With All My Heart Chapter 1

ANYEONGHASEYOOOOO!!!

HAi SEMUAAAAA!! AKU TERMAKAN SEHUN. *gananya*

Ini FF pertamaku tentang Hunhan sedikit aneh dan membingungkan. Alurnya juga maju mundur semoga kalian paham apa yang aku maksud disini ya.

Aku gamau banyak cincong gamau banyak disclaim aku cuman mau bilang kalo ada thypoo thypoo maafin yak salahkan laptop ku yang autotextnya tidak bias dikendalikan. Dan tinggalkan jejak! YA! GARIS BAWAHI. TINGGALKAN JEJAK. Karena itu termasuk bentuk penghargaan bagi kami para amateur writer. GAMSAHAMNIDA!

 

 

Title : With All My Heart

Genre : whatever you want

Author : Termakan Sehun

Main cast : HUNHAN forever

Other cast : KAIbayan BARONGSAI DEKIL , Baekhyun , Chanyeol, and other 12 alliens..

 

 

Haruskah kita tak acuh lalu mengingkari rasa saling itu?

Sementara di setiap kedip mata, rindu membilas kekeringan rasa.

Buncah rasa luar biasa saat bersamamu, tak merangkul waktu lagi.Dan aku tak terbiasa sendiri lagi.Sanggupkah aku?

Dalam sadar sendiriku, telah kusunting luka.Dan kuterima penuh suka.

Sakitnya memang luar biasa.Inikah yang kubela?

Maaf aku tak menyajikan apa-apa, kecuali seikat kebersamaan.

Entah dimana entah kapan tepatnya, cinta itu menyebutkan namaku bertumpu pada namamu.

Jika itu terjadi, sebelum cahaya ini, semoga kaulah tujuanku berlari.-sekali lagi.

 

 

 

Ribuan kilometer dari pusat kota Seoul. Tepatnya di sebuah rumah sakit terbaik di kota itu, dengan segenap fasilitasnya yang terlengkap. Mata seorang namja sedang tertutup rapat.Tulisan hijau di alat medis tiba-tiba berdengking kencang.Suster yang terkantuk di sebelahnya terduduk.Tersentak.Berkedip.Segera suster itu mengecek layar hijau yang terletak di atas meja.

“Omo.. !” Suster itu memicingkan matanya tepat di depan layar medis itu. Berkedip.Naik turun.Berkedip.Naik turun lagi.Segera suster itu menmeriksa saluran nadinya.Mengecek peralatan yang menghujam tubuh namja itu.

“Ck. Benar-benar tidak bisa dipercaya.. !”Suster itu berdecak kagum.Melihat kejutan yang diberikan pada malam natal ini.Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sedikit kabar baik datang.

Dengan antusias sang suster menekan bel yang berada tepat diatas namja itu terbaring. Sedetik kemudian beberapa dokter itu berlari memasuki kamar.Memeriksa.Mencatat.Memeriksa lagi.

“Maldeo andwae. Ini sebuah keajaiban !”Seru seorang dokter.Di ikuti anggukan para dokter lainnya.

Keajaiban belum selesai, mendadak jari namja itu bergerak.Matanya memutar meski masih dalam keadaan tertutup.Namja itu melenguh lemah.Dokter-dokter itu berdecak kagum lagi.

“Eoh.. Gwaenchana Chonggaksshi (Tuan)?” Salah satu dokter itu mencoba menyapa namja yang baru saja terkumpulkan nyawanya.Tak ada respon dari namja itu.Hanya matanya yang berkedip dan memandang aneh kearah dokter-dokter itu.

“Eo.. Eodiga?” desis namja itu lemah.

“Kau berada di rumah sakit, kau baru saja mengalami koma tiga bulan yang lalu.Akibat gangguan hati yang kau alami. Beruntung ada seseorang yang mengaku   mu  berbaik hati mendonorkan hatinya untukmu.” Tegas dokter paruh baya itu.

Dokter itu mengecek beberapa data di dalam kertas yang ia pegang. Kemudian mencocokkannya dengan apa yang terjadi pada kondisi namja cantik tersebut.

