Silent Eyes Chapter 4

Silent Eyes

CHANBAEK – KAIBAEK FanFiction

silent eyes poster 

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Jongin

Main Pair : ChanBaek – Kaibaek

Other : Lu Han – Oh Sehun – Wu Fan / Kris – Huang Zitao / Tao – Do Kyungsoo – Kim JoonMyeon / Suho

Other Pair : HunHan / TaoRis / SuDo / KaiHan

Genre : Angst , Drama, Romance, School Life, Hurt, Tragedy

WARNING : YAOI / BL/ BOY X BOY / BOYS LOVE

 

FOR 15+ ONLY

 

Dont read my fanfiction if you dont like I used your bias with my own create character ^^

Thanks and Iam so sorry #bow

 

HOY PARA HANTU, I WARN YOUUUUUU!!!! *kick bareng Xiumin, Lay dan Suho*

 

Malam akan nampak indah jika kau ada didekatku

Malam…

Benar, karena bagiku setiap hari hanya akan ada ‘Malam’

Gelap tanpa cahaya sama sekali

Maukah… jika kau izinkan…

Kau menjadi matahariku?

Kumohon.. sebentar saja?

 

 

Chanyeol melempar ponselnya keras keatas ranjangnya, ia menggaruk kasar kepalanya hingga ia sedikit meringis. “Apa- apaan ini?! Besok aku akan pindah ke China?!”

 

Part 4

 

Namja tampan bertubuh tinggi bak model profesional itu berjalan keluar dari gedung bandara. Ia mengunyah sebuah permen karet dan mengenakan kacamata hitam. Pakaian yang ia kenakan hanya kemeja berwarna biru muda namun tidak dikancingi, mengekspos kaos dalam berwarna putih yang ia kenakan. Jeans berwarna hitam nampak cocok sekali membalut kaki jenjangnya. Rambut berwarna karamel serta wajah tampan… sungguh penampilan yang sempurna.

 

Namja tampan itu kemudian melirik jam tangannya dan menyetop sebuah taksi. Ia masuk kedalam taksi dan berbicara menggunakan bahasa China yang.. cukup bagus walau terdengar agak kaku. Kemudian namja tampan itu menghela nafas lega saat sang supir taksi mulai membawanya menuju alamat apartemen barunya.

 

“Mungkin aku harus sedikit bersyukur pernah mengikuti ayah tiriku yang tinggal di China sewaktu aku kecil.” Ujar namja itu lega, ia tatap pemandangan kota yang amat berbeda namun tidak terlalu asing. Ia menghela nafas pelan dan menghidupkan ponselnya yang sempat OFF.

 

Tepat saat smartphone miliknya sudah menyala, beberapa SMS atau pesan singkat masuk kedalam smartphone-nya.

 

—————————————

From : XXXXXXX

Text:

 

Aku sudah mengirimkan alamat sekolahmu dan alamat apartemen ‘Byun Baekhyun’ tinggal. Jadi kau tuntaskan masalahmu dengan benar, anak bodoh ! Aku paling benci namja yang lari dari tanggung jawabnya. Jika kau tidak melakukannya dengan benar, jangan panggil aku kepala jaringan perdagangan gelap seluruh Asia, Park Chanyeol.

Aku sendiri yang akan memecahkan kepalamu dan memberikan mayatmu pada Byun Baekhyun.

Oemma mencintaimu :***

PS: Simpan nomor oemma! Harus berapa kali aku katakan padamu!

 

—————————————–

 

 

Chanyeol, merasakan bulu kuduknya berdiri setelah membaca pesan dari ibunya. Bahkan ibunya itu sudah tahu siapa nama anak yang tidak sengaja ia perkosa. Sungguh, ibu Chanyeol tidak bisa diremehkan.

 

Ia meneguk kasar liur dan menyimpan kembali smartphone itu masuk kedalam saku celana. “Setelah dia mengancam akan membunuhku kemudian dengan santai ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.. sudah kuduga.. dia wanita yang mengerikan!!” desis Chanyeol melihat tingkah ibu kandungnya.

 

Namun setelah itu Chanyeol membuang pandangannya kembali keluar jendela, menikmati pemandangan yang amat ramai diluar sana. Lalu tersenyum manis sekali. “Setidaknya… aku tidak menyesal. Selamat datang di China, Park Chanyeol.”

 

 

†††

 

 

Jam istirahat.

 

Kai menghela nafas lega saat Lau shi (guru) mereka keluar dari kelas. Pelajaran yang baru saja mereka pelajari adalah pelajaran kesenian, mungkin jika menggunakan bahasa Korea pelajaran itu akan terkesan santai namun karena menggunakan bahasa China, jujur saja konsentrasi Kai benar- benar harus berlipat agar ia tidak ketinggalan dengan penjelasan sang guru.

 

“Syukurlah! Ini sudah hari ketiga kita bersekolah disini.” Ujar Kai pelan sekali pada Baekhyun yang duduk disampingnya. Bersyukur sekali disekolah itu susunan duduk para siswa adalah 2 orang per meja. Jadi tidak menyulitkan Kai saat membantu Baekhyun dalam melakukan sesuatu.

 

“Kai capek? Hihi..” Baekhyun tertawa pelan.

 

“Tidak! Aku hanya terlalu berkonsentrasi hingga tubuhku agak … lemas.” Sebisa mungkin Kai menekan rasa lelahnya karena ia tidak mau Baekhyun merasakan betapa lelahnya namja tampan itu. Kai tidak mau membagi energi buruknya pada Baekhyun. Takut Baekhyun juga merasakannya.

 

“Bahasa China Kai ternyata bagus, ya.” Mulai Baekhyun seraya memutar tubuhnya pelan agar menghadap pada Kai yang masih merebahkan kepalanya diatas meja. Tetap saja mata Baekhyun menghadap lurus kedepan. Mata yang diam tidak menerima cahaya.

 

“Aku sempat belajar bahasa itu beberapa tahun dan…” Kai terdiam sesaat. “..Mantan kekasihku adalah orang China. Jadi.. begitulah.”

 

Mata kosong Baekhyun mengerjap pelan. “Mantan.. kekasih?”

 

Kai seketika itu menegakkan kepalanya dan menatap wajah cantik Baekhyun yang ia rasa sedikit tertekuk dan nampak terkejut. “Ya.. hanya mantan kekasih. Kenapa? Wajahmu tiba- tiba pucat?”

 

“Ti..Tidak.. haha.. aku hanya sedikit berfikir.. ternyata banyak hal yang aku tidak… ketahui tentang Kai.” Senyuman tipis Baekhyun membuat namja tampan itu sedikit terkesiap. Oh Tuhan, Baekhyun itu murni sekali. Dia lugu dan begitu jujur.

 

Kai tersenyum manis dan menggenggam kedua tangan Baekhyun erat. “Apa yang ingin Baekhyun ketahui tentangku? Aku akan menjawabnya.. apapun itu.”

 

DEG

 

Wajah Baekhyun memerah dan ia menunduk malu. “Maaf, Kai. aku tidak bermaksud… mencampuri urusanmu.. maaf aku sudah egois sekali.”

 

“Tidak. Kau tidak egois.. nah.. ada yang ingin kau tanyakan, cantik?” Kai mengusap wajah Baekhyun halus.

 

DEG

 

Kembali Baekhyun merasakan dadanya bergemuruh. Setiap perlakuan Kai yang begitu manis padanya, memujinya dengan kalimat halus dan menenangkan, membuatnya merasa begitu kuat karena ucapan dan berbagai perkataan sederhana dari Kai.

 

Baekhyun tidak bisa melihatnya, namun Baekhyun tahu dan bisa merasakan bahwa Kai kini tengah tersenyum lembut sekali kearahnya. Wajah Baekhyun seketika itu terasa panas dan ia terlihat salah tingkah.

 

“Kai! jangan menatapku… seperti itu.”

 

“Kau tahu aku sedang menatapmu? Kau benar- benar banyak kemajuan, Baekhyun. Kurasa kau jauh lebih peka akhir- akhir ini.” Kai dengan lembut mengusap rambut Baekhyun.        

 

“Semua berkat Kai.” Baekhyun mengangguk pelan. Ia kembali merasakan dadanya bergemuruh saat berada didekat Kai. Membuatnya merasakan sebuah perasaan nyaman namun gelisah. Sejujurnya Baekhyun belum pernah menjalin hubungan cinta dengan siapapun. Ia belum pernah memiliki seorang kekasih ataupun merasakan yang namanya jatuh cinta.

 

Kai melihat rona merah terlukis indah diwajah cantik Baekhyun, entah mengapa dada Kai juga bergemuruh. Seakan baru saja Baekhyun memompa jantungnya agar berdetak tidak karuan. Perlahan Kai menggaruk rambutnya, salah tingkah.

 

“Hmm.. bagaimana kalau… kita makan.” Ajak Kai akhirnya.

 

Baekhyun mengangguk pelan menyetujui ajakan Kai. Dengan hati- hati Baekhyun berdiri dari posisinya, diikuti oleh Kai yang menuntut Baekhyun agar berjalan tidak tertabrak bangku murid- murid lain. Beberapa orang murid dikelas itu berpesan pada Kai agar berhati- hati membimbing Baekhyun. Sungguh baik sekali murid- murid kelas itu, bahkan salah satu temannya membukakan pintu untuk Baekhyun dan Kai saat mereka akan keluar kelas.

 

Kai tentu berterima kasih pada anak itu dan kembali membimbing Baekhyun menuju kantin. Teman- teman sekelas mereka sungguh kagum dengan semangat Baekhyun dan Kai yang selalu menjaga Baekhyun. Maka dari itu, walau sedikit saja, mereka ingin membantu.

 

 

“Jalan terus.. tidak apa- apa. Aku disampingmu. Nah.. disebelah sini kelas—“

 

“Kelas 3. Aku sudah ingat, Kai.” Baekhyun tersenyum manis.

 

“Wah! Kalau begitu…” Kai memegangi tangan Baekhyun, agar langkah Baekhyun sedikit lebih cepat. “.. disini apa?”

 

Baekhyun kembali tersenyum. “Perputakaan, bukan?”

 

Kai kembali mengerjapkan matanya. “Hey, kau benar- benar pintar mengingat, Baekhyun. Kita baru 2 kali melewatinya dan itu tidak berurut. Namun kau sudah hapal?”

 

“Karena Kai selalu pelan- pelan dan tidak terburu- buru. Aku jadi tenang.. mungkin karena hal itu aku jadi mudah mengingatnya. Aku menghitung langkah kaki… menghapal udara dengan kulitku dan merasakannya dengan nafasku. Semua menjadi satu padu dan itu membantuku dengan sangat, Kai.”

 

Kembali namja tampan itu terdiam ditempatnya. Menatap sang manusia mulia yang ia anggap bahkan tak khayal nya seorang malaikat. Ia mungkin sudah terbiasa bersama Baekhyun yang tidak bisa melihat, namun terus saja ia dikejutkan oleh kemajuan dan  perilaku Baekhyun yang benar- benar mencerminkan sebuah kegigihan dan kesabaran dalam hidup.

 

“Baekhyun.”

 

“Iya?” jawab Baekhyun dengan suara yang masih saja lembut dan senyuman manis. Seakan senyuman itu tidak luntur sama sekali walau bersanding dengan ketidak sempurnaan Baekhyun kini.

