ONESHOT | Memories |

Title: Memories

Childhood_memories_by_Korpinkynsi2

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Wufan-Tao/Chanyeol-Baekhyun/Jongin-Kyungsoo/Sehun-Luhan

Genre: pas~ ^_^

Length: Oneshoot

Rate: balita keatas~

Aduh ini sebenernya saya bukan shippernya kristao sama kaisoo…saya Cuma nge-shipping Hunhan sama Baekyeol. Nah, Kristao sama Kaisoo ini couple lain yg saya suka tapi ga ampe dishipperin…kalo couple lain sih ya belom dapet aja pecerahannya. Haha!

Maaf ini dari kemaren Cuma kepikiran ide yg ga beres, jauh dari kata serius ato romantic ya. Gapapalah buat penyegaran, hehe~

Sok!

Silahken dibaca!

… … … … …

Kenangan jauh lebih berharga daripada harta karun.

Kenangan tidak dapat dapat diperjualbelikan layaknya suatu benda.

Kenangan yang hilang tidak akan kembali.

Namun sesungguhnya, tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan…ia hanya bersembunyi di sudut terdalam kotak kenangan dikepala kita dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

● ● ● ● ●

Wufan – Tao

“Wufa~n!!” seru Tao ketika sepasang mata kecilnya menangkap keberadaan seorang anak lelaki mengenakan tas ransel dengan gantungan bentuk pokemon yang menyerupai naga, warna merah, ia sering menyaksikannya setiap minggu pagi sambil menyantap sarapannya.

Tao kecil mempercepat langkah kakinya yang masih pendek-pendek itu, ketika melihat anak lelaki yang sebelumnya ia panggil berhenti berjalan, hanya terdiam tanpa menoleh.

 

“Wu…hei!!” pekiknya ketika anak lelaki tersebut malah berlari menjauh meninggalkanya seorang diri, memasuki gedung sekolah tanpa menoleh sedikit pun.

 

Kening Tao mengerenyit bingung, ia mendengus. Ada apa dengan sahabatnya itu? Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan sedikit pun hingga pantas dihindari seperti ini. Eh, tunggu…apa wajahnya berubah menyeramkan seperti manusia serigala sesuai mimpi yang membuatnya mengompol ketakutan tengah malam tadi? Atau…Tao menghembuskan nafas dalam tangkupan tangan kecilnya─ mulutnya bau karena sarapan dengan telur setengah matang?

 

Tao kehabisan ide, ia menggembungkan kedua pipinya kesal dan memutuskan untuk berlari mengejar Wufan.

 

“Wufan, tunggu aku!” seru Tao berlari mengejar Wufan diantara murid-murid lain yang berjalan di lorong kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi…ia tentu tidak ingin menghabiskan waktu selama jam pelajaran dengan terus memikirkan perilaku aneh sahabatnya itu.

 

Namun bocah lelaki keturunan Canada tersebut ─alasan sesungguhnya mengapa warna rambut Wufan sedikit keemasan─ tetap tak menggubris teriakan Tao, sampai akhirnya ia merasa cukup lelah ─juga kasihan pada Tao─ dan memutuskan untuk menghentikan laju kaki kecilnya.

 

“Kenapa menghindariku? Setelah seminggu kemarin tidak masuk sekolah karena sakit, kau malah menghindariku seperti ini…aku salah apa? Kau marah padaku, katakan…” ungkap Tao yang turut berhenti dibelakang Wufan, suaranya sedikit lirih…entah menahan tangis atau kehabisan nafas. Mungkin keduanya─

 

Nampak kedua bahu mungil Wufan bergerak naik lalu turun, sepertinya ia tengah menghela nafas singkat, setelah itu menggenggam erat tali tas ransel yang masih setia bertengger di bahu mungilnya tersebut. Kebiasaan, jika sedang gugup Wufan pasti selalu seperti itu…pikir Tao.

 

Bocah tampan itu akhirnya berbalik menghadap Tao, membuat kedua mata bening sang sahabat membulat kaget.

 

“Wufan…kau…kenapa?” tanyanya bingung melihat sebuah masker motif bola sepak, menutupi hidung dan mulut Wufan.

 

“Kau jangan dekat-dekat denganku…” ucapnya dibalik masker, suaranya sedikit teredam dan terdengar sengau. Flu. “Aku masih belum sembuh total, kalau dekat-dekat nanti kau tertular…aku tidak mau Tao sampai tertular, jadi jangan dekat-dekat aku. Ok?”

 

“Tapi ‘kan seharusnya kau mengatakan sesuatu padaku, jangan diam saja seperti itu…”

 

“Bicara juga tidak boleh!”

 

“K-kenapa?” Tao terlihat sedikit ketakutan menerima sentakan Wufan.

 

“Kalau bicara nanti virusnya menyebar. Pokoknya kau jangan dekat-dekat aku lebih dari dua meter. Ingat itu!” tegas Wufan meski sesungguhnya ia tidak dapat memastikan jarak dua meter yang ia maksud. Murid kelas satu SD belum mendapatkan pengajaran mengenai satuan ukuran.

 

Dan setelah itu Wufan kembali berlari, dan lagi-lagi membiarkan Tao terpaku seorang diri kala bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi.

 

Ditengah jam pengajaran, saat ini pelajaran bahasa mandarin kesukaan Tao tapi ia tak menikmatinya sama sekali. Perhatiannya terus tertuju pada Wufan yang nampak murung, meski hanya matanya saja yang terlihat karena mulut dan hidungnya masih tertutupi masker.

 

Tao turut merasa sedih…karena Wufan sama sekali tak meliriknya. Sahabatnya itu benar-benar menjauhinya.

 

Sepanjang jam pelajaran yang Tao pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar Wufan mau berbicara lagi dengannya. Sungguh, menjaga jarak seperti ini membuat Tao merasa uring-uringan…ia terbiasa bercanda tawa dan berbagi cerita dengan Wufan. Maka dari itu, ketika bel tanda istirahat berbunyi, bocah lelaki manis penggemar seni bela diri itu segera melesat keluar kelas. Tanpa menyadari bahwa ketika itu Wufan menatapnya dengan murung.

 

.

.

.

 

Seusai makan siang, seluruh siswa keluar kelas untuk bermain mengisi waktu istirahat…ada yang berbincang di lorong, bermain bola sepak di lapangan atau membaca di perpustakaan.

 

Sejak tadi Wufan tak menemukan Tao…kemana anak itu? Dibilang jangan dekat-dekat mengapa sungguh tidak mendekat sama sekali? Wufan kesal sendiri dalam hati. Saat ini ia hanya seorang diri dikelas, dengan suara sengau dan nafas yang sedikit tersumbat, mau bermain pun rasanya pasti menyusahkan. Tidak enak. Bahkan untuk tidur dimalam hari saja ia masih kesulitan…hanya karena ingin melihat Tao lah bocah separuh America itu berangkat kesekolah, meski mama-nya bersikeras melarang.

 

Wufan memutuskan untuk menyesap susu vanilla kotak sisa makan siangnya tadi, ketika kaki nya terasa seperti tersentuh sesuatu. Ia pun memutuskan untuk merunduk dan melihat ada apa di bawah sana…kedua alisnya mengerenyit heran saat menemukan sebuah gelas kertas warna putih, tumben sekali ada sampah dikelas─ Wufan memungutnya dan semakin bingung saat melihat adanya sehelai benang terkait pada bagian dasar gelas.

 

Benang tersebut cukup panjang ketika bola mata pekat Wufan menyusuri arah kemana benda itu berujung, dan di ujung sana…tepat dibangku Tao, ia menemukan sang pemilik tengah duduk dan memegang benda yang sama dengannya. Entah sejak kapan─

 

Sebuah telpon benang.

Wufan memegang salah satu ujungnya sementara Tao ujung lainnya.

 

Ia dan Tao memang duduk paling ujung belakang, hanya selang tiga deret karena kelas mereka terdiri dari lima deret. Wufan deret pertama dekat jendela, Tao deret terakhir tepat dekat dinding yang membatasi kelas dan lorong.

 

Senyum Wufan mengembang ketika melihat Tao menempelkan mulut gelas kertas pada mulutnya sendiri, ia pun segera melepas masker dari wajahnya dan menempelkan mulut gelas pada telinganya.

 

Dan dimulailah pembicaraan kecil melalui sebuah telpon benang.

 

“Apa ini?”

 

“Ini telpon benang, apa suaraku terdengar?”

 

“Hm!”

 

“Ah, baguslah. Dengan begini kita bisa terus bicara tanpa harus berdekatan, aku jadi tidak akan tertular ‘kan?”

 

“Iya. Tao pintar!”

 

Keduanya sesekali terkikik kecil…berpikir betapa lucu dan menyenangkannya berbicara dengan cara seperti ini. Namun Tao sedikit lega karena berhasil membuat Wufan gembira.

 

“Masih sakit, ya?”

 

“Ung~”

 

“Sudah minum obat?”

 

“Sudah.”

