TRUST Chapter 1

TRUST

243__602x0_2819y3my5

Author : Kim Hyobin

 

Main : KAIHAN / KAILU FANFICTION

Cast : KIM JONGIN – LUHAN

 

Other : HUNHAN – HUNSOO – KAISOO

 

Genre : Drama , Romance , School Life , Hurt, Mature

 

BL / BOYS LOVE / YAOI

 

WARNING:

NO NC in this Fanfiction but I used MATURE genre! MATURE !

So just for 15 + !

 

FF ini terinspirasi dari lagu jepang yang kudengar, beberapa komik yang aku baca dan imajinasi aneh yang berkembang diotakku. Jadi aku gak plagiat ya ! kalo ada yang sama ya mungkin kebetulan.

 

*Hey, ‘HANTU’ (SILENT READER), I WARN YOU !

 

 

Part 1

 

 

Satu hal yang pasti kuyakini didunia ini

Satu hal yang aku pastikan abadi didunia ini

Satu hal yang pasti pernah dirasakan semua manusia didunia ini

Kesedihan

 

 

Picikkah aku mengatakan kesedihan adalah hal yang abadi?

 

Walau awalnya bahagia.. bukankah semuanya akan berujung pada kesedihan karena semua manusia pasti akan merasakan perpisahan pada akhirnya. Dan apa yang akan manusia rasakan?

 

Kesedihan, bukan?

 

Dahulunya aku mempercayai dirinya. Seakan dialah manusia yang akan memberiku segalanya, memberiku nafas lega saat aku dilanda kesesakkan.

Memberiku setetes air saat aku dahaga.

Memberikan rasa nyaman saat aku kesepian.

Dia pusat hidupku karena aku mempercayainya melebihi siapapun dan apapun  didunia ini.

 

Dia segalanya!

 

Dan bodohnya… aku terlalu mempercayainya.

Hingga pengkhianatanlah yang kudapatkan.

 

 

Dari sana aku belajar satu hal..

 

 

Kebahagiaan adalah omong kosong yang menjijikkan.

 

 

 

“Sehun?” desisku saat membuka mataku pelan, tidak ada siapapun yang tidur disampingku. Perlahan kututup tubuhku yang tidak memakai sehelai benangpun dengan selimut. Ini kamarku.. kami tadi malam berpesta kecil diruang tamu rumahku. Kumanfaatkan karena kedua orangtua ku sedang bekerja di Jepang dan adik lelakiku tengah berlibur kesana.

 

Sedikit meringis aku mencoba untuk duduk. Rasanya sakit sekali, bagaimana tidak.. tadi malam adalah pengalaman pertamaku melakukan hubungan seperti itu.. err.. hubungan intim dengan kekasihku. Aku malu sekali saat mengingatnya.

 

“Lu..Luhan..” Aku dengar suaranya.

 

“Sehun.. kau dari mana?” tanyaku sembari tersenyum lega. Ia baru saja masuk kedalam kamarku. Sepertinya ia dari suatu tempat.

 

Sehun.. kekasihku yang tampan dan baik hati menunduk dalam. “A..aku dari kamar mandi.”

 

“Ah, benar. Kau sudah memakai pakaian dengan rapi.” Aku mencoba duduk ditepi ranjang. Ya Tuhan, sungguh kakiku sulit sekali digerakkan. Suaraku tertahan untuk mengaduh, agar ia tidak tahu bahwa aku menahan rasa sakit yang amat sangat.

 

Namun saat aku duduk ditepi ranjang, tiba- tiba Sehun duduk bersimpuh dihadapanku. Memegang kedua kakiku yang tersibak karena tidak sepenuhnya tertutupi oleh selimut. Aku menatap Sehun heran. Aku tidak bisa melihat wajahnya, ia menunduk.

 

“Se—“

 

“Maaf! Maafkan aku!” suara Sehun bergetar.

 

“Eh? Untuk.. apa?” tanyaku bingung.

 

Sehun perlahan mendongakkan wajahnya. Oh tidak, wajahnya pucat sekali. Aku memegangi pipinya perlahan. Ingin bertanya apakah ia baik- baik saja, namun Sehun kembali memulai pembicaraan sebelum aku mengajukan pertanyaan.

 

“Aku tidak bermaksud melakukannya denganmu, Lu.. tadi malam aku… aku ..” Sehun seketika itu berdiri dan kini posisi Sehun jauh lebih tinggi dari posisiku yang duduk diatas ranjang, membuatku mendongakkan wajahku untuk menatap wajahnya.

Kenapa dia… dia nampak kacau.

