Kind Of Heart Chapter 9

Kind Of Heart

Kim Hyobin

389309_459661324063916_1730330251_n

 

HunHan – KaiHan FanFicion

Cast : Lu Han – Kim Jongin – Oh Sehun

Other : Taemin – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Huang Zitao – Wu Fan / Kris – Yixing / Lay

Other Case : BaekYeol/ ChanBaek , TaoRis, KaiTae/ KaiMin

Genre : Drama, School Life, Romance

 

 

Ketika kau tahu bahwa hatimu memilihnya

Apa yang akan kau lakukan?

Saat semua yang kau tuju teralih padanya

Apa yang akan kau lihat?

Bisakah kau berlari.. mengejar dia yang bahkan menunggumu disana?

Ya.. dia menunggumu

Menunggumu yang terikat akan dua hati

Pejamkan matamu…

Disaat itulah kau tahu

Siapa yang benar- benar kau pilih.

 

 


CHAPTER  9

 

 

“…jika kau tidak mau meninggalkannya, Sehun. Dia yang harus meninggalkanmu.”

 

Sehun terdiam dan tubuhnya kini tidak meronta lagi. Mata elang sendunya menatap kedua orang tuanya yang kini terlihat sangat keras dan tegas. Namun kemudian Sehun mengumbar senyuman pahit.

 

“..ternyata memang percuma aku berharap.”

 

Ucapan Sehun membuat kedua orangtua nya sedikit menyerngit. Sang ibu menatap sang ayah sesaat kemudian kembali menatap sang anak.

 

Senyuman sinis terhias jelas diwajah Sehun. “Dia yang mengajariku menemukan ‘Oh Sehun’.. diriku yang sesungguhnya, yang berani melawan topeng dan jati diri palsuku yang kalian bentuk, yang menghantam habis pintu hatiku yang tertutup hingga terbuka lebar… dia yang mengajariku semuanya.”

 

Sang ayah kini nampak menatap tajam mata sang anak yang juga menatap tajam dirinya. Tidak ada keraguan, hanya ada ketegasan yang begitu kuat.

 

“Dia yang mengatakan bahwa aku seharusnya mempercayai kalian. Mempercayai orang yang kuanggap pemberi tekanan dan penderitaan.. mempercayai.. bahwa orangtua bukanlah orang yang sanggup menyakiti anaknya.. dan aku menganggap kalian berdua bukanlah sosok yang hangat dan menyayangiku.”

 

“Sehun, cukup! Apa yang kau katakan pada orangtuamu. Oemma benar- benar tidak-“

 

“Aku memanggilmu ‘Oemma’ dan apa kau pernah mendengarkanku? Kau hanya sibuk dengan kegiatanmu yang tidak masuk akal. Berpesta, berbelanja barang- barang yang entah kapan kau kenakan… saat aku memanggilmu dan menginginkanmu untuk menemaniku disaat aku terpuruk dan merasa tertekan… pernahkah kau mendekapku dengan hangat? Bahkan kau tidak pernah sadar, bukan?”

 

Diam.

 

Mata sang ibu membesar, mendengarkan semua cercaan sang anak yang membuatnya mati rasa. Seakan sebuah palu menghantam ulu hatinya. Membiarkan semua perkataan Sehun, sang anak, tercerna dengan baik melalui pori- pori kulitnya yang meremang.

 

“Pernahkah.. kalian mendekapku dengan hangat seperti dirinya yang memelukku dengan kasih sayang dan pelukan hangat? Yang bersedia mengemis agar aku selalu dalam keadaan sehat dan bahagia… salahkah aku mempertahankannya?”

 

PLAK

 

Sehun terhenti, pipinya perih sekali. Baru saja menerima tamparan keras dari tangan sang ayah. Tangan dimana seharusnya memberi Sehun kehangatan dan kasih sayang. Ibu Sehun hanya diam. Seakan memikirkan sesuatu.. memikirkan ucapan sang anak yang ia nilai…begitu berani.

 

“Sejak kapan kau jadi manusia cengeng yang bergantung pada orang lain, Oh Sehun?”

 

Sehun kembali tersenyum pahit. “Sejak aku sadar… bahwa aku memiliki hak untuk memilih jalanku sendiri.”

 

Wajah sang ayah memerah. Bulu kuduknya meremang, entah mengapa ucapan Sehun begitu membuatnya merinding.

 

“Bawa ia masuk kekamarnya dan pastikan dia tidak akan keluar sebelum aku izinkan.” Perintah sang ayah pada kedua bawahannya yang mengunci pergerakan Sehun dari tadi.

 

“Tunggu!” Sehun langsung buka suara. Ia tatap wajah ayah dan ibunya dengan taat. Kemudian senyuman manis tergambar diwajah tampannya yang sempurna. “Tadi appa mengatakan jika aku tidak mau meninggalkannya dia yang harus meninggalkanku, bukan?”

 

Sang ayah mengerutkan dahinya.

 

“..Appa hanya belum tahu siapa Luhan.” Sehun mengangkat bahunya. “Dia namja polos mendekati bodoh. Dia hidup dengan pemikiran super lugu yang tidak bisa ditebak sama sekali. Kelakuan bodoh yang kadang membuatku ingin menelannya hidup- hidup. Ck! Entah bagaimana ia bisa bertahan hidup dengan pikiran bodoh seperti itu!”

 

“Apa maksudmu nak?” kali ini sang ibu buka suara. Ia baru saja mendengar Sehun mengomel sendiri.

 

“..maksudku….dia namja berhati kuat yang super bodoh. Jadi.. berhati- hatilah.”

 

Setelah mengatakan hal itu Sehun dibawa keluar oleh kedua bawahan ayahnya menuju kamarnya. Sang ayah masih mematung ditempatnya sedangkan sang ibu mengerjapkan matanya beberapa kali.

 

“..ancaman macam apa itu…” Bisik sang ayah dengan senyuman yang sulit diartikan.

 

 

 

 

Bruak

 

Luhan, namja manis itu membulatkan mata. Tas sekolah yang ia sandang jatuh begitu saja dari tangannya. Benar.. ia terkejut sekali.

 

“Lu..” bisik sang ibu.

 

“Mama.. Papa… aku tidak akan menyetujuinya. Sampai mati aku tidak mau!!” mata Luhan terlihat berat.

 

Sang ayah menghela nafas. Ia berdiri dan menghampiri anak satu- satunya itu. Perlahan sang ayah memeluk pundak Luhan dan membimbing Luhan untuk duduk diantara mereka.

 

Mereka kini berada diruang keluarga.

 

Ruang keluarga yang hangat dan tenang. Terlihat disana berbagai foto Luhan, sang ayah, dan sang ibu. Dari saat Luhan bayi hingga sekarang, banyak sekali foto- foto yang terpajang. Bahkan gambar pertama yang Luhan buat dibingkai oleh ayahnya dan dipajang disana. Sungguh ruang keluarga yang ramai dan hangat. Penuh kasih dan kenangan.

 

“.. Saat kau didalam kandungan, papa memiliki banyak impian. Papa ingin anak yang pintar… papa ingin anak yang baik.. papa ingin anak yang sehat… papa ingin anak yang selalu membanggakan papa.. papa ingin anak yang tampan… papa ingin anak yang cantik.. semua keindahan dan kebaikan.. papa ingin anak papa sesempurna mungkin.” Sang ayah tersenyum tipis kemudian menatap Luhan yang menunduk dalam.

 

Sang ibu tersenyum dan mengusap rambut Luhan lembut. “Mama juga.. dan itu semua adalah impian setiap orang tua saat mereka akan memiliki seorang anak.”

 

Luhan menatap sang ibu kemudian menatap sang ayah.

 

“Namun… saat kau hadir … papa dan mama mengerti satu hal..” sang ayah kembali tersenyum. Memperlihatkan wajah tampannya yang tidak tertutup usia. “Kami mendapat lebih dari yang kami inginkan. Kami mendapatkan malaikat yang begitu indah sepertimu. Impian yang begitu muluk terasa hilang.. berganti akan rasa syukur yang luar biasa.”

