Silent Eyes Chapter 5

Silent Eyes update ~

Sorry. *deep bow* baru bisa update sekarang. Mungkin di Chapter ini kurang memuaskan. Aku minta maaf sedalam- dalamnya jika kecewa atas lanjutannya *merenung bareng Luhan*  Lanjut baca aja dan jika berkenan tinggalkan pesan. Agar aku tahu bagian mana dari FF ini yang harus di perbaiki. Terima kasih kesediaan untuk membaca ff aku.

Oh, ya. jika tidak suka bias atau idola nya saya pakai untuk ff ini, jangan baca ya. karena buat FF itu tidak semudah yang dibayangkan. Sudah diperingatkan sejak awal,  jika masih mengirim kecaman atau BASHING ke personal kontak Author. Dengan berat hati lebih baik tidak usah membaca FF di Blog ini. Maaf, saya sudah terlalu lelah dengan komentar seenaknya. Maaf sekali lagi.

 

DAN PARA GOOD READER yang kami cintai..  *nyanyi bareng Suho*

 

THIS FANFICTION SPECIAL FOR ALL OF RUNRUNKA’S READER!

 

ENJOY!

   

 line

 

Silent Eyes

CHANBAEK – KAIBAEK FanFiction

 TWWLk

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Kim Jongin

Main Pair : ChanBaek – Kaibaek

Other : Lu Han – Oh Sehun – Wu Fan / Kris – Huang Zitao / Tao – Do Kyungsoo – Kim JoonMyeon / Suho

Other Pair : HunHan / TaoRis / SuDo / KaiHan

Genre : Angst , Drama, Romance, School Life, Hurt, Tragedy

Words : 9100 

WARNING : YAOI / BL/ BOY X BOY / BOYS LOVE

 

FOR 15+ ONLY

 

Dont read my fanfiction if you dont like I used your bias with my own create character ^^

Thanks and Iam so sorry #bow

 

HOY PARA HANTU, I WARN YOUUUUUU!!!! *tendang bareng Lay*

 

 

“…Maafkan aku.. Kumohon.”

 

Chapter 5

 

“Haah—Maaf, tolong lepaskan aku!!” ronta Baekhyun sembari menggerakkan tangannya. Dekapan hangat itu… sempat membuat Baekhyun terdiam sesaat namun ia sadar betul bahwa ia harus tetap waspada. Apalagi Baekhyun tidak tahu siapa yang memeluk tubuhnya kini. Yang ia rasakan hanya sepasang tangan hangat dan besar melingkupi tubuh mungilnya lalu surai halus yang menyentuh wajah serta tengkuknya. Baekhyun bisa menangkap bahwa yang memeluknya adalah seorang lelaki. Akan tetapi tetap saja Baekhyun tidak bisa mengenali siapa orang tersebut.

 

Walau… jujur saja Baekhyun merasakan dadanya berdenyut sakit saat mendengar suara berat namja tersebut. Benar…. suara berat..

 

… suara berat yang ia rasa pernah ia dengar.

 

 

“Kumohon! Tolong lepaskan!” Baekhyun mulai was was, pasalnya pelukan tersebut tidak juga terbuka dan Baekhyun… mulai takut sekali.

 

“Maaf…”

 

Kembali Baekhyun mendengar ucapan ‘Maaf’ dari lelaki tersebut melantun lirih. Tertangkap oleh pendengaran tajam Baekhyun. Demi Tuhan, Baekhyun tidak mengerti. Dan mengapa tubuh Baekhyun bergetar… bulu kuduknya, bisa ia rasakan meremang. Tubuh Baekhyun memberi respon aneh.. benar! Tubuhnya merespon..

 

..tetapi Baekhyun sama sekali tidak bisa mengerti.. kenapa?

 

“Aku tidak mengerti dengan apa yang anda katakan!” Baekhyun menggerakkan tangannya berusaha melepaskan pelukan lelaki yang masih mendekapnya. “Kumohon!!!”

 

 

 

 

Suara Baekhyun yang mulai bergetar menyentakkan Chanyeol. Perlahan lelaki tampan tersebut melepas pelukannya, mata besar Chanyeol nampak begitu sayu.. memandang mata kosong Baekhyun. Memandang sebuah mata kosong bening yang kini membuat Chanyeol seakan ingin berteriak meminta ampunan Baekhyun. Mengemispun ia sudi…

 

 

“Apa yang anda lakukan?! Siapa anda? Jangan lancang memeluk tubuhku!” Baekhyun mencoba mempertahankan diri. Ia terlihat amat waspada. Apakah karena ia buta, seseorang bisa memperlakukannya dengan seenak hati? Maaf, Baekhyun pasti akan menendang siapa saja yang berani mengusik atau meremehkannya. Berusaha mempertahankan diri salah satu insting manusia, bukan?

 

 

Tapi… Chanyeol menangkap sebuah keganjilan lain…

 

 

-‘Siapa anda?’-

 

Chanyeol mengerutkan dahinya. Sepertinya Baekhyun sama sekali tidak mengingat dirinya. Tidak mengingat— atau tidak tahu? Tunggu! Lebih baik seperti ini, bukan? Chanyeol benar- benar kewalahan memikirkan apa yang harus ia lakukan jika bertemu lagi dengan Baekhyun.. karena satu hal tentunya. Chanyeol lah awal dari seluruh petaka yang terjadi didalam hidup Baekhyun. Chanyeol lah awal dari seluruh kegelapan didalam hidup Baekhyun walau… yang menabrak Baekhyun hingga buta bukanlah Chanyeol.

 

Dan kini…. Baekhyun sama sekali tidak mengingatnya? Aneh, apakah Baekhyun tidak mengenali suaranya walau kini ia tidak bisa melihat? Ah—bisa jadi jika Baekhyun bisa melihat, ia akan tahu siapa Chanyeol dan mungkin saja kini Chanyeol akan habis diamuk oleh Baekhyun lalu diseret kekantor polisi.. Tetapi, kini takdir berkata lain. Baekhyun tidak tahu –bahkan tidak menyangka- Chanyeol, lelaki yang memperkosanya kini berhadapan langsung dengan dirinya.

 

Apakah ini kesempatan dari Tuhan untuk memperbaikinya?

 

Chanyeol tersenyum lega –meski tidak seharusnya ia lega- dan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baekhyun memiringkan kepalanya karena tahu bahwa lelaki yang kini ada dihadapannya tengah terkekeh. Apa- apaan orang itu? Baekhyun mulai merasa was- wasan pada sosok yang tidak ia ketahui itu. pikiran lain mulai merasuki Baekhyun, jangan- jangan orang yang kini tengah berada dihadapannya memiliki maksud jahat? Atau…

 

“Ak-“

 

“Kau mengenalku? Apa kita saling mengenal dahulunya?” Baekhyun memotong pembicaraan Chanyeol. Setidaknya hal itu yang diduga oleh Baekhyun awalnya.

 

Terselip ide diotak Chanyeol. Yah, Chanyeol bukanlah tipe manusia yang ingin memusingkan hal mudah didalam hidupnya. “Ya. Kita saling mengenal. Ah, bukan! Bukan! Hanya aku yang mengenalmu. Kau mungkin tidak mengetahui siapa aku, Byun Baekhyun-sshi. Akan tetapi aku penggemar berat suaramu yang indah. Angelic voice!”

 

Baekhyun mengerjapkan matanya dan tersenyum kaku. “Kau bahkan mengetahui julukanku sebagai ‘Angelic Voice’?”

 

“Tentu saja! Aku ini penggemar rahasiamu.. kita—“ Chanyeol terhenti untuk berfikir sejenak. “…Kita satu sekolah saat Sekolah Menengah Pertama. Kau tidak ingat?”

 

“Jadi kau murid Sekolah Menengah Pertama Namsam?”

 

Chanyeol kembali bersyukur karena Baekhyun memberitahu sendiri perihal sekolah menengah pertama tempat ia bersekolah. Sempat Chanyeol takutkan jika Baekhyun bertanya apakah benar Chanyeol satu sekolahan dengannya saat SMP. Pertanyaan seperti, nama sekolah mereka misalnya.

 

“Ya~ Namaku Park—“ Chanyeol kembali diam.

 

“Park?” Baekhyun mengulangi karena Chanyeol terdiam.

 

“Panggil saja aku Park Chan.”

 

“Park Chan?”

 

Chanyeol mengangguk, walau ia yakin Baekhyun tidak akan melihatnya. Chanyeol hanya berfikir, lebih baik jika Baekhyun tidak memanggilnya Chanyeol. Entah mengapa ia hanya takut jika nantinya Baekhyun memanggilnya dengan nama itu.

 

“Baiklah, Park..Chan..  aku harus membeli sesuatu ke Mini Market. Sampai bertemu lagi.”

 

“A—Ah! Kebetulan aku juga akan kesana. Bagaimana kalau kita pergi bersama- sama, Baekhyun-sshi.”

 

Baekhyun mengerjapkan matanya dan terkekeh pelan. Ia mengangguk manis dan tangannya kemudian menggapai kearah Chanyeol. Masih belum mengerti, Chanyeol hanya menatap telapak tangan Baekhyun yang mulai mengarah pada tubuh Chanyeol.  Akan tetapi Baekhyun tidak menemukan wajah Chanyeol, tangan putih Baekhyun malah menyentuh dada Chanyeol.

 

Hal itu membuat Chanyeol terkejut, tentu saja. Mengapa Baekhyun memegang dadanya? Namun apa yang bisa Chanyeol lakukan.. ia hanya diam memandangi wajah cantik Baekhyun. Membiarkan Baekhyun mendengar degupan jantung Chanyeol yang seperti ingin meledak.

 

“..Maaf, aku ingin menyentuh wajahmu.. Ternyata tubuhmu tinggi sekali.” Baekhyun melepaskan tangannya dari dada Chanyeol. Sebenarnya Baekhyun mendengar degupan Chanyeol yang berantakan. Tapi.. ia tidak mau terlalu banyak bertanya.

 

“Mengapa ingin menyentuh wajahku?”

 

“Aku ingin menghapal wajahmu.. bukankah kita akan berteman? Dengan menelusuri wajahmu dengan tanganku.. aku bisa memprediksi seperti apa wajahm.”

 

DEG

 

Chanyeol membulatkan matanya dan mundur selangkah. Hampir saja! Chanyeol menelan kasar liurnya dan menghela nafas lega. Bagaimana tidak, jika Baekhyun tadi berhasil menggapai wajahnya dan menelusuri wajah Chanyeol. Bisa jadi yang terbayang oleh Baekhyun… adalah sosok Chanyeol yang pernah ia lihat bukan?

 

Sosok yang memperkosa, Baekhyun.

 

Walau ia tidak sepenuhnya yakin, akan tetapi setelah mendengar teriakan Baekhyun tadi pagi, Chanyeol menyimpulkan Baekhyun masih ingat dengan jelas wajah siapa yang memperkosanya.. lebih tepatnya wajah Chanyeol.

 

“Mungkin saja aku bisa mengingat wajahmu jika kita dahulu memang pernah satu sekolah.”

 

Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun begitu waspada pada kenyataannya. Wajah Baekhyun yang cantik dan rapuhnya bukanlah bukti untuk diremehkan. Walau nampak ia mudah percaya, sebenarnya Baekhyun begitu hati- hati.

