Kind Of Heart Chapter 8

Aduuhh update juga yah #PLAK #BUAK

T^T

Mohon maaf yah.. hiks

Ini kan masih suasana lebaran haji yah jadi saling memaafkan #plak

Oh ya.. mohon maaf lahir batin dan selamat Id Adha bagi yang merayakannya *bakar sate bareng Tao*

Hyobin lagi nge ship TAORIS bgt jadi yah ada sedikit disini. Gpapakan, yah? Walau g banyak sih. Mungkin g ada moment nya -_- *apasih! Baca aja deh -_-a

maaf sedikit bgt momen kopel lain selain hunhankai T^T

Okesip! Lanjut FF J

Satu lagi… Yang SIDER gak usah baca!

 

Kind Of Heart

Kim Hyobin

Chapter 8

 

HunHan – KaiHan FanFicion

Cast : Lu Han – Kim Jongin – Oh Sehun

Other : Taemin – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Huang Zitao – Wu Fan / Kris – Yixing / Lay

Other Case : BaekYeol/ ChanBaek , TaoRis, KRAY, KaiTae/ KaiMin

Genre : Drama, School Life, Romance

BOY X BOY / YAOI / BL / Boys Love / Shounen Ai

 

 

 

Semua semakin menuntutku

Tenanglah..

Cahayanya masih menyinariku

Namun redup

Tak seindah dulu

Tak semurni dahulunya…

Seandainya aku bisa menjaganya

Tetap indah dan suci

Seperti malaikat itu

 

 

 

 

 

“..aku mencintai hyung kandungku sendiri, Luhan. Apa aku masih bisa berjalan ditempat yang menjadi tujuanku seperti yang kau katakan tadi?”

 

“K..Kai..”

 

“..Apa aku bisa Luhan?”

 

 

 

Luhan berjalan sendirian dijalanan ramai kota Seoul. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ia berjalan menuju Cookies sembari memikirkan semua yang tadi ia dan Kai bicarakan tadi. Sebenarnya Kai ingin mengantar Luhan sampai Cookies namun Luhan menolak. Bukan karena maksud lain.. hanya saja Luhan  ingin berfikir. Memikirkan sesuatu yang membuatnya kini sangat bingung dan mengira- ngira.

 

Kai sudah menceritakan pada Luhan semuanya. Ya.. nampaknya Kai mempercayai Luhan. Bahkan Kai sama sekali tidak pernah menceritakan semua keluh kesah tentang Taemin pada Sehun, sahabatnya sendiri. Alasan tentu bisa ditebak, Sehun sudah terlalu banyak pikiran. Kai tidak mau menambah beban pikiran Sehun yang terus saja bermasalah dengan orang tuanya.

 

Luhan menatap langit siang itu, matahari nampak sangat terik. Peluh mengalir di pelipis Luhan. Namun Luhan membiarkannya dan kembali berjalan. Ia pegang kedua tali tas ranselnya.

 

Ia masih mengingat jelas perkataan Kai.

 

 

“Kai.. mengapa kau bisa menyukai Taemin-hyung?” tanya Luhan sedikit pelan.

 

Kai tersenyum sedih dan menggeleng pelan. “Aku dan dia sangat dekat… sangat. Kami bahkan selalu melakukan berbagai hal secara bersama- sama. Wajah kami juga sangat mirip.. banyak yang mengatakan bahwa kami kembar. Padahal ia lebih tua 4 tahun dariku. Awalnya sosok Taemin yang kulihat adalah.. namja tegar yang selalu menjadi sandaranku.. yang selalu tersenyum dikala aku menangis.. yang selalu memberiku kehangatan saat orang tuaku tidak ada disampingku..”

 

Luhan mengamati wajah Kai yang masih tersenyum sedih. Senyuman yang membuat Luhan terluka. Bagaimanapun Luhan sudah menganggap Kai adalah temannya dan lagi.. Kai adalah sahabat Sehun. Tentu tidak heran jika Luhan merasa sedih ketika melihat Kai sedih seperti itu.

 

“…kami terus tumbuh dan ia menjadi namja yang sangat cantik. Benar- benar cantik.. senyumannya seperti senyuman malaikat. Walau ia sering sekali mengerjaiku.. aku tahu.. hanya dia yang mengerti apa adanya diriku. Hanya dia yang akan berlari kearahku ketika aku jatuh.. hanya dia yang mau memelukku saat aku menangis.. sampai akhirnya aku benar- benar terpuruk dengan perasaanku padanya.”

 

Luhan memeluk pundak Kai dan mengusapnya perlahan.

 

“Saat dia mengatakan bahwa ia memiliki seorang kekasih… duniaku serasa runtuh. Hancur lebur.. hitam.. semuanya luluh lantak. Kemudian aku sadar.. aku menyukainya, Lu. Aku mencintainya.. aku tidak bisa terima perhatiannya yang dulu sepenuhnya untukku kemudian terbagi.. aku tahu ini salah.. salah besar. Namun hal itulah yang aku rasakan Lu… dan itu semua menyiksaku.”

 

 

 

Luhan memutuskan untuk duduk sejenak dikursi besi yang ada dipinggir jalan dekat taman. Kursi itu terlindungi oleh pohon rindang yang membawa kesan sejuk dan menenangkan. Ia lirik jam tangan mungilnya dan menghela nafas pelan. Jam kerjanya di Cookies masih sejam lagi. Dan Luhan sedang tidak mood untuk bekerja lebih cepat.

 

“Sehun… bagaimana ini? Aku ingin menolongnya.. namun aku tidak mengerti..” bisik Luhan sembari menunduk. “Aku tidak mengerti cinta seperti itu. Cinta yang tumbuh karena rasa ketergantungan seperti itu… aku tidak mengerti.. Sehun apa yang harus kulakukan?”

 

Ia sangat ingin menolong Kai. Ia tidak tega melihat wajah Kai yang terlihat sedih seperti itu. Rasanya Luhan benar- benar kejam jika ia tidak bisa membantu Kai. Padahal Kai sudah menceritakan rahasia terbesarnya pada Luhan.

 

Saat Luhan tengah melamun, ia dikejutkan oleh seseorang yang duduk disampingnya dengan wajah tertekuk. Namja itu terlihat sangat tampan dan ia melipat kedua lengannya didada. Luhan mengamati wajah namja tampan yang kini masih saja menggumamkan sesuatu dengan bahasa Inggris.

 

Mencoba tidak mengindahkan namja itu, Luhan menggeser tempat duduknya agar sedikit menjauh dari namja tampan yang nampak sangat fashionable itu.

 

“Hey, what should I do now?!” tanya sang namja itu tiba- tiba. Tentu saja Luhan terkejut dan mengusap dadanya pelan. Kini mereka bertatapan.

 

“E..eehhh?” Luhan tersenyum segan masih memegang dadanya. Mata Luhan mengerjap beberapa kali.

 

“Ah.. sorry. You mustn’t shocking like that. I just… just never understand with that kid, always drive me crazy and now I regret to bring her with me. She’s just my sister.. agh! No! My feeling is suck! This is my fault.. ma fault.” Kali ini namja itu nampak frustasi.

 

“Are you okay?” Luhan mencoba bertanya.

 

“Iam sorry.. Maafkan saya. Saya rasa anda menganggap saya orang yang tidak waras..saya tidak ingin jika orang- orang Korea menganggap saya turis yang tidak waras.” Ujar namja itu dengan bahasa Korea yang sangat kaku.

