat genggamannya pada tangan Chanyeol yang tidak mengeluarkan api.

 

“..Show time.”

 

 

 

DUUUAAAAARRRRRRRR

 

 

 

Pintu megah markas klan Devil terbakar dan terbuka dengan lebar. Chanyeol mempererat genggaman tangannya pada tangan Lay dan melangkah masuk.

 

Chanyeol memperkuat pertahanannya walau ia tidak menemukan siapapun setelah masuk kedalam rumah itu. Lay mengedarkan pandangan matanya keseluruh sudut ruangan yang nampak sangat megah. Lampu hias besar dan dua tangga utama yang besar nampak sangat elegan. Sungguh rumah yang sangat megah, namun… aura rumah itu sangat menyeramkan.

 

 

“Tidak kusangka kau membawa satu ekor kelinci bersamamu.”

 

 

Suara seseorang meresapi pendengaran Chanyeol dan Lay. Seseorang baru saja turun dari tangga dengan elegan dan  senyuman licik terukir diwajahnya yang bisa dibilang manis.

 

“Guardian..” bisik Chanyeol sembari mendorong tubuh Lay agar bersembunyi dibelakangnya.

 

“Kau tahu kalau aku juga keturunan ‘Guardian’? Ternyata kau tajam juga, ya. Padahal wajahmu seperti orang bodoh.” Sindir namja manis itu setelah berdiri tegak dihadapan Chanyeol. Walau jarak mereka cukup jauh, Lay dapat merasakan aura kegelapan yang begitu kental dari namja manis itu.

 

“Namaku Kyungsoo.. aku ‘Guardian’ klan Devil. Ini pertama kali kita bertemu, bukan?”

 

“Perlukah kau memperkenalkan diri? Cih!” desis Chanyeol sembari mundur selangkah menjauhi Kyungsoo.

 

Kyungsoo tersenyum simpul dan melipat tangannya didada. “..Sudah kuduga, kau memang bodoh!”

 

 

DEG

 

 

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan melihat Chen sudah berada dibelakang mereka. Lay mempererat genggaman tangannya dengan tangan Chanyeol.

 

“Hai~ kita bertemu lagi, namja api sialan.” Chen melambaikan tangannya kearah Chanyeol dengan santai.

 

“Dimana Baekhyun?!” tanya Chanyeol tidak sabar.

 

Chen menatap Chanyeol remeh. “Mana Luhan? Kenapa yang kau bawa malah namja lemah ini.”

 

Lay menelan kasar air liurnya saat melihat tatapan tajam Chen. Chanyeol menarik Lay kedepannya dan memeluk tubuh Lay agar lebih mudah ia lindungi. Api Chanyeol kini hanya terlihat pada telapak tangannya saja. Itu ia lakukan karena tidak ingin melukai Lay.

 

“Siapa yang menyetujui pertukaran brengsek itu, oeh!!” Chanyeol mulai tidak sabar. Lay merasakan tubuhnya mulai memanas karena emosi Chanyeol.

 

“Chanyeol..” bisik Lay pelan.

 

 

“Sayang sekali, Chanyeol.. padahal kami sudah berbaik hati untuk tidak membunuh Baekhyun sampai kalian membawa Luhan kehadapan kami. Kau mengecewakan kami.”

 

 

DEG

 

 

Suara itu…

 

Chanyeol dan Lay mendongakkan wajahnya menuju lantai dua dan… air mata Lay nampak sudah tergenang dimata indahnya. Chanyeol menatap marah sang pemilik suara itu.

 

Lay melepas pelukan Chanyeol dan mendekat beberapa langkah sembari terus menatap sosok itu. Chanyeol dengan sigap menggenggam kembali tangan Lay namun Lay melepas genggaman tangan Chanyeol.

 

“Suho…” bisik Lay. “Kenapa!! Kenapa kau melakukan semua ini! Bukankah kita partner! MENGAPA KAU MENGKHIANATI KAMI!” pekik Lay akhirnya.

 

Suho menatap Lay dengan tatapan penuh makna. Ia hanya diam tidak menjawab berbagai ucapan Lay. Sebenarnya ia tidak tega melihat partner nya menangis seperti itu. Nampak sekali kekecewaan dari wajah Lay dan itu… menyakitkan bagi Suho. Bagaimanapun mereka.. pernah saling menyayangi sebagai partner.

 

“..Kau terlalu naif, Lay! Sudahi tangisanmu!” ucap Suho menutupi perasaannya.

