ONESHOOT | HUNHAN | 10 reason, Why I LOVE You

Title : 10 Reasons Why I Love You

10 reason

*Yang buat poster Hyobin. Maaf kalau jelek yeh  kak Termakan Sehun. Jangan bunuh saya. (Ini Hyobin)

Author : Termakan Sehun

Cast : Sehun Luhan/Hunhan/Hanhun/SeLu/ape aje dah sebutan buat kopel Sehun sama Luhan pokoknya mereka! Titik! Eh tanda seru juga boleh.

Other cast : Found it your self aja deh….

Length : 22 halaman, 6750 kata, Satu Episode.

Genre : ROMANCE TRAGEDY!!! Cotton Candy, Angst, Campur Comedy… nah loh gimana itu???? Ya pokoknya begitu… satu lagi yang important, ini MATURE!!!! VULGAR!!!

So tanggung sendiri dosa masing-masing wkwkwkwk.

 

FF ini terinspirasi dari … selalu banget begitu ya? Tiap kali gue bikin FF haha. Emang inspirasi itu penting. Wkwkwk. Sedikit terinspirasi dari MV Abang Taeyang yang Look Only At Me ituh…

PERINGATAN/WARNING/ATTENTION/GYEONGGU/I’LAN *Lah kok berubah arab ria* Haha~ : Cerita disini murni full imajinasi dari otak absurd gue. Bahasanya rada alay bin lebay. Entahlah makan apa gue semalem bikin kok ya lebay amet *curhat* Okeh. Maklum lagi lagi jablay semalem. Ahah.

[!!!] Perhatikan baik-baik, disini ada alur mundurnya juga. Aku gak ngasih tanda biar kesannya rapi. Aku yakin kalian bisa memahami mana yang di angan-angan dan jaman sekarang.

Disini sedikit menyisipkan lagu-lagu sebagai soundtracknya lah ya kira-kira, pertama lagunya Adelle, penyanyi idol ague sepanjang masaaaaa… Judulnya Don’t You Remember. Sumpah di sarankan banget dengerin lagu ini pas baca cerita ini. Dijamin semakin mancaapp… Kedua, lagu berjudul 10 Reasons Why I Love You yang juga menjadi title cerita ini. Yang nyanyi Om Om ganteng dari negeri ginseng ono noh… Anggota SG Wannabe Om Lee Seok Hoon namanya. *ketahuan banget dah generasinya hahah~*

Dan cerita ini… FULL MATURE… GUE PAKE BAHASA VULGAR… SO KALO BELOM CUKUP UMUR JANGAN BACA DEH…!!! Takutnya jijik, ganyangka, pengen muntah dan gejala-gejala tidak enak lainnya.

Okeh, kebanyakan cuap-cuap nih kayaknya. Langsung saja.

3

2

1

Ready….

Action!!!

 

 

 

 

 

‘Ingat-ingatlah semua pagi yang harus kau syukuri.

Karena masih bisa terbangun di sisinya,

Semua siang yang kau habiskan untuk menatap wajahnya,

Juga malam-malam yang kau tutup dengan doa memohon kebahagiannya.’ –Chairil Anwar.

 

 

Ketika apa yang tidak bisa di sembuhkan oleh obat, akan di sembuhkan oleh pisau. Ketika apa yang tidak dapat sembuhkan dengan pisau, akan di sembuhkan dengan besi membara. Ketika apa yang tidak bisa lagi di sembuhkan oleh besi membara di anggap tidak bisa tersembuhkan.

Seperti luka di hati, layaknya asap yang terlihat namun tidak dapat sepenuhnya di genggam. Disini, di sebuah ruang yang tidak lagi bisa di tapak oleh kesadaran Sehun. dia, Luhan -sang kekasih tercinta menghilangkan seluruh hati nuraninya.

“Aku…. Ingin mengakhiri hubungan kita. Oh Sehun-sshi.”

Begitu katanya dengan nada yang sangat tenang, tanpa terlihat sedih sedikit pun. Bahkan jika seorang seniman berada dalam satu ruangan dengan Sehun dan Luhan, ia tidak akan bisa melukiskan betapa dingin wajah Luhan saat ini.

“Kau tidak sedang bercanda kan Lu?”

Sehun terkejut menatap Luhan. Tidak percaya kata-kata tersebut akhirnya keluar dari mulut mungil tercintanya. Pasalnya baru beberapa saat lalu mereka tengah melakukan kegiatan seperti layakya sepasang kekasih lainnya. Sehun tertawa skeptic setelah melihat ketegasan Luhan menggelengkan kepala.

“Lu, ayolah… Hari ulang tahunku sudah lewat. Dan ini juga bukan April Fool, jangan bercanda lagi. Please…”

Sehun kemudian melangkah memeluk pelan pinggang kecil Luhan yang polos tanpa sehelai baju pun. “I love you…” Membisikkan satu kata cinta seperti yang Luhan syaratkan sebelum ia menjalin hubungan dua tahun yang lalu. Mengecup lembut perpotongan leher Luhan.

Sedangkan Luhan yang saat itu tengah ingin memakai kemejanya mengerang kasar. Ia membalikkan badan. Memiringkan kepala dan menatap lekat manik mata Sehun.

“Look, aku serius Sehun-sshi.”

Masih dengan pandangan yang seolah-olah menusuk tajam ulu hati Sehun, Luhan mengurut pelipis Sehun dengan telunjuk jarinya. “Kau begitu tampan Oh Sehun…”

Sehun tersenyum, kelegaan berdesir dalam hatinya. Ia tahu kekasihnya tidak mungkin serius dengan ucapannya tadi.

“Tapi, aku… tidak tertarik lagi denganmu. Kau sangat membosankan! Aku sudah menahannya sejak bulan bulan pertama besamamu, aku pikir aku bisa menjadikanmu lelaki terakhir dalam hidupku. Tapi nyatanya…”

Tiupan nafas lembut pada hidung Sehun terasa bagaikan petir yang menyambar, membuat rasa panas yang seketika menjalari sekujur tubuhnya. Ia seperti di celupkan kedalam kubangan api neraka dengan rasa pias yang tidak terbayangkan.

“Aku pergi, jangan pernah mencariku lagi. Jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depanku lagi. Dan ini…” Luhan meletakkan sebuah cek di meja kecil. “Upah karena kau telah menemaniku selama ini Oh Sehun-sshi.”

G-o-o-d-b-y-e.

Dua rangkai kata yang sungguh memiliki banyak arti dan penjabaran bagi Sehun saat ini. Dua rangkai kata yang dapat merangkum keinginan Luhan. Sekaligus menimbulkan berjuta pertanyaan. Untuk apa? Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti ini? Namun lucunya, Luhan pergi tanpa dua bilah kata yang seharusnya ia dengar. Kejam sekali.

“Apa salahku?” Bisik Sehun lirih namun cukup terdengar di telinga Luhan. Luhan hanya menatapnya dingin menyeringai lepas. Mengibaskan tangannya dan pergi.

Ia ingin sekali mengeluarkan suaranya untuk menahan Luhan, tapi entah kenapa lidahnya serasa terpelintir dan tenggorokannya tercekat. Perasaan marah seketika menyergap. Seiring dengan dentaman keras pintu apartemennya yang menutup karena Luhan yang pergi, bulir bening dari manik mata terang Sehun meleleh. Ia terseok menghampiri satu-satunya peninggalan Luhan. Dengan tangan sedikit bergetar ia meremas kertas kecil bernilai 50 Juta Won tersebut kemudian melemparnya semabarangan. Bukan ini yang di inginkan. Bukan ini….

“Lu Haaaaaaannnnnn……” Sehun berteriak.

