KRIS COMPLEX Chapter 1

Title : Kris Complex

kris complex

Author : Termakan Sehun

Main Cast : Huang Zitao a.k.a Hwang Zitao, Wu Fan a.k.a Kris Wu.

Supporting Cast : Chanyeol Artadinata, Baekhyun Oscar Delahoya, Dan Kyungsoo mekar mewangi sepanjang hari.

 

Le bow the first .. m(-_-)m.

Author gaje balik lagi, sedikit cuap-cuap ya! Ini adalah Taoris, padahal sebenernya aku Kray HardShipper. Tapi karena aku di tantang sama si Hyobin dongsaeng sarap itu. Jadi lah aku bikin ini. Idenya bukan murni ideku, aku sharing sama Kaka Ninetailedfox. Cuman tulisannya murni aku sendiri yang bikin. Semoga tidak gagal dan sesuai harapan para Taoris Shipper aja deh. Selamat menikmati. Maaf untuk bahasa yang kasar. Dan maaf utuk WAMH yang gak update update. Jangan bunuh gue. Karena bikin FF bagi gue butuh kerja keras. #halah.

Satu lagi, warning ! disini mungkin banyak sekali istilah-istilah kedokteran yang tidak kalian mengerti, tapi sedikit sedikit aku udah ngasih pengertian kok. Maaf ya kalo gak paham. Silahkan Tanya ke gue lewat telepati ya. Ohya, disini Tao adalah orang Korea makanya marganya aku ganti “Hwang”.

 

 

Dictionary :

Euisangnim = Dokter

Sajangnim = Direktur.

Doryeonim = Tuan muda.

           

 

 

 

Start of disease…

Tao sedang bersantai menghapus lelah akibat ujian akhir praktikum yang baru saja ia jalani sebagai seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran semester keenam telah usai. Ia menyandarkan punggungnya pada sebuah kursi di halte bus. Matanya beredar, menata pandangan pada setiapsudut yang tertangkap oleh korneanya. Ia menghela nafas lega. Senyum kecil terukir di sudut bibirnya, ia sedang membayangkan bagaimana menariknya kehidupannya setelah menjadi dokter magang. Kita sebut saja disini sebagai dokter muda. Tentu saja jika ia lulus uji koassistensi.

Ia tidak sedang menunggu bus. Tapi ia sedang menunggu sepupunya, Sehun, yang masih berkutat dengan ujiannya. Ia bosan jika harus menunggu Sehun di dalam kampus. Ia memilih menunggunya di luar gerbang universitas sekaligus ia bisa sedikit berjalan-jalan menikmati suasana kota yang mulai beranjak dingin.

Tao meraih smartphone hitam di saku kiri long coatnya. Kemudian mengetik sebuah pesan singkat yang berisi tentang keberadaannya kepada sepupunya. Setelah terkirim, Tao kemudian membuka galeri dan memilih menu musik, ia menyentuh layar tipis ponselnya tepat pada tulisan “Your Name-SHINee’. Ia lalu memasang headphone yang sudah sejak tadi hanya bertengger di lehernya. Ia menikmati alunan music akustik pop yang sedang menyergapnya.

Sembari mengedarkan pandangannya, ia menangkap jauh di sebelah kanannya, seorang lelaki tengah mengetuk-ngetukkan sepatunya ke trotoar. Laki-laki tersebut bertubuh jangkung, rahangnya tegas, hidungnya bangir, seperti tokoh kartun dalam komik. Tao semakin menajamkan pandangannya menyusuri tiap inchi tubuh lelaki itu.

Sebut saja, dari mulai ujung rambutnya yang pirang bergelombang di naikkan keatas. Sampai pada merk sneakers yang laki-laki tersebut gunakan. Ada hal yang seketika membuat dadanya sesak. Dan debaran jantungnya tak beraturan. Tao meremas dadanya perlahan, tak mengerti apa yang sedang ia rasakan.

Merasa diperhatikan, lelaki bertubuh jangkung tersebut menoleh dan balik menatapnya. Terlambat, ketika Tao ingin mengalihkan wajahnya. Pandangan mereka telah bertemu pada satu titik lurus yang mendadak menambah intensitas degup jantung Tao menuju satu tingkat lebih cepat. Tersadar, ia segera mengalihkan pandangannya pada apapun disekitar.

Tao tak lagi menikmati alunan music yang mengalun dari headphonennya, ia melirik jam ditangannya gugup, berharap sepupu kecil nya itu segera datang menjemputnya. Sudah setengah jam ia menunggunya dan batang hidung Sehun tak kunjung muncul.

Sedetik kemudian, sebuah bus hijau berhenti untuk menurunkan beberapa penumpang. Terlintas ide untuk meninggalkan Sehun. Alangkah baiknya jika ia pulang terlebih dahuludengan menaiki bus itu. Daripada ia harus menunggu Sehun dan tetap berada dalam situasi canggung bersama lelaki tersebut, yang jelas-jelas membuatnya hampir meledak.

 

… … … … … … … … … … … … … … … … …

 

Pagi yang cerah ya? Namun sepertinya tidak secerah wajah Tao yang sekarang tengah melamun di bawah pohon rindang yang terletak di tengah-tengah universitasnya. Mengabaikan sepupunya Sehun yang tengah menyalin seluruh tugas-tugasnya.

Ada hal penting yang harus dipikirkan selain mengingatkan Sehun untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Hal penting yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Hal penting yang belakangan ini menjadi hal wajib yang ia rasakan sejak kejadian di halte bus itu. Ini tentang kesehatannya! Pikirnya seperti itu.

Belakangan ini, Tao sering sekali merasakan debaran jantungnya secara tiba-tiba melaju cepat tak bisa di atur. Kakinya seolah lumpuh dan pikirannya tak bisa fokus. Tak jarang ia menepuk nepuk dadanya agar debaran jantungnya melaju normal. Tapi sepertinya cara itu tak berhasil. Bahkan ia pernah merasakan sesuatu di dalam jantungnya yang ingin membuncah keluar, menyebabkan perasaan sesak dalam rongga dadanya.

Gejala-gejala nya malah semakin parah, apalagi jika ia sedang melihat sosok bertubuh jangkung yang memiliki rambut pirang. Bahkan hanya dengan membayangkan wajah tampannya saja sudah bisa membuat jantung Tao serasa melompat keluar. Wajah tampannya memang setiap hari berkeliaran di atas pikirannya. Berkali-kali ia mencoba menjambak rambutnya agar tak lagi berfikir tentang wajah tampan lelaki tersebut, karena seperti hal di atas, setiap kali ia membayangkan lelaki tampan itu, jantungnya benar-benar bergerak ganas tak tentu arah.