 

DEG

 

Kai merasakan lagi… getaran tidak biasa yang ia rasakan dari dalam dirinya. Hatinya… jantungnya… semua yang ada pada tubuhnya seakan terlonjak jika Baekhyun memperlihatkan sosok polosnya. Dia begitu jujur… jika ia tersipu, wajahnya akan merona dan jika ia malu… wajahnya akan terlihat sangat menggemaskan.

 

“Kai?” Baekhyun merasa Kai mulai melamun karena sejak tadi tidak bersuara.

 

“Ah!” Kai mengubah arah fokus matanya kesembarangan tempat. “Itu… ayo cepat.. kita kekantin.”

 

Baekhyun mengangguk walau ia bisa merasakan dari suara Kai, nampaknya Kai gugup atau gelisah. Dan sepertinya kemampuan perasa Baekhyun belum begitu tajam, karena Baekhyun tidak merasakan bahwa namja tampan yang kini berjalan bersamanya itu tengah bergulat dengan perasaannya yang makin tidak menentu jika berada didekat Baekhyun.

 

 

†††

 

 

Disebuah apartemen sederhana, namja tampan bertumbuh tinggi itu mendesah amat keras. Ia mulai mengeluh karena apartemen yang kini menjadi tempat tinggalnya di China jauh lebih sederhana daripada apartemen mewahnya di Korea. Memang apartemen itu bukan apartemen murahan atau kecil, namun tetap saja namja tampan bertubuh tinggi bernama Chanyeol itu menganggap apartemen ini kalah jauh.

 

“Nomor apartemenku… 007… dan— Mwo!!” mata bulat namja tampan itu semakin bulat saat melihat pesan singkat dari ibunya.

 

—————

-Apartemen Baekhyun dan apartemenmu sama! Dan nomor apartemennya 008 sedangkan kau 007.-

—————

 

Chanyeol mengerang sembari mendorong travel bag nya dengan amat gusar, memasuki lift menuju lantai 2 bangunan apartemen itu. Ia gelisah bukan karena hal lain, melainkan ia belum siap jika langsung dihadapkan dengan Baekhyun.

 

“Haaaa..” desah Chanyeol saat pintu lift terbuka. Ia kemudian berjalan menelusuri koridor apartemen itu sembari mengamati nomor apartemen pada tiap pintu.

 

Tap

 

Langkah panjangnya terhenti disalah satu pintu apartemen bertuliskan ‘007’. Chanyeol mendekatkan kartu kunci apartemen pada alat pendeteksi diganggang pintu. Secara otomatis pintu itu terbuka dan Chanyeol memasukkan travel bag-nya terlebih dahulu, namun Chanyeol masih berdiri didepan pintu apartemennya. Ia kemudian melirik pintu apartemen yang tepat berada disamping apartemennya.

 

Apartemen 008.

 

Ia meneguk liurnya kasar. “..Melihat pintu apartemennya saja, sudah membuatku ingin bunuh diri. Apalagi.. Agh! Sial!!”

 

Brak

 

Chanyeol masuk kedalam apartemennya lalu mengunci pintu. Ia menarik travel bag-nya dan masuk kedalam ruang tengah. Ia mencoba tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi kedepan. Dia mulai panik karena merasa semakin dekat dengan Baekhyun.

 

Dia panik?

 

Tentu saja! Yang akan ia temui itu bukanlah teman lama atau semacamnya. Yang akan ia temui adalah seorang namja yang tidak sengaja ia perkosa sebulan yang lalu dan apa yang harus ia lakukan jika sudah bertatap muka? Apalagi ia tahu bahwa namja itu mengalami kecelakaan setelahnya.

 

“Aishh!!” Chanyeol mendudukkan dirinya disebuah sofa.

 

Seperti yang ibu Chanyeol katakan, ia memang sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan perabot yang ada diapartemen itu sudah lengkap. Chanyeol mungkin termasuk namja yang beruntung karena memiliki seorang ibu yang peduli sekali padanya. Walau cara sang ibu kadang terlihat kasar dan terkesan seenaknya. Namun Chanyeol tahu betul, ibunya sudah berusaha untuk selalu membuat Chanyeol bahagia.

 

“Oh Tuhan! Apa yang harus kulakukan jika bertemu dengan Baekhyun? Apa dia akan memakiku? Melaporkanku pada polisi atau malah membunuhku?”

 

Chanyeol mendesah pelan. “Jinjja! Mengapa jadi serumit ini!!”

 

 

†††

 

 

Sepulang sekolah.

 

“Baekhyun! Kai!!” suara Tao menghentikan langkah kaki dua namja pemilik nama tersebut. Perlahan Kai membalikkan tubuhnya, diikuti oleh Baekhyun walau gerakannya jauh lebih lambat daripada gerakan Kai.

 

“Tao?” Baekhyun tersenyum manis saat ia merasakan tangan Tao menggenggam tangannya dengan lembut dan hangat.  

 

“Uwaa! Baekhyun tahu kalau ini aku?” Tao mengerjapkan matanya kaget.

 

“Tentu saja! Kita kan bertemu setiap hari dan jangan lupakan kalau kita sudah berteman sejak 3 hari yang lalu, Tao. Aku sudah menghapal suara dan sentuhan Tao.” Baekhyun terkekeh pelan.

 

Kai mengangguk. “Ingatannya luar biasa, Tao. Jadi tidak heran jika ia mengetahuimu walau baru pertama kali bertemu. Baekhyun memang sangat pintar dan cepat mempelajari situasi.”

 

Tao tersenyum begitu manis hingga terlihat seperti kucing kemudian memandangi wajah Baekhyun yang masih tersenyum lembut. Mungkin Tao juga merasa kagum pada namja cantik itu. “Hmm.. aku ingin mengajak Baekhyun dan Kai makan direstouran Jepang. Ini sebenarnya ajakan Kris.”

 

“Kr—Kris?” tanya Baekhyun bingung. “Siapa?”

 

“Kris ge.. ah, kini aku memanggilnya Kris-hyung. Ia adalah teman kakakku. Selama ini aku tinggal dirumah Kris hyung dan… Tao adalah.. err.. kekasih Kris hyung.” Jelas Kai sembari tersenyum tipis. “Aku belum mengatakan padamu, ya?”

 

“Kekasih Tao?” wajah Baekhyun entah mengapa merona merah. “Tao sudah memiliki seorang kekasih? Benarkah?”

 

“I..Iya. Wa—Walau dia sudah bekerja namun umurnya masih 20 tahun… err.. tapi itu tidak penting. Kalian mau ikut, kan? Kris akan menjemput kita 5 menit lagi. Tenang saja, Kris yang membayar semuanya.” Tao mengayun pelan tangannya yang masih menggengam tangan Baekhyun.

 

“Kalau tidak keberatan..” Baekhyun mengangguk. “.. aku mau ikut.”

 

“Tentu saja! Uwaa! Kita akan makan yang banyak kemudian memesan berbagai makanan mewah yang mahal. Pokoknya Baekhyun jangan sungkan! Kita buat Kris kewalahan membayar makanan yang akan kita pesan dan..” Tao terus saja berceloteh. Ditanggapi dengan anggukan dan tawa riang dari Baekhyun.

 

Kai memperhatikan wajah Baekhyun yang merona merah karena tertawa sejak tadi. Tao memang anak yang amat ceria dan Baekhyun terlihat nyaman berada didekat Tao. Membuat Kai kembali lega karena Baekhyun tidak akan pernah sendirian walau dunia yang ia lihat hanyalah dunia kegelapan yang hitam.

 

Kasih sayang.. Kai akan mengusahakan apapun agar Baekhyun tidak akan pernah berfikir kekurangan hal tersebut. Dukungan dari lingkungan Baekhyun juga sangat kuat dan tidak terputus, seakan Tuhan selalu menjaga agar Baekhyun terus merasa pertolongan akan selalu datang padanya.

 

Kai merangkul pundak Baekhyun, membuat Tao menghentikan celotehnya tentang mengerjai Kris sejak tadi. Tatapan mata Tao dan Kai tertaut ketika itu, membuat Tao akhirnya tersenyum lembut kearah Kai. Seakan menangkap ungkapan terima kasih yang Kai ucapkan pada Tao dari dalam hati.

 

Kemudian ketiga namja itu berjalan bersama menuju gerbang sekolah, Tao kembali berteriak girang saat melihat mobil sport besar milik Kris sudah tiba didepan gerbang. Sedangkan Kai dengan sangat tenang menggenggam tangan Baekhyun. Ia berdoa.

 

Semoga kebahagiaan seperti ini selalu melingkupi Baekhyun, Tuhan. Jangan buat kebahagiaan ini hanya sesaat.” Harap Kai didalam hati.

 

 

†††

 

Jika rasa ini mengikat kita jauh lebih dalam..

…bisakah kita lupakan saja?

Bisakah kita anggap hal itu adalah kewajaran?

Aku akan berusaha menyimpan rasa cinta itu sekuat tenaga..

.. namun bersediakah kau melakukan hal yang sama?

 

Agar kau tidak tersakiti jauh lebih dalam?

 

Kumohon…

 

 

†††

 

 

“Baekhyunnie.. kau mau tambah? Ice cream strawberry disini sangat lezat!!” ujar Tao dengan wajah ceria. Padahal ia belum menghabiskan makanannya sama sekali. kris hanya tersenyum melihat tingkah Tao yang mengunyah dengan semangat sambil memakan makanannya.

 

“Benarkah?” Baekhyun mengerjapkan matanya tanda ia senang sekali. Ia begitu menyukai ice cream. Apalagi rasa strawberry. Kai tersenyum manis dan mengusap rambut Baekhyun pelan. Jika melihat Baekhyun tersenyum manis seperti itu, ia seakan bisa melakukan apapun untuk Baekhyun.

 

“Tidak apa- apa.. jangan sungkan. Aku akan menyuapimu nanti.” Bisik Kai lembut sekali. Wajah Baekhyun entah mengapa jadi sangat memerah. Jika ia makan, ia lebih suka disuapi oleh Kai daripada makan sendiri. Sekarang saja, Kai sedang membantu Baekhyun memakan tempura-nya.

 

Mereka berempat kini sedang menikmati santap siang.. ah tidak juga karena hari sudah sore.. disebuah restouran keluarga, Restouran Jepang tepatnya. Kris sengaja memesan ruangan khusus untuk mereka berempat. Agar mereka berempat bisa makan dengan leluasa. Karena restouran itu adalah restoran khas Jepang, mereka tidak duduk dikursi melainkan dilantai dengan bantal duduk. Karpet hijau dengan aroma green tea yang hangat membuat ruangan yang tertutup itu sangat nyaman. Restouran itu sangat mewah.

 

 

“Kalau mau memesan silahkan saja, Baekhyun-sshi. Tapi untukmu Tao, aku sarankan kau jangan terlalu banyak makan, kau bisa muntah.” Kris mencubit lembut pipi kenyal Tao dan memberikan segelas air putih pada namja manis itu. Tao hanya mencibir pada Kris sembari meminum air putihnya. Kris tentu saja tahu bagaimana kapasitas lambung kekasihnya.