 

Luhan kembali mengerjapkan matanya dan mengangguk. “A..a..ahahahah~ Tidak. Orang Korea sangat ramah… Anda terlihat sangat kebingungan.” Luhan juga berbicara dengan bahasa yang kaku. Entah terbawa atau memang ia ingin menyesuaikan keadaan.

 

Namja tampan itu mengamati seragam sekolah Luhan kemudian menyerngit. “Anda murid SMA Dong Soo?”

 

Luhan mengangguk mantap. “Iya!”

 

“Ah.. Nama saya Wu Fan, namun biasanya saya dipanggil Kris oleh orang tua serta kerabat dan teman terdekat saya.”

 

“Maaf… Anda memang terbiasa menggunakan bahasa yang sopan dan kaku seperti ini?” entah mengapa Luhan selalu menahan nafasnya saat berbicara dengan bahasa kaku seperti itu.

 

Namja tampan itu nampak berfikir sejenak. “Kupikir kalau aku menggunakan bahasa yang tidak baku, aku akan dianggap turis yang tidak sopan.”

 

Luhan menghela nafas pelan dan tersenyum lega. “Fuuh! Tentu saja tidak, memakai bahasa seperti itu justru malah menciptakan pembatas, bukan? Lagipula aku bukan orang Korea asli. Aku dari China hanya saja sudah tinggal di Korea sejak aku kecil. Orang Korea sangat ramah, tenang saja.”

 

“Oh ya? Kau juga orang China? Aku juga, hanya saja tinggal di Canada..”

 

Mata Luhan membulat setelahnya mendengar bahwa namja tampan itu juga berasal dari China. Dan mendengar logat dan cara bicaranya yang kental dengan aksen berbahasa Inggris, tidak diragukan lagi namja itu memang berasal dari Canada seperti yang dikatakannya tadi.

Tapi… Kenapa rasanya familiar sekali ya?

 

“Anda berlibur disini..ng..  Kris-sshi?” tanya Luhan dengan senyuman sangat manis.

 

“Sebenarnya iya.. aku hanya ikut orang tuaku yang sedang berurusan dengan kolega bisnisnya. Hm.. maaf aku bertanya hal seperti ini sebelumnya.. kau anak SMA Dong Soo, bukan? Apakah kau mengenal..anak bernama…Huang Zitao?”

 

Tunggu!

 

“Sebenarnya aku bertemu dengan seseorang saat di Canada waktu itu.. Anak dari kolega papa-ku. Dia sangat manis dan tampan. Namanya Kris.”

 

Luhan ingat!

 

Luhan ingat sekarang… ucapan Tao beberapa hari yang lalu. Saat Tao menceritakan perihal dirinya yang menyukai seseorang dan ia bertepuk sebelah tangan. Dengan cepat Luhan menatap wajah namja tampan bernama Kris.. Ya! Kris.. dia dari Canada dan datang ke Korea karena mengikuti orang tuanya untuk urusan bisnis.

 

Pasti orang inilah yang dimaksud Tao!

 

Tidak salah lagi!!!

 

 Dan… sebuah ide terlintas dipikiran Luhan.

 

“Hey? Mengapa kau melamun? Kau tidak mengenal Zitao, ya?” tanya Kris dengan wajah sedikit kecewa.

 

Luhan tersenyum mantap dan mengangguk cepat. “Aku sangat mengenalnya!”

 

“Benarkah? Jadi kau mengenal Zitao? Teman Zitao, kah?” Kris terdengar antusias.

 

“Ya, aku temannya.”

 

“Berarti kau juga mengenal… Byun Baekhyun?”

 

Luhan kali ini menyerngit walau akhirnya mengangguk mantap. “Iya, Baekhyun juga temanku. Memangnya kenapa?”

 

Kris terlihat menghela nafas pelan dan melipat tangannya didada. Wajahnya berubah serius dan menatap Luhan tajam. “Bisakah kau merahasiakan hal ini dari Tao? Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Aku tidak mungkin bertanya langsung pada Tao.”

 

“Te..tentu.”

 

“Pertama… apakah Tao dan Baekhyun sangat dekat?”

 

Luhan mengangguk.

 

“Kedua… apakah mereka selalu melakukan sesuatu bersama- sama?”

 

Luhan kembali mengangguk.

 

“…Ke..tiga..” suara Kris terdengar sudah lirih. “..apakah mereka memiliki hubungan spesial?”

 

Luhan kali ini melipat dahinya. Eh? Pertanyaan apa ini? Maksudnya hubungan spesial? Sebentar… nampaknya namja tampan ini salah paham. Luhan mengerti kalau dibalik berbagai pertanyaan yang dilayangkan oleh Kris.. disana tersembunyi rasa ingin tahu dan.. cemburu.

 

Dengan senyuman mantap Luhan mengangguk menjawab pertanyaan Kris.

 

“APA!” teriak Kris dengan sangat keras. “Jadi mereka benar- benar memiliki hubungan spesial?!!!”

 

Luhan sedikit terperanjat mendengar teriakan Kris yang tepat berada diwajahnya. Melihat Luhan yang terkejut, Kris kemudian menetralkan emosinya dan minta maaf pada Luhan.

 

“Ma..maafkan aku.. aku hanya syok mendengar..mendengar…” Kris tidak melanjutkan kata- katanya kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menumpukan kedua sikunya pada paha panjangnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Benar- benar menunjukkan orang yang sedang depresi.

Luhan menghela nafas pelan kemudian menatap langit terik siang itu.

 

 

“Persahabatan… ikatan pertemanan… teman baik…  semua itu adalah hubungan spesial yang murni dan begitu indah. Kalau sudah menemukannya… Justru hubungan seperti itu yang dapat terjamin selamanya.. walau kadang sulit sekali mempertahankannya.”

 

 

Kini Kris menatap Luhan yang masih menelusuri langit siang itu sembari terus tersenyum manis. “Maksudmu?”

 

Luhan mengangguk. “Tao adalah anak yang sangat polos.. perasaannya sensitif..walau ia kurang peka dengan keadaannya sendiri, namun ia anak yang hangat dan sangat peka dengan perasaan orang lain. Sikapnya yang seperti itu membuatnya mudah disayangi dan.. membuat kita ingin melindunginya. Agar ia tidak terluka dan rapuh… senyumannya bahkan membuat keresahan seakan lenyap begitu saja.”

 

Kali ini Luhan balas menatap Kris. “…bukankah kau juga merasakan hal yang sama, Kris-sshi?”

 

DEG

 

Kris secara spontan mengangguk pelan. “..Ya…” namun keanehan ia rasakan. Mengapa namja manis itu sangat mengerti akan Tao?

“Kau sebenarnya siapanya Tao?” tanya Kris akhirnya.

 

Luhan meletakkan jari telunjukknya didagu dan menghadap kelangit siang itu seakan berfikir. “Aku?? Aku temannya Tao.. hmm…” Luhan kembali menatap Kris. “Namaku Luhan.”

 

“EH! Kau ‘Luhan’ itu?” Kris membulatkan matanya. Sepertinya ia sudah mengetahui nama Luhan dan ia terlihat sangat kaget. “Aku tidak menyangka kita akan bertemu dengan cara seperti ini.”