Terus terang itu sedikit membuatnya takut. Tao berfikir, mungkinkah ia terserang penyakit jantung? Tapi kenapa debaran itu hanya muncul jika ia bertemu dengan lelaki itu atau sekedar memikirkan hal kecil tentangnya? Argghh!!! Tao bergidik ngeri. Jangan-jangan lelaki tampan itu memiliki radar virus yang akan mengenai setiap orang yang berkeliling di sekitarnya. Tapi sejauh ia pernah menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran selama ini, ia belum pernah menemukan satu penyakit pun yang menunjukkan gejala yang di alaminya.

“Sehun-ah…”

Panggil Tao yang hanya di tanggapi dengungan oleh pemilik nama tersebut disampingnya.

“Akhir-akhir ini, kenapa jantungku sering sekali berdetak kencang ya?”

“Apa maksudmu?” Sehun malah berbalik untuk bertanya. Ia tetap focus mengerjakan tugas- ralat! Menyalin tugasnya.

“Molla, aku merasa jantungku seakan melompat-lompat ingin keluar dari dadaku.”

Sehun seketika menghentikan jari-jarinya yang menari di atas laptop kesayangannya. Kemudian secepat kedipan mata menoleh pada Tao. “Apa kau bilang?” Hening sesaat. Sehun hanya menatap lurus pada sepupu karibnya tersebut. “Kalau jantungmu benar-benar melompat keluar. Itu berarti ia tak mau memiliki majikan yang bentuk anatominya sepertimu.” Lanjutnya datar.

BRILLIANT!! Jawaban yang sangat bagus keluar dari mulut kecil sepupunya. Seketika membuat Tao menggulung kasar kumpulan makalah mikro anatomy yang baru saja ia print out menjadi sebilah pemukul yang kemudian benar-benar dipukulkan pada belakang kepala Sehun.

BUGH!!

“Aku serius SEHUN BODOH!”

Sehun meringis mengusap-ngusap tengkuknya. “Yak! Kau pikir tidak sakit dipukul begitu?!” Sehun balas berteriak tepat di telinga Tao. “Sebenarnya yang bodoh itu kau atau aku? Mana mungkin jantung bisa melompat keluar begitu saja dari tubuhmu? Kau ini seperti bukan mahasiswa kedokteran saja!”

“Bukan begitu maksudku sepupuku Sehun yang paling tampan sedunia perhewanan…” Geram Tao.“Aku merasa ada yang tidak beres dengan detakan jantungku, seperti ada penyumbatan parsial dalam arteri coroner yang memberikan efek angina pectoris (sesak napas yang sangat) berlebih dan aritmia yang secepat kilat berubah menjadi tachycardia. Yang terparah adalah ketika secara tiba-tiba aku merasa mengalami gejala aritmia tersebut bersamaan dalam satu waktu dengan disfungsi diastolik. Apa aku mengalami kegagalan fibrilasi ventrikel ya?”

Fibrilasi ventrikel adalah suatu keadaan dimana terjadinya kontraksi irama jantung yang tak beraturan (aritmia), pada ruang bawah jantung (ventrikel). Fibrilasi Ventrikel adalah jenis serangan jantung terburuk dari kasus aritmia yang bisa menyebabkan kematian dalam hitungan detik jika tidak ditangani dengan cepat.

Sehun mengernyit dan baru saja akan membuka mulut ketika ia tahu Tao ingin melanjutkan lagi ceritanya.

“Ah ya, dan lagi… Aku seperti mengalami halusinasi halusinasi kecil pada pikiranku. Yang akhirnya berakhir dengan denyutan hebat disana. Seolah tak dapat lagi berfikir jernih. Apa kau tahu apa gejala itu?”

Terhenti. Tao sudah menyelesaikan cerita yang menurut Sehun sangat aneh.

“Hahahahah…” Sehun menanggapi dengan tawa skeptis. Ia mengangkat sebuah alisnya lalu berbicara. “Apa kau yakin dengan diagnosamu calon dokter Tao?” Sehun hampir terjungkal ketika mendengar pernyataan Tao. “Hey, bagaimana mungkin kau masih segar bugar sehat walafiat dan berbicara dengan ku secara jelas, jika kau mengalami kegagalan ventrikel? Penderita gagal ventricular pasti sudah tidak bisa lagi membuka matanya alias K O M A. Kau tau itu Tao…” Sehun masih melanjutkan tawa skeptic nya. Sungguh dalam hati Sehun ingin memasukkan otak Tao kedalam pendingin karena diagnosa aneh yang ia jabarkan baru saja.

“Dan…gejala disfungsi diastolik hanya bisa teridentifikasi dari echocardiograph bagaimana mungkin kau bisa merasakannya? Lagi…halusinasi apa yang bisa membuat kepalamu berdenyut? Kau seolah olah menderita Migrain dan Skizofrenia secara bersamaan begitu?” Lanjutnya dengan tampang sedikit tak percaya. Bukankah Tao terkenal dengan julukan ‘Photograpic Memory’ yang hanya membutuhkan waktu sekilas untuk menghafalkan sesuatu. Bagaimana mungkin ia tidak tahu hal sepele macam ini?

“Oh, Sepertinya kau terlalu banyak menonton video surgery yang diberikan oleh DR.Jimmy…” Sehun mengahiri ceramahnya dengan sedikit mendengus.

Demi jenggot merlin atau apapun di dunia ini yang aneh. Tao benar-benar ingin mencakar wajah skeptis mahasiswa yang nantinya ingin mendalami tentang kardiovaskular dihadapannya ini. Dengan ekspressi sangat santai sekali Sehun menjawab segala keluhannya tadi. Apakah Sehun benar-benar tidak mengerti bahwa ia sedang serius? Kalau ia tahu apa penyakitnya  mana mungkin ia bertanya pada Sehun. Sebenarnya siapa yang lebih bodoh? Tao menggertak geram.

“Hey Tao… Sudahlah jangan memikirkan hal hal yang aneh. Bukan kah wajar bila seorang manusia mempunyai kadar tachycardia yang cepat. Mungkin manusia tersebut sedang dalam keadaan senang atau sedang gugup atau ketika……” Sehun melirik Tao yang mendadak mengerucutkan bibirnya.

Tao mengangkat sebelah alisnya menanti Sehun melanjutkan kata-katanya.

“Katakan, apa kau sedang memperhatikan seseorang saat ini?”

Tao semakin mengangkat tinggi sebelah alisnya.

“Well, maksudku…apa kau sedang jatuh cinta?”

Kembali hening. Lalu sebuah angin tidak penting berhembus diantara mereka.

