TRUST Chapter 2

TRUST

 243__602x0_2819y3my5

AUTHOR : KIM HYOBIN

 

Main : KAIHAN / KAILU / JONGIN -LUHAN FANFICTION

Cast : KIM JONGIN – LUHAN

Other : HUNHAN – HUNSOO – KAISOO

Genre : Drama , Romance , School Life , Hurt, MATURE!

BL / BOYS LOVE / YAOI

 

 

NO NC in this Fanfiction but I used MATURE genre! MATURE !

So just for 15 + !

 

Para karakter di FF ini, karakter buatan saya. Jadi yang TIDAK SUKA bias atau idola nya saya pakai untuk kepentingan FF saya, mohon jangan dibaca. Anda sedih , saya juga sedih kena bash. Saling mengerti ya ^^V

 

 

Hey, ‘HANTU’ (SIDER), I WARN YOU !!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

 

Part 2

 

Luhan mendesah pelan saat meregangkan tubuhnya. Ia baru saja selesai belajar 2 jam nonstop dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Perlahan ia berjalan keluar kamarnya, menuruni tangga kemudian kembali berjalan menuju dapur. Bermaksud mengambil segelas susu dingin untuk melepas dahaganya.

 

“Ahhh~” Luhan tersenyum mantap setelah meneguk habis susu vanila dingin yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin.

 

Namun saat Luhan akan keluar dari dapur dengan masih memegang segelas (lagi) susu dingin, matanya tertaut pada sepasang sejoli yang sedang berbicara diruang tamu. Luhan terdiam disana sembari terus memperhatikan namja tampan dan adik lelakinya itu, Sehun dan Kyungsoo.

 

Mereka nampak bahagia, tersenyum senang dengan setiap pembicaraan yang mereka layangkan. Wajah Sehun yang tampan semakin saja terlihat tampan dengan tawanya yang berkarisma, memandangi Kyungsoo dengan kasih sayang dan tangan besarnya terus saja menggenggam tangan mungil Kyungsoo dengan erat.

 

Luhan tersenyum tipis memperhatikan kedua namja yang tidak menyadari keberadaannya. Ia tidak akan iri dengan pemandangan seperti itu… ia sudah terbiasa. Namun tetap saja yang ia rasakan sakit didada. Luhan masih berharap Sehun kembali padanya, tidak picik.. Luhan memang masih sangat sangat mengharapkan Sehun.

 

Sampai saat ini.. Luhan masih mencintai Sehun.

 

Masih menganggap Sehun.. hanya Sehun yang menguasai .. mungkin akan begitu seterusnya. Tetapi jauh dilubuk hatinya, ia berharap… harapan itu bisa hilang secepatnya. Karena Luhan tahu dengan pasti… ia sudah tidak punya harapan lagi bersama Sehun.

 

 

Tap

 

 

Luhan berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya. Tepat saat Luhan berjalan pergi, mata Sehun langsung melirik tempat dimana Luhan tadinya berdiri. Menatap tempat itu agak lama dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sehun tahu… Luhan tadi berdiri disana. Luhan memperhatikan mereka dengan sesak didadanya.

 

 

Sehun tahu.

 

 

 

 

Keesokan harinya…

 

Luhan berjalan dikoridor sekolahnya. Suasana masih agak sunyi karena Luhan datang agak pagi dari biasanya. Ia hanya sulit tidur dan memutuskan untuk cepat pergi kesekolah agar hatinya bisa sedikit lega. Setidaknya ia bisa melupakan sesaat sosok Oh Sehun jika ia berkutat dengan buku pelajaran dan rumus- rumus sulit.

 

Tap

 

Langkah kaki Luhan terhenti saat ia melihat namja bernama Kim Jongin –Luhan tidak akan lupa lagi-  berdiri tegap didepan kelas Luhan. Rupanya ia menunggui Luhan sejak tadi. Mendesah keras Luhan malah berbalik pergi tidak jadi berjalan menuju kelasnya.

 

“Tunggu! Hey, aku sudah menunggumu sejak tadi!” kejar Jongin dan berjalan beriringan dengan Luhan.

 

Namja cantik itu memutar bola matanya dan berhenti berjalan. “Mau apa lagi?”

 

Jongin tersenyum tipis kemudian berdiri berhadapan dengan Luhan. “Ternyata kau senior-ku. Aku sangka kau juniorku, murid kelas 1. Ternyata kau murid kelas 3 Luhan-sshi. Aku tidak menyangka.. wajahmu benar- benar menipu.”

 

“Lalu urusannya denganku?” Luhan merasa Jongin mulai membuang- buang waktunya.

 

“Tidak ada sebenarnya.. hanya saja… bagaimana keadaanmu?” tanya Jongin masih dengan senyuman.

 

“He?” Luhan tidak mengerti.

 

“Iya, bagaimana? Kau masih terus memikirkan luka hatimu?”

 

DEG

 

Luhan mengerjapkan mata bulatnya kemudian mengerutkan keningnya. Ia heran dengan namja tampan yang ada dihadapannya ini. Mungkin namja tampan itu terkesan sangat ikut campur namun Luhan tahu.. namja tampan bernama Jongin ini hanya terlalu khawatir padanya.

 

“Hallo~” Jongin melambaikan tangannya dihadapan Luhan.

 

“Kau aneh!” seketika itu Luhan membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju kelasnya. Diikuti oleh Jongin yang masih saja mengajak Luhan berbicara walau ditanggapi sangat dingin oleh Luhan.

 

 

“Luhan-sshi!” Jongin masih mengikuti Luhan, kini ia membalikkan sebuah kursi yang ada didepan meja Luhan dan duduk berhadapan dengan Luhan yang sudah terlihat jengkel. Ingin sekali namja cantik itu memukulkan tas sekolahnya pada wajah Jongin namun ia menahan hasrat mulia itu karena masih bisa menahan  kesabarannya.

 

“Kau ada acara sepulang sekolah?” tanya Jongin lagi.

 

“Ada! Ekstrakulikuler, belanja bahan makanan, banyak hal lagi yang akan kulakukan! Dan jangan pernah berani kau berniat untuk menjadikan aku salah satu namja yang kau kencani!!” peringat Luhan langsung dengan keras.

 

Jongin tersenyum tipis dan menopang dagu menatap Luhan yang masih saja mengomel sendiri. Ia tatap bibir mungil yang bergerak tak ada habisnya, menatap sosok Luhan yang begitu cantik.. Jongin berfikir saat itu, mengapa sosok secantik itu bisa ternoda oleh air mata berkali- kali?