 

“Semalam aku mabuk, Sehun. Aku tahu namun aku ingat sekali semuanya. Aku ingat apa yang kita lakukan.” Sungguh malunya aku mengatakan hal seperti ini. Tetapi aku ingin menegaskan kalau aku tidak masalah dengan semua yang terjadi. Karena aku melakukannya dengan Sehun.. namja yang kucintai.

 

Dan anehnya Sehun masih memasang wajah bersalahnya. Tunggu! Ada apa dengannya?

 

 

“Luhan.. aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku mencintai orang lain.”

 

 

 

 

 

Dan semua yang aku mulai dengan harapan besar akan kebahagiaan… berakhir begitu saja.

 

Dia mengkhianatiku.

 

Pengkhianat!

 

 

.

.

.

 

Normal POV

 

Namja cantik berparas sempurna itu melamun, menatap buku fisika yang ada didepan matanya fokus sekali, namun pikirannya melayang jauh dari rumus- rumus rumit yang ia tatap. Wajah cantiknya tidak bergeming dan menunjukkan ekspresi apapun.

 

Ia hanya mengingat… kejadian 7 bulan yang lalu. Kejadian dimana ia dicampakkan begitu saja oleh namja yang amat ia cintai dan harapan terbesarnya.

 

Luhan, nama indah milik namja cantik itu. Kini tengah menutup buku pelajarannya, menghela nafas pelan. Mata bulatnya teralih pada sepasang kekasih yang baru masuk kedalam kelasnya. Sepasang kekasih yang juga menjadi teman sekelasnya.

 

Ah.. hubungan seperti itu. Bukankah akan berakhir juga nantiya, lalu mengapa kini mereka memasang wajah bahagia.. seakan- akan mereka tidak akan terpisah selamanya. Apakah mereka tidak tahu, suatu saat nanti… salah satu pasti berkhianat.

 

Luhan berdiri diposisinya, melangkah keluar dari kelasnya melewati teman- teman sekelasnya yang menikmati jam istirahat siang itu.

 

 

Langkah namja cantik itu terangkai hingga kini ia sudah berada diatas atap sekolahnya, ia duduk tersandar disalah satu dinding. Menatap lekat langit cerah. Awan putih dan langit yang biru, memang perpaduan yang indah.

 

Luhan menitikkan air matanya, mengingat wajah mantan kekasihnya yang mencampakkannya begitu saja. Mengapa namja itu berlaku kejam pada dirinya? Setelah apa yang ia lakukan.. setelah mereka bersatu tanpa halangan sedikitpun…

 

Dengan mudah Sehun mengatakan bahwa ia ingin menyelesaikan hubungan mereka…

… karena Sehun sudah mencintai orang lain.

 

“Orang lain..” desis Luhan pedih kemudian senyuman tipis menegaskan sakit hatinya. “Dia bahkan bukan orang lain bagiku, Sehun… hiks… Kyungsoo adalah adikku.”

 

Kembali Luhan menangis, isakan hebat yang entah sudah berapa kali ia keluarkan tiap ia mengingat pengkhianatan Sehun dibelakangnya. Kyungsoo  adalah adik Luhan. Walau mereka berbeda ayah. Namun tetap saja mereka adalah kakak beradik kandung, bukan? Terlahir dari rahim yang sama.

 

Namun mengapa… Sehun malah memilih adiknya? Sehun mencintai Kyungsoo … bukan dirinya?

 

Oh Tuhan… walau hal itu sudah berlalu lebih dari setengah tahun lamanya. Luhan sama sekali tidak lupa sedetikpun tentang pengkhianatan Sehun padanya. Lebih diperparah oleh hubungan Sehun dan Kyungsoo kini yang sudah menjadi sepasang kekasih.

 

Luhan tidak bisa berbuat apapun kecuali tersenyum tipis saat mendengar kabar itu dari Kyungsoo. Dan Kyungsoo tidak tahu apapun perihal hubungan Sehun dan Luhan sebelumnya karena Luhan memang tertutup dengan masalah percintaannya.

 

Benar.. Luhan tidak bisa menyalahkan adik kecil yang setahun dibawahnya itu. Bukan Kyungsoo yang salah.. bukan juga Sehun yang salah.

 

Yang salah hanya keadaan dan sifat manusia yang mudah berkhianat.

 

Hanya itu.

 

 

 

Perlahan sekali Luhan menghapus jejak air matanya. Menguatkan kembali dirinya, setegar mungkin untuk tidak mengingat kembali kesesakkan itu. walau mustahil untuk langsung melupakan semua kesesakan itu, namun Luhan akan terus berusaha untuk melupakan semuanya, Menghela nafas pelan dan ia coba untuk bangkit.

