TRUST Chapter 3

TRUST

243__602x0_2819y3my5 

AUTHOR : KIM HYOBIN

Main : KAIHAN / KAILU FANFICTION

Cast : KIM JONGIN – LUHAN

Other : HUNHAN – HUNSOO – KAISOO

Genre : Drama , Romance , School Life , Hurt, MATURE!

BL / BOYS LOVE / YAOI

Inspirated from SUPER DELICATE (Hey Say JUMP) , Jar Of Heart ( Christina Perri) , Whataya Want From Me ( Adam Lambert)

NO NC in this Fanfiction but I used MATURE genre! MATURE !

So just for 15 +

Hoy, ‘HANTU’ (SIDER), I WARN YOU ! #siapin pistol bareng Tao

 

 

 

 

Egois adalah sifat dasar manusia

Insting itu mempertajam perasaan

Membuat peristiwa kadang terlupakan begitu saja

Semua tentang kita..

Dan aku sudah membuktikannya

Saat jalanku dengannya terpisah

Itu… menyakitkan.

 

 

“Bawa aku kemanapun. Kumohon… bawa aku pergi.”

 

 

Part 3

 

 

 

Luhan POV

 

Apa yang bisa kulakukan lagi selain terus memikirkan semua yang menyiksa perasaanku sendiri. Memikirkan adikku dengan Sehun yang kini sedang bersama dan… apa yang mereka lakukan tanpa sepengetahuanku? Aku tahu Sehun…. aku tahu dia namja seperti apa. Dia.. apa yang akan dia lakukan bersama Kyungsoo sekarang?

 

Oh Tuhan, dadaku sakit sekali. Ngilu bukan main. Seakan ada beribu luka yang menganga, terkena pasir dan cairan asam. Menyakitkan seperti tidak masalah jika… aku mati saja.

 

“Hyung?”

 

Aku mendengar suara berat nan lembut itu, ia mungkin mencemaskan aku yang dari tadi tidak bersuara. Oh ya, dia membawaku kemana saja aku tidak tahu. Langkah kaki kami dari tadi bersambung terus menerus. Aku hanya mengikutinya, tidak peduli ia akan membawaku kemana. Asal aku tidak pulang kerumah yang sunyi itu, aku.. aku hanya akan mengingat Sehun.

 

Dan aku tidak mau!

 

Hal itu akan terus menyiksaku.. bayangan Sehun yang sama sekali belum hilang didalam hatiku. Membuatku terus menjadi namja lemah jika mengingat Sehun. Bodohnya diriku.. tentu saja, karena yang kini ada didalam pikiranku hanya Sehun! Namja yang sudah mencampakkan aku! Hanya.. dia.

 

Tes

 

Oh tidak! Berhenti menangis, Luhan! Berhenti menangis!! Tidak… tidak.. hatiku sakit sekali. ya Tuhan, rasanya sesak hingga menghimpit jantungku. Air mata ini…. tidak mau berhenti.

 

 

 

Normal POV

 

Jongin menghentikan langkah kakinya saat melihat Luhan sudah berhenti berjalan, ia menunduk dan menangis. Terisak pilu lebih tepatnya. Tanpa bertanya, Jongin mengerti akan apa yang Luhan rasakan. Pasti Luhan kembali mengingat sesuatu yang ia kubur. Jongin sudah merasakan keanehan pada Luhan semenjak Luhan menerima sebuah telepon tadi ketika disekolah.

 

Jongin hanya diam kemudian dia menghela nafas pelan. Ia genggam tangan Luhan dan mempercepat jalan mereka. Mengacuhkan tatapan pejalan kaki lain yang menatap mereka aneh, bagaimana tidak Luhan masih saja menangis terisak.

 

Langkah kaki itu terus tertaut hingga tanpa Luhan sadari ia sudah berada distatiun kereta bawah tanah dan Jongin sudah menarik tubuhnya untuk masuk kedalam sebuah kereta listrik. Tangis Luhan tidak berhenti sepenuhnya, namun ia sempat terdiam serta kebingungan. Mereka duduk disalah satu sisi kereta. Didalam kereta itu tidak terlalu padat. Hanya ada 5 orang lain selain Jongin dan Luhan.

 

 

“Kita mau.. kemana?” tanya Luhan akhirnya.

 

Jongin tersenyum tipis dan mengusap pipi Luhan yang penuh oleh bekas air mata. “Awalnya aku hanya ingin mengajakmu makan es krim didekat taman kota. Namun sepertinya.. kau harus melakukan sesuatu agar bebanmu sedikit hilang.”

 

“Eh?” Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, menyebabkan air matanya kembali turun dengan cepat.

 

“Namun setelah itu… maukah kau menceritakan sedikit saja bebanmu padaku? Agar aku bisa lebih mengerti… alasan mengapa kau selalu bersedih dan menangis seperti ini?”

 

 

DEG

 

 

Luhan membulatkan matanya, entah mengapa ucapan Jongin sedikit membuatnya tersentuh. Luhan kemudian tersenyum tipis dan kembali mengusap air matanya yang terjatuh.

 

“Apa ini salah satu cara kau merayu namja- namja cantik yang ada disekolah?”

 

Jongin tertawa kecil. “Aku rasa cara seperti ini hanya aku khususkan untuku, Luhan-hyung.”

 

“Pabo!!” Luhan merasakan dadanya bergemuruh.

 

 

 

Kita berjalan bersama

Kau buat aku lupa sesaat

Beban yang kini bagai sebuah bekas luka

Akan tercetak selamanya

Tetapi…

Kenangan akan itu tidak akan hilang, bukan?

Akan tetap ada…

.. walau itu menyakitkan

Namun kau buat seakan bahagia

 

 

 

 

“MWO!!” Pekik Luhan terperangah saat melihat apa yang ada dihadapannya. Ia menatap tajam Jongin yang kini tersenyum penuh kemenangan dan membentangkan tangannya lebar. Angin yang lumayan kencang membuat rambut kedua namja itu berterbangan tidak beraturan.

 

“Jongin!! Kita menempuh perjalanan satu jam hanya untuk kesini? Yang benar saja, Jongin. Ini sudah pukul 8 malam lewat dan kita masih mengenakan seragam sekolah lalu apa yang ka—“ ucapan Luhan terhenti tepat saat telapak tangan Jongin membekap mulut Luhan.

 

“Sudahlah! Tidak usah kau pikirkan! Yang pasti lihatlah hamparan pantai yang indah ini saat malam hari dan lihat… pasirnya berkilau karena cahaya bulan!” Jongin sudah membuka bekapan tangannya dari mulut Luhan dan melepas sepatu nya. Meletakkan tas sekolah serta jaketnya disisi pantai yang tidak terkena air laut.

 

Luhan hanya memutar bola matanya dan melihat Jongin yang sudah bermain air, pantai disana tidak terlalu landai maka dari itu Jongin tidak berani terlalu jauh bermain air. Luhan masih terdiam disana. Ia melihat Jongin yang sudah melambaikan tangannya dan mengajak Luhan kearahnya.

 

“Kau bisa masuk angin jika bermain air, Jongin!! YA!! KEMARI!” Teriak Luhan namun tidak ditanggapi oleh namja tampan itu.

 

Luhan mendesah kemudian meletakkan tas dan sepatunya didekat tas dan sepatu Jongin. Perlahan Luhan berjalan kearah Jongin, namun kaki namja manis itu tidak sampai menyentuh batas ombak. Jongin tersenyum dan berdiri disamping Luhan.

 

Ia tepuk punggung Luhan pelan. “Berteriaklah. Keluarkan semuanya.. bebanmu. Keluarkan.. seperti kau ingin membuangnya bersama ombak- ombak itu ketengah laut…menjauhimu…. itulah tujuanku membawamu ketempat ini.”

