Silent Eyes Chapter 2

*Lempar bom*

Annyeong! How do you do, good reader? ^^

SILENT READER gak usah baca mendingan yah. Soalnya aku gak ridho. Maaf dan GOMAWO for good readers  ^^

 

Yang menunggu Another Promise Chapter 10. Itu adalah Last Chapter! Jadi yang belum komen, buruan komen dari chap awal ampe chap yang terakhir di post! ^^  *plak.

 

PS: Ada kesamaan karakter tokoh dengan salah satu judul FF di WordPress ini. Tidak ada plagiat- plagiatan, murni tidak terduga. Itu hanya karena ‘Termakan Sehun’ dan ‘Kim Hyobin’ terlalu SEHATI! Jadi maklum yah😀 *ketawa bareng Termakan Sehun*

 

 

Silent Eyes

CHANBAEK – KAIBAEK FanFiction

 

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Jongin

Other : Lu Han – Oh Sehun

Genre : Angst , Drama, Romance, School Life, Hurt

WARNING : YAOI / BL/ BOY X BOY / BOYS LOVE

FOR 15+ ONLY

 

†††

 

Rintihan hatimu memanggilku

Menambah derita tak terperihkan

Menjauhkan sinar kebahagiaan hidupku

‘Maaf’

Bahkan kata- kata itu hanya akan menjadi omong kosong…

…atas semua penderitaanmu yang kutorehkan

 

†††

 

PART 2

 

Kai menggendong namja cantik yang tidak sengaja ia tabrak masuk kedalam rumah sakit. Namja cantik itu langsung dilarikan ke UGD dan mendapat penanganan yang intensif mengingat cidera kepalanya lumayan parah. Sampai namja cantik itu masuk kedalam ruangan UGD, darah segar masih mengalir dari kepalanya. Membuat Kai jadi bertambah cemas.

Ia memang tidak kenal siapa namja itu namun ia tentu merasa sangat bertanggung jawab atas apa yang menimpa namja itu.

 

“Ya Tuhan.. semoga dia baik- baik saja..” doa Kai sembari duduk dikursi tunggu yang terletak dekat dengan ruang UGD.

 

Beberapa menit berlalu dan Kai masih berdoa untuk namja cantik yang sama sekali tidak ia kenal itu. Tidak memperdulikan tubuhnya yang mendingin karena pakaian basah kuyub, Kai terus saja menghela nafas panjang dan sesekali melirik pintu UGD.

 

KLEK

 

Kai berdiri dari duduknya saat pintu ruang UGD terbuka dan Kai mengerutkan dahinya saat melihat namja cantik itu berada diatas tempat tidur yang didorong keluar dari ruang UGD. Tanpa membuang waktu Kai kemudian mencegah dokter yang nampak menangani namja cantik yang kini sudah dipindahkan keruang lain.

 

“Dokter! Mengapa dia dipindahkan? Apa kondisinya parah?” tanya Kai tidak sabar.

 

“Anda keluarganya?” tanya sang dokter.

 

Kai terdiam sesaat kemudian mengangguk pelan. “I..Iya, aku keluarganya.”

 

Sang dokter memegang pundak Kai. “Sepertinya benturan yang menghantam kepalanya lumayan keras, ditakutkan terjadi kerusakan syaraf atau kemungkinan lain. Pasien harus dipindahkan keruang inap dan diperiksa secara intensif.”

 

Kai membulatkan matanya. “Se..separah itukah dokter?”

 

Sang dokter mengangguk pelan. “Kami belum bisa menyimpulkan apapun sebelum hasil pemeriksaan selesai. Lebih baik anda ikut saya untuk mengamati pemeriksaan pasien..”

 

Kai memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas pelan. “Baik, dokter.”

 

†††

 

Kai berdiri didepan ruang pemeriksaan dan berjalan mondar-mandir dari tadi. Sebenarnya Kai sangat letih namun ia sama sekali tidak mau duduk dengan tenang. Setelah mendengar kondisi namja cantik itu, Kai benar- benar tidak bisa tenang. Bagaimana kalau namja cantik itu tidak bisa bertahan?

Berarti ia adalah seorang pembunuh?

Ya Tuhan.. Kai sama sekali tidak pernah menyangka ia akan mendapat masalah seperti ini… tepat dihari yang sama setelah ia melihat Luhan dan Sehun berciuman dirumah Luhan dan memutuskan hubungannya dengan namja cantik itu. Tepat hari ini… semua kesialan Kai terjadi dan itu membuat Kai lelah.

 

 

“Jongin-ah!”

 

Panggilan dari suara lembut itu membuat Kai membalikkan tubuhnya dan melihat seorang yeoja yang amat cantik berlari kearahnya sembari menenteng sebuah tas plastik yang cukup besar.

 

“Kyungsoo-noona!” Kai nampak lega melihat kakak perempuan kandungnya itu akhirnya datang.

 

“Ya Tuhan.. kau basah kuyub, Jongin-ah.. aku sudah membawa baju ganti untukmu. Tukarlah terlebih dahulu sebelum kau terkena flu.” Ujar yeoja bernama Kyungsoo itu lembut.

 

“Jeongmal gamsahamnida, noona. Aku benar- benar berterima kasih noona mau menyusulku kesini. Aku tahu noona sedang sibuk dengan tugas kuliah noona.” Kai mengambil tas plastik itu dan melihat isi didalamnya. Pakaian kering serta sepatu kering. “Terima kasih banyak, noona.”

 

Kyungsoo tersenyum manis dan mengangguk. “Lalu bagaimana dengan namja yang tidak sengaja kau tabrak tadi?” raut wajah Kyungsoo nampak cemas kini.

 

Kai menghela nafas pelan dan menggeleng. “Belum ada kabar dari dokter. Ah.. Aku ganti baju dulu, noona.”

 

 

†††

 

Chanyeol sudah sampai diapartemen mewahnya. Dengan langkah cepat ia masuk dan mengunci pintu apartemennya. Ia masih berfikir… masih berfikir akan kejadiaan beberapa jam yang lalu. Dengan sedikit menghempaskan tubuhnya, Chanyeol duduk di sofa dan melonggarkan dasi sekolahnya.