Namja cantik itu tampak berpikir.Apa benar akutelah memejamkan mata selama itu? Sakit itu?Tapi kenapa aku tak bisa mengingat apapun?Namja cantik itu meraba perutnya.Terasa seperti ada yang mengganjal.Ia meliriknya, tampak sebuah kain putih yang membebat bagian itu.

Hati ?aku punya gangguan hati?

Perlahan bayangan dirinya berlari didepan sebuah bar bersama dengan seorang namja lain berkelebat. Hatinya berdenyut ketika sekali lagi bayangan tentang ia dan namja itu berkelahi dengan beberapa namja yang tak dikenalnya. Tenggorokannya tercekat ketika tubuhnya ditusuk dengan benda tajam oleh sekelompok entah siapa itu.

“Baiklah Lu..Luhan, sepertinya kau memang sudah membaik. Sebaiknya kau istirahat lagi, besok pagi kau akan bisa menyambut natal yang indah. Selamat natal!”Lamunan Luhan buyar karena dokter yang memeriksanya tadi pamit untuk kembali berjaga.

Luhanpun hanya mengangguk untuk menjawab ucapan sang dokter. Kemudian sedikit mengangkat tubuhnya agar ia bisa terduduk. Ia merasakan haus yang tak terkira. Ia meraih gelas yang terletak di meja di samping kanannya. Meneguk habis air putih dalam gelas itu. Jamkaman.Ia merasa sedikit janggal lagi. Bukankah pada malam itu ia bersama dengan seorang namja. Namja sangat ia kenali. Tapi siapa?

Luhan memutar otaknya lagi. Mencoba membuka pikirannya mengingat akan kejadian yang sudah tiga bulan berlalu. Ah! Sial. Kenapa ia tak bisa mengingat apapun? Lalu secara tiba-tiba bayangan ketika benda tajam nan dingin itu menusuk ulu hatinya terpeta jelas dalam ingatannya. Luhan mengerang menahan sakit yang ia rasakan. Hatinya kembali berkedut.

Lalu?

Siapa pendonor hati ini?

Apakah orang itu yang bersama Luhan ketika kejadian?

 

———————————————

Sementara itu…

 

Di sebuah pesisir pantai pulau Naksan yang terkenal begitu indah.Seorang namja yang sangat tampan tengah memetik gitarnya dengan lincah.Terkenal sebagai musisi jalanan yang mempunyai petikan gitar yang indah dan suara yang sangat merdu.Membuatnya sangat dicintai oleh seluruh kalangan.Seluruh penduduk Gangwondo telah mengenalnya.

Setiap pagi siang dan sore ia selalu duduk di atas trampoline usang di ujung perempatan. Ia, Oh Sehun. Sang Orpheus dalam versi nyata.Sang musisi yang terdampar di pesisir pantai Naksan. Tak jelas untuk alasan apa ia selalu bernyanyi disitu. Tapi yang pasti dari tiap senandungnya bisa ditangkap bahwa ia sangat merindukan seseorang yang sangat ia cintai.

 

“Neol saranghanda… Neol saranghanda… naegen hanapunin saramiyeo… geuripgo geuripgo geuripda…”

Sehun mengakhiri petikan gitarnya di iringi tepukan dan sorak sorai dari para penontonnya.Mereka meletakkan beberapa lembar uang di tempat gitarnya, sebagai upah petikan gitar yang indah.Kemudian satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Sehun, dan digantikan oleh tiga anak kecil yang sudah sangat di kenalnya.Sehun meraba-raba tempat gitarnya, memunguti uang yang berserakan tadi, merapikannya. Kemudian memberikan seribu won untuk tiap-tiap anak.

 

“Gumaweo Hyung!” Anak-anak kecil itu berlari meninggalkan Sehun dengan senyum yang lebar.Kini tinggal dirinya dan gitarnya yang menemani. Setelah dirasa cukup Sehun mengayunkan tongkatnya menyusuri jalan-jalan menuju pesisir pantai Naksan.Ia terpaku pada pancaran hangat sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Sejenak ia berhenti dan menikmatinya.

