Kind Of Heart Chapter 10

Kind Of Heart

 Kim Hyobin

 

389309_459661324063916_1730330251_n

HunHan – KaiHan FanFicion

Cast : Lu Han – Kim Jongin – Oh Sehun

Other : Taemin – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Huang Zitao – Wu Fan / Kris – Yixing / Lay

Other Case : BaekYeol/ ChanBaek , TaoRis, KaiTae/ KaiMin

Genre : Drama, School Life, Romance

WARNING : YAOI AND DONT READ MY FICT IF YOU DONT WANT I USE YOUR BIAS WITH MY CREATE CHARACTER ^^ Iam so sorry ..

 

 

 

 

Matanya indah

Bibirnya manis

Tatapannya teduh

Senyumannya menenangkan

Sosoknya melebihi seorang malaikat

Tapi

Dia bukan milikku.

 

 

Chapter 10

 

“Tidak.. sepertinya aku bisa keluar. Tunggu aku sebentar lagi.. Kumohon, tunggu aku disana.”

 

 

Hey…

Pantaskah ia…menunggumu dengan hati terbagi?

pantaskah?

Jika kemurnian malaikat itu ternoda…

..oleh cinta serakah?

 

 

 

 

 

 

Luhan diam ditempat ia berdiri menatap intens pada sosok yang begitu jauh dipelupuk matanya. Sosok itu tengah berdiri diberanda kamarnya yang terletak dilantai 3 rumah mewah bak istana itu.

 

 

“Oke. Kita akan tunggu Sehun disini.” Kata Kai cepat dan memasukkan smart phone nya kedalam saku celana.

 

 

Luhan tersenyum tipis dan menatap namja tampan yang ada dihadapannya dengan taat. Kai menaikkan alisnya karena heran dipandang seperti itu oleh Luhan.

 

 

 

“Wae?” tanya Kai akhirnya.

 

 

“Beberapa hari yang lalu… Taemin-hyung mengatakan padaku bahwa… Kai tidak akan melakukan hal merepotkan seperti ini..untuk orang lain.”

 

 

“Maksudmu?” Kai terlihat heran.

 

 

Luhan terdiam sesaat kemudian berkata… “Mengapa Kai mau membantu sampai sejauh?”

 

 

 

 

 

 

 

Sehun tanpa bicara langsung mengambil sebuah mantel bulu berwarna hitam dan langsung memakaikannya pada tubuh Tao.

 

 

“Mwo? Kenapa kau memakaikanku mantel?!” protes Tao.

 

 

“Tidak ada waktu untuk menukar pakaianmu lagi. Temani aku keluar dan jangan banyak tanya!”

 

 

Tao mengerucutkan bibirnya, ia biarkan Sehun mengancingi mantel bulu yang sangat indah itu ditubuh Tao. Mantel bulu sepanjang lutut itu memang indah. Setelah itu Sehun menarik tangan Tao. Mereka keluar dari kamar Sehun dengan begitu cepat, Sehun sudah tidak sabar lagi.

 

 

Sungguh ia tidak sabar ingin melihat Luhan.

 

 

Melihat malaikatnya.

 

 

Malaikat.. miliknya.

 

 

 

 

 

 

 

Kai POV

 

 

“Mengapa Kai mau membantu sampai sejauh ini?”

 

 

Pertanyaan yang dilontar Luhan baru saja membuat bulu kuduknya berdiri. Ia bertanya… mengapa? Mengapa aku mau membantunya sejauh ini?

 

 

Aku ingin menjawab namun aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Sungguh.. semuanya membuatku pusing. Apa karena aku terlalu baik hati maka aku ingin menolongnya?

 

 

Oh God!

 

Aku bukanlah manusia yang seperti itu. Aku ini namja yang tertutup dahulu dan aku hanya berteman dengan Sehun… Ya, sebelum aku bertemu dengan Luhan.. aku tidak pernah mau berbaur dengan orang lain. Tidak pernah berbicara dengan Tao, Baekhyun, apalagi Chanyeol jika benar- benar tidak perlu.

 

 

 

“Kai?”

 

 

Dia menuntut jawaban dariku. Dan apa yang harus kujawab sementara aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kurasakan!

 

Tae..Taemin..bukankah aku menyukai Taemin?

 

Lalu… mengapa aku mati- matian membantu Luhan? Tentu saja karena ia adalah kekasih Sehun dan Sehun adalah teman baikku. Ya! Pasti karena … pasti karena hal.. hal itu.. AGH!!

 

Tidak!

 

Jawabannya hanya satu… karena dia Luhan.

 

Hanya karena dia Luhan.

 

Karena dia adalah Luhan.. maka aku bisa melakukan apapun untuk dirinya.

 

…mengapa alasan seperti itu yang berbisik dihatiku?

 

 

 

 

 

 

Author POV

 

 

 

Luhan masih menunggu sebuah kata jawaban dari bibir tebal Kai, namun sampai saat itu Kai masih juga menutup rapat bibirnya.

 

 

“Luhannie?!”

 

 

Teriakan ceria itu tertangkap ditelinga Luhan dan Kai. Suara manja khas milik sahabatnya, Tao.

 

 

Seketika itu Luhan membalikkan tubuhnya melihat dua sosok namja yang begitu ia sayangi. Namun namja berparas tampan yang berlari kearahnya lebih mumbuat hati Luhan terhenyak begitu dalam.

 

 

 

GREEPP

 

 

Pelukan langsung menangkap tubuh mungil Luhan. Membiarkan kedua lengan kokoh itu mendekapnya erat.

 

 

“Sehun!” Luhan membalas pelukan Sehun tidak kalah erat, membiarkan air mata hangat lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Merasakan hembusan nafas sang kekasih yang memburu menyentuh tengkuknya. Nafas Sehun.. ya bukti kehidupan kekasihnya.

 

 

Sehun hanya diam. Memejamkan matanya yang kini terasa berat. Melihat wajah Luhan saja membuat hatinya begitu bergetar dan tersentuh. Ingin sekali Sehun melepaskan butiran mutiara kelemahan dari pelupuk matanya, namun ia tidak mau terlihat lemah dalam keadaan apapun. Bukankah Tao mengatakan jika Sehun harus bisa mempertahankan dirinya sendiri?

 

 

 

Kai tersenyum tipis dan mundur beberapa langkah. Membiarkan Sehun melepas kerinduan dalam ketenangan. Tao berjalan menuju tempat Kai berdiri dan mengamati Luhan dan Sehun dari sana.

 

 

 

 

Sehun melepaskan pelukannya, kemudian ia mengangkat wajah Luhan yang menunduk namun Luhan terus saja menundukkan wajahnya. Seakan malu jika Sehun melihat tangisan dan air matanya.

 

 

“Hey..cantik… biarkan aku melihat wajahmu.” Bisik Sehun lirih.

 

 

Luhan menggigit bibir bawahnya dan mendongakkan wajah merahnya, menatap Sehun yang kini tersenyum penuh arti. Telapak tangan Luhan menyentuh dada Sehun, dapat Luhan dengarkan melalui tubuh dan hatinya, detak jantung Sehun yang begitu cepat. Seakan berpacu dengan detak jantung Luhan sendiri.

 

 

“M..maafkan aku.. hiks… aku tidak tahu..kau menunggguiku di Cookies.. maaf Sehun..” bisik Luhan menelan isakannya.

 

 

Sehun menggeleng cepat. “Sttt…. jangan minta maaf dan hentikan tangisanmu. Aku tidak akan pernah marah padamu, Lu. Aku tidak akan pernah sanggup. Jika memang harus terus menunggumu, aku bersedia.”

 

 

DEG

 

 

Mata Luhan membulat, menatap ketampanan sang kekasih yang ia anggap melebihi kata sempurna. Senyuman tipis itu milik Luhan, bukan? Sehun kekasihnya, bukan?

 

 

Namun mengapa rasanya… Sehun jauh sekali?

 

 

Luhan kembali mendekap tubuh Sehun membiarkan rasa rindu yang ia rasakan terlepas walau sedikit saja. Dan… rasa bersalah yang dari tadi merasuki hatinya.

 

Ya… bahkan rasa bersalah itu jauh lebih besar dari rasa rindu yang ia rasakan.

 

 

“Maaf Sehun… maafkan aku..” lirih Luhan pahit.

 

 

 

 

 

 

Kai mengamati dua namja yang kini saling berpelukan melepas rindu. Padahal baru pagi tadi mereka berpisah namun bisa dirasakan rindu yang dirasakan kedua namja itu sangatlah dalam.

 

 

“Kai.” panggilan Tao seketika itu membuyarkan pengamatan Kai.

 

“Ya?”

 

“Mengapa matamu seperti itu?”

 

“Eh?” Kai menatap Tao heran.

 

“Mata Kai… terlihat sedih dan kecewa. Mengapa?”

 

 

 

DEG

 

 

Kai seketika itu mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Mencoba menetralkan aliran jantungnya yang seakan ingin meledak atas pertanyaan telak Tao. Mengapa ia terlihat kecewa? Mengapa ia terlihat sedih?

 

 

Mengapa… ia begitu terluka?

