KRIS COMPLEX Chapter 2

PS from Hyobin : Yang baca FF ini abis itu komen, gue doakan murah rezeki. yang berani jadi ‘HANTU’ / SIDER … bodo ah! HAHAHAHAHA HOOWWW TAORIS SHIPPER RAMAIKAN !!! MANA SEMANGAT TAORIS SHIPPER! *jadinya gue yang menggebu- gebu -__-

Title : Kris Complex

kris complex

Author : Gue yang dimakan Sehun… (hatinya) Hahah Termakan Sehun.

Main Cast : Wuyipan HuangJitao… Yipan Tatao… Taoris.. Whatever…

Other Cast : Temuin sendiri ya…

 

 

Hai hai…!!!!

TERMAKAN SEHUN IS BACK BACK BACK BACK *backsound Sherlock*

Ini nih Chapter duanya. Fresh from the oven. *macem kue saja* special with sweet recipe buat kalian kalian semua. Makasih juga buat yang udah baca chapter satunya. MARI KITA BELAJAR LAGI… *berasa guru gue yah* disini udah aku kurangin istilahnya kok. Biar gak bingung bingung juga. Haha.

Meskipun kemaren yang komen ff aku dikit, tapi aku tetep post lanjutannya. Makasih buat yang udah mau baca chapter pertama…

Oya, ada yang nanya juga, apakah anak kedokteran ngomongnya selalu dikaitin dengan istilah ilmiah. Jawabannya : Enggak juga… Gue malah ngomongnya di kaitin samaExo mulu gimana dong??? Hahahah. Trus AKU BUKAN PENGGEMAR MIRA W… aku aja belom pernah baca novelnya. Takut. Haha!

Oke capcus aja yak…

.

.

.

.

 

Part 2

 

Kris masih menatap aneh lelaki bersurai hitam di hadapannya. Bukankah tadi dia bilang tidak suka minum? Tapi kenyataannya saat ini, iamalah menghabiskan hampir lima botol wine.Dasar padahal baru saja aku memujinya tentang kemauannya untuk tidak minum.

Tao menyodorkan gelas wine nya yang kosong kepada Kris, meminta Kris untuk mengisinya kembali.

“Aku tidak tahu lagi harus menyebut apa cara minummu, selain seperti gelandangan?”

Walaupun jelas-jelas Kris melontarkan kata-kata tersebut, namun Tao tetap tersenyum bahagia sambil menghentak-hentakkan kakinya ke kursi. Ia langsung mengosongkan gelas setiap kali Kris menuangkan wine ke dalam gelasnya. Seakan ia lupa apapun yang ia rasakan dalam hatinya.

“Mati kau, kalau sampai berulah saat kau mabuk.”

Hwang Zitao, sebenarnya Kris sudah mengetahui namanya sejak lama.  Ia selalu bertemu dengannya di setiap harinya. Namun ia tidak yakin apakah ia melihatnya. Sejak setahun kepulangannya dari Amerika, Kris adalah salah satu pelanggan di toko buku Tao. Ia selalu menghabiskan waktu senggangnya di sana, hanya sekedar membaca buku atau sekadar mencari informasi tentang permainan gitar.

Tao sang mahasiswa pintar yang memasuki Gangwoon University dengan system kepemilikan piagam atau penghargaan dan juga nilai raport yang gemilang. Tao sang ‘Photograpic Memory’ yang hanya perlu waktu sedetik untuk menghafal seluruh isi istilah rumit kedokteran. Hanya saja ia belum menemukan aksen itu di diri Tao. Pertama, karena presentasi tadi pagi yang di lakukan oleh Hwang Zitao hasilnya gagal total. Kedua, ooohh…Siapapun tolong jangan melihatnya saat ini.

“Lihat caramu duduk. Turunkan kakimu…itu tidak sopan.”

“Aku tidak sedang makan, jadi untuk apa kau harus takut aku berlaku tidak sopan?”

“Yah! Kau pikir harus berlaku sopan hanya saat kau sedang makan? Kenapa wajahmu seperti itu? Menggelikan.”

“Bagaimana?” Tao mendekatkan wajahnya pada Kris, tangan kanannya masih tetap menggenggam gelas wine yang separo habis.

“Hisshh… terlihat seperti orang yang ingin di jadikan sesajen.”

“Omongan Euisangnim benar-benar jahat sekali. Mungkin karena Euisangnim telalu lama di Amerika ya? Ngomong-ngomong, Euisangnim tahu tidak? Hari ini adalah hari sialku. Benar-benar sial, sampai rasanya aku ingin mencabuti satu persatu rambutku ini. Hahhh… ini pertama kalinya…” Tao menenggak habis wine nya. Kemudian meletakkan gelasnya dengan keras.

“Ini pertama kalinya aku merasa sangaaaaat malu, hahahaha. Kau tahu karena apa?” Tao mengacungkan telunjuknya kemudian mendorongnya pelan ke dada Kris. “Kau… ah bukan bukan, sepertinya setiap kali aku bertemu denganmu itulah hari sial. Kau itu pembawa virus. Virus yang kau bawa sangat mengerikan. Ahhh… kenapa aku malah memegangmu. Hishh… harusnya aku menjauhimu. Tuangkan wine nya lagi!”

Apa dia bilang? Aku yang tampan ini pembawa virus? Meskipun aku memang sedikit tidak perduli sekitar, namun aku bukan pembawa virus. Hey, apa dia ini perempuan? Cerewet sekali kalau sedang mabuk. Tapi dia juga terlalu cantik untuk seorang lelaki. Hey Kris Wu, apa yang sedang kau pikirkan?

Tao sepertinya sudah kehilangan kendali. Kris hanya terus menuruti perkataan Tao dan memandangnya semakin heran.

“Omonganmu juga tidak bagus Zitao. Apa maksudmu dengan pembawa sial? Kau pikir aku memiliki kutukan?”

Tao mendecakkan lidah setelah menyeruput wine nya yang manis. Ia mulai merasa pusing. Namun ia masih tetap berceracau. Sudah tidak terkendali.

“Hey, mungkin saja itu benar! Kau tahu, aku saja heran kenapa aku bisa gagal dalam presentasiku kali ini. Ahhh iya, alasannya kan sudah jelas… lagi-lagi kau.”

Apa-apaan anak ini? Tidak sopan sekali.

“Heyyy…kau ini tahu apa? Baru bertemu denganku sehari saja sudah berani menyalahkanku.”

Tao berdecak memicingkan matanya kepada Kris yang tengah naik darah. “Ckckck, aku sudah melihatmu puluhan kali. Ah tidak tidak, ratusan kali. Sampai aku bosan… Maka dari itu aku bisa mendeteksi virus yang selalu kau bawa.”

“Kau ini bicara apa sebenarnya?”Dia bilang sudah pernah melihatku ratusan kali? Ah iya, aku kan pelanggan perpustakaannya.

“Aku berbicara soal virus… viruusssss Euisangnim… Akan kuberitahu virusnya seperti apa.” Suara Tao berubah sedikit serak. Membuat Kris merinding. Dalam sekejap Tao sudah menarik kerah blazer Kris, lalu mendekatkan wajah. Matanya bertemu langsung dengan mata lembut Tao. Kris memandangi Tao dengan pandangan ‘mustahil’.

Cantik juga anak ini. Itu adalah hal pertama yang terlintas di pikiran Kris saat Tao semakin mendekatkan wajahnya. Membuat tubuhnya kaku total. Meskipun Kris memiliki banyak fans diluar sana, tapi ia tidak pernah menjalin hubungan satu kalipun dengan siapapun. Ia tidak menyukai wanita-wanita di luar sana yang terus saja berisik memanggil namanya. Tapi saat ini, dadanya sedikit bergemuruh hanya karena pandangan lelaki bodoh yang sedang mabuk dan kehilangan kesadaran.