 

“Apa aku tidak bisa menjadi partner yang baik sehingga kau harus mengkhianati kami! Apa aku sebegitunya tidak bisa kau percaya sampai kau tidak pernah membagi bebanmu padaku.. hingga kau.. harus mengkhianati kami.. Kris-hyung..” Lay menggeleng pelan. “Ke..napa.. hiks.. dia nampak sangat kecewa Suho..” air mata turun begitu saja dipipi Lay. “..kami… mempercayaimu.”

 

Chanyeol menatap pilu Lay. Ternyata Lay memendam rasa kecewa sedalam itu pada Suho. Partner memang bukanlah simbol atau ikatan biasa. Chanyeol sendiri juga merasakannya dan Chanyeol mengerti akan hal itu.

 

Suho menahan emosinya saat nama Kris diucapkan oleh Lay. Ia genggam erat besi pembatas lantai dua tersebut. Senyuman sinis dapat menyembunyikan keadaan hati Suho yang sesungguhnya.

 

“Maaf saja.. Sehun jauh lebih penting daripada sampah seperti kalian!” Suho mengarahkan tangannya pada Lay dan seketika itu air yang terlihat lebih tajam daripada pedang menuju ketempat Lay berdiri.

 

Dengan sigap Chanyeol menarik tubuh Lay hingga mereka berdua tersungkur dilantai menghindari air Suho. Chanyeol mengarahkan tangannya kearah Suho dan api merah seketika itu menghantam pembatas besi lantai 2 yang tadi dipegang Suho.

 

Namun Suho berhasil lolos karena Kyungsoo menghentakkan kakinya dan dengan cepat posisi Suho berdiri jauh lebih tinggi sehingga dapat menghindari api Chanyeol. Kyungsoo mengendalikan tanah yang ada dibawah rumah itu untuk melindungi Suho. Pastinya keadaan rumah itu sudah setengah hancur karena ulah Kyungsoo. Lantai keramik dirumah itu sudah tidak berbentuk lagi.

 

Chanyeol berdiri dari posisinya dan kembali memeluk Lay, dengan cepat Chanyeol merasakan petir Chen mulai menyambar kearahnya. Suho juga mengarahkan kembali airnya kearah Chanyeol. Bahkan Kyungsoo mengendalikan permukaan lantai tempat Chanyeol berpijak agar tidak stabil. Merasa terkepung, Chanyeol mendorong tubuh Lay keras agar menjauh dari dirinya dan..

 

BLAAAARRR

 

Api yang membara kini terlihat melindungi Chanyeol. Serangan Suho dan Chen ternyata tidak mempan.

Suho mendecis saat menyadari serangannya gagal. Chen mundur selangkah dan kembali membentuk petir dari tangannya.

 

Chanyeol menatap Lay yang kini sudah berdiri lumayan jauh dari dirinya. Melihat sosok Chanyeol yang sudah dipenuhi api, Lay hanya bisa terdiam. Emosi Chanyeol sudah tidak tekendali lagi.

 

“LAY-HYUNG PERGI SEKARANG JUGA! CARI BAEKHYUN!” Teriak Chanyeol sembari menghantam petir yang baru saja dilayangkan Chen padanya.

 

Lay mengangguk mantap dan berbalik badan masuk lebih jauh kedalam markas klan Devil itu. Kyungsoo yang melihat itu, bermaksud akan mengejar Lay namun dengan sangat cepat, Chanyeol mengentakkan kakinya sehingga api merah melingkar disekitar Kyungsoo. Seketika itu Kyungsoo terkepung oleh api Chanyeol.

 

“Sial!” umpat Kyungsoo. Ia tidak bisa kemana- mana.

 

 

Suho melompat turun dari lantai dua dengan bantuan airnya yang sangat kuat, Suho kembali akan menyerang Chanyeol.

 

“Brengsek!” Chanyeol mengarahkan tangan kanannya kearah Suho namun air Suho memadamkan api Chanyeol dengan mudah. Serangan terus berlanjut dari Suho maupun Chen dan dengan lihainya Chanyeol bisa menghindarinya. Chanyeol memang namja yang sudah terlatih untuk pertempuran.

 

Kyungsoo yang terkepung tidak kehabisan ide, ia hentakkan kakinya dan seketika itu tempat ia berpijak terangkat jauh lebih tinggi.

 

“Cih!” Chanyeol menyadari hal itu tentu saja jadi sangat panik, ia kembali mengarahkan tangannya pada Kyungsoo dan mencoba kembali mengepung Kyungsoo yang masih bermaksud mengejar Lay Kali ini api yang mengepung Kyungsoo lebih besar dan.. itu sedikit membuat nyali Kyungsoo ciut.