 

Tidak percaya, Luhan menatap Jongin dengan taat. Disambut oleh senyuman yang begitu menenangkan. Mata Luhan langsung berkaca- kaca, tanpa menghitung waktu, air mata sudah berjatuhan secara bergiliran dari mata bulat Luhan. Membuat Jongin selalu merasa lemah dan terluka saat ia melihat air mata itu.

 

Luhan maju selangkah, membiarkan riak air yang amat kecil menyentuh kaki putihnya yang memerah. Ia tatap hamparan pantai yang ada dihadapannya. Gelap.. namun siap menampung kisahnya.

 

 

“Kenapa.. padahal aku sangat mencintaimu!! AKU SANGAT MENCINTAIMU HINGGA AKU MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUKMU, OH SEHUN!!”

 

Jongin mundur menjauhi Luhan, membiarkan Luhan mengeluarkan seluruh isi hatinya dengan leluasa.

 

“TIDAK MUDAH MELUPAKANMU YANG SELALU BERKELIARAN DIDEKATKU! MENGUMBAR KEMESRAANMU DENGAN ADIKKU DIDEPAN MATAKU SETELAH BERBAGAI HAL YANG KITA LALUI BERSAMA! SEAKAN HAL ITU TIDAK NYATA BAGIMU! KAU MELUPAKANNYA, OH SEHUN!”

 

Isakan Luhan semakin keras, Jongin melihat tubuh Luhan bergetar hebat. Namun Jongin masih diam disana. Setia mendengarkan keluhan Luhan yang terus terucap. Kalau ia bisa, ingin rasanya ia rengkuh tubuh mungil itu. Ingin sekali.. memberinya rasa aman dan kehangatan.

 

 

“SAMPAI SAAT INI! AKU MASIH MENCINTAIMU! AKU MASIH MENGHARAPKANMU! AKU TAHU AKU BODOH! AKU TAHU BAHWA AKU HANYA MENYIMPAN HARAPAN PALSU.. TAPI.. AKU TIDAK BISA SEMUDAH ITU MENGHAPUS DIRIMU! TIDAK SEPERTI KAU YANG SUDAH MELUPAKAN SOSOKKU SEPENUHNYA!!”

 

 

Bruak

 

 

Luhan terduduk dipasir, sedikit celana panjang Luhan sudah basah oleh air laut. Ia menangis sekuat yang ia bisa, berusaha meluapkan apa yang ia rasakan agar ia bisa merasakan kelegaan. Jongin kali ini mendekati Luhan, duduk disamping Luhan sembari menatap pemandangan pantai malam hari.

 

“Katakan tujuanmu… tujuan kebahagiaanmu dengan lantang.”

 

Namja cantik itu kembali mendongakkan wajahnya kearah laut malam, ia menggigit bibir bawahnya dan menetapkan hatinya.

 

Ia sudah bertekad.

 

Karena ia juga ingin bahagia…. tanpa bayang masa lalunya.

 

 

“AKU INGIN MELUPAKANMU! AKU AKAN MELUPAKANMU, OH SEHUN!! AKU BISA TANPAMU! AKU BISA BAHAGIA TANPAMU!! A—AKU … AK.. AKU BUKAN LUHAN YANG LEMAH LAGI! AKU LUHAN YANG AKAN BAHAGIA TANPAMU!!!”

 

Jongin tersenyum tipis dan merangkul pundak Luhan agar namja cantik itu merasakan sedikit kehangatan.  Luhan masih terisak kuat. Namun bisa dirasakan kelegaan menggerogoti tubuhnya.

 

 

“..  Selamat datang, Luhan-hyung yang baru.”

 

 

DEG

 

Mendengar ucapan Jongin, seketika itu Luhan tertawa pelan dan mengusap air matanya. Ia pandangi lautan yang berwarna hitam, bukti bahwa hari sudah sangat larut. Angin pantai terasa mulai menusuk, namun mereka masih duduk disana, menatap ombak yang seakan membawa sebagian beban Luhan agar terasa lebih ringan.

 

 

“Ya, Luhan yang baru. Luhan yang akan menemukan kebahagiaannya sendiri.”

 

 

 

 

Kyungsoo masuk kedalam rumahnya bersama Sehun, sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat 33 menit. Mereka memang baru saja pulang dari menonton di bioskop, bermain ditaman bermain sebentar dan memakan es krim ditoko es krim langganan mereka.

 

“Luhan- hyung!” panggil Kyungsoo saat menyadari lampu rumahnya ternyata belum hidup. Menandakan bahwa belum ada seorangpun yang ada dirumah. Sehun mengerutkan dahinya saat Kyungsoo menghidupkan semua lampu rumahnya dan memanggil nama Luhan.

 

“Hyung-mu belum pulang?” tanya Sehun cepat.

 

“Sepertinya.. aigoo! Kemana Luhan-hyung pergi?!” Kyungsoo kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Luhan. Kyungsoo nampak cemas.

 

Sehun terlihat tenang walau sebenarnya ia juga sangat mencemaskan Luhan. Bisa dikatakan ini sudah terlalu larut untuk anak SMA berkeliaran diluar sana, apalagi Luhan adalah namja yang memiliki rupa amat cantik. Kekuatan Luhan juga tidak terlalu kuat dan .. bagaimana jika ia diserang oleh namja mesum atau preman jalanan?

 

Demi apapun Sehun cemas sekali.

 

 

“Ya! Hyung! Kau dimana!” teriak Kyungsoo saat sambungan telponnya tersambung pada Luhan.

 

Sehun mendekati Kyungsoo. Berusaha menyimak pembicaraan namja manis itu dengan Luhan, walau Sehun tidak bisa mendengarkan suara Luhan.

 

“Mwoya! Lalu bagaimana?” Kyungsoo kali ini terlihat sedikit gusar. “………….Baiklah. Aku mengerti.. berarti hyung besok tidak sekolah? Iya, aku akan urus suratnya. Jinjja! Lain kali jangan mendadak seperti ini  jika hyung ingin menghabiskan waktu dengan kekasihmu.”

 

DEG

 

Sehun membulatkan matanya saat Kyungsoo mengatakan… ‘kekasihmu’ ? Kekasih… Luhan?

 

Sesak. Dada Sehun terasa sesak saat itu juga. Membuat namja tampan itu sedikit terhuyung kebelakang menjauhi Kyungsoo dan duduk disofa ruang tamu sembari memegangi pelipisnya.

 

Aneh! Mengapa ia … merasakan perasaan seperti itu?

 

 

 

“Sehun-hyung! Kau kenapa?” tanya Kyungsoo yang ternyata sudah selesai menelpon Luhan. ia khawatir karena kekasihnya nampak pucat dan terlihat kurang sehat.

 

“Tidak, sayang. Aku.. mungkin aku hanya kelelahan.” Sehun mencoba tersenyum.

 

“Kalau begitu beristirahatlah dahulu, hyung.” Kyungsoo memegangi kening Sehun, memeriksa suhu tubuh namja terkasihnya. Kyungsoo menghela nafas lega saat mearasakan suhu tubuh Sehun masih normal.

 

“Aku… aku akan beristirahat dirumah saja.”

 

“Apa hyung yakin? Bagaimana kalau disini saja? Hyung bisa istirahat dikamar Luhan-hyung.” Kyungsoo terlihat khawatir sekali.

 

Sehun berfikir sejenak kemudian mengangguk. “Baiklah.”

 

 

 

 

Sementara itu…

 

 

“Aku tidak percaya kita ketinggalan kereta terakhir!!” teriak Luhan kesal.

 

“Bagaimana lagi hyung.. namanya juga nasib. Terima saja.. tidak usah marah- marah begitu.” Jongin malah terlihat santai. Kini mereka sedang berjalan tidak tentu arah dijalan yang tidak terlalu ramai namun sedikit remang. Lampu jalanan yang menerangi nampak sedikit sekali.

