Kind Of Heart FINAL CHAPTER

Bismillah! *Hyobin mempersiapkan diri terlebih dahulu* 

 

Pesan aku pas baca ending ini : Kepastian Luhan memilih siapa itu ada di bagian paling akhir dari cerita ini. bener” pas di akhir bgt! Jadi jangan mengambil kesimpulan tiba- tiba ditengah jalan. *plak *kabur

Dan maafkan saya jika endingnya tidak memuaskan. Ending ini melibatkan author KaiLu (LarasYang / Mousekey) dan author FF HunHan, jadi ini endingnya bukan keputusan sepihak atau asal- asalan. Semoga dari ENDING FF ini, para reader bisa menangkap maksud dan pesan yang aku sampaikan.

 

 

KIND OF HEART

Kim Hyobin

luhan 

389309_459661324063916_1730330251_n

HunHan – KaiHan FanFicion

Cast : Lu Han – Kim Jongin – Oh Sehun

Other : Taemin – Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Huang Zitao – Wu Fan / Kris – Yixing / Lay

Other Case : BaekYeol/ ChanBaek , TaoRis, KaiTae/ KaiMin

Genre : Drama, School Life, Romance, Angst

 

 

Cinta itu apa?

Adakah yang tahu arti sebenarnya?

Tidak ada..

Cinta adalah teka- teki penuh misteri

Tak seharusnya kita mengaturnya

Membuat seolah- olah kita yang menguasainya

Lihatlah disana

Kau sedang menangis saat cinta meninggalkanmu

Padahal..

Seharusnya kau mengerti..

Cinta selalu ada.. bahkan disaat kau menangis

Tidak akan pernah pergi

 

 

 

 

KIND OF HEART –ENDING

 

 

 

“Kumohon tunggu aku! Kumohon!! KUMOHON!”

 

 

 

Kau sudah memutuskannya..

Dan lihatlah nasib yang akan kau tempuh

Bahagia atau penyesalan?

 

 

Tao menatap punggung Luhan yang berlari dengan taat kemudian memegang tangan Chanyeol perlahan. Jujur saja namja manis itu agak cemas pada Luhan. Wajah Luhan benar- benar nampak tersiksa.

 

“Apakah keputusannya tepat, Chanyeollie?”

 

Chanyeol menggidikkan bahunya.

 

“Sudah lama kusadari… perasaan Luhannie yang kebingungan seperti ini.”

 

Chanyeol kemudian menatap Tao. “Ayo.. kita ketempat orang itu, kita coba mencegah kepergian orang itu… jika nanti Luhan menyesal…”

 

Tao mengangguk. “Kajja!!”

 

 

 

Π

 

 

Derap langkah seakan lari dari kegilaan itu terus berbunyi. Menambah suara dengungan keramaian. Namja manis itu terus berlari. Berharap ia bisa memisahkan dulu antara waktu dan ruang, agar ia bisa menggapai lelaki yang kini ia kejar.

 

 

“Aku belum mendengarnya! Aku belum mendengar apapun dari mulutmu!! Kumohon!!!”

 

 

 

Π

 

 

-MOHON PERHATIAN, PENUMPANG YANG TERHORMAT DENGAN NEGARA TUJUAN AUTRIA AKAN SEGERA MELAKUKAN KEBERANGKAT. DIHARAPKAN PARA PENUMPANG YANG TERHORMAT BERSIAP-SIAP-

 

 

Taemin menelan liurnya dan memperkuat pelukannya. Sungguh.. ia bahkan membenci suara pemberitahuan itu, seakan waktunya dengan Jongin.. adik kesayangannya telah habis.

 

“Hyung..” bisik Kai pelan. Ia ingin berdiri namun Taemin masih menahannya agar tetap duduk. Minho melihat Kai yang juga terluka karena Taemin sudah terisak kemudian mengusap lembut rambut Taemin.

 

“Ne.. sudah… sudah. Jangan seperti ini, Taeminnie. Lihat.. Jongin jadi turut sedih.” Minho mencoba menenangkan Taemin.

 

Kai jujur saja sangat berat meninggalkan semuanya, sungguh berat sekali jika harus lari dengan beban seperti ini. Meninggakan namja yang dicintai dan sahabat yang amat ia sayangi. Serta kehidupan Kai di Korea yang sudah ia anggap menarik dan menyenangkan.

 

Dan… dia akan membuang semuanya.

 

 

Itu keputusannya, bukan?

 

 

Kai sudah berdiri, Taemin berada didalam rangkulan Minho, walau halus sekali Taemin masih terisak. Seketika itu Taemin kembali memeluk Kai. Mengusap rambut adiknya yang begitu ia cintai. Taemin masih berharap Kai membatalkan kepergiannya.

 

Taemin masih berharap… Kai membatalkan niatnya.

 

“Jangan menangis lagi, cantik. Kumohon.” Bisik Kai halus.

 

Taemin menggigit bibir bawahnya, menahan isakan. “A..aku.. aku menyayangimu, Jongin.”

 

“Aku juga.” Balas Kai pedih. Ya.. pedih sekali melihat malaikatnya menangis seperti ini. “Liburanmu… berjanjilah akan mengunjungiku di Austria.”

 

Taemin mengangguk mantap. “Pasti.”

 

Mereka melepas pelukannya, sesaat Kai mengecup pipi Taemin sayang kemudian mengusap rambut namja manis itu.

 

 

“Uljimma..” Kai berusaha tersenyum.

 

Taemin mengangguk dan mundur selangkah, ia genggam tangan Minho serta berusaha tersenyum pada Kai. Dengan senyuman amat tipis Kai mengangguk, ia genggam travel bag besarnya dan kembali mengusap pipi Taemin.

 

 

“Aku pergi.”

 

 

 

“Selamat tinggal Luhan…”

 

 

 

Minho tersenyum dan merangkul pundak Taemin, mencoba menenangkan Taemin yang kembali terisak saat Kai membalikkan tubuhnya dan berjalan selangkah.

 

 

Sampai…

 

…sebuah panggilan menghentikan langkah Kai, membuat namja tampan itu membalikkan tubuhnya dan matanya membulat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“SEHUN!!!”

 

 

Suara itu langsung meresap dipendengaran Sehun. Ia yang sudah akan melangkah keluar dari ruang tunggu menuju koridor ke pesawat terdiam disana, membalikkan tubuhnya secepat kilat. Mata sendunya membulat sempurna saat melihat…

 

…melihat namja itu.

 

 

 

 

 

 

 

“Lu….han?!”

 

Namja manis yang kini berlari kearahnya dengan sangat cepat, tidak mengindahkan dua orang petugas keamanan yang tengah mengejarnya. Travel bag yang Sehun genggam terjatuh, dan sang ibu menyadari anakknya yang tidak melanjutkan langkah ikut membalikkan tubuhnya.

 

 

 

“SEHUN!! KAU NAMJA JAHAT!! KAU BRENGSEK, OH SEHUN! AAGHH!! LEPASKAN AKU!” Teriak Luhan saat kedua petugas keamanan itu berhasil menangkap Luhan. “SEHUN! JIKA KAU PERGI AKU AKAN MEMBUNUHMU!!”

 

 

Melihat itu, Sehun langsung berlari. Menyusul Luhan yang kini sedang diseret paksa oleh kedua petugas keamanan itu untuk keluar dari ruang tunggu VIP.

 

 

“LEPASKAN DIA!” Sehun menghentikan langkah kedua petugas keamanan, membuat Luhan yang kini tengah menangis menatap tajam namja..

 

.. namja yang ia pilih.

 

 

 

 

“Se..Sehun! Hiks.. Sehun! Sehun!!!” Luhan berusaha menggapai Sehun dengan tangannya. Membuat Sehun langsung menarik Luhan masuk dalam pelukannya, melepas pegangan kedua petugas keamanan itu dari tubuh Luhan.

 

“Maaf, dia kerabat kami.” Suara sang ibu menginterupsi pekerjaan kedua petugas keamanan yang mulai menarik tubuh Luhan lagi.

 

“Ma..Maafkan kami, nyonya.” Salah satu petugas keamanan itu menunduk saat tahu  Oh Heechul, istri dari Oh Kyuhyun, dari keluarga berpengaruh yang terkenal angkat bicara.

 

 

Kedua petugas keamanan itu akhirnya pergi, membuat Sehun menghela nafas lega dan mempererat pelukannya.

 

 

 

“Lu..Luhan.. mengapa kau ada disini?” tanya Sehun lembut tanpa melepas pelukannya.

 

“KAU JAHAT, OH SEHUN!!” Luhan memukul kecil tubuh Sehun. “Kau ingin meninggalkanku dengan semua tanda tanya ini? Kau kejam! Apa kau tidak tahu ini semua… hiks… kau menyiksaku!”

 

Sehun menangkup wajah Luhan dengan cepat, membuat namja manis itu sedikit terkesiap. Mata mereka tertaut.. seakan mencari sebuah penjelasan dan jawaban. Menunggu suara yang menuntun kepastian akan perasaan mereka.

 

 

“Aku meragukan perasaanmu padaku.”

 

 

DEG

 

 

Luhan membulatkan matanya. Ia terdiam.. ya Tuhan.. Sehun mengatakan bahwa ia meragukan perasaan Luhan padanya?

 

Sehun merasa seperti itu?

 

Sehun menyadarinya?

 

 

“Luhan.. kau adalah satu- satunya kebahagiaanku. Kau adalah malaikat dan segalanya untukku.. namun apa arti kebahagiaanku jika.. kau menderita jika bersamaku?”

 

“Apa—“

 

 

“Kau mencintai Kai, bukan?”

 

 

Seketika itu Luhan merasakan hatinya sakit bukan main. Bukan karena perkataan Sehun… melainkan ekspresi wajah Sehun yang benar- benar … tersakiti dan tersiksa. Walau ucapan tajam namja tampan itu sedikit merobek hatinya.

 

 

“Aku melihatnya.. dari matamu…” Sehun berucap penuh kesedihan.

 

 

Seketika itu Sehun mundur selangkah, setelah melepas pelukan dan genggamannya dari Luhan. Memamerkan sebuah kepedihan dari balik benik mata sendunya. Biarkan Sehun jujur kali ini… biarkan dia menyelesaikan pertentangan hatinya tentang kebahagiaan Luhan.

 

 

 “Aku memutuskan pergi karena… aku ingin melihat kebahagiaanku satu- satunya…. bahagia.”

 

 

Luhan kembali terisak hebat. “Aku memilihmu, Sehun! Aku mengejarmu! Bukan mengejar Kai.. aku berlari ketempatmu dan bukan ketempat Kai! Ya Tuhan, Sehun… aku … aku…”

 

Bruak

 

Luhan terduduk ditempatnya, menangis sekencang yang ia bisa. “Aku berlari ketempatmu, Oh Sehun! Mencegah kau pergi agar tetap disisiku!! Aku membiarkan Kai pergi!! Aku membiarkan dia pergi dari hidupku!!!”

 

 

.. membiarkan Kai pergi?

 

 

Sehun tidak mengerti maksud Luhan. Sang ibu kemudian memegang pundak Sehun dan mengatakan sesuatu yang ia ketahui namun ia rahasiakan dari anaknya itu.

 

“Jongin memutuskan pergi ke Austria hari ini, Sehun… dan jam keberangkatan pesawat kita sama dengan keberangkatan Jongin… Appa mu mengatakan untuk merahasiakan ini padamu.”

 

Sehun membulatkan matanya. “Kai.. Kai pergi ke Austria?”

 

Ia mengerti..

 

Sehun mengerti…

 

Mengerti bahwa pasti tadinya Luhan sempat bingung memilih arah.. arah siapa yang ia pilih untuk menghentikan langkah namja yang ia pilih hidup bersamanya.

 

Dan Luhan… berlari kearah Sehun.

 

 

Luhan memilih Sehun.

 

 

 

Namun…

 

Mengapa.. Luhan menangis?

 

 

Ia tatap lama Luhan yang masih menangis terisak seakan berteriak. Kemudian Sehun menumpukan lututnya dilantai. Memegang pundak namja manis yang kini masih menangis. Menautkan tatapan mereka yang berkali- kali terlepas.

 

 

“Kau berlari kearahku, Lu.. Kenapa kau tidak berlari kearah Kai? Menghentikan langkah Kai agar tidak meninggalkanmu?” suara Sehun bergetar hebat.

 

Luhan masih menangis sesegukan. Ia tidak menjawab pertanyaan Sehun. Dan tahukah bagaimana isi hati Luhan?

 

Hancur..

 

Ia menangis karena ia tidak mengerti mengapa ia kini begitu sesak memikirkan keputusan yang ia ambil.

 

“Kenapa kau berlari ketempatku, Luhan! KENAPA KAU MEMBOHONGI PERASAANMU SENDIRI!!” Teriak Sehun akhirnya.

 

Luhan semakin menunduk dalam, ia masih menangis. Terluka amat dalam, saat Sehun melihat Luhan yang sama sekali tidak menjawab satupun ucapannya. Luhan.. kejamkah kau telah membuat kekasihmu sendiri tersiksa seperti ini?

 

 

Sehun seketika itu berdiri dan menatap sang ibu.

 

 

“Undur keberangkatan kita, oemma. Jangan batalkan karena aku pasti pergi denganmu!”

 

Luhan mendongakkan wajahnya, menatap Sehun tidak percaya. “Ap— Jangan pergi, Sehun!! JANGAN PERGI!“

 

Sehun menarik tangan Luhan agar namja itu berdiri. Luhan seketika terdiam dan menatap mata Sehun yang begitu lemah dan rapuh namun tatapan lemah itu benar- benar tersamarkan dengan dinginnya hati Sehun saat ini.

 

Tetapi Luhan tahu betul.. Sehun menahan semuanya.