 

“Wajahku… sangat jelek. Aku tidak mau kau.. membayangkannya.. pasti akan lebih jelek.” Chanyeol tidak kehabisan akal.

 

Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan melipat tangan didada. “Lalu.. bagaimana caranya aku menghapal dirimu, Park Chan?”

 

Demi Tuhan, nama itu sangat aneh sebenarnya. Apalagi jika suara mungil nan merdu Baekhyun yang menyebut. Namun Chanyeol harus terbiasa, toh yang menyuruh Baekhyun untuk memanggilnya dengan sebutan itu adalah dirinya sendiri.

 

“Kau bisa mengetahui diriku dari suaraku, bukan? Kurasa tidak sulit.. yang mempunyai suara sepertiku didunia ini tidak banyak. Suaraku besar dan sexy.” Ingat satu hal, Chanyeol amat lihai berkilah. Dan semua yang ia katakan cukup meyakinkan untuk Baekhyun.

 

Baekhyun mengerjapkan matanya lucu kemudian membekap mulutnya sendiri. “Hmpph! Hahaha.. Iyaaa, sepertinya bisa kuhapal dengan cepat. Kau ternyata cerewet sekali.. berbeda dengan Kai.”

 

Chanyeol mengerutkan keningnya saat nama ‘Kai’ disebut oleh Baekhyun. Ah, benar juga. Nama Kai adalah nama yang ia dengar tadinya ketika trauma Baekhyun bangkit dini hari. Namun belum sempat Chanyeol bertanya, Baekhyun sudah berjalan mendahuluinya. Chanyeol terpaksa menyimpan pertanyaannya lalu mengikuti Baekhyun dengan berjalan disampingnya.

 

 

Siapa Kai itu, Baekhyun?

 

 

 

Kini datang Bulan dan Matahari dihidupmu

Mana yang akan kau pilih?

Tetap di kegelapan malam namun Bulan itu menerangimu?

 

Atau..

Memilih teriknya siang namun kau tidak bisa melihat matahari itu?

 

 

 

Kai terbangun dengan mata mengerjap perlahan. Ia mengusap wajahnya lalu memperhatikan sekeliling. Baru ia sadari Baekhyun sudah tidak lagi tertidur disampingnya. Ia duduk dengan terburu- buru. Mengamati kembali sekelilingnya dengan teliti.

 

“Baekhyun?!” panggil Kai sembari bangkit dari ranjang. Ia merapikan pakaiannya sejenak dan kembali memperhatikan kamar pemuda cantik tersebut. Dan ia yakin Baekhyun benar- benar tidak ada didalam sana. Kai berjalan cepat menuju pintu kamar Baekhyun dan membukanya.

 

 

 

“Nak, kau sudah bangun.” Spaa Ibu Baekhyun yang ternyata sedang membersihkan beberapa majalah didekat ruang televisi.

 

 

“Se- Selamat pagi, ahjumma.” Sapa Kai dengan sopan sembari menunduk.

 

 

“Selamat pagi, nak Kai. Ah.. Baekhyun sedang keluar membeli teh jepang ke supermarket didekat sini.” Jelas Ibu Baekhyun ketika melihat Kai yang berwajah tegang. Dan tentu saja setelah mendengarkan penjelasan ibu Baekhyun, Kai merasa lega. Dia pikir Baekhyun pergi kemana.

 

“Dia sudah baik- baik saja, ahjumma? Aku khawatir..”

 

Ibu Baekhyun berdiri dan menepuk pelan rok yang ia gunakan. “Dia anak yang kuat, nak. Dia bahkan sudah bisa melakukan apapun sendirian.. walau awalnya perlu bantuan. Akan tetapi.. Baekhyun selalu membuktikan bahwa ia amat mandiri.”

 

Kai tersenyum manis kemudian mengangguk, membenarkan ucapan ibu Baekhyun. Hal itulah yang membuat Kai sangat teramat sangat kagum kepada Baekhyun. Walau sebenarnya ia mengkhawatirkan Baekhyun yang pergi sendirian. Kai harus percaya Baekhyun bisa melakukan semuanya sendirian. Jika Kai, orang terdekat Baekhyun saja tidak percaya bahwa Baekhyun bisa mandiri, bagaimana caranya pemuda manis itu mempertahankan dirinya jika tidak ada siapapun disisinya?

 

 

Maka dari itu… Kai akan terus mempercayai Baekhyun.

 

 

 

“Ahjumma.. aku pinjam kamar mandi sebentar.” Izin Kai sopan.

 

“Silahkan, nak. Kamar mandi Baekhyun sudah bibi bersihkan tadi.” Ibu Baekhyun tersenyum , kini beliau sedang memindahkan beberapa makanan kemeja makan. “Setelah itu, bantu bibi menyiapkan makanan, ya.”

 

Kembali Kai tersenyum. Ia mengangguk mantap dan berbalik masuk kedalam kamar Baekhyun. Ibu Baekhyun sudah ia anggap seperti ibunya sendiri- jika boleh bicara seperti itu. Keluarga Baekhyun  juga sudah memperlakukan Kai seperti anak mereka. Contohnya saja, Ibu Baekhyun tidak pernah segan lagi meminta bantuan Kai. Itu semua karena mereka sudah memiliki ikatan yang erat dan berangsur- angsur menjadi jauh lebih dekat.

 

Dan keberadaan Baekhyun selalu membuat Kai bersyukur. Ia bersyukur karena ia bertemu dengan Baekhyun. Ia bersyukur mengenal Baekhyun… Ia bersyukur.

 

 

 

 

Sementara itu, Baekhyun tengah sibuk memilih beberapa bungkus teh jepang. Baekhyun memilih dengan cara menciumi bungkusan teh tersebut untuk menciumi aroma. Agar Baekhyun bisa memilih teh mana yang selalu dibeli dan disukai oleh orangtua-nya. Chanyeol hanya mengamati Baekhyun yang sedari tadi menciumi satu persatu bungkusan teh tersebut. Dia mengamati setiap kelakuan Baekhyun sedari tadi tanpa berkedip.

 

“Hey, tidak mungkin kau menciumi lebih dari 30 bungkus teh jepang, bukan?” buka Chanyeol ikut menciumi beberapa bungkusan teh jepang, meniru Baekhyun.

 

“Jika tidak seperti ini.. aku tidak tahu mana yang—“

 

“Ini.” potong Chanyeol cepat lalu memberikan sebungkus teh jepang tepat ditangan Baekhyun. “Ini produk yang biasa ada di Korea.”

 

Baekhyun mengerjapkan matanya dan menciumi bungkusan teh jepang tersebut dan… benar saja! Inilah teh yang biasa dibeli oleh ibunya. Ia mengarahkan wajahnya pelan kearah Chanyeol yang berdiri disamping kanan. Senyuman manis mengiasi wajah Baekhyun ketika itu, berhasil mengubah reaksi tubuh Chanyeol sekejap. Bisa Chanyeol rasakan wajahnya memanas dan hatinya begitu bergejolak ketika wajah Baekhyun terlihat amat manis seperti itu.

 

“Terima kasih, Park Chan..”

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

“Y—Ya.. sama- sama.” Jawab Chanyeol sembari menggaruk kepalanya. Senyuman kaku yang Chanyeol yakini tidak akan dilihat oleh Baekhyun… dan Chanyeol tahu wajahnya terlihat aneh. Akan tetapi rasanya ada sesuatu yang menyenangkan.. benar, padahal baru beberapa menit ia bersama Baekhyun. Tetapi mengapa rasanya begitu menyenangkan? Padahal Chanyeol menyangka tidak akan sesenang ini bertemu dengan Baekhyun. Karena permulaan ikatan takdir mereka bukanlah mula yang baik. Bukan—

 

Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju kasir, Chanyeol terpaksa membeli sekotak biskuit. Tentu saja agar Baekhyun benar- benar menyangka jika Chanyeol memang berniat membeli sesuatu di supermarket tersebut. Baekhyun dengan amat telaten menyapa penjaga kasir dan membayarnya, Chanyeol mengerti bahwa Baekhyun mungkin acap kali kemari dan ia nampak akrab. Walau Baekhyun buta, penjaga kasir tersebut jujur mengembalikan uang kembalian Baekhyun. Ah, manusia pasti memiliki sisi hati yang baik walaupun sedikit.

 

 

Setelah Chanyeol dan Baekhyun membayar, kedua pemuda tersebut kembali berjalan menuju apartemen. Awalnya keheningan mendominasi sampai akhirnya, Baekhyun memulai pembicaraan.

 

 

“Kau baru pindah keapartemen ini?”

 

Chanyeol mengangguk pelan –walau ia tahu Baekhyun tidak akan melihatnya. “Ya.. Setelah aku pindah kesini aku malah bertemu denganmu lagi.. sungguh keajaiban.”

 

“Kau terlalu berlebihan.. hihihi.. tapi jika memang seperti itu, sepertinya kita ditakdirkan untuk berteman. Dulu walau satu sekolah kita tidak pernah saling menyapa, bukan?”

 

 

Deg

 

Sekejap.. Chanyeol merasakan perasaan bersalah yang amat membuncah. Oh Tuhan, dia membohongi pemuda lugu ini. Chanyeol benar- benar tidak tega sebenarnya akan tetapi jika ia jujur kini dan minta maaf sebagaimana mestinya.. apa Baekhyun akan baik- baik saja? Oke, Jika Baekhyun hanya sekali mengalami trauma namun jika pemuda berparas cantik tersebut malah mengalami stress berkepanjangan.. siapa yang bisa disalahkan?

 

Kadang kebenaran memanglah hal yang terbaik walau menyakitkan namun coba dipikirkan kembali… Baekhyun kini nampak sekali memendam dengan susah payah sakit dan penderitaan yang ia rasakan dulu. Memendam masa lalunya. Ia mencoba tegar dan mensyukuri apa yang telah terjadi pada dirinya.

 

 

Apakah bijaksana jika Chanyeol datang tiba- tiba dan meruntuhkan semua keteguhan hati Baekhyun?

 

 

Tidak adil—

 

 

 

 

[Baekhyun Point of View]

 

 

Mengapa dia terdiam tiba- tiba? Apakah aku salah bicara? Akan tetapi aku bisa merasakan bahwa ia sedang berfikir dengan keras. Langkahnya dan langkahku terdengar beriringan dan dia memang berjalan bersampingan denganku. Setidaknya aku yakin dia sedang berjalan.

 

Jujur saja aku sangat penasaran dengannya. Dengan apa yang ia katakan.. namanya yang aneh, aku yakin sekali nama itu bukanlah nama lengkapnya. Park pasti adalah marga-nya akan tetapi Chan.. Aku yakin ada sambungan namanya lagi. Hmm…

 

Hah?

 

Hey, hey.. mengapa aku malah memikirkan hal yang tidak penting seperti itu?

 

 

Perlahan, aku mendesah. Kini aku sudah masuk kedalam apartemen, aku bisa merasakan lewat aura sejuk dari pendingin ruangan dan beberapa orang yang sedang berbicara tidak jauh dariku. Kuyakini bahwa itu adalah suara satpam penjaga apartemen dan resepsionis. Pendengaranku ternyata menjadi jauh lebih tajam. 