 

Sampai sesuatu mengagetkannya…

 

Luhan melihat seseorang.

 

Seseorang yang ternyata dari tadi memperhatikannya. Seseorang yang sama sekali tidak Luhan kenal namun ia rasa pernah berpapasan beberapa kali saat ia berjalan dikoridor sekolah. Namja itu duduk berjongkok tepat didepan Luhan namun jarak mereka lumayan jauh, sekitar 100 meter.

 

Ya Tuhan! Sejak kapan ada orang disana?!

 

“Jangan kaget! Aku bukan hantu!!” seru namja itu kemudian berdiri dan berjalan mendekati Luhan.

 

Tentu saja Luhan jadi sedikit malu karena ternyata ia tidak sendirian saja diatap sekolah itu sejak awal. Apa karena terlalu sedih dia tidak menyadari sejak awal ada seseorang disana? Dan bisa dipastikan namja itu melihat Luhan menangis sesegukan seperti tadi. Itu cukup memalukan untuk Luhan.

 

TAP

 

Kini jarak Luhan dan namja itu hanya 3 langkah. Tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Membuat Luhan menunduk dan bungkam seribu bahasa. Jujur saja, ia tidak mau dikatakan lemah atau menangis seperti perempuan. Bagaimanapun Luhan adalah seorang namja.

 

“Namamu.. hmm.. Luhan. Kau bukan orang Korea? Ah! Perkenalkan namaku, Kim Jongin.” ujar namja itu setelah melihat name tag Luhan.

 

Namun Luhan sama sekali tidak berniat menjawab dan ia langkahkan kakinya hendak meninggalkan namja bernama Jongin yang ia anggap aneh itu.

 

“Tunggu!!” sergah namja itu menghalangi langkah Luhan dengan menghadang jalannya.

 

“Kau mau apa!” Luhan menggertakkan giginya. Menatap tajam bilah mata namja tampan .. yah.. namja itu memang tampan dan memiliki mata tajam yang memikat.

 

“Wow! Kau pemarah rupanya. Aku hanya sedikit ingin tahu… hmm.. kenapa kau menangis seperti itu dan—“

 

“Bukan urusanmu!”

 

“Itu urusanku!!” sergah namja itu cepat.

 

Wajah Jongin tiba- tiba serius, membuat Luhan sedikit merinding. Namun dengan cepat, Luhan mendorong tubuh namja itu dan berlari keluar dan menuruni tangga. Jongin hanya melihat punggung Luhan kemudian tersenyum tipis.

 

 

“Luhan… akan kuingat nama itu.”

 

 

 

 

 

Luhan memeluk lengannya dan berjalan cepat sekali setelah menuruni tangga. Ia menuju kelasnya dan sesekali melihat kebelakang, memastikan ia tidak diikuti oleh namja aneh yang tadi menyapanya diatap sekolah.

 

“Kuharap tidak bertemu namja aneh seperti itu lagi.” Bisik Luhan sembari berlari masuk kedalam kelasnya.

 

 

 

 

Keesokan harinya.

 

Luhan bermaksud belajar diperpustakaan. Membawa sebuah buku dan tablet miliknya. Saat ia masuk kedalam perpustakan sekolah yang sepi itu, Luhan tersenyum mantap. Memang inilah yang ia inginkan.

 

Ia lebih nyaman ditempat yang lebih tenang dan tidak ramai. Padahal jam pelajaran Luhan sedang kosong karena gurunya tidak masuk. Namun Luhan memutuskan untuk belajar di perpustakaan daripada tetap dikelasnya yang ribut.

 

Saat ia akan mengambil buku referensi dan berjalan menuju lemari buku yang berjejer…

 

Deg

 

Luhan terkejut melihat sepasang kekasih -mungkin- sedang bercumbu disudut lemari perpustakaan yang tertutup. Namun ia tahu siapa salah satu namja yang tengah bercumbu itu.

 

“Ya Tuhan, tidak bisakah mereka melakukannya ditempat lain?” desis Luhan jengkel entah mengapa.

 

Deg

 

Menyadari namja itu melihatnya, Luhan reflek langsung berlari keluar dari perpustakaan. Jujur saja Luhan tidak ingin punya masalah dengan namja yang sudah ia anggap aneh.

 

 

“Kenapa berhenti?” tanya namja manis itu sembari menarik dasi sekolah si namja tampan yang menyadari seseorang melihat mereka.

 

“Ah! Sepertinya aku harus masuk kelas.”

 

“Ya! Jangan seenaknya, Jongin!!” namja manis itu mengerucutkan bibirnya.

 

“Sudah ya cantik!”