 

“..dan kami juga mengerti akan satu hal… kami tidak perlu memiliki anak yang sempurna dan bisa melakukan segalanya. Kami hanya ingin.. anak kami dicintai dan disayangi oleh orang lain. Keberadaannya menjadi cahaya bagi orang lain. Cukup.. hanya itu yang kami inginkan. Anak kami… yaitu kamu, Luhan… dicintai dan disayangi.. dimanapun kau berada. Dimanapun kau menapakkan jejak.. kau akan selalu tersenyum bahagia.” Sambung ibu Luhan.

 

TES

 

Air mata Luhan jatuh begitu saja. Tersentuh akan ucapan orang tuanya yang begitu tulus dan mulia. Betapa berharganya orang tua yang kini duduk diantaranya. Menyayanginya.. memberinya ketenangan luar biasa.

 

“..Luhan, mama bukannya ingin menyutujui perkataan orang tua Sehun. Sungguh mama dan papa tidak ingin menyetujuinya. Namun… kami pikir ini untuk kebaikan dirimu. Kami tidak mau.. anak kami satu- satu yang berharga.. nantinya terluka.”

 

“Tidak.. aku tidak mau meninggalkan Korea. Aku tidak mau berpisah dengan… hiks… aku tidak mau. Kumohon…” Luhan kembali menitikkan air matanya. “Banyak sekali kebahagiaan yang tidak ingin kutinggalkan disini.”

 

Sang ayah menghela nafas panjang. “Baiklah…Papa akan usahakan kita tidak jadi pindah ke Canada. Tenanglah.. jangan menangis seperti itu. Luhan anak laki- laki, kamu harus kuat dan tegar.”

 

Mendengar ucapan sang ayah, Luhan membulatkan matanya. “Benarkah? Papa akan mengusahakannya? Sungguh??”

 

“Iya.. Papa ini pegawai negara, tentu saja negaralah yang mempekerjakan papa. Bukan keluarga Oh Sehun. Jadi papa pikir… papa masih bisa mengusahakan agar kita tetap di Korea.”

 

Luhan langsung memeluk kedua orang tuanya. Air matanya luluh kembali. “Terima kasih, papa..mama.. aku mencintai kalian berdua. Aku adalah anak yang paling beruntung karena memiliki orangtua seperti papa dan mama.”

 

“Na… Nah! Ini sudah sore. Bagaimana jika mama bergegas membuatkan makan malam.” Interupsi sang ibu yang menghapus air matanya, ternyata ia ikut menangis.

 

Luhan melepas pelukannya dan sang ayah mengangguk mantap.

 

“Hmm.. papa juga pulang dari kantor terlalu cepat. Lebih baik papa beristirahat.” Luhan berjalan mengambil tas sekolahnya. Sang ayah mengangguk tanda setuju.

 

“Lu.” Panggil sang ayah saat Luhan akan berjalan kekamarnya.

 

“Ya?” Luhan berbalik badan sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.

 

“Ingat kata- kata papa… Jangan membahayakan dirimu sendiri dan.. percayalah pada hatimu.”

 

Luhan tersenyum dan menganguk mantap. “Akan aku ingat.”

 

 

 

 

 

 

Luhan menutup pintu kamarnya. Ia letakkan tas sekolahnya kemudian duduk ditepi ranjang. Ia tatap jendela kamarnya yang terbuka. Semilir angin menari dari jendela kamar itu. Kamar beraromakan green tea.

 

Pandangan mata namja manis itu kemudian tertaut pada sebuah pakaian yang masih tergantung dibalik pintu kamarnya. Pakaian Sehun…

 

“Hiks..” air mata Luhan jatuh begitu saja.

 

“Sehun…” Luhan jatuh terduduk dilantai. Ia benamkan wajahnya diselimut hijau lumut hangatnya. Tidak bisa mengelak, bahkan aroma tubuh Sehun masih tercium oleh Luhan dari selimut hijau yang mereka gunakan tadi malam.

 

“Sehun… maafkan aku..” lirih Luhan mencengkram selimut itu erat. “Mengapa rasanya aku…begitu lemah saat ini. rasanya.. aku tidak bisa melakukan apapun. Hiks.. aku bingung.. Apa yang harus aku lakukan, Sehun?”

 

DEG

 

Luhan menghapus air matanya dan ia bangkit berdiri. Ia eratkan genggaman tangannya. Seakan memberikan kekuatan bagi dirinya sendiri.

 

“Tidak ada waktu untuk menangis, Luhan! Lebih baik kau bergegas dan kuatkan hatimu!” Luhan berbicara pada dirinya sendiri.

 

“Apa gunanya aku menangis seperti ini! Dasar bodoh! Yang Sehun ingin lihat adalah diriku yang mempertahankannya. Bukan aku yang seperti ini!!” Luhan kembali menghapus air matanya yang baru saja terjatuh.

 

Luhan bukanlah namja yang lemah! Ya.. Luhan adalah Luhan yang kuat. Bukankah selama ini seorang Luhan adalah seorang yang sulit ditandingi?

 

Seketika itu Luhan menyambar handuknya dan berlari kekamar mandi.

 

 

 

 

Kai turun dari motor besarnya, sesaat ia menghela nafas pelan. Ia tatap rumah yang ada dihadapannya kini. Rumah Luhan.

 

“Semoga saja si bodoh itu ada dirumah. Atau tidak… aku tidak tahu kemana harus mencarinya.” Kai langkahkan kakinya menuju pintu rumah Luhan dan mengetuknya perlahan. Agar tidak terkesan mengganggu atau semacamnya.

 

KLEK

 

“Permisi.” Kai tersenyum manis saat melihat ibu Luhan membuka pintu rumahnya masih memakai celemek dan memegang sendok garam.

 

“Ah! Nak Kai, silahkan masuk.” Ujar sang ibu ramah.

 

Kai tersenyum segan dan masuk kedalam rumah Luhan. “Maaf, ahjumma nampak sibuk. Apa aku mengganggu?”

 

“Tidak! Tidak! Sama sekali tidak. Dan jangan memanggilku ‘ahjumma’ usiaku masih 37 tahun, nak Kai. Panggil aku dengan ‘Mama’ saja.”

 

Kai mengerjapkan matanya beberapa kali. “M..mama?”

 

“Ya! Seperti itu.. nah, mama harus kembali kedapur. Naik saja langsung kekamar Luhan.” Ujar ibu Luhan sembari mengayunkan sendok garamnya.

 

Kai mengangguk pelan. Ia tatap punggung ibu Luhan yang kembali masuk kedalam dapur kemudian Kai melangkah menuju tangga kekamar Luhan.

 

Kai… diam.

 

Memikirkan sesuatu.

 

‘Mama’

 

Entah sudah berapa lama ia tidak memanggil seseorang dengan sebutan seperti itu. Memang Kai memanggil ibunya dengan sebutan ‘Oemma’ namun… hati Kai bergejolak. Senang.. rasanya rindu sekali memanggil seseorang dengan sebutan seperti itu.

 

Senyuman menghiasi bibir Kai, dengan langkah pasti ia menaiki tangga menuju kamar Luhan. Aroma sup hangat menyeruak dipenciumannya. Aroma khas rumah.. Mata Kai juga menangkap berbagai figura foto yang tergantung disepanjang dinding tangga. Foto- foto keluarga kecil itu berlibur, foto Luhan yang berulang tahun, foto Luhan yang memegang balon.

 

DEG

 

Langkah kaki Kai terhenti disalah satu anak tangga, ia memperhatikan salah satu figura foto. Sebuah foto dimana Luhan sedang tersenyum manis sembari menghamburkan berbagai kelopak bunga berwarna kuning cerah. Nampaknya Luhan sedang berada ditepian danau.

 

Tangan Kai perlahan menyentuh figura foto itu, seakan ingin mengusap pipi Luhan yang memerah difoto itu.

 

 

“Cantik…” bisik Kai.

 

DEG

 

Tunggu!!

 

Kai menggeleng cepat dan kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.

 

Bodoh! Apa yang ia pikirkan! Luhan milik Sehun dan Kai tidak akan merubah apapun. Ia tidak ingin menghancurkan hubungan itu. Tapi.. ah! Apa salahnya mengatakan Luhan cantik, bukankah itu adalah kenyataan?

 

Sial! Kai jadi paranoid sendiri.

 

 

 

 Sekarang Kai sudah berada didepan kamar Luhan. Tanpa memikirkan etika bertamu, Kai langsung membuka pintu kamar Luhan.