“Kau ini tidak bisa diandalkan Oh Sehun. Kemarikan tugas ku. Aku tidak akan berbaik hati lagi padamu.” Tao menarik kasar print out tugasnya kemudian mengernyit menatap tampang bodoh Sehun. Ia benar-benar tak percaya bahwa lelaki yang ada dihadapannya ini nilainya selalu A+ dalam materi ujian apapun. APAPUN! Melihat betapa bodohnya Sehun ketika ia mengajaknya bicara semakin membuatnya yakin bahwa Sehun mempunyai dua kepribadian ganda. Bahkan ia lebih pantas menjadi dokter cinta daripada dokter sesungguhnya.

“Haaahh… anak ini cepat sekali marah…”

Tao mengabaikan gumaman Sehun dan langsung berlari ke utara.

“Hey, kau mau kemana?”

“Rumah sakit! Kau lupa kita ada tes koassistensi?” Teriak Tao yang masih bersungut-sungut. Di ikuti Sehun yang tergagap memunguti semua barangnya.

 

… … … … … … … … … … … … … … … … … … …

 

Tao menggigiti ujung bibirnya kencang. Kebiasaan yang sangat sering ia lakukan jika ia tengah berada dalam kondisi gugup. Pertama karena secara tiba-tiba semua bahan presentasi yang akan ia jelaskan pada seluruh mahasiswa menghilang dari otaknya. Kedua, mendadak lidahnya begitu kelu untuk sekadar memutarnya membentuk sebuah suara. Ketiga, ia benar-benar ingin berlari saat ini.

“Zitao? Are you okay?”

Suara yang berat dan dalam diiringi dengan tatapan tajam menyapa. Sungguh suatu tatapan yang tidak ingin dialami oleh dirinya sendiri.

“Ada yang bisa ku bantu?”

Tao semakin menunduk dalam. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahan situasi ini. Bukanlah seorang Hwang Zitao ketika dalam presentasi ia mendadak gagap dan gagal berbicara. Sungguh bukan tipe seperti itu. Tao menggeleng pelan berusaha menjawab apa pertanyaan lelaki rambut pirang dihadapannya.

“Kalau begitu lanjutkan keteranganmu. Semuanya menunggu. Jangan membuang buang waktu. Kau tahu waktu seluruh mahasiswa disini adalah uang?”

Tidak usah menatapku seperti itu, bisa tidak sih? Itu mengganggu! Tao mengernyit. Benar-benar, pamornya sebagai mahasiswa ‘Photograpic Memory’ menurun seketika. Tao melirik laki-laki itu sebelum akhirnya membuka mulutnya ragu-ragu.

“Ba…baiklah… sindrom kor..koroner akut a…adalah sebuah k..k..kontin..kontinum iskemia miokard.”

Sungguh ini bukan Tao. Ia melangkahkan kakinya gemetar menuju sisi kanan monitor. Lama berdiri membelakangi para mahasiswa dan hanya menatap kosong pada monitor. Ia mencengkeram erat sebilah kayu yang sejak tadi memang ia genggam. “Kontinum Iskemia miokard bisa mulai diketahui dari R…ranging from..from angin…a. Maksudku, Angina.”

Keringat dingin mulai bercucuran. Tenanglah Hwang Zitao, dia tidak berbahaya. Tubuhmu terlampau kuat untuk menahan serangan virusnya. Tao ayolah… Jika Tao diperbolehkan untuk menggenggam kesadarannya, ia sendiri bingung akan apa yang sedang ia rasakan. Rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata terbaik siapapun. Ia sangat bingung sampai ia hampir menjatuhkan laptopnya.

“Kau ini payah sekali. Bahkan menjelaskan dasar materi Phatology Cardiovascular saja kau tidak bisa. Mahasiswa macam apa kau ini? Kau bisa tidak lulus uji koassistensi kalau begini.” Lelaki pirang tersebut menatap merendahkan.

Tao bersumpah, lelaki ini selain memiliki virus, ia juga tidak pernah menghargai orang lain. Harusnya lelaki tersebut bisa menghargai usaha Tao yang mati-matian berusaha mencairkan kebekuan tenggorokannya. Namun, siapa yang tahu?

Sial ! Jika presentasi ini gagal ia akan mendapat nilai D untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Dan itu artinya ia akan gagal menjadi ‘Intern’ di rumah sakit Gangwoon sebentar lagi. Benar-benar, apasih yang terjadi pada dirinya? Dadanya kembali bergemuruh. Pikirannya terbagi antara berusaha mengingat bahan presentasinya dan menenangkan keadaan jantungnya.

“Kau tidak sedang sakit kan?” Kini nada suaranya sedikit merendah. Bisa dirasakan mata lelaki tampan tersebut menatap tajam pada wajah Tao. Seketika, warna merah mendominasi kedua pipinya. Saat ini ia benar-benar ingin meledak dan pingsan. Kakinya tak lagi dapat menopang berat tubuhnya. Getarannya sangat hebat. Tao menggeleng. Namun rasanya, lelaki di hadapannya itu mengabaikan isyaratnya.

“Oh Sehun, bawa Hwang Zitao ke Ruang Dr.Lu. Sepertinya ia sedang tidak baik.”

Dengan sekali anggukan, Sehun segera menggamit lengan Tao dan menggiringnya keluar dari kelas.

 

 

 

Gangwoon Hospital~ Dr.Lu’s Room~

 

“Kurasa Tao hanya terlalu lelah, debaran jantungnya tidak normal. Tapi sejauh ini tidak ada masalah yang serius. Cukup istirahat beberapa jam, dia akan sembuh.”

Senyum ramah terpancar dari bibir seorang Dokter Residen yang baru saja memeriksa dada Tao. Luhan namanya. Wajahnya bisa di kategorikan terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki.

“Kalian pasti belajar terlalu lelah untuk menghadapi koassistensi ini.”

Sehun mengedikkan bahu lalu menatap Tao yang tergeletak di bed pasien.

“Benarkah hanya kelelahan? Tak ada disfungsi diastolic? Tak ada gagal ventricular?”

“Apa?” Luhan menatap pasien di hadapannya heran, kemudian bergantian menatap Sehun.

“Beberapa hari ini Tao selalu merasa ia mengalami gejala-gejala cardiac.” Sehun menerangkan.

“Ia bilang mengalami penyumbatan parsial dalam arteri coroner beserta efek efeknya. Bahkan anehnya ia mendiagnosis dirinya mengalami fibrilasi ventrikel, hanya karena praduganya terhadap aritmia dan disfungsi distolik secara bersamaan. Padahal ia masih sehat walafiat.”

Luhan tertawa geli memegangi perutnya. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya. “Apakah kau Hulk? Bisa bertahan dalam serangan apapun, bahkan cardiac yang mematikan sekalipun?”

Luhan menggabungkan kedua tangannya membentuk sebuah pistol palsu kemudian mengarahkannya pada dada Sehun.

Sehun reflek memegangi dada kirinya dengan kedua tangannya dan berakting seolah pistol palsu yang diarahkan Luhan padanya benar-benar berisi peluru dan menancap tepat di jantungnya, kemudian menggelepar dan berpura-pura mati.

