BaekYeol / ChanBaek Twoshoot – Baka na Romantica Part 1

Title: Baka na Romantica

INTOX

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Chanbaek and the gank.

Genre: BaTaGor, Bakso Tahu Goreng semua ada, semua lengkap, paket komplit.

Rate: Setengah aman, Setengah nggak aman

Length: 2 Dor!

 

WARNING! THIS IS BOYS LOVE STORY! DON’T LIKE DON’T READ!

 

Niatnya mau bikin yang lucu-lucu─ meski agak maksa. Yah, jadi jangan ngarep yang manis2 di FF kali ini…pokoke ini cerita romance komedi lah menurut saya mah.

 

Oh iya! Peringatan sekali lagi!

Buat yang ga bisa baca Smut BL, jangan baca!

Buat yang jijik sama adegan Smut Bl, jangan baca!

Buat yang geli baca Smut BL, jangan baca!

Buat yang ga ngerti apa itu Smut! Jangan baca!

Buat yang merasa belom cukup umur atau yang lain, mohon sadar diri yah…

 

LET’S GO!

 

… … … … … … … … … …

 

Entah berapa kali Chanyeol merutuk dalam hati, menyumpah serapah Sehun dan Jongin yang memilih tempat karaoke sebagai tempat untuk merayakan kepulangan Baekhyun dari Jepang, karena program pertukaran pelajarnya disana telah usai. Maksudnya, bukan berarti Chanyeol tidak pernah atau jarang main ke tempat semacam tempat karaoke…sebaliknya ia malah sering, bersama Sehun dan Jongin tentu saja, ke klub malam, bar. Tapi tolong jangan lupa untuk digaris bawahi kalau acara ini turut mengikutsertakan Baekhyun. Jauh di lubuk hati, Chanyeol telah merasakan kalau dua berandal kecil itu tengah merencanakan sesuatu.

 

“Kau benar tidak keberatan ditempat ini? Kita bisa merayakan kepulanganmu di restoran atau kedai ramen saja, aku akan segera menghubungi Jongin kalau kau mau.”

 

Chanyeol tahu tidak sepantasnya ia bertanya seperti itu karena saat ini, ia bersama Baekhyun…berdua didalam mobil Audi hitamnya, telah sampai didepan tempat karaoke tujuan mereka. Lagipula mengapa setelah dua tahun belajar di Jepang, Baekhyun masih saja bodoh…bisa-bisanya dengan ceria ia menyetujui usul Sehun dan Jongin.

 

Dan Chanyeol hanya mampu menghela nafas pasrah saat lelaki berparas manis disebelahnya menggeleng pelan.

 

“Tidak perlu, lagipula sudah lama aku tidak karaoke…Jongin dan Sehun juga sudah sampai duluan. Sayang sekali kalau batal, bukan?”

 

Dan…oke, sejak kapan seorang Park Chanyeol dapat menolak permohonan seorang Byun Baekhyun? Meski hal tersebut sangat sangatlah sepele.

 

“Baiklah, terserah padamu.”

 

Keduanya keluar setelah Chanyeol mematikan mesin mobil, lelaki tampan itu menanti Baekhyun menghampirinya terlebih dahulu sebelum melangkah bersama memasuki gedung tempat karaoke.

 

“Dimana ruangannya?”

 

Chanyeol menunjukan layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan “Pesan singkat dari Sehun, lantai dua ruang 9096.”

 

“Okay.”

 

Baekhyun memasuki lift lebih dulu diikuti oleh Chanyeol. Mereka tak hanya berdua, seorang petugas tempat karaoke menyertai mereka. Hingga sampai didepan kamar yang dimaksud, barulah petugas itu pergi.

 

.

.

.

 

Seperti yang telah Chanyeol duga sebelumnya dan sebagai salah satu dari segelintir orang yang sangat memahami karakter sesungguhnya dua iblis kecil Jongin dan Sehun, lelaki bersurai coklat caramel itu sama sekali tidak terkejut ketika kedua adik kelasnya di SMA itu menyambut Baekhyun dengan sangat heboh, seperti orang gila menurut Chanyeol.

 

Meniup terompet dan menebar confetti secara brutal. Mereka malah telah memesan banyak sekali, ya banyak sekali makanan seperti Red Velvet Cake ukuran besar, satu keranjang Fried Chicken, Lasagna, macaroni panggang, tiga botol cola…bahkan tteopokki pun ada. Dan…ah, jangan lupakan teriakan mereka yang berlebihan itu, apa sebelumnya Sehun dan Jongin telah berlatih dulu untuk menjadi seorang Fanboy yang baik?

 

“Aku ketoilet dulu.” Ucap Chanyeol seraya bangit dari sofa. Hanya Sehun yang menanggapinya dengan mengangguk, sementara Jongin dan Baekhyun masih asyik− dan heboh menyanyikan lagu Juliet milik LMNT “Berhenti memakan semua ayam goreng itu! Lihat, kau bahkan menelan tulangnya!”

 

Lagi-lagi lelaki termuda diantara mereka itu hanya mengangguk…cuek, dengan mulut penuh, tanpa menatap Chanyeol, seraya meraih dua potong paha ayam lainnya. Chanyeol hanya mendengus lalu meninggalkan ruangan menuju toilet.

 

“Chanyeol dimana?”

 

“To…ilet.” Jawab Sehun sedikit kesulitan kali ini karena mulutnya dipenuhi tteopokki.

 

Baekhyun mendengung paham, ia menyempatkan berseru ketika menemukan Jongin tengah menyanyikan bagian rap dari lagu Mirotic, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.