 

Apakah air mata tidak malu mengotori wajah secantik itu?

 

 

 

“Hey! Dengarkan aku bicara!!” Luhan terlihat geram, Jongin sama sekali tidak mendengar ucapannya.

 

Jongin terkekeh dan mengangkat bahu. “Aku dengarkan, Luhan-sshi. Hanya saja.. ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kau batalkan semua acaramu?”

 

“Enak saja! Tidak bisa! Kau pikir kau siapa! Kalau kau mau bicara denganku.. kau harus menungguiku hingga urusanku selesai!” Luhan melipat tangannya didada. Sepertinya Luhan benar- benar mencap Jongin adalah namja yang seenaknya. Sangat seenaknya!

 

“Baik! Jika tuan putri bilang begitu.. aku akan menunggumu!” Jongin mengangguk mantap dan… “Eh? Aku salah bicara?”

 

Sedikit terkejut Jongin melihat raut wajah Luhan yang tadinya kesal kini menegang dan pucat. Seketika itu mata Luhan mulai berat dan ia menunduk. Jongin merasa bahwa nampaknya ia mengatakan hal yang sedikit tabu bagi Luhan.

 

“Luhan-sshi? Wa—“

 

Luhan berdiri dari duduknya dan berlari keluar kelas, sontak Jongin terkejut karena Luhan bergerak dengan sangat tiba- tiba, mau tidak mau Jongin harus mengikutinya. Kini ia yakin sekali bahwa ia mungkin menyinggung hati Luhan.

 

“Aish!!” desis Jongin disela- sela larinya.

 

 

 

 

 

 

“Luhan-sshi!!” teriak Jongin saat Luhan masuk kedalam sebuah bilik toilet. Ia mencoba mengetuk pintu bilik toilet itu, namun berusaha tidak seberisik mungkin.

 

“Tinggalkan aku sendiri, Jongin!!” balas Luhan keras namun tidak membantah Luhan terisak lumayan hebat.

 

“Ma—Maaf! Apa aku menyinggungmu? Aku minta maaf, Luhan-sshi!” Jongin masih mengetuk pelan pintu itu, berharap Luhan membukakannya. Ia mulai cemas karena isakan Luhan terdengar semakin kencang.

 

Apa Jongin membuatnya ingat akan sesuatu?

 

 

 

Luhan merebahkan punggungnya pada pintu toilet. Ia menangis sesegukan, ia teringat kembali saat pertama kali ia bertemu dengan Sehun… ia bertemu dengan namja tampan yang langsung merebut hatinya hanya dengan sekali lihat saja.

 

 

Mereka bertemu di bus menuju sekolah masing- masing, kebetulan bus yang mereka gunakan searah dan tidak sengaja mereka duduk bersampingan dibangku bus. Saat itu kartu berlangganan bus milik Luhan terjatuh dan Sehun mengembalikannya pada Luhan.  

 

 

 

 

“Terima kasih… Hmm.. N—Namaku.. Luhan.” ujar Luhan terbata- bata sembari mengulurkan tangannya. Tidak menyangka ia akan bertemu dengan namja setampan itu dan menolongnya.

 

Namja tampan itu menyambut uluran tangan Luhan dan tersenyum amat manis. Tampan sekali. “Namaku Sehun. Oh Sehun… kau cantik sekali, tuan putri.”

 

Wajah Luhan memerah, baru kali itu ada yang memanggilnya tuan putri. “Tu—Tuan putri? Mwo.. aku ini namja. Benar- benar namja!”

 

“Aku tahu. Bagiku kau sangat cantik.. seperti seorang putri. Maaf.. mungkin aku aneh, padahal kita baru saja berkenalan..  Bolehkah aku memanggilmu tuan putri.. Hmm.. Luhan?” namja tampan berbeda sekolah dengan Luhan itu menggenggam tangan Luhan erat dan begitu lembut.

 

“Bo—boleh saja.” Luhan mengangguk pelan. “Dan kuharap kita bisa berteman mulai dari sekarang.”

 

 

 

Tuan putri…

 

Panggilan yang manis.. panggilan yang bertahan hingga mereka menjalin kasih dalam ikatan sepasang kekasih. Hubungan mereka terjalin baik nyaris satu tahun lamanya. Hingga… panggilan manis itu hilang … semenjak Sehun mengenal Kyungsoo.

 

Sehun tidak pernah lagi memanggilnya… tuan putri.

 

Mungkin panggilan itu terkesan memalukan karena ia adalah seorang namja, namun panggilan itu adalah bukti bahwa Sehun memujanya. Sehun memberikan panggilan kesayangan padanya… Sehun peduli padanya.

 

Dan panggilan itu… kini ia dengar lagi dari bibir Jongin. Membuat Luhan seketika itu merasakan kembali sakit hatinya. Merasakan kembali sebuah pukulan menyesakkan menghantam dadanya…

 

 

 

… membuat ia merindukan Sehun.

 

 

 

“Luhan-sshi..” Jongin menghela nafas pelan. “Aku tidak akan meninggalkanmu.. aku akan menunggumu hingga keluar dari bilik toilet ini.”

 

“Pergi! Dasar namja bodoh!!” teriak Luhan keras sekali, sedikit membuat Jongin tersentak. Namun namja tampan itu hanya tertawa pelan dan ikut merebahkan punggungnya dipintu. Ia menatap langit- langit toilet sekolahnya itu kemudian mengangguk pelan.

 

“Luhan-sshi! Mau ikut denganku atau tidak? Aku akan membawamu kesuatu tempat yang bisa membuatmu sedikit lega… ya walau aku tidak yakin.” Ucap Jongin sedikit keras tetapi tidak berteriak.

 

 

DEG

 

Isakan Luhan terhenti sejenak, ia hapus air matanya dan menjauhkan tubuhnya dari pintu toilet. Ia tatap pintu toilet itu lekat, seakan itu adalah Jongin. “Apa maksudmu?”

 

“Bukakan pintunya dulu. Kita tidak mungkin berbicara seperti ini, bukan?”

 

Luhan kembali menghapus air matanya yang terus terjatuh. Perlahan ia buka kenop pintu itu dan melihat Jongin yang sudah tegak berdiri didepannya. Perlahan Jongin mengarahkan tangannya pada Luhan membuat namja cantik itu membalas uluran tangan Jongin.

