Silent Eyes Chapter 3

Silent Eyes

CHANBAEK – KAIBAEK FanFiction

se

 

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Jongin

Main Pair : ChanBaek – Kaibaek

Other : Lu Han – Oh Sehun – Wu Fan / Kris – Huang Zitao / Tao – Do Kyungsoo – Kim JoonMyeon / Suho

Other Pair : HunHan / TaoRis / SuDo / KaiHan

Genre : Angst , Drama, Romance, School Life, Hurt, Tragedy

WARNING : YAOI / BL/ BOY X BOY / BOYS LOVE

FOR 15+ ONLY

 

Dont read my fanfiction if you dont like I used your bias with my own create character ^^

Thanks and Iam so sorry #bow

 

 

†††

 

 

Aku akan baik- baik saja

Karena kau…

Mengusir kegelapan itu dengan cahayamu

 

 

†††

 

 

 

PART 3

 

“Baekhyun-chagiya…” seorang wanita paruh baya menyampiri sang anak yang sedang termenung duduk ditepi ranjang. Senyuman wanita itu terlihat sangat pahit. Menatap anak semata wayangnya yang kini seperti kehilangan semangat hidup.

Kehilangan cahayanya… dunianya.

Semuanya.

 

Sang ibu duduk disamping sang anak yang sedikit terhenyak. Menyadari seseorang tengah duduk disampingnya melalui henyakan ranjang yang terasa olehnya.

 

“Ini oemma, chagiya.” Ujar sang ibu dengan suara amat lembut. Menyelipkan rambut coklat indah sang anak disisi telinga putihnya yang memerah.

 

“Oe..mma…” namja manis bernama Baekhyun itu tersenyum manis. Tatapan matanya nampak fokus pada satu sisi saja, menandakan bahwa matanya sudah…tidak berfungsi lagi dengan semestinya.

 

“Sudah saatnya kau makan siang, nak.”

 

Baekhyun mengangguk pelan dan berdiri dari posisinya. Sang ibu dengan sigap memegang pundak anak lelaki semata wayangnya, berusaha membantu dan membimbing Baekhyun agar tidak terjatuh atau salah arah.

 

“Oemma.. tidak apa- apa. Aku bisa sendiri.” Baekhyun memegang tangan ibunya yang memeluk lengannya. Baekhyun nampak sangat tegar.

 

“Kau yakin?”

 

Baekhyun mengangguk. “Aku sudah terbiasa, oemma. Ini sudah 3 hari aku menghuni kamar baru ini dan aku… sudah mengetahui letak barang- barang dikamar ini.”

 

Mata sang ibu tergenang saat itu juga, senyuman menyedihkan tergambarkan diwajahnya. Sang ibu yakin Baekhyun tidak akan melihat kesedihannya. Ya… tapi Baekhyun bisa… merasakannya.

 

“Oemma.. kau menangis? Mwoya?” Baekhyun mencoba menggapai tangan ibunya dan memegangnya erat.

 

“Oe..oemma tidak menangis, sayang.” Suara sang ibu yang bergetar membuat Baekhyun yakin bahwa sang ibu yang sangat ia sayangi sedang menangis.

 

“Hmm… disana tempat tidur.. disana meja dengan kursi roda, disana… lemari pakaian.. disana.. aigoo.. hmm.. ah!! Disana ada televisi. Lalu disana jendela dan didekat sini ada–” Baekhyun terhenti karena mendengarkan suara isakan sang ibu.

 

Baekhyun terdiam disana. Padahal ia ingin memberitahukan pada ibunya bahwa ia sudah mengingat susunan kamarnya dengan rinci, agar sang ibu tidak khawatir. Namun ternyata ibunya semakin larut dalam kesedihan.

 

“Maaf, oemma.. jangan menangis lagi.” Bisik Baekhyun kini menunduk sedih.

 

Sang ibu menyadari hal itu dan langsung menepis air matanya. Ia tersenyum tipis dan mengangkap wajah anaknya dengan lembut. “Maafkan, oemma. Baekhyun terlihat sangat tegar dan itu… membuat oemma sedikit… ah maafkan oemma chagiya! A..ayo kita makan.”

 

Kembali.. senyuman manis terhias diwajah cantik Baekhyun. Ibu dan anak tersebut keluar dari kamar, Baekhyun tidak dibimbing oleh sang ibu. Ia mencoba berjalan sendiri.. berjalan dengan perasaannya.

 

Baekhyun…

 

Anak yang tegar.

 

Tidak.. ia terpukul. Sangat. Namun ia sadar akan satu hal.. ia sudah tidak dapat mengembalikan hal yang sudah dirampas darinya. Ia tidak bisa dan… ia ingin melupakannya. Memulai kehidupan yang harus ia jalani walau ia… tidak sempurna lagi.

 

Ia manusia yang masih memiliki tubuh yang sehat walau matanya kini tidak berfungsi. Baekhyun anak yang memiliki otak lumayan pintar, ia tidak mau terlihat seperti orang bodoh yang selalu menyesali semuanya.

 

Jujur saja… Baekhyun tidak mengerti, mengapa ia tidak begitu ingat. Sosok namja yang menyerangnya saat itu. Memperkosanya dengan sangat keji.. Lupa. Walau tidak sepenuhnya lupa, Baekhyun dengan samar masih mengingat wajah itu serta rasa sakit dan cengkraman kuat yang begitu menakutkan. Tetapi kini sedikit buram… Padahal dengan jelas dahulunya ia ingat wajah namja itu.

 

Mungkinkah efek dari benturan dikepalanya juga?

 

Entahlah… namun Baekhyun bersyukur. Mungkin memang tidak seharusnya ia mengingat hal menyakitkan seperti itu. Lebih baik ia lupa akan semuanya. Membuka lembaran hidup yang baru dan..lebih bersyukur.

 

Itu yang membuat Baekhyun terlihat tegar.

 

Walau hatinya…menangis.

 

 

†††

 

 

“Nah kita sudah sampai, Jongin. Welcome to China!” teriak Suho setelah turun dari pesawat. Bahkan Kai baru saja menuruni tangga besi yang menghubungkan pesawat dengan aspal, Suho, hyung yang akan menjadi kakak iparnya dalam waktu dekat itu sudah heboh.

 

“Ne, hyung.” Kai tersenyum tipis dan mereka berjalan masuk kegedung bandara. Suasana siang yang terik dan hangat. Bisingnya negara terpadat didunia tersebut membuat Kai begitu memikirkan banyak hal. Apakah ia bisa menebus kesalahannya dengan mudah?

 

Tentu tidak.

 

Kai menghela nafas pelan dan mengikuti langkah kaki Suho. Setelah Suho mengantarkannya ke rumah yang akan ia tempati, Suho akan kembali ke Korea. Dan.. Kai akan berjuang sendirian untuk melakukan niatnya.

 

 

†††

 

 

Seorang namja tinggi dengan hidung mancung dan paras yang tampan sedang merapihkan tata rumahnya. Beberapa kali ia memeriksa kamar baru yang sudah ia siapkan untuk adik sahabatnya yang akan menginap dalam waktu cukup lama.

Kris, namja blasteran China-Canada itu benar- benar orang yang perfectionist. Ia tahu perihal mengapa adik sahabatnya itu datang ke China dan Kris senantiasa dengan senang hati membantu.

 

TING TONG

 

Bunyi bell seketika itu membuat Kris mendekati pintu rumahnya.

 

“Oppa! Bantu aku!” cercah namja manis dengan suara lembut itu sembari membawa dua kantung kertas berisi bahan makanan. Saking besarnya kedua kantung itu, wajah manisnya jadi tertutupi.

 

Senyuman langsung menguasai wajah namja tampan yang terkesan dingin itu. Lalu dengan cepat menangkap kedua kantung kertas dari pelukan sang namja manis.

 

“Tao… terima kasih sudah mau membantuku berbelanja.”

 

“Sama- sama, oppa.” Jawab namja manis itu mengangguk. “Waah.. tumben sekali rumah oppa sebersih ini. Sepertinya oppa benar- benar ingin menyambut tamu itu dengan keadaan yang sempurna.”

 

“Tentu.”

 

Kris masuk kedalam dapur dan menyusun beberapa bahan makanan yang dibeli oleh Tao didalam lemari pendingin. Sedangkan namja manis bernama Tao itu duduk disofa yang terdapat pada ruang televisi. Senyuman manis kembali terlukiskan diwajah sempurna Kris.

 

‘Oppa.’

 

Lucunya… sangat lucu sekali mendengar ucapan namja manis itu saat memanggilnya ‘oppa’. Mengherankan memang, namun ada alasan mengapa Tao, seorang namja memanggil namja yang lebih tua 4 tahun darinya itu dengan panggilan ‘oppa.’.

Sederhana..

Sebulan yang lalu, saat mereka bermain kartu. Tao kalah dan mendapat hukuman dari Kris untuk memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Tanpa tahu arti sebenarnya dan tanpa curiga, Tao menyetujuinya. Tao memang bisa bahasa Korea, namun hanya yang diajari oleh Kris. Dengan sengaja Kris mengatakan bahwa arti ‘Oppa’ yang sebenarnya adalah panggilan untuk kakak laki- laki. Kris tidak menjelaskan bahwa panggilan itu digunakan hanya oleh wanita saja.