Meskipun dengan kekurangan fisik yang ia alami sekarang, Sehun tidak akan pernah bisa melupakan bau has deburan ombak pesisir pantai ini. Di pesisir inilah ia nantinya akan menutup mata. Dan di pesisir ini pula ia mengalami beribu kenangan. Bertemu dengan sahabatnya.Keluarga. Sampai seseorang yang sangat ia cintai hingga kini. Begitu banyak kenangan yang tercipta.Seperti kenangan yang saat ini berkelebat di otaknya.

 

 

———————————————————–

 

Derap langkah tercipta dari sepasang sepatu milik Sehun. Ia berlari mengejar waktu yang tinggal beberapa menit lagi. Koridor sekolahnya pun sudah sangat sepi. Sepertinya pelajaran memang akan segera dimulai. Ia semakin mempercepat langkahnya. Langkahnya terhenti ketika ia berada di depan pintu berwarna hijau kelas yang biasa ia tempati. Sedikit was-was akan wali kelas yang telah hadir, Sehun memasuki area kelasnya perlahan. Suara gaduh seketika itu menyergap, anak-anak tengah berjalan kesana kemari, berceloteh riang.Ternyata, belum ada guru yang hadir.Tak ada yang menyadari kehadirannya dikelas tersebuut.Semua sibuk sendiri-sendiri.

Seperti biasanya, Sehun menuju deretan tempat duduk nomor tiga dari kiri. Tempat yang biasa ia tempati sendiri. Namun kali ini ia sedikit terkejut. Tempatnya telah berisi seseorang yang tak dikenalnya.Seorang namja cantik yang seketika membuat jantung Sehun berhenti berdetak.Hati Sehun mencelos. Sehun melangkah menuju satu-satunya tempat duduk kesayangannya dengan perasaan gundah yang tidak ia mengerti. Namja cantik itu hanya duduk terdiam menatap dirinya dengan mata yang demi tuhan siapapun akan menyyukainya. Matanya sangat indah. “Kau… Siapa?” Ujar Sehun datar ketika ia telah berada di hadapan namja cantik itu.

“Ah,apa kau pemilik tempat duduk ini?”Namja itu tampak salah tingkah kemudian membereskan buku buku yang berserakan dihadapannya. Tanpa sepatah katapun dari Sehun, ia hanya memandang namja itu dengan tatapan setengah terpesona dan sok cool. Namja cantik itu pun sedikit kikuk dipandangi terus oleh namja tampan dihadapannya.Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri dengan pandangan meminta pertolongan. Lalu ia berujar lagi, “Baiklah aku akan pindah. Maaf.”Namja cantik itu sedikit membungkuk kemudian mengangkat tasnya untuk pergi.

Tiba-tiba Sehun menahan langkah namja cantik tersebut.“Duduklah.”Namja cantik itu tampak kebingungan.Masih dengan mta yang begitu bersinar namja cantik itu lagi-lagi memandang Sehun.“Kau, duduklah.Tak ada tempat yang kosong lagi selain disini.”Ujar Sehun yang sejak tadi tampak tak membalas tatapan namja dihadapannya.“Duduklah disitu.”

Namja cantik itu pun mengangguk menurut.Ia melangkah melewati satu kursi untuk duduk di kursi yang ditunjuk Sehun.“Gumaweo.”Jawab namja cantik tersebut.Ia menaruh lagi tasnya di atas meja yang baru saja di cat untuk menutupi jejak jejak vandalisme siswa yang sungguh sangat kreatif.

Namja tampan bernama Sehun pun akhirnya duduk di sebelahnya. Bisa dilihat dengan jelas ia sedikit akan melirik namja cantik disampingnya namun buru-buru ia urungkan karena namja cantik disampingnya juga tampak sedang menatapnya. Ia kemudian berpura-pura menatap kursi yang diduduki oleh seorang lelaki bermata sipit yang sedang asyik bermain game.

“Aku Luhan.” Namja cantik itu tiba-tiba mengulurkan tangan mungilnya.