 

“Hidungnya masih tersumbat?”

 

“Masih.”

 

“Lalu kenapa pergi sekolah? Sebaiknya setelah ini pulang terus istirahat…”

 

“Kalau aku tidak sekolah, kita ‘kan tidak akan bertemu…”

 

Mendengar kalimat terakhir Wufan, tak butuh waktu lama bagi rona-rona merah meresapi bukan hanya pipi melainkan seluruh bagian paras manis Tao.

 

.

.

.

 

Dijam pelajaran selanjutnya, Tao dan Wufan kembali mengobrol secara sembunyi-sembunyi menggunakan telpon benang buatan Tao. Dalam ruang guru terdapat sebuah dispenser, beberapa tumpuk gelas kertas tersedia disamping benda tersebut…Tao mendapatkannya ─mengambil diam-diam─ dari sana saat istirahat dan mengubahnya menjadi telpon benang.

 

Posisi tempat duduk yang cukup strategis menutupi perbuatan mereka, sang guru pun selalu membelakangi murid karena harus menulis materi dipapan tulis.

 

“Tao jelek~”

 

“Wufan bodoh~”

 

“Lihat, celana pak guru sedikit robek. Haha!”

 

“Wah, benar…celana dalamnya warna kuning.”

 

“Hei, apa jawaban nomor tiga?”

 

“Huh? Yang mana? Aku belum di isi…”

 

“Bodoh~”

 

“Hei, Wufan Bagaimana menyebut ‘makanan’ dalam bahasa inggris?”

 

“Food.”

 

“Huh? Foot? Bukan, itu ‘kan kaki.”

 

“Salah! Food, Tao. F-O-O-D. Food.”

 

“Fo-fooo~d…?”

 

“Yes! Benar se─”

 

“WU FAN! HUANG ZI TAO! Berdiri di lorong kelas dengan satu kaki sampai pelajaran selesai!”

 

Suara Pak Guru menggelengar mengejutkan seisi kelas. Disusul oleh dua orang siswa laki-lagi yang beranjak dari bangku masing-masing, melangkah keluar kelas untuk memulai sesi hukuman mereka.

 

Dan telpon benang itu…Tao sembunyikan dengan cepat dilaci mejanya.

 

… … … … …

 

 Disalah satu sekolah dasar swasta, Taipei-Taiwan.

 

Salah seorang siswa, anak laki-laki yang duduk dibangku kelas 1-A, meletakan tas ranselnya diatas meja dengan lesu. Wu Fan, favorit para seniornya.

 

Ia menghela nafas panjang, sepertinya terlihat penat sekali.

 

“Wufa~n!” suara nyaring Tao membuat Wufan menoleh.

 

Terlihat seorang bocah lain, berambut hitam pekat yang mengenakan seragam sama persis seperti dirinya, tengah berlari kecil menghampirinya. Gantungan tas bentuk panda terlihat bergelantungan di balik punggung kecilnya.

 

“Wah, sudah tidak pakai masker lagi? Baguslah, akhinya kau sembuh, Wufan!” riang bocah tersebut seraya mengangkat kedua tangannya.

 

Namun sepertinya semangat Tao tak sedikit pun dapat menular pada Wufan…bocah lelaki tampan itu menduduki kursinya lalu bertopang dagu diatas meja, tak mengindahkan keberadaan Tao sama sekali.

 

“Wufan, kau kenapa? Kalau cemberut terus nanti penyakitnya kembali, tahu! Senyumlah, senyuuuuuu~m!”

 

“Diamlah, jangan ganggu aku.” Ucap Wufan dingin yang membuat Tao bungkam seketika.

 

Wufan kembali bersikap aneh padanya. Kenapa lagi? Mengapa akhir-akhir ini sahabatnya itu mudah sekali berubah mood-nya? Sering uring-uringan dan menggeretu tanpa alasan yang jelas.

 

Tao terus terpaku disamping bangku yang diduduki Wufan…sampai akhirnya pak guru datang  memaksa Tao kembali ketempatnya untuk mengikuti pelajaran.

 

.

.

.

 

Bel sekolah usai telah berbunyi, membuat seisi kelas bahkan sekolah gaduh seketika. Para siswa nampaknya sangat menantikan bel ini berbunyi. Semua meninggalkan bangkunya setelah merapikan peralatan sekolah mereka dengan tergesa-gesa.

 

Termasuk Tao yang segera mengajak Wufan pulang bersama.

 

“Wufan! Kita pulang bersama, mau ‘kan?!”

 

Tao dengan riang menghampiri Wufan, namun sepertinya sikap dingin bocah itu masih berlanjut…ia terus melangkah tak memedulikan Tao sama sekali, mengatakan satu kata penolakkan pun tidak. Langkah kaki membawa tubuh tegapnya keluar kelas bersama para siswa yang lain. Lagi-lagi Tao ditinggalkan.

 

“Wufan…” ucap Tao lirih dan kepalanya pun tertunduk lesu.

 

Kelas sepi saat ini. tanpa sadar Tao tertinggal sendirian dikelasnya…sikap dingin Wufan cukup membuatnya terpukul dan kehilangan banyak semangat. Mau melangkah saja rasanya berat sekali.

 

“Ah, Zitao…” panggil sebuah suara yang membuat Tao menoleh, pak guru rupanya…masih ada disini. Tao sama sekali tak menyadarinya.

 

“Ya, pak guru? Ada apa?”

 

“Bisa tolong bantu membawa buku-buku ini?” tanya sang guru seraya menepuk-nepuk tumpukan buku pekerjaan sekolah yang dikumpulkan para siswa tepat sebelum bel pelajaran usai berbunyi, buku latihan soal matematika.

 

Tao mengangguk singkat dan mengambil tumpukan buku tersebut setelah sang guru menyodorkan padanya. Kemudian sang guru meninggalkan podium guru dan berjalan menuju ruang guru, diikuti Tao dibelakangnya.

 

.

.

.

 

“Xie-xie Tao, saat pulang berhati-hatilah…”

 

“Aku mengerti, Pak guru. Sampai besok.”

 

Tao mulai melangkah setelah menutup pintu ruang guru. Namun baru beberapa langkah ia ambil, kaki-kaki kecilnya berhenti bergerak…pandangannya lurus tertuju kedepan, menyusuri keadaan lorong kelas yang sepi dan senyap. Teringat lagi sikap Wufan padanya hari ini, dingin dan acuh membuat Tao merasa amat sangat kesepian.

 

Akhirnya bocah manis berparas Asia kental itu membawa langkah dengan tertunduk lesu.

 

Pandangannya terus menghadap lantai sampai ketika ia menemukan sebuah gelas kertas putih menggelinding kearahnya dan berhenti tepat di ujung sepatunya.

 

“Hm? Sampah…” ucapnya seraya memungut benda tersebut dan kedua alisnya sedikit terangkat kala menemukan sebuah benang tipis terkait didasar gelas. Telpon benang rupanya, Tao tersenyum tipis.

 

Sorot matanya yang tanpa dosa itu menulusuri panjang benang sampai kepangkal-nya…sedikit demi sedikit wajahnya yang sedari tadi tertunduk itu terangkat dan detik selanjutnya, Tao menemukan Wufan berdiri tak jauh didepannya.

 

“Ah! Wufan! Kau menungguku rupanya!” seru Tao hendak berlari menghampiri Wufan, namun melihat sahabatnya itu menempelkan mulut gelas pada mulutnya sendiri, Tao menghentikan langkah.

 

Tao memasang raut bingung, kedua kelopak matanya berkedip menambah intensitas keluguan diwajah manisnya. Matanya melihat lurus kepada mata Wufan yang seolah tengah memendam sesuatu. Oh─ Tao anak yang cukup peka rupanya meski baru menginjak usia enam tahun.

 

Tanpa bertanya lebih lanjut, Tao memutuskan untuk menempelkan mulut gelas pada telinganya.

 

Hening sesaat…telinganya terasa hampa didalam sana, sampai akhirnya getar suara Wufan merambat melalui benang dan sampailah pada indera pendengaran Tao.

 

“Aku suka Tao.”

 

.

 

Chanyeol – Baekhyun

 

Seorang anak lelaki bermata bulat dan bening, berseragam sekolah dasar, mengenakan ransel serta botol minum yang menggantung dilehernya, berjalan dengan semangat menyusuri suatu jalan disebuah perumahan, langkah kakinya kemudian terhenti disebuah rumah dengan plat nama bertuliskan ‘Byun’ dalam huruf hangul pada tepi pintunya. Rumah bergaya minimalis namun tak luput dari sentuhan ciri khas Korea. Bocah lelaki tersebut menempatkan kedua kaki kecilnya diatas undakan semen depan pintu gerbang, sedikit berjinjit agar dapat menyentuh bel dan menekannya berkali-kali. Ia senang melakukannya.

 

“Siapa?” tanya sebuah suara lembut yang terdengar dari Intercom.

 

“Aku Chanyeol. Baekhyun ada tidak?”