 

“Berarti aku memperkosa namja cantik itu?”

 

Chanyeol memutar bola matanya dan mengangkat bahunya. “Biarkan saja.. lagipula dia pasti menikmatinya. Salah sendiri mengapa wajahnya sangat cantik hingga aku tidak bisa menghentikan nafsuku. Dan anggap saja itu tidak pernah terjadi.. gampang, kan?”

 

Namja tinggi itu kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Senandung lagu terdengar dari mulutnya dan menghilang saat pintu kamar mandi itu tertutup rapat.

 

 

†††

 

Dirumah sakit.

 

Kai dan Kyungsoo duduk dikursi tunggu yang terdapat tepat disamping ruang pemeriksaan namja cantik yang tidak sengaja ia tabrak itu. Kyungsoo memeluk lengan Kai dan merebahkan kepalanya pada pundak bidang Kai.

 

“Jangan melamun, chagiya.” Bisik sang kakak dengan lembut.

 

Kai tersenyum dan mengangguk. “Noona.. aku bodoh sekali.. pikiranku kalut hingga aku tidak berhati- hati. Lihatlah noona… kekalutanku menyakiti orang lain. Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada namja itu?”

 

“Jongin-ah.. apa yang membuatmu kalut?”

 

Kai menghela nafas pelan dan berfikir sejenak. “…..Aku.. aku melihat Luhan dan Sehun berciuman di rumah Luhan, noona… Luhan mengkhianatiku.”

 

Kyungsoo membekap mulutnya sendiri. “Apa? Jongin benarkah itu?”

 

Kai mengangguk pelan. “Aku kecewa sekali padanya, noona. Seandainya aku tidak mempertemukan mereka… seandainya aku tidak pernah membawa Luhan menemui Sehun.. mungkin Luhan tidak akan mengkhianatiku.” Kai nampak sangat kecewa.

 

“Jongin-ah… jangan menyesali semua yang terjadi. Kau tidak salah… Sehun yang tidak tahu diri. Merebut kekasihmu… padahal kau dan dia adalah teman baik.” Kyungsoo mencoba menenangkan Kai.

 

Kai tersenyum tipis. “Tidak ada yang salah, noona. Hanya aku yang terlalu bodoh. Aku sudah tidak mau lagi bertemu dengan mereka. sudah cukup…”

 

“Jongin.. jangan terpuruk seperti ini. Pasti ada maksud baik dari Tuhan untukmu. Kau harus menjernihkan pikiranmu. Sekarang berdoa saja untuk namja itu… yang pasti kau harus minta maaf padanya.”

 

Dengan tatapan teduh Kai menatap sang kakak. Senyuman manis kini tergambar sempurna diwajah Kai. Tidak bohong jika ia merasa sangat lega setelah berbicara dengan Kyungsoo. Seakan bebannya terangkat sebagian.

 

“Beruntungnya Suho-hyung mendapatkan noona-ku yang baik hati. Seandainya aku bisa mendapatkan pasangan hidup sesempurna dirimu, noona.”

 

Kyungsoo tersenyum dan mengusap rambut Kai lembut sekali. “Justru aku sangat beruntung mempunyai adik sepertimu Jongin. Walau kau sedang kalut namun kau bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Kau tidak melarikan diri setelah menabrak namja itu. Kau sungguh berani, chagiya.”

 

“Terima kasih, noona.”

 

Lagi..

Kyungsoo membuat Kai tersenyum dan merasa kelegaan yang luar biasa. Ibu dan ayah mereka sudah meninggal. Ayah mereka adalah seorang pilot pesawat terbang. Saat itu kebetulan sang ibu menemani sang ayah untuk bertugas. Namun naas nya pesawat yang dibawa oleh ayah mereka mengalami kerusakan mesin dan terjatuh. Itu mengakibatkan mereka kehilangan kedua orangtua mereka.

Kyungsoo dan Kai tidak ikut karena saat itu Kai panas tinggi dan Kyungsoo merawat Kai bersama bibinya. Karena hal itulah, Jongin sangat menyayangi Kyungsoo. Hanya Kyungsoo lah satu- satunya keluarganya. Dan tentu saja Kyungsoo selalu membawa kedamaian didalam hati Kai.

 

KLEK

 

Pintu ruang pemeriksaan terbuka dan keluar dokter yang menangani namja cantik itu. Kai dan Kyungsoo berdiri dan menghampiri sang dokter. Raut wajah sang dokter nampak sangat kusut, itu membuat Kai bertambah tidak enak hati.

 

“Bisa ikut keruangan saya?”

 

Kai menatap Kyungsoo sejenak kemudian kembali menatap sang dokter. “Baik..”

 

 

†††

 

 

Mereka kini duduk berhadapan dengan sang dokter diruangan serba putih dan higienis. Kai sedikit merinding melihat ruangan serba putih seperti itu. Kai memang sedikit paranoid jika menyangkut soal mistik.

 

“Pasien sudah sadar.” Mulai sang dokter.

 

Kai dan Kyungsoo tersenyum senang sekali. Kelegaan kembali menyeruak dihati Kai. Dia benar- benar bersyukur namja cantik itu sudah sadar.

 

“Kami mengecek apakah pasien mengalami geger otak atau tidak. Syukurlah pasien tidak lupa akan identitas diri dan keluarganya. Namun..” sang dokter terdiam sejenak.

 

Kai mengerutkan dahinya. Ya Tuhan.. apakah keadaan tidak sebaik yang mereka kira?

 

“..kepalanya terbentur sangat keras.. benturan itu ternyata mengenai syaraf penglihatan pasien dan… merusak indera penglihatan pasien….. Mata pasien mengalami … kebutaan.”

 

Mata Kai dan Kyungsoo membulat sempurna. Tubuh Kai mendingin dan kaku. Seakan mendapat pukulan paling keras, kepala Kai pusing. Semua berputar- putar dan membuat nafasnya tercekat dalam waktu yang lama.

 

Kyungsoo langsung menatap Kai yang terlihat pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Tanpa menunggu waktu lama Kyungsoo memeluk pundak Kai.