 

“Tunggu….Kau mengenalku?” Luhan mengerucutkan bibirnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

 

“Tao sering kali bercerita tentang dirimu.. ‘Luhannie sangat lucu’.. ‘Luhannie sangat imut’.. ‘Luhannie sangat baik’ ‘Aku sangat menyayangi Luhannie’… “Ge, tadi Luhannie mengusap rambutku lembut’.. dia selalu berbicara tentangmu saat kami sedang berdua saja… Jadi… kau yang bernama Luhan?” Kris menatap Luhan dari atas sampai bawah kemudian dari bawah sampai atas berulang kali. Dari nada bicara Kris terdengar sekali bahwa ia cemburu setiap Tao membahas tentang Luhan.

 

“Jinjja? Aahh~ Tao memang sangat menggemaskan!” Luhan terlihat gemas sendiri.

“Esok saat bertemu dengannya aku akan mencubit pipinya… kemudian membuatkannya sebuah origami berbentuk panda kesukaannya.” Sambung Luhan sambil terus menggerakkan tangannya gemas seakan Tao ada dihadapannya.

 

Kris terdiam sejenak kemudian tersenyum manis. Sangat manis hingga Luhan kembali tersadar, betapa tampannya namja bernama Kris itu.

 

“Terima kasih… aku bersyukur Tao dikelilingi oleh orang- orang yang sangat menyayanginya. Tao benar- benar beruntung memiliki teman sepertimu.”

 

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali mendengarkan ucapan Kris kemudian mengangguk mantap. “Bukankah yang beruntung adalah namja yang mendapatkan Tao? Jika ia mendapatkan Tao.. aku yakin sekali hidup namja itu akan sangat berwarna dan menyenangkan. Tao adalah kebahagiaan yang begitu murni, bukan?” Luhan terus saja berusaha memotivasi Kris.

 

Kris kembali terdiam. “….Nampaknya kau orang yang bisa dipercaya, Luhan-sshi.”

 

Luhan mengangkat bahunya dan tersenyum. “Entahlah.. namun jika kau menganggap diriku seperti itu. Aku sangat senang, Kris-sshi.”

 

“Panggil saja aku Kris-ge agar lebih akrab.”

 

“Kalau begitu panggil juga aku Luhan. Jangan menggunakan ‘-sshi’, Kris-ge.”

 

Kris tersenyum manis. “Maukah kau mendengar satu rahasia besarku?”

 

Luhan menyerngit. “Eh?”

 

 

 

>>> 

 

 

 

Sehun mengaduk- aduk bubble tea-nya dan berkali- kali mendesah malas. Ia tatap jam tangannya yang entah sudah berapa kali ini lirik dari tadi. Sehun berada di toko cake tempat Luhan bekerja. Ia tahu kalau jam kerja Luhan masih satu jam lagi dan Sehun harus menunggu. Padahal ia sudah 5 jam berada disana.

 

Sehun sangat kesal dengan jawaban sang ayah. Padahal Sehun sudah berusaha untuk membuang harga dirinya untuk berbicara seperti itu dan.. yang ia minta hanya satu.

 

Ia ingin bersama Luhan selamanya.

 

Apa yang harus dipikirkan oleh orangtua nya? Toh Sehun sudah mengatakan bahwa kebahagiaannya adalah Luhan.

 

Ya..

Luhan..

 

Hanya Luhan yang membuatnya seperti itu.. membuatnya seperti orang bodoh yang tidak tentu arah. Memang hanya Luhan yang membuatnya rela menunggu berjam- jam, rela membuatnya berjalan diteriknya panas matahari tanpa mobil mewah yang selalu melayaninya dahulu, hanya Luhan yang membuatnya rela menjadi Oh Sehun yang sesungguhnya.

 

Hanya Luhan dan Luhan…

 

Pikiran Sehun penuh oleh Luhan. Dadanya sesak dan ia ingin memeluk namja mungil itu. Tidak mau namja mungil itu terenggut darinya.. ia tidak akan sanggup.

 

Entah sejak kapan.. sosok Luhan seakan menjadi matahari dan rembulan didunianya.

 

Sosok Luhan bahkan lebih indah dibandingkan kemegahan dan kesempurnaan yang selama ini ia lihat.

 

Luhan hangat bagaikan mentari.

Luhan manis bagaikan madu.

Luhan indah bagaikan kesempurnaan.

Luhan penuh kasih bagaikan kecupan hangat yang menenangkan.

Luhan adalah dunianya dan… Sehun takut… takut saat Luhan tadi pagi menangis karena Kai. Takut memikirkan Luhan memiliki sebuah ikatan batin dengan Kai..

Takut.

Sehun takut sekali…

 

GREEP

 

Sehun menggengam erat gelas bubble tea-nya dan dadanya berdetak kencang. Ia pejamkan matanya sesaat dan menghela nafas pelan seraya terus berusaha menahan resah hatinya. Tidak.. apa yang ia pikirkan? Ia terlalu takut hingga berfikir hal- hal aneh seperti itu. Terlalu takut kehilangan dunianya.. dewa cintanya.

 

“Luhan… cepatlah datang.” Bisik Sehun lirih.

 

Cringgg

 

Bunyi lonceng pintu toko kue tersebut saat pintu itu terbuka. Lonceng kecil diujung pintu itu masih berbunyi. Dan Sehun mengarahkan pandangan matanya menatap pintu toko kue yang terbuka lebar tersebut.

 

Seketika itu wajah Sehun memucat.

 

“Luhan… tangkaplah suara hatiku.”

 

 

 

>>> 

 

 

Kai duduk sembari melamun diruang tengah rumahnya yang megah. Ia tatap foto keluarganya yang berukuran sangat besar. Ia tatapi wajah orangtua nya yang entah sudah berapa lama tidak ia temui. Orangtua nya mengepalai salah satu perusahaan Otomotif termaju di Korea yang berada di Austria. Tentu saja orangtua Kai dan Taemin sangat sibuk.

 

Walau kadang ibu mereka pulang ke Korea, namun Kai tidak bisa bermanja- manja karena ibunya sangat tegas. Hanya Taemin lah tempat ia menumpahkan segala keluh kesahnya dan… walau Taemin terlihat selalu mengerjai dan mengusilinya namun disaat- saat tertentu, Taemin akan memeluk Kai dengan hangat dan penuh kasih sayang.

 

Kali ini mata Kai tertaut pada sosok namja cantik yang tersenyum manis disamping orangtua-nya, Taemin.

 

Foto itu diambil dua tahun yang lalu dan Taemin tetap cantik… cantik sekali dan itu..semakin membuat Kai sulit melupakannya.

 

 

“Kalau begitu kenapa kau menyalahkan Tuhan atas kemauanmu sendiri?”

 

 

Kai teringat perkataan Luhan saat mereka berada di lapangan basket indoor tadi pagi.

 

Kai menghela nafas pelan dan menyandarkan punggungnya disandaran sofa. Ia tatap langit- langit rumahnya yang penuh dengan ukiran megah dan sungguh apik. Seulas senyuman tipis terlihat dibibir tebal Kai.

 

“Mengapa aku bisa…. menceritakan hal itu begitu saja pada Luhan..?”

 

Kali ini Kai bingung mengapa dengan mudahnya ia mengatakan segala keluh kesahnya yang selama bertahun- tahun ia pendam begitu saja pada Luhan.

 

Padahal belum lama ia mengenal Luhan.

