Another Promise Chapter 9

Hallo.. Hyobin update AP nih #bangga? #plak

Sekali lagi.. ff yang mau mendekati kata TAMAT

Aku gak nyangka ajah AP ini lumayan panjang ya.. sumpah, agak kaget pas liat Chap 9

#tabok diri sendiri

Semoga tidak bosan ya… apalagi banyak bgt karakter aneh- aneh dichapter ini

Saya mohon ampun T^T

Pokoknya kasih saya saran dan boleh marahin saya di komentar. Okesiip?

Yuk mari lanjut ke FF ~ *tarik Chanyeol

 

Another Promise

Kim Hyobin

 

Cast : Kim Jongin- LuHan- Oh Sehoon

Other : Byun Baekhyun – Park Chanyeol

Genre : Angst, Romance, Drama, School Life, Sad Romance, Hurt

BoyBand : EXO ( EXO K and EXO M)

Disclamer : This story MINE! EXO just belong to Exotic and SMEnt

Warning : YAOI / Boy x Boy / BL

So, If you don’t like, DON’T READ ^^

DISARANKAN UNTUK UMUR 15 +

 

 

Maaf jika aku menyalahi batas aturan

Maaf jika aku buta akan ketulusan

Maaf jika aku hanya mendengarkan bisikan hatiku

Maaf jika aku selalu membayangimu

 

Kau tidak akan pernah sadar

Betapa besarnya cintaku padamu

 

Aku tidak membutuhkan balasan cintamu lagi

Yang kubutuhkan..

Hanya kebahagiaanmu

 

Dan..

Kebahagiaanmu adalah denganku.

Bukan dengan dirinya.

 

 

 

Part 9

 

Dengan pelan, Kai merebahkan kepalanya kepundah Baekhyun. Kai tidak memeluk Baekhyun, hanya merebahkan kepalanya dipundak sempit Baekhyun.

Tentu saja Baekhyun saat senang. Dengan lincahnya Baekhyun membelai rambut Kai dan mengusap punggung lebar namja tampan itu.

Namun..

Baekhyun tersentak karena merasakan pundaknya ..basah.

 

 

Kai menangis.

 

“K…Kai?” desis Baekhyun pelan saat ia merasakan tubuh Kai bergetar karena menangis. Namun Kai tidak menjawab dan kini ia memeluk tubuh Baekhyun erat.

 

“Ma..Maafkan aku Baekhyun..” bisik Kai begitu redam.

 

Baekhyun memejamkan matanya sesaat. “Kai tidak perlu minta maaf.”

 

Kai mempererat pelukannya ditubuh Baekhyun. Ia begitu takut.. begitu takut jika masa lalu kembali terulang. Betapa dalamnya rasa penyesalan dihati Kai saat tahu waktu itu Baekhyun mencoba bunuh diri karena dirinya.

Siapa bilang Kai tidak memikirkannya? Sampai detik ini, Kai masih sangat menyesal dan.. karena itu ia tidak bisa membantah satupun ucapan Baekhyun.

 

Ia tidak bisa karena ia..tidak mau menyakiti Baekhyun seperti dulu.

Dan.. Kai selalu menganggap kehilangan sahabatnya, Sehun, adalah hukuman yang Tuhan berikan padanya karena ia begitu tidak peka. Seharusnya ia menolak Baekhyun dengan cara lebih baik. Bukannya menolak begitu saja.

Selama ini.. Luhan lah yang menjadi kekuatannya.

Ciuman Baekhyun membuat Kai merasakan penyesalan yang lebih dalam. Ia ingin menjaga hatinya.. namun Baekhyun seakan menguasai putaran hidupnya.

Dan Kai.. benci itu.

Bukan benci pada Baekhyun… hanya saja ia benci kelemahan hatinya.

 

 

 

>>> 

 

 

Seorang namja mungil masuk kedalam sebuah rumah yang kini sudah menjadi rumahnya. Ia taati setiap sudut rumah untuk menemukan seseorang. Dan.. ia melihat seorang namja cantik yang sedang menonton televisi sembari memakan sebungkus keripik kentang.

 

“Aku pulang..” ujar namja mungil yang bernama Luhan tersebut.

 

“Selamat datang kembali, Lu!” namja cantik yang sedari tadi menonton televisi itu menyapa Luhan dengan riang. Namun ia melihat sebuah keanehan. Luhan sendirian.

 

“Mana Jongin, Lu?”

 

Luhan tersenyum tipis dan duduk disamping Taemin, sang namja cantik yang tidak lain adalah sepupunya. “Menjemput Baekhyun disekolahnya.”

 

Mata Taemin membesar dan ia menelan kasar keripik kentang yang ia kunyah. “Baekhyun?”

 

Luhan mengangguk.

 

“Jinjja! Inilah kelemahan Jongin.. sejak dahulu ia selalu mengikuti perkataan Baekhyun. Justru karena sikapnya yang seperti itu, Sehun jadi semakin membencinya.”

 

“Eh?” Luhan menatap Taemin tidak mengerti.

 

“Jongin itu namja yang terlalu baik… dan ia namja yang tidak peka. Sewaktu pertama kali aku melihat Baekhyun, Jongin, dan Sehun bersama.. aku sudah tahu kalau Baekhyun menyukai Jongin dan Sehun menyukai Baekhyun, namun si pabbo itu baru menyadari perasaan Baekhyun saat Baekhyun menyatakan perasaannya pada Jongin. Dia sangat lambat!”

 

Luhan masih diam mendengarkan ucapan Taemin.

 

“Kau tahu  mengapa Jongin sangat menyayangi Baekhyun?”

 

Luhan menggeleng. “Karena mereka sahabat?”

 

“Tepat! Jongin adalah namja yang sangat lurus. Jongin memiliki hati yang hangat. Jika ada seseorang yang bergantung padanya, ia pasti akan menjaga orang itu dengan sepenuh hati. Baekhyun tipikal namja yang tidak bisa mandiri pasti mendapat perhatian lebih dari Jongin.”

 

“Benarkah hanya karena itu?”

 

Taemin tersenyum manis. “Bukan hanya itu… Baekhyun pernah menyelamatkan nyawa Sehun. Itulah alasan kuat Jongin sangat menyayangi Baekhyun.”

 

Luhan mengerutkan dahinya. Jantungnya mulai terpompa dengan keras. Apa lagi ini? Apa masih ada hal yang tidak ia ketahui tentang hubungan Baekhyun, Sehun, dan Kai?

 

“Jelakan padaku, Taemin-hyung..” pinta Luhan.