 

 

“He? Baekhyun.. kita menggunakan lift saja. Tadi juga kita menggunakan tangga, bukan?” tanya pemuda bernama Park Chan ketika aku masih saja melangkah mendekati tangga. Aku tahu, kami baru saja melewati lift. Tetapi.. mengapa dia mulai mengaturku? Aku biasa menggunakan tangga.

 

“Heh, Sejak kapan kau boleh memanggil namaku seakrab itu, Park Chan-sshi?” Benar saja, seperti Park Chan ini adalah orang yang berbeda dari Kai. Jauh berbeda maksudku. Dia amat cerewet tadinya tetapi sesaat yang lalu ia diam (mengacuhkanku) kemudian berbicara banyak. Bahkan memanggil namaku dengan akrab. Dia benar- benar aneh dan membuatku sebal.Namun aku pikir dia anak yang cukup terbuka. Langsung mengatakan apa yang ada didalam pikirannya. Dan…

 

Haaa!!!!

 

Tunggu! Kini ia menarik tanganku untuk.. Menuju lift? Baiklah, sepertinya dia juga manusia yang cukup lancang karena langsung menarik tanganku sebelum sempat aku menjawab ucapannya. Dan tolong ingatkan aku perihal kelakuannya tadi yang langsung memelukku begitu saja ketika kami bertemu.

 

Tidak sopan!!!

 

 

[Normal Point Of View]

 

 

“Park Chan! Lepaskan aku!” Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Chanyeol cukup keras. Ia benar- benar tidak suka disentuh- sentuh orang orang yang belum ia anggap dekat. Apalagi pemuda bernama Park Chan yang baru saja ia kenali kurang dari 15 menit yang lalu.

 

“Ya!! Jangan seperti itu, Baekhyun. Kau bisa terjatuh.” Chanyeol dengan sigap menangkap tubuh Baekhyun yang sedikit oleng karena ia menarik paksa tangannya dari tangan Chanyeol. Tangan Chanyeol melingkar dipinggang kecil kurus Baekhyun. Kali ini maksud Chanyeol benar- benar baik, namun Baekhyun langsung melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya.

 

“Kau benar- benar tidak sopan sekali, Park Chan!!” Baekhyun mengarahkan wajahnya yang tertekuk menuju Chanyeol. Akan tetapi karena Baekhyun tidak tahu perkiraan wajah Chanyeol berada dimana, Baekhyun menatap searah dada pemuda tinggi tersebut. Tentu saja membuat Chanyeol amat gemas karena tingkah Baekhyun. Apalagi sosok mungil dihadapannya tengah merajuk, menggembungkan pipi kesal.

 

Ting

 

Lift dihadapan mereka sudah terbuka, dan itu tidak mengalihkan sedikitpun pandangan Chanyeol dari wajah Baekhyun. Membiarkan lift itu kembali tertutup setelah beberapa saat terbuka tanpa ia dan Baekhyun masuki. Kembali Baekhyun merasakan tidak ada pergerakan dari Park Chan, Baekhyun mengira pemuda itu sudah menaiki lift sendirian dan meninggalkannya sendirian disana. Baekhyun yang tidak sadar Chanyeol masih disana kemudian berbalik badan untuk kembali berjalan menuju tangga.

 

“Yaah!! Kau mau kemana?” pekik Chanyeol ketika Baekhyun meninggalkannya.

 

“Eh?” Baekhyun berhenti karena mendengar suara berat itu memanggilnya. Perlahan dan dengan hati- hati Baekhyun berbalik tubuh. “Kau masih disana?”

 

Chanyeol menghela nafas panjang dan berjalan mendekati Baekhyun. Kembali ia gemas melihat tingkah pemuda cantik dihadapannya. Baekhyun sedang memiringkan wajahnya seraya mengerjapkan mata. Polos.

 

“Tentu saja aku masih disini. Memangnya kau kira aku kemana?”

 

“Sudah naik kelantai atas menggunakan lift. Aku mendengar suara pintu lift terbuka dan tertutup. Salah sendiri, mengapa kau suka sekali diam dan mengacuhkanku?” kali ini jari mungil Baekhyun ikut menunjuk kearah Chanyeol. Tetapi tetap saja arahnya tidak begitu tepat. Jangan lupa, Baekhyun sama sekali tidak bisa melihat.

 

Chanyeol tersenyum tipis dan mengarahkan tangan Baekhyun kearah dadanya. Mengetuk jari telinjuk Baekhyun pada dada Chanyeol sendiri. “Ini dadaku dan..” lalu Chanyeol membawa tangan Baekhyun sedikit terangkat keudara, mengarahkan jemari tangan Baekhyun agar menyentuh pipi kenyal Chanyeol. “.. wajahku disini.”

 

DEG

 

Baekhyun membulatkan matanya ketika ia merasakan tangannya menyentuh kulit kenyal dari pipi Chanyeol. Ia rasakan sebuah rasa.. entah apa itu, bergejolak didalam dadanya. Ia sedang tidak menjamahi wajah Chanyeol untuk memperkirakan rupa pemuda itu, kulitnya hanya bersentuhan dengan kulit wajah Chanyeol… Namun mengapa dadanya tiba- tiba bedetak kencang?

 

Mengapa ia harus merasakan sebuah gejolak hati yang tidak ia mengerti secara tiba- tiba?

 

 

“Jadi… jika kau ingin menunjukku, arahkan tepat kewajahku. Tunggu! Tapi itu tidak sopan! Jangan dilakukan… dan..  Kau bisa memperkirakan dimana wajahku, kan?” Chanyeol masih berbicara  panjang lebar tanpa mengindahkan ekspresi wajah Baekhyun yang nampak bersemu. Tetapi, itu hanya sesaat saja.. Karena Chanyeol mengetahui bahwa kini wajah Baekhyun memerah.

 

 

“Ma—Maaf!” Chanyeol melepas tangannya dari tangan Baekhyun. Pemuda cantik tersebut tersenyum kaku. Kini malah semburat merah nampak menghiasi wajah tampan Chanyeol. Mereka berdua menjadi sedikit kaku akibatnya.

 

 

“Ahh.. aku harus cepat.” Baekhyun mencoba melepas suasana kaku tersebut dan kembali berjalan menuju tangga. Chanyeol kemudian mengikuti Baekhyun setelah menghela nafas. Ketika menaiki tangga mereka tidak berbicara terlalu banyak, bahkan hening sama sekali. Walau begitu Baekhyun tahu Park Chan—Chanyeol, berada dibelakangnya. Berjalan menaiki tangga bersama dirinya.

 

Langkah Baekhyun dan Chanyeol terus terangkai hingga mereka tiba didepan apartemen Baekhyun. Benar, Chanyeol masih berada dibelakang Baekhyun dan itu membuat Baekhyun sedikit heran. Mau apa Park Chan mengikutinya?

 

Baekhyun membalikkan tubuhnya cepat, reflek membuat Chanyeol mundur satu langkah dan tersenyum kaku. Ia tahu betul Baekhyun tidak akan melihat senyumnya, tapi tetap saja pemuda tampan berbadan tinggi itu sangat berekspresi.

 

“Apartemenmu dimana, Park Chan?” tanya Baekhyun sembari menghela nafas.

 

“Disebelah apartemenmu, Baekhyun.” Jawab Chanyeol polos.

 

Baekhyun kembali mengerutkan kening. Bagus, kini Chanyeol benar- benar memanggilnya dengan nama akrab Baekhyun sesuka hati. Sebenarnya tidak masalah, akan tetapi tidak ada salahnya berbasa- basi terlebih dahulu, bukan? Misalnya memanggil Baekhyun dengan Baekhyun-sshi terlebih dahulu. Tapi—Tunggu! Bukan itu permasalahannya!

 

“Maksudku bukan itu!!” Baekhyun mendengus. “Mengapa kau malah ikut berhenti didepan apartemenku jika apartemenmu ada disebelahnya?”

 

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tiba- tiba gatal. Kali ini ia harus berfikir cepat, hingga mata bulat Chanyeol menangkap apa yang ada ditangannya. Sesuatu yang terbungkus didalam kantung plastik putih. Ah! Chanyeol tersenyum mantap saat itu.

 

“Sebenarnya..” Chanyeol berlagak menghela nafas panjang. “.. aku ingin membeli beberapa kue untuk perkenalanku sebagai penghuni apartemen baru maka aku pergi kesupermarket. Lalu kita tidak sengaja bertemu. Jadi sekarang.. saatnya aku berkenalan dengan tetangga baruku.”

 

Baekhyun merasa jika alasan Park Chan masuk akal, ia kemudian mengangguk dan kembali berbalik badan dengan pelan. Ia arahkan tangannya menuju tombol bell dan betapa takjubnya Chanyeol ketika Baekhyun tahu dengan tepat dimana letak tombol bell tersebut. Padahal ia buta.. tetapi ia begitu cekatan dan.. gambaran mahkluk lemah pada sosok manusia buta perlahan memudar dimata Chanyeol. Ia tatap punggung kecil pemuda cantik yang kini menunggu pintu apartemen itu terbuka. Bolehkah…

 

 

 

Bolehkah Chanyeol bersandar dipunggung kecil itu nantinya?

 

 

 

Klek

 

Pintu apartemen Baekhyun terbuka, memperlihatkan seorang ibu yang tersenyum lega melihat Baekhyun- anaknya, kembali dengan selamat tanpa luka atau apapun tanda yang menandakan ia terluka atau terjatuh saat Baekhyun pergi tadi.

 

“Ibu sudah menunggumu, sayang.” Ibu Baekhyun tersenyum dan menggenggam tangan anaknya. Dan ketika itu ia menyadari sosok lain yang berdiri tegap dibelakang putranya. Sosok tampan dengan tubuh tinggi serta wajah ramah yang sedikit tegang.

 

 

“Siapa itu Baekhyun?“ bisik sang ibu.

 

“Ah! Ibu..” Baekhyun melepas tangan ibunya, seakan ia tahu sang ibu tengah menatap sosok yang ada dibelakangnya. “Ini Park Chan, dia tetangga baru kita yang menghuni apartemen nomor—“

 

“Nomor 007.” Jawab Chanyeol sembari tersenyum amat lebar. Walau dengan berhasil ia menyembunyikan perasaan tegang dan.. Takut. Sejak tadi sebenarnya Chanyeol sangat gugup. Kini ia malah bertemu dengan ibu Baekhyun, yang didalam pikiran Chanyeol dulu, Ibu Baekhyun pasti akan membunuhnya dengan keji. Kenyataannya, ibu Baekhyun tersenyum lembut kearahnya.

 

“Anda berkebangsaan Korea, nak?” tanya sang ibu berbasa basi.

 

“Nde, ahjumma. Park Chan imnida. Aku baru pindah dari Seoul beberapa hari yang lalu.” Chanyeol berusaha tersenyum sewajar mungkin.

 

“Dan dia ternyata satu sekolah denganku saat sekolah menengah pertama, ibu.” Sambung Baekhyun dengan senyuman manis, amat manis hingga membuat Chanyeol kembali terdiam. Sungguh, Baekhyun amat pandai memainkan jantung Chanyeol hingga sedemikian rupa.