 

Namun namja cantik itu berhasil membuat Kai percaya padanya dengan cepat. Ia yang tidak pernah mempercayai orang lain selain Sehun dan Taemin dengan sekejap mempercayai Luhan.. padahal pertemuannya dengan Luhan sama sekali tidak mengenakan.

Teringat olehnya.. saat dimana dirinya dan Luhan tidak sengaja bertabrakan, pertemuan pertama mereka. Saat dimana Luhan kemudian meneriakinya dan melawannya. Saat dimana ia kabur dari pesta orang tuanya kemudian tanpa sengaja bertemu dengan Luhan.

 

Benar.. sejak saat itupun Kai sudah mempercayai Luhan, bukan?

 

Tidak mungkin ia lupakan sosok namja cantik itu saat berlari mengajaknya untuk makan jjangjamyeon dikedai mini yang hanya terletak dipinggir jalan. Caranya mengajari Kai menggunakan sumpit saat memakan jjangmyeon.

 

Tangan mungilnya yang memeluk Kai saat ia menangisi Sehun dibandara waktu itu…

 

DEG

 

Kai membulatkan matanya..

 

Apa yang ia pikirkan?!

 

Ya Tuhan… Luhan milik Sehun.. sahabatnya sendiri! Mengapa ia memikirkan Luhan dan begitu senang saat membayangkan berbagai kenangan yang menyenangkan bersama Luhan?

 

Kai merebahkan tubuhnya disofa panjang ruang tengah itu. Ia pejamkan matanya perlahan dan pikirannya kembali bercabang.

Antara Luhan dan Taemin…

Ya.. Kai hanya akan merasakan hatinya tersiksa saat memikirkan Taemin. Sedangkan Luhan… jika Kai memikirkan namja itu, Kai hanya akan merasakan rasa nyaman dan geli yang menggelitik hatinya. Entah sudah berapa kali Kai tersenyum sendiri jika mengingat perihal kelakukan Luhan.

 

“Jongin.. tidur, ya?”

 

DEG

 

Kai merasa sebuah suara tertangkap dipendengarannya. Hembusan nafas kini terasa dekat sekali ditelinganya.  Kai tahu pasti siapa orang itu dan Kai tidak membuka matanya untuk sekedar memberitahu pada namja itu kalau ia tidak tertidur.

 

Kali ini Kai merasakan belaian lembut mengusap rambut halusnya. Tangan orang yang sangat ia cintai… tangan Taemin.

 

“..Wajahmu terlihat sangat lelah. Apakah sekolahmu menyenangkan, adik kecilku?”

 

Suara Taemin terdengar sangat lembut dipendengaran Kai. Ingin sekali Kai menjawab pertanyaan Taemin namun ia lebih memilih untuk terus berpura- pura tidur. Bahkan belaian lembut yang mengusap wajah dan rambutnya kini benar- benar membuatnya nyaman dan nyaris terbuai.

 

“Hei… tadi aku melihat Minho berdua saja dengan Key…aku tahu kalau mereka hanya berteman, namun aku cemburu sekali, Jongin. Aku… aku ini kenapa? Bahkan kini aku sangat sulit mengendalikan perasaanku saat melihat Minho dekat dengan orang lain… rasanya Minho akan meninggalkanku lagi..” suara Taemin terdengar lirih sekali.

 

Kai masih menahan hasratnya membuka mata untuk menatap wajah Taemin. Ia hanya takut, saat ia membuka matanya, yang ia lihat hanyalah wajah menangis namja manis itu. Ia tidak ingin melihatnya… sungguh.

 

“Jongin… ada apa dengan diriku? Aku benci diriku yang selalu merasa cemburu seperti ini… rasanya sesak. Aku tidak tahu harus melakukan apa.. aku takut jika aku terus- terusan seperti ini.. Minho akan meninggalkanku lagi.”

 

Tidak!

 

Jangan teruskan.. jangan teruskan ucapan itu…

 

Kai tidak akan sanggup mendengar berbagai macam penderitaan Taemin yang ia dapat karena mencintai namja bodoh bernama Minho. Yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan tiada akhir untuk namja yang sangat ia cintai itu. Ia hanya ingin mendengar canda dan tawa serta kata- kata bahagia terlontar dari namja manis itu.. bukannya suara lirih serta tangisan menyakitkan.

 

“..Jongin… hikks..”

 

 

..kau hanya kurang bersyukur Kai.

 

 

GREP

 

 

Seharusnya kau jalani saja semampumu dan terus berjalan kemana hatimu tertaut. Cukup berjalan dijalan yang seharusnya kau tuju dan.. jangan berfikir terlalu jauh...

 

 

“..Jong..in?” lirih Taemin sembari mengerjapkan matanya.

 

 

Mata Kai kini terbuka lebar dan tangannya sudah menggengam tangan Taemin yang tadinya mengusap rambutnya. Tatapan mata mereka tertaut saat itu. Tatapan mata tajam Kai dengan tatapan rapuh Taemin yang penuh dengan air mata.

 

 

….Cukup berjalan dijalan yang seharusnya kau tuju dan.. jangan berfikir terlalu jauh...

 

 

Kai menarik tengkuk Taemin dengan cepat dan…

 

 

“Tanyakan pada hatimu, Kai. Jika masalah perasaan kau sendiri yang tahu jawabannya dan orang lain tidak bisa ikut campur.”

 

 

…Ia mencium bibir Taemin.

 

 

 

 

>>> 

 

 

 

“Bagaimana?” tanya namja tampan yang bernama Kris itu.

 

 

Luhan nampak berfikir sejenak dan menatap Kris seakan apa yang ia pikirkan kini adalah hal yang amat berat dan memusingkan. Kris menelan kasar air liurnya melihat ekspresi wajah Luhan yang semakin melukiskan banyak prasangka.

 

 

“Ja..jangan menatapku seperti itu.” Kris menautkan alis matanya.

 

Seketika itu Luhan langsung tersenyum manis dan menepuk pelan pundak Kris. “Ge… bolehkah aku mengatakan bahwa dirimu bodoh?”

 

“Be..begitukah?” Kris malah bertanya.

 

Luhan menghela nafas pelan dan melipat tangannya didada. “Ge hanya terlalu malu. Lihatlah semua akan semakin rumit, kan? Tao memang polos namun ia tidak bodoh, ge. Sudah kubilang bahwa ia peka terhadap perasaan orang lain.”

 

“Ya.. aku mengaku salah karena membuatnya semakin rumit.” Kris menghela nafas.

 

“Membawa adikmu dan mengatakan bahwa kalian bertunangan pada Tao bukanlah cara yang baik untuk membuatnya cemburu, ge. Itu malah akan membuat Tao mundur secara perlahan. Ia akan menutup dirinya dan mengubur rasa yang ia rasakan, toh ge sudah punya tunangan untuk apa ia mengharapkan ge lagi.”

 

Kris mendesah pelan dan mengacak- acak rambutnya. “Benar juga.. aisshh! Kenapa aku tidak berfikir kesana! Aku hanya terlalu cemburu melihat kedekatan Baekhyun dan Tao saat di  Canada.”

 

“Apakah ge tidak bisa membedakan bagaimana kedekatan dengan seorang sahabat dan kedekatan dengan seorang kekasih?”tanya Luhan mengerutkan dahinya.

 

Kris menggeleng ragu.