 

“Oh, rupanya Chanyeol…sebentar, hm? Ahjumma akan segera keluar.”

 

Chanyeol berhenti berjinjit dan menunggu dengan tidak sabar, ia juga tidak sabar tubuhnya akan lebih tinggi dari sekarang ini. Dikelas Chanyeol adalah yang paling tinggi.

 

Pintu gerbang terbuka.

 

Seorang wanita muda berwajah teduh muncul setelahnya, memakai apron kuning yang menutupi blus putih dan rok merah muda yang dikenakannya. Wanita itu tersenyum ramah menatap Chanyeol, membuat bocah tersebut sedikit teringat akan wajah dan senyum salah satu teman favoritenya dikelas.

 

“Selamat siang, bibi~ aku datang ingin melihat keadaan Baekhyun…”

 

“Oh begitu, Chanyeol baik sekali…kebetulan Baekhyun sedang tidak tidur, ayo ikut bibi masuk…”

 

“Baik bibi!” ucap Chanyeol penuh semangat yang membuat wanita didepannya terkekeh geli.

 

Keduanya lalu memasuki rumah, Chanyeol diminta untuk melepas sepatunya dan menukarnya dengan sandal rumah berwarna oranye yang sedikit kebesaran untuk kaki dalam masa pertumbuhannya. Ketika melewati ruang keluarga, dimana disana terdapat sofa santai dan sebuah televisi LED yang besar, ─Chanyeol tidak tahu berapa ukuran pastinya─, bocah lelaki ceria itu sempat memberi salam pada seorang pria yang tengah membaca koran ditemani secangkir kopi.

 

Sang nyonya rumah membawa Chanyeol kehadapan sebuah pintu, terdapat banyak sekali tempelan sticker lucu disana juga sebuah boneka puppy yang menggantung ditengah atasnya, boneka puppy tersebut tengah memegang sebuah huruf B dari jahitan kain flannel.

 

“Baekhyun, lihat…siapa yang datang bersama ibu…” ucap wanita tersebut seraya membuka pintu. Membuat Chanyeol dapat melihat keseluruhan isi kamar, kamar bernuansa ceria khas anak-anak. Dinding kamar terlapisi wallpaper warna putih motif bintang warna kuning, selain itu didekat ranjang tergelar sebuah karpet lucu bergambar berbagai macam karakter digimon. 

 

“Siapa ibu?” sosok kecil yang pada awalnya berbaring diranjang dalam posisi membelakangi pintu segera memutar tubuhnya dan wajahnya segera terliputi sebuncah rasa gembira melihat sosok teman baiknya disekolah “Chanyeol!!!”

 

Chanyeol tersenyum lebar seraya melambaikan tangan sejenak, kemudian segera berlari memasuki kamar menghampiri teman baiknya yang manis itu, Baekhyun.

 

“Chanyeol, naik sini…” ajak Baekhyun yang kini tengah dibantu sang bunda untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Chanyeol menurut, ia pun melepaskan ransel dan tempat minum yang menggantung dilehernya lalu meletakannya begitu saja dilantai.

 

“Baekhyun bagaimana keadaanmu? Masih sakit, ya? Kau pasti belum mandi kaa~n?!!” goda Chanyeol yang kini telah berada diatas ranjang Baekhyun.

 

“Enak saja! Aku sudah mandi, pakai air hangat tapi. Chanyeol sendiri, mengapa hari ini bersih sekali? Biasanya sepulang sekolah kau sibuk bermain sampai seragammu kotor?”

 

“Hari ini aku tidak main…keluar kelas aku langsung berlari menuju rumah Baekhyun!”

 

Keduanya lalu tertawa bersama, menertawai hal yang mungkin tak dapat dimengerti orang dewasa sepenuhnya. Ibunda Baekhyun hanya tertawa geli memandang polah menggemaskan kedua bocah yang masih dalam masa pertumbuhan tersebut. Ia lalu memutuskan keluar untuk menyediakan kudapan dan minuman untuk bagi tamu kecilnya.

 

“Ah, Baekhyun…aku akan menunjukan sesuatu padamu!”

 

“He? Apa itu…?”

 

“Tadi seru sekali, saat disekolah…aku menang duel kartu monster lagi!!” seru Chanyeol semangat, salah satu tangannya merogoh saku celana seragamnya sebelah kanan “Dan aku…mendapat kan inii!!”

 

Kedua mata kecil Baekhyun melebar sempurna ketika melihat benda yang ditunjukan oleh Chanyeol. Sebuah kartu monster bergambar burung warna merah, paruhnya kuning dan ekornya panjang…kartu yang keren Baekhyun pikir.

 

“Uwaa~ keren sekali, Chanyeol!” matanya berbinar-binar menyamai permukaan kartu yang sedikit berkelap-kelip. Mengambil kartu tersebut dan menatapnya lekat.

 

“Iya ‘kan?! Iya ‘kan?!!” teriak Chanyeol heboh yang hanya disambut senyum lembut oleh Baekhyun “Aku sudah lama mengincar kartu itu dari Minho, dia sampai ingin menangis ketika aku mengalahkannya dan mengambil kartu andalannya…”

 

“Benarkah? Kau hebat bisa mengalahkan Minho!”

 

“Tentu saja, aku ‘kan yang terhebat dikelas!” ujar Chanyeol bangga seraya menepuk dadanya.

 

Jam terus berputar dan celotehan kedua bocah itu terus berlanjut. Ibu Baekhyun masuk membawakan makan siang dan obat untuk anaknya, Chanyeol menolak ajakan makan siang karena ia telah menyantap habis bekal makan siang porsi besarnya disekolah.

 

“Obatnya pahit, ya?” tanya Chanyeol sedikit murung setelah ibu Baekhyun keluar kamar membawa nampan dan piring kosong. Bocah itu pun menyodorkan jus apel nya yang hanya tinggal setengah gelas kepada Baekhyun “Ini, minum ini saja…”

 

“Terima kasih, tapi aku tidak boleh minum minuman dingin. Tidak apa-apa…lama-lama pahitnya juga hilang.”

 

“Oh iya, aku lupa. Yasudah makan ini saja, ya?” Chanyeol mengulurkan sebungkus permen stroberi yang ia keluarkan dari saku celanannya.

 

“Waaa! Permen! Terima kasih Chanyeol.”

 

“Sini aku suapi.” Chanyeol mendekat setelah membuka bungkus permen dan menyuapkan isinya kemulut Baekhyun.

 

Selama percakapan, Baekhyun tak banyak mengubah posisi tubuhnya, ia lebih banyak bersandar pada kepala ranjang dengan selimut biru langit motif anak ayam yang menyelimuti kakinya, senyum selalu setia menghiasi paras lugunya sepanjang mendengarkan cerita Chanyeol mengenai sekolah hari ini juga bagaimana permainan kartu monster yang ia lakukan bersama Minho, teman satu kelas mereka, anak tertinggi kedua setelah Chanyeol.

 

“Baekhyun mengantuk?” Chanyeol mengusap-usap puncak kepala Baekhyun yang mulai terantuk-antuk melawan kantuk, kedua mata kecil sahabatnya itu mulai nampak sayu.

 

“Ngg~” Baekhyun mengangguk lesu.

 

“Tidur saja, ya?”

 

“Chanyeol mau menemaniku tidur?”

 

“Mau.”

 

Keduanya pun berbaring, hanya Baekhyun yang tidur dalam selimut sementara Chanyeol berbaring diatas selimut. Posisinya, Baekhyun menghadap Chanyeol sedangkan Chanyeol sendiri dalam posisi terlentang…hanya saja kepalanya menoleh dan berhadapan langsung dengan wajah tanpa dosa milik Baekhyun.

 

“Tidurnya sambil berpegangan tangan…”

 

“Ng~? Kenapa begitu, Chanyeol?” tanya Baekhyun dalam keadaan setengah tidur.

 

“Agar kau cepat sembuh, kalau pegangan tangan nanti sakitnya sedikit berpindah kepadaku dan sakit ditubuh Baekhyun jadi berkurang. Aku tidak akan sakit, aku ‘kan anak kuat. Sudah~ Baekhyun tidur saja, ok…” ujar Chanyeol seraya mengambil boneka jerapah dari sudut ranjang dan menyerahkannya pada Baekhyun untuk dipeluk

 

“Ngg…~”

 

Keduanya pun tertidur dalam keadaan tangan kanan saling bertaut, mereka tidur saling berhadapan. Ibunda Baekhyun yang melihat kejadian tersebut, sedikit terkejut…namun tak lama senyum penuh kasih mengembang diwajahnya, ia pun mengambil ponsel dan menghubungi orang tua Chanyeol agar menjemput putranya…mungkin untuk beberapa puluh menit kedepan. Ia tak sampai hati mengusik lelapnya kedua anak manis itu.

 

… … … … …

 

Akhir-akhir ini kelas selalu ramai kala istirahat siang, suasana gaduh, anak-anak berseru dengan semangat dalam memanfaatkan waktu luang. Sebagian besar murid berkumpul ditengah kelas, menggabungkan dua meja menjadi satu dan menjadikannya sebagai tempat untuk bermain duel kartu monster.