 

Taemin memperbaiki posisi duduknya. “Sehun memiliki penyakit maag akut sejak kecil.. kedua orang tua Sehun sangatlah sibuk dan.. “

 

 

 

Flash back

 

Hujan lebat menguasai sore masa itu. Seorang anak yang memakai mantel hujan berwarna kuning madu mengetuk pintu yang terlihat besar dibandingkan tubuh mungil putihnya yang kurus. Pipi tembam nya memerah karena kedinginan. Suara indahnya tidak juga disahut oleh sang pemilik rumah. Dengan ragu sang anak lelaki mungil itu membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci.

Kaki mungilnya melangkah masuk dan ia tidak menemukan siapapun.

Sampai akhirnya ia mendengar suara desahan kesakitan dan isakan halus didalam dapur.

 

“Sehun!!” anak lelaki mungil berkulit seputih salju itu terkejut melihat seorang anak yang meringkuh kesakitan dilantai, Sehun.

“Sehun! Andwae!!” pekik anak lelaki yang kini sudah meletakkan kepala Sehun dipangkuannya. Anak lelaki itu menangis melihat keadaan Sehun yang kini mengaduh kesakitan.

 

Namun dari sudut bibir Sehun terulas senyuman manis yang begitu pucat.

 

“Baek..hyun.. kukira aku akan mati.. sendirian..” bisik Sehun sambil memegangi pipi tembam namja mungil yang bernama Baekhyun itu.

 

“Tidak!! Sehun tidak boleh mati!!” pekik Baekhyun sambil menangis terisak.

 

Wajah Sehun pucat pasi dan matanya kini terpejam paksa karena kesakitan. Rintihan Sehun membuat tangisan Baekhyun tambah kencang.

 

“K.. KAI!! KAI TOLONG SEHUN! KAI!!”

 

Teriakan keras Baekhyun terdengar hingga kerumah Heechul dan terdengar oleh Kai dan Taemin.

 

“KAI!!”

 

“Hiks… KAI KUMOHON TOLONG SEHUN!!”  pekik Baekhyun sampai akhirnya Kai dan Taemin datang menolong.

 

 

 

End Flash back

 

 

“Sewaktu itu mereka masih sekolah dasar dan aku baru saja masuk sekolah menengah pertama. Dari sanalah aku mengetahui kalau penyakit Maag bisa mengakibatkan kematian.. Sehun sudah menahan rasa sakit itu berjam- jam dan.. Baekhyun datang tepat waktu.. walau sedikit terlambat.. tapi kalau tidak..” sambung Taemin.

 

Luhan menunduk.

 

Ternyata dia belum mengetahui sepenuhnya tentang Sehun. Bahkan perasaan Kai yang sebenarnya pada Baekhyun seperti apa.. terlalu intim, bukan?

Taemin memegang pundak Luhan. “Lu.. Kurasa kau harus menegaskan Kai..”

 

“Eh?”

 

“..untuk tidak terlalu mengikuti kemauan Baekhyun. Ini juga demi kebaikan Kai.”

 

Luhan tersenyum tipis dan menggeleng pelan. “Taemin-hyung.. kenapa kau sepertinya tidak menyukai Baekhyun? Padahal.. Baekhyun namja yang cukup baik walau ia.. keras kepala.”

 

“Bagaimana aku tidak menyukainya jika ia selalu membuat Sehun dan Kai bertengkar? Dulu…aku selalu melihat mereka berdua saling menyayangi… sejak bertemu dengan Baekhyun.. persahabatan mereka sama sekali tidak bertahan.”

 

Luhan menghela nafas panjang. “Jika aku mengatakan sesuatu pada Baekhyun.. apa Sehun dan Kai akan kembali membaik, hyung?”

 

“Aku tidak tahu.. tapi patut dicoba, kan?”

 

 

>>> 

 

Sehun masuk kedalam rumahnya dengan wajah tertekuk. Ia hempaskan tas sekolahnya dan membuka jas sekolahnya dengan kasar.

Ia duduk disofa sambil menggaruk kepalanya kasar. “Kau manusia paling bodoh, Oh Sehoon!!”

Selalu seperti itu… menyesal setelah bertindak dan sekarang siapa lagi yang akan tersakiti oleh sikap egoisnya?

Luhan kah?

Kai.. Baekhyun..?

Entahlah..

 

Pikiran Sehun kembali melayang pada sosok Luhan.

 

Belum puaskah ia menyudutkan perasaan Luhan lebih jauh lagi?

 

Apa namja cantik itu harus terus mempertahankan perasaan yang ia anggap sia- sia pada Sehun? Toh, Sehun mengatakan bahwa ia masih mencintai Baekhyun.

 

Untuk apa Luhan terus menunggu namja egois seperti Sehun sementara didepan mata Luhan, ada Kai yang sudah lama menaruh hati dan bisa melindungi Luhan melebihi siapapun.

 

Sehun menghentakkan kakinya. “..Bukan ini yang aku harapkan… Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan untuk membahagiakannya? Apa yang harus kulakukan… cukup.. cukup sudah aku merasakan sakitnya melepas Baekhyun..”

 

Sehun menunduk. “..kali ini aku ingin mempertahankannya.. seumur hidupku.”  

 

 

>>> 

 

“Kai.. kemarilah!” teriak Baekhyun kegirangan. Kai tersenyum simpul mengikuti namja manis yang kini berlari kecil didepannya.

“Jangan berlari, Baekhyun. Nanti kau terjatuh!” Kai mempercepat langkahnya menyusul Baekhyun.

 

Mereka sedang berjalan ditaman kota. Sore yang indah jika dinikmati dengan canda dan tawa. Baekhyun belum mau pulang ke apartemennya. Jadi Kai harus mengikuti keinginan namja manis itu yang masih ingin bermain. Tidak mungkin Kai membiarkan Baekhyun bermain sendirian, walau sebenarnya Kai kini memikirkan Luhan.

 

Baekhyun mendekati kolam yang lumayan luas dan disana banyak sekali pepohonan rindang. “Kai.. ayo duduk disini.”

 

Kai mengangguk dan mengikuti Baekhyun yang duduk dikursi taman tepat berhadapan dengan kolam besar itu. Baekhyun bisa leluasa bergerak karena Kai yang menyandang tas Baekhyun. Walau menyandang dua tas sekaligus, Kai nampak tidak kerepotan.

 

“Aku mau es krim.” Ujar Baekhyun tiba- tiba.

 

Kai tersenyum manis dan mengusap rambut Baekhyun lembut. “Tunggu disini, ya. Aku akan memebelikanmu es krim disana.”

Baekhyun mengangguk mantap. “Kai aku mau es krim rasa-“

“Strawberry.. aku tidak akan lupa kesukaanmu.” Sambung Kai cepat.

