“Le Portrait de Petit T.A.O” Part 1

“Le Portrait de Petit T.A.O”

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

 LPTPT

 

 

Genre: Fantasy, Horror, Romance, Psychology, Blood, Magic

Main Pair : TAORIS / KRISTAO/ FANTAO

Cast : Wufan – Huang Zitao – Lu Han –Suho

BOYS LOVE / YAOI

 

Inspirated by “ Le Potrait de Petit Cossette”

Story : Cossette House / ANIPLEX

Art : ASUKA Katsura

 

 

Warning : Cerita ini hanya fiksi dan semua yang saya tulis berdasarkan kisah komik itu sendiri. Tidak melibatkan ajaran agama ataupun komisi tertentu.

 

THIS IS FICTION!

FICTION!

NOT REAL AT ALL!!!

 

Jika tidak yakin membacanya, JANGAN DIBACA!!

Karena ada permainan kata yang mungkin sedikit tidak masuk akal.

 

FOR ALL TAORIS SHIPPER and WHO LOVES TAORIS

Yang gak suka Taoris tapi pingin baca gpapa sih :*

 

 

 

אּאּאּ

 

Dahulu ini adalah keabadian

Murni bagaikan malaikat… Menggoda bagaikan iblis

 

Senyuman semanis madu

Pandangan mata selembut kain velvet

Bibir dari aphrodisiac

 

Bencana yang dijalin oleh mimpi dan harapan menguasai diriku

Yang menginginkan pertolongan

Gaya gravitasi waktu yang tidak tahu malupun

Tidak ada artinya disini

 

Sekali aku tertidur.. jiwaku akan dimakan oleh makhluk yang bukan manusia itu

 

Cinta yang bagaikan kegilaan

Itu mirip dengan impluse kematian Thanatos

 

 

אּאּאּ

 

Aku adalah mahasiswa Universitas seni biasa. Sepulang dari kegiatan perkuliahanku, aku kerja paruh waktu di sebuah toko yang menjual barang antik. Melewati hari- hari normal yang damai sembari mengeluhkannya.

 

Yah.. aku dahulunya adalah mahasiswa seni yang seperti itu…

 

..Benar.

 

 

Sampai akhirnya khayalan itu muncul didepanku.

 

 

 

“Le Portrait de Petit T.A.O”

 

Part 1

 

 

Srek

 

Srek

 

 

Bunyi gesekan antar ujung pencil tumpul dan kertas kasar beradu. Menimbulkan birama beraturan yang menyenangkan. Gerakan tangan itu sungguh ulet dan terbiasa, menciptakan sebuah gambar rupa dengan taat dan teliti. Tanpa membiarkan celah untuk mengurangi keindahan gambar tersebut.

 

 

“Wu Fan?!”

 

Namja itu terlonjak kaget karena tiba- tiba seseorang membuyarkan kegiatannya yang sedang serius menggambar.

 

“Kau.. Luhan!! Kau mengejutkanku, oeh?!” Wufan menatap sahabatnya itu sedikit marah.

 

“Ya!! Aku membawakanmu makan siang dan kau marah karena aku mengagetkanmu?!” Luhan berdecak kesal dan meletakkan sekantung makanan yang ia beli untuk dirinya dan.. Wufan.

 

Namja tampan berpostur tubuh tinggi yang masih duduk dibangku mini itu bermaksud kembali melanjutkan kegiatannya menggambar. Tidak mengindahkan panggilan sang sahabat yang mengajaknya makan siang terlebih dahulu.

 

“Kau menggunakan jam istirahat bekerja untuk menggambar lagi? Mana? Aku ingin melihat hasil gambarmu!” Luhan melirik dari balik punggung Wufan.

 

“Tidak usah. Sana makan.. kau juga tidak mengerti soal seni, bukan?” 

 

Goresan pensil kembali terdengar, Wufan mengacuhkan Luhan yang kini melipat tangannya didada dan mengerucutkan bibirnya. Melihat Wufan yang kembali sibuk, Luhan jadi semakin penasaran dengan apa yang digambar oleh namja tampan itu.

 

Walau dia bukanlah mahasiswa seni seperti Wufan, namun sense tentang seni tentu ada pada dirinya. Luhan adalah mahasiswa ekonomi. Berbeda jauh dengan sahabatnya sejak sekolah menengah pertama itu.

 

 

Akhirnya namja berparas amat cantik itu memutuskan untuk mengintip gambar Wufan dari samping, Luhan kemudian memiringkan wajahnya saat melihat gambar Wufan, bingung.

 

 

“Siapa itu?” tanya Luhan pensaran. “Wajahnya seperti orang asing.”

 

 

DEG

 

 

Wufan terdiam disana. Gerakannya terhenti begitu saja,  ia menatap gambar yang baru saja ia gores dengan sangat taat. “..Aku.. tidak tahu.”