 

Ya…

 

Kai bahkan tidak mengerti mengapa sekarang ia membenci dirinya sendiri yang begitu iri pada Sehun…

 

Iri karena Sehun bisa memeluk dan mencium Luhan seperti itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Luhan memejamkan matanya saat bibir Sehun kembali mengunci bibirnya. Membiarkan Sehun melepaskan semua yang ia tahan. Melepaskan rindu yang selalu mengikat kedua namja itu. Sesaat ciuman itu lepas dan sesaat kemudian ciuman itu kembali tertaut. Seakan candu yang luar biasa menguasai sepasang kekasih itu.

 

 

Takut jika ciuman itu berakhir… mereka akan terpisah.

 

 

“Se..hun—“ Luhan mencoba menarik nafas disela ciuman dalam mereka.

 

 

Perlahan Sehun melepas ciuman itu, membiarkan Luhan bernafas kembali. Lalu membelai pipi Luhan yang memerah. Senyuman manis kini terpatri diwajah tampan Sehun. Kelegaan yang amat sangat bisa dibaca dengan cepat.

 

 

Dan itu…membuat Luhan terus merasa bersalah.

 

 

Mengapa hatinya tidak tenang seperti ini?

 

 

Apakah karena… Kai?

 

 

Luhan menunduk dan menggenggam tangan Sehun. Kemudian ia kembali menatap Sehun tajam, Luhan memulai sebuah pembicaraan.

 

 

“Sehun… bahagiakah jika Sehun…seperti ini bersamaku?” tanya Luhan dengan senyuman yang menyiratkan kepedihan.

 

 

Sehun mengerutkan dahinya. “Aku bahagia, Lu. Aku bahagia!”

 

 

“…Sehun aku takut jika kau terluka dan.. itu semua karena diri..ku.. aku takut aku akan menyakitimu. Aku bukan bermaksud menyerah… bukan.. tetapi sebelum terlambat..” Luhan menggeleng pelan.

 

 

Sehun terlihat pucat. “Aku tidak akan terluka selama kau ada didekatku. Aku tidak akan pernah terluka! Karena itu.. kumohon jangan berkata seperti itu.. seakan kau akan meninggalkan aku.. pergi.. aku.. aku..” mata Sehun sudah tidak fokus. Nampak sekali dirinya terguncang. Nafas Sehun mulai tidak teratur. Ketakutan seketika itu menguasai ekspresi wajah Sehun.

 

 

“Se-“ Luhan melihat perubahan ekspresi Sehun.

 

 

“Tidak Lu.. aku tidak mau kau meninggalkanku! Aku tidak mau..kumohon… aku..aku akan lakukan apapun agar kau berada disisiku! Aku akan korbankan segalanya. Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu! Aku ti-“

 

 

“Tenanglah Sehun!! Tenang!!” Luhan menangkup wajah Sehun. Mengarahkan tatapan mata Sehun yang dari tadi sudah tidak fokus, mengarahkan tatapan mata mereka agar tertaut dan berharap Sehun bisa tenang.

 

 

Sehun menghela nafas pelan dan menutup matanya sesaat. Ia mundur beberapa langkah, menjauh dari Luhan. Ingin menormalkan suasana hatinya yang masih berantakan dan ketakutan.

 

 

Ya.. selama ini Sehun menahan rasa takut kehilangan itu.

 

 

“Sehun..” Luhan bermaksud mendekat namun Sehun langsung mengarahkan tangannya menghentikan langkah Luhan.

 

 

“Tunggu… berhenti disana!! Jangan mendekatiku dulu.” Sehun mengepalkan tangannya, menunduk dalam dan menahan semua rasa takut yang ia rasakan. Menjauhkan dirinya dari Luhan karena takut saat semua rasa itu meledak, akan menyakiti Luhan… namja yang sangat ia cintai.

 

 

Luhan diam disana. Menatap pilu namja yang ia cintai itu. Benar ia mencintai Sehun..sangat.. namun ada sesuatu didalam lubuk hati Luhan yang… menggerogotinya. Mengapa?

 

 

Keyakinan… keyakinan Luhan seakan goyah akan sesuatu.

 

 

 

 

 

 

Kai melihat hal itu hanya bisa diam, bahkan Tao yang sedari tadi mencoba mengajak Kai berbicara ikut terdiam. Ingin sekali Kai berjalan kearah Luhan dan Sehun, namun ia tidak punya hak apapun untuk ikut campur. Berkata satu huruf saja Kai tidak punya hak.

 

Sama sekali tidak!

 

 

 

 

 

 

 

“Kenapa? Sehun membenciku? Hiks.. Sehun…” Luhan seketika itu berlari kearah Sehun. Memeluk tubuh Sehun dengan erat, sangat erat sekali. hingga membuat namja tampan itu terkesiap.

 

 

“Maaf… pasti Sehun memikirkan banyak hal karena ucapanku tadi. Maaf aku tidak bermaksud membuat kau panik! Jangan mencegahku untuk mendekatimu seperti itu! Kau tidak harus menenangkan semua yang kau rasakan sendirian. Apa gunanya aku didepan matamu? Dasar Sehun bodoh!!!”

 

 

Tidak bisa… Sehun tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia peluk sangat erat tubuh mungil yang kini bergetar hebat. Mereka berdua sama- sama menderita akibat perasaan mereka yang tertahan atas semua tekanan.

 

 

Padahal belum lama tautan tangan itu menyatu, namun keraguan sudah menggerogotinya.

 

 

 

DEG

 

 

Seketika itu Luhan melirik Kai yang menatapnya. Tatapan mata Kai yang membuat hati Luhan bergejolak aneh. Mengukir sebuah perasaan bersalah pada Kai saat ia bersama Sehun dan perasaan bersalah pada Sehun saat ia bersama Kai.

 

 

Hati… siapa yang bisa membaca hati manusia?

 

 

Siapa yang bisa menebaknya?

 

 

Bahkan terkadang mengendalikan perasaan yang berasal dari hati kita sendiripun, membuat kita kewalahan dan tidak berdaya, bukan?

 

 

Ucapan itu datang dari pemikiran manusia, kadang tidak menggunakan hatipun perkataan bisa saja terucap begitu saja. Karena otak dan akal sehat yang mengendalikan semuanya. Dengan ekspresi apapun bisa diungkapkan, bahkan tipuan juga bisa terlihat nyata.

 

 

Dan Luhan membenci dirinya yang kini menyadari…

 

 

 

Bahwa ia tidak sepenuh hati dan terbuai oleh manisnya pesona dua namja yang kini mengikat hatinya.

 

 

Begitu dalam… bahkan membuatnya hanyut dan kemurniannya hancur berkeping- keping. Hancur dalam keserakahan ingin memiliki.  

 

 

 

 

 

 

 

Suatu saat, ketika kau tahu darimana cinta yang sesungguhnya datang

Mungkinkah kau mengingkarinya?

Setelah semuanya berakhir

Tuhan.. hanya Tuhan yang berhak mengambilnya

Menyembunyikannya kembali didalam surga

Karena hati manusia sesungguhnya begitu murni

Bahkan kemurniannya melebihi cahaya apapun

 

 

 

 

 

 

Luhan berdiri tegak didepan rumahnya, dengan wajah kusut dan matanya yang sembab. Kai menghela nafas pelan dan mengusap lembut pipi Luhan. Sedikit cemas karena Luhan dan Sehun harus berpisah karena ditakutkan orang tua Sehun mengetahui pertemuan diam- diam tersebut.

 

 

 

Seketika itu namja cantik itu mengarahkan pandangan matanya kearah Kai. Kembali matanya berkaca- kaca, sakit sekali saat ia melihat wajah Kai setelah apa yang terjadi. Dengan perlahan Luhan memegang tangan Kai dan melepaskan tangan Kai dari pipinya.

 

 

“Terima kasih sudah mengantarku kerumah Sehun, Kai. Aku benar- benar berterima kasih.”

 

 

Kai tersenyum tipis, merasakan bahwa kini dimata Luhan…terlihat pembatas yang begitu kuat. Pembatas yang tadinya tidak ada, namun setelah betemu Sehun… Luhan seakan selalu mempertegas sosok Sehun pada dirinya sendiri. Membuat Kai ikut membatasi sikapnya yang mulai terbiasa menyentuh Luhan.

 

 

“Apakah hatimu lega setelah bertemu Sehun?”

 

 

DEG

 

 

Luhan membulatkan matanya mendengar ucapan Kai. Lega? Tidak.. Luhan sama sekali tidak merasakan kelegaan. Ia sesak.. dadanya sesak. Seakan mengikat kuat pundi pundi udara yang seharusnya terisi penuh setelah bertemu Sehun. Semua harapan yang ia tanam seakan kabur.

 

 

Apa yang terjadi pada dirinya?

 

 

Oh Tuhan… Luhan sama sekali tidak mengerti.. apa yang terjadi pada hatinya? Mengapa bahkan kini ia sulit sekali mengendalikan semua perasaannya. Seakan- akan perasaannya tumbuh dan terhenti sesuka hati. Membiarkan Luhan bingung dan berfikir dengan apa yang selanjutnya harus ia lakukan.

 

 

Kai mengacaukannya dalam sekejap.

 

 

Luhan kemudian menepuk pipinya. “Aku lega!”

 

Jawaban pasti Luhan membuat Kai tersenyum manis dan mengangguk mantap, tidak tahu bahwa sebenarnya hati Luhan seakan ingin berteriak bebas dari kesesakkan.