 

Luhan seketika itu menghentikan langkahnya dan menatap Jongin tajam. “Jangan- jangan kau merencanakan ini semua! Kau pasti ingin melakukan sesuatu yang tidak baik kepadaku, bukan?”

 

“Ya Tuhan! Aku bersumpah kali ini aku tidak tahu menahu soal jadwal kereta. Ini murni ketidak sengajaan atau apalah namanya. Yang pasti aku tidak pernah berniat jahat padamu!” Jongin menyilangkan tangannya didada. Seakan bersumpah agar Luhan mempercayai omongannya.

 

Luhan mendesah pelan dan mengangguk. “Sudahlah. Kita harus mencari penginapan. Malam semakin dingin.”

 

“Ide bagus!!” Jongin mengarahkan pandangan, mencari adakah didekat sana sebuah penginapan atau tidak. “Hmm… sepertinya disana ada penginapan.”

 

Luhan melihat arah yang ditunjuk Jongin lalu mengangguk. Mereka berdua berjalan agak cepat menuju sebuah penginapan kecil, mungkin hotel kecil bintang 3. Luhan menatap sedikit takut saat berada didepan hotel kecil yang nampak usang.

 

“Kau yakin?” tanya Luhan sedikit berbisik.

 

“Ne, hyung! Sepertinya hanya hotel kecil ini yang ada didaerah sini. Lihat, sudah mau pukul 10 malam.” Jongin melirik jam tangannya.

 

“Baiklah! Diluar sangat dingin… aku tidak kuat jika terlalu lama diluar.” Luhan memeluk lengannya sendiri.

 

Melihat itu, Jongin menyadari bahwa dari tadi ternyata Luhan sedikit menggigil. Hidung Luhan memerah dan bibir mungil itu ikut memerah, menandakan bahwa kini Luhan sedang sangat kedinginan.

 

Srek

 

Jongin sudah melepas jaket yang ia kenakan. Luhan merasakan tubuhnya hangat seketika itu, sekarang jaket lumayan tebal itu melingkupi tubuh mungil Luhan, nampak sangat kebesaran.

 

“Jongin, tidak usah. Kau bisa kedinginan..” Luhan bermaksud mengembalikan jaket milik Jongin.

 

“Ani. Aku cukup kuat, hyung. Lihatlah.. kau bisa mati beku.” Jongin menggengam tangan Luhan, membuat Luhan ingin kembali protes namun namja cantik itu akhirnya diam karena tangannya yang digenggam oleh Jongin terasa sangat hangat.

 

“Ayo masuk.”

 

Kedua namja itu masuk kedalam hotel kecil yang lumayan hangat, Luhan mendesah pelan saat kehangatan mulai ia rasakan. Mereka memesan sebuah kamar saja. Mengingat uang yang mereka bawa tidak terlalu banyak, setidaknya mereka harus sedikit berhemat karena besok mereka juga butuh uang untuk kembali ke Seoul.

 

Jongin tidak melepas sama sekali genggamannya dari tangan Luhan, dan Luhan juga nampak sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Mereka masuk kedalam sebuah kamar hotel, saat itu juga Luhan melepaskan tangan Jongin dan langsung meletakkan tas sekolahnya diatas sofa. Ada televisi dikamar hotel itu, sebuah meja dan sofa kecil serta kamar mandi. Namun yang membuat Luhan terdiam adalah… tempat tidurnya hanya ada satu.

 

“Jongin! Lebih baik aku memesan satu kamar lagi.” Ujar Luhan cepat.

 

‘Untuk apa? Hanya karena ranjangnya ada satu kau mau buang- buang uangmu, Luhan-hyung?” Jongin mencegahnya.

 

“Aku bukan orang miskin! Aku punya kartu kredit!!” Luhan menjawab dengan cepat.

 

“Aku juga punya.. namun sebaiknya kita tetap sekamar.”

 

“Mengapa begitu?!”

 

Jongin diam sesaat dan matanya seakan mengawasi sekeliling kamar hotel itu. Luhan merasa ada yang aneh dengan Jongin hanya diam dan menelan kasar liurnya. Mata Jongin masih berkeliaran pada setiap sudut ruangan, membuat kesan mencekam dari tatapan matanya.

 

“Sepertinya… ini… hotel lama, hyung.”

 

“Maksudmu?”

 

Jongin mendekatkan wajahnya kewajah Luhan. “Biasanya……….. berhantu, hyung.”

 

 

DEG

 

 

Luhan seketika itu memucat. Ia mulai merasakan hawa tidak enak menyapu tengkuknya. Membuatnya jadi sedikit tidak nyaman. Sebenarnya Luhan memang sangat takut pada hal- hal seperti itu. Sangat tidak nyaman dan…. ia takut hantu.

 

Jongin yang melihat gerak- gerik Luhan kemudian tersenyum tipis. “It’s worked! Hahaha!”  Jongin berbisik didalam hati.

 

Dengan polosnya Luhan mengangguk dan menyetujui perkataan Jongin untuk tidak mengambil sebuah kamar lagi. Sebenarnya Jongin hanya ingin sedikit menggoda Luhan namun ternyata namja manis itu jadi parno berlebihan.

 

 

 

Jongin membuka jas seragam yang ia gunakan. “Hyung, aku mau mandi dulu. Hidupkan saja televisi agar kau tidak takut.”

 

Luhan mengangguk dan langsung menghidupkan televisi, ia duduk diatas ranjang sambil memeluk lututnya. Jongin ingin sekali tertawa saat melihat tingkah Luhan yang masih nampak takut. Namun namja cantik itu diam saja. Ia tidak mau mengatakan bahwa ia takut. Dari tadi ia hanya diam.

 

Blam

 

Luhan sedikit tersentak mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, Rupanya Jongin sudah mandi. Sedikit mendesah, Luhan kembali mengarahkan arah pandangnya pada televisi. Namun ia tidak sepenuhnya menyimak acara televisi tersebut. Pikirannya melayang jauh.

 

 

“Katakan tujuanmu… tujuan kebahagiaanmu dengan lantang.”

 

 

Ucapan Jongin itu jujur saja membuat dada Luhan bergemuruh. Ucapan yang bisa mengembalikan kepercayaan dirinya akan kebahagiaan yang akan ia dapatkan tanpa Sehun. Benar, tidak seharusnya ia larut jauh lebih dalam pada kesesakkan. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan.. seperti Sehun yang sudah bahagia tanpa Luhan kini.

 

Puk

 

Namja manis itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, wajahnya merah padam dan ia eratkan lagi jaket Jongin yang masih ia kenakan. Menyeruak wangi tubuh namja tampan itu dipenciuman Luhan. Hangat dan manis… wangi khas tubuh Jongin yang tidak bisa ia deskripsikan.. apakah bau keringat ataupun aroma tubuh Jongin, yang pasti Luhan menyukainya.

 

Seketika itu Luhan melirik celananya yang masih basah karena ia duduk dipantai tadi. “Sepertinya aku juga harus mandi.”

 

Luhan duduk diranjang dan melepas jaket milik Jongin, setelah itu ia juga membuka jas seragam sekolahnya hingga hanya yang ia kenakan hanya kemeja putih. Namja manis itu kemudian berfikir, jika ia mandi. Pakaian apa yang akan ia kenakan?

 

 

 

Klek

 

Bunyi pintu kamar mandi terbuka membuat Luhan membalikkan tubuhnya, melihat Jongin keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, membuat Luhan terlonjak kaget.