 

“Jika kau tidak mau jujur karena takut menyakiti diriku, aku yang akan mengantarmu pada pilihan hatimu, Luhan!!”

 

Luhan menggeleng cepat, isakan halus lah jawaban Luhan atas perkataan Sehun. “Kenapa kau tidak mempercayaiku, Sehun!”

 

“Lidah mudah untuk berbohong, Lu.. karena dimatamu yang kulihat hanya keraguan.”

 

“Aku memang ragu! Aku akui itu!! Namun sekarang aku sudah menentukan pilihan hatiku, Sehun! Apa yang membutakan matamu, Oh Sehun! Aku sudah memilihmu!!” Luhan masih berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan Sehun.

 

“Jika memang seperti itu… kau akan bersamaku dan yang kau pikirkan adalah Kai.. siapa yang menderita nantinya, Luhan! Kita.. Kau, aku, dan Kai yang akan menderita! Kita bertiga sudah jauh dari batas perasaan kita!!” getaran terdengar disuara Sehun yang terdengar menyakitkan. “…Aku tidak buta! Aku tahu bahwa Kai juga memiliki perasaan padamu!”

 

 

Sedetik kemudian Sehun menarik Luhan pergi dari tempat itu. Menarik tangan Luhan menuju tempat namja itu.. namja bernama Kai. Namja yang menjadi teman baik Sehun selama ini.

 

Namja yang Sehun yakini adalah… cinta Luhan.

 

 

“SEHUN BERHENTI, KUMOHON!!” Pekik Luhan keras saat Sehun terus saja berjalan cepat. Sehun seakan tidak mendengarkan ucapan Luhan sama sekali, Luhan pun tidak sadar… setetes air mata yang begitu pedih keluar dari mata Sehun, membiarkan air mata itu jatuh sesaat saja.

 

“SEHUN! KUMOHON DENGARKAN AKU!!” Luhan masih berteriak keras. Sehun mulai berlari sembari terus memegang erat tangan Luhan yang kini bergetar hebat. Berfikir agar ia masih sempat mencegah kepergian Kai.  

 

Dan dengan bersusah payah Luhan terus mencoba menarik tubuh Sehun agar berhenti.

 

“SEHUN!!” Pekikkan itu menghentikan langkah cepat tak beraturan mereka. Membuat Sehun membalikkan tubuhnya menatap wajah Luhan yang kini basah dengan air mata. Mereka berdua terengah- engah akibat kegiatan berlari mereka yang tiba- tiba.

 

 

“Apa yang kau pikirkan , Sehun? Tidak cukupkah ucapan ku kau percayai? Aku memilihmu, bodoh!! AKU MEMILIHMU!!”

 

Sehun menggeleng cepat. “Kalau begitu mengapa wajahmu tadi seperti menyesal saat kau mengatakan kau berlari kearahku, oeh?! Kau menangis seperti orang gila, Luhan! Kau menangis.. dan apa kau tahu bahwa hal itu cukup membuktikan bahwa ucapanmu memilihku adalah kebohongan!”

 

Luhan membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Sehun. “A..aku kekasihmu, Oh Sehun! Tidak pernah ada permasalahan tentang Kai selama ini dalam hubungan kita! Tidak ada Kai!!”

 

 

“Hatimu, Lu! Hatimu!!”

 

 

DEG

 

 

Luhan kembali menggeleng cepat, air mata dan isakan terlepas dari bibir Luhan. “Hatiku… milikmu!!”

 

Wajah Sehun memerah… dan kali ini Luhan bersumpah begitu membenci dirinya sendiri saat melihat air mata Sehun terjatuh tepat dihadapannya. Sosok Sehun yang tidak bisa mempertahankan dirinya lagi. Sehun lemah… dan sosok itu yang ia coba sembunyikan dalam- dalam. Menyembunyikan hatinya dengan topeng palsu akan perasaannya.  

 

Sehun kemudian tersenyum tipis dan itu.. menyakitkan. “Wajahmu Luhan, tidak ada keyakinan disana… Kau berbohong… Aku yang akan mengantarkanmu pada Kai!”

 

 

Dan kali ini Sehun menarik tangan Luhan …. tidak mendengarkan apapun teriakan maupun isakan Luhan.

 

 

Karena bagi Sehun…

 

…. kebahagiaan Luhan bukanlah tangisan saat Luhan bersamanya.

 

 

 

 

 

 

 

“Kalian..” Kai terperangah melihat Chanyeol dan Tao yang kini ada dihadapannya. Mengatur nafas mereka yang terengah- engah dan tubuh mereka berdua berbanjir keringat.

 

“K..Kai… jangan … pergi.. haaa… haaa…” ujar Tao disela- sela kegiatannya mengatur nafas. Chanyeol mengusap punggung Tao pelan karena nafas Tao terdengar parah. Pasti karena namja manis itu tidak terbiasa berlari.

 

“Bisakah kau memikirkannya lagi, Kai? Sehun.. Sehun pergi ke Jepang hari ini.” Chanyeol menatap Kai tajam sekali.

 

Mata Kai membulat sempurna. “APA!!”

 

“Jika Luhannie tidak bisa.. mencegah kepergian Sehun.. Luhannie pasti akan sangat sedih.. dan apa kau tega meninggalkan Luhannie?”

 

 

 

 

Minho menarik tangan Taemin yang ingin menyusul ketiga namja tinggi itu. Taemin menatap Minho dengan bingung.

 

“Biarkan mereka.” Minho mengangguk pelan.

 

Akhirnya Taemin menghela nafas dan tetep berdiri ditempatnya. Memperhatikan Kai, Chanyeol, serta Tao dari sana.

 

 

 

 

“Sehun tidak mengatakan apapun tentang kepergiannya padaku!” Kai terlihat sangat marah.

 

“Apa bedanya dengan kau yang tidak mengatakan apapun pada Luhan, oeh?! Dan aku tebak.. kau juga pasti tidak mengatakan apapun perihal kepergianmu pada Sehun, bukan?” cercah Chanyeol tajam.

 

Kai terdiam.

 

Apa- apaan ini?

 

Jadi tanpa sengaja Sehun dan Kai membuat rencana yang membiarkan Luhan… namja cantik itu.. sendirian? Bukan itu yang mereka harapkan, bukan?

 

Berfikir mengorbankan satu sama lain tanpa tahu takdir menertawakan perbuatan mereka yang pengecut?

 

 

Lari dari kenyataan?

 

Berlagak menyelamatkan masing- masing hubungan tanpa berfikir bahwa seseorang tengah dijerat berjuta tali penuh darah dalam kesesakan atas putusan hatinya?

 

Sungguh lucu dan menyedihkan.

 

 

“SIAL!” Kai menghempaskan travel bag yang ia pegang. “Dimana gate keberangkatan Sehun?”

 

“Disebelah sana.” Tunjuk Tao.

 

Dan saat Kai akan melangkah bersama Chanyeol serta Tao…

 

.. mereka terhenti.

 

 

Mata ketiga namja itu membulat sempurna melihat…

 

 

 

….Sehun dan Luhan yang berlari kearah mereka.

 

 

Chanyeol yang mengerti akan sesuatu menarik tangan Tao agar menjauh dari tempat Kai berdiri. Tao hanya mengikuti apa yang Chanyeol lakukan. Menjauh hingga hanya Kai yang berdiri sendiri disana… terdiam melihat Sehun dan Luhan yang kini terengah- engah tegak dihadapannya.

 

 

“Se..Hun..” bisik Kai pelan, kemudian matanya menatap Luhan yang masih menangis dibelakang Sehun. Tangan kedua namja itu tertaut dan kembali Kai menatap Sehun. Luhan hanya menunduk, tidak menatap siapapun.

 

“Mau sok menjadi pahlawan, tuan Jongin? Hingga kau tidak mengatakan apapun tentang kepergianmu?!” teriak Sehun ketika itu.

 

 

Kai tersenyum tipis. “Bukankah kau juga? Tidak mengatakan apapun tentang kepergianmu?”

 

 

Sehun nampak sekali menahan emosinya. Ia menarik Luhan cepat namun tetap lembut, kearah depannya. Membiarkan Luhan berhadapan dengan Kai. Membiarkan namja cantik itu menatap wajah Kai yang kini nampak menegang. Tatapan mata mereka tertaut dalam.

 

 

“Aku mengantarkannya padamu.”

 

 

Ucapan Sehun sontak membuat Kai terkejut. “Apa maksudmu, Sehun?”

 

Luhan menggeleng cepat dan membalikkan tubuhnya, menatap Sehun dengan kedua mata rapuhnya. Sehun terluka sekali melihat Luhan kembali meluluhkan air matanya.

 

Haruskah diperjelas lagi, bahkan tangisan Luhan sejak tadi sudah membuat hati Sehun tersiksa sangat dalam. Melihat orang yang ia cintai bahkan lebih ia cintai dari hidupnya sendiri.. menangis sepilu itu?

 

 

Sehun… apakah kau masih melihat keraguan dimata itu?

 

 

“Kai… kau tega sekali membuat Luhan menangis seperti ini.” Sehun mengusap wajah Luhan.

 

 

Mendengar itu Luhan membulatkan matanya..

 

 

Oh Tuhan.. sebenarnya siapa yang Luhan tangisi saat ini?

 

 

“Sehun! Apa yang kau katakan! Luhan tentu… tentu menangisi maksudmu untuk pergi!!” Kai mengepalkan tangannya. Salahkah kini Kai serasa ingin memukuli dirinya sendiri? Sesak menggerogoti tubuhnya yang kini mendingin.

 

Sehun menatap Kai tajam. “Luhan.. memilihmu.”

 

Mata Kai terbelalak. Ia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.. Apa ini? Mengapa Sehun mengatakan hal seperti itu?

 

 

“SEHUN!!” Isak Luhan begitu keras.

 

 

Sehun memamerkan senyuman menyakitkan. “Kumohon jangan membohongi dirimu.. Luhan.. jika kau memang tidak ragu atas perasaanmu… kali ini… katakan siapa yang kau pilih. Aku.. atau Kai?”

 

DEG

 

Luhan terdiam disana.

 

Kai memucat dan ia benar- benar tidak bisa mempercayai setiap ucapan Sehun yang dari tadi mengatakan bahwa sebenarnya Luhan… Luhan memilihnya? Dan kini maksud Sehun dengan menyudutkan Luhan agar menjawab pertanyaan yang benar- benar kejam seperti itu?

 

Kai.. marah.

 

Dia.. marah pada Sehun.

 

 

“Hentikan, Oh Sehun!” Kai benar- benar sudah muak mendengar ucapan Sehun yang seakan terus saja mendesak Luhan.

 

Sehun menghela nafas panjang dan mundur beberapa langkah. Meninggalkan Luhan diantara dirinya dan Kai. Luhan menghapus air matanya dan melihat Sehun yang menjauh kemudian menatap Kai yang kini malah membuang mukanya saat mata mereka tertaut.

 

“K..Kai..”

 

Bisik Luhan kemudian menatap Sehun yang berdiri menuduk agak jauh darinya.

 

“Se..Hun..”

 

 

 

“Tidak perlu menjawab pertanyaan seperti itu, Luhan.” Kai kembali membuka suara. Kemudian ia menatap jam tangannya, senyuman pahit nampak diwajah Kai. “Aku harus pergi, 2 menit lagi pesawatku berangkat. Sudahlah.. Sehun kau jaga Luhan dan ak-“

 

“Terus saja seperti itu, Kim Jongin!!” Sehun mengepalkan tangannya. “Aku penghalang diatara kalian, bukan?! Kau mencintai Luhan dan Luhan memiliki ikatan yang sangat kuat denganmu! Aku sudah menyerahkan Luhan padamu!!”

 

 

BUAAKKK

 

 

Luhan membekap mulutnya sendiri melihat Kai tiba- tiba berlari kearah Sehun dan memukulnya. Membuat Sehun tersungkur dilantai bandara yang dingin itu. Membiarkan setiap mata yang dari tadi memperhatikan mereka tercekat.

 

“KAU! MENGAPA KAU BEGITU EGOIS, OH SEHUN! DIA MENCINTAIMU!” Kai menunjuk Luhan yang masih terdiam ditempatnya.

 

 

 

Sehun mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah kemudian bangkit. “Lalu mengapa ia tidak bisa memilih, oeh? KENAPA DIA TIDAK BISA MENGATAKAN NAMAKU DENGAN LANTANG BAHWA IA MEMILIHKU!!!”

 

 

 

Kai terdiam disana. Matanya menatap Luhan sesaat kemudian kembali menatap Sehun. Jujur Kai tidak tahu harus mengatakan apa kali ini. Ia hanya tidak mau mengkhianati persahabatannya yang sudah dari lama terbangun.

 

Bukankah itu alasan Kai pergi dan memutuskan meninggalkan semuanya?

 

Sehun adalah sahabatnya dan ia tidak mau membuat hal itu merusak hubungannya dengan Sehun… namun… apakah ia juga tidak boleh jujur pada hatinya sendiri?

 

 

 

 

Bahwa ia juga mencintai.. Luhan?

 

 

“Kai… maafkan aku membuatku menahan semuanya.. katakan apa yang harus kau katakan.. karena aku tidak pernah punya hak untuk mencegah hatimu untuk mencintai siapapun. Termasuk.. kekasihku.. Luhan.“ Sehun bersumpah menahan semua hatinya saat mengatakan hal itu. Menahan sakit dan perih yang luar biasa. Amat menyesakkan dan menyakitkan.

 

 

Mata Kai membulat sempurna saat Sehun mengatakan hal itu padanya. Luhan bahkan merasakan tubuhnya mendingin saat itu juga. Apa yang salah dengan dirinya? Bahkan satu ucapanpun tidak bisa Luhan katakan.