 

“Terima kasih, Kris hyung.” Baekhyun tersipu malu, mungkin ia malu memesan makanan lagi. Padahal yang ia inginkan hanyalah sebuah ice cream. Aigoo, polosnya namja cantik ini.

 

klek

 

Seorang pelayan masuk kedalam ruangan mereka, kemudian kembali mencatat apa saja yang dipesan Tao dan Baekhyun. Kai dan Kris nampaknya sudah tidak sanggup lagi menambah ruang lambung mereka. Berbeda dengan dua namja cantik yang kini asyik memesan berbagai makanan ringan. Lebih tepatnya Tao, karena Baekhyun hanya memesan ice cream strawberry. Setelahnya sang pelayan keluar dari ruangan.

 

“Kai yakin tidak ingin sesuatu?” tanya Baekhyun lembut pada Kai yang duduk disampingnya.

 

“Tidak. Aku sudah tidak kuat.” Tolak Kai halus. “Aku akan membantumu makan saja nanti.”

 

Baekhyun mengangguk kemudian menggerakkan tangannya seakan ingin menggapai sesuatu. Kai mengerutkan keningnya. Ia raih tangan Baekhyun perlahan lalu menggenggamnya. Seketika itu namja manis berparas malaikat tersebut tersenyum amat manis, membuat Kai terkesiap.

 

“Kai tahu aku ingin meraih tanganmu?”

 

“Ah.. tidak juga. Aku ingin membantumu… memangnya kenapa kau ingin meraih tanganku?”

 

Baekhyun melepas genggaman Kai dan kini ialah yang menggenggam tangan Kai, membuat namja tampan itu bingung. Mereka hanya berdua saja dimeja makan yang berbentuk seperti kotatsu besar tersebut. Kris dan Tao sedang memperhatikan aquarium lumayan besar disudut ruangan. Terlihat Kris yang sibuk melarang Tao untuk memasukkan tangannya ke aquarium.

 

Dan hal itu membuat kedua namja yang duduk ditempatnya masing- masing sedikit merasa canggung, padahal mereka biasa bersama. Namun ada sesuatu yang berubah dalam diri mereka. Seiring berjalannya waktu dan rasa terbiasa, membuat sebuah perasaan tulus dan murni tumbuh.

 

Mereka diam, bukan berarti tidak melakukan sesuatu. Baekhyun menggenggam erat tangan Kai sedangkan Kai sedari tadi memperhatikan wajah merona Baekhyun yang begitu manis. Mereka hanyut. Sebelah tangan Kai yang bebas mulai bergerak menyentuh pipi merah Baekhyun. Membuat si manis tersenyum malu.

 

DEG

 

Kai membulatkan matanya saat itu. Sesuatu menghantam keras hati dan jantungnya. Seketika itu Kai memucat. Ia menjauhkan tangannya dari pipi Baekhyun dan melepas tautan tangan mereka dengan halus, sebelum Baekhyun menyadari getaran tangan Kai.

 

“Kai?” tanya Baekhyun ternyata merasakan perubahan sikap Kai. Samar sekali ia merasakan perasaan takut Kai, dan sepertinya Kai lagi- lagi menekan perasaannya agar Baekhyun tidak merasakan kegelisahannya. Walau tidak terlalu berhasil karena Baekhyun merasakannya. Baekhyun merasakan keanehan sikap Kai yang tiba- tiba.

 

“Aku… ketoilet dulu, Baekhyun.” Kai menepuk pelan rambut Baekhyun sayang. “Tao, bisakah temani Baekhyun sebentar? Aku ingin ketoilet.”

 

Tao yang mendengar panggilan Kai tentu mengangguk dan berjalan kembali kearah meja makan, diikuti oleh Kris tentunya. Mana mau namja tampan itu lepas sedetik saja dari Tao.

 

“Ne~ pergilah. Aku akan menemani Baekhyun.” Tao tersenyum mantap memperlihatkan deretan gigi putihnya. Kris menyadari ekspresi wajah Kai yang lumayan pucat, namun ia diam saja. Sebenarnya ada maksud lain  mengapa ia mengajak Kai dan Baekhyun untuk makan bersama seperti ini.

 

“Tunggu sebentar, cantik.” Kai berusaha senormal mungkin berbicara dengan Baekhyun.

 

Baekhyun… merasakan pergerakan ditempat Kai duduk tadi, kemudian ia merasakan kekosongan. Kai pergi dan Baekhyun merasakan sesuatu yang amat aneh terjadi. Ia tahu tangan Kai yang bergetar hebat saat mereka masih bergenggaman tadi serta… perubahan suara dan suasana hati Kai yang Baekhyun rasakan… membuktikan bahwa Kai sedang gelisah.

 

Kai memikirkan sesuatu.

 

Kai pasti memikirkan sesuatu yang berat… dan Kai tidak bisa menyembunyikan hal itu… karena Baekhyun…. merasakannya.

 

 

†††

 

Kai berlari masuk kedalam toilet bersih restouran itu. Ia langsung menghidupkan air di kran wastafel dengan deras, membasuh wajahnya yang pucat berkali- kali hingga kerah baju seragam Kai sedikit basah. Ujung poni dan ujung rambut brunatte disekitar wajahnya juga nampak basah.

 

Setelah ia rasa kepalanya lumayan dingin, Kai menghentikan tangannya yang dari tadi bergerak serta mematikan air kran. Ia tatap wajahnya dikaca besar, memperlihatkan wajah tampan yang pucat dan sedikit berantakan.

 

“Pantaskah.. kau berfikir seperti itu, Kim Jongin? Pantaskah jika kau… seorang pendosa yang menuntun namja itu kedunia kegelapan… berfikir untuk mencintainya?”

 

Kai memejamkan matanya sesaat, meresapi dinginnya air yang masih berada dipermukaan kulit wajahnya. “Tidak.. aku sama sekali tidak pantas… menyukainya. Keberadaanku hanya untuk membimbingnya.. aku tidak akan pantas bersamanya. Sungguh tidak tahu diri!!”

 

Terus saja namja tampan itu memaki dirinya sendiri. Membantah sekuat yang ia bisa, perasaan yang tumbuh untuk Baekhyun.

 

Kenyataan.

 

Hal itulah yang membuat Kai takut jika nantinya benar- benar mencintai Baekhyun. Ia adalah namja yang membuat Baekhyun kehilangan cahayanya dan.. jika nanti mereka bersama, apakah Kai yakin bisa hidup dalam kebohongan selamanya? Kebohongan atas kelakuan yang telah ia lakukan pada Baekhyun. Sampai kini, Baekhyun sama sekali tidak tahu atas kenyataan bahwa… Kai yang menabraknya hingga buta.

 

Saat Baekhyun tahu akan kenyataan itu nantinya.. apa Kai sanggup menerima cercaan Baekhyun?

 

 

Kai bertekad.. dirinya hanya mata Baekhyun.

 

 

Ia tidak akan membiarkan dirinya meminta lebih dari itu… karena ia tidak ingin nantinya Baekhyun kecewa atas kenyataan yang Kai tutupi.

 

Kai tidak mau mengecewakan Baekhyun.

 

 

†††

 

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka berempat kini berada dimobil Kris, menuju apartemen Baekhyun. Tentu saja mereka mengantarkan Baekhyun terlebih dahulu. Tao dan Kris sedari tadi berbincang dan tidak  jarang namja manis itu merengek. Si manja yang berkali- kali membuat Kris tertawa puas.

 

Berbeda dengan Kris dan Tao dari tadi asyik berbincang, Kai dan Baekhyun yang duduk dibelakang hanya diam saja. Bukan karena hal lain, melainkan Baekhyun sudah tertidur dipelukan Kai. Namja manis itu pasti lelah sekali.

 

Bunyi dengkuran halus dan getaran teratur yang damai dari tubuh Baekhyun jujur saja membuat Kai tenang. Ia tersenyum tipis sembari terus mengusap rambut Baekhyun. Namja manis itu tertidur dengan menyandarkan kepalanya didada Kai. Tempat favorite Baekhyun dari tubuh Kai memanglah dada bidang namja itu.

 

 

“Karena aku bisa mendengarkan kehidupan Kai, aku tidak bisa melihatmu dan kadang karena itu aku takut keberadaanmu tidak nyata… dengan mendengarkan detak jantungmu. Aku meresapinya.. kau hidup dan benar- benar ada. Kai benar- benar ada dan itu membuatku sangat bahagia.”

 

 

Jawaban polos itulah yang Baekhyun lontarkan saat Kai bertanya tentang kebiasaan Baekhyun yang suka menempelkan telinganya didada Kai.

 

Tersenyum, Kai tersenyum saat ia mengingat masa- masa yang telah berlalu, saat ia bersama Baekhyun. Saat ia membimbing Baekhyun kesebuah tempat baru, saat Baekhyun merengek karena lebih suka makan disuapi Kai, saat Baekhyun belajar huruf Braille, dan saat namja itu menangis dipelukannya.

 

Semuanya membuat Kai begitu sulit melepaskan matanya dari Baekhyun. Dari hari kehari, perasaan tulus itu tumbuh dan semakin besar.

 

Tep

 

Kai kembali mengusap rambut halus Baekhyun, berharap dari sentuhan ringan yang tenang itu, Baekhyun bisa bermimpi indah.

 

 

 

“Sudah sampai.” Kris menghentikan mobil mewahnya didepan apartemen tingkat 5 itu. Ia melirik kebelakang dan melihat Kai yang berusaha membangunkan Baekhyun yang masih tertidur.

 

“Tidak usah dibangunkan, biar aku bantu kau membawanya keapartemennya.” Tao langsung mencegah Kai, ditanggapi oleh anggukan dan senyuman manis dari namja tampan itu.

 

Tao keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil belakang, terlihat Kai menggendong tubuh mungil Baekhyun seperti seorang pangeran menggendong seorang putri. Tao terkekeh pelan saat melihat wajah tidur Baekhyun yang sangat polos. Jujur saja, Tao sudah sangat menyayangi Baekhyun entah sejak kapan. Siapapun pasti ingin melindungi namja rapuh nan tegar itu.

 

 

Kris memperhatikan Tao dan Kai yang menggendong Baekhyun menjauhi mobilnya, masuk kedalam apartemen itu. Sesaat Kris nampak menghela nafas panjang, mengingat pembicaraannya dengan Kai beberapa hari yang lalu. Pembicaraan yang membuat Kris tercekat.

“Semoga kau bisa melindunginya dengan cara lain, Jongin… semoga pembicaraan kita beberapa hari yang lalu sudah kau lupakan… karena lebih baik kau melindunginya seperti ini. Bukan dengan cara menyedihkan itu.”

 

 

†††

 

 

Kai masuk kedalam kamar Baekhyun, sedangkan Tao sedang berbasa- basi dengan ibu Baekhyun. Sepertinya ayah Baekhyun akan datang dari Korea besok karena ibu Baekhyun nampak senang sekali dan rumah itu sudah sangat rapi serta buku resep makanan yang akan dimasak besok berserakan diruang tamu.

 

Perlahan Kai membaringkan tubuh Baekhyun diranjang beralaskan bedcover berwarna lebah. Penuh kesabaran Kai melepas sepatu dan kaos kaki Baekhyun, melepaskan jas sekolahnya dan menggantungkannya dibelakang pintu. Kai tentu saja tidak berani melepas pakaian Baekhyun, biar ibu Baekhyun saja. Lagipula besok hari minggu, tidak masalah Baekhyun tidur menggunakan baju seragamnya.

