[FREELANCE: Jonanda Taw] TwoShot : What Is LOVE? | Part 1

From Hyobin : Maaf, saya kembali post FF Author Freelance. Masih ada satu kesempatan lagi yang FF nya mau dimuat di BLOG ini. silahkan hubungi Hyobin melalui email : rana.park@ymail.com atau lewat PIN BBm. Satu lagi, SILENT EYES sedang saya lanjutkan. Maafkan saya sekali lagi karena belum bisa UPDATE judul FF manapun yang saya rilis. Sekali lagi maafkan saya. #bow #tampar aja saya gak papa tampar aja *beneran ditampar*

For Jo from Hyobin : Kakak suka cara kamu menulis dan mendeskripsikan sebuah fanfic. Kakak selalu suka tulisan kamu. Terima kasih sudah mempercayakan Blog kakak untuk memuat FF kamu. Akhirnya kakak bisa baca FF kamu juga *kedip kedip cantik*

BIG HUG FOR OUR FREELANCE AUTHOR : JONANDA TAW

***

[Two Shoot]

Title : What is LOVE?

1

Main Cast : Huang Zi Tao, Kevin Li Jiaheng(Kris Wu Fan)

Supported Cast : Lu Han, Byun Baekhyun

Pairing : Kris-Tao; Tao-Ris

Genre : Romance Dramatic, Smarm

Rating : Teen, Parents Guide(?)

Note : Slash. Alternate Reality, Alternate Universe, m/m, OUTSIDE PoV

LEGHT : Part 1 of 2 | 5.272 WORDS

 

WARNING!!

BOYS LOVE STORY!

Jika tidak suka/bingung membacanya, sebelum ngebash mendingan gak usah baca ^^

Saya lebih suka kalau sedikit yang baca FF ini tapi suka, daripada banyak yang baca tapi abis itu dihina habis habisan…

NO SIDER PLEASE. NO PLAGIATOR PLEASE. NO COPY CAT PLEASE.

Udah mohon pake kata please, bisa ngerti kan?

Thankseu…

 

FF ini dibuat barengan sama minggu Ujian Sekolah dan persiapan test masuk SMA. Jadi mohon maaf kalau hasilnya gak maksimal. Thx before buat dek Nathdriel, seorang beta reader yang bela-belain pulang usek langsung kerumah buat menuhin permintaanku buat baca FF ini pertama kali. Dan makasih buat pujiannya juga. Satu lagi, makasih udah ngenalin aku ke blog Runrunka ini ^^ /kebanyakan makasih/

 

Jonanda Taw present

Twitter             @JoNandaTaw

Facebook        Jonanda Taw

Copyright ©2013

 

My 1st Fanfiction on Runrunka

My 1st EXO Twoshoot Fanfiction. I hope u like it ^^

 

 

Kadang aku bermimpi

Aku berjalan menyusuri sebuah taman bermain

Bagaikan Disney Land yang sering kuimpikan

Lalu aku terbangun

 

Kadang aku bermimpi

Aku berlari menangkap awan

Bagaikan Spongebob yang mengejar ubur ubur

Lalu aku terbangun

 

Kadang aku bermimpi

Aku melompat menggapai langit

Seperti seorang juara

Lalu aku terbangun

 

Kadang aku bermimpi

Aku menari dengan sangat lincah

Seperti sedang mengadakan sebuah konser terbesar di dunia

Lalu aku terbangun

 

Tapi ketika kau muncul dalam mimpiku

Aku berharap aku tertidur selamanya

 

 

Kau menunduk dalam saat sebagian isi kelas menertawaimu di jam pelajaran kosong ini, tepat bertumpu pandangan pada kedua kakimu yang kurus kering seperti tulang berlapis kulit yang tertutup celana panjang berwarna biru gelap. Kaki itu yang membuatmu ditertawai sekarang, kaki cacat itu yang selalu menjadi penyebab dirimu dikucilkan.

“Ingat, kau ini hanya penerima beasiswa yang beruntung. Kau bersekolah disini karena kami kasihani! Kau bukan apa-apa!”

Dirimu mengangguk sangat pelan, hampir tak terlihat. Tanganmu basah oleh keringat karena takut. Ini adalah hari pertamamu disekolah baru. Dan kesan pertama yang kau dapat adalah, orang-orang disini sungguh kejam!

TAK!!

Sebuah penghapus berhasil mendarat dengan mulus di dahi tengahmu. Tak menimbulkan rasa sakit yang dahsyat dibagian itu, tapi jauh diantara rusukmu, jantungmu, tepat pada perasaannya, seperti ada singa yang mengoyak-oyak harga dirimu dengan begitu beringas.

Sejak pagi tadi, seluruh penjuru sekolah langsung menatap dirimu yang melangkah masuk ke sekolah memakai kursi roda. Bahkan guru-guru yang kau temui. Kau menghabiskan istirahat pertamamu sendirian ditemani sekotak bento berisi lauk kesukaanmu. Dan mengerjakan tugas-tugas yang guru berikan sendirian, tanpa meminta bantuan siapapun. Karena kau takut akan ejekan mereka. Bahkan mendengar gunjingan berbisik mereka dibelakangmu saja sudah membuatmu lesu.

Penghinaan dan pelecehan bukan hal baru untukmu. Sudah 17 tahun kau hidup dibayang-bayangin dua kata menyeramkan itu. Tapi, berada dalam dunia baru, lingkungan baru, apalagi di lingkungan elit seperti ini, buatmu adalah pengalaman pertama.

“Ap-apa salahku… hingga ak-aku diperlakukan… seperti ini?” ucapmu terbata.

Seorang wanita berambut curly kemerahan mendekat kearahmu, menangkup pipimu kuat dengan satu tangan hingga bagian mulutmu mengerucut dan membuat kacamatamu melorot karena ia melakukannya dengan sedikit sentakan. “Kau sih…,” ucapnya tersela sambil memperhatikan wajahmu terperinci, “Tampan. Tapi sayangnya tak tahu diri!” lanjutnya sambil melepas kontak kulitnya denganmu dan langsung membasuh tangannya dengan sebuah cairan khusus yang kau tak tahu namanya.

Engkau mendongak sekilas, lalu saat kau melihat semakin banyak orang yang mengerumunimu, kau kembali menunduk dan membenarkan kacamatamu dengan tangan gemetar. “Tak…tahu diri… seperti apa?”

“Kau masuk sekolah ini tanpa ijin kami! Kami ingin uang kami disumbangkan untuk beasiswa dan digunakan oleh orang orang yang pantas mendapatkannya! Bukan orang tanpa masa depan sepertimu!” ujar suara berat yang baru kali ini kau dengar.