 

Kosong.

 

Luhan tidak ada didalam kamarnya, Kai melirik keluar kamar Luhan dan mengangkat bahunya. Gemercik air samar- samar ia dengar. “Mungkin si bodoh itu sedang mandi.”

 

Kai memutuskan untuk menunggu Luhan didalam kamarnya, ia duduk ditepi ranjang Luhan. Memperhatikan setiap sudut kamar itu. Ini sudah kedua kalinya ia masuk kedalam kamar Luhan. Pertama kali saat menjemput Sehun yang sedang sakit.

 

Mata Kai menangkap baju Sehun yang tergantung dibalik pintu kamar Luhan. Tentu saja ia mengetahui itu baju Sehun. Mereka berteman sudah cukup lama dan Kai termasuk orang yang perhatian kepada orang- orang yang ia sayangi.

 

Namun hati Kai terhenyak… jujur ia merasa hatinya sakit sekali. Sehun menginap dirumah Luhan kemarin malam, bukan? Mereka sepasang kekasih dan tidur dalam satu ranjang… apa yang saja yang mereka lakukan?

 

Apa saja yang mereka lakukan tanpa sepetahuan Kai?

 

GREP

 

Kai mengepalkan tangannya. Ya Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali. Sungguh.. sesak. Mengapa rasanya sesakit ini.. bahkan jauh lebih sakit saat Kai mengetahui bahwa Taemin kembali berpacaran dengan Minho.

 

 

 

KLEK

 

Kai langsung mengalihkan pandangan matanya kearah pintu kamar Luhan yang terbuka. Sosok mungil itu masuk kedalam kamarnya, mata Kai membulat melihat keadaan Luhan yang hanya memakai handuk untuk menutupi pinggang sampai lututnya. Mata Luhan dan mata Kai tertaut saat itu.

 

“Eh, Kai? Sejak kapan kau ada di-“ Luhan tiba- tiba terdiam, mata mungil itu membesar dan wajahnya memerah. Baru ia sadari…

 

 “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

 

Teriakan keras terlontar begitu saja dari mulut Luhan. Kai menutup telinganya yang terasa berdengung. Oh Tuhan, mengapa tubuh mungil itu bisa menghasilkan suara yang begitu nyaring?

 

“K- Ke- Kenapa k- kau ada di- disini!!!” Ujar Luhan terbata- bata sambil menunjuk Kai dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya berusaha menutupi dadanya.

 

Kai menghela nafas panjang. “YA! Kau pikir telingaku ini dijual ditoko aksesoris, kalau gendang telingaku pecah kau mau tanggung jawab!!!”

 

“Masa bodoh! Aku bertanya kenapa kau berada dikamarku!!”

 

“Karena aku menunggumu, bodoh. Sudahlah cepat pakai pakaianmu sebelum kau masuk angin.” Kai seenaknya berbaring diranjang Luhan.

 

“Tu..Tunggu! Kalau begitu kau keluar dulu. Bagaimana aku memakai pakaianku jika kau ada didalam kamarku.” Protes Luhan.

 

“Hey! Jangan seperti wanita! Aku ini namja dan kau namja, memangnya aku tertarik pada tubuh kurusmu yang hanya terisi tulang, oeh? Jika tubuhmu seperi Tao atau Baekhyun mungkin aku akan sedikit tergoda.”

 

“Ya! Maksudmu aku ini tidak menarik?” Luhan kali ini berkacak pinggang.

 

“Hoh! Syukurlah kau sadar.” Kai memutar bola matanya.

 

“AGGGGGGHH!! Aku tidak mau tahu kau keluar dulu!! Aku mau memakai pakaianku!” Luhan berjalan cepat  menuju ranjangnya dan menarik tangan Kai yang masih seenaknya berbaring diranjang Luhan.

 

“Kau ini rumit sekali. Pakai saja pakaianmu di kamar mandi atau di-“ ucapan Kai terhenti. Ia tatap tangannya yang dipegang oleh Luhan. Tangan Luhan yang terasa dingin, ya.. pasti karena ia baru siap mandi. Wangi green tea menyeruak dari tubuh Luhan, jadi begitu.. aroma kamar Luhan itu berasal dari tubuh Luhan. Apakah itu wangi shampoo atau sabun mandi Luhan? Yang pasti Kai menyukai wangi itu.. aroma itu..

 

“Hyaa!! Kim Jongin! Kau tidak mendengarkanku!! Kubila-“

 

GREP

 

 

Kali ini tangan Kai yang menggenggam tangan Luhan erat. Luhan yang dari tadi mengoceh terdiam, ia merasakan tatapan Kai yang begitu serius menatapnya. Wajah Luhan seketika itu memerah.

 

“…A..aku akan mengenakan pakaianku dikamar mandi saja. Lepaskan tanganku.. Kai..” Luhan mengalihkan pandangan matanya pada arah lain. Ia pikir lebih baik ia mengalah saja. Toh ia tahu bagaimana watak Kai yang benar- benar tidak mau kalah.

 

Namun Kai masih belum mau melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Luhan. Sedikit bingung Luhan kembali menatap mata Kai yang ternyata…. tidak lepas memandangi wajah Luhan dari tadi.

 

DEG

 

DEG

 

DEG

 

Oh tidak! Mengapa jantung Luhan berdetak secepat itu? Wajahnya terasa panas, detak nadinya pun seakan mengikuti alur detakan jantungnya yang super cepat. Mengapa? Apa karena Kai memandangnya seperti itu?

 

Seketika itu Kai menarik tubuh Luhan hingga tubuh mungil itu jatuh tepat diatas tubuhnya yang masih berbaring diatas ranjang.

 

“Ya! Kim Jong-“

 

Luhan terdiam, menatap mata Kai yang begitu dekat dengan matanya. Hembusan nafas Kai menyentuh wajahnya yang memerah. Luhan tidak bisa bergerak, sungguh. Padahal tangan Kai sudah tidak menggenggam tangannya lagi. Tubuh Luhan bebas, namun.. ia seakan tersihir oleh eloknya paras Kai, Luhan nampak begitu terpesona.

 

Pelan, Kai membawa tangannya untuk menyentuh pipi Luhan. Mengusapnya lembut, meresapi dinginnya kulit Luhan sehabis mandi. Begitu membuat hati Kai nyaman. Luhan memejamkan matanya saat merasakan hidung mancung Kai menyentuh kulit pipinya.

 

Tapi…

 

DEG

 

Mata Luhan membulat setelah itu. Sesegera mungkin ia bangkit dari tubuh Kai dan berjalan mundur.

 

“Ka..Kau!!” teriak Luhan.

 

“Apa?” jawab Kai dengan santai dan duduk ditepi ranjang Luhan.

 

Wajah Luhan memerah. “Sudahlah! Dasar Kai bodoh! Jangan mempermainkanku! BAKA!!” Luhan berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju lemari pakaian. Mengambil beberapa pakaian dan langsung berlari keluar kamarnya.

 

Blam

 

Kai menghela nafas pelan, menyadari bahwa ia sudah mulai kehilangan kendalinya. “…kau yang bodoh, Lu. Kkhh……..”

 

Kai mengusap wajahnya yang memerah. “Siapa sebenarnya yang bodoh!! Sial!”

 

 

 

 

Blam

 

Luhan menutup pintu kamar mandinya sedikit keras. Nafasnya tidak beraturan, jantungnya berdetak kencang, dan bulu kuduknya meremang.

 

“Jinjja! Apanya yang tidak tergoda dengan tubuhku yang kurus kering?! Aahh!! Kenapa aku malah berfikir seperti itu!!” Luhan menarik- narik baju yang ada ditangannya.

 

DEG

 

DEG

 

DEG

 

 

Luhan terduduk dilantai. Membiarkan handuk yang melingkar dipinggangnya basah akibat sisa air mandi yang belum mengering dilantai. Luhan memeluk pakaiannya erat. Wajahnya memerah dan… rasa bersalah tiba- tiba menyeruak dihatinya.

 

“Luhan! Apa yang terjadi pada dirimu! Jika tadi kau tidak mengingat Sehun… kau pasti membiarkan Kai menyentuhmu!! Hiks…”

 

Luhan menggeleng cepat dan menghapus air matanya. “Kenapa..jantungku tidak bisa tenang? Kenapa aku membiarkan jantung ini berdebar- debar.. untuk namja selain Sehun… kenapa?”