 

 

Memilih antara Sehun dan Kai…

 

 

Bukankah itu mudah… Sehun adalah kekasihmu, Luhan. Tetapi mengapa kau tidak pernah bisa mengatakan bahwa kau memilih Sehun jika ada didekat Kai?

 

Dan kau pun tidak bisa mengatakan bahwa kau memilih Kai, bukan?

 

Jadi siapa yang sebenarnya kau pilih didalam hatimu?

 

Kau mencintai Sehun… atau kau mencintai Kai?

 

Tidak ada satupun pembenaran didalam hatimu atas argumen itu, bukan?

 

 

 

 

Apa hanya rasa bersalah ?

 

 

 

 

 

Kai..

 

Apa yang akan kau lakukan Kai?

 

Apakah kau memilih mengkhianati persahabatanmu dan menunjukkan apa yang sebenarnya kau rasakan?

 

Benar… tidak ada yang salah jika memang kau mencintai seseorang..

 

 

Hanya keadaan yang salah.. hanya waktu yang menghambat dan… apa yang akan kau pertahankan sekarang?

 

 

 

 

 

Bukankah manusia adalah makhluk yang sungguh egois?

 

 

 

Kai berbalik badan lalu berjalan cepat kearah Luhan. Sehun hanya menatap punggung Kai dengan pilu kemudian mengepalkan tangannya. Kini…

 

 

GREP

 

 

…Kai memeluk Luhan begitu erat, membuat namja manis itu yang tadinya terdiam kini terisak keras. Sehun melihat Luhan… membalas pelukan Kai.. dan membuat Sehun seketika itu kembali mundur dari posisinya.

 

Mata Sehun memerah dan hatinya terkoyak … sungguh dalam luka yang Sehun rasakan kini.

 

Ya Tuhan, jika ada cara yang lebih menyakitkan daripada menangis untuk melampiaskan sakit hatinya kini… akan tetapi Sehun bukanlah lelaki lemah. Tidak! Dia lemah.. hanya berusaha menguatkan hatinya.

 

Inilah jalan yang ia pilih… merelakan satu- satunya kebahagiaan yang ia miliki terlepas darinya. Hanya karena Sehun tidak akan pernah senang jika melihat Luhan selalu berwajah penuh beban jika bersamanya.

 

 

Lihat?

 

 

Bahkan Luhan membalas pelukan Kai… bukankah itu sudah cukup sebagai sebuah jawaban bagi Sehun?

 

 

Jawaban dengan kesimpulan yang ia ambil sendiri…

 

 

….Sehun.. apakah ini yang benar- benar kau inginkan? Apakah perkataan Luhan yang memilihmu tidak akan kau percayai, Sehun?

 

 

Apakah kini mata hatimu terbuka…. atau tertutup saat melihat kenyataan itu?

 

 

 

“Luhan.. aku mencintaimu.”

 

 

 

Dan hanya perkataan Kai itulah yang Sehun  dengar saat tubuhnya sudah meninggalkan tempat itu. Membiarkan teriakan Tao dan Chanyeol memanggil namanya berkali- kali. Membiarkan semua perasaannya kini menghimpit tubuhnya begitu kuat.

 

 

Perasaan sesak dan menyakitkan.

 

 

Sehun akan pergi.

 

 

Ia melepaskan kebahagiaan satu- satunya yang ia miliki.

 

 

..tanpa tangisan.

 

 

Dan Sehun yakin…

 

… semua tidak akan sama lagi.

 

 

Habis bersama perasaannya yang kini terkubur jauh dilubuk hatinya.

 

 

Jangan munafik!  Mau menyalahkan Sehun atas keputusan yang ia ambil merelakan kebahagiaan satu- satunya terlepas?

 

 

Biarkan dirinya sendiri…

 

.. karena baru kali itu ia mempercayai akan kehangatan cinta dan… ia langsung dihempas jatuh kedalam jurang terdalam atas pengkhianatan kedua orang yang ia cintai dan sayangi.

 

Siapa yang bisa mengatakan hal itu dengan mudah?

 

Hanya satu alasan Sehun… karena dia mencintai Luhan.

 

 

 

 

Hanya itu.

 

 

 

 

“Selamat tinggal!” bisik Sehun begitu lirih. “…..Luhan.”

 

 

 

 

Itu bukanlah pertanyaan tentang cinta

Karena cinta kita tidak pernah berubah

 

Jangan buat semuanya jadi lebih sulit

Kita sudah terlalu menyiksa satu sama lain

 

Hentikan kegilaan yang kita timbulkan!

 

Sebelum semuanya lepas kendali

Sebelum semuanya jauh lebih buruk

Sebelum kita jauh lebih tersakiti

 

Terkadang kita tidak mau mengerti

Dan aku sudah lelah terus dalam kesalahpahaman

 

Jika kita saling membohongi

Setiap kata yang akan terucap akan jadi omong kosong

Semua tidak akan sama karena paksaan

 

Semua terlambat

Karena kita sudah berada diujung titik jenuh

 

 

Biarkan seperti ini….

…. kita melepas kegilaan hati.

 

 

Just let it go …. before it all explode.

 

 

 

 

 

– 3 Tahun kemudian.

 

 

 

 

Disebuah kediaman keluarga terpandang di Korea Selatan, seorang ayah terduduk dan memijit pelipisnya pelan. Ia terdiam dan tidak berbicara sama sekali. ia baru saja mendapat sebuah telepon dan… ia kini tidak bisa berkata apapun lagi.

 

“Appa..” sapa sang ibu melihat suaminya yang diam. “Siapa yang menelpon?”

 

“Oemma.. katakan pada pihak sekolah Sehun…. biarkan.. Jongin datang menemuinya.”

 

“Eh?”

 

Kyuhyun, ayah Sehun menarik tangan istrinya, Heechul, dengan amat lembut. Ia tatap kemudian sang terkasih. “Merry Christmas.”

 

Kemudian.. tangis sang ayah pecah. “Mian.”

 

 

.

.

.

 

 

 

-“Oh simungil yang kukasihi… ketika kau berbicara padaku.. aku bersumpah, dunia seakan berhenti berputar.. Kau adalah kekasih hatiku.. dan aku bersyukur kau menjadi milikku..you are of a kind and… kau sangat berarti bagiku..”-

 

 

 

Bisakah kau nyanyikan lagu itu sekali lagi padaku..

… Oh Sehun?

 

-“Karena aku mendapatkamu..Aku tidak membutuhkan uang.. aku tidak membutuhkan mobil.. Hey, sweetheart kau adalah segalanya bagiku.. bersamamu.. aku tidak membutuhkan dunia.”-

 

Sekali saja…

 

 

Bisakah?

 

 

.

.

.

.

 

 

-Jepang-

 

 

Taman yang luas dengan berbagai macam pepohon kering  ada disana, tertutup salju. Membuat suasana musim dingin yang masih terasa amat kental. Ah.. bulan Desember memang adalah musim salju yang begitu mengesankan.

 

Natal sudah berlalu kemarin..  dan namja tampan itu tidak  pulang ke Korea ataupun kerumahnya yang ada di Korea. Ia hanya menetap diasramanya yang megah. Membiarkan dirinya sendirian di gedung asrama yang mewah dan dingin itu. Sementara semua teman- temannya pulang kerumah masing- masing untuk menikmati natal bersama keluarganya.

 

Namja tampan bernama Sehun itu tidak banyak berubah, ia tetap tampan. Mata sabitnya yang memikat masih saja terpampang jelas, nyaris melumpuhkan siapa saja yang menatap mata tajam itu. Bibir merah nan tipis dan rambut bersurai perak, hanya rambutnya yang berubah warna dan semakin panjang. Tidak ada alasan khusus Sehun merubah warna coklat rambutnya, ia hanya ingin memulai hidup baru dengan dirinya yang baru.

 

Tap

 

Tap

 

Sehun berjalan ringan diperkarangan asramanya, taman yang begitu indah. Namun karena salju, pepohonan yang rindang tidak ada. Hmm.. sudah tidak sabar lagi Sehun ingin melihat pepohonan yang menguning itu kembali.

 

Orang tuanya akan datang dua hari lagi untuk mengunjunginya. Pekerjaan memaksa Oh Kyuhyun dan Oh Heechul tidak dapat mengunjungi anaknya tepat saat Natal. Oh.. tidak juga, bukan yang pertama kali Sehun merayakan natal sendirian. 

 

 

Kemudian Sehun terdiam disana, jujur sebenarnya hatinya sejak malam kemarin tidak enak. Terasa ada yang menjanggal dihati.. membuatnya seakan ingin berteriak namun namja itu tidak tahu mengapa hatinya segundah itu. Gundah luar biasa.. bahkan ia sempat menitikkan air matanya.

 

 

Ia berfikir mungkin karena ia sendirian saat malam natal. Namun bukankah ia sudah terbiasa?

 

 

Atau apa mungkin karena dua bulan kurang lagi ia akan lulus dari sekolah asrama yang sangat megah itu? Maka ia sedikit sedih meninggalkan tempat dimana ia terus berusaha mengubur.. mengubur kenangannya?

 

 

 

Sehun duduk di kursi besi yang ada ditaman. Sepi sekali memang…. ya sangat. Namun Sehun sudah terbiasa sendirian seperti ini. Ia sudah biasa sendirian. Ia putus kontak sama sekali dengan… Luhan dan Kai. Hanya terkadang Heechul, sang ibu, yang menelpon Sehun setiap minggu.

 

Dan Sehun tidak pernah bertanya kabar Kai dan Luhan pada ibunya. Atau lebih tepatnya tidak menanyakan kabar atau keadaan apapun.

 

Sehun benar- benar anak yang dingin. Walau Heechul menelponnya tiap minggu, Sehun tidak pernah menanyakan keadaan apapun, hanya menjawab berbagai pertanyaan Heechul. Kadang sang ayah, Kyuhyun, yang menelponnya dan tanggapan Sehun tetap sama… hanya menjawab pertanyaan tanpa bertanya kembali.

 

 

 

Begitulah Sehun.. Sehun yang kembali menjadi namja dingin yang tidak peduli pada apapun.

 

 

Karena ia… takut jika ia kembali peduli dan percaya..

 

 

…ia akan dikhianati lagi oleh rasa percaya.

 

Hanya akan ada harapan kosong yang melukainya.

 

 

Mungkin Sehun memang merelakan Luhan kepada Kai.. namun tidak bisa dipungkiri.. bukankah itu termasuk pengkhianatan? Ah.. memang membingungkan. Sudahlah.. Sehun tidak mau mengingat hal itu lagi.

 

 

Sehun tidak siap untuk merasakan itu kembali. Lebih baik ia menutup diri lagi, agar tidak merasakan hal menyakitkan itu untuk kedua kalinya.

 

Jangan lupakan.. Sehun hanyalah manusia biasa.

 

Dia bukan malaikat dan bisa dengan mudahnya melapangkan dada dari semua beban yang ia dapatkan.. apalagi pengorbanan atas perasaanya.

 

Namun hebatnya… sedikitpun tidak ada dendam dihati Sehun. Ia hanya ingin melupakan semuanya dengan caranya sendiri. Dan ia rasa lebih baik seperti ini saja… toh tidak ada yang terluka, bukan? Tidak akan ada yang tersakiti lagi.

 

 

Berjalan seperti ini saja…

 

 

Ya.. cukup seperti ini.

 

 

 

Namja tampan itu tersenyum tipis, memperbaiki pakaian hangat yang amat tebal pada tubuhnya. Memperkuat syal hangat tebal yang begitu harum dan memberi kenyamanan pada namja bertubuh putih susu itu. Hidungnya memerah karena dingin namun ia masih betah disana. Mengamati berbagai salju tebal yang ada dihadapannya. Sesekali Sehun memainkan kakinya, menyingkirkan salju yang turun disana.

 

 

TAP

 

TAP

 

TAP

 

 

Sampai akhirnya Sehun menangkap bunyi derap kaki, perlahan ia mendongakkan wajahnya. Menatap seseorang yang berjalan kearahnya. Mata itu membulat sempurna namun sesaat kemudian mata itu kembali sendu dan wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa. Tidak ada lagi ekspresi diwajah Sehun walau tadinya ia sempat terkejut.

 

 

Tap

 

 

Langkah kaki itu terhenti tepat dihadapan Sehun yang masih duduk dikursi besi taman itu. Mata mereka bertatapan lama kemudian Sehun tersenyum tipis sekali, ia bangkit berdiri dari duduknya. Menyejajarkan tubuhnya dengan namja itu.

 

Namja yang sudah tiga tahun lebih tidak memiliki kontak dengannya.

 

 

“Aku terkejut kau bisa ada disini … Kai.” sapa Sehun sembari tersenyum pada namja yang ada didepannya.

 

 

Ya.. Kai, teman lamanya. Ah… tidak, sampai saat ini Sehun masih menganggap Kai sebagai sahabat baiknya. Tidak ada yang berubah akan hal itu walau … jujur saja seperti ada sebuah lubang dalam yang membatasi hubungan persahabatannya itu kini.

 

Tidak ada yang berubah dari Kai, ia tetap namja tampan yang begitu memikat. Hanya saja rambutnya sedikit lebih panjang dan tubuhnya bertambah tinggi. Masih Kai dengan aura yang dikenal baik oleh Sehun.

 

“Bagaimana kabarmu, Sehun? Kau nampak berubah..” sapa Kai mencoba terlihat normal.

 

“Aku baik.”

 

Namja berkulit agak coklat itu tersenyum simpul. “Kukira kau akan pulang natal tahun ini ke Korea?”

 

Sehun menggeleng dan mengangkat bahunya. “Untuk apa? Kini duniaku… ada disini.”

 

Kai menunduk dan mengangguk pelan. “Kau bahkan tidak menghubungiku.. padahal aku selalu mencoba menghubungimu setiap hari. Dan.. malangnya sambungan telponku tidak pernah sampai kepadamu.”