 

Suho tidak membiarkan itu dan mengendalikan airnya menuju tempat Kyungsoo. Namun usahanya gagal dan Suho kembali mengendalikan air nya agar bisa memadamkan api Chanyeol yang mengepung Kyungsoo. Sedangkan Chen mulai menyerang balik Chanyeol dengan petirnya bertubi- tubi.

 

“Agh!!” pekik Kyungsoo saat ia mencoba menghindari api Chanyeol. Kakinya terkena api merah Chanyeol yang sangat panas. Api yang bercampur dengan dendam.

 

“Kyungsoo!!” Dengan langkah cepat Suho berlari kearah Kyungsoo. Tidak main- main air dalam jumlah sangat besar yang dikendalikan Suho akhirnya bisa memadamkan api Chanyeol.

 

“Kyungsoo!!” pekik Chen melihat Kyungsoo yang tersungkur dilantai. Beruntung Suho segera memadamkan api Chanyeol.

 

Sedikit lega karena perhatian Suho sudah tidak terpatok untuk menyerangnya, Chanyeol kini fokus menyerang Chen. Sebenarnya Chen lumayan kuat dan tidak bisa diremehkan. Stamina dan kekuatan tubuh Chen jauh lebih baik daripada Chanyeol. Terlihat jelas karena lincahnya penyerangan yang terus ia layangkan. Jujur Chanyeol lumayan kewalahan menghadapi Chen.

 

 

 

“Kau baik- baik saja?” tanya Suho pada Kyungsoo.

“A..aku baik- baik saja.” Kyungsoo berusaha berdiri dibantu oleh Suho. Melihat keadaan Kyungsoo, emosi Suho tersulut. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Suho mengendalikan air untuk menyerang Chanyeol.

 

Chanyeol terlambat menyadari penyerangan Suho. Ia  mencoba menghindar walau akhirnya lengan kanannya

terluka akibat serangan Suho yang tiba- tiba.

 

“Chen! Bawa Kyungsoo dari sini. Biar aku yang membereskannya!!!” Teriak Suho keras. Nampaknya Suho sudah mulai sangat serius.

 

Chen mengangguk cepat dan dengan waspada, Chen berlari mendekati Suho dan Kyungsoo. Chanyeol memegang lengan kanannya yang kini mengeluarkan darah. Rasa perih mulai dirasakan Chanyeol. Air Suho memang sangat berbahaya.

 

Chen membantu Kyungsoo berjalan dengan memeluk pinggang Kyungsoo. Mereka berdua pergi meninggalkan Suho dan Chanyeol berdua saja. Chen dapat merasakan perubahan emosi Suho yang membuatnya sedikit takut.

 

 

 

Suho menatap tajam Chanyeol yang merobek lengan bajunya dan mengikatkannya pada luka goresannya yang lumayan dalam. Chanyeol hanya mencoba menghentikan pendarahan walau tidak terlalu berhasil.

 

 

“Aku tidak menyangka kau akan datang seorang diri.” Suho berucap dengan suara sangat lantang. “Yah.. walau tadi kau membawa Lay.”

 

“Aku lebih tidak menyangka dengan pengkhianatanmu.” Chanyeol menatap Suho tidak kalah tajam. “..Kau benar- benar gila.”

 

Suho melipat tangannya didada dan tersenyum manis. “Aku gila? HAHAHA! Kalian itu yang terlalu bodoh!”

 

“Aku sudah menemukan berbagai fotomu dengan Sehun.. aku tidak menyangka kalian memiliki hubungan khusus.”

 

Suho berjalan selangkah dan membungkukkan tubuhnya seraya meraih sesuatu yang tergeletak dilantai. Chanyeol memperhatikan Suho dengan sangat waspada.

 

Ternyata Suho mengambil figura foto yang tergeletak dilantai yang kini sudah tidak berbentuk lagi bahkan tanah dan bebatuan mendominasi ruangan yang tadinya nampak sangat megah dan apik.

 

“Chanyeol… jiwamu diselamatkan oleh anak manis itu.. Baekhyun. Kalian berjuang melawan perderitaan bersama- sama. Sedangkan kami sendirian.. dan kau tahu… Sehun lah yang memberikan sebuah cahaya padaku… tidak.. pada kami.”

 

Chanyeol terdiam ditempatnya.

 

Suho menatap figura foto yang ia pegang dan senyuman penuh makna tergambar jelas diwajahnya.

 

“..Sehun akan mengubah semuanya Chanyeol.. Sehun akan mengembalikan kedudukan kita sebagai manusia biasa.”