Kembali dengan senyuman manis dan anggukan mantap, Baekhyun menjawab perkataan Kai.

 

Kai berjalan menjauhi Baekhyun menuju kedai es krim mini yang terletak tidak begitu jauh dari tempat mereka duduk. Baekhyun memandang kolam dengan air yang begitu jernih dan kini berwarna orange bening karena menerima pantulan matahari senja yang mulai nampak.

 

Baekhyun berdiri dari posisinya dan mendekati kolam itu. “..apakah kolam ini dalam?”

Sedikit berjongkok Baekhyun mengarahkan tangannya menyentuh air kolam itu. Senyuman aneh terlihat diwajah Baekhyun saat menyapu air kolam yang ia rasakan lumayan dingin.

 

“Kalau aku menenggelamkan sesuatu disini… pasti sulit ditemukan, ya? Hihihi…”

 

GREP

 

Mata Baekhyun membulat merasakan seseorang melingkarkan tangannya dipinggang Baekhyun dan menarik tubuh kurus Baekhyun menjauhi kolam. Nafas orang itu terdengar sedikit memburu. Baekhyun tersenyum manis saat menyadari siapa yang baru saja memeluknya.

 

“Kai.. kenapa kau panik seperti itu?”

 

Kai mendudukkan tubuh Baekhyun dikursi taman tadi dan memegang pundak Baekhyun. Tangan Kai bergetar hebat. Ia kendalikan emosinya untuk tenang.

“Jangan membuatku khawatir, Baekhyun. Lebih baik kau ikut denganku membeli es krim. Kau benar- benar membuatku khawatir.” Kai kembali menyandang tasnya dan tas Baekhyun yang tadi terletak dibangku taman.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. “Memangnya Kai berfikir aku akan meloncat kedalam kolam itu?”

 

“Aku tidak berfikir seperti itu! Aku hanya takut kau terpeleset atau tidak sengaja terjatuh kedalam sana.” Kai menarik tangan Baekhyun menjauh dari tempat itu dan menuju kedai es krim yang tadi Kai tuju. Kali ini tangan Kai tidak lepas menggenggam tangan Baekhyun, begitu erat dan sangat melindungi.

 

Baekhyun tersenyum manis dan memandang sosok Kai dari belakang. Kai sibuk memesan es krim yang diinginkan Baekhyun. Betapa besarnya perasaan cinta Baekhyun pada Kai. Sosok Kai begitu indah dan tinggi dimata Baekhyun. Sejak dahulu, perasaan Baekhyun pada Kai tidak pernah luntur sedikitpun.

 

Makanya.. Kai akan kulindungi walau taruhannya adalah nyawaku.” Bisik Baekhyun dengan senyuman dingin. “Tidak ada yang boleh merenggut Kai dari sisiku.. Tidak boleh!

 

 

>>> 

 

 

Luhan kini berdiri didepan pintu rumah Sehun. Berkali- kali Luhan menghela nafas pelan dan meneguhkan hatinya untuk bertemu dengan Sehun.

 

TOK

 

TOK

 

Luhan akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Sehun.

 

KLEK

 

“Luhan?” Sehun lumayan terkejut melihat Luhan yang kini berkunjung kerumahnya.

 

“Apa aku mengganggumu?” tanya Luhan agak segan.

 

“Tentu tidak… silahkan masuk!” ajak Sehun yang dijawab oleh anggukkan oleh Luhan.

 

Luhan masuk kedalam rumah Sehun dengan langkah pelan. Sehun menutup pintu rumahnya saat Luhan mulai berjalan masuk menuju ruang tamu. Sehun menghela nafas pelan kemudian mengikuti Luhan.

 

“Ada apa?” tanya Sehun setelah mereka duduk berhadapan diruang tamu.

 

Luhan tersenyum manis dan mengangguk pelan. “Maaf aku bertamu saat hari menjelang malam. Aku.. hanya ingin bertanya sesuatu padamu.”

 

“Tidak apa- apa, Luhan.” Sehun menggaruk kepalanya pelan.

 

Luhan diam sejenak kemudian berdiri. “Maaf.. sepertinya aku benar- benar tidak tahu waktu. Kau bahkan belum bertukar pakaian. Pasti aku benar- benar mengganggumu. Maafkan aku..”

 

Sehun ikut berdiri dan menggeleng cepat. “Ti..tidak! Kau benar- benar tidak menggangguku.”

 

“Benarkah?” tanya Luhan dengan nada bicara yang masih segan.

 

“Tentu saja!”

 

Luhan tersenyum dan kembali duduk disofa berwarna coklat susu itu. Tentu Sehun juga kembali duduk dan suasana kembali hening. Luhan nampaknya masih bergulat dengan pikirannya sendiri.

 

“Apa yang akan kau tanyakan Luhan?” buka Sehun akhirnya.

 

Luhan yang tadinya menunduk, mendongakkan wajahnya menatap wajah Sehun. “Be..begini..”

 

Perkataan Luhan kembali terhenti dan itu membuat Sehun bingung. “Kenapa kau nampak ragu seperti itu?”

 

“Maaf.. aku hanya berfikir apakah kau akan menganggapku terlalu ikut campur jika aku.. membahas tentang.. Baekhyun-sshi..”

 

Sehun mengerutkan dahinya. “Baekhyun?”

 

“Ne.. sepertinya Baekhyun-sshi sangat membenciku.”

 

Sehun menghela nafas panjang. “Mengapa kau berfikir seperti itu, Luhan?”

 

“Dengan apa yang ia lakukan kemarin padaku bisa dilihat… kalau dia membenciku, Sehun. Aku bukannya mau berfikir buruk tentang Baekhyun-sshi.. hanya saja aku jadi tidak nyaman jika Baekhyun-sshi membenciku. Aku ingin minta..maaf.”

 

Sehun membulatkan matanya mendengar ucapan Luhan. “Kenapa kau yang meminta maaf, Luhan? Baekhyun yang menamparmu dan.. kurasa itu sepenuhnya kesalahan Baekhyun. Aku tahu Baekhyun sejak kecil dan dia… memang namja yang begitu obsesif. Kau jangan terlalu memikirkannya.”

 

“Dia mengatakan bahwa aku…yang membuat hidup Sehun dan Kai menderita. Ia terlihat begitu menyayangi kalian. Aku.. aku sempat berfikir.. ucapan Baekhyun ada benarnya..” Luhan menunduk. “.. lebih baik aku tidak datang ke.. Korea jik-“

 

GREP

 

Ucapan Luhan terpotong. Nafas Luhan sedikit tercekat karena tiba- tiba Sehun berdiri dan memegang kedua pundak Luhan erat dan mata Sehun menatap tajam sepasang mata Luhan yang begitu indah dan memabukkan.