“Benar sekali! Kau tak pantas menikmati hasil jerih payah orang tua kami! Karena masa depanmu suram!”

Aku tak pantas mendapatkan semua ini? Masa depanku suram?, pikirmu.

“Aku bisa menjadi pengajar les privat,” ujarmu tungkas.

“Ck,” wanita yang tadi menyentuhmu mendecak, “kalau aku jadi muridmu, aku sudah terlebih dulu jijik melihat kaki cacatmu!”

Kau diam, hanya mengangkat bagian bawah celanamu sedikit hingga bisa terlihat jelas kaki telanjangmu sampai pada bagian betisnya. Ini memang menjijikkan!

“Lihat, kau bahkan jijik kan?”

Dirimu menatap wanita itu cepat, “Tapi setidaknya aku tidak mempunyai otak yang cacat seperti kalian!”

Hening.

Semuanya diam.

Tak ada ekspresi lain selain kaget dari segerombolan orang didepanmu.

Kau sedikit tersenyum menang. Sedikit.

Lalu kau mendengar suara tepuk tangan dari seseorang. Semua orang menoleh ke asal suara, termasuk kau.

Kau terkaget. Kau mengenal orang itu dengan baik, bahkan sampai kau tahu cara tidurnya. Hampir seluruh pelosok negeri mengenalnya karena gemilang prestasinya sebagai model dan penyanyi solo papan atas.

Ia Kris Wu. Orang yang sangat kau idolakan dan tengah bekerja magang untuk tugas akhir kuliah di sekolahmu.

 

 

Tuhan selalu menciptakan bunga dan lebahnya

Tuhan selalu menciptakan langit dan awannya

Tuhan selalu menciptakan siang dan malamnya

Saat Tuhan menciptakanmu,

maka Ia juga menciptakanku…

 

 

Saat itu kau sedang menjalani jadwal piket guru. Ini adalah minggu-minggu pertamamu bekerja di sekolah ini dan ini sudah membuatmu sangat lelah. Apalagi ditambah dengan rutinitasmu sebagai pekerja seni yang sudah hampir Go International. Hanya menunggu ijazah sarjana-mu keluar, maka kau akan bebas melenggang ke dunia seni tanpa tuntutan apapun lagi.

Seluruh kelas sepi dan terlihat serius. Kecuali saat kau berjalan melewati lorong paling pojok di lantai satu gedung B kompleks sekolah barumu. Mereka terdengar  gaduh, bahkan beberapa meter dari ambang pintu kau bisa mendengar ucapan seorang gadis dengan pujian dan hinaan yang ia berikan sekaligus dengan sekali nafas.

Kau berhenti di ambang pintu dan menatap beberapa orang yang duduk dibangkunya tanpa bergerombol pada sebuah bangku lain sambil memberi isyarat untuk tetap diam dengan jarimu. Seolah-olah kau tak disana.

Kau mendengar suara seorang pria terbata dengan lirihnya. Cukup terdengar di ruangan itu, sebenarnya. Lalu kau mendengar ucapan hinaan lainnya, pembelaan lainnya.

Hingga suatu saat, kau mendengar suara itu berbalik menghina sang penghina.

Hening.

Semuanya diam.

Kau bisa menebak bahwa semua berekspresi kaget walaupun mereka membelakangimu.

Kau sedikit tersenyum senang. Sedikit.

Lalu kau menepuk tanganmu memberi semangat pada pria pemilik suara itu. Semua orang menatapmu, termasuk sang pemilik suara yang terduduk diatas kursi roda.

Mereka terkaget. Kau tahu mereka pasti mengenalmu. Tentu saja karena kau seorang artis papan atas. Lalu kau kembali tersenyum.

“Jika aku menjadi pria yang duduk diatas kursi roda itu, maka aku juga akan mengatakan hal yang sama,” ujarmu. Membuat semua orang yang bergerombol itu kembali ke tempat duduk mereka masing masing dengan wajah tertunduk, setelah sebelumnya menampakkan ekspresi kagetnya sekali lagi.

Kau berjalan kearah podium sederhana didepan kelas disamping meja guru, lalu menumpukan tubuhmu pada kedua tangan yang mencengkeram masing-masing sisi bagian podium. “Keadaan moral disini memalukan, ya?” sindirmu.

Semua kelas kembali diam. Kau memandang pria diatas kursi roda itu dengan cermat. Dan walau ia menunduk, kau masih bisa tahu bahwa kacamata yang ia pakai rusak. Karena kau melihat lilitan perekat bening pada bagian tengahnya. Bagaimana bisa ia mengenakan kacamata semengenaskan itu? pikirmu.

“Aku tak ingin menggunakan kata-kata kasar untuk menyadarkan aksi bodoh tak berguna kalian itu. Tapi akan kupastikan jika kalian melakukan hal ini lagi, maka kalian akan mendapatkan point.”

Kau berjalan kearah pria berkursi roda itu, lalu mengambil kacamatanya tanpa permisi. Kau melihatnya meraba-raba udara didepannya saat kau melakukan hal itu, lalu ia berusaha menyipit-nyipitkan matanya untuk mencari titik fokus yang tepat.

“Mr. Wu…aku tak bisa melihat jelas tanpa kacamata,” ucapnya.

Kau tersenyum kecil menatap kacamata yang kau bawa. Benar-benar perlu yang baru. “Kau minus berapa?”

“Ah?”

Kau melipat gagang kacamata itu. “Jawab saja, atau aku tak akan mengembalikan kacamatamu!”

“Ehm…yang kiri 2.00 dan yang kanan 2.75.”

“Kau punya mata silinder?”

Pria itu mengerutkan dahinya, lalu menatapmu dengan mata panda yang disipitkan. “Keduanya 3.50”

“Kau suka warna apa?”

“Untuk apa Mr.Wu menanyakan itu?”

Kau menghembuskan nafas pelan, lalu berbalik. “Baiklah. Kau bisa mengambil kacamata ini di ruang guru sendiri, kan?”

“Jangan!” sergahnya.

“Kalau begitu jawab saja pertanyaanku!” perintahmu dengan suara lembut.

Kau menoleh. Kau menemukan seisi kelas telah menatapmu dan pria didepanmu sedang bercakap-cakap. Lalu semua membuang muka saat kau mengedar pandangan.

“Aku suka panda. Jadi aku suka warna hitam dan putih.”

Kali ini, kau yang mengerutkan alis. “Hanya itu?”