 

Setelah itu Kai menyelimuti Baekhyun dan menghidupkan penghangat ruangan karena Baekhyun tidak tahan dingin. Sebelum namja tampan itu keluar dari kamar Baekhyun, ia sempatkan untuk duduk sejenak ditepi ranjang. Memadangi wajah damai yang selalu Kai anggap sempurna. Manis, cantik, menggemaskan, murni, indah… semuanya terangkum dalam wajah polos milik Baekhyun.

 

Ia belai perlahan rambut Baekhyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Kai dengan sangat sadar, mencium kening Baekhyun lumayan lama. Ia pejamkan matanya, menghayati sebuah janji yang kembali ia ucapkan didalam hati. Janji tulus atas pengampunan yang Kai harapkan atas dosanya.

 

“Aku pulang dulu, Baekhyun. Mimpi yang indah.”

 

 

†††

 

 

“Nak Kai.” panggil ibu Baekhyun saat Kai keluar dari kamar Baekhyun. Ia tidak menemukan Tao disana, apa Tao sudah duluan menuju mobil Kris?

“Ah, nak Tao mengatakan akan menunggumu di mobil. Sepertinya ia mendapat telpon.” Ujar ibu Baekhyun seakan membaca pertanyaan diwajah Kai.

“Pasti Kris-hyung.. benar- benar tidak bisa tanpa Tao.”  bisik Kai didalam hati kemudian tersenyum maklum. “Ah, begitu ahjumma. Baiklah, saya pulang dulu.”

 

“Tunggu, nak. Ibu ingin mengatakan bahwa besok ayah Baekhyun datang dari Korea. Dan.. ia ingin bertemu denganmu, nak. Kami sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan untuk Baekhyun. Maka.. bisakah kau besok datang kesini? Ibu tahu besok hari libur namun—“

 

“Tentu saja aku mau, ahjumma. Tenang saja.. aku akan datang.” Kai langsung menjawab ajakan ibu muda itu dengan tulus.

 

Grep

 

Ibu Baekhyun memeluk tubuh Kai dengan erat. Bisa ia rasakan sebuah kehangatan menggerogoti dirinya, mata Kai membulat saat itu. baru kali itu ia rasakan… setelah nyaris sepuluh tahun lebih.. ia tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu.

 

“Terima kasih, nak.”

 

Kai tersenyum pasti dan membalas pelukan ibu Baekhyun, betapa senangnya ia merasakan pelukan hangat seorang ibu. “Sama- sama, ahjumma.”

 

Ibu Baekhyun melepas pelukannya, setelah itu Kai pamit dan berjalan menuju pintu apartemen itu diiringi oleh ibu Baekhyun. Saat Kai menunduk pelan kembali pamit pada ibu Baekhyun, pintu apartemen disebelah pintu apartemen Baekhyun terbuka.

 

Kai berjalan menjauh dan pintu apartemen Baekhyun sudah tertutup rapat. Ketika itu, Kai melihat seorang namja tampan bertubuh tinggi sedang mengunci pintu apartemennya yang bernomorkan 007. Kai mengerutkan kening, ia berfikir mungkin pemilik baru apartemen itu karena Kai belum pernah melihatnya.

 

Mata kedua namja tampan itu tertaut dan sekilas Kai tersenyum tipis ditanggapi dengan ramah oleh namja tampan yang nyaris sama tinggi dengan Kai, walau bisa dilihat namja itu jauh lebih tinggi beberapa centi dari Kai. Tanpa menghentikan langkahnya, Kai terus berjalan menuju lift dan masuk kedalam sana. Tidak mengetahui namja tinggi berwajah ramah itu kini sudah berdiri didepan sebuah pintu apartemen…

 

 

…. apartemen Baekhyun.

 

 

†††

 

 

Pukul 10 malam hari, Kai sudah bersiap akan tidur. Ia lelah sekali walau tidak bisa ia pungkiri bahwa hari ini sangat menyenangkan. Hari- harinya memang menyenangkan sekali jika bersama Baekhyun. Sangat! Seakan mutiara yang tidak tergantikan.

 

Klek

 

Kai melihat Kris masuk kedalam kamarnya. Awalnya Kai akan menaiki ranjang, namun melihat Kris, Kai langsung menghentikan niatnya dan berjalan menghampiri namja tinggi itu. Bila diperhatikan, wajah Kris nampak amat serius.

 

“Hyung.. duduklah.” Ujar Kai sopan dan mengambil sebuah kursi. Ditanggapi oleh anggukan dan senyuman tipis oleh Kris. Namja tinggi itu duduk disana. Raut wajah tegasnya yang tampan masih nampak serius sekali.

                                                                                                                                                      

Kris menghela nafas pelan. “Aku.. maaf, kau akan tidur?”

 

“Belum, ada apa hyung?” tanya Kai yang tahu betul pasti ada hal penting yang ingin Kris bicarakan.

 

“Kau tahu kenapa aku mengajakmu dan Baekhyun makan bersama tadi sore?” tanya Kris to the point.

 

Kai menggeleng pelan dan menghela nafas pendek. “Aku… tidak tahu, hyung.”

 

“Aku hanya ingin melihat seperti apa hubunganmu dan Baekhyun itu terjalin. Dan aku jadi kepikiran tentang… masalah cangkok mata yang kau bicarakan denganku.” Dengan nafas amat berat Kris berucap. Ia tahu tidak seharusnya ia mencampuri urusan Kai, namun… jika ia bisa, ia ingin membantu meluruskan hal yang ia pikir tidak perlu terjadi.

 

Kai terkesiap saat itu dan menunduk. “….Hyung lihat sendiri keadaan Baekhyun, bukan? Jika cangkok mata bisa dilakukan, aku.. aku akan mengusahakannya.”

 

“Aku setuju akan hal itu, namun… aku tidak setuju jika kau menggunakan matamu sendiri. Aku akan mencarikan cangkok mata yang cocok untuk Baekhyun… Aku tahu kau merasa bersalah, tapi… pikirkan juga masa depanmu, Jongin. Aku melarangmu, sebagai orang yang peduli padamu.”

 

Kai tersenyum tipis. “Terima kasih, hyung. Berkat keberadaan hyung dan Tao.. aku tidak pernah merasa sendiri disini. Aku sangat menghargai kepeduliaan hyung… dan aku sudah memikirkannya.”

 

“Maksudmu?”

 

“Aku.. aku tidak.. aku pikir itu memang bukan ide bagus…. namun patut aku pertimbangkan, hyung. Jika menunggu pendonor mata yang cocok, aku rasa memakan waktu yang lama..dan—“

 

“Lupakan Jongin! Dia sudah bergantung padamu. Dia mempercayaimu melebihi siapapun dan.. saat aku melihatnya tadi bersamamu, kau tahu apa yang aku pikirkan?”

 

Kai menggeleng pelan.

 

“Kau manusia yang paling brengsek jika kau membiarkannya sendiri, Jongin. Jika kau mencangkokkan matamu untuk Baekhyun kemudian kembali ke Korea.. kau akan jauh lebih menyakitinya. Apa kau pikir hutangmu padanya akan hilang dan lunas begitu saja?”

 

“Tapi, hyung… aku ingin mengembalikan apa yang telah aku rebut darinya. Aku hanya berfikir… hal itu yang bisa kulakukan.”

 

“Dan yang ia butuhkan bukan pengembalian.. namun kesediaanmu berada didekatnya. Aku… aku mungkin berfikir terlalu naif. Namun, jika aku buta kemudian Tao datang kesisiku, memberiku semangat serta menuntunku dengan kesabaran. Hingga akhirnya aku tahu Tao lah yang membuatku buta.. dan dia akan memberikan matanya untukku, namun setelah itu ia harus pergi.. Aku rela buta selamanya daripada harus kehilangan dia dari sisiku.”

 

DEG

 

Mata Kai membulat mendengar ucapan Kris. Ia terdiam dan badannya gemetaran, bulu kuduk Kai bahkan meremang. Tatapan mata tajam Kris menambah getaran hebat ditubuh Kai. Dadanya bergemuruh keras, ia ingat wajah manis Baekhyun yang tersenyum padanya. Sangat ingat. Dan wajah itu… sangat indah. Seakan Kai selalu melihat surga diwajah polosnya.

 

“Kris- hyung.. satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Bolehkah aku menanyakan pendapatmu?”

 

Kris mengangguk mantap. “Tentu.”

 

“Pantaskah.. jika aku … mulai mencintai Baekhyun?”

 

Kris tersentak saat mendengar pertanyaan Kai, apalagi wajah tampan namja berdarah Korea itu sangat tersiksa dan terluka. Pertanyaan seperti itu… jika diharuskan menjawab, pasti jawabannya adalah ‘Tentu saja, siapapun pantas untuk jatuh cinta.’ Namun jika perasaan itu dirasakan dalam situasi Kai dan Baekhyun. Mungkin jawaban pertanyaan itu.. sedikit rancu.

 

“Pantas tidak pantasnya… itu tergantung dari hatimu, Jongin. Kau mungkin pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidup Baekhyun. Tetapi yang terjadi.. sudah terjadi. Yang harus kau lakukan adalah berfikir kedepan. Kau sendiri yang tahu pantas atau tidaknya dirimu.”

 

Kai terduduk ditepi ranjang dan memegang keningnya. Ia tersenyum, namun pahit. Senyuman yang amat menyakitkan. Membuat Kris tahu betul kegelisahan yang dirasakan oleh Kai yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

 

“Bagaimana… kalau aku merasa.. aku tidak pantas?”

 

 

†††

 

 

BRAK

 

Chanyeol membanting pintu apartemennya. Ia mendesah keras dan mengacak- acak rambutnya. Bagaimana tidak, ia hanya berdiri dan mondar mandir didepan pintu apartemen Baekhyun selama nyaris 2 jam. Saat Chanyeol akan memencet bell apartemen itu, tubuhnya langsung lemas. Ia benar- benar tidak tahu harus melakukan hal apa. Ia takut.

 

Langkah Chanyeol akhirnya terhenti dikamarnya, Ia gapai ponsel miliknya sembari membuka jendela apartemen. Mengekspos suguhan pemandangan malam kota China yang tetap bising dan ramai. Ia menekan nomor ponsel dan tatapan matanya tidak lepas dari pemandangan diluar sana.

 

“Chanyeol?”

 

Chanyeol menghela nafas lega. “Hay, roti pao.”

 

“Tumben menelponku. Bagaimana keadaanmu di China? Menyenangkan?”

 

“Bagaimana ya? entahlah..” balas Chanyeol tak acuh.

 

“Kau sedang bosan?”

 

“Tidak juga. Aku hanya… bingung.” Chanyeol menatap pemandangan jalan dibawah dengan lampu yang berkilau. Neon pada setiap toko mengerjap bagai gambaran bahwa malam begitu liar. “Aku.. belum menemuinya. Aku khawatir.. entah mengapa aku merasa tidak siap.”

 

“Aku mengerti namun.. tidakkah kau berfikir mengapa kau harus pindah ke China?”