 

“Ap..apa yang kau katakan dokter?!” suara Kai terdengar bergetar. Seakan tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

 

Sang dokter menghela nafas panjang. “…Pasien mengalami kebutaan.”

 

Kai berdiri ditempatnya dan menggeleng pelan. Kyungsoo ikut berdiri dan mengusap punggung Kai sembari menenangkannya. Bisa ia rasakan kegundahan luar biasa didalam hati Kai.

 

“Kami.. kami permisi dulu.” Ujar Kyungsoo sopan sembari membawa tubuh Kai keluar dari ruangan serba putih itu. Mencegah nantinya sang adik terbawa emosi dan memaki sang dokter.

 

 

†††

 

 

Kyungsoo mendudukkan Kai disebuah kursi tunggu. Kyungsoo duduk disamping Kai, terus mengusap punggung Kai dan menenangkannya.

 

“Ya Tuhan.. apa yang kulakukan noona.. A..aku.. aku membuatnya buta?” Kai menggeleng pelan. “Noona.. apa yang kulakukan?!”

 

Kyungsoo memeluk adiknya yang kini benar- benar terlihat sangat merasa bersalah. Bagaimana tidak, seseorang kehilangan penglihatannya karena kecerobohan dan ketidak hati-hatiannya. Kai benar- benar merasa bersalah dan menyesal.

 

“.. tidak.. bagaimana cara aku minta maaf padanya..orang itu pasti membenciku noona.. penglihatannya harus lenyap oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.. itu menyakitkan noona..” Kai menahan suara lirihnya.

 

“Jongin..” Kyungsoo tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan Kai.

 

“Ya Tuhan.. ampuni aku..” Kai membenamkan wajahnya dikedua lengan kokohnya.

 

 

 

†††

 

 

 

“Ini.. dimana? Mengapa semuanya hitam?” tanya namja cantik yang masih berbaring diranjang serba putih itu.

 

Sang dokter menghela nafas penyesalan dan menunduk. Kai dan Kyungsoo sudah berada diruangan itu bersama sang dokter. Kai menatap pilu wajah namja cantik yang kini berusaha menggerakkan tangannya didepan matanya.

 

Namja cantik itu kemudian menggapai kesembarangan arah dan itu membuat hati Kai semakin terhenyak. Ya Tuhan… kejamkah dirinya?

 

“Hiks.. aku takut.. jangan biarkan aku sendirian. Kalian dimana? Jangan.. aku.. tidak.. dia akan menyakitiku! Namja itu! TIDAK! KUMOHON JANGAN SENTUH AKU!!” teriak namja cantik itu saat seorang perawat membantunya duduk.

 

 “JANGAN MEMAKSAKU!! TIDAK! TIDAK!!”

 

Namja cantik itu kemudian kembali berteriak keras dan menangis. Kai membulatkan matanya saat namja cantik itu menangis sejadi- jadinya dan mencoba melepaskan pegangan beberapa perawat yang mengunci pergerakannya. Dokter lalu memerintahkan seorang perawat untuk menyuntikkan obat penenang. Kyungsoo memeluk lengan Kai. Nampaknya Kyungsoo tidak tega melihat namja cantik itu disuntik.

 

Dokter kemudian menuntun Kai dan Kyungsoo untuk keluar dari ruang rawat. Kai masih membulatkan matanya dan terdiam membatu.

 

Keadaan namja tadi.. menyedihkan.

 

Oh tidak.. Kai bahkan serasa ingin mati saat namja itu bertanya mengapa semuanya hitam? Mengapa ia sendirian? Kai benar- benar merasa orang paling keji dimuka bumi.

 

“Setelah melihat kondisi tubuhnya, saya melakukan pemeriksaan. Sepertinya sebelum tertabrak ia mengalami kekerasan secara seksual. Terbukti adanya bekas tindak kekerasan secara seksual dibagian alat vitalnya. Dan itu menyebabkan ia trauma.. itulah sebabnya mengapa ia berteriak seperti tadi.”

 

Mendengar penjelasan sang dokter, Kai kembali terhenyak. Apakah karena itu tadinya namja itu berlari kearah mobilnya.. bukannya menyeberang jalan? Namja itu ingin meminta pertolongan namun karena terlambat me-rem Kai tidak sengaja menabraknya?

 

“Kami sudah menghubungi orangtuanya.. Maaf.. kalau saya boleh tahu, anda ini kakaknya?” tanya sang dokter kemudian.

 

Kai masih bergulat dengan pikirannya sendiri, Kyungsoo hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang dokter. Mungkin lebih baik sang dokter menganggap mereka keluarga daripada mengatakan bahwa namja cantik itu adalah korban tabrakan sang adik.

 

“Kalau begitu, jangan pernah meninggalkannya. Dia benar- benar membutuhkan pertolongan dari keluarga terdekatnya…. Saya permisi.”

 

Sang dokter meninggalkan Kai dan Kyungsoo yang masih terdiam ditempatnya. Kai menyadarkan punggungnya didinding sementara Kyungsoo memegang tangan Kai erat. Kai tertunduk dalam.

 

“Jongin..” bisik Kyungsoo seakan merasakan penyesalan adik laki- lakinya itu. Ia mengusap lembut rambut Kai, berusaha menenangkan Kai.

Kai menggeleng pelan dan melepas genggaman tangan Kyungsoo. Ia berjalan menjauhi ruang inap namja cantik itu, Kyungsoo mengejar Kai dan berusaha menghentikan langkah Kai.

 

“Jongin, kau akan pergi meninggalkannya?”

 

Kai terhenti ditempatnya dan menatap mata Kyungsoo tajam dengan mata lirihnya yang sangat berat. Menahan rasa penyesalan.

 

“Lalu aku harus bagaimana, noona? Masuk kedalam ruang inap namja itu kemudian mengatakan ‘Hai, namaku Kai. Maafkan aku sudah membuatmu buta dan aku menyesal mendengar kenyataan kau diperkosa sebelum aku menabrakmu.’ Apa aku harus mengatakan hal itu padanya, noona?!” suara Kai meninggi dan nafasnya terdengar memburu.

 

Kai kembali membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Kyungsoo yang terhenyak. Kyungsoo yakin sekali kalau Kai pasti sangat merasakan bersalah hingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya Kyungsoo berlari mengejar Kai.