Pria didepanmu mengangguk. Lalu kau memakaikan kacamata itu padanya.

“Terimakasih,” ucapnya. Lalu kau tersenyum.

Saat kau berdiri diambang pintu, hendak kembali ke ruang guru, kau berbalik. “Hey namja panda, siapa namamu?”

Namja panda yang kau sebut itu menoleh menatapmu, “Huang Zi Tao.”

Huang Zitao, bukan nama Korea, tentu.

“Kau orang China?”

Ia mengangguk.

Kau tersenyum, melambaikan sebelah tangan. “Baiklah, sampai jumpa!”

 

 

Kau memang bukan malaikat terindah

Tapi aku percaya kau-lah malaikat paling sempurna yang dikirim untukku

 

Kemarin malam, sepulang shooting iklan minuman bersoda, kau menyempatkan pergi ke sebuah toko kacamata besar di pusat kota Seoul untuk mengambil sebuah kacamata yang kau pesan dua minggu sebelumnya. Cukup lama memang untuk sebuah kacamata, tapi tidak saat  orang tahu ternyata kaca mata itu didesain sendiri oleh pemilik toko sesuai yang kau pesan. Lalu setelah itu kau kembali buru-buru pergi ke kantor agensi untuk merencanakan comeback-mu seusai wisuda yang dihelat tepat akhir tahun ini.

Udara hangat musim semi sudah mulai terasa, tapi kau tetap pergi ke sekolah tempat kau magang mengajar sebagai guru olahraga dengan membawa sebuah long coat yang cukup tebal. Dan tak lupa kau membawa kacamata itu. Kau menyimpannya dengan rapi dalam koper kerja mahalmu. Takut benda itu rusak sebelum kau memberikannya pada seseorang.

Sang namja panda. Huang Zi Tao. Sebuah nama yang berarti anak laki-laki berkulit kuning bermata setajam pedang dan rendah hati serta pemaaf. Kombinasi yang indah, sayangnya sedikit rumit untuk diingat.

Dua minggu ini kau sama sekali tak berbicara padanya. Karena memang kau sengaja melakukannya. Kau hanya mengawasinya dari jauh saat ia masuk kelas sambil mendorong roda-roda-nya. Kau hanya menunggunya keluar dengan urutan terakhir saat pulang sekolah. Dan ia berada di kelas sebelas, sedangkan kau mengajar kelas sepuluh. Kau juga hanya mencegah siswa lain mengejeknya saat kau sempat.

Ia adalah penerima beasiswa penuh sampai lulus di sekolah ini karena prestasinya menjuarai olimpiade matematika nasional dan lolos seleksi tahap ketiga olimpiade kimia internasional tahun lalu. Tapi terpaksa berhenti karena ia mengundurkan diri, yang menurut rumor dikarenakan ia minder. Dulu ia bersekolah di sebuah SMU pinggiran yang menumpang pada sebuah bangunan SD karena orang tuanya hanya bekerja sebagai pedagang mie disamping rumah dan seorang penjahit, tak mampu membayar pendidikan SMU yang cukup mahal. Ia anak tunggal, dan memang sudah cacat dari lahir.

Ia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan panda. Fakta itulah yang selalu kau ingat.

Kau bertemu dengan sang mata panda saat ia tersangkut di sebuah cekungan pada aspal lapangan parkir mobil setelah kau turun dari Ferarri classic-mu, sebuah pemisah antar gerbang sekolah yang ada disebelah barat dan gedung B yang ada diseberang. Lalu kau membantunya keluar dari cekungan yang menjebaknya.

“Terimakasih,” ucapnya dalam bahasa Korea yang terdengar cukup fasih. Cukup, karena ia mengucapkannya dengan logat China.

“Sama-sama,” balasmu dengan bahasa Mandarin.

Ia melebarkan matanya dan menatapmu. Kaget. “Anda bisa bahasa Mandarin?” tanyanya dalam bahasa Mandarin. Dan setelah itu, kalian selalu berbincang menggunakan bahasa Mandarin.

“Aku seorang berdarah China berkebangsaan Kanada yang tinggal di Korea. Kau tahu?”

Ia sedikit merespon. Hanya sebuah anggukan kecil yang pelan sekali.

“Ternyata kau perhatian padaku, ya?” ujarmu lalu tertawa.

Ia menatapmu dengan wajah datar. Hanya itu.

Kau merogoh tas-mu, mengeluarkan kotak kaca mata yang kau simpan. Lalu kau memberikannya tanpa berkata apapun.

Ia menatap sekilas kotak kaca di tanganmu, lalu kembali menatapmu.”Apa itu?”

“Ambil-lah.”

Ia mengambil benda itu dari tanganmu lalu membukanya, “Kacamata panda!” ujarnya girang.

Kau tersenyum kecil.

Matanya menyendu. “Ini bagus sekali, Mr.Wu,” ujarnya lalu mengembalikan kotak kacamata itu padamu.

Kau menggeleng, menolaknya. “Ini untukmu.”

“Hah?” herannya. Kau sekarang tau kalau ia selalu bilang ‘hah’ jika kebingungan.

“Aku membelikannya untukmu, Huang Zitao…” kau kembali tersenyum.

Kau menatapnya lekat. Menatap tepat pada mata hitam pandanya yang bersinar bahagia dibalik kacamata bututnya. Kau menyukai sinar polos itu. Sangat…

Sebenarnya, kau sudah tertarik padanya sejak kau pertama kali mendengar suaranya. Suara besar yang sebenarnya lembut, dengan logat manja didalamnya, walaupun Tao selalu berbicara secara ‘sok cool’ selama kalian bertemu.

“Tapi sepertinya ini kaca mata mahal, Mr.Wu…”

Oh tidak! Kau benci nada bicara Tao sekarang!

“Karena ini untukmu, maka aku sengaja mendesainnya sendiri. Walau dibantu kenalanku… Tidak masalah untukku berapapun harganya.”

Kau menatapnya yang sekarang berusaha meraih tanganmu, tapi kau mengangkat tanganmu tinggi-tingi agar ia tak bisa menggapainya. “Aku tidak menerima penolakan,” ucapmu.

Ia menggeleng pelan kearahmu sambil tersenyum sendu, “Tapi aku tidak bisa menggantinya. Aku tak punya uang…”

Kau membelalakkan matamu, lalu tertawa kaku, berbasa-basi. “Aku tidak menyuruhmu menggantinya. Aku hanya ingin melihat muridku bisa belajar dengan giat memakai kacamata baru! Apa kau tidak kasihan padaku yang susah payah meluangkan waktu diantara kesibukanku hanya untuk mendesain dan membelikanmu kacamata?”