 

“Omo~ Silahkan masuk, nak.” Ajak ibu Baekhyun kemudian sembari memegang tangan Baekhyun. Chanyeol mengikuti ibu dan anak tersebut dengan canggung. Ia merasa bahwa ia memasuki wilayah yang berbahaya. Sungguh, jika boleh  memilih Chanyeol mungkin jauh akan lebih lega jika ia masuk kedalam lubang buaya. Kini mereka berada diruang tengah.

 

 

 

“Baekhyun, maafkan ibu. Baru saja ayah menelpon bahwa ia tidak bisa datang karena ada sedikit urusan yang tiba- tiba harus diselesaikan.” Ibu Baekhyun mengusap rambut anaknya sayang. Ia melihat perubahan sedih diwajah Baekhyun, tentu saja. Anak itu pasti sangat rindu dengan ayah-nya. Chanyeol melihat wajah Baekhyun yang meredup, sedikit membuat hatinya terhenyak. Ah, andai saja raut wajah itu selamanya berseri bahagia?

 

“Tidak apa- apa, ibu. Aku sendiri yang memilih untuk hidup di China setelah.. tragedi itu.. hahaha.. aku tidak bisa memaksa ayah untuk mengunjungiku setiap saat.” Baekhyun mencoba tersenyum dan Chanyeol kembali tidak menyukai senyuman seperti itu menghiasi wajah Baekhyun.

 

“Ah—maaf, Park Chan.. kau diacuhkan untuk beberapa saat.” Baekhyun kemudian mengarahkan wajahnya kearah Chanyeol yang berdiri disamping kanannya.

 

“Tidak apa- apa.” Jawab Chanyeol mengangguk dan tersenyum kaku.

 

“Karena ibu sudah masak banyak.. bagaimana jika temanmu ini juga ikut makan bersama?” ajak ibu Baekhyun sembari menepuk tangannya pelan. Baekhyun mengangguk cepat dan memegang tangan Chanyeol. Sontak saja membuat Chanyeol membulatkan mata ketika Baekhyun menariknya kesuatu tempat. Kulit hangat Baekhyun menyihirnya untuk mengikut saja. Tidak membantah sama sekali.

 

 

 

Dan ketika mereka sampai ditempat yang dituju, yaitu dapur. Chanyeol melihat seorang pemuda yang tidak kalah tinggi sedang memindahkan sop hangat dari panci menuju cambung besar. Pemuda tampan berkulit coklat dengan tatapan mempesona dan dalam. Mata Chanyeol dan pemuda itu berpapasan dan terlihat pemuda itu mengerutkan keningnya. Lalu tatapan itu teralih pada Baekhyun.

 

“Baekhyun.” Sapa pemuda tampan yang meletakkan panci tersebut kembali keatas kompor. Ia hanya memindahkan sebagian sop kedalam cambung. Mendengar suara itu, Baekhyun tersenyum amat lebar. Tahu jantung Chanyeol terasa melompat ketika melihat senyuman lebar yang begitu bersinar milik Baekhyun. Cantik sekali!

 

“Kai!!” Baekhyun melepas tangannya dari tangan Chanyeol dan berjalan dengan hati- hati menuju tempat Kai yang masih berdiri didekat kompor. Mata Kai masih saja menatap Chanyeol yang tersenyum kaku dan tidak enak hati padanya. Namun Chanyeol kini berfikir satu hal. Oh, jadi pemuda ini yang bernama Kai?

 

 

“Hati- hati.” Peringat Kai ketika Baekhyun nyaris saja menabrak kursi meja makan. Tentu saja pemuda cantik tersebut hanya terkekeh dan melanjutkan jalannya ketempat Kai berada. Dengan senyuman amat manis, Baekhyun mengikuti Kai yang membawa cambung lumayan besar berisi sop hangat menuju meja makan. Tapi, mata Kai masih fokus kepada pemuda tampan bertubuh tinggi yang berdiri diambang pintu ruang makan dan dapur. “Siapa itu, Baekhyun?”

 

Baekhyun mengerjapkan mata kemudian mengarahkan pandangannya ketempat Chanyeol, yah dia hanya memperkirakan tempat dimana Park Chan berada. Kemudian tangan Baekhyun mengarah kesana, walau kelihatannya meleset karena Chanyeol tidak berdiri tepat diarah tangan Baekhyun tuju. “Park Chan.. kemarilah. Berkenalan dahulu dengan sahabatku, Kai.”

 

Chanyeol menghela nafas dan berjalan menuju tempat Baekhyun serta Kai. Lalu memegang tangan Baekhyun yang salah arah. “Aku disini.”

 

Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan tersenyum manis sekali setelahnya. “Hmm.. Kau ini.”

 

Kai berinisiatif untuk mengarahkan tangannya pada Chanyeol terlebih dahulu. Pemuda berkulit lumayan coklat tersebut memberi senyuman ramah dan hangat. “Namaku Kai.”

 

Chanyeol tergagap sejenak dan melepas tangan Baekhyun yang tadi ia genggam. Ia sambut uluran tangan Kai, membalas dengan senyuman yang tak kalah kaku. “Park Chan. Tetangga baru. Kau tinggal disini?”

 

“Tidak. Ada sebuah alasan hingga aku harus menginap disini semalam.” Jawab Kai sopan kemudian melirik Baekhyun yang berada diantara dirinya dan Chanyeol. “Baekhyun, maaf aku memakai pakaianmu setelah aku mandi.”

 

Baekhyun mengerjapkan matanya dan terlihat semburat merah menghiasi wajah cantiknya. Bibir mungil Baekhyun mengulas senyuman malu- malu. Tidak sadar jika mengakibatkan kedua pemuda tampan yang berdiri didekatnya terhipnotis.

 

“Tidak apa- apa..” balas Baekhyun dengan suara kecil. Sebenarnya Baekhyun tengah berteriak didalam hati karena Kai mengenakan bajunya. Ia merasa senang, entah mengapa.  

 

Kai menggaruk kepalanya dan kembali memindahkan beberapa minuman kemeja makan. Chanyeol yang tidak tahu harus melakukan apa hanya menatap plastik yang dari tadi ia genggam. Lalu meletakkan nya diatas meja. “Baekhyun.. ini biskuit dariku.”

 

Baekhyun mengangguk dan mencoba menggapai biskuit yang Chanyeol berikan, dan kembali Chanyeol membantu Baekhyun dengan mendorong kotak biskuti tersebut ketangan Baekhyun. “Biskuit apa ini?”

 

“Hmm.. kurasa..” Chanyeol melirik biskuit yang memang ia ambil sembarangan saja. “Biskuit rasa banana milk dengan krim madu? Ah, biskuit ini apa tidak terlalu manis?.”

 

Baekhyun mengerjapkan mata dan mengarahkan wajahnya kepada Chanyeol. Dan kali ini tepat, mata Baekhyun tepat menatap lurus kearah Chanyeol. Sepertinya pemuda manis itu sudah bisa memperkirakan tinggi badan Chanyeol. “Kau tahu, ya?”

 

“Ha?” Chanyeol tidak mengerti.

 

“Kesukaanku.”

 

 

DEG

 

 

Chanyeol langsung mengerti kali ini, apakah biskuit itu adalah biskuit kesukaan Baekhyun? Oh Tidak, ternyata Tuhan memang baik sekali padanya. Dengan bangga, Chanyeol tersenyum dan menepuk- nepuk pundak sempit Baekhyun. “Bagaimana ya~”

 

“Kau stalker?” kali ini Baekhyun mundur selangkah sembari memeluk kotak biskuit yang diberikan Chanyeol padanya.

 

“Mwo? Tidaakkkk! Mana mungkin! Aku hanya tidak sengaja membelinya. Jika itu memang kesukaanmu.. syukurlah, berarti kau menyukainya, bukan?” Chanyeol cepat- cepat menengahkan. Ia paling tidak suka dituduh seperti itu. yah, Chanyeol itu lelaki yang sangat populer dan selalu saja dia yang akan menuduh banyak orang sebagai stalker-nya. Ia juga membenci stalker. Pemuda tampan itu sudah sering sekali diuntit atau diikuti. Tidak sudi sekali jika ia dituduh sebagai penguntit atau stalker.   

 

“Hey, tidak perlu marah seperti itu.” Baekhyun kembali mengerucutkan bibirnya.

 

“Aku tidak marah.” Chanyeol menghela nafas pelan. “Kau mau? Sini aku bukakan.”

 

Baekhyun mengangguk. Dengan polosnya, Baekhyun memberikan kotak biskuit itu pada Chanyeol. Sejenak Chanyeol ingin sekali tertawa akan tetapi ia tahan saja, takut Baekhyun berkomentar macam- macam. Dan ketika itu Chanyeol menuntun Baekhyun duduk dikursi makan, bersamaan dengannya yang sudah membukakan kotak biskuit untuk Baekhyun. Wangi biskuit yang amat ia sukai tersebut dapat melukiskan senyuman mantap dari bibir Baekhyun. Ia mengambil biskuit dengan cepat dan memakannya.

 

“Terima kasih.” Sahut Baekhyun disela- sela kegiatannya mengunyah biskuit itu.

 

Chanyeol mengamati Baekhyun dengan diam. Jujur saja, sesuatu membuatnya lega dan sesak disaat yang bersamaan. Dia senang melihat Baekhyun ternyata bisa seceria ini, tidak terus dibayangi masa- masa kelam yang ia alami dahulu. Dan sesak saat ia membayangkan bahwa mata itu tidak berfungsi lagi karena dirinya. Sesak saat ia ketahui bahwa Baekhyun.. pemuda yang memulai masa kelamnya sejak hari dimana Chanyeol tidak sengaja menyentuh paksa dirinya… kini berada dhadapannya.

 

 

 

Ketakutan terbersar Chanyeol selama ini sedang ada dihadapannya.

 

 

 

Dengan polos, kini sosok malaikat itu tersenyum kearah Chanyeol bersama remah biskuit disekitar bibir mungilnya. Mengerjapkan mata sipitnya yang sayu.. seharusnya—

 

 

—seharusnya mata itu melihat sosok sempurna Chanyeol.

 

 

Dan seketika itu, Chanyeol bersumpah. Semenjak ia hidup dan bernafas dimuka bumi ini. Sejak ia ada dan selalu saja membanggakan apa yang ia miliki adalah nyata atas keberuntungannya. Sejak—

 

 

Kini.. sosok sombong itu…

 

 

 

.. bersumpah ingin menangis dan menyesal ada didunia ini.

 

 

 

Jangan lari!!

Lihat disana…

Hukumanmu adalah nyata—

 

Sudah kubilang, bukan?

 

Mustahil bisa lepas.

 

 

 

 

Kai mengamati Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di meja makan. Dari tadi Kai sebenarnya mengamati Chanyeol dan Baekhyun yang terlihat.. mengapa mereka begitu akrab padahal -mungkin saja- mereka baru kali ini bertemu?

 

Bukan, bukan rasa cemburu yang Kai rasakan.

 

Dia hanya merasakan adanya keanehan dengan pemuda bernama Park Chan tersebut. Pemuda itu menatap Baekhyun dengan mata yang seperti memohon. Bukan.. mata bulat Chanyeol menatap Baekhyun seolah pemuda itu ingin melindungi Baekhyun. Pemuda tampan itu menyimpan sesuatu disorot pilunya.  