 

“Jongin! Tunggu!!”

 

 

†††

 

 

Menyiapkan hati untuk menerima takdir yang tidak diinginkan..

Sangat sulit dan penuh pengorbanan…

Kadang cahaya terangpun tidak bisa menjadi pelita didalam kegelapan

Pengorbanan hati nurani bukanlah cara yang pantas

Tidak jarang akan berbalik menyakitkan

 

 

†††

 

 

Tiga hari kemudian.

 

Tidak terasa sudah lebih dari sehari, Kai meninggalkan namja yang tidak sengaja ia tabrak. Namun setelahnya, Kai tidak pernah merasakan perasaan tenang. Ia selalu gelisah dan.. rasa bersalah seperti menggerogoti relung hatinya.

 

Kai terduduk diam ditaman belakang sekolahnya. Ia memang bukan namja periang seperti dahulu kala. Ia lebih banyak melamun dan menghabiskan waktu ditaman belakang sekolah saat jam istirahat daripada bersama teman- temannya.

 

TEP

 

Kai menghela nafas pelan saat merasakan seseorang memegang pundaknya. Tangan mungil hangat milik mentari dalam hidup Kai. Setidaknya Kai masih menganggap seperti itu hingga mentari itu mengkhianatinya.

Dengan malas Kai menghempas sang tangan namja cantik dan raut wajah Kai berubah menjadi sangat dingin.

 

“Kai..” lirih suara itu.

 

Kai beranjak dari tempat duduknya tanpa melihat wajah cantik yang dapat menghayutkan dunianya dalam sekejap. Namun secepat itu pula namja cantik itu mencegah Kai.

 

“Kumohon.. sudah 3 hari ini kau mengacuhkanku! Baiklah… aku mengakui semuanya namun aku tidak mau kau seperti ini.” mohon namja cantik itu.

 

“Lepaskan tanganku, Lu Han-sshi.” Nada bicara Kai terdengar sangat dingin.

 

Luhan menghela nafas pelan dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kai. Mata Luhan yang nampak sangat indah membuat Kai terdiam. Jujur… ia masih sangat mencintai mata itu.. mencintai sorot mata yang kini memandangnya tajam. Kai masih sangat mencintai Luhan.

Tetapi… hati Kai sudah terlanjur sakit. Pengkhianatan Luhan dengan Sehun bukanlah hal yang mudah dilupakan, bukan? Siapa yang dapat melupakan pengkhianatan kekasihnya dengan sahabat dekatnya sendiri dengan mudah? Terlalu.. menyesakkan.

 

Luhan menarik lengan Kai kemudian mencium bibir tebal Kai dengan sangat lembut. Terkejut, Kai mendorong tubuh Luhan dan membulatkan matanya. Tidak menyangka Luhan akan menciumnya begitu saja.

 

“Kai.. kembalilah padaku. Aku akan menjauhi Sehun jika kau ingin.” Luhan memandang Kai dengan tatapan penuh arti.

 

Ragu… Kai sempat ragu.

Namun entah mengapa hatinya tidak terima. Benar- benar sulit rasanya menerima lagi perkataan Luhan. Sulit.. seakan nalurinya berkata, ‘Jangan percaya.’.

Kai menggeleng pelan dan berbalik badan. Ia meninggalkan Luhan sendirian disana. Membiarkan namja cantik itu memandangi kepergiannya. Kai tidak ingin kembali… karena ia tidak mau dibohongi untuk kedua kalinya.

 

Tidak siap jika Luhan kembali menyakitinya.

 

 

†††

 

 

Sepulang sekolah

 

Sejak menabrak seseorang tiga hari yang lalu, Kai sama sekali tidak pernah menggunakan mobilnya lagi. Kini Kai sedang berjalan menelusuri jalanan kota Seoul. Kai menatap kosong kedepan, ia lihat orang- orang yang berlalu lalang melewatinya. Begitu berbeda satu sama lain dan unik. Bermacam- macam ekspresi orang- orang yang baru saja melewatinya, membuat Kai kembali berfikir.

 

Kai terhenti ditempatnya, ditengah keramaian. Kemudian mengangkat tangannya seraya menutup matanya dengan telapak tangannya.

Bising…

Suara…

Tawa…

Rengekan…

Ia mendengar suara keramaian namun… yang ia lihat kini hanya hitam.

 

Hitam dan kosong.

 

Pekak..

 

..namun hampa.

 

Itu membuatnya…

 

Sesak.

 

Ya.. baru saja ia menutup matanya.. tidak lama. Namun ia sudah merasakan perasaan sesak dan hampa. Perasaan yang membuatnya tidak nyaman.

 

Dan.. bagaimana kalau ia terus melihat kekosongan seperti itu?

 

Apa dia sanggup?

 

 

DEG

 

 

Kai membuka tangannya dari kedua matanya dan seketika itu tubuhnya terasa kaku. Ia kembali ingat namja itu… namja yang bahkan tidak ia ketahui namanya, namja yang bahkan tidak ia kenali, namun.. Kai merampas cahaya namja itu.

 

Kai melakukannya dan… sekarang Kai melarikan diri?

 

DEG

 

Ya Tuhan…

 

Seketika itu Kai berbalik badan dan berlari kencang. Ia berlari sekencang yang ia bisa. Tidak.. ia salah. Tidak seharusnya ia meninggalkan namja itu. Bahkan ia tidak minta maaf sama sekali. Betapa sesaknya dada Kai kini. Namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin bertemu dengan namja itu.

Kai rela bersujud jika memang namja itu tidak mau memaafkannya.

 

“Bodohnya aku..”

 

 

†††

 

 

Dengan langkah kaki yang begitu cepat, Kai masuk kedalam rumah sakit. Ia berdoa semoga saja namja itu masih ada disana. Kai benar- benar ingin minta maaf. Tindakan yang ia lakukan sangatlah pengecut. Lari dari kenyataan bahwa ialah yang membuat namja cantik itu buta. Ia hanya terlalu takut mendengar makian ataupun jerit tangis namja itu saat menyalahkannya.

Bukannya karena ia terlalu penakut, hanya saja… itu terlalu menyedihkan.