“Mau apa kau?”

“Diam saja, aku hanya ingin menunjukkan seberapa mengerikan virus dalam tubuhmu.”

Tao langsung memegang kepala Kris, lalu hendak mendekatkan bibirnya. Sekujur tubuh Kris bergetar jijik, mengira-ngira apa yang akan Tao lakukan padanya setelah ini. Kris yang masih 100% dalam keadaan sadar mencoba menenangkan dirinya sendiri. Bibir merah Tao sudah semakin mendekat. Kris menahan nafasnya, sebelum akhirnya….

“Huweeeekkkk….”

Jackpot! Perut Tao mengalami hangover. Tubuhnya pun juga langsung ambruk tidak sadar begitu saja. Dan yang terpenting, ia mengeluarkannya di tempat yang juga lebih dari sekadar kata tepat. Kris masih menahan nafas saat menyadari ada bekas yang ditinggalkan Tao sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri.

“Dasar gila! Aduh, Baekhyun dimana sih? Aku tidak tahan lagi dengan anak ini.”

 

 

Itu dia si pembawa virus. Mau apa kau? Tidak-tidak. Jangan mendekat. Satu langkah lagi akan kubunuh kau. Jangan mendekat! Lepaskan… Lepaskan!!

“Lepaskan! Dasar!”

Tao melompat seperti katak dan membuka matanya yang masih bengkak karena tidur semalam. Ia langsung memandang sekeliling.

“Dimana ini? Ah! Kuliahku… Hari ini kan pengambilan nilai akhir ujian.”

Tentu saja hasil akhir ujian “Uji Koassistensi”, yang akan menentukan ia layak untuk menjadi intern atau tidak.

Kakinya menabrak meja pendek saat berlari. Ia juga menjatuhkan sebuah kursi dan harus membenarkannya kembali gara gara berlari mengelilingi ruang keluarga.

“Hah…Jam delapaaaaan?Aduh rumah siapa sih ini… besar sekali.”

Tao berlari mengelilingi ruangan, mencoba menemukan pintu keluar, akan tetapi yang ia buka malah pintu ruangan entah apa itu, namun sangat besar sekali.

“Hei!”

“Arrrrgghhh…”

Tao terlonjak kaget sambil menutupi matanya saat berbalik melihat kearah suara yang baru saja menyapanya. Suara tersebut berasal dari lelaki bersurai pirang yang hanya melilitkan handuknya di bawah pinggang. Glek! Apa sih yang dipikirkan orang ini?

“Tidak perlu berteriak. Telingaku bisa pecah.”

“Ma…Mau apa kau disiniii?”

Tao kembali berteriak. Terang saja Tao bergidik, bagaimana bisa ia bersama dengan Kris si biang virus itu? Dalam satu atap pula. Dan saat ini Kris sedang seperti … angan-angan itu membuat Tao reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Rumah siapa ini? Rumahmu ya? Kenapa kau membawaku kemari?”

“Kau tidak ingat apa-apa ya?” Entah darimana, suara Kris terdengar.

Apa? Di mana orang itu? Tao menatap sekelilingnya, tapi tidak dapat menemukan lelaki tersebut. Sampai akhirnya ia bisa melihat bayangan lelaki itu di balik kaca buram. Namun dari sana, masih terlihat sagat jelas bagaimana siluet tubuh lelaki itu. Sial! Aku harus segera pergi dari sini. Ini pasti rumahnya.

“Ini rumah Chanyeol, kekasih Baekhyun, kau tahu kan? Semalam karena kau, Baekhyun dan Chanyeol mabuk berat, akhirnya aku membawa kalian kemari. Aku hanya tahu rumah Chanyeol. Arah rumah Baekhyun aku sedikit lupa.” Kris menegaskan.

“Lalu kenapa kau disini juga? Jangan bilang kau tinggal bersama Chanyeol.”

Anak ini bodoh atau memang polos sih?

“Kau…Kau benar-benar tidak mengingat apapun ya?”

Hah? Apa? Kejadian apa? Wajah Tao berubah memucat. Kris keluar dengan hanya menggunakan celana jeans, tanpa sehelai kaus pun. Siapapun yang melihatnya pasti risih, kecuali………… heh! Apa memang seperti ini gaya berbusananya?

“Ke…kejadian apa maksudmu?”

Kris mendengus melihat wajah Tao yang berubah. Ia menyeringai tertahan, seperti ada sebuah lampu cahaya yang mengambang di atas kepala Kris. Kemudian iamendekat kepada Tao. “Kejadian saat kau….” Kris mengubah intonasi suaranya menjadi sedikit lebih seduktif. Iamenyudutkan Tao pada meja makan yang berada di tengah ruangan.

“To…tolong kata…kan!” Nada suara Tao meninggi sekaligus bergetar. Ia tidak berani membalas menatap Kris.

“Semalam kau mendekatkan wajahmu padaku seperti ini Mr.Hwang. Lalu kau menarik kerah jas ku. Dan…”

Tao berhenti bernafas saat Kris melakukan hal yang –menurut Kris- sama persis seperti yang ia lakukan kepadanya semalam. Darah ditubuh Tao berhenti berdesir, ketika tangan Kris melingkar dengan sempurna di pinggang Tao. Membuat Tao harus menahan badan dengan kedua tangannya di meja. “Ja..jangan bercanda Euisangnim, jauhkan tubuhmu dariku.”

Kris memegang dagu Tao agar mau menatapnya. “Aku tidak sedang bercanda sayang… semalam kau memang melakukan hal ini…” Kris kembali menyeringai merasakan tubuh Tao menegang di dalam pelukannya. “Sebelum akhirnya…”

Hah! Kenapa bibir anak ini terlihat sangat lembut sih? Sungguh, jika saat ini ia berada di Amerika, ia sudah melumatnya tanpa ampun.

“Sebelum akhirnya apaaa?”

Sesaat Kris terhanyut, sebelum mendengar suara Tao yang tiba-tiba juga berubah seduktif. Seringaiannya semakin lebar,ia tidak kehabisan akal. Ia semakin mencondongkan tubuhnya di hadapan Tao hingga Tao terjatuh tepat dia atas meja. Lalu Kris melepaskan pelukannya dan berkata, “Sebelum akhirnya kau sukses muntah di atas baju mahal ku!!!”

DUG!!!

Tao terbelalak kaget merasakan kepalanya terbentur dan… Tunggu! apa yang Kris katakan tadi? Tao muntah di atas bajunya? Sontak Tao berdiri dari jatuhnya. Ia kemudian mencari sosok Kris yang sudah masuk lagi kedalam ruang berkaca buram tadi dan keluar hanya dengan memakai jam tangan. Tampan!

“Eung…benarkah?” Nada bicara Tao yang tampak ragu-ragu sepertinya salah total, jika ia luncurkan pada saat ini. Kris menatapnya tajam sekali.

“Haruskah aku memanggil seluruh bartender klub milik Chanyeol ke hadapanmu? Kau bahkan menghabiskan 5 botol wine dalam waktu sekejap. Kau bilang tidak mau minum… Cih!”

Tao seperti di tampar. Benarkah ia sangat mabuk semalam? Tunggu! 5 botol wine? Itu…itu sudah pasti keadaannya benar-benar mabuk berat dan tidak sadar. Lalu apa yang ia lakukan sebelum memuntahi pakaian Kris?