 

Kali ini Minho menantang Chanyeol, ia berkata ingin merebut kembali kartu monster yang pernah direbut oleh teman sekelasnya itu.

 

“Lihat! Lihat! Poin ku lebih tinggi, monster pilihanku mena~ng!!! Horeeee!!” seru Chanyeol senang sementara Minho dihadapannya menunduk lesu.

 

“Hei, awas Chanyeol! Suatu saat nanti akan aku rebut kembali kartuku!”

 

“Baiklah, baiklah~ ayo cepat sini…aku minta kartumu satu…”

 

Minho pun mengeluarkan sebuah album warna biru dan memperlihatkan semua koleksi kartu miliknya yang tersimpan didalam sana, Chanyeol mengamati dengan seksama. Sesekali Minho menggerutu dan mengeluh tiap kali Chanyeol menarik salah satu kartu, membuat lawan mainnya itu terpaksa memilih kartu lain.

 

Seusai mengambil satu kartu milik Minho sebagai hadiah kemenangan, Chanyeol menghampiri Baekhyun seraya merapikan susunan kartu ditangannya.

 

“Baekhyun tidak ikut main kartu?”

 

Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun berhenti mewarnai salah satu halaman buku bergambar miliknya, ia meletakan pensil warna birunya disamping buku dan menoleh menatap sahabat baiknya tersebut, ia menggeleng pelan dengan lesu “Tidak, aku tidak punya kartu lagi. Ibu tanpa sengaja mencucinya…”

 

“Mau pakai kartuku saja?”

 

“Ung!” Baekhyun tersenyum lebar dan mengangguk semangat “Mau!!”

 

Keduanya kemudian ikut bergabung bersama anak lainnya, Chanyeol menarik tangan kecil Baekhyun membawa sahabatnya itu kesalah satu sisi meja. Tempatnya tadi saat bertanding melawan Minho.

 

“Siapa yang mau melawan Baekhyun?!!” teriak Chanyeol seraya menatap sekelilingnya.

 

“Aku! Aku!!” sahut seorang bocah manis berambut hitam lurus dan jatuh, bentuknya menyerupai jamur yang membuatnya semakin lucu “Aku mau! Aku mau melawan Baekhyun!”

 

“Oh Taemin, sudah pipis belum? Jangan kabur ke toilet saat tengah bertanding…” goda Chanyeol yang sifat usilnya kambuh.

 

“Berisik! Chanyeol jelek!!”

 

“Sudah-sudah…cepat bertanding…” ujar Minho menenangkan keduanya lalu mendorong pundak Taemin agar maju kehadapan Baekhyun.

 

Baekhyun dan Taemin, keduanya segera menyusun kartu masing-masing diatas meja. Chanyeol sesekali berbisik ditelinga Baekhyun sementara Minho dipihak Taemin, entah apa yang mereka bicarakan…mungkin semacam strategi bertarung.

 

“Aku duluan yang mulai, ya! Siaaaappp!” seru Taemin penuh semangat sampai-sampai Minho yang berada disampingnya reflex menutupi kedua telinganya.

 

.

.

.

 

“Mau sampai kapan dipandangi terus? Kalau matamu bisa mengeluarkan laser, kartunya pasti sudah hangus terbakar.”

 

“Hehe~ habis aku senang sekali, Chanyeol. Ini pertama kalinya aku menang bermain kartu…”

 

“Wah, benar juga. Baekhyun ternyata pintar, ya…” ujar Chanyeol mengusap-usap kepala Baekhyun, ia sangat senang melakukannya…tanpa pernah menyadari bahwa kedua pipi mungil sahabatnya tersebut akan selalu merona karenanya.

 

Kini mereka berdua berada disebuah taman dekat sekolah, Chanyeol dan Baekhyun duduk diayunan yang bersebelahan tanpa menggerakan benda tersebut.

 

Sejak mendapatkannya, Baekhyun terus saja memandangi kartu monster yang ia peroleh atas kemenangannya melawan Taemin. Kartu bergambar monster menyerupai angsa, warnanya putih dan entah mengapa menggunakan mahkota emas kecil diatas kepalanya. Kartu yang sangat cantik, Baekhyun pikir…karena itu lah ia memilih kartu tersebut.

 

“Baekhyun, tali sepatumu lepas…”

 

“Eh? Benarkah?”

 

“Sini, biar aku perbaiki…”

 

Chanyeol turun dari ayunan yang didudukinya lalu berlutut didekan kaki Baekhyun, pelan-pelan jemari kecilnya itu memperbaiki simpul sepatu bocah tersebut lalu menepuk-nepuk kedua tangan ketika pekerjaannya telah selesai.  Bocah tampan itu kembali duduk diatas ayunan.

 

“Chanyeol baik sekali…”

 

“Ya, tentu saja! Aku ‘kan anak yang baik!!” sahut Chanyeol seraya tersenyum lebar, memamerkan dengan jelas deretan gigi kecilnya yang tertata rapi.

 

“Kalau sudah besar nanti, mau menikah dengan Baekhyun tidak?”

 

“He?”

 

Hening menyeruak. Kedua bocah tersebut mendadak bungkam dan hanya saling memandang dengan lekat.

 

“Kenapa…ingin menikah denganku, Baekhyun?” Chanyeol akhirnya buka suara, ia bertanya dengan wajah tanpa dosa.

 

Baekhyun nampak gugup, ia sendiri tak tahu bagaimana bisa berucap demikian…mulut kecilnya mengeluarkan suara begitu saja. Ah, apa ini ada hubungannya dengan video pernikahan orang tuanya yang ia saksikan kemarin? Ia menunduk takut karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang…Baekhyun juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu.

 

“Memangnya Chanyeol tidak mau?”

 

“Eh! Tidak, bukannya aku tidak mau…”

 

“Jadi mau?” tanya Baekhyun lagi.

 

Chanyeol nampak berpikir “Nnng~ ya…boleh saja, baiklah!”

 

Senyum lebar nampak melintang sempurna diparas Baekhyun, keduanya tertawa bersama cukup lama seolah-olah tengah membicarakan lelucon yang cukup mengocok perut. Satu yang bertubuh lebih mungil melompat turun dari ayunannya.

 

“Kalau begitu ayo kita tunangan dulu…”

 

“Apa? Tunangan…?”

 

“Benar!”

 

Chanyeol lalu turun dari ayunan dan melangkah beberapa kali mendekati Baekhyun “Bagaimana caranya tunangan?”

 

Tak langsung menjawab, Baekhyun mengeluarkan kartu monster angsa yang ia simpan disaku celananya lalu menyodorkannya kepada Chanyeol.

 

“Kita bertukar kartu…” katanya dengan ceria.

 

“Kenapa begitu?”

 

“Kalau yang aku lihat di televisi, tiap orang yang tunangan pasti bertukar cincin…tapi karena kita tidak punya cincin, jadi pakai kartu saja.”

 

Bocah tampan dihadapannya mengangguk paham lalu tersenyum lebar dan turut mengeluarkan kartu monster miliknya, kartu keren bergambar burung warna merah yang belum lama ini didapatnya dari Minho. “Baiklah, ini kartuku…ayo bertukar!”

 

Keduanya pun bertukar kartu.

 

“Jadi sekarang kita sudah bertunangan, ya?” tanya Chanyeol dalam perjalanan pulang, semua nampak sama seperti biasa…yang berbeda hanya kini keduanya bergandengan tangan.

 

Iya, sudah bertunangan.

 

Baekhyun menangguk kecil.

 

“Tapi Baekhyun belum menjawab pertanyaanku…”

 

“Pertanyaan yang mana?”

 

“Aku ‘kan bertanya kenapa kau ingin menikah denganku nanti kalau sudah besar…kenapa, Baekhyun?”

 

Jantung Baekhyun kembali berdegup kencang, ia merasa gugup untuk kedua kali…dan masih tetap tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Baekhyun berdengung pelan, sepertinya tengah memikirkan kata-kata yang pas untuk ia ucapkan sebagai jawaban pada sahabatnya tersebut.

 

“Nnngg~” bocah manis itu masih nampak berpikir.

 

“Kenapa Baekhyun? Kenapa?” desak Chanyeol tidak sabar.

 

“Karena…karena Chanyeol itu anak yang baik. Aku kalau berada didekat Chanyeol rasanya sena~ng sekali…aku ingin kita selalu bersama, karena itu aku ingin menikah denganmu. Hehe~ alasan yang aneh, ya?”

 

Kali ini giliran Chanyeol yang merasa kalau sesuatu dalam dadanya berdegup lebih kencang.

 

.

 

Jongin – Kyungsoo

 

Suatu minggu tak terlalu siang yang cerah.