 

Luhan menghela nafas pelan. “Aigoo.. kalau begitu, katakanlah kalau pertunangan itu sama sekali tidak ada, ge. Dan akuilah perasaanmu pada Tao.”

 

“Tidak mungkin aku mengaku seperti itu, Luhan. Bagaimanapun aku tidak mau ia menganggapku lelaki pencemburu dan… itu tindakan cukup pengecut.” Suara Kris memelan.

 

“Tao terlanjur mempercayai itu, ge. Dia..tersiksa.” Luhan terlihat sangat sedih. “Apa ge tahu bagaimana rasanya melihat mentari seperti Tao bersedih? Rasanya menyesakkan ge.”

 

Kris menelan kasar air liurnya, melihat wajah Luhan yang terlihat amat sedih. Bisa dipastikan Tao memang merasakan kesedihan yang amat dalam. Kris memejamkan matanya sesaat dan mengangguk mantap.

 

“Aku akan menyatakan perasaanku pada Tao malam ini.” ujar Kris mantap.

 

Wajah Luhan seketika itu langsung cerah. “WOAAH!! Aku mendukungmu, Kris-ge!!” teriak Luhan sembari bertepuk tangan. “Buatlah Tao menjadi manusia yang paling bahagia dimuka bumi ini, ge. Jadikan Tao manusia yang paling beruntung dan selalu memberikan cahaya kebahagiaan untuk orang- orang disekitarnya.”

 

Kris terkekeh mendengar ucapan Luhan. “Kau sudah seperti ibunya saja. Tenang.. aku Wu Fan, lelaki yang akan membuat Tao bahagia melebihi siapapun. Aku berjanji.”

 

Kali ini Luhan yang terkekeh pelan. “Kris-ge terlihat seperti akan melamar Tao saja.”

 

“Akan kulakukan dalam waktu dekat.. kalau bisa.”

 

Luhan semakin tertawa keras. “HAHAHA! Baiklah, ge! Hwaiting!!” Luhan memberikan semangat. Kris kemudian berdiri diposisinya dan mengarahkan tangannya pada Luhan.

 

“Terima kasih.” Ujar Kris tulus.

 

Luhan tersenyum dan ikut berdiri kemudian menjabat tangan Kris seraya mengayun-ngayunkannya. “Jika ge menyakitinya, akulah orang pertama yang akan mengejarmu, ge. Ingat itu.”

 

Kris mengangguk mantap. “Aku pergi dulu. Sepertinya Tao sudah sampai dirumah.”

 

Luhan melepaskan tautan tangannya dengan tangan Kris. “Yap.”

 

“Sekali lagi.. terima kasih, Luhan. Kuharap kita bertemu lagi dilain waktu.”

 

“Tentu..”

 

Namun saat Kris membalikkan tubuhnya hendak pergi, Luhan teringat akan sesuatu. Benar juga, bukankah Kris memiliki seorang adik? “Ah! Tunggu, Kris-ge.”

 

Mendengar panggilan Luhan, Kris kembali berbalik badan dan menatap Luhan bingung. “Ya? Apa aku masih berbuat salah?”

 

“Bukan.. aku hanya ingin bertanya padamu.”

 

“Apa itu?”

 

“Mengapa kau bisa menyukai Tao?” tanya Luhan dengan yakin.

 

Kris berfikir sejenak. “E..Entahlah… aku juga tidak tahu mengapa. Begitu bertemu dengan Tao aku sudah menyukainya..aku tidak tahu alasan pasti aku menyukainya.”

 

“Aku hanya ingin tahu pendapat ge…Jika kau menyukai orang lain karena orang itu ada disaat kau butuh.. orang itu selalu memelukmu disaat kau terpuruk.. orang itu selalu menyambutmu saat kau terjatuh.. apakah hal itu bisa disebut cinta?”

 

Kris melipat keningnya lalu mendekati Luhan selangkah. Ia nampak berfikir kemudian mengeluarkan argumennya. “Ini hanya pendapatku… Manusia adalah makhluk yang hidup dengan rasa ketergantungan. Cinta seharusnya berawal dengan rasa bahagia walau tidak semua akan berjalan lancar pada prosesnya.  Jika cinta yang dirasakan hanya karena orang itu ada saat kau butuh…memelukmu saat kau terpuruk dan menyambutmu saat kau terjatuh.. cinta seperti itu tidak murni.. justru… bukankah itu kejam? Cinta seperti itu mengharapkan pamrih dan… entahlah…”

 

Kris menggeleng pelan. “..jika sudah seperti itu pada awalnya, saat semuanya perhatian dan pelukan itu lenyap.. bukankah rasa ketergantungan malah akan mendesak kearah yang salah?”

 

 

“Rasa ketergantungan…” Luhan mengulang kata- kata Kris.

 

 

“Ya..setiap kau berada didekat orang itu.. yang kau harapkan hanyalah kesediannya menerimamu.. lagipula rasa seperti itu bisa dirasakan pada siapapun, bukan?”

 

“Siapapun?”

 

Kris mengangguk.

 

Luhan berfikir dan kembali menatap Kris tajam. “Kau memiliki seorang adik, bukan?”

 

“Ya.” Kris mengerutkan dahinya.

 

“…Jika nantinya adikmu mengatakan bahwa ia menyukaimu sebagai seorang laki- laki karena kau terlihat memberi harapan padanya.. apa yang akan kau lakukan?”

 

Kris membulatkan matanya dan terlihat merinding. “Apa yang kau katakan! Kau membuatku takut!”

 

“Jawab saja, ge.” Luhan mengerucutkan bibirnya.

 

“Tentu saja aku akan menolaknya.”

 

“Kenapa? Padahal awalnya kau yang seakan memberi harapan padanya, kan?”

 

“Harapan? Itu wajar! Kami keluarga dan pasti memberi perhatian lebih serta sandaran untuk bergantung. Itu tidaklah aneh.”

 

 

“Apa ge akan membencinya?”

 

 

Kris menggeleng pelan. “Tidak mungkin aku bisa membenci adikku sendiri. Walau.. pasti hubungan itu tidak akan sama lagi. Secara tidak sadar, aku pasti menjauhinya… sampai ia sadar bahwa perasaannya salah.”

 

“Jadi menurut ge yang seperti itu bukan cinta?”

 

Kali Kris menggeleng cepat. “Tentu bukan. Coba kau pikirkan… jika kau menyukai seseorang karena rasa ketergantunganmu pada orang itu… kau hanya akan membutuhkannya saat kau merasa terpuruk atau saat kau membutuhkannya. Dan saat kau mendapatkan sebuah perhatian yang lebih dalam.. kau pasti akan lebih memilih orang yang memberimu perhatian lebih.. lagipula yang kau butuhkan hanyalah tempat untuk bersandar.”

 

 

“… Walau ia sering sekali mengerjaiku.. aku tahu.. hanya dia yang mengerti apa adanya diriku. Hanya dia yang akan berlari kearahku ketika aku jatuh.. hanya dia yang mau memelukku saat aku menangis.. sampai akhirnya aku benar- benar terpuruk dengan perasaanku padanya.”

 

 

Kai yang selalu terpuruk.. bukan karena rasa cinta.. namun karena perhatian Taemin padanya mulai hilang. Rasa kehilangan yang membuat Kai membalikkan perasaan kehilangannya menjadi rasa yang ia anggap cinta.