 

“Y—YA! Kim—Kim Jongin!! Kenapa kau tidak menggunakan baju mandi!! Hyaa!! Kau mau pamer tubuh, oeh!!” Luhan terus mengomel sembari menutup wajahnya. Wajah Luhan terasa panas karena melihat Jongin yang tidak memakai apapun untuk menutupi tubuh bagian atasnya.

 

Namja tampan itu hanya memutar bola matanya melihat reaksi Luhan. “Baju mandinya untuk hyung. Kau juga harus mandi. Jika aku memakai baju mandinya, hyung akan memakai bekasku. Lebih baik kau memakai yang bersih.” jawab Jongin santai lalu membuka tas sekolahnya. ia mengeluarkan sebuah kaos berwarna biru tua dan memakainya.

 

Mendengar ucapan Jongin, Luhan perlahan membuka tangannya dari wajah. Ia tatap namja tampan yang kini sudah memakai baju dengan celana panjang seragam sekolahnya. ternyata celana Jongin tidak terlalu basah. Berbeda dengan celana Luhan.

 

“Oh ya, aku bawa baju kaos 2 buah. Tadi temanku mengembalikan bajuku yang ia gunakan beberapa hari yang lalu. kuharap tidak terlalu kebesaran…” Jongin kembali mengacak- acak tas sekolahnya dan senyuman manis terkembang diwajahnya saat sebuah baju kaos berada ditangannya.

 

“Ah.. terima kasih.” Luhan mengangguk dan mengambil baju itu dari tangan Jongin.

 

“Celana panjang hyung digantung saja diatas pipa kamar mandi itu. kurasa besok pagi akan kering.” Jongin kali ini mengusapkan handuk kecil pada ujung rambutnya yang sedikit basah.

 

“Iya!” Luhan hanya menjawab seadanya seraya menutup pintu kamar mandi dengan cepat. Jongin seketika itu mendesah pelan dan mendudukkan tubuh diatas ranjang. Ia ambil remote televisi dan mengganti saluran beberapa kali.

 

DEG

 

DEG

 

“Aissh!!!” desis Jongin merasa tidak nyaman. Mengapa ia jadi berdebar- debar seperti itu? Hanya memikirkan ia sekamar dengan Luhan saja sudah membuat ia gembira sekali. Ini tidak biasa, karena Jongin sudah berkali- kali berada dalam situasi seperti itu. Ia sudah biasa berada dikamar hotel seperti ini dengan seorang namja cantik dan tidak usah dikatakan lagi apa yang sudah ia lakukan… namun ia tidak pernah merasakan jantungnya berdebar- debar.

 

Bunyi percikan air mandi Luhan sedikit membuat Jongin merinding. Ia memutuskan untuk langsung tidur saja daripada ia menghiraukan hatinya yang gusar entah karena hal apa. Secepat itu Jongin membaringkan tubuhnya diranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga dada.

 

DEG

 

“TIDAK MUDAH MELUPAKANMU YANG SELALU BERKELIARAN DIDEKATKU! MENGUMBAR KEMESRAANMU DENGAN ADIKKU DIDEPAN MATAKU SETELAH BERBAGAI HAL YANG KITA LALUI BERSAMA! SEAKAN HAL ITU TIDAK NYATA BAGIMU! KAU MELUPAKANNYA, OH SEHUN!”

 

Teringat kembali oleh Jongin teriakan Luhan tadi saat mereka ada dipantai. “… ternyata masalah yang ia hadapi lumayan berat… apa dia dikhianati?”

 

Mata namja tampan itu tertutup sesaat kemudian ia duduk diposisinya. Menatap televisi itu tanpa menyimak acara yang kini terputar didalam kubus elektronik itu.

 

 

“Bisakah aku mengobatinya… Luhan-hyung?”

 

 

 

 

 

Klek

 

Jongin mengarahkan pandangan matanya kearah kamar mandi, ia lihat sesosok namja cantik bertubuh mungil dan berkulit putih kemerahan tengah keluar dari pintu kamar mandi. Mata Jongin membulat sempurna saat melihat Luhan yang tidak memakai celana untuk menutupi paha putihnya yang kecil dan lututnya yang berwarna kemerahan. Kaos merah yang ia gunakan menutupi setengah pahanya dan terlihat sangat kebesaran. Tulang leher Luhan bahkan terekspos dengan sangat jelas.

 

DEG

 

“Oh Tuhan!!” desis Jongin seakan berbisik.

 

Dengan santai Luhan berjalan menuju ranjang, dimana Jongin masih tercengang dengan penampilan Luhan yang benar- benar menyegarkan matanya. Polosnya Luhan tidak menyadari tatapan Jongin yang seakan menelanjangi.

 

 

Drek

 

Henyakan ranjang saat Luhan menaiki ranjang itu menghentakkan lamunan Jongin, membuat namja tampan itu langsung mengusap wajahnya kasar dan memegangi dadanya yang mulai terdengar berantakan.

 

“Ya Tuhan, apakah dia benar- benar namja? Maksudku… Kulitnya putih kemerahan.. tubuhnya mungil dan… apa tadi itu? Kakinya bahkan sangat mulus, pahanya seperti paha seorang wanita… lihat jarinya yang memerah dan tulang selangka nya yang kini terekspos. Lehernya yang putih dan.. AGH! Hentikan pikiranmu, Kim Jongin!!”  bisik Jongin heboh didalam hatinya.

 

Luhan sudah menyembunyikan kakinya dibawah selimut dan duduk disamping Jongin yang kini mulai merangkai kembali akal sehatnya. Butuh pertahanan diri yang amat kuat agar Jongin tidak menyerang Luhan yang benar- benar menggiurkan duduk diatas ranjang bersamanya. Mereka bersandar pada kepala tempat tidur.

 

“Terima kasih.”

 

“Eh?” Jongin mengerjapkan matanya saat Luhan mengucapkan terima kasih padanya. Luhan tidak menatap Jongin, ia menunduk dalam kemudian tersenyum tipis sekali. ia memainkan jarinya gugup. Membenturkan kedua jari telunjuknya pelan.

 

“A..aku baru kali ini… merasakan sebuah kelegaan sejak… dia meninggalkanku.”

 

Jongin mengangguk pelan. “Namanya… Oh Sehun?”

 

Luhan mengangguk kemudian mendongakkan sedikit kepalanya, menatap langit- langit kamar hotel dengan teliti. “..dia kekasihku yang pertama. Dia cinta pertamaku.. ciuman pertamaku… orang pertama yang melakukan hubungan intim denganku.. dan dia.. karena dia aku tahu bagaimana cara mencintai seseorang.. menangis saat merasakan kesepian… segala yang kulakukan untuknya.. adalah hal pertama bagiku.”

 

Reflek Jongin tambah mendekatkan tubuhnya pada Luhan. Seakan ingin menegaskan bahwa namja tampan itu kini mendengarkan semua perkataan Luhan. “Lalu.. mengapa.. kau dan dia.. berakhir.. jika kalian sudah sejauh itu?”

 

Mata Luhan terlihat berat, namun ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Tangan Luhan nampak bergetar halus, menandakan ia menahan sesuatu kini. “Dia mencintai adikku. Aku tidak tahu kapan dia dan adikku bertemu.. saat ia memutuskan hubungan kami. Dia mengatakan bahwa dia… sudah mencintai orang lain. Hanya itu dan… semuanya berakhir.”

 

Jongin merangkul pundak namja cantik itu dengan erat. Ia sedikit khawatir Luhan akan menangis, namun hebatnya namja manis itu menangis. Ia nampak sangat tegar. Kemudian Luhan mengalihkan tatapan matanya lurus pada Jongin.

 

“Aku tidak akan menangis lagi, Jongin. Aku akan bahagia, bukan? Aku adalah Luhan yang baru dan.. kau membantuku untuk menemukan diriku yang baru. Terima kasih.”