 

 

 

 

“Kai… hmm… tentang sesuatu yang kau ceritakan tadi pagi.. saat kita membolos.” Luhan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

 

 

“Eh?”

 

 

“Tentang perasaanmu pada… Taemin, hyung.”

 

 

DEG

 

 

Mata Kai membulat kemudian ia menunduk dalam. Luhan lalu menarik tangan Kai agar turun dari motor besarnya dan duduk dipekarangan rumah Luhan. Mereka tidak duduk dikursi melainkan dilantai teras rumah Luhan sembari memeluk lutut masing- masing.

 

 

“Rasanya aku tidak berhak menasehatimu setelah aku sadari… aku bahkan tidak lebih baik.. Keraguaan akan kepastian atas apa yang kau rasakan..pada Taemin-hyung…” ucap Luhan pelan sekali.

 

 

Kai menatap langit malam yang penuh bintang itu. “Tadi…beberapa saat sebelum kau datang kerumahku… aku…” Kai terhenti sesaat dan tersenyum tipis. “….Aku mencium Taemin.”

 

 

DEG

 

 

Dada Luhan terasa seakan dihimpit beban berat. Nafasnya tercekat, hatinya bergejolak tidak nyaman, kesesakan tidak mendasar menguasai alur pernafasannya saat mendengar ucapan Kai bahwa ia..mencium Taemin.

 

 

“Dan.. dia sangat marah hingga menamparku dan mengatakan bahwa aku sudah keterlaluan.” Kai tertawa hambar.

 

 

Luhan hanya diam. Ia mengatur kepingan hatinya yang luluh lantak akibat ucapan Kai. Tubuhnya serasa mengigil..

 

“Dan kau tahu, Luhan? Saat aku menciumnya… tidak ada perasaan apapun menghampiriku. Seharusnya aku senang karena aku bisa mencium namja yang aku cintai.. namun kenyataannya.. hatiku hampa.”

 

 

Hening sesaat kemudian Kai kembali mengatakan sesuatu.

 

 

“Aku tidak merasakan perasaan yang kuharapkan muncul saat aku menciumnya. Aku…tidak merasakan apapun selain rasa sesak dan hampa. Apa artinya itu, Lu?”

 

 

Luhan menunduk sejenak. “Namja bernama Kris mengatakan padaku, ah mungkin kau tidak tahu.. Kris itu adalah namja yang menyukai Tao. ia mengatakan padaku bahwa… rasa ketergantungan kadang bisa memutar balikkan perasaan yang kita rasakan.”

 

 

 

 

 

DEG

 

 

 

 

 

Kai terhenyak..

 

 

“Ra..rasa ketergantungan?”

 

 

“Manusia itu makhluk yang memiliki rasa ketergantungan yang tinggi. Saat kau terpuruk… bukankah hanya Taemin-hyung yang mau memberikanmu ketenangan? Aku bukan mengatakan bahwa cintamu tidak murni… namun aku yakin Kai mengerti apa maksudku.”

 

 

 

Kai terdiam.

 

 

Ia mengerti.. satu kata ‘Rasa ketergantungan’ saja sudah menjelaskan semua pertanyaan yang selama ini menghantui perasaannya.

 

 

Ia berfikir.. ia bukanlah namja bodoh yang tidak bisa mencerna hal seperti itu dengan lambat. Kai bahkan membenarkan begitu saja didalam hatinya… menyadari bahwa ia selama ini salah. Benar, karena yang ia rasakan pada Taemin akan berbatas sakit hati karena perhatian yang sudah terbagi.

 

 

Dan rasa hampa yang sudah ia buktikan tadi saat mencium Taemin seakan memperkuat kesimpulan Kai, namun jauh didalam lubuk hati yang paling dalam… Kai belum mau ..atau belum sanggup menghapus keyakinan bahwa ia mencintai Taemin.

 

 

Karena jika ia menghapus keyakinan itu saat ini…

 

 

Ia takut…

 

 

Takut bahwa ia sadar memiliki rasa berbeda yang nyaris serupa pada namja cantik yang kini menatapnya lekat.

 

 

Kai takut… sangat.

 

 

Sangat takut jika menyadari bahwa ia… memiliki perasaan yang jauh lebih kuat pada… Luhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 11 malam, mungkin sudah larut. Namun Taemin belum bisa mengistirahatkan tubuhnya. Ia termenung sembari merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuknya, membiarkan hanya cahaya bulan yang menyinari kamar luasnya yang gelap.

 

Kai tidak ada. Taemin makan malam sendirian malam ini dan para pesuruhnya mengatakan bahwa Kai pergi sore tadi. Bahkan Kai terlihat sangat terburu- buru dan tidak meninggalkan pesan kemana ia akan pergi.

 

Padahal Taemin sangat mencemaskan adiknya itu, namun amarah masih menguasainya hingga enggan menghubungi sang adik sekedar bertanya ia berada dimana atau mengapa sudah jam segini sang adik belum juga mencapai rumah.

 

 

 

 

Tiba- tiba pendengaran Taemin menajam, menangkap suara sapaan para pesuruhnya yang sayub- sayub terdengar. Apakah Kai sudah pulang?

 

 

 

KLEK

 

 

Taemin langsung memejamkan matanya saat menyadari pintu kamarnya terbuka. Langkah kaki berat yang sangat ia kenali tertangkap dipendengarannya. Membuat Taemin sedikit merinding, bersyukur keadaan kamar itu gelap. Atau tidak namja yang kini duduk ditepi ranjang Taemin akan melihat namja cantik itu meneguk paksa liurnya.

 

 

“Kau sudah tidur, oeh?”

 

 

Taemin berharap Kai.. ya Kai.. benar- benar menganggapnya tertidur. Oh Tuhan, tolong selamatkan ia. Taemin berdoa didalam hati.

 

 

TEP

 

 

Taemin merasakan pipinya diusap oleh tangan lembut itu, tangan adiknya, Kai. sebisa mungkin ia  menenangkan hatinya. Mengusir kecemasan yang tidak beralasan. Sejak kapan Taemin jadi takut pada sosok Kai? Kai yang selalu ia tindas dan permainkan?

 

 

Lihat saja dia! Jika dia berani memperkosaku, akan kubuat berita pagi esok hari mencantumkan, ‘Anak  keluarga Kim yaitu Kim Jongin dibunuh oleh Kim Taemin, kakak kandungnya sendiri dengan sangat mengenaskan’ HAHAHA!!” gerutu Taemin didalam hati.

 

 

“Kau cantik sekali kalau sedang tidur seperti ini.. wajahmu beberapa kali menenangkan hatiku… namun mengapa sekarang hatiku masih gundah?” Kai masih mengusap pipi Taemin.

 

 

Taemin seketika itu mendengarkan ucapan Kai dengan taat. Membiarkan hatinya yang tadi menggerutu diam sejenak.

 

 

“..dulu kukira aku mencintaimu.. karena aku begitu bergantung padamu…begitu memikirkanmu agar kau tidak lari dari sisiku dan selalu memelukku… aku tidak mau memikirkan ikatan darah diantara kita. Selalu menyalahkan Tuhan atas apa yang kurasakan..pada hyung-ku sendiri..”

 

 

Sedikit terhenyak, Taemin merasakan nafas Kai begitu dekat dengan wajahnya.

 

 

Kembali Kai.. mencium bibir Taemin.

 

 

Merinding.. Taemin ingin membuka matanya saat itu namun ia merasakan sebuah air hangat terjatuh dipipinya. Air mata Kai. Bibir Kai masih bersatu dengan bibirnya dan Taemin seakan membiarkan hal itu terjadi. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan oleh adik.. ya adik kandungnya itu. Taemin tidak memutuskan ciuman yang cukup lama itu.

 

 

Perlahan Kai melepas ciumannya, menjauhkan wajahnya dari wajah Taemin kemudian mengusap pipi hangat namja cantik itu dengan lembut.

 

 

“Bahkan sudah selama itu aku menciummu… aku tidak merasakan apapun.. hanya kehampaan.. karena kau adalah kakakku.. dan.. ma..maafkan aku….”

 

 

Suara Kai terhenti. Taemin mendengar isakan halus, tangan Kai yang mengusap pipinya terasa bergetar. Oh tidak! Taemin tidak tega jika Kai menangis sendirian.

 

 

Masa bodoh, Taemin langsung membuka matanya. Membuat Kai terkejut namun… sedetik kemudian Taemin langsung menarik tubuh Kai hingga jatuh menghimpit tubuh Taemin yang berbaring diranjang.

 

 

Dia peluk erat adik laki- lakinya itu.

 

 

“K..kau bangun?!” kejut Kai.

 

 

“Haa… adikku sejak kapan jadi cengeng seperti ini?” Taemin mengusap rambut Kai dengan lembut. “Kau tahu Jongin.. kau hanya tersesat…”

 

 

Mata Kai membulat, tetesan air mata terjatuh begitu saja tanpa isakan. Kai dengan cepat membenamkan wajahnya disela leher Taemin, meresapi kehangatan yang ia butuhkan.

 

 

“Terima kasih…” bisik Kai dan mempererat pelukannya pada tubuh Taemin. “Terima kasih…hyung.”

 

 

 

 

 

 

 

Tengah malam, dikediaman keluarga Oh. Seorang ibu duduk dikursi malasnya. Menatap tajam pada televisi besar yang ada dikamarnya. Kemudian arah matanya tertuju pada suaminya yang kini sedang membaca sebuah berkas.