Tao mengerjap, masih tetap menatapmu. “Aku bukan murid ajaran Mr.Wu,” ucapnya polos.

Nah, kau menyukai cara bicaranya yang sekarang.

“Tapi kau kan siswa sekolah ini. Semua siswa sekolah ini juga kuanggap muridku.”

Tao hanya diam.

“Pakailah…”

Ia menunduk, menatap kotak kacamata di tangannya. Ia kembali membukanya lalu memakai kacamata yang nampak trendi sekaligus lucu itu. Dan kemudian menatapmu.

“Sangat cocok untukmu.”

Tao kembali tersenyum sendu mendengar pujian darimu.

Tao, kau tahu? Aku mulai menyukai senyum sendumu itu…, ucapmu dalam hati.

“Aku tidak tahu harus bilang apa pada Mr.Wu. Tapi, terimakasih…”

Kini, kau yang tersenyum. Namun bukan senyum sendu. “Sama-sama.”

Beberapa detik sunyi. Lalu kau kembali berbicara. “Mau kuantar ke kelas?”

Ia menggeleng, buru-buru memasukkan kacamata lamanya kedalam kotak kacamata baru itu lalu memasukkannya ke tas. “Tidak perlu.”

“Aku sudah bilang, aku tidak menerima penolakan, Huang Zitao.”

Ia menatapmu cepat, “Lalu kenapa Mr.Wu harus meminta persetujuan dariku? Kenapa tidak langsung mengantarku ke kelas?”

Benar juga, harusnya kau tidak perlu bertanya padanya.

“Aku hanya ingin bertanya. Memangnya tidak boleh?”

Tao kembali diam. Sepertinya pria itu mempunyai kebiasaan tidak menjawab hal-hal yang menurutnya tidak penting.

Kau mendorong pelan kursi roda milik Tao melewati area parkir tersebut. Beberapa pasang mata nampak menatap kalian berdua, beberapa malah mengabadikan kejadian itu dengan kamera. Tapi kau nampak tenang, tidak gusar sama sekali, karena kau sudah terbiasa dengan kamera dan gossip. Berbeda dengan Tao, yang dalam lirikanmu, nampak menunduk sambil saling meremas jemarinya.

Kursi roda ini cukup berat untuk didorong. Bukan karena berat tubuh Tao,             karena pria itu bukan pria gemuk, mungkin karena ini adalah sebuah kursi roda tua.   yang ‘jarang libur’. Pantas saja bisep Tao cukup berotot walaupun ia tak pernah olahraga, itu karena ia terbiasa mendorong kursi roda ini sendiri. Dan itu menunjukkan bahwa ia seorang yang mandiri, kau juga menyukai fakta yang satu ini.

Sejak kali pertama kalian bertemu, sejak kau menatap raut kebingungan dari wajahnya saat kacamatanya ia lepas, sejak kau mendengar suaranya melawan tiap ejekan teman sekelasnya, kau menaruh perhatian lebih padanya. Sangat lebih sampai-sampai kau pernah tak bisa tidur demi memikirkan ide bagaimana cara mengetahui identitasnya tanpa perlu dicurigai.

Oh tidak, kau mulai membayangkan keluguannya dalam setiap jawaban dari pertanyaanmu kala itu.

“Mr.Wu…” ia memanggilmu lirih, membuatmu tersadar dari lamunan.

“Ya, Huang Zi Tao?”

Kalian mulai memasuki gedung, kau melepas sepatumu dan menggantinya dengan sebuah sandal berwarna putih. “Kenapa Anda begitu baik padaku?”

Saat Tao bertanya demikian, kau langsung menghentikan gerakanmu yang sedang meletakkan sepatumu dalam rak dengan kolom bertuliskan ‘Mr. Wu’ dalam abjad.

Benar, kenapa kau sangat baik padanya? Apa hanya karena ketertarikan guru terhadap seorang murid penerima beasiswa? Atau hanya karena kau baru pertama kali bertemu dengan seseorang selugu sekaligus setegar Huang Zitao? Yang jelas…”Aku ingin melindungimu.”

“Hanya itu?”

Kau menautkan alismu, “Hey! Kau menjiplak kata-kataku!”

“Mr.Wu, aku sedang mencoba bertanya…”

Kau terdiam sekali lagi. Kau hanya ingin melindunginya, benar kan?

“Bagiku ini sedikit aneh. Anda kan, juga bisa mencoba melindungi murid-murid lain yang sama miskinnya sepertiku. Atau membantu anak-anak cacat di luar sana yang lebih membutuhkan dari pada aku.”

Oh ya, benar juga. “Mungkin karena aku lebih tertarik melindungimu daripada melindungi orang lain.” Kau melanjutkan kegiatanmu mendorong kursi roda Tao sampai ke dalam kelas.

“Apa aku punya suatu medan magnet khusus yang membuat Anda tertarik melindungiku?” tanyanya polos.

Kau terkekeh pelan. Ia memang punya hal yang membuatmu tertarik begitu jauh kearahnya. Semua hal pada dirinya membuatmu tertarik. “Kau menanyakan hal yang tidak bisa kujawab, Zitao.”

Ia menoleh menatapmu, lalu kembali menatap lurus kedepan. “Kenapa begitu, Mr.Wu?”

Kau terdiam sejenak, “Bukankah kadang kita tidak bisa menjawab suatu pertanyaan karena tidak tahu jawabannya? Sama seperti saat aku tak tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu tinggi, atau kenapa ring basket harus diberi jaring, atau…”

“…kenapa aku terlahir dengan kaki seperti ini.”

Kau menghentikan langkahmu.

“Kenapa berhenti, Mr.Wu?”

Kau kembali melangkah, kagok. “Kenapa kau mengatakan hal itu?”

Kau menatap tubuhnya dari belakang. Kepalanya kembali menunduk, mungkin menatap kaki-kakinya. “Karena aku benci kaki ini,” jawabnya.

Kau menghembuskan nafas pelan. Kau tau memang, semua orang tak ada yang ingin dilahirkan cacat. “Kau tidak perlu membenci kaki itu.”

“Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Ini kan kakiku sendiri!”

“Karena itu kakimu, maka kau tak boleh membencinya. Itu sama dengan kau membenci dirimu sendiri.”

Kalian mulai memasuki kelas. Kembali, semua isi kelas menatap kalian berdua yang dengan santai masuk.

“Memang, aku membenci diriku sendiri.”

Kau berhenti saat kau sudah mengantar Tao sampai didepan mejanya. “Tapi aku tidak akan membencimu.”