 

 

DEG

 

 

Jongin membulatkan matanya saat melihat senyuman Luhan yang begitu murni dan tulus. Bibirnya yang memerah, pipinya yang merona dan mata bulatnya dengan bulu mata lentik serta senyuman lembut seakan begitu murni.

 

Luhan sungguh cantik.

 

Cantik sekali.

 

Sungguh bodoh namja bernama Oh Sehun yang menyianyiakan namja secantik Luhan.

 

 

“Hey! Kenapa kau memandangiku seperti itu!!” Luhan bergidik ngeri saat menyadari tatapan Jongin yang menurutnya.. aneh.

 

“Ma—maaf! Hyung.. hanya terlihat akan menangis.. makanya aku khawatir.” Jawab Jongin menggaruk kepalanya pelan. Ia kemudian menghela nafas panjang dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Luhan.

 

“Satu hal lagi..”

 

“Ya, hyung?”

 

“Kenapa kau baik sekali padaku?”

 

Mata Luhan menatap tajam namja tampan yang kini menelan kasar liurnya. Sungguh, tatapan mata Luhan nampak begitu menuntut dan itu sedikit membuat Jongin merinding dan mati kutu.

 

“Karena… sesama manusia harus saling menolong, kan?”

 

“Tidak ada maksud lain?” Luhan masih dengan tatapan menyelidiki.

 

 

Mendengar ucapan Luhan, Jongin menyeringai kemudian mengubah posisinya mengurung Luhan, menarik lengan kurus namja cantik itu hingga kini Luhan terbaring diatas ranjang. Mata Luhan membulat ketika Jongin sudah berada diatasnya. Luhan diam, seakan ia tidak bisa berbicara karena terlampau kaget.

 

Jongin tidak menghimpit tubuh mungil itu, hanya mengurungnya dan kedua tangan Jongin memegangi erat kedua pergelangan tangan Luhan. Baru Jongin sadari, Luhan itu sungguh mungil.

 

 

“Ya—YA!!Kau mau apa!!” teriak Luhan akhirnya sembari menggerakkan kakinya. Selimut sudah tersibak, memperlihatkan paha Luhan yang begitu putih dan mulus. Jongin kembali menyeringai. Ia usap pelan paha putih kemerahan itu dengan seduktif, membuat Luhan sedikit tersentak dan merinding.

 

“Hyaa!! Hen—Hentikan!!” Luhan berusaha memukuli tubuh Jongin dengan sebelah tangannya yang bebas, namun namja tampan itu terlihat tidak bergeming. Perbedaan kekuatan yang begitu terlihat.

 

“Maksudmu… tujuan lainku yang seperti ini, Luhan-hyung~” bisik Jongin tepat ditelinga Luhan. Membuat nafas berat Jongin menyentuh daerah sekitar leher dan tengkuknya.

 

DEG

 

Wajah Luhan memerah, ia tatap wajah Jongin yang nampak amat brengsek karena senyuman licik yang dari tadi ia pamerkan. Luhan mengalihkan pandangan matanya seraya menggigit bibir bawahnya. “Ti—tidak! Aku tidak akan menuduhmu yang aneh- aneh lagi. Hentikan ini!!”

 

 

Jongin tersenyum manis dan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Luhan serta menyibak selimut agar kaki putih Luhan kembali tertutup dengan sempurna. “Syukurlah kau minta maaf diwaktu yang tepat.”

 

Setelahnya, Jongin berdiri dari ranjang dan berjalan menuju sofa lalu duduk disana. Luhan dengan wajah merah padam, seketika itu duduk ditepi ranjang, mengamati Jongin yang mulai menonton televisi.

 

“K..Kau tidak marah, kan?” tanya Luhan sedikit dengan rasa bersalah. “Aku terus saja… menuduhmu yang tidak- tidak.”

 

Jongin mengalihkan pandangan matanya pada Luhan dan tersenyum manis. “Tidak, hyung. Tenang saja.. tidurlah. Esok pagi- pagi sekali kita akan naik kereta menuju Seoul.”

 

Luhan meremas selimut putih yang menutupi bagian tubuh bawahnya dan mengangguk. “Kau tidur.. dimana?”

 

“Aku? Aku bisa tidur dimana saja. Jangan khawatir.”

 

“…kita… seranjang juga tidak masalah.”

 

 

Mata Jongin membulat dan menatap Luhan tidak percaya. Ia sungguh tidak mengira Luhan akan mengatakan hal itu, apakah Luhan sudah mulai mempercayainya? Jujur saja Jongin menyangka Luhan akan menendangnya jika berani menaiki ranjang itu lagi.

 

Seketika itu, Jongin tersenyum tipis. “Baik, hyung. Namun hyung tidur duluan saja. Aku masih ingin menonton acara televisi.”

 

Luhan mengangguk dan merebahkan tubuhnya diranjang. Ia menatap sosok Jongin yang kini sedang menonton televisi dengan tenang. Wajah Luhan masih memerah dan dadanya berdetak sungguh amat cepat. Luhan kembali sadar betapa tampan dan tenangnya Jongin. Ia sabar, lembut serta dewasa. Berbeda dengan Luhan yang padahal lebih tua setahun dari Jongin.

 

DEG

 

 

Luhan menyadari… ia mulai mengalami kembali sebuah perasaan hangat seperti dulu.

 

 

 

 

Hey.. cinta itu akan datang kembali, bukan?

Karena siapapun berhak bahagia..

Bukan begitu?

 

 

 

 

 

 

Pukul 1 pagi dan Jongin masih terjaga, matanya mulai sayu dan ia benar- benar mengantuk. Ia tatap ranjang sesaat, Luhan sudah tidur sejak tadi. Sebenarnya Jongin hanya tidak terlampau berani tidur berdekatan dengan Luhan. Dia lelaki sehat dan.. adakah kucing yang menolak ikan?

 

 

“Hentikan pikiran kotormu, Jongin!” setelah yakin ia bisa mengontrol emosinya, Jongin berjalan kearah ranjang dan merebahkan dirinya dengan sangat perlahan disamping Luhan. Ia biarkan televisi tetap menyala agar keadaan tidak terlalu sunyi.

 

 

Jongin berbaring berhadapan dengan Luhan, ia bisa merasakan deru nafas pelan dan teratur dari hidung Luhan. Bibir merah muda yang basah itu terbuka sedikit. Membuat kesan manis dan imut. Bulu mata Luhan yang terlihat panjang dan lentik membuat Jongin tersenyum.

 

“Cantik… seperti malaikat.” Bisik Jongin yang tanpa sadar telah mengusap lembut rambut coklat Luhan. “Seandainya aku adalah Oh Sehun… aku tidak akan menyia-nyiakanmu Luhan-hyung.”

 

Setelah mengatakan hal itu, Jongin melepas usapannya dari rambut Luhan. Mencoba menyelami alam mimpi dengan menutup matanya perlahan. Tanpa ia sadar, Luhan kini membuka matanya pelan, menatap wajah namja tampan yang kini sudah terhasut oleh kantuk. Tidak menunggu beberapa detik, Jongin sudah tertidur. Nafasnya beraturan dan tenang.

 

 

Luhan tersenyum dan kembali menutup matanya. “… kalau begitu jangan menjadi Oh Sehun. Jangan pernah..”

 

 

“Jaljayo… Jongin.” Luhan mengaitkan jemari tangan mereka berdua lalu kembali memasuki alam mimpi.

 

 

 

 

 

Sehun terbangun dari tidurnya, ia lirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 2 pagi. Ia menghela nafas dan duduk diatas ranjang.. Luhan. Benar, akhirnya ia bermalam dirumah Kyungsoo dan Luhan. Tepatnya ia beristirahat dikamar Luhan.