 

 

Sehun melangkah gontai membelah jalan yang ramai. Tidak perduli seberapa bahayanya ia menjejaki jalanan ramai dengan kesadaran yang bisa di katakan hanya beberapa persen. Mata yang basah oleh bulir bening mendongak menatap langit-langit. Lelaki tampan itu tidak nampak baik-baik saja. Psikisnya tergoncang. Luhan yang selama ini ia anggap juga mencintainya, secara tiba-tiba mendorongnya jatuh melesak pada bumi terdasar. Ia memegangi dada kirinya dimana dibaliknya terdapat detakan kecil yang kini mengencang. Mengikat tiap nafas yang akan terhembus menjadi berat.

“Ahjummaaaa…” Teriaknya lemah. “Aku minta soju sepuluh botol.”

Tidak perlu menunggu lama. Karena seorang ahjumma pendek paruh baya dan suka menggerutu muncul dengan membawa pesanan Sehun. Seperti biasa ia selalu mengkritik siapapun yang datang disana. Tidak terkecuali Sehun.

“Dasar anak muda pengangguran. Bisanya hanya mabuk saja. Pendidikan sepertinya tidak terlalu penting lagi ya sekarang. Heran sekali. Dalam sehari aku bisa menjual ratusan botol soju. Ck! Manusia sekarang sangat menyedihkan. Kau juga, buat apa membeli sebegini banyak soju? Kau mau mati eoh? Jinja Momchungi. (benar-benar bodoh).”

Sehun yang tidak perduli apa yang ahjumma tersebut bicarakan, hanya terdiam lalu membuka kasar tutup botol soju. Menenggaknya cepat tanpa jeda. Satu persatu, dengan tempo yang tidak terbayangkan bulir air soju berpindah mengaliri kerongkongan Sehun. Disaat yang sama, pikirannya melayang menggapai kenangan yang selama ini ia cetak rapi dengan Luhan. Kemudian semakin cepat Sehun menenggak soju. Ia ingin segera menghalau bayangan Luhan dengan meminum alcohol sebanyak banyaknya. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan.

“When will i see you again… You left with no goodbye…not a single word was said… Hiks… no final kiss to seal any seams… I had no idea of the state we were in… I know…Uhuk… iknow I have a fickle heart and bitterness.. and a hiksss… wandering eye.. and a heaviness in my head…”

Lirih Sehun melantunkan sebuah lagu. Suaranya parau, sambil menempelkan pipinya pada meja dengan sedikit ceceran soju yang ia tumpahkan. Pandangannya menerawang kosong.

.

.

.

Pandangannya menerawang kosong pada saat hujan turun di malam itu. Sehun tertegun memandang Luhan yang tengah merentangkan tangan dan menutup matanya di tengah hujan deras. Sehun menelengkan kepalanya sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekat.

“Hey, bodoh… bukan seperti itu caranya menikmati hujan!” Sehun menggeser posisi payungnya agar turut menutupi tubuh Luhan. Sontak membuat mata indah Luhan terbuka. Luhan tersenyum manis. Senyum yang hanya untuk Sehun.

“Lalu, apa kau punya cara lain untuk menikmati hujan ini?” Luhan mengusap wajahnya yang basah kuyup. Sejenak melingkarkan lengannya di leher Sehun. Dalam jarak seperti ini ia dapat melihat dengan jelas mata onyx Luhan. Sehun terus saja menatapnya melupakan apa yang baru saja di tanyakan Luhan.

“Ya! Oh Sehun, kau tuli ya?” Luhan mencubit perut Sehun, menyadarkan Sehun dari dunianya sendiri.

“Geuroooomm…” Sehun mengangguk mantap.

“Geurae… tunjukkan padaku Mr.Oh.” Ujar Luhan sambil membelai pipi Sehun lembut.

Sedetik kemudian Sehun menarik dagu Luhan. Membawanya dalam sebuah kecupan lembut. Manis tanpa nafsu hanya hasrat saling mencintai, tulus dari dasar hati. Dalam dunia yang hanya mereka miliki. Dalam hati Sehun berteriak. “Ahhhhh… Demi tuhan aku mencintaimu Luhan.”

.

.

.

“Don’t you remembeeeerrr….” Air mata merembes bercampur dengan soju yang masih menggenang.Parau suara Luhan masih sayup terdengar. “Don’t you remembeeeer… the reason you love me before…”

.

.

.

Luhan mematut wajahnya di cermin. Membenahi letak kemeja dan menyisir rambutnya dengan jemari lentiknya. Sehun menatap tajam dibalik punggung Luhan. Semakin hari ia semakin menyadari betapa sempurnanya kekasihnya itu. Luhan yang mengetahuinya kemudian memberikan seulas senyum. Manis sekali.

“Apa yang kau lihat Sehun?”

Sehun menggeleng sekilas. Ia beranjak mendekati Luhan dan mendekapnya dari belakang. “Kau terlihat sangat cantik hari ini.” Lalu mengecup pangkal kepalanya lembut.

“Dasar, Perayu. Aku hampir mati kebosanan karena kau mengatakannya setiap hari. Arra?”

Sehun memberikan gelengannya sebagai jawaban. Mencubit pipi kekasihnya dirasanya bukan hal yang keliru untuk dilakukannya saat ini. Ia sangat gemas. Kekasihnya mampu membuatnya semakin terjerat oleh rasa cintanya sendiri.

“Luhan… bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Luhan melihat Sehun lewat kaca dihadapannya. Tersenyum menyentuh ujung hidung kekasihnya. “Boleh, apa?”

“Kenapa kau mencintaiku?”

Luhan memutar badannya, menaikkan satu alis. Raut keheranan terpampang jelas di wajah Luhan. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Sudah jawab saja apa susahnya?”

Luhan terkekeh. Ia memutar bola matanya satu kali sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah… kau harus mendengarnya. Aku memiliki sepuluh alasan kenapa aku mencintaimu.”

“Sebanyak itu?” Sehun terbelalak.

“Cerewet, Mau dengar atau tidak?”

Sehun mengangguk mantap semakin mengeratkan pinggangnya pada pinggang Luhan.

“First… your heart like a tree… selalu memberiku tempat untuk membiarkanku sejenak beristirahat. Second is your smile, seperti sinar matahari cerah yang selalu menerangiku. Just for me. Third…your hand, who keeps me in your arms everytime it’s get difficult.”

“Fourth?”

Luhan menggembungkan pipinya lucu. “Fourth, your warmth… yang selalu menghangatkan hatiku. Fifth… Sehun turunkan aku!”

Luhan memberikan jeda pada perkataannya ketika ia merasa tubuhnya telah berada dalam gendongan Sehun.

“Lanjutkan saja sayang… yang kelima apa?”

“Ah!” Luhan menjengit keras saat tubuhnya di lempar ketempat tidur king size nya. “Kelima… your tears if I’ve to work harder. Selalu membuatku hidup. Keenam…Oh Sehun hhhh kau mau melakukan apa? Emhhh…Hentikan sekarang!”

Sehun hanya menyeringai tipis. “Sepertinya kemejamu ini akan kembali kusut sayang, lebih baik ku singkirkan saja. Anyway, lanjutkan lagi, masih kurang lima lagi kan?.”

“Sehun, kau berat sekali, turun. Tidak aku tidak mau melanjutkannya… kau harus turun dari tubuhku.”

Sehun terkekeh, ia menyumpal bibir tipis Luhan dengan bibirnya. Rasa manis menyergap indera perasanya. Selalu. Bibir Luhan lebih manis dari cotton candy sekalipun. Persetan dengan alasan lainnya, ia akan bertanya kepada Luhan nanti. Sehun tidak tahan lagi.

“Kalau begitu kita lanjutkan dengan ini….” Bisik Sehun tepat pada telinga Luhan.

.

.

.