 

“Oh, mungkin appa-ku mengatakan pada pihak sekolah atau kepala asrama untuk tidak ada yang boleh menghubungiku kecuali keluargaku.” Jawaban yang dingin.

 

Kai sedikit terhenyak mendengar jawaban Sehun. “…Kau tidak merindukan kami? Tidak pernahkah kau berusaha menghubungiku… atau.. Luhan?”

 

 

DEG

 

 

Sehun merasakan dadanya berdetak cepat saat Kai menyebut nama ‘Luhan’, namun ekspresi wajah Sehun tidak berubah sama sekali. Masih dingin dan.. Sehun memang manusia paling lihai menyembunyikan ekspresi wajahnya. Walau sebenarnya hatinya bergemuruh kuat.

 

 

Nama ‘Luhan’ masih tercetak dalam dihatinya.

 

 

 

“Kau tahu Sehun? Aku selalu berusaha menemuimu.. dan beribu kendala datang menghadangku untuk sampai disini.. kesempatan datang setelah tiga tahun kita berpisah.”

 

 

“Jangan memulai masa lalu, Kai. Tidak bisakah kita membicarakan hal lain?”

 

 

Kai menghela nafas pelan. “Aku tidak  pindah ke Austria… aku tetap menjalani kegiatan studi ku di Korea.”

 

 

“Baguslah.” Sehun kemudian berjalan pelan, disusul oleh Kai disampingnya. Mereka sempat diam setelah berjalan beberapa menit. Sehun tidak memperhatikan.. tangan Kai memegang sesuatu dari tadi.

 

 

“Sehun.. maukah kau mendengarkan ceritaku setelah kepergianmu?”

 

 

DEG

 

 

Sehun terhenti disana. Jantungnya terasa dihantam.. mendengarkan apa? Mendengarkan sebuah kisah Kai dan Luhan yang kemudian menjalin hubungan dan mereka bahagia tanpa… Sehun?

 

Mendengar kisah yang selama ini baginya haram sekali ia pikirkan?

 

Membayangkannya saja sudah seperti petaka untuk Sehun. Namun… ia tidak boleh seperti itu. Seakan ia adalah manusia munafik yang lari dari resiko atas keputusannya yang ia ambil. Tetapi hati manusia siapa yang tahu?

 

Bagi Sehun seperti inilah takdir hidupnya dan caranya untuk melupakan semua bebannya. Walau ia rasa beban itu tidak pernah berkurang sedikitpun…malah terasa tambah berat menghantam jantung dan hatinya.

 

 

Setidaknya… apa ia tidak boleh tenang walau sesaat?

 

 

Melepas bebannya walau hanya sebentar?

 

 

 

“Kalau begitu… ayo, lebih baik kita bercerita ditempat yang hangat. Diasramaku ada perapian.” Ajak Sehun akhirnya.

 

 

 

Aku akan mendengarkan

Untaian takdir setelah aku pergi

Aku akan resapi

Saat aku mengerti

Sesuatu mengikatku jauh lebih pelik

 

 

 

 

Mereka masuk kedalam sebuah ruangan dengan gaya sedikit kuno. Ada perapian besar disana, membuat ruangan itu menjadi hangat. Kai memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan taat, ada lemari dengan berbagai macam buku, sebuah sofa santai lumayan panjang, beberapa jendela yang mengekspos pemandangan bersalju diluar sana.

 

“Ruangan yang hangat.” Buka Kai sembari tersenyum tipis. “Namun tidak ada satupun orang lain selain kita digedung asrama ini?”

 

“Murid yang lain sedang pulang. Hanya ada aku dan satu orang pesuruh tua yang menjaga bangunan ini.” jelas Sehun kemudian duduk di salah sofa.

 

Kai menatap Sehun dengan tajam. “Dan kau.. tidak kesepian, Sehun?”

 

“Pertanyaan bodoh. Entahlah… untuk merasakan kesepian saja.. aku terlalu sibuk dengan urusanku.”

 

 

Kai mengerti…

 

… Sehun pasti menderita selama ini.

 

 

Trek

 

Kai menggenggam sebuah guci kecil yang amat indah, penuh ukiran dan permata berbentuk mawar putih dari ukiran kaca murni. Berlian di penutup guci itu bahkan menyilaukan mata. Guci itu hanya sebesar telapak tangan dan baru tertangkap oleh Sehun bahwa Kai dari tadi menggenggam guci itu sangat erat.

 

 

“Apa itu?” tanya Sehun akhirnya.

 

 

Kai tersenyum tipis dan.. tiba- tiba mata Kai memerah. Tangan Kai bergetar hebat sekali, membuat Sehun sedikit bingung. Ada apa dengan sahabatnya itu?

 

 

 

Tuhan…

Maha bijaksana..

 

 

 

Namja tampan itu berjalan menuju tempat dimana Sehun duduk. Kali ini bahkan Sehun melihat mata Kai ternyata lumayan bengkak, perlahan Kai mengarahkan guci itu pada Sehun. Membuat namja tampan berkulit pucat itu sedikit mengerutkan dahinya.

 

 

Tuhan..

Yang mengatur semuanya

 

 

“Aku sudah berusaha menghubungimu, Sehun… semua panik. Dan semua .. tidak terduga.. Tao… dia stress berat. Baekhyun.. menemani Tao bersama Chanyeol… semua.. semua kacau.. hanya aku yang bisa mengatakan hal ini padamu—“

 

 

“Tunggu! Apa maksudmu?!” Sehun benar- benar tidak mengerti.

 

 

Tuhan..

Membebaskannya..

 

 

Kai kemudian mengambil tangan Sehun, memberikan guci mungil yang amat manis itu masuk kedalam genggaman Sehun.

 

 

 

 

“Itu Luhan, Sehun… abu dari tubuh Luhan.”

 

 

DEG

 

 

Mata itu membulat sempurna. Jantungnya bagaikan dihantam bertubi- tubi oleh perkataan Kai.. Tunggu!

 

 

TUNGGU!!!

 

 

Apa maksudnya? Nafas.. bahkan nafas Sehun terasa diikat. Ia tidak bisa merasakan nikmatnya udara sesaat. Tubuhnya mendingin dan bergetar hebat.

 

Melihat Sehun yang begitu terhenyak, Kai menitikkan air matanya. Menggigit bibir bawahnya, seakan ingin merobek bibir itu.

 

 

“Semua tidak terduga Sehun… kecelakaan itu.. seharusnya tidak merengkut nyawa Luhan.. Setelah kecelakaan itu bahkan ia terlihat sehat… Tuhan mengambilnya dengan cara yang paling tidak.. kumengerti..”

 

 

“K..Kau bohong, Kim Jongin… kau.. bohong! APA- APAAN INI!!!” Suara Sehun terdengar bergetar hebat. Ia tatap lekat guci yang kini ada ditangannya yang bergetar hebat. Guci indah… yang menyimpan sisa kehidupan.. Luhan?

 

 

Kai menggeleng amat pelan. “Maaf.. Sehun..”

 

 

Dengan emosi yang amat tinggi, Sehun kembali memandang guci indah yang amat berkilau itu dalam genggamannya. Air mata jatuh bertubi- tubi dari pelupuk matanya. Langsung terjatuh begitu saja tanpa tertahankan.

 

 

“AAAAGGGGHHH!!!!!” Sehun berteriak pilu.

 

 

 

BUAAKKK

 

 

 

“KAU TIDAK MENJAGANYA, OEH!! APA YANG KAU LAKUKAN SELAMA INI, BRENGSEK! AKU MENYERAHKAN SATU- SATUNYA MALAIKATKU PADAMU!! AKU MENYERAHKAN HIDUPKU PADAMU!!! AKU—“

 

Bruk

 

 

Sehun terduduk disana. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya, gamang akan kenyataan yang seharusnya ia ketahui lebih cepat. Kenyataan bahwa hidupnya.. hidupnya.. Luhan..

 

Luhan.. Luhan-nya…

 

 

 

Kai yang tersungkur  akibat pukulan  Sehun, bangkit perlahan. Ia tidak membalas, hanya berdiri tegak melihat Sehun yang terduduk dengan raungan yang amat menyakitkan. Demi Tuhan… tidak akan ada sebuah deskripsi yang lebih menyakitkan melihat keadaan Sehun saat ini…

 

 

“Aku… Aku dan Luhan tidak menjalin hubungan apapun.. setelah kau pergi.. Luhan menolak perasaanku.  Dia .. sampai akhir waktunya.. ia bahkan belum bisa memilih antara aku dan dirimu… Sehun…” Kai terhenti sesaat mengatur nafas dan air matanya yang tertitik pilu.

 

 

“…Aku sempat menduga bahwa ia tidak akan memilih diantara kita.. dia menjaga ikatan itu, Sehun… persabatan kita.” Kai kembali terisak halus. Entah sudah berapa kali ia menangis seperti ini.

 

 

“Demi Tuhan… Kai… Demi Tuhan!!” raung Sehun memegangi dadanya yang begitu sesak. Seakan mengunci semua rongga agar tidak ada udara yang bisa mengaliri tubuhnya.

 

Air mata yang turun dari pelupuk mata Sehun, menggambarkan sebuah tembok kuat yang amat tinggi itu runtuh seketika. Membiarkan tangisan pilu lepas begitu saja dari mulut Sehun yang pucat dan bergetar.

 

 

“Tuhan memanggilnya… saat malam natal, Sehun.”

 

 

Sehun semakin terisak hebat. Tubuhnya bergetar seakan tidak terkontrol, mata tajam itu tidak lagi menampakan keangkuhannya. Apa ini arti mengapa saat malam natal hatinya begitu gundah dan gelisah?

 

 

Oh Tuhan, bahkan seberapapun Sehun mengubur perasaannya pada Luhan selama ini.. hatinya masih menangkap signal hati Luhan dihatinya… “Kenapa…Tuhan! Mengapa kau ambil dia secepat ini!! Aku belum— memaafkanmu, Luhan!!! AAGGHH!!!”

 

 

Menangisi malaikat-nya yang ternyata sudah.. dipanggil oleh Tuhan.

 

 

Semakin hebat sakit hati yang Kai rasakan melihat Sehun seperti itu. Akhirnya Kai memutuskan untuk memulai kisahnya.

 

 

“Dengarkan aku.. Sehun……….”

 

 

 

 

 

.

.

.

.

 

“Luhannie!!” Tao langsung berhambur kearah namja manis yang kini sudah duduk diranjang rumah sakit. Tubuh mungil yang kurus itu sedikit bergetar saat melihat teman- temannya masuk satu persatu. Senyuman manis tentu menyambut kedatangan sang terkasih.

 

Chanyeol dan Baekhyun menyusul masuk… dan terakhir, Kai.

 

“Aigoo! Kan sudah kubilang jangan terlalu terburu- buru! Persiapan pesta natal dirumahmu itu sudah siap lebih dari setengahnya. Apa yang kau kejar hingga mengalami kecelakaan seperti ini, oeh? Tahu bagaimana cemasnya aku saat mendapat kabar kepalamu terbentur hingga harus dijahit? Agh!! Lambungku! Oh Tuhan, lambungku!!” Baekhyun berceloteh panjang lebar saking cemasnya. Sampai asam lambungnya naik.

 

“Baekhyun~ jangan mengomelinya.” Chanyeol merangkul pundak Baekhyun sayang. Mengusap perut Baekhyun dengan lembut dan perhatian. “Maag-mu sudah berapa kali kambuh sejak mendengar kabar Luhan kecelakaan, oeh?!”

 

Luhan tersenyum. “Maaf… semua cemas, ya. Karena jalanan tertutup salju aku terpeleset dan tidak sadar lampu hijau sudah hidup.”

 

“Tetap saja ceroboh! Kau bisa membuat kami semua disini mati berdiri! Kau tahu, oeh?!” Kai mendekati Luhan dan duduk ditepi ranjang bersama Tao. Namja tampan itu masih terlihat pucat. Ia yang paling khawatir saat mendengar kabar kecelakaan Luhan.

 

“Hikss… aku takut sekali saat mendengar kau harus di operasi karena ternyata ada bagian kepalamu yang terbentur lumayan parah.” Tao kembali menangis.  

 

“Oh~ Tao honey~ Jangan menangis seperti ini. Aku baik- baik saja. Lihat, kan? Nah apa yang kau takutkan lagi?” Luhan menangkup wajah Tao sayang dan tersenyum menenangkan.

 

“Tetap saja!!” Tao langsung memeluk  Luhan. Membuat namja cantik itu tersenyum sangat manis dan mengusap rambut Tao dengan pelan. Pasti Tao benar- benar takut saat mendengar kabar tentang kecelakaan Luhan.

 

 

Kai menatap Luhan yang masih mengusap rambut Tao. Mata mereka akhirnya tertaut dalam. Seakan tatapan Kai langsung menyentuh hati Luhan. Chanyeol melirik jam tangannya dan berjalan kearah Tao.

 

“Ne~ Tao, temani kami pergi membeli makanan untuk Luhan. Lagipula dia masih lemah… harus banyak istirahat.” Ajak Chanyeol yang disambut anggukan oleh Baekhyun. Namja tinggi itu sudah mengaitkan lengannya dipinggang Baekhyun.

 

“Sudaaahhh~ jangan menangis lagi. Ayo! Ayo! Aku sudah lapar!” Baekhyun mengusap rambut Tao. Sesaat Tao menatap Luhan kemudian pergi bersama Chanyeol dan Baekhyun keluar dari ruang inap Luhan.

 

 

 

 

Meninggalkan Luhan dan Kai berdua saja.

 

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Kai tidak melepaskan tatapannya pada namja cantik bernama Luhan itu. Kai tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. “..hingga kau bisa mengalami kecelakaan lumayan parah?”