 

“Aku tidak akan pernah membiarkan kau berfikir seperti itu, Luhan. Kedatanganmu ke Korea tidak menambah beban siapapun. Bukankah kau lebih bahagia sejak tinggal di Korea? Bukankah semua orang berhak mendapat kebahagiaan?”

 

Luhan membulatkan matanya mendengar ucapan Sehun. “..A..Aku..tapi…”

 

Sehun mempererat genggaman tangannya pada pundak Luhan. “Aku benar-benar bersyukur karena mengenalmu, Luhan. Aku bersungguh- sungguh… kedatanganmu kedalam hidupku membuatku sangat bahagia.”

 

“Sehun..” Luhan begitu terhenyak atas ucapan Sehun. Tidak berbohong, ucapan Sehun membuat hati Luhan serasa lebih ringan dan lega.

Jujur, ucapan seperti itu yang ia harapkan terlontar dari bibir Sehun. Namja yang sangat ia cintai. Namun…. Sehun menyukai Baekhyun dan itulah yang Luhan tahu.

 

“Terima kasih, Sehun..” Luhan menggenggam tangan Sehun yang memegang pundaknya. “.. berkat Sehun.. dunia yang kuanggap kelam, menjadi lebih bersinar.. berkat Sehun.. aku melihat sebuah kebahagiaan.. berkat Sehun.. aku mengenal namanya cinta..berkat keberadaan Sehun dalam hidupku.. terima kasih …”

 

DEG

 

Ya Tuhan.. Sehun merasakan dadanya begitu sesak mendengar ucapan Luhan. Seberapa besarnya arti keberadaan Sehun dalam hidup Luhan.

Tangan Sehun yang digenggam oleh Luhan terasa bergetar dan Luhan menyadari hal itu. Akan tetapi Luhan tidak bertanya, ia membawa tangan Sehun menyentuh pipinya. Meresapi kulit tangan Sehun yang menyentuh kulit lembutnya.

 

Seakan terpedaya, Sehun mengarahkan tangan satunya yang bebas menyentuh pipi merah Luhan. Kedua tangan Sehun kini menguasai pipi Luhan yang mulai memerah malu. Sehun menumpukan kakinya dilantai dan menyamakan posisi Luhan yang duduk sofa.

Mata mereka tertaut cukup dalam. Sehun seakan menemukan ketulusan yang amat murni dibenik mata Luhan yang kini terlihat berat. Tidak ada bedanya dengan mata Sehun.

 

“..Sehun..” bisik Luhan. “..maaf.. cintaku padamu terlalu kuat.. maafkan aku mengatakan hal- hal aneh seperti itu..”

 

Sehun menggeleng pelan. “Seharusnya aku yang minta maaf Luhan..”

 

“Untuk apa Sehun? Sehun tidak pernah berbuat salah padaku.”

 

Sehun tersenyum tipis. Dan…

 

TES

 

TES

 

Mata Luhan membulat melihat Sehun..menangis.

 

“Se..Sehun!!”

 

GREP

 

Masih dalam keterkejutan hatinya, Luhan dibuat tercengang dengan pelukan Sehun yang tiba- tiba.

Bisa Luhan rasakan tangan Sehun yang membelai halus rambut Luhan.

Bisa Luhan rasakan detak jantung Sehun yang seakan berada didalam tubuhnya.

Bisa Luhan rasakan pundaknya kini menjadi tumpuan air mata Sehun.

 

“Sehun.. jangan menangis..” bisik Luhan begitu lembut.

 

Dengan ragu, Luhan mengusap punggung Sehun. Aroma tubuh Sehun membuat Luhan begitu kecanduan dan Luhan sangat menyukainya. Tubuh Luhan serasa melemah, Sehun begitu erat memeluk tubuhnya.

 

“Luhan..” bisik Sehun. “Luhan.. Luhan…Luhan…” Berulang kali Sehun menyebut nama Luhan. Seakan itulah isakan yang keluar dari bibir Sehun.

 

Luhan mempererat pelukannya pada Sehun. Ia terlihat sangat tegar, walau sebenarnya Luhan bingung sekali dengan tingkah Sehun. Kini Sehun seakan menyerahkan segalanya pada Luhan.

Luhan merasakan sedikit harapan untuk memenangkan hati Sehun dan.. Luhan berharap itu bukanlah sekedar harapan semu.

 

 

>>> 

 

Chanyeol tersenyum tipis saat melihat Kai akhirnya mengantarkan Baekhyun pulang keapartemennya. Namja tinggi itu masih bersembunyi dibalik tembok pagar yang terletak agak jauh dari apartemen Baekhyun. Sebenarnya dari tadi namja tinggi itu mengikuti Baekhyun dan Kai sejak mereka meninggalkan sekolah. Chanyeol bahkan mengikuti mereka sampai ketaman kota.

 

Terlihat Kai yang membelai surai rambut Baekhyun dan dengan manjanya Baekhyun memegang pipi Kai dan.. Chanyeol kembali melihat Baekhyun mencium Kai. Namun kini Baekhyun hanya mencium pipi Kai. Walau begitu, rasa sakit dihati Chanyeol terasa sama. Dan itu sangat menyakitkan.

 

Kai sudah melajukan motornya meninggalkan Baekhyun yang masih melambaikan tangannya pada Kai. Semakin sakit rasanya dada Chanyeol saat melihat senyuman manis Baekhyun yang hanya tercipta jika Baekhyun ada didekat Kai… hanya Kai.

 

Kini Baekhyun sudah berbalik masuk kedalam pekarangan apartemennya dan Chanyeol masih berasa diposisinya. Dengan perlahan, Chanyeol menyandarkan punggungnya dipagar tembok itu. Ia menghela nafas panjang, menenangkan rasa sakit yang terus saja menggerogoti sekujur tubuhnya. Benar.. bukan hanya hatinya yang sakit, sekujur tubuhnya seakan merana jika ia melihat Baekhyun dengan namja lain.

Setelah beberapa saat, Chanyeol kembali berdiri tegak dan berbalik badan. Ia tatap apartemen megah yang dihuni oleh Baekhyun. Dengan langkah pasti, Chanyeol berjalan cepat menuju apartemen itu.

 

“Kau harus tahu, Baekhyun…”

 

 

 

>>> 

 

 

Kai mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dikatakan Kai nampak sangat terburu- buru. Yang ada difikirannya hanya Luhan dan ia ingin bertemu dengan Luhan.

