ONESHOOT | TAORIS | KIZU

NB From Hyobin : INI WAJIB BACA! AKU GAK BOHONG! PESAN MORALNYA GILA BGT! DAEBAK FOR AUTHOR NINE-TAILED FOX !!! *cipok basah dari Hyobin

Judul: KIZU

kizu

Dalang: Nine-tailed Fox

Wayang:  Wu Fan/ Wu Yi Fan/ Kris Wu/ Kevin Wu/ Li Jia Heng/ Cak Kris/ Bung Naga

Huang Zi Tao/ KungFu Panda-Po/ KungFu Boy-Chinmi/ KungPao Panda

 

*yah siapa pun lah nama mereka, intinya yang maen disini EXO-M Kris dan EXO-M Tao

 

Wayang pendukung: Kim Minseok (EXO-M Xiumin)

Jenis(?): *mikir keras dulu* *bertapa* *semedi* silahkan tentukan sendiri…*lha?*

Pasangan: Gogon dan Papan…hehe~ Dragon dan Panda maksudnya.

Jumlah Episode: satu bungkus

 

PERINGATAN: Cerita ini hanya rekayasa belaka. Properti yang digunakan terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya. Keluar dari karakter! Alur berantakan! Bahasa ngalor ngidul~ Yang ga suka Kristao jangan baca! Yang ngaku2 istrinya Baekhyun apalagi jangan bacaa! *ditendang sampe ke segitiga Bermuda* *mati dalam pelukan Luhan* < ganyambung.

 

Hehe~ bercanda…siapa aja boleh baca, silahkan silahkan…gratis, bayar saya pake cinta aja…cintanya Baekhyun ato Luhan. Mentok2 cintanya Kai lah…< ga taudiri.

 

Ini pertama kali bikin kisah Wufan-Tao…dengan tema yg begini pula, aduh jadi maaf bgt kalo ga memuaskan.

 

SARI-CHAN, APRIL-CHAN! MAKASIH SALAMNYA SUDAH AKU TERIMAA! AKU CINTA KALIAN! MARI MENIKAH~ *sableng*

 

Summary: Diceritaken seorang bernama Upan sedang berjalan sepulang dari kampus terus ketemu sama Tatao yang lagi maen ayunan…─ *disumpel kutang Kai*

                     

Iye daaah~

Langsung ajaaa!

 

Ready! Action!

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

Ketika itu Wu Fan baru saja memasuki semester ke-enam kuliahnya disalah satu Universitas negeri di Kota Beijing-China, saat ia pertama kali melihat Huang Zi Tao.

 

Anak itu selalu duduk termenung di ayunan taman kota tiap kali Wufan melewatinya sepulang kuliah. Sendirian dengan raut wajah yang nampak suram, Wufan menyadari bahwa tak pernah sekali pun ia melihat Tao tersenyum.

 

Penampilanya kurang terawat. Pakaiannya lusuh dan lebih sering berwarna hitam. Tubuh Tao kurus dan pipinya tirus, namun cukup tinggi meski Wufan yakin tak melebihi tinggi tubuhnya.

 

Ia hanya duduk terdiam, tanpa mengayunkan ayunan yang ia naiki dan terus menundukan kepala dengan tatapan kosong. Wufan dapat melihat tak sedikit perban yang melilit beberapa bagian tubuhnya, dan tiap hari perban itu selalu bertambah jumlahnya. Terkadang melilit dikakinya, keesokan harinya ditangannya, lalu dilehernya, kepalanya dan…pernah sekali Tao mengenakan perban menutupi salah satu matanya.

 

Apa anak itu habis bermain bajak laut?

 

Hanya pemikiran sederhanalah yang kerap kali terlintas dikepala pria muda berdarah campuran tersebut. Ia tak memiliki hubungan khusus dengan Huang Zi Tao… ia mengetahui namanya dari petugas kebersihan yang kebetulan memergokinya tengah menatap lekat Tao.

 

Setelah puas mengamati anak itu, Wufan hanya menghela nafas lalu melangkah menuju tempat tinggalnya.

 

。。。。。。。。。

 

“Hai, Tao.”

 

Itulah kata sederhana yang Wufan ucapan saat pertama kali mencoba untuk mengajak Tao berkomunikasi. Tak banyak respon positif yang pria pirang itu dapatkan, Tao hanya membisu kala ia mengulurkan tangannya dengan maksud berjabatan.

 

Wufan tersenyum simpul, berpikir mungkin Tao menganggapnya orang aneh. Ia pun memutuskan untuk menduduki ayunan disebelah ayunan yang Tao tempati. Terdengar derit besi dan ayunan sedikit bergoyang, ketika tubuh sempurna itu menempatinya dengan nyaman. Langit sore nampak cerah, awan-awan kelabu mulai menggantung diatas sana…mungkin beberapa puluh menit lagi senja akan tiba.

 

Ketika Wufan menoleh, ia menyadari bahwa Tao memegangi perutnya sendiri. Mungkin sejak tadi─ akhirnya tanpa pikir panjang…pria tampan itu mengeluarkan sebungkus roti keju sisa makan siangnya dan menyerahkannya pada Tao.

 

Awalnya Tao hanya termenung dan menatap kosong roti tersebut. Namun setelah Wufan membuka bungkusnya, bocah bersurai sekelam mutiara hitam itu segera menyambarnya dan menyantapnya dengan brutal. Awalnya Wufan cukup terguncang, namun melihat Tao yang makan dengan lahap. Hatinya turut merasa senang.