 

Tersenyum, Jongin membimbing Luhan agar menjauhi bilik toilet itu. Kemudian mereka berjalan keluar toilet, Luhan masih saja sibuk menepis air mata yang terjatuh satu persatu. Walau ia sedikit bingung kemana Jongin akan membawanya, namun kali ini Luhan pasrah. Ia akan mengikuti perkataan Jongin. Entah mengapa… namja tampan itu… membuatnya sedikit lega dan nyaman.

 

 

Langkah mereka terurai hingga kearea belakang sekolah, Luhan sedikit mengerutkan keningnya saat Jongin masih menarik tangannya dan masih berjalan dengan cepat. Sampai akhirnya mereka terhenti didepan pagar tembok belakang sekolah yang tidak terlalu tinggi.

 

“Ayo, kita memanjatnya.”

 

“Mwo!!” teriak Luhan keras. “Tidak! Kau mau mengajakku membolos, Kim Jongin? Kurang dari 5 menit lagi jam pelajaran pertama akan masuk.”

 

Jongin memutar bola matanya dan …

 

 

“Kyaaaa!!!!” Luhan terpekik kaget.

 

Jongin mengangkat tubuh mungil Luhan dan mendudukkannya diatas pagar tembok yang tidak terlalu tinggi. Nampak begitu mudahnya ia mengangkat Luhan, seakan Luhan hanyalah anak kecil.

 

“Apa-apaan kau! Aissh!! Jinjja!” Akhirnya Luhan hanya bisa mendesah pasrah karena ia tidak berani melompat turun walau pagar itu tidak terlalu tinggi. Jangan lupakan bahwa kenyataan tubuh Luhan yang mungil. Ia pasti terhempas begitu saja jika melompat turun.

 

“Hup!” Jongin ikut duduk ditembok pagar, lebih tepatnya duduk disamping Luhan. Dengan senyuman begitu manis, Jongin membalikkan tubuhnya seketika dan melompat turun kesebalik pagar sekolah. Luhan yang takut ditinggal kemudian ikut membalikkan tubuhnya dengan hati- hati. Ia tentu tidak mau terjatuh dan patah tulang, bukan?

 

DEG

 

Namun saat ia membalikkan tubuhnya… yang ia lihat adalah sebuah pemandangan indah yang tidak pernah ia duga. Luhan diam terduduk diatas pagar tembok itu, sedikit tercengang…

 

Sebuah taman… taman itu tidak terlalu luas, namun ada beberapa pohon ek dan berbagai pohon rindang yang warna daunnya seperti warna orange. Serta ada sebuah ayunan besar disana. Semilir angin dengan wangi dedaunan. Bahkan bisa dilihat rumput liar lumayan tebal mendominasi tempat itu. Menandakan bahwa jarang sekali ada manusia berkunjung. Tempat tak tersentuh.

 

Bisa didengar bunyi bising kendaraan dibalik taman samar- samar… sepertinya dibalik pepohonan yang menghalangi, langsung ada jalanan bermotor. Namun pohon dengan batang yang sangat besar menutupi taman itu hingga suasana taman tetap asri serta tenang.

 

Jongin yang sudah ada dibawah tersenyum puas melihat ekspresi wajah takjub Luhan. Lalu namja tampan itu mengangkat kedua tangannya kearah Luhan. “Melompatlah! Aku akan menangkapmu!”

 

“E—Eh?” Luhan yang seakan sadar dari lamunannya menatap Jongin kaget. “Aku melompat kearahmu?”

 

“Memangnya kau bisa turun sendiri?”

 

“Tidak.. tapi kau janji akan menangkapku, kan? Kau tidak mengerjaiku, kan?” Luhan nampak sangat waspada.

 

“Tentu saja! Kau sulit sekali mempercayai orang lain, oeh?” Jongin hanya mendesah pelan.

 

Luhan memutar bola matanya. “Haruskah aku mempercayai manusia yang bisa mengumbar cintanya pada semua namja cantik yang ada disekolah?”

 

“Hahaha! Tenang saja! Kali ini aku tidak sedang menggoda seorang namja cantik. Aku hanya ingin menolong seorang namja cantik yang tidak bisa turun dari atas pagar tembok. Bagaimana, Luhan-sshi?”

 

“Ba—Baiklah!” Luhan akhirnya memutuskan untuk melompat kearah Jongin. “Kau tangkap aku! Jika tidak, aku akan membunuhmu!”

 

“Iyaaaa!!!” Jongin mulai malas dengan kelakuan Luhan.

 

Luhan menutup matanya sesaat dan menghela nafas pelan. “Satu.. dua… tigaa— AKU LOMPAT!!“

 

“YA! YA! Jangan tutup matamu jika me—“

 

 

BRUAK

 

“Aduuh!!!” Desis Luhan pelan saat merasakan tubuhnya menubruk tubuh Jongin hingga mereka berdua terjatuh ditanah berumput. Karena tubuh mungil Luhan tidak menubruk tanah yang keras, ia tidak terlalu merasa sakit. Berbeda dengan… Jongin.

 

“Berat!” Jongin langsung mengeluh karena Luhan dengan brutalnya menubruk tubuhnya hingga terjatuh keras ketanah. Padahal ia bermaksud menangkap Luhan namun namja cantik itu langsung menghantam tubuh mungilnya ketubuh Jongin.

 

Luhan perlahan duduk sembari membuka matanya, ia duduk tepat diatas perut Jongin. Kemudian menatap Jongin yang masih terbaring disana. Jongin mengiris kesakitan karena kepalanya sedikit terantuk. Masih dengan posisi yang sama, entah mengapa Luhan merasa kaku untuk beranjak. Ia tatap wajah Jongin yang masih meringis. Dan saat itu juga ia sadar, Luhan berdiri secepat kilat dari tubuh Jongin. Lalu diam seperti sedang berfikir.

 

“Bantu aku berdiri.. jangan melamun! Jinjja! Tulangkuuu! Aish!” keluh Jongin saat melihat Luhan malah termenung disana.

 

“Maaf!” tersadar, Luhan langsung membantu Jongin berdiri dan menepuk sedikit baju seragam Jongin yang kotor. Wajah Luhan masih terlihat memerah, tentu saja Jongin sadar akan hal itu. Dan ia menikmati wajah Luhan yang merona, terlihat manis dan polos.

 

“Terima kasih, Jongin.” Ujar Luhan begitu pelan.

 

“Hmm?” Jongin rupanya tidak mendengar ucapan Luhan. “Apa yang kau bilang?”