 

Sebuah mobil Van hitam berhenti dipekarangan salah satu rumah bercat putih dengan gaya minimalis yang tak tersentuh sentuhan khas Korea sama sekali. Sang pengemudi keluar lebih dulu, disusul oleh seorang wanita yang duduk dijok sebelahnya, sang pengemudi kemudian membuka pintu belakang dan membantu seorang anak laki-laki turun dari mobil, keduanya lalu berjalan masuk kedalam rumah disusul sang wanita yang tengah menenteng sebuah kotak kue dalam kantung plastic putih.

 

“Bibi, Jongin dimana?” tanya anak laki-laki tersebut pada sang nyonya rumah, ketika ia beserta ayah-bundanya telah berada diruang tamu.

 

“Sebentar ya Kyungsoo, Jongin sebentar lagi turun bersama ayahnya…”

 

“Baik, bibi…”

 

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, semua orang menoleh dan mendapati seorang pria tengah menggendong seorang anak laki-laki lain dalam dekapannya, tubuh kecilnya nampak lemas dan kepalanya terkulai begitu saja dipundak lelaki tersebut, sang ayah.

 

“Selamat siang Paman dan Jongin!”

 

“Selamat siang juga Kyungsoo.” Balas ayah Jongin seraya menurunkan anaknya untuk duduk dibawah beralaskan karpet bersama Kyungsoo.

 

Kyungsoo nampak riang ketika akhirnya bertemu dengan Jongin, ia hendak menyapa namun melihat keadaan Jongin, bocah manis tersebut mengurungkan niatnya. Sepasang mata bulatnya menatap bocah tampan dihadapannya dengan lekat, kepalanya sedikit miring dan kelopak matanya berkedip-kedip…tanda jika ia sedang berpikir.

 

Akhirnya, Kyungsoo pun berucap “Jongin, Jongin kenapa?”

 

Jongin mengangkat wajahnya sejenak untuk menatap Kyungsoo, namun kemudian kembali menunduk lesu. Bibir kecilnya melengkung kebawah seperti pelangi terbalik, cemberut.

 

“Pagi ini Jongin pergi ke dokter gigi untuk cabut gigi, giginya ada yang goyang sejak dua minggu lalu…maaf Kyungsoo sayang, Jongin mungkin tidak akan banyak bicara hari ini.”

 

Kyungsoo menatap polos wanita yang baru saja berbicara, ibunda Jongin…ia lalu beralih menatap Jongin yang masih murung, tak mengatakan sepatah kata pun sama sekali.

 

“Kyungsoo, bukankah kau ingin menunjukan peliharaan barumu pada Jongin?”

 

“Iya ayah…” Kyungsoo tersenyum pada sang ayah yang duduk di sofa bersama ibunya dan kedua orang tua Jongin, lalu mengulurkan tangan pada Jongin “Jongin, ayo ikut aku…”

 

Dengan lesu Jongin menyambut tangan temannya tersebut, membiarkan bocah bermata bulat itu menariknya dan membawanya entah kemana…ia hanya terus menundukan kepala.

 

.

.

.

 

“Aku membelinya kemarin, namanya Moku…dia lucu kan?” ucap Kyungsoo seraya memperlihatkan seekor marmot berbulu oranye dalam kandang.

 

Namun Jongin tetap saja membisu, ia memang memperhatikan makhluk mungil dalam kandang yang dipegang Kyungsoo…hanya saja pandangannya tak memancarkan semangat sedikit pun, Jongin tak sedikit pun mengutarakan pendapatnya dan hal tersebut tentu membuat Kyungsoo turut merasa sedih dan murung.

 

Tiba-tiba ibunda Jongin muncul dan menghampiri kedua bocah yang saat ini tengah bersantai di teras belakang. Kyungsoo berpikir kalau Jongin memiliki mata yang mirip dengan ibundanya.

 

“Jongin, Kyungsoo…saatnya makan siang…”

 

“Baik, bibi…”

 

Ketiganya lalu segera menuju ruang makan, Jongin lagi-lagi bersikap manja dengan minta ─tanpa bicara dan hanya merengek dengan menarik-narik rok yang dikenakan sang bunda─ digendong oleh ibunya.

 

“Jongin ‘kan sudah kelas satu SD…tidak malu bersikap manja didepan Kyungsoo, hm?” goda sang bunda seraya melempar senyum terhadap Kyungsoo yang juga tersenyum, membuat Jongin mengerang kesal.

 

Dimeja makan telah menunggu ayah Jongin dan kedua orang tua Kyungsoo…ibunda Jongin menempatkan putranya duduk disebelah Kyungsoo sementara ia duduk disebelah ibunda Kyungsoo, sedangkan kedua kepala keluarga menduduki tiap ujung meja bentuk persegi panjang tersebut. Kyungsoo dan Jongin diberikan sendok dan garpu karena mereka belum terlalu lancar menggunakan sumpit.

 

Sepanjang waktu makan, ibunda Jongin sibuk memohon pada putranya agar mau memasukan makanan kedalam mulutnya, meski hal tersebut tak membuahkan hasil positif…ia ingat bagaimana pagi ini Jongin menangis kencang setelah mengalami pengalaman pertamanya pergi ke dokter gigi dan dicabut giginya. Bocah tampan tersebut terus mengeluh sakit selama perjalanan menuju rumah.

 

Melihat hal tersebut, Kyungsoo memutuskan untuk berhenti memakan makan siangnya sejenak untuk berbicara pada Jongin.

 

“Jongin kalau tidak makan nanti sakit perut, memangnya Jongin mau sakit perut?”

 

Bocah yang bersangkutan masih diam seribu kata.

 

“Aku juga dulu pernah cabut gigi, lalu dokternya bilang padaku…kalau kita sudah cabut gigi itu artinya kita sudah dewasa, tidak boleh cengeng dan manja, kalau masih cengeng dan manja kita tidak akan tumbuh dewasa dan jadi anak-anak terus. Memangnya Jongin mau jadi anak-anak terus, nanti tubuh Jongin tidak akan tambah tinggi.” Ucap Kyungsoo panjang lebar membuat orang dewasa disana tersenyum, sungguh ucapan yang benar-benar polos khas anak kecil mereka pikir.

 

Jongin masih diam menundukan kepala, namun keningnya nampak berkerut seolah tengah memikirkan ucapan Kyungsoo, tak lama kemudian kepalanya bergerak pelan untuk menatap bocah manis bermata bulat disampingnya.

 

“Benarkah?” tanya Jongin dengan amat pelan, Kyungsoo membalasnya dengan tersenyum manis dan mengangguk pasti “Baiklah…aku mau makan…”

 

Senyum diwajah manis Kyungsoo semakin melebar “Aku suapi, ya?”

 

Jongin hanya mengangguk dan membiarkan Kyungsoo menyendok bubur nasi dalam mangkuknya, ia memperhatikan bagaimana tangan kecil Kyungsoo dengan telaten menambahkan serpihan seledri juga potongan daging ayam sebagai teman bubur hambar tersebut, sebelum akhinya mengarahkan sendok itu kemulut Jongin yang langsung disambut oleh bocah tampan tersebut. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama karena Jongin memilih untuk memakan makannya sendiri dan membiarkan Kyungsoo menyantap makanan miliknya dengan tenang, keduanya pun makan seraya tak hentinya melempar tawa.

 

Pemandangan yang membuat senyum penuh kasih tak pernah pudar dari wajah kedua orang tua mereka.

 

.

.

.

 

“Kenapa beli marmot-nya hanya satu? ‘Kan kasihan Moku kesepian, Kyungsoo.” Ujar Jongin seraya mengunyah roti tawar yang diolesi mentega, sekaligus memamerkan celah kecil diantara deretan gigi depannya.

 

“Habis kata ayahku kalau beli dua ekor, aku tak kan bisa mengurusnya dengan baik…jadi aku hanya dibelikan satu.” Jawab Kyungsoo seraya merobek pinggiran roti tawar miliknya dan memasukannya kedalam kandang Moku, si mungil didalam sana segera memakannya cepat.

 

Jongin hanya mangut-mangut paham, ia dengan tenang menggigit dan mengunyah rotinya seraya memerhatikan apa yang Kyungsoo lakukan. Beberapa saat kemudian, ibunda Kyungsoo muncul dengan maksud mengajak putranya pulang kerumah. Hal tersebut membuat Jongin menangis kencang tanpa bisa dicegah, ia bersikeras melarang temannya itu pergi…bocah tampan itu terus saja menarik-narik kaos putih yang dikenakan Kyungsoo. Semua bingung termasuk Kyungsoo yang kesulitan menangkan Jongin. Akhirnya si kecil Jongin berhasil ditenangkan setelah kedua orang tuanya berjanji akan membawanya berkunjung kerumah Kyungsoo esok lusa.

 

… … … … …

 

“Kyungsoooooo~!!” seru seorang anak lelaki menyusuri sebuah rumah setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, menuruti perkataan sang nyonya rumah agar menemui Kyungsoo dihalaman belakang karena temannya itu tengah memberi makan perliharaannya, Moku si marmot.