 

 

 

Aneh bukan?

Kenyataan dan perasaan kadang tidak sejalan

Membiarkan kita bimbang atas semua yang kita lakukan

Mana yang benar?

Mana yang salah?

Semuanya nampak sama saja

Suatu waktu, saat jawaban sudah menuntut

Kau harus menjawab semuanya tanpa keraguan

Bahkan jika harus kehilangan separuh jiwa

Karena itu… tanggung jawabmu yang membagi dua hati

 

 

 

 

Sesudah mengenakan pakaiannya, Luhan membasuh wajahnya. Mencoba sedikit menghilangkan sembab matanya akibat menangis. Setelah yakin keadaannya sudah terlihat sewajar mungkin, Luhan keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju kamarnya.

 

 

Klek

 

Luhan masuk kedalam kamarnya dan… ia melihat Kai membungkuk dihadapannya.

 

“K..Kai..”

 

“Maafkan aku.”

 

“Eh?” Luhan menatap Kai heran. “U..untuk apa?”

 

Kai berdiri tegak dan menatap Luhan dalam. “Matamu sembab. Kau pasti menangis… karena itu aku minta maaf. Suara tangisanmu.. terdengar sampai sini.”

 

Luhan menunduk dan tersenyum. “Tidak apa- apa. Itu hukuman untuk diriku sendiri.”

 

Kai memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas pelan. “…Aku datang kesini karena.. kau menghilang tiba- tiba tadi sore saat dirumahku. Sebenarnya ada apa? Aku belum mengerti.. ada apa dengan Sehun?”

 

Namja manis itu menutup pintu kamarnya lalu berjalan menuju ranjangnya. Duduk disana sembari menunduk dalam. Kai mengikuti Luhan dan duduk disamping Luhan.

 

“Tadi siang… Sehun menungguiku di Cookies. Namun saat ia sedang menungguiku, ia diseret paksa oleh beberapa orang, aku yakin orang- orang itu adalah bawahan orang tua Sehun. Aku.. aku ingin kerumah Sehun namun aku tidak tahu dimana.. jadi aku pergi kerumahmu.” Jelas Luhan.

 

Kai mengaitkan kedua alisnya. “Kemudian mengapa kau menghilang tiba- tiba?”

 

Mata Luhan membesar seketika itu. Ia terdiam dan seperti melamun. Kai memegang pundak Luhan, mengakibatkan namja manis itu mengalihkan pandangan matanya pada Kai.

 

“Mama menelponku, ia mengatakan lebih baik aku cepat pulang. Karena… mama dan papa baru saja pulang dari rumah Sehun.”

 

“Eh? Jadi orang tuamu tadi siang kerumah Sehun?”

 

Luhan mengangguk.

 

“Lalu apa yang orang tua Sehun katakan pada orangtuamu?”

 

Memejamkan matanya, Luhan mencoba tenang. Ia remas jari tangannya, tanda ia sedang tidak nyaman. Namun, tidak ada salahnya ia menceritakan pada Kai, bukan? Mungkin saja Kai bisa membantunya walau ia ragu.

 

“..orang tua Sehun.. mengatakan pada papa.. bahwa ia akan mengatur kepindahan keluargaku ke Canada. Papa akan mendapat kenaikan pangkat dikedutaan China yang ada disana, asal papa menyetujui kepindahan itu.”

 

Mendengar itu, Kai langsung menggeleng cepat. Sungguh dadanya tiba- tiba terasa sesak saat Luhan mengatakan bahwa keluarganya akan pindah ke Canada.

 

“Tentu saja aku tidak setuju… dan papa berjanji akan mengusahakan agar kami tetap berada di Korea. Hanya saja aku ragu… pengaruh keluarga Sehun.. begitu kuat.” Luhan menggigit bibir bawahnya.

 

Melihat Luhan yang nampak ketakutan, Kai mengepalkan tangannya. Kali ini ia membiarkan sebuah kalimat terlontar dengan yakin dari bibirnya.

 

 

“Kau tidak sendirian, Lu.”

 

 

DEG

 

 

Luhan menatap Kai dengan matanya yang membulat. Perkataan Kai…

 

“..Jangan lupakan aku yang ada disampingmu.. Tao, Baekhyun, Chanyeol…dan Sehun. Walau Sehun kini belum bisa melakukan sesuatu, tapi aku yakin. Dia akan mempertahankanmu mati- matian. Sehun sudah berubah.. sangat berubah.” Kai mengusap rambut Luhan lembut. Berusaha tersenyum walau hatinya sakit sekali mengatakan hal itu.

 

“Bagaimana jika akulah yang mengacaukan kehidupannya yang memang jauh lebih baik… tidak berubah? Jika lebih baik.. ia tetap menjadi Sehun yang dulu?”

 

“Menjadi Sehun yang terantai oleh keinginan orang tuanya? Menjadi Sehun yang bahkan tidak mengenal dirinya sendiri? Menjadi Sehun yang tidak bisa mengendalikan kehidupannya sendiri? Apa menurutmu itu baik Luhan?” tanya Kai tajam.

 

Mata Luhan tergenang air mata. Sesak sekali… dada Luhan sesak. Rasanya ada keluh kesah yang sudah memuncak dalam dadanya. Resah yang siap keluar karena sudah terlalu berat menghimpitnya.

 

“Apa yang harus kulakukan.. sungguh Kai… aku tidak tahu. Rasanya aku tidak punya kekuatan. Bertekuk pada keluarga Sehun yang bahkan sangat membenciku. Aku takut…tidak ada jalan.”

 

 

GREP

 

Kai memegang kedua pundak Luhan erat. Menatap kedua benik mata yang kini nampak rapuh. Hey! Luhan yang ia kenal tidak seperti ini. Luhan yang ia kenal sangat berisik, kuat, peka namun terlalu lugu, mempertahankan keteguhannya walau pikirannya sedikit melenceng.

 

Luhan itu namja terang yang cerah dan ceria. Ia begitu bersinar dengan senyumannya.

 

Bukan Luhan yang kini ada dihadapannya.

 

..Wajah merah meronanya yang ternoda air mata kepedihan.

 

Kegelisahan yang menguasai hati murninya.

 

Kegundahan akan rasa takut luar biasa.

 

 

Luhan yang seperti itu.. rasanya Kai tidak rela kalau malaikat mungil itu disentuh kesedihan. Tidak ingin namja manis berparas malaikat itu terlalu lama hanyut dalam permainan kotor orang- orang serakah. Kai tidak akan pernah rela.

 

 

“Jika kau harus berlari, aku akan ikut berlari disampingmu. Jika nanti kau terjatuh, aku yang akan mengangkatmu kembali. Saat kakimu patah ketika tertatih, akan kuberikan kakiku padamu. Saat kau sudah tidak sanggup bernafas, akan kuberikan nafasku padamu… kau tidak akan pernah kekurangan apapun untuk menggapainya. Aku berjanji padamu.”

 

DEG

 

Luhan tercekat akan perkataan Kai. Matanya membulat sempurna, tangisnya terhenti begitu saja. Menatap wajah yang begitu yakin atas ucapannya, wajah Kai yang begitu bersungguh- sungguh. Ya Tuhan, Kai.. mengapa seorang Kai bisa mengatakan kata- kata seindah itu. Kata- kata penguat sedasyat itu.

 

Lega..

 

Sungguh… begitu lega rasanya mendengar ucapan Kai. benar- benar.. Luhan merasakan nafasnya terlepas bebas menghirup apapun. Beban yang tadinya terikat didadanya terasa lepas begitu saja.

 

Hanya karena ucapan Kai…

 

Luhan bisa merasakan dampak sehebat ini.

 

“Ah.. kau berhenti menangis.” Kai tersenyum dan mengusap sisa air mata yang teralir dipipi Luhan.

 

“Bodoh!” Luhan kembali menitikkan air matanya dan…

 

GREEP

 

Luhan memeluk Kai erat. Membenamkan wajahnya didada Kai yang bidang. Membiarkan air matanya yang kembali tumpah meresap dibaju Kai.

Dengan yakin, Kai membalas pelukan Luhan. Mengusap punggung mungil yang bergetar karena menangis. Membiarkan sedikit gundah Luhan terlepas.