Dan dengan kikuk Sehun pun membalas jabatan tangannya. “Sehun.” Desiran aneh mengaliri dada Sehun seketika.Menjabat tangan Luhan seolah menyedot semua suara bising yang ada di sekitarnya. Entah, apakah Luhan juga merasakan hal yang sama atau tidak. Yang pasti setelahnya Sehun dengan cepat melepas jabatan yang dianggapnya sedikit memberikan rasa mengerikan untuk hatinya.

 

 

—————————————————————

 

Kemudian pada suatu saat di Minggu pagi.

“Hei, kau dengar tentang murid pindahan itu tidak?”Tanya namja bernama Chanyeol kepada namja yang tengah sibuk mengeringkan ikan-ikan dihadapannya.Namja itu tampak tenang tak menanggapi pertanyaan Chanyeol.“Ya!! Sehun-ah…”

Namja yang merasa namanya dipanggil itu menoleh.“Apa?”Ujarnya.

“Kau tidak tau tentang murid pindahan itu?”Chanyeol mengulang pertanyaannya.

Sehun mengangkat satu bak ikan kering yang ia tuangkan pada sebuah rilis bambu tipis. Ia menatanya satu persatu. “Memangnya kenapa kalau aku tau?”Ucap Sehun acuh.

“Ish..Kau ini ketus sekali.” Chanyeol berdiri di sisi Sehun membantu menata ikan-ikan yang akan dikeringkan. “Aku dengar dia sebangku denganmu?Dan kau tahu tidak, dia adalah seorang artis.”

“Lalu?”Sehun tetap tenang menanggapi perkataan namja tinggi disampingnya.Menurutnya tak ada gunanya membicarakan namja pindahan  itu.Namja pindahan yang entah kenapa membuat seluruh murid di sekolahnya heboh.Bahkan satu desanya pun turut membicarakan murid pindahan itu.

“Ya!Sehun-ah.Kau benar-benar tak tertarik pada namja itu ya?”Chanyeol yang merasa dirinya di abaikan kini mulai geram.“Yang benar saja?Apa kau tidak normal? Luhan sangat cantik.Kulitnya begitu indah matanya besar.Ya tuhan dia seperti malaikat.”

Sehun memutar kepalanya menghadap namja bermata bulat itu.Ia menghentikan aksinya bergulat dengan ikan ikan segar yang baru saja di dapatnya dari laut. “Ya!!Park Chanyeol. Jika kau hanya ingin membicarakan namja tidak jelas itu lebih baik kau….”

Sehun belum menyelesaikan perkataannya ketika tiba-tiba Chanyeol berbisik nyaring di depan wajahnya. “Ya tuhan. Itu Luhan. Luhan kemari.Lihatlah betapa Tuhan sangat hebat bisa membuat pahatan sebagus itu.”Chanyeol melompat-lompat girang sambil memukuli pundak Sehun.

Seketika Sehun berdeham hebat.Ia membetulkan letak sarung tangannya. Kemudian kembali mebolak-balikkan ikan ikan segar dihadapannya.Chanyeol masih memekik tak karuan melihat Luhan berjalan kearah mereka.

“Hai, Luhan?” Sapa Chanyeol ketika namja cantik itu sudah tepat berada di hadapan mereka.

Dengan ramah Luhan membalas sapaan Chanyeol.“Hi, Chanyeol.Dan …” Luhan menyapa Sehun meski Sehun tak menyapanya. “Hi! Sehun.”

Tak ada balasan dari Sehun. Entah Sehun tak mendengarnya ataukah memang ia sengaja tak membalasnya. Ia malah sibuk menata-nata lagi ikan yang sudah jelas-jelas rapi dan tak perlu di tata lagi. Chanyeol menyenggol pelan lengan Sehun.Menatap lurus pada namja yang memiliki mata coklat itu. Pandangan Chanyeol bisa dibahasakan dengan kata-kata (mungkin) seperti ‘Aku bersumpah jika kau tak membalas sapaannya kau akan ku tenggelamkan ke tengah-tengah laut Naksan.’