 

“Aku memang harus menebusnya.. dan aku pasti menebusnya. Hanya.. aku tidak tahu harus memulai seperti apa. Tidak mungkin saat nanti aku bertemu dengannya kemudian mengatakan, ‘Hai, kau masih ingat padaku? Aku namja yang tidak sengaja memperkosamu beberapa bulan yang lalu.’ Jangan konyol!!” Chanyeol memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas panjang.

 

“….. kurasa kau akan tahu dengan pasti apa yang harus kau lakukan setelah melihatnya.”

 

“Eh? Maksudmu?” Xiumin diam sesaat, Chanyeol semakin dibuat penasaran dengan maksud namja manis yang menjadi sahabatnya sejak kecil itu. “Xiuminnie?”

 

“Esok jangan tunda lagi, jika kau memang sulit bertemu dengannya secara sengaja.. kau satu sekolah dengannya, kan? Temui dia saat disekolah, agar kau sedikit tenang. Dan.. aku harap kau tidak lari, Chanyeol.”

 

“Kau bertele- tele! Katakan dengan jelas! Lagipula besok hari minggu.” Chanyeol sedikit memaki.

 

“Agh! Kau lihat saja sendiri, dasar namja menyebalkan!! Dengarkan aku, kau akan terikat dengannya seumur hidup karena kesalahanmu sungguh fatal.”

 

“Aku tahu itu tap—“

 

“Kau belum tahu Chanyeol… kau belum tahu apapun hingga kau melihatnya sendiri. Aku katakan sekali lagi… kau tidak akan pernah lepas darinya.”

 

 

†††

 

 

Gelap.

Ah benar juga… aku memang hidup didunia yang seperti ini, bukan?

Tidak apa- apa, Baekhyun… kau sudah terbiasa.

Kau…

Aku takut. Ya Tuhan, aku takut.. sesuatu mencekikku. Bukan mencekik leherku… namun nafasku. Aku tidak bisa.. bernafas. Aku tidak.. bisa.

Seseorang… siapa? Dia datang mendekat… aku tidak tahu dia siapa tapi… tunggu… kenapa didalam kegelapan ini aku bisa melihatnya.. ah benar juga, pasti ini ingatanku… dia mendekat… terus… dan kini dia berdiri dihadapanku..

 

 

“Kau menyukai sentuhaku, bukan?”

 

Dia?

 

Dia… tidak!!

 

“Aku datang kepadamu…. aku datang, Baekhyun!”

 

TIDAK!! DIA DATANG!!

 

DIA AKAN MENYAKITIKU LAGI!!

 

TOLONG AKU!! KUMOHON!!

 

SIAPA SAJA!!

 

K…

 

KAI!!

 

KAI!!

 

 

 

“KAI!!!”

 

Deru nafas yang menggila terdengar didalam ruangan gelap milik namja manis itu. Matanya yang tidak berfungsi melebar seakan terbelalak. Keringat mengucur ditubuh putihnya yang mungil dan gemetaran. Kegelapan yang ia tangkap lagi- lagi membuatnya sesak.

 

“Mim—pi..” desis namja manis itu disela- sela kelegaannya. Dengan mata sipitnya yang tidak berfungsi, namja itu berdiri perlahan. Ia terduduk kembali karena kakinya masih gemetaran. Ia tidak sanggup berdiri. Ia pegang dadanya yang masih terasa berat. Air mata tertetes begitu saja.

 

“Aku… takut… hiks…” Baekhyun, terisak pelan.

 

Kini ia terduduk dilantai dan punggungnya menyandar ditepi ranjang. Ia peluk kaki kurusnya dan menenggelamkan wajahnya diantara lutut. Masih ia manangis pilu. Bukan karena alasan remeh, bagaimana tidak ia ketakutan jika ia baru saja bermimpi buruk. Baekhyun memang tidak tahu siapa namja yang datang kedalam mimpinya itu, namun Baekhyun tahu…. namja itu. Pasti namja itu yang… memperkosanya.

 

Instingnya kabur seketika itu, ia tidak tahu.. apakah saat ini sudah pagi atau masih tengah malam. Ia tidak tahu dan ia seakan tidak bisa merasakan apapun. Ia takut, sungguh masih sangat takut. Jika diperhatikan wajah Baekhyun seakan seputih kertas, matanya masih saja terbelalak, berusaha mencari cahaya agar masuk kedalam matanya. Walau tahu hal itu sangat mustahil… karena ia buta.

 

“Kai.. hikss… Kai.. aku takut!! Kai!!” Baekhyun mulai panik.  

 

Kemana Kai? Dimana dia?

 

Apa.. apa yang terjadi pada Baekhyun hingga ia begitu panik dan tidak bisa merasakan apapun. Seakan ia lumpuh seketika, perasaannya tiba- tiba mengabur, bahkan ia tidak percaya kini ia sedang ada dikamarnya sendiri, semua terasa asing. Semua yang ia rasakan… seakan menusuknya dalam dingin. Benar.. Dingin sekali.

 

“KAI!! AKU MOHON!!” Baekhyun berteriak sembari menutup telingannya. Matanya tambah melebar, ia ingin Kai! ia ingin Kai menemaninya. “KAI!! JANGAN TINGGALKAN AKU! DIA AKAN DATANG! DIA AKAN MENYAKITIKU LAGI!! WAAA!!!! SIAPA SAJA!! KUMOHON!”

 

 

Teriakan Baekhyun sontak membuat ibu Baekhyun yang sedang tidur terkejut, sang ibu langsung berlari kekamar anak lelakinya yang menjadi sumber keributan. Masih pukul 4 pagi dan kenapa Baekhyun berteriak. Panik sekali sang ibu membuka kamar Baekhyun dan melihat tidak ada siapapun diatas ranjang Baekhyun.

 

 

“BAEKHYUN!!” Pekik sang ibu melihat Baekhyun meringkuh dilantai tepat disisi tempat tidur yang dekat dengan jendela kamar Baekhyun, sedikit tertutup. Anak lelaki itu masih berteriak meringkuh dilantai. Ia menangis sekencang yang ia bisa, walau sang ibu sudah memeluk Baekhyun, tetap saja matanya yang terbelalak tidak juga tenang. Ia bahkan tidak bisa menerima perkataan sang ibu yang menenangkannya.

 

“AKU MAU KAI!! KUMOHONN!! KAAAIIII!! UWAAAA!! LEPASKAN AKU!!” Baekhyun meronta dipelukan sang ibu yang sudah menangis. Anaknya kembali mengalami trauma. Apa yang terjadi pada Baekhyun hingga ia kembali seperti ini?

 

“Oemma akan panggil Kai, kumohon tenang Baekhyun!!” sang ibu mengusap rambut Baekhyun selembut mungkin tapi anak itu tetap tidak tenang. Berulang kali menyebut nama Kai dalam raungan pilu.

 

“DIA AKAN DATANG!! ORANG ITU AKAN MEYAKITIKU LAGI! AKU TIDAK MAU!! KUMOHON! AKU INGIN KAI!! KAAIII!! KAI!!!” Baekhyun berusaha mendorong sang ibu, hebat ibu itu lumayan kuat untuk terus membawa sang anak untuk tidak meringkuh dilantai yang dingin. Kini Baekhyun sudah berada diatas ranjang, namun posisinya tetap meringkuh. Menutup telinganya dan matanya terbelalak. Tangisan pilu dan getaran tubuhnya membuat sang ibu terisak cukup hebat.

 

“KAI!! KAI!! AKU TIDAK MAU SENDIRIAN!”

 

Ibu Baekhyun mau tidak mau langsung berlari dari kamar Baekhyun, meraih telpon yang berada diruang tengah. Tangan sang ibu gemetar hebat saat menekan tombol telpon. Ia benar- benar berharap Kai mengangkat telpon itu. keadaan Baekhyun yang seperti ini sungguh diluar dugaan. Teriakan Baekhyun tambah lama terdengar memilukan. Ia tidak kunjung tenang.

 

“Oemma mohon, Kai. Angkatlah!!” isak sang ibu.

 

 

†††

 

 

“Hngg!!”

 

Kai tersentak dari tidurnya, entah mengapa merasa hatinya langsung tidak nyaman. Ia tatap Tao yang dalam pelukan Kris disampingnya. Ternyata setelah pembicaraannya dengan Kris semalam, Kai tidak langsung tidur. Ia, Tao dan Kris memutuskan untuk menonton DVD dan bersantai sejenak. Kris yang mengajaknya karena melihat Kai yang begitu frustasi. Sepertinya mereka bertiga tidak sengaja tertidur disana.

 

Ia lirik jam diatas televisi besar. “Pukul 4 pagi?”

 

DEG

 

DEG

 

Kai berdiri dan duduk disofa, jujur saja ia terbangun tadinya karena… ia mendengar ada yang memanggilnya. Memanggil namanya begitu kencang dan keras. Kai tidak tahu.. hanya saja pikirannya kini melayang pada Baekhyun. Apa Baekhyun baik- baik saja? Sungguh tidak enak hatinya kini.

 

“Baekhyun—“

 

Drrttttt

 

Ponsel Kai bergetar, ia mengerutkan dahinya saat ia tahu ada panggilan masuk jam segini. Sedikit bingung, Kai mengambil ponselnya disaku piyama dan.. matanya membulat saat melihat nomor yang tertera di display ponselnya.

 

“Yoboseyo!!”

 

“Nak Kai! Ya Tuhan— Oemma mohon datang kesini sekarang juga! Baekhyun.. Baekhyun kembali mengingat traumanya.”

 

“APA!! Ba—Baik, ahjumma. Aku akan segera kesana.” Teriak Kai tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.

 

Kai melempar ponselnya pada sofa, ia langsung berlari kekamarnya. Mengganti piyama yang ia kenakan dengan pakaian yang tidak terlalu ia perhatikan. Terakhir ia memakai jaket baseball nya dan kembali berlari keluar kamar. Ternyata Kris yang terbangun sudah berdiri didepan pintu kamar Kai.

 

“Ada apa?” tanya Kris ikut cemas melihat Kai yang amat panik.

 

“Baekhyun… ia kembali mengingat traumanya. Aku harus kesana sekarang, hyung!!” jelas Kai sembari menyambar ponselnya dan langsung berlari keluar rumah Kris. Namja tinggi hanya menatap punggung Kai yang menghilang dibalik pintu rumah. Ia langkahkan kaki panjangnya dan mengunci pintu rumahnya. Ia tersenyum tipis.

 

“Jongin.. bagaimana kalau aku mengatakan kau… pantas mencintainya?”

 

 

 †††

 

 

Kai berlari seperti orang gila, ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk secepatnya berada didepan apartemen Baekhyun. Segila apapun ia, hanya kurang dari 7 menit Kai sudah berdiri tepat didepan pintu apartemen Baekhyun. Ia terengah- engah seperti kehilangan nafas. Wajah Kai pucat sekali dan tangannya gemetaran memencet tombol bell apartemen nomor 008 tersebut.

 

“Nak Kai!!” ibu Baekhyun langsung menyambut Kai saat pintu apartemen itu terbuka. Kai mendapati wajah ibu Baekhyun yang pucat dan penuh air mata. Saat Kai masuk kedalam apartemen, ia langsung mendengar jeritan histeris Baekhyun. Membuat namja tampan itu berlari masuk kedalam kamar Baekhyun.