Sedetik kemudian, Sehun terpingkal-pingkal karena adegan lucu yang baru saja ia dan Luhan lakukan.

Tao menggertakkan giginya dan langsung mendatangi Sehun. “Apa yang kau tertawakan bocah tengik?” Ia mengunci kepala Sehun dengan lengannya, lalu menghujaninya dengan jitakan.

“Aahh…! Kenapa hanya aku yang kau jitak? Luhan hyung yang pertama kali mentertawaimu.”

“Sudah diam…” Tao mengabaikan protes yang dilakukan Sehun. “Ini adalah salah satu gejala aneh yang kualami akhir akhir ini, rasa ingin menghujani kepalamu dengan berpuluh-puluh ribu jitakan.”

“Ayayayaya… ya ampun, sakit!”

Tao memegangi Sehun yang berusaha keras membebaskan diri dari cengkeramannya. Luhan semakin bergetar hebat, ia hampir berjongkok karena tertawa jika saja tidak ada kursi hitam berputar di belakangnya.

“Sudah Tao, sudah…” Luhan berusaha menghentikan parody lucu dihadapannya. Sepertinya ia harus mengirimkan formulir mereka berdua untuk mendaftar ke Gag Concert (acara lawak Korea). Tao melepaskan Sehun. Kemudian duduk di kursi pesakitan di seberang meja.

“Aku tidak mengerti bagaimana ceritanya Professor Lee membiarkan orang seperti itu menjadi Residen pembimbingku. Padahal jelas jelas ia membawa hal yang sangat tidak kusukai.”

Luhan menghentikan tawanya saat mendengar perkataan Tao. “Hal apa yang kau maksud?”

Tao menatap Luhan, tatapannya masih tampak kosong. “Virus itu selalu menggangguku Hyung. Jika virus itu datang aku selalu merasa jantungku gagal beroperasi. Sesak nafas yang mendadak bahkan aliran darah seketika berhenti. Ia memiliki mata yang tajam… setajam elang, dan menusuk nusuk tepat pada jantungku.

“Virus? What’s Virus? Lalu apa hubungannya Residen dengan virus..? Tunggu! Dosen pembawa virus. Apa maksudmu…….”

“Yatuhan!” Sehun berjengit keras. “Virus yang kau maksud bukan Dr.Kris kan? Jika benar seperti itu itu tandanya kau sedang jatuh cinta dengan laki-laki tampan itu. Tapi kau kan baru sekali bertemu dengannya. Bagaimana bisa kau langsung jatuh cinta. Atau? Oh iya, cinta pada pandangan pertama. Ya Tuhan romantic sekali.”

“Hey, Kris sudah lama berada disini. Ia kan wakil kepala rumah sakit ini. Meskipun ia tidak melakukan praktik. Tapi ia sering sekali berkeliaran disini. jadi, mungkin Tao sudah bertemu dengan dia beberapa kali.”

Menoleh, Tao menatap kedua sahabatnya dengan tatapan laser. Ia tidak mengatakan sepatah katapun, akan tetapi tiba-tiba angin yang berada di sekeliling Luhan dan Sehun berubah tidak nyaman. Sehun dan Luhan juga menyadari kalau baru saja mereka terlalu banyak berbicara. Tapi sungguh, tatapan Tao saat ini mengeluarkan laser yang membedah kedalam jantungnya.

“Hyung… Sepertinya ada Linger (peranakan dari Lion dan Tiger) yang sedang marah…” Sehun menggerak-gerakkan bibirnya melihat Tao yang mendekati mereka.

“Iya… bagaimana kalau kita kabur ke kantin saja?”

Semakin mendekat dan mendekat. Tao memang sudah sering sekali melihat Kris, oleh karena itu ia bisa mendiagnosis dirinya terjangkit ssebuah penyakit yang ditimbulkan oleh lelaki jangkung tersebut.

“Satu… Dua…Sepuluh…KABUR…”

“YAKKKK… KALIAAANNN…Dasar mahasiswa dan dokter bodoh! Haaahh, ya ampun! Bagaimana bisa ada mahasiswa kedokteran yang semacam itu sih. Dan satu lagi, Luhan hyung. Benar-benar gila! Kurasa dia menggunakan jalan belakang ketika menerima kelulusannya yang hampir sempurna itu.”Tao menggerutu sambil mengikuti jejak Sehun dan Luhan keluar dari ruangan praktik Dr.Luhan. “Hey! OH SEHUN, LU HAN HYUNG!! Aku akan membereskamu nanti! Awas saja kalau sampai tertangkap! Aku akan melempari wajahmu dengan telur mentah!! HAIIISSSHHHHH…”

Tiba-tiba seseorang mencolek bahu kiri Tao.

“APA?” Ujarnya dengan ketus saat berbalik untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya. “Whoaa… Pembawa virus… eh Euisangnim.”

Lelaki tampan yang baru saja mencolek pundaknya itu mengerutkan dahi dan memicingkan mata.

“Kau tidak tahu ini rumah sakit? Jangan berteriak-teriak seperti itu.”

Tao menganga. Terpaku dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Eung… Tidak… Ouh, maksudku aku tahu, tapi tadi ada sedikit insiden yang membuatku…eh, sangat kesal. Dua makhluk bodoh itu kabur dan aku eh…maksudku Sehun dan Luhan hyung berlari dan aku ingin mengejarnya. Well, yah.. sedikit err … bermain-main. Emm maksudku…”

“Hey.. Hati-hati.”

“Aaawww…”

Tanpa sadar Tao sejak tadi berbicara dengan Kris dengan berjalan mundur. Ia menabrak kursi penunggu rumah sakit.

Ya ampun. Apa yang baru saja kau lakukan Tao.Tao menggerutu dalam hati.

Tao ingin sekali memukul kepalanya sendiri, entah kenapa ia menceracau tidak karuan dihadapan Kris. Harusnya ia kan kabur saja. Bukankah ia menganggap Kris adalah virus?

“Maaf, sepertinya aku harus pergi Euisangnim. Aahh… dan aku berjanji tidak akan berteriak-teriak seperti itu lagi.”

Kemudian Tao berlalu begitu saja dan Kris,

“Hey…Hey… Anak itu kenapa sih? Dasar aneh.”

Ini semua salah mu. Oh Sehun. Lu Han Hyung!!! Salahmu!

 

 

Setelah masuk melalui pintu yang dapat berputar di sebuah toko, orang akan melihat meja kasir di sebelah kanan dan meja peminjaman di sebelah kiri. Semakin ke dalam semakin terlihat, untuk alasan apa di sebuah pertokoan besar tersebut terdapat dua meja yang menyambut pengunjung. Sebuah toko buku terbesar yang ada di kota metropolitan tersebut, menyuguhkan nuansa berbeda dari toko buku lainnya. Bukan hanya menjual sebuah buku, toko tersebut membangun juga sebuah perpustakaan yang bekerja sama dengan pemerintah kota. Hal itu juga lah yang membuat toko buku tersebut tidak pernah sepi pengunjung.