 

 

“Aku tidak bisa memaksa negara untuk mengontrol salah satu pegawai mereka, bisa- bisa terlibat tindak pidana jika terus mendesak.” Ujar sang ayah sembari duduk ditepi ranjangnya.

 

 

Sang ibu menghela nafas pelan. “Kyu.. entah mengapa aku suka melihat Sehun melawan kita seperti tadi sore. Matanya yang menuntut itu…indah. Begitu membuat hatiku..tersentuh. ”

 

 

“Maksudmu, Chul?

 

 

“Dia..hanya berkata jujur.” Sang ibu tersenyum tipis. “Dia bahkan menuntutku memberinya kehangatan. Bukankah itu… sangat manis.”

 

 

Sang ayah tersenyum. “Dia harus mempertahankan apa yang harus ia pertahankan. Aku ingin lihat seberapa sanggup ia dan sekuat apa hatinya.”

 

 

Setelah mengatakan hal itu, sang ayah mengambil secarik kertas dan tersenyum manis. “Lihat… aku sudah mengurus kepergian Sehun untuk melanjutkan studi nya di Jepang seminggu lagi. Setidaknya aku memberikan waktu seminggu ini untuknya menikmati saat- saat terakhirnya di Korea.”

 

 

“Haa.. kadang aku berfikir kau benar- benar berhati dingin, Kyuhyun.” Heechul, sang ibu hanya bisa pasrah pada keputusan suaminya.

 

 

Walau ia merasa bahwa Sehun, anaknya… anaknya yang sekarang jauh lebih baik daripada Sehun yang dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dua hari telah berlalu sejak hari itu, Sehun tidak pernah datang kesekolah lagi. Tidak pernah bertemu Luhan lagi tentunya, padahal Luhan yakin ia bisa bertemu dengan Sehun disekolah. Namun malangnya keinginan malaikat itu tidak terpenuhi.

 

Dan bisa ditebak, Luhan langsung menjadi namja pemurung.

 

 

 

Baekhyun menghela  nafas pelan melihat sahabatnya yang seperti itu. Ia ketahui dari Tao bahwa Sehun dan Luhan sudah berpacaran. Chanyeol bahkan sangat terkejut saat mendengar kabar itu namun setelahnya, kecemasan langsung menyergap perasaan Chanyeol dan Baekhyun. Berbeda dengan Tao yang nampak menganggap hal itu bukanlah sebuah masalah.

 

Memang bukan sebuah masalah, hey.. itu adalah berita bahagia bukan? Hanya saja bagi Baekhyun dan Chanyeol yang tahu dengan jelas apa yang terjadi pada Suho yang sempat dekat dengan Sehun dahulunya, membuat Chanyeol dan Baekhyun cemas akan terjadi hal yang buruk pada namja manis itu.

 

 

 

“Luhan..” Baekhyun memeluk pundak Luhan dengan erat. “Kami.. kami minta maaf karena tidak membantumu kemarin.. kami tidak tahu bahwa…”

 

 

Ucapan Baekhyun terhenti saat Luhan memandangnya lembut. “Hey.. mengapa wajahmu seperti ingin menangis Baekhyunnie? Aku baik- baik saja… kau ini.”

 

 

Chanyeol terhenyak melihat Luhan yang berusaha tersenyum manis, menyedihkan. Bahkan senyuman yang Luhan berikan kini terlihat ternoda oleh guratan kesedihan. Semuanya terdiam. Seandainya ada Tao disana, mungkin ada sedikit keceriaan dari namja polos itu. Namun Tao sedang berada di Canada saat ini.

 

Diam- diam Tao mengetahui rencana orang tua Luhan yang akan dipindah tugaskan ke Canada dari Kai. Dan ia ingin membantu, agar Luhan dan keluarganya tetap di Korea. Tidak ada yang mengetahui maksud Tao yang sebenarnya pergi ke Canada selain Kai dan Kris, serta orang tua Tao.

 

 

 

 

 

 

Dan… Kai menjaga jaraknya dari Luhan. Menjaga jarak bukan dalam artian menjauhi. Hanya menjaga agar Kai tidak terlalu dekat. Sungguh.. Luhan bukanlah seseorang yang bisa membuat pertahanan diri Kai yang kokoh tidak akan runtuh. Pasti lenyap seketika walau kenyataan Sehun, sahabat baiknya, orang yang paling ia percayai didunia ini setelah Taemin… adalah kekasih Luhan.

 

 

Luhan kekasih sahabatnya!

 

 

Sahabat baiknya!

 

 

Sadar Kai! Kau mencintai orang yang salah… lagi Kai.. kau mencintai namja yang tidak seharusnya kau pikirkan. Haram bagi hubungan persahabatanmu dan Sehun yang terjalin sejak dulu. Bahkan kau adalah orang yang paling Sehun percayai didunia ini.

 

Ingat Kai, Sehun tidak pernah mempercayai orang lain selain dirimu.. sebelum Sehun bertemu Luhan, kaulah satu- satunya sahabat yang dimiliki Sehun. Dan.. apakah kau tega merusak perasaan Sehun begitu saja dengan mencintai kekasih Sehun sendiri?

 

 

Mencintai…Luhan.

 

 

Maaf… Kai bukan namja yang hanya memikirkan dirinya sendiri, ia cukup tahu diri dan ia akan menjaga perasaan Sehun serta… Luhan. Ia yakin sekali ia mencintai Luhan.. sadar akan perasaannya yang terlambat  ia sadari.

 

 

Namun melihat Luhan yang menjadi pemurung seperti itu.. membuatnya tidak tega. Merasakan sebuah lubang dalam menggerogoti hatinya hingga tembus. Sakit melihat namja yang penuh cahaya terang seperti Luhan harus tersembunyi dalam hitamnya kabut kesedihan.

 

Seketika itu Kai mengepalkan tangannya. Ia tatap Luhan dari pintu kelasnya dan.. ia akan melakukan sesuatu.

 

 

 

Sesuatu untuk namja yang banyak sekali mengajarkannya tentang arti kehidupan.

 

 

 

 

 

 

Termenung.

 

 

Hanya itu yang bisa dilakukan seorang Oh Sehun. Diam dan tidak melakukan apapun. Matanya terlihat kosong, tatapannya tidak terarah, bibirnya pucat, dan … ia kehilangan semangat hidupnya. Menyadari bahwa ia sangat lemah jika dihadapkan dengan kekuasaan orang tuanya. Membiarkan dirinya kembali terkurung tanpa bisa melakukan apapun.

 

 

Ditangannya… ia menggenggam secarik kertas.

 

 

Secarik kertas yang menjelaskan bahwa ia sudah diterima disebuah sekolah elit di Tokyo, Japan. Sekolah yang bahkan berstandarkan pendidikan taraf Internasional dan sekolah asrama yang sungguh mengagumkan.

 

 

Ingin ia remukkan kertas itu. Namun kekuatannya kini seakan terikat hingga memegang secarik kertas saja ia tidak mampu. Kertas itu jatuh dari tangan Sehun, terselip masuk kebawah ranjangnya. Dan Sehun tidak bergerak sama sekali.

 

 

Pikirannya kosong.. sungguh Sehun seakan terlihat seperti boneka berparas sempurna yang terdiam didalam lemari penyusun bersama dengan kesunyian yang menyesakkan. Boneka yang terukir jelas diwajahnya akan kesedihan, boneka yang siap rusak dan … terbuang.

 

 

 

 

“Sehun…”

 

 

Suara seseorang terdengar dipendengaran Sehun. Namun namja tampan itu masih saja menatap kosong kedepan. Tidak mengindahkan sahabat baiknya itu berjalan mendekat.

 

 

 

“…Kau baik- baik saja? Kau pucat.” Tanya sang sahabat, Kai, dengan penuh perhatian.

 

 

Perlahan Sehun mengalihkan pandangan matanya pada Kai, kemudian menunduk. Sehun tersenyum hambar dan memulai pembicaraan.

 

 

“Kau sudah pulang sekolah? Ini baru jam 11 siang, tuan Jongin.”

 

 

“Sekolah sepi tanpamu, tuan Sehun. Jadi aku membolos saja..” Kai mengangkat bahunya dan duduk disamping Sehun. Mereka duduk disebuah sofa besar tepat berhadapan dengan ranjang Sehun.

 

Jangan heran mengapa Kai bisa masuk begitu saja dan menemui Sehun, Kai adalah sahabat Sehun dan dengan mudahnya Kai bisa menemui Sehun. Toh kedua keluarga mereka berteman baik.

 

 

 

 

Sehun kembali diam. Berselang beberapa menit keadaan yang begitu kaku itu. Seakan dua namja tampan itu sedang berfikir keras untuk memulai.

 

 

 

“..kadang aku merasa iri padamu, Kai.” buka Sehun akhirnya.

 

 

“Ne?” Kai mengerutkan dahinya, sedikit bingung dengan maksud sahabatnya itu.

 

 

“Kau..walau memiliki sikap yang sama dingin denganku.. namun kau masih memiliki.. tempat untuk bergantung. Memiliki hyung yang baik dan mau memelukmu saat kau kesepian. Orangtuamu memang membatasimu tetapi.. mereka masih mau menerima pendapatmu…” Sehun menatap tajam sahabatnya itu.