 

Pilu, ia lihat Baekhyun meringkuh diatas ranjangnya. Tubuh namja manis itu gemetaran dan yang membuat hati Kai tertusuk adalah mata Baekhyun yang terbelalak, seakan berusaha mencari cahaya. Menangkap cahaya.. tanpa peringatan, Kai membawa tubuh Baekhyun kedalam pelukannya.

 

“SIAPA!! PERGI!! JANGAN DEKATI AKU!! KAII!!” Baekhyun meronta didalam pelukan Kai, sedikit terkejut karena Baekhyun tidak tahu Kai sudah ada didekatnya. Apakah perasaan Baekhyun kini benar- benar menumpul?

 

“Ini aku.. Baekhyun.. Hey, cantik ini aku!!” Kai berusaha memegang pipi basah Baekhyun.

 

“TIDAAKK!! KAI!! KAU DIMANA KAI!!” Baekhyun seakan tidak mengenal siapa namja yang kini memeluknya erat. Demi Tuhan, Kai seperti ditampar dengan amat keras tepat diwajah. Hatinya sakit bukan main dan ia benar- benar tidak tahu harus berbuat apa selain memeluk Baekhyun erat.

 

“Kumohon.. rasakan aku.. ini aku ..Baekhyun.” Kai berbisik amat lirih tepat ditelinga Baekhyun. “Ini aku .. Kai…”

 

Tubuh gemetaran Baekhyun yang memberontak kini mulai tenang, nafasnya masih berirama menyedihkan. Mata Baekhyun masih membelalak, itu ia lakukan hanya sekedar untuk menangkap cahaya yang sia- sia ia lakukan. Ia tidak ingin sendirian dan yang ia lihat dipikirannya hanyalah sosok menyeramkan yang dulu.. memperkosanya. Ia terperangkap di penglihatan yang sepeti itu. Mengerikan!

 

“K..Kai… sungguh?” suara teriakan itu melemah. Baekhyun yang tadi memberontak kini memeluk tubuh Kai erat. Mencoba mencium aroma khas tubuh Kai yang ia hapal.

 

Benar, ini Kai.

 

Namja tampan itu menghela nafas lega saat Baekhyun tenang didalam pelukannya. Tangan kurus Baekhyun kini melingkar diperut hingga punggung Kai. mencoba mengurung tubuh itu agar tetap memeluknya. Kai tersenyum pahit kemudian mencoba merebahkan tubuhnya diatas ranjang Baekhyun, ikut membawa Baekhyun tidur bersamanya.

 

“…Kai..?”

 

“Iya, Baekhyun. Ini aku… kau bisa merasakannya, bukan?” suara itu terdengar amat lirih.

 

Mata Baekhyun yang tadi membelalak kini mulai rileks. Ia dekatkan wajahnya pada wajah Kai.. mengikuti alur nafas Kai. Membuat Baekhyun memejamkan matanya, ia tenang. Ia begitu tenang saat nafas Kai menyentuh pipinya lembut.

 

“Dia.. dia ingin melukaiku lagi.” Bisik Baekhyun masih memejamkan matanya.

 

“Dia?”

 

“Namja itu… yang… memaksaku…”

 

Tanpa diperjelaspun Kai mengerti, pasti maksud Baekhyun adalah namja yang memperkosanya. Apakah Baekhyun tiba- tiba mengingat peristiwa mengerikan itu? Mengapa bisa? Namun Kai tidak mau bicara banyak, yang harus ia lakukan hanyalah menenangkan Baekhyun.

 

“Tidak ada yang memaksamu… kau aman bersamaku. Aku tidak akan membiarkan namja itu mendekatimu.”

 

Baekhyun mengangguk lemah. “Kai.. jangan tinggalkan aku. Tetaplah.. disampingku.”

 

Mata Kai membulat sempurna saat mendengar bisikan lirih Baekhyun. Deru nafas yang mulai tenang itu kembali teratur, mungin karena sudah merasa aman.. Baekhyun mulai terlelap kembali. Seaakan melupakan kejadian menegangkan yang baru saja terjadi.

 

“Kai… jangan… pergi…”

 

Ucapan lirih itu yang membawa Baekhyun masuk kedalam alam mimpi. Kai memepererat pelukannya dan mengusap rambut Baekhyun lembut. Mata Kai memerah dan tanpa ia sadari… tanpa Kai sadari air matanya jatuh begitu saja melihat keadaan Baekhyun yang memilukan.

 

“Aku… bersamamu.”

 

 

†††

 

 

Chanyeol terdiam ditempatnya.

 

Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya kaku, terduduk diranjang. Berbanding terbalik dengan hati dan jantungnya yang bergemuruh kuat. Mata bulat namja tampan itu fokus menatap satu arah, lurus kedepan.

 

Chanyeol mendengar… sangat jelas dan sangat sangat jelas.

 

Teriakan…

 

Teriakan Baekhyun.

 

Tentu Chanyeol tahu betul bagaimana teriakan Baekhyun.. karena ia sudah mendengar teriakan itu.. saat ia memperkosa Baekhyun. Suara indah yang ia kagumi.. meraung bagaikan kesesakkan.

 

Chanyeol mendengarkan dengan jelas semua teriakan Baekhyun yang tepat berada dibalik dinding kamarnya. Sepertinya kamar Baekhyun berada tepat bersebelahan dengan kamar Chanyeol. Sehingga Chanyeol seakan mendengar secara langsung teriakan pilu yang membuatnya terjaga. Terperagakan dengan detail dan.. itu membuat Chanyeol mengutuk dirinya sendiri.

 

-“DIA AKAN DATANG!! ORANG ITU AKAN MEYAKITIKU LAGI! AKU TIDAK MAU!!-

 

Teriakan itu… tentu bisa Chanyeol paham.

 

“Oh Tuhan…” Chanyeol merasakan dadanya terhimpit batu besar. Ia memejamkan matanya sejenak dan berdiri dari ranjang, ia masih menatap dinding kamarnya yang ia yakini, dibalik dinding kamar itu… kini ada… Baekhyun. Kini namja manis itu tengah menringkuh ketakutan. Ia ketakutan…

 

Chanyeol yakini, Baekhyun mungkin sudah mulai tenang karena teriakan itu sudah lenyap. Namun demi Tuhan, saat Chanyeol mendengar teriakan Baekhyun tadi, seakan udara ikut menghukumnya karena ia jadi sulit bernafas, bahkan ia merasakan tubuhnya sendiri menghujat jantungnya… sungguh, Chanyeol secara langsung merasakan kesakitan luar biasa.

 

Namja tampan itu berdiri tepat didepan dinding yang bersebelahan langsung dengan kamar Baekhyun, penuh getaran tangan panjang Chanyeol mengarah untuk menyentuh dinding putih dihadapannya. Jemarinya meresapi dingin dinding. Membuat bulu kuduk Chanyeol meremang.

 

Dikamar yang gelap itu, Chanyeol tiba- tiba terduduk. Matanya nanar.. menatap dinding putih dihadapannya, kemudian menumpukan keningnya yang berponi pada dinding… Chanyeol menutup mata perlahan, ia menggigit bibir bawahnya. Jemari tangan Chanyeol masih bertahan disana.

 

“Sial! Sial!! Kenapa kau membuatku merasakan hal semenyakitkan ini….. Baekhyun?”

 

 

†††

 

 

Kai POV

 

Dia tertidur dipelukku. Nafasnya tenang, tidak seperti tadi. Getaran tubuhnya yang teratur berirama, tidak seperti tadi. Bibirnya terbuka sedikit, tidak teriak seperti tadi… bibir itu juga sudah terlihat memerah, tidak seperti tadi. Peluhnya mengering.. tidak seperti tadi. Dan aku bersumpah demi hidupku.. aku tidak sudi melihat Baekhyun ketakutan … seperti tadi.

Aku…

Aku merasa lemah dan tidak berdaya.

Aku merasa tidak berguna.

 

Ia terlihat damai kini, namun beberapa menit yang lalu.. kedamaian itu tidak ada. Yang ada hanya mata terbelalak ketakutan seakan mencari cahaya dan keberadaan orang- orang. Tubuh yang seperti digerogoti akan rasa takut, suara pekik yang tidak ada habisnya… tangan mungilnya yang sedingin es serta tubuhnya yang bergetar dengan irama mengerikan.

 

Aku merasakan nafas tenangnya dileherku, hidungnya menyentuh tulang selangkaku dan aku lega.. dia bernafas dengan normal. Aku bisa merasakan kedamaian yang ia rasakan. Tangannya sudah meregang, tidak sekuat tadi mengurung tubuhku. Perlahan kubawa kedua tangannya melepas tubuhku dan membawanya kedalam pelukku agar tidak kedinginan. Biar aku yang memeluknya.

 

“Haaa… aaahhh!!!” Dia kembali tersentak dan terisak lirih. Oh tidak, dia mulai memberontak lagi. Aku mempererat pelukanku agar dirinya bisa merasakan keberadaanku. Tubuhnya bergetar hebat… Kumohon, Tuhan… Buat dia bisa merasakan keberadaanku. Kumohon!

 

 “Stt… Baekhyun… aku disini… tenang.”

 

Tubuhnya kembali tenang, matanya masih tertutup. Ah, berarti ia mengigau? Apakah ia mimpi buruk? Pelukku tambah erat, tidak ingin rasanya membiarkan tubuh mungil itu tersentak lagi. Aku tidak ingin melihat Baekhyun ketakutan lagi.

 

“Aku disini..” bisikku tepat ditelinganya. Seakan tidak tahu malu, aku mencium puncak kepalanya. Meresapi wangi sampoo yang sudah sangat samar. Mataku terasa panas dan berat.. Sial! Aku ini seorang lelaki dan aku benci terlihat lemah apalagi menangis. Dan aku tidak akan menangis, walau hatiku terasa begitu pedih melihat dirinya.

 

Aku bersenandung ringan, mencoba membuatnya terus merasakan keberadaanku setiap tubuhnya mulai tersentak kecil. Aku bernyanyi seakan berbisik. Menyanyikan lagu tidur yang terus saja membimbingnya untuk menemui keberadaanku. Keadaan Baekhyun melemah dan aku.. aku akan terus ada disampingnya.

 

 

Hingga aku mendengar bunyi pintu kamar Baekhyun yang terbuka sedikit, aku melihat seorang dokter dan ahjumma masuk begitu pelan tanpa keributan. Aku ingin beranjak namun sang dokter melarangku, mengisyaratkan aku agar tetap berada dekat Baekhyun, setidaknya memegang tangan Baekhyun.

 

Sang dokter kemudian memeriksa keadaan tubuh Baekhyun, membuka kancing seragam sekolahnya bagian atas, ternyata Baekhyun belum menukar pakaian. Sang dokter kemudian menghela nafas setelah memeriksa keadaan Baekhyun dengan teliti. Karena sang dokter menggunakan bahasa China dan aku sedang tidak fokus, aku tidak terlalu menangkap apa yang ia katakan. Kini dokter itu berjalan keluar kamar dengan ibu Baekhyun.