 

Jongin berjalan meninggalkan namja cantik yang jujur saja ia bahkan lupa namanya. Entah sudah berapa namja cantik yang bercumbu dengannya seperti itu. Dan ya… Jongin hanya main- main. Untuk apa ia mengingat nama namja- namja cantik yang bermain dengannya?

 

Langkah cepat Jongin kini terurai keluar perpustakaan, ternyata Luhan belum jauh dan dengan perlahan namun pasti Jongin mengikuti Luhan menuju… atap sekolah rupanya. Senyuman tipis menghiasi bibir namja tampan itu.

 

“Lucu juga. Wajahnya sampai merah karena kaget.”

 

 

 

Luhan duduk dilantai kasar itu, memandang langit cerah lalu menghela nafas panjang. Dengan senyuman tipis ia membuka buku pelajarannya dan mulai mencatat beberapa soal dan menjawabnya. Terus Luhan membuat dirinya sibuk. Hal itu semata- mata hanya untuk melupakan.. Sehun.

 

Jika ia melamun atau tidak melakukan apapun, pasti bayangan Sehun akan kembali menyeruak dan memenuhi pikirannya. Senyuman manis Sehun, suara lembut namun berat itu, tawa riang Sehun, sentuhan Sehun, ciuman… serta perkataan amat manis.

 

Semua masih membekas dalam.

 

Luhan melirik tablet miliknya, menekan layar itu perlahan. Setelah layar kunci tergeser, foto wallpaper yang terpajang dilayar beranda tablet itu… adalah foto dirinya dan Sehun yang sedang berada disebuah taman bermain.

 

Saat- saat bahagia tentunya.

 

Tes

 

“Oh Tuhan!! Bodohnya kau Luhan! Menangislah.. terus saja menangisi namja brengsek itu! Terus saja siksa dirimu! Bodoh?!!” teriak Luhan tiba- tiba pada dirinya sendiri.

 

Dengan cepat Luhan menepis air matanya, kembali memegangi tablet canggih itu dan membuka galeri. Bermaksud menghapus foto itu namun ketika Luhan menekan layar tepat ditulisan ‘Delete’ muncul kotak dialog bertuliskan ‘Are you sure delete this picture?’

 

DEG

 

Luhan terdiam disana.

 

Apakah ia yakin?

 

Kembali Luhan terisak pelan, ia menggeleng pelan dan menekan layar tabletnya pada tulisan ‘NO’. Benar.. Luhan belum siap. Ia sama sekali tidak siap menghapus semuanya karena ia masih mencintai Sehun.

 

Ia merindukan Sehun.

 

 

 

 

Jongin menatap punggung namja mungil yang kini bergetar halus dari belakang. Ia hanya berdiri didepan pintu atap itu. Merasa sedikit iba pada namja cantik itu.. ia mendengar Luhan tadi memaki dirinya sendiri.

 

Jongin cukup mengerti bahwa … sepertinya namja cantik itu pernah terluka oleh cinta.

 

…. sama halnya dengan dirinya.

 

 

TAP

 

Jongin melangkah menjauhi pintu itu, menuruni tangga dengan pikirannya yang masih terpaku pada namja cantik yang sedikit merebut perhatiannya. Padahal ia hanya tertarik dengan ucapan namja itu saat menangis kemarin.

 

 

“Mungkin bukan Kyungsoo yang sama. Sudahlah!” Jongin mengangkat bahunya dan berjalan kembali keperpustakaan.

 

 

 

 

 

“Kau sudah pulang, hyung!” sapa suara merdu itu saat Luhan masuk kedalam rumahnya. Ia tatap lembut adik lelakinya itu dengan sayang.

 

“Ne! Kyungsoo sudah memasak? Woah! Wangi masakanmu… hmm.. pasti sangat lezat!” Luhan mengusap rambut Kyungsoo lembut.

“Aku membuat masakan spesial hari ini. Aigoo.. karena kita beda sekolah jadi tidak bisa pulang bersama denganmu. Untung saja hyung cepat datang.”

 

“Maksudmu?”

 

“Sehun-hyung juga ikut makan bersama kita, hyung. Dia sudah duduk diruang makan.”

 

DEG

 

Mata Luhan membulat. “A..Oh.. begitu. Sehun… Sehun-sshi ada disini.” Sebisa mungkin Luhan menyembunyikan ekspresi wajah tegangnya.

 

“Waeyo? Hyung tiba- tiba pucat?” Kyungsoo memegangi dahi Luhan lembut.