Ia menatapmu bingung, mata kalian saling tertaut. “Kenapa, Mr.Wu?”

Kau tersenyum lembut kearahnya. “Karena aku tak tahu.”

 

 

Pintu hatiku terketuk perlahan…

Amat sunyi tersamar bayang parasmu

Cinta…

Kau kah disana?

 

 

Kau memijit pelipismu perlahan. Soal kimia kali ini benar-benar susah! Kau mengedarkan pandangan, menatap sekeliling. Bahkan seisi kelas bersikap lebih parah darimu.

Seorang wanita diujung kelas memukul-mukul kepalanya dengan kotak pensilnya sendiri. Wanita lainnya nampak tengah merias wajah. Wanita berambut merah yang pernah menghujatmu menggaruk-garuk kepalanya sampai potongan rambut modisnya berantahkan. Dan kau melihat Kim Minseok, ketua kelasmu, tertidur. Kau menggeleng.

Kau melirik jam di depan kelas. Istirahat masih setengah jam lagi. Berarti waktumu untuk menyelesaikan empat dari sepuluh soal yang Mrs.Kim berikan hari ini tinggal setengah jam. Lalu kau membenarkan kacamatamu yang melorot. Bukan, kacamata milik Kris yang diberikan padamu.

Kau mendesah pelan, teringat pada pria tinggi itu. Satu hal yang berkecamuk dalam hatimu. Kenapa ia sangat baik? Bahkan keluarganmu saja terkadang merasa kesal memiliki cucu atau keponakan sepertimu. Apalagi beberapa sepupumu tidak mau menganggapmu sebagai saudara. Hanya ayah dan ibunya yang dapat menerimamu apa adanya. Kris terlalu baik untuk seseorang yang ‘hanya’ menganggapmu murid. Kecuali Baekhyun, tentunya.

Kau menggelengkan kepalamu cepat. Kau tidak boleh mengharap banyak darinya. Kau hanya fansnya. Dan ia hanya gurumu. Walaupun terkadang kau terlihat tenang didekatnya, sebenarnya kau sangat senang bisa berbicara banyak pada Kris.

Detik jarum yang terdengar begitu nyaring kala itu membuatmu kembali bergelut dengan soal soal di kertasmu. Oh Tuhan, kau tidak bisa berpikir jernih jika Kris selalu di otakmu!

 

 

Cinta akan tetap berada disana

Menunggumu mengakui keberadaannya…

(Remember When – Winna Efendi)  

 

 

“Aku bisa pulang sendiri!” ucap Tao padamu kala itu.

Sekarang sudah jam pulang sekolah, dan kau ingin mengantarnya pulang. Bukankah hubungan kalian sudah mulai baik? Tapi kenapa Tao tetap menolak?

“Kau ingin mendorong roda-roda berdecit itu sampai rumah?”

Tao terdiam sejenak, lalu menjawabmu, “Aku sudah biasa melakukannya sebulan ini.”

Hmm…memang. “Tapi bukankah lebih baik aku mengantarmu pulang saat aku sempat?” Kau mengadah menatap langit, “Lihat, mungkin sebentar lagi akan hujan. Dan mungkin juga kau belum sampai dirumah saat hujan turun.”

Tao mengerjapkan matanya ke arahmu, “Aku membawa jas hujan.”

Kau memutar bola matamu, melipat tanganmu di depan dada. “Aku akan menunggumu disini sampai kau mau kuantar pulang.”

Tao tak merespon ancamanmu. Ia hanya menatapmu lama, dan sesekali berkedip. Tanpa suara. Bahkan kau bisa mendengar suara siswi yang berjarak beberapa meter dari belakang Tao menggunjingkan kalian berdua.

Setetes, dua tetes, gerimis mulai turun. Tao mengadah menghadap langit, lalu mendorong roda-roda kursi rodanya kembali masuk ke pelataran gedung B sekolah. Meninggalkanmu disana.

Kau tetap bergeming dalam posisi itu. Hingga rintik gerimis mulai menjadi hujan, dan membasahi sekujur tubuh tegap-mu.

“Pulanglah terlebih dulu, Mr.Wu,” teriak Tao yang berjarak kurang lebih 10 meter darimu.

“Tidak!”

“Kalau kau melarangku pulang dengan memakai jas hujan ini, aku akan menunggu hujannya berhenti. Pulanglah.”

Kau menyeka air yang menghalangi Tao dari pandanganmu. “Aku hanya ingin mengantarmu pulang!”

Kau melihat Tao menggeleng, “Aku bisa pulang sendiri, Mr.Wu!”

Kau tidak menjawab. Hanya saja, kau mulai merasa kedinginan.

“Mr.Wu, apakah kau tidak bekerja?”

Kau terdiam, mengingat-ngingat apakah ada sesuatu yang harus dilakukan setelah pulang mengajar. Oh, hanya sebuah makan malam bersama managermu. Dan itu tidak penting. “Tidak!”

Kau melirik ke dalam mobil, menatap jam digital berbentuk naga pada dashboard Ferrari-mu. Pukul 18.57. Sudah hampir setengah jam saat kelas bubar. Mungkin, kau bisa saja masuk ke mobil dan meluncur pergi ke Gangnam-gu untuk menemui managermu. Tapi kau tidak bisa menjilat air liurmu sendiri, saat kau berkata tidak akan pergi dari tempat ini kecuali Tao pulang bersamamu. Kau-pun sudah mulai lelah belasan menit diguyur hujan seperti ini.

“Mr.Wu memang selalu keras kepala, ya?”

Kau kembali menoleh ke arah Tao, lalu tersenyum, walau kau tau Tao tidak akan bisa menangkap senyumanmu karena terhalang air hujan. “Yang keras kepala itu kau!” teriakmu.

“Hah? Kenapa aku?”

“Karena kau tidak mau pulang bersamaku!”

Tak ada jawaban. Kau masih menunggu Tao.

“Lihat aku disini, Huang Zi Tao…aku akan menunggumu sampai kau mau pulang bersamaku.”

Kau kembali melihat siluet Tao yang menatapmu, namun ia tak bereaksi apa-apa.

Kau berjongkok, menahan kepalamu yang menunduk dengan kedua tangan. Lalu kau memejamkan matamu. Saat itu kau mulai putus asa. Hanya berdiri ditengah hujan, disoroti lampu mobilmu yang menyala, dan sudah belasan menit kau melaluinya, tanpa hasil apapun. Tao hanya memandangmu dari jauh, menunggu hujan berhenti.