 

 

“…Kau sanggup mengatakan apa yang kau rasakan pada orangtuamu… dan mereka mendengarkannya. Aku… iri padamu, Kai. a..aku menjijikkan… iri pada sahabatku sendiri.” Lanjut Sehun.

 

 

Kai memegang pundak Sehun, ia hanya diam namun Sehun bisa menangkap perlakuan Kai sebagai bahasa penenang. Senyuman tipis terhias dibibir Sehun kemudian ia kembali menunduk.

 

 

 

“Dan yang kumiliki hanya Luhan, Kai.”

 

 

 

DEG

 

 

Kai merasa sebuah bom meledak dijantungnya, membuat nafasnya berat seketika dan menghentikan perputaran arus udara yang seharusnya masuk kedalam paru- parunya.

 

Ucapan Sehun yang membuat hati Kai diliputi rasa bersalah yang luar biasa.

 

 

“Dan yang kupunya hanya… Luhan..” suara Sehun benar- benar lirih. “..hanya Luhan dan.. kini aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk keluar dari rumah ini. Kau lihat bukan…saat kau masuk kekamarku.. 5 orang penjaga berada disekitar kamarku.. appa menambah kamera disetiap sudut rumah dan aku… aku tidak bisa bergerak.” Sehun masih tersenyum walau matanya nampak berat.

 

 

“..nafasku.. sesak Kai… rasanya begitu lemah. Padahal aku ini namja! Tao mengatakan padaku.. bahwa aku harus bisa mempertahankan diriku sendiri… kalau aku tidak bisa mempertahankan diriku sendiri bagaimana aku mempertahankan Luhan? Haha.. bahkan perkataan Tao seperti cermin yang langsung memantul padaku.” Sehun mengepalkan tangannya.

 

 

Kai masih diam.

 

 

“Aku tidak mau seperti ini Kai… Jauh darinya sama saja membunuhku. Menghancurkanku dengan cepat.. aku.. aku hanya ingin ia disisiku. Melihat senyumannya yang menyenangkan… aku sangat … mencintainya. Aku…” Sehun terhenti.

 

 

Diam.

 

 

Tidak ada satupun yang berbicara.

 

 

Kai memejamkan matanya pelan dan tersenyum. Senyuman penuh arti yang menyakitkan. Namun seketika itu Kai memegang tangan sahabatnya itu. Membuat Sehun yang tadinya menunduk menatap Kai lekat.

 

 

“Luhan milikmu dan.. akan terus seperti itu. Aku yang akan menjamin hal itu. Dan aku melihat Luhan.. murung semenjak kau tidak bersekolah.”

 

 

Sehun menghela nafas. “Apa dia menangis Kai?”

 

 

“Ia.. ia menangis.”

 

 

DEG

 

 

Sehun memejamkan matanya sesaat. Ia angkat kepalanya, mendongak. Seakan mencari udara untuk ia hirup karena nafasnya tertahan. Dada Sehun bergemuruh sakit saat mendengar bahwa Luhan..menangis. Menangis karenanya.

 

 

“Sehun.. aku ini sahabatmu. Orang yang kau percayai.. dan kau juga orang yang paling kupercayai. Jika melihatmu bersedih, aku akan ikut bersedih. begitu pula dengan.. Luhan.. kekasihmu.. aku akan ikut sedih jika Luhan bersedih… karena.. Luhan adalah kekasih sahabatku.” Kai menekan perasaannya saat mengatakan ucapan tersebut. Menekan habis hingga hanya perih yang ia rasakan.

 

 

Sehun tersenyum tipis.

 

 

“Tenang.. aku tidak akan merebut Luhan dari sisimu. Aku… aku cukup pintar membaca maksud ucapanmu tadi, Sehun.”

 

 

Sehun kembali tersenyum, senyuman pahit. “Maaf… aku memuakkan, ya? Menyindir sahabatku sendiri…”

 

 

Kai menggeleng cepat. “Justru hal memuakkan seperti itu adalah pelajaran untukku dan.. hey! Aku tidak akan membuat sahabatku sendiri terpuruk. Kau masih memilikiku.. sahabatmu, Luhan kekasihmu dan tiga manusia ribut yang selalu mengikuti Luhan.. setidaknya kita sudah lumayan dekat dengannya, bukan?”

 

Sehun menatap sahabatnya itu penuh arti. “Mana sudi aku berteman dengan tiga orang namja rusuh itu.”

 

“Kau berbicara saja! Bukankah malam itu kau sudah mulai akrab dengan Zitao hingga kau meminjamkan piyama pemberian bibi Jung.”

 

Sehun memutar bola matanya. “Kau tidak tahu bagaimana kesalnya aku menghadapi Tao. ah.. kau ternyata perhatian juga, oeh?!”

 

 

 

Kai menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya keranjang Sehun. Sesaat diam menguasai keadaan kamar itu. Kai memikirkan sesuatu dan Sehun nampaknya juga begitu. Seakan mengikuti Kai, Sehun ikut merebahkan dirinya disamping Kai. menatap langit- langit kamarnya yang sudah dari tadi menjadi tumpuan mata Kai.

 

 

“Semua berubah dalam sekejap.”

 

 

Sehun masih enggan menjawab ucapan Kai. Ia hanya membenarkan ucapan Kai didalam hati. Karena ia tahu sendiri pembenaran akan ucapan Kai.

 

 

“Kukira kita akan melewati masa- masa SMA yang membosankan. Kemudian lulus dengan nilai terbaik.. menikah dengan jodoh pilihan orang tua..bekerja menjadi penerus perusahan keluarga dengan sukses..punya anak kemudian..” lanjut Kai kemudian diam.

 

 

“Membosankan sekali.” Sehun tertawa pelan.

 

 

“Ya…” Kai tersenyum manis. “..Namun hari pertama kita menjadi murid SMA.. ingatkah kau.. dimana Luhan dengan bodohnya melawan kita.. membantah ucapanku dan kau mengatainya hingga wajahnya polosnya itu terlihat seperti orang bodoh?”

 

 

Sehun kembali tertawa. Mengingat masa dimana ia pertama kali bertemu Luhan, panggilan pertama yang Sehun berikan pada Luhan, ‘Rakyat jelata’.

 

Ah.. kejadian beberapa bulan yang lalu.. mengingat masa dimana Luhan merawatnya ketika sakit… menjemput Sehun kebandara saat namja itu masih sakit namun dipaksa mengikuti rapat rutin di Beijing. Sehun ingat sekali.. seakan kenangan itu adalah harta berharganya.

 

 

Dan setiap detik kerinduannya pada Luhan membuncah. Menyesakkan jantungnya. Mendesak semua organ tubuhnya.. seperti itulah menahan rasa rindu pada orang yang benar- benar kita cintai. Pedih..

 

 

 

Sehun menutup matanya. Membiarkan setetes air mata luluh melewati bulu matanya. Air mata hangat yang membuat wajahnya terasa panas. Wajah Sehun memerah. Ia tidak terisak… dia diam dan air matalah yang berbicara. Sehun tetap menutup matanya. Membiarkan rasa sesak itu terdeskripsikan oleh air mata.

 

Kai melihatnya… melihat sahabatnya. Melihat Sehun yang selemah ini bukanlah hal yang lumrah bagi Kai. Sehun yang ia ketahui adalah Sehun yang dingin, tidak pernah gentar dan menyembunyikan kelemahannya dengan lihai.

 

Dan Luhan bisa membuat Sehun menjadi namja yang lebih jujur. Jika Sehun sedang ingin menangis, Sehun akan menangis. Jika Sehun akan tersenyum.. ia akan tersenyum. Jika Sehun akan tertawa ia akan tertawa. Bukankah Sehun kini menjadi namja yang jauh lebih hidup..

 

Semua itu berkat Luhan.

 

 

Kai kembali menatap langit- langit kamar Sehun…

 

Ia memikirkan cara terbaik untuk tidak menghancurkan semuanya… tidak menghancurkan persahabatannya dan orang- orang yang ia cintai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karena aku mencintaimu

Aku tidak akan memaksa takdir

Kita manusia.. hanya manusia yang pasti berbuat salah

Dan karena kita manusia…

Kita hanyalah makhluk lemah tak berdaya

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepulang sekolah, Luhan.. ia berjalan seorang diri menuju rumahnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi wajah apapun. Ia memperhatikan langkahnya namun wajahnya begitu sayu. Lelah.. lelah akan semua yang terjadi.

 

Bukan hal seperti ini yang ia harapkan…

 

Sangat singkat waktu yang ia rasa bahagia saat bersama Sehun… menikmati ciuman serta sentuhan Sehun. Mendengarkan suara lembut Sehun.. walau kadang suara itu menghina dan mengejeknya. Namun suara itulah yang Luhan rindukan..tangan Sehun yang mengusap wajahnya. Memberikan ia pelukan..

 

Sehun.

 

Luhan mencintai Sehun.

 

Hal itulah yang mati- matian Luhan jaga. Mati- matian Luhan bela dan mati- matian Luhan pertahankan. Ia tidak akan ragu lagi..

 

Ia.. ia tidak…

 

Ia ragu.

 

Namun selalu… selalu saat hatinya mengatakan kata ‘ragu’ Luhan terus berusaha memperteguh keyakinannya. Salahkah ia jika ingin mempertahankan perasaannya? Tidak ada yang salah! Tidak ada dan hal itulah yang harus Luhan lakukan.