 

 

“… aku tidak bisa terima perhatiannya yang dulu sepenuhnya untukku kemudian terbagi.. aku tahu ini salah.. salah besar. Namun hal itulah yang aku rasakan Lu… dan itu semua menyiksaku.”

 

 

Luhan ingat sekali ucapan Kai. Ya.. tidak salah lagi. Rasa yang Kai rasakan pada Taemin bukanlah perasaan cinta seperti yang ia sangka. Ia hanya tidak tahu pasti bagaimana cinta yang sebenarnya.

 

 

“Jongin itu sangat dingin. Ia sangat perhitungan dan tidak mau kalah. Sikapnya yang seperti itu membuatnya sulit mendapatkan seorang teman. Sejak kecil teman yang ia punya hanya Sehun...”

 

“Jongin memang sangat parah dalam bersosialisasi.. 

 

 

Kata- kata Taemin beberapa hari yang lalu juga kembali teringat oleh Luhan. Ya.. Kai hanya tidak mengerti karena ia sama sekali tidak bisa menanyakan kepastian hatinya pada siapapun. Akhirnya ia terombang ambing dalam kesalahpahaman akan perasaan yang ia rasakan.

 

“Luhan?” tanya Kris saat melihat Luhan melamun.

 

“Ah! Terima kasih, ge! Kau sangat membantuku… Hmm.. kurasa Tao akan sangat bahagia jika mendapatkan namja sepertimu.. walau..yah …kau sedikit payah dengan perasaanmu sendiri.” Luhan mengangkat bahunya.

 

“Dasar anak kecil.. cintaku pada Tao itu membingungkan. Kadang seperti bom.. kadang sangat manis hingga aku terbuai.. kadang membuatku marah.. kadang membuatku harus berfikir 100 kali lipat.. pokoknya membingungkan!”

 

Luhan terkekeh.. ya.. begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Akal sehat tidak akan berfungsi dengan baik sehingga semua yang normal nampak membingungkan.

 

Ya.. Luhan mengerti sekali akan hal itu. “Ya.. begitulah cinta.”

 

“Ah satu lagi…” Kris seakan ingat sesuatu. “Jika kau mencintai seseorang kemudian bergantung dengan orang itu… itu tidaklah salah. Setelah mencintai seseorang kita memang harus saling terbuka dan pasti akan bergantung pada orang itu… jika semua diawali oleh cinta itu tidak akan salah. Yang salah itu jika diawali oleh rasa ketergantungan.. seperti yang aku katakan tadi.”

 

Luhan tersenyum manis sekali dan mengangguk mantap. “Aku mengerti, ge.”

 

 

 

>>> 

 

 

Nyawamu melukiskan kebahagiaan tiada akhir

Membuaiku melangkah kearah yang salah

Tanganmu kini menuntunku kesebuah jalan lengang

Sedikit membuatku sesak

Mengapa kau hanya menuntunku?

Mengapa kita tidak… berjalan bersama?

 

 

 

 

PLAK

 

Tamparan keras baru saja terasa dikulit pipi Kai. Taemin seketika itu membekap mulutnya sendiri dan berjalan mundur menjauhi Kai. Mata Taemin membulat dan .. ia tidak percaya! Apa yang dilakukan Kai? Kai baru saja mencium bibir Taemin.. bibir kakaknya sendiri.

 

Kai tersenyum tipis kemudian memperbaiki posisinya duduk disofa. Ia tatap wajah Taemin yang masih tercengang dengan perbuatan berani Kai barusan.

 

“..Ap..Apa yang kau lakukan, Jongin! Jika kau hanya bercanda.. Ini tidak lucu!” teriak Taemin dengan suara yang masih lirih. Beberapa bulir air mata nampak jatuh membasahi pipi Taemin. Wajah Taemin memerah.. tentu saja ia marah.

 

Kai menghela nafas pelan. “Aku tidak akan minta maaf karena menciummu.”

 

Taemin tambah kaget mendengar ucapan Kai. Ada apa dengan adiknya? Ada apa dengan Kai? Mengapa kini tatapan Kai bahkan terlihat begitu terluka?

 

“..kau lancang, Jongin!”

 

“Aku lancang? Tidak.. aku hanya berjalan dimana seharusnya aku berjalan dan melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” Jawab Kai yakin.

 

Taemin menggeleng pelan kemudian berbalik badan meninggalkan Kai yang masih duduk disofa. Menatap punggung Taemin yang sudah hilang dibalik pintu. Kai menutup matanya sejenak kemudian menenggelamkan wajahnya dikedua telapak tangannya.

 

“Ya Tuhan…”bisik Kai lirih.

 

 

 

>>> 

 

 

“Selamat siang.” Luhan masuk kedalam Cookies dengan senyuman yang merekah. Tanpa membuang waktu ia langsung berjalan masuk menuju ruangan pegawai untuk berganti pakaian. Dan saat mengganti pakaiannya, Xiumin datang menuju tempat Luhan dengan wajah yang nampak kusut.

 

“Lu.. apakah kau memiliki teman berbadan tinggi.. kulitnya putih..wajahnya tampan dan.. tatapan matanya sedikit sendu?” tanya Xiumin tanpa basa basi.

 

Luhan yang baru memakai celemek menatap heran Xiumin kemudian berfikir sejenak. “Apa yang kau maksud Sehun? Mwo?! Apa tadi dia kesini?”

 

Xiumin menggaruk kepalanya. “Entahlah namja itu benar- benar Sehun yang kau maksud.. namja itu tadinya memesan bubble tea dan duduk sejak 6 jam yang lalu…tapi tadi… namja itu dipaksa keluar oleh beberapa orang berbadan tegap dan memakai pakaian sangat rapih. Aku mendengar namja itu berkali- kali mengucapkan namamu.”

 

 

DEG

 

 

Mata Luhan membulat saat itu. Jantungnya terpompa lebih cepat dan sesak. Tanpa menunggu waktu, Luhan kembali membuka celemeknya dan menyandang tas sekolahnya.

 

“Katakan pada ahjumma bahwa aku tidak bekerja hari ini.” ujar Luhan sembari meletakkan kembali cemeleknya kedalam loker.

 

Xiumin mengerjapkan matanya berkali- kali dan mengangguk.

 

“Terima kasih, Xiumin.”

 

Luhan berlari keluar dari Cookies secepat yang ia bisa.

 

“Ya Tuhan! Sehun.. mengapa ia tidak mengatakan akan menungguku di Cookies?” bisik Luhan menyesal sembari terus melangkahkan kakinya untuk berlari. Tidak memperdulikan nafas Luhan yang sudah seperti habis karena ia berlari tanpa henti.

 

“Sehun! Sehun!” Luhan terus membisikkan nama Sehun.

 

 

 

>>> 

 

 

Luhan kini berada didepan rumah Kai, ia terduduk didepan pagar rumah Kai saking kencangnya berlari. Tubuh Luhan rubuh dan nafasnya terengah- engah. Keringat sudah mengalir tanpa henti dikulit putihnya. Wajah Luhan memerah karena panas.

 

Dengan kekuatan yang mulai terkumpul, Luhan memegang pagar besi kediaman rumah Kai dan berdiri dengan gotai. Setelah yakin ia sudah bisa mengatur nafasnya, Luhan berdiri dengan tegap dan seketika itu pula seorang penjaga mendekati Luhan.

 

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang penjaga sopan.

 

“K..Kai.. ah.. maksudku Kim Jongin.. aku ingin bertemu Kim Jongin.” Ucap Luhan cepat.