 

Sehun kembali membaringkan tubuhnya, pikirannya menerawang. Kembali ia ingat dengan jelas, ditempat ini ia dan Luhan.. bersatu tanpa penghalang. Ia dan Luhan menjadi satu.. jujur saja, Sehun-pun baru pertama kali melakukan hubungan intim.. pertama kali dengan Luhan. Itu juga pengalaman pertamanya, dan buruk hal itu terjadi saat Sehun ingin mengakhiri hubungannya dengan Luhan.

 

Sebenarnya, Sehun hanya bermain- main saat menyatakan perasaannya pada Luhan. Ia bahkan tidak menyangka Luhan akan menerimanya begitu saja. Setelah hubungan itu berlanjut… Sehun mulai merasa bosan karena ia tidak juga mencintai Luhan.

 

Ia akui, Luhan sangat cantik dan baik hati. Namun hal itu tidak membuat Sehun menyadari perasaan cintanya pada Luhan. Hingga ia tidak sengaja bertemu dengan seorang namja manis bermata besar yang indah. Mata yang menyihir Sehun dan membuat dada namja tampan itu terasa tertindih. Kyungsoo… Sehun langsung menggilai Kyungsoo sejak pertama bertemu dan Sehun yakin ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa tahu Kyungsoo adalah adik lelaki Luhan.

 

Sehun tahu ia kejam. Namun ia juga tidak bisa memaksakan hatinya yang memang mencintai namja selain Luhan. Tetapi kini…… mengapa Sehun merasa begitu takut. Saat Kyungsoo mengatakan tentang… kekasih Luhan.

 

Benarkah Luhan sudah punya kekasih?

 

Benarkah Luhan sudah memiliki orang lain?

 

Berarti… Luhan sudah melupakannya? Sudah mendapatkan pengganti dirinya?

 

 

Sehun tanpa sadar mencengkram ujung bantal tidur Luhan. Ia memejamkan matanya paksa dan berkali- kali menguatkan dirinya untuk tidak mengingat Luhan lagi. Ia sesak.. jika ia terus memikirkan hal itu, Sehun merasa takut.

 

Takut sekali… jika nanti ia merasakan sebuah perasaan penyesalan.

 

Ia tidak mau menyesal.

 

Tidak!

 

 

 

 

 

“Ng..” Jongin merasa tidak nyaman. Seperti ada yang menghimpit dadanya. Ia belum sadar karena masih mengantuk namun … sungguh, ia sulit sekali bernafas. Mata indahnya masih tertutup rapat. Ia mencoba membalikkan tubuhnya, namun tetap saja ia seakan tidak bisa bergerak. Ada yang menghimpitnya.

 

“Ngg!! Berat!!” desis Jongin sembari membuka mata pelan. Ia mengusap matanya dan mencoba untuk bangkit, namun… mata sipit itu langsung terbuka lebar saat melihat apa yang menimpa dadanya.

 

“Astaga!!” teriak Jongin kaget.

 

Bagaimana tidak terkejut saat ia melihat kaki putih mulus Luhan kini menimpa dadanya dan posisi tidur Luhan sudah terbalik 180 derajat, bodohnya Luhan memeluk kaki Jongin yang ia sangka bantal –mungkin- dan kaki panjang Luhan yang mulus kini berada disekitar perut menjulang hingga dada Jongin.

 

Jongin masih dibuat terkejut karena baju kaos yang Luhan pakai terkesiap hingga memperlihatkan celana dalam namja cantik itu. Panik bukan main Jongin langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Luhan. Tidak berbohong wajah tampan nya langsung memerah.

 

“Cih! Dia benar- benar tidak waspada!” Jongin mengusap dadanya. Perlahan ia melepaskan tangan Luhan yang memeluk kakinya, Jongin bangkit dari ranjang. Kemudian menggendong pelan tubuh kurus Luhan yang membuat Jongin berfikir ‘Apakah dia tidak pernah makan? Ringan sekali.’

 

Ia memperbaiki posisi tidur Luhan agar namja cantik itu bisa tidur lebih nyaman, tentu saja dengan sangat hati- hati agar tidak membangunkan malaikat tidur ini. Setelah itu Jongin meregangkan tubuhnya dan membuka jendela kamar hotel. Sudah pagi hari rupanya, namun sesuatu membuat Jongin mendesah keras.

 

“Hyaa!! Kenapa bisa hujan!”

 

Jongin melirik jam dikamar itu, menunjukkan pukul 8 pagi dan diluar nampak gelap karena hujan lebat. Terlihat pantai yang terletak tidak jauh dari sana. Benar saja, badai. Jongin mengerang dan kembali menutup jendela kamar. Ia mengambil dompetnya dari dalam tas dan melirik Luhan yang masih tertidur pulas.

 

“Setidaknya aku harus membeli makanan untuk sarapan. Aku bisa membeli makanan dibawah atau supermarket dekat sini sebelum Luhan-hyung bangun.”

 

Ia meraih kunci kamar hotel dan memakai jaketnya. Ia menatap Luhan sejenak. Memastikan namja cantik itu masih tidur pulas. “Aku pergi sebentar, hyung.”

 

 

 

 

Kyungsoo sedang memasak sarapan untuk dirinya dan Sehun. Mereka tidak bersekolah karena pagi harinya, badan Sehun terasa panas. Ia tiba- tiba demam dan Kyungsoo kini sedang memasak bubur panas serta sop. Tentu saja Kyungsoo khawatir sekali dengan keadaan Sehun. Apalagi sejak mereka menjalin hubungan nyaris setengah tahun lamanya, baru kali ini Sehun sakit.

 

Dengan telaten Kyungsoo memindahkan bubur dari panci kedalam mangkok berwarna pink milik Luhan dan mencampurnya dengan sop dan sayuran kering. Agar Sehun tidak terlalu merasa hambar, Kyungsoo menambah sedikit kaldu dan daging cincang.

 

Segelas susu sudah ia antarkan tadi, jadi kini ia tinggal mengantarkan mangkok bubur itu kekamar Luhan, tempat Sehun beristirahat. Padahal Kyungsoo mengatakan bahwa lebih baik Sehun pindah kekamarnya, namun dengan alasan terlalu pusing untuk berjalan, akhirnya Sehun tetap beristirahat dikamar Luhan.

 

 

Klek

 

Sehun menatap pintu kamar Luhan yang terbuka, nampak sesosok namja manis dengan mata beloknya masuk kedalam kamar. Ia memegang sebuah nampan berisi mangkok bubur untuk Sehun. Tersenyum pelan, Sehun berusaha duduk diatas ranjang, Kyungsoo meletakkan mangkok bubur itu diatas meja kecil dan membantu Sehun bersandar pada kepala ranjang.

 

“Hyung, makan dulu. Aku sudah membuatkanmu bubur.” Kyungsoo mengambil bubur hangat buatannya dan mengaduk perlahan. Sehun tersenyum manis dan mengangguk, ia tampak pucat. Sebenarnya Sehun juga heran mengapa ia bisa langsung demam padahal kondisi tubuhnya tidak buruk kemarin.

 

Pelan Kyungsoo menyuapi Sehun, mereka diam tidak memulai pembicaraan apapun. Kyungsoo memang anak yang lurus, ia mungkin saja tidak mau mengganggu Sehun yang sedang makan. Apalagi namja tampan itu sedang sakit.

 

“Sudah menelpon.. hyung-mu?” tanya Sehun saat Kyungsoo kembali menyuapinya.

 

Kyungsoo menggeleng pelan. “Belum. Rencananya setelah aku manyuapi hyung… aku akan menelpon Luhan-hyung.”

 

“Kau nampak khawatir.”

 

“Hyung tahu aku khawatir? Tentu saja.. Luhan-hyung kini entah berada dimana dan.. kau sedang sakit.” Namja manis itu nampak sangat sedih sekali. Sehun tersenyum dan mengusap rambut Kyungsoo sayang.  