 

“Waaa! Jongin, kau sudah datang rupanya!” sahut Kyungsoo setelah Jongin menemukannya, ia menutup kembali pintu kandang Moku sebelum menghampiri sahabatnya itu “Aku sudah menunggumu sejak tadi…”

 

“Benarkah?” tanya Jongin memastikan, Kyungsoo mengangguk dengan semangat “Ah, aku juga punya peliharaan sekarang, Kyungsoo…”

 

“He? Hewan apa itu? Aku mau lihat? Kau membawanya?”

 

Jongin mengangguk lalu memperlihatkan apa yang sejak tadi disembunyikannya dibalik punggung kecilnya…seekor marmot juga, berbulu coklat gelap dengan sedikit corak putih, tengah bergelung nyaman dikedua tangan Jongin. Melihat hal tersebut, senyum lebar segera mengembang diwajah Kyungsoo.

 

“Marmot! Sama dengan punyaku!”

 

“Ung~ aku belikan ayah kemarin. Namanya Moko…” salah satu jari Jongin mengelus tubuh Moko pelan, hewan mungil tersebut nampak menggeliat nyaman “Aku pikir Moko dan Moku bisa berteman…aku juga hanya beli satu…”

 

“Ide bagus! Jongin pintar…ayo kita masukan saja kedalam kandang Moku.” Kyungsoo terlihat yang paling semangat diantara keduanya.

 

Jongin dan Kyungsoo lalu mendekati kandang Moku yang Kyungsoo letakan diatas tanah berumput, kemudian memasukan marmot milik Jongin kedalam sana kedua marmot itu segera saling menghampiri dan berinteraksi satu sama lain.

 

“Moku sepertinya senang sekali…”

 

“Iya benar, Kyungsoo…mereka terus menempel, lengket sekali~”

 

.

.

.

 

Setelah selesai mengamati dua marmot mereka, Jongin dan Kyungsoo kini tengah berbaring dihalaman…sebelumnya Ibunda Kyungsoo sudah memberi mereka selembar kain untuk digunakan sebagai alas. Keduanya berbaring dengan mata lurus menatap langit, mengawasi gumpalan awan putih yang menggantung dilangit sana. Sesekali menebak bentuk apa yang sekiranya mirip salah satu gumpalan awan dan tertawa nyaring setelahnya.

 

“Kyungsoo, apa yang ingin kau lakukan saat besar nanti?”

 

“Aku ingin jadi koki…”

 

“Kalau begitu aku juga ingin jadi koki…”

 

Kyungsoo sedikit mendelik ketika Jongin mengikuti pilihannya, ia lama menatap sahabatnya tersebut sebagai seseorang yang kurang cocok untuk melakukan hal yang tergolong feminis seperti dirinya.

 

“Aku juga ingin menjadi penyanyi…

 

“Kalau begitu aku juga ingin menjadi penyanyi…”

 

“Kenapa kau selalu mengikuti pilihanku, Jongin?” Kyungsoo mendudukan dirinya dan menatap Jongin penuh tanya.

 

Bocah tampan itu pun turut mendudukan dirinya, lalu berkata “Agar kita bisa selalu bersama. Kalau Kyungsoo jadi koki, aku juga akan jadi koki. Kalau Kyungsoo jadi penyanyi, aku juga akan jadi penyanyi. Dengan begitu kita akan bersama terus ‘kan?”

 

Seusai Jongin selesai dengan kalimatnya, Kyungsoo sejenak menatap bocah tampan itu lekat…dengan bibir yang sedikit ter-pout semakin menambah kesan lucu pada dirinya, sebenarnya ia sedang memikirkan sesuatu entah apa itu, yang jelas mengenai hal yang hanya berhubungan dengan dirinya dan Jongin.

 

Bocah manis berkulit putih itu kemudian kembali merebahkan dirinya, disusul oleh Jongin yang juga melakukan hal serupa.

 

“Apa kita juga akan tinggal disatu tempat yang sama seperti Moku dan Moko?”

 

“Tentu saja…”

 

“Tidur bersama, makan bersama, main bersama?”

 

“Yup!”

 

“Setiap hari?”

 

“Setiap hari!”

 

Kyungsoo kembali diam sejenak, gumpalan awan diatas sana bagai puluhan anak domba yang terbang dengan amat sangat pelan. Perlahan-lahan senyum mengembang menghiasi paras lugu-nya…dan dengan senyum tersebut ia menoleh, bersamaan dengan Jongin yang juga menoleh ditemani seulas senyum favorite Kyungsoo.

 

“Aku jadi tidak sabar, Jongin…”

 

“Hehe~ aku juga…”

 

.

 

Sehun – Luhan

 

“Na-namaku Lu Han…senang berkenalan dengan…k-kalian semua…”

 

Sehun menatap lurus kedepan, lebih tepatnya murid baru pindahan dari luar negeri yang berdiri disamping ibu guru. Anak itu terlampau manis, Sehun pikir…pasti tidak akan ada yang merasa ganjil jika Luhan berkumpul bersama anak perempuan meski hanya ia seorang yang memakai celana.

 

Dia pindahan dari Hong Kong. Aksen mandarin terdengar kental mengalir bersama tiap kata yang ia ucapkan, pelafalan bahasa Korea-nya tidak terlalu bagus namun cukup jelas untuk dapat dimengerti.

 

“A-aku masih belum lancar berbahasa Korea…mohon bantuan kalian semua.” Lanjut Luhan mengakhiri sesi perkenalan dirinya didepan kelas.

 

Kedua mata Sehun masih setia mengawasi gerak-gerik Luhan, bahkan ketika murid baru itu telah menduduki tempat yang ditunjukan guru untuknya, yaitu tepat dibangku sebelah Sehun, disekolah ini siswa duduk tidak berpasangan melainkan seorang diri.

 

Ketika akhirnya Luhan menoleh dan pandangan mereka saling berbenturan…jika sang guru tidak berseru menandakan pelajaran dimulai, mungkin ia dan Luhan akan terus berpandangan sepanjang jam pelajaran.

 

.

.

.

 

Jam istirahat tengah berlangsung dan Luhan hanya dapat berdiam diri dipinggir lapangan, berjongkok menulis-nulis sesuatu diatas pasir seraya memandangi teman sekelasnya yang tengah asyik bermain sepak bola, ada juga sekumpulan anak perempuan sedang bermain lompat tali tak jauh dari tempatnya berdiri, semua terlihat senang…Luhan pun sejujurnya ingin bergabung, sepak bola atau lompat tali ia menyukai keduanya. Namun sayangnya, Luhan tak memiliki cukup keberanian untuk mendekati mereka semua…terlepas dari minimnya bahasa Korea yang ia kuasai, Luhan memang sedikit pemalu.

 

“Oi, anak baru!!”

 

Posisi Luhan yang berjongkok membuatnya harus mendongakkan kepala, menemukan tiga orang anak yang ia kenali sebagai teman sekelasnya, tengah berdiri tak jauh darinya sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat marah.

 

“Namaku Luhan.” Kata Luhan dengan senyum polosnya, berdiri lalu memposisikan tubuhnya berhadapan dengan teman sekelas barunya tersebut.

 

“Aku tidak peduli siapa namamu!!” hardik anak tersebut, tubuhnya sedikit gempal, kedua pipinya pun cukup berisi. Sangat berbanding terbalik dengan tubuh Luhan sendiri, yang cenderung kecil dan kurus “Dengar, ya! Anak baru harus menuruti semua perintahku!”

 

Luhan menatap bingung ujung telunjuk kanan anak bertubuh gempal tersebut yang tertuding kearahnya “Kenapa?” tanyanya tanpa dosa, namun mampu memancing wajah teman sekelasnya itu sampai memerah padam.

 

“Hei! Jangan berani-beraninya melawan perintah Joonmyeon!!” seru anak bermana Joonmyeon tersebut, kemudian maju beberapa langkah mendekati Luhan dan mendorong bocah mungil itu hingga bokongnya membentur permukaan tanah dengan keras.

 

Luhan meringis sakit, kini ia terduduk di tanah seraya bertumpu dengan kedua tangannya. Tawa keras anak yang mendorongnya itu terdengar jelas ditelinganya. Namanya Joonmyeon, Luhan ingat itu…Joonmyeon adalah anak yang paling keras menyorakinya ketika ia mengenalkan diri didepan kelas. Wajah Luhan memerah sekali ketika itu, kedua matanya telah berkaca-kaca namun ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis…tapi kini melihat Joonmyeon kembali mengusiknya, mencibirnya dan menertawainya dengan keras bersama dua orang anak buahnya…Luhan tak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak menangis, satu persatu bulir air mata melintasi pipi mungilnya.

 

Ketika ia mendongak, Joonmyeon menjulurkan lidahnya mengejek…mengapa ia jahat sekali, Luhan pikir.

 

Sampai akhirnya, Luhan melihat bayangan seseorang yang sepertinya berdiri dibelakangnya, orang tersebut menjulurkan setangkai ranting kayu tepat didepan batang hidung Joonmyeon.