“Aku mabuk? Muntah? Aku… Katakan apa yang aku bicarakan sebelum aku muntah?”

Anak ini, kenapa malah membentakku? Harusnya dia meminta maaf padaku terlebih dahulu.

“Kenapa? Kau mau tahu? Kau ini, seharusnya kau meminta maaf kepadaku dahulu karena kau sudah muntah di baju ku. Jangan malah membentakku. Dasar!”

Tao mendengus, pernyataan Kris memang butuh dengusan kasar Tao. “Baiklah, aku minta maaf Euisangnim. Sekarang katakan…”

“Heoolll… apa seperti itu caramu minta maaf? Anak zaman sekarang benar-benar kurang tata krama rupanya.”

“Ya Tuhan! Kau ini cerewet sekali, seperti perempuan saja.”

Lelaki ini benar-benarmenyebalkan! Ingin sekali aku menghilangkan orang seperti dia.

Kris menahan tawanya –yang lebih terdengar seperti seringaian di telinga Tao, “Kau benar-benar ingin tahu Hwang-Zi-Tao?”Ia bangkit dan mengelilingi Tao sebelum akhirnya si Creepy Face itu berteriak kencang dari kamarnya.

“Berisik sekali sih? Baekhyun-ku sedang tidur tahu!”

Tao menoleh ke sebuah ruangan yang pintunya ia buka tadi. Sedetik kemudian muncullah Chanyeol yang bertelanjang dada, bahkan lebih parah dari Kris. Karena ia hanya menggunakan celana boxer pendek untuk bawahannya. Tao menutup matanya reflek. Mengalihkan pandangan kepada Kris yang sejak tadi juga tidak memakai sehelai pakaian untuk menutupi dadanya. Tao menelan ludahnya.

“Yah! Chanyeol…Aku malah terbangun karena suaramu! Achimhae (selama pagi) Tao.”

Kali ini suara Baekhyun terdengar, ia menoleh mencari sosok pemilik suara yang ternyata sedang bergelendotan di lengan kekar Chanyeol. Astaga! Baekhyun juga bertelanjang dada!

“Ya ampun, kalian ini… memang seperti ini ya gaya berbusana kalian setelah pergi dari luar negeri? Diluar dugaan sekali. Aku tidak tahan disini. rasanya seperti sarang penyamun. Dan Baekhyun, aku tidak pernah tahu kau mau tidur dengan lelaki bergigi besar itu. Haaaahh… aku pergi saja, dimana jaketku? Kepalaku pusing. Terimakasih telah memberiku tumpangan tidur disini Chanyeol… errrr Hyung!!!”

Tao seketika menyambar jaket miliknya yang sedikit berbau muntahan dirinya sendiri di sofa merah maroon. Ia tidak dapat bersabar lagi melihat tiga orang sekaligus bertelanjang dada di hadapannya. Bahkan dirinya saja tidak pernah berani membuka kausnya di hadapan ibunya. Disini, ia hanya menumpang untuk beristirahat, dan sudah seharusnya memang, ia sesegera mungkin pergi dari tempat tersebut. Namun, suatu hal diluar dugaan terjadi. Saat Tao ingin pergi meninggalkan ruangan besar itu, pundaknya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi kopi yang baru saja di pegang Kris.

“Ah!”

Air yang seharusnya diminum malah tumpah membasahi dada Kris.

“Aigoo…”

Tao seketika menyodorkan tangannya. Yang ia tahu, yang harus ia lakukan sekarang adalah, membersihkan sisa tumpahan kopi di dada Kris. Tao akhirnya menyentuh dada Kris dan mengelap kopi yang membasahinya. Permukaan kulit jemari Tao yang menyentuh permukaan kulit dada Kris membuat Tao merasakan sesuatu hal yang aneh. Selama beberapa detik Tao terpaku dalam posisi yang sama. Kris pun terkejut melihat perbuatan Tao.

“Astaga!”

Tao buru-buru melepaskan tautan tangannya di dada Kris, lalu secepat kilat ia menunduk dan menjauh lima langkah dari tubuh Kris. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Aigoo,, Apa yang baru saja kulakukan? Bodoh, bodoh, bodoh Tao bodoh!”

Ia memukuli kepalanya sendiri sambil menggumam. Tao hanya menggigiti kuku panjangnya dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya ia memilih untuk membalikkan badan dan berlalu begitu saja dari hadapan tiga orang alien tersebut.

“Tao… Kau mau kemana?”

“Hwang Zitaoo…” Kali ini Chanyeol yang bersuara.

“Hei…Hei… Mr.Hwang…!! Anak itu aneh sekali ya? Apa memang seperti itu gayanya? Menarik sekali.”

Kris tersenyum tak mengerti.

 

 

 

 

 

Tao menghabiskan waktu semalaman hanya untuk bicara pada Tuhan, agar hari ini ia di jauhkan dari kesialan. Namun sepertinya, Tuhan tidak begitu saja mengabulkan permintaannya. Tao menatap lemas jadwal koassistensinya. Pembawa virus tersebut benar-benar menjadi Ketua Residennya. Setelah mendapatkan nilai uji koassnya, yang rata-rata sempurna kecuali satu presentasi kemarin, Tao sudah mendapat sertifikasi lulus uji kompetensi koassistensi. Namun ia masih sedikit kecewa dengan nilai presentasi acak yang di lontarkan oleh Dokter pembawa virus kemarin. Ia juga terlihat sangat shock karena jadwal magangnya.

“Seseorang yang tidak terlalu berbakat harus mendapat bimbingan khusus dariku. Kalau tidak, rumah sakit ini pasti akan masuk dalam surat kabar dengan plakat Rumah Sakit Gangwoon Dan Aksi Malprakteknya.” Begitu ujarnya saat memberikan jadwal magangnya kepada Tao.

Pembawa virus tersebut memang seperti sampah, bertingkah semaunya saja. Tao mendengus kesal.Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dalam kehidupan magangnya jika ia harus terus berdekatan dengan orang tersebut. Ia tidak pernah sesial ini dalam hidupnya.Presentasi gagal, mendapat pembimbing yang tidak pernah ia duga, dan jadwal jaga nya yang mencekik lehernya.

“24 Jam?” Tanyanya kepada Kris saat itu.

“Ehmm… 36 jam sebenarnya, karena kau juga tidak boleh melewatkan kunjungan pasien pada pagi hari.”

Tao menelan ludahnya kasar. Ia terlihat seperti orang yang sangat bodoh.

“Tapi tenang saja. Itu hanya berlaku untuk hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Selebihnya kau bisa datang separuh waktu di pagi hari. Dan ingat, setiap akhir pekan semua harus mempresentasikan pemahaman kasus yang terjadi. Di-ha-da-pan-KU! Kau mengerti Hwang Zitao?”

Percakapan tersebut terus saja terlintas di otaknya. Memendarkan getar pesakitan di dadanya. Tao kemudian berjalan gontai menuju kantin Rumah Sakit. Duduk di bangku paling pojok.

“Sehun-ah…” Tao melambaikan tangannya lemah pada Sehun yang sedang berjalan membawa satu nampan makanan.

“Aku membelikannya untukmu. Aku tahu kau shock mendapat nilai D. Aku juga shock melihat jadwal jaga kita.”

“Psssssttt…” Tao meletakkan satu jari telunjuknya di depan mulut. Menengok ke kanan lalu ke kiri. “Jangan keras-keras, nanti ada yang mendengarnya. Bisa rusak pamorku. Lagipula hanya satu mata kuliah saja.”

Tanpa permisi, Tao segera melahap dua potong sandwich di hadapannya. “Terimakasih untuk makanannya.”