Ia kembali memegangi dadanya. Nyeri ulu hati akibat kenangan yang tiba-tiba terputar seperti film tanpa henti di otaknya. Bibirnya terkunci, tidak lagi melantunkan sebuah lagu. Bahkan kepalanya terasa pusing. Bukan… Sehun menangis bukan karena sakit kepala yang mendadak menerpa. Sakit kepalanya hanyalah sakit biasa yang akan menghilang dengan sendirinya jika ia sudah sembuh dari mabuk. Ia sadar ia mabuk, ia bahkan sadar ada sesuatu yang menghilang dari raganya. Sesuatu yang tidak bisa di gambarkan oleh pena manapun. Rasa kehilangan yangsangat membuat hati Sehun terasa begitu hampa.

Ia berkata, “Luhan, kau… tidak akan semudah itu lari dariku. Aku… akan meraihmu kembali.” Sesaat sebelumpandangannya menggelap dan ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya.

 

 

Hari tampak gelap. Matahari mulai menghilang di balik garis cakrawala di ufuk barat. Memunculkan rona merah dengan gradasi hitam pekat. Meskipun angin musim gugur bertiup kencang dan menambah suhu dingin, tidak lantas membuat kota ini menjadi lengang. Salah satu distrik terbesar di Korea. Tempat para sosialita mengekspresikan hidup metropolisnya.

Deretan pertokoan tampak ramai oleh pengunjung. Entah itu restoran, toko baju, coffee shop bahkan bar dan tempat karaoke tidak luput dari keramaian. Neon sign dan billboard sudah mulai menyala berwarna-warni. Sudah seperti New York saja.

Sehun semakin merapatkan jaketnya, namun tubuhnya masih saja menggigil kencang. Bukan karena cuaca, bahkan ia kini tidak lagi dapat merasa, matanya seolah terbutakan, telinganya di tulikan. Hanya satu rasa yang menyengat membuatnya mendesah kesakitan, sakit hatinya. Ia bisa merasa untuk hal yang satu itu.

Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya melangkah. Karena sepertinya tubuhnya lebih mempercayai intuisi hati di banding logika. Sebelah tangannya terangkat ke dada, mencengkeram bagian depan jaket. Tangannya yang satu lagi memegang besi pintu masuk sebuah bar.

Dentingan halus dari bel yang tergantung di atas pintu ketika ia membukanya, tenggelam begitu saja ditelan alunan music. A TwoSome Place, sebuah bar elite tempat ia bekerja menjadi bartender, yang mengharuskan ia mau tidak mau tetap bekerja dalam kondisi apapun. Sehun memang nampak baik-baik saja dari luar. Ia tetap memiliki garis tegas ketampanan sempurna seperti dahulu. Namun hatinya…

“Ah Sehun-ah… Wasseo (Sudah datang)?”

“Eoh…”

Sehun menjawab lirih sapaan pemilik bar. Lelaki berkulit putih bertubuh montok yang baru saja menyapanya, mendelik heran pada tingkah Sehun. Bibir Sehun tampak lebih memucat dari biasanya.

“Gwaenchana?”

Tidak ingin berbagi kesedihan, Sehun hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Ia kemudian berlalu melewati boss-nya. Bergegas menuju kamar ganti pegawai, mengganti kemejanya dengan seragam khas bar ini.

‘Ting!’

“Satu Taglialete Pasta Champagne dan satu Toast Almond Martini untuk meja vip nomor 7, ready.”

Suara tak berupa yang berasal dari dapur chef menggema. Tanpa banyak kata, Sehun menyingsingkan lengan bajunya sebelum meraih nampan yang tersedia. Ia segera melangkah menuju tempat yang sudah tertera dalam memori otaknya.

Taglialete Pasta…

Matanya menatap dalam gumpalan pasta di tangannya. Menu yang sangat sering dibuatkan Luhan untuknya. Meskipun tanpa Champagne. Sehun sangat menyukai makanan tersebut. Bukan, maksudnya Taglialete Pasta buatan Luhan. Ia sangat menyukainya.

“Eunghh…”

Lamunannya buyar ketika mendengar lenguhan kecil di balik tirai merah. Tirai merah yang membedakan antara tamu regular dan vip. Di tembok pembatasnya tertera nomor 7. Berarti ini tempatnya. Namun Sehun ragu untuk menyibak tirai tersebut. Ia sudah tahu apa yang terjadi di dalamnya, maka dari itu ia tidak ingin mengganggu. Seperti sudah menjadi kebiasannya mendengarkan hal seperti ini. Ini resiko yang harus ia tanggung sebagai pelayan bar elite.

Lalu bagaimana dengan pesanan mereka yang di tangannya? Ia tertegun lama sebelum akhirnya memutuskan untuk memberi aba-aba.

“Permisi…”

“Mmmpphh…Chanyeol-ah…”

Sapaan salam Sehun dibalas dengan lenguhan seduktif, ia hanya mengernyit menanggapi dan sedikit mengedik.”Permisi…Pesanan anda sudah tersedia.” Ulangnya lagi.

“Shit…Ahh… Ahh… Chanyeol…makananku. ahh tunggu…”

“Permisi… Pesanan anda Sir…”

“Damn!! Masuk saja bodoh!!! Mengganggu saja!”

Tanpa menganggap umpatan sang penghuni, Sehun menyibak tirai merah. Ia melangkah tanpa memperdulikan kegiatan dua sejoli yang sudah bisa ia duga. Seorang lelaki bertubuh tinggi berada di atas diatas seorang lelaki bertubuh kurus. Keduanya bertelanjang dada. Bercak kemerahan nampak jelas di tubuh mereka.

Keduanya maniak sekali.Batin Sehun. Bisa terlihat jelas wajah lelaki bertubuh tinggi yang sangat sempurna. Sangat tampan, tapi juga penuh dengan nafsu. Sedangkan lelaki di bawahnya tidak begitu tampak, tertutup tubuh tinggi lelaki di atasnya.

“Satu Taglialete Pasta Champagne dan satu Toast Almond Martini. Selamat menikmati.”

Sehun membungkukkan badan sedikit. Lagi-lagi berusaha tidak memperdulikan kegiatan abstrak dua sejoli di hadapannya. Ia ingin secepatnya melesat pergi dari tempat ini sebelum suara desahan kembali terdengar.

“Te…Terimakasih…Ahh…jangan digigit.”

Deg!

Suara itu, suara itu… Sehun membulatkan mata sipitnya. Menghentikan langkahnya untuk sejenak mendengar suara lenguhan tadi.

“Hhhhh…”

“Buka celanamu sekarang Lu…”

Lu?

Pandangan kaget Sehun teralihkan saat mendengar seseorang memanggil inisial lelaki paling di cintainya. Melihat pergerakan yang berubah slow motion di hadapannya, membuatnya semakin tergeragap. Terdapat jelaga menganga di hatinya saat menangkap raut halus Luhan sedang memerah menahan kenikmatan karena lelaki lain. Beribu luka menari di sudut-sudut jantungnya. Menjamu kesedihan dan menyesatkan kehampaan di belantara hati tak bertuan.

Luhan…

Kata-kata telah hilang dari bibir Sehun. Dadanya kembali bergemuruh. Namun rasanya lebih menyakitkan daripada saat ia ditinggalkan Luhan. Penat seakan kembali menyesak menyeruak dalam dadanya.

“Lu…Han?” Bibirnya bergetar menyebutkan satu nama yang entah sejak kapan terasa lebih berat dari menyebutkan nama nama malaikat.

Sang pemilik nama, yang sejak tadi terpejam menikmati, membuka matanya perlahan. Menarik leher lelaki dia tasnya untuk tidak menghindari penglihatannya. Dengan pandangan kaget yang sekejap berubah dingin ia menjawab panggilan Sehun.

“Ya?”

Ringan sekali… kata-kata itu ringan meluncur dari bibir mungil Luhan. Seketika sedih tak berujung menerjang. Mengejakan aroma luka dalam bejana palung hati Sehun. Lututnya melemas. Matanya berkaca-kaca. Ia menggigiti ujung bibirnya. Mencoba menahan lelehan kristal yang bersiap menganak sungai. Apalagi ketika Luhan yang menyadari bahwa Sehun tampak sedang kehilangan akal sehatnya, malah menyusuri punggung polos lelaki di atasnya dengan mesra. Namun matanya menatap tajam pada Sehun.