 

Luhan menghela nafas pelan dan mencibir. Kemudian ia berlari menuju ayunan besar dan duduk disana. Mengayunkan tubuhnya dan terkekeh pelan. Entah apa yang dipikirkan namja cantik itu kini, ia seakan tersipu.

 

Jongin tersenyum manis dan mendekati Luhan. ia tatap namja cantik yang kini mengayunkan ayunan itu semakin tinggi.

 

“Luhan-sshi!” panggil Jongin.

 

“Nde?” Luhan memperlambat gerakannya agar ayunan itu tidak terlalu kencang.

 

Jongin tersenyum tipis dan wajahnya berubah menjadi serius. “Maafkan aku. Mungkin tadi aku membuatmu mengingat hal yang buruk…aku tidak bermaksud membuatmu menangis, Luhan-sshi.”

 

Tep

 

Seketika itu Luhan menahan kakinya ditanah dan menghentikan laju ayunan itu. Luhan menunduk. “Mengapa kau memanggilku dengan… tuan putri?”

 

Jongin mengangkat bahunya. “Mungkin karena kau … cantik.”

 

Mendengar jawaban Jongin, Luhan mengeratkan pegangannya pada tali ayunan. Ia berfikir, “Semua sama saja. Semua sama saja memuakkan.. semua—

 

“Tapi.. Kurasa tidak juga.” Jongin kembali membuka suara.

 

“Eh?” Luhan mendongakkan wajahnya menatap Jongin yang kini sedang melihat langit yang cerah sembari tersenyum. Dimata namja tampan itu tersimpan sesuatu.

 

“Kau memang cantik, namun ucapanmu tajam. Watakmu keras dan itu kadang menyebalkan. Dan.. hmm .. kupikir nenek sihir panggilan yang cocok untukmu.” Seketika itu Jongin terkekeh.

 

“Ap—Apa! Kau tidak sopan!!” Luhan tidak terima saat Jongin mengatakannya… nenek sihir?

 

“Tidak sopan? Aku hanya memberi pendapat. Mungkin sekali lihat semua orang akan mengatakan kau seperti seorang putri namun kau benar- benar menyebalkan, kau tahu? Jinjja!!” Jongin tidak mau kalah.

 

“Kalau aku menyebalkan, jangan dekati aku lagi!” Luhan berdiri dari ayunan. Matanya tertekuk marah menatap Jongin yang kini menahan hasratnya untuk tertawa. Tunggu, kenapa Jongin ingin tertawa? Tentu saja.. dia hanya menggoda Luhan, bukan?

 

“Kau benar- benar pemarah! Sudah! Tenangkan saja dirimu, oeh! Bukankah kau sedang bersedih?” Jongin kembali mendorong dengan lembut tubuh Luhan agar duduk dengan tenang diayunan. “Kau tahu tempat ini sungguh membuat hatiku tenang jika aku ada masalah. Hebatnya.. hanya aku yang tahu ada taman seperti ini dibalik tembok pagar belakang sekolah. Ini tempat rahasiaku.”

 

DEG

 

Mata Luhan mengerjap lucu kemudian ia mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah tidak merasa sedih lagi dan… apa yang rahasia? Kau memberitahuku, bukan?”

 

“Syukurlah jika kau sudah tidak bersedih.. Ini memang tempat rahasia.. karena kau sudah tahu berarti rahasia kita berdua!” ucap Jongin nampak senang.

 

“Eh? Rahasia… kita berdua?”

 

Jongin mengangguk mantap. “Jangan beritahu siapapun! Tempat ini hanya milik  kita. Kau mengerti?”

 

Manis, Luhan merasa ada yang menggelitik perutnya. Sungguh, hatinya benar- benar senang dan lega. Rahasia berdua katanya? Sungguh manis.

 

“Hihi.. Terima kasih. Kau membuatku sedikit lega.” Luhan tersenyum begitu manis dan tulus. “Jeongmal gomawoyo.”

 

DEG

 

Jongin membulatkan matanya saat melihat senyuman Luhan yang begitu manis. Sedikit membuat bulu kuduknya meremang karena.. jujur saja, Jongin baru kali ini melihat Luhan tersenyum manis.

Dan senyuman seperti itu juga baru pertama kali Jongin lihat. Begitu murni dan… sungguh.. namja bernama Luhan itu cantik sekali.

 

“Luhan-sshi…” Jongin seakan belum sadar dari lamunanya. Dia masih menatap Luhan penuh arti. Seakan melihat malaikat yang turun dari surga. Begitu indah dan murni.

 

“Ya?” tanya Luhan tetap dengan senyuman manisnya.

 

“… kau benar- benar seorang namja?”

 

 

Hening.

 

 

PLAK

 

Pertanyaan itu membuat Jongin mendapatkan sebuah tamparan keras dipipinya.

 

Tentu saja tamparan dari Luhan.

 

 

 

 

 

 

 

Sehun menatap jam tangan kulitnya, ia mendesah pelan dan menunggu sebuah bus didepan halte dekat sekolahnya. Sudah pukul 5 sore rupanya.

 

Ia akan menuju sekolah Kyungsoo, tentu saja menjemput namja manis itu disekolahnya. Hal itu sudah Sehun lakukan setiap hari sejak ia menjalin hubungan dengan Kyungsoo.

 

TAP

 

Kaki panjang Sehun menaiki bus yang terhenti tepat didepannya. Dengan wajah dinginnya yang tampan, Sehun menjadi pusat perhatian para gadis dibus itu. Sehun tidak terlampau mempedulikan gadis- gadis yang menyapanya. Ia duduk disalah satu bangku bus dekat jendela. Ia tatap pemandangan yang seakan berlari karena gerakan bus yang ia tumpangi. Kota Seoul memang kota yang sibuk dan ramai.

 

Wajah dingin Sehun kemudian tertekuk saat bus itu berhenti karena lampu merah. Namun sebenarnya bukan hal itu yang membuat Sehun tercekat. Pemandangan diluar bus… pemandangan ditrotoar jalan raya itu tepatnya.

 

Seorang namja cantik yang terlihat terus mengomel marah dan seorang namja tampan yang mengikutinya. Namja tampan berkulit agak coklat itu kini menggigit creps milik namja cantik yang kemudian mengerucutkan bibirnya. Mereka berjalan bersama beriringan dan nampak sangat akrab. Membuat siapapun yang melihatnya berkesimpulan bahwa namja tampan dan namja cantik itu adalah sahabat yang begitu dekat atau.. sepasang kekasih yang sedang bercenda gurau.