“Pelan-pelan saja. Ckckck, kau pasti sangaaaaaat lapar. Tidak kusangka, kesulitan kita belum berakhir. Kupikir, jika sudah memasuki area rumah sakit, semua akan terasa lebih ringan. Karena tidak perlu lagi menghafal istilah latin yang membelit lidah. Tapi ternyata… ini sih, lebih terasa seperti menghadapi Joker. Menyeramkan.”

“Stres membuat nafsu makanku bertambah.Kau benar, penderitaan kita belum berakhir. Aku tidak habis pikir, masa hanya karena aku mendapat satu nilai D, ia sudah mengataiku orang yang tidak berbakat. Ck! Aku yakin ia hanya dendam karena aku muntah di baju mahalnya.”

Sehun yang sedang menyeruput bubble tea nya tersedak, “Apa? Dia? Bajunya? Siapa? Kapan? Apa yang kau bicarakan sih?”

“Waktu pesta penyambutan Baekhyun, aku muntah di baju Dr.Kris.”

“Oh, waktu itu ya. Aku tahu kau muntah, tapi tidak tahu bagaimana awalnya kau bisa menjadi seperti itu, namun waktu itu, kau benar-benar tidak terlihat baik. Kau menari-nari di atas meja, menghentak-hentakkan kaki. Menggelepar di lantai dansa. Melakukan aksi wushu mu. Dan yang paling parah. Kau muntah di dada Dr.Kris.”

Glek! Tao kehilangan selera makannya seketika. Ia merasa kepalanya baru saja kejatuhan batu yang sangat berat, kepalanya sangat sakit. Matanya membelalak seperti anak kecil usil yang ketahuan berbuat nakal. Sedetik kemudian pandangannya berubah nanar.

“Kau tahu tidak, darahku berhenti mengalir selama berjam-jam kemarin. Rasanya aku ingin menangis saja. Aku benar-benar tidak bisa berdekatan dengan orang itu, membuatku ingin muntah. Sepertinya hari-hari kedepan tidak akan ada hal yang berjalan mulus untukku. Presentasiku yang gagal. Aku yang tanpa sadar muntah di bajunya karena terlalu banyak minum alcohol. Belum lagi aku yang harus berada di bawah bimbingannya. Haaaahhhh… Dewi Fortuna tidak sedang berpihak padaku.”

Sehun mulai mengunyah kentang goreng asin favoritnya. “Sebenarnya Tao, kalau dipikir-pikir, lelaki itu tidak semenyeramkan yang kau pikir. Dia baik, pintar… ah tidak-tidak, bahkan jenius sekali. Kau tahu tidak dia lulusan Pennstate University?”

Tao mendengung sembari menggeleng.

“Dr.Kris Wu, lulusan Pennstate University Colombo, Jurusan Kedokteran Umum, berhasil memasuki program akselerasi untuk S2 nya. Kau tahu dia mengambil apa dalam S2 nya? Bedah Jantung! Dia mengikuti program akselerasi hanya 6 bulan kemudian lulus dengan predikat terbaik. Dia benar-benar jenius. Bahkan dia sudah mendapat ijin praktek di rumah sakit St. Maria Washington DC.”

Mata Tao kembali terbelalak. Sebenarnya ia sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Sehun. Namun, seperti biasa, ia tidak ingin tampak terkagum-kagum dengan apapun yang berhubungan dengan Kris.

“Jenius sekali dia. Tapi kau tahu kan? Di atas langit masih ada langit. Kenapa diantara sebegitu banyak orang jenius di Korea, harus dia yang terpilih menjadi pembimbing kita. Itu lebih menyebalkan daripada mendapat nilai D. lagipula untuk apa dia malah pulang ke Korea, bukankah di Amerika dia akan lebih makmur? Aneh sekali malah memilih menjadi pembimbing mahasiswa amatir dan menjadi Dr.Resident untuk Prof.Lee.”

“Hidupnya sudah makmur sejak dulu. Kau ini sepertinya sangat membenci sosok Dr.Kris ya?” Sehun sedikit berharap jawaban yang akurat dari Tao, ia memang sedikit penasaran dengan apa sebenarnya isi kepala Tao, bahkan isi hatinya yang selalu membuat Tao mengatakan bahwa Kris adalah penyebab penyakit aneh yang di deritanya.

“Tidak, aku hanya….” Tao tampak gelagapan menanggapi pertanyaan Sehun yang tiba-tiba. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sebenarnya. Setiap kali ia berada di bawah aura Kris, ia akan selalu merasakan sesuatu yang aneh yang tidak bisa ia gambarkan dengan apapun. Jantungnya berdetak lebih cepat, kakinya terasa lumpuh.

“Aku serius, kau tidak sedang jatuh cinta kan?”

Tao memuncratkan milk tea yang baru saja ia minum. Pertanyaan Sehun semakin tidak jelas.

“Well begini Tao, selama ini kau tidak pernah memperdulikan siapapun yang datang mendekatimu, kau ingat Kim Jongdae? Anak fakultas ekonomi yang memintamu menjadi kekasihnya dengan cara yang spektakuler?”

Tao menggeleng keras.

“Sudah kuduga kau pasti tidak mengingatnya. Lalu Kim Jongin? Kwon Nak Kyun? Lee Sang Hyun? Hong Se Na? Shin Min Jung? Kenapa semua yang menyatakan cinta padamu hanya lah lelaki, ah siapa yang perduli. Kau ingat tidak nama nama itu? Tidak juga kan? Lalu kenapa kau selalu mengingat satu nama yang bahkan tidak pernah bertegur sapa denganmu? Aku tahu, kau selalu bergetar hebat saat Dr.Kris lewat di hadapanmu. Tanganmu akan berubah mendingin saat ia bertegur sapa dengan Luhan. Dan kau hanya menunduk tanpa berani mendongak saat ia datang menghampiri ruang praktek Luhan. Kau masih mengelak kalau kau jatuh cinta?”

“Kau ini gila ya? Sepertinya kejeniusanmu menghilang sejak kau berpacaran dengan Luhan hyung. Isi otakmu hanya cinta cinta dan cinta saja. Kau ini…bagaimana mungkin kau bisa mengatakan aku jatuh cinta dengan sosok angkuh, pemarah dan sombong seperti Dr.Kris?”

“Kalau begitu katakan satu alasan, kenapa kau tidak bisa melakukan presentasimu dengan baik beberapa waktu yang lalu? Itu Karena Dr.Kris kan? Karena kau gugup berada di sampingnya…”

Tao menelan ludahnya kasar. Harus dengan apalagi ia mengelak kata-kata Sehun. Ia kehabisan kata-kata. “Hah! Sudahlah, jangan membicarakan dia lagi, menyebut namanya saja sudah membuatku alergi.”

“Siapa yang membuatmu alergi?”

“Dr.Kris yang pemarah itu. Cih! Aku menyebutnya lagi.”

Tao sibuk mengumpat, tanpa menyadari siapa yang sebenarnya baru saja bertanya kepadanya. Lelaki berambut pirang tampak duduk dengan tenang di samping Tao sambil menunjukkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.

“Jadi kau berpikir kalau aku itu pemarah, sombong dan angkuh Tao-sshi?”

Menoleh, Tao menatap lelaki yang sudah sempurna duduk di sampingnya, menopang dagu sambil menunjukkan senyum mengerikan.

“A..Aku…bukan, maksudku…aku harus pergi.”

Tao menyambar kertas laporan dan tas mahalnya sekenanya. Ia benar-benar harus pergi sebelum terkena bencana.

“Hey, anak manis…Kau mau kemana…?”