 

“Ha? Kau menggambarnya namun kau tidak tahu siapa yang kau gambar?”

 

Wufan sama sekali tidak memutus tatapanya pada kertas sketsa gambar ditangannya. Menatap potret wajah hingga setengah dada dari gambar tersebut. “Aku.. memang menggambarnya… tapi aku tidak tahu siapa dia.”

 

Luhan menggaruk kepalanya. “Kau aneh.. lalu kau hanya berkhayal untuk menggambar namja.. hmm.. ya.. namja manis ini?”

 

Pemuda tampan mengangkat bahunya dan menghela nafas. Ia berdiri dari posisinya, masih menatap gambar yang dari tadi ia ukir dengan amat teliti.

 

“Belakangan ini wajah anak ini selalu menghantuiku.. aku mengira akan mengetahui sesuatu jika aku menggambar… wajah ini.” Wufan berucap seakan berbisik.

 

“He?” Luhan kembali memperhatikan gambar yang masih ada ditangan Wufan itu.

 

Mata tajam yang dingin itu menelusuri tiap inci gambar namja manis itu, mencari sebuah celah jawaban atas semua pertanyaan yang mulai muncul pada dirinya.

“Sebenarnya siapa dia?”

 

Pertanyaan Wufan itu mengawali keheningan diantara mereka. Pertanyaan Wufan yang sedikit membuat Luhan berfikir dan menduga.

 

“Jangan- jangan kau jatuh cinta pandangan pertama pada namja yang kau gambar itu.” Luhan meletakkan jari lentiknya didagu runcinganya. Membuat sosoknya begitu menggemaskan.

 

“Terserah apa yang kau katakan..” sedikit kesal atas argumen Luhan, Wufan kemudian berjalan menuju tas ranselnya dan memasukkan kembali buku sketsa itu. Wajah Wufan masih sama.. kaku dan dingin. Ia.. ia hanya memikirkan sesuatu.

 

 

“Kalau begitu sama  saja seperti Pygmalion. Bukankah itu adalah narsisme.. namun anak itu…” Wufan kembali terdiam saat ia menutup tas ranselnya. “Anak.. itu..”

 

 

Kembali Wufan mengingat wajah atau sosok yang baru saja ia gambar.

 

 

“..Siapa?”

 

 

 

“Wufan! Ayo cepat makan!!” Luhan kembali memanggil Wufan, Luhan yang sudah membuka kedua kotak makanan itu.

 

“Iya!” jawab Wufan singkat kemudian menaruh tas ranselnya diatas kursi lipat. Wufan melangkah mendekati Luhan.

 

 

Tidak menyadari sesosok makhluk transparan tak kasat mata tengah berdiri tegak disamping tas ransel Wufan yang ada diatas kursi itu. Sosok dengan mata kelamnya yang begitu sendu.. menatap Wufan yang tengah duduk berhadapan dengan Luhan.

 

Sosok yang sama dengan gambar yang dilukiskan oleh Wufan baru saja.

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

“Sial! Kalau profesor filsuf itu yang bicara.. akan makan waktu setahun untuk membungkam mulutnya!” keluh Wufan dengan nada bicara amat kesal. Wufan berlari sembari melirik jam tangannya. Ia terlambat datang ke toko antik tempat ia biasa berkerja paruh waktu.

 

 

“Menurut teori seni seorang pengarang, ‘NATURE MORTE’ berarti alam yang mati.”

 

“Ketenangan yang menakutkan dimana kita kehilangan waktu, arti yang alami dan hubungan organis.”

 

Ucapan profesor yang mengisi kelas perkuliahannya tadi masih terngiang- ngiang di otaknya. Entah mengapa Wufan seakan terbius untuk terus memikirkan makna dari penjelasan sang profesor tadi. Makna samar yang ia tidak pahami sama sekali.

 

 

“Dan dunia nyata lain .. yang bisa terlihat sekejap dari dunia ini.”

 

 

Langkah Wufan terhenti saat ia meyadari sesuatu yang ganjil. Ia terhenti didalam keramaian jalan yang tidak terlalu luas itu.. namun ramai sekali. Pandangan mata tajamnya kini menatap kearah samping. Menatap sebuah toko buah yang memamerkan apel segar.

 

Apel segar berwarna merah pekat.

 

TAP

 

Kaki panjang itu mendekati gerobak buah didepan toko. Menatapnya tajam seakan ada sebuah jawaban yang ia cari dari tumpukan apel itu.

 

“Anak muda.. matamu memang jeli. Apel sedang murah sekarang dan semua apel ini sangat segar.”  Sapa sang pedagang.

 

Wufan mengambil salah satu apel dan menggenggamnya. Ia pandangi apel merah itu dengan tajam. Membuat sang pedagang sedikit heran melihat tingkah namja tampan itu.

 

Tes

 

Tess

 

 

Mata Wufan membulat… darah.