 

 

Dan Kai…

 

Luhan kemudian mendongakkan wajahnya, menatap matahari sore itu yang mulai miring. Langit tidak terik dan hal itu membuat Luhan sedikit nyaman untuk menatap langit.

 

 

 

“Sehun… tahukah kau…” bisik Luhan lirih.

 

 

“Tahukah kau… saat pertama kali aku mengenalmu…” Luhan menggigit bibir bawahnya.

 

 

“..kau merubah semua keyakinanku tentang cinta.”

 

 

 

Malaikat itu..menangis.

 

 

Ya.. kali ini ia rasakan… merasakan hati Sehun yang begitu gundah memikirkannya. Luhan berjalan cepat dan duduk dibawah sebuah pohon rindang. Ia bersembunyi disisi tertutup dibalik pohon besar itu, agar tidak ada pejalan kaki yang melihatnya menangis.

 

 

 

“Sehun… Sehun sayang… kumohon jangan menangis.. kumohon… tangkap suaraku Sehun. Tangkap suaraku yang menyebut namamu.. hiks… Sehun…” bisik Luhan sendu memegangi dadanya yang sesak.

 

 

“..aku untukmu Sehun.. aku untukmu Sehun… aku untuk..hiks.. Sehun.. aku merindukanmu. Ingin bertemu… Sehun..”

 

Luhan memeluk lututnya, meringkuh duduk diatas tanah bersembunyikan pohon besar itu. Suara hiruk pikuk jalan raya dibelakangnya seakan menutupi suara isakan Luhan.

 

 

“..ingin bertemu.. Sehun…”

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam harinya.

 

 

 

 

Taemin membulatkan matanya saat mendengar perbincangan Kai dengan orangtuanya melalui telepon rumahnya. Baru saja Kai menutup telepon itu dan berbalik badan. Sedikit terkejut melihat Taemin yang ternyata berada tepat dibelakangnya.

 

 

“Apa yang kau katakan pada oemma dan appa?” suara Taemin terdengar sedikit ketakutan.

 

 

Kai menunduk dalam.

 

 

“Apa yang membuatmu berfikir seperti itu, Kim Jongin!!” pekik Taemin sedih. “Kau.. kau ingin meninggalkanku sendirian?”

 

 

 

Kai kali ini memberanikan diri untuk menatap sang kakak. “Aku harus melakukannya. Jika tidak… aku tidak akan pernah bisa mengubur perasaanku… padanya, hyung.”

 

 

Taemin menutup matanya sejenak dan menghela nafas. “Jadi… kau ingin lari, Jongin? Kau ingin lari karena kau mencintai Luhan?”

 

 

Kai berjalan pelan meninggalkan Taemin, namun Taemin mengikuti Kai. lalu menghentikan langkah Kai dengan menghadang jalannya. Mata Taemin nampak memerah.

 

 

“..Haruskah kau pergi ke Austria? Ketempat oemma dan appa? Tidak adakah jalan lain?” Taemin masih berusaha mencegah keinginan Kai untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya di Austria, tempat kedua orang tuanya berada.

 

 

“Jika aku tetap disini.. aku tidak yakin bisa menahan perasaanku.. semakin.. setiap detik.. perasaan itu seperti sebuah tali yang tiada habis mengikat hatiku. Bertambah kuat… aku harus mencegah perasaan itu agar tidak meledak, hyung.”

 

 

Taemin menunduk pelan.

 

 

“…aku harus pergi… ini kulakukan demi Sehun.. dan.. Luhan.. demi kebahagiaan sahabatku dan orang yang kucintai, hyung.”

 

 

 

Kai sudah membulatkan keputusannya.

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu…

 

 

 

Malam yang dingin.. memang malam yang dingin sekali karena baru setengah jam yang lalu hujan berhenti. Namun seorang namja cantik tengah berlari. Wajahnya memerah karena dingin malam itu. Ia hanya memakai sweater, ia tidak sempat memakai jaket yang lebih tebal.

 

 

 

-Lu.. Hai rusa kecilku, ini aku Sehun.

Maaf aku menggunakan ponsel Kai untuk mengatakan padamu hal ini.

Aku minta maaf karena aku belum bisa menemuimu.. aku akan berusaha untuk keluar dari rumah ini. Kumohon.. jangan menangisi diriku, karena aku tidak lemah.

Berjanjilah padaku.. kau akan tetap menjadi Luhan yang tegar dan ceria.

Dan ingatlah Luhan, aku mencintaimu.

Oh Sehun, si pemburu.-

 

 

Pesan singkat itu sudah masuk kedalam ponsel Luhan sejak sore hari namun Luhan baru membacanya dan ia sangat terkejut. Dan ia lega karena Sehun menghubunginya walau menggunakan ponsel Kai.

 

Apakah kini Sehun bahkan tidak boleh menyentuh alat komunikasi?

 

Luhan mempercepat larinya. Ia tidak peduli lagi, ia ingin bertemu Sehun. Ia sudah tidak mau memikirkan perasaannya yang tengah digerogoti keraguan. Yang Luhan inginkan hanya melihat wajah Sehun, mendengarkan suara indah itu, dan merasakan hembusan nafas Sehun.

 

Mata Luhan merah. Hidungnya memerah dan pipinya memerah. Semua itu karena ia kedinginan, namun Luhan tidak peduli. Ia ingin melihat Sehun. Walau nanti ia diusir keluar dari rumah itu, ia tidak peduli.

 

 

 

 

 

“Haaah..haah..” langkah Luhan terhenti saat sampai didepan kediaman keluarga Oh yang sangat megah. Rumah bagaikan istana. Sungguh mengagumkan, namun apa artinya rumah seperti itu jika hanya menyimpan kehampaan dan dinginnya dinding ego si penghuni.

 

 

Tangan mungil itu kemudian menggapai salah satu pagar besi. Beruntung Luhan mengetahui letak kamar Sehun karena beberapa hari yang lalu, Luhan melihat Sehun disalah satu beranda rumah bertingkat 5 itu.

 

Luhan berusaha memanjat sisi pagar rumah yang agar terutup itu. Gelap dan basah.. pasti air hujan tadi masih membasahi pagar besi itu. Tidak kesulitan sama sekali, Luhan dengan mudah memanjat pagar tersebut.

 

 

 

PUUKK

 

 

Ia mendarat dengan sempurna ditanah. Karena pagar itu sangat tinggi, Luhan sedikit menyerngit saat hantaman kakinya menyentuh tanah. “Aiisshhh!!” keluh Luhan kemudian berdiri dan mengusap sweaternya yang sedikit terkena basahan.

 

 

 

Luhan berjalan pelan sekali, walau sebenarnya Luhan sedikit takjub dengan dirinya yang berani memasuki rumah orang lain seperti pencuri. Mungkin karena ia dahulunya sering sekali berpetualang dengan teman- teman sepermainannya, Luhan nampak tidak sembarangan mengambil tindakan.

 

 

 

Sampai akhirnya…

 

 

“Ya! Kalian pikir aku ini anak kecil!” teriakan seseorang tertangkap dipendengaran Luhan.

 

 

Dengan langkah cepat namun waspada, Luhan melangkahkan kakinya menuju… mungkin taman yang luas dengan beberapa pondokan kecil untuk bersantai. Disana ada kolam air mancur yang indah, berhiaskan ditengah kolam mewah itu patung malaikat. Sungguh indah.

 

 

Namja manis itu bersembunyi dibalik tanaman lebat setinggi pinggang yang terletak 5 meter dari pondokan tempat namja tampan itu duduk. Mata Luhan membulat melihat … Sehun. Ya namja tampan yang sangat ia cintai itu. Kelegaan seketika itu menyeruak dihati Luhan.

 

 

“YA! KALIAN MENJAUH DARIKU ATAU AKU AKAN KABUR SEKARANG JUGA!! DAN JANGAN HARAP AKU AKAN KEMBALI KERUMAH INI!” kali ini suara Sehun terdengar sangat menyeramkan.

 

 

Para penjaga Sehun kemudian masuk kedalam rumah megah nan indah itu. Meninggalkan Sehun yang masih menggerutu kesal. Nampaknya Sehun sangat marah, karena wajah Sehun masih tertekuk. Pasti ada yang terjadi sebelum ini.

 

 

 

Setelah yakin, Luhan perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan perlahan menuju tempat Sehun, namja tampan itu belum menyadari Luhan mendekatinya karena tubuh Sehun membelakanginya.

 

 

“Se..Sehun..”

 

 

Suara mungil itu seketika membuat Sehun membalikkan tubuhnya, menatap tajam sosok yang kini berada tepat dibelakangnya.

 

 

Namun… wajah Sehun begitu tegang.

 

 

Luhan sedikit heran karena Sehun tidak langsung memeluknya seperti harapan Luhan. Wajah Sehun pucat, matanya merah, tangannya… oh Tuhan, bahkan Luhan melihat getaran hebat tangan Sehun.

 

Ada apa dengan kekasihnya itu?

 

 

“Sehun?” Luhan mencoba mendekati Sehun namun namja tampan itu berjalan mundur menjauhi Luhan. Membuat Luhan kembali kebingungan.