 

“Ah, sial! Batreinya habis!”

 

Lelaki berparas manis itu lupa kalau sepulangnya dari Airport, ia langsung meletakan barang bawaannya di rumah dan segera menemui Chanyeol. Tak terbesit sedikit pun pemikiran di kepala Baekhyun untuk sekedar mengecek keadaan ponselnya. Tapi untungnya…ia tak lupa membawa charger ponselnya.

 

“Jongin…dimana aku bisa men-charge ponselku?!”

 

Suara Baekhyun cukup keras untuk membuat Jongin menoleh, lagu Mirotic masih berputar…sepertinya diulang kembali oleh lelaki berkulit coklat terang tersebut.

 

“Diresepsionist saja…katakan pada petugasnya dan kau bisa meninggalkan ponselmu disana.”

 

“Baiklah kalau begitu.”

 

Sepeninggal Baekhyun, tinggalah Sehun dan Jongin hanya berdua…Jongin berhenti bernyanyi dan duduk disebelah Sehun, yang hingga saat ini masih saja sibuk memperkerjakan mulut untuk memuaskan perutnya.

 

“Cara makanmu jelek sekali.” Sindir Jongin melihat remah ayam goreng disekitar mulut Sehun, belum lagi jejak minyak yang membuat kulit pipi putihnya sedikit mengkilap. Dan seperti biasanya, si mesin penggilingan kecil bernama Oh Sehun itu sama sekali tidak peduli.

 

Jongin mengambil sekaleng bir dan meneguknya cepat, sepertinya menyanyi dalam waktu lama membuat kerongkongannya terasa cukup kering.

 

Lagu telah berganti, baik Sehun mau pun Jongin sepertinya tak memiliki niatan sama sekali untuk bernyanyi. Suasana mendadak hening dalam selimut kegaduhan music. Sehun tak berhenti makan sama sekali…membuat pikiran Jongin yang tidak memiliki kegiatan apapun, mulai menerawang luas.

 

Chanyeol dan Baekhyun belum kembali, mengundang Jongin untuk menduga-duga apakah kedua orang itu pergi diam-diam meninggalkannya dan Sehun? Atau menyewa kamar lain agar bisa bermesraan tanpa diganggu?

 

Bukankah hingga saat ini Chanyeol masih menyukai Baekhyun?

 

Tapi, yah…siapa yang mengira jika lelaki setampan dan semodis Chanyeol ternyata adalah seorang dengan mental setipis rumput laut. Tiga tahun bukan waktu yang pendek bagi seseorang untuk menyukai orang lain secara diam-diam…namun sepertinya Chanyeol sama sekali tak berniat untuk menyatakan perasaannya pada Baekhyun. Dengan alasan, takut ditolak lah, takut merusak persahabatan mereka lah, takut jikalau lelaki manis yang ia sukai itu ternyata sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya selain sebagai seorang teman.

 

Sungguh semua alasan konyol dan klise yang Chanyeol lontarkan membuat Jongin ingin menjatuhkannya dari puncak Namsan Tower.

 

“Hei, Sehun!”

 

“Ung?!”

 

“Sepertinya kita harus melakukan sesuatu, demi kelangsungan hubungan kedua senior kita yang paaa~ling kita sayangi itu.”

 

Sehun nyaris saja menyemburkan apapun yang berada didalam mulutnya, itu sangat…menggelikan mendengar nada bicara Jongin ketika mengatakan kata ‘paling’. Dan…sejak kapan mereka menyayangi Chanyeol dan Baekhyun? Sehun hanya menyayangi makanan! Oke baiklah, ia akan menyayangi Chanyeol kalau setidaknya seniornya itu membawakan makanan.

 

“Maksudmu?” ia terpaksa berhenti makan…atau lebih tepatnya kehilangan nafsu makan melihat senyum aneh hadir diwajah Jongin.

 

“Bisakah kau membersihkan mulutmu dulu? Itu terlihat menjijikkan, Sehun!”

 

“Ouh, maaf dan…baiklah.”

 

Alih-alih sedang dalam masa pertumbuhan, Sehun selalu kalap jika menyangkut soal makanan, apapun jenisnya asalkan enak. Mungkin itu sebabnya hingga saat ini ia belum memiliki seorang kekasih, berbeda dengan Jongin yang rencanannya akan menyatakan perasaannya pada Kyungsoo besok. Do Kyungsoo, mahasiswa jurusan desain grafis yang satu tingkat diatas mereka, teman sekelas Chanyeol.

 

Kini mulut Sehun sudah bersih, meski masih sedikit tersisa sentuhan minyak…tapi setidaknya Jongin tidak akan kehilangan nafsu makannya untuk sarapan besok.

 

“Jadi…bisa kau katakan apa maksudmu, tuan Kim Jongin?”

 

Sehun menjatuhkan gumpalan tisu kotor ditangannya kedalam tempat sampah dibawah meja, ia mengerenyit bingung melihat senyum aneh Jongin kembali berkembang.

 

“Senyummu membuatku mual. Cepat katakan apa maksudmu!”

 

“Oke, oke…dengarkan baik-baik.”

 

Tak butuh waktu lama bagi kedua ‘partner kriminal’ itu untuk berdiskusi…dengan tema ‘Cara untuk melancarkan hubungan Chanyeol dan Baekhyun’. Jongin sang Casanova lah yang lebih banyak berfikir…sementara Sehun, entah berapa kali Jongin memukul kepalanya karena tatapannya selalu saja tertuju pada Red Velvet Cake yang masih utuh diatas meja.