 

Tentu saja Sehun kenal betul siapa pastinya namja cantik itu.

 

 

“Lu—“

 

Bus itu kemudian kembali melaju karena lampu lalu lintas sudah hijau. Pandangan mata Sehun masih terpaku pada kedua namja yang kini terlihat semakin samar. Bus itu berbelok arah, menyebabkan sosok dua namja yang dari tadi Sehun perhatikan tidak tampak lagi.

 

Sehun memperbaiki posisi duduknya kemudian menutup matanya sejenak. Menghela nafas pendek dan memegangi keningnya. Memijit kening itu sesaat.

 

“Lu..Han… Apa pedulimu Oh Sehun!” desis Sehun mulai merasakan dadanya sedikit sesak.

 

 

 

 

 

“Pergilah, Kim Jongin! Jangan mengikutiku!!Menjauhlaaahhh!!!” teriak Luhan menyembunyikan creps nya yang sudah digigit setengah oleh Jongin. “Aku masih kesal karena kau mengatakan aku adalah seorang wanita!!”

 

“Aku hanya bertanya padamu lalu kau sudah menamparku!” Jongin memamerkan pipinya yang memang terlihat merah. “Dan… aku sudah menungguimu pulang dari kegiatan ekstrakulikuler, Luhan-sshi!” Jongin masih saja memandangi creps Luhan dengan tatapan memangsa.

 

Luhan mendesah pelan lalu memberikan creps-nya pada Jongin. Dia jadi kehilangan selera makan karena tatapan Jongin yang seakan benar- benar menginginkan creps miliknya. “Makan ini dan menjauh!”

 

Dengan senang hati Jongin mengambil creps milik Luhan dan memakannya. Namun ia masih mengikuti Luhan. Akhirnya Luhan benar- benar geram sekali melihat tingkah Jongin yang masih saja mengekorinya.

 

“YA! YA! Sudah, Kim Jongin! Sebenarnya mau sampai kapan kau mengikutiku!”

 

“Lanjutkan saja perjalananmu, Luhan-sshi. Jika kau memang ingin membeli bahan makanan, aku akan menemanimu. Sudah kukatakan bahwa aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Ujar Jongin sembari mengunyah creps dengan lelehan coklat nikmat. Membuat Luhan sedikit tergoda melihat coklat yang sedikit belepotan dibibir Jongin. Dengan santai Jongin menjilat sisa coklat disudut bibirnya.

 

DEG

 

Luhan membulatkan matanya kemudian membalikkan tubuhnya dengan cepat. Bingung sekali Luhan memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan. Wajah cantiknya berubah sedikit memerah.

 

“Apa ini! Tidak! Kenapa jantungku jadi berdebar- debar melihat namja playboy ini!!” desis Luhan didalam hati.

 

Jongin kemudian berdiri dihadapan Luhan, mengarahkan creps yang tertinggal satu gigitan lagi ditangannya. “Kau mau, kan? Ini.. buka mulutmu.”

 

Luhan mengerucutkan bibirnya, ia memang menyukai creps dan ia tidak mungkin menolak. Dengan polosnya Luhan membuka mulut dan menyambut suapan Jongin. Sedikit membuat Jongin tersentak karena Luhan langsung menerima suapannya. Jongin memperhatikan bibir dan pipi Luhan yang bergerak karena mengunyah, sungguh menggemaskan.

 

Oh tidak, mengapa Jongin berfikir bahwa Luhan terlihat begitu menggemaskan dan manis sekali?

 

DEG

 

Jongin menggaruk tengkuknya kemudian tersenyum amat manis dan lega, membuat Luhan heran karena perubahan ekspresi namja tampan itu. Apa yang membuat namja tampan itu menghela nafas lega?

 

“Aku tidak jadi menanyakan sesuatu padamu, Luhan-sshi.”

 

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih mengunyah, jadi tidak bisa merespon ucapan Jongin dengan suara karena mulutnya masih bergerak teratur menggilas makanan manis itu. Luhan tidak mengerti.

 

“Sebagai gantinya aku akan menemanimu berbelanja bahan makanan, bagaimana?”

 

Luhan menelan kasar creps yang dari tadi ia kunyah dan menggeleng cepat. “Aku bisa pergi sendiri!”

 

“Tapi—“

 

“Jika kau masih mau mengikutiku, aku jamin, besok aku tidak akan membiarkanmu mendekatiku dengan jarak 3 meter!” sergah Luhan cepat.

 

“Tap—“

 

“Protes? Tambah menjadi 5 meter!”

 

“Ta—“

 

“10 METER!!” Teriak Luhan akhirnya.

 

Jongin menyerah dan mengangguk. “AAGH! Iya! Iya! Aku tidak akan mengikutimu hari ini… tapi… kita sudah bertemankan, Luhan-sshi?”

 

DEG

 

Mata Luhan membulat dan seketika itu ada semburat merah dipipi namja cantik berwajah malaikat itu. Ia menghela nafas pelan dan mengangguk. “I..Itu..Te..Tentu, bodoh! Dan kalau begitu panggil aku ‘Luhan-hyung’, jangan ‘Luhan-sshi’ lagi.”

 

Jawaban Luhan kembali membuat wajah Jongin menjadi sangat cerah dengan senyuman manis yang begitu memikat. Membuat Luhan mengerti mengapa banyak sekali namja cantik yang terpikat oleh ketampanan Jongin.

 

“Baik, Luhan-hyung!!”

 

 

 

 

 

“Aku pulang.” Seru Luhan sembari menenteng barang belanjaan. Ia mengunci kembali pintu rumahnya dan berjalan menuju dapur. Bisa ia pahami bahwa Kyungsoo belum pulang kerumah. Lampu diruangan lain juga belum hidup.

 

Setelah merapikan beberapa barang makanan yang ia beli, Luhan menghela nafas pelan dan melirik jam dinding diruang tengah. Pukul setengah 7 malam dan Kyungsoo belum pulang. Sesaat Luhan ingin menghubungi Kyungsoo, namun ia yakin kini Kyungsoo pasti sedang bersama Sehun dan… Sehun pasti menjaga adik kesayangannya itu.

 

 

 

“Haaaa… lelah sekali rasanya.” Bisik Luhan lirih.