 

“Suster! Pasien dikamar 105… waktu itu masih… adakah? Pa..pasien yang dibawa kemari… karena tertabrak saat hari.. hujan..” tanya Kai terbata- bata karena sesak nafas kepada salah satu suster yang lewat.

 

Perawat tersebut membawa Kai kebagian informasi dan membantu Kai mengecek apakah namja itu masih ada disana atau tidak.

 

 

“Pasien bernama Byun Baekhyun?” tanya sang suster setelah menemukan datanya.

 

Kai berfikir sejenak. Ia tidak tahu nama namja itu.. benarkah namanya Byun Baekhyun?

 

“Aku..tidak tahu, suster. Yang pasti aku membawanya kesini sekitar jam setengah delapan malam dan kepalanya terbentur cukup keras.. sehingga…menyebabkan kebutaan..”jelas Kai akhirnya.

 

Suster tersebut mengangguk. “Iya, nama pasien tersebut Byun Baekhyun, tuan. Pasien tersebut sudah pulang sejak dua hari yang lalu. Orangtua pasien membawanya pulang.”

 

Kai terlihat sangat kecewa mendengar perkataan sang suster. Ia hempaskan tangannya sembari berdecak kasar. Ia acak- acak rambutnya sendiri kemudian kembali menatap sang suster.

 

“Bisakah suster memberikan alamatnya? Aku benar- benar membutuhkannya. Aku ingin bertanggungjawab atas kelalaianku menabraknya.” Jelas Kai sedetail mungkin karena ia tahu. Kalau tidak ada alasan pasti, pihak rumah sakit tidak akan memberikan data pribadi sang pasien.

 

Suster itu nampak berfikir sejenak kemudian mengeluarkan selembar kertas memo dan menuliskan alamat namja yang bernama Byun Baekhyun yang terdapat di data personal pasien.

 

“Jangan beritahu siapapun bawa aku memberitahumu alamat pasien bernama Byun Baekhyun, ne.” Ujar suster tersebut sembari meletakkan jarinya dibibirnya.

 

Kai tersenyum senang dan mengangguk mantap. Setelah ia mengantongi alamat itu, ia kembali menunduk pada sang suster dan melirik nametag sang suster.

 

“Terima kasih, Tiffany-noona. Jeongmal!”

 

Kai berbalik badan dan berlari keluar dari rumah sakit itu. Sedikit lega, ia tersenyum pasti. Syukurlah masih ada orang baik yang mau menolongnya.

Dengan begini ia bisa minta maaf.

Ya.. Kai mempercepat langkahnya dan sembari mengeluarkan kertas memo berisikan alamat rumah namja yang bernama Byun Baekhyun.

 

“Syukurlah.. aku bisa minta maaf.” Gumam Kai pelan dan berbelok dibalik tikungan.

 

 

†††

 

 

Kini Kai berada didepan sebuah rumah yang sederhana, walau rumah itu nampak lumayan besar. Bertingkat dua dengan taman yang lumayan terurus dipekarangannya. Kai melangkah dan bermaksud membuka pagar rumah itu…namun digembok?

 

Kai mengerutkan dahinya. “Permisi!” teriak Kai lumayan keras.

 

“Permisi!! Apakah ada orang?!”

 

Kai mendesah pelan karena sahutannya tidak juga dijawab. Setelah melakukan hal itu lebih dari 10 menit, Kai akhirnya menyerah. Ia berjalan kesebuah rumah yang tepat berada didepan rumah keluarga Byun tersebut.

 

“Permisi!” sapa Kai sembari mengetuk pintu rumah itu.

 

“Ne.. chankaman.” Seorang ibu yang menggendong anak balitanya nampak keluar dari dalam rumah. “Nugu?”

 

“Mianhamnida.. aku hanya ingin bertanya pada ahjumma. Pemilik rumah didepan rumah ahjumma.. benarkah rumah anak bernama Byun Baekhyun?”

 

Raut wajah ahjumma itu nampak sangat sedih setelah mendengar nama ‘Byun Baekhyun’. “Benar, nak. Itu rumah keluarga Byun. Namun 3 hari yang lalu…anak itu mengalami kecelakaan hingga menyebabkan Baekhyunnie menjadi.. buta.”

 

Kai menelan kasar air liurnya dan mengepalkan tangannya menahan rasa bersalah. “K..kenapa rumahnya digembok, ahjumma? Aku ingin bertemu dengan Byun Baekhyun.”

 

Ahjumma itu menghela nafas panjang. “Sayang sekali.. baru tadi pagi. Keluarga Byun memutuskan pindah ke China.”

 

Mata Kai membulat sempurna. “Ap..Apa!”

 

“Ne..Nampaknya Baekhyunnie mengalami trauma mendalam, hingga mereka memutuskan membawa Baekhyun keluar dari Korea. Kabarnya… Baekhyunnie..juga diperkosa.”

 

DEG

 

Lagi.. Kai merasa amat bersalah mendengar penjelasan sang ibu yang kini menenangkan anaknya yang mulai menangis. Kai menutup matanya sejenak kemudian kembali menatap sang ahjumma.

“Bisakah aku meminta alamatnya di China, ahjumma?”

“Aku tidak tahu pasti.. kalau tidak salah mereka pindah ke daerah Guangdong.” Ahjumma itu nampak berfikir.

 

Ya Tuhan.. Kai tidak tahu dimana daerah itu pastinya yang ia tahu China sangatlah luas. Kembali Kai menghela nafas panjang.

 

“Terima kasih, ahjumma. Aku permisi dulu.” Kai mulai tidak enak hati karena anak sang ahjumma kembali menangis. Dengan senyuman ramah, ahjumma itu mengangguk dan kembali masuk kedalam rumahnya.

 

 

Kai berjalan gotai kembali bediri didepan rumah Keluarga Byun dan menatap rumah itu lumayan lama. Seketika itu mata Kai tertaut pada kotak surat keluarga Byun yang terbuka sedikit. Tanpa  segan, Kai membuka lebar kotak itu dan mengambil beberapa surat yang nampaknya baru diletakkan beberapa hari ini.

 

Mata Kai membulat saat melihat sebuah amplop dengan perangko dari negara China dan membukanya tidak sabar.