 

“Ani! Mungkin karena aku lapar.. aigoo.. ini sudah jam 7 malam, bukan? Aku belum makan sejak tadi siang karena sibuk kegiatan ekstra disekolah.” Jelas Luhan mencari alasan.

 

“Hyung kau bisa sakit jika tidak makan dengan teratur. Lihat tubuhmu yang semakin kurus ini. Ya Tuhan.. hyung terlihat setipis kertas saja, oeh?”

 

“Hentikan Kyungsoo~ Aduuhh! Telingaku sudah terlalu kenyang dengan omelanmu yang seperti oemma!” gerutu Luhan.

 

“Ya.. akan kuberitahu pada oemma kelakuanmu yang tidak pernah memikirkan asupan gizi.”

 

“Mwo! Aku akan mengawasimu agar tidak memberitahu oemma dan appa yang berada di Jepang!” Luhan memiting leher adik kesayangannya itu. “Ayo minta ampun pada hyung-mu ini!!”

 

“Hyaaa~ Luhan-hyung kau ingin membunuhku!! Mwoo~” Kyungsoo pura- pura kesakitan.

 

Akhirnya kakak beradik itu tertawa keras. Sungguh lihainya Luhan menyembunyikan luka hati yang sebenarnya ia rasakan. Setelah puas bergurau dengan Kyungsoo, Luhan menepuk pelan rambut namja manis itu.

 

“Aku mandi dulu. Makanlah duluan… tidak usah menungguiku.”

 

“Tapi—“

 

“Aku akan makan.. pasti akan makan. Namun tubuhku tidak nyaman.. aku benar- benar ingin mandi dan berendam dulu.” Beribu alasan Luhan layangkan agar ia bisa mengundur pertemuannya dengan Sehun. Jujur ia tidak mau melihat tatapan Sehun yang menatap Kyungsoo dengan sayang dan cinta.

 

Hal itu hanya akan menambah rasa iri dan sakit hatinya.

 

“Aku menunggumu.” Kyungsoo tersenyum.

 

Luhan mengangguk sembari tersenyum tipis. Saat Kyungsoo membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk kedalam dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan, senyuman dibibir Luhan hilang. Berganti dengan matanya yang berat dan merah. 

 

Secepat kilat Luhan berjalan melewati pintu ruang makan tanpa melirik sedikitpun kedalamnya. Sedikit berlari Luhan menaiki tangga kelantai 2 menuju kamarnya. Tidak mengetahui bahwa Sehun sempat meliriknya sebentar.

 

 

 

 

Luhan makan dalam diam. Menunduk dan sama sekali tidak punya minat untuk menatap kedepan.. menatap dua pasang sejoli yang asyik berbincang. Berbincang pembicaraan yang Luhan sama sekali tidak tahu.

 

“Hyung, mau tambah?” tanya Kyungsoo pada Luhan yang sudah menghabiskan makanannya.

 

“Tidak, Kyungsoo sayang. Hyung sudah kenyang.” Tolak Luhan halus.

 

“Tapi hyung makan sedikit sekali.”

 

“Karena hyung mengantuk… hmm, kalau begitu hyung kekamar dulu, ya.” Luhan bangkit dari tempat duduknya namun ..

 

GREP

 

Lengannya ditahan oleh Sehun. Membuat Luhan terkesiap dan memucat. Ia tatap tangan Sehun yang menggenggam pergelangan tangannya. Merasakan kulit Sehun yang mengunci pergelangan tangan Luhan, membuat namja cantik itu tidak bisa menahan desiran darahnya.

 

“Makanlah.. kau tidak ingin melihat adikmu sedih, bukan? Tidak mungkin kau kenyang dengan porsi sesedikit itu.” suara Sehun terdengar lembut sekali.

 

DEG

 

Luhan menatap Kyungsoo yang tertunduk sedih. Oh benar… Sehun pasti tidak mau melihat Kyungsoo sedih, maka dari itu Sehun mencegah Luhan untuk selesai makan. Dengan senyuman tipis, Luhan melepas genggaman tangan Sehun dan kembali duduk.

 

“Ambilkan hyung makanan yang banyak!” ujar Luhan mengarahkan piring baru pada Kyungsoo.

 

Dengan senyuman mantap Kyungsoo mengambil piring itu dan masuk kedalam dapur, mengambilkan berbagai masakan yang sudah ia siapkan untuk Luhan.

 

 

Sementara itu.. Luhan dan Sehun tinggal berdua saja diruang makan. Hening mendominasi beberapa saat hingga sebuah suara menyelesaikan suasana hening itu.

 

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sehun pelan.

 

Luhan menghela nafas dan bersandar disandaran kursi. “Menurutmu?”