 

Darah keluar dari sela jari- jari tangannya. Ah.. rupanya Wufan meremas apel itu hingga hancur dan yang keluar dari apel itu bukanlah sari buah melainkan.. darah.

 

 

“Para pelukis aliran Flandre dijaman dulupun, berkat petunjuk dari dunia nyata lain yang tergambar dalam cermin.. terbentuk dari kesalahan- kesalahan tanpa batas..”

 

 

Jantung Wufan berdetak kencang, ia masih memandang darah yang merembes dari buku- buku tangannya. Tertetes disela- sela jari panjangnya… mengapa bisa? Apa yang baru saja ia lakukan? Apakah tangannya terluka? Namun jelas sekali darah itu keluar dari apel yang ia remas.

 

 

 

“Diseberang sana..”

 

 

DEG

 

 

Suara yang berbeda masuk kedalam pendengaran Wufan. Bukan lagi suara pidato sang profesor tentang pelajaran filsuf yang ia ajarkan.. namun suara lembut yang begitu jernih.. namun menakutkan. Suara yang berasal dari tubuh Wufan sendiri.

 

 

“Diseberang sana..”

 

 

DEG

 

 

Wufan mengarahkan tatapannya yang tadi menatap tangannya kedepan. Dan yang ia lihat bukanlah toko buah atau sesuatu yang tadinya ada disana. Yang ia lihat..

 

.. ia melihat sebuah sofa bergaya kuno dan… seorang namja… duduk diatas sofa serba hitam yang nampak seperti singgasana itu. Berlatar belakang diruang perapian dengan berbagai lukisan, jam tua, cermin besar, gorden besar dengan penuh renda dan keramik mengkilap.. ah.. bisa dikatakan itu adalah susunan ruang milik bangsawan bangsa Eropa dahulunya.

 

Namun..

 

…kenapa bisa?

 

Ini tidak nyata, kan?

 

Tapi… tapi ini Korea… dan tadinya disana bukanlah sebuah ruangan apik nan elok itu. Ada apa ini? apa yang ia lihat?

 

Apakah ia berhasulinasi?

 

 

DEG

 

 

Namja yang duduk disinggasana hitam yang memakai pakaian serba hitam itu mengarahkan wajahnya yang tadinya mengahadap kearah samping… lurus menatap Wufan.

 

 

DEG

 

 

Mata mereka tertaut. Wufan bersumpah baru kali ini ia melihat namja dengan mata sesendu dan wajahnya yang semanis itu. Dia.. cantik. Namun bukan cantik seperti Luhan.. cantik yang ia miliki tergores dengan ketegasan dan… kegelapan.

 

 

DEG

 

 

Oh Tuhan! Baru Wufan sadari… wajah namja itu sama persis dengan wajah yang selama ini menghantui pikirannya… wajah yang selalu ia gambar saat ia ingin mengingat namja itu dengan jelas.

 

Persis sama!

 

Namja manis bermata sehitam bulu gagak dan rambut lumayan panjang  -cukup menutupi tengkuknya- itu membuka sedikit bibir tipis uniknya. Baru kali itu Wufan melihat bibir seperti itu.. indah. Bibir merekah semerah darah… kemudian namja manis itu mengarahkan tangannya pada Wufan.. seakan menggapai..

 

 

“Diseberang sana..” bibir itu bergerak melantunkan suara yang amat merdu dan lembut.

 

 

 

 

“Hey! Apa- apaan kau! Merusak apel dagangan orang.” Teriakan pedagang itu tidak didengar oleh Wufan, ia melempar apel itu begitu saja dan berlari sekencang yang ia bisa. Membiarkan makian yang dilayangkan pengguna jalan saat Wufan menabrak tubuh mereka.  Namja tampan itu tidak peduli, ia terus memacu larinya.

 

 

Seakan tahu dimana ia bisa menemukan… namja manis itu.

 

 

 

 

 

Sampailah ia didepan toko barang antik tempat ia bekerja, Wufan masuk begitu saja tanpa menyapa Suho, pemilik toko, terlebih dahulu. Melewati Luhan yang sedang berbicara dengan seorang pelanggan.

 

Terus Wufan masuk kedalam sebuah gudang tempat biasa ia beristirahat atau makan bersama Luhan dan pegawai lainnya.  

 

 

BRAK

 

 

Wufan mengacak tumpukan lukisan kuno yang tersusun disana. Terus memeriksa lukisan yang mungkin saja berjumlah lebih dari 30 kanvas itu. Mata namja itu begitu liar meneliti tiap lukisan. Lalu kegiatannya terhenti saat melihat sebuah lukisan yang ditutup dengan kain putih. Wufan mengambil lukisan itu dan berjalan agak mundur.

 

Nafasnya yang terengah- engah tidak ia perdulikan lagi. Ia tatap lukisan yang masih tertutup kain putih agar lukisan itu tidak rusak. Menelan liur, Wufan membuka kain putih itu. Tangannya gemetaran bukan main.