Tao melangkahkan kakinya lebar-lebar saat memasuki toko buku. Ia benar-benar masih geram atas kelakuan dua bocah tengik sahabatnya tadi. Bukannya membantu, kenapa malah mengolok-oloknya. Dua peristiwa yang membuatnya sangat merasa frustasi hari ini. Pertama, ia harus menyadari, sesuatu yang berusaha sekuat tenaga ia jauhi saat ini malah menjadi pembimbingnya selama ia menjadi Intern. Dan itu berarti ia harus berdekatan dengan hal tersebut tujuh hari dalam seminggu. Kedua, kelakuan abnormal dua orang yang di anggap jenius membuatnya lagi-lagi harus berurusan dengan ‘hal’ tadi. Huh! Sial!

Ia memutuskan untuk berdiri terpekur di balik dinding kaca toko tersebut. Bagaikan berada di sebuah aquarium. Bebas memandang dan dipandang. Lagi-lagi karena suatu kebiasaan yang dimilikinya. Selalu memandang apapun yang terlihat di luar sana ketika sedang resah. Design avant-grade yang di pilih ayah Tao untuk mewarnai toko ini membuat kaca sebagai pilihan yang tepat untuk menjadi pembatas dinding. Ya, toko tersebut milik keluarga Tao.

“Sebenarnya ada apa dengan jantung dan perasaanku?”

Tao menerawang menembus alam pikirannya sendiri. Ia mencoba menelisik kejadian demi kejadian yang membuatnya hampir mati.

Mata itu…

Sejak pertama kali ia bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu, Tao tak lagi berani menatap lurus mata indah tersebut. Tatapan matanya tajam seakan memiliki benang merah menuju jantungnya. Membuat jantungnya secara otomatis melesat meningkatkan stadium aritmia menjadi tachycardia.

“Hohhh… dadaku… kenapa tidak bisa tenang….!!! Seharusnya memang aku menjauhinya… bagaimanapun caranya… lalu bagaimana dengan nilai mata kuliahku??” Tao menjambak rambutnya kesal. “Arrrggghhhh…Diantara sebegitu banyak manusia yang super jenius kenapa harus orang itu sihhh??? AAAAARRGHH SIALLLLL!!!”

Tao berteriak frustasi. Tepat pada saat itu, ponselnya berbunyi. Ia langsung mengangkatnya.

“Halo?”

Tidak ada yang menyahut, membuat Tao semakin kesal. Ia menempelkan bibir ke ponselnya dan mengulang kembali sapaannya.

“Halo? Jangan bermain-main denganku ya?”

“Ckckck, Hwang Zitao? Kau ini seperti habis makan mesin diesel saja. Jangan berteriak aku tidak tuli.”

Suara lembut diseberang sana.. bukan Luhan, bukan juga Sehun.

“Aku Baekhyun. Gendang telingaku hampir pecah! Kau tahu? Hah! Dasar…”

“Ah… Baekhyun Hyung, Ada apa?”

“Ada apa? Apa kau tidak ingin menemuiku di negeri kita tercinta ini? Cukup tahu kau tidak merindukan Hyungmu yang paling lucu ini Tao. Dan itu artinya sebuah long coat Burberri limited edition yang baru saja aku bawa dari Italy tidak akan menjadi milikmu. Baiklah aku tutup saja telfonnya…”

“Haaaaaakkk… Baekhyun hyung!!! Kau ini cerewet sekali. Aku tadi tidak sengaja membentakmu. Begitu saja marah.”

“Kalau begitu, cepatlah datang!! Four Season depan Universitas Gangnam… Jangan terlalu lama, atau aku akan memberikannya pada orang orang dibawah jembatan.”

“Hah! Dasar jahat! Baiklah aku pergi. Pergi.”

 

 

 

“Aku tidak menyangka, ternyata kau masih mau bermusik Kris…”

Chanyeol. Pemilik sebuah klub sekaligus sahabat Kris waktu di Amerika menghampiri lelaki pirang berwajah tampan yang tengah duduk sambil membenahi gitar electric miliknya. Tidak berbeda dengan Kris, Chanyeol juga memiliki raut wajah yang sangat tampan. Matanya terlalu lebar untuk ukuran orang Korea.

“Kenapa? Kau tidak suka?”

Kris kembali meminum lemon tea yang ia letakkan di sebuah kursi lain di hadapannya. Kris memang berusaha mengganti kebiasaan buruknya minum alcohol sejak ia di nobatkan sebagai dokter dengan lulusan termuda dan terbaik di Colombo. Meskipun masih berusaha, dan belum ada hasilnya sampai sekarang.

“Kau sudah menjadi kepala team di Cardiothoracic Surgery di Gangwoon kan? Bahkan kau sudah tidak mau menyentuh alcohol lagi.”

“Lalu kenapa? Apa ada peraturan seorang kepala team tidak diperbolehkan bermain music? Ini karena aku akan bernyanyi, jika aku minum alcohol, suaraku akan hilang.”

“Bukan itu maksudku.” Chanyeol menarik sebuah kursi dan meletakkan di dekat Kris. “Aku heran, kenapa kau malah memilih untuk menjadi seorang kepala team atau kasarnya seorang Residen. Daripada menjadi kepala rumah sakit…Bahkan kau juga tidak membuka praktik, padahal rumah sakit Gangwoon adalah milikmu kan? Harusnya kau tidak menyiakan kesempatan.”

“Aku tetap menjadi kepala rumah sakit.” Kris menggenggam microphone yang tidak menyala dan duduk dengan menatap Chanyeol. “Tapi nanti jika aku benar-benar sudah mempunyai banyak pengalaman. Kau tahu kan, disini banyak sekali dokter senior. Rasanya tidak sopan saja jika aku langsung mendahului mereka begitu saja. Toh kepala rumah sakit, Prof.Lee juga tidak di ragukan lagi kejeniusannya dalam mengelola rumah sakit itu. Kalau untuk praktik sendiri, aku belum siap menghadapi keluhan orang yang sakit setiap hari. Lebih menyenangkan bermain gitar dan bernyanyi di bar mu ini kurasa.”

“Haaahhh… Kau ini, kapan kau berubah dewasa?”

“Kenapa? Kau takut? Kau saja masih seperti bocah playgroup. Mau mengolokku!”

Chanyeol tertawa skeptic. “Memangnya ada orang yang takut dewasa? Tidak ada yang perlu di takuti jika sudah siap. Setidaknya aku sudah bisa memilih, dengan siapa aku akan menjalani hidupku kelak. Aku sudah memiliki kekasih, Dude!”