 

Apakah berlebihan jika Kai merasakan bahwa pemuda bermana Park Chan itu ada kaitan sebelum ini.. dengan Baekhyun?

 

 

Terlalu.. aneh.

 

 

Apakah kebetulan saja Baekhyun jadi sering bertemu dengan pemuda berkebangsaan Korea dinegara bamboo ini.. sedangkan semenjak Kai tinggal di China, ia tidak terlalu sering bertemu dengan orang berkebangsaan Korea. Apalagi seramah itu kepada orang asing—  

 

 

Aku terlalu berlebihan.” Bisik Kai didalam hati kemudian kembali melanjutkan kegiatannya untuk memindahkan beberapa makanan. Dan ketika Kai ingin memanggil ibu Baekhyun yang tengah membersihkan ruang tamu, Baekhyun tiba- tiba memanggil Kai.

 

 

“Kai, kemarilah.” Baekhyun menggapai satu biskuit dengan tangannya.

 

 

“Ya?” Kai mendekati Baekhyun dan sedikit merendahkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Ketika merasakan nafas Kai menerpa keningnya, Baekhyun tertawa geli. Ia arahkan sebuah biskuit dengan tangannya menuju kearah Kai. Tentu saja Kai mengerti maksud Baekhyun, pemuda cantik itu ingin menyuapi Kai ternyata. Kai mengusap rambut Baekhyun dengan sayang dan menerima suapan Baekhyun dengan satu gigitan penuh. Kai mengunyah dengan senyuman mantap lalu menjauhi Baekhyun untuk kembali memanggil ibu Baekhyun untuk memulai acara makan mereka.

 

 

“Aku suka senyumannya yang seperti itu.” bisik Baekhyun dengan rona merah diwajahnya.

 

“Eh??” Chanyeol mengerutkan kening ketika mendengar ucapan pelan Baekhyun. “Kau melihat senyumannya?”

 

Baekhyun menggeleng pelan dan menggigit bibir bawahnya yang terhiaskan remah biskuit. “Aku tidak pernah melihat wajah Kai. Apalagi senyumannya.”

 

“Lalu? bagaimana kau tahu bahwa pemuda bernama Kai tadi tersenyum?”

 

Baekhyun mengarahkan kembali wajahnya pada Chanyeol yang sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa mata kosong Baekhyun memperdayanya. Bola mata Baekhyun yang diam melumpuhkannya dan kerjapan mata kaku itu memutus urat nadinya. Berkali- kali Chanyeol dibuat terpesona oleh sosok polos Baekhyun.

 

 

“Karena aku merasakannya.. Kau tahu, aku.. tidak bisa melihat…dan aku bisa merasakan energi Kai dengan jelas. Aku hanya merasakannya… Aku hanya merasakan perasaan Kai. Hanya itu.” jawab Baekhyun polos kemudian kembali mengambil biskuit dan memakannya.

 

 

Baekhyun tidak tahu.. ataupun rasakan. Chanyeol kini tengah terperangah atas ucapan Baekhyun. Atas apa yang Baekhyun katakan… cara ia merasakan dan memahami sesuatu didekatnya. Dengan dunia kelam itu.. Baekhyun mencoba mencari cahaya terang walau ia tahu tidak akan bisa ia temukan. Entah sampai kapan.

 

 

Chanyeol.. Chanyeol merubah posisinya yang tadinya duduk mengarah pada Baekhyun lurus kedepan. Chanyeol diam. Tidak tahu harus mengatakan apapun lagi. Baekhyun terus saja membuatnya benci atas semua yang ia pikirkan selama ini. Merubah sesuatu yang Chanyeol sombongkan selama ini.  

 

 

 

Yang kupermainkan selama ini bisakah disebut cinta?

Jika… bahkan aku enggan mengingatnya?

Kusadari senyuman polos itu penuh cahaya didunia yang kelam

Yang tidak kuhabis pikir…

 

.. mengapa ia bisa sangat bersinar padahal yang ia lihat hanya kegelapan dan sengsara?

 

 

 

Klap

 

Chanyeol berjalan lemah masuk kedalam apartemennya. Ia baru saja menyantap sarapan pagi dirumah Baekhyun. Rumah Baekhyun… Benar—

 

Kejadian indah yang sama sekali tidak ia sangka akan terjadi. Oh Tuhan, semua yang Chanyeol takutkan bahkan sama sekali tidak terjadi. Kemungkinan terburuk yang selalu Chanyeol sangka akan terjadi tidak menjadi kenyataan. Dan semua itu…

 

 

 

.. karena kobohongannya.

 

 

Bruk

 

Chanyeol terduduk sembari merebahkan punggungnya dipintu. Ia mendongakkan wajahnya keatas, mencoba menghirup udara yang ia rasa selalu meninggalkannya ketika memikirkan tentang Baekhyun. Tubuhnya menggigil dan terasa sedingin es. Demi Tuhan, getaran hebat tubuhnya ini yang sedari tadi ia tahan mati- matian saat bersama Baekhyun. Hidung dan mata Chanyeol mulai memerah. Seketika Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Menahan sebuah gejolak yang sedari tadi ia tahan…

 

 

… ia tahan mati- matian karena Baekhyun.

 

 

“Oh.. Tuhan…”

 

 

Chanyeol membenamkan wajahnya dikedua lututnya yang tertekuk. Ia memeluk kakinya dengan erat. Ia tidak akan menangis! Saat ia masih kecil, Chanyeol sudah bertekad untuk tidak manangis lagi ketika ia merasa disakiti. Terakhir kalinya.. ketika Chanyeol ditinggal oleh ibunya dengan ayah tiri yang bahkan Chanyeol tidak kenal siapa. Itulah yang terakhir. Chanyeol sudah bertekad… tetapi…

 

 

.. perasaan sesalnya yang semakin lama semakin membuncah.

 

 

—Baekhyun.

 

 

Bukan kelegaan sepenuhnya yang  ia rasakan setelah bertemu Baekhyun. Akan tetapi beban baru mulai ia emban kali ini. Kebohongan itu akan berlanjut sampai kapan? Namun.. haruskah kini Chanyeol memberitahukan sebuah kebenaran yang lebih baik tersimpan selamanya? Toh, Baekhyun mencoba melupakannya, bukan?

 

 

Atau.. lebih baik Chanyeol bahkan tidak usah menemui Baekhyun jika mempersulit keadaan dan kondisi Baekhyun saat ini?

 

 

Namun.. itu bukan berarti dia boleh lari, bukan?

 

 

Bisa ia jamin, jika ia akan menyesal seumur hidupnya jika meninggalkan Baekhyun kini dan kembali ke Korea setelah melihat keadaan Baekhyun secara langsung. Sepintas ia tahu Baekhyun nampak bahagia, akan tetapi.. siapa yang tahu bahwa pemuda cantik yang terlihat kuat dari luar itu serapuh selaput tipis.  

 

Apalagi sejak pertama Chanyeol bertemu dengan Baekhyun dan melihat senyumannya… Chanyeol ingin menjaga senyuman itu tetap ada. Senyuman itu tetap mengiringi kehidupan Baekhyun agar pemuda cantik itu bahagia.

 

 

Bisakah?

 

 

Kebohongan yang Chanyeol lakukan menutupi sengsara Baekhyun agar kebahagiaan tetap mengiringi Baekhyun?

 

 

Dan Chanyeol tahu betul, pemuda bernama Kai itu pasti akan menjaga Baekhyun agar ia selalu bahagia. Karena Baekhyun nampak amat senang berada didekat Kai. Chanyeol kembali berfikir… apa gunanya ia dikehidupan Baekhyun jika nantinya Baekhyun hanya akan menderita akan kedatangannya dan memberitahu Baekhyun kenyataan bahwa yang memperkosanya adalah Chanyeol?

 

 

“Tidak.. aku tidak boleh terlalu dekat dengan dirimu… aku hanya akan melihatmu dari jauh.” Bisik Chanyoel lalu berdiri dengan kasar kemudian berjalan cepat kearah sofa panjang dan merebahkan diri disana. Mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian menelpon seseorang. Ia butuh teman bicara.

 

 

-“Chan…yeol?”-

 

“Roti pao…”

 

Terdengar helaan nafas seseorang disana. -“Sebentar… mengapa suaramu serak?”-

 

Chanyeol tersenyum lirih. “Oh ya?”

 

-“Chanyeol… kau baik- ba—“-

 

“Aku sudah menemuinya.. aku sudah bertemu dengannya.”

 

-“APA?! LALU?”- Tuntut Xiumin amat terkejut.

 

“Bagaimana jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya? Aku membohonginya, Xiumin. Aku mengatakan bahwa aku hanya kebetulan bertemu dengannya di China dan aku adalah teman lamanya saat di sekolah menengah pertama… Bagaimana jika yang kulihat adalah senyuman bahagianya.. dengan derita yang sudah ia jalani Xiumin.. Demi Tuhan—dia buta.. dia bu..ta..”

 

Kali ini Xiumin menghela nafas pelan. Sepertinya Xiumin sudah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Baekhyun dari awal. Xiumin sudah menyelidikinya dan ibu Chanyeol pun tahu tentang Byun Baekhyun yang buta. Tapi mereka tidak memberitahu Chanyeol, agar pemuda yang selalu seenaknya itu tahu dan mengerti atas apa yang harus ia lakukan kepada Baekhyun.

 

-“Chanyeol—“-

 

Tidak ada jawaban selain keheningan dan isakan lirih.. yang Xiumin ketahui bahwa.. Chanyeol pasti sangat menyesal dan merasa sesak. Memang Chanyeol sepenuhnya bersalah atas kehidupan Baekhyun yang hancur berantakan. Tetapi bukanlah putusan bijaksana jika membiarkan Chanyeol melewatinya sendirian, bukan? Chanyeol itu anak sombong yang tidak bisa melakukan apa- apa tanpa bantuan orang lain sebelumnya. Xiumin, sebagai sahabat Chanyeol tentu merasa prihatin.

 

-“—Apa yang akan kau lakukan?”-

 

Chanyeol menghela nafas dan mengaturnya agar ia merasakan tenang sejenak. Sulit sekali memfokuskan pikirannya jika yang ia rasakan hanyalah rasa sesak berkepanjangan. “Aku akan.. berada disampingnya. Aku ingin menjaganya.. tapi.. bolehkan dengan keadaan seperti ini..?  Walau.. Aku tidak sanggup membohonginya..”

 

-“Apakah menurutmu.. seperti itu adalah yang terbaik.. untuk saat ini?”-

 

Chanyeol mengangguk dengan reflek tanpa menjawab pertanyaan Xiumin dengan suara.

 

-“Begini.. kau tidak perlu terburu- buru.. langkah awalmu sudah lebih dari baik, bukan? Yah, kau berbohong padanya.. tapi aku rasa hal itu lebih baik dilakukan. Kau tahu dia tidak bisa melihat.. dan yang harus kau lakukan adalah mencari cara agar Baekhyun itu tidak kesulitan. Semua terjadi karena kecerobohanmu. Kau harus ingat itu dan jangan terlena.”-

 

“Aku.. ingat..” jawab Chanyeol lemah.

 

-“Baguslah.. besok kalian akan satu sekolah, bukan?”-

 

“Ya.”