 

“Dapat!” teriak Kai senang saat melihat quota pembayaran lunas sebuah apartemen yang terdapat di China. Kai memasukkan beberapa surat lain kedalam kotak surat. Untuk memastikan, Kai memeriksa quota itu namun ia tidak mengerti… semua menggunakan bahasa China.

 

“Sial!” desis Kai frustasi.

 

Akhirnya sebuah ide terpikirkan olehnya. “Luhan! Ya.. Luhan pasti bisa membaca quota ini dan aku bisa mendapatkan alamat Byun Baekhyun di China.”

 

 

†††

 

 

 

Malam harinya.

 

“Kaiii!!” Luhan berteriak senang melihat namja tampan itu kini tengah duduk diruang tamunya. Dengan wajah yang amat ceria, Luhan berlari memeluk Kai. Mendapat pelukan dari namja cantik itu, Kai sebenarnya merasa senang. Namun mengingat apa yang telah namja cantik itu lakukan padanya, Kai dengan cepat melepas pelukan Luhan dan memasang ekspresi wajah dingin.

 

“Jangan seperti ini. Nanti Sehun bisa marah melihat kekasihnya memeluk orang lain.” Sindir Kai dingin.

 

Luhan mendengar hal itu langsung mundur dan menatap Kai dengan tatapan bersalah.

 

“Aku tidak punya banyak waktu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Kai merogoh sakunya dan mengambil quota berbahasa China. “Ini.”

 

Luhan dengan bingung mengambil quota itu dan membacanya sesaat. Walau ia tidak mengerti mengapa Kai meminta tolong membacakan sebuah quota berbahasa China, Luhan tidak bertanya apapun.

 

“Kau bisa membaca alamat apartemennya?” tanya Kai cepat saat Luhan menatap Kai dengan bingung.

 

“Ya.. ini apartemen yang terletak di Guangdong.”

 

“Bisakah kau tuliskan alamat itu dalam bahasa Korea?” tanya Kai lagi.

 

Luhan mengerutkan dahinya kemudian mengangguk. Ia gapai sebuah memo kecil dan menuliskan alamat yang diminta Kai dengan tulisan Korea. Kemudian menyerahkan pada namja tampan itu.

 

Membaca alamat itu, Kai tersenyum manis dan menatap Luhan dengan penuh terima kasih. “Gomawo, Lu.”

 

Kai membalikkan tubuhnya, bermaksud keluar dari rumah Luhan. Namun langkah Kai terhenti saat itu juga dan kembali membalikkan tubuhnya. Menatap namja cantik bernama Luhan yang sampai kini masih sangat ia cintai. Namja cantik itu terlihat pucat dan air matanya luluh begitu saja.

 

“Kenapa kau menangis?” tanya Kai pelan tetap diposisinya.

 

Luhan menggeleng pelan. “Entahlah.. Kai jangan membenciku. Hiks…”

 

Kai menunduk dan tersenyum manis. Entah mengapa kini perasaannya sangat ringan. “Lu.. kau akan bahagia bersama Sehun. Aku yakin akan hal itu. Aku senang jika kau bahagia.. aku tidak akan membencimu. Aku hanya mencoba mengikhlaskanmu. Dan.. “ Kai mendongakkan wajahnya, menatap namja cantik yang kini terisak.

 

“..Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih pernah menjadi kekasih yang begitu baik. Terima kasih.”

 

Mendengar perkataan Kai, Luhan terdiam. Tubuhnya seakan berhenti bekerja dan hatinya begitu sakit. Sangat..

 

Kai tersenyum tipis dan matanya terlihat berat. “…Jaga dirimu, Lu. Berbahagialah..”

 

DEG

 

“Ah..Ka-“

 

BLAM

 

Luhan menatap pintu rumahnya yang sudah tertutup rapat. Kai pergi, Luhan menunduk penuh penyesalan. Rasanya begitu sakit mendengar kata ‘Terima Kasih’ yang Kai ucapkan.

 

GREP

 

Luhan mengusap air matanya cepat, ia tatap lengan yang memeluknya dari belakang. Lengan putih yang begitu kokoh.

 

“Uljima..” bisik pemilik lengan kokoh itu, Sehun.

 

Luhan membalikkan tubuhnya dan menatap Sehun sendu. “Ne.. Sehun-ah.. jangan pernah meninggalkanku..”

 

Sehun tersenyum amat manis. “Aku membuang semuanya demi dirimu, Luhan. Keluarga.. sahabatku… kehidupanku.. itu semua..karena aku hanya ingin bersamamu. Aku bersalah pada Kai… aku tahu.”

 

Luhan membenamkan wajahnya didada Sehun dan mengangguk. “..maaf aku menangis. Entah mengapa.. saat melihat punggung Kai tadi… rasanya..”

 

Luhan terhenti.

 

“…aku tidak akan pernah bertemu Kai lagi.”

 

 

†††

 

 

Seorang namja tampan dengan postur tubuh tinggi kini menatap tajam namja yang sedang berada didepannya. Hanya menatap tanpa menyentuhnya.

“Hyung… jadi aku benar- benar boleh pulang tanpa melakukan apapun denganmu?” tanya namja bertubuh mungil itu heran.

Namja tinggi yang duduk disofa empuk hanya tersenyum tipis. “Ya. Aku tidak berniat melakukannya sekarang, Chen.”

Namja bertubuh mungil itu menghela nafas. “Baiklah. Aku pulang dulu, Chanyeol- hyung. Sampai jumpa.”

 

 

Chanyeol, ya.. nama namja tinggi yang kini menatap pintu apartemennya yang tertutup rapat. Membiarkan salah satu partner pemuas nafsunya pergi begitu saja. Ia mengangkat wajahnya hingga menatap tajam langit- langit putih itu.

 

“Namja itu… siapa dia?” Bisik Chanyeol sembari mengusap wajahnya perlahan. Ia ambil sebuah buku tugas yang kini berada diatas meja kaca tepat dihadapannya.

 

‘Byun Baekhyun’

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan menatap buku tugas itu dalam. “Namanya Byun Baekhyun, yah? Apa dia bermaksud mengambil buku tugas ini didalam kelasnya dan aku mengira ialah orang yang disuruh Xiumin?”