Sehun menyadari kode Chanyeol dan reflek ia menoleh menatap namja cantik dihadapannya. “Eh.. Oh.. Eung.. Hai…” Sangat terbata-bata karena tanpa sengaja mata Sehun bertemu langsung dengan mata teduh Luhan.Err diakuinya bahwa Luhan memang sangat cantik. Ia pintar dan sangat elegan. Sangat mendekati kata sempurna.Tapi entahlah dirinya seperti tak ingin menerima keberadaan namja cantik itu di sekelilingnya.

“Boleh aku membeli ikanmu?”

Suara lembut itu membuyarkan seluruh angan-angan Sehun.“Tidak.” Good. Apa yang baru saja ia katakan. Entahlah kata-kata itu meluncur begitu saja.Mendengar itu Luhan tampak sedikit kecewa.Chanyeol menginjak jari-jari kaki Sehun kencang.Membuat Sehun menyadari kekonyolannya.“Euung.. Ma..Maksudku tidak untuk yang ini.Kau bisa langsung ke kedai ayahku jika kau ingin membeli ikan.”Ujar Sehun menginterupsi.

Luhan membelalakkan mata indahnya. “oh, baiklah, aku akan pergi kesana saja. Gumaweo.”Ujar  Luhan diiringi senyumannya yang sangat manis. Matanya terarah bukan kepada Chanyeol melainkan Sehun namja pemilik mata coklat yang saat ini sedang bersikap tak acuh kepada Luhan.

Chanyeol menyenggol lagi lengan Sehun.Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Sehun mengabaikan makhluk seindah Luhan. Benar-benar bodoh.Sekali lagi Sehun tergagap menatap Luhan. Tak tau apa yang harus dikatakan kemudian ia hanya menarik seulas senyum yang terlihat sangat dipaksakan.Kemudian membiarkan punggung Luhan berlalu di belokan jalan menuju kedai ikan milik keluarganya.

Chanyeol masih berdiri di samping Sehun memandang aneh sahabat sejak kecilnya ini. Tatapan Chanyeol saat ini bisa diartikan ‘makhluk dari planet mana bocah ini’. “Ya!! Sehun-ahh..Benar kau tak tertarik padanya?”

Sehun melepas kedua sarung tangannya.Lalu mendatangi sebuah kran air untuk mencuci tangannya.“Apa urusanmu?”Ujar Sehun balik bertanya.

“Tidak ada sih, hanya saja aku menemukan ini di loker mu.”Chanyeol mengeluarkan sebuah amplop pink dari saku jeans nya.

Sehun memicingkan matanya mencoba memperjelas pandangannya agar bisa menatap amplop yang di genggam Chanyeol.“Apa itu?”

Chanyeol membelalak. Seolah tak menyangka bahwa Sehun tak tau akan amplop yang ia pegang. “Kau tidak tau apa ini?”Chanyeol sedikit meninggikan nada suaaranya kemudian berdecak.“Tsk. Kau ini keterlaluan sekali. Ini surat dari Luhan untukmu. Kau belum membacanya ya?Atau jangan jangan kau malah tak tau menahu tentang surat ini?”

Sehun mengedikkan bahunya.“Aku tak tau.” Berpura-pura tak perduli meskipun sebenarnya ia sangat shock mengetahui bahwa Luhan mengiriminya sebuah surat. Bagaimana bisa ia tak mengetahui sebuah surat telah terselip di lokernya. Ck!

“Ya Tuhan SEHUN!! Kau ini benar-benar…Seluruh Jagat raya Naksan sudah tau bahwa Luhan menaruh hati padamu.”Chanyeol menatap heran pada sahabatnya.Sikap tak acuhnya memang sudah melewati batas.

“Jangan mengada-ada Park Chanyeol!”Jawab Sehun tegas.

“Aku tidak mengada-ada Oh Sehun.Kalau kau masih tak percaya akan kubacakan surat ini untukmu.” Chanyeol sedikit berdeham sebelum akhirnya mengeluarkan surat itu dari amplopnya. Ia membuka perlahan kertas pink tersebut. Bau wanginya semerbak tecium sampai ke hidung Sehun.