 

-“Kau tunjukkan saja perhatianmu dengan bersikap wajar padanya. Jika awalnya sudah begini.. sekarang aku berharap kau pasrah saja.”-

 

“Maksudmu?” Chanyeol tidak mengerti maksud Xiumin.

 

-“Ikuti permainan Tuhan.. jalani saja apa yang telah terjadi dan.. kau harus siap jika waktunya tiba.”-

 

 

DEG

 

 

Chanyeol memucat setelah itu. Baru saja ia memikirkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. “Oh Tidak—maksudmu..”

 

 

 

-“Disaat Baekhyun tahu semua kebohonganmu.”-

 

 

 

Jika masa depan yang menantiku

Tidak jauh dari kesengsaraan

Apa yang harus kulakukan ketika aku memilih hina pada awalnya?

Apakah tragedi itu harus kuputar ulang?

Sementara dirinya yang tegak disana sudah menutup rapat kenangan itu

Dimana harus kuposisikan diriku?

 

Bagian menjijikkan dari masa lalunya?

 

Atau… Bagian baru dari masa depannya?

 

 

Kai menghela nafas ketika ia sudah sampai didepan rumah Kris. Masih ia ingat bagaimana wajah marajuk Baekhyun ketika ia mengatakan harus pulang kerumah Kris. Bukannya tanpa alasan.. Kai hanya tidak mau dibuat terbiasa –walau dirinya sudah terbiasa-.

 

Jika Baekhyun dan ia terlalu lama bersama..

 

.. Kai ragu ia bisa menahan perasaannya yang terus bergejolak pada Baekhyun.

 

 

Kai yang sudah mempunyai kunci cadangan tentu saja tidak harus mengetuk pintu rumah tersebut terlebih dahulu. Menyadari mungkin saja Kris dan Tao masih tidur, mengingat kebiasaan mereka yang suka sekali tidur hingga siang tiap hari libur, Kai masuk dengan perlahan tanpa menimbulkan suara.

 

Setelahnya, pemuda tampan tersebut mengunci pintu rumah dengan hati- hati. Rasanya tubuh Kai amat letih, ia bermaksud langsung berjalan kekamarnya. Tetapi.. langkah kaki Kai terhenti ketika melihat –ternyata- Kris dan Tao sudah bangun. Mereka sedang berada didapur, sedang memasak makan siang sepertinya. Namun… melihat Kris dan Tao yang tengah bersenda gurau dan berpelukan mesra..

 

 

.. Kai jadi merindukan seseorang.

 

 

Terlihat Kris mencium singkat pundak Tao yang hanya memakai kaos tanpa lengan dan perpotongan leher kaos tanpa lengan itupun sangat lebar. Memperagakan leher dan tulang Tao yang berkali- kali dicium oleh Kris dengan sayang. Mereka berdua amat bahagia… sangat—

 

 

 

Kemesraan yang seperti itu pernah Kai rasakan dulunya.

 

 

Dia pikir orang itu adalah tempat terakhir perlabuhan hatinya. Namun, orang itu mengkhianatinya dengan orang terdekat Kai. Sahabat dekat Kai satu- satunya. Semua itu menyakitkan jika diingat namun… Kini Kai disini. Ia ingin melupakan masa lalunya. Benar.. karena kekalutan akibat pengkhianatan itu.. Kai tidak sengaja menabrak Baekhyun. Baekhyun yang kehilangan masa depan dan cahaya dihidupnya. Itulah yang ingin Kai perbaiki, bukan?

 

 

Karena sosok itu.. Kai kehilangan pengendalian dirinya.

 

 

 

Karena Luhan—

 

 

 

Kris dan Tao yang belum menyadari bahwa Kai mengamati mereka, masih saja terus berpelukan seraya bersenda gurau. Kini Kris menarik tubuh Tao menuju meja makan. Entah apa yang akan mereka lakukan disana, Kai tidak mau menganggu pasangan bahagia itu. Ia berbalik masuk kedalam kamarnya dan melepas jaket lalu melempar kesembarangan tempat.

 

 

 

Semua manusia berhak bahagia, bukan?

 

 

Kai hanya berfikir.. Sehun kini bahagia bersama Luhan, tanpa memperdulikan apapun termasuk perasaan Kai yang hancur berantakan. Begitu juga dengan bukti nyata tentang kebahagiaan yang baru saja ia lihat, Kai dengar dari Kris, dirinya dan Tao adalah kakak adik tiri. Namun mereka kini bahagia walau Kris selalu bermasalah dengan ibunya.

 

 

Dari sana.. bisa Kai pelajari bahwa kadang cinta dan kebahagiaan itu didapat dengan sebuah pengorbanan. Mungkin memang akan ada pihak yang tersakit, selalu ada, tetapi… –sekali lagi…

 

 

.. manusia berhak bahagia, bukan?

 

 

Itulah tujuan manusia untuk hidup. Merasakan kebahagiaan kemudian bersyukur akan hal itu. Semua akan manusia alami. Walau perjalanan menuju kata itu mungkin sulit bahkan terasa tidak mungkin. Dan.. kini ia memikirkan dirinya dengan.. Baekhyun.

 

 

Baekhyun.

 

 

Perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Baekhyun?

 

Kai merebahkan dirinya diranjang dan memejamkan matanya. Jika boleh saja ia jujur, Luhan masih menguasainya. Dia yakin dengan sangat, ia masih mencintai Luhan walau ia tahu Luhan dan dirinya sudah tidak punya harapan untuk terus berlanjut. Namun, perasaan manusia tidak bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi hubungan itu diikat cukup lama. Tentu kenangan menjadi penguat dikala rindu tiba- tiba terasa.

 

Tetapi.. Baekhyun—

 

Perasaan aneh ia rasakan jika berada didekat Baekhyun, bahkan saat Kai tengah menatap wajah mungil nan cantik pemuda itu. Akan tetapi.. sebuah kejanggalan Kai rasakan ketika.. ia melihat Baekhyun bersama.. pemuda tinggi itu, Park Chan.

 

 

Mengapa Kai sama sekali tidak merasa cemburu ketika Baekhyun berdekatan dengan pemuda selain dirinya? bahkan Kai melihat dengan jelas kontak fisik Baekhyun dan Park Chan lakukan… tapi tetap saja…

 

 

Apakah Kai belum benar- benar menyukai Baekhyun?

 

 

Dan mengapa Kai begitu ingin melihat Baekhyun bahagia? Mengapa Kai sama sekali tidak mengerti dengan keadaan jantungnya yang berdebar- debar kala menatap binar wajah Baekhyun?

 

Mengapa?

 

Apa yang sebenarnya terjadi pada Kai?

 

 

… sebenarnya perasaan seperti apa yang Kai rasakan terhadap Baekhyun?

 

 

 

Apakah aku hanya mencoba mengelabui perasaanku?

Akan tetapi satu hal tujuanku datang kehidupmu

Kebahagiaan dan keelokan membalut hidupmu

 

Sejak awal..

 

… aku tidak mengharap lebih dari itu.  

 

 

 

Malam hari

 

Baekhyun sudah berganti pakaian dengan piyama. Pukul 9 malam tepatnya, kebiasaan Baekhyun memang tidur lebih cepat jika esoknya harus bersekolah. Ia menghidupkan penghangat ruangan. Baekhyun sudah hapal bagaimana caranya, diajarkan oleh ibu Baekhyun tentunya. Menghitung langkah dan berjalan pelan menuju ranjangnya. Dan ketika kakinya akan menaiki ranjang, Baekhyun mendengar suara jendela terbuka.

 

Ia mengernyit, ia yakin bukan bunyi jendela dikamarnya karena suara itu terdengar redam. Apakah penghuni apartemen sebelah? Oh—Park Chan, pikir Baekhyun sembari terkekeh. Ia ingat bahwa pemuda yang menjadi teman barunya itu sangatlah orang yang menyenangkan- juga menyebalkan. Dia benar- benar orang yang to the point bahkan sangat terbuka. Mungkin karena hal itu, Baekhyun merasa bisa cepat akrab dengan Park Chan.

 

Bukannya menaiki ranjang, Baekhyun malah berjalan mendekati jendela kamarnya dengan perlahan. Ia meraba dinding kamarnya dan memperkirakan letak jendela. Hingga sentuhan tangan Baekhyun terhenti pada bidang kaca dihadapannya. Ia tersenyum manis dan perlahan membuka semat besi yang menutup jendela kaca tersebut, tentu setelah beberapa saat ia mencari keberadaan semat besi itu.

 

Klek

 

Jendela kamar Baekhyun terbuka dan seketika ia merasakan angin malam menyapa wajah cantik miliknya. Baekhyun menumpukan kedua tangannya pada tepi jendela yang nyaris setinggi dadanya.

 

 

“Park Chan?” panggil Baekhyun sedikit keras. “Kau, kah?”

 

 

Malaikat adalah sosok tanpa dosa dan bersinar

Jika ia datang dan menyapa..

 

 

.. bolehkan aku menjawab?

 

Sedang aku hanyalah manusia hina yang bisa menjerumuskannya di kegelapan ..

 

 

 

 

 

Chanyeol berhenti memainkan gitar, ia menghela nafas pelan dan mengusap wajahnya. Ia lirik keadaan kamar yang kelam. Ia tidak menghidupkan lampu atau penerangan lainnya, hanya mengandalkan cahaya bulan dan jendela kamar.

 

Ia menghela nafas sekali lagi, bangkit dari sofa besar miliknya dan meletakkan gitar dengan hati- hati. Chanyeol berjalan mendekati jendela kamar dan menatap pemandangan yang tidak terlalu menarik diluar sana. Tetapi bulan dan bintang dilangit itu amat indah bersinar.

 

Chanyeol tersenyum sesaat dan.. tangan panjangnya bergerak membuka jendela tersebut. Menghirup udara malam yang amat segar ia rasakan ketika masuk kedalam paru- parunya. Sekilas pemuda tampan itu tersenyum manis lalu menganyun- ayunkan tangan diudara. Ia harus berhati- hati agar tidak jauh tentunya. Seakan Chanyeol sedang berenang diudara. Entah apa yang dilakukan Chanyeol, akan tetapi setelah melakukannya ia terkekeh pelan dan menghela nafas pendek.

 

 

“Park Chan?”

 

 

DEG

 

 

Chanyeol membulatkan mata ketika mendengar suara sedikit sayub. Tetapi, ia tahu betul jika suara itu adalah suara.. Baekhyun. Baiklah, setidaknya Chanyeol tidak berfikir tentang makhluk gaib yang terbang diangkasa kemudian memanggilnya.

 

 

“Kau, kah?” kembali terdengar suara merdu Baekhyun.

 

 

Chanyeol langsung mendongakkan tubuhnya sembari berpegangan ditepi jendela. Ia lihat dengan jelas jendela kamar Baekhyun terbuka. Oh, benar! Kamar mereka kan bersebelahan. Dan Chanyeol bisa melihat sedikit jemari mungil tertempel ditepi jendela kamar Baekhyun, ia tidak melihat tubuh Baekhyun.

 

 

“Park Chaaan??” panggil Baekhyun lebih keras.

 

 

Chanyeol menenangkan jantungnya yang berdegup amat kencang. “Heeh! Belum tidur?”