Sehun menutup matanya perlahan, dengan sekali tegukan kasar salivanya, ia memberanikan diri membalas pandangan Luhan. Seandainya pandangan dapat membunuh…

“Kau mengenalnya Babe?”

Sang manusia yang tak di kenal merasa risih karena kegiatannya harus terhenti oleh pandangan Sehun. Dan Luhan… Sekali lagi mencoba melilit organ kehidupan Sehun dengan menjawab pertanyaan lelaki tersebut dengan satu gelengan dingin. Membuat jantung Sehun mati total, seketika~

Seolah tertampar oleh ego dan telak, rasa kehilangan Sehun sedikit berubah menjadi kebencian. Namun luka tetaplah luka dan cinta tetaplah cinta. Tidak perduli seberapa kuat Luhan menampar kalam batinnya. Sehun ingin tetap bertahan.

Baiklah, Sehun kembali membalikkan badan, melangkah pergi mengemas pulang kepiluan hatinya. Meninggalkan dua sejoli yang berani beraninya mabuk cinta di atas penderitaan dirinya.

 

 

Terjaga, tiba-tiba. Saat Sehun menyadari, Luhan tidak lagi berada di sisinya. Tubuh yang biasa ia dekap hanya fatamorgana, menyisakan kosong yang begitu mencekat. Inikah kehilangan? Ketika segalanya terasa kosong dan ruang batin begitu kalap di tebas kekecewaan. Getir gemuruh hatinya berdebam, seolah mimpi, apa yang kemarin melintas di depan matanya sendiri.

Lelaki itu? Siapa lelaki itu? Bagaimana bisa Luhan begitu menikmati sentuhannya? Bukankah seharusnya hanya Sehun yang bisa menyentuhnya? Hanya Sehun yang bisa membuatnya mengerang nikmat seperti itu? Getar dada Sehun bergemuruh. Ketika menyadari pikiran dan hati tak sanggup lagi menampung pilu, ia menangis. Lagi.

“Haruskah berakhir seperti ini?” berulang kali kalimat itu terngiang, menderas bersamaan airmata kesedihan. Haruskah? Di dada Luhan ingin ia akhiri tanya ini. Dengan sepersekian detik ia telah beranjak dari tempat tidurnya. Bersiap untuk menemui kekasihnya. Ia bahkan tidak perduli seikat masa menakutkan yang telah Luhan tebar kemarin malam. Ia hanya tidak ingin terus terlarut. Ia harus melepas tanya itu.

 

 

Sebuah mobil Hyundai silver metallic, terparkir di samping sebuah gang. Sehun terdiam di balik kemudi. Lagi-lagi pandangannya kosong. Ia seakan ragu-ragu akan apa yang ia ingin lakukan kali ini. Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang berada di depan rumah Luhan. Menekuk hatinya yang sudah karam agar kembali ke permukaan. Ia ingin meminta maaf kepada Luhan atas apapun yang ia lakukan, hingga membuatnya semarah ini. Ia ingin Luhan kembali. Persetan dengan lelaki tak di kenal kemarin. Ia yakin Luhan masih menyimpan rapi hatinya untuk Sehun. Hanya untuk Sehun.

Sehun baru saja akan turun dari mobilnya, ketika dilihatnya Luhan keluar dari dalam rumahnya. Senyum kecil terpampang di bibir tipis Sehun. Ada rindu disana, dengan sekali helaan nafas panjang yang menyudahi penat Sehun beberapa hari ini, tentunya karena senyum sumringah di balik raut wajah Luhan. Namun tidak diketahui. Dalam rentang jarak yang sekejap, di belakang tubuh mungil kekasihnya muncul seorang lelaki berparas tidak kalah tampan dengan dirinya.

Hanya lelaki berumur 23 tahun kira-kira. Mempunyai warna rambut yang sama dengan Luhan. Alisnya tebal, matanya tajam dan garis ketampanannya tegas. Badannya juga sangat tinggi. Sehun memberikannya nilai 9,5 untuk lelaki satu ini. Lelaki tampan tersebut turut tersenyum gemilang, mendapati gelayutan manja Luhan di lengannya.

Sial! Siapa lagi ini? Jelas lelaki tadi bukan lelaki yang sama seperti yang dilihatnya di bar tempat ia bekerja. Apa yang sebenarnya terjadi pada otak Luhan. Ia berubah 360 derajat dalam waktu yang sangat singkat.

Sehun menggenggam setirnya kuat-kuat kala melihat lelaki tersebut dengan gampangnya mendaratkan ciuman mesra ke bibir cherry milik Luhan. Sepertinya baru saja mentari mulai menerangi hati Sehun, namun mendung berebut terlebih dahulu untuk menampakkan wajahnya, kemudian di susul gerimis. Dan Sehun hanya bisa menyaksikan, layaknya penonton dalam sebuah gedung bioskop yang sedang tersihir oleh romansa cinta sang actor.

Ia tidak tahan lagi. Sesaat setelah lelaki tak dikenal itu melaju bersama Audi hitamnya. Sehun turun dari mobilnya, sedikit berlari agar tidak di dahului oleh Luhan yang bergegas memasuki rumahnya.

“Lu Han?” Panggilnya lirih.

Luhan yang merasa ada seseorang yang memperhatikannya menoleh. Ia terkejut bukan main. Mendapati Sehun yang berdiri seperti mayat hidup sekitar lima meter dari tempat Luhan berdiri. Namun sepertinya hati nurani Luhan benar-benar menghilang. Raut wajah kagetnya sekejap berubah menjadi sangat mengerikan. Sangat dingin.

“Kau?”

Sehun menyeret langkahnya mendekati Luhan. Tangannya terjulur menyentuh kedua pipi Luhan. Berharap beberapa kejadian itu hanyalah lelucon semata. Sehun menutup matanya menarik nafas dalam-dalam. Berusaha melenyapkan kejadian tak di inginkan sedetik lalu. Dengan di saksikan oleh kedua mata Luhan yang bingung. Tidak mengerti apa yang mantan kekasihnya lakoni. Sehun membuka matanya perlahan.

“Kau tahu apa yang aku hirup? Hmm…?”

Luhan menggeleng takut.

“Kerinduan padamu Lu. Menunggu hadirmu kembali membuat jantungku berdegup kencang dan mematuk nada berulang-ulang. Untuk itu aku datang kemari. Menjemputmu kembali.”

“Apa maksudmu? Bukankah sudah ku katakan aku tidak ingin kau muncul lagi dalam hidupku? Apa uang itu tidak cukup membuatmu pergi dari sisiku?”

Terpejam, enggan. Angannya berontak, terus berusaha menolak apa yang Luhan sayatkan melalui bilah lidah tidak bertulangnya.

“Haruskah berakhir seperti ini?” Aroma luka menguar di pucuk kata-kata Sehun. Meski tidak sekalipun Luhan dapat mencium ekor wanginya.

“Tolong katakan apa yang terjadi? Apa yang membuatmu seperti ini? Dua tahun ini… apa tidak cukup membuatmu menghentikan petualanganmu? Tidak cukupkah aku menjadi lelaki terakhir dalam hidupmu? Jika aku bersalah, maafkan. Maafkan aku untuk segala maaf yang tidak bisa ku ucapkan di bibirku. Dan uang itu… katakan apa maksudnya?”

Luhan terdiam sejenak. Hati nuraninya kebas. Ia seakan menjadi sosok lain yang tidak lagi lembut. Luhan yang liar dan mengerikan. Dengan wajah mengintimidasi. Aura digin menguar jelas dari tiap sisi rautnya.

“Aniya…Aku hanya bosan denganmu. Lebih baik kau cepat pergi sebelum satpam mengusirmu.”