 

Ketika itu Wufan sedikit dapat menangkap bagaimana kehidupan seorang Huang Zi Tao, mungkin ia memiliki masalah internal, mungkin keluarganya sedang tertimpa musibah atau mungkin Tao memang seorang anak cacat mental.

 

。。。。。。。。。

 

Bertemu dengan Tao adalah satu-satunya hal yang dapat membuat Wufan segera ingin meninggalkan kampusnya. Ia akan berjalan cepat saat melewati gerbang kampusnya, lalu berlari kecil saat meninggalkan halte bus, kemudian berlari secepat ia mampu saat taman tempat biasanya Tao berada sudah terlihat didepan mata.

 

Hari ini hujan deras. Namun hal tersebut tak membuat Wufan meninggalkan rutinitas barunya mengunjungi Tao. Ia segera berlari dari gedung kampusnya karena khawatir Tao kehujanan disana.

 

“TAO!”

 

Wufan berteriak memanggil nama Tao ditengah derasnya hujan. Seperti asumsinya, Tao masih bertahan duduk di ayunan. Membiarkan tubuhnya basah akibat diserang jutaan tetes hujan, keadaan yang membuat hati sang pria campuran itu cukup terpukul…tanpa membiarkan waktu berlalu lama, Wufan segera melangkahkan kakinya menuju tempat Tao.

 

Diantara jutaan anak hujan membasahi bumi, kecipak langkah kaki panjangnya terdengar membentuk nada tersendiri.

 

Hanya beberapa detik berlalu, dalam penglihatannya…tubuh Tao tumbang memecah genangan air diatas permukaan tanah.

 

Nada diantara derai suara hujan pun berubah kacau, dalam tempo yang semakin cepat kaki panjangnya bergerak seolah diburu waktu. Menghampiri tubuh rapuh tersebut dan segera membawanya ketempat aman.

 

Saat itu dimata Wufan…Tao terlihat bagaikan sebuah boneka keramik antic yang pernah ia lihat di museum.

 

Tao terlihat akan pecah dan hancur, walau hanya dengan satu sentuhan ringan.

 

Huang Zi Tao itu rapuh…kerapuhan yang memunculkan sebesit perasaan ingin melindungi dan mengasihi, dihati seorang Wu Fan.

 

 

“Kau sepertinya sangat peduli pada anak sialan itu, heh? Bagaimana kalau kau memberiku  sejumlah uang dan sebagai gantinya kau bisa membawa dia kemana pun sesukamu.”

 

Wufan sangat bersyukur karena tabungan yang ia kumpulkan sejak awal memasuki jenjang Universitas, cukup untuk membeli hak asuh Tao dari ayahnya yang seorang tunawisma. Meski 95% tabungannya harus kandas─ ia tak menyesali semua itu, sedikit pun tidak. Rasa lega yang ia terima karena kini Tao aman bersamanya, cukup atas semua itu.

 

Diketahui dari keterangan yang ia dapat, ternyata Tao merupakan anak berusia dibawah umur dengan jarak tujuh tahun lebih muda dari Wufan sendiri.

 

Pria berdarah campuran itu melakukan perundingan dengan ayah Tao, yang sebenarnya bukan ayah kandung. Tao adalah anak hasil hubungan gelap sang ibu sementara sang ibu sendiri telah melarikan diri beberapa tahun silam. Ketika itu Tao baru saja lulus sekolah dasar, dan setelah itu Tao tak melanjutkan lagi pendidikannya. Ia hidup dibawah siksaan ayah tirinya, luka-luka ditubuhnya adalah hasil dari semua itu.

 

Dengan memegang janji bahwa ia tak kan muncul lagi dihadapan Tao, akhirnya Wufan setuju memberikan sejumlah uang dan masalah selesai.

 

Saat ini Wufan tengah merapikan keperluan Tao dan memasukannya kedalam sebuah tas travel mini, sementara pemiliknya sendiri sedang duduk termenung ditepi ranjang rawatnya. Sejak kejadian ditaman itu, Tao menjalani rawat inap. Menurut diagnosis para dokter, Tao mengalami depresi berat. Seluruh perasannya telah lumpuh akibat kekerasan fisik selama bertahun-tahun  yang membuat jiwa dan raganya terguncang parah.

 

Wufan buta seratus persen akan ilmu kedokteran. Karena itu ia memutuskan membawa serta Tao untuk menetap bersamanya di Seoul dan menjalani pemeriksaan disana.

 

Pria bertubuh tinggi sempurna itu tersenyum saat tangannya berhenti bekerja, ia menoleh menatap lelaki oriental yang tengah memandang kosong lantai keramik dengan ‘Glassed-eyes’ miliknya diranjang sana. Ia terpikat untuk melangkah, mendekat dan berlutut tepat dihadapannya.

 

“Tao…” katanya selembut mungkin, dan seperti biasa sang pemilik ‘mata kaca’ itu sama sekali tak merespon “Mulai sekarang kita akan hidup bersama, hm? Aku akan menjaga dan merawatmu, Tao. Meski kau tak mengenalku itu bukan masalah, cukup aku saja yang mengenalmu dan kau tak perlu lagi merasa kesepian.”

 

Karena Wufan berpikir Tao memiliki mata seperti kaca…mata yang selalu terlihat berlinang, seperti hendak menitikan air kesedihannya.

 

Mata yang selalu mampu membuat hati ini, turut merasakan kesedihannya.