 

“Kau…yakin? Kita bisa dibunuh Chanyeol-hyung.”

 

“Tenang. Aku akan membuat dia berterima kasih nantinya, bukan membunuh kita.”

 

Sehun hanya mengangkat kedua bahunya, mengamati Jongin yang mengambil segelas Jus Mangga pesanan Baekhyun. Sejak lama ia tahu, Baekhyun memang paling tidak kuat minum walau hanya satu teguk saja…karena itulah lelaki berparas manis itu selalu memesan minuman non alcohol meski tempat yang mereka datangi adalah club atau bar.

 

“Ini…minum ini, setengahnya saja…jangan dihabiskan.”

 

“Kenapa aku yang minum? Kau saja! Ide ini kan berasal darimu!”

 

“Cih, jangan berisik! Aku tidak suka makanan atau minuman manis!”

 

Sialnya menjadi yang termuda adalah kenyataan bahwa kau lah yang paling mudah, paling sering dan paling menyenangkan untuk ditindas. Chanyeol dan Jongin sama saja, selalu mendindas dirinya…mulai dari menyuruh membelikan makanan, memijat, menyetir kalau sedang jalan bertiga. Tapi setidaknya dua hyungnya itu cukup pengertian untuk tidak merampas jatah makanannya.

 

Sehun tak punya pilihan lain, selain menuruti ucapan Jongin dan meminum setengah dari Jus Mangga milik Baekhyun.

 

“Itu terlalu banyak, Jongin! Kau gila…yang benar saja!”

 

“It’s okay. Semakin banyak efeknya semakin terasa.”

 

Melihat kucuran whisky yang turun dari mulut botol kedalam gelas berisi Jus Mangga milik Baekhyun…Sehun menelan liur beberapa kali. Okay, Jongin benar-benar sakit jiwa karena telah berani mencampurkan setengah Jus Mangga milik Baekhyun dengan cairan whisky milik Chanyeol.

 

Baekhyun sangat mudah mabuk karena itu selalu memesan minuman non alcohol, sementara Chanyeol sangat sulit mabuk karena itu tanpa ragu selalu memesan minuman berkadar alcohol tinggi.

 

God~ semoga ia dan Jongin masih dapat melihat matahari terbit besok.

 

“Selesai. Dengan ini, Chanyeol-hyung akan berterima kasih pada kita nanti.”

 

Jongin meletakan kembali Jus Mangga− campur whisky ketempatnya semula, sebelumnya ia telah mengaduknya lebih dulu menggunakan sedotan yang memang telah ada disana.

 

Pintu ruangan terbuka.

 

Dan tangan Jongin sudah tak memegang apapun ketika sosok seorang lelaki berparas manis dan bertubuh mungil melangkah masuk.

 

“Kenapa lama sekali?”

 

Jongin mencoba berkata sewajar mungkin menutupi rasa gugupnya, sementara Sehun telah kembali memasuki dunianya bersama makanan, berpura-pura tak terjadi apapun.

 

“Tadi aku men-charge sambil membalas belasan pesan singkat yang masuk.” Jawab Baekhyun seraya duduk diantara Sehun dan Jongin.

 

“Oh…kukira kau dan Chanyeol-hyung pergi meninggalkan kami berdua.”

 

“Maksudmu?”

 

“Bukan apa-apa.”

 

Lelaki berparas manis itu mengerucutkan bibir merahnya…tetap saja menyebalkan meski ini pertama kalinya setelah dua tahun, Jongin menggodanya dengan mengaitkannya pada Chanyeol.

 

Kemudian kedua mata Baekhyun melirik pada segelas Jus Mangga segar yang belum sempat ia sentuh sama sekali, melupakan kejahilan Jongin, lelaki berkulit putih bening itu tersenyum meraih gelas jus-nya tersebut. Beberapa detik setelah itu, satu teguk telah melewati kerongkongan Baekhyun.

 

“Eh? Kenapa…rasa jus ini sangat unik.”

 

Jongin dan Sehun bagaikan terkena serangan jantung secara serentak. Tanpa berkedip keduanya lalu menatap lekat sosok Baekhyun yang kembali meneguk jus-nya. Bagaimana suara tegukannya, gerakan lehernya dan tiap tetes yang tanpa sengaja menetes dari bibir mungilnya…Sehun dan Jongin meneguk liur sendiri. Hingga akhirnya minuman itu benar-benar Baekhyun habiskan tanpa sisa…setetes pun.

 

Mereka jadi tegang sendiri memikirkan bagaimana reaksi Baekhyun setelah ini.

 

‘Duk!!’

 

Baekhyun membanting gelas kosong ditangannya keatas meja membuat Sehun dan Jongin tersentak, juga…agak ketakutan.

 

“Hhh~”

 

Dan namja berparas manis itu pun mendesah pelan dengan permukaan wajah yang mulai dihinggapi rona-rona kemerahan.

 

.

.

.

 

Chanyeol dapat bernafas lega karena akhirnya ia bisa meninggalkan toilet dengan perasaan tanpa beban, bagaimana tidak jika toilet dalam keadaan sumpak dan panas? Dikarenakan beberapa bilik toilet yang sedang dalam perbaikan, ditambah antrian yang panjang…membuatnya menghabiskan waktu lama didalam sana.

 

Saat ini ia sedang dalam perjalanan kembali keruangan dimana Sehun, Jongin dan Baekhyun menunggu. Hari sudah hampir larut, mungkin sebaiknya setelah ini ia segera mengantar Baekhyun pulang.

 

“Kalian…ayo kita pulang.”