Kris dengan santai menahan pundak Tao untuk tetap duduk di tempatnya. Tao nampak meringis tidak nyaman. Ia sangat gugup. Ia kembali menggigiti bibir dan menggerak-gerakkan dua jari telunjuknya. Kepalanya menunduk tidak berani mendongak. Sekilas ia menatap Sehun yang mengedikkan bahu tanda ketidak mauannya mencampuri urusan mereka. Sehun hanya tersenyum menatap Kris kemudian berlalu bersama setumpuk kentang goreng asin.

“Tadinya aku kemari untuk mengembalikan Coat ini kepadamu. Benda ini tertinggal dimobilku dan Baekhyun bilang ini milikmu. Tapi sepertinya kau tidak begitu menginginkan coat ini. Jadi aku pergi saja.”

Tao melotot sampai selebar bola ping pong. Ia menahan langkah Kris. “Burberri-ku! Berikan padaku.”

“Ambil saja kalau kau bisa.” Kris berdiri meletakkan tas berisi Coat Burberri milik Tao di tangan kirinya, kemudian ia mengangkatnya tinggi-tinggi. Tao yang beberapa senti lebih pendek dari Kris, melonjak-lonjak berusaha meraih coat idamannya.

“Euisangnim…kalau seperti itu terus, aku tidak akan bisa mengambil coatku. Turunkan tanganmu.” Raut muka Tao cemberut, ia terus saja melonjak-lonjak mencoba meraih tangan Kris yang di atas awang-awang. Kris hanya melihatnya dengan tatapan datar. Berapa umur anak ini ya? Kenapa tingkahnya masih seperti ini?

“Euisangnim… Hosh… Hosh… Euisangnim… Sajangnim tidak sadarkan diri.”

Seseorang berjas putih dengan tanda pengenal ‘Dr.Do Kyungsoo’ itu mendatangi Kris dengan nafas tersengal-sengal. Wajah datar Kris berubah menegang.

“Apa? Sajangnim? Kemana Dr.Lee?”

“Sedang dalam perjalanan menuju kemari, Euisangnim.”

“Sajangnim?” Tao bergumam.

Kris menurunkan tangannya dari awang-awang. Ia masih menggenggam tas Burberri tersebut di tangannya. Jas putihnya melambai seiring langkah lebar Kris yang tampak sekali semakin tegang. Tanpa sadar Tao mengikutinya dari belakang. Bukan-bukan. Bukan karena tanpa alasan, tapi Kris tiba-tiba saja menggenggam tangannya kuat dan menyuruhnya untuk mengikutinya.

Sajangnim? Sajangnim siapa ya? Kenapa wajahnya berubah seperti itu? Hey, dan kenapa dia menarikku seperti ini? Dia sadar tidak, ini akancepat sekali menularkan virus. Tapi wajahnya yang seperti itu…

“Apa yang terjadi? Efusi Perikardial lagi?”

“Sebaiknya Euisa memeriksanya sendiri.” Kyungsoo mengulurkan tangannya dan memberikan stetoskop kepada Kris.

Efusi pericardial adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan akumulasi cairan (cairan pericardial) dalam jumlah yang berlebihan di sekitar jantung. Pericardial diantara kedua lapisan (bilik dan katup) berfungsi untuk mencegah terjadinya gesekan ketika jantung sedang memompa. Akan tetapi jika cairan pericardial itu berlebih dan berkumpul diantara kedua lapisan tersebut akan memberikan tekanan pada jantung dan menyebabkan kematian jantung secara tiba-tiba.

Kris menatap nanar lelaki paruh baya di hadapannya. Wajahnya mirip sekali dengan Kris. Apa dia ayah Euisangnim? Kris segera mengenakan stetoskop yang di berikan oleh Kyungsoo. Memeriksa keadaan lelaki paruh baya yang tampak sekali sulit bernafas. Kemudian ia memeriksa denyut nadi melalui tangan pasien.

Kris mendelik kaget. Nafasnya terengah-engah. Ia menelan ludahnya kasar. Raut wajahnya berubah sangat pucat. Keringat dingin tampak terus menetes di dahi Kris. Tao yang hanya bisa menatap Kris yang memasuki ruang tindakan dari kejauhan mulai khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Kris yang berubah menggebu-gebu membuatnya sedikit gugup. Ia memeluki tas Burberri di dadanya. Euisangnim seperti akan menangis? Sajangnim itu apakah ayahnya. Tapi kenapa aku tidak asing dengan wajah Sajangnim ya? Ahh…

“Apa Dr.Lee belum juga datang?”

“Belum.”

“Cardiomyopati. Sejak kapan? Bagaimana mungkin sajangnim… Kalian sedang apa? Cepat pasang oksigennya!!! Bodoh!”

Kyungsoo dan beberapa perawat lain tersentak dan dengan cepat melaksanakan perintah Kris. Kyungsoo terpaku, ia tahu Kris telah menyadari kelainan fungsi otot jantung yang di derita Sajangnim.

“Penyebabnya tidak di ketahui Euisangnim. Sajangnim tidak memiliki sejarah penyakit arteri coroner, atau kelainan jantung bawaan atau pun congestive symptomps (gangguan kongestive). Hanya saja beliau sejak dulu memang memiliki Tamponade Jantung.”

Cardiomyopati adalah yang di derita sajangnim. Kelainan fungsi otot jantung tanpa di ketahui penyebabnya. Pada keadaan ini terjadi kerusakan atau gangguan miokardium, sehingga jantung tidak mampu berkontraksi secara normal. Sebagai kompensasinya otot jantung akan menebal (hipertrofi) dan rongga jantung membesar. Kondisi seperti ini cenderung mulai dengan gejala ringan, selanjutnya memburuk dengan cepat.

“Euisangnim, Su…Sudden Cardiac Death.”

Kris lagi lagi menelan ludah kasar. Matanya yang sipit membesar karena kaget. Iakembali memeriksa tanda vital lelaki tersebut. Tidak ada tanda-tanda detakan, hanya terdengar detak jantung Kris sangat kencang. Kris masih tampak ragu untuk menangani pasien paruh baya ini.Ia sangat tau kondisi ayahnya yang terancam karena mengidap Cardiac Tamponade. Tapi ia sangat tidak menyangka jika Cardiomyopati juga menyerangnya. Dan saat ini, kematian jantung mendadak.

“Euisangnim kumohon.” Kyungsoo memelas.

Ayah…

Kris menatap Kyungsoo lekat, kemudian mengangguk mantap. Ia meraih botol alcohol yang berada tidak jauh darinya. Ia membasuh kedua tangannya dengan cairan dingin tersebut.

“Start the preparation.”

Ia memerintahkan kepada seluruh team medis, yang langsung di balas anggukan oleh seluruh anggota team. Saat ini ia masih mencoba memancing denyut jantung ayahnya dengan CPR.

“Ayah, kau dengar aku?” Kris terus memompa dada ayahnya dengan cepat. “Ayah, bangun.” Suara elektokardiograf di sampingnya berdengking. Kris melihatnya sekilas.

“Defibrillator! Charge 150.” Kris berteriak.

“Yeah, it’s ready.”

“3…2…1, Clear.”

Kris meletakkan dua benda yang lebih mirip seperti setrika mini di atas dada ayahnya. Ia menghitung dari angka tiga sampai satu kemudian dada ayahnya melengkung keatas seiring dengan tarikan alat yang di pegang oleh Kris. Ia melirik lagi monitor di sampingnya. Tidak menunjukkan denyut jantung ayahnya yang normal.

“Again!”

“Oke. Ready.”

“3…2…1. Ready, Clear.”