 

 

Srak

 

 

DEG

 

DEG

 

DEG

 

Jantung Wufan terpompa kencang begitu melihat sosok didalam lukisan itu. Sosok namja manis yang duduk disebuah singgasana, wajahnya yang tanpa senyuman terlihat kaku namun kecantikan itu tidak terbantahkan sama sekali. Sangat tegas dan… bisa dikatakan namja itupun sangat tampan. Disekitar singgasana itu bertaburan kelopak bunga berwarna semerah darah. Perapian… gorden tebal berenda khas negara barat dan lantai mengkilap itu…

 

Semua sama..

 

Yang berbeda hanya pakaian namja itu. Dilukisan itu, namja yang duduk diatas singgasana megah itu memakai pakaian perpaduan putih dan hitam. Seperti pakaian bangsawan pada tahun 1700-1800 an. Berbeda dengan.. halusianasi.. -mungkin memang- yang Wufan lihat, serba hitam dan sedikit mengerikan.

 

 

“I.. Ini dia..” bisik Wufan begitu pelan.

 

 

 

“Dikatakan bahwa dunia nyata yang lain selalu mempersiapkan dirinya untuk muncul..”

 

 

Kata- kata sang profesor filsuf itu kembali diingat oleh Wufan. Matanya masih menyusuri tiap inci lukisan indah itu. Seakan terpesona begitu kuat dengan tiap goresan sempurna dan warna yang menggoda.

 

Sampai mata Wufan tertaut pada ujung kanan lukisan antik yang amat memukau. Beberapa huruf tersusun disana. Mengungkap sebuah nama.

 

“…nama anak didalam lukisan ini.. Tao— “

 

 

DEEGGG

 

Wufan merasakan dadanya seperti terhantam keras setelah mengatakan nama itu. Membuat namja tampan itu sedikit sulit bernafas. Namun sesuatu seperti merayunya untuk membalikkan tubuhnya, sebuah suara yang begitu halus menuntun Kris untuk berbalik badan.

 

 

Kesunyian yang terdengar ditelingaku  ini adalah peringatan bagiku…

 

 

 

“Wu Fan…”

 

 

Terdiam.. Wufan terdiam melihat sosok itu tepat berada didepan matanya. Sosok yang mungkin beberapa centi lebih pendek darinya. Tetapi kali ini sosok itu jelas, mata sendu yang seakan baru saja menangis.. bibir unik semerah darah.. kulit putih merona dan rambut hitam yang halus dan indah. Sosok yang selama ini menghantuinya dan menguasai pikirannya. Sosok yang ada didalam lukisan yang kini ia pegang itu.

 

Namja yang sudah Wufan ketahui bernama Tao itu lalu mengarahkan tangannya pada Wufan. Menatap penuh makna kedalam mata Wufan yang masih membulat kaget.

 

 

“…Tolong aku.”

 

 

Wufan menatap tangan dengan jari lentik yang mengarah padanya itu.

 

 

Tapi sebaiknya kau juga berhati- hati agar tidak terbunuh olehnya…

 

 

DEG

 

“Ap..Apa ini? apakah aku merasakan ketakutan?” Wufan berbisik didalam hati lalu menelan kasar liurnya. “Anak ini… pasti bukan manusia biasa.”

 

Jantung namja tampan itu masih berdetak tidak karuang. Keringat dingin mengucur dipelipis Wufan, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Dan anehnya.. tangan Wufan mengarah pada tangan namja manis itu. Seakan ingin menyambut uluran tangan .. Tao.. namja manis itu.

 

Seinci lagi tangan itu tertaut…

 

 

“WUFAN!!”

 

 

Prak

 

Lukisan yang dipegang Wufan dengan sebelah tangannya terjatuh begitu saja. Ia terkejut atas panggilan tiba- tiba dari pemilik toko barang antik itu.

 

“Apa yang kau lakukan, oeh? Kau sudah datang namun tidak langsung bekerja.” Tegur Suho sembari menghela nafas panjang.

 

Wufan menstabilkan aliran jantungnya, tatapan matanya yang sempat teralih pada Suho kembali menatap tempat dimana Tao tadinya berdiri. “Eh? Hilang?”

 

“Apa?” tanya Suho yang ternyata mendengar ucapan pelan Wufan.

 

Wufan hanya diam dan mengerutkan keningnya. Ia berfikir mati- matian tentang apa yang baru saja ia alami dan terjadi. Suho melihat Wufan terdiam melamun kemudian menatap tumpukan lukisan yang tadinya Wufan acak.

 

“Aigoo~ Apa yang kau lakukan disini sebenarnya? Aah! Wufan apa yang kau lakukan dengan lukisan ini…. Lukisan khusus ini akan diambil besok oleh pembelinya.” Suho langsung mengambil lukisan potret Tao yang terjatuh didekat tubuh Wufan.