 

“..Sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini?” bisik Kai dengan sangat lembut.

 

Luhan menggeleng cepat. “Dengar.. hiks.. ini terakhir kalinya… hiks.. kau melihatku…menangis.” jawab Luhan terbata disela- sela tangisannya.

 

Kai tersenyum. “Berjanjilah kalau begitu… karena kau jelek sekali saat menangis.”

 

“Paboya!!!”

 

 

 

 

 

Tao merapikan kemeja berwarna hitam bercorak putih yang ia gunakan. Rambut panjang hitamnya kini sudah rapi, mempercantik garis tegas wajahnya yang sebenarnya sangat tampan dan.. cantik. Tidak bisa dipungkiri jika namja manis itu sangat cantik. Apalagi kelakuaannya yang super manja dan menggemaskan. Membuat siapa saja mudah menyayanginya.

 

KLEK

 

“Anak mama sudah rapi sekali~” ujar sang ibu sambil tersenyum manis dan masuk kedalam kamar Tao.

 

“Mama.. aku malas sekali ikut.” Rajuk Tao.

 

“Tao harus ikut, kau juga harus belajar dengan benar untuk menjadi penerus usaha keluarga kita.”

 

“Aku cukup pintar dan aku bisa melakukannya, mama. Aku malas sekali keluar malam ini.”

 

“Tidak, sayang! Kau harus ikut. Lagipula kita akan kerumah keluarga Oh. Bukankah Sehun teman satu sekolahmu? Mama pikir kau tidak akan bosan.”

 

Tao memutar bola matanya dan mendesah pelan. Ia hanya memanyunkan bibirnya tanda ia kesal namun sang ibu malah terlihat gemas.

 

“Aigoo… anak mama kapan besarnya? Manja sekali.” Ibu Tao menyentuh hidung anaknya pelan sambil tertawa kecil.

 

“Entahlah.. mungkin kalau aku punya kekasih.” Jawab Tao asal- asalan.

 

 

“Jawaban yang bagus.”

 

Suara berat tiba- tiba terdengar dipendengaran Tao. Ia lihat sesosok namja sempurna yang masuk kedalam kamarnya. Ibu Tao tersenyum manis dan mengusap rambut Tao lembut.

 

“Ibu tunggu dibawah 5 menit lagi, jangan terlambat Tao-honey. Atau papa akan ribut sekali dan memarahimu.” Peringat ibu Tao lembut.

 

“Siap, nyonya Tiffany Huang!!” Tao tersenyum mantap pada sang ibu. “Katakan pada tuan Hangeng, anaknya Tao akan sampai dibawah 5 menit lagi.”

 

Melihat anaknya yang menggemaskan, sang ibu kembali tertawa. “Nah, nak Kris. Mama turun dulu.”

 

Kris tersenyum pada ibu Tao, namun ia lihat senyuman jahil yang terpampang jelas dibibir ibu Tao. Seakan mengetahui maksud Kris datang kekamar Tao saat itu.

 

 

 

Setelah mereka tinggal berdua saja, Kris menggaruk tengkuknya dan tersenyum manis pada Tao. “Kau akan pergi sebentar lagi..hmm… kau kembali jam berapa?”

 

“Biasanya jika ada acara seperti ini… akan pulang pukul 10 malam, ge. Memangnya ada apa?” tanya Tao heran. Tidak biasanya Kris bertanya hal seperti itu.

 

“Apa…Baekhyun juga ada diacara itu?”

 

Tao menggeleng cepat. “Tidak, ge. Ini pertemuan bisnis keluargaku dan keluarga temanku. Namanya Sehun.”

 

“Sehun? Apakah kau dekat dengannya?” Kris mengerutkan dahinya. Belum sempat Kris lega karena Baekhyun tidak ada, kini ia mulai waspada pada ‘Teman’ yang Tao katakan. Kris benar- benar namja pencemburu.

 

“Dekat? Biasa saja… tapi kami sudah satu sekolah sejak Sekolah Dasar.”

 

“Berarti kalian dekat?”

 

“Tidak juga, teman dekatku hanya Baekhyunnie~, Chanyeollie~, dan Luhannie~” jawab Tao lagi, kali ini dengan nada ceria. Menunjukkan betapa berharganya orang- orang yang ia sebutkan tadi.

 

 

“Kalau begitu aku ini apamu?”

 

 

DEG

 

Mata Tao membulat mendengarkan pertanyaan Kris. “E..Eh?”

 

“Ya.. kau menganggapku apa?”

 

Tao menelan kasar air liurnya. Pandangan matanya yang tadi tertuju pada Kris kini menatap lantai marmer putih kamarnya yang begitu mewah. Namun sedetik itu tatapan mata Tao mulai tidak fokus. Wajahnya memerah dan ia terlihat salah tingkah.

 

“Pe..pertanyaan macam apa itu ge?” Tao berusaha terlihat sewajar mungkin, padahal jantungnya berdetak tidak karuan.

 

“Jangan pusingkan Lay. Jawab saja pertanyaanku.”

 

Tao mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kris. Tidak usah memusingkan Lay? Mengapa begitu? Bukankah Lay adalah tunangan Kris. Lalu mengapa Kris mengatakan hal seperti itu? Tunggu… ini tidak berhubungan bukan? Mengapa jadi membingungkan seperti ini?

 

Tao tidak mengerti, pikirannya mulai merajalela memikirkan hal yang tambah membuatnya bingung. Kris yang ditatap dengan wajah ‘APA-INI-AKU-TIDAK-MENGERTI-AKAN-MAKSUDMU-‘ membuat namja tampan itu menahan tawanya. Lucu sekali melihat ekspresi wajah Tao yang nampak berfikir dengan alisnya yang tertaut dan tatapan matanya yang kebingungan seperti itu …sangat polos.

 

Ya Tuhan, entah sudah berapa kali Kris dibuat gemas oleh tingkah namja polos itu.

 

 

“Sudahlah.. begitu kau pulang. Akan kujelaskan semuanya.” Terang Kris.

 

Tao masih diam menatap Kris kemudian wajahnya merah merona. Ia tatap sebentar jam tangan Black Pearl hadiah dari Chanyeol yang melingkar dipergelangan tangannya. “Se..seperti aku harus turun keruang tamu sekarang. Papa dan mama bisa marah jika aku terlambat.”

 

Kris menghela nafas dan mengangguk. “Baiklah.”

 

Tao mengangguk dan berjalan menuju pintu kamarnya, meninggalkan Kris yang masih diam ditempatnya. Seakan mengingat sesuatu, saat Tao memutar kenop pintu kamarnya, ia membalikkan badannya dan menatap Kris yang masih berdiri disana sembari menggaruk tengkuknya.

 

“Ge..” panggil Tao pelan.

 

“Ya?” Kris membalikkan tubuhnya dan menatap Tao.

 

“…jika aku katakan padamu… bahwa aku menganggapmu seseorang yang spesial. Apa kau akan marah?”

 

Mata Kris membulat. Bibirnya terkunci rapat saat namja manis yang sangat ia perhatikan itu kembali membuka suara dengan malu- malu.

 

“Gege orang yang spesial dan istimewa bagiku.”

 

Setelah mengatakan hal itu, Tao keluar dari kamarnya. Meninggalkan Kris yang masih terdiam ditempatnya. Mencerna ucapan sederhana dari Tao barusan. Ya.. sederhana namun begitu dalam.

 

Kris tersenyum mantap. “..aku yang akan membuatmu menjadi namja yang paling spesial dan istimewa dimuka bumi ini, Zitao.”

 

 

 

Disebuah kediaman megah, seorang namja tampan tengah tegak dengan tegap disana. Disamping ibunya yang tengah berbicara dengan rekan bisnis atau entah siapa itu. Namja tampan itu tidak tertarik dengan urusan sang ibu.

 

 

“Nah.. Sehun ini berhasil masuk ke SMA Dong Soo dengan peringkat tertinggi dan nilai terbaik.” Bangga sang ibu sambil memeluk lengan anaknya.

 

“Wah.. sangat membanggakan, Heechul-sshi. Pasti Heechul-sshi dan Kyuhyun-sshi bangga sekali memiliki anak sesempurna Sehun. Wajahnya bahkan tidak kalah tampan dari wajah sang ayah.” Ujar lawan bicara sang ibu.