Dada ayahnya kembali melengkung. Namun tetap tidak menunjukkan tanda kenormalan pada denyut nadi ayahnya. Kris semakin pucat, namun ia tidak menyerah. Ayah…

“Charge 250. Now! Hurry!” Kepanikan mulai melanda wajah Kris.

“Ready…”

“Na…Deul…Saet…Clear!”

Monitor di sampingnya kembali berjengit keras. Menunjukkan tanda-tanda kenormalan pada jantung ayah Kris. Bahkan garis hijau disana telah bergerak naik turun.

“HR 120/second Uisangnim.”

Kris mendesah lega. Nafas ayahnya mulai tersengal. Namun ia tahu pasti ini bukan nafas karena denyut jantung ayahnya yang kembali. Tapi lebih karena ayahnya tidak bisa bernafas disebabkan banyaknya cairan yang memenuhi rongga jantungnya.

“Jarum suntik. Epinefrin. Asiston.”

Kyungsoo memberikan satu jarum suntik dan obat-obatan yang di sebutkan Kris. Kris meraihnya sigap. Menusukkan jarum suntik ke dalam botol obat-obatan tersebut, mencampurnya. Kemudian dengan perlahan meraba dada ayahnya. Menusukkan jarum beserta obat-obatan melalui dada. Ayahnya tersengal, Kris semakin berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Aku harus menarik cairan perikardialnya.Otot jantungnya sudah membesar. Dan tenggelam dalam cairan pericardial.” Gumamnya entah pada dirinya sendiri atau kepada orang lain.Ia menarik ujung pelatuk jarum. Di dalam tabung suntikan tersebut dapat terlihat cairan pericardial yang sedikit menguning naik keatas.

Namun Kris, tidak berhenti sampai disitu, ia mencabut jarum tersebut kemudian mengambil satu jarum suntik yang baru. Dengan akurasi dan kekuatan yang sama. Kris kembali menusukkan jarumnya pada dada ayahnya. Menarik ujung pelatuk jarum. Kali ini cairan pericardial berwarna sedikit gelap keluar. Kris menunjukkan ekspressi tercengang. Tidak terjadi tanda-tanda pergerakan menuju membaik dari nafas dan nadi ayahnya.

“M..Myectomi Septum! Need that surgeon. Now! Prepare for this!”

Kris sedikit bergetar mengeluarkan perintah tadi. Myectomi Spetum adalah bagian dari operasi bedah dimana para ahli bedah menghilangkan bagian dari dinding otot jantung yang menebal yang menghalangi aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta. Meningkatkan aliran darah dan mengurangi regurgitasi mitral.

“Baik.”

Ingin rasanya aku mati membenturkan diri ke dinding, atau memukul hidungku dengan panci? Tapi aku tidak suka keduanya. Ahhhh…Ayah… apa yang terjadi padamu…??? Kau harus bertahan hidup.

Lalu Kris memulai pembedahan tersebut…

 

 

 

 

Sementara itu Tao yang entah kenapa mengabaikan seluruh mata kuliahnya hanya demi Kris, masih setia menanti dengan wajah cemas. Menyadarkan punggung pada dinding dan memeluki lututnya kencang. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi, siapa sajangnim. Namun raut wajah Kris membuatnya ingin bertahan dan menunggunya.

Sedetik kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Kris yang masih lengkap dengan seragam birunya, keluar dengan raut wajah yang kosong. Tao menoleh menatapnya cemas. Baru saja ia akan membuka mulut untuk menyapanya, ketika seorang laki-laki mengenakan tuxedo datang. Tao mengurungkan niatnya.

“Doryeonim…” Sapa lelaki tersebut.

Eung? Doryeonim? Alis Tao reflek berkerut.

Kris menatap tajam lelaki tersebut. Andai saja tatapan bisa membunuh, mungkin lelaki tersebut telah terbunuh hanya dengan tatapan Kris.

“Sajangnim tumbang saat dia sedang rapat.”

Kris menggeram. “Rapat? Sepagi ini? Bukankah semalam ayah sudah melakukan rapat?”

“Tentang buruh pabrik Gangwoon Foods yang sedang melakukan unjuk rasa.”

“Yatuhan Ayah…Lalu sejak kapan ayah mengalami Cardiomyopathy?”

Lelaki bertuxedo tersebut menundukkan kepalanya hormat.

“Ayah anda memang seharusnya sudah tidak bekerja lagi Doryeonim. Sejak kecelakaan yang menimpa ibu dan ayah anda satu setengah tahun yang lalu, Dokter Lee mendiagnosa seperti itu. Tapi ayah anda…”

Kris tertawa getir. “Kau…seperti tidak tahu ayah saja. Betapa keras kepalanya dia.” Ia melirik sekilas Tao yang memandangnya polos. “Sekertaris Han, masuklah. Lihat kondisinya dan jaga ayah baik-baik, aku lelah. Beritahu aku kalau terjadi apa-apa, jangan disembunyikan lagi.”

Lelaki memakai tuxedo hitam yang diketahui adalah sekertaris pribadi ayah Kris menunduk kepada Kris. Kemudian memasuki ruang dimana ayahnya terbaring. Kris tersenyum lalu mendatangi Tao.Ia melepas masker dan topi birunya

“Kau ini lama sekali di dalam. Aku sampai hampir di tumbuhi lumut menunggumu di sini. Apa kau baik-baik saja? Biasanya kau rapi sekali. Kali ini tampak sangat berantakan.”

“Ikut aku!”

“Eh!!!” Mata bulat Tao semakin membulat karena mendadak Kris menarik tangannya dan mencengkeramnya kuat-kuat. “Mau kemana? Aku harus pulang dan menghafalkan catatan medis beberapa pasien.”

“Kalau ingin belajar kenapa tidak sejak tadi saja kau meninggalkan rumah sakit? Dasar anak ini! Ikuti saja apa perintahku!”

“Heh, memangnya kau ini siapa? Beraninya….”

Entah sejak kapan Kris telah menenggelamkan wajahnya pada leher Tao. Membuat rona pada wajah Tao samar terlihat. Namun saat ini, Tao dapat merasakan detakan jantung Kris yang berdetak kencang, lebih kencang dari miliknya sekarang. Tubuh Kris bergetar hebat.

“Aku takut. Aku membutuhkanmu, sekarang. Kumohon ikut aku.”

Tao tidak bisa bernafas saking terkejutnya.

Aku membutuhkanmu????

 

 

 

 

“Apa ini? Whoahh…”

Kris mengajak Tao menuju ke sebuah tempat rahasia. Atap rumah sakit yang belum pernah Tao datangi. Sepertinya ini tempat rahasia Kris. Terbuat dari tumpukan kayu kokoh yang membentuk sebuah atap kayu. Tempat ini sangat indah, meskipun sedikit gelap. Cahaya meremang memasuki sela-sela lubang kayu. Banyak sekali kertas-kertas yang tertumpuk dan buku-buku yang berjejer. Walaupun tempat ini terlihat tidak pernah terjamah, namun tempat ini sangat bersih.

“Ini tempat rahasiaku.”

“Rahasia? Kau mengajakku ke tempat rahasiamu?”

“Sudah diam, kemarilah dan duduk disini.”

Tao terpaku melihat siluet Kris yang tidak dapat berbohong. Ia ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tahu diri. Ia tidak mau mencampuri urusan Kris. Apalagi Kris adalah dosennya.

“Duduk disini. Aku tidak suka ada orang yang memandangi siluetku seperti itu.” Ujar Kris datar. Tao kemudian menyingkirkan setumpuk buku usang lalu duduk di samping Kris.