 

“Ap—APA! Lukisan itu dijual?” Wufan kaget bukan main.

 

“Ini kan barang dagangan.” Suho mengangguk dan kembali membungkus lukisan itu dengan kain putih.

 

“Se..Segera batalkan penjualan itu!! Lukisan itu tidak boleh dijual!!” Wufan nampak amat marah saat mendengar bahwa lukisan itu sudah dibeli dan parahnya akan dijemput esok.

 

“Memangnya kenapa tidak boleh?” Suho memandang pegawainya itu sedikit menyelidik.

 

“Karena… lukisan itu belum selesai! Iya! Lukisan itu belum selesai!!” jawab Wufan yakin akhirnya. Apapun yang terjadi dia tidak bisa membiarkan lukisan itu dijual. Entah mengapa.. ia juga bingung pada dirinya sendiri.

 

 

“Kau aneh… sepertinya kau kurang sehat. Kau boleh pulang lebih awal, Wufan.”

 

 

 

 אּאּאּ

 

 

Namja tampan pemilik rambut indah berwarna coklat terang berjalan gotai dikerumunan manusia siang itu. Ia menuju toko barang antik tempat ia bekerja setiap harinya, namun kali ini Wufan seakan tidak memiliki semangat hidup. Mungkin tidak juga, ia hanya terlihat sangat lesu.

 

Bodohkah ia mengatakan bahwa ia… ia ingin bertemu lagi dengan sosok namja manis bernama Tao itu?

 

“Aissh! Jangan berfikir macam- macam, Wufan! Jika kau terus saja berkhayal akan sosok namja itu, kau bisa dipecat oleh ahjusshi penggila keripik itu. Kemarin kau sudah disuruh pulang dan kalau hari ini kau dipecat bagaimana, oeh?!” Wufan terus berbicara dengan dirinya sendiri. Mencoba sedikit melupakan sosok yang… jujur saja.. sangat dipikirkan Wufan terus menerus.

 

Tap

 

Tap

 

Wufan terus melangkah, melewati jalan yang sama seperti biasa. Sesaat yang lalu ia melewati toko buah yang kemarin dikunjungi –mungkin mengacau- sebentar dan ia tidak melihat halusinasi itu lagi. Dia mulai berfikir… apakah benar apel itu buah penggoda?

 

 

 

“Tolong aku…”

 

Kata- kata anak itu masih terngiang dipikiran Wufan. “Dia minta tolong dari apa? Dan..”

 

Namja tampan itu menunduk, memperhatikan kakinya yang terus melangkah. “Digudang gelap itu… matanya basah saat terkena cahaya..”

 

 

Rasa terburu- buru yang bagaikan kelaparan.

Akupun semakin tertekan akan kehausan itu muncul

Khayalan yang tidak nyata tanpa janji apapun

 

 

Wufan terus berjalan menunduk, ia masih berfikir amat keras. Mencoba mencari akal sehatnya yang mulai terbawa entah oleh siapa.. bukan.. oleh apa.

 

Apa yang kini mulai merasukinya?

 

 

Dunia nyata memiliki masa lalu dan masa depan

Akan tetapi khayalan itu keberadaannya melampaui batas waktu

 

Orang- orang yang berlalu lalang disana terus silih berganti melewatinya. Membuat sebuah arus berlawanan yang bertujuan lain. Sesekali Wufan menyenggol halus bahu orang yang melewatinya. Langkah kaki namja tampan itu terus terurai..

 

Hingga ia menyadari suatu keanehan..

 

 

DEG

 

 

Akan bercahaya untuk selamanya

 

 

Ia dongakkan wajah tampannya itu lurus kedepan…..  “Oh Tuhan!!!”

 

…ia tercekat dengan apa yang kini tertangkap oleh mata bulatnya yang sudah terbelalak. Ia… ia tidak sedang berada dijalan ramai kota Seoul lagi..

 

Ia berada disebuah koridor megah yang terukir pahatan dari emas dan perak, kaca ukiran yang begitu megah dan lampu hias kristal tergantung di langit- langit koridor yang amat tinggi itu. Pahatan yang mengelilingi dinding koridor panjang yang berujung pada sebuah pintu yang terbuka… Wufan bisa menebaknya.. pahatan seperti itu dan tata ruang seperti itu…

 

…Prancis tahun 1700—

 

 

Oh tidak!

 

Wufan mulai khawatir, ia menatap sekelilingnya dengan tatapan menyelidik. Dimana dia? Kenapa… apa dia mulai memiliki sebuah kelainan atau penyakit jiwa? Kenapa semua itu nyata sekali.. bahkan ia bersumpah.. semua yang ia lihat seperti bukan khayalan. Jelas sekali!