 

Lelaki bersurai coklat caramel itu menutup pintu seraya melangkah mendekati sofa, lalu segera membeku ditempat ketika akhirnya ia menangkap apa yang tengah terjadi dihadapannya dengan bola mata yang nyaris keluar dari tempatnya.

 

“Wah~ Chanyeol sudah kembali…~”

 

Baekhyun berdiri diatas meja, Jongin dan Sehun untunglah masih cukup waras untuk berdiri diatas lantai seraya menahan kedua tangah Baekhyun dan menariknya agar segera turun.

 

“Minggir! Jangan sentuh aku!”

 

Dengan tenaga yang entah berasa dari mana, Baekhyun menghempaskan tangan Jongin kasar membuat lelaki tampan itu terjerembab disofa. Kemudian ia juga menghantam kepala Sehun dengan botol mineral kosong yang ia pegang ditangan kanannya dengan posisi terbalik. Kedua makhluk nista itu pun terkapar tak berdaya.

 

Setelah itu Baekhyun melompat turun dan langsung menghamburkan diri memeluk Chanyeol, membuat lelaki bertubuh tinggi itu menegang sempurna.

 

“Chanyeoo~l…aku merindukanmu…~”

 

Okay, Chanyeol mulai kesulitan bernafas. Kedua pipinya bagai terbakar saat Baekhyun menengadah untuk menatapnya dengan senyum manis, mata berbinar dan pipi merona yang merupakan perpaduan dalam membentuk raut wajah tanpa dosa bagai malakat kecil.

 

“B-B-Baek…Baekhyun.”

 

Baekhyun tertawa riang dengan suara yang nyaring seperti bayi, music telah berhenti mengalun membuat nada suaranya yang manja dan menggemaskan itu terdengar jelas ditelinga Chanyeol.

 

“Peluk akuuu…~”

 

Chanyeol meneguk liur paksa. Dengan gerakan amat perlahan ia membalas pelukan Baekhyun…lelaki bersuara indah itu kini tengah mengusap nyaman wajahnya didada Chanyeol yang hangat, layaknya seekor anak anjing kecil.

 

Dan Chanyeol, sama sekali tak menampik perasaan bahagia yang kini tengah membuncah dalam dadanya.

 

“A-ada apa dengannya?”

 

Ia bertanya pada Jongin dan Sehun yang kini telah kembali berdiri seraya mengusap kepala masing-masing. Satu yang berkulit agak kecoklatan diantara mereka, melirik permukaan meja yang berantakan, tak perlu dijelaskan bagaimana kondisi detilnya, yang jelas Sehun sangat menyesal karena belum sempat menghabiskan Red Velvet Cake itu sampai tuntas.

 

“Sepertinya dia meminum isi gelas milikmu yang ternyata adalah…Whisky, hyung.”

 

Chanyeol yang tak tahu apapun…dengan bodohnya menelan mentah-mentah ucapan dusta Jongin dan menarik kesimpulan, kalau saat ini…Baekhyun dalam keadaan mabuk berat.

 

.

.

.

 

Tidak ada pilihan lain bagi Chanyeol selain membawa Baekhyun pulang keapartemennya. Ia tak mungkin meninggalkan lelaki manis itu sendirian dirumahnya yang kosong karena kedua orang tuanya baru akan kembali dari Jepang esok lusa.

 

Sialnya bagi lelaki bersurai coklat caramel itu adalah…kakaknya Kibum, yang sejak dua tahun lalu bekerja sebagai property designer, selalu pulang diatas jam sebelas malam. Dengan kata lain, saat ini ia dan Baekhyun− yang masih dalam keadaan mabuk hanya berdua saja diapartemen yang sepi ini. Entah apa yang mungkin saja akan Chanyeol lakukan kalau setan mulai bergentayangan dan mencuri akal sehatnya diam-diam.

 

Mata bulat dan jernih Chanyeol melirik lagi Baekhyun yang kini duduk ditepi tempat tidurnya, seraya mengayunkan kaki seperti anak kecil, bersenandung pelan dengan senyum yang…oh, sumpah-demi-apapun-sangatlah-manis-dan-menggemaskan.

 

Chanyeol menampar pipinya sendiri.

 

Ia menarik selembar pakaian untuk baju ganti Baekhyun, karena pakaiannya sendiri sudah basah oleh peluh dan tentu saja aroma alcohol kuat menempel disana.

“Baekhyun, tukar pakaianmu dengan ini.”

Chanyeol menyerahkan seragam basketnya semasa SMA dulu. Baik pakaiannya mau pun pakaian Kibum sang kakak, tidak ada yang seimbang dengan tubuh Baekhyun yang mungil, kurus dan tidak terlalu tinggi…hanya seragam basket berwarna hitam bernomor 05 itulah yang kelihatannya akan pas ditubuh lelaki manis tersebut, Chanyeol pikir itu pun karena seragam tersebut sudah tidak muat lagi untuk ia sendiri kenakan.

 

“Yah! Jangan ditarik seperti itu! Kau harus membukanya pelan-pelan.”

 

Ia mengambil alih tugas Baekhyun dalam melepas kancing cardigannya sendiri. Lelaki manis itu sungguh-sungguh dalam keadaan mabuk taraf akut…Chanyeol sendiri belum pernah melihat Baekhyun semabuk ini. Akibatnya Baekhyun membuka kancing cardigannya dengan ditarik kasar karena tingkat kesadaran dirinya hanya 50%.

 

“Chanyeol…kau semakin…tampan…~”

 

Tangannya sempat berhenti sejenak membuka kancing cardigan Baekhyun, sentuhan ujung jemari lentik lelaki manis itu pada pipi kanannya membuat persendian tulangnya kaku seketika.