“Kesini, kesana, ikut aku, duduklah, memangnya aku ini anjing?”

“Anjing?” Tanya Kris sambil tertawa licik. Lalu mengulurkan tangan meraih sebuah plastic yang ternyata berisi dua botol soju. Bau alcohol menguar kuat dari botol yang baru saja di buka Kris. Dengan santai Kris menenggak sojunya tanpa menuangnya kedalam gelas –lagipula, mana ada gelas disana. Melihat itu Tao mengernyit heran.

“Itu tadi ayah Euisangnim ya?”

“Hmmph?”

Minuman Kris hampir saja tumpah dari mulutnya. Kris mengelap bibirnya sebelum menganggukkan kepala. Lalu ia menenggak lagi minumannya. Tao melihat cairan bekas soju membasahi dagu Kris. Tanpa pikir panjang, Tao mengulurkan tangan untuk mengelap cairan tersebut. Mata Kris terbelalak, menandakan betapa ia sanagt terkejut. Tao yang memasang wajah polos dengan tenangnya tersenyum.

“Kau ini seperti anak kecil, minum saja sampai tumpah kemana-mana.”

Kris masih memandang Tao lekat, meskipun Tao telah mengalihkan pandangannya pada hal lain.

“Kau benar, aku masih seperti anak kecil.”

“Eh?”

“Aku lulus dari universitas terkenal di Amerika, dengan nilai yang tidak di ragukan lagi. Aku juga mendapatkan gelar spesialis kardiovaskular. Bahkan aku mendapat sertifikat ijin praktek bedah di rumah sakit Santa Maria. Kau tahu rumah sakit itu kan? Rumah sakit terbesar di Washington DC. Tapi…”

Kris menenggak lagi soju yang masih di pegangnya. “Tapi aku takut sekali. Aku takut memegang ayahku. Aku takut menyakitinya.”

“Apa maksud Euisangnim?”

“Cardiomyopathy. Awalnya aku sudah tahu kalau ayah harus menjaga pola makannya karena efusi pericardial yang sudah sampai pada tahap Cardiac Tamponade. Itu karena ayahku pernah melakukan operasi donor hati untukku sewaktu kecil. Namun ternyata ada hal lain yang terjadi dalam rongga dadanya. Yah, Cardiomyopathy….” Kris menyeringai samar, ia menundukkan kepalanya lalu menenggak soju nya lebih banyak –lagi.ia mengingat-ingat bagaimana ketika dokter memberikan vonis bahwa ayahnya terkena penyakit cardiovascular berjenis Tamponade.

Keadaan dimana terjadi tekanan yang berlebihan pada jantung yang menyebabkan darah yang seharusnya mengelir ke ventrikel merembes keluar dan tercampur dengan pericardial sehingga terjadi penyumbatan. Seperti itulah Cardiac Tamponade.

“Keeeghh!!! Aku bahkan baru tahu tadi pagi. Sial! Anak macam apa aku ini…”

“Kau pernah operasi cangkok hati?”

Kris mengangguk. “Waktu kecil, aku di diagnosa mengalami Sirosis. Dan hanya operasi pencangkokan hati lah yang dapat membuatku sembuh dan tumbuh. Lalu ayah ku, tanpa banyak berkata, mencangkokkan hatinya padaku. Dan akhirnya aku sembuh sampai saat ini.”

Tao tecengang, ia memandangi Kris terkejut. “Karena itu juga kah Euisangnim menjadi dokter?”

Kris menoleh pada Tao, mengacak-acak rambutnya. “Tepat sekali. Aku inginmenyembuhkan Efusi Perikardial ayahku. Tapi sialnya… tiap kali aku berhadapan dengan ayah yang sedang sakit, aku tidak berani sekalipun menyentuhnya. Itu juga alasannya aku masih tetap menjadi dokter pendamping.”

Tao mengangguk-angguk mengerti. Sekarang, Tao seperti melihat sisi Kris yang lain. Kris yang tanpa di duga-duga ternyata memiliki hati yang lembut. Kris yang selalu terlihat sempurna di mata siapa saja. Tanpa luka dan duka sama sekali. Ternyata, ia adalah seorang anak biasa yang sangat mencintai keluarganya.

“Tunggu, kau bilang ayahmu terkena Cardiomyopathy kan? Apa kau tahu penyebabnya?”

Seringai Kris mendadak berubah menjadi senyuman dingin. Tatapannya menerawang jauh entah dimana. “Menurut Sekertaris Han. Penyakit itu di deritanya sejak kecelakaan yang di alami oleh ayah dan ibuku satu setengah tahun yang lalu. Mungkin dadanya terbentur sesuatu. Dan menyebabkan bengkak pada otot jantungnya.”

“Lalu dimana ibumu? Aku tidak melihatnya tadi?”

Kris tersedak soju mendengar pertanyaan Tao yang tiba-tiba. Sepertinya semua pertanyaan Tao terasa sangat tiba-tiba bagi Kris. Senyumannya masih sedingin es di kutub selatan. “Sudah meninggal.” Jawabnya datar.

“Apaaaa…?!” Tao memandangi Kris iba. “Euisangnim tadi bilang apa?”

“Kau mau bersikap kejam dengan menyuruhku mengatakannya lagi?????”

“Ah, Joseumnida. (maaf dalam formal).”

“Jika kau merasa bersalah, cukup tutup mulutmu, dan jangan katakan apa yang baru saja aku ceritakan kepada orang lain. Kaulah yang membuatku mengatakan hal itu!!!”

Tao mendelik sebal melihat Kris yang kembali menjadi lelaki menyebalkan yang ia kenal. Namun pada akhirnya ia mengangguk dan menutup mulutnya rapat-rapat. Haahh…baru saja aku berpikiran baik tentangnya. Sudah berubah lagi. Dasar dosen pemarah!!!

“Kecelakaan itu merenggut nyawa ibuku. Satu setengah tahun yang lalu. Kejadiannya tepat saat aku sedang mengerjakan tesis untuk kelulusan Strata keduaku di Amerika. Namun ayah tidak memberitahuku. Ayah menyimpannya dengan rapi sampai aku pulang kembali ke Korea. Bahkan ketika ayah datang ke pesta kelulusanku disana tanpa di dampingi ibu pun aku tidak curiga. Ayah juga membohongiku soal kesehatannya, meskipun pada akhirnya aku tahu. Tapi ayah tidak pernah sekalipun membicarakan penyakitnya kepadaku. Sepertinya ayah belum mempercayaiku yang telah menjadi dokter. Dasar! Ayah memang pandai berakting. Kau puas??”

“Euisangnim pasti sangat terkejut ya? Setelah kelulusan yang harusnya menjadi kabar bahagia untuk ibu Euisangnim.”

Kris tidak menjawab. Sepertinya ia sudah tidak mau mengungkit masalah kematian ibunya. Terang saja, siapapun pasti merasa sangat kehilangan. Apalagi yang meninggal adalah seorang ibu. Orang yang berjuang untuk melahirkan kita ke dunia. Orang yang dengan sepenuh hati membawa kita kemanapun ia pergi ketika kita masih dalam kandungan. Orang yang pertama menyentuh kita ketika kita terlahir di dunia. Ibu…

“Aku tidak mau ayah mati konyol dan meninggalkan ku seperti ibu…”

Tao mendekati Kris yang tengah bersandar di dinding berhadapan dengannya.

“Ma…Mau apa kau?” Kris bertanya terbata-bata.