 

Perlahan Luhan duduk disofa, melepaskan tas ransel mungil berwarna merah miliknya kemudian menghidupkan televisi. Tidak ada acara televisi yang menarik perhatiannya hingga… Luhan melirik kembali tas ransel mungil itu. Membuka resleting ransel itu pelan dan… mengambil tablet nya.

 

Luhan menghela nafas dan membuka layar kunci tablet, mengekspos wallpaper beranda tablet miliknya yang sudah berubah sejak kemarin siang. Senyuman tipis tergambar dibibir mungil Luhan yang merah merekah. Sedikit menggelitik hatinya, jujur saja… foto konyol namja bernama Jongin itu benar- benar hancur.

 

“Dia… benar. Aku tidak merasa sedih lagi setiap melihat wallpaper layar beranda tabletku.”

 

Luhan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia masih tersenyum bahkan tertawa geli saat mengingat bagaimana tadinya Jongin membuat ia kesal, lega, senang, sebal, dan berbagai hal lainnya yang begitu menyenangkan. Ia peluk erat tablet itu.

 

 

“Dia anak yang aneh.. wallpaper ini tidak akan aku ganti hingga aku mendapat fotonya yang lebih hancur dari ini. Hahaha..”

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya…

 

 

 

“Dia bahkan bukan orang lain bagiku, Sehun… hiks… Kyungsoo adalah adikku.”

 

 

Jongin kembali mengingat perkataan Luhan saat ia menangis diatap, lebih tepatnya saat ia pertama kali melihat Luhan. Sebenarnya Jongin sudah ada diatap itu untuk tidur sejak awal dan ia melihat Luhan menangis sesegukan. Sungguh ia merasa amat iba melihat Luhan yang menangis seperti itu. apalagi Jongin belum pernah melihat seseorang menangis seperti itu secara langsung sebelumnya.

 

Namja tampan itu kini sedang berada diruang dance. Ruang dimana sering sekali ia kunjungi selain atap sekolah dan taman rahasianya. Jongin memang menyukai dance atau tarian modern lainnya. Tidak heran jika ia begitu populer disekolah itu. Apalagi dikalangan murid perempuan.

 

Gerakan lihai yang ia mainkan dari tadi membuat tubuhnya basah oleh keringat. Mengakibatkan kaos tipis berwarna putih yang ia kenakan nampak basah.

 

“Jongin-sshi!”

 

Suara lembut seakan malu- malu terdengar dari arah pintu ruangan dance yang lumayan luas. Jongin tersenyum tipis kemudian menghentikan gerakan dance-nya. Berbalik badan ia berjalan pelan menuju tempat namja cantik yang menungguinya berdiri.

 

“Kau menungguiku?”

 

Namja cantik itu mengangguk pelan. “Iya…”

 

Jongin mengangkat bahunya pelan kemudian mengurung namja cantik yang entah siapa itu masuk kedalam dekapannya. Benar, namja itu adalah namja yang menyatakan perasaannya pada Jongin seminggu yang lalu dan dengan acuhnya Jongin menerimanya.

 

Kini mereka berciuman dengan panasnya, membuat kedua namja itu tertidur dilantai licin ruangan luas nan penuh dengan kaca. Jongin menyeringai saat namja cantik yang ada dibawahnya itu tersentak beberapa kali akibat perbuatannya.

 

 

DEG

 

 

Tiba- tiba bayangan Luhan berkelebat di otak Jongin, membuat namja tampan itu terkejut dan melepaskan ciuman dalamnya dengan si namja cantik. Jongin membulatkan matanya dan mengusap bibirnya yang basah, ia kemudian berdiri lalu mundur menjauhi namja cantik yang kini sudah duduk diposisinya.

 

“Jongin-sshi? Ada.. apa?”

 

“Maaf. Sepertinya.. aku sedikit lelah.” Jongin berjalan cepat menuju tasnya, memakai seragam dan jaketnya dengan buru- buru lalu berjalan melewati namja cantik yang masih tercengang ditempatnya.

 

“Ah!” Jongin menghentikan langkah dan berbalik badan. “Kembalilah dengan mantan kekasihmu itu. Jangan bohongi dirimu sendiri dengan berpacaran dengan namja yang tidak baik sepertiku. Baiklah! Bye!”

 

Setelah mengatakan hal itu Jongin langsung berlari menjauhi ruang dance. Membiarkan namja cantik itu termenung sendirian menatap kepergian Jongin.

 

 

 

 

Jongin berlari menuju ruang  ekstrakulikuller Luhan. Kini sudah menunjukkan pukul 5 sore. Pasti namja cantik itu akan segera pulang. Hari ini ia belum menemui Luhan sama sekali karena berbagai hal. Jongin ketahuan membolos dan ia dihukum hingga jam pulang sekolah. Saat ia mencari Luhan dikelasnya, ternyata Luhan sudah masuk kelas ekstrakulikuler. Alhasil Jongin menunggunya diruang dance sembari sedikit melatih bakatnya.

 

Tap

 

Kaki panjang Jongin terhenti tepat didepan pintu klub seni suara. Jongin mencoba mengintip dari jendela, ia lihat Luhan yang sedang membereskan tasnya dan tertawa bersama temannya yang terlihat lumayan tampan namun juga manis. Ah, Jongin ingat sekali. Kalau tidak salah namja yang kini bersama Luhan itu bernama Jongdae. Suaranya begitu merdu hingga ia dikagumi oleh nyaris seluruh siswa.

 

Srak

 

Pintu ruang klub seni suara terbuka, Jongin melihat beberapa murid yang keluar dari ruangan itu. Tidak jarang beberapa murid menatap Jongin dengan wajah malu- malu dan cari perhatian. Dengan malas Jongin tersenyum membalas sapaan mereka.

 

Dan yang keluar terakhir dari ruangan itu adalah Luhan serta Jongdae.

 

“Luhan-hyung!” sapa Jongin cepat saat Luhan baru melangkahkan kakinya keluar kelas.

 

“Jongin?” Luhan mengerjapkan matanya. Sedikit terkejut melihat namja tampan itu ada disana. Ia kira Jongin tidak akan menemuinya hari ini.

 

“Luhan-hyung.. aku duluan.” Jongdae tersenyum lalu menunduk sopan pada Luhan dan Jongin.

 

“Hati- hati dijalan, Jongdae!” peringat Luhan.

 

Jongdae kembali tersenyum manis lalu berjalan meninggalkan Luhan dan Jongin yang masih diam disana. Sedetik kemudian Luhan mengalihkan tatapan matanya pada Jongin yang disambut dengan senyuman manis oleh Jongin.