 

“Oppa, jam berapa teman oppa akan datang?” tanya Tao dari ruang televisi.

 

“Mungkin sebentar lagi, Tao.” jawab Kris sembari menutup pintu lemari pendingin dan berjalan menuju ruang televisi.

 

“Kau ingin makan apa malam ini?”

 

“Aku? Tidak.. aku akan pulang kerumah mama malam ini.”

 

Wajah Kris langsung berubah mendengar ucapan Tao. “Mama?”

 

“Iya. Mama menanyakan kabar oppa. Hmm.. mama bilang lebih baik oppa kembali kerumah saja. Akan lebih ba-”

 

“Tidak, Tao!”

 

Suara berat yang amat dingin menghentikan perkataan Tao. Seketika itu, namja manis itu tersadar. Dengan mata penuh rasa bersalah ia menatap namja tampan yang kini duduk disampingnya.

 

“…aku tidak akan kembali kerumah itu.”

 

“Oppa…” desis Tao pelan.

 

“Kau tidak akan mengerti Tao.. wanita itu tidak mengerti bagaimana perasaanku. Yang mengatakan cintaku padamu adalah hal terlarang. Apa yang terlarang? Kita bukanlah saudara kandung.”

 

Tao seketika itu menunduk. “Maafkan mama, oppa. Dia-“

 

“Sudah, Tao… jangan membahas wanita itu. Membuat suasana hatiku tidak nyaman.”

 

Dengan pelan namja manis itu mengangguk. Ia lirik jam tangannya dan menghela nafas pelan. “Nampaknya sudah waktunya aku pulang, oppa.”

 

Kris terdiam menatap televisi yang menyala. Entah apa yang ia pikirkan, yang pasti ia tidak rela jika Tao pergi. Namun ia tidak bisa memaksa Tao terus menerus.

 

Tao memasang jas sekolahnya dan menyandang tas sekolahnya dengan benar. Ia tersenyum sesaat melihat Kris yang masih duduk disofa. Diam dan tidak menjawab perkataannya.

 

“Oppa, aku per-“

 

Ucapan Tao terhenti saat Kris dengan cepat menarik Tao dan mencium bibir namja manis itu dengan lembut namun terkesan memaksa. Ciuman Kris yang begitu menuntut, membiarkan namja manis itu terhanyut cukup dalam. Ciuman itu beberapa kali terputus dan kembali menyatu. Hingga bibir mereka memucat akibat tekanan penuh gairah.

 

TING TONG

 

Kris menghentikan ciumannya. Namja manis itu mengusap sudut bibirnya yang basah kemudian menatap punggung Kris yang mendekati pintu rumahnya.

 

 

“HYAAA~ Kris!! Annyeong!” sapa seseorang diluar pintu saat Kris membuka pintu rumahnya.

 

“Omo! Suho!! Kau sudah datang!” Kris langsung memberikan pelukan antar lelaki pada sahabatnya itu. Tao memiringkan wajahnya dan tatapan matanya menangkap sosok namja tampan yang berada dibelakang namja bernama Suho yang dipeluk oleh kekasihnya.

 

“Kau benar- benar bertambah tampan, Kris!” Suho menepuk pundak Kris keras setelah melepaskan pelukan mereka. “Ah, ya! Ini.. namanya Kim Jongin. Adik dari kekasihku.”

 

Kai menunduk sopan. “Kim Jongin… im..nida.”

 

Kris mengangguk. “Wu Fan imnida. Tenang saja, aku lancar berbahasa Korea… ah silahkan masuk.”

 

 

 

Mereka masuk kedalam rumah megah Kris yang minimalis. Tao tersenyum saat melihat Suho mendekatinya dan menunduk sopan.

 

“Wo shi Huang Zitao.” Ujar Tao dengan bahasa China.

 

Suho mengalihkan pandangannya pada Kris karena tidak mengerti ucapan Tao. Dengan senyuman manis Kris berdiri disamping Tao. “Ia mengatakan bahwa namanya Huang Zitao.”

 

“Ah.. Tao? Jadi anak ini yang bernama Tao itu? Adik tirimu itu, Kris?”

 

“Ya.. namun sekarang ia kekasihku, Suho.”

 

“Ya Tuhan.. kau benar- benar melakukannya?” Sepertinya Suho mengetahui semuanya. Kris memang selalu menceritakan perilah Tao pada Suho saat Kris masih tinggal di Korea karena ikut dengan ayahnya. Sedangkan Tao tinggal di China ikut dengan ibunya.

Perceraian…

Itulah yang memisahkan mereka. Saat Tao masih bayi, ibu Tao menikah dengan ayah Kris namun saat umur Kris masih 10 tahun dan Tao 6 tahun, perceraian terjadi. Membuat Kris dan Tao terpisah dalam waktu yang cukup lama. 5 tahun.

 

“Sudahlah jangan membahas hal itu. Hmm..” tatapan mata Kris kini menangkap Kai yang mengamati rumah Kris dengan seksama. “Nampaknya Tao dan.. Jongin seumuran?”

 

Kai langsung mengalihkan tatapan matanya pada Kris dan tersenyum segan. “Aku.. aku masih kelas 1 sekolah menengah atas, Kris-ge.”

 

“Hmm.. sama dengan Tao. Dia juga masih kelas 1. Bagaimana kalau aku memasukkanmu kesekolah yang sama dengan Tao.” ujar Kris sembari berfikir.

 

“Aku ingin satu sekolah dengan namja yang… kutabrak itu, ge.” Jawab Kai dengan pasti. Walau tidak yakin namja itu akan bersekolah lagi atau tidak.

 

“Ah, benar juga! Itulah tujuanmu. Kebetulan sekali apartemen itu hanya berjarak satu blog dari rumahku.” Jelas Kris sembari memeluk pundak Tao. Sepertinya Suho sudah mengatakan semuanya pada Kris bahkan alamat apartemen Baekhyun.

 

Mendengar itu, Kai langsung terlihat antusias. “Benarkah, ge?”

 

“Benar. Padahal lebih baik kau satu sekolah dengan Tao. Anak ini bisa menjadi guide-mu. Tao fasih berbahasa Korea dan Inggris.”

 

“Fasih?” Suho langsung menatap Tao dengan tatapan, ‘Aku dikerjai’. Menyadari itu, Tao menggaruk kepalanya dan tersenyum pada Suho.

 

“Aku hanya ingin memperkenalkan diri dengan bahasa China. Hehe~ Bukan bermaksud mengerjai, ge.” ujar Tao dengan penuturan bahasa Korea yang begitu fasih.

 

Seketika itu, Kris dan Suho tertawa keras karena ucapan Tao. Sedangkan Kai menatap keluar jendela sembari tersenyum pada kupu- kupu mungil berwarna kuning cerah masuk kedalam rumah Kris.

 

Welcome… China..

 

 

†††

 

 

Kai masuk kedalam kamar barunya, Kris mengantarkan Kai namun kemudian ia membiarkan Kai untuk beristirahat. Rencana nya Kris dan Suho akan pergi kesuatu tempat. Tao sudah pulang lima menit yang lalu. Kini lelaki tampan itu tengah menyusun pakaian yang berada didalam travel bag-nya kedalam lemari pakaian.

Melihat tatanan kamar barunya itu, Kai benar- benar merasa berterima kasih. Bagaimana tidak? Kamar itu sangat rapih dan bersih. Membuat perasaan nyaman dengan wallpaper putih bersih dan ukiran emas yang rumit namun indah. Jendela yang dekat dengan sebuah meja. Mungkin Kris menyiapkan meja belajar untuk Kai. Kamar itu indah.

 

Bersyukur sekali Kai, masih banyak orang- orang baik yang berada disekitarnya. Membuatnya nyaman dan berterima kasih. Nampaknya Tao juga anak yang baik. Dari yang tertangkap oleh Kai, Tao adalah adik tiri Kris dan.. kekasih. Memang hubungan yang rumit.

 

SRAK

 

Mata tajam Kai kini tertaut pada selembar foto yang baru saja keluar dari travel bag-nya. Seketika itu kesedihan kembali merasuki hati Kai, foto Luhan.

 

“….Mengapa foto itu bisa terbawa?”

 

Kai mengambil foto itu dan menatap foto namja cantik yang kini tengah tersenyum manis sembari memeluk boneka rusa berwarna merah muda. Baju musim dingin yang Luhan kenakan berwarna putih, serasi dengan kulit putih beningnya. Seperti malaikat… malaikat Kai dahulunya.

 

Mata tajam itu memberat. Dengan cepat, Kai memasukkan foto itu kembali kedalam koper. Memurukkannya kedalam tempat terdalam. Kai mengusap wajahnya, menepis rasa cinta yang masih tertinggal. Sulitnya… sangat sulit mengubur secara paksa rasa yang masih memuncak.

 

 

Setelah selesai merapihkan semua barang- barangnya, Kai mendekati jendela kamarnya dan menyibak tirai tipis putih selembut sutra. Ia tatap pemandangan kota yang begitu asing baginya. Benar- benar tidak ia kenali, sama sekali tidak. Namun Kai bersyukur, ia masih bisa melihat dan merasakan keasingan itu.