 

“Huh?” Joonmyeon hanya mampu bungkam melihat apa yang kini ada dihadapannya. Suasana sempat hening sejenak, hingga bocah bertubuh gempal itu berteriak ketakutan “U-UWAAAA! SEHUN! JAUHKAN BENDA DITANGANMU ITU DARIKU!”

 

Mendengar nama ‘Sehun’ disebut, bocah asal Hong Kong itu segera menoleh kebelakang dan melihat seorang anak yang lain, anak tersebut adalah anak yang duduk tepat disebelahnya, bernama Oh Sehun.

 

“Gyaaa! Sehun! Pergi kau! Pergi! Jangan dekati aku dengan benda itu!” panic Joonmyeon karena ternyata terdapat seekor ulat bulu diujung ranting yang Sehun julurkan padanya.

 

Luhan hanya terpelongo melihat tindakan heroic Sehun, tanpa rasa takut sedikit pun…bocah berwajah flat itu terus melangkah mendekati Joonmyeon dengan tetap mengangkat batang kayu yang terdapat ulat bulu pada ujungnya itu kehadapan hidung Joonmyeon. Bocah bertubuh gemuk itu, Joonmyeon…mundur perlahan karena takut pada Sehun dan ulat bulunya.

 

“Uwaaa!! Awas kau Sehun!!” hardik Joonmyeon sebelum akhirnya lari terbirit-birit bersama kedua anak buahnya.

 

Air mata diwajah Luhan mulai mengering. Joonmyeon dan kawan-kawannya telah menghilang entah kemana…kini bocah yang sudah tak lagi terisak itu hanya terdiam menatap punggung kecil Sehun yang berdiri didepannya.

 

Sehun pun berbalik, masih dengan wajah tanpa ekspresinya.

 

“Jangan cengeng.” Ucapnya singkat sebelum akhirnya pergi meninggalkan Luhan sendirian.

 

.

.

.

 

Suara tapak sepatu membentur lantai terdengar menggema dilorong kelas yang sepi. Sehun berusaha untuk tak terlalu memedulikannya, langkah kaki lain selain miliknya yang seolah membuat telinganya terus berdengung.

 

Langkahnya terhenti.

 

Sehun berbalik.

 

Luhan berpura-pura melihat kearah lain.

 

Sehun kembali berjalan.

 

Dua suara langkah kaki berbeda, kembali berpadu.

 

Sehun berhenti berjalan.

 

Ia berbalik.

 

Luhan sempat terkejut sebentar sebelum akhirnya berlagak memperbaiki tatanan seragamnya yang sebenarnya masih baik-baik saja.

 

“Kau mengikutiku, ya?!!” tuding Sehun tanpa basa-basi. Telunjuk kanannya mengarah tepat kewajah Luhan.

 

Satu yang bertubuh paling kecil mulai gelagapan, tanpa sadar menautkan jari-jemari kedua tangannya didepan dada karena gugup “A-aku…tidak…begitu…”

 

“Lalu kenapa sejak tadi kau selalu ada dibelakangku?!” tanya Sehun masih dengan suara kerasnya.

 

“A-aku…sebenarnya aku…maafkan aku!” kali ini Luhan menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Sehun menyadari hal tersebut…mungkin teman barunya itu merasa sedikit ketakutan.

 

Sehun menghela nafas “Kau takut dijahili Joonmyeon lagi?”

 

Luhan mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Sehun, sesekali ia mencuri pandang pada Sehun yang berdiri didepannya. Sementara itu Sehun nampak berpikir, keningnya berkerut seraya terus menatap Luhan dengan lekat…sampai akhirnya ia menghela nafas ─kali ini lebih panjang─ untuk kedua kalinya.

 

“Terserah kau sajalah…” ucapnya singkat…dan lagi-lagi, dengan seenaknya berlalu begitu saja mengabaikan seorang anak manis yang masih berdiam diri dibelakangnya.

 

Namun seolah mengandung sihir, meski hanya singkat…ucapan Sehun mampu membuat Luhan tertawa riang. Ia beranggapan jika Sehun sama sekali tak berkeberatan dengan keberadaannya dan memutuskan untuk berlari mengejar bocah tampan teman sekelasnya tersebut.

 

“Sehun, tunggu aku!”

 

… … … … …

 

Sudah dua minggu berlalu sejak kepindahan Luhan kesekolah Sehun dan Sehun pun telah sangat terbiasa dengan predikat ‘Ekor Sehun’ yang melekat erat pada diri Luhan. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari, sepanjang waktu disekolah…Luhan selalu mengikuti kemana pun Sehun pergi, karenanya mau tidak mau keduanya selalu bersama-sama setiap saat.

 

Pada awalnya, memang hanya karena Luhan takut jika Joonmyeon menjahilinya lagi…namun seiring waktu berjalan, dalam waktu singkat keduanya telah menjadi teman yang sangat akrab.

 

“Hari ini pelajaran kesenian kesukaan Luhan, ya?” ucap Sehun seraya mengeluarkan peralatan miliknya dan meletakannya diatas meja.

 

Minggu kemarin guru seni berpesan untuk membawa kertas warna lipat karena pelajaran kali ini adalah mengenai origami, oleh karena itu Sehun mengeluarkan satu set kertas lipat aneka warna miliknya, tak lupa serta buku paketnya.

 

“Ung! Aku lebih suka pelajaran kesenian daripada matematika!” jawab Luhan riang, sejak tadi ia sudah siap sedia dengan kertas warna dan buku paket dimejanya.

 

Sehun memang terlihat seperti anak yang dingin pada awalnya, bahkan Luhan sempat ragu untuk mengajaknya bicara. Tapi kini, setelah keduanya akrab satu sama lain…Sehun tak segan tersenyum, tertawa dan berkata jika Luhan adalah anak yang lucu. Sehun memiliki pribadi yang hangat, ia juga baik hati dan sopan…baik anak perempuan mau pun laki-laki, banyak yang menyukai Sehun.

 

Jika sudah seperti itu, saat Sehun dikerubuti anak-anak lain bahkan yang bukan teman sekelas mereka…Luhan hanya mampu terdiam sambil menggembungkan kedua pipinya.

 

“Senang sekali, akhirnya Luhan berhasil membuat burung kertas…” ujar Sehun yang berjalan disamping Luhan ketika hendak menuju gerbang sekolah karena sudah waktunya untuk pulang, namun lapangan masih saja ramai.

 

Sementara Luhan hanya mengangguk-angguk…ia terus tersenyum puas seraya tak henti memandangi sebuah burung kertas warna merah ditangannya. Hanya Luhan yang berhasil membuat burung kertas dengan hasil yang rapi, sedangkan Sehun…hampir separuh kertas warna miliknya habis untuk percobaan yang tak kunjung berhasil. Bocah tampan itu kesal sendiri dan memutuskan untuk membuat perahu kertas saja karena lebih mudah, berbeda dengan Luhan yang langsung berhasil ketika pertama kali mencoba…sepertinya anak itu memang berbakat dalam bidang seni.

 

“Awas!! Minggir kalian semua!!” seru sebuah suara yang mengagetkan Luhan dan Sehun.

 

Didepan sana, Joonmyeon berlari kencang tepat menuju kearah Luhan. Jaraknya terlampau dekat, Luhan belum sempat berpindah tempat…namun Joonmyeon telah lebih dulu menabraknya dengan keras, sampai ia terjatuh dan meringis sakit.

 

“Auuhhh…~”

 

“Maaf ya, aku tidak sengaja!!” seru Joonmyeon diselingi tawa meledek-nya lalu pergi begitu saja.

 

Sehun sebenarnya ingin sekali mengejar Joonmyeon, namun mendengar rintihan Luhan…ia segera berjongkok disamping temanya tersebut.

 

“Luhan, baik-baik saja?” tanya Sehun seraya menepuk pundak Luhan.

 

Luhan hanya mengangguk kecil, sesekali meringis sambil membersihkan telapak tangannya yang terasa perih dari serpihan pasir dan tanah kotor. Kemudian bocah kecil itu terlihat kebingungan, ia celingukan kesegala arah seperti tengah mencari sesuatu.

 

“Burung kertasku mana?” tanyanya bingung entah pada siapa, tanpa sadar Sehun pun turut celingukan mencari seperti Luhan. Tak lama kemudian terlihatlah sebuah kertas kumal warna merah. Burung kertas Luhan…bentuknya tak lagi indah, bahkan samar-samar terdapat seperti bekas tapak sepatu disana. Kedua belah bibir kecil Luhan mulai bergetar dan melengkung kebawah “Burungnya…~”

 

Tak butuh waktu lama, tangis Luhan pecah dengan sangat nyaring. Sehun sempat terlonjak kaget, namun akhirnya ia nampak kebingungan sendiri.

 

“Luhan…sudah jangan menangis…” bujuk Sehun panic, sungguh ia tak tahu harus melakukan apa dan hanya mampu menggaruk kepalanya, reflex karena bingung.