 

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Jongin pada Luhan yang masih menatapnya penuh selidik.

 

“Tidak! Kusangka hari ini kau tidak akan menggangguku!” Luhan berjalan cepat disusul oleh Jongin yang terkekeh pelan.

 

“Kau merindukanku?”

 

DEG

 

Wajah Luhan memerah dan ia mempercepat jalannya. Jongin mengerjapkan matanya dan ikut mempercepat langkah kakinya agar menyamai langkah kaki Luhan.

 

“Mwo? Ada apa? Kau terburu- buru?”

 

Luhan masih diam.

 

“Luhan-hyung? Wajahmu merah. Apa kau sakit?”

 

Tap

 

Luhan kali ini menghentikan langkahnya, membuat Jongin ikut berhenti dengan wajah kebingungan. Namun kini Jongin dan Luhan berdiri berhadapan. Membuat Luhan menundukkan wajahnya agar Jongin tidak bisa melihatnya.

 

“Hey.. hyung kenapa?” Jongin mencoba menangkup wajah Luhan , tetapi namja cantik itu langsung mundur beberapa langkah.

 

Melihat tingkah aneh Luhan, Jongin hanya bisa melongo. Ia dengar Luhan menghela nafas sangat panjang kemudian mendongakkan wajahnya, menatap Jongin lurus tanpa ragu. Sedikit membuat namja tampan itu merinding.

 

“A..aku hanya.. bingung. Ya.. mungkin aku hanya bingung karena sedikit lega melihatmu menemuiku hari ini.”

 

Jongin membulatkan matanya. “Eh? Apa hyung pikir aku… tidak mau menemui hyung lagi?”

 

“Bu—bukan! Aku hanya takut kau tersinggung, bukankah kemarin sore aku mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkanmu mendekatiku dengan jarak 10 meter. Kupikir kau… marah..” Luhan menunduk sembari mempererat pegangan tangannya pada tali tas ransel yang ia pakai.

 

DEG

 

Jongin mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang Luhan katakan. Sungguh lugu alasan yang Luhan sampaikan padanya. Polosnya namja bernama Luhan itu. setelahnya senyuman mantap menghiasi bibir sensual Jongin.

 

“Luhan-hyung…”

 

“Ng?” Luhan mendongakkan wajahnya perlahan.

 

“Maukah hyung menemaniku kesuatu tempat? Setidaknya aku akan membayar waktuku yang tidak bisa bersamamu tadi saat jam istirahat.”

 

Luhan sedikit terkejut mendengar ucapan Jongin. “Ha—Hah? Kau.. kau bicara apa? Aku—“

 

Piip

 

Piip

 

Luhan merasakan ponselnya berbunyi, ia membalikkan tubuhnya saat tahu ada telpon dari adik lelakinya, Kyungsoo. Ia melangkahkan kakinya menjauhi Jongin.

 

 

“Ne? Waeyo?” tanya Luhan cepat saat ia mengangkat telpon itu.

 

“Hyung, aku akan pulang sedikit larut.”

 

 

DEG

 

 

“Aah.. begitu. Kau bersama… Sehun-sshi?” Luhan menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan nama Sehun.

 

“Iya. Jangan khawatir, hyung. Aku akan pulang sebelum jam 9 malam.” Suara Kyungsoo terdengar sedikit ketakutan.

 

Luhan seketika itu membalikkan tubuhnya, menatap Jongin yang sedang menunggu Luhan menelpon. Mata Jongin dan Luhan tertaut, kemudian Luhan menghela nafas pelan.

 

“Tidak usah khawatir begitu… aku tidak akan melarangmu. Aku juga pulang larut hari ini. Aku…aku pergi bersama seseorang.”

 

“Mwo? Hyung pergi bersama siapa? Kekasih hyung, kah?” tanya Kyungsoo tiba- tiba penasaran.

 

“Hahaha.. pokoknya kau jangan pulang terlalu larut.”

 

“Kau juga, hyung. Hati- hati, hyung.”

 

“Hmm.”

 

Luhan mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya kesalah satu saku jas sekolahnya. Perih dan rasa sakit itu tidak kunjung hilang. Membuat luhan mencengkram erat ponsel yang ia pegang dalam saku jas sekolahnya. Luhan menggigit bibir bawahnya. Ia berjalan cepat kembali berdiri berhadapan dengan Jongin.

 

 

“Bawa aku kemanapun. Kumohon… bawa aku pergi.”

 

 

 

 

 

Continue..

 

 

Annyeong ^^

Maaf yah, yg nunggu KOH LAST CHAPTER… itu ff belum d update karena aku belum PD ama endingnya. Dan sepertinya aku bakal lama lagi nge update ff karena aku udah mulai kuliah.

FF lain sedang aku buat dan aku harap g ada yg marah karna kelamaan. *mohon pengertiannya

 

Reader yang baca dan komen makasih.

Buat hantu- hantu yg baca ff saya, ya mau gmna lagi. Ntar jga ngerasain gimana g enaknya gak dihargai ._.v

 

Sampai ktemu di update-an ff lain😀

*bow bareng Chanyeol*

Kim Hyobin.

 

152 thoughts on “TRUST Chapter 2

  1. masa lalu ya masa lalu tidak baik terpuruk dalam keadaan sedih terus menerus makanya luhan nggak usah ingat2 sehun terus , memulai lembaran baru saja dengan kai

  2. kailuuuuuuuuuuuuu, pokoknya ending musti kailuuuu, sehun ngga usah minta balik lagi ngga usaaah -_-”

    kai elu yeeee tobat bang tobaaat, uda dikasi duren masi cicip sana sini -_-”

    lanjut next chap😀

  3. Aku lupa udah pernah coment chap ini atau belum😄
    tapi comen lagi aja dah #plak

    Gilaaa nge feel banget ini mah ..
    Udah aku baca berulang kali ga ada bosen2 nya..
    Ayoo Jong In Sembuhkan luka di hati Lulu ..