“Dear Sehun… Ak..” belum sampai satu kalimat dibacakan Chanyeol, tangan Sehun sudah merampas kertas wangi itu beserta amplopnya. Ia melipat kembali surat wangi itu dan memasukkannya ke dalam amplop pink bertuliskan ‘Sehun’.

“Biar aku sendiri yang membacanya.” Ujar Sehun. Tanpa memperdulikan Chanyeol ia melangkah mengikuti jejak Luhan yang tertinggal. Ia pulang menuju rumahnya.

 

 

“Dasar bocah tengik.”Chanyeol menggeleng geleng heran lalu tersenyum menatap bayangan Sehun yang semakin menghilang.

 

 

 

 

Dear Sehun.

Gerak mata, dan terpekur sunyi pikiranku menjangkau setiap ruas adamu, tanpa sisa.Hanya ada biru.Pelangi memudar memutih salju.Sadarku tak nyata.Setia berharap padahal mungkin sia-sia.

Aku menuggumu.Dibawah lampu menguning tepat saat matahari tenggelam.

 

                                                                                                _Luhan_

 

Sehun menggenggam erat lembaran lusuh ditangannya. Entah berapa kali ia telah membaca surat itu sehingga ia sangat hapal apa yang seseorang tulis didalamnya. Ia meraba setiap inchi kertas yang tulisannya tak lagi dapat terlihat oleh matanya. Tapi ia masih bisa dengan jelas mengingat bagaimana bentuk tulisan indah itu tertata. Sehun merentangkan tangannya, ia merasakan hangatnya desiran angin di pesisir indah itu. Matahari telah tenggelam.Sehun menegakkan tongkatnya kemudian berdiri.

Sehun menyusuri pantai indah itu tanpa ragu.Ia seolah tau betul tiap sisi ruas jalanan disana. Ia memukulkan tongkatnya ke tanah. Guna menghindari kerikil kerikil yang menghalangi jalannya.Ia memutar tubuhnya ke kiri mengikuti jalan panjang desanya. Jalan menuju rumahnya.Tak ingin pulang.Ia hanya ingin memanggil adik laki-lakinya untuk mengantarnya menuju ke suatu tempat.

“Jongiiinnnn… Oh Jonggiiiinnnn…” Sehun berteriak kencang dari arah luar rumahnya.ia sangat berhati-hati ketika hendak menaiki beberapa anak tangga di pelataran rumah. “Oh Jongiiiinnn…” Sehun kembali berteriak.

“Yah!Hyung.Jangan berteriak-teriak.Aku tidak tuli hyung.”Jongin menyembul dari balik pintu kayu.Tahu bahwa Sehun sedang berusaha menaiki tangga, Jongin mencengkeram lengan kanan Sehun.

“Aku bisa sendiri.”Reflek Sehun cepat.Jongin pun melepaskan tautan tangan mereka.Selalu begitu.Keras kepala dan kaku.Jonginpun Kemudian sekedar mengantisipasi langkah hyungnya dari samping.

“Antarkan aku ke tempat biasa.” Sehun berkata lagi tepat setelah ia berhasil menginjakkan kaki di anak tangga terakhir pelataaran rumahnya.

Tanpa mengelak Jongin mengangguk. Sadar bahwa anggukannya tak akan terlihat oleh sang hyung. Ia menyuarakannya. “Eoh.Baiklah.Kkaja.”Jongin menarik lengan Sehun pelan.

“Ettss..”Sehun membuat interupsi.“Pakai jaketmu.Cuaca mulai dingin.”

Jongin mendengus walau akhirnya menurut.

 

Sunyi.

Begitulah yang dirasakan saat kesekian kali Sehun dan Jongin menginjakkan kakinya di tanah favorit Sehun.Tempatnya tak begitu special.Hanya sebuah gundukan batu besar di pesisir utara pantai naksan. Dan di samping kirinya terdapat sebuah lampu yang entah ditujukan untuk apa lampu tersebut.