 

Chanyeol merasa jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat.

 

Oke, oke…Chanyeol paham jika disaat seperti ini ia harus lebih mengandalkan akal sehat ketimbang hati nurani.

 

Ia segera menyelesaikan pekerjaan membuka kancing cardigan Baekhyun seraya berusaha keras mengabaikan gelak tawa lelaki manis itu yang terdengar menggoda indera pendengarannya.

 

“Selesai. Sekarang, lepas pakaian ditubuhmu dan tukarlah dengan ini.”

 

“Siap kapten!!”

 

Chanyeol tersenyum kecil mendengar celotehan Baekhyun, sepertinya lelaki manis ̶ yang hingga saat ini masih berstatus sebagai teman baiknya itu, sama sekali tak melupakan fakta bahwa dulunya Chanyeol adalah kapten tim basket yang membawa sekolahnya menjadi juara pertama di turnamen nasional.

 

Namun senyum itu segera memudar tergantikan oleh kedua pipi empuknya yang memerah mengalahkan buah stroberi, saat dilihatnya jika saat ini Baekhyun dengan santainya tengah menarik keatas ujung kaus putih yang ia kenakan. Chanyeol panic bukan main.

 

“B-bodoh! Apa yang kau─ ah, sudahlah!!”

 

Memang percuma berdebat dengan seseorang dalam keadaan mabuk berat, terutama orang yang kita sendiri sukai…selain itu, Chanyeol masih belum ingin kehilangan akal sehatnya. Akhirnya lelaki tampan bersurai coklat caramel itu memilih untuk berbalik membelakangi Baekhyun.

 

Namun semua itu sia-sia, tetap saja…Baekhyun, lelaki yang notabene-nya disukai Chanyeol selama tiga tahun, kini tengah berganti pakaian tepat dibelakangnya!

 

Oh God!

Sungguh Chanyeol dapat mendengar dengan jelas suara turunnya resleting celana jeans biru yang Baekhyun kenakan, lalu suara benturan gesper dan kancing besi pada lantai ketika lelaki manis itu menjatuhkan pakaiannya begitu saja…semua itu…semua itu…mengusik telinganya!

 

Nafas Chanyeol mulai kacau, pipinya panas dan isi kepalanya mulai menerawang jauh akan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan.

 

“Aku merindukan Chanyeol…~”

 

Sepasang lengan kurus nan kecil, dapat Chanyeol rasakan melingkari pinggangnya dengan sempurna. Kedua mata jernihnya kembali membulat mencerminkan seulas keterkejutan yang ia rasa…telapak tangan mungil tersebut terasa hangat menyentuh perutnya. Lelaki tampan itu meneguk liur begitu saja…peluh mencoba merembes dari pori-pori kulitnya karena ia sadari suhu tubuhnya meningkat drastis.

 

“Chanyeol…~ merindukan Baekhyun tidak?”

 

Kini Chanyeol benar-benar kehilangan irama nafasnya…dan entah bagaimana caranya ia dapat mendengar suara degup jantungnya sendiri. Membuat telinganya bergedung dan kepalanya terasa pusing.

 

Tidak!

Ia tidak bisa menghentikan perasaan ini…!

Perasaan yang ia pendam rapat layaknya harta karun selama lebih dari tiga tahun, perasaan terbesarnya terhadap Baekhyun…malaikat kecil yang dengan lancang telah berani mencuri hatinya dan membawanya mengawang ke langit ketujuh.

 

“Chanyeol…~”

 

Tapi…tapi ini bukanlah saat yang tepat. Chanyeol tahu ia memanglah seorang pengecut…yang dengan bodohnya memelihara keraguan ini sebagai pendamping cinta terpendamnya pada Baekhyun. Cinta gila ini…membuatnya bodoh.

 

“Apa yang kau lakukan, Baekhyun? Sebaiknya kau segera tidur.” Tegas Chanyeol seraya melepas rengkuhan Baekhyun, ia mencoba mengabaikan lelaki berparas malaikat itu lalu mengumpulkan pakaiannya yang berserakkan dilantai dengan tergesa. “Ak-aku akan mencuci pakaianmu malam ini juga agar besok bisa langsung kau kenakan. Selamat…tidur.”

 

Tanpa melirik Baekhyun sama sekali, Chanyeol segera berbalik menuju pintu bermaksud meninggalkan kamar ini secepatnya, meninggalkan Baekhyun dan menentramkan isi kepalanya.

 

Namun sebuah alunan suara, menggetarkan hatinya membuat tubuh ini berhenti bergerak.

 

“Aku…aku…benar-benar merindukan Chanyeol…~”

 

Kata lelaki dibelakangnya dengan lirih…Chanyeol ragu untuk berbalik, namun hati ini begitu ingin melihat sosok Baekhyun, orang yang sangat ia cintai…yang baru saja berkata kalau dirinya merindukan Chanyeol.

 

Bolehkah ia merasa sedikit berlega hati…karena ternyata kerinduan ini tak hanya dirasakan oleh satu pihak?

 

Meski Baekhyun mengatakannya dalam keadaan mabuk…

 

Tak kuasa lagi menampik perasaannya…Chanyeol akhirnya memutuskan untuk menoleh. Ia melihatnya…melihat sosok indah Baekhyun yang tengah mengenakan seragam basketnya dahulu, tanpa lengan dan celana karena hanya dengan atasannya saja, tubuh kecil Baekhyun telah tertutupi hingga nyaris mencapai lututnya. Pakaian itu tetap saja terlihat kebesaran, Chanyeol tidak habis pikir kalau ternyata tubuh Baekhyun sangat sangatlah mungil.