 

 

Luhan tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak tahu, Kai. Rasanya… Entah kenapa aku harus cepat saja. Seperti.. ada yang memburuku. Harus cepat… harus cepat.. hanya hal itu yang ada dipikiranku saat itu.” Luhan menggerakkan tangannya seakan ia sedang berlari. Sedang sakit masih saja bersemangat… itulah Luhan.

 

 

“Memangnya apa sesuatu yang memburumu?” Kai bingung dan mengerjapkan matanya beberapa kali.

 

“Tidak tahu. Tapi aku merasakan bahwa natal 2 hari lagi terasa cepat sekali. Berbeda dari natal- natal biasanya.” Luhan mengangguk dan mengerucutkan bibirnya.

 

 

Kai memutar bola matanya. “Alasan yang tidak dapat kuterima. Kau malah tidak akan merayakan natal lagi seumur hidupmu jika kau tidak cepat ditolong, pabo!! Aisshh!! Kau membuatku serangan jantung, oeh!!”

 

Luhan tertawa kecil kemudian menghela nafas pelan, ia pegang kepalanya yang kini terbelit perban. Menutupi lukanya yang lumayan parah disekitar kepalanya. “Sakit..” keluh Luhan menggembungkan pipinya.

 

“Aissh! Kepalamu itu dijahit! Tentu saja sakit, Luhan!” Kai benar- benar gemas pada namja cantik yang kembali tertawa.

 

 

Luhan.. Luhan yang ceria dan..ia sudah kembali kesifat cerianya. Setelah kepergian Sehun ke Jepang, Luhan tidak banyak bicara tentang Sehun. Demi teman- temannya Luhan menyembunyikan semua luka hatinya… namun Kai tahu..

 

Dibalik senyuman manis yang menutupi itu.. hati Luhan masih sama hancurnya. Masih terbelenggu atas pilihan hatinya. Tidak jarang Kai mendapati Luhan menangis diatap sekolah. Namun ia tidak pernah menyebut nama Sehun dalam isakannya. Walau begitu… Kai tahu betul siapa yang Luhan tangisi.

 

Ia ragu…

 

… keraguan itu semakin lama semakin jelas dihati Luhan.. walau ‘sosok’ itu semakin kuat digenggam oleh hati Luhan.

 

 

Kai menghela nafas atas semua yang baru saja ia pikirkan.

 

 

Mereka diam sejenak.

 

 

“Sehun… apakah ia akan pulang ke Korea natal tahun ini?”

 

 

DEG

 

 

Kai sedikit tercekat saat nama ‘Sehun’ disebut oleh Luhan. Sejak kepergian Sehun yang meninggalkan Luhan dibandara itu bersama Kai.. baru kali ini Luhan menyebut nama Sehun dengan lantang. Padahal nama ‘Sehun’ sedikit tabu untuk dibicarakan oleh mereka berdua.

 

Kai mendekati Luhan dan mengusap wajah namja cantik yang sedikit pucat itu.

 

“Aku sudah mencoba bertanya pada ibu Sehun tentang hal itu… namun ia mengatakan bahwa Sehun tidak mau pulang.. kau tahu sudah berapa kali aku mencoba ke Jepang.. bahkan aku sudah berdiri didepan pagar sekolah asrama Sehun.” Kai terdiam sesaat.

 

“Akan tetapi.. sekolah itu benar- benar tidak mau menerima tamu yang memang tidak diperkenankan keluarga murid tersebut untuk berkunjung.” lanjut Kai sedikit lirih.

 

 

Luhan mengangguk. “Apa aku tidak akan pernah bertemu dengan Sehun lagi, Kai?”

 

 

Kai menghela nafas pelan. “Aku akan berusaha untuk itu.”

 

 

Namja cantik itu tersenyum simpul. “Aku ingin minta maaf… karena menyakitinya. Maaf.. hingga saat ini.. aku masih egois… maafkan aku.. karena… Aku memutuskan tidak memilih antara kau.. ataupun Sehun..”

 

 

 

Kai kali ini diam.

 

 

“..dan persahabatan kalian jadi seperti ini karena aku. Seharusnya.. aku tidak mengacau.”

 

 

Tep

 

 

Luhan merasakan tangan Kai mengusap pipinya lembut. “Itu keputusan Sehun.. kita harus menghargainya. Mungkin… ini yang terbaik, Lu. Bagi Sehun… ini yang terbaik. Dan masalah kau tidak memilih.. aku rasa itu juga keputusanmu yang berhak kuhargai.”

 

 

Luhan menunduk dan tersenyum tipis.“Dia….Aku rasa tidak, Kai. Sehun masih… Sehun tidak bahagia. Sampai saat ini… hatiku merasakan kegundahannya. Aku.. aku merasakan… Sehun terbelenggu dalam dunianya yang menyesakkan. Dan itu… menyakitiku.”

 

 

“Sakitnya luar biasa.. Kai.. Sehun menahannya sendirian.” Luhan memegang dadanya.

 

 

 

 

Apakah benar kau tidak bisa memilih, Luhan?

 

 

 

“…Jangan fikirkan hal itu dulu.. beristirahatlah.” Kai membantu Luhan untuk kembali berbaring. Tidak menyadari bahwa Luhan menatapnya begitu dalam.. seakan ingin mengatakan sesuatu yang amat berat.

 

 

Ia memendam sesuatu yang menyesakkan.

 

 

“Kai… aku berfikir saat itu.. apakah benar hatiku memilihmu jika dahulunya aku sempat berfikir bahwa aku memikirkanmu lebih dari siapapun?” ucapan Luhan yang tiba- tiba menghentikan aktivitas Kai yang baru saja menyelimuti Luhan.

 

 

“Maksudmu?”

 

 

Luhan menggeleng pelan. “..aku takut… menyalah artikan hal itu. Ikatan batin diantara kita memang kuat, Kai. Namun.. apakah hal itu bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu? Sedangkan hatiku yang sebenarnya sama sekali tidak pernah melupakan Sehun.”

 

 

 

DEG

 

 

“Ap—apa yang kau katakan tiba- tiba, Luhan?”

 

 

 

“Hal itu yang membuatku bingung selama ini, Kai. Sebenarnya… cinta itu seperti apa? Mencintai itu… seperti apa?”

 

 

 

 

 

Jangan lupakan satu hal

Semua yang terjadi kadang tidak bisa dimengerti

Hidup penuh misteri

Dan kita hidup didunia yang seperti itu

Saat kau menuntut jawaban

Apakah yang kau dapat adalah jawaban yang benar?

 

 

Yakinkah?

 

Hal itu adalah kebenaran?

 

 

 

 

 

-Malam Natal-

 

 

Malam itu… Luhan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kai dan Tao yang menjemput Luhan dirumah sakit menuju rumah Luhan. Sementara Baekhyun dan Chanyeol membantu orang tua Luhan untuk menyiapkan pesta natal. Atas permintaan Luhan pesta natal itu tetap dilaksanakan.  Dan Luhan meminta pada orangtuanya agar yang menjemputnya adalah Kai.

 

 

“Nah! Tas-mu sudah siap. Aku akan memanaskan mesin mobil dulu… tetap disini agar tubuhmu hangat. Setelah mesin mobilku panas, aku akan menjemputmu.” Kai memakai kembali jaket tebalnya dan syal. Malam itu memang sangat dingin.

 

“Ne~ hati- hati.. jangan sampai terpeleset, salju sangat tebal diluar sana.” Peringat Luhan masih duduk ditepi ranjang. Luhan memakai sweater putih tebal… dan entah mengapa Luhan begitu nampak bersinar.

 

“Tao, jaga Luhan.” pesan Kai sembari mengusap rambut Luhan. Mata Luhan dan Kai kembali tertaut… tidak mengetahui.. entah itu tautan mata mereka yang terakhir atau tidak.

 

“Ne~.” Tao mengangguk cepat menjawab perkataan Kai.

 

 

“Ah.. Kai!!” panggil Luhan tiba- tiba.

 

“Ne?” Kai yang sudah berada didepan pintu kamar inap itu membalikkan tubuhnya. Menatap benik mata Luhan yang nampak begitu murni. Membuat Kai sedikit merinding, karena… sosok Luhan entah mengapa begitu bersinar malam itu. Luhan nampak berbeda..

 

“Merry christmas, Kai.”

 

Kai mengerutkan dahinya. “Haruskah kau ucapkan sekarang?”

 

Luhan tersenyum … amat manis. Sangat teramat sangat manis dan berkilau. Membuat jantung Kai kembali berdetak abnormal. Jujur.. ia sudah merasakan keanehan pada Luhan. Namun sebisa mungkin ia tepis firasat tidak beralasan itu.

 

 

“Merry christmas.” Jawab Kai akhirnya kemudian tersenyum.

 

Luhan kemudian mengarahkan kedua tangannya pada Kai. Agak bingung Kai mengerutkan keningnya. “Kemarilah, Kai. Peluk aku!”

 

“Eh?!” Kai sangat terkejut dengan permintaan Luhan.

 

“Cepat!!”

 

Kai lalu kembali berjalan mendekati Luhan yang duduk ditepi ranjang, Tao memperhatikan Luhan dan Kai yang kini sedang berpelukan. Mereka berpelukan dengan saat erat.

 

“Permohonan natalku kali ini… Berbahagialah mulai dari sekarang, Kai.” bisik Luhan sembari tersenyum manis.  

 

Mata Kai membulat sempurna. “Mw—Mwo? A..Aku akan bahagia jika kau lebih dahulu bahagia. Arra?”

 

Luhan terkekeh dan mengangguk. “…Aku bahagia.”

 

 

 

DEG

 

 

Dan.. tiba- tiba hati Kai enggan melepas pelukan itu. Sangat enggan dan rasanya tidak mau membiarkan nafas hangat yang menyentuh tengkuknya hilang.

 

Ingin lebih lama berpelukan seperti itu dengan Luhan.

 

 

“Cepatlah.. nanti salju semakin tebal.” Luhan yang memutuskan pelukan itu. Ia tatap benik mata Kai yang nampak sangat berat. Entah mengapa Kai memandangi mata Luhan setajam itu. Apa yang dicari Kai disana?

 

“Tu..Tunggu aku disini, okey! Jangan kemana- mana!!”

 

Luhan terdiam saat Kai mengatakan hal itu. Ia tidak menjawab.. karena ia yakin akan sesuatu.

 

“Selamat tinggal.” Desis Luhan pelan sekali, Kai sama sekali tidak mendengarkan desisan Luhan. Namun sepertinya Tao menyadarinya karena namja manis itu mengerutkan dahinya.

 

Kai sudah berada didepan pintu, membalikkan tubuhnya sesaat menatap dalam sosok Luhan. Senyuman Luhan mengiringi hati Kai yang tiba- tiba sesak. Walau begitu, ia langkah kakinya untuk meninggalkan kamar itu, dengan langkah yang amat berat.

 

Membuat sedikit rasa aneh mengikutinya.

 

 

 

 

 

Luhan dan Tao duduk ditepi ranjang itu, menatap salju yang turun diluar sana melalui jendela kamar inap rumah sakit itu. Luhan nampak lebih pucat dari biasanya. Kemudian Luhan mengusap lembut rambut Tao, menatap lembut benik mata hitam itu.

 

“Maaf, kau jadi mengurusiku dan membatalkan rencanamu dengan Kris ge untuk merayakan natal bersama di Canada.” Ujar Luhan pelan.

 

 

Tao menggeleng cepat. “Mwo! Luhannie jangan bicara begitu! Aku sama sekali tidak pernah menyesal. Luhannie adalah sabahatku! Dan… Kris ge juga mengatakan bahwa aku harus merawatmu dengan baik.”

 

“Terima kasih Tao… aku ingin Tao bahagia.. karena aku menyayangi Tao. Ah.. tidakkah kau pikir Tao? Aku ingin Baekhyun membuka hatinya untuk Chanyeol dan.. katakan pada Chanyeol appa.. hahaha.. aku sangat senang jika ia mulai serius dan bersungguh- sungguh mengungkap perasaannya pada Baekhyun oemma~”

 

Tao memutar bola matanya. “Luhannie juga merasa begitu! Aigoo~ aku gemas sekali dengan mereka berdua!”

 

 

Luhan kembali tersenyum begitu tentram. “Tao… bisakah kau menyampaikan satu hal?”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Katakan pada Kai… untuk tidak terlalu memikirkanku lagi.”

 

 

“Eh?”

 

 

Luhan menghela nafas pelan. “Aku ingin dia bahagia.. menjalani hidupnya dengan kebahagiaan melebihi siapapun. Diluar sana… banyak sekali kebahagiaan yang menantinya.. tanpa aku.”

 

Tao memiringkan wajahnya. “Mengapa Luhannie tidak memberitahukan langsung pada Kai?”

 

Luhan diam dan matanya nampak sangat jernih. Ia menggeser duduknya agar lebih mendekati Tao kemudian merebahkan kepalanya didada Tao, menyesapi wangi jasmine pada tubuh namja manis itu. Tao hanya memperhatikan Luhan yang tiba- tiba terlihat sedih namun.. bahagia. Aneh memang. Tao juga tidak mengerti ekspresi seperti apa itu.

 

 

“Aku mengantuk, Tao.”

 

 

“Ah… kalau begitu tidurlah. Biar aku yang mengangkatmu nanti kemobil Kai.”

 

 

Luhan mengangguk dan menutup matanya. Setetes air mata jatuh dipipi Luhan, tidak diketahui oleh Tao, sahabatnya itu. Ia sandarkan kepalanya didada Tao lebih dalam, mendengarkan detak jantung namja manis itu yang berdetak dengan normal. Sedikit membuat Luhan iri… karena… ia tahu.. detak jantungnya…

 

 

 

“…Sehun….. Merry Christmas..”