Begitu ujarnya. Luhan lalu berlalu begitu saja. Lagi-lagi meninggalkan tanda tanya besar di pikiran Sehun. Ia beringsut menepuk-nepuk dadanya yang begitu nyeri. Bagaimana ini bisa terjadi? Rasanya seperti tengah malam tanpa setitik cahaya. Hanya hening dan kesendirian. Dan Luhan? Tak ada.

 

 

Silahkan masuk!

Pintu luka itu kian terbuka, tergambar jelas di raut muka Sehun yang begitu dingin dan hambar. ia tersungkur di pojok ruangan berwarna putih berhiaskan property abu-abu, favoritnya. Mulutnya mengapit sebatang kecil rokok yang sudah tinggal separuh. Menghisapnya kemudian mengepulkan asapnya. Menghisapnya lagi kemudian mengepulkan asapnya lagi. Kantung matanya begitu hitam.

Keadaannya saat ini seolah tengah menggambarkansebuah perjalanan rasa yang tersepuh. Menyesapi kembali kebahagiaan saat kebersamaan itu terjalin. Lalu keadaan yang tiba-tiba membuatnya beringsut ke tepi, tanpa perduli hati nurani. Luhan dengan teganya menghantam kokohnya tembok perasaan Sehun dengan satu kali tendangan. Hebat!

Seharusnya memang, perpisahan bagi Sehun tidak akan pernah mengubah apapun. Sampai saat ini, ia bahkan tidak benar-benar mengerti alasan tepat atas keberanian Luhan memilih bergeser dari garis Sehun. Bahkan saat yang lalu, dengan matanya sendiri. ia melihat Luhan merona merah merasakan kenikmatan dari yang bukan dirinya. Tidak hanya sekali, namun berkali kali dan dengan pasangan yang berbeda-beda. Menimbulkan pertanyaan, seperti apa jalan pikiran lelaki manis tersebut sekarang.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Teringat akan sebuah cek yang di berikan Luhan. Itu juga termasuk hal yang tidak bisa ia mengerti, untuk apa? Mengapa? Apakah ia menilai kebersamaan mereka hanya dengan 50 juta Won? Sehun mengacak rambutnya kasar.

“ARRRGHHHHHH….”

Ia, Oh Sehun. Meraih benda apapun yang terjangkau oleh tangannya kemudian ia lemparkan sekeras mungkin. Menarik kasar bed covernya. Mengacak-acak seluruh ruangan rapinya. dalam sekejap, kursi bercampur dengan tempat tidur. Kaca bening berceceran di lantai membaur dengan air yang entah dari mana asalnya. Pada akhirnya mata Sehun mendapati sebuah gumpalan kertas kecil yang beberapa hari yang lalu ia abaikan. Ia memungutnya, tulisan rapi Luhan masih tampak jelas disana. ’50 Juta Won’. Tangan Sehun menghantam kaca riasnya, seketika darah mengucur deras. Ia tidak perduli, hanya sempat memandangi bayangan diri di retaknya kaca.

“Sepertinya aku telah kalah, bahkan sebelum kau melambaikan rangkuman perpisahan, Lu.”

 

 

Keesokan harinya Sehun kembali mendatangi rumah Luhan. Dengan aura yang jauh lebih gelap dari sebelumnya. Ia melesak masuk kedalam rumah Luhan tanpa permisi. Ia mengabaikan beberapa pelayan yang meneriakinya ‘pencuri’. Yah, Sehun kemari memang ingin mencuri. Mencuri hatinya yang telah hilang di bawa Luhan.

Saat ini ia telah sampai pada titik lelah memahami apa yang diinginkan Luhan. Ia tidak lagi dapat bertahan dalam cinta yang menancapkan napas luka di setiap jejak yang ia pijak. Titik temu dua hati yang ia harapkan, tak kunjung menjadi kenyataan. Namun Sehun telah memutuskan, suatu hal yang tidak akan pernah di duga oleh nalar siapapun juga.

Sehun membuka paksa pintu kamar Luhan yang tidak terkunci. Naas, pemandangan yang sungguh tidak ingin ia lihat, terpampang lagi disini. Luhan merona, mendengus, mendesah di bawah tuntutan lelaki lain. Amarah Sehun di batas garis. Ia tidak ingin lagi melihat Luhan tersentuh oleh siapapun.

“Bangsat!! Berani-beraninya kau??!!!!!!!!!!!!”

Sehun menggeram, melangkah cepat. Menjambak rambut lelaki pemilik surai burgundy. Ia melemparkan lelaki tersebut kesembarang arah. Menguncinya dengan satu kali gerakan. Tubuh telanjang lelaki tersebut, harus pasrah menerima pukulan-pukulan keras dari tangan Sehun. Persetan dengan suara Luhan yang berteriak-teriak meminta dihentikan. Persetan dengan pembunuhan yang merupakan tindak criminal. Ia hanya ingin Luhan. Kembali! Itu saja.

“Kau tahu, apa ganjaran yang setimpal untuk lelaki yang menyetubuhi kekasih orang lain?”

Lelaki tersebut menggeleng di bawah cengkeraman kuat tangan Sehun.

“D-E-A-T-H!!!”

Sehun menyeringai, sembari mengeluarkan mata pisau yang begitu berkilau. Pertama ia mengarahkan pisaunya untuk mengiris batang kemaluan lelaki tersebut. Batang kemaluan yang sudah berani membuat Luhan merona merah. Lalu ia mengarahkan pisau tersebut pada leher lelaki burgundy. Lelaki burgundy itu berteriak kesakitan, airmatanya mengalir. Ribuan kata maaf ia lontarkan. Namun Sehun telah menggelap. Ia mencintai Luhan. Dan tidak akan memaafkan siapapun yang berusaha merebut Luhan dari tangannya, apalagi menodainya.

Darah mulai mengalir dari pangkal leher dan titik vital lelaki itu, lelaki itu merintih. Sehun semakin beringas mempermainan pisaunya di atas anatomi tubuh lelaki tersebut, tapi kemudian telinga Sehun menangkap suara permohonan lembut diiringi isakan manis yang ia rindukan.

“Sehun…Jangan…”

Rintih Luhan di balik selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Lepaskan lelaki itu, ini semua salahku. Jangan kumohon…”

Apa? Apa Sehun tidak salah dengar? Bahkan Luhan memohon kepadanya untuk keselamatan lelaki ini? Brengsek sekali. Sehun mengalihkan pandangan, membiarkan lelaki yang sudah tidak berdaya beringsut di lantai. Pingsan.Sehun menatap tajam namun nanar kepada Luhan. Tubuh polos Luhan yang entah siapa saja yang telah menjamahnya. Bercak kemerahan terpampang di kulit putih Luhan. Ada beribu ribu perih yang Sehun rasakan di setiap titik lebam kemerahan pada tubuh Luhan. Mata Sehun memanas, ia melangkah gontai menuju tempat tidur Luhan.

Sungguh berbeda! Getar rasa yang di rasakan Sehun saat jemarinya menyentuh permukaan pipi Luhan saat ini, terasa sangat berbeda dari biasanya. Dadanya tersendat. Sekelebat kenangan Luhan dengan beberapa pria lain membuat lukanya semakin membiru. Ia kemudian merendahkan diri dan menangis. Menangis untuk pertama kalinya, demi dan untuk Luhan.

“Apa kau tahu? Belajar melupakanmu adalah pekerjaan rumah yang sangat sulit dan menguras perasaan? Apa kau tahu?”

Parau suara Sehun bertanya di sela isakkan Luhan. Luhan hanya menunduk, seolah menggantung seluruh pertanyaan yang jelas-jelas membutuhkan jawaban dari mulut mungil Luhan.

“Dan kau? Dengan tega dan tenangnya melakukannya dengan lelaki lain? Apa kau tidak tahu? Seseorang disini…rela menahan kepahitan untukmu? Hmmm?”