 

Kedua lensa mata Chanyeol bergerak saat melihat Baekhyun menumpuk kedua telapak tangan didada kirinya seraya menatap dengan sendu.

 

“Disini…aku merasa ada yang kurang…seperti ada sebuah lubang yang besar sekali…aku tidak tahu harus bagaimana, tapi tiap kali merasakannya…sosok Chanyeol selalu muncul dikepalaku…terkadang rasanya sakit dan menyesakkan, membuatku sulit bernafas…”

 

Chanyeol kini tak lagi merasa memijak lantai, baik jiwa mau pun raganya seolah melayang jauh entah kemana…ia menyerah pada hati nuraninya, ia tak lagi berkeberatan jikalau akal sehatnya hendak meninggalkannya entah kemana. Hanya satu hal yang kini mengisi relung hati dan tahta pikirannya…hanya Baekhyun seorang.

 

“A-apa aku jahat…kalau berharap Chanyeol juga merasakan hal yang sama denganku? Apa kau akan marah padaku, Chanyeol?”

 

Hingga akhirnya sang dewi cinta membawa pergi akal sehatnya…sihir-sihir sucinya mendorong kaki Chanyeol untuk bergerak, bukan menuju pintu melainkan menghampiri Baekhyun. Lelaki tampan itu menjatuhkan tumpukkan pakaian ditangannya dan segera mendapatkan tubuh kecil tersebut dalam dekapannya.

 

Tak ada sepatah kata pun yang terucap meski Chanyeol sebenarnya begitu ingin berkata, bahkan berteriak bahwa tanpa Baekhyun inginkan pun…ia turut merasakan hal yang sama, ia juga tersiksa karena hal yang sama, juga mengalami rasa sakit yang sama.

 

“Ch-Chanyeol…”

 

Satu tangan Chanyeol merangkul leher Baekhyun sementara satu tangan lainnya melingkari pinggang rampingnya. Lelaki tampan itu seolah hendak mengurung malaikat kecil tersebut dalam dekapan sangkar cintanya, menguncinya dari segala arah…memusnahkan celah sekecil apapun agar malaikat kecil nya tak kan lagi pergi darinya.

 

Lama ia merengkuh tubuh mungil itu…menumpahkan kerinduan yang ia pendam selama dua tahun kepergian Baekhyun ke Jepang. Ia rindu wangi tubuh ini, ia rindu suhu tubuh yang hangat ini, ia rindu halusnya surai hitam ini…ia merindukan segalanya, segalanya dalam diri Baekhyun.

 

“Cin…ta…aku…mencintaimu.”

 

Ungkapan berjuta makna tersebut melarikan diri dengan mudahnya dari mulut Chanyeol, menyisakan sebuncah perasaan lega yang kini memenuhi ruang jiwanya.

 

Chanyeol tak peduli lagi akan keraguannya…juga ketakutannya. Ia hanya ingin membuat Baekhyun tahu akan perasaannya, ia hanya ingin menyadarkan malaikat kecilnya akan keinginan hatinya…yang menginginkan sosok indahnya seutuhnya. Menghadiahinya perasaan suka yang ia pendam selama tiga tahun, hingga akhirnya berkembang menjadi rasa cinta dalam bingkai hangatnya kasih sayang.

 

Semua itu…hanya untuk malaikat kecilnya.

 

“Chan─ eumph…”

 

Dan penyatuan kecil itu pun terjadi…ciuman yang menjadi jembatan bagi Chanyeol untuk menyalurkan perasaannya pada Baekhyun.

 

Secara naluriah lelaki tampan itu memejamkan mata, membiasakan diri dengan tekstur bibir Baekhyun yang lembut, halus dan lembab. Mengingatnya dalam hati dan bersumpah bahwa ia tak kan pernah melupakan rasa manis yang ia dapatkan.

 

Tak puas hanya berdiam diri, menyadari dirinya yang mulai mencandu terhadap bibir mungil Baekhyun, Chanyeol mulai menggerakan lidah menambah teksur lembab bibir pasangannya…memberi kode pada lelaki manis itu dengan cara menarik kebawah dagu Baekhyun secara perlahan, hingga kemudian kedua belah bibir itu terpisah dan menjadi jalan sempurna bagi lidah Chanyeol untuk berpindah tempat.

 

“Hmph…hhh~”

 

Desah kecil terdengar dari mulut Baekhyun…disela decak peraduan dua lidah didalam mulut kecilnya.

 

Sesekali keduanya membuka mata…membenturkan hasrat masing-masing lewat tatapan, kemudian kembali bercumbu dengan lebih dalam.

 

“Hhh…~”

 

Dengan sangat menyesal, Chanyeol terpaksa menuntaskan penyatuan kecil antara dirinya dan Baekhyun. Ia sangat menyesal membuat malaikat kecilnya kehabisan oksigen dan sulit bernafas seperti ini…dalam keadaan mulut sedikit terbuka, Baekhyun menatap Chanyeol sayu.

 

Permukaan wajah putihnya kini nampak merona, menambah nilai keindahan parasanya…Baekhyun terlihat seperti Snow White. Kulitnya seputih salju namun dihiasi rona semerah darah, Chanyeol tersenyum samar menghapus jejak liur disekitar mulut Baekhyun, juga memutus benang liur tipis yang menyambungkan bibirnya dengan bibir mungil tersebut.

 

“Kau…sungguh menakjubkan, Baekhyun.”