 

Kai berfikir… bagaimana rasanya berada dikota yang begitu asing tanpa pernah melihatnya secara langsung? Merasakannya namun tidak bisa melihatnya.

 

“…Kebetulan sekali apartemen itu hanya berjarak satu blog dari rumahku.”

 

Ia berfikir sejenak kemudian menatap pemandangan diluar jendela yang begitu asing. Apakah bodoh jika ia mengandalkan instingnya untuk mencari namja itu kini ditengah hiruk pikuk kota yang sama sekali tidak ia kenali?

 

Kai kemudian mengambil ponselnya dan mencari aplikasi ponselnya. Nomor ponselnya sudah diganti menjadi nomor kode negara China. Bisa dipastikan tidak ada yang tahu nomor itu selain Suho, Kris, dan Kyungsoo.

Perlahan Kai berjalan keluar dari kamarnya. Sedikit lega karena ponsel yang baru dibelikan oleh Suho memiliki aplikasi yang amat lengkap bahkan memiliki GPS.

 

“Tidak ada salahnya jika aku berjalan- jalan disekitar sini.”

 

 

†††

 

 

Baekhyun tengah mencoba menuruni tangga gedung apartemennya. Sangat perlahan ia berusaha menuruni tangga itu, hanya berpatokan pada pegangan tangga besi, Baekhyun terus mencoba merasakan setiap langkah kakinya. Meresapi dengan pendengaran dan kulit tubuhnya. Baekhyun merasakan seseorang baru saja melewatinya. Ah.. pasti penghuni apartemen lain. Baekhyun terus berusaha menuruni tangga itu pelan- pelan.

 

“Oke…. anak tangga dari lantai 2 kelantai 1 hanya berjumlah 20 anak tangga.” Baekhyun mengangguk pelan. Tangannya kemudian meraba kesembarangan tempat. Berusaha mencari dinding atau pegangan.

 

“Yuanliang, wo keyi bang ni?” /Permisi, biar saya bantu./

 

Baekhyun merasakan seseorang menuntunnya.

 

“Shi shui ne?” tanya Baekhyun pelan memberi senyuman manis.

 

“Zhè jian gongyu de bao’an rényuán.” / Petugas keamanan diapartemen ini./

 

“Ah.. xie xie..” Baekhyun mengangguk pelan dan mencoba berjalan lagi. Petugas keamanan itu kembali bermaksud membantu namun Baekhyun menolak dengan halus dan mengatakan bahwa ia akan baik- baik saja. Ia hanya sedang menghapal dan membiasakan diri. Akhirnya petugas keamanan itu mengangguk dan hanya mengamati Baekhyun yang masih berusaha untuk melatih kemampuan perasanya dari pada penglihatannya yang sudah tidak berfungsi lagi.

 

Kaki Baekhyun melangkah keluar dari apartemen. Bisa ia rasakan terpaan sinar matahari yang kini menyentuh kulitnya. Hangat… Baekhyun tersenyum. Mengapa baru ia sadari, sinar matahari itu membuat perasaan lega. Kulitnya seakan bernafas dengan lancar. Baekhyun kembali berjalan selangkah demi selangkah dan merasakan tangannya menyentuh.. dedaunan. Ada pohon berukuran bongsai disana. Terus Baekhyun langkahkan kakinya hingga tangannya meraba sebuah tembok didepannya.

 

Ia raba tembok itu dengan kedua tangannya. “Apa ini… pagar tembok apartemen?”

 

 

†††

 

 

“Apa ini… pagar tembok apartemen?”

 

Seseoang terhenti disana…

 

Namja tampan yang kini berdiri satu meter dari Baekhyun membulatkan matanya. Melihat namja manis, Baekhyun, itu kembali melangkahkan kakinya sembari terus memegangi tembok pagar itu sebagai tumpuannya. Tubuh namja tampan itu bergetar hebat, hatinya miris, dan berkali- kali ia ucapkan kata maaf didalam hatinya.

 

“AH!!”

 

Baekhyun menyandung sebuah batu dan…

 

GREEPP

 

Tanpa bicara, namja tampan itu langsung menangkap tubuh Baekhyun. Membiarkan lengan kokohnya menangkup tubuh mungil itu. Wajah Baekhyun terlalu dekat dengan wajahnya. Namja tampan itu menaati setiap inci lekuk wajah yang terlihat begitu bening saat diterpa matahari.

 

Malaikatkah?

 

Mengapa ia begitu terlihat murni? Putih… bening… murni… indah.. tergabung dalam satu tubuh yang ada didalam peluknya.

 

Deru nafas yang saling menyentuh kulit wajah mereka sedikit membuat kedua namja itu terhanyut. Merasakan lebih dalam sebuah bukti kehidupan yang mengikat. Membuktikan bahwa mereka hidup dan… bisa merasakan.

 

“Dui bu qi..” seakan tersadar, Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari tubuh namja yang telah membantunya itu. “Xie..xie..” Baekhyun mencoba tersenyum.

 

Namja tampan itu menatap sendu mata Baekhyun yang tertahan pada satu titik. Menandakan bahwa mata itu sudah tidak bisa menangkap cahaya dunia. Terhenti dalam kegelapan.

 

“…kenapa kau yang minta maaf?”

 

“Eh?” Baekhyun mengerutkan dahinya. “Kau… orang korea?”

 

Namja tampan itu diam saja. Masih menatap lekat mata kosong Baekhyun, benar.. dia yang membuat mata itu kehilangan fungsinya. Membiarkan namja manis itu berada didalam dunia berwarna hitam .

 

“Hey… kau masih disana?” tanya Baekhyun sembari mengarahkan tangannya kedepan. Mencoba mencari keberadaan orang yang menolongnya itu.

 

“Aku disini.” Jawab Kai dengan suara yang amat lirih.

 

Baekhyun mengerutkan dahinya dan tersenyum manis. “Syukurlah..entah mengapa aku jadi lega sekali menemukan orang Korea disini.”

 

Tuhan… senyuman itu. Kai membulatkan matanya, merasakan jantungnya tertindih setiap melihat senyuman namja itu. Bukan senyuman tegar ataupun senyuman tersiksa, hanya senyuman simpul yang manis. Mengapa? Bukankah beban yang ia tanggung sangat berat? Diperkosa kemudian buta… dan kini ia bisa tersenyum semanis itu? Seakan lupa akan semua masalahnya atau.. ia memang melupakannya?

 

“Na..namaku Kim Jongin. Kau bisa memanggilku dengan Kai.”

 

Baekhyun terdiam sesaat, entah mengapa ia merasakan hatinya sedikit linu. Mendengar suara namja yang entah siapa dihadapannya itu terdengar lirih.

 

“Kai.. perkenalkan. Aku Baekhyun. Byun Baekhyun.” Baekhyun kali ini tersenyum tipis. Namun kembali namja yang ia tahu bernama Jongin atau Kai itu diam. Sebenarnya apa yang Kai itu lakukan sampai berkali- kali terdiam?

 

Dan… mengapa Baekhyun seakan menangkap kesedihan dari keberadaannya?

 

“Bolehkah setelah ini… aku selalu ada disampingmu? Melindungimu… semampu yang aku bisa?”

 

Baekhyun membuka kelopak matanya lebih besar. Sungguh… ia terkejut mendengar penuturan Kai. Baekhyun mengarahkan tangannya lebih tinggi, bermaksud menggapai wajah Kai. Baekhyun tidak tahu mengapa tangannya seakan bergerak sendiri.

 

Kai memajukan tubuhnya agar Baekhyun bisa menggapai wajahnya. Mata kosong Baekhyun membuat Kai menelan kasar liurnya. Kini tangan Baekhyun tengah menyentuh pipi Kai, menyusul tangan Baekhyun satu lagi mulai meresapi pipi Kai.

 

Pelan.. Baekhyun menyentuh bibir tebal Kai, menghapal lekuk sempurna yang tidak bisa ia lihat. Hidung mancung Kai, bentuk kedua pipi Kai, dagu indah namja itu.. dan perlahan Kai menutup kelopak matanya. Membiarkan Baekhyun menyentuh kedua mata Kai dengan kedua tangannya, menyentuh bulu mata panjang Kai. sangat taat dan kusyuk.

 

“Tampan…”

 

Seketika itu Kai membuka matanya dan melihat tangan Baekhyun sudah tidak menyentuh bagian- bagian wajahnya lagi. Hey.. tunggu! Baekhyun baru saja mengatakan bahwa dirinya tampan? Bagaimana bisa?

 

“..Wajah Kai pasti sangat tampan. Lekuk wajahmu… akan kuhapal.”

 

DEG

 

Kai merasa jantungnya bergejolak. “A..ah.. menghapal wajahku?”

 

“Bukan hanya itu… aku juga akan menghapal suara Kai. Karena aku ingin berteman dengan Kai.” Baekhyun kembali memamerkan senyuman manisnya.

 

“Teman?”

 

Hey, Kai adalah orang yang menabrak Baekhyun.. dialah yang membuat Baekhyun buta. Dan dengan polosnya Baekhyun ingin berteman dengannya? Tentu, karena Baekhyun tidak tahu yang sebenarnya. Apa jadinya jika Baekhyun tahu bahwa Kai yang menanbraknya malam itu? Baekhyun pasti akan membencinya… menyalahkannya dan menjauhinya.