 

Pejar dimana indah namja tampan itu nampak meredup. Sejak kemarin dia tidak bisa melepaskan pikirannya pada namja cantik yang tidak sengaja ia sentuh dan nikmati. Tangisan namja itu masih terngiang jelas. Memohon agar Chanyeol tidak menodainya.

 

Piipp

 

Piipp

 

Chanyeol berjalan mengambil ponselnya yang terletak dimeja makan. Ia memutar bola matanya malas dan mendesah pelan.

 

“Ne? Ne? Waeyo?”

 

“Ya! Kau ini menyebalkan! Aku sudah dapat data siapa namja yang salah kau serang itu.”

 

“Jinjja?!” Mata Chanyeol membulat.

 

“Neh! Byun Baekhyun itu murid kelas satu. Sama dengan kita namun ia masuk lokal unggul. Karena itu kelasnya ada dilantai dua. Mungkin karena itu kita tidak pernah melihatnya. Murid lokal unggul kan jarang bergaul dengan murid regular biasa seperti kita. Apalagi kelas kita berada dilantai bawah.”

 

“Murid lokal unggul..” ulang Chanyeol.

 

“Ye.. dia anak satu- satunya dalam keluarga Byun. Putra kesayangan tentunya. Disekolah ia juga lumayan terkenal karena suara dan wajahnya yang seperti malaikat. Kau pasti tahu.. ‘Angelic voice’.. itu julukannya. Sempat kau cemooh beberapa minggu yang lalu.”

 

DEG

 

Ya Tuhan.. si ‘Angelic Voice’ itu… Byun Baekhyun? Tidak mungkin ia lupa bagaimana merdunya suara namja itu.. suara yang bahkan membuat seluruh dunianya terpaku tajam. Suara yang membuatnya rela datang keacara peresmian murid baru 3 bulan yang lalu. Namun ia tidak menyangka… yang diserang adalah Byun Baekhyun si Angelic Voice. Betapa menyesalnya Chanyeol tidak bisa melihat dengan jelas wajah si pemilik suara merdu saat acara peresmian murid baru waktu itu. Sial!

 

“Chanyeol? Kau masuh disana?”

 

“…ya.” Chanyeol masih berfikir.

 

“Sayangnya… dia mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu dan ia pindah ke China tadi pagi.”

 

“APA!!” pekik Chanyeol tidak percaya.

 

“Chanyeol.. apakah namja itu kecelakaan setelah kau menyerangnya? Hey.. kalau memang begitu.. kau harus minta maaf.”

 

“Jangan bicara sembarangan. Mana kutahu kalau dia akan kecelakaan. Lagipula.. siapa yang bilang ia pindah ke China? Aku tidak ada mendengar kabar seperti itu disekolah.”

 

“Haah.. kau jangan meragukan informasiku! Kau pikir aku ini siapa? Aku ini anak kepala sekolah, tuan Chanyeol! Berita itu tidak tersebar karena pihak keluarga Byun mengatakan pada appa-ku agar merahasiakannya!”

 

“Ya aku tidak meragukanmu.. anak kepala sekolah yang terlalu melenceng. Suka membolos bersamaku, pergi ke pub bersamaku dan-“

 

“STOP! Aku akan mengulitimu jika kau tidak berhenti.”

 

Chanyeol menghela nafas panjang. “…jadi apa yang harus aku lakukan Xiumin?”

 

“Entahlah.. aku tidak tahu.”

 

“Aissh! Brengsek!!” Chanyeol memijat pelan kepalanya.

 

“..kau pasti sangat menyesal.”

 

Chanyeol menelan salivanya. “Aku tidak menyesal.. tidak! Lupakanlah!”

 

Dengan kesal Chanyeol mematikan ponselnya dan.. ia menunduk. Ia masih memikirkan sesuatu.

 

 Rasa  bersalah..

 

“Ah! Sudahlah!! Aku tidak peduli!”

 

 

†††

 

 

Dua hari setelahnya.

 

Malam yang begitu dingin dan kelam. Langit tidak berbintang dan nampak mendung. Rembulan seperti enggan menyinari bumi. Membiarkan langit tak bersinar malam itu oleh cahayanya.

 

Kyungsoo menatap dalam diam, adik kesayangannya yang kini sedang mengepak barang- barangnya. Memasukkan beberapa helai pakaiannya kedalam travel bag yang lumayan besar serta tas ransel berwarna jeans terang.

 

“Jongin..” Kyungsoo memutuskan untuk masuk kedalam kamar adiknya setelah lama mengamati dari luar kamar.

 

“Noona..” sapa Kai sembari menutup travel bag nya dan mengunci dengan gembok kecil. Ia tatap Kyungsoo sembari tersenyum tipis.

 

“Kau yakin akan pergi ke China untuk menyusul anak itu, Jongin?” tanya Kyungsoo dengan suara yang amat lirih.

“Aku akan menebus kesalahanku, noona. Aku tidak bisa lari begitu saja.” Jawab Kai yakin. “..aku harus melakukan sesuatu, noona.. jika tidak.. aku akan menyesal seumur hidupku.”

 

Kyungsoo menghela nafas pelan dan mengangguk. “..Suho baru saja menelpon, ia mengatakan bahwa esok kalian akan berangkat pukul 7 pagi. Suho baru saja selesai mengurus kepindahanmu ke China.”

 

Kai menggenggam erat tangan Kyungsoo dan tersenyum manis. “Betapa berterima kasihnya aku pada Suho hyung karena mau membantuku, noona. Bahkan ia mencarikan aku tempat tinggal di Guangdong. Aku benar- benar berterima kasih.”

 

Senyuman manis menghiasi wajah Kyungsoo, ia belai lembut rambut adiknya itu dengan kasih. “Kris-ge adalah teman baik Suho-oppa, ia akan menjagamu selama disana. Noona harap kau bisa berlaku baik pada Kris-ge. Dia namja yang sangat tenang dan baik hati.”

 

Namja tampan itu tersenyum tipis kemudian memeluk tubuh Kyungsoo erat. “Malam ini.. maukah noona tidur bersamaku?”