 

 

Samar, Chanyeol mendengar kekehan suara Baekhyun. Kali ini Chanyeol menghela nafas pelan dan mengusap dadanya beberapa kali. Mengapa ia jadi salah tingkah hanya karena panggilan dan kekehan Baekhyun? Well, Baekhyun memang selalu mengganggu pikirannya beberapa bulan terakhir. Akan tetapi kini.. pemikiran tentang Baekhyun terasa amat manis. Berbeda dengan dahulu… penuh rasa takut. Walau sesak masih menguasai.

 

 

“Aku akan tidur.. hanya mendengar jendela kamarmu terbuka, aku ingin menyapamu.”

 

 

Chanyeol mengerjapkan mata besarnya, ia menatap jemari tangan Baekhyun yang putih menari- nari ditepi jendela itu. Baekhyun tidak menyondongkan tubuhnya keluar jendela, ia tidak berani lebih tepatnya. Maka hanya jemari kecilnya yang menggenggam tepian jendela sebagai penanda bagi Chanyeol bahwa… Baekhyun memang berada disana.

 

Seandainya tidak ada dinding ini.. Chanyeol pasti bisa melihat sosok Baekhyun. Tentu saja, hanya dengan memikirkan hal itu, Chanyeol merasa jantungnya akan meledak.

 

 

“Park Chan~ Kau suka sekali mengacuhkanku!”

 

 

“Maaf! Aku hanya terkejut karena.. kau tahu bahwa aku membuka jendela kamarku. Pendengaranmu sangat tajam!” ujar Chanyeol masih dalam posisi mencondongkan tubuhnya keluar jendela, melihat jemari Baekhyun yang memerah. Oh, mungil nya.

 

 

“Hmm.. begitu! Kalau—HATCHUU!!!”

 

 

“Heii!! Kau bersin? Kau baik- baik saja?” tanya Chanyeol cepat hingga lebih mencondongkan tubuhnya untuk melihat Baekhyun, tetapi tetap saja tidak bisa. Chanyeol yang sadar ia bisa jatuh sia- sia, langsung memundurkan lagi tubuhnya. Bunuh diri, batin Chanyeol.

 

 

“Dingin!! Maaf.. aku tidak kuat angin malam.”

 

 

“Aissh! Kalau begitu tutup jendelanya dan berselimutlah.” Chanyeol sedikit kecewa mengatakan hal itu. jujur ia masih ingin berbicara dan berbincang dengan Baekhyun. Ia rasa bersama Baekhyun.. menyenangkan.

 

“Kau juga… tidurlah.”

 

Chanyeol tersenyum manis mendengar ucapan Baekhyun. Entah mengapa ia merasa jika hatinya menghangat padahal wajah dan separuh tubuhnya kini sedang dihujam oleh angin malam yang dingin. “Baik. Aku akan tidur.. tapi nyanyikan satu lagu untukku.”

 

 

 

Sudikah?

Menyanggupi permintaanku..

 

 

 

“Baik. Aku akan tidur.. tapi nyanyikan satu lagu untukku.”

 

 

Baekhyun mengerjapkan mata kakunya ketika mendengar ucapan Chanyeol. Suara Chanyeol bisa ia dengar dengan jelas. Dan Baekhyun tidak tahu bagaimana usaha Chanyeol yang kini sedang menyondongkan tubuhnya keluar jendela kamar hanya untuk melihat jemari Baekhyun yang berpegangan pada tepi jendela.

 

“Lagu apa?” tanya Baekhyun menyanggupi keinginan Chanyeol.

 

“Terserah.. asalkan lagunya bisa menghasutku untuk tidur.”

 

“Berarti lagu yang membosankan?”

 

Kali ini Baekhyun bisa mendengar suara tawa keras dari arah kamar Chanyeol. Reflek pemuda cantik itu mengerucutkan bibirnya. “Kenapa tertawa?”

 

“Tidak! Tidak! Ayo, bernyanyilah untukku.”

 

 

“Iyaaa! Dengarkan aku kalau begitu!” Baekhyun tersenyum penuh semangat, sudah lama rasanya ia tidak bernyanyi. Apalagi bernyanyi untuk orang lain.. Park Chan sedikit mengingatkannya pada sebuah kenangan menyenangkan tentang bernyanyi.

 

 

 

Suara surga itu akan kudengarkan..

..darimu.

Walau aku tahu..

 

.. penyesalanku tidak akan pernah membuatmu memaafkanku

 

 

 

“Iyaaa! Dengarkan aku kalau begitu!”

 

 

Chanyeol ingin sekali bersorak ketika Baekhyun mau bernyanyi untuknya. Ia yakin sekali akan bermimpi indah karena suara Baekhyun amat ia suka sejak dahulu. Chanyeol memperbaiki posisi berdirinya agar nyaman. Ia ingin mendengar suara nyanyian Baekhyun dengan hikmat.

 

 

“Aku mulai!”

 

 

Chanyeol mengangguk seperti anak kecil sembari tersenyum mantap.

 

 

 

“Aku selalu memikirkan tentangmu.. waktu tidak bisa menghentikanku

Hati kosongku bahkan tidak bisa mengarahkanku menemukan perasaanmu

Tetapi hatiku mengulangi rasa yang sama terhadapmu… Berulang kali… lagi dan… lagi ..

 

Perdengarkan aku ‘lagu cinta’ darimu

Ingin melihat sosokmu… dirimu

Aku ingin tahu tentangmu lebih jauh.. dan kini kita bertemu..

Seberapa besar rasa kesepian datang.. aku yakin, kita akan bertemu lagi

Selalu bertemu.. seperti ikatan takdir

Aku tidak tahu alasan pasti.. yang aku tahu,  aku tidak akan bisa menghentikannya

 

 

 

Apakah aku hanya akan menjadi bagian dari kenangan dan ingatanmu?”

 

 YUI- LOVE AND TRUTH

 

Demi Tuhan! Chanyeol merasakan tubuhnya limbung dan ia terduduk disana. Chanyeol membekap mulutnya sendiri yang tidak bisa menahan lagi perasaan bersalahnya yang meluap. Oh Tuhan, Oh Tuhan! Chanyeol memeluk kakinya yang bergetar.

 

Bisa ia dengar suara Baekhyun yang sudah menghentikan lagunya dan bertanya. Akan tetapi Chanyeol tidak mau.. dia tidak mau menjawab apapun kini. Hatinya luluh lantak. Lagu apa… Lagu apa yang dinyanyikan oleh Baekhyun tadi?

 

Semua nya menusuk hati Chanyeol seakan lirik lagu itu menggambarkan semua yang tengah ia rasakan dan ia.. takutkan.

 

 

 

Ia takut.

 

 

Takut luar biasa.

 

 

 

—Apakah aku hanya akan menjadi bagian dari kenangan dan ingatanmu?

 

 

 

 

 

“Park Chan?” Baekhyun mengerjapkan matanya karena sapaannya tidak kunjung dijawab oleh pemuda tampan tersebut. Baru saja ia selesai bernyanyi. “Jinjjayo~ Apa kau benar- benar tertidur?? Kau sudah tiduurr?? Heyy!!”

 

 

Tetap tidak aja jawaban.

 

 

Baekhyun menghela nafas  dan berfikir mungkin saja Park Chan memang sudah tertidur. Ah, Baekhyun senang jika nyanyiannya bisa membantu Park Chan untuk tidur, polosnya dirimu Baekhyun. Kemudian pemudacantik tersebut menghirup udara malam dalam- dalam dan menghembuskannya. Perasaan lega ia rasakan entah mengapa setelah bernyanyi.

 

 

“Selamat tidur, Park Chan.”

 

 

Hanya hal itu yang diucapkan Baekhyun sebelum akhirnya ia menutup jendela kamarnya dan berjalan pelan menuju ranjang. Baekhyun meraba dinding kamarnya dengan perlahan. Tidak tahu.. dibalik dinding keras itu. Sesosok pemuda tampan yang tadi ia nyanyikan..

 

 

 

.. tengah meringkuh dilantai dan meraung.

 

 

 

Perdengarkan aku ‘lagu cinta’ darimu

Ingin melihat sosokmu… dirimu

Aku ingin tahu tentangmu lebih jauh.. dan kini kita bertemu..

 

Seberapa besar rasa kesepian datang.. aku yakin, kita akan bertemu lagi

 

Selalu bertemu.. seperti ikatan takdir—

 

 

 

Terdengar seperti kutukan ditelinga Chanyeol.

 

 

 

 

Ω

 

 

Keesokan harinya.

 

 

Baekhyun menghela nafas lega ketika ia mendengar bunyi lonceng istirahat. Pelajaran Matematika yang memusingkan otak telah selesai menyiksa pemuda cantik bernama Baekhyun tersebut. Ia merebahkan kepalanya diatas meja, beralaskan buku paket pelajaran matematika yang amat tebal. Cocok untuk bantal, pikir Baekhyun.

 

“Kenapa?” tanya Kai sembari merapikan buku tulis dan buku paketnya, ia tersenyum kecil ketika melihat Baekhyun mengangkat kepalanya dan mengerucutkan bibir. Mengarahkan wajahnya pada Kai pelan. Kai masih dibuat tertawa kecil melihat bibir mungil Baekhyun bergumam kecil.

 

“Aku tidak suka matematika!” Baekhyun menggembungkan pipinya kali ini.

 

Kai mengerjapkan mata melihat tingkah menggemaskan Baekhyun. Aigoo, ingin sekali Kai mencubit gemas pipi Baekhyun. Namun ia tidak mau Baekhyun meringis kesakitan nantinya. Jadi ia menahan hasratnya melakukan hal itu. “Tapi kau pandai jika menyelesaikan soal- soal matematika, walau aku hanya mengajarkanmu lewat audio.”

 

“Karena Kai mengajarkannya dengan baik dan aku mudah mengerti.. tapi tetap saja… aku tidak suka.” Pemuda manis itu masih mengerucutkan bibirnya.

 

“Baik! Baik!” Kai mengusap rambut halus Baekhyun sembari tersenyum. “Bagaimana kalau kita kekantin saja? Aku lapaar. Kris-hyung tidak memasak tadi pagi.”

 

“Mengapa?” Baekhyun berdiri perlahan, dibimbing oleh Kai untuk keluar dari bangku mereka. Baekhyun menggenggam tangan Kai erat walau mereka kini berjalan keluar kelas.  Tangan Kai hangat dan kuat, Baekhyun amat suka menggenggam tangan itu. Rasanya nyaman.

 

 

“Tao marah padanya. Aku tidak tahu ada masalah apa lagi dengan mereka.. padahal kemarin aku melihat mereka berciuman—“ Kai langsung membekap mulutnya sendiri.

 

 

Astaga, apa yang ia katakan didepan Baekhyun? Ia lirik wajah Baekhyun yang memerah dan menunduk malu. Sudah Kai duga, reaksi Baekhyun pasti akan tersipu jika membahas masalah percintaan.

 

 

“Lupakan! Mereka berpacaran sudah lama sekali, kan? Itu—wajar.. yah, lagipula mereka nantinya pasti akan rujuk lagi—ah, maksudku baikan kembali.” Kai tergagap ketika menyadari perubahan wajah Baekhyun tidak seperti yang  ia harapkan.