    Keren thor~

  4. Lulu udah lupain aja c sehun..
    Aish so sweet bgt Kai ngajakin luhan ke tempat rahasianya..
    Pabbo bgt c Kai pake nanya luhan itu beneran namja,jadi ditampar kan tuh.. :p
    Luhan cantiknya overload c..hihi

  5. Adaaw. Kereeeen ;A; luhan sumpah kesian bets. Nyesek pasti. Luhan sama si kai aje. Kan romantis noh. Ayo ayo gantiin posisinya sehun. Wkwk. Dapet feel nya thor. Fighting! Dengerin lagu sambil baca ff apalagi kek begini itu bikin greget. Aokaok

  6. Wahhh makin keren aja nih epep…:)
    Bangkaiiiiiiiiiiii berjuanglahhh buat luhan melupakan sehunnn. FIGHTING.!!!🙂

  7. yatuhan ini luhan knp km masih sedih😦 liat ada jongin yg udh mau berubah demi km :* sampe bela2in mutusin namja kencanannya .
    dri yg aku baca , aku pikir sehun gak 100% syg sama kyungsoo -,- duh awas km sehun khianatin kyungsoo jg:/ lanjut baca chap 3🙂

  8. luhan mulai mulai nih sama kai

    sehun untuk apa coba sakit hati liat luhan sama kai, dia kan yg nyakitin luhan duluan

    lanjut

  9. hore bnyak moment kailu,sedikit demi sedikit luhan sudah mulai tertarik ma kai.ayo kai lanjutkan perjuangan mu mendaptkan luhan.sehun tendang aja ke rumah ku,hahahahaha

  10. huueeee..uljimaaa Luhannie !! T.T
    *hug luhan*

    aaaa~ aku suka napeun kai !! ><
    KaiLu momeeeennt ….
    (/^o^)/

    next~
    aaahhh..😀

  11. lulu sma kai mau kmana t………………????? mau kncan ya, baby lu kmu lupa,in aja t sehunniex coalx dia t jhat and tega bnget………………..

    mendngan sma kai aja………..!!!!!

  12. masa lalu jgn dipikirin deh , luhan gausah mikirin sehun lg dan kai jgn mikirin kyungsoo lg ( cerita kaisoo emg blm diceritain ) hidup luhankaaaai😀

  13. ah~ ceritanya lucu kailu haha sian si sehun biarin aja sakit hati liat kedekatan kai dan luhan,sebenarnya sehun itu masih ada rasa ya sama luhan?

    tapi biarin aja lu jangan mau balikan sama sehun yg udah nyakitin kamu.. sama kai aja tapi pas baca chapter 4 kenapa kai pernah berhubungan sama kyungsoo? gyaaa kasihan luhan:/

  14. makin cinta kailu ㅠㅅㅠ
    ㅠㅅㅠ
    Sehun masih menyimpan harapan pada Luhan !!!aku yakin aku yakin. tau-tau nanti Sehun malah mau kembali ke Luhan dan meninggalkan Kyungsoo, sementara Luhan sudah bersama Kai, dan Kyungsoo pun malah ingin kembali bersama Kai. *ini apaan*
    ngebayangin tatapan Kai pas mau creps di tangan Luhan *-*
    CHEN !ADA CHEN ADA CHEN ! *cuma jadi cameo doang*
    “…Bawa aku kemanapun. Kumohon… bawa aku
    pergi…”
    KAI BAWA LUHAN KE KAMAR SEKARANG !

  15. Aiih kailu mkin mesra😄 lupakan sehun, luhan. Dia udh ma kyunsoo. Ini semacam kea terbalik gitu couple nya XDpas baca bgian kai mkan creeps(?) nya luhan itu.. Jdi gila sendiri.klo bca ff kailu jdi ga pengen hunhan ‘-‘

  16. tjieeeh kailu makin deket nih, si sehun kayaknya meradang noh liat kailu jalan bareng… Rasakan sehunie!

    Btw gara2 luhan, jongin udah agak sembuh dari penyakit playboynya ya xD

  17. Eh? Dada luhan bergetar? Karena jongong O.O?
    Wiih kemajuan(?)

    ecieee yang sekarang punya tempat rahasia, rahasia berdui
    a suiit suiitt xDD
    jongong kena tampar masa xD
    salah sendiri, ngapain ngeraguin kenamjaan(?) luhan
    tapi saya juga ragu sih sebenarnya, masa ada namja yang mukanya secantik itu, cantik buangeeeeeet*plaaak /ikutan ditampar rusa/

    asheek, sehun ngeliat kailu momen di trotoar :3
    tapi rasanya sehun cemburu ya? Masih ada rasa buat rusa?
    Yailaah deer, pernyataan yang super polos, berasa lega ketemu jongong

    aigoooo
    padahal cuma nyebut nama ‘sehun’
    tapi perasaan rusa jadi kacau lagi T-T
    jongong, dengar bukan? bawa rusa kemana aja biar bisa nenangin hatinya
    bikin my deer ngelupain sehun

    chapter inipun DAEBAK, hyobin sama JJANG
    *elah komen saya kacau*

  18. posisi luhan benar2 sulit.tapi,semenjak kai mengisi hari2 luhan,perasaannya sedikit terobati walaupun tak sepenuhnya…
    semangat luhaann!!!

  19. posisi luhan benar2 sulit.tapi,semenjak kai mengisi hari2 luhan,perasaannya sedikit terobati walaupun tak sepenuhnya…
    semangat luhaann!!!
    tetaplah bahagia😀 kk~

  20. Sedih lagi ..
    Jadi ikutan sedih
    jadi kepingin treak
    jadi kepingin nangis
    jadi kepingin pelotin sehun
    jadi kepingin nekuk2 si bihun itu

    heuhh jadi esmosi
    maaf2 *bow
    tetep sooo nice itu si kailu
    Wkwkwk

  21. gue ngarep kailu end-nya, kalo hunhan ga an, sehunnya udah jahat sih sama babyLu hihi :v
    mulai nih luhan mukanya merah-merahan karna kkamjong hihihi
    nais ff.

  22. Sweet banget,meskipun Kailu gak pacaran tapi kok manis banget “Jilatinluhan”.
    Masih penasaran sama perasaan sehun dan Jongin pada Luhan,betul gak ada rasa cinta ?,HunKai beneran cinta sama Kyungso?,aish jinja ?..
    Berharap Jongin gak bakal bikin bayi rusa nangis lagi.

  23. baru kali ini baca ff kailu sebagus ini!!! author daebak!!!! kereeeennn! sumpah!!
    pas di bis itu kelihatannya sehun kok kyk masih pny perasaan gtu sama luhan? O,o aduuh penasaran ama lanjutannya..
    fighting thor!

  24. Che elah. Sehun lagak lu… Hahaha udah sama kai aja. Kai gwanteng banget kok. Versi gosongnya sehun juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s