 

Melihat sang ibu masih asyik berbicara tanpa memperdulikannya, Sehun terlihat begitu bosan. Merasa hanya sebagai pajangan dan pemuas hati sang orang tua yang kini sedang mengadakan pesta dirumah itu. Seperti biasa pesta sembari berbisnis. Padahal baru sejam yang lalu Sehun bersitegang dengan orangtua nya.

 

 

“Sehun!!”

 

Suara lembut itu membuat Sehun tersentak, ia alihkan pandangan matanya pada sisi kanannya dan melihat seorang namja tinggi yang sangat manis berjalan kearahnya. Baru saja namja manis itu memisahkan diri dari orangtuanya yang langsung menyapa ayah Sehun yang berdiri dekat perapian.

 

“Tao..” bisik Sehun pelan.

 

“Ah.. keluarga Huang sudah datang ternyata.” Sapa ibu Sehun saat melihat Tao berdiri didepan Sehun dan ibunya.

 

Tao tersenyum dan mengangguk. “Selamat malam, Heechul-ahjumma. Anda tidak pernah terlihat tua, ya.”

 

“Aih~ kamu pandai sekali memuji, nak Tao. hmm.. kalau begitu oemma tinggal dulu. Berbincanglah dengan Sehun.” Ibu Sehun berjalan meninggalkan mereka berdua saja.

 

Tao mengangguk lagi sementara Sehun hanya diam. Menatap Tao yang tersenyum manis, senyuman yang Sehun anggap bodoh. Bagaimana bisa Tao tersenyum seperti itu dipesta membosankan seperti ini? Pesta yang terlihat palsu akan ketawa yang dibuat- buat. Menjijikkan.

 

“Sehun sakit?” tanya Tao khawatir saat melihat wajah Sehun yang pucat.

 

“Bukan urusanmu!” jawab Sehun kemudian berbalik badan meninggalkan Tao yang mengerucutkan bibir merahnya. Namun Tao berjalan menyusul Sehun.

 

“Kau kenapa tadi tidak sekolah?” tanya Tao lagi.

 

“Memangnya kau merindukanku sampai bertanya mengapa aku tidak sekolah?” Sehun menjawab dengan asal- asalan.

 

“Bukan aku yang akan rindu, tapi Luhannie.” Benar- benar, namja bernama Tao itu sangat polos. Tentu saja karena ucapan Tao barusan, Sehun langsung terhenti ditempatnya. Memikirkan sebuah nama yang disebutkan Tao.

 

Luhan.

 

Tao tersenyum saat melihat Sehun terhenti ditempatnya dan merangkul pundak Sehun. “Sehun menyukai Luhannie, bukan?”

 

Sehun menghela nafas panjang. “Luhan itu kekasihku. Tentu aku sangat menyukainya.”

 

“MWO?!” Pekik Tao terkejut. “Sejak kapan?!”

 

“Ke..kemarin. Memangnya Luhan tidak memberitahumu?” Sehun mengerutkan dahinya. Luhan dan Tao adalah sahabat dekat, bagaimana mungkin Luhan tidak memberitahukan kabar seperti itu pada teman dekatnya?

 

“..aku belum sempat bertemu dengan Luhannie hari ini.”

 

“Eh? Mengapa begitu? Kau tadi pasti kesekolah karena kau tahu aku tidak masuk.”

 

“Aku memang bersekolah hari ini.. Luhannie yang tidak sekolah, Sehun-ah.”

 

Sehun tambah mengerutkan dahinya. “Tunggu! Bagaimana mungkin Luhan tidak sekolah… kami berpisah diperempatan jalan dekat SMA Dong Soo. Ia pergi… aku melihatnya sampai masuk kegerbang sekolah.”

 

“Ne.. aku juga melihat Luhannie digerbang sekolah. Kurasa ia sempat masuk kedalam gedung sekolah, namun kemudian aku melihat ia dan Kai berjalan keluar gerbang bersama Kai.”

 

DEG

 

Sehun membulatkan matanya. “K..Kai?”

 

Tao mengangguk cepat. “Setelah itu Luhannie dan Kai tidak masuk sekolah. Kurasa ia pergi kesuatu tempat bersama Kai.”

 

Sehun terdiam ditempatnya. Dadanya sesak memikirkan Luhan dan.. Kai. Perasaan cemburu mulai merasuki hati Sehun. Wajah Sehun memerah menahan amarah dan hatinya. Takut.. ia takut hal yang ia khawatirkan selama ini terjadi.

 

 

Tao menangkap maksud wajah Sehun yang terlihat cemas.

 

“Sehun-ah jangan marah dulu… jika kau adalah kekasih Luhannie… Sehun pasti percaya pada Luhannie, bukan? Apalagi Luhannie pergi bersama Kai. Bukankah Kai adalah sahabat Sehun? Mereka adalah orang- orang terdekatmu.. percayalah pada mereka.”

 

 

Mendengar ucapan Tao, Sehun menatap namja manis itu dengan taat. Benar juga… seharusnya ia tidak memikirkan hal- hal aneh. Kai adalah orang yang paling ia percayai selama ini dan.. Kai mengetahui secara pasti bahwa Luhan adalah kekasih Sehun.

 

Kai bukanlah orang yang akan menghancurkan Sehun, bukan?

 

Tidak! Sehun seharusnya mempercayai kekasih dan sahabat baiknya.

 

 

“Sehun?” Tao sedikit tidak nyaman dipandangi Sehun seperti itu.

 

Seketika itu Sehun menghela nafas pelan dan ia tersenyum manis. Sangat manis hingga sedikit membuat Tao terdiam. Sehun tersenyum…

 

Tunggu!

 

Sejak kapan Sehun bisa tersenyum seperti itu?

 

Selama beberapa tahun satu sekolah dan satu kelas dengan Sehun, Tao baru sekali ini melihat senyuman Sehun yang begitu tulus dan manis.

 

“Terima kasih, Tao. Syukurlah kau mengatakan hal itu.”

 

“Eh?”

 

Sehun tertawa kecil melihat wajah Tao yang terlihat bingung. Sepertinya namja manis itu tidak mengerti bahwa Sehun berterima kasih karena ucapan Tao yang menyadarkannya. Namun Sehun tidak ambil pusing dan mengarahkan tangannya pada Tao. ia tahu pasti namja yang ada didepannya ini terkenal dengan kepolosannya yang luar biasa.

 

“Hey.. kau suka cake, bukan? Ayo, kuantarkan ketempat cake. Oemma pasti memesan cake yang lezat. Kurasa kau pasti suka.”

 

“Sungguh?” tanya Tao dengan mata berbinar- binar.

 

“Jika aku berbohong, kau bisa mempraktikan kemampuan wushu-mu padaku.” Ujar Sehun mantap.

 

Tao tertawa kecil dan menyambut uluran tangan Sehun. “Aku tidak setega itu pada kekasih Luhannie. Hihi~”

 

 

 

 

“Hati- hati dijalan sayang.” Ujar ibu Luhan didepan pintu rumahnya.

 

“Ne. Aku pergi sebentar mama. Aku berjanji tidak akan lama.” Luhan tersenyum manis. Kemudian ia berjalan menuju motor besar Kai. Dengan sopan Kai menunduk pada ibu Luhan. Setelah ibu Luhan menutup pintu rumahnya, Kai mengalihkan pandangan matanya pada namja yang kini bersiap naik kemotor besarnya. Kai sedari tadi sudah duduk disana.

 

“Hey!”

 

“Apa?” tanya Luhan seraya duduk dibelakang Kai.

 

Kai tersenyum dan tiba- tiba turun dari motor besarnya. Luhan menatap bingung pada Kai yang kini berdiri didepannya. Mengapa Kai berdiri? Padahal Luhan sudah duduk dimotor itu.

 

TEP

 

Mata Luhan membulat, Kai baru saja memasangkan helm yang tadi ia pakai pada Luhan. “Aku hanya bawa satu helm. Jadi lebih baik kau yang memakainya.. kau kan sangat ceroboh.”

 

“Tapi kau yang mengendarai motornya, Kai.”

 

“Tidak masalah. Daripada nanti kau tiba- tiba terjatuh dan kepalamu pecah. Aku tidak mau kau membuatku lebih repot dari ini.”