 

 

WAS

 

 

WES

 

 

Seketika koridor itu dipenuhi banyak sekali manusia. Wufan terkejut karena tiba- tiba ia ada didalam kerumunan orang yang memakai pakaian seperti hakim atau apalah. Gadis- gadis yang memakai gaun tebal dengan kain velvet halus dan korset. Rambut mereka yang tergulung indah dan postur tubuh para lelaki tinggi dengan pakaian renda pada ujung kemeja dan kerah baju. Diapit oleh jas hitam sepanjang lutut dan sepatu bot setinggi lutut.

 

Hanya Wufan yang masih memakai pakaian biasanya. Kemeja setengah lengan berwarna merah dan coklat dan jeans hitam serta ransel dipunggungnya.

 

Dan satu hal yang Wufan mengerti… mereka pasti sedang berpesta. Disetiap tangan manusia yang datang entah darimana itu memegang segelas anggur.

 

TAP

 

TAP

 

“Yang mulia pangeran Tao.. Pangeran Tao sudah datang… indahnya sosok ciptaan Tuhan terangkum ditubuh indah itu!” teriak semua orang tiba- tiba.

 

 Kris membalikkan tubuhnya, menatap tajam pada pintu terbuka diujung lorong. Berlarilah dengan riang seorang remaja dengan senyuman manis seperti.. anak panda. Mata kelam yang melengkung lucu karena ia sedang tertawa, ia menari sesaat dengan seorang wanita tua yang nampak bahwa ia seorang bangsawan.

 

Wufan terdiam disana.

 

Tubuhnya seperti terloncak saat melihat senyuman dan tawa murni yang tergambar di wajah cantik dan tampan namja itu. Tao…

 

Mata itu berbeda.. terlihat ceria dan anggun. Tidak seperti sosok Tao yang ia lihat digudang kemarin. Sosok yang dipenuhi kegelapan dan kesengsaraan.

 

DEG

 

“Tao.” desis Wufan saat namja manis itu kembali tersenyum manis dan berdansa dengan seorang lelaki bangsawan. Apakah lelaki itu ayahnya? Entahlah.. yang pasti Tao nampak senang sekali.

 

DEG

 

Wajah Wufan terasa memanas, jantungnya berdetak hebat, seperti ada ribuan kupu- kupu hendak keluar paksa dari dalam tubuhnya.

 

DEG

 

Mata itu tertaut.. mata hitam legam milik Tao tertangkap menatap sang namja bersurai coklat terang itu. Senyuman amat murni diberikan oleh Tao pada Wufan. Senyuman yang membuat Wufan terkesiap dan terpesona dalam waktu yang cukup lama.

 

 

“Hihihi… Wufan..”

 

 

Tao berbicara dan tertawa kecil. Kemudian Tao berbalik badan dan berlari kembali menuju pintu yang ada diujung lorong tempat dimana ia tadi keluar.

 

“TUNGGU! TAO!!” Wufan berteriak saat menyadari hal itu. Ia mengejar Tao, tidak memperdulikan beberapa orang bangsawan yang ia tabrak. Terus kaki itu melangkah cepat seakan pintu itu akan menghilang jika ia tidak cepat sampai disana.

 

Wufan mengarahkan tangannya saat ia akan sampai didepan pintu itu.. namun…

 

Tess

 

Tess

 

Langkah Wufan terhenti tepat didepan pintu tersebut, ia kembali membulatkan matanya saat melihat dari tangannya keluar darah yang amat pekat. Seakan darah itu tidak ada habisnya, menetes kelantai marmer mengkilat itu dan.. membuat tempat itu seketika menjadi lautan darah.

 

Wufan membalikkan tubuhnya, ia lihat semua orang yang tadinya sedang berpesta tergeletak dengan kondisi mengenaskan. Bersimbah darah…

 

Mata tajam itu kembali terbuka. Melebar dalam teror membingungkan yang kini ia lihat. Tangannya gemetaran hebat, jantungnya seakan ingin lari dari tubuh terikat itu.

 

 

“Ap— apa ini!” suara namja itu bergetar hebat.

 

 

“Wufan..”

 

 

 DEG

 

Seketika itu Wufan membalikkan tubuhnya, menangkap suara yang … mulai ia rindukan. Ah! Apakah dia gila atau tidak waras… yang pasti Wufan begitu gembira saat melihat sosok namja bernama Tao itu kini ada dihadapannya.

 

Namun sosok itu memakai pakaian serba hitam dan wajahnya tidak sekalipun menyiratkan kebahagiaan… seperti tadi… wajah dingin dengan kecantikan yang amat tegas dan menyeramkan. Sosok Tao saat pertama kali bertemu dengan Wufan.

 

“Kau ingin bertemu denganku?”

 

 Wufan sedikit terkejut. “A—aku..”