 

。。。。。。。。。

 

Wufan berusia dua puluh tiga tahun ketika pertama kali membawa Tao terbang bersamanya ke Korea Selatan. Ia telah menamatkan pendidikkannya di Universitas Tsinghua-Beijing dan mendapatkan gelar S1 dalam bidang konstruksi bangunan. Kini Wufan telah berhasil mencapai impiannya menjadi seorang arsitek.

 

Ia telah memesan semua rumah kecil ditengah kota untuk ia tempati bersama Tao. Tak jauh dari rumah itu, terdapat halte bus yang akan mengantarkan Wufan ketempat kerja barunya.

 

“Kurasa anak ini benar mengalami depresi berat yang berkepanjangan. Jiwa dan raganya terlalu terguncang hebat hingga membuat perasaannya ‘mati’…anak itu tak─”

 

“Tao.”

 

“Eh?”

 

“Namanya Tao.”

 

“Ah, ya…maksudku Tao, ia tak lagi dapat berkomunikasi dan beraktivitas secara normal seperti sedia kala. Ia akan lebih banyak terdiam, merenung dan tatapannya nampak kosong…mungkin alasan mengapa ia selalu mendatangi taman, itu karena ia tak sadar dalam melakukannya. Tao telah terbiasa hidup seperti itu. Disiksa, melarikan diri, tapi kembali lagi kerumah karena tak punya tujuan lain.”

 

Perbincangan singkat yang Wufan lakukan bersama Minseok. Sahabatnya yang merupakan seorang dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Universitas Gangwoon. Mereka saling berkenalan lewat situs jejaring social sampai akhirnya berhubungan dekat seperti sekarang ini. Tak perlu heran bagaimana keduanya bertemu, karena sehari setelah mereka sampai di Seoul, Wufan segera membawa Tao menemui Minseok untuk diperiksa.

 

“Kau yakin akan merawatnya? Hidup bersama penderita depresi bukanlah perkara mudah, Wufan.” Tanya Minseok untuk yang kesekian kali dan terdengar begitu menjemukan ditelinga sang pria bersurai pirang. Ia memutar kursinya menghadap temannya tersebut dan menatapnya penuh selidik “Kalian punya hubungan apa? Apa dia ternyata adikkmu yang telah lama hilang?”

 

“Kau pikir drama? Ini realita dokter Kim.”

 

“Karena bagiku tindakkanmu ini sungguh diluar dugaan, Jiaheng~”

 

“HEI! Kusumpal mulutmu dengan batu nanti!” amuk sang pria pirang mendengar pria Korea itu menyebut nama kecilnya dengan remeh.

 

Minseok bersendekap, menempelkan punggungnya pada sandaran kursi berlapis busa yang empuk. Ia sempat menghela nafas, Wufan adalah tipikal orang yang cukup keras kepala…pria Korea ini paham jika percuma saja bicara dari A sampai Z karena yang bersangkutan tak kan pernah sudi menggubrisnya lama-lama “Terserah kau saja, kau ini yang akan repot nantinya─ kau bisa membawa pulang Tao sekarang. Selebihnya kalau ingin bicara, bisa datangi aku langsung atau telpon saja. Tiap kali ada perkembangan, segera beri tahu aku. Ok?”

 

“Baiklah, aku permisi kalau begitu.

 

Keduanya berdiri dari kursi masing-masing, Wufan lebih dulu melangkah menghampiri Tao yang duduk menanti disamping akurium ukuran sedang. Anak lelaki itu mengamatinya dengan seksama, puncak hidungnya bahkan nyaris menyentuh permukaan akuarium.

 

“Tao, sudah saatnya kita pulang.” Ucap Wufan dan tetap tak membuat Tao bergeming, hal tersebut membuat Wufan menghela nafas dan berinisiatif untuk langsung meraih saja tangannya.

 

Namun Tao tetap diam, meski Wufan berkali-kali mencoba menariknya agar berdiri…anak lelaki itu terus saja bergulat dengan dunianya sendiri memandangi akuarium. Oh~ mungkin ikan-ikan kecil aneka warna itu nampak sangat menarik perhatiannya. Sesuatu yang mencolok memang mudah menarik perhatian bukan?

 

“Taooooo~” keluh Wufan yang akhirnya keki sendiri.

 

“Sepertinya Tao tertarik pada ikan-ikan itu.” ucap Minseok santai, membuat Wufan menoleh dan memandangnya seolah penuh harap teman Koreanya itu dapat sedikit menolong “Mau membawa pulang beberapa ekor?”

 

 

Kali ini Wufan dan Tao tak hanya pulang berdua. Mereka membawa serta dua ekor ikan hias yang sebelumnya hidup di akuarium kantor Minseok, kini pindah kedalam toples plastic bekas cookies cemilan sang dokter.

 

Tak biasanya Minseok bersedia cemilannya diganggu gugat, biasanya ia akan men-death glare siapa pun yang berani menyentuh toples makanannya.

 

Mungkin ia merasa iba pada Tao. Wufan menyadari sejak awal mereka datang, Minseok selalu memandang lurus tepat kearah mata Tao, mungkin ia turut merasakan kesedihan dan penderitaan yang anak berdarah China itu alami. Ia bahkan membagi cemilannya kepada Tao─ meski tetap harus Wufan suapi karena Tao hanya diam seperti patung.

 

Tao itu seperti boneka, orang lain bahkan yang tak mengenal sekali pun akan mudah merasa suka dan ingin melindunginya.