 

Sang penjaga tersebut mengamati baju seragam yang Luhan kenakan kemudian mengangguk pelan. Setelah membukakan pagar tinggi itu, Luhan dipersilahkan masuk dan diantar oleh seorang pesuruh wanita yang datang dari dalam rumah.

 

Berkali- kali Luhan mengusap keringatnya sehingga menyebabkan lengan jas sekolahnya basah. Begitu masuk kedalam rumah megah itu, Luhan langsung merasakan udara sejuk dari pendingin ruangan. Sedikit lega akhirnya Luhan tidak merasa kepanasan lagi.

 

Sang pesuruh wanita mengantarkan Luhan menuju ruang tengah kediaman itu.

 

“Tunggu disini sebentar, tuan. Tuan muda Jongin baru saja masuk kekamarnya.” Sang pesuruh menunduk sopan. “Saya akan panggilkan tuan muda Jongin. Permisi.”

 

Luhan mengangguk dan menghela nafas pelan.

 

Namun tidak perlu menunggu hingga 3 menit, Luhan melihat Kai yang masih menggunakan celana pendek dan kaos oblong tanpa lengan berlari masuk kedalam ruang tengah. Luhan tersenyum senang dan berdiri diposisinya.

 

“Ka-“

 

GREP

 

Tubuh Luhan langsung diterjang oleh Kai. Mata Luhan membesar saat tahu Kai memeluk tubuhnya begitu erat hingga Luhan sudah merasakan sesak.

 

“K..Kai?” Luhan membalas pelukan Kai.

 

Kai masih diam tidak menjawab. Pelukan Kai bertambah erat hingga Luhan benar- benar sulit bernafas. “Ka..Kai.. sesak!”

 

Menyadari kesalahannya, Kai membuka pelukannya dan mengusap wajahnya seraya berkacak pinggang. “Maaf.. aku.. aku tak sengaja..”

 

Luhan memiringkan wajahnya menatap Kai dengan kebingungan. “Kau baik- baik saja? Apa kepalamu terbentur? Kenapa kau langsung memelukku?”

 

Kai memutar bola matanya. “Mana kutahu.. begitu ahjumma itu mengatakan kalau kau datang, aku langsung berlari dari kamarku. Agh! Pasti otakku jadi aneh… sungguh memalukan aku langsung memelukmu.” Kai menepuk keningnya berkali- kali.

Entah mengapa ia begitu lega melihat Luhan hingga reflek memeluk tubuh mungil itu.

 

Luhan mengerucutkan bibirnya. “Ya! Kau yang memelukku terlebih dahulu! Kenapa kau mengatakan seakan- akan aku ini yang membuatmu memelukku.”

 

“Sudahlah! Mau apa kesini?” Kai melipat tangannya didada.

 

“Ah! SEHUN!” teriak Luhan membuat Kai terkejut. “Antarkan aku kerumah Sehun! Kumohon! Sepertinya Sehun tadi menungguiku di Cookies kemudian… dia dipaksa pulang oleh beberapa pesuruh orangtuanya.. entahlah.. yang pasti sekarang aku.. aku harus bertemu Sehun!!”

 

“Baiklah! Tenang! Oke.. tenang!” Kai memegang kedua pundak Luhan sembari menenangkan Luhan yang kini terlihat sesak nafas memberitahu maksudnya datang kerumah Kai. Luhan menghela nafas panjang dan mengangguk pelan.

 

Kai mendudukkan tubuh Luhan disofa. “Tunggu aku disini. Aku berganti pakaian dulu.”

 

Luhan mengangguk.

 

Kai berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan Luhan yang tengah menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

 

 

“….Aku mendengar namja itu berkali- kali mengucapkan namamu.”

 

 

“…kenapa aku ini?! Kenapa aku sama sekali tidak merasakannya?” Luhan menggeleng pelan kemudian memeluk lengannya sendiri. “Sehun… maafkan aku. Maaf.. maaf…”

 

 

“Suaramu.. sampai Sehun…suaramu sampai… hanya aku terlambat menangkapnya.. hiks..” Luhan menepis air matanya.

 

 

“..lindungi dia ya Tuhan… lindungi kekasihku.”

 

 

Drrrttt

 

Drrtttt

 

Luhan menepis air matanya kembali dan melihat ponselnya yang baru saja bergetar. “Eh? Mama?”

 

 

 

Banyak sekali permulaan kisah cinta

Kadang saat kau tertawa cinta bisa saja muncul

Saat kau bersedihpun … cinta bisa datang menyapa

Atau disaat yang tidak terduga

Percaya cinta akan menyelamatkanmu dan memperkuat hatimu

Membuka hatimu agar lebih lega dari kesesakkan

Keyakinan akan hal itu bisa membuatmu buta

Bahkan saat cinta itu ada didepan mata

 

 

 

Seorang lelaki tua tengah menatap sang anak yang masih dipegangi oleh kedua bawahannya. Mata sang anak menatap sang ayah tajam. Disamping sang ayah terlihat sang ibu yang melipat tangannya didada.

 

“Apa yang kau lakukan ditoko kue kecil seperti itu, Sehun? Oemma bisa membelikan berbagai macam cake yang lebih enak jika kau mau. Jangan kesana lagi ya, nak.” Ujar sang ibu dengan suara yang terkesan jijik.

 

Sehun.. sang anak.. menatap kedua orangtua nya dengan tatapan marah. Kini ia sudah berada dirumahnya, tepatnya diruang keluarga yang amat megah. Ruang keluarga… yah.. walau Sehun sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya suatu ikatan ‘Keluarga’.

 

“LEPASKAN AKU!” teriak Sehun tidak sabar.

 

Teriakan Sehun membuat sang ibu sedikit terhenyak. Baru kali ini ia lihat sang anak berteriak marah seperti itu.

 

Sang ayah kini tersenyum tipis. “Sebelum kau masuk kerumah ini bukankah kau sudah melihat orang tua anak itu… meninggalkan rumah ini, bukan?”

 

 

“Apa yang kalian lakukan pada keluarga Luhan!” teriak Sehun terus meronta. Ini keterlaluan.. bahkan menggerakkan tubuhnya pun kini ia tidak bisa. Bawahan ayahnya memegang kedua tangan Sehun begitu erat dan kuat.

 

 

“…jika kau tidak mau meninggalkannya, Sehun. Dia yang harus meninggalkanmu.”

 

 

Ketika tangan itu sudah saling bergenggaman

Sangat erat

Pantaskah…

Keserakahan menarik salah satu tangan itu?

Menariknya…

Hingga genggaman tangan itu..

 

Lepas

 

 

 

“Ayo per-“ ucapan Kai terhenti saat ia memasuki ruang tengah tempat tadinya Luhan menunggu, namun kini kosong. “Luhan?”

 

Kai mengalihkan pandangan matanya keseluruh penjuru ruangan megah itu. “Kemana dia?”

 

 

 

Lepas…

Akankah kembali menyatu nantinya?

 

 

 

TBC

 

 

Sekali lagi Hyobin minta maaf yah

Lelet bgt nge Post  -_-

Bukannya gak mau… yah sekarang rintangan lebih banyak

Tugas kuliah lah labor lah praktikum lah T^T #curhat g penting

Sekali lagi Hyobin minta kesediaannya meninggalkan komentar

Ini FF aku buat CUMA untuk yang KOMEN dan MENGHARGAI karya saya ^^ yang gak komen… gak usah baca mendingan ya.