 

Bocah tampan itu mulai celingukan, memikirkan cara apa yang harus ia lakukan agar Luhan berhenti menangis. Bukan karena takut akan disalahkan, tapi entah mengapa Sehun tidak suka melihat Luhan menangis…sampai akhirnya ia teringat pada sesuatu dan segera merogoh saku celana segaramnya.

 

“Luhan…lihat aku meniup balon!” ujar Sehun semangat, memamerkan selembar balon merah yang ia temukan disaku celananya.

 

Luhan mendongak dan segera menemukan Sehun yang tengah meniup sebuah balom warna merah, sama seperti warna burung kertasnya yang telah hancur. Bocah kecil berbulu mata lentik itu mengamati ukuran balon dimulut Sehun, makin mengembung dan mengembung hingga melebihi ukuran kepala Sehun sendiri. Setelah cukup besar, Sehun melepas balon tersebut dari mulutnya, mengikatnya agar tidak kempes dan menyerahkannya pada Luhan…entah sejak kapan ia telah berhenti menangis.

 

“Ini untukmu, jangan menangis lagi. Ok?” Sehun menarik ujung kemeja dari dalam celananya, lalu menggunakannya untuk mengusap wajah Luhan yang basah.

 

Anggukan kecil dari Luhan, meski wajahnya terlihat seperti masih ingin menangis. Sehun kemudian mengulurkan tangan, membantu Luhan berdiri dan sekali lagi mengusap wajah sahabatnya tersebut dengan telapak tangan kecilnya.

 

“Ayo kita pulang…”

 

“Ung~ terima kasih Sehun.” Ucap Luhan dengan wajah memerah, entah karena habis menangis atau karena malu.

 

… … … … …

 

Pelajaran hari ini hampir selesai, bel tanda waktunya meninggalkan sekolah mungkin akan berbunyi sebentar lagi. Namun sebelum itu, ibu guru menyempatkan diri untuk bertanya mengenai cita-cita para muridnya. Ingin melakukan apa dan ingin menjadi apa.

 

Semua murid menoleh serempak ketika Luhan menjadi yang paling pertama mengangkat tangannya.

 

“Ya, Luhan…katakan cita-citamu anak pintar…”

 

“Baik, ibu guru!” seru Luhan semangat sambil berdiri dari duduknya lalu berseru “Luhan ingin menjadi istrinya Sehun!”

 

Mendadak seluruh bagian wajah Sehun, hidung, dagu, telinga, pipi bahkan kening…mulai memerah. Semerah air raksa dalam thermometer.

 

Setelah itu Luhan mulai menghitung dengan jemarinya satu persatu dan menyebutkan hal-hal apa saja yang merupakan keinginannya dimasa depan “Kemudian, aku juga ingin tinggal bersama Sehun. Makan bersama-sama Sehun. Tidur bersama Sehun. Main bersama Sehun. Naik mobil bersama Sehun lalu…ah! Lalu punya adik bayi yang banyak bersama Sehun!”

 

Luhan mengakhiri ceritanya dengan diiringi riuh rendah sorakan seluruh teman sekelasnya, kecuali Sehun yang saat ini tengah mati-matian menahan rasa malu. Bocah tampan itu menyembunyikan wajahnya yang merah padam dengan cara menundukan kepala, meski tak ada seorang pun yang menyadari hal tersebut, termasuk Luhan tentunya.

 

“Wah, cita-cita yang banyak sekali…” ucap sang guru seraya melempar senyum pada Luhan yang saat ini hanya tersipu malu seraya mengusap tengkuknya kikuk “Tapi kau harus rajin belajar dan lulus sekolah dulu untuk mewujudkan semua itu, Luhan yang pintar…paham?”

 

“Yes ma’am!!” sahut Luhan seraya memberi hormat ala tentara, lalu kembali duduk.

 

Sang guru berjalan kembali menuju mejanya, merapikan buku absen juga peralatan tugas miliknya. Sempat ia melirik tempat dimana Sehun duduk, dan tertawa setelahnya ketika menemukan bahwa murid tampanya itu tengah menunduk dengan telinga yang memerah.

 

Bel berbunyi panjang, dengan dibimbing sang guru, satu persatu dari para siswa meninggalkan kelas dengan tertib. Termasuk juga Luhan dan Sehun.

 

.

.

.

 

Dalam perjalanan pulang, Sehun diam seribu kata. Jelas saja ia masih memikirkan kata-kata Luhan saat masih dikelas…tentu saja, bagaimana mungkin seseorang dapat tenang-tenang saja ketika ada seorang anak manis nan lucu melamarnya secara terang-terangan?

 

Saat ini jantungnya berdegup kencang, mengingat bahwa Luhan berada disampingnya…jantung Sehun seolah hendak melompat saja.

 

Suara bel sepeda seseorang yang lewat memecah keheningan, Sehun melirik Luhan disampingnya…anak manis itu masih saja bersenandung kecil sambil memainkan ranting pohon yang dipungutnya dalam perjalanan belum lama ini. Sehun meneguk liur paksa, kedua tangannya terkepal erat…sejak tadi ia tak bisa menghilangkan rasa gugupnya. Kenapa? ia sendiri bingung, hal seperti ini baru kali pertama ia rasakan dan alami.

 

“Luhan…” panggil Sehun setelah menghentikan langkahnya.

 

Luhan pun berhenti melangkah dan berbalik “Ya, Sehun? Ada apa?”

 

Sekali lagi si tampan Sehun meneguk liurnya paksa, senyum Luhan yang manis itu seakan menghentak dadanya dengan telak “Ngg~ itu…y-yang tadi…”

 

“Kenapa Sehun bicaranya seperti itu? Sehun sakit gigi?!”

 

“Tidak, bukan itu!!”

 

“Lalu?”

 

Ketiga kalinya Sehun meneguk liur…Tuhan─ tenggorokannya terasa kering kerontang “I-itu, saat dikelas…apa kau bersungguh-sungguh?”

 

“Apa? Sungguh-sungguh apa?”

 

Sehun kehabisan kesabaran, ia mulai merasa keki…lelah sendiri menghadapi Luhan yang lamban seperti ini. Akhirnya ia pun memutuskan untuk melangkah mendekati temannya tersebut.

 

“Kau tadi bilang ingin menjadi istriku, ‘kan?!” ucap Sehun langsung keintinya seraya berkacak pinggang “Apa Luhan sungguh-sungguh ingin menjadi istriku?!”

 

Luhan terdiam seusai mendengar pertanyaan Sehun. Bocah manis itu berkenip beberapa kali tanpa melepaskan tatapannya dari Sehun…ia berpikir, sesuatu mengenai teman baiknya Sehun, anak lelaki yang tampan dan baik hati, sopan, selalu menolong dan membuatnya tertawa walau dalam keadaan bersedih. Ia menyukai Sehun. Sudah pasti─

 

Dan akhirnya, bocah berparas imut itu pun mengangguk mantap.

 

“Iya! Tentu saja aku sungguh-sungguh ingin menjadi istrinya Sehun!”

 

“Kalau begitu kau harus berjanji.” Sehun mengangkat kelingking kanannya “Kita berjanji kepada bintang…”

 

“Kepada bintang? Apa yang harus kulakukan?”

 

Sehun tersenyum, ia meraih sebelah tangan Luhan untuk kemudian menautkan kelingking mereka berdua. Satu yang berparas lebih manis hanya diam dan menurut, kemudian Sehun berkata “Ayo berjanji, janji! Kalau tidak menepatinya, akan dilempar jauh keluar angkasa!”

 

“Baiklah, aku mengerti! Siapa yang melanggar akan dilempar jauh keluar angkasa!” sambung Luhan secara spontan.

 

Keduanya pun tertawa kecil setelah itu…dan dengan kelingking yang masih saling terkait, Luhan dan Sehun melangkah menyusuri jalan menuju rumah masing-masing.

 

Mungkin setelah ini, hari-hari keduanya akan terasa lebih spesial.

 

● ● ● ● ●

Karena kenangan…adalah bukti bahwa kita tidak pernah dan tidak akan pernah menjalani hidup sendirian.

 

 

~OWARIMASHITA~

 

Udah!

Panjang ya!

Membosankan pula…okesip iya saya tau -___-

Ini yg kisah Baekyeol inget sama sepupu saya yg pada suka maen kartu.

Kalo misalnya ada kisah yg mirip, maaf itu bener-bener ga disengaja. Ato mungkin saya pernah baca kisah tersebut, namanya juga pikiran manusia kan saling berkaitan.

 

Arigatou!

104 thoughts on “ONESHOT | Memories |

  1. too much fluff. cute overload. KYAAAAAA❤
    dan keempatnya merupakan pairing favotit. Hunhan, Baekyeol, Kaisoo, Taoris :'3

  2. […] Memories sesungguhnya, tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan…ia hanya bersembunyi di sudut terdalam kotak kenangan dikepala kita dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali. Jadi ada couple lain juga disini 😀 semuanya chibi aaaa unyu kan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s