 

Bus yang mereka tumpangi terus melaju dengan lancar, padatnya penumpang memaksa Wufan berdiri seraya bertumpu pada pegangan yang menggantung dipalang besi langit-langit bus. Tapi beruntungnya mereka, karena masih tersisa satu tempat duduk untuk Tao tempati…sejak tadi anak itu terus memandangi toples berisi ikan hias ditangannya.

 

Berhentinya laju bus diiringi suara decitan ban membuat Wufan sadar bahwa mereka telah sampai pada halte bus yang dituju. Pria bertubuh paling tinggi diantara seluruh penumpang itu segera menarik lengan Tao dan menuntunya turun dari bus.

 

Keduanya berjalan berdampingan di trotoar, menuju rumah baru mereka. Wufan tentu menggenggam tangan Tao, seringkali anak itu berhenti tiba-tiba membuat pria berparas western-oriental harus itu menuntunnya berjalan.

 

“Ah─” Wufan berhenti sejenak ketika menemukan dandelion liar tumbuh didekat pagar besi pembatas jalan dan trotoar, dengan tetap menggenggam tangan Tao, ia membungkuk dan memetik bunga liar tersebut “Lihat ini, Tao!”

 

Perhatian Tao teralihkan sejenak ketika Wufan meniup dandelion itu tepat dihadapan wajah Tao, kelopaknya yang berwujud seperti bulu halus berwarna putih itu menghambur cepat membuat pemuda China tersebut mengerenyit sesaat.

 

“Kau mau mencobanya?” ucap Wufan seraya memetik lagi satu tangkai dandelion liar lalu memberikannya ketangan Tao “Kau harus meniupnya seperti ini…” ucap Wufan lagi, kali ini seraya menunjukkan cara meniup seperti yang ia lakukan sebelumnya.

 

Tapi Tao tidak mengerti, pikiran dan perasaannya belum pulih sempurna untuk dapat memahami hal-hal manusiawi seperti itu. Ia hanya mampu terdiam, memandang tanpa arti pria bersurai pirang tersebut.

 

Meski begitu Wufan tak pernah sekali pun mengeluh, ia tahu pasti bagaimana kondisi Tao sepenuhnya…senyum tulus melintang menghiasi paranya yang rupawan, perlahan ia mengambil tangan kurus Tao dan mendekatkan wajah mereka.

 

“Kita tiup bersama, hm?”

 

Kelopak bunga itu berpencar ketika Wufan meniupnya disamping wajah Tao, seolah-olah mereka berdualah yang meniupnya bersama.

 

Keduanya menengadah menatap kelopak bunga yang bertebaran terbawa hembusan angin, mengawang cukup tinggi menghilang keberbagai arah.

 

“Ayo kita pulang…”

 

。。。。。。。。。

 

Hari ini Wufan meninggalkan Tao sendirian dirumah, secara teknis─ pemuda berparas oriental kental itu tidak sendirian, karena ikan-ikan hias pemberian Minseok telah dipindahkan kedalam akuarium baru yang Wufan beli beberapa hari lalu.

 

Kini Tao bebas memandangi mereka, seraya menunggu kembalinya Wufan dari kantor. Pemuda berdarah campuran itu sudah mulai bekerja sejak tiga hari lalu. Pada awalnya Tao tak menunjukan reaksi apapun baik ketika ia berangkat atau pulang kerja. Namun akhir-akhir ini anak itu mulai berlaku lain, Tao mulai mengikuti Wufan sampai kedepan pintu saat ia hendak berangkat…atau berlari menyambut kepulangannya.

 

Ia sungguh bahagia akan hal tersebut. Tak sia-sia menjalani saran Minseok untuk sering mengajak Tao berkomunikasi dalam bentuk apapun, meski hingga saat ini ‘Panda boy’─ sebutan lain untuk Tao dari Minseok─ itu belum sepenuhnya mampu melakukan segala hal seorang diri tanpa bantuannya. Tapi melihat kini Tao sudah bisa makan dan sikat gigi sendiri, membuat Wufan gembira bukan main.

 

“Aku pulang, Tao!”

 

Pemuda yang mengenakan kaus hitam dengan gambar Batman dibagian depannya itu segera melompat turun dari sofa, melupakan sepasang ikan hias kesayangannya yang menemaninya sedari tadi…untuk berlari menuju pintu, menemui seseorang yang ia nanti.

 

“Hai, Tao.” Sapa Wufan seraya melepas sepatu dan meletakkannya kedalam rak didekat pintu lalu masuk diikuti Tao yang enak sejak kapan punya hobi mengekorinya “Kuharap aku tak membuatmu merasa kesepian terlalu lama. Maaf, aku sempat mampir untuk belanja sebentar…ah─ bagaimana kalau lain kali kita belanja bersama, pasti akan sangat menyenangkan.”

 

Wufan berlalu-lalang dalam ruangan, menyampirkan mantelnya disofa lalu melangkah menuju dapur untuk meletakan kantung belanjaannya dimeja makan. Semua itu ia lakukan seraya menggulung lengan kemeja panjangnya hingga sebatas siku…dan pemuda bernama Huang Zi tao terus saja mengekorinya tanpa lelah atau bosan.

 

“Hari ini kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan, Tao. Apa kau mau?” ucap Wufan ceria sambil mencubit pelan pipi tirus Tao, pemuda China asli itu hanya diam tak menjawab namun sorot matanya nampak sedikit bingung.