Sehun mengangkat wajah Luhan dengan kedua tangannya, berharap jawab terlontar sedikit saja. Namun yang ia lihat hanya setumpuk air mata yang seolah-olah mengisyaratkan beribu luka di dirinya. Tidak! Yang seharusnya terluka adalah dirinya.

“Tidak perlu berpura-pura menangis Luhan! Bahkan kau tidak menangis saat kau melakukannya dengan banyak pria yang jelas-jelas menyakitiku. Eoh? Kau menikmatinya kan? Kau bahkan memohon agar aku tidak menyakitinya. Oh Tuhan….”

Sehun meninggikan intensitas suaranya, meskipun tetap dengan sedikit getar yang terdengar begitu jelas. Air mata masih terus mengalir dari pelupuk mata bening Sehun. Sungguh ia tidak bisa membendung air mata ini. Sakit sekali rasanya.

“Apa kau mencintai lelaki itu?”

Sehun melembut. Mendongakkan kembali kepala Luhan. Ia memandang lurus pada mata basah Luhan. Polos sekali. Masih polos seperti dulu… tapi raut polos ini juga yang menyungkurkannya dalam titik kehidupan paling dasar.

“JAWAB LUHAN APA KAU MENCINTAINYA?????”

Isakkan Luhan semakin keras. Ia tampak ketakutan, takut melihat Sehun yang begitu gelap. Karena satu langkah ia salah, semuanya tersakiti. Bodoh sekali. Kenapa ia baru takut sekarang? Bukankah semuanya terlambat? Unlucky you Luhan… Luhan menggeleng perlahan. Bukan sebagai jawaban tidak atau pun iya. Ia menggeleng untuk Sehun.

“Kalau begitu tidak apa-apa kan jika aku membunuhnya? Sayang…kau tidak akan terluka kan?”

Sehun berjalan beringas menghampiri lelaki yang sudah tidak berdaya itu. Matanya menatap tajam penuh luka dan kebencian. Ia kembali meraih pisau yang tadi tergeletak sembarangan. Saat ia bersiap untuk menancapkan pisaunya, tiba-tiba Luhan berteriak parau…

“Aku mencintainya Sehun…Aku mencintainya…”

Lalu begitu saja Sehun tersungkur, bilah pisaunya ia genggam erat. Ia menggeram. Kebas menyerang balik begitu tangan membuka pintu untuk hidup. Kosong merajai palung hati Sehun. Hambar. Hampa.

“Maafkan aku, untuk setiap salah yang kucetak di hatimu Sehun. Maafkan untuk setiap tangis yang kau keluarkan karenaku.”

 

‘When was the last time you thought of me?

Or have you completely erased me from your memory?

I often think about where I went wrong,

The more I do, the less I know

But I know I have a fickle heart and bitterness,

And a wandering eye, and a heaviness in my head,’

 

Sehun membalikkan tubuhnya lagi. Menatap tajam pada mata Luhan. Air mata masih terus membasahi dua bening mata Sehun. Menganak sungai tanpa bisa ia hentikan. Ia menghampiri Luhan yang masih dalam posisi tadi. Sehun melekatkan keningnya pada kening Luhan. Berbagai kenangan berkelebat penuh. Dadanya sesak. Dalam hening, saatnya menutup buku. Karena tidak ada lagi cerita untuk mereka berdua.

“Cukup sampai disini kah?”

Sehun memeluk erat Luhan. Luhan mengangguk dalam pelukannya.

 

‘But don’t you remember?

Don’t you remember,

The reason you loved me before

Baby, please remember me once more,’

 

“Berakhir seperti ini?”

Luhan lagi lagi mengangguk penuh peluh.

“Baiklah…Selamat tinggal.”

Nada suaranya mendingin. Angin gelap mengelilingi mereka berdua. Tanpa di tulispun Luhan akan tetap menguasai lembaran hatinya. Ia membaringkan tubuh Luhan perlahan. Ia hanya ingin mengakhiri semua kisahnya dengan hal yang menurutnya indah. Darah mengalir deras merembes dari balik punggung Luhan. Sehun telah menghunuskan pisau ketulusan dalam damba tidak bersyarat yang di koyak oleh Luhan. Pisau tersebut menancap sempurna di jantung Luhan. Beserta satu kertas lusuh bertuliskan 50 juta Won.

 

‘Gave you the space so you could breathe,

I kept my distance so you would be free,

And hope that you find the missing piece,

To bring you back me….

Why don’t you remember,

Don’t you remember…

The reason you love me before…

Baby please remember you still love me.’

 

“Sehun…” Rintihan kesakitan menguar dari mulut mungil Luhan.

“Sehun…” Mengiringi kepergian Sehun, menjejaki kaki kaki kesedihan. Tanpa menengok kebelakang lagi.

“Sehun…”

 

 

“Sehun…”

Suara itu tetap terdengar, terngiang di telinga Sehun. Tubuh Sehun menggeliat. Keningnya berkerut. Peluh tidak membiarkan sela kering di dahinya.

“Oh Sehun…”

“Hhhhh….” Sehun melenguh. Pikirannya menerawang antara nyata dan khayal. Peluh semakin mengucur.

“Yah, Oh Sehun…”

Suara lembut itu, suara Luhan. Kenapa ia tidak bisa melupakannya? Kenapa masih terngiang? Kenapa masih mengalun?

“Luhan…Luhan…” Bibirnya bergetar memanggil satu nama. Seseorang yang benar-benar ia cintai.

“LUHAAANNNN…Hhh…Hhh…”

Matanya terbuka, lalu ia terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal. Luhan. Yah Luhan. Dimana Luhan? Ia menoleh, menatap lelaki yang dengan wajah tanpa dosanya duduk tidak mengerti di samping ranjang Sehun. Rambutnya sedikit basah, mungkin bekas keramas pagi ini.

“Sehun-ah…Gwaenchana?”

Lelaki bermata bulat tersebut bertanya dengan nada kawatir. Sehun terdiam sesaat, bingung. Kejadian tadi? Apa yang terjadi? Kenapa Luhan masih hidup? Luhan masih ada di hadapannya. Menyapanya dengan wajah lugunya. Sehun mengingat-ingat peristiwa beberapa saat yang lalu. Ia berjingkat menghampiri punggung Luhan. Mencari-cari sesuatu yang mungkin saja menjadi bukti kebenaran atas kejadian buruk tadi.

“Luhan, kau tidak apa-apa? Kau masih tetap menjadi kekasihku kan?”

Luhan mengerutkan keningnya, semakin tidak mengerti. “Yah! Harusnya aku yang bertanya apa kau tidak apa-apa? Kau berteriak-teriak memanggil namaku sejak tadi… Sudah pasti aku masih kekasih mu Sehun-ah, kau bercanda ya? Eh, apa kau mimpi buruk?”

Sehun mengernyit, mendelik menatap Luhan. “Apah? Mimpi?”

“Uhum…Kau tertidur seperti orang mati saja. Namun setelah aku keluar dari kamar mandi, kau seperti kesetanan, dahimu penuh keringat, kau menggeliat dan memanggil-manggil namaku seperti ini ‘Luhan, haruskah berakhir seperti ini? Aku mencintaimu. Luhan… Luhan…’ Seperti itu… awalnya aku pikir kau sudah bangun. Ternyata…”

Sehun mengumpulkan seluruh kesadarannya untuk mencerna perkataan Luhan. Ia kemudian tersenyum lebar, menarik Luhan kedalam pelukannya. Mendekapnya erat, tanpa ingin melepasnya lagi.

“Aku bahkan baru tahu, ternyata kau begitu mencintaiku Oh Sehun. Kau bermimpi apa tentangku? Tidak yang buruk-buruk kan? Heh! Sehun jawab aku…Ah! Sehun…Aku tidak bisa bernafas. Lepaskan. Aaakkk Oh Sehuuuuunnn….!!!!!”