 

Lelaki tampan itu dapat merasakan sentakan hebat dari tubuh Baekhyun saat ia menggunakan mulut untuk memanja leher jenjangnya.

 

“Ouh! Astaga Chan─“

 

Baekhyun terpekik nyaring. Sentuhan Chanyeol tepat mengenai titik sensitifnya dan membuat sekujur tubuhnya ngilu…ia ingin menggeliat namun kedua lengan kokoh Chanyeol masih setia memerangkapnya. Tak banyak pergerakan yang dapat ia lakukan, mabuk yang belum sirna sepenuhnya membuat isi kepalanya luluh lantak…semua putih dan putih, hanya ada bayangan Chanyeol yang tersisa mengisi pikirannya.

 

“Akh, sak─ ah!”

 

Mulutnya kembali memperdengarkan desah pilu…ketika Chanyeol, seperti vampire menggigit cukup kuat lekukan leher yang merupakan titik sensitifnya. Kini ia merasa benar-benar lumpuh total…

 

Menyadari hal tersebut dengan mudah dan tanpa tenaga Chanyeol mendorong pelan tubuh kecil Baekhyun agar terbaring diranjang…dan segera setelahnya, ia memposiskan diri diatas malaikat kecilnya itu.

 

“Perlu kau ketahui, malakatku…semua ini adalah hukuman karena kau telah berani mencuri hatiku.”

 

Katanya sebelum menyambung kembali arus kebahagiaan yang sempat terputus, memanja lagi kali ini untuk melukiskan secercah tanda merekah dibagian bawah telinga Baekhyun, menggigitnya lalu menjilatnya sebagai sentuhan terakhir…menambah kepekatan tanda merekah tersebut.

 

“Akh! Sshh…~”

 

Sang pemilik suara indah itu mengerang tertahan…Chanyeol melakukannya tak hanya satu kali, memaksa tubuh kecilnya bersusah payah menahan gelombang kenikmatan yang membuat darahnya berdesir lebih cepat dan hangat. Ia bergerak dalam gelisah, kedua kakinya menggesek permukaan kasur sementara kedua tangannya meremas kain seprai secara reflex.

 

Dalam keadaan setengah sadar Baekhyun masih dapat merasakan sesuatu yang basah dan hangat bersarang dilehernya. Begitu besar kebahagiaan yang Chanyeol persembahkan untuknya, hingga ia tak sanggup lagi menampung semuanya dan terpaksa melepaskan sebagian dalam bentuk erangan serta desahan.

 

“Ch…Chanyeol…aaahh~ p-please…”

 

Satu kalimat berhasil Baekhyun utarakan dengan susah payah. Chanyeol mulai menjauhkan wajahnya dari leher jenjang lelaki berparas manis dibawahnya.

 

Keduanya kembali terpaku, sorot mata masing-masing saling bertaut menggantikan mulut mengeluarkan suara.

 

Terlihat pantulan sosok Baekhyun pada bola mata jernih Chanyeol. Sosok yang saat ini nampak tak berdaya, lemah dan nafasnya tak berirama. Noda-noda merah yang tak seharusnya tercipta, telah ia goreskan menghiasi leher putih Baekhyun…

 

Disaat Baekhyun dalam keadaan mabuk…ia kehilangan akal sehatnya.

Chanyeol tersadar akan kenyataan bahwa ia telah melewati batas terlalu jauh.

 

Dalam satu tarikan nafas berat Chanyeol menjatuhkan diri tepat disamping Baekhyun, menarik selimut menutupi tubuhnya juga tubuh mungil disampingnya seraya mengusap pelan kedua mata yang mulai sayu itu dengan ibu jarinya.

 

“Sudah saatnya kau terlelap, Baekhyun.”

 

“Ung~”

 

Tanpa berkedip sekali pun, mata jernih Chanyeol terus memandang mata indah malaikat kecilnya mulai terpejam…menyerahkan diri sepenuhnya pada rasa kantuk yang sebenarnya telah sejak lama ia bendung.

 

.

.

.

 

Chanyeol berdiri didepan pintu kayu sebuah kamar yang beberapa detik lalu baru saja ditutupnya, ia membelakanginya…enggan bertatap muka dengan pintu kayu itu seolah merasa sama saja berhadapan dengan Baekhyun yang tengah terlelap damai didalam sana.

 

Ia mengacak surai caramelnya tanpa suara, goresan kuku-kuku jarinya pada kulit kepala membuatnya sedikit merasa perih.

 

Merapalkan sumpah serapah dalam hati mengutuk diri sendiri yang hampir saja− sebenarnya sudah melewati batas. Dan parahnya ia seakan mendengar bisikan-bisikan aneh ditelinga kirinya yang mendukung keinginannya untuk kembali menyerang Baekhyun dan mencumbunya habis-habis− eh, WHAT?! Bloody Hell! Pikiran macam apa itu!

 

Chanyeol kembali mengacak─ menjambak kuat-kuat surai coklat caramelnya.

 

Such a holy fvcking night.

 

“Kenapa kau?”

 

Suara pelan itu cukup mampu membuat lelaki bertubuh tinggi itu melompat kaget seperti katak, tapi untung saja itu tidak terjadi karena bukannya tidak mungkin jika kepalanya akan membentur langit-langit.

 

“Ki-Kibum!” seru Chanyeol seraya mengusap dadanya kemudian menghela nafas lega.

 

Adalah sosok lelaki berparas cantik yang berdiri didekatnya…Park Kibum, kakak kandung Chanyeol. Lelaki berhati lembut yang tak pernah keberatan adikknya panggil tanpa tambahan kata ‘hyung’ dibelakang namanya.