Kau merasakan bahwa pundakmu tengah disentuh oleh seseorang. Kau menoleh, menatap sang pemilik uluran tersebut. Huang Zitao. Ia sekarang tak memakai kacamata, namun ia sudah memakai jas hujan. Poni dan wajahnya basah terkena air hujan, dan sesekali ia mengerjap kecil. “Ayo kita pulang…” ujarnya lirih.

Kau tersenyum.

 

 

Aku kehilangan pikiranku saat aku menatapmu

Selain dirimu, semua terlihat melambat

Katakan padaku, bahwa ini cinta…              

(EXO – What is Love?)

 

 

~Lu Han Point of View~

 

Selama bertahun tahun aku menjadi manager Kris, bisa kuhitung dengan jari jumlah ketelatannya dari setiap jadwal kami berdua. Kris adalah orang yang disiplin dalam hal pekerjaan, karena ia mempunyai satu target penting. GO INTERNATIONAL!  Dan karena kali ini kami berdua akan membicarakan tentang comebacknya musim dingin ini, maka adalah suatu keanehan untuknya karena terlambat.

Kris sudah telat lebih dari satu jam. Arrgghh… aku benci menunggu.

Baru saja aku mengeluarkan BlackBerry Porsche-ku untuk menelponnya sekali lagi saat tiba-tiba Kris duduk didepanku dengan penyamaran yang cukup baik, seperti biasanya.

“Satu jam lebih delapan menit,” ujarku.

Ia hanya cengengesan, lalu melepas kupluk rajutnya.

“Kenapa dilepas?”

“Gatal, lagipula ini kan ruang VIP.”

Aku mengangguk mengerti.

Aku mencoba mengeluarkan iPad-ku dari tas kerja dan ingin menunjukkan beberapa konsep yang berhasil kudapatkan selama ‘bertapa’ dua minggu terakhir. “In….”

“Ahh… ada apa denganku?” ucapnya memotong kalimatku sambil mengacak-acak rambut kuning jagungnya.

Aku mengerutkan alis tak mengerti.

Ia lalu menatapku, membuka matanya lebar-lebar dan langsung menggenggam sebelah tanganku yang tak memegang iPad. Saat kucoba melepas, ia malah menariknya. “Sebulan ini ia selalu melayang di pikiranku! Yah walau aku tahu, ia tak akan bisa melayang… Ah… tidak-tidak! Ia memang pantas melayang karena ia mirip malaikat…” ucapnya bodoh. Hey, mana Kris-ku yang selalu bersikap sok cool?

“Ada apa denganmu?”

Ia mengedikkan bahu, melepaskan tangannya dari tanganku, lalu memandang langit langit ruangan yang dilukis awan. “Aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku…”

Kris yang lucu. Aku tersenyum lalu kembali meletakkan iPadku ke tas. “Ada apa, Dragon? Apa ada seseorang yang selalu mengganggu pikiranmu?”

Aku melihat pupil matanya melebar, mungkin bersemangat. “Ia bukan pengganggu! Ia hanya selalu ada dalam pikiranku, itu saja.”

Oh Tuhan, apa si Naga ini sedang jatuh cinta?

“Lalu perasaan apa lagi yang kau rasakan?”

“Hmm… merasa sedih saat ia diganggu teman sekolahnya, senang saat aku tahu ia mendapatkan nilai ujian sempurna, dan khawatir saat wajahnya kebasahan karena hujan.”

“Ia masih sekolah?”

Kris mengangguk, “Ia salah satu murid sekolahku. Tapi bukan muridku.”

‘Murid sekolahku tapi bukan muridku’? Oh… Aku mengerti. “Jadi kalian saling mengenal di sekolah?”

Aku melihat Kris tersenyum samar sambil memandang box tissue didepannya dengan tatapan aneh tanpa menjawab pertanyaanku. Bisa kutebak, ia sedang memikirkan’nya’.

“Siapa dia? Apa dia sang jenius yang tampan? Tapi, kenapa dia diganggu temannya?”

“Hey bodoh, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu jika pertanyaanmu banyak seperti itu?”

Dasar cerewet. “Baiklah, kau hanya perlu menjelaskan padaku siapa orang yang selalu melayang di kepalamu itu. Sepertinya ia bercita-cita sebagai pilot.”

Aku kembali melihat Kris yang tersenyum tak jelas. “Ia seperti panda. Panda yang pemalu. Ia selalu bersikap seolah-olah keadaan sedang baik-baik saja, tapi jauh didalam hatinya ia menangis. Ia punya ego yang tinggi. Bahkan ia tak mau kubantu mengerjakan PR biologi-nya dan selalu berkata bahwa ia lebih pintar dariku! Sedikit menyebalkan, memang. Tapi aku sangat menyukainya. Lalu besok akan sangat sangat menyukainya, lalu besoknya lagi akan sangat sangat sangat menyukainya, akan lebih menyukainya.”

Aku terkekeh pelan. Pria ini seperti orang bodoh saat jatuh cinta.

“Wae?”

 Aku menatap wajahnya. Sungguh polos! Dan semakin membuatku tertawa.

“Luhan! Kenapa malah tertawa?”

Aku berusaha menahan tawaku, “Sudah kubilang, panggil aku Gege!”

“Ih, aku tak mau.”

“Tapi aku lebih tua darimu!”

Aku melihat wajah kakunya kembali, “Tapi aku tidak sekanak-kanak dirimu yang harus selalu tidur dengan piyama sapi.”

Sialan, ia membongkar aib-ku.

“Apa ini cinta?”

Aku cukup kaget atas kesimpulannya, “Heung?”

“Semua seperti mengabur dan aku hanya bisa melihat dirinya saat ia ada didekatku, bahkan saat aku mengajar dan ia mendorong kursi rodanya ke ruang guru. Saat ia mencoba tersenyum kearahku, rasanya semua melambat dan─Oh dear, aku mulai meracau lagi.”

Ya, Kris memang tiba-tiba kembali meracau. Tadi ia bilang kalau orang yang disukainya memakai kursi roda kan? “Ia memakai kursi roda?”

Ia mengangguk.

“Kenapa?”

Ia nampak menunduk, “Ada yang salah terhadap kakinya.”

Kris nampak tak ingin aku membahas masalah kaki itu. Baiklah aku berhenti.

Kalau Kris merasa bahwa ia memang mencintai si-Panda itu, berarti benar dugaanku, bahwa ia orang yang gampang jatuh cinta namun sulit mendapatkan tipe yang sesuai dengan keinginannya. “Kau merasa bahwa kau benar-benar menyukai, bahkan mencintainya?”