SIDER? #tendang ke laut bareng anak EXO ciaaaaatttt!!!

241 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 8

  1. kai sepertinya selalu ada di saat luhan membutuh kan nya…
    wah.. kris frustasi gara” dia cemburu ama baekhyun sahabat nya tao. kris suka ke tao kenapa kris gk bilang dr dulu kenapa bawa tunangannya yang sebenar nya adik nya!
    aduh… appa nya sehun kejam banget !

  2. NGK TAHAN RASA NYA PENGEN NANGIS,,
    SORRY PAKE TULISAN GEDE SEMUA,,
    INI KARNA KAU BENAR BENAR NGK TAHAN BACA NYA,,
    HYOBIN DAEBAKKK

  3. HOWAHH GAWAT TUH EOMMANYA LUHAN BARU KELUAR DARI RUMAH SEHUN.. ASTAGA. #alay.. kai beneran suka luhan kann.. wah tambah rumit dah.. luhan sabar yaa.. kayaknya luhan disini terkesan mudah undtuk dipercaya. kris yang bru ketemu lgsg crita ke luhan😀 woah daebak.. ~ nice ff ^_^

  4. Sudah ku dugaaaaaa pasti orang tuanya sehun nggak bakalan nyerah gitu ajaaaaa…

    Kaitae.. Itu rumiittttt..

    Lanjut deh lanjut..

  5. Haduh taorissss
    Ini kenapa lagi hunhan mau dipisah lagi
    Duh kai jadinya sukanya sama luhan nih?
    Loh loh bingung penasaran
    Lanjuuttttttt

  6. Kris Oppa rupanya menyukai Tao Oppa…hehehe aku suka ama Taokris couple…rupanya perasaan Kai Oppa pada Taemin Oppa sebenarnya salah.Cinta sebenar Kai Oppa semsetinya Luhan Oppa.Kesian Kai Oppa.. 😥 huhuhuhu..aku suka author..hiks hiks hisk

  7. jangan sakitin taaaoo!! tao terlalu polos buat disakitin! eaakk!! kai sebenernya suka sama siapa sih.. makin penasaran.. keren eonniee!!!

  8. ehem. pertama mau komen buat bokapnya sehun yang bikin gemes setengah mati.
    kenapa sih orang pengecut kayak situ bisa jadi pengusaha besar?
    kasian. idupnya gitu gitu aja sih ya = =

    kedua buat nyokapnya sehun yang jijik gitu.
    ahjumma, pernah ngerasain kulit sepatu aku nggak? kalo dijadiin roti atau kue itu lebih enak lho daripada kue kelas atas yang ahjumma bangga2in itu 8D

    ketiga buat kai.
    yang sabar ya kai. tamparannya taemin pasti sakit. habis gimana ya, kalo nggak ditampar gak sadar sih😄

    buat luhan
    ini yang paling nggak bisa dilukisin dengan kata2. kalo nggak ada luhan kris nggak bisa sadar kalo dia itu bego. *dilempar ke sumur sadako*

    kalo nggak ada luhan juga kai nggak akan sadar soal perasaannya sendiri.

    kalo nggak ada luhan juga nggak akan ada sehun yang lembut kayak gini.

    as usually, hyobin selalu keren dan detail kalo menceritakan apapun😀
    daebak hyobin.

    karakter dan ceritanya bisa bikin aku marah2 dan cekikikan sendiri (walaupun ini di kantor dan okesip gue dipelototin anak2 sih daritadi krn marah2 sendiri)

    at least but not last,
    keep your good work dear. fansmu menunggu disini ^.^/

    oke. loncat ke chapter selanjutnya~~ *terbang naek naga*

  9. Aku suka kata-katanya, sigkat tapi dalem tapi juga mudah dipahami. Konfliknya yang bikin pembaca terbawa emosi. Duh, aku gatau kata apa yang cocok mendeskripsiin ff ini. Bahkan lebih dari keren, lebiiiihh. Okay, i’ll see next chap ouo

  10. asjhjtjalajwtga DEMI APA ITU TADI KAHP NYIUM TAEMIN? HUAHAHAHA TT___TT aku juga mau *Plak
    yeah, akhirnya kris juga cinta ama tao!!!! kenapa gak sama aku aja *Abaikan
    Luhan cowok lu lagi nungguin, malah asik bercakap-cakap sama suami aku *LirikKris *diTabok
    mudah-mudahn HunHan tetep langgeng (?)

  11. Kenapa disini aku ngerasa ikatan batin luhan lebih ke kai. ke sehunnya ilang T.T
    pasti jangan2 yg dicintai kai itu emng luhan ya….
    aduuh taoriis. kkk~

  12. Kyaaaa asdfghjkl kenapa jadi gini kak ceritanya? Kasian hunhan……. Kasian kai…….. Ini rumit ini rumit -_- kenapa tuan oh jahat bgt ;u;; hiks

  13. Kisah cinta hunhan selalu saja dibatasi sama keluarga sehun-_- takdir yang membiat mereka sperti ini.-. di chap ini banyak rintangannya dimulai dari kai nyium hyungnya, ttg kris sama tao, jadi aku bingung buat ripiu dari mana, kekeke pokoknya daebak thor.
    Aku lanjut ya thor bacanya:)

  14. Gue nangis tbh ;;; LUAAAAAAAAN, rasanya pengen meluk Luhan TT
    Ini pasti terjadi sesuatu, mamanya Luhan keluar dari rumah sehun? Pasti ada something. Gue penasaran, lanjut baca aje ye thor

  15. Aaaahah autbor bikin penasaran ajaaaa… Otak ku rumit sendiri mikirin ujungnya sehun sama siapa, kai siapa, luhan gimana de el el😀
    Lanjutkan thor!!

  16. Ini FF udah kayak puzzle aja = =”
    Luhan disuruh pergi dari Korea ya. Okesip. Papa Sehun adalah orang terkejam sejagad raya.
    Udahlah aku lagi gak niat comment panjang-panjang. Lagi seru baca😀

    Btw kak, walau comment aku pendek dan gaje, tapi cukup kan buat jadi moodbooster? ._.

  17. setelah penyakit brother complex kaitae sekarang malah bertambah dengan penyakit bodoh sinaga yang sok2 nguji perasaan anak gue,
    njirrrrrr dasar naga pedo, gegara lu anak gue jadi galau. hah! tapi untuk kris ktemu ama luhan jadi bisa dapat pencerahan dikit,
    ngomong2 itu luhan udah galau2 karna kai atau perasaan gue aj yg kelewat peka ya,
    lanjut kak, bagus😀

  18. Uah…. Kai nyium taemin… Andwe…. Taemin kan bias aku… T^T

    Ehemmm kris ge…. Mau nembak tao… Cukae….

    Ya udah…. Lanjut baca aja…

  19. kok luhan pacarnya sendiri ygmanggil malah ga peka(?) tpi kalo kai malah baru..
    kai nekat._.
    appanya sehun belum berubah huh/
    kris ada” aja tuh wwkwkwk

  20. Kriss bikin tao sakit dengan kebohongannya hiks.
    Kai salah ambil jalan sepertinya hehe
    Luhan kemana????
    Bukannya tadi appa sehun uda baik? Kok sekarang jaat lg?
    Kesian sehun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s