Kai benar- benar ingin bertemu dengan Luhan.

Rasa rindu yang Kai rasakan kali ini benar- benar tidak bisa ia pendam. Ia ingin melihat wajah malaikatnya. Wajah Luhan yang memberikannya ketenangan dan kebahagiaan. Walau Luhan tidak pernah memilihnya, Kai rela hanya menjaga Luhan dari jauh dan.. yang ia inginkan hanya kebahagiaan Luhan.

Jika Sehun yang terbaik untuk Luhan, Kai rela. Namun Kai tidak mau menyerah terlalu cepat, ia ingin mempertahankan perasaannya. Sekuat yang ia sanggup. Ia ingin mempertahankannya walau nanti kebahagiaan tidak berujung pada takdirnya.

Tidak apa- apa..

Tidak apa- apa jika harus tersakiti pada akhirnya.

 

Dan Kai bertahan dengan cintanya yang seperti itu pada Luhan.

 

 

>>> 

 

TENG TONG

 

Baekhyun yang baru saja duduk diruang tamunya menatap pintu apartemennya. Baru saja ada yang memencet bell apartemennya.

“Aigoo.. siapa ya?” Baekhyun kembali berdiri dan berjalan menuju pintu apartemennya. Dengan malas Baekhyun membuka pintu.

 

KLEK

 

“Kau!” Baekhyun mengerutkan dahinya saat melihat siapa yang berkunjung keapartemennya.

 

“Apa aku mengganggumu malam- malam bertamu seperti ini?” tanya suara yang terdengar sangat riang itu. Siapa lagi kalau bukan namja tinggi itu, Chanyeol.

Chanyeol mencoba terlihat biasa- biasa saja. Walau ia sebenarnya sangat tegang.

 

Baekhyun menghela nafas pelan dan melipat tangannya didada. “…Bahkan kau masih memakai seragam sekolah. Jadi tadi kau benar- benar mengikutiku dan Kai?”

 

Chanyeol terdiam ditempatnya. Akhirnya Chanyeol menunjukkan ekspresi wajah serius, ekspresi yang sebenarnya tidak cocok dengan julukan yang diberikan oleh teman- temannya, ‘Happy Virus’.

 

“Aku melihatmu.. saat aku mendekati kolam itu, kau juga berlari kearahku, hanya saja Kai jauh lebih cepat menarikku menjauhi kolam. Mengaku saja Chanyeol.”

 

“Ya.. aku memang mengikutimu.”

 

Mendengar itu, Baekhyun seakan menangkap perasaan namja tampan itu. Dan.. sebuah ide baru saja terfikirkan oleh Baekhyun.

 

Baekhyun tersenyum manis dan membuka pintu apartemennya lebih lebar. “Masuklah, Park Chanyeol.”

 

“Eh?” Chanyeol membulatkan matanya, ia menyangka Baekhyun akan mengusirnya. Namun kenyataannya Baekhyun mempersilahkan Chanyeol untuk masuk kedalam apartemennya. Senyuman manis Baekhyun bahkan tidak luntur. Chanyeol begitu terpukau oleh senyuman manis itu.

 

“..Ayo masuk.” Ulang Baekhyun lagi.

 

Chanyeol mengangguk mantap dan melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen Baekhyun.

 

 

 

“Silahkan duduk..” Baekhyun mempersilahkan Chanyeol untuk duduk diruang tamunya. Chanyeol kembali mengangguk dan duduk disalah satu sofa.

“Kau mau minum apa?”

 

Chanyeol yang dari tadi sudah tegang hanya menggeleng pelan. “Ti..tidak usah, Baekhyun.”

 

“Kenapa? Kau nampak pucat.. bagaimana kalau aku buatkan kau coklat hangat?”

 

Chanyeol akhirnya mengangguk.

 

Baekhyun berjalan kedalam dapur dan menyiapkan coklat panas untuk Chanyeol. Jujur hati Chanyeol sedikit lega melihat Baekhyun tidak marah padanya, namun… ini aneh.

Chanyeol berdiri dan mengikuti Baekhyun kedalam dapur. Ia lihat Baekhyun yang baru saja menuang coklat panas kedalam sebuah mug berwarna putih bersih.

Sosok Baekhyun yang begitu mungil dari belakang, mendorong tubuh Chanyeol untuk memeluknya dan… Chanyeol memang melakukannya.

 

Sedikit kaget, Baekhyun menghentikan aktifitasnya. Ia lihat sepasang lengan panjang yang kini melingkar dipinggangnya dan surai berwarna coklat yang kini tertumpu pada pundaknya.

 

“Chanyeol..” desis Baekhyun masih diam ditempatnya.

 

Baekhyun membuka pelukan tubuh Chanyeol dan membalikkan badannya. Kini posisi mereka berhadapan dan begitu dekat. Chanyeol dapat merasakan hembusan nafas Baekhyun. Dengan perlahan Baekhyun membelai poni Chanyeol dan kembali tersenyum manis.

Chanyeol meneguk liurnya paksa dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Anehnya Baekhyun mendongakkan wajahnya sehingga bibir Chanyeol tidak berhasil mencapai bibir Baekhyun. Tidak membuang berbagai kesempatan, Chanyeol menerjang leher putih Baekhyun dan mengecupnya berkali- kali hingga meninggalkan jejak kemerahan dibeberapa tempat.

Baekhyun tahu, Chanyeol sudah tidak bisa menahan hasratnya. Dan ketika Chanyeol mulai membuka kancing baju Baekhyun, dengan cepat Baekhyun menyingkirkan tangan Chanyeol dan kembali tersenyum manis.

 

“..Kau menyukaiku, kan?” tanya Baekhyun begitu tajam.

 

Chanyeol mengangguk pelan.

 

Baekhyun kembali tersenyum manis dan membuka kancing baju Chanyeol yang paling atas. Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol dan menenggelamkan wajahnya diantara leher dan telinga Chanyeol. Baekhyun harus berjinjit karena tubuh Chanyeol memang jauh lebih tinggi.

 

“Jika kau menginginkanku… aku punya permintaan yang harus kau turuti.” Bisik Baekhyun.

 

Chanyeol berfikir sejenak. “…A…Aku akan menuruti apapun keinginanmu..”

 

Baekhyun tersenyum mantap dan mengecup sekilas leher jenjang Chanyeol. “..Aku ingin kau menyakiti seseorang. Kau sanggup?”

 

Chanyeol membulatkan matanya. Awalnya ia agak ragu namun.. cintanya pada Baekhyun sepertinya membutakan semua arah pandangnya. Chanyeol sudah memendam rasa cintanya pada Baekhyun sangat lama. Dan.. jika cara inilah yang bisa membuat Chanyeol bisa memiliki Baekhyun, Chanyeol rela melakukan apapun.