 

Aku dan Baekhyun kembali berdua saja didalam kamar yang gelap itu. Aku masih duduk diranjang sembari menggenggam tangannnya yang mungil dan kurus. Nafasnya masih saja terdengar berat walau tenang.. tanpa sadar aku tersenyum dan mendekatkan wajahku kewajahnya. Menempelkan keningku dan keningnya. Ujung hidung kami bersentuhan dan… aku merasakan nafasnya. Kehidupannya…

 

“Aku hanya berharap kau bisa bahagia.. Baekhyun… aku tidak berharap lebih dari itu.”

 

 

†††

 

Aku hanya berharap

Bolehkah, Tuhan?

Berharap akan kebahagiaannya?

Hanya itu.

Tidak sulitkan, Tuhan?

 

†††

 

 

Normal POV

 

Pagi yang cerah menjelang. Mata sipit Baekhyun yang tertutup perlahan sekali terbuka. Tetap sama.. walau ia membuka matanya, tidak akan ada cahaya yang masuk kedalam retina dan lensa matanya. Kini tubuh mungil itu menggeliat dan … ia merasakan seseorang memegang tangannya. Kening Baekhyun menyerngit.. siapa?

 

Namun, tanpa berfikir terlalu lama Baekhyun sadar.. tangan Kai.

 

“Kai?” bisik Baekhyun pelan dan menggerakkan sebelah tangannya lagi kearah.. seseorang yang ia yakini tidur disampingnya. Baekhyun membulatkan matanya saat ia menyentuh hidung mancung itu, nafas… iya.. ia hafal benar alur nafas ini. Milik Kai, tangan hangat yang kenyal ini… pipi ini… bibir ini… Kai. Benar..

 

Rona merah tergores dikedua pipi putih Baekhyun. Kai… kenapa Kai bisa tertidur disampingnya? Oh Tuhan, apa yang terjadi? Baekhyun tidak mengingat apapun.

 

 

“Baekhyunnie.. kau sudah bangun, sayang?”

 

Suara lembut sang ibu terdengar oleh Baekhyun, semerta dengan langkah kaki yang tidak terlalu berat. Henyakan halus ditepi ranjang membuat Baekhyun tahu sang ibu duduk disampingnya yang tengah berbaring.

 

“Oemma.. kenapa Kai bisa ada disini?” tanya Baekhyun pelan sekali.

 

Sang ibu tersenyum mendengar pertanyaan sang anak. Tahu betul Baekhyun tidak akan ingat peristiwa memilukan dini hari tadi, dan sang ibu tidak akan mengatakan apapun untuk mengingatkan. “Dia ingin menemani Baekhyun tidur saja.”

 

“Ha?” Baekhyun bingung dengan jawaban sang ibu. Yang Baekhyun ingat hanyalah, kemarin ia pergi makan bersama Tao, Kris, dan Kai. kemudian ia tertidur saat mendengar detak jantung didada Kai. Baekhyun selalu merasakan rasa nyaman jika mendengar detak jantung seseorang… apalagi Kai. Setelahnya.. Baekhyun sama sekali tidak ingat.

 

“Pokoknya jangan bangunkan dia, Baekhyunnie. Dia baru tertidur setengah jam yang lalu.” jelas sang ibu.

 

Walau ia tidak mengerti, Baekhyun hanya mengangguk dan duduk diposisinya. Ia mengarahkan tangannya ketempat Kai, namun ia hanya meraih pundak Kai, padahal ia ingin menyentuh pipi namja tampan itu. Sang ibu tersenyum dan mengusap rambut Baekhyun.

 

“Ayo berbenah, appa akan sampai sejam lagi.” Ucap sang ibu pelan.

 

Baekhyun mengangguk dan tersenyum manis. “Ne, oemma.”

 

 

†††

 

Seorang namja tinggi tidak beranjak dari tempat itu. tubuhnya sudah dingin, dan ia masih duduk dilantai itu sembari menghadap dinding. Masih merebahkan kepalanya pada permukaan dinding. Tangan kekarnya memeluk lutut.. tatapan mata namja tinggi itu kosong. Masih bergulat dengan pemikirannya sendiri. Ia bahkan sama sekali tidak tidur semenjak terbangun jam 4 pagi tadi. Ia masih disana.. tidak perduli bagaimana dingin kaki dan tangannya.

 

“..Apakah dia sudah bangun?” desis namja tinggi itu, Chanyeol. “Apa dia sudah tenang… Tuhan?”

 

Mungkin dahulu, ia masih saja tidak terlalu peduli namun.. setelah apa yang dikatakan Xiumin kemarin malam dan bukti teriakan pukul 4 pagi itu.. membuatnya merasakan penyesalan yang amat amat amat dalam. Bagaimana bisa ia masih bersantai dengan apa yang telah ia lakukan? Baekhyun.. namja itu telah ia perkosa kemudian… kecelakaan. Masihkah Chanyeol berfikir itu hanyalah masalah kecil? Dan apa tadi… Baekhyun berteriak seperti orang gila, bukan?

 

Apakah timbul trauma tersendiri pada Baekhyun?

 

“Oh Tuhan… hukum aku.” Bisik Chanyeol lirih.

 

Chanyeol menutup matanya perlahan. Ia menghela nafas dan… beribu kali ia ucapkan maaf didalam hatinya. Walau bibirnya kelu, hatinya berteriak meminta ampunan atas perbuatannya. Namun apa yang akan dia katakan pada Baekhyun… saat ia menemui Baekhyun? Minta maaf lalu pergi…?

 

Tidak mungkin, bukan?

 

Apakah ia akan dilaporkan pada polisi dan Baekhyun akan membencinya?

 

Masa bodoh! Chanyeol sudah tidak peduli lagi jika ia harus dipenjara akibat ulahnya yang membuat Baekhyun seperti itu. Ia sama sekali tidak pernah berniat menyakiti Baekhyun, itu murni ketidaksengajaan! Ia bersumpah bahwa ia tidak tahu sama sekali Baekhyun bukanlah namja yang dikirim oleh Xiumin untuk Chanyeol.

 

Namja tinggi itu berdiri tegap dan berjalan kekamar mandinya. Ia akan berbenah dan tidak peduli lagi jika memang harus mati saat bertemu Baekhyun. Yang pasti… Ia harus menemui Baekhyun hari ini juga! Apapun yang terjadi.. dia benar- benar harus bicara pada Baekhyun!

 

 

†††

 

“Omona!! Oemma lupa membeli teh jepang kesukaan appa-mu, Baekhyunnie!!” sang ibu menepuk keningnya sesaat.

 

“Teh jepang? Aah! Di supermarket dekat sini bukannya ada, oemma?” ujar Baekhyun yang sudah selesai berbenah. Ia juga baru saja menegak beberapa obat. Walau ia tidak tahu betul obat apa yang ibunya berikan.

 

Penampilan Baekhyun sungguh rapi dan menyejukkan mata. Ia memakai baju kaos lengan panjang kebesaran berwarna putih namun potongan lehernya lumayan lebar hingga sedikit mengekspos leher jenjangnya yang putih bersih, serta celana panjang berwarna putih yang diselingi warna hitam dipotongan kantung celana dan pergelangan kakinya.

 

“Ne, oemma akan membelinya! Kamu—“

 

“Biar aku saja, oemma!” sergah Baekhyun cepat.

 

“Hah? Tidak usah! Kau bisa tersesat!”

 

“Tidak, oemma. aku sudah beberapa kali pergi kesana bersama Kai. Aku ingat dengan jelas, lagipula supermarket itu tepat berada disamping gedung apartemen ini.”

 

“Apa oemma membangunkan Kai saja untuk menemanimu?” ibu Baekhyun masih nampak cemas membiarkan Baekhyun pergi sendirian.

 

“Tidak usah.. sungguh, aku bisa sendiri. Dan.. oemma sedang memasak, kan? Lanjutkan saja.” Baekhyun tersenyum manis dan berjalan pelan menuju pintu rumahnya, diikuti oleh sang ibu. Sebenarnya ia khawatir, namun jika Baekhyun sudah mengatakan hal itu sang ibu tidak bisa menolak. Takut Baekhyun tersinggung. Sebisa mungkin sang ibu tidak ingin memperlakukan Baekhyun  seperti orang buta.

 

“Hati- hati.” Ujar sang ibu ketika Baekhyun menutup pintu rumahnya.

 

 

†††

 

 

Baekhyun menutup pintu rumahnya dan tersenyum mendengar sang ibu berpesan untuk berhati- hati. Baekhyun menghela nafas sesaat dan berbalik badan, berjalan menuju tangga yang ada disudut koridor apartemen itu. Baekhyun memang biasa menggunakan tangga daripada menggunakan lift.

 

Namun, baru saja tiga langkah ia berjalan dari depan pintu apartemennya. Langkah Baekhyun berhenti… bukan karena tanpa alasan. Melainkan dengan jelas Baekhyun merasakan aura seseorang tepat didepan tubuhnya. Ya.. pasti ada seseorang didepannya kini.

 

 

Bolehkah aku berteriak sekarang?

Bolehkan aku merasakan sebuah kebebasan?

Dia merenggut semuanya dalam sekejap…

…saat sosoknya berada di hadapanku dengan polosnya

 

 

Chanyeol membulatkan matanya yang besar setelah membalikkan tubuh… langsung disuguhkan sebuah kenyataan. Ia melihat… melihat namja itu tepat didepannya. Melihat jelas dengan mata dan seluruh tubuhnya yang kini kaku kaedinginan. Namja itu berhenti tepat didepan Chanyeol. Namja manis bernama… Baekhyun.

 

Baekhyun.. yang terlihat bagaikan malaikat dimata Chanyeol. Serba putih, kulit bening, bibir merah muda bening, rambut halus jatuh menghiasi wajah cantiknya. Dan Chanyeol bersumpah bulu kuduknya meremang dan tubuhnya seakan beku melihat sosok Baekhyun yang begitu… begitu memikat dan berhasil menghentikan aliran udara. Bahkan paru- parunya seakan kesulitan memompa karena udara menghilang dalam sekejap.

 

Tuhan, Chanyeol bersumpah ia ingin mati saat ini juga! Namun ia tidak bisa terus lari dari kenyataan, bukan? Ini adalah jalannya dan ia sudah bertekad untuk menebusnya. Benar- benar, jantung Chanyeol serasa ingin melompat keluar dan beribu pedang menusuk ulu hatinya hingga sakit ia rasakan disekujur tubuh.

 

Luar biasa dampak mengerikan yang ia rasakan diseluruh tubuhnya saat ia hanya melihat Baekhyun.

 

Mulut Chanyeol bergerak namun suaranya tidak kunjung keluar. Sosok Baekhyun masih didepannya dan kini namja cantik itu tersenyum amat manis. Sedikit membuat Chanyeol tersentak, ia tidak menyangka Baekhyun tersenyum amat manis padanya. Yang benar saja? Apa Baekhyun lupa dengan sosok Chanyeol? Padahal Chanyeol yakin sekali, Baekhyun melihat seluruh wajahnya.. saat Chanyeol melampiaskan hasratnya pada Baekhyun.  