“Sudah diam.” Tao meraih kain biru yang membalut tubuh Kris. Tampak sekali disana terdapat beberapa bercak kemerahan, sisa operasi tadi. Ia meraihnya perlahan agar terlepas dari tubuh Kris. Kris yang memahami maksud Tao hanya menurut saja tanpa membantah. Ia kemudian melihat Tao melipat kain tersebut. Bercak darahnya sengaja Tao letakkan di atas, agar terlihat.

“Jjaaaa… Ambillah.”

Kris mengerutkan kening tak mengerti. Ia mengangkat sebelah alisnya. “Apa…ini?”

“Sebuah apresiasi karena kau telah berhasil mewujudkan impianmu.”

Kris masih tetap mengedik bingung. Tak mau berlama-lama mengambangkan tangannya tanpa respon dari Kris, Tao meletakkan kain tersebut di dalam genggaman tangan Kris.

“Euisangnim tadi berkata bahwa, Euisangnim ingin menjadi dokter karena ingin menyembuhkan ayah Euisangnim kan? Simpan ini. Bercak darah ini adalah bukti bahwa Euisangnim telah berhasil melakukan operasi terbuka untuk ayah Euisangnim. Yah, meskipun Euisangnim tidak tahu, apakah operasi yang kau lakukan akan membuat ayah Euisangnim sembuh atau tidak. Setidaknya ini adalah tahap awal Euisangnim berjalan menuju impian Euisangnim yang sebenarnya. Menyembuhkah penyakit jantung ayahmu.”

Kris tersenyum getir, matanya sedikit berkilau karena air mata yang tertahan. Ia menunduk dalam. Ingin sekali ia menangis, tapi ia adalah laki-laki. Tak pantas rasanya.

“Hwaitting! Euisangnim harus kuat.” Bisik Tao lembut.

Kenyataan bahwa Kris adalah orang seperti itu membuat Tao miris. Di dunia ini memang banyak sekali orang tidak beruntung, tapi entah kenapa hati Tao seperti di tusuk-tusuk mendengar pernyataan Kris yang sudah tidak memiliki ibu dan sedang berjuang menyelamatkan ayahnya.

Tao terus saja memandangi Kris yang terus menerus menenggak sojunya. Ketika sojunya habis, dengan cepat ia akan membuka botol yang lain. Seperti orang yang tidak pernah minum selama dua puluh tahun. Kris meletakkan sembarangan botol soju kosongnya. Lalu membuka lagi satu botol yang sepertinya tersembunyi di balik lemari di samping Kris. Jika Tao hitung keseluruhan soju yang di minum gangsanimnya adalah lima botol seperempat. Heol…Daebak…Assaaaaa… orang ini tidak mabuk bahkanminum sebegitu banyak soju? Ckckck! Lagipula ini tempat apa? Kenapa Euisangnim menyimpan banyak soju disini? Dasar orang aneh.

“Hey, berapa ukuran kaki mu?” Tanya Kris yang tiba-tiba menendang ringan kaki Tao.

“26 cm.”

“Lepas sepatumu.”

Tao terbelalak kaget. Apa? Untuk apa dia menyuruhku melepas sepatu?

“Cepat lepas….” Seakan Kris mengerti apa yang tersirat dalam pikiran Tao, ia langsung melepas paksa sepatu Tao. Kemudian ia melepas sepatunya sendiri. ah, tidak tidak. Sejak tadi memang Kris telah melepas sepatunya.

“Apa-apaan kau ini?”

Tao berteriak bingung melihat kelakuan Kris yang super abnormal. Semakin bingung ketika entah sengaja atau tidak Kris meletakkan telapak kakinya pada telapak kaki Tao.

“Heol…Kakimu benar-benar kecil. Tapi kenapa sepatumu besar sekali? Ini ukuran 28cm kan?”

“Kenapa bertanya seperti itu? Euisangnim kau mabuk ya?”

Kris menggeleng kemudian semakin memperkuat tekanan pada telapak kaki Tao. Tao mengumpat dalam hati, menyadari rasa panas yang terpias pada wajahnya. Ia tidak mengerti rasa tidak nyaman ketika melihat Kris tak lekas hilang darinya. Padahal sesaat yang lalu, ia sudah bisa melihatnya dari sudut pandang berbeda. Walau ia hanya bersentuhan kaki dengan lelaki pirang di hadapannya seperti ini, namun itu cukup membuat debaran jantungnya kembali tidak normal.

“Apa sepatu kebesaran sedang trend sekarang? Kemarikan tanganmu!”

“Tidak,aku tidak mau!”

Kris melepaskan tautan kakinya dengan Tao kemudian menyilangkannya. Meskipun Tao menolak memberikan tangannya, Kris tetap meraihnya dengan sendiri. sama seperti yang dilakukan pada kaki Tao, Kris menempelkan kedua telapak tangannya pada telapak tangan Tao. Ia menempelkannya lembut. Seolah merasakan setiap inchi kulit Tao yang tersentuh.

“Tanganmu kecil dan lembut.” Ucap Kris akhirnya, entah sadar atau tidak, sedetik setelah hal itu, Kris mengisi sela-sela jari Tao dengan jari-jarinya. Ia menggenggam kuat jemari Tao.

Hal tersebut sontak membuat Tao tersentak, ia berjengit kaget. Selama beberapa detik ia menatap wajah Kris tanpa berkedip dan memilih untuk menahan nafasnya ketik kedua mata bulatnya bertatapan langsung dengan mata elang milik Kris. Mata mereka menyatu dalam satu pandangan lembut. Susananya berubah menjadi suatu romantisme dalam pergerakan waktu yang slow motion. Keduanya terhanyut, kedua pasang mata itu enggan untuk beralih.

Kris semakin mengeratkan tautan jemari mereka, dan matanya berkedip cepat. Mulai ia rasakan kembali debaran dadanya yang menggila setelah sesaat terhanyut. Namun jarak mereka yang semakin mendekat membuatnya tidak dapat berkutik. Entahlah, Tao sepertinya merasa nyaman dengan keadaan seperti ini. Ia seakan tidak mau usai begitu saja.

“Kau…” Kris mengehembuskan nafasnya panjang ketika jarak wajah diantara keduanya semakin hilang. Hingga Tao dapat merasakan nafas yang barus saja di hembus Kris tepat di hidung bangirnya. “Cantik sekali…”

Oh Tuhan! Bolehkah ia mati sekarang juga….????!!!!

 

 

 

 

CONTINUE…………………

 

 

Yeeee…. Bersambung dulu ye…

Haha. Aneh ya? Makin aneh kurasa. Dan makin membingungkan.

Aku sendiri bingung gimana ngejelasinnya sama kalian coba. Haha.

Yang penasaran sama lanjutannya silahkan komen…

Makasih udah sempetin baca FF abal…

Yang komen makasih..

Yang like makasih…

Yang gak komen… *tetep sodorin vodoo nih*

Maaf kalo ada salah salah kata istilah dan lain sebagainya, saya juga manusia. Eaaaa.

 

Nb : Thank You for Papa yang selalu support aku dari surga… Thank You for Hyobin yang udah mau post ini cerita pas tanggal ini… buat hadiahin papa yang udah pergi satu tahun yang lalu, tepat di tanggal ini.

108 thoughts on “KRIS COMPLEX Chapter 2

  1. kristao aaaaa bisa gila nih bacanya >< feelnya dapet thor, hihihi. romansunya udah mulai muncul ya….<3 kirain yang pas akhir bakal kissu, hehehe..

    pokoknya ff taoris yang ini emang kereeen banget x3

  2. wahh ternyata udah di update T-T *kudet
    bahkan chap 3 udah ada -_# aku suka banget nib, authornya pinter banget bikin kata” , sama bikin penasaran .. sukses yah buat FF authornya jangan pernah cape bikin FF yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s