 

 

“Ke..kenapa kau bisa ad-” Ucapan Sehun terhenti. Ia mengepalkan tangannya, menahan keinginannya untuk memeluk namja mungil yang ia tahu… ia tahu Luhan sudah berusaha menemuinya.

 

 

“Appa tahu Sehun… nampaknya Luhan dan Jongin memiliki sebuah ikatan tidak terlihat.”

 

 

Sehun menggeleng cepat. Ingin ia lupakan ucapan sang ayah yang kembali cekcok dengannya beberapa menit yang lalu hingga membuat Sehun berlari keluar dari rumah itu menuju pondokan taman dihalaman rumahnya.

 

 

“Kau tahu, anakku? Kau sudah sangat egois..”

 

 

Sehun menatap Luhan begitu tajam.

 

 

“Kau tahu sendiri Luhan nampaknya juga menyukai Jongin… lalu mengapa kau harus terus memaksakan kehendakmu? Kau malah membuat Luhan.. yang kau bilang kau sayangi sepenuh hati.. menderita..”

 

 

 

DEG

 

 

Ucapan sang ayah terus terngiang diotak Sehun. Ia amati wajah Luhan yang sudah sangat memerah. Kebingungan akan sikap Sehun.

 

 

“K..kau menderita bersamaku, Lu?”

 

 

DEG

 

 

Pertanyaan Sehun membuat Luhan terkejut. “Apa! Ak..aku..”

 

 

“Jangan mencoba menutup mata dari apa yang sebenarnya terjadi didepan matamu, Sehun anakku. Kau merasakannya juga bukan? Hanya saja kau pura- pura buta.”

 

 

 

“Jika aku bertanya padamu kini.. siapa yang akan kau pilih? Aku.. atau… Kai?”

 

 

 

 

DEG

 

DEG

 

 

Oh Tuhan! Jantung Luhan terasa berat, seakan dihimpit sebuah batu besar. Matanya membulat sempurna, membuat benik mata berat itu meneteskan sebulir air mata kepedihan.

 

 

“Ken..kenapa kau bertanya seperti itu?” Luhan menggeleng pelan, sekali lagi air matanya terjatuh begitu saja.

 

 

Sehun mengalihkan pandangan matanya ketempat lain. Ia hanya tidak kuat melihat Luhan yang seperti itu karena ia merasa sakit luar biasa.

 

 

“Ak-“

 

 

“Pulanglah, Lu.”

 

 

Luhan begitu terkejut mendengar suara Sehun yang dingin. Bukankah tadi sore bahkan Sehun baru saja mengatakan bahwa Sehun akan selalu mencintainya. Lalu mengapa namja tampan itu kini bersikap dingin padanya?

 

 

“Se..Sehun apa yang kau katakan? Aku sudah berada disini.. aku ingin bersamamu!” Luhan tidak bisa menahan hatinya lagi.

 

 

“..Ya.. karena aku kau melakukan hal berbahaya malam- malam seperti ini… karena aku kau jadi kedinginan seperti ini… karena aku… kau pasti menderita, Lu.” Suara Sehun terdengar bergetar hebat. Ia hanya terlalu mencintai Luhan, menyalahkan dirinya sendiri atas semua susah payah yang Luhan lakukan demi dirinya.. untuk Sehun yang bahkan tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri.

 

 

“Jangan egois, Oh Sehun. Jika kau ingin melihat Luhan-mu itu bahagia… bukankah lebih baik kau melepasnya? Membiarkannya bahagia bersama orang yang lebih pantas?”

 

 

Diamlah!

 

 

Diam!

 

 

Sehun terus memaki dirinya yang masih memutar ulang tiap ucapan sang ayah. Memberikan sebuah pemahaman yang harus Sehun lakukan untuk membuat Luhan bahagia.

 

 

 

“Kau hanya menyiksanya, anakku…”

 

 

Tidak!

 

 

Tidak!

 

 

Sehun menggigit bibir bawahnya, menatap Luhan yang masih terdiam kemudian membalikkan tubuhnya. Membiarkan Luhan terpaku tidak percaya disana. Merasakan kekecewaan tiada tara.

 

 

 

“Pulanglah.”

 

 

 

 

“..lepaskan dia jika kau benar- benar mencintainya.”

 

 

 

  ∞

 

 

 

Kembalikan keyakinannya padaku

Tolong buatlah ia sadar, walau aku ragu…

Tubuhku masih memilihnya

Hatiku masih menyebut namanya

Tuhan…

Jika memang harus seperti ini…

Apa kau memberiku kesempatan untuk memilih diantara mereka?

Karena satu ikatan sudah… nyaris terlepas?

 

 

 

 ∞

 

 

Tiga hari telah berlalu semenjak hari itu, hari dimana Sehun mengusir Luhan yang datang kerumahnya. Kabar baik hanyalah keluarga Luhan bisa terus menetap di Korea. Berkat usaha Tao tentunya.

 

Dan … kenyataan buruk yang Luhan hadapi adalah Sehun bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Kejelasan hubungan mereka benar- benar buram.

 

 

 

Pagi yang indah namun terlihat kelabu dimata Luhan. Ia terus melanjutkan perjalanannya kesekolah. Belakangan ini ia tidak bisa tidur dengan tenang, bahkan tidak jarang Luhan tidak tidur sama sekali. Menyebabkan kantung matanya menghitam dan.. wajah Luhan selalu terlihat kusut. Menyembunyikan sinarnya yang dulu begitu indah.

 

 

TIINN

 

 

Luhan menghentikan langkahnya saat sebuah mobil berhenti dihadapannya. Luhan tahu begitu mobil siapa itu.

 

 

“LUHAN!”

 

 

Tanpa Luhan duga, Tao dan Chanyeol keluar dari mobil itu dengan cepat. Wajah mereka panik bukan main, membuat Luhan sedikit terkejut.

 

 

“Luhan! Kau harus ikut kami sekarang!” Tao memegang tangan Luhan erat. Wajah Tao terlihat panik, tidak ada bedanya dengan Chanyeol. Luhan sudah melontarkan berbagai pertanyaan namun kedua namja tinggi itu diam saja.

 

 

“Ada apa ini?” Luhan bertanya lagi setelah masuk kedalam mobil Tao. Luhan duduk dibangku belakang dan Tao duduk dibelakang bersama Luhan membiarkan Chanyeol yang akan mengendarai mobil Tao.

 

 

Drrtt

 

 

Drrttt

 

 

Ponsel Tao berbunyi saat itu, seperti tergesa- gesa Tao mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Baekhyun. Chanyeol menghadap kebelakang, ia belum menghidupkan mesin mobil Tao.

 

 

“Bagaimana, Bacon?” tanya Tao cepat tanpa sapaan terlebih dahulu. Luhan mengerutkan dahinya mengamati teman- temannya yang panik.

 

 

“Tidak bisa! Aku sudah mencoba mengundur keberangkatan dua pesawat itu… namun hasilnya tidak begitu memuaskan. Kalian tahu sendiri bagaimana besarnya nama dua keluarga itu.”

 

 

“Oh Tuhan..” desis Tao.

 

 

“Masih ada waktu, 20 menit lagi kedua pesawat itu berangkat. Bergegaslah!!”

 

 

Tao langsung melirik Chanyeol dan mematikan sambungan ponselnya. “Sekarang, Chanyeollie! Tidak ada waktu! Pesawat mereka akan berangkat 20 menit lagi!”

 

 

Mendengar ucapan Tao, Chanyeol langsung menjalankan mobil segan hitam mewah itu dengan kecepatan sangat tinggi. Membiarkan Luhan semakin larut dalam tanda tanya atas apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

“Kumohon jelaskan sekarang juga! Aku tidak mengerti!!” suara Luhan mengeras.

 

 

Tao memegang tangan Luhan dan menelan liurnya paksa. Tatapan mata Tao membuat Luhan semakin ingin tahu dengan apa yang terjadi.

 

 

“Maaf Lu, mama mengatakan hal ini tadi pagi padaku… jika aku tahu hal ini sejak awal.. aku pasti akan berusaha mencegahnya..”

 

 

“Katakan Tao!”

 

 

“…Se..Sehun hari ini berangkat ke Jepang dan pindah kesekolah asrama yang ada di Tokyo.”

 

 

 

DEG

 

 

 

Mata Luhan membulat sempurna.

 

 

Suara Luhan tidak keluar saat itu juga saking terkejutnya. Mata indah itu langsung meluluhkan air mata. Tubuh mungilnya bergetar dan pucat. Tao bahkan merasakan tangan Luhan yang ia genggam mendingin seketika itu.

 

 

“Kami akan membantu Luhan.. Luhan tenang saja!” Tao mencoba menenangkan Luhan.

 

 

“…..A..apa ini? dia… dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku dan dia … dia akan pergi begitu saja?” suara Luhan bergetar hebat. Tao langsung memeluk sahabatnya itu, berusaha membuat Luhan merasa tenang. Sedikit saja tidak apa- apa.. asalkan Luhan tenang.

 

 

 

“Dan hari ini juga, Kai pindah ke Autria. Ia juga melanjutkan sekolahnya disana, Lu. Jam keberangkatannya sama dengan jam keberangkatan Sehun.”

 

 

 

DEG

 

 

Seakan dihantam bertubi- tubi dada Luhan terasa sesak mendengar ucapan Chanyeol. Ucapan yang mengatakan bahwa Kai juga akan pergi… meninggalkannya. Mata Luhan kali ini tidak dapat menahan bulir air matanya.