 

“Aku sanggup.” Jawab Chanyeol tanpa keraguan.

 

Baekhyun kembali tersenyum manis dan jemarinya kini menyentuh bibir tebal Chanyeol. Sentuhan yang membuat Chanyeol begitu bertekuk lutut pada namja manis itu. Chanyeol seperti terhipnotis dengan semua pesona yang Baekhyun miliki.

 

“..aku ingin kau melenyapkan… musuhku..” Baekhyun mencengkram baju Chanyeol saat Chanyeol kembali menguasai tubuh Baekhyun. Desahan pelan sudah terdengar dari bibir Baekhyun saat Chanyeol mulai menggerayangi tubuh Baekhyun lebih intim. “..na..namanya.. Luhan..” bisik Baekhyun disela- sela desahannya.

 

“A..aku ingin kau membuatnya menyesal..karena.. mengusikku” sambung Baekhyun seraya mendorong tubuh Chanyeol pelan agar sedikit memberinya ruang.

 

Chanyeol mengangguk dan menatap mata Baekhyun lekat. “Aku akan melakukannya.. untukmu..”

 

Baekhyun tersenyum manis dan memeluk tubuh Chanyeol erat. “Terima kasih, Chanyeol.” Senyuman menyeramkan terlukis dibibir mungil Baekhyun dan Chanyeol tidak menyadari hal itu. “Kau pahlawanku.”

 

 

 

>>> 

 

Taemin melirik jam dinding rumahnya. Kai belum pulang dan Luhan masih berada dirumah Sehun. Dengan malas Taemin menghela nafas panjang dan menyambar telpon rumahnya. Ia menghubungi seseorang.

 

“Oemma!” rajuk Taemin saat sambungan telponnya tersambung.

 

“Taeminnie? Tumben kamu menelpon oemma, chagiya.” Sahut Heechul diseberang telepon.

 

Taemin menghela nafas pelan. “Tidak.. aku hanya merindukanmu dan appa. Hmm.. apa aku bisa menceritakan sesuatu?”

 

“Tentu, sayang. Apa terjadi sesuatu disana?”

 

“..Begini oemma.. Luhan.. nampaknya memang lebih baik jika aku membawanya ke Jepang saat aku pulang nanti.”

 

“Mengapa begitu?”

 

“Aku hanya berfikir kalau Luhan lebih baik tinggal bersama kita. Lagipula tugas appa dijepang tinggal 4 bulan lagi. Kurasa untuk sementara waktu Luhan bisa menenangkan dirinya di Jepang. Kalaupun Luhan tidak ingin pulang ke Korea nantinya, ia bisa tinggal bersamaku di Jepang.”

 

Terdengar desahan lembut. “Taemin.. kalau kau mau mengurus Luhan juga, bagaimana dengan kuliahmu di Jepang? Oemma dan appa masih sanggup mengurusi Luhan. Jangan berfikir terlalu jauh, sayang.”

 

Taemin menghela nafas pelan. “Benar, oemma. Aku hanya mengkhawatirkan, Luhan. Apa kabar dari kepolisian China menyangkut Yesung ahjusshi sudah ada, oemma?”

 

“Belum ada kabar. Itulah yang membuat oemma dan appa khawatir. Jika nanti kau kembali kesini, Luhan akan kembali tinggal sendirian dalam jangka waktu yang lama. Appa sudah mengatakan bahwa saat kau kembali ke Jepang, lebih baik kau membawa Luhan.”

 

“Appa juga berfikiran seperti itu?”

 

“Ya.. namun oemma hanya memikirkan Luhan. Dia pasti menolak lagipula Luhan nampak betah disana. Dan oemma sudah mengatakan pada Jongin untuk menjaga Luhan sampai oemma dan appa kembali ke Korea.”

 

Taemin mengangguk. “Kalau Jongin aku bisa percaya.. namun sekarang Baekhyun sudah kembali ke Korea, oemma. Sekarang saja Jongin bersama Baekhyun. Aku takut Jongin tidak bisa menjaga Luhan karena sekarang pikirannya terbagi.”

 

“Baekhyun? Sejak kapan dia kembali ke Korea?”

 

“Entahlah, oemma. Dan.. sepertinya Baekhyun secara perlahan mulai menarik perhatian Jongin lagi..”

 

“Kalau begitu bicaralah pada Luhan. Jika Luhan setuju.. ia akan ikut bersamamu ke Jepang dan kembali ke Korea saat appa dan oemma kembali ke Korea 4 bulan lagi. Bagaimana?”

 

“Akan kucoba, oemma.” Taemin mengangguk pelan.

 

“Baiklah. Nanti hubungi oemma lagi. Oemma dan appa mencintaimu.”

 

“Aku juga mencintaioemma dan appa. Annyeong.”

 

Taemin menutup sambungan teleponnya dan kembali berjalan menuju ruang televisi.

 

 

>>> 

 

Kai terdiam ditempatnya. Ia akan masuk kedalam rumah namun tidak sengaja ia mendengar pembicaraan Taemin dan Heechul dari balik pintu. Awalnya Kai tidak mengerti arah pembicaraan itu namun dengan segera ia mengerti kalau Taemin bermaksud membawa Luhan bersamanya jika ia kembali ke Jepang.

 

Kai berjalan pelan menuju motornya yang terparkir didepan rumah Heechul. Ia terpaku disana beberapa saat sampai akhirnya seseorang membuatnya sedikit terkejut.

 

“Kai? Kau sudah pulang?”

 

Suara itu langsung meresapi alat pendengaran Kai. Suara malaikatnya…

 

Suara Luhan.

 

“Lu..Luhan? Darimana saja kamu?” tanya Kai mencoba tersenyum.

 

“Aku? Dari rumah Sehun. Tadi kami membicarakan sesuatu.. dan.. kenapa wajah Kai nampak pucat?” tanya Luhan melihat keanehan pada Kai.

 

GREP

 

Kai seketika itu langsung memeluk tubuh Luhan dengan erat. Bisa ia rasakan ketenangan yang langsung menggerogoti hati resahnya. Dengan ragu Luhan membalas pelukan Kai dan bisa Luhan rasakan kegundahan namja tampan itu.

 

“Luhan.. jangan pernah tinggalkan aku.. Kumohon..” bisik Kai tiba- tiba.

 

Luhan mengerutkan dahinya. “Hah? Kai apa yang kau bicarakan?”