 

Sehun menatap namja cantik yang sama sekali tidak membalas tatapannya itu. “Aku.. mengkhawatirkanmu.”

 

“Perbuatan sia- sia, Sehun-sshi. Sedikitpun aku tidak pernah memikirkanmu lagi. Jadi berhentilah merasa bersalah padaku.” Cercah Luhan tanpa ampun, masih enggan menatap mata Sehun.

 

Sangat pelan Sehun menghela nafasnya. Kembali diam dan tidak membicarakan apapun lagi dengan Luhan yang… yang ia yakini adalah namja cantik itu pasti membencinya.

 

 

 

 

Keesokan harinya.

 

Kembali Luhan bermaksud menenangkan diri diatap sekolahnya saat jam istrirahat. Namun saat Luhan melewati sudut koridor sekolah yang tertutup, tidak sengaja ia kembali melihat.. Jongin dan seorang namja cantik yang berbeda tengah bermesraan berdua. Mereka tidak berciuman atau bercumbu namun cukup mesra.

 

Luhan bergidik ngeri dan mempercepat jalannya menuju atap sekolah.

 

“Astaga!  Kenapa aku jadi sering melihat dia disekelilingku!!” gerutu Luhan kesal.

 

 

Namun sepertinya nasib Luhan masih berputar ditempat yang sama. Keesokan harinya ia kembali melihat Jongin duduk diatas tangga bersama seorang namja cantik yang… berbeda lagi. Sebisa mungkin Luhan hanya mengacuhkannya saja.

 

Keesokan harinya juga begitu, hingga seminggu berturut- turut. Luhan semakin heran mengapa ia selalu melihat Jongin dengan namja yang berbeda- beda setiap ia tidak sengaja berpapasan dengan namja tampan yang sudah di cap playboy mesum oleh Luhan.

 

 

 

 

“Aissh!!! Apa dosaku selalu bertemu dengan namja mesum yang playboy itu!!” gerutu Luhan kesal sekali sembari melemparkan bungkusan sandwich-nya kesembarangan tempat. Seperti biasa dia menghabiskan waktunya diatap sekolah.

 

DEG

 

Namun sesuatu remuk didalam hatinya melihat namja itu. Bukan rasa cemburu atau rasa lain.. Luhan hanya berfikir.. ternyata memang banyak sekali manusia yang tidak setia. Dengan mudah mempermainkan perasaan orang lain. Dengan gamblangnya memamerkan kecacatan hati.

 

“Apakah dia tidak memiliki hati, oeh? Seenaknya mempermainkan perasaan orang lain.. dengan mudahnya berganti- ganti kekasih… seakan hati manusia itu seperti pakaian. Jika sudah kotor tinggal diganti dengan yang baru.”

 

Luhan memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Mencoba untuk menahan tangisnya. Padahal ia adalah seorang namja namun jika menyangkut masalah seperti itu, Luhan jadi sangat sensitif.

 

Perbuatan seperti itu… mengingatkannya pada Sehun.

 

 

Puk

 

Luhan merasakan seseorang menepuk pundaknya lembut, membuat Luhan seketika itu mengalihkan padangannya kesamping. Mendapati seseorang yang sudah duduk disampingnya.

 

“Kau mau menangis lagi?”

 

Luhan kembali membenamkan wajahnya diantara lutut dan menggeleng. “Pergi sana! Bukan urusanmu.”

 

Namja bernama Jongin itu kemudian menghela nafas panjang dan mendongakkan wajahnya menatap langit. “Bagaimana ya.. Aku sudah capek- capek mengejarmu namun kau malah mengusirku?”

 

“Pergi!” Luhan masih kukuh untuk mengusir Jongin.

 

“Kau pemarah sekali. Kalau kau seperti ini terus kau hanya akan menyiksa hatimu sendiri. Apa kau tidak capek?”

 

 

DEG

 

 

Luhan perlahan mendongakkan wajahnya, mengalihkan pandangan matanya pada wajah Jongin yang masih menatap langit siang itu.

 

“Kau tahu apa!” Luhan mengerucutkan bibirnya dan kembali memeluk lututnya. Menumpukan ujung dagunya pada lutut.

 

Jongin tersenyum tipis tidak menjawab perkataan Luhan. Keheningan mendominasi cukup lama. Membiarkan dua orang namja itu hanyut dalam pikiran masing- masing. Seakan kenangan pahitlah yang terkenang oleh mereka saat ini.

 

 

“Tidak adakah rasa bersalah.. saat kau mempermainkan namja- namja cantik yang kau kencani?” tanya Luhan tiba- tiba.