Tidak akan Luhan, aku tidak akan melepaskanmu. Biarpun aku harus remuk redam mempertahankan cinta ini. Tanpa ada jeda dan koma. Aku hanya ingin jatuh dan terjun bebas dalam cintamu.

“I Love You…”

 

 

Other days, in real life……

 

Luhan baru saja menuruni undakan tempat tinggalnya bersama Sehun ketika seorang lelaki berumur sekitar 30 tahun menghampirinya.

“Ada yang bisa kubantu ahjusshi?”

“Apa kau Luhan?”

“Ya,” Luhan mengangguk.

“Ada pesan untukmu…” Ujar Ahjusshi tersebut sambil mengulurkan secari kertas di udara.

“He..? Untukku?” Luhan menerima kertas tersebut. Kemudian ia membungkuk membalas salam Ahjusshi tadi yang hendak pergi. Sesegera mungkin ia membuka lipatan kertas tersebut.

‘Aku takkan kemana. Pada satu langkahmu juga, menujuku. Datanglah! Ikuti semua petunjukku.’

Luhan tersenyum, Sehun bodoh. Pantas saja sejak tadi pagi ia tidak ada di rumah. Luhan berpikir sejenak. Ia harus mengikuti petunjuk apa? Di kertas ini hanya ada untaian gombal Sehun saja. Luhan kemudian menuruni separuh undakan yang tersisa. Ia keluar dari rumahnya, menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada apapun. Ia mengetuk-ngetukkan sepatunya, berpikir.

Tiba-tiba ia merasakan kemejanya di tarik oleh seseorang. Luhan menurunkan kacamata hitamnya agar ia dapat melihat jelas siapa yang menariknya. Seorang gadis kecil ternyata.

“Untukmu.”

Gadis kecil itu memberikan setangkai bunga lily kesukaannya. Di tangkainya terselip sebuah kertas.

“Darimana kau mendapat ini?”

Gadis itu tidak menjawab hanya menunjuk kosong pada arah utara kemudian ia berlari melawan arah. Luhan mengikuti arah yang di tujukan anak kecil tersebut sambil membuka lipatan kertas tersebut.

‘Semesta pesonamu menggugat rinduku. Pertama karena hatimu seperti pohon, selalu memberiku tempat untuk sejenak aku beristirahat.’

Dasar perayu!

Jarak 10 meter dari tempat ia dihampiri gadis kecil tadi, ia kembali didatangi oleh sorang lelaki kecil yang membawa benda yang sama, satu tangkai Lily dan secarik kertas. Ia membuka lipatan kertas itu.

‘Terasing dalam senyummu, aku! Kedua, karena senyummu seperti mentari cerah menerangiku. Hanya aku.’

Luhan menyeringai.

“Siapa yang memberikanmu ini?” Tanya Luhan.

Anak lelaki itu tersenyum, menunjuk arah barat. Luhan mengikuti lagi arah yang ditunjuk anak kecil tersebut. Ia terus menurut jalanan sampai di temuinya seorang gadis kecil lucu membawa benda yang sama lagi.

‘Aku ingin terpekur dalam pelukmu pagi ini. Ketiga. Karena lenganmu yang selalu mendekapku di saat saat tersulitku.’

“YaTuhan Sehun, apa sebenarnya permainanmu, bisa bisanya mencontek kata-kataku. Dimana orang yang memberimu ini, nak?”

Anak itu menunjuk arah yang sama dengan anak yang sebelumnya. Ke barat! Kembali Luhan menyusur jejak petunjuk. Ia merasakan dirinya seperti berada dalam sebuah syuting sinetron.

‘Tidak pernah ada kata cukup untuk cintamu. Itulah sebabnya aku mempercayakan hatiku kepadamu. Keempat, kehangatanmu, yang selalu mampu menghangatkanku, membuat ku setia mengikuti jalanmu.’

Begitu kata-kata yang tertulis di secarik kertas yang terselip di setangkai bunga Lily berikutnya. Anak kecil yang membawakannya lalu menunjuk sebuah arah menuju sebuah kedai eskrim. Ia ingat, ia pertama kali bertemu dengan Sehun di kedai eskrim itu. Mendapati Sehun yang belepotan dengan begitu banyak lelehan macchiato dipinggir bibirnya. Jangan-jangan…

Luhan berlari secepat ia bisa, membelah jalanan ramai di hadapannya. Namun langkahnya di hadang oleh tiga gadis kecil yang membawakan begitu banyak bunga Lily.

Luhan mengambil satu persatu buket bunga tersebut, kemudian anak kecil ketiga memberikan secarik kertas kecil lagi. Luhan membcanya.

‘Semakin mendekat, rinduku semakin dahaga. Haus mengecup pucuk penantian yang tinggal sejengkal lagi dari jari manismu. Kelima, karena air matamu yang mengalir jika aku bekerja terlalu keras. Selalu membuatku hidup.’

“Oh Sehun…Kau benar-benar tidak kreatif. Dimana orangnya, jangan berbelit belit anak kecil.”

“Dia menunggumu di kedai itu,” Ujarnya lugu.

Sudah bisa ia duga, Sehun pasti disana. Ia mengikuti perintah gadis kecil tadi. Dan benar saja ia menemukan kekasihnya begitu rapi, begitu tampan.

Ia, Oh Sehun. Tersenyum senang mendapati kekasihnya yang berhasil menemukannya. Menanti jawaban atas semua maksudnya hari ini.

Ia, Oh Sehun. Tengah duduk di sebuah bangku, memangku sebuah gitar.

“Wasseo…Luhan?” Sehun tersenyum tipis. “Duduklah.”

Luhan membuang nafasnya heran. namun akhirnya menurut. Ia duduk di tempat yang telah di tunjuk Sehun. Matanya tidak lepas memandang lekat Sehun. Ia masih penasaran apa maksud dari semua ini…

Lalu ia, Oh Sehun. Menarikan jemarinya di atas gitar yang ia pangku.

‘geudae yeppeun moksoriro jajanggareul bulleojwoyo
oneul bamdo geudae nae kkum soge nawa hamkke sarayo
aigateun geu misoro nareul bomyeo useojuneyo
naneun geudaeraseo cham haengbokhamnida

naega himdeulttaena manhi apeulttae nae nunmureul goi dakkajudeon
geudaeran saram eojji mareul haeya halkkayo

cheotbeonjjae geudaeui maeum namucheoreom nareul swigehae
dubeonjjae geudaeui miso haessalcheoreom nareul barkge bichugo
se beonjjae geudaeui songil naega himdeulttaemada pume anajun geudael saranghamnida

naega seulpeul ttaena oerowo hal ttae nae gyeoteul ttaseuhi jikyeojudeon
geudaeran saram eojji mareul haeya halkkayo

nebeonjjae geudaeui ondo nae gaseumeul ttaseuhage hae
daseotjjae geudaeui nunmul deo yeolsimhi nareul saragage hae
yeoseotjjae geudaeui gido cheojin eokkaereul pige mandeureo juneun geudael saranghamnida

geudaeyeo deo isang nunmureun ijen heulliji marayo
yeongwontorok geudaereul jikilgeyo

saranghaneun geudael bomyeon baraman bwado nan haengbokhae
il gopbeonjjae geudae pyojeong simurukhan nareul utgehae
yeodeorpjjae geudae moksori naege himeul juneun geudaeinikka
ahopbeonjjae geudae georeum motnan nal maeilmada chajawa june
yeolbeonjjaen geudaeran seonmul
geudaeraseo nan jeongmal haengbokhamnida.’

 

Permainan gitar Sehun berakhir. Ia tersenyum lagi kearah Luhan yang masih jelas tidak mengerti.

“Drama apa yang sedang terjadi, Oh Sehun?”

Sehun berdiri tepat dihadapan Luhan. Merentangkan kedua tangannya. “Kejutan, sebuah kejutan. Aku ingin memberimu sesuatu hari ini. Tapi aku tidak tahu harus seperti apa hal itu. Maaf aku mencuri kata-katamu. Aku hanya ingin mengawali pagi ini dengan melihat senyum tulusmu. Apa aku gagal?”