 

Benar… dan Kai pasti tidak akan bisa minta maaf.

 

Kai meneguk paksa liurnya dan menatap Baekhyun yang masih tersenyum. Tidak! Ia tidak akan mengatakan pada Baekhyun bahwa ialah penyebab kebutaan Baekhyun. Kai akan membayarnya dan Baekhyun tidak perlu tahu akan siapa diri Kai yang sebenarnya.

 

GREP

 

Kai menggenggam tangan Baekhyun. “Mulai dari sekarang kita akan selalu bersama… aku akan menjadi penegak dan berdiri disampingmu. Bolehkah.. Baekhyun?”

 

Wajah Baekhyun merona merah sekali. Kemudian senyuman manis… ya Tuhan, Kai bersumpah senyuman namja manis itu sungguh sangat murni dan bersinar. Jangan hukum ia jika menganggap Tuhan lalai telah menjatuhkan salah satu malaikatnya kedunia.

 

“Sebenarnya Kai siapa? Malaikatkah?”

 

Mata Kai memberat. Ia tersentuh… padahal baru saja ia berfikir bahwa Baekhyun laksananya seorang malaikat, namun namja manis itu malah mengatakan Kai lah seorang malaikat.

 

 “Polosnya dirimu yang menganggapku yang bodoh ini malaikat, Baekhyun. Dan jika kau tahu bahwa aku penyebab kegelapan menguasai hidupmu… mungkin kau akan menganggapku makhluk terkutuk yang paling kau benci.

 

“Aku manusia.” Jawab Kai akhirnya. “Manusia yang akan membantumu.”

 

Baekhyun heran. “Pernahkah kita bertemu sebelumnya?”

 

“Ini yang pertama.”

 

“Lalu.. mengapa kau mengatakan bahwa kau akan melindungiku.. selalu disisiku.. padahal kita baru saja bertemu? Maaf.. tapi.. itu tidak masuk akal.”

 

Kai tersenyum dan mengusap rambut Baekhyun pelan. “Percayalah.. semua adalah takdir.”

 

Baekhyun terlihat akan tertawa namun ia urungkan niatnya dan menutup mulutnya dengan tangan. “Kai ternyata orang yang lucu.. atau jangan- jangan kau lelaki perayu. Hihi..”

 

“M..Mwo? Lelaki perayu? Bu..bukan!! Bukan aku tidak bermaksud merayumu?!” wajah Kai nampak sangat merah. Sepertinya ia jadi terlihat memalukan karena banyak omong.

 

 “Aku tahu… tidak usah panik. Hmm.. aku akan kembali masuk, oemma pasti akan cemas jika aku terlalu lama diluar. Sampai jumpa.” Baekhyun melambaikan tangannya. Ketika Baekhyun membalikkan badannya dan berjalan pelan. Langkah Baekhyun terhenti saat mendengar suara Kai.

 

“Bolehkah Baekhyun? Kau belum menjawabnya…”

 

Baekhyun tersenyum, tanpa membalikkan tubuhnya Baekhyun menjawab. “Apartemenku terletak dilantai dua bangunan ini. Apartemen nomor 008. Berkunjunglah bila ada waktu.”

 

Mata Kai membulat mendengar ucapan Baekhyun. Ia tatap punggung namja mungil yang kini sudah masuk kedalam gedung apartemen. Kai memperhatikannya hingga pintu kaca otomatis tertutup setelah Baekhyun masuk kedalam apartemen itu. Begitu tertatih namun Baekhyun berusaha sekali melakukan semuanya sendiri. Bahkan Kai sempat melihat Baekhyun menolak pertolongan petugas keamanan apartemen itu.

 

Tegar..

 

Dan.. murni.

 

Kai kembali melangkah, menjauhi apartemen itu. Dan kelegaan sedikit menggerogoti hatinya. Walau hanya sedikit. Kai senang… Kai lega… Kai bersyukur.

 

Bersyukur karena pertemuan pertama yang ia duga akan sangat buruk malah… membuatnya bahagia seperti ini. Benar, Kai bahagia. Karena senyuman ini… melihat namja itu tersenyum bahagia. Padahal masih ia ingat dengan jelas, wajah pucat Baekhyun yang berteriak karena trauma saat di rumah sakit Korea. Masih ingat jelas betapa menyedihkannya sosok Baekhyun saat itu.

 

Kai mempercepat jalannya, ia ambil ponselnya dan melihat peta di ponsel canggihnya itu.

 

“Toko buku… ada disimpang itu!!”

 

Kemudian Kai berlari menuju tempat yang ia tuju, kali ini senyuman cerah melengkung indah diwajah tampannya. Menyiratkan sebuah niat yang amat tulus didalam hatinya.

 

 

†††

 

Korea saat itu.

 

“Kau melamun lagi?”

 

Pertanyaan itu masuk kedalam pendengaran Chanyeol yang kini tengah duduk termenung bersandar pada dinding, menatap langit siang yang terik. Ia dan Xiumin, sahabat baiknya, membolos dan bermalas- malasan diatap sekolah. Tentu Xiumin memiliki kunci atap itu. Ia menguasai segalanya disekolah itu.

 

“Hey~ aku bicara padamu, Chanyeol bodoh!!”

 

Chanyeol memutar bola matanya dan menatap sahabat baiknya itu dalam. “Kalau aku melamun memangnya kenapa?”

 

“Hanya khawatir kau akan kerasukan.”

 

“Kalau aku kerasukan, kau duluan yang akan kubunuh.”

 

“Mwo? Tega sekali kau pada teman baikmu yang polos ini.”

 

Chanyeol menatap aneh Xiumin yang asik memainkan boneka baozi-nya. Boneka pao khas China yang imut dan lucu. Boneka kesayangan Xiumin.

 

“Kau ini lelaki… suka sekali bermain boneka, oeh? Jinjja!!”

 

“Hey! Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya jangan mengatakan argumen sembarangan! Memangnya kau sendiri tidak aneh, oeh? Bisa- bisanya bersantai padahal kau sudah memperkosa anak orang.”

 

“Ya! Ya! Ya!!! Mana aku tahu itu bukan orang suruhanmu!”

 

“Seharusnya kau bersyukur polisi tidak mencarimu, bodoh!”

 

“Berarti namja bernama Baekhyun tidak masalah aku memperkosanya.”

 

“Hyaaa!! Pikiranmu benar- benar bodoh!” Xiumin dengan geram melempar bungkus sandwich kosongnya pada Chanyeol. Beruntung Chanyeol bisa menangkap lemparan itu dengan mudah.

 

Kemudian hening.

 

“Hey.. roti pao.” Mulai Chanyeol.

 

“Hmm?”

 

“….bohong jika aku tidak merasa bersalah.”

 

“Eh?” Xiumin menatap teman baiknya itu lekat.

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan menatap langit cerah siang itu. “Rasanya dia menghantuiku… bukan! Bukan dia.. tapi rasa bersalah.”

 

Xiumin memeluk boneka berbentuk baozi-nya erat dan tersenyum tipis. “Wajar, Chanyeol. Kau namja baik, makanya kau dihantui rasa bersalah setelah melakukan kesalahan. Bersyukurlah kau masih merasa bersalah. Setidaknya dosamu pada Tuhan akan berkurang.”

 

“Ya! Aku sedang bicara serius!!”

 

“Aku juga serius, bodoh! Dengar.. percayalah padaku, bahwa kau tidak akan bisa lepas begitu saja. Kau akan terus terhubung dengan namja bernama Baekhyun itu sampai urusanmu dengannya tuntas.”

 

Chanyeol berdiri dan mendekati tepian atap. Ia tatap semua yang bergerak dibawah sana. Xiumin ikut bangkit dan berdiri disamping Chanyeol.

 

“Kalau kau minta maaf saja… kurasa itu tidak akan cukup, Yeol.”

 

“Aku juga merasa begitu, Xiumin. Apalagi setelah aku tahu dia…mengalami kecelakaan setelahnya. Apa dia.. baik- baik saja?” wajah Chanyeol terlihat sedikit tertekuk… pasti ia sedang berfikir.

 

Xiumin memegang pundak Chanyeol. “…Yang harus kau lakukan adalah menebus kesalahanmu.”

 

“Dan aku tidak tahu caranya, Xiumin. Aku tidak tahu…” ujar Chanyeol lirih.

 

 

†††

 

 

-China-

 

Malam harinya.

 

Kris menaruh makan malam yang baru saja ia buat diatas meja makan. Ia siapkan porsi untuk dua orang, untuk dirinya dan untuk Kai. Setelah menyusun rapih, ya… semua harus perfect.. itulah Kris. Ia manusia yang jarang menerima kekurangan akan pekerjaan yang ia lakukan. Kris adalah manusia yang total akan segala hal yang ia lakukan.

 

“Selamat malam, Kris-ge.” Sapa Kai sembari menunduk sopan pada Kris. Kai baru saja selesai mandi. Rambutnya bahkan masih terlihat basah.

 

“Selamat malam, Jongin. Nah, makan malam sudah siap. Ayo kita makan terlebih dahulu.” Ajak Kris.