 

“Kau tidak baru saja…memperkosa anak orang, bukan?”

 

Terkadang…beberapa orang didunia ini memiliki pola pikir yang tidak biasa, namun bukan berarti orang tersebut kurang waras atau setengah gila. Itu pendapat Chanyeol mengenai kakaknya sendiri, kalau boleh jujur.

 

“Siapa yang ada didalam kamarmu?”

 

Chanyeol reflex menghadang Kibum yang hendak membuka pintu kamarnya. Lelaki tampan itu menggeleng keras seraya merentangkan kedua tangannya.

 

“Katakan siapa yang ada didalam kamarmu atau malam ini kau tidur di tempat pemakaman!”

 

Oh ya, selain memiliki pola pikir yang tidak biasa…perlu dunia ketahui kalau kakaknya, Park Kibum ini juga seseorang yang agak-sedikit-lumayan-cukup sadis.

 

“B-Baek…Baekhyun.” Pelan Chanyeol setelah sebelumnya menelan liur guna membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa gersang “D-dia mabuk…jadi…aku…bawa…ke apartemen…kita…dan…dia…tidur…didalam…” sambungnya putus-putus seperti orang gagu.

 

“Baekhyun? Maksudmu, Baekkie-baby ku?!”

 

Chanyeol mengangguk pelan, sebenarnya agak keberatan juga mendengar Kibum mengatakan ‘Baekkie-baby ku’ huh! Kakaknya itu bahkan tidak pernah menyebutnya dengan ‘Channie-baby ku’ eerr~ tapi bukan masalah karena itu terdengar sangat mengerikan.

 

“Aku ingin menemuinya.” Sergah Kibum hendak membuka pintu.

 

“Hei! Aku bilang dia sedang tidur!”

 

Chanyeol kembali menghadangnya…membuat Kibum merengut kesal. Kedua kakak-beradik itu saling bertatap tajam. Mata bersudut tajam milik Kibum menatap lekat paras tampan adiknya…mencermatinya, berusaha menemukan apa sekiranya yang sedang disebunyikan Chanyeol babo itu.

 

“Jangan bilang kau baru saja…memperkosanya.”

 

Okay, dalam hati ia turut sedih karena tingkat kewarasan hyung-nya ini menurun sepuluh persen…seraya memutar kedua bola matanya, Chanyeol beranjak pergi menuju dapur diikuti Kibum dibelakangnya.

 

“Kenapa kau sangat menginginkan kalau adikmu yang seorang pria baik-baik ini melakukan tindak criminal? Dasar sakit jiwa!”

 

Lelaki tampan itu membuka pintu kulkas, lalu mengambil sebotol susu stroberi dan meletakannya didepan Kibum yang baru saja menduduki salah satu kursi meja makan. Kibum lalu menuangnya kedalam mug motif kelinci yang merupakan kesayangannya.

 

“Karena aku ingin kau menikah dengan Baekhyun. Tapi karena kau bodoh, kau hanya mampu memendam perasaan cintamu tanpa berani mengatakannya…oleh sebab itu, akan lebih baik dan efektif kalau kau langsung menghamilinya saja, dengan begitu aku akan mendapatkan seorang adik ipar yang manis dan keponakannya yang lucu sekaligus. Ini sama saja dengan pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui atau sekali tepuk dua lalat. Apa kau setuju?”

 

Chanyeol hanya mampu terpaku setelah mendengar Kibum menguraikan teori-nya yang jauh dari kata ‘masuk akal’.

 

“Sepertinya, terlampau sering menonton drama romance picisan membuat pikiranmu terganggu. Kau mau masuk rumah sakit jiwa yang mana, huh? Dengan senang hati akan kirim kau kesana.”

 

“Oh ya? Sayang sekali jika kau berpikir seperti itu, adikku. Padahal aku sangat yakin kalau kau memiliki bakat dalam bidang tersebut.”

 

“You mean?”

 

“I think “Kau…sungguh menakjubkan, Baekhyun.” And “Perlu kau ketahui, malakatku…semua ini adalah hukuman karena kau telah berani mencuri hatiku.” It’s soooo~ adorable words.”

 

Dan selanjutnya Kibum terbahak menyaksikan Chanyeol menyemburkan susu coklat yang baru saja diteguknya…dari mulut dan sedikit dari hidungnya.

 

 

TBC

No Comment.

Ini sangat…sangat…AN to the CUR!

Dari awal sampe ending…ga cuco ceritanya, ye bo? *bencong mode on*

Mengenai adegan smut, saya emang ga bisa yah…dan karena saya juga ga suka smut yang terlalu frontal dan kasar. Jadi adegannya saya samarkan sehalus mungkin *sebisa saya* dan saya minimalisir (?) secukupnya.

Tapi…

Makasih buat yang baca…

Makasih, makasih buat yang baca dan like…

Makasih, makasih, makasih buat yang baca, like dan comment.

 

AKTF!!

160 thoughts on “BaekYeol / ChanBaek Twoshoot – Baka na Romantica Part 1

  1. Wow ini bgus thor, kibum kakak yg aneh, jd trnyt dy udh ada d luai kmr yeol y jd bs bcr dgn kt2 sblum TBC td? Aigo. Chanyeol nafsu jg trnyt. Eh tp dua magnae d exo k itu bnr2 sesuai kalo d sbt evil yah wlw dlm crt ini lbh ke kai sic

  2. iseng bngt tuh bch [sehun n kai]smurt’a lmyan mnegangkan, hehehe, kibum ada” ja, i like lanjut thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s