 

Tao berbalik badan dan seketika itu ia sudah memegang sebuah lilin berwarna hitam. Mata tajam itu menatap Wufan sekilas kemudian berjalan lebih jauh. “Kearah sini.”

 

Wufan mau tak mau langsung melangkahkan kakinya, masuk kedalam ruangan itu lebih jauh. Mengikuti Tao yang ada didepannya sembari memegang sebuah lilin.  Seakan tidak perduli jika nanti Tao akan membunuh Wufan ditempat yang gelap itu.. Wufan terus berjalan dibelakang Tao. Hey! Siapa yang bisa mencerna tempat tidak masuk akal itu?!

 

 

 

Warna hitam ini.. mengundangku untuk menuju kegelapan

Kebawah tanah yang dingin

Tetapi aku sama sekali tidak melakukan perlawanan

Dalam kekosongan jiwa ini….

Cahaya bagai lumpur di kedalaman terpantul dimataku yang jernih

 

 

ZRAAKKK

 

 

“Eh? Hah?” Wufan melihat sekelilingnya. Tiba- tiba ia sudah berada disebuah pekarangan rumah yang cukup kuno. Seperti rumah tradisional Korea. Apakah dia sudah kembali dari alam khayalannya? Mungkin begitu… namun dimana ia kini?

 

Pintu rumah tradisional Korea itu terbuka sedikit, membuat Wufan mengintip dari celah pintu. Namun perasaannya benar- benar tidak enak. Seakan ada yang memintanya untuk masuk kedalam.

 

“P..Permisi.” Wufan bergumam dan menggeser pintu itu agar lebih terbuka. Ia masuk kedalam rumah itu.. namun tidak ada satupun orang disana. Wufan terus melangkahkan kakinya hingga… ia terhenti disebuah kamar yang pintunya terbuka lebar.

 

“Lukisan itu!!” pekik Wufan saat melihat lukisan potret Tao tersandar didinding kamar belum tergantung. Bahkan bungkusan lukisan itu baru dibuka setengah.

 

DEG

 

Saat masuk kedalam kamar itu, Wufan terbelalak , tubuhnya bergetar hebat karena baru pertama kali ini melihat peristiwa seperti itu secara langsung. Baru ia sadari kerena fokus matanya tadi hanya kepada lukisan antik itu.

 

“Oh Tuhan!!!”

 

……..terkesiap atas apa yang ia lihat… seorang kakek yang gantung diri tepat disebelah lukisan potret diri Tao.

 

 

Kekuatan itu sungguh cantik, bukan?

 

 

 

אּאּאּ

 

 

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Luhan penasaran.

 

“Pada akhirnya jiwa kakek itu bisa diselamatkan. Tapi saat aku menjenguknya, dengan liar dia menyalahkanku dan mengatakan bahwa ‘Ini semua akibat lukisan itu!’ Ahh.. menyebalkan!” Pemilik toko barang antik itu, Suho, mengguman kesal sembari menghisap cerutunya.

 

“Hmm.. pada akhirnya lukisan itu dikembalikan ya, bos Suho.” Luhan mengangguk dan mendesah pelan. “Aigoo~ apakah lukisan itu barang terkutuk?”

 

“Hush! Jangan berkata seperti itu. Nah dimana Wufan?”

 

Luhan menunjuk gudang. “Disana.. membersihkan gudang.”

 

“Aku rasa Wufan memiliki ketertarikan yang aneh pada lukisan itu.” Suho menempelkan sebuah papan bertuliskan ‘Open’ didepan pintu kaca tokonya.

 

“Hahaha! Jangan khawatir, bos Suho! Mana ada makhluk halus yang berani dekat dengannya, wajahnya saja dingin dan terlihat mesum.”

 

Luhan dan Suho kemudian tertawa terkekeh- kekeh. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Luhan Suho hanya menepuk pundak namja cantik bagaikan peri itu. “Kembali bekerja sana. Toko sudah buka.”

 

“Sip, bos!!”

 

 

 

 

Wufan terdiam disana. Menatap lukisan itu dengan tajam dan wajah pucat. Lukisan yang kini tergantung disalah satu sisi dinding ruang gudang itu. Kenapa Wufan pucat? Tentu saja! Jangan lupakan kenyataan ia menemukan seorang pembeli lukisan itu yang nyaris tewas bunuh diri. Beruntung sekali Wufan langsung bertindak cepat dan kakek itu mendapatkan penanganan medis.

 

Walau Wufan bingung sekali… mengapa ia bisa berada disana..

 

 

Apakah Tao menunjukkan jalannya untuk menolong kakek itu?

 

 

Wufan masih mengamati tiap lekuk lukisan indah itu. Ia menelan liurnya kasar. Seakan ada sesuatu yang mencekat dikerongkongannya.

 

 

“Itu membuat manusia gila.”