Hening.

Suasana diantara Sehun dan Jongin.Tanpa sepatah kata yang bisa lolos dari bibir mereka.Jongin tertegun menatap saudaranya yang berdiri tegak seolah menantang langit.Memegang tongkatnya kuat-kuat lalu mendongakkan kepalanya.Membiarkan desiran angin menembus pori-pori kulit terdalamnya.

Sudah kukatakan.Tak ada yang special di tempat ini.Hanya saja tempat ini lah berbagai kenangan Sehun tercetak. Pertama kali ia menemukan sorot kenari dalam mata bening Luhan. Pertama kali ia bisa merasakan bahagia hanya dengan menatap senyuman Luhan. Segala tentang Luhan tergores rapi disini.

——————————————————————-

Sehun menghela nafas panjang. Sepanjang kegundahan hati yang ia rasakan saat ini.

  

“Hahhh…”

Sehun memeluk lututnya erat. Sejak tadi ia tak kunjung terpejam. Meskipun jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Sehun sangat ingin membawa tubuhnya dalam lelap.Ia membekap kepalanya menggunakan bantal. Sedetik kemudian, sayup-sayup terdengar bunyi erangan dari dalam bantal tersebut.Sehun melepaskan bantal itu kemudian memutar posisi tidurnya.Mengerjap-ngerjapkan matanya.

Aku menunggumu.Dibawah lampu menguning tepat saat matahari tenggelam.

Kalimat itu terus saja berputar putar dalam ingatannya. Bagaimana sang empu menuliskannya dengan rapi dalam surat itu. Jantungnya berdetak tak terkendali. Sial! Baru kali ini ia merasakan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Dadanya sesak.Perutnya seolah dipenuhi banyak kupu-kupu. Ya Tuhan apa yang harus ia lakukan.

Sehun akhirnya terduduk.Segala posisi berbaring serasa tak nyaman. Bisa ia dengar suara rintik hujan dari balik jendela kacanya. Sudah satu jam berlalu dari waktu yang dikatakn Luhan. Tapi Sehun masih tetap tak beranjak dari tempatnya.Ia terlalu sibuk mengatur entah apa didirinya. Ia melirik jam yang ada di tangannya. 7.15.

Apa mungkin? Apa mungkin Luhan masih menunggunya disana?  Tapi tidak mungkin.Seorang Luhan tidak mungkin mau menunggunya ditengah hujan selama berjam-jam. Sehun kembali merebahkan tubuhnya namun sedtik kemudian ia bangkit lagi. Menyambar jaket tebalnya.ia juga tak lupa membawa payung yang terletak di ranselnya.

Sehun berlari secepat ia bisa. Mengarahkan kakinya menuju sebuah rumah megah diujung sebuah perempatan. Rumah Luhan. Ia mengatur nafasnya saat tiba persis dihadapan pintu rumah itu. Ia mengetuk pintunya perlahan. Satu kali tanpa sahutan.Dua kali. Muncullah lelaki paruh baya yang ia tau adalah ayahnya.

“Luhan pergi sejak sore nak.Entahlah aku juga tidak tau.”Begitu jawaban lelaki paruh baya-ayah Luhan- ketika Sehun bertanya dimana keberadaan Luhan saat ini. Setelah berpamitan Sehun segera melesak menuju tempat yang sudah pasti ia ketahui.

“Luhan apa yang kau lakukan.”Desisnya pada diri sendiri.

 

‘On rainy days you come and find me’

‘Torturing me through the night’

-TBC-

 

UWAAAAAA FF APA INI…

NGOS NGOSAN BIKINNYA YATUHAN…

MAAAAFFF YA ABAL BANGET INI MAH…

Makasih udah bacaaa dan komen…

Yang gak komen gak makasih.