 

Kyungsoo mengangguk pelan, tidak terasa air mata jatuh dipipi Kyungsoo. Begitu berat ia melepas Kai, adik kesayangannya, untuk pergi. Namun Kyungsoo harus membiarkan Kai pergi, karena itu adalah jalan Kai untuk menebus dosanya pada namja manis bernama Baekhyun.

Awalnya Kai hanya ingin meminta maaf, namun nampaknya keinginan Kai kini adalah membantu namja itu untuk bertahan. Tidak adil rasanya Kai hanya meminta maaf kemudian kembali ke Korea tanpa melakukan apapun untuk membantu namja itu.

Kai sudah bertekad.

 

“Tunggu aku… Byun Baekhyun.” Bisik Kai dalam hati.

 

TBC

 

Konfliknya masih belum kerasa yah..

Ini juga mungkin masih pengantar ajah. Soalnya para tokoh belum terkait -__-

Pokoknya RCL! Kalau mau FF nya cepat lanjut. Maaf yah sekarang Hyobin lagi sibuk bgt, soalnya praktikum dan tugas kuliah udh mulai menumpuk. Maklumlah mau UAS. Jadi bnyak yang harus disiapkan. ‘-‘)9 Demi masa depan!

Kalau tidak memuaskan Hyobin minta maaf. *bow bareng Chanyeol

Terima kasih yang sudah mau menghargai saya ^^

Yang SILENT READER.. tolong hargai usaha saya.

307 thoughts on “Silent Eyes Chapter 2

  1. rasanya pengen getok kepalanya chanyeol deh hmmm. sebenernya udah ngrasa bersalah tuh cuma gegsi aja huh.

    kai gentle banget yak aaaah. penyesalan emang dateng telat ya -,-

    apa kabar ya baekhyun di cina, kasian bener tuh babybaek mmmm

  2. ya ampun KAI…frustasi sekali kamu…aku ikutan sedih ini bacanya..gimana yah…entah..menurutku cacat paling buruk sedunia itu buta…karna…utk apa lahir kedunia ujung-ujungnya ga bisa nikmati indahnya dunia, bener ga? ga bisa liat chanyeol yg ganteng..

    kasian sekali baekhyun, setelah ga perjaka lagi, dia ketabrak dan buta…nangis…ini tragis sekali…ToT…

    KAI teruskan tekadmu nak (?)

  3. Chanyeol sama xiumin satu aliran(?) terus kyungsoo jadi noona nya kai, bener2 gak kepikiran sebelumnya. tapi sejauh ini gaada yg aneh sama 2 yg gk mainstream tadi, eonnie pinter bgt nggambarin kyungsoo biar terkesan pantes jadi sosok noona nya kai.
    Baekkie-ku.. oh tidak, kau nistakan baekkie-ku eonnie.. kenapa cobak baek buta (soalnya judulnya silent eyes) okeh, emang nyambung..
    ada tiffany snsd nyempil dikit disini.. kenapa gak taeyeon eon? ato yang lain mungkin, ngebias tiffany ya?

    okeh, keep writing

  4. Suka sama karakter kai disini, pendiriannya teguh banget.. disini baekhyun belum begitu di kenalin ya gimana dia orangnya.. dan chanyeol, yaaa dia itu seenaknya banget

  5. Oh…park chanyeol segitu maniak kah?euw…dan ku harap kau bertobat park chanyeol

    Kai!!astaga kenapa baru sekarang mau minta maafnya saat baek udah di asingkan(?) Ke cina

    Kl luhan selingkuh ama sehun mah wajar ㅋㅋㅋㅋㅋ

  6. pengen gebukin hunhanyeol boleh ga….-_- kesian baekku(?) thor terzolimi;A; kaya kai dong bertanggung jawab. calon suami idaman masa depan/? tapi masih bingung thor yg nelpon chen/xiumin x_x

  7. Chanyeol jahat banget deh, pengen aku culik /? /abaikan
    Kai tanggung jawab banget ya, aku suka perannya disini, baik banget. Kyungsoo juga lembut banget😀 tapi Baekhyun… gak tega dia teriak2 trauma gitu.
    Pokoknya ini keren~

  8. WHATT !! malang sekali nasib mu baekkie , udah di *piip piip # senseor :)* ama chanyeol sekarang harus buta lagi .
    disini kai baik banget dari pada si PCY ,

  9. Ngakak sih tiba-tiba ada tiffany nyempil xixixi. Ini cerita genrenya sedih tapi entahlah udah berapa kali ketawa pas baca. Mungkin karena peran beberapa tokoh yg ngga kepikiran kaya chen, xiumin hahaha :s

  10. Ngakak sih tiba-tiba ada tiffany nyempil. Ini cerita genrenya sedih tapi entahlah udah berapa kali ketawa pas baca. Mungkin karena peran beberapa tokoh yg ngga kepikiran kaya chen, xiumin hahaha. Semoga baekhyun jadi sama yollie aja biar mas Kai sama aku :s

  11. BAGUS BGTTT. AKU READER BARU. maaf yg chapter 1 nya gak srmpet komen. keburu penasaran jadinya langsung kechap2, gak kebayang jadi baek:’)

  12. Duh greget sama chanyeol!!!! Btw, ini chanbaek atau kaibaek ya o.o dua”nya gapapa deh toh aku ngeshipper keduanya, hohoho😄

    Haha ga nyangka xiumin bakal jadi anak ‘bandel’ disini, chanyeol juga. Hahaha😀

  13. Kirain do bakal jadi penggantinya luhan buat kai, trnyata malah jd kakak kandungnya. Tp gakpapa lah ff nya top markotop wkwk suka bgt sama peran kai bikin tambah cinteee xD

  14. baca bagian kai nutup mata langsung ikutan nutup mata. kasian baekhyun-nyaaa ㅠㅠ aaaah jongin future husband banget wkwk

  15. Astaga thor nih ff bener2 seru si baekkie nasibnya kasian amat ya, udah kena musibah eh kena lagi *sabar ya bang* baek nya si kai mau tanggung jawab *kasian juga kai kena sial* feel nya sungguh dapet banget chingu, si cahyo kapan sadarnya sih??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s