Ia mengedikkan bahu, “Aku tak tahu. Aku baru sekitar sebulan mengenalnya.”

“Kau sudah menyatakan cinta padanya?”

Aku melihat Kris membelalakkan matanya. “Hah, untuk apa?”

“Tentu saja untuk membuatnya menjadi milikmu!” Dasar Kris bodoh!

“Aku belum berani. Ia terlalu kaku untuk didekati…”

Aku hanya menghela nafas, tak bisa memberikan komentar karena tipe-nya yang cukup aneh itu. Berjuanglah, Dragon~

 

 

Cinta itu buta, benar, kan?

Kalau begitu,

biarkan aku mencinta…

Agar aku tak bisa melihat apapun lagi…

Selain dirimu…

 

 

~Baekhyun Point of View~

 

“Seperti biasa. Nilaimu kali ini sempurna, Tao.”

Tao mengambil lembaran kertas yang kusodorkan.

Tao adalah murid kesayanganku, walau aku mengajarnya tanpa dibayar, tak seperti murid-muridku yang lain. Ia adalah tetangga yang baik. Tao selalu menyapaku saat kami berdua berpapasan, atau memberiku oleh-oleh kecil saat ia pulang dari Jepang untuk seleksi olimpiade kimia beberapa bulan lalu. Ia orang yang perhatian, tapi sangat pendiam.

“Baekhyun hyung, apa tidak apa-apa terus memberiku pelajaran tambahan seperti ini?”

Aku tersenyum, “Tentu saja, Tao.”

Ia menunduk, kacamatanya melorot. “Hyung terlalu baik untukku…”

Ia mendongak menatapku, tidak seperti biasanya ia menanyakan hal seperti ini. “Ada masalah, Tao?”

Tao menggeleng pelan, “Tidak. Tapi aku tidak bisa membayar biaya les ini.”

Aku terdiam sejenak. “Tao, kau tahu kan cita-citaku?”

“Menjadi guru,” jawabnya.

Aku menata kertas-kertas hitungan yang berserakan diatas meja belajar Tao, “Dengan menjadi muridku seperti ini, kau membantuku menjadi calon guru yang baik. Dan itu sudah cukup.”

“Apa aku memang tipe orang yang harus dikasihani?”

Aku sedikit terhenyak karena pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang….tidak bisa kudeskripsikan. Yang jelas terdengar tidak biasa. “Aku peduli, bukan kasihan padamu.”

Sejenak ia tak berceloteh lagi dan malah membuka buku bahasa Inggrisnya. Aku juga tak mengungkit pertanyaan-pertanyaannya tadi.

“Baekhyun hyung, apa menurutmu orang lain juga peduli dan bukan kasihan padaku?”

Sejenak aku berpikir jawaban yang pas dan tak membuatnya sakit hati. “Orang itu, kan, berbeda-beda, Tao.”

“Maksud hyung, ada yang memang peduli atau cuma kasihan padaku?”

Aku mengangguk.

“Kalau….”

Handphone-ku berbunyi. Dan aku memutuskan untuk keluar dari kamar Tao untuk sementara. “Sebentar ya, Tao.”

Saat kembali beberapa menit kemudian, aku melihat Tao menumpukan pandangannya pada suatu titik di tengah kertas-nya yang penuh coretan. Tapi kurasa itu bukan angka-angka ataupun molekul kimia yang ia tulis lalu arsir. Aku sedikit mendekat. ‘Wu Fan’, nama idolanya. “Memikirkan Kris? Apa ia masih baik padamu saat disekolah?”

Tao nampak kaget lalu menutupi tulisan tangannya dengan membalik kertas itu. “Ehhmm… I…iya.”

Alisku tertaut bingung. “Ada apa Tao?”

Mata pandanya terpejam erat lalu menggeleng cepat. Sudah pasti ada apa-apa.

“Kau tidak mau menceritakannya pada hyung-mu ini?”

Ia tetap tidak bergeming.

“Baiklah, Huang Zi Tao… kita lihat apa kau akan menyerah kutunggui sampai kau mau bicara!” Bocah ini membuatku penasaran saja! Padahal dia tahu kalau aku orang yang paling benci dibuat penasaran.

Satu menit…

Dua menit…

Tiga menit…

Aku melihat jam tanganku sesudahnya, hampir lima menit dan ia tetap diam. Membosankan.

“Mr.Wu….”

Alisku terangkat mendengarnya mulai angkat bicara, “ Ya, ya? Ada apa dengannya?”

Ia kembali memejamkan matanya, menggeleng cepat, lalu memberi isyarat tangan. “Ahh…tidak jadi!”

Aku menepuk dahiku, “Tao, kau membuatku lelah menunggu. Sungguh!”

Ia menunduk.

“Apa ini rahasia? Kalau begitu aku akan merahasiakannya… Kita sudah berteman selama bertahun-tahun, kan?”

Ia mengangguk.

Aku tersenyum, “Bagus.”

Tao tampak mengambil nafas lalu menghembuskannya. Ia kenapa sih? “Mr.Wu sepertimu, Baekhyun hyung.”

Maksud anak ini apa? “Maksudmu, Tao?”

“Ehhmm… Tadi ia mengantarku pulang. Dan ia bahkan menungguku dibawah hujan. Sikap berlebihannya itu, sepertimu, hyung.”

Wah, ternyata artis yang nampak kaku itu bisa bersikap semanis itu. “Lalu?”

Mata panda itu kembali menatap polos kearahku. “Lalu apanya, hyung?”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?”

Ia mengerjap, “Kelanjutan apa?”

Tiba-tiba aku merasa puluhan ular muncul dari rambutku dan hendak menggigit Tao, seperti Medusa. “Lupakan saja pertanyaanku tadi. Apa kau merasa senang saat ia mengantarmu pulang?”

Tao mengangguk, memeluk kamus bahasa Inggris-nya. “Aku merasa senang sekali ada orang lain yang bisa sangat perhatian padaku. Tapi aku merasakan hal yang berbeda, hyung.”

Akhirnya Tao berterus terang. “Berbeda yang bagaimana Tao?”

Tao nampak mengedarkan pandangan, mungkin mencari jawaban yang tepat. “Aku tidak merasakan ‘senang’ seperti ‘senang’ saat aku dipedulikan oleh Baekhyun hyung. Jenis ’senang’ yang kurasakan untuk Mr. Wu sangat berbeda.”

Aku menyeruput cappuccino dingin kalengan yang hampir habis diatas meja, milikku. Setelah itu langsung kulempar ke keranjang sampah dipojok kamar. Masuk! Ternyata pendek-pendek begini aku lumayan juga dalam mencetak three point. “Berbedanya seperti apa?” lanjutku bertanya.