 

 

Oh Tuhan… bahkan Tao mendengar Luhan menangis terisak dengan sangat hebat. Tubuh Luhan bergetar dan dingin. Tao terus saja menenangkan Luhan yang menangis begitu kencang. Suara Luhan yang biasanya terdengar  riang kini terdengar seperti teriakan pilu tiada henti.

 

 

“Luhannie..” Tao ikut menitikkan air matanya.

 

 

Isakan Luhan seperti akan memecahkan langit cerah saat itu.

 

 

Isakan yang bagaikan kutukan ditelinga Chanyeol dan Tao.

 

 

 

 

 

 

 

Ruang tunggu keberangkatan menuju Austria.

 

 

 

Kai duduk dikursi tunggu bersama Taemin dan Minho. Ia hanya diam, sesekali Kai menatap kearah Taemin yang memeluk lengannya erat dan merebahkan kepalanya kepundak Kai. manja sekali Taemin hari ini.. namun tidak bisa disalahkan, hari ini adalah hari terakhirnya bersama sang adik kesayangan. Kai akan pergi melanjutkan sekolahnya di Autria dan.. Kai sendiri mengatakan bahwa ia tidak tahu kapan akan kembali ke Korea.

 

Kai mengingat hari terakhirnya bertemu dengan Luhan. Mereka tidak banyak bicara, hanya sekedar sapa dan saling berbicara biasa. Kai maupun Luhan nampak sekali menahan diri mereka.

 

 

Dan Kai tidak pernah memberitahu Luhan perihal keberangkatannya. Kai pikir ini yang terbaik. Bodohnya Kai pun tidak tahu perihal Sehun yang juga akan pergi ke Jepang. Begitu pula Sehun yang tidak tahu kepergian Kai ke Austria. Mereka saling merahasiakan kepergian mereka.

 

 

Menyedihkan… berfikir saling mengorbankan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dibelakang mereka.

 

 

 

Minho tersenyum dan mengusap rambut Taemin lembut, membuat namja cantik itu mendongakkan wajahnya menatap sang kekasih. Senyuman manis kembali terlukis diwajah Taemin. Kai menatap sepasang kekasih itu dengan senyuman.. lega. Ya.. dia lega karena melihat Taemin begitu bahagia bersama Minho.

 

 

“..Jangan nakal disana.” Bisik Taemin sangat lirih ditelinga Kai.

 

Kai tersenyum dan menatap Minho. “Hey, jaga Taemin dengan baik selagi dia ada di Korea. Aku tidak akan segan- segan meluncurkan bom atom kepadamu dari Autria jika kau menyakiti kakakku lagi. Dengar, Choi Minho!”

 

Minho yang tahu sekali Kai tidak akan pernah mau memanggilnya ‘Hyung’ dengan malas memutar bola matanya.

 

“Ne, aku akan ingat perkataanmu, tuan Brother Complex.”

 

“Ya! Aku bukan brother complex!”

 

“Lalu apa?”

 

 

 

Taemin mempererat pelukannya pada lengan Kai. Senyuman manis melingkar indah dibibir Taemin, mengamati pertengkaran kecil antara Minho dan Kai yang mungkin entah kapan lagi ia lihat dan nikmati. “Aku pasti merindukanmu, adik kecilku.”

 

 

 

 

 

Ruang tunggu keberangkatan menuju Jepang.

 

 

 

Sehun.. ia hanya menatap kosong kedepan. Ia tidak banyak bicara sejak tiga hari yang lalu. Ia menutup dirinya. Kini ia duduk disebuah kursi tunggu bersama ibu-nya. Sang ibu menghela nafas panjang saat melihat ekspresi kosong sang anak.

 

 

 

“Oemma akan menemanimu hingga sampai ke Jepang, Sehun. Appa akan menyusul besok.” Sang ibu mencoba membuka pembicaraan.

 

 

Sehun hanya diam, menatap kosong lurus kedepan. Tidak menjawab perkataan sang ibu. Sehun seperti boneka yang dikendalikan dengan tali oleh orang tuanya. Dan Sehun… akan menurut kali ini.

 

 

Heechul, sang ibu lagi- lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Ia benci melihat anaknya yang seperti ini. Sehun kembali lagi kepada sosok Sehun yang dulu. Sosok Sehun yang dingin dan tidak pernah menampakkan cahaya. Dan kali ini… lebih parah.

 

 

Kembali lagi Heechul mengingat wajah Sehun yang marah padanya beberapa hari yang lalu. wajah Sehun yang menampakkan ekspresi yang begitu Heechul sukai. Anaknya itu menatapnya tajam seakan sekeras karang. Menegaskan hatinya yang memilih sebuah keputusan hidup yang baru kali itu ia lakukan.

 

 

 

“Sehun…” desis sang ibu.

 

 

 

 

 

 

 

Mobil Tao terhenti dipelataran parkir bandara Incheon. Ketiga namja itu langsung berlari masuk kedalam gedung bandara. Luhan yang paling kencang berlari hingga mereka tiba di gate keberangkatan Internasional.

 

 

Mereka terhenti sesaat. Mengatur nafas mereka yang terdengar sangat pendek. Chanyeol menatap kearah kanannya dan Tao menatap kearah kirinya.

 

 

“Sehun disebelah sana!”

 

 

“Kai disebelah sana!”

 

 

 

Oh Tuhan!

 

 

Luhan terdiam ditempatnya, menatap kedua temannya yang menunjuk kearah berbeda. Tao menunjuk kearah kiri, kearah penerbangan menuju Negara Jepang dan Chanyeol menunjuk kearah kanan.. arah dimana penerbangan menuju negara Austria.

 

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

 

Kemana?

 

 

Kemana Luhan harus berlari?

 

 

Siapa yang harus ia kejar?

 

 

Siapa?

 

 

 

 

Chanyeol membaca wajah Luhan yang benar- benar pucat pasi dan kebingungan. Waktu terus berjalan, kurang dari 10 menit lagi pesawat Kai dan Sehun akan berangkat.

 

 

 

“Luhannie.. kau akan pergi kemana?”

 

 

Pertanyaan Tao menghantam jantung Luhan seketika itu. Sesak! Luhan tidak pernah merasakan kesesakkan seperti itu. Ini jauh lebih sesak daripada perasaan ragu yang pernah ia rasakan.

 

 

“Jangan berbohong. Kau harus memutuskan sekarang Lu.”

 

 

Luhan menatap Chanyeol. Wajah Chanyeol terlihat tegang dan seketika itu Luhan melirik satu arah. Ya.. ia menatap tajam satu arah itu. Kemudian selangkah ia berjalan menuju arah itu, namun..

 

 

 

DRAP

 

 

 

Luhan berbalik arah dan berlari sekencang yang ia bisa. Membiarkan Chanyeol dan Tao berteriak memanggil namanya. Luhan menggigit bibir bawahnya, tanpa ragu tubuhnya bergerak cepat sekali, bahkan ia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi.

 

 

Luhan berlari…

 

 

Mengejar namja itu….

 

 

Namja yang ia cintai.

 

 

 

“Kumohon tunggu aku! Kumohon!! KUMOHON!”

 

 

 

 

 

 

 

Kau sudah memutuskannya..

Dan lihatlah nasib yang akan kau tempuh

Bahagia atau penyesalan?

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Sip sip sip!

Jangan bunuh saya!

Ini kepanjangan yah? Hehe

Semoga tidak bosan…

Seperti biasaaaaaaaa~

 

KOH chapter 11 itu akan di PROTECT karena chapter AKHIR! Last Chapter!!

Woohoooooooooo~~ *joget bebek bareng Kris dan Tao*

 

Nah saya pamit, wassalam ^^ *bow bareng Chanyeol

 

 

Ps: Silent Eyes dan Beloved sedang proses pembuatan. ^^

319 thoughts on “Kind Of Heart Chapter 10

  1. ya tuhan kak, TOLONG BERIKAN SAYA PW NYA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    galau SUMPAH!!!!!!
    itu luhan bakalan kemana ya allah, ini harus ngumpulin energi buat baca chapter finalnya,
    aduh sumpah lu, kalau aku yg ada diposisi kamu, aku bakalan bunuh diri…
    sumpah gak rela kalau dia milih salah satu, yaudah itu hunkai buat luhan aja dua2nya biar adil, biar gak ada yg tersakiti *plakk* *efek galau merana*
    lu gue harap lu gk salah ambil jalan ye, hikss.. doa ku menyertaimu nak *elus pala luhan* <======= apa ini abaikan…
    tapi sumpah kak, chap ini beul2 bikin GALAU !!!!!
    BAGUS ff nya sangat MEMPORAKPORANDAKAN HATI SAYA !

  2. Annyeong, aku reader bru.

    Gmn cra mnta pw ? Aku gk pnya akun.

    Hufft … Klo luhan mlih kai, sehun trskiti, dhianati 2 0rg kprcyaan sklgus.
    Klo luhan mlih sehun, lg2 kai brtpuk sblah tangan.

  3. eonniiii !!! aaaaaaa aku teriak” sendiri baca ini ff sumpah TT
    ah besok.masih UNAS …. password dong jebal ㅠㅠ
    entah kenapa pas baca aku skip.skip kaili moment
    Hunhaaaaann. TT
    DAEBAK !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s