 

“Telponlah hyung-mu, aku bisa makan sendiri. Aku tidak suka melihat wajah cemasmu, sayang.” Sehun mengambil mangkok dari tangan Kyungsoo.

 

“Hyung selalu mengerti tentangku.” Kyungsoo mengangguk cepat kemudian mencium pipi Sehun sesaat. Tanpa menunggu, disana juga Kyungsoo mengambil smartphone didalam saku celemeknya dan menghubungi ponsel Luhan.

 

Sehun memperhatikan Kyungsoo sembari terus menyuap bubur lezat tersebut. Desahan pelan terdengar dari bibir tebal namja manis itu saat sambungan telponnya tak kunjung diangkat Luhan. Ia mengulangi hingga nyaris 5 kali dan hasilnya tetap sama. Luhan tidak mengangkatnya.

 

“Coba lagi.” Saran Sehun menghentikan acara makannya karena ikut cemas.

 

Kyungsoo mengangguk dan mengikuti saran Sehun. Wajah Kyungsoo bertambah cemas karena Luhan tetap tidak mengangkat telponnya.

 

 

Trek

 

“…N..Ne?”

 

“Hyung!!” teriak Kyungsoo saat Luhan akhirnya mengangkat telponnya. Sehun menghela nafas lega saat Luhan akhirnya mengangkat telpon Kyungsoo.

 

“W..Wae? Aku.. masih mengant…tuk…” suara Luhan terdengar tidak jelas. Membuat Kyungsoo mengerutkan dahinya. Ia tahu, Luhan masih setengah sadar.

 

“Hyung belum bangun? Hyung sekarang ada dimana? Kau baik- baik saja, kan? Kau jadi menginap dirumah kenalanmu itu? Jam berapa hyung pulang?” tanya Kyungsoo beruntun tanpa kesabaran.

 

“Mwo..ya? Apa.. yang kau..tanyakan? Aku menginap di hotel…. bersama namja mesum itu… aahh.. tadi malam kami melakukan hal hebat hingga aku sangat lelah… dia benar- benar membuatku berteriak..”

 

Kyungsoo membulatkan matanya. “H..Haaa? Hyung, kau bicara apa? Menginap di hotel dengan kekasihmu? Melakukan hal hebat hingga kau lelah dan berteriak? Apa maksudmu, hyung?!!”

 

“Kyungsoo… aku mau tidur lagi. Nanti aku telpon kau… pay pay! …. TREK”

 

“Hyung! Aissh!! Luhan hyung memang seperti ini! Kalau sudah tidur akan sulit sekali bangun.” Geram Kyungsoo mengingat tingkah Luhan baru saja.

 

Lain dengan Sehun yang… terdiam kaku. Matanya membulat sempurna, dadanya sesak dan ia benar- benar berbohong jika tidak memikirkan perkataan Luhan .. ah maksudnya perkataan Luhan yang diulang Kyungsoo. Tunggu… Luhan menginap di hotel bersama kekasihnya?

 

Benarkah?

 

“…Kyungsoo.. hyung-mu sudah memiliki seorang kekasih?” tanya Sehun berusaha tenang.

 

“Entahlah, hyung. Aku juga tidak tahu, hanya mengira saja.. tadi Luhan-hyung juga mengatakan bahwa.. ia menginap di hotel bersama namja.. mesum..aaah!! Aku tidak tahu. Sebenarnya Luhan hyung sedang bersama siapa!” Kyungsoo memegang keningnya dan menutup mata. Dia cemas! Tentu saja, Luhan entah berada dengan siapa? Ia takut hal buruk terjadi dengan Luhan.

 

“Hyung-mu.. pasti baik- baik saja.” Sehun mencoba menenangkan Kyungsoo. Padahal dirinya sendiri nampak amat sangat cemas dan kebingungan. Hingga tangan Sehun bergetar hebat akibat menahan perasaan cemas itu.

 

“Hyung, istirahatlah! Tanganmu gemetaran.. kau baik- baik saja? Kau pucat!” keadaan Sehun malah memperburuk paerasaan Kyungsoo. Sungguh, Sehun terlihat pucat sekali.

 

Sehun terdiam dan tersenyum kaku. “Sepertinya.. aku memang butuh istirahat.”

 

 

 

 

Jongin masuk kedalam kamar hotel dan menenteng sebuah kantung plastik lumayan besar. Sebuah payung yang baru saja ia beli nampak sangat basah, ia letakkan payung itu dikamar mandi kemudian meletakkan kantung besar itu dimeja. Ia gantung jaket yang ia gunakan tadi karena lumayan basah.

 

“Haaah..” desah Jongin saat melihat Luhan kini tertidur dengan posisi yang.. memprihatinkan. Kepala dan tangan Luhan sudah berada diawang- awang antara ranjang dan lantai. Kedua tangan Luhan bahkan sudah menyentuh lantai. Selimut namja mungil itu untung hanya tersibak hingga lututnya saja.

 

“Hebat! Bahkan kau bisa tidur dengan cara yang paling tidak masuk akal seperti itu.” Jongin berjalan kearah Luhan. Sempat Jongin sangka Luhan habis menggunakan ponselnya karena Luhan menggenggam ponsel. Penuh kesabaran Jongin meletakkan ponsel Luhan diatas meja nakas dan kembali mengangkat tubuh Luhan, memperbaiki posisi tidur Luhan agar kembali nyaman.

 

“Hyung.. bangunlah. Lebih baik kau sarapan.” Ujar Jongin pelan dan memegang pundak namja cantik yang kini masih betah dialam mimpi.

 

“Luhan-hyung! Ini sudah jam setengah 9 dan lebih baik kau bangun untuk sarapan!”

 

“Hmm…” Luhan menggeliat dan membalikkan posisinya membelakangi Jongin yang duduk ditepi ranjang.

 

“Ya! Hyung!!” Jongin masih berusaha membangunkan Luhan dengan cara yang baik. Jika ia habis kesabaran mungkin ia akan menggendong tubuh Luhan dan memasukkannya kedalam bath tub. Namun Jongin tentu tidak setega itu, apalagi diluar badai.

 

Jongin mendesah pelan dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Luhan, ia tatap punggung namja mungil itu. menatap tengkuk putih Luhan yang memerah, ujung rambut yang ada dileher Luhan dan pundak sempitnya yang kurus.

 

Grep

 

Jongin tiba- tiba memeluk tubuh Luhan dari belakang. Tubuh Jongin terasa dingin karena ia sempat kehujanan diluar tadi. Ia rasakan hangat menyeruak dari tubuh Luhan, nyaman sekali. Jongin mengeratkan pelukannya hingga tidak sengaja hidung mancungnya menyentuh tengkuk Luhan. Menciumi aroma hangat khas tubuh namja cantik itu.

 

Tangan kekarnya sudah mengikuti lekukan tangan kurus Luhan, menyentuhnya perlahan dan menggapai punggung tangan namja manis itu, menyisipkan jemari besarnya diantara tulang jari Luhan. Jongin begitu terlena hingga tidak sadar ia menutup matanya pelan. Ia eratkan pelukannya hingga tidak ada batas diantara mereka.

 

 

 

“Jong..in..” desis Luhan pelan.

 

Ternyata namja cantik itu sudah bangun –terbangun- karena pelukan intim Jongin. Luhan merasakan dadanya terbakar saat Jongin kembali menyentuhkan hidungnya tepat ditengkuk Luhan. Membuat namja manis itu menggeliat tidak nyaman.

 

“Dingin.. hyung.” Bisik Jongin pelan sekali.