 

Kai mengangguk dan duduk berhadapan dengan Kris. Suasana makan malam itu awalnya hening, kemudian Kai memulai pembicaraan.

 

“Ge, terima kasih sudah mau membantuku.”

 

Kris tersenyum manis sembari meneguk soda-nya. “Tidak masalah. Justru aku merasa kau sangat hebat dan bertanggung jawab, Jongin. Jarang sekali ada yang mau mati- matian minta maaf sepertimu hingga menyusul namja itu ke China.”

 

“Aku hanya… aku hanya tidak bisa tenang jika aku tidak melakukan sesuatu untuk Baekhyun.” Kai tersenyum tipis.

 

“Jadi nama namja itu…Baekhyun?”

 

Kai mengangguk. “Hmm.. maaf jika aku bertanya seperti ini Kris ge. Aku tidak punya maksud lain… hanya saja.. anak bernama Tao itu kapan saja datang kesini?”

 

Kris mengerutkan dahinya. “Tao? Dia datang sesuka hatinya. Ia punya kunci rumah ini. Memangnya ada apa?”

 

“Aku membeli beberapa buku tentang cara berkomunikasi dengan… orang buta. Dan buku yang kubeli..semua berbahasa China.. itu.. aku memang bisa bahasa China karena di sekolahku diajarkan bahasa tesebut. Namun ternyata beberapa tulisan tidak bisa kubaca.” Kai tersenyum segan.

 

“Jadi kau mau minta tolong pada Tao?”

 

“Bukan maksudku tidak ingin minta tolong pada gege atau ingin mendekati kekasih ge.. bukan! Tapi sepertinya…” Kai melirik ruang kerja Kris yang terletak agak jauh dari sana. Dan bisa dilihat betapa berantakan ruang tersebut. Sepertinya kekacauan itu adalah bukti bahwa Kris sebenarnya sibuk. Bagaimana tidak, Kris bekerja sebagai salah satu arsitek muda berbakat disebuah perusahaan negara.

 

Kris tersenyum manis dan mengangguk, ia mengerti arah pandang Kai. “Rupanya kau anak yang pemikir, Jongin. Baiklah.. Tao setiap hari datang kesini. Biasanya aku akan menjemputnya pagi hari untuk mengantarkannya kesekolah, dan sepulang sekolah ia akan langsung kemari. Jadi sore hari kalian bisa mendiskusikannya.”

 

“Terima kasih, ge! Sungguh.. terima kasih.” Senyuman pasti terlukis diwajah tampan Kai. Dengan lahap kemudian ia memakan masakan Kris yang sangat lezat.

 

“He, Jongin. Kau… mengapa begitu mati- matian untuk namja bernama Baekhyun itu?”

 

Kai nampak berfikir. “Karena aku sudah berbuat salah padanya, ge. Aku membuatnya..buta.”

 

“Apa kau yakin hanya karena hal itu?” tanya Kris sedikit menyelidik.

 

“Eh?”

 

“Tidak.. aku hanya menduga.. apa kau menyukai namja bernama Baekhyun itu?”

 

DEG

 

Mata Kai membulat sempurna mendengarkan pertanyaan Kris. Tiba- tiba dadanya bergemuruh dan semburat merah menghiasi pipi Kai. Secepatnya Kai menunduk dan memakan kembali makan malamnya. Kai tidak menjawab pertanyaan Kris dan Kris akhirnya ikut melanjutkan makannya. Hening setelah itu.

 

Aku menyukainya..? Benarkah?

 

 

†††

 

 

 

Keesokan harinya.

 

Siang yang tidak terlampau terik. Mendung mendominasi langit China saat itu. Kai kembali berjalan menuju apartemen Baekhyun. Ya.. memang inilah kegiatan yang akan ia lakukan setiap hari.. mulai dari sekarang dan seterusnya.

 

Sebuah kotak musik berada ditangan Kai, ia baru saja membelinya disebuah toko saat menuju keapartemen Baekhyun. Langkah Kai begitu mantap, hingga tidak terasa Kai sudah sampai didepan apartemen Baekhyun.

 

Senyuman pasti terlukis indah diwajah tampannya. Setelah itu Kai masuk kedalam apartemen dan menaiki tangga, padahal ada lift disana, namun Kai tidak mau menggunakannya. Ia berfikir… pasti Baekhyun selalu menggunakan tangga karena Baekhyun ingin sekali menghapal setiap inci apapun yang ia temukan. Keinginan kuat Baekhyun untuk belajar mandiri sangat menyentuh hati Kai.

 

“008.” Ujar Kai saat berada didepan pintu apartemen bernomorkan 008.

 

TING TONG

 

Kai menekan tombol bell. Sesaat ia tatap kotak musik yang ada ditangannya dan sedetik kemudian matanya teralih pada pintu yang terbuka.

 

“Selamat siang.” Sapa Kai saat melihat seorang ibu membukakan pintu apartemen itu.

 

“Se.. selamat siang.” Nampaknya ibu itu cukup terkejut karena yang bertamu keapartemennya adalah orang Korea. Sama sepertinya. “Mencari siapa, nak?”

 

“Baekhyun… aku teman..Baekhyun.” jawab Kai sopan.

 

Mata sang ibu membulat. “Teman..Baekhyun? Ah! Ma..masuklah nak.” Ajak sang ibu dengan senyuman riang. Kai mengangguk dan masuk kedalam apartemen serba putih itu. Apartemen yang tidak terlalu mewah namun minimalis dan nyaman. Apartemen itu cukup luas dengan perabotan yang tidak terlalu banyak.

 

“Baekhyun sedang ada dikamarnya. Ibu akan panggilkan dulu. Duduklah dulu, nak.” Ujar sang ibu lembut.

 

Kai tersenyum tipis dan duduk di sofa yang berhadapan dengan televisi. Apa itu ruang keluarga atau ruang santai, yang pasti Kai merasa nyaman sekali, mungkin karena ruangan itu serba putih. Kai merasakan perasaan tenang. Dan warna putih entah mengapa sudah menjadi pembawaan Baekhyun dimata Kai.

 

“..Kai? Kau kah?”

 

Suara lembut merasuki pendengaran Kai dan melihat seseorang berjalan kearahnya. Tidak dibimbing oleh ibunya, ia berusaha berjalan sendiri. Kai seketika itu berdiri dan berjalan menghampiri Baekhyun yang masih mencoba berjalan mendekatinya.

 

“Iya.. aku Kai.” jawab Kai menyambut tangan Baekhyun yang mencoba menggapainya.

 

Ibu Baekhyun kemudian berjalan dari kamar Baekhyun dan tersenyum tipis. Bisa dilihat mata sang ibu nampak berat. Kai melihat sang ibu dan tersenyum. Ibu Baekhyun mengangguk pelan dan mendekati mereka.

 

“Baekhyunnie.. ini temanmu? Jadi ini lah namja yang kau ceritakan tadi malam? Temanmu yang bernama Kai?” tanya sang ibu pelan.

 

Baekhyun mengangguk mantap. “Ne, oemma.”

 

Ibu Baekhyun menatap Kai yang kini membimbing Baekhyun untuk ikut duduk disofa bersamanya. Senyuman tulus yang Kai berikan pada Baekhyun malah membuat hati sang ibu tersentuh. Bersyukur karena masih ada yang mau membimbing anaknya dengan penuh kesabaran…  

 

“Baekhyunnie.. kau benar, nak…. Kai itu namja yang sangat tampan.” ujar sang Ibu seraya mengusap rambut Baekhyun.

 

“Benarkan, oemma? Dari lekukan wajahnya saja aku tahu… Kai pasti namja yang sangat tampan. ah.. aku ingin melihat wajahmu~ ” Baekhyun kembali mengarahkan tangannya pada wajah Kai. Namun tangan Baekhyun sepertinya belum bisa menyentuh wajah Kai karena tangannya masih meraba- raba. Kai tersenyum tipis dan mengarahkan tangan Baekhyun kewajahnya.

 

“Ah.. terima kasih, Kai.” Baekhyun tersenyum dan menyusap pipi Kai.

 

Sang ibu menghapus air matanya dan berjalan meninggalkan Kai dan Baekhyun berdua saja. Kai sempat melihat ibu Baekhyun mengucapkan terima kasih padanya. Hanya gerakan mulut tanpa suara. Pasti sang ibu tidak mau Baekhyun mendengarkannya.

 

 

“Kai benar- benar datang. Aku sempat kaget… kupikir Kai kemarin hanya bercanda saja.”

 

“Aku sudah berjanji, bukan? Aku akan membantu Baekhyun melakukan apapun! Aku akan membantumu belajar apapun agar kau tidak terluka atau salah arah.”

 

Mendengar ucapan Kai, jujur saja Baekhyun sangat tersentuh. Tangan Baekhyun masih berada dipipi Kai, mengusapnya lembut sekali. Kai menatap lama mata kosong Baekhyun kemudian bibir merahnya yang tersenyum manis.

 

“…A..aku membawa sebuah kotak musik untukmu.” Pecah Kai sebelum ia memikirkan hal yang tidak- tidak karena melihat goresan sempurna wajah Baekhyun.

 

“Kotak musik?”