 

Tao sudah mulai dapat memberi sentuhan rasa pada kali ekspresi wajahnya berubah. Jika tidak mengerti, keningnya akan berkerut─ bingung. Jika tidak suka akan sesuatu, ia akan menunjukkannya dengan segera memalingkan wajah. Jika merasa antusias pada objek tertentu, Tao tidak akan melepaskan pandangannya dari objek tersebut.

 

“Sudah siap? Ikuti aku, Tao.”

 

Satu yang bertubuh paling tinggi melangkah memasuki salah satu kamar, kamar Tao. Entah sejak kapan ia telah membawa tiga buah kaleng cat beserta dua kuas yang terapit diantara jemarinya, satu kaleng ditangan kanan sementar dua sisanya ditangan kiri.

 

Wufan memandang kamar Tao yang masih nampak melompong, hanya terdapat sebuah lemari, ranjang dan meja belajar disana. Cat-nya pun masih berwarna putih kusam, kamar yang tak terlihat menarik sama sekali. Diletakannya kaleng-kaleng cat tersebut dipojok ruangan, sebelumnya telah ia beri alas berupa koran bekas, mengeluarkan tempat menuang cat dan sebotol air bening yang sebelumnya ia simpan dikolong ranjang Tao.

 

“Kita akan memberi warna pada dinding kamarmu Tao. Nah, warna apa yang kau suka?” tanya Wufan seraya menyerahkan sebuah kuas pada Tao.

 

Tanpa berkata apa-apa, bocah berdarah Asia murni itu mengambil kuas tersebut dan langsung mencelupkannya kedalam kaleng berisi cat berwarna soft-purple. Wufan tersenyum kemudian segera menuang cat tersebut dan mencampurnya dengan air agar tidak terlalu kental.

 

“Kita bisa mulai sekarang. Caranya mudah sekali, kau akan menyukainya…”

 

Tao sempat ragu untuk meniru Wufan yang telah lebih dulu mengusapkan kuas pada permukaan dinding. Namun akhirnya Tao mulai menikmati kegiatan ini, terlihat sekali betapa semangatnya anak itu…matanya terlihat antusias dan tangannya terus bergerak aktif mewarnai dinding.

 

Tak butuh waktu lama senyum melintang sempurna melengkapi paras rupawan sang pemilik nama lengkap Wu Fan. Ia bahagia melihat Tao, ia sungguh menyukai bagaimana ekspresi anak itu mulai berkembang. Sedikit demi sedikit warna dalam hidup Tao bertambah, tak hanya kelabu dan kelam seperti dulu. Tao mulai dapat menikmati hari-harinya, mengabaikan betapa pahitnya masa lalunya…dan mempelajari segala hal.

 

Tao seperti pelukis…ia mewarnai kanvas kehidupan seorang Wufan dengan kehadirannya.

 

Beberapa jam berlalu dan pekerjaan mereka hampir selesai. Hanya tinggal sekali usap dan…selesailah sudah─ dinding kamar Tao ini tak lagi putih kusam. Tampak menarik setelah terlapisi cat soft-purple, biru toska dan soft-pink yang dipadu menjadi satu, membentuk ornament warna yang indah.

 

Namun sang pemilik kamar sepertinya kurang senang, ia berdiri di belakang Wufan dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut. Melihat pemuda bersurai pirang itu merapikan peralatan mengecat mereka…Tao tidak suka─ maka ia memalingkan wajahnya.

 

“Kau melakukannya dengan baik, Tao. Pintar sekali…” Wufan mengusap puncak kepala Tao sejenak, sebelum melangkah meninggalkan kamar dengan membawa kuas kotor. Mungkin ia bermaksud membersihkannya dahulu sebelum cairan cat yang tersisa disana mengering.

 

Kini Tao sendirian menatapi ─meratapi─ kaleng-kaleng cat yang telah rapi didepannya..kedua tangannya bergerak gelisah memilin ujung kausnya..

 

Tao ingin bermain lagi, ia suka mengecat dinding seperti tadi…itu menyenangkan. Tao ingin melakukannya lagi.

 

Dan anak lelaki itu tak dapat menahan keinginannya untuk membuka kaleng cat tersebut, menuangnya dan mencampurkannya dengan air seperti yang Wufan lakukan. Namun karena ia tak dapat menemukan kuas, akhirnya Tao menggunakan kedua tangannya dan menempelkannya ke permukaan dinding.

 

Betapa kagetnya Wufan ketika ia kembali ke kamar. Ia terpelongo dengan rahang yang hampir terjatuh, melihat Tao mencetak telapak tangannya di dinding. Anak lelaki bersurai hitam pekat itu mencelupkan tangannya pada genangan cat lalu menempelkannya ke dinding, mengusapnya, melakukannya berkali-kali.

 

“Tao, jangan lakukan itu! Hentikan, Tao!” larang Wufan sehalus mungkin.

 

Tapi Tao tak mengindahkan larangannya, ia sudah terlanjur menikmati apa yang ia perbuat sekarang. Melukis permukaan dinding dengan telapak tangannya…membentuk mozaik abstrak pada permukaan datar tersebut. Warnanya pun tercampur-campur hingga nampak lebih bervariasi.

 

“Tao, sudah─ jangan Tao!” Wufan bersikeras mencegah meski sudah pasti dinding barunya itu tak dapat lagi terselamatkan.