“Park Chanyeol dengar. Bagiku hari esok lebih mengerikan daripada hari ini. Hari esok masih menjadi misteri. Tidak tahu apakah akan menjadi baik atau malah menjadi buruk. Sudahlah, sekali lagi kau berbicara. Aku akan merayu Baekhyun untuk menjadi kekasihku.”

Mentang-mentang Baekhyun bisa jatuh ke pelukannya sudah besar kepala sekali. Apa dia lupa? Berapa orang wanita dan pria yang mengantri ingin menjadi kekasihku? Hah, dasar gigi onta!

“Cih!” Chanyeol mengernyit sebal. Terpaksa membisu karena ancaman Kris yang sangat amat dahsyat.

“Bar mu sangat ramai ya… kau sudah sukses sekarang. Aku yakin sepuluh atau dua puluh tahun kau pasti sudah memiliki kantor management keartisan sendiri.”

Chanyeol tersenyum, menepuk pundak –sebenarnya lebih terlihat memukul- Kris, hingga hampir saja ia menjatuhkan michrophone yang ia pegang. “Jangan sungkan. Ini karena aku menggelar pesta penyambutan untuk Baekhyun. Ia baru saja datang dari Italy. So, Baekhyun memintaku untuk mengundangmu dan teman-temannya yang lain. Makanya ramai.”

Dasar gigi onta! Ini punggungku bukan tembok.

“Nah, semuanya… terimakasih sudah datang. Yang baru datang silahkan menikmati pesanan. Dan setelah ini akan ada persembahan special dari kami. Semoga kalian menyukainya.”

Suara dari michrophone di depannnya mengurungkan niat Kris untuk membentak Chanyeol, ia lalu berbisik lembut yang masih terdengar oleh Chanyeol.

“It’s Show Time!!! Aku mau menemui Baekhyun dulu.”

Anak ini…!!

 

 

Awalnya Tao hanya ingin bermalasan di rumahnya. Memanjakan tubuhnya berendam di bathub yang di penuhi bunga-bunga atau susu segar. Membersihkan diri dengan scrub ginseng agar kulitnya tampak lebih bersih. Bukankah menjadi dokter nantinya harus selalu menjaga kebersihan? Atau melakukan aktifitas lain yang bisa membuat dirinya tenang.

Tapi janji Baekhyun yang akan menghadiahinya long coat Burberry setelah ia pulang dari Italia, sepertinya lebih menggiurkan daripada memanjakan diri di dalam bathub.

“Kau datang juga akhirnya…” Baekhyun muncul dari balik ruangan gelap. “Kupikir kau sudah kehilangan selera untuk benda-benda ber merk.”

“Hey, sudahlah… cepat berikan Coat limited edition itu. Aku sudah lama mengincarnya.”

“Ish…kau ini tidak sabaran sekali.” Baekhyun menyodorkan tas kertas kepada Tao. “Aku pikir, kau sudah menjadi makhluk kuno tidak tahu fashion setelah masuk fakultas anak-anak kutu-buku itu.”

Baekhyun adalah kakak kandung tunggal se-ibu dengan Sehun. Meskipun begitu, mereka memiliki kepribadian yang begitu berbeda. Baekhyun lebih menjurus pada kebebasan dan menjalani hidup sesuai dengan apa yang ia inginkan. Bahkan dahulu, ketika ibu Baekhyun masih hidup, ia adalah yang paling berani menentang keinginan ibunya. Sungguh gelora jiwa anak muda.

“Thank you sweety… by the way, selamat datang kembali ke Korea.”

Seorang bartender dengan dandanan yang sangat rapi, menyapa dengan ramah.

“Beri aku Tequila. Dan…” Baekhun melirik Tao sekilas.

“Lemon Squash saja.” Jawab Tao.

“Wahh.. sepertinya kau banyak berubah sejak menjadi calon dokter?”

Tao mengernyit. “Memangnya dulu aku seperti apa?” Ia melongokkan kepalanya menatap tas bertuliskan Burberry. Ia ingin mengecek, siapa tahu Baekhyun memberinya long coat Burberry kw 2012.

Baekhyun terkekeh sambil menyeruput Tequila yang baru saja tersedia di hadapannya. “Kegkhhh!”

“Ini klub mu?” Tanya Tao lagi.

“Bukan, ini milik kekasihku, Chanyeol.” Baekhyun melambaikan tangan kepada lelaki berwajah tampan, mirip seperti artis. Bahkan tubuhnya seperti model. Sangat tinggi.

Sedetik kemudian terdengar alunan music akustik memenuhi ruangan. Suara rendah dan dalam mengalir kedalam telinga Tao.

“Honey, he’s my cousin…” Ujar Baekhyun memperkenalkan.

“Chanyeol… Park Chanyeol.”

“Tao…Hwang Zitao.”

Tao menjabat tangan lelaki di hadapannya.

“Namamu seperti orang china ya, tapi margamu Hwang.” Chanyeol tersenyum girang.

“Ibuku memang orang China, ayah ku orang Korea.”

Orang ini tampan sekali. Segalanya sempurna kecuali satu hal…sepertinya ia akan lebih terlihat berwibawa jika tidak memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Hey…itu Dr.Kris kan? Dr.Kris bisa menyanyi?”

Seruan itu berasal dari Sehun yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya. Tao reflek menoleh pada arah yang di sebutkan Sehun, dan sedikit melupakan keinginannya melempari telur. Kris? Dokter pemarah? Ia bisa menyanyi?

“Hei, Tao…Lihat, gayanya bagus juga ya?” Ujar Sehun.

Lagu Payphone dari Maroon5 semakin indah terdengar, karena Kris membawakannya dalam versi akustik.

“Wah…” Tanpa sadar Tao mematung dengan pose membawa lemon squashnya mengambang diudara. Ia terpesona oleh penampilan Kris. Kalau ia meneteskan air liur, ia akan terlihat bodoh. Tapi akhirnya, air liur tersebut benar-benar menetes. Baekhyun, Chanyeol dan Sehun juga Nampak sangat menikmati penampilan Kris, dan tak henti-hentinya mengelu-elukan.

“Kalian mengenal Kris?” Seruan Chanyeol membuyarkan lamunan Sehun, Baekhyun dan tentu saja Tao.

Sehun dan Tao mengangguk bersamaan.

“Dia Kepala Residen kami.”

Tao memicingkan matanya memandang Sehun lekat. Seolah bisa di artikan ‘Sejak kapan kau disini?’

Lalu di balas oleh Sehun dengan tatapan yang berarti ‘Aku yang mengantarkan Baekhyun kemari.’

Baekhyun dan Sehun adalah saudara sedarah, hanya saja mereka berbeda ayah. Oleh karena itu sangat wajar jika kelakuan mereka sangat berbeda.