 

“Ne!” Kai tersenyum manis, membawa tangan Baekhyun yang tadi mengusap pipinya menuju kotak musik yang Kai pegang dengan sebelah tangannya. Kotak musik itu kini berada ditangan Baekhyun. Senyuman manis kembali tergores sempurna diwajah Baekhyun.

 

Seketika itu Kai membuka kotak musik berwarna pink susu percampuran ukiran emas yang begitu unik. Dan … lantunan musik yang indah menyeruak diruangan itu. Musik dengan instrumen lembut dan menenangkan. Manis dan indah… suara yang tertangkap dipendegaran Baekhyun.

 

“Kau suka?” tanya Kai pelan.

 

Baekhyun mengangguk cepat. “Sangat! Ini musik yang sangat manis dan ringan, Kai… kau tahu bahwa aku menyukai musik yang seperti ini?”

 

“Tidak.. aku hanya menebak. Aku membeli kotak musik itu.. karena kupikir kau akan.. menyukainya.” Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mencari alasan yang tepat padahal ia cukup pusing saat memilih musik yang pas untuk Baekhyun.

 

“Musik salah satu faktor penajam perasaan..menurutku. karena.. maaf.. kau tidak bisa melihat… kupikir dengan mendengar musik yang lembut kau bisa.. sedikit tenang.” Lanjut Kai.

 

Baekhyun terdiam. Kalau boleh jujur, ingin sekali Baekhyun menatap wajah namja yang hanya ia kenali dari suara itu. Oh Tuhan, apakah sosok Kai seperti malaikat? Apakah bersayap? Apakah bersinar?

 

Baru kali ini… ya.. sejak ia tidak bisa melihat lagi seminggu yang lalu… baru kali ini Baekhyun benar- benar ingin melihat lagi. Baekhyun berusaha keras untuk menerima keadaannya, menerima kegelapan yang menemaninya.. entah seumur hidup atau.. yang pasti Baekhyun sudah berusaha dengan sekuat tenaga.

 

Namun…

 

TES

 

TES

 

Air mata jatuh dari mata kaku Baekhyun. Membuat Kai sangat teramat terkejut, melihat Baekhyun yang tadinya masih tersenyum manis namun tiba- tiba raut wajah itu diselimuti kepedihan.

 

“A..aku… aku takut… sebenarnya…” Baekhyun mulai terisak.

 

Kai langsung memeluk tubuh Baekhyun dengan erat, mengusap rambut coklat Baekhyun yang begitu halus. Kai hanya diam mendengarkan setiap keluhan Baekhyun yang selama ini ia tahan.

 

“Aku.. aku takut sekali.. selama ini dadaku terasa sesak, Kai. Semuanya hitam.. seakan- akan semua orang meninggalkanku sendirian didunia yang kelam ini. Hanya wajah samar namja itu yang terngiang dipikiranku.. aku takut.. Kai” Baekhyun terisak hebat. Mencengkram baju Kai agar namja itu memperkuat pelukannya.

 

“Aku sempat berfikir Tuhan begitu kejam padaku… aku.. apa salahku hingga aku mengalami semua ini, Kai? Aku… aku…”

 

Kai memejamkan matanya, merasakan penyesalan luar biasa. Ini yang ia takutkan selama ini, melihat namja manis itu tersiksa dan tersakiti karena kelalaiannya. Oh Tuhan, bisakah ia diampuni?

 

Rasanya Kai tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lagi jika ia tidak bisa menjaga namja ini..

 

“Keluarkan saja semuanya, Baekhyun… aku akan mendengarkanmu.” Bisik Kai tepat ditelinga Baekhyun.

 

Isakan itu kemudian kembali terdengar, Baekhyun menangis sejadi- jadinya didalam pelukan Kai. Mencoba bersandar pada namja yang sudah mengatakan janjinya untuk menjaga Baekhyun seumur hidupnya. Tangisan Baekhyun yang sama dengan suara neraka dan hukuman untuk diri Kai.

 

Dan dari sanalah… Kai bersumpah tidak akan meninggalkan Baekhyun sendirian.

 

Tidak akan!

 

†††

 

 

 

Sebulan lebih sejak saat itu, saat dimana Kai selalu menemani Baekhyun. Membantu Baekhyun menghapal tiap sudut atau tempat yang akan dilewati dan pembiasaan serta mempertajam insting Baekhyun saat seseorang sedang tidak berada didekatnya.

 

Dengan penuh kesabaran Kai selalu membantu Baekhyun, yang Kai mengerti adalah perasaan Baekhyun seakan menanjam dengan sendirinya. Lebih mengandalkan pendengaran dan kulitnya untuk merasakan sesuatu. Melihat kemampuan Baekhyun yang selalu berangsur- angsur menajam, Kai bermaksud menanyakan tentang kelanjutan pendidikan Baekhyun pada orang tua Baekhyun. Sangat disayangkan jikalau Baekhyun berhenti sekolah begitu saja.

 

 

“Jadi bagaimana, ahjumma?” tanya Kai menanyakan pendapat ibu Baekhyun.

 

“Tapi nak, Baekhyun… buta.” Bisik sang ibu pelan. Seakan takut mengatakan hal itu terlalu keras, Baekhyun memang tidak ada disana. Ia sedang tertidur dikamarnya, nampaknya ia lelah saat mempelajari huruf timbul dengan tangannya.

 

“Jika itu yang ahjumma khawatirkan.. ahjumma tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaga Baekhyun.” Kai tersenyum lembut.

 

“Maksudmu, nak? Dia tidak sempurna lagi, nak. Ia tidak bisa melihat.. bagaimana ia bisa bersekolah dengan keadaan seperti itu?”

 

Kai menatap ibu Baekhyun dengan tatapan tegas. “Aku adalah matanya, ahjumma. Mataku adalah mata Baekhyun.”

 

DEG

 

Sang ibu membulatkan matanya mendengar ucapan Kai yang begitu menyentuhnya. “Ya Tuhan.. nak Kai.. sebenarnya siapa dirimu? Mengapa kau begitu memikirkan Baekhyun?”

 

Kai mengepalkan tangannya dan tersenyum tipis. “Aku hanya manusia yang sudah terikat pada anakmu, ahjumma. Hanya itu.”

 

 

†††

 

 

“Aku pulang.”

 

Kris mengalihkan pandangan matanya saat melihat pintu rumahnya terbuka. Kai sudah pulang rupanya, walau sedikit larut dari jam biasanya. Kai pulang pukul 8 malam, biasanya Kai hanya akan menghabiskan waktunya bersama Baekhyun hingga pukul 6 sore atau pukul 7 malam sampai dirumah Kris.

 

“Kau sudah pulang..” sapa Kris sembari meneguk kopi hangatnya.

 

Kai menunduk sopan dan mengangguk. “Ne, hyung. Maaf aku pulang terlalu larut. Tadi aku berbicara dengan orangtua Baekhyun..”

 

“Kau melamarnya?” Kris menatap dengan tatapan nakal pada Kai. Tentu saja membuat namja tampan berhati lurus itu gelagapan dan wajahnya memerah.

 

“M—Mwo?!! Hyung.. a…aku tidak melamarnya.”

 

“Hahaha!! Tidak usah panik seperti itu.. Tao sudah menunggumu dikamarmu.”

 

Kai mengusap dadanya dan tersenyum. “Baik, hyung. Aku masuk kekamar dulu.”

 

“Ah! Katakan pada Tao jangan tertidur dikamarmu seperti kemarin- kemarin. Dia berat… tanganku bisa patah jika terus- terusan menggendongnya dari kamarmu ke kamarku.” Peringat Kris sebelum Kai masuk kekamarnya.

 

“AKU MENDENGARMU, KRIS BODOH!!”

 

Dan Tao lah yang menjawab peringatan Kris dari kamar Kai, telinganya memang tajam. Kai hanya tersenyum manis melihat tingkah kedua couple hangat itu yang kadang rukun, kadang bertengkar seperti sepasang suami istri. Manisnya..

 

 

 

“Kai~” Sapa Tao sembari menutup majalah yang ia baca melihat Kai masuk kedalam kamarny.. Kai tersenyum manis dan mengangguk, ia membuka jaketnya dan menggantungnya dibelakang pintu.

 

“Maaf, kau jadi lama menungguku, hmm..” Kai kemudian duduk disamping Tao yang sudah duduk dilantai dengan nyaman.

 

“Tidak juga… kupikir Kai akan mendiskusikan buku ini lagi bersamaku.” Ujar Tao sembari mengarahkan buku pedoman berkomunikasi dengan orang buta.

 

Kai dengan tenang tersenyum dan mengambil buku itu dari tangan Tao. “Aku… kali ini ingin membicarakan sesuatu padamu, Tao.”

 

“Ya?” Tao menghidupkan televisi yang terdapat dikamar Kai dan memasukkan sebuah kaset kedalam DVD Player.

 

“Disekolahmu bisa menerima seorang murid buta atau tidak?”

 

Kegiatan Tao terhenti dan ia tatap lekat Kai. “Maksudmu kau ingin memasukkan Baekhyun itu kesekolah yang sama denganku?”

 

Kai mengangguk.

 

“Tenang saja. Aku bisa mengaturnya.” Tao tersenyum begitu manis.

 

“Eh?”