 

Ia menarik lengan Tao, namun Tao menariknya lagi lebih kuat berusaha menyentuh dinding dengan tangannya yang berlumur cat.

 

Tao sangat menyukainya, baginya ini menyenangkan…hingga ia tersenyum tanpa sadar.

 

Senyum yang membuat Wufan terpana.

 

Senyum pertama yang Wufan lihat dalam diri seorang Huang Zi Tao.

 

 

Pukul sepuluh malam tepat telah terlewat sepuluh menit lalu. Kini Wufan berada di kamar Tao…anak itu baru saja terlelap beberapa menit lalu sehabis menyaksikan turnamen olahraga wushu yang disiarkan di televisi. Tao nampak sangat antusias ketika melihatnya, ia bahkan mengabaikan Wufan yang hendak menawarinya cemilan beberapa kali.

 

Pria bersurai pirang itu menghela nafas. Memang benar kata Minseok…hidup bersama seorang penderita depresi memang menyulitkan, namun jika dinikmati dengan apa adanya, semua akan terasa menyenangkan.

 

Wufan tak yakin apa ia akan sebahagia sekarang ini jika Tao tak ada disampingnya.

 

Ia menata selimut hingga menutupi tubuh Tao sebatas leher, sepertinya tubuh anak itu bertambah tinggi beberapa senti. Usia enam belas tahun memang masih dalam masa pertumbuhan. Apalagi Tao sangat menggemari susu rasa mocca.

 

“Mimpi indah…Tao.” Ucapnya sebelum melangkah menjauhi ranjang dimana Tao tertidur.

 

Mata elangnya sempat memandangi salah satu dinding korban kenakalan Tao, banyak sekali cetak telapak tangan disana. Warna-warni dan telihat menarik…Wufan sampai lupa kalau tadi ia ikut-ikutan seperti Tao karena penasaran ingin mencobanya juga. Hanya beberapa kali dan tentunya tak sebanyak Tao.

 

Tubuhnya terasa lemas dan luluh kala matanya menangkap senyum diwajah Tao…ia merasa lemah.

 

Rasanya seperti…siapa pedulilah jika dunia ini hancur sekali pun, selama ia dapat terus melihat senyum itu.

 

“Aku menyayangimu, Tao.” Ungkapnya pelan sebelum akhirnya memadamkan lampu dan meninggalkan kamar.

 

。。。。。。。。。

 

Minseok menghubunginya ditelephone dan berkata bahwa ada satu hal yang lupa ia sampaikan mengenai kondisi Tao, hal tersebut adalah jika para penderita depresi mungkin kerap kali akan mengalami mimpi buruk. Teman dokternya itu berharap agar Wufan dapat mempersiapkan diri dan tenang dalam menanganinnya. Wufan sama sekali tidak melupakan hal tersebut, hanya saja ia tidak terlalu memikirkannya karena sungguh tak ingin jika Tao harus mengalami mimpi buruk.

 

Pertama kali hal tersebut terjadi adalah sekitar pukul setengah satu malam, kebetulan sekali saat itu Wufan masih terjaga karena film Sherlock Holmes yang ia saksikan lewat DVD belum selesai. Ia terkejut bukan main saat erangan bercampur teriakan terdengar dari arah kamar Tao, maka lelaki rupawan itu segera melompat meninggalkan sofa memasuki kamar Tao.

 

Langkah Wufan sempat terhenti saat melihat kondisi Tao. Bocah berusia tanggung itu masih terbaring diranjang, lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya…hanya saja raut wajahnya jauh dari kata damai sebagaimana seharusnya ketika tertidur. Wajah Tao nampak pucat, berkeringat dan nafasnya tersengal. Ia mengerang seolah kesakitan, berteriak seolah ketakutan…keningnya berkerut dan kedua tangannya meremas apapun yang dapat ia jangkau, karena itulah selimut dan seprai nampak sedikit kacau.

 

Wufan tak pernah menyangka jika akan se-pilu ini ketika benar-benar melihat Tao mengalami mimpi buruk.

 

Tanpa pikir panjang ia segera berlari menyibak selimut dari tubuh Tao dan menggengam erat tangan kurus bocah lelaki itu.

 

“Tao, buka matamu, Tao” satu tangan Wufan terus meremas-remas sebelah tangan Tao…sementara tangan lainnya menghapus peluh yang membasahi wajah pucatnya “Semua baik-baik saja, Tao…bangunlah, buka matamu!”

 

Tao masih tetap bergelut dengan mimpi buruknya ketika Wufan menepuk-nepuk pelan pipi tirusnya, kesadarannya sulit untuk ditarik. Minseok pernah berkata jika alam bawah sadar seorang penderita depresi sulit untuk ditembus, itu disebabkan karena mereka tak memiliki pertahanan diri yang cukup kuat untuk menghalau segala pemikiran buruk dan perasaan gelisah…terlebih dengan keadaan rusaknya jiwa serta pikiran Tao.

 

“Tao! Hei, Tao! Bangun, Tao…buka matamu! Lihat aku, Tao. Lihat aku…”

 

Kedua mata Tao akhirnya terbuka, hal tersebut sempat membuat Wufan menahan nafasnya sejenak…ia merasa lega sekaligus kaget.

 

“T…Tao…”

 

Mulut Tao berhenti mengerang dan berteriak…namun nafasnya masih sedikit tersengal. Ia menatap lekat Wufan disampingnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun seperti biasa.

 

“Semua baik-baik saja, Tao. Tidurlah kembali…aku disampingmu.”