 

 

Oh, Tuhan! Kai sepertinya mengetahui jika Baekhyun sedikit sensitif dengan masalah percintaan. Mengingat seberapa terkejutnya ia ketika mendengar Tao memiliki kekasih. Bukan tanpa alasan, Baekhyun sama sekali belum pernah mengalami kisah percintaan dihidupnya. Wajar, jika ia mudah tersipu. Apalagi pemuda itu amat polos dan lugu. Dia murni.

 

 

“Tidak apa- apa, Kai. Aku mengerti.. Mungkin aku tidak akan merasakan percintaan manis seperti itu.. mana ada orang yang mau dengan.. pemuda buta seperti diriku. Mustahil..” Baekhyun tersenyum tipis, ada siratan terluka diwajahnya dan… Kai amat terpukul karena hal itu. wajah Baekhyun yang tersenyum tegar sama saja seperti belati yang menohok hati Kai. Demi Tuhan, Kai merasa bersalah karena memulai pembicaraan itu. Dan kini Baekhyun merendahkan dirinya.. Kai menyesal!

 

 

 

Saat itu Kai menarik tangan Baekhyun dan berjalan agak cepat menuju koridor kosong didekat taman belakang sekolah. Jarang sekali ada siswa yang berkeliaran disana. Membuat kedua pemuda itu bisa bicara bebas tanpa ada gangguan tentunya. Baekhyun hanya menurut tanpa bertanya. Dia percaya Kai tidak akan membawanya ketempat yang berbahaya.

 

 

“Kai? Ini dimana?” tanya Baekhyun yang merasakan aura asing tidak ia kenali. Memang ia tidak pernah kesana. Namun darimana Kai tahu? Ah, hanya kebetulan Kai menarik Baekhyun ketempat itu. mereka sudah cukup lama bersekolah disana untuk mengetahui seluk beluk sekolah tersebut, bukan?

 

“Ini dikoridor dekat dengan taman belakang sekolah.” Jawab Kai melirik bangku besi panjang yang tidak jauh dari tempat mereka. Lalu Kai membimbing Baekhyun menuju bangku tersebut dan duduk disana. Mereka berdua duduk bersebelahan dan Kai memandagi wajah Baekhyun yang kebingungan.

 

 

“Mengapa Kai membawaku ketempat ini? Bukankah Kai lapar? Seharusnya kita kekant—“

 

 

Baekhyun menelan semua ucapannya ketika dengan sadar  ia merasakan Kai memeluk tubuh Baekhyun dengan erat. Mata Baekhyun membulat dan tubuhnya kaku seketika. Berbeda dengan keadaan jantungnya yang seperti bergejolak tak terkendali. Oh, lihat! Wajah Baekhyun bahkan memerah. Dia sedang malu… bukan hanya itu dia sangat malu dipeluk seperti itu oleh Kai.

 

 

“Maaf… Maaf kau jadi memikirkan hal yang seharusnya tidak kau pikirkan, Baekhyun.”

 

 

“Eh?” Baekhyun tidak mengerti arah pembicaraan Kai.

 

 

Kai melepas pelukannya dan mengusap wajah manis Baekhyun. “Mengapa kau mengatakan bahkan kau mustahil merasakan sebuah percintaan manis seperti yang Tao rasakan?”

 

 

Deg

 

 

Baekhyun seketika menunduk dan memilin jemari tangannya. Ia menggigit bibir bawah kemudian jauh menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh Kai. “Aku salah? Memang benar, bukan? Kai tidak usah menghiburku… aku ini cacat.. tidak bisa melihat—buta..”

 

 

Hentikan!

 

 

Hentikan Baekhyun!

 

 

Kai merasakan ruang udaranya kosong ketika Baekhyun mengatakan itu semua. Ucapan Baekhyun yang kembali menarik semua rasa penyesalan Kai membuncah keatas kepalanya. Kai memucat dan.. alasan Baekhyun.. Baekhyun buta karena siapa?

 

 

Baekhyun tidak melihat karena siapa?

 

 

Penderitaan Baekhyun terjadi karena siapa?

 

 

Cahaya Baekhyun menghilang karena siapa—

 

 

Siapa—

 

 

“Kai? maaf.. Kai jadi kepikiran, kah? Tidak apa- apa.. aku tidak pernah memikirkan percintaan kini.. cukup seperti ini saja.. ada Kai disampingku.. cukup seperti ini saja aku sudah bahagia.” Senyuman Baekhyun kali ini nyaris membuat Kai membenci dirinya lagi..berulang kali. Bukan senyuman tegar seperti itu yang diharapkan Kai.

 

 

Tidak aneh jika Baekhyun sedih memikirkan masalah percintaan, bukan? Dirinya adalah pemuda berusia 17 tahun yang juga mengharapkan kisah indah terlukis dihidupnya. Menyukai seseorang, merasakan kasih sayang, mencintai seseorang, berdebar- debar.. merasakan rasa saling memiliki.. semua wajar. Karena Baekhyun seorang manusia. Dia juga ingin merasakan jatuh cinta seperti yang orang lain rasakan dan alami. Akan tetapi.. Baekhyun merasa pesimis karena keadaan tubuhnya.. dia hanya tidak mau berharap. Hanya itu… Lebih baik tahu diri, itulah yang Baekhyun pikirkan.

 

 

Kai menggenggam tangan Baekhyun dan memejamkan matanya sesaat hingga ia kembali menatap wajah cantik Baekhyun yang mencoba untuk tersenyum. Melihat wajah Baekhyun yang seperti itu sungguh membuat Kai hancur, jika ia menyelesaikannya.. Baekhyun pasti akan bahagia, bukan? Kai mencoba mengambil sebuah keputusan dan meyakinkan dirinya sendiri. Ia menghela nafas sesaat…

 

 

“Hmm.. Baekhyun… Jika kau mau…Ak— Aku—“

 

 

Ucapan Kai teredam oleh suara yang tiba- tiba muncul dari arah belakang Kai. Suara tidak asing menusuk pendengaran Baekhyun dan Kai. Pemuda tinggi dengan rambut panjang berwarna karamel berjalan kearah mereka yang masih duduk di bangku besi. Baekhyun menggeser duduknya sedikit, sedangkan Kai menatap tajam dan tidak percaya pemuda yang sudah berdiri diam dihadapan mereka berucap…

 

 

 

“Denganku saja… Baekhyun mau menjadi kekasihku?”

 

 

 

—Park Chan.

 

 

 

 

To be Continue

 

 

Bukannya mau mengeluh *sujud*, FF ini saya edit dikala saya sedang sakit *biasa darah rendah* #sakit nenek- nenek #PLAK. Maaf mengatakan hal yang tidak mengenakan. Tetapi dimohon pengertiannya jika FF ini tidak memuaskan. Hyobin akan lebih menjaga kesehatan agar bisa buat FF dengan lancar lagi! Hwaiting!!

 

Terima kasih untuk support para READER di twitter maupun SMS, maaf Hyobin jarang berpulsa T__T  tapi kalau mau komunikasi bisa lewat WA. Minta password lewat WA juga boleh.

 

TERIMA KASIH #bow bareng Tao

354 thoughts on “Silent Eyes Chapter 5

  1. Kapan thor kapan ini ada kelanjutan nya ? Jebal😦
    Aku suka bgt nih genre2 angst bgini..
    Please di lanjut lg , ceritanya seru dan bahasanya ringan ..
    Update juseyooooooo

  2. aigooo…mian aku readers baru…
    tapi sungguh aku terkesan bgt sama ff ini…cz jarang-jarang aku baca ff yg karakter Baekhyun nya menderita seperti ini…OOT bgt dari yg biasa aku baca…tapi sedih juga kenapa Mr.PCY jd bad boy…really really bad tapi ta apalah demi melanjutkan kisah ini… semangat author…keep writing!!!

  3. njirrrr, sampe sini langsung tbc itu rasanya gue kesel gak ketulungan -.- itu si Chanyeol boleh gak gue pijak pijak sampe penyet? oke fix, gue gak suka banget liat chanyeol di ff ini! gue gak ridho! baekhyun sama kai aja thor plisss TvT

    Dan ya, ini FF benerbner kerennnnnnnn….saya suka saya suka saya sukaaaaa…. di tunggu lanjtannya

  4. Aaaahhh! Makin seru
    awal aku nangis bacanya!
    Kaya nya yeol sama kai menyesal banget ne thor?
    Itu yeol bilang apa
    pesaran banget ama kelanjutnya!
    Next thor fighting

  5. Thor saya baru baca ini ceritanya bagus. please ayo lanjutin ceritanya, jangan di gantung gini dong, jangan bikin gue mati penasaran sama ceritanya😥

  6. lanjutannya mana thor? aku dah lumutan nih nungguin kelanjutan nih ff
    keren beneran deh, feelingnya nyes~ terus gak bingungin sama sekali
    aku bisa paham maknanya hanya dalam sekali baca
    daebak!!

  7. Thorr~ keren banget ceritanyaaa
    Endingnya kaibaek yaaa~ chanyeolnya tendang aja, ganggu banget!!!!
    Lanjut author-nim!!! Jangan lupa!!! Udah nunggu dari setahun yg lalu nihh-cius- T_T

  8. keren.. *-* jangan lama-lama lanjutnya thor.. penasaran sama chap 6 . walaupun suka chanbaek… tapi di ff ini dukung kaibaek aja deh *-* hehe… fighting! di tunggu lnjutanya^^

  9. chanyeol datang disaat yang ngga tepat :’) kayanya tadi kai mau jujur kalau dia yang nabrak baekhyun ya? ini ada lanjutannya kan? cepet sembuh ya kak, ditunggu lanjutannyaaaa~

  10. Thor next ya nae nungguin next kannya seru banget cingu jadi penasaran banget endingnya happy ending ato sad trus si baekkie ama siapa?? Fighting trus ya buat author

  11. Authornim… ff ini bagus banget, lanjutin yaa?? terlalu bagus untuk telantarkan!!!! T^T
    Udah setia nunggu dari dua tahun yg lalu lohh author(jujur) /teriak-lama bngt!!!/
    pleasee… lanjutiiiinnn jangan kejam sama readers gitu dongggg

  12. Chanyeol nguping po ? OMG aku jadi bingung juga kai itu suka gak sih sama baek. Dia kok gak cemburu sama Chanyeol. Authorr lanjutin ceritanyaaa

  13. lanjutin dong …
    bagus ceritanya aku suka bnget…
    boleh tau alamat twitternya ga??
    kan nanti bisa tanyak2
    ya ya

  14. Baekhyun baik banget, kebayang deh gemesnya chanyeol sama kai kalo liat tingkah baekhyun yg lucu 😍 keren ceritanya 🙌

  15. Belum dilanjut ya 😥😥😥
    Huaah sumpah suka banget sama karakter mereka di sini. Apalagi Baek, unyu manis kyaaa gemes 😆😆😆
    Aku maunya KaiBaek masa… Padahal aku ChanBaek Shipper 😂
    Itu kasian amat Baek dibohongin sama Kai dab Chanyeol yah :”””

  16. entah kenapa aku selalu nunggu ff ini, pas baca notice katanya mau ngelanjutin beberapa ff aku harap ff ini salah satunya.

  17. Waa– sudah 2016 belom lanjut ya(?)
    sudah penasaran banget.
    kapan dilanjut ini author?
    화이팅…
    #짜증나

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s