“Ehhhmmm… senang seperti aku berhasil menciptakan rumus baru untuk bilangan biner.”

Aku sungguh tak mengerti maksud ucapan anak ini. Tapi ada satu ‘titik cerah’ yang berhasil kudapatkan.

Huang Zitao tengah jatuh cinta.

 

 

 

Dapatkah kau mencintaiku

Meskipun aku memiliki kekurangan bagimu?

Aku tak bisa memberikan apa-apa kecuali cinta untukmu

Apakah kau masih mencintaiku?

(Our Love Like This – Seo In Guk feat Jung Eunji)

 

                              

Sebenarnya hari ini kau cukup malas pergi kesekolah. Bukan karena hujan deras. Bukan karena bully dari temanmu. Tapi karena hari ini adalah hari terakhir Kris mengajar di sekolahmu. Mulai besok, tugas magangnya selesai dan mungkin kalian tak bisa bertemu lagi. Ia mungkin juga tak akan ingat denganmu saat kalian bertemu di suatu tempat. Maklum, dia kan artis ternama.

Saat kau hendak masuk ke gedung B-pun, kau tak melihat Ferrari merahnya yang terlihat paling mewah di lapangan parkir mobil sekolah. Karena di lapangan parkirmu paling hanya ada beberapa sedan awal tahun 2000an dan beberapa mobil lain yang tak seberapa mewah. Jangan lupakan mobil retro tahun 1970an milik kepala sekolahmu yang gendut itu. “Apa Mr.Wu malah tidak datang di hari terakhir?” gumammu pelan, lalu kembali mendorong kursi rodamu masuk ke kelas.

Kau melihat hampir seluruh siswa kelasmu berjejer rapi di lorong pojok dekat pintu kelasmu─hampir, karena kau tak melihat Kim Minseok si ketua kelas dan Kim Jongdae si suara emas.

“Ada apa ini?” tanyamu.

Wanita berambut merah yang menjadi musuh bebuyutanmu sejak pertama kali masuk ke sekolah ini mengarahkan ibu jarinya kearah dalam kelas sambil menatap-mu.

Kembali, perlahan, kau mendorong kursi rodamu yang usang itu.

Ruang kelas nampak kosong. Tapi ada satu orang didalam sana. Kris.

Pria itu duduk dikursi roda. Di bangkumu. Dan diatas bangkumu itu, ada sepotong cupscake dengan ice-ing berbentuk panda yang terbuat dari biskuit. Kris tersenyum kearahmu.

Kau mendekat. Bukan karena penasaran. Tapi seperti ada medan magnet khusus yang menarikmu kesana, Kau berhenti tepat didepan Kris.

Pria berambut pirang itu tersenyum sumringah.

“Huang Zitao…”

Kau tak menjawab. Kris tersenyum.

“Aku berharap kau bertanya-tanya kenapa kau tidak menjumpai mobilku di lapangan parkir.”

Dan memang kau sempat heran akan hal itu.

“Aku berangkat ke sekolah ini menggunakan kursi roda butut ini. Kau tau?”

Kau tak tahu. Dan saat Kris memberitahumu, kau terkejut.

“Sudah lama aku selalu memperhatikanmu. Mencoba peduli padamu. Mencari tahu kenapa perasaanku selalu terasa menyenangkan saat aku menatapmu.”

Kau hanya bisa memfokuskan pandanganmu pada pria dihadapanmu. Semakin lama Kris seperti alkohol, memabukkan.

“Aku tak pandai berkata-kata, Tao. Aku bukan penyair dan pujangga. Aku hanya seorang Kris…

Ya, kau tahu.

“…Kris yang ternyata mencintaimu.”

 

.

..

….

…..

……

…….

……..

………

……….

 

 

Katakan ‘ya’ padaku…

 

 

“Katakan bahwa kau juga mencintaiku…” ucapmu pada Tao yang masih berwajah datar didepanmu.

Terdengar jeda sejenak. “Tidak.”

 

 

~To Be Continued~

73 thoughts on “[FREELANCE: Jonanda Taw] TwoShot : What Is LOVE? | Part 1

  1. hyaaaa
    tao gak bsa jalan yaah

    astaga kris
    cramu mndekati tao kren bgt..
    romantisss

    n skrg kris nmbak tao

    kyaaaaaa
    tao terima kris

    tp klo kris dtrma
    ap ntr g mkin bnyk yg bully tao

    huaaa
    jgaan dong ><

    smga kris g main2 sama tao
    amiinn

  2. AAAAAAAA KEREEEEEEENNNNNN *thumbs up* aduh bahasanya aduh ceritanya aduh tokohnya aduh jalan ceritanya aduh semuanya keren aku suka aku suka!! Ah gatau lagi mau bilang apa masih melayang liat mereka berdua. Aku harap sih happy ending

  3. Hyaa tw gk bsa jalan. Hdup tw miris bgt.
    Untng ada s wufan ge, kalw kgak, kgk tw deh.
    Udh tw trima t s naga jgn d tolak, biar ada yg jgain kamu panda ,trima.trima. .
    Lnjt.😀

  4. Yaa…!!! Romatis kali kris ini lahhh… *cubit pipi kris*di wushu tao* daebak!! Aku sedih banget karna tao gk bisa jalan, turut berduka cita panda oppa.. *pupuk tao* kata” yg di bold-in bikin aku senyum” sendiri soalnya kata”nya bener” WOW PANTASTIK BEBI! Cckckk bikin terharus hiks

    betewe.. i like this ff!😉 jonanda-ssi bener” berbakat dalam bidang per-ffan kkk

    Kris n Tao bener” keras kepala hahaha, dasar pasangan keras kepala *dapet death glare dr TaoRis* kris apalagi bener” gk terima penolakan n pantang menyerah, good kris!

    Karya” selanjutnya di tunggu thor!!
    Paiting!! ^^)9

  5. Eehh… Ini beda..

    Saya baru nemu cerita kek gini.. Yang main karakternya jauh berbeda.. Yg satu langit dan satu bumi hehehe…

    Nggak tau deh mau ngomong Äpå.. Semoga tao nerima kebesaran cinta kris untuknya..

    Kris ampe rela gitu naik kursi roda ke sekolah demi tao pandanya…

  6. kenapa tidak?????? kenapa??????? #tebang pohon
    aduh miris benar nasip dirimu Tao-er…
    Kris! jangan menyerah! buat Tao bahagia!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s