 

Dingin? Ya.. Luhan merasakan kulit Jongin yang dingin, namun nyaman sekali. Luhan perlahan mengarahkan kepalanya kebelakang, menatap Jongin taat. Luhan reflek membalikkan tubuhnya dan matanya masih menatap namja tampan itu. Kini mereka berhadapan, membiarkan wajah mereka dekat dalam jarak yang amat tipis. Hembusan nafas mereka saling bersiteru, seperti mengaitkan ikatan mereka. Hidung mereka saling bersentuhan sedangkan tangan Jongin masih mengurung Luhan.

 

Diam.

 

Kedua namja itu diam seakan tidak ingin merusak ketaatan tautan mata mereka. Jongin seakan mencari sesuatu dimata Luhan dan begitu pula sebaliknya. Mata bulat itu mengerjap lucu, sesaat ia tampak bingung namun sesaat lagi wajahnya  memerah malu. Jongin tersenyum manis melihat tingkah Luhan.

 

“Luhan-hyung… kau cantik sekali.”

 

DEG

 

Luhan kemudian mengalihkan tatapan matanya ketempat lain dan menggigit bibir bawahnya. Membuat Jongin tersenyum tipis dan memegang dagu namja cantik itu agar ia kembali menatap Jongin. Kembali tatapan mata mereka tertaut dan kali ini lebih dekat. Bahkan bibir mereka nyaris bersentuhan.

 

“Hyung tahu? Aku.. tidak pernah tertarik dengan namja seperti apapun sebelumnya. Secantik apapun mereka.. semua tampak sama dimataku. Namun… hyung berbeda.” Bisik Jongin tenang.

 

DEG

 

Wajah Luhan semakin memerah. Ia terhanyut, sungguh. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun untuk mencegah perbuatan Jongin yang kini bergerak mengurungnya. Jongin berada diatas tubuh Luhan, tetap Jongin tidak menghimpitnya, ia menumpu kedua tangannya diantara pundak dan ceruk leher namja cantik itu. Membuat pandangan Luhan hanya satu arah. Yaitu keatas… mata Jongin.

 

Selimut sudah tersibak dan kaki Luhan kini berada diantara kaki panjang Jongin. Tidak berkutik, Luhan hanya menggigit bibir bawahnya. Ia beberapa kali dibuat sadar dengan sosok namja tampan yang kini mengurung dirinya diatas ranjang.

 

“..kau.. mau apa?” Luhan berbisik amat lirih. Kenapa ia tidak bisa berteriak? Padahal alaminya jika ia diperlakukan seperti itu, Luhan akan melawan. Siapa yang tidak tahu watak keras namja cantik itu! Tetapi kenapa ia merasa lumpuh… saat menatap mata tajam Jongin? Hanya suara lirih yang bisa ia pamerkan.

 

Jongin menggeleng dan tersenyum manis. “Hyung.. bagaimana kalau aku jujur padamu.”

 

“Eh?” Luhan tidak mengerti maksud Jongin.

 

“Sebenarnya… sejak 2 tahun lalu… aku memutuskan untuk tidak serius pada satupun namja yang mengikat hubungan denganku…tapi kini aku menemukan kembali sesuatu yang membuatku ingin serius.”

 

Luhan masih belum mengerti. “Maksudmu?”

 

Mata tajam itu kini lebih terlihat tajam. Keseriusan membuat Luhan kembali terhenyak dalam pandangan mata indah yang memikat. Jongin sungguh sangat tampan dan kuat.

 

“Bagaimana ini, hyung? Aku … aku menyukaimu.”

 

 

 

Continue

 

 

Huahahaha jangan bunuh gue #berlindung dibalik Tao

Adegannya jelek bgt yah *mian

Aku baru belajar buat semut semut.. gagal tapi nampaknya -_-

Kalau berkenan tinggalkan pesan mksudnya comment hahaha #nodong bareng Luhan

Hay para hantu, gak mau kenalan ama hyobin emg? #TOLONG ABAIKAN INI

Okesip! Saya orang baik makanya suka berteman. Kalau ada yg gak seneng ama FF saya, yah jgn susah- susah baca trus review menjatuhkan. Tinggalkan saja WP ini dan bye bye!! Sip!

Tp buat review membangun se JLEB apapun saya terima!! Bukannya mem-BASHING ya! ITU BERBEDA WOOOY! BEDA!

 

#bow bareng Chanyeol

#ampe sekarang masih berharap adanya taoris moment T^T *abaikan*

Adios!!

 

PS: gue bakal sibuk praktikum lagi. Maaf kalau update bakal sebulan sekali (Mungkin).  

177 thoughts on “TRUST Chapter 3

  1. di hotel bersama namja mesum dan membuatnya berteriak?? wkwkwkw itu pasti sehun mikir yang engga2 tuh…..
    wwaaahh kai~ bagaimana ini hyung, aku menyukaimu,,, tssaaaa
    luhan jawab apa nih kkkkk

  2. Whoaaaa kailu kepantaiiiiiiiii~
    jongong *tatap kai serius*
    entah kenapa rasanya karakter lu di sini dewasa banget, berasa terharu ngeliat lu yang makin besar cu *gubraak

    “selamat datang juga luhan yang baru”😀😀
    seneng liat rusa udah agak legaa an setelah ngeluarin unek”(?)nya waktu berteriak di pantai
    thanks to jongong

    hyobin-sama~
    scene(?) kailu di hotel maniiis banget masa, saya sampai senyam senyum sendiri bacanya
    tapi lega juga, untung banget jongong ga nyerang rusa serius, kau benar benar hebat jongong, bisa menahan pikiran” ‘itu’ dari kepala lu yang mesuman xDD
    jongong : perasaan lu yang mesum deh nek(?) -.-a

    ini satu yang bikin saya ngakak, pas bagian kyungsoo ngambil handphonenya, saya pikir hp.a diletakin di saku baju, eh ternyata di saku celemek xDDD

    ckckckck
    deer, kebiasaan tidurmu perlu di perbaiki sayang, bisa gawat kalau ntar makin parah(?)

    MWO~
    kyaa jongong ngakuin perasaannya? Konfes konfes(??) nih

    hyobin-sama
    chapter ini juga daebak, selalu daebak n manisss
    suka banget smut smut gula merahnya *maksudnya(?) /abaikan/
    lanjuut

  3. Wawkkwkwkwk
    NGAKAK PARAH
    satu pertanyaan
    ‘kok bisa ya ?’
    tidur dengan posisi yang keren banget
    hahahaa
    mesum emang udah jadi predikatnya jongin -_-
    dan … Sehun !
    Elo … ! Hati2 aja ye , nyeselnya ntar belakangan
    * ehem sorry ya bihun harus kena getahnya
    tapi tetep genteng kok *ditimpuk

  4. Huahaaaa..huahaaaaa
    Tolong siram sayaaa,megap-megap,gak nahannnn,KaiLuuu,ughhh !!,kalian bikin saya seperti naik kora-kora,emosi di ayun-ayun naik turun kaya yoyo “plakk”.
    Errrrr,entah malah berharap terjadi iya-iya sama mereka,walau terjadi ikatan apapun,tapi aku mereka tuh soulmate kkkkk..
    Perasaan Sehun,masih ambigu,cemburu dlm arti cinta?,mengagumi atau beneran suka DO,labil ekonomi.
    Beneran suka fic nya Chingu,hurt nya berasa,romancenya terkesan natural,konflik yg pas,kereenn..

  5. hahahaha.. luhan luhan..😄 pasti sehun kaget ngedenger pernyataannya Luhan hihihi😄 rasain tu sehun!
    aduuhh Kai mesumnya kambuh -____-
    jangan sampe mereka ngelakuin ituuu..

  6. Terimaaaaaaaaaa…. Aduh. Deg degan banget baca pernyataan cinta abang kai. Cepetan ah…terima aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s