 

DEG

 

Mata Chanyeol membulat sempurna mendengar ucapan Suho.  Jujur Chanyeol sedikit merinding mendengar ucapan Suho yang begitu yakin. Manusia.. ya.. mereka memang manusia.. namun bukan manusia pada umumnya. Mereka spesial dan.. memiliki beban yang sangat berat.

 

Namun Chanyeol sadar akan sesuatu.

 

Dengan tatapan pasti Chanyeol menatap mata Suho. “Cara yang salah tidak akan membuahkan hasil yang baik. Dan kalian pikir dengan melenyapkan klan Angel, semua akan menjadi lebih baik?”

 

Suho tersenyum dan meletakkan figura foto itu diatas lemari yang sudah terbalik dilantai. Setelah Chanyeol lihat, ternyata figura foto itu adalah foto Sehun bersama klan Devil lainnya.

 

“Siapa bilang kalau hanya klan Angel yang akan dilenyapkan?”

 

Chanyeol mengerutkan dahinya. “Eh?”

 

“Semuanya.. Chanyeol.. semuanya..” ujar Suho dengan senyuman sinis. “Dan… aku akan membuatmu tertidur terlebih dahulu.”

 

 

 

>>> 

 

 

 

Lay berlari kencang disebuah lorong dan terus saja yang ia temukan adalah kekosongan. Dirumah bergaya Eropa kuno itu, banyak sekali ruangan dan Lay dari tadi tidak melihat siapapun dirumah itu. Sebenarnya Lay bersyukur karena ia tidak bertemu dengan salah satu anggota Klan Devil namun keanehan terus saja ia rasakan.

 

Beberapa ruangan telah Lay masuki dan semuanya kosong.

 

Lay terus berlari.. berharap ia bisa menemukan Baekhyun.

 

Tidak terasa air mata mengalir dipipi Lay, dengan cepat Lay mengusap air mata itu dan terus memeriksa setiap ruangan yang ia temui. Sampai akhirnya, langkah Lay terhenti pada sebuah pintu berwarna coklat gelap yang terletak disudut lorong dekat dengan tangga menuju lantai 3. Pintu itu sedikit terbuka.

Dengan ragu Lay mendekati pintu itu dan…

 

Kriiieettt

 

Mata Lay menyipit saat melihat tangga menuju kebawah dibalik pintu itu. Apa dirumah ini memiliki ruang bawah tanah?

Lay meneguk liurnya dengan paksa dan mengangguk pelan. “..jangan takut, Lay!”

 

 

>>> 

 

Luhan terus berjalan mengelilingi White House. Ia merasa baru kali ini ia pergi ketempat itu, namun anehnya ia tidak merasa asing. Bahkan Luhan mengetahui letak- letak ruangan dengan sempurna. Sejauh mata memandang, hanya ketenangan yang terasa. Luhan tahu betul.. rumah itu diliputi oleh cahaya Baekhyun. Dan bisa dipastikan White House itu sudah dipersiapkan jauh- jauh hari untuk Luhan.

 

TAP

 

Langkah Luhan terhenti saat ia melihat seseorang berdiri diatas tangga. Mata Luhan menyipit dan mendekati tangga itu.

 

DEG

 

Jantung Luhan terasa terpompa lebih cepat melihat sosok yang kini menuruni tangga. Sosok itu sudah berhadapan dengan Luhan walau jarak mereka cukup jauh. Namun sosok itu terlihat sedikit transparan dan begitu bening. Seakan begitu rapuh.

 

Luhan..” sosok yeoja itu tersenyum pada Luhan.

 

“Kau… aku?” Luhan merasakan bulu kuduknya berdiri.

 

Bagaimana tidak? Ia melihat sosok yeoja yang begitu mirip dengan wajahnya. Seakan Luhan kini sedang bercermin. Yeoja itu berambut panjang sepinggang dan memakai gaun putih tanpa lengan selutut. Yeoja itu tersenyum sangat manis.  

 

Aku adalah dirimu dimasa lalu.”

 

Luhan mengerti.. yeoja itu adalah dirinya. Dengan ragu, Luhan mengangguk.

 

“..Tidak seharusnya kau ada disini Luhan.. Seharusnya kau menyelamatkan Kai dan Sehun.

 

“Eh?”

 

Yeoja itu tersenyum. “.. kau pemilik ‘Jantung’ yang kuat Luhan. Kekuatanmu ada bukan untuk kau simpan.. Mereka mungkin terlalu mencemaskanmu.. tapi.. yang harus kau lakukan adalah menolong Sehun… Kai.. klan Angel.. klan Devil..”

 

Luhan semakin tidak mengerti.