 

“SMA Wu Liu Xian, tempat aku bersekolah, yayasannya milik pamanku dan beliau adalah kepala sekolahnya.. jadi aku bisa mengatur dengan mudah jika Baekhyun itu dan kau memang ingin bersekolah disana.”

 

Mata Kai membulat dan tersenyum manis. Begitu mudahkah jalannya untuk menolong Baekhyun? Oh Tuhan, terima kasih sudah mempermudah jalannya untuk membantu Baekhyun.

 

“Te..Terima kasih Tao! Huwaaa!!! Kau tahu betapa baiknya dirimu dan Kris ge?!” Kai berteriak senang kemudian memeluk namja manja bermata hitam pekat itu.

 

“Kris bodoh yang menipuku dengan panggilan oppa itu selalu mengajarkanku untuk  bersungguh- sungguh jika sedang menolong orang lain. Jadi.. wajar aku membantumu hingga tuntas, Kai.”

 

Kai masih memeluk Tao, ia menutup matanya sejenak dan kembali tersenyum manis. “Terima kasih..”

 

 

†††

 

Apartemen Baekhyun, 2 hari kemudian.

 

 

“Be..benarkah, Kai?” Baekhyun tergagap setelah mendengar perkataan Kai yang begitu membuatnya terkejut.

 

“Ne! Besok kau dan aku akan bersekolah di sekolah menengah atas Wu Liu Xian.”

 

Baekhyun menutup mulutnya dan air mata tergenang dimata indahnya. “Oh Tuhan.. Kai aku senang sekali. Sungguh aku senang sekali bisa bersekolah lagi. Kusangka dengan keadaanku yang seperti ini…. aku tidak berguna lagi..”

 

Kai menggeleng pelan dan mengusap air mata Baekhyun. Walau Kai yakin Baekhyun tidak akan bisa melihatnya tersenyum, Kai yakin Baekhyun bisa merasakannya.

 

“Mau pergi membeli peralatan sekolah untuk besok bersamaku?” tanya Kai lembut sekali. “Masih pukul 10 pagi.. setelah itu kita bisa pergi ketaman dekat Restoran Korea Ppong Nam yang beberapa hari lalu kita lewati. Aku dengar ada ice cream yang enak sekali disana.”

 

Baekhyun mengangguk mantap. “Aku mau!!”

 

 

†††

 

 

Keajaiban, aku bisa bertemu denganmu

Mukjizat, aku bisa bersamamu

Dan..

Anugrah, kehadiranmu dihidupku

 

 

†††

 

Baekhyun POV

 

Debaran jantungku… oh tidak! Tahukah betapa senangnya aku bisa kembali bersekolah? Dan aku benar- benar bersyukur Kai selalu ada disampingku.. mengajari aku berbagai hal dan membimbingku.

 

“Baekhyunnie~ kau benar- benar cocok memakai seragam sekolah ini, chagiya.” Ujar oemma setelah membantuku memasang seragam sekolahku. Aah.. aku ini sudah SMA, sedikit malu oemma membantuku memakai seragam sekolah.

 

 Ya.. hari ini aku akan bersekolah. Aku fasih berbahasa China, karena aku sangat menyukai pelajaran bahasa China saat masih bersekolah di Korea. Makanya… aku meminta appa dan oemma pindah ke China.

 

 

“Baekhyun.. sudah siap?”

 

Aku membuka kelopak mataku lebih lebar. Itu dia! Suara itu… “Kai!! Kau sudah datang menjemputku?”

 

Aku dengar langkah kaki yang mendekatiku. Langkah kaki berat yang begitu aku hapal. Kemudian kurasakan sebuah sentuhan lembut dari tangannya yang hangat menyentuh pipiku.

 

“Cantik. Kau cantik sekali, Baekhyun.”

 

DEG

 

Jantungku… jantungku berdebar- debar saat ia mengatakan ucapan manis itu. Aku memang tidak bisa melihatnya, namun aku tahu.. kulitku merasakan gejolak hatinya yang kini tersenyum. Dia pasti tersenyum sekarang! Aah.. apa Kai menertawaiku karena wajahku memerah?

 

“Jangan khawatir.. aku tidak menertawaimu.”

 

“Mwo!! Kai pabo!!”

 

“Hahaha! Ayo, kita berangkat.. Baekhyun.”

 

Dan dia selalu bisa membaca maksud hatiku. Itulah mengapa aku begitu mempercayainya.. oh Tuhan, jika kau memberiku kesempatan sedetik saja untuk bisa melihat…

 

… aku ingin sekali melihat wajah Kai.

 

Apa tidak bisa Tuhan?

 

Sedetik saja?

 

 

†††

 

 

Normal POV

 

“Namaku Tao, teman Kai. Perkenalkan! Kau pasti Baekhyun, kan? Mwoya~ kau benar- benar cantik.” Tao menatap Baekhyun yang tersenyum sangat manis.

 

Baekhyun mengangguk, kemudian Tao memegang tangan Baekhyun. Seakan memberitahu keberadaannya yang berada dihadapan Baekhyun. “..Jadi ini Tao yang membantuku dan Kai agar bisa bersekolah disini? Tao.. terima kasih banyak. Aku benar- benar tidak tahu harus berterima kasih seperti apa.”

 

“Baekhyun teman Kai dan teman Kai adalah temanku juga. Dan sesama manusia harus saling membantu.. jadi kalau kau perlu bantuan, jangan sungkan juga mengatakannya padaku. Oke?” jawab Tao dengan nada ceria.

 

Kai tersenyum pada Tao, bersyukur Tao anak yang mudah dekat dengan orang lain. Jadi tidak ada kecanggungan sama sekali terasa diantara mereka. Baekhyun nampaknya juga nyaman ada didekat Tao.

 

Tao kemudian menatap Kai dengan taat, setelah itu senyuman manis nampak tergambar diwajah Tao. Ia mengangguk cepat pada Kai dan mengarahkan pandangannya pada sekolah yang kini sudah ada dihadapan mereka bertiga. Walau Baekhyun tidak bisa melihat, ia bisa merasakan hawa menyenangkan sekolah yang selama ini ia rindukan.

 

“Selamat datang Byun Baekhyun dan Kim Jongin!!” teriak Tao riang sembari menarik tangan Kai dan Baekhyun bersamaan. Mereka tertawa bersama..

 

Tertangkap oleh Baekhyun bahwa…

 

… ia dikelilingi orang- orang yang baik sekali.

 

 

†††

 

 

 

Korea – malam harinya.

 

 

Xiumin masuk kedalam ruangan kerja ayahnya, kini ayahnya sedang menikmati makan malam bersama dirumah yang besar itu. Xiumin adalah anak manja yang amat disayang, jadi dia memang suka sekali berlaku seenaknya. Ia buka diam- diam komputer ayahnya dan duduk dikursi besar yang seperti singgasana.

 

Sudah seminggu ini ia melakukan hal itu diam- diam. Membuka server sekolahnya yang bisa tersambung dengan mudah keberbagai sekolah yang ada di Korea maupun luar Korea.

 

‘Byun Baekhyun’

 

Nama itu yang Xiumin tulis di bagian ‘Search’ pada pencarian data siswa yang berada di seluruh sekolah yang ada di China. Pencarian memakan waktu yang cukup lama, Xiumin sedikit bosan. Bagaimana tidak, jika ia mencari nama Byun Baekhyun pada seluruh sekolah menengah atas yang berada di China.

 

“Aigoo!! Ini sudah 10 menit!” keluh Xiumin malas.

 

Setelah beberapa menit bergumam kesal. Akhirnya layar komputer itu memuat sebuah data…

 

————————————————————————-

FOUNDED!

 

NAME : BYUN BAEKHYUN (KOREAN)

SCHOOL : WU LIU XIAN SENIOR HIGH SCHOOL

PREFECTURE : GUANGDONG

IN : 1-5 CLASS ON REGULAR

YEAR : I

DATE: XX / XX / XXXX

CODE : XXXXXXXXXXX

————————————————————————–

 

Mata Xiumin membulat sempurna.

 

“OH TUHAN!! DIA BERSEKOLAH MULAI HARI INI?!” teriak Xiumin begitu senang. Kemudian ia langsung mem-print data yang baru saja ia dapatkan. Seketika itu Xiumin menutup kembali server sekolah yang tersambung keruang kerja ayahnya itu dan berlari kekamarnya.

 

“Chanyeol.. aku akan memberikanmu jalan untuk menebus semuanya.”

 

 

†††

 

 

Namja tampan berpostur tubuh tinggi itu berjalan kecil dari kamar mandi menuju kamarnya. Ponselnya berbunyi dan ia sedang mandi, alhasil Chanyeol hanya memakai selembar handuk menutupi pinggang hingga lututnya.

 

 

“Kau Pao! Aish! Jika aku tahu ini telpon darimu, aku tidak akan berlari dari kamar mandi!” proses Chanyeol setelah mengangkat ponselnya.

 

“Mwo! Jinjja! Kau selalu saja mengangkat telponku dengan kesal! Aku jadi malas memberitahu kau tentang apa yang kudapatkan!”

 

Chanyeol memutar bola matanya. “Ne~ Xiumin manis~ Ada apa menelponku, roti pao menggemaskan?” Wajah Chanyeol seperti akan muntah saat ini.

 

“Hu! Ibumu sudah menelpon?”