 

DEG

 

Jongin membulatkan matanya kemudian menatap Luhan yang kini sudah menatapnya. Bibir tebal Jongin seketika itu menyeringai dan ia menghela nafas pelan.

 

“Untuk apa? Mereka juga melakukan hal yang sama dibelakangku, bukan?”

 

“Eh?”

 

Jongin berdiri dan saat itu juga ia mengarahkan tangannya pada Luhan. Namun Luhan dengan angkuhnya mengalihkan pandangannya dari uluran tangan Jongin. Memutar bola matanya, Jongin menarik tangan Luhan dengan cepat namun tetap lembut. Membuat namja cantik itu berdiri dengan tegap.

 

“Jangan sentuh aku!!” Luhan mengempaskan tangan Jongin.

 

“Kau benar- benar namja yang sulit sekali diajak bicara, oeh?!” Jongin tidak habis pikir dengan namja cantik yang amat pemarah dihadapannya. Seketika Jongin melirik tablet yang digenggam Luhan dari tadi.

 

Grep

 

“MWO! Ja—jangan!” Luhan berusaha mengambil kembali tablet nya yang sudah berada ditangan Jongin.

 

“Ambil kalau kau bisa menangkapku!!”

 

Jongin berlari menjauhi Luhan dan tentu saja dengan kesal Luhan mengejar Jongin. Meneriakkan berbagai perkataan agar Jongin berhenti dan mengembalikan tablet-nya. Namun tetap saja namja tampan itu hanya tertawa dan terus berlari berputar- putar diatap itu.

 

“Haahh… haahhh…” Luhan tidak kuat untuk berlari lagi akhirnya terhenti. Berdiri sembari membungkuk dan memegangi lututnya. Nafas Luhan terdengar berantakan sekali. Wajahnya memerah dan keringat mengaliri kulit putihnya.

 

“Sudah menyerah, oeh? Oh, kamu maniiss sekali, Luhan-sshi~” ledek Jongin yang nampak santai saja dan kembali tersenyum melihat Luhan yang sudah kehilangan tenaga.

 

Jongin membuka kunci pada layar tablet itu dan langsung menekan layar bertuliskan ‘Camera’. Seringai nampak terlukiskan diwajah tampan Jongin, kemudian ia berfoto dengan pose konyol. Membuat Luhan mengerjapkan matanya, menatap bingung namja tampan itu.

 

“Kau hanya ingin berfoto makanya mengambil tablet-ku, oeh? Apakah kau tidak tahu kala—“

 

“Aku tahu. Tidak sengaja aku mencuri dengar dan melihatmu menangisi wallpaper layar tablet-mu beberapa hari yang lalu.” Jongin mengamati wallpaper tablet itu, belum berubah sama sekali. Masih foto Luhan dan seorang namja tampan saat ditaman bermain. Senyuman yang tergambar dikedua wajah namja yang ada difoto tersebut membuktikan bahwa mereka sedang berbahagia.

 

“Lalu apa urusanmu?” Luhan benar- benar menganggap namja tampan dihadapannya itu sebagai manusia yang kurang etika dan tidak sopan.

 

“Tidak ada.. aku hanya…” Jongin diam sesaat dan mengotak atik tablet Luhan sebentar. Kemudian senyuman manis tergambar jelas diwajah tampannya. Seketika itu ia perlihatkan dengan bangga layar beranda tablet itu kepada Luhan.

 

“MWO! KAU!!” Luhan berteriak tidak percaya melihat wallpaper beranda tablet-nya adalah foto.. Jongin dengan pose konyol yang baru saja ia ambil. “Ya Tuhan! Kau benar- benar namja bodoh yang tidak sopan!! Jinjja!! Agh! Kau membuatku kesal!!”

 

Jongin menunjuk Luhan seketika itu. “Itu yang aku mau! Setidaknya kau tidak akan sedih setiap melihat wallpaper tablet-mu lagi, kan?”

 

DEG

 

Mata Luhan membesar. “E—Eh?”

 

“Walau kau kesal saat melihatnya namun aku yakin kau tidak akan sedih lagi. Karena saat kau melihat wallpaper layar tablet-mu yang kau lihat hanyalah fotoku yang… aissh! Wajahku konyol sekali… aku ulangi mengambil foto ya.” Jongin mulai mengotak atik kembali tablet milik Luhan.

 

“Ti—Tidak usah!” Luhan merampas tablet-nya dari tangan Jongin kemudian memeluknya erat. Semburat merah tergambar diwajah putih Luhan. Ia mulai berfikir bahwa namja playboy mesum itu ternyata tidak seburuk yang ia kira dan… setidaknya namja tampan itu bisa sedikit mengobati kesedihan hati Luhan dengan tingkah konyolnya saat ini.