 

Senyum Wufan menjadi obat penenang yang ampuh untuk Tao…dengan terus menatap paras rupawan itu, lurus langsung pada mata indahnya, perlahan-lahan irama nafas Tao mulai kembali normal. Tepukan pelan telapak tangan Wufan yang lebar dan hangat membuatnya semakin merasa tenang dan nyaman…kedua kelopak matanya berangsur-angsur nampak goyah, mengedip dengan tempo pelan, pelan sampai akhirnya tertutup rapat.

 

Dan malam itu Wufan tak punya pilihan lain dan harus terlelap disamping Tao karena bocah itu tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Ia bahkan lupa belum mematikan televisi.

 

。。。。。。。。。

 

Hari ini adalah hari terlama Wufan meninggalkan Tao sendirian di rumah. Pekerjaanlah yang memaksanya berbuat demikian. Pria setengah Amerika itu mulai disibukkan dengan berbagai kontrak, permohonan design dan penelitian mengenai rekonstruksi bangunan yang hendak ia kerjakan. Bayang-bayang wajah Tao selalu hadir dikepalanya, membuat Wufan tak dapat berkonsentrasi pada pekerjaan, karenannya ia segera berbenah saat tiba waktunya untuk meninggalkan kantor.

 

Wufan nyaris mengumpat ketika melihat hujan deras diluar sana. Ia tak mungkin berlama-lama lebih dari ini, menunggu hujan reda hanya akan membuang-buang waktu untuk segera bertemu dengan Tao…ia pikir bukan masalah menerobos hujan selama yang terjatuh dari langit masihlah air dan bukannya batu.

 

Untunglah letak stasiun kereta bawah tanah tak terlalu jauh dari gedung kantornya, dengan sedikit berlari dan tanpa harus basah kuyup, Wufan dapat segera menaiki kereta jurusan daerah tempat tinggalnya.

 

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya pria bertubuh tinggi tegap itu sampai dan segera meninggalkan stasiun menuju halte bus.

 

Dalam perjalanan dibus, tak jarang Wufan memastikan waktu pada arloji-nya…saat ini sudah lewat satu setengah jam dari waktu seharusnya ia sampai dirumah. Tao pasti sudah menunggunya, menunggu membuat Tao mudah gelisah dan risau, karena itu sebisa mungkin Wufan tak ingin membuat bocah bersurai hitam berkilau itu menunggu.

 

Mendekati tempat tujuan, Wufan berdiri dari kursinya dan mendekati pintu keluar…tak lupa ia juga menekan bel agar bus ini berhenti di halte selanjutnya.

 

Bunyi mesin diesel terdengar kasar ketika pintu otomatis bus terbuka, Wufan segera melesat menuruni bus sambil sesekali mengusap jas-nya yang sedikit terpercik tetes hujan. Namun gerakan tangannya terhenti seketika saat menyadari hadirnya bayangan seseorang dihadapannya…ia segera mengangkat wajah dan pandangan matanya berubah sedikit takjub.

 

“Tao…?”

 

Seorang bocah bersurai hitam kelam berdiri dihadapannya, tubuhnya cukup tinggi dan kulitnya putih bersih…cukup berbeda dengan Tao yang dulu. Terlebih dengan senyum lugu yang akhir-akhir ini sering mengembang membuat parasnya nampak semakin manis.

 

“Kau menungguku?”

 

Tao menyerahkan satu-satunya payung yang ia bawa pada Wufan, payung panjang warna merah yang tidak terlalu basah. Sepertinya Tao sudah menunggu dihalte ini cukup lama, pakaiannya pun hanya nampak lembab, begitu juga dengan rambutnya.

 

Wufan bingung pada perasaannya sendiri…apakah ia harus merasa senang Tao menunggunya, ataukah ia harus merasa sedih karena telah membuat Tao basah seperti sekarang ini? Tao bisa saja terserang demam dan flu nanti. Ia merasa bingung, sungguh tidak elit─ akhinya Wufan melepas jas abu-abu yang melekat ditubuhnya dan mengenakannya ditubuh Tao. Meski nampak kebesaran, lengannya saja bahkan terlalu panjang nyaris melewati ujung jari-jari bocah china tersebut─ ia rasa cukup untuk sedikit menghangatkan Tao.

 

“Ayo pulang…” Wufan tersenyum lembut dan meraih tangan Tao, menggenggamnya dan membawanya berjalan menyusuri trotoar.

 

Kali ini Wufan memilih jalan memutar agar lebih lama sampai dirumah…ia tak tahu mengapa melakukan hal tersebut, kedua kakinya melangkah begitu saja. Hujan seolah membuatnya semakin dekat dengan Tao.

 

Seperti biasa Tao hanya membisu. Ia hanya akan mengikuti dan membiarkan apapun yang Wufan lakukan.

 

Wufan sendiri bingung mengapa hingga saat ini Tao tak kunjung bicara padanya. Saat berkonsultasi pada Minseok, dokter muda itu berkata jika hal tersebut biasa terjadi pada penderita depresi. Masa lalu hanyalah sumber ketakutan Tao, semua yang ia lakukan dahulu mungkin membuatnya sedikit trauma…bahkan hal sepele sekali pun. Butuh pendekatan serta bimbingan khusus agar para penderita depresi berkenan dan memiliki keberanian untuk dapat kembali menjalani hidup normal.