“Tsk…” Luhan berdecak bahagia. Pipinya bersemu merah. Kemudian membingkai satu senyum tulus untuk Sehun.

“Terimakasih,..” Balas Sehun. “Tapi tunggu, ada satu hal lagi…”

Sehun menunjukkan satu tangan kosongnya di hadapan Luhan. Kemudian meletakkannya di belakang kepala Luhan. Menggumamkan sesuatu dan akhirnya menarik kembali tangannya yang sudah menggenggam sebuah kalung berliontin huruf S.

“Anggap kalung ini adalah hatiku. Hatiku yang selalu dekat dengan hatimu.” Ujarnya sembari memasangkan kalung tersebut ke leher Luhan. “Jja… bagus sekali.”

Luhan membelai lembut liontin kalung tersebut. Tepat sekali di dekat dadanya. Kedua pipinya semakin bersemu merah. Ia tidak menyangka kekasihnya seromantis ini. “Aku tidak tahu kau bisa sulap. Tapi terimakasih Oh Sehun. Aku akan menjaga kalung ini seperti aku menjaga hatiku untukmu. Aku…” Suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca namun bibirnya menyunggingkan senyuman kecil ia memukul lengan Sehun kecil.

“Boleh aku menciummu…?”

“Dasar bodoh!” Tanpa aba-aba Luhan bergerak mendekati bibir Sehun. Sehun berpura-pura terkejut dan melepas ciumannya.

“Awas kau ya, kalau berani memalingkan wajahmu.”

Luhan memegang wajah Sehun dan menciumnya lembut. Lengan Sehun menyentuh pinggang Luhan, memisahkan jarak di antara mereka. Mematri janji diatas keakuan perasaan yang merunduk pada keteduhan., juga penyatuan.

“Ayo pulang…”

“Tidak, aku mau makan eskrim dulu…”

“Pulang saja, aku harus bekerja Sehun.”

“Aku mau makan eskrim dulu Lu… please please please… Ya? Ya? Ya? Kumohon…”

“Dasar bocah berwajah dua!!!!!!!!!” Luhan memukulkan buket buket bunga Lilynya ke kepala Sehun. Di balas dengan cengiran wajah tanpa dosa khas milik Sehun.

.

.

.

.

EPI-LOVE…

Sebuah taman di penuhi rumput liar hijau yang indah menjadi saksi bisu dua sejoli yang selalu di mabuk cinta. Lelaki berambut pirang mengusap lembut pangkal kepala lelaki berambut sedikit keabu-abuan. Lelaki berambut keabuan tersebut merebahkan kepalanya di pangkuan sang lelaki berambut pirang.

“Ngomong-ngomong, kau belum memberitahuku apa alasan keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuluh kau mencintaiku, Lu!”

Sang pemilik nama Luhan hanya tersenyum sembari masih menyisiri rambut lembut kekasihnya.

“Cepat katakan!!!” Sehun bangkit dari baringannya.

“Kalau aku tidak mau?”

“Aku akan mengutukmu mencintaiku selamanya!”

Luhan terkekeh, mencubit lembut hidung mancung Sehun. “Baiklah, kutuk saja.”

“Itu artinya kau mau mencintaiku selamanya?”

Luhan mengangguk, Sehun tersenyum merekah. Kemudian beralih datar lagi. “Tapi aku ingin tahu alasan itu…” Sehun merengek sembari memasang puppy eyes nya.

Luhan mendesah. Mengacak lembut rambut Sehun. “Hah, baiklah… dengarkan baik baik. Ke enam, ekspressi kesalmu seperti ini yang selalu membuatku tertawa. Hahaha.”

Luhan terkekeh kekeh, melihat Sehun yang memanyunkan bibirnya. “Ke tujuh, doa-doamu yang selalu menguatkan ku di saat bahuku mulai terasa turun dan melemah menjadi tegak. Ke delapan, suaramu yang selalu membuatku melayang. Ke Sembilan, langkahmu yang selalu dapat menemukan aku yang sedang menyedihkan. Ke sepuluh…”

“Kesepuluh?” Sehun mengulang kata-kata Luhan. Luhan mengalungkan lehernya kearah leher Sehun. Menggesekkan kedua hidungnya.

“Tenth is you…because the gift is you. Hadiah terindah Tuhan adalah kau. Alasan aku mencintaimu yang kesepuluh adalah kau. Dan hal itu mencakup semua alasan-alasan yang pernah kusebutkan.”

Mereka menyatukan bibirnya. Melenyapkan seluruh kebisingan dengan sebuah ciuman lembut.

Saranghae Lu Han.

Kesalahan berlapis yang kusyukuri, karena jelas tidak akan pernah ada penyesalan yang melingkupi. Bisa mencintaimu dan bersamamu adalah keajaiban sempurna dari Tuhan untukku. –Lu Han.

 

Entah sebagai awal atau akhir, aku tetap menginginkan kau menjadi tokoh utama dalam setiap inchi cerita bahagia dan sedihku. –Oh Sehun.

 

 

 

 

-FIN-

 

 

Yeahhhh…

WHY SO SERIOUS???? HAHAHHAHAHAHA

Selesaai juga, setelah begadang dan menjablaikan *?* diri semalam.

Serius ini kepanjangan juga kayaknya yah? Haha.

Mohon maaf ya…

Atas kelebay-an kata-kataku yang entah muncul dari belahan otakku yang mana.

Gak tahuuu… maaf sudah membosankan dan tidak memuaskan…

Yang mau komen makasih…

Yang mengkritik juga makasih…

Pokoknya semuanya makasih…

Yang gak komen … *sodorin boneka vodoo* semoga tenang di alam sana…

 

With Love_Termakan Sehun_

125 thoughts on “ONESHOOT | HUNHAN | 10 reason, Why I LOVE You

  1. Omg,aku kirain nanti luhan bakalan mati atau nggak sehun yg mati,tapi akhirnya happy ending.keren nih ff bisa bikin aku jdi terbawa suasana.

  2. Uwah ff nya manis-pahit asem gimanaaa gitu *abaikan
    ff nya rapih banget. Aku suka. Trus,kata2 di dlm ff nya keren n puitis banget.
    4 jempol buat author!! Daebak bgt.

  3. Hah .-. Terkejt saya pas sehun pake piso >< kirain bneran tadi. Tapi ffnya bgus bgt thorr :* feelnya dpt bgtbgtbgt

  4. njirr ternyata cuman mimpi -_- pertamanya juga bingung knapa luhan tiba2 ninggalin sehun dn ganti2 pasangan, ternyata –‘

  5. astaga aku udah deg2an karena kupikir endingnya gitu :'< (meski kalau memang gitu nggak papa. yang penting luhan nggak sama siapa2 lagi dan si sehun juga nggak sama siapa2. hahahaha)
    dan ternyata cuma mimpi :') syukurlah astagaaaaaaa

  6. sempat pengen nipuk luhan, tapi gak jadi karena untung itu cuma mimpi sehun. Huuh saking cinta dan takut kehilang ni ye, makanye ampe ke bwa mimpi dah. Hehe
    Oh ya, salam kenal author. Saya readers baru.. Gomawo ^.^

  7. Gileee kirain beneran ehh taunya just mimpi… Alhamdulillah llaaahhh :v Laki yg ydgan sm Luhan di Bar itu CY, yg keluar dri rmh Luhan itu Kris, yang ydgan ampe diituin Sehun si Kkamjong bkn??

  8. Wooow sugoi.. Sumpeh gila gua kebawa banget sama alur cerita’a thour, bikin deg2an plus takut plus kesel plus seneng *lebay -_-
    jangan di tumpuk. Hehe poko’a keren. Salam kenal thour aku dri tangerang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s