 

 

 

Sehun…

Bisakah kau tangkap suaraku?

…terakhir kalinya.

 

 

 

 

 

 

 

Tao mendengar bisikan lirih Luhan.

 

 

“Luhannie?”

 

 

Tiba- tiba tangan mungil Luhan terkulai. Tao mengerutkan dahinya dan meletakkan tangan Luhan diatas pahanya. Namun keanehan dirasakan oleh Tao, karena tangan itu tiba- tiba mendingin. Tao mengusap rambut Luhan pelan dan memegang pundak Luhan.

 

 

“Luhannie? Kau sudah tertidur?”

 

 

Luhan tidak menjawab.

 

 

“Luhannie?”

 

 

 

 

 

Kai bersama Chanyeol berjalan menuju kamar inap Luhan. Ternyata Chanyeol menyusul karena khawatir membiarkan Kai menjemput Luhan sendirian. Namun sebenarnya Baekhyun mengatakan bahwa perasaannya tidak enak dan menyuruh Chanyeol untuk menyusul. Tidak berbohong bahkan kini Chanyeol sendiri merasakan firasat begitu buruk.

 

Namun saat mereka sampai beberapa langkah dari kamar inap Luhan.. dua namja tampan itu mendengar teriakan dan raungan hebat.

 

 

“Suara Tao!!” pekik Chanyeol dan mereka berdua langsung berlari masuk kedalam kamar inap Luhan.

 

 

Betapa terkejutnya mereka berdua melihat Tao yang memeluk tubuh Luhan erat sambil menangis terisak.

 

“Luhan!!” pekik kedua namja itu.

 

Kai langsung berlari, membuka dekapan Tao dan membaringkan tubuh Luhan diatas ranjang. Chanyeol memeluk Tao , menenangkan namja yang kini menangis seperti orang gila. Menatap pilu tubuh Luhan yang nampak mulai membiru. Bahkan Chanyeol terlihat sangat pucat dan matanya memerah.

 

“Lu! Luhan!! Bangun, Lu!!” Suara Kai bergetar hebat. Terus Kai berusaha membangunkan.. membuat Luhan membuka matanya. Walau yang Kai lihat hanyalah sosok yang nampak tertidur tenang.

 

“LUHAN! LU!!” Kai masih berteriak keras.

 

Secepat itu, datang seorang dokter dan dua orang perawat kedalam kamar inap. Sepertinya Tao sudah menekan tombol panggilan darurat dari tadi. Membuat Kai mundur dan membiarkan para medis itu memeriksa Luhan.

 

Kai menjambak rambutnya sendiri. Berusaha membohongi dirinya yang tahu betul bahwa.. jantung Luhan… Jantung Luhan sudah berhenti.. berdetak.

“Kumohon Tuhan… Kumohon!!” Kai berdoa. Matanya sudah nampak sangat berat. Seperti ada kaca tebal yang siap runtuh disana.

 

Apa yang terjadi pada Luhan! Bukankah dia sehat- sehat saja?

 

Dia masih tersenyum beberapa menit yang lalu…

 

Dia masih berbicara dan merajuk beberapa menit yang lalu…

 

 

 

Kini..

 

 

Mengapa dia… tidak bergerak lagi?

 

 

Mengapa wajah cantiknya itu sudah pucat sekali?

 

 

Mengapa.. mata bulatnya yang indah itu menutup seakan tidak mau terbuka lagi?

 

 

Sang dokter membalikkan tubuhnya kemudian menatap Kai, sang dokter menggeleng pelan. “Maaf.. dia sudah…”

 

Kai menerjang para medis, memegang kedua pundak Luhan dengan erat dan mengguncang tubuh mungil Luhan. Air mata sudah tumpah dipipi Kai, tangan Kai bergetar hebat, ia tidak kalah pucat dengan tubuh Luhan yang sudah.. tidak berjiwa.

 

Ini terlalu tiba- tiba dan Kai benar- benar- benar tidak siap menerima kenyataan itu.

 

Menerima takdir itu!

 

 

“Tidak Lu! Tidak!! Apa- apaan ini! LUHAN!! APA MAKSUDMU PERGI BEGITU SAJA!!” Isak Kai begitu keras.  

 

“LUHAN!! KAU MASIH MEMILIKI HUTANG DENGANKU DAN SEHUN! LU!! Oh Tuhan… Oh Tuhan!!”

 

 

Malaikat itu tetap diam. Matanya tertutup rapat dihiasi bulu matanya yang begitu indah dan lentik. Membuatnya seakan nampak hanya tertidur pulas. Bibir mungil itu bahkan terlihat seperti senyuman. Seakan damai dan kelegaan sudah dirasakan oleh jasad mungil yang pucat itu.

 

 

“Tidak, Lu!! TIDAK!!” Kai meraung. Air matanya nampak tidak berhenti sama sekali. isakan mengerikan yang baru kali itu Kai layangkan. Demi Tuhan, Kai sama sekali tidak rela. Apa maksud Tuhan menoreh takdir seperti ini?

 

 

Kai memeluk tubuh itu erat. “Kumohon!! Kita belum menyelesaikan apapun!! AKU BELUM MEMBAWAMU MENEMUI SEHUN!! LUHAN!! KUMOHON!!!!”

 

 

 

 

 

Chanyeol menangis terisak tak kalah hebat… mengetahui sahabat baiknya yang begitu murni ternyata telah pergi dimalam yang begitu damai. Tao sama sekali tidak berhenti menangis dipelukan sahabatnya, Chanyeol.

 

 

 

Semua berduka…

 

 

Bahkan Baekhyun  pingsan begitu mendengar kabar menyakitkan itu. Ibu Luhan ambruk dan ayah Luhan menangis amat hebat saat mengetahui anaknya… pergi dimalam itu.

 

 

 

Teriakan dan isakan…

 

…mengantar kepergian malaikat kecil yang dijemput oleh Tuhan.

 

 

Tuhan menyelamatkan hatinya.. membawanya masuk kedalam surga kemurnian selamanya. Tuhan menjemputnya dalam naungan kedamaian dan tentram… tidak ingin membiarkan malaikat itu terhasut lebih dalam dalam kebingungan yang pekat.

 

Menodai hatinya yang murni…

 

 

Luhan… manusia berhati malaikat itu…

 

… kini bersemanyam didalam surga bersama kedamaian yang abadi.

 

 

Menunggu.. saat dimana ia menjemput seseorang yang telah ia pilih ketika nafasnya terhenti.

 

 

 

 

 

Aku kehilanganmu

Aku kehilangan hidupku

Tapi kau tidak akan membiarkannya, bukan?

Karena kau akan membenciku

Jika aku terlihat lemah

 

 

Begitu, kah?

 

Namun izinkan sekali saja

Aku mengutuk dunia…

… karena membiarkan ragamu terpisah dari ragaku

 

 

Kumohon.

 

 

.

.

 

“Tao mengatakan.. kata- kata terakhir Luhan hanya… ‘Sehun, Merry christmas.’..” Kai tertawa hambar. Air mata tetap mengaliri pipinya dengan begitu lancar. Mengingat semua kenangan yang sama saja dengan beban berat… kematian Luhan.

 

Pesan Luhan.

 

 

 

 

Sehun…

 

Sehun menangis hingga meringkuh dilantai dingin itu, seakan bersujud. Kening Sehun menyentuh lantai dingin. Menumpukan air matanya yang langsung terjatuh kelantai dan pipinya. Ia peluk erat guci yang menyimpan abu jasad manusia yang ia cintai sepenuh hati dan hidupnya. Sesegukan yang menguasai tempat itu benar- benar terdengar memilukan.

 

 

Kai mendekati Sehun, menumpukan lututnya dilantai kemudian mengusap punggung Sehun yang bergetar hebat sekali.

 

Air mata kemudian menetes dipipi Kai, berkali- kali. “..Sehun… berbahagialah. Luhan hanya ingin… kita bahagia dengan hidup kita. Mensyukuri apa yang seharusnya kita syukuri… Kumohon, jangan hidup seperti benda mati lagi. Kita bertiga.. cukup menderita selama ini…”

 

 

 

Sehun masih menangis pilu. Nama Luhan berkali- kali Sehun sebut disela- sela isakan hebatnya. Ia tidak menjawab ucapan Kai yang ia tahu pasti bahwa hal itulah yang diinginkan Luhan.

 

 

Kebahagiaan.

 

 

Satu kata itu yang mengantarkan kedamaian untuk Luhan.

 

 

“Maaf.. Lu..Luhan… maafkan aku! Kumohon… aku ingin bertemu denganmu..” raung Sehun pedih. “Sekali saja.. aku ingin bertemu— LUHAN!!“

 

 

Membiarkan hatinya yang begitu sakit kini terekspresikan lewat penyesalan akan kebodohannya yang amat sangat.

 

 

-“Tak ada salahnya jika kau tampan, pintar, ataupun kaya. Itulah dirimu Oh Sehun. Walau omonganku terdengar seperti omong kosong. Tapi tak ada salahnya kalau kau mulai menghargai dirimu sendiri, kan?”-

 

 

Luhan yang begitu terbuka akan apapun… yang selalu berusaha membuat Sehun melihat sebuah kebaikan diantara penderitaan dan tekanan yang ia dapatkan.

 

 

-“Kim Jong In. Apa yang ingin kau lakukan? Lakukanlah!”  –

 

 

Memberi semangat untuk orang lain agar selalu bersyukur dan menjadi lebih baik. Memperkuat keteguhan Kai untuk bertahan dan menghancurkan pembatas yang mengusik dirinya.

 

 

Bukankah itu sosok Luhan?

 

 

Sosok yang memberi sebuah pembelajaran pada kedua namja tampan yang dahulunya memiliki hati sekeras karang, tidak mau peduli dengan lingkungan dan apa yang terjadi didekatnya. Hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu dan ingin merubah apa yang seharusnya mereka ubah karena…

 

 

 

 

… hidup bukanlah sesuatu yang dikendalikan oleh orang lain.

 

 

Hidup bukanlah masalah memiliki apa yang harus dimiliki. Hidup… perjuangan dan sebuah perjalanan untuk mengetahui bagaimana sebuah cinta dan ikatan menuntun manusia agar lebih baik. Tidak seharusnya semua keegoisan membuat sebuah kemurnian hancur diatas dosa.

 

 

Luhan…

 

 

Seorang manusia yang menjadi hadiah terindah dan berharga bagi dua sosok manusia yang dulu hidup bagaikan boneka. Tidak menghargai kehidupannya sendiri.. membiarkan orang lain mengambil kontrol hidupnya.

 

Semua pengorbanan yang Luhan lakukan untuk kedua namja itu, berharap kedua namja itu hidup bahagia dan jauh lebih baik.

 

 

Luhan…

 

 

Adalah seseorang yang mereka perebutkan hingga hanya ego lah yang menyiksa kedua namja itu. Menyiksa diri mereka sendiri. Menyengsarakan kehidupan yang bergantung pada raga itu. Seharusnya keberadaan malaikat itu ada.. bukan untuk menyiksa kedua namja tersebut dalam kesesakkan dan keserakan akan rasa memiliki..

 

 

…dan karena itu Tuhan menjemputnya.

 

 

 

Karena hanya hal itu yang bisa menghentikan sebuah masalah tanpa akhir yang mendera hubungan mereka hingga menyiksa lebih banyak hati. Membuat sebuah kesimpulan baru yang lebih menyakitkan antara siapa yang dipilih untuk memiliki.

 

 

 

Bukankah Tuhan cukup bijaksana?

 

 

Menyimpan kemurnian hati itu agar tidak rusak..

 

 

Kata- kata kasih akan menjadi penyengsara.

Termangu untuk diucapkan.

 

 

 

“Sehun.. aku yakin. Mulai sekarang… dia akan mengawasi kita dari surga.” Kai mendekatkan wajahnya kearah Sehun. Mengangkat bahu Sehun secara perlahan, agar namja itu duduk. Mata basah Sehun menatap mata Kai yang sama basahnya.

 

“Sehun, maafkan aku. Maaf… kita.. kita masih bersahabat, kan?”

 

Sehun langsung memeluk Kai erat. Menangis dipundak lebar sahabatnya itu. Mencoba kembali bersandar pada seseorang… seseorang yang dulu ia percayai melebihi siapapun. Mereka berdua menangis, mulai membuka diri dari sebuah beban berat yang selama ini mereka tanggung. Kai tersenyum pasti, air mata kembali mengaliri pipinya.

 

 

“Ikatan ini yang kau jaga, bukan? Luhan… terima kasih… terima kasih.” 

 

 

 

 

 

Mari kita bertemu lagi suatu saat nanti

Jangan berfikir perpisahan itu terlalu lama

Saat yang kau lihat hanyalah kedamaian dan padang rumput yang luas

Kau akan mengerti

 

 

Dan..

 

 

Kau tahu?

 

Aku ada disini.

Disampingmu walau kau tidak sadar sama sekali.

Hey, aku ada disampingmu.

Melihatmu.

 

Saat itu kau akan bertanya tanpa tahu,

“Kau pergi kemana? Kau ada dimana?”

 

 

Aku akan menjawab tanpa suara,

“Aku disini… Bersamamu.”

 

 

 

.

.

.

.

 

 

Kai POV

 

 

Tujuh tahun berlalu… berlalu begitu saja. Seakan waktu tidak mau menunggu tragedy yang terus saja ada setelahnya. Mengubur semua kenangan dengan cara sendiri dan cara yang terbaik. Kenangan yang membuatku tahu arti sebuah kehidupan.. misteri keteguhan hati manusia dan.. kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur kebahagiaan manusia.

 

 

Kini aku… sedang berada diruang kerjaku. Tempat dimana aku menitik karir yang cemerlang dan membuat hidupku jauh sebahagia mungkin. Kata ‘Bahagia’yang menjadi sebuah pesan yang penuh amanat dihidupku..