 

“Oemma? Ada apa dengan wanita sialan itu?”

 

“Oh Chanyeol, sopanlah sedikit menyebut ibumu! Kau benar- benar tidak menghargai ibumu!”

 

“Terserah! Aku sedang mandi, bodoh! Kalau tidak terlalu penting aku matikan!”

 

“Ya sudah!”

 

TREK

 

“YA!! Kim Minseok!!! Aiishh!”

 

Mata Chanyeol membulat kesal saat Xiumin mematikan sambungan telpon seenaknya. Dengan penuh kesabaran Chanyeol menahan hasratnya untuk melempar ponselnya. Dan saat Chanyeol akan kembali meletakkan ponselnya diatas meja nakas, ponsel itu bergetar.

 

“YOBOSEYO!!” Teriak Chanyeol kesal.

 

“Semangat sekali, nak.”

 

Chanyeol mendengus kesal. “Mau apa kau menelponku?”

 

Aigoo.. kau benar- benar jadi anak yang bebal, Park Chanyeol.” Sahut suara wanita lumayan berumur dari ponsel Chanyeol. “Oemma hanya akan mengatakan bahwa.. oemma sudah mengurus semuanya.”

 

“Mengurus semuanya?” Chanyeol terlihat bingung.

 

“Xiumin tadi menelpon oemma dan mengatakan SEMUA nya.”

 

GLEK

 

Chanyeol menelan kasar saliva nya. Membuat posisinya yang tadi berdiri kini duduk ditepi ranjang. Ia mengusap wajahnya dan mendesah keras.

 

“Begini.. Aku tidak sengaja, okey! Aku salah orang dan aku tidak… agh! Kau harus percaya padaku.. dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!” ujar Chanyeol cepat, menjelaskan sedikit penjelasan tidak berguna pada ibu kandungnya itu.

 

“Oemma tahu sikap bebalmu itu akan berdampak seperti ini suatu hari. Rasanya oemma akan marah namun nampaknya kau tidak akan mendengarkan omonganku.”

 

“Baguslah kalau kau tahu itu. Urus saja usaha gelapmu itu, nyonya Park. Dan aku tidak perlu bantuanmu untuk menyelesaikan semua masalahku.”

 

“Cih! Anak tidak tahu terima kasih. Aku sudah mengurus semuanya. Pasport-mu, sekolahmu disana, tempat tinggalmu, dan—“

 

“WHAT! Tunggu! Apa yang kau bicarakan?!” Chanyeol mulai geram.

 

“Kau berangkat besok ke China atau tidak aku yang akan melaporkanmu pada polisi!”

 

“MWO! YAH! PARK SOO YOUNG! JANGAN MATIKAN SEENAKNYA!!“ teriak Chanyeol marah ketika sang ibu mematikan sambungan telpon mereka begitu saja. “Aggghhh!! Brengsek!”

 

Chanyeol melempar ponselnya keras keatas ranjangnya, ia menggaruk kasar kepalanya hingga ia sedikit meringis. “Apa- apaan ini?! Besok aku akan pindah ke China?!”

 

 

†††

 

 

 

Percayalah..

Kau tidak akan mudah lepas dari tanggung jawab

Apalagi..

Jika kesalahan masih membayang pada sosok itu

Takdir tidak akan melepaskanmu

Hingga semua dibayar dengan keadilan

 

 

Continue..

 

 

 

Maaf ini si Chanyeol kayaknya durhaka amat sama mamanya, tapi yah mau gimana.. demi perkembangan karakter T^T #Jangan ditiru yaaaaa!! JANGAN!! Chanyeol itu badboy bgt disini!

 

Masih fokus ke Kaibaek yah..

Di chap depan ChanBaek udah muncul ^^ hehe

Semoga suka ama kelanjutannya. Maaf jika kurang memuaskan dan kurang bagus.

Makasih ya udah menyempatkan baca FF galau gaje buatan saya ^^

 

*Bow bareng Tao

#TaoRis hwaiting!! *gak nyambung!

 

 

239 thoughts on “Silent Eyes Chapter 3

  1. yayaya~ jangan ditiru chanchan yang durhaka sama ibunya. xixixi~ anak nakal. tapi cakep weeeee

    ah gak sabar mau baca next chapternya.
    buat authornya, jjang!

  2. kaibaek sweet banget uuuum. setuju sama kris kalo kai pasti ada suka suka gitu sama baekki

    pas yeollie sama umin lucu banget. haha. xiumin udah aduin semua ke oemmanya yeollie ya😕 hmm

    atiati tuh chanyeol durhaka sama orang tua jadi batu lu bang -___-
    lanjut part selanjutnya ah

  3. bagus Kai..bagus…kamu anak baik, kasian byun baekhyun…

    Aku suka karakter semuanya disini, tapi…Luhan…iyasih lebih Suka HunHan dibanding KaiHan…tapi Sehun jahat bgt ya disini…masa pacar tmn sendiri diambil sih OH sehun..KAI juga tragis deh kyknya..kalau akusih udah gila punya masalah segitu.

    eh tunggu chanyeol punya bpk tiri? hm..adakah hubungannya dgn Kris sama Tao? mrka juga kan punya ibutiri…

    syukurlah eommanya Chanyeol pengertian, Chanyeol! bertanggung jawab kamu!

  4. bagus Kai..bagus…kamu anak baik, kasian byun baekhyun…

    Aku suka karakter semuanya disini, tapi…Luhan…iyasih lebih Suka HunHan dibanding KaiHan…tapi Sehun jahat bgt ya disini…masa pacar tmn sendiri diambil sih OH sehun..KAI juga tragis deh kyknya..kalau akusih udah gila punya masalah segitu.

    eh tunggu chanyeol punya bpk tiri? hm..adakah hubungannya dgn Kris sama Tao? mrka juga kan punya ibu tiri kan?

    Chanyeol! bertanggung jawab kamu!

  5. satu reaksi yg paling keinget wkt baca chapter ini: ngakak guling-guling karena author nya bilang kalau kris itu kerjanya arsitek hahahaha
    tiba-tiba jd keinget gambar2nya kris wkwkwkwk

  6. kaibaek sweet >///<
    yeol gitu amat sama mamanya /getok yeol ._.v
    suka banget sm tulisannya, feelnya dapet. lanjut baca

  7. jadi suka ama Kaibaek,,
    so sweet banget,,
    tapi apapun ceritanya Chanbaek tetap yg pling OKE,,

    seru seru seru,,,
    ff nya makin debakk,,
    *_*

  8. Aigoo manis banget kaibaek.. taoris juga. kai selangkah lebih maju(?) dari chanyeol..
    Itu tuh chanyeol ada masalah apa sama keluarganya kok sama emaknya kayak gitu..

    Setuju!! chanyeol badboy banget disini, johahae..
    Mian thor cuman komen segini, ngantuk banget ini udah malem, pokoknya as usual ff ini bagus, bikin tambah pensaran😄
    okeh, keep writing

  9. Salut banget sama baekhyun dan kai disini.. mereka bener bener saling melengkapi dan duh, itu baekhyun gimana ya nanti kalau tau kai yang nabrak dia? Tapi kayaknya baekhyun cuma trauma sama chanyeol oh ya.. park chanyeol, walaupun gengsi tapi dia ternyata sungguh2 hahaha lucu aja liat chanyeol sama ibunya.. walaupun seenaknya asal mindahin chanyeol tapi soo young gak mau anaknya lepas tanggung jawab

  10. Bagus banget T^T so sweeeeeeet kaibaek nya so sweeeet… jadi jatuh cinta kan sama Kai klo gtu #eh aduh udah deh klo gtu caranya baek sama Kai aja ga usah sama chanyeol yang durhaka tak berperasaan tak bertanggung jawab namun tanpam dan berkharisma(?) #plinplan..
    Good good banget deh thor pokonya! Jjang!

  11. Begitu tegar’a suamiku ini T.T
    Huaaa makin seru thorrrrr (?)
    Aku penasaran bgt tar akhir’a bkal sma kai/chanyeol yah^^

  12. author ih bikin enpi
    kenapa? karna rewoo iri. kenapa author bisa bikin FF sekeren dan secerdas ini. author makannya apa?

    keren pake begete deh FF.nya

  13. Huwaaaa awalnya udah seneng banget sama pairing chanbaek! Tapi semakin mengalirnya alur/? Entah kenapa aku malah seneng banget sama kaibaek😄

    Yaudahlah, mau chanbaek or kaibaek, aku akan dukung!! (Loh) izin baca nextchap nya~~🙂

    (Btw tentang chanyeol anak durhaka, jadi tambah greget sama tuh dobi><)

  14. AAARHHH unyu banget siiihhh rada ga tega sama kai soalnya chanyeol bakal dateng (padahal ultimate bias aku chanyeol, tapi kai juga bias deng #labil)

  15. Duh makin penasaran chingu ama kelanjutannya yu capcus ajin silent eyes chapter 4 ^^ gimana cara ngelike nya chingu *bingung* dari awal nae kagak like mian ya chingu nae kagak tau *beneran* cuman bisa coment aje

  16. Ratarata komenannya tahun lalu. Oalah aku telat banget nemu FF ini huhu Chanyeol datang selamar dtang deh di cinta segitiga kalian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s