 

Luhan mengerucutkan bibirnya. “Hey! Aku tidak seceroboh itu.”

 

Kai tertawa kecil kemudian mengangkat bahunya. “Kurasa kita harus waspada. Jika kau terluka bukan hanya Sehun yang akan membunuhku. Si cerewet Baekhyun, si Tao panda pencinta wushu dan si ahjusshi Chanyeol akan menenggelamkan aku diteluk Tokyo.”

 

“Hmpph!!! HAHAHAHA!! Apa yang kau katakan Kai! Huahaha kau ini memang aneh! Haha!!!” Luhan tertawa sembari memegang perutnya. Ucapan Kai sungguh lucu baginya.

 

Kai tersenyum lega. Ia kembali duduk dimotor besarnya dan menyalakan motornya. Luhan yang masih tertawa kecil kemudian dengan reflek memeluk Kai dari belakang.

 

DEG

 

Mata Kai membulat sempurna merasakan tangan mungil itu memeluk pinggangnya. Namun seketika itu ia tepis rasa aneh itu. Menormalkan detak jantungnya dan menghela nafas panjang. Walau rasa senang dihatinya bergejolak, Kai mati- matian menutupi gejolak hatinya. Menutup paksa apa yang seharusnya tidak ia rasakan.

 

Tenang. Dia hanya si bodoh Luhan dan aku akan membawanya kerumah Sehun. Jadi.. kau jangan berpikir bodoh, Kim Jongin!!” tegas Kai didalam hati.

 

 

 

 

Tao menjilat cream strawberry yang ada disendok kuenya. Namja manis itu memang menyukai makanan manis seperti cake, susu, coklat, dan makanan manis lainnya. Sepotong cake sudah ia habiskan, Tao kemudian melirik cake coklat dengan siraman tiramisu yang sangat lezat. Tangan panjangnya dengan lincah mulai merayap menuju sepotong kue itu dan..

 

“Sehun-ah!!” teriak Tao kesal karena Sehun tiba- tiba datang dan mengambil cake coklat yang Tao inginkan.

 

“Sudah makannya… lebih baik kau temani aku keluar.”

 

“Eh? Tidak mau! Aku mau makan cake itu dulu.”

 

Sehun menghela nafas panjang. “Kau temani aku keluar sebentar, ada yang ingin aku lakukan. Jika aku keluar sendiri dari rumah ini, pesuruh orang tuaku akan mengikutiku.. dan aku pastikan kau akan mendapat cake ini jika kau menemaniku keluar.”

 

Tao langsung mengangguk setuju. “OK!”

 

Sehun menghela nafas panjang. “Dasar bocah!” bisik Sehun dalam hati.

 

 

 

 

Luhan menatap berbagai lampu jalanan yang menyinari jalanan ramai kota Seoul. Kai mengendarai motor besarnya dengan kecepatan standar. Angin malam tidak terasa menusuk tubuhnya, karena ia mengenakan jaket kulit tebal.

 

Jaket milik Kai.

 

Padahal Luhan sudah mengatakan bahwa sweaternya cukup hangat namun Kai memaksa dan Luhan menggunakan sweater dan jaket kulit sekaligus. Sedangkan namja tampan itu hanya mengenakan sehelai kaus panjang berwarna coklat dengan garis- garis merah pucat.

 

Ia tatap sebentar sosok Kai dari belakang. Rambut beraroma mint itu sedikit menggelitik wajah Luhan yang memerah.. tunggu? Sejak kapan memerah seperti itu?

 

Luhan terenguh didalam hatinya, ia menggeleng cepat dan mengingat sosok kekasihnya Sehun. Ya.. Sehun! Sehun dan Sehun! Walau ia belum mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya, Luhan akan tetap berjalan dimana ia seharusnya berjalan.

 

Jangan menyimpang terlalu jauh dari tempat tujuanmu, Luhan. Karena jika kau tersesat.. kau akan menyakiti semua orang yang mencintaimu. Karena mereka akan mencarimu dengan harapan palsu akan penyambutan cintamu.

 

Luhan.. kau adalah malaikat tak bersayap bagi kekasihmu Sehun. Kekasih yang menunggumu datang dan meneguhkan rasa hatinya yang kini mulai memuncak padamu.

 

Jangan menyakitinya yang sudah bergantung terlalu dalam pada dirimu yang begitu membuatnya tercekat ditempat yang sama. Jangan khianati cintanya yang begitu tulus ingin memilikimu.

 

 

 

Seketika itu Luhan melepaskan pelukannya dari pinggang Kai… perlahan. Sangat perlahan kemudian Luhan mencengkram pakaian dipunggung Kai.

 

 

TES

 

TES

 

Tanpa Kai sadari, Luhan menangis. Tidak.. Luhan tidak mau mengakuinya. Ia mengapus jejak air mata itu begitu cepat dan kembali mencengkram pakaian Kai. Ia kuatkan hatinya.. hatinya untuk Sehun. Tidak seharusnya Luhan sebodoh itu. Bermanja pada namja selain kekasihnya adalah perbuatan picik. Apalagi sahabat kekasihnya sendiri.

 

Luhan bukan manusia seperti itu. Bukan!!

 

Bukan.. aku mencintai Sehun! Aku tidak akan pernah ragu akan hal itu!

 

 

 

 

Sehun menatap kesekelilingnya dan keluar dari pesta itu bersama Tao. Mereka berdua bermaksud pergi ketaman depan kediaman keluarga Oh yang memiliki halaman dengan hiasan kolam air mancur besar dan beberapa pondok kecil yang nyaman digunakan untuk bersantai.

 

Tao langsung berlari menuju pondokan kecil dan duduk diayunan besar. Ia makan dengan nikmat cake coklat tiramisu yang sudah didapatkan dari Sehun. Berbeda dengan Tao yang sibuk menghabiskan cake-nya, Sehun berdiri didekat pondasi pondokan itu sembari menatap tajam kolam air mancur yang menciptakan suara  gemercik air yang begitu menenangkan.

 

“Sehun-ah..” panggil Tao karena merasa Sehun tidak bergerak sama sekali ditempatnya. Cake yang Tao sudah habiskan setengah itu kemudian ia letakkan diatas ayunan, ia bangkit dan berdiri disamping Sehun.

 

 

“Urusan apa yang akan kau lakukan?”

 

Sehun menghela nafas pelan. “Tidak ada… aku hanya ingin keluar dari tempat yang menyesakkan itu.”

 

Tao terdiam dan ikut memandangi kolam air mancur itu. Seketika itu sebuah ide terlintas dipikiran Tao, ia buka jas hitamnya dan membuka sepatunya dengan cepat. Sehun menatap tingkah Tao dalam diam. Seketika itu Tao berlari kearah kolam air mancur dan…

 

 

 

BYUURRR

 

Sehun membulatkan matanya. “HEY! BODOH!! Apa yang kau lakukan! Kau bisa masuk angin!!”

 

Tao tertawa keras, separuh tubuhnya sudah basah kuyub karena kini ia berada didalam kolam air mancur itu. Patung malaikat besar yang terletak ditengah kolam, sedikit terkena cipratan air akibat gerakan Tao yang mulai liar memainkan air kolam.

 

“Oh Sehun, kau yang pabo! Apa yang kau pikirkan seperti itu, oeh? Luhannie tidak akan menyukai wajahmu yang seperti itu!” teriak Tao kemudian menyiram air kearah Sehun.

 

Karena reflek Sehun yang bagus, ia bisa mengelak dari cipratan air yang Tao arahkan. Kemudian Tao kembali mengatakan sesuatu.

 

“Sehun-ah, aku hanya akan menyerahkan Luhannie pada namja yang bisa mempertahankan dirinya sendiri. Jika namja itu tidak bisa mempertahankan dirinya, bagaimana bisa ia mempertahankan Luhannie-ku? Jadilah Oh Sehun yang mengagumkan. Buktikan bahwa Luhannie beruntung mendapatkanmu.”

 

Sehun tercekat. Seketika itu jantungnya berdetak sangat kencang… ucapan Tao benar. Tidak ada keraguan.. memang benar!

 

 Mempertahankan memang sulit, kalau jalan didepan mata tidak ada. Mengapa harus menanti arah, buatlah jalan sendiri untuk menggapai apa yang kau inginkan. Jangan menyerah!