 

“Kumohon… aku tidak mau lagi berpisah denganmu, Luhan.. terlalu lama aku menunggumu. Aku benar- benar tidak sanggup lagi harus melepasmu dari sisiku. Cukup waktu itu… aku tidak bisa berbuat apa- apa saat Wookie- noona membawamu kembali ke China.. kali ini.. kumohon..”

 

Suara Kai terdengar begitu lirih. Luhan semakin tidak mengerti. Ia lepaskan pelukan Kai dan.. betapa terkejutnya Luhan melihat mata Kai yang nampak memerah. Kai menahan tangisnya.

 

“Kai.. tenanglah! Apa yang kau bicarakan?! Aku tidak mengerti.” Luhan menangkup wajah Kai yang terasa dingin.

 

Kai terdiam sesaat kemudian menggeleng pelan. “Maaf… maafkan aku.. aku hanya terlalu egois.. jangan kau pikirkan ucapanku tadi.”

Luhan menggeleng cepat. “Apa terjadi sesuatu pada Baekhun-sshi hingga kau begitu aneh, Kai? Katakan padaku.. jika kau merasakan bebanmu terlalu berat, biarkan aku membantumu untuk memikulnya. Bukankah kita sahabat, Kai?”

 

Mendengar ucapan Luhan, Kai tersenyum tipis. “Tidak mungkin aku membagi kesalahanku padamu, Luhan.”

 

“Eh?”

 

Kai mengusap rambut Luhan. “Aku pulang dulu.”

 

Mata Luhan menyipit dan seketika itu Luhan memegang lengan Kai. “Kau tidak menginap dirumah Heechul-noona?”

 

Kai tersenyum dan menggeleng. “Besok aku akan menjemputmu.. kita pergi sekolah bersama- sama. Bagaimana?”

Tiba- tiba Luhan merasakan kesedihan dihatinya. Entah mengapa ia kecewa karena Kai tidak menginap dirumah Heechul malam ini. padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan dan bicarakan dengan Kai.

“Baik..Ha..Hati- hati dijalan, Kai.” Ucap Luhan akhirnya.

Kai kembali tersenyum dan memakai helm-nya dengan sangat cepat. Luhan tersenyum saat Kai melambaikan tangannya seraya melajukan motor besarnya meninggalkan Luhan yang masih menatap kepergian Kai hingga motor Kai benar- benar menghilang didepan matanya.

 

“Kai..” bisik Luhan pelan. “..Kau sedang melarikan diri, kan? Apa yang membuatmu tersiksa, Kai… tak bisakah kau memberitahuku?”

 

Luhan menghela nafas pelan dan berjalan masuk kedalam rumahnya. Tidak menyadari sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan marah dan kebencian yang amat sangat.

 

“..Kau pikir kau bisa hidup bahagia? Tidak akan kubiarkan!” desis orang itu dengan suara yang begitu menyeramkan.

 

 

 

>>> 

 

 

“Kau sudah pulang.” Taemin tersenyum menyambut Luhan. “Bagaimana? Kau sudah bicara tentang Baekhyun dengan Sehun? Kau sudah mengatakan bahwa Sehun dan Kai tidak usah terlalu mengikuti keinginan Baekhyun?”

“Mwo? Kalau bertanya satu- satu, hyung.” Luhan mengunci pintu rumah tersebut dan berjalan bersama Taemin menuju ruang televisi.

“Kenapa sudah dikunci, Lu?” tanya Taemin sedikit bingung. “Jongin belum pulang, kan?”

“Kai tidak pulang kesini, hyung. Dia pulang kerumahnya.” Jelas Luhan sembari mendudukkan diri disofa. Taemin mengangguk dan duduk disamping Luhan.

 

“Jadi bagaimana?”

 

“Aku hanya bertanya tentang Baekhyun pada Sehun.. tidak sampai mengatakan hal yang hyung katakan.”

 

“Kenapa?” Taemin mengerucutkan bibirnya.

 

Luhan menunduk dalam. “Hyung.. aku merasa.. Kai, Sehun, dan Baekhyun… mereka memiliki ikatan dalam dunia yang tidak bisa kusentuh. Persahabatan mereka… tidak bisa kucampuri, hyung. Justru mereka sendiri yang bisa menyelesaikannya.”

 

Taemin terdiam mendengar ucapan Luhan. “Kau tidak sadar Luhan.. dirimu yang mengacaukan mereka.” Bisik Taemin didalam hati.

 

“Hyung.. bolehkah aku ingin bertanya sesuatu padamu?” Ucap Luhan setelah suasana diam beberapa saat.

 

“Tentu..”

 

“Ini tentang Kai..”

 

“Jongin?”

 

Luhan mengangguk. “Kai benar- benar bisa menyembunyikan semua bebannya. Wajahnya yang dingin dan sifatnya yang tertutup membuatku selalu mengira- ngira dengan apa yang ia pikirkan. Aku hanya memikirkan apa yang sedang ia tanggung sekarang..”

 

Taemin tersenyum. “Lu.. Jika kau ingin mengetahui semuanya, tanyakan langsung pada Jongin.”

 

“Dia mengatakan bahwa ia tidak mau membagi kesalahannya padaku.. apa maksudnya, hyung?”

 

“Kesalahan?” Taemin nampak berfikir sejenak. “..entahlah.. Jongin bukanlah anak yang tertutup sebelumnya, Lu. Dia anak yang ceria dan sangat terbuka.. namun semenjak Baekhyun melakukan percobaan bunuh diri.. Ia menjadi anak yang tertutup. Yah.. seperti sekarang ini.”

 

Luhan menyipitkan matanya. “Semenjak itu.. Kai jadi tertutup?”

 

Taemin mengangguk. “Memangnya kenapa?”

 

“Apa Kai menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu, hyung?”

 

“Aku tidak tahu.. Jongin tidak pernah menceritakan apapun padaku setelahnya. Perubahan sikap Jongin memang terlalu tiba- tiba.. apalagi diperburuk dengan kelakuan Sehun yang selalu menyalahkan Jongin. Sehun bahkan pernah mengatakan bahwa Jongin adalah kesalahan terbesar dalam persahabatan mereka bertiga.”

 

Luhan nampak berfikir sejenak. “Kalau seperti itu… aku rasa aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka, hyung.”

 

“Benarkah?” tanya Taemin dengan wajah cerah.

 

Luhan mengangguk mantap. “Kali ini aku akan melakukan sesuatu untuk Kai dan Sehun. Aku tidak mau mereka selalu bersitegang seperti ini.”

 

“Aku mendukungmu, Luhan!” Taemin memeluk adik kesayangannya itu dengan sayang.

 

 

>>> 

 

 

Luhan memasang sepatunya dan menyandang tas sekolahnya. Taemin memberikan susu hangat pada Luhan yang nampak sedikit terburu- buru.