 

-Termakan Sehun-

 

 

72 thoughts on “With All My Heart Chapter 1

  1. Sehun buruan laah dateng, luhan nya kan masih nungguin itu! Cepet yaaa cepeet!!! Gausah jual mahal puhliiiisss, gue tau lo ganteng nya cetar bgt, tapi ini luhan looh LUHAN! Yakin mau menyia-nyiakan kesempatan luar bisa? Hahaha
    Thor ini juga masih penasaran loooh kenapa Luhan nya masuk rumah sakit nya.
    Ditunggu ya thor! Secepatnya ya thor! Jangan lama2 ya thor update nya..Hehehe

  2. aq sbnrx msh kurang ngerti hehe. .

    ntu lulu yg ke pantai naksan flashback ya?
    oh sehun! cepetan, tak baik membuat lulu menunggu!

  3. My comment ⇩
    ya tuhan thorr!!~
    dmi jambul katulistiwanya
    si cetar membahana, ff ini bner2 sesuatu, ulalaulala gitu deh xD
    kereeen banget nget nget nget!

    bner2 g nyangka ff ini ngmbil
    latarnya didesa O.O
    itlh letak kerennya ^_<

    Luhan artis? Eka aj yg baca lngsg kaget, ini mah si Sehun biase aje_=
    Luhan koma slm 3 bulan? buseeet lma bgt_= *nmanya aj koma_=*

    wow! trnyta smua udh pd
    tau si Luhan trnyta py rsa ma
    Sehun dan see? Sehun bner2 g peka bgt!_=

    seorang Oh Sehun buta????!!!!!
    koq bisa???? Eka tadi cm melongo
    aj bcanya….. udh gt gimaaaaanaaaa tuh?? koq TBC sih??? :"(
    *lempar ikan kerumah author*

    Di ff ini, yg bru kliatan tokohnya bru si Kai and Chanyeol

    Waiting for next chap

    Cayooo utk smua tulisannya ^^
    ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  4. ecieeeyyyyyyyy,
    Sehun sok jual mahal,,
    Kekekeke,,,,luhan,,
    PesonaMu mengalihkan DuniaKU,

    Kekekekek,,,

    Ditunggu,,chap 2🙂

  5. kkyaaaa,,,ff baruuu,,,eonni kagak bilang bilang huks,,,#alay..

    tapi aku mencium bau kesedihan,,,hiks,kok sehunnya cant see anything sih eon,hiks,,lulu ketebek piso? aishh,,jinjaa,,eonni paling bisa yee bkin aye deg degan,,,,ckckckck..

  6. ini msh trsembunyi critanyaa..
    msh ada SECRET dimana mana..
    daeeebaaaakkk !!!
    kynya sderhana tp daleeeemm bgtt !
    chap 1 sukses buat kepo sayya !!

    saya ykin si sehun jg cintaaaa lulu kok.
    next chap cepat publish yakk

  7. ini ff baru pertama buka, semenjak suka buka2 runrunka ini pertama kalinya baca ini ff tegang juga, tapi jujur tidak mengerti itu sehun kenapa bisa buta????
    luhan dapat donor hati dari mana????

  8. Ini, kenapa fict ini tdk dilanjut ? Demi Tuhan.. Begitu banyak pertanyaan diotak saya yg harus segera dpt penjelasan dr author.. Siapa pendonor hati Luhan ? Bagaimana dia bisa berpisah dgn Sehun ? Kenapa Sehun bisa buta ? Malam itu mereka benar” brtemu kan, lalu hal apa yg terjadi sampai memisahkan mereka.. Author~ cepet dilanjut donk~~

  9. hunhan Q suka hunhan.pi ko luhan masuk rumah sakit.terus sehun kemana_?apa dia yg mendonorkan jantungya buat luhan.

  10. authornim ini alurnya maju mundur ya?? sehun buta? kenapa? terus luhan kenapa? penuh tekateki daaaaaan kapan ffnya di lanjut? aku nemu ff ini di librarybyg paling~~~~ bawah hahaha

  11. …………………… //backsound: speechless – lady gaga
    Yaampun sehun kok tega sih bikin luhan nunggu di tengah hujan huhuhu…

  12. Ini kayaknya bakal sedih deh. Aduuuuuh cepet di lanjuuuut n cepet di happyending pliiiiiiiiiiiiis…doggyyeyes…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s