 

Sejujurnya Wufan sangat ingin mendengar suara Tao…mendengar anak lelaki itu menyebut namanya, dengan imbuhan -ge dibelakangnya. Bukan teriakan atau erangan frustasi yang kerap keluar dari mulut Tao ketika mengalami mimpi buruk.

 

Seandainya…

 

Seandainya…

 

Wufan berhenti melangkah saat tersadar kalau tangannya terasa kosong, tangan Tao entah sejak kapan terlepas. Ia terlalu tenggelam dalam lamunannya, sampai-sampai sedikit melupakan keberadaan anak China itu. Pria bersurai pirang itu melihat kekosongan disampingnya, dengan sedikit terkejut ia menoleh kebelakang dan menatap bingung pemuda berambut hitam legam yang berdiri beberapa meter disana.

 

“Tao, ada apa?”

 

Pemuda itu tak menjawab, ia menatap Wufan dalam kebisuan untuk beberapa saat…lalu menengadah menatap langit. Hujan telah berhenti, langit nampak sedikit lebih cerah kini. Wufan menurunkan payungnya yang belum tertutup dan turut menengadah seraya menadah tangannya…setetes sisa air hujan terjatuh disana, berasal dari dahan pohon diatasnya.

 

Ia kembali menatap Tao…

 

“Apa yang kau lakukan, Tao? Kemarilah…”

 

Dengan tersenyum lembut ia mengulurkan tangan, berharap Tao melangkah mendekat dan menyambutnya. Namun hal tersebut tak kunjung terjadi, entah apa yang membuat pemilik surai sekelam langit malam itu terdiam disana.

 

Wufan bermaksud melangkah mendekat, namum kakinya terasa kaku ketika mendapati pergerakan pada mulut Tao.

 

Kedua mata indahnya sedikit terbelalak. Ia melihat kedua belah bibir merah Tao bergetar…apa yang terjadi? Mengapa? Wufan bertanya-tanya dalam hati.

 

Mungkinkah…Tao tengah mencoba berbicara padanya?

 

Seolah keinginan hatinya tersampaikan pada Tao, Wufan merasakan tubuhnya membeku, meski sesungguhnya ia bergitu ingin berlari dan memeluk tubuh gemetar didepannya.

 

Tao masih berusaha mengeluarkan suaranya, ia nampak kesulitan. Keningnya mulai berkerut dan matanya menyempit.

 

Sampai akhirnya setetes air mata turun melintasi permukaan pipi tirus Tao. Ia tidak mampu melakukannya, tenggorokannya seakan tercekat, sakit, suaranya tidak mau keluar─ takut. Bayangan masa lalu nan menyeramkan sedikit demi sedikit berputar dalam kepalanya, ketika ia dipukuli, dihujamkan perkataan kasar, teringat kembali akan rasa sakit yang dirasakan tubuh dan hatinya, derit engsel ayunan…derai suara hujan.

 

 “Mulai sekarang kita akan hidup bersama, hm? Aku akan menjaga dan merawatmu, Tao. Meski kau tak mengenalku itu bukan masalah, cukup aku saja yang mengenalmu dan kau tak perlu lagi merasa kesepian.” ─

 

“T…t-terima…ka…sih…Wufan…-ge…”

 

Meski sulit, meski menyesakkan dan meski terasa amat sakit…Tao ingin menyampaikan kata-kata yang telah dipendamnya begitu lama, sejak pertama kali bertemu sang penolong.

 

Hal yang sulit untuk Wufan percayai adalah bahwa beberapa detik lalu ia baru saja mendengar Tao mengucapkan kalimat pertamanya, namanya, suara Tao─ ia mendengarnya…sungguh, tidak bohong, kenyataan. Ada sesuatu yang meletup-letup dalam dadanya, jutaan perasaan tak terungkap kata menyatu dalam dirinya. Dan yang menyebabkan semua itu adalah seorang anak laki-laki bernama Huang Zi Tao.

 

Genangan air terpecah menimbulkan beriak setelahnya, ketika kaki-kaki panjang itu berlari mengabaikan segala sesuatunya. Menembus udara hanya untuk memeluk sekujur tubuh milik seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya sejak kali pertama bertemu.

 

─ “Kita akan selalu bersama, Tao. Hari ini, esok dan seterusnya…aku akan menghalau kesedihanmu, mengusir jauh mimpi burukmu dan menghapuskan rasa sakitmu. Hiduplah bahagia, aku disampingmu…sampai waktuku berakhir.” ─

 

~OWARIMASHITA~

 

Okeeeehh~

Selesai, selesai…agak kepanjangan sih ya.

 

Sekali lagi ini Kristao pertama sayaaa…maaf kalo ga memuaskan!

Yang mau Plagiat silahkan…

Yang mau bashing juga boleh.

Yang mau jadi Silent Readers juga…boleh-boleh aja~

Semua orang bebas mengekspresikan diri dan mengemukakan pendapat, saya ga berhak ngelarang…Cuma inget aja, tiap tindakan pasti ada balasannya. Makanya sebelum berbuat dipikir2 dulu dengan baik dan benar ya.

 

Thanks to: Owner of this blog, Rana-chan and Fansite the real owner of original photo which I’ve edited to be this fanfic poster. 

154 thoughts on “ONESHOOT | TAORIS | KIZU

  1. Huaaaa!!!! Ff nya Daebakkkk thorr…
    Ini ff ter daebakk yang pernah nae baca.. !! … Sering2 buat ff TaoRiss ya thorr!!😀..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s