 

Suara itu… Wufan secepat kilat membalikkan tubuhnya. Menatap namja bersurai hitam legam dengan wajah dingin yang cantik itu lekat. Kini jarak mereka hanya tiga langkah. Dekat… jarak terdekat Tao berada didekatnya.

 

“Tao..” desis Wufan pelan. Tubuh Wufan bergetar hebat dan tangannya yang memegang salah satu sisi meja nampak gemetaran. Walau dia lelaki angkuh dan sedikit dingin, jika dihadapkan makhluk yang diyakini bukan.. manusia. Apakah ia tidak boleh sedikit gentar?

 

“..Kau… sebenarnya ‘Apa’ …?”

 

Pertanyaan yang meluncur dari bibir Wufan membuat wajah Tao menunduk. Mata hitamnya terlihat… seperti sehabis menangis lagi. Kenapa mata indah yang tegas itu terlihat amat sendu dan… hati Wufan sangat sedih melihat mata itu. Sedih sekali.

 

 

“Aku ingin kau menolongku.. dari keabadian ini.”

 

Wufan mengerjapkan matanya tidak mengerti akan ucapan Tao. Anehnya, tubuh Wufan sudah tidak gemetaran lagi. Ia begitu tenang, walau ia masih sangat waspada pada sosok Tao yang masih membuatnya bingung luar biasa.

 

 

“Aku ingin kau mengembalikan keawal. Impian barang- barang yang tidak bisa melupakan jiwaku yang terus mengikatku. Mengembalikan mereka menjadi… peralatan tanpa dosa yang akan membuat manusia jadi gila.”

 

 

“Peralatan?” suara Wufan terdengan bergetar.

 

 

Tao menunjuk lukisan yang ada dibelakang Wufan. “Itu salah satunya… benda yang menyaksikan kematianku. Benda yang terlumur oleh darahku..”

 

 

“Sa..salah satu? Maksudmu masih ada lagi?”

 

 

Tao hanya mengangguk.

 

 

 

Aku bisa merasakan dirimu

Namun tidak bisa merasakan diriku sendiri

 

 

 

“Tolong.. aku.”

 

 

Suara lembut itu kembali melantun membuat Wufan terpedaya. Tangan Tao sudah terulur dihadapannya.

 

 

 

Perasaan yang tidak bisa kupahami

Ketakutan yang tidak bisa kupahami

 

 

Wufan menatap jemari lentik itu, kuku indah Tao berwarna hitam pekat. Kontras dengan kulit putihnya yang pucat.. namun merona. Ya Tuhan… indahnya sosok dihadapan Wufan saat ini. Apakah setan.. semenawan ini?

 

 

Sesuatu… yang tidak bisa kupahami…

 

 

GREP

 

 

Wufan menyambut uluran tangan itu. “Aku akan menolongmu.”

 

Mata sendu itu tidak bereaksi. Ia menatap tajam tangan Wufan yang menggenggam dan membalas uluran tangannya. Bibir mungil nan unik itu terbuka sedikit.. membuat kesan manja yang benar- benar tak terbantahkan. Akhirnya Tao menatap mata Wufan yang ternyata sama sekali tidak mengalihkan padangannya sedetikpun dari wajah dingin Tao.

 

 

Tanpa bisa melawan kecantikan itu

Aku seakan menemukan arti dari ketakutan dan juga kegembiraan

 

 

Mata Wufan membulat saat melihat senyuman manis tergambar dibibir merekah Tao. Senyuman indah seindah lukisan maha karya termahal didunia. Tanpa selah dan penuh daya.

 

 

Yang juga mirip dengan cinta.

 

 

 

Tao mengangguk pelan sekali. Ia kemudian membalas genggaman tangan Wufan.. membuat kehangatan pada kulit Wufan beradu dengan dinginnya tubuh namja tak bernyawa itu.

“Terima kasih.. Wufan.”

 

 

 

 

Lengannya putih berada digaris batas dunia

Jalur yang ada membuatku seakan mabuk kepayang

Tidak masalah dia milik cinta ataupun milik kematian

 

Dihadapan kecantikan itu

Semuanya tidak berdaya

Tidak ada yang bisa kulakukan

 

….Selain menyerah

 

 

 

Continue…

 

 

 

SEKALI LAGI INI HANYA FICTION!! HANYA FIKSI DAN TIDAK NYATA!

JANGAN DIBAWA KEHATI ATAU TERLALU DIPIKIIRRKAN!!!

 

 

Mana Taoris shipperrr!!! WAYOOUUUU~

Maaf yah aku buat FF ini dulu sebelum post Beloved (Taoris). #Miannn

Ff ini juga terinspirasi dari pembicaraanku dengan kakak-kakakku di twitter *peluk

 

Kalau ada yang suka syukur kalau ada yang baca juga syukur ^^

Kalau berkesan tinggalkan komentar ya ^^

Thanks!!! *bow bareng Chanyeol

107 thoughts on ““Le Portrait de Petit T.A.O” Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s