“Kalian anak-anak fakultas kedoteran ya? Waahhh…anak-anak jenius.” Suara Chanyeol yang sangat creepy membuat aksi tatap-menatap Sehun dan Tao selesai.

Tanpa dirasa, lagu yang di nyanyikan oleh Kris berakhir, semua orang yang berada di bar itu berdiri dan bertepuk tangan. Bahkan tamu perempuan tidak segan segan mendekati Kris dan mencium pipinya.

Cih! Menjijikkan. Pantas saja dia penuh virus, dia membiarkan sembarang orang menciumnya.Tao segera berpura-pura mengaduk-aduk lemon squashnya saat Kris berjalan kearah mereka.

“Hei, Kris Wu, sepertinya Baekhyun-ku benar-benar menjadi fans mu sekarang.” Chanyeol memberikan segelas Lemon tea kepada Kris. Sudah menjadi kebiasaan sejak dulu di Amerika, Kris selalu meminum Lemon tea setelah bernyanyi dan sebelum bernyanyi. Namun lihatlah setelah ini, pasti dia akan memesan sebuah anggur.

“Hello Kris, Orinmanieya (lama tidak berjumpa). Suaramu sangat bagus.”

Kris membalas sapaan Baekhyun dengan senyuman menawan. “Terimakasih.” Ia melirik dua lelaki lainnya. Matanya sedikit terbelalak. “Kalian?”

“Ah… Anyeong Euisangnim.” Sehun menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. Sedangkan Tao berusaha memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Kris. Ia masih sangat malu mengingat kegagalan presentasinya beberapa jam yang lalu. Ia hanya bisa membeku dan tak berani menatap lelaki di hadapannya. Untung saja Baekhyun menyela dan berbicara,

“Kau tidak pernah memberitahuku bahwa kau menjadi Residenadikku?”

“Siapa? Mereka adikmu?” Kris bertanya tidak percaya. “Tidak mirip sekali. Lagipula ini hari pertamaku mendampingi mereka.”

“Kalau dia sepupuku.”

Bingo! Byun Baekhyun. Kau pintar sekali.

Tao membeku. Tidak berani menatap orang yang saat ini malah memilih duduk di sampingnya. Kris memandangi wajah Tao yang sejak tadi menunduk dan tidak berani menatapnya.

“Ada uangmu yang jatuh di bawah meja ya?”

“Eh…” Tao mengangkat wajahnya. Menggeleng keras dan memasang tampang bodoh.

“Loh… Kau? Si gagal presentasi itu kan?”

Kurang ajar!

Seketika Tao ingin sekali menjambak rambut pirang lelaki vampire tersebut. Bisa-bisanya ia menyebutnya dengan ‘gagal presentasi’? Melecehkan sekali. Apa memang begitu gaya bicara orang yang lama tinggal di Amerika? Tapi meskipun begitu haruskah ia melupakan kebudayaan Korea? Huh, memalukan sekali.

Aduh, sepertinya image nya sebagai mahasiswa rajin dan pintar akan jatuh dalam sepersekian detik saja.

“Oh, sorry. Tapi kau memang si gagal presentasi itu kan?” Ujar Kris sedikit berbisik.

Hah benar-benar orang ini. Untuk apa dia mengulangnya lagi? Menyebalkan sekali.

Tao mengangguk ragu. Kedua kakinya mulai bergetar tak terduga membuat kursi putar yang ia duduki berbunyi ‘Tak Tak’. Beruntung musik didalam bar itu sangat kencang, dapat menenggelamkan bunyi bunyian yang ditimbulkan Tao.Baekhyun meminta izin untuk menemui sahabat-sahabatnya. Tentu saja Chanyeol juga mengikuti Baekhyun. Chanyeol kan ekor Baekhyun.

Tao memutar pandangan mencari sosok Sehun. Dimana bocah tengik itu? Sejak kapan ia menghilang dari sampingnya? Bocah itu seperti Genie saja. Tunggu! Baekhyun, Chanyeol sedang ada disana. Lalu Sehun tiba-tiba menghilang entah kemana dannn…ia menoleh ke sisi kirinya. Karya seni Tuhan terpetak jelas berupa sosok indah di sampingnya. Tao menelan ludah kasar. Hanya mereka berdua!

“Kau memang seperti itu ya?

Hah? Apa?

“Maksudmu?”

“Menggetarkan kakimu seperti itu.” Ia menunjuk kaki Tao. Sial, Tao pikir tidak ada yang tahu kakinya bergetar. Laki-laki ini teliti sekali.

“Eh… Oh… Tidak… Itu hanya…” Karena aku berdekatan dengan virus sepertimu. Bodoh!

Kris spontan tertawa mendengar jawaban Tao.

Hei, apa yang kau tertawakan? Tidak sopan!

“Kau datang dengan siapa?”

Untuk apa dia menanyakan hal ini?

“Kereta bawah tanah.”

“Hmpppfhh…” Kris terdengar sedikit menahan tawanya. “Kau datang dengan kereta bawah tanah ya? Hahahah.”

“Eh…Apa kau bilang? Aku tadi salah bicara.”

Kris menggoyang-goyangkan telapak tangannya sebagi tanda ‘tidak apa-apa’. Namun ia masih saja tenggelam dalam dekapan tangan kanannya untuk meredakan tawa.

“Kau anak yang lucu…”

Lucu? Tunggu! Anak? Yah! Kalau aku anak-anak, kau apa?

Tao tersenyum skeptic. Lidahnya terkunci, bibirnya tiba-tiba kelu. Gejala-gejalanya mulai beraksi. Tubuhnya memanas padahal di dalam bar ini bertuliskan ‘Full AC’. Ia menghela nafas berat. Keringat dingin mengucur memenuhi dahinya. Ia tidak bisa lagi meladeni pertanyaan lelaki di sampingnya. Ritme jantungnya kembali tidak beraturan. Partikel-partikel parsial serasa menyumbat laju darah pada arteri coronernya. Dalam sekejap aritmia melanda.

“Haha, baiklah. Maaf, Tidak usah sungkan. Jika diluar kampus anggap saja aku bukan dosenmu. Kau mau ini?.” Kris menyodorkan sebuah anggur aquamarine yang baru saja ia pesan kepada Tao.

“Aku tidak minum.”

Kris mengaggukkan kepalanya lalu mengundurkan gelas Aquamarine untuk diminumnya sendiri. “Kau lebih suka lemon tea rupanya.” Ujarnya, sambil menatap gelas kosong bekas lemon tea di hadapan Tao.

Tao mengangguk canggung lagi, ia tidak tahu harus berbuat apa di hadapan lelaki ini.

“Benar… seharusnya seorang calon dokter masa depan yang baik memang harus seperti itu. Memulai gerakan sehat dari diri sendiri.” Kris menuang Aquamarine nya lagi, kemudian meminumnya dengan sekali tenggakan.