 

..karena pesan itu adalah pesan langsung dari malaikat Tuhan untukku..

 

 

Ya, aku harus bahagia!

 

 

Karena itu permintaannya padaku.

 

 

Umurku sudah 26 tahun.. dan perubahan yang kurasakan terasa begitu cepat. Kini ditanganku ada sebuah album foto… kenangan yang masih terperangkap diruang waktu dalam beberapa carik kertas keras itu.

 

Aku menatap lembut semua kenangan yang terpampang rapih disana. Membuatku sedikit menyinggungkan senyuman manis. Kemudian mataku tertaut pada foto sepasang kekasih… ah kini mereka sudah menikah.

 

 

Chanyeol dan Baekhyun—

 

Dengan keyakinan yang amat kuat ia melamar Baekhyun dan kini mereka tinggal di Belanda. Chanyeol meneruskan pendidikannya sebagai dokter sedangkan Baekhyun kini sudah menjadi salah satu pengajar seni di Universitas besar Belanda.

 

 

Mereka bahagia.. Luhan..

 

 

Lihat senyuman yang menghiasi hari mereka kini…

 

 

 

Tao dan Kris—

 

Namja manis itu… aku sempat merasa iba padanya karena ia depresi beberapa bulan. Luhan meninggal dalam peluknya dan.. siapa yang tidak terguncang atas kenyataan itu. Tao adalah salah satu namja yang paling dekat dengan Luhan.

 

Kris.. betapa kagumnya aku pada namja itu. Ia membuat sebuah panti asuhan untuk Tao… bertujuan agar namja manis berhati lembut itu merasa damai jika bersama dengan anak- anak. Membuat hati Tao, namja yang amat ia cintai itu, sedikit terobati atas kematian sahabatnya.

 

Tao sudah menerima kenyataan pahit tentang kematian Luhan, dan ia bertekad untuk terus menolong sesama manusia. Namja manis itu kini menjadi salah satu duta kesehatan di Canada, mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama manusia. Tentu saja hubungannya dengan Kris sudah resmi dalam sebuah ikatan.

 

 

 

Luhan…

 

Mereka selalu berusaha untuk bahagia. Mereka menjaga satu sama lain, kudengar terakhir dari Kris mereka mngadopsi seorang anak disana. Lihatlah.. kini Tao bahagia dan tujuan hidupnya sungguh sangat mulia. Kris tidak pernah sekalipun melepas Tao dalam kesedihan.

 

 

Karena… pesanmu.

 

 

 

 

Srak

 

 

Tanganku terus menelusuri lembaran album itu. Foto- foto yang diambil saat kami baru masuk sekolah.. namun tidak ada satupun foto bersama Luhan yang aku miliki. Aku hanya mengambil foto- foto Luhan yang ada dirumahnya. Tentu dengan persetujuan orang tua Luhan.

 

 

Dan…

 

 

Sehun.

 

 

Setelah aku memberitahu kabar kematian Luhan padanya.. Sehun berubah total. Sehun kembali ke Korea setelah kelulusannya.

 

Pribadinya berubah.. Dia mulai terbuka dan aku begitu bahagia melihatnya sudah bisa menerima tiap keadaannya dan selalu bersyukur. Sehun selalu berdoa untuk Luhan .. tiap detik dan waktu. Membuatnya jauh lebih hidup dan menjadi namja yang amat bahagia.

 

 

-“Satu hal, Kai… bukankah Tuhan sangat menyayangi kita? Hingga mengirimkan malaikatnya untuk membuat kita… mengetahui arti hidup yang sebenarnya? Menghargai kehidupan yang kita jalani.”-

 

 

 

Aku tersenyum tipis melihat foto Sehun yang tersenyum manis… didalam foto itu.. Tubuhnya yang tegap dan senyumannya yang begitu hidup, diambil saat dia sedang mengunjungi… makam Luhan.  

 

Foto Sehun yang diambil sebulan…

 

 

 

 

….sebelum kematiannya.

 

 

Sehun meninggal akibat kelelahan bekerja 4 tahun setelah kematian Luhan, atau lebih jelasnya 3 tahun yang lalu. Sehun meninggal dalam usia 23 tahun. Ia meninggal … pada malam natal, tepat disaat Luhan meninggal dunia. Diwaktu yang sama dan jam yang sama.

 

 

Sebelum itu ia sempat berkata padaku lewat saluran telepon.. sehari sebelum ia ditemukan meninggal dunia.

 

 

 

-“Kau tahu, Kai? Aku bermimpi… Luhan mengatakan padaku… ia akan menjemputku. Apa artinya itu?”-

 

 

Aku sempat marah sekali saat Sehun mengatakan hal itu dengan nada yang amat bahagia . Aku sangka ia hanya bercanda karena suaranya.. sangat bahagia saat mengatakan hal itu. Aku tidak pernah berfikir bahwa ia serius..

 

 

Ia ditemukan oleh sekretarisnya dalam keadaan terbaring diatas sofa ruang kerjanya. Dokter mendiagnosa bahwa jantung Sehun ternyata mengalami kelainan karena pola hidupnya yang mulai berubah dan tidak makan dengan teratur dalam setahun terakhir.

 

Ia terlalu sibuk bekerja.. Sehun sedang menangani sebuah proyek jembatan antar pulau termegah dan terkuat di Korea.

 

Sehun mengatakan bahwa.. jembatan salah satu cara penghubung yang bisa menguatkan sebuah ikatan penggunanya. Dan Sehun ingin membantu menyambung sebuah kehidupan yang terpisah. Menyambung kehidupan agar lebih banyak kebahagiaan walau nantinya ada duka yang menyelinginya.  

 

Sehun meninggal dengan wajah yang amat damai. Dia… tersenyum. Atas kebijakan orang tua Sehun, makam Sehun tepat berada disamping makam Luhan.

 

 

Dan…

 

 

Apakah itu jawaban dari Luhan…

 

 

…..Luhan memilih Sehun?

 

 

 

Aku kembali mengingat ucapan Luhan beberapa minggu sebelum ia mengalami kecelakaan waktu itu. Ia berkata padaku dengan wajah ceria saat aku kembali menyatakan perasaanku padanya. Saat aku kembali mengatakan bahwa aku mencintainya.

 

 

-“Kai… Maafkan aku…. aku tahu siapa yang lebih membutuhkanku.. dan saat itu, aku akan datang.”-

 

 

Seakan dia sudah lama mengetahui bahwa… ia akan segera dijemput dalam waktu dekat.

 

Ia..

 

Luhan.. sudah membisikkan sesuatu  padaku  jauh sebelum kematiannya dan aku tidak menangkap maksud yang  terlampau buram itu. Karena aku sama sekali tidak pernah berfikir akan kehilangannya secepat itu. Aku hanya terlalu mencintainya, hingga tidak ingin sedetikpun memikirkan kemungkinan apapun yang bisa memisahkan kami..

 

… aku terlampau egois. Aku tahu itu.

 

 

Aku tahu… akan satu yang pasti manusia dapatkan setelah melakukan proses kehidupan yang begitu panjang.. yaitu kebahagiaan.

 

 

Dan kebahagiaan serta kelegaan Luhan adalah … dirinya yang kini bebas dari jeratan ketidakpastian…

 

 

 

Surga Tuhan.

 

 

 

 

“Jongin..” suara lembut menginterupsiku. Aku tersenyum manis sekali saat melihat yeoja itu masuk kedalam ruanganku seraya memegang sebuah kotak bekal. Wajah manis seperti malaikat.. ia memiliki hati yang luar biasa lembut dan murni. Wanita yang paling luar biasa yang pernah kutemui selama ini.

 

 

Dia wanita yang begitu kukagumi… istriku.

 

 

 

 

“Yixing.. maaf jika aku memintamu membawakanku makan siang.”

 

“Bicara apa kau? Aku ini istrimu, mau kau repotkan seberapa banyak juga itu hak-mu, Kim Jongin.” Ia mengerucutkan bibirnya saat ia menggerutu. Sosoknya yang selalu membuatku tenang.

 

 

Manis dan murni…

 

 

Istriku dan kebahagiaanku, kami belum lama menikah walau sudah mengenal cukup lama. Pernikahan kami baru berlangsung 6 bulan.

 

 

Aku bertemu dengan Yixing saat mengunjungi Tao di Kanada yang masih terguncang atas kematian malaikat kami. Ia adik perempuan dari Kris. Dia merebut perhatianku, dan saat aku melihat matanya. Ada ketulusan dimata bulatnya. Membuatku merasakan… jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Dan kini aku memang memilih orang yang tepat.

 

Walau..

 

.. jauh didalam lubuk hatiku yang terdalam.. aku tidak bisa melupakan sosok Luhan sama sekali. Sosok itu abadi selamanya didalam hatiku. Sosok yang tersimpan ditempat yang istimewa didalam hatiku.

 

Sosok yang mengajarkan sebuah arti hidup dan pengalaman cinta yang berharga..

 

 

Karena cinta seperti itu hanya sekali seumur hidup, bukan?

 

 

Kututup album foto itu… menutup sementara kenangan yang akan terus kuputar ulang di otakku. Karena hidup akan terus berjalan. Beribu kalipun kejadian pahit terjadi.. waktu tidak akan mau menunggu dan terhenti.

 

 

Mengukir kembali kisah lain yang mungkin akan jauh lebih bermakna.

 

 

Kisahku…

 

…kisah percintaanku yang tidak akan terlupakan selamanya. Kisah persahabatanku yang terikat hingga kini. Aku bersumpah hingga akhir masa. Walau.. Sehun sudah tiada.. berbahagia disana bersama.. entahlah. Aku tidak yakin atas kehidupan yang seperti itu setelah kematian. Namun aku yakin Sehun bahagia…

 

…karena Sehun pergi dalam senyuman bahagia. Seakan ia dijemput dalam pelukan dan kasih sayang dari sang terkasih.

 

 

Luhan…

 

 

Akankah kau melihat kebahagiaanku yang telah kujanjikan padamu?

 

 

Karena kau… mengatakan padaku untuk bahagia.. dan aku akan bahagia.

 

 

Terima kasih.

 

 

Terima kasih telah hadir didunia ini.

 

 

Terima kasih untuk keberadaanmu dihidupku.

 

 

 

 

THE END

                              

 

 

 

*sujudsujudsujudsujud*

Ya Allah ya Robb… Pasti ancur bgt endingnya yah. Maaf.. beneran maaf ya kalo endingnya gak sesuai ama yang diharapkan. Mohon maafkan aku kalau aku berbuat kesalahan dan ada kata- kata yang tidak mengenakkan. Aku mintaa maaaaaffff TT^TT

Demi Tuhan aku gak kuat pas buat bagian Luhan.. AAGGHH!!! DEMI APAPUN LUHAN ITU BIAS KUUU YA ALLAH!!! Akhirnya Luhan ama siapa masih ambigu ya… atau ini bisa sih dibilang enggak jadi ama siapa- siapa. ß abaikan!!!

 

 

Ending ini terinspirasi dari kata- kata mamaku saat nntn  sinetron *ini gak bohong*. “Sesuatu yang diperebutkan secara berlebihan dan buat kedua pihak yang memperebutkan menderita, Tuhan gak akan suka. Karena Tuhan bijaksana.. Tuhan akan mengambilnya agar kedua pihak yang memperebutkan berhenti bersiteru dan bisa bahagia.”

 

Itu mamaku nntn sinetron yang berebut anak itu, lho. Aku gak tau judulnya =_=

Sekali lagi maaf yaaa jika gak sesuai dengan yang diharapkan.

Kim Hyobin.

254 thoughts on “Kind Of Heart FINAL CHAPTER

  1. pertama baca ff ini seneng karna cast nya hunhan, tapi pas ada kai rasa gimana gitu nyesekk takut luhan sama kai. takut banget nerusin baca ff ini takut nanti luhan milih kai, pas aku baca final nya aku teriak sumpah LUHAN MILIH SEHUNN~ tapi kenapa sehun malah gk percaya/? pas lagi bahagia nya luhan milih sehun tiba tiba hati nyesek banget sumpah(?) hati nya luhan ke kai dan sehun malah nyuruh luhan sama kai,, nyesekkk wooy~ aku mikir nya dari pada nanti luhan sama kai baik nya gk usah di satuin aja, kalo luhan sama kai gk tega sama sehun, kalo sehun sama luhan sumpaah dukung banget. sebenarnya aku pengen banget nangis baca ff nya tapi air mata nya gak mau keluar. kata kata kaka ulala keren banget aku banyak belajar kata kata dari kaka. INTI NYA NIH FF THE BEST OF THE BEST

  2. gue beneran nangis thor
    pls
    kenapa kai sering banget ngalah.
    THOR
    terus maksud lo apa, kata lo orang yang luhan pilih bener-bener di akhir. dan yang gue liat yang diakhir itu ‘Kim Hyobin’ maksudnya apa WOI
    feelnya ngena banget thor:(

    coba sekali lagi bikin ff sekailu tapi di akhirnya kailu:( pliss

  3. Thorr
    Gomawo udah buat ff ini *hiks
    Aku bener2 suka sama ff ini..
    Banyak bgt pesan moral yg bisa kita ambil

    Author bener2 jahat…aku yakin udah byk anak orang yg author bikin nangis kan????
    Asal authir tau disini aku guling2 di kasur…jambak2 rambut karna galoo..

    Hiks tuhan memang adil
    Ending cerita yg gak bisa di tebak..
    Aku suka…
    Hunhan memang jodoh..tetapi tuhan mempertemukan mereka dgn jalan yg berbeda /cuihh sok puitis.-.