 

“Duìbùqi.. Wo xiang tongguò.. Keyi gei wo yidian bànfa.”  /Permisi. Saya ingin lewat.. bisa sedikit memberi saya jalan./

 

Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol semakin bingung dan tidak mengerti. Bukan karena Baekhyun menggunakan bahasa China dengan aksen sederhana.. melainkan dengan respon Baekhyun.  “Ha—kau? A—Aku.. Aku…”

 

“Mwo? Anda orang Korea juga?” Baekhyun mengerjapkan matanya tanda ia antusias. Ada kesenangan tersediri saat ia berhasil menemukan orang Korea dinegeri bamboo ini.  Walau ia tidak tahu… siapa yang berada dihadapannya saat ini. ya, Baekhyun tidak tahu sama sekali siapa yang ada dihadapannya saat ini.

 

DEG

 

Keanehan, Chanyeol menyadari keanehan pada diri Baekhyun. Mata… mata namja itu tertitik pada satu arah. Baekhyun tidak menatap matanya saat ia bicara dan anehnya matanya tidak bergerak seperti alaminya. Mata itu terlihat… terhenti dan buruknya Chanyeol mulai mengada- ada. Semakin ketakutan dengan apa yang ia duga. Tunggu! Chanyeol tidak mau memperburuk keadaan hatinya dengan menerka hal- hal mengerikan.  

 

Bukankah dia mengalami kecelakaan cukup parah setelah diperkosa?

 

Namja cantik didepannya kini mengerutkan keningnya, tanda bingung karena namja yang ada dihadapannya –Chanyeol, tidak juga memberinya jalan ataupun bersuara. “Maaf.. aku buru- buru.” Ujar Baekhyun sesopan mungkin. Perlahan Baekhyun mulai memiringkan arah jalannya dan meraba dinding koridor apartemen.

 

Deg

 

Chanyeol terdiam ditempatnya… tidak salah lagi.

 

Oh Tuhan!

 

Benarkah ini? Terlalu kejam! Chanyeol memaki didalam hati. Dugaan yang ia pungkiri ternyata adalah kenyataan. Chanyeol bisa menangkap dengan cepat… bahwa… bahwa…

 

“Brengsek!!”bengis namja itu pelan sekali.

 

Chanyeol langsung membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Baekhyun yang berjalan tertatih menuju tangga sembari memegangi dinding koridor. Mata angkuh Chanyeol membelalak. Mata itu pilu dan penyesalan tergambar jelas disana. Tidak ada lagi harapan pengampunan dimata Chanyeol, yang ada hanya kesanggupan Tuhan untuk menghukumnya… menghukum dirinya yang begitu bodoh dan membiarkan namja yang tidak memiliki kesalahan apapun padanya.. menerima takdir kejam seperti ini. 

 

-“Kau belum tahu Chanyeol… kau belum tahu apapun hingga kau melihatnya sendiri. Aku katakan sekali lagi… kau tidak akan pernah lepas darinya.”-

 

Inikah yang dimaksud oleh Xiumin?

 

Inikah yang harus ia lihat terlebih dahulu hingga ia mengerti apa yang harus ia lakukan pada Baekhyun?

 

Namja tinggi itu … berlari pada sosok Baekhyun. Ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya atau dimaki dengan muka tebal. Ia tidak peduli lagi dan ia benar- benar ingin menebus kesalahannya. Setelah melihat keadaan.. Baekhyun. Melihat senyuman manis itu… senyuman yang menyiratkan sebuah penegasan dimata Chanyeol. Tahu seberapa hancurnya hati Chanyeol melihat keadaan Baekhyun?

 

Namja cantik yang akan melangkah menuruni tangga tertahan saat sebuah tangan menariknya dan…

 

Grep—

 

…. membekap tubuh mungilnya dengan sangat erat. Membuat namja cantik itu membulatkan matanya, terkejut. Ia merasakan getaran yang begitu menyesakkan pada tubuh yang memeluknya. Getaran penyesalan yang tidak bisa dibendung sama sekali. Getaran yang sama saat ia dipeluk oleh Kai untuk pertama kali. Dan kali ini bukan Kai… melainkan seorang namja yang sama sekali tidak Baekhyun kenali.. siapa.

 

 

“…Maafkan aku.. Kumohon.”

 

 

Continue..

 

 

Maafkan saya terlalu lama update. *ini selalu ya hyobin minta maaf setiap update

Mungkin makin ngawur dan semakin aneh

Jika ada uneg uneg sampaikan saja. Ini hanya FF yah jadi jangan anggap yang aneh”lah atau apalah. Saya hanya mengisi waktu luang untuk membuat sebuah ff dan kalau kurang memuaskan ya saya jauh dari kata sempurna. Saya manusia dan mianhamnida😥

Para Hantu yang membaca ff saya, hallo! Kapan” kalo ketemu gue cium satu- satu biar insaf dah #plak #tidak akan ada yg selamat dari jerat hyobin #abaikan juseyo!!

Udah dulu. Pay pay ^^

Hwaiting I lope u ohoooyyyy

*kabur bersama Chanyeol dengan angin Sehun

252 thoughts on “Silent Eyes Chapter 4

  1. whoooa.. akhirnya terselekan baca chap 4 nya. baekhyun kenapa kamu teriak teriak gaje hah? sini sini tak cium/plakk/. udah tereak tereak, nyuruh kai nemenin, udah gitu pas bangunnya kaga inget apa apa. dohh parah lu baek /digampar/ kalo chanyeol … kece kece aja sih. mian nih ya thor ga bisa komen puuuaannnjaaaaang karena speechless baca fanficnya. ya.. Daebak lah!

  2. WAAAAAAAHHH
    Baekhyun Trauma lagI. . ! :-q
    Miris ngeliat Khidupan BaekKie..😥
    n’ Chanyeol jga smakin d hantUi raSa b’salah. .
    Hwaiting AuThor-nim. .

  3. aduhh kim hyobin-ssi.. aku sedih banget baca chap ini, bukan karena cerita jelek lo! tapi byunbaek yang nangis itu lo.. miris banget😥
    jongin ah, kamu baik sekaliii.. huaaa makin penasaran hyobin-ssi! nice fic ^^

  4. jjang! sukaaa~
    ini aku udah berkaca-kaca deh. kasian sama baekhyun. kai juga. chanyeol juga.
    chanyeol, sudah lupakan baekki, chan sama aku aja *kumat*

    sedih banget pas baek trauma.
    it hurts. even I just read not really feel the pain inside baek.

    lanjut! :DDD

  5. T^T cuma nangis baca nih ff T^T aaaaaaaaaaaaaarrghhh!! chanyeol brengsek!! …thor…g rela!! bisakah ganti pair …kaibaek!!! jjang aku mendukung kaibaek! T^T sakit!! sakit bgt bacanya… T^T hweeeeeeeeeee T,T …baekhyunnn,, T,T thor… love uuu T^T

  6. bener kan bener kan. kai emang suka sama baekhyun. mau mungkir gimanapun tetep jatohnya gitu hah *apaini

    yak dan chanbaekkai udah ketemu semua disini. yap dan semua dimuali dari ini *triiiing

    keliatan kalo semuanya kesiksa banget ya. tapi emang baek yang teramat sangat kasian, tapi tetep nggak nunjukin kalo dia sedih. aaaaa babybaekkie {} *hug

  7. keren…pasti keren sewaktu chanyeol dibandara…Airport Stylenya Park Chanyeol itu biasa aaja, tp orgnya yg ga biasa.

    Kai..kenapa takut? gapapa…kalau cinta yah cinta..emg seharusnya gitu..siapa tau baekhyun maafin kamu…

    eh astaga…Baekhyun…trauma lagi? pasti karna Chanyeol…baekhyun ah…kasian sekali kamu oppa..untung ada KAI, padahal aku sempat berharap kan yg dtg itu Chanyeol…
    aku sedih liat chanyeol frustasi juga kayak gitu…bagaimana pun aku lebih seneng ChanBaek dibanding KaiBaek…tapi disini feelnya KaiBaek lebih dapet…ToT

    park Chan…cieey…aku kan sering manggil Chanyeol gitu sih..haha…cieeey..peluk Baekkie nih ye…

    baekkie…maafin Chanyeol ya?

  8. baekhyun anak yang tegar ;;;;;; terharu gue yaampun /_\ nangis pas baekhyun teriak-teriak sampe bangunin ibunya dan manggil kai >< yaallah huaaaa
    lanjut baca

  9. ngk bisa bernafas bacanya,,,,
    ya tuhan ini menyesakkan, sumpah,,!!!!
    suka ama Kaibaek, tapi Chanbaek juga makin gimana gitu,,

    auhtor kau daebakk,,
    *_*

  10. Uwoh itu pas banget tbc nya nangkring disitu -gak ada tbc ding-
    Makin cinta sama kaibaek pokoknya, sumpah sweet banget. Baek kayak cuma butuh kai aja gitu, sama eomma nya aja dia nolak, begitu kai dateng beuh.. langsung dah saya melting pas baca itu..
    tapi tapi itu di akhir2 chanbaek mulai interaksi, okeh gak jadi cinta kaibaek. otp tetep nomer satu -etdah

    okeh keep writing😄

  11. Kasian banget baekhyun.. rasanya gak tega waktu liat dia nangis manggil2 nama kai.. kayaknya keberadaan kai itu udah jadi kebutuhan tersendiri buat baekhyun.. dan.. yah bener kata kris gak ngebayangin gimana kalau kai sampe dinorin mata dia.. chanyeol? Oh, gak tau deh dia itu gimana tapi kayaknya dia bener2 ketakutan banget..

  12. lagi gak sengaja googling FF baekyeol terus nemu ginian. maigat.. gak tidur gak tidur deh buat baca sampe tamat.
    apa ya… keren, bagus, daebak? ahhh ini ff ngelebihin semuanya >< dan author harus tanggung jawab karena udah bikin aku nangis bombay tengah malem *digaplok

  13. Ya ampun baekhyun ini ibarat udah jatuh tertimpa tangga pula ㅠ ㅠ kasian banget.

    Makin suka ama Kai yg sangat perhatian,Kris yang bijaksana dan Tao si kungfu panda ini manis sekali ^^ dan si xiumin,meskipun bebal dan tukang bolos tetap mengingatkan pada yeol kalau ia harus bertanggung jawab.

  14. AAAAA KAI manis bgt yaampunnnnnn. dia bener2 jaga baekhyun denga. baik:’):”’) dan chanyeol…….ya dia fuh bagus mau merasa nebus dosanya jugaaaaaa. haaaa

  15. Waaaa kereeen! Ah itu kenapa kaibark so sweet banget siiih :3 duh kai, tembak/? aja tuh si baekhyun, wkwkwk. Btw, wah chanyeol mulai muncul.. jadi bingung mau mikih kaibaek atau chanbaek😄 /loh
    Pokoknya author jjang! FF inj kereb sumpah!! Izin baca nextchap ya~~~

  16. Hiksss! Aiggo
    aku sedihplusnangis bacanya😦
    yeol udah ketemu sama baek dan akhrinya yeol nyessel kan? Apa baek bakal maafin mereka berdua thor? Saya tunggu banget kelanjutannya
    fighting

  17. AARRRGGHH PENGEN TERIAK KENCENG BANGET TAPI TAKUT DIKIRA GILA! greget banget. banget. banget. chanyeol beranian.

  18. Duhh penasaran banget gimana nati endingnya kalo semua kedok mereka udah ketauan baekhyun bakalan runyam tuh anak bedua sumvah thor daebak banget ff nya top bgt dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s