 

Luhan berwujud yeoja itu tersenyum dan berjalan mendekati Luhan. Seketika itu ia arahkan telapak tangannya kearah Luhan.

 

Entah gerak tubuh Luhan yang refleks atau memang ia sudah mengerti, Luhan menyatukan telapak tangan mereka berdua dan… Luhan merasakan angin disekitarnya berhembus sangat kencang. Berbagai perabot White House nampak terangkat dan mata Luhan membulat saat ia merasakan kekuatan yang tersimpan didalam tubuhnya mulai bangkit. Tubuh Luhan seketika itu bercahaya.

 

Kau tidak mengerti Luhan? Kekuatanmu sudah sepenuhnya bangkit… aku membantumu membangkitkan kekuatanmu.”

 

Luhan menatap yeoja yang juga dirinya itu dengan tatapan tajam. Seketika itu Luhan mengangguk mantap dan melepas tangannya dari telapak tangan yeoja itu.

 

Keadaan kembali tenang. Angin yang tadinya begitu kencang sudah tenang dan perabot yang tadinya melayang sudah terletak ditempat semula walau posisinya sedikit berantakan.

 

“Terima kasih..” ujar Luhan pada yeoja itu.

 

Luhan.. selamatkan, Kai dan Sehun… kumohon. Dahulu aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Kini.. tugasmu untuk menyelesaikan semuanya.”

 

Luhan mengangguk mantap. “Aku pasti akan menyelamatkan mereka!”

 

Luhan berwujud yeoja itu tersenyum dan berbalik badan. Ia kembali berjalan menaiki tangga. Luhan hanya memandang perwujudan dirinya dimasa lalu itu. Senyuman manis tersungging dibibir Luhan saat melihat yeoja itu menghilang begitu sampai dianak tangga paling atas.

 

Tanpa membuang waktu, Luhan berlari menuju pintu White House. “Tunggu aku… Sehun.. Kai..”

 

 

>>> 

 

 

 

Sehun berdiri tegap diatas pagar beranda rumahnya dilantai tertinggi. Ia tatap wajah bulan yang terlihat mulai memerah. Tepat tengah malam nanti, wajah putih bulan akan berubah berwarna merah padam. Dan saat itu.. Sehun akan membunuh Luhan.

 

Sehun tahu betul klan Angel tidak akan membawa Luhan. Dan itu semua sudah diperkirakan Sehun. Suara pertempuran dilantai paling dasar rumahnya terdengar hingga ke alat pendengaran Sehun. Seakan terbawa angin malam itu. Senyuman sinis kembali menghiasi wajah tampan Sehun.

 

Kedua lengan Sehun terbentang dan Sehun meresapi angin malam yang kini menyentuh kulitnya. Ia pejamkan matanya sesaat.

 

Seketika itu angin mulai berhembus agak kencang. Sehun membuka matanya dan menganyunkan tangannya dengan begitu cepat. Semilir angin yang tadinya tenang kini berhembus bagaikan amukan alam. Sehun melompat dari lantai 5 rumahnya dan angin yang ia bentuk tadi menjadi pijakan hingga tubuh Sehun sampai dengan selamat dibawah.

 

 

“Aku melihatmu Luhan… Aku akan menyambutmu disini. Cepatlah datang…” bisik Sehun dengan seringai menyeramkan.

 

 

 

 

TBC

 

 

   

A-Yo whats up!! #ditabok

Aku memang kurang bisa ya buat action -__-

Entah gimanalah ini jadinya.. berantakan ya?

Apapun itu.. saya mau saran ya TT^TT

Susaah bgt nih.. kasih aku masukan dan kalau mau marahin juga gpapa

Mau dicaci maki juga gpapa #miris amat

Oh ya *tepok jidat*

FF REQ aku belum bisa buat TT^TT soalnya FF yg on going masih membutuhkan perhatian #ditabok

Wassalam, Kim Hyobin.

159 thoughts on ““The Betrayed Angel” Part 8

  1. wiww… mkin seru cerita nyaa..!!
    brillian bgt bkin crita bgini. salut sm authornyaa
    maaf bru komenn.. aku reader baru
    err… ud telat bgt yah komenny.. hohoo #ditabok

    ff disini daebakk semuaa..
    slm knl thor ^^
    ditunggu ff terbaru nyaa

  2. huwaaa makin tegang ini ff :O
    Chanyeol jangan sakiti kyungsoo biarpun dia klan devil wkk
    duuh itu si kai ama kris jalan2 dulu yah -_- knp ga teleportasi atau terbang aja biar cepet:/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s