    MAAP BARU BISA COMMENT DI CHAP INIㅠㅠㅠ
    Ada masalah koneksi jadinya ga bisa comment u.u setiap mau post comment selalu galal jeongmal mianhaeeeeee!!!

  4. author.. sumpah ya.. aku emg ga banyak komen dari ep 1 tapi pas nyampe final… njirr ga nyangka sama endingnya!! aku kira hunha bakalan sama sama .. gak tau nyaa :'(:'( ahhh nangis beneran thorr!!! #pelukJongIn Daebak banget!! suka suka.sukaaaa aku ngalong loh ngabisin baca ff ini!! xD

  5. author, , maaf baru nongo…tau g klo aq bca ff nie smbil.nngis smpe adek q ngirain aq ptah hati…hhhh

    endingnya g ancur kok…mlah mnyentuh bgt….mkasih krna udh bkrja kras buat ff utk readers….
    d tunggu ff lainnya…keep writing ne…saranghae hyobin

  6. Thor, ffnya keren banget sumpah QAQ hati saya kek ketusuk piso pas baca akhirnya-,- suer-,-
    Saya nyesek pas bagian luhan death itu QAQ
    Mama ku juga bilang “sesuatu yang diperebutkan itu gak akan selesai dan gak akan ada yg dapet” jadi kek misalnya ada yg jual tas bagus/? Terus 2 orang itu perebutinn terusss dia bakal terlambat. Karena udah ada orang lain yg beli tas itu._.

  7. Ini ini ini… ya ampun gak tau yaa kata2 kakak bener bener bikin orang kebawa.. sama sekali gak nyangka kalau cerita yang awalnya menyenangkan di sambut dengan ending ya tuhaann gak tau mau ngomong apa tapi rasanya nyesek banget waktu tau luhan aaaaa
    ini happy ending, tapi dengan versi kakak sendiri… sehun dan luhan tetep sama sama walaupun itu yah, sedikit..
    entah kenapa disini aku bener2 suka sama karakter luhan.. malaikat yang menjelma jadi rusa kecil yang lugu yang bisa jadi penguat buat orang2..
    Yah, oke ini cuma khayalan.. ini cuma ff..
    tapi salut buat kakak ^^ terima kasih untuk karyanya

  8. Ya ampun,, pas kai blang sma sehun guci itu luhan, aku nangis. Msa lulu mati?
    Huhuhu,, dkra boongan kyk sntron indo kan klo tkohnya mati muncul lg.

    Aku pkr luhan idup lg, reinkarnasi trus happy ending brg sehun.

    Huwe.. Aku mlai ngaco, udhlah ff eon daebak, aku mw nangis dlu… Hiks hiks

  9. WWWWWUUUUAAAAHHHH………😥
    *berteriaksekerasmungkinn!!*
    SUNGGUH ENDING YANG MENYEBALKAN!!!!!!
    Aku menangis author!!! Ini cerita nyesekin banget!!! padahal aku bener-bener ngarapin endingnya bahagia, tapi kenapa gini!!!
    Semua di luar perkiraan, tapi ini ff keren banget!!! Daebak bangettt!!
    Teruslah menulis kak, aku mendukungmuuu…

    SEMANGAT TERUS KAK KIM HYO BIN, AKU AKAN TERUSSS MENDUKUNGMUUU…😀😀😀

  10. hwaaa air mtaq g bisa bhenti ni thor…. kereeen bgt, ceritanya bner2 bkin orang degdekan….. pko’ny JJANG!!
    thanks buat ffny thor.
    gommen bru comment.
    keep writing author!!

  11. thor lu jahat lu buat gue nangis nangis sesegukan kayak ditinggal pacar gue kemane mungkin thor lu pinter banget sih nyusun cerita dahsyat ini gue udah nangis kayak gini dan end nya waow bgt thor gue ngerasa pengen bawak golok kerumah lu aduh keren deh hehe,gue tadinya mikir gegara luhan meninggal pair yg tadinya hunhan akan menjadi kaihun kekeke sebuah end yg mustahil tapi loe keren thor patut dapet awards klok ajk ada awards buat pembuat ff ter dahsyat didunia ini (y)😀 :*

  12. Omona O.O
    Suka suka suka bangggeettt thorr , daebaakkk *tunjukin jempol 10 #minjem jempol member EXO
    Tapi kenapa harus pada mati gituu >.<
    Keep writing thor !! (҂'̀⌣'́)9
    Maaf aku ga komen di chap sblumnyaa, soalnya keasikan lanjut truss,, ntar di chap terakhiiirr baru komen banyak2,, hehehe😀
    Aku meweekk tengah malam sampe dikira kuntilanak gegara baca ni ep ep -_-

  13. ini angst ya ampun padahal ndak pernah semangat baca ff angst tapi semangat pas baca ini ㅠㅠ
    selamat thor anda membuat saya teriak” kayak orang gila di kamar.
    akhirnya LUHAN MILIH SEHUN KAN ? JAWAB THOR MEREKA HARUS BERSAMA ! AKU NGGAK BISA KALAU MEREKA NGGAK BERSAMA ㅠㅠ
    hiks~ but thanks for this awesome fanfic❤

  14. Cerita yang amat sangat DAEBAK teman
    Emosiku ikut masuk kedalamnya.ikut menangis saat sehun menangis juga saat mereka tertawa.bahkan kesel amat sangat saat mereka mengatasnamakan pengorbanan untuk yang dicintai pdhl scr tidak sadar justru saling menyakiti.gemeeeessssssssssss
    Pokoknya sangat2 terima kasih to author

  15. Ah….. Aku nangis pas baca ff ini bener bener…… Membuat ku nangis….. Tapi makasih udah buat ff yg kaya gini….. Makasih banget…. Soaal nya… Aku udah lama nantiin ff yg kaya gini……

    Meski akhirnya sad ending….. Yah gak apa apalah…..

    Tapi kenapa kai sma yixing?

    Gpp deh…. Tapi bagus ko kak…..

  16. thor nemu ff ini nangis beneran masa
    gua sebagai namja merasa harga diri gua terinjek” /? *ala sehun
    gegara nangis baca nih Ff daebak thor!
    dari part 10 nih aermata kagak berenti”
    gue yg ngebayanginnya pas banget lagi dengerin lagu mellownya nindy Cinta Cuma Satu nangis kejer, nyesek banget ff-nye ya walau rada kurang ngerti ama kata”nye yg kadang ngawur tapi feelnya dapet kok , (saya telat komen)

  17. Keren banget ff ini, bikin aku nangisT_T.
    Mnurut aku ini ff terbaik yg ak bca, keren dehh. Aku baru ktemu ini ff

  18. mianhae author aku baru coment sekarang soalnyaa aku mau baca sampe akhir😀 dan ternyata ini endingggg sedih banget ganyangka juga kalo sehun meninggal😥

  19. to kim hyobin,ff kind of heart critanya bgus bgt.endingnya berhasil bgt bwt nae nangis bombay…
    trusin y karya nya..jmpol 10 dh…

  20. Endingnya!!!! Ini daebak thor!
    Aku ikutan nangis~
    Endingnya sweet bgt, sngat mnyentuh!
    Smua dpet psangan, wlpun HunHan hrus in heaven xD
    Great job thor! Really love it! ♥🙂

  21. Daebak thor!!!!

    endingnya sedih banget. bacanya aja sampe nangis.
    aku suka banget sama jalan ceritanya thor. dan juga endingnya juga bagus banget. aku sih gak nyangka kalau endingnya itu luhan dan sehun bakalan meninggal. pokonya ff ini is the best.

    thank’s ya thor buat ff yang ini. because i really like this. author is the best. dan ff ini juga yang terbaik.
    ❤ sekali lagi Thank's ya thor buat ff nya❤

  22. thoor…jujur aku bukan readers yang suka baca yaoi, tapi beneran thor. baru kali ini suka sama ff yaoi. kenapa? soalnya alurnya unik, bahasanya simple, dan dialognya itu ngena banget thoor… sayang baru nemuin ff ini sekarang.dan untungnya nemu pas udah chapternya complete. bisa ditebak aku langsung jadi kalong buat baca ff ini. 4 thumbs up buat author!! jjang banget!! keep writing ya thor, dengan bahasa yang simple tapi dialognya nyentuh ^^

  23. ma’af jujur aku hanya coment di final chapternya… setelah membaca chapter 1-4 atau lebih sih aku kurang ingat..sa’at taemin muncul aku takut buat lanjutin baca karna aku pinginnya kai cuma cinta luhan..hanya ada hunhankai … jadi aku langsung lompat ke finalnya meskipun penasaran sama yg chaptr2 seblmnya,hhhhh nangissss… mau coment yg aku rasain tpi rasanya campur aduk.. jadi..intinya ff ini -nyambung,bikin penasaean tiap TBC,gak bosenin,”Bagus”,bisa ngebayangin gimana masuk kedalam critanya” … ffmu bagus2 thor,apalagi yg the betrayed angel ..

  24. Oh goddd..
    Ff apa ini eonn? Kenapa bisa buat aku nangis sampe kek gini???
    Aku kgk tau mau ngomong apa, sampe aku rasanya kgk mau keluar dari ff ini, aku ttp mau berada di dalamnya, ff apa ini? Perasaan apa yg eonniepake buat bikin ff ini? Ngena bgt, sampe napas ajj susah bacanya..

    Ending yang bener” kgk kebayang, aku sebenernya bingung mau seneng baca endingnya / sedih? Sampe ending pun aku masih nangis, tapi aku senyum,

    Daebbaaaaaakkkk aku kasih semua jempol dah buat ff ini..
    Ini ff terbaik yg pernah aku baca, 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

  25. Subhanallah ffnya sukses bikin aku gila. Senyum-senyum sendiri, deg-degan sendiri, jerit-jerit sendiri terus endingnya nangis bombay sendiri. Author jjang (y)

  26. Thor nangiiiis nihh pas dichapter lain gabisa ketebak end nya luhan sm siapa, akhirnya hunhan bersatu walaupun bersatu diakhirat… bagus bgt pokoknya

  27. DAEBAK !!!
    Ini FF sukses bikin tissue banyak kebuang gara2 air mata .. Sebelumnya mian ya thor baru comen ps diakhir soalnya khusuk bgt baca nya .. Hehee skali lg mian ya thor .. *peace
    Sumpah suka bgt baca nya thor, awalnya ketawa2 sendiri wktu bca chap awal2 nya, ketawa karna kekonyolan ChanBaekTao.. Sumpah itu trio ngocok perut bgt .. Tp ga skli lg smpah ga nyangka bkal berurai air mta gni akhirnya thor T.T ..
    Gomawo utk kerja kerasnya buat FF ini ya thor🙂

  28. aku nangis sungguh TT dimulai bagian flashback. Sampai akhir.
    Tapi aku lega Luhan memilih Sehun TT sesukanya aku sama Kaihan, secintanya aku sama Kai, biasku, otp utama tetep Hunhan :’)
    ini fic bagus banget. ngena. astaga TT
    meski agak geli sih karena kai sama lay, tp endingnya bagus banget. kyaaaaa

  29. ha? endingnya seperti itu?
    lol. untuk gue ngebaca cuma skip skip. gue mau komentar boleh dong. di ff ini terlalu banyak kata yg berbasa basi . maaf menyakitkan tapi junyr lebih baik ._.v

  30. Suka ceritanya. Dan suka banget sama endingnya. Akhirnya Hunhan yah :’3
    Sayang banget Luhan nggak sempet ketemu Sehun lagi.
    Dan nggak nyangka Jong-in akhirnya sama Yixing. Aku pikir sama Kyungsoo yang tiba-tiba muncul *efek Kaisoo shipper*
    Tapi tetep aja bagus. Daebak! Nyan~

  31. author bener2 pinter bikin ak sesegukan😥😥
    .setelah love failed skarang king of heart ..
    baru pertama kali ak nangis selama ini gk brhnti2 ..
    tangkyuuu thor :* ff.y deabak!! bngettt ..
    ak bkalan ncari karya author kim sekarang !!!!!!
    fighting! !!!! keep writing! !!!

  32. hiks,kok luhan meninggal sih? sehunnya juga…. kebwa tau gk thor… aku kira abu itu cma pura-pura,itu akal-akalan baekyeol,tao,ama kai untuk luhan dan sehun,, eh rupanya benerran……..huwaaaa tanggung jwab lho thorr…. udah bikin aku nangis…. *dipeluk hunhan dri surga.*eiit pura-pura ya….. gk beneran.

  33. Akhirnya end juga baca ini😀
    Dari awal wqaktu pertama kali luhan ketemu sehun (saat sehun pidato) udah yakin kalo nanti endingnya luhan sama sehun jodoh.. Tapi makin ketengah tentang perasaan luhan ke kai dan sebaliknya, jadi bingung, apalagi waktu dibandara.. Tapi karna dari awal udah yakin kalo endingnya itu hunhan selalu yakinin hati sendiri kalo endingnya pasti hunhan.. Dan jeng jeng,😀 hunhan itu jodoh ya walaupun harus berakhir seperi itu dan dipertemukan dikehidupan baru.. Tapi gak papa.. FFnya Daebak!!😉😉 baru kali ini baca FF yang ceritanya kaya gini (bikin pusing) hhee.. Pokoknya 100 buat FF ini..🙂

  34. nyesek banget luhan ternyata milih sehun :3 dan meninggal semua huaaaaaaaaaaaaaaa kereeennnnnnnnnnnn bgt ff.a bikin NYESEK SETENGAH JIWA T.T T.T

  35. Sumpah demi ap thoorr ini jam 3 malam & skrg qu gy nangis bombay krn epep ini huweeeeee

    Tp ending ini feel nya berasa bgt & bikin nyesek krn death chara/elap ingus/eh?

    Bwt author 10 jempol & qu kasi depe 2 jempol dulu aja ya wkwkwkww

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s