Berarti kau bukan contoh dokter yang baik ya?

Meskipun Kris menenggaknya dengan gerakan yang sangat cepat, namun kejadian tersebut serasa seperti slow motion di hadapannya. BagaimanaKris menempelkan bibirnya pada ujung gelas, kemudian mengalirkan Aquamarine ke dalam mulutnya, lalu tonjolan di leher Kris yang naik turun karena menenggak cairan tersebut.

Tao menggelengkan kepalanya. Sungguh, Tao tidak mungkin bertahan sedetik lagi di samping orang ini. Ia ingin pulang saja. Tenggorokannya terasa kering dalam keramaian yang menurutnya hening itu. Tanpa sadar ia menenggak satu gelas wine yang tersedia di hadapannya. Entah siapa yang memesannya.

“Kkkeeghhh…”

“Hey!! Apa yang kau minum?”

Tao mendelik menatap gelas yang baru saja ia pegang. Cairan bening di hadapannya tadi sekilas Nampak seperti air mineral. Tapi ternyata….

Sial !!!

 

 

 

Jreng Jreng!!!!

Gimana Gimana?

Duh ngebosennin ya? Gak ngerti sama istilah istilahnya ya?

Makasih yang udah mau baca. Yang mau komen lebih makasih lagi.

Komen lebih dari 50 aku mau lanjutin.

Jadi part 2 nya FF ini tergantung komen kalian wkwkwk Jahat ya? Bodoh deh.

85 thoughts on “KRIS COMPLEX Chapter 1

  1. unnie mau tanya ini yang bikin ff anak kedokteran ya?
    jago banget istilah kedokterannya
    tpi asli ini ff bagus , 10 jempol buat author

    baca ini ff buat aq ngebayangin kris pake kacamata dan periksa pasien
    weits kerenn!!!!!!

  2. wah
    authornya anak FK ya??kayaknya paham bener istilah dalam cardiak

    eoh?jadi tao nih yang terpesona duluan ama kris

    next ya

  3. Wooooaahhh.. gila istilah kedokterannya wuuiiihh~~
    salut deh sama authornya, jarang nih nemu FF yg detail kayak gini😀
    Dan ceritaya itu loh… hahahaha.. seru banget si Tao ga pernah jatuh cinta ya?? Sampe nyimpulin dia kena virus masa xD

  4. Tao hyung funny bgt disini :B
    mu,,muahahaha!

    Kris itu virus ya ? Pantes muka saya mirip dia, org kena virus dia sih #muntah semua
    #gue fine kok
    #pundung

  5. Hoooaaa..keren bgt kak pembahasan kedokteran.nya..mangap doang aku baca.nya..
    :O
    author-nim daebak bgt daah !
    :*****

    aaaaakkk..tao grogi.nya kebangetaan..gitu amat klo dkt* kris..😄
    ckckck..
    HunHan.nya jg jail bgt !! #gulingguling

    keep writing kak ! ‘3’)9

  6. Omooo kris pasti keren bgt klo jadi dokter beneran.. #bayangin kris pake baju dokter
    Tao jadi pabbo klo deket2 kris..hihi
    Rada pusing sama istilah kedokterannya
    Tapi keren authornya,tau bgt ttg istilah kedokteran gitu..🙂

  7. sbnrnya dlu Q udh prnh bca ff ini, tpi blum coment! Q suka karakter Kris ma Tao di sini, tpi banyak.istilah kedokterannya yg bkin bngung, maklum Q kn msh SMP hehehe….pkoknya daebak untk ff ini…

  8. eonnie keren epepnya, itu istilah kedokterannya bikin cengo hahaha
    itu virus yang dialami taotao benerbener bahaya dehh, sian tao jadi orang salah terus /eh/ kris berbahaya, harus dihindari. suka sama karakter merekanya

  9. Wooa,,, authornya hebat banget… Istilah kedokterannya juga 10 jempol banget deh…

    Bayangin Kris jadi dokter pasti keren juga yah🙂

    Next ya…

  10. tao-nya tetep aja imut! gemes!
    tapi rada bingung juga sih sama istilah2 kedokteran-nya, but it’s okay
    next chap^^

  11. new reader…yayyy

    huweeehhh…g ngerti byk istilah na..
    rena bego sich..
    tp kyk na inti na Tao baby naksir naga mesum tp g sadar mlah nganggap dy sakit..wkwkwkw..
    baby polos tw bego y¿? tp klo bego g mngkn msk kedokteran..brarti baby polos donkkkk…

    autorshii (g tw mnggil apa)..Hwaiting!!! (^^)9

  12. tao panda kamu polos bngt na’isitilah ke dokterannya keren euy,kris dokter dngan pakean putihnya gak kebayang seganteng apa si kris,

  13. waaaahhahahahaha tao konyol,gimana dia bisa sekacau ini hahahaha
    sumpah ff nya humoris comedy lawak yg bisa buat gue tawa subuh2 wkwk
    untungnya si kris gak nyadar kalo itu karena dia yaampun mama tao wkwkwk

  14. wah nih FF tantangan dari kak hyobin buat kakak yah?
    .lucu sih, meskipun rada binggung pas baca soal penjelasan ilmu kedokteran itu -_-” tapi, bagus kakak…. aku suka >_<" tao bener-bener kelihatan polosnya di sinio_O # di wushu sama tao…

  15. Wah! Ff nya bagus eonni! Walaupun aku ga terlalu ngerti bahasa kedokteran. Tapi itu EGP/? Yg penting ada TaoRis!! Hidup TAORIS! *kibar bendera taoris*

  16. Klo dokternya si Kris,, gue pengen sakit terus biar bisa di obatin ma dia…
    sakitnya yang g parah-parah aja, tapi berkepanjangan (appaan??)

    `
    `

    SAKIT CINTA AMA BANG KRIS..

  17. waaa keren banget ffnya XDDDD humornya itu serius deh lucu banget. sekalian bisa belajar bahasa-bahasa kedokteran lagi.. penulisannya bagus dan ada penjelasannya buat bahasa kedokteran. alurnya juga pas..

    taorisnya lucu banget lagi huhu.. ff ini bisa bikin terhanyut😄

  18. Walau Tao di sini siswa kedokteran, tapi polosnya tetep aja nggak ilang”. walo dia njelasin gejala jatuh cinta itu sebegitu ilmiah *wah di sini eon author Termakan Sehun bener” total dan sukses bikin Tao sebagai siswa kedokteran* ttp aja di bikin gemes ama ini panda ilmiah dan akhirnya cm bisa tepok jidat berkali” *tau dah ngecap nggk ini jenong* sambil senyum” gaje, ok someone call the doctor Huang now!! >o</// DAEBAAAKKKK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s