 

Perlahan Sehun mendekati Tao yang masih bermain didalam kolam. Sehun duduk ditepi kolam dan tersenyum kearah Tao. Sedangkan sang namja polos menjawab senyuman namja tampan itu dengan anggukan mantap. Pakaian yang ia kenakan sudah basah separuh. Sehun melepas jas nya dan mengarahkan tangannya pada Tao.

 

“Lalu mengapa kau malah main air seperti ini, oeh?” Sehun tertawa kecil.

 

“Habis… Sehun hanya melihat kekolam ini, jadi aku ingin membuyarkan lamunanmu. Atau tidak Sehun-ah tidak akan mendengarkanku.” Jawab Tao cepat.

 

Sehun kembali tersenyum dan menghela nafas pelan. “Ayo.. nanti kau masuk angin.”

 

Tao memutar bola matanya. “Kau memang namja yang kaku, Oh Sehun.”

 

Tao menyambut uluran tangan Sehun dan keluar dari kolam itu. Sehun langsung memakaikan jas nya pada tubuh Tao kemudian menupuk pelan puncak kepala namja manis itu.

 

“Sepertinya hari ini kau mengajarkanku banyak hal.” Sahut Sehun.

 

Tao tersenyum manis dan mengangkat bahunya. “Ini aku lakukan demi Luhannie. Aku tidak mau Luhannie mendapat kekasih yang pemurung dan terus tersesat dalam pemikirannya yang buntu. Luhannie itu malaikat kecil kami, Sehun-ah.”

 

Sehun memutar bola matanya dan menarik tangan Tao untuk masuk kedalam rumahnya. Tentu melalui pintu belakang rumah Sehun, bisa mengamuk jika tuan dan nyonya Huang melihat anak semata wayang mereka basah kuyub seperti itu. Sehun pasti akan sulit sekali menjelaskannya.

 

 

 

 

Setelah mengantarkan Tao kekamarnya, Sehun keluar sebentar meninggalkan Tao yang sedang memilih pakaian Sehun untuk ia gunakan. Sehun mendapat telepon.

 

 

“Yoboseyo.. Kai.” sapa Sehun saat menjawab telepon dari sahabat dekatnya itu, Kai.

 

Dirumahmu sedang ada pesta?”

 

“Ne.. mengapa kau tahu?”

 

“Aku ada diluar.. bersama Luhan.”

 

 

DEG

 

 

Sehun langsung masuk kembali kedalam kamarnya. Mengacuhkan Tao yang berteriak kaget karena ia sedang melepas celana panjangnya. Namja tampan itu lalu berlari kearah beranda kamarnya, menyibak tirai sutra itu dan membuka pintu kaca dengan cepat.

 

Seketika itu Sehun berdiri diberanda kamarnya dan matanya menangkap sosok sahabatnya dan seorang namja manis yang sangat ia rindukan. Mereka tidak berada didalam pekarangan rumah Sehun melainkan disalah satu sisi pagar besi luar yang sedikit tertutup. Memang sangat jauh jaraknya, bahkan tubuh kedua namja yang sangat ia kenal itu terihat sebesar ibu jari saja.

 

 

“A..aku melihat kalian.”

 

Tidak bisa Sehun pungkiri rasa rindunya melihat Luhan yang bahkan tidak terlihat jelas sama sekali. Namun Sehun tahu.. Luhan tengah menatapnya lekat dari sana. Ya Tuhan.. biarkan ia merengkuh malaikatnya kembali.

 

 

Terlihat kemudian Kai melambaikan tangannya kearah Sehun. “Ne~ aku juga melihatmu. Kau jauh sekali disana. Tidak bisakah kau keluar sebentar?”

 

 

 Sehun kemudian melirik Tao yang sudah mengenakan pakaian Sehun yang ternyata lumayan cocok.. tidak.. malah sangat cocok ditubuh namja manis itu. Tapi tunggu!! Mengapa Tao malah memakai piyama berwarna pink susu dan corak putih dengan gambar panda? Piyama itu bahkan belum pernah Sehun kenakan karena motifnya yang kekanak-kanakan. Itu adalah hadiah pemberian bibinya yang tinggal di Australia.

 

“Aish jinjja!! Sesukanya saja!!” desis Sehun gemas sekaligus kesal melihat tingkah Tao yang kini melihat dirinya didepan cermin sembari memutar- mutarkan tubuhnya.

 

“Eh? Apa kau bilang?”

 

“Tidak.. sepertinya aku bisa keluar. Tunggu aku sebenar lagi.. Kumohon, tunggu aku disana.”

 

 ∞

Hey…

Pantaskah ia…menunggumu dengan hati terbagi?

pantaskah?

Jika kemurnian malaikat itu ternoda…

..oleh cinta serakah?

 TBC

 

 

 

Yeaah~ syukuran ini FF berhasil juga selesai.

Ini juga udah mendekati kata tamat yeee. Palingan juga dua chapter lagi kelar. Maaf yah ini kelamaan bgt dan ceritanya jadi bertele- tele *aku ngerasa gitu sih. Bagaimana dg reader -_-

Tapi makasih ya udah setia RCL itu lah yang buat aku semangat nulis. Gomawo ^^

 

Sider? Aku udah no comment aja. Males ngebahas hantu ._.v

Pokoknya aku gak ikhlas. Maaf ya, ngebuat FF itu juga segampang yg dikira. (maaf omonganku kalau menyinggung)

 

TERIMA KASIH YANG USAH KOMEN YAAHH SAYA CINTA KALIAAANNN SUMPAH SAOLOH SAYA PELUK DAAH! GOMAWO CHAGIYA~ :*******

230 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 9

  1. Just like prev chap, i can’t describe this ff. In one word or more. This ff too perfect. Aaa~ i’ll see next chap uou

  2. T____T aku pengen jedotin kepalanya luhan!
    luhan jangan labil plus plin-plan, kasian sehun….
    author jangan pisahin hunhan *NangisGaje
    bener-bener orangtuanya sehun minta di mutilasi!!!!!

  3. Part ini bikin tambah nangis ya ampuuun,hatinya tn Oh terbuat dari apa coba sampe segitunya??Kata2 Sehun ke ortunya tadi bikin nyess makjleb,
    Suka sama karakter Tao yang polos,semoga bisa jadian sama Kris Ge🙂

  4. Hunhannya jangan pisah ;;;;;; jahat banget kalo pisah. Udah sama-sama saling berkorban TuT luhan jangan plin plan, luhannie cuma untuk sehunnie ne? /?? TwT lanjooottttt

  5. Luhannie jebal jangan labil:( cintamu cuma buat nak sehun saja *plak*
    Yaampun tao, jebal bantu sehun bertemu luhan, hweeeee T.T
    Yaudah thor aku lanjut baca chapter selanjutnya yaT.T

  6. Luhan mulai lapar.. mulai lapar..
    Hatinya mulai bimbang.. mulai bimbang.. *kecrekan* bentarbentar— ini lagu kan? *dihajar massa*

    Ortunya Sehun btw topeng banget ya. Marah-marah sama anak terus langsung (pura-pura) baik di depan tamu. Cih. Udah pernah tampil topeng monyet belom pak, bu? Cocok loh.

    Aku lanjut ya😀
    Author fighting~~~!

  7. ya allah gak kuat saya, kai tabahkan dirimu nak…
    itu adegan hunhan linve didepan mata kai, astaga begimna tu perasaaan rasanya.
    nyesek pasti ya bang…
    tapi entah ngapa feeling gue luhan udah ada rasa sama kai, soalnya luhan sempat ngeliat kai kebelakang, entah ngapa saya lebih rela luhan ama kai, astaga jgn bunuh saya kak, itu hanya pendapar personal saya aja…
    lanjut……. *geret kai*

  8. Wuaahhhhhh….😀 Daebak… Onnieee…. Aku sukaaaa banget!!!! Aku udah baca part-part sebelumnya, aku suka sekalii… Maaf baru komen di part ini, gara2 baru bisa, kemarin-kemarin susah banget, gak bisa2… Baru bisa hari ini, hehe… Pokoknya daebakkkkk…😀

  9. Baby ku tao…. Kenapa pake pyamanya sehun yg gambarnya pandasih …. Sampe sukanya sama panda tao pake bermotif panda juga….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s