“Ah! Terima kasih, hyung.” Luhan langsung meneguk susu itu sampai habis.

 

“Jongin sudah menjemputmu?” tanya Taemin sembari mengambil gelas kosong dari tangan Luhan.

 

“Sepertinya begitu.. Aku pergi dulu, hyung.” Luhan membuka pintu rumahnya dan…

 

“L..Luhan…”

 

Mata Luhan membulat sempurna. “KAI!!” pekik Luhan sangat keras.

 

Tanpa menunggu aba- aba, Luhan langsung berlari kearah namja yang kini terbaring lemah diperkarangan rumah itu.

 

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi Kai!!” pekik Luhan sembari membawa tubuh Kai yang kini bersimbah darah kedalam dekapannya. “Siapa yang berbuat hal seperti ini padamu!!”

 

“..Pe..Pembunuh…”

 

Luhan membelalakkan matanya yang kini sudah tergenang oleh air mata. “K..Kai..”

 

“Kau.. pembunuh..”

 

“Ti..tidak! Aku bukan pembunuh!!”

 

Kai mencengkram lengan baju Luhan dan ia kembali mengatakan sesuatu dengan suara seraknya. “Kau ..pembunuh.. Luhan…”

 

“Tidak! Bukan aku!!” Luhan menggeleng cepat. Air mata sudah jatuh dipipi pucat Luhan.

  

 

“..Kau yang membunuh namja itu Luhan.. sama seperti kau membunuh Ryeowook-ku..”

 

 

Suara berat itu tertangkap dipendengaran Luhan. Dengan cepat Luhan melihat sosok yang begitu ia takuti dan.. sosok yang mewarnai hidupnya dengan mimpi buruk.

 

“P..Papa..” nafas Luhan seakan tercekat.

 

Yesung tersenyum menyeramkan. “Bagaimana jika namja ini juga kubunuh..?”

 

Luhan merasakan nyawanya terikat saat melihat sang ayah mencoba menusukkan sebuah pisau pada sosok yang begitu dicintai Luhan… Sehun.

 

“Ja..Jangan…JANGAN SEHUN! JANGAN!”

 

 

 

 

 

“JANGAN!! HAH!”

 

Luhan terduduk diranjangnya sambil memegangi dadanya yang sesak bukan main. “Ya Tuhan.. mimpi.. hah..hah..ha..”

Peluh dingin kini menguasai tubuh Luhan yang nampak sangat pucat. Nafasnya masih tercekat. Tubuh Luhan bergetar hebat dan kini Luhan terisak dengan sangat pelan.

Betapa takutnya ia dengan mimpi buruk barusan.

“Kenapa.. kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?!” bisik Luhan seraya memeluk kedua lengannya. “..Kai… Sehun.. Ya Tuhan.. Lindungi mereka..”

 

“Kumohon… jangan.. hiks… jangan sakiti Kai dan Sehun.. papa..”

 

 

>>> 

 

Baekhyun membuka pelan pelukan Chanyeol dan bangkit dari ranjang. Jam dinding dikamar Baekhyun baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Sekilas Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang begitu tampan. Baekhyun sesaat menyentuh bibir Chanyeol yang masih basah.

Entah mengapa Baekhyun menyeringai sembari terus mengusap bibir tebal Chanyeol.

  

Beberapa saat berlalu, menahan rasa sakit Baekhyun mencoba berjalan menuju meja belajar dimana ponselnya baru saja bergetar. Tubuh polos Baekhyun hanya tertutup selimut tipis berwarna merah terang.

Setelah melihat siapa yang menelponnya, Baekhyun tersenyum mantap.

 

“Yoboseyo.”

 

“……..”

 

Senyuman tipis terukir diwajah mungil Baekhyun. “Benarkah?”

 

“………”

 

“Tidak apa- apa.. biarkan saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan ahjusshi itu. Kini aku sudah punya seseorang yang bisa kukendalikan lebih mudah untuk menghancurkan Luhan.. hihihi..” Baekhyun melirik Chanyeol yang masih tertidur diranjangnya.

 

“………..”

 

“Baiklah, terima kasih atas kerja samanya. Katakan pada appa dan oemma kalau aku merindukan mereka.”

 

“……….”

 

“Ah satu lagi… jangan katakan kenakalanku pada mereka hingga menyuruhmu menyelidiki anak bernama Luhan. Kau mengerti?”

 

“………”

 

“Pay pay..”

 

Baekhyun tertawa kecil dan meletakkan ponselnya ditempat semula. Dengan langkah yang tertatih, Baekhyun mendekati sebuah figura foto yang lumayan besar tepat tergantung diatas sebuah meja kaca. Foto Sehun, Baekhyun, dan Kai yang diambil saat mereka masih duduk disekolah dasar. Nampak senyum ketiga namja itu masih sangat tulus dan murni.

 

“Tuh, kan.. Kai dan Sehun pasti lebih bahagia jika bersamaku.. makanya Luhan harus pergi. Dan yang mengusirnya adalah …aku.”

 

Baekhyun mengarahkan tangannya dan mengusap wajah mungil Kai yang terpampang di foto itu. “..Kai pasti akan tersenyum bahagia lagi, kan?”

 

“Sehun.. Sehun juga tidak akan menangis lagi..” kali ini jari lentik Baekhyun menyentuh figura foto tepat pada wajah Sehun.

 

“Setelah itu semua akan berakhir bahagia… Happily ever after.. hihi..”

 

 

TBC

 

 

Maafkan saya yang menistai tokoh Baekhyun #sujud didepan Baekhyun

Bagaimanapun sosok Baekhyun tetap sosok malaikat dimataku

*peluk Baekhyun*

RCL yaaahhh

Dichapter selanjutnya mungkin udah mencapai klimaks..

Saran sangat dibutuhkan. Agar FF ini tidak salah jalur *plak

Oke, wassalam. #Bow bareng Luhan. 

264 thoughts on “Another Promise Chapter 9

  1. Waah…. Daebak…..
    Aku sampe gak bisa nafas ngebaca bagian tengah sampe akhir….

    Chanyeol jangan sampe diperalat sama baekhyu….. Andwe…..

  2. huaaa.. bru kali ini baca ff antagonisnya si bacon.. kasihan chanie.. baek jahat bnget.. deh.. penasaran pary selanjutnya nih .

  3. Ya ampunn Author Eonnie Ceritanya bagus banget dech beneran aku enggak tahu harus nangis atau senyum jujur ak suka bangt sma critanya beneran dech eonnie

    Jeongmal .. . .❤❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s