 

“Kau bodoh! Dasar playboy mesum!!”

 

“HAHAHA!! Hey! Hey!! Aku punya nama tahu!” Jongin mencubit pipi merah Luhan, membuat namja tampan itu mendapatkan tendangan kecil tepat dibetis. “Mwo! Kau tidak bisa sedikit lembut!!” keluh Jongin kesal.

 

“Jangan sembarangan menyentuhku! Dan….aku lupa namamu.” Ujar Luhan dengan wajah datar.

 

“HYAA!! Tidak ada satupun orang yang tidak mengenaliku disekolah ini, Luhan-sshi!” Jongin terkejut karena Luhan mengatakan hal yang ia anggap sangat tabu. Hey! Siapa yang tidak mengenal namja tampan bertubuh seksi dan berparas memikat seperti Jongin?

 

“Begitukah? Tapi aku benar- benar lupa. Maaf!” Luhan menjawab dengan cuek.

 

Jongin menyeringai dan mendekati Luhan, mendorong tubuh Luhan perlahan hingga membuat Luhan terhimpit diantara dinding dan tubuh Jongin. Mata Luhan membulat saat Jongin mulai mendekatkan wajahnya mendekati wajah Luhan. Mengurung tatapan mata itu hingga yang Luhan lihat hanyalah mata namja tampan itu.

 

“Namaku… Kim… Jongin..” bisik Jongin tepat ditelinga Luhan. membuat namja cantik itu merinding entah karena apa. Dan dengan reflek Luhan mendorong tubuh Jongin agar tubuhnya bisa bebas dari kurungan namja tampan itu.

 

“DASAR MESUM!!”

 

Setelah mengatakan hal itu, Luhan berlari keluar dan menuruni tangga. Membiarkan Jongin yang tertawa terbahak- bahak melihat tingkah Luhan yang ia anggap lucu dan polos.  

 

“Aku yakin kau tidak akan melupakan namaku lagi, Luhan-sshi. Wahahaha!” Jongin tersenyum manis. “… tidak akan kubiarkan kau melupakan namaku lagi.”

 

 

Continue…

 

 

Hay, reader yang baca FF ini.

Kali ini Hyobin buat FF KAIHAN / KAILU hehe

Ada yg mau ini lanjut?

Thanks~

165 thoughts on “TRUST Chapter 1

  1. KAILU *Q*
    ini ff yang paling bikin gila
    kailuuuuu~ *teriak” gaje*

    oh deer
    baru baca bagian awal tapi udah ngeliat mata indahmu dibanjiri air mata /peluk deer/
    ya yaa sehun
    begitu ringannya kau memutuskan ikatan dengan luhan dan lagi–
    kau memutuskannya setelah menyentuhnya, itu benar benar kejam :@
    jijjaa, bahkan orang yang kau cintai kyungsoo? Adik rusa
    ckckckck benar”
    *ngoceh ngoceh sendiri*

    uiiih
    jongong jongong
    baru nemu(?) lansung di cap playboy ame rusa, ngakak dah xD
    ceileee pas liat rusa lansung tertarik xD
    tapi napa rasanya ganjil? Jongong juga kenal kyungsoo? Pernah tersakiti cinta juga?

    Kailu emang bikin greget bacanyaaa
    DDAeBAKK hyobin-sama
    lanjuuuut

  2. KAILUU
    aku nemu kailu lagiiiii😀

    sempet nyesek di depan tapi sekarang kayak orang gila aku nyaa
    kyungsoo belum tau ya perihal kakaknya ??
    Si sehun juga -_-
    bener2 pengen gigit bantal
    arrww

    haaahh ini bener2 ..
    Susah mendeskripsikannya😛

  3. Annyeong,new reader imnida “bungkuk”
    Serasa menemukan surga saat menjelajahi
    Blog ini,biasku,Luhan aka rusa unyu2 jadi salah satu TOP pair disni,argggghhh jerit. heboh,
    KaiLu salah satu Pair favoritku,^-^

    Hemmm,Sehun selingkuh dgn adiknya Luhan,ishh !! dan Jongin pun ditinggal DO O_O…
    Suka dgn Jongin disini,tengil,bad boy,tapi punya sensitive sense.ini pasti berakhir romance kan?..

  4. Luhannya manis banget yaaa.. dingin tapi tetep aja seperti biasa polos banget.. dan kai yaaa nakal banget tapi bikin gemes sendiri

  5. Ahhhh…..aku suka hunhan!! Tapi aku kaga redo luhan sama sehun disini!!! Kkamjong…save uri luhan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s