[FREELANCE: Jonanda Taw] TwoShot : What Is LOVE? | END

[Two Shoot]

asdfghjkl

Tittle : What is LOVE?

Main Cast                  : Huang Zi Tao, Kevin Li Jiaheng(Kris Wu Fan)

Supported Cast       : Lu Han, Byun Baekhyun

Pairing                        : Kris-Tao; Tao-Ris

Genre                          : Romance Dramatic, Smarm

Rating                         : Teen, Parents Guide(?)

Note                            : Slash. Alternate Reality, Alternate Universe, m/m, OUTSIDE PoV

LEGHT               : Part 2 of 2 | 7.206 words

 

WARNING!!

BOYS LOVE STORY!

SUDUT PANDANG ORANG KEDUA!

Jika tidak suka/bingung membacanya, sebelum ngebash mendingan gak usah baca ^^

Saya lebih suka kalau sedikit yang baca FF ini tapi suka, daripada banyak yang baca tapi abis itu dihina habis habisan…

NO SIDER PLEASE. NO PLAGIATOR PLEASE. NO COPY CAT PLEASE.

Udah mohon pake kata please, bisa ngerti kan?

Thankseu…

{Note : File ini pake spasi 1.5, kalau kerenggangan bisa diedit. Kesamaan penyakit yg diderita Baekhyun di FF Shevretno yang My All is in You sama Tao di FF ini murni ketidaksengajaan. Mohon maklum. Makasih} 

Oh ya, di chapter ini ada beberapa penjelasan tentang suatu penyakit yang infonya aku dapet secara umum (melalui internet dan ‘wawancara khusus’ sama seorang author yang pernah terkena penyakit ini). Jadi kalau misalnya ada kekeliruan informasi, mohon maaf… /bow/ Mian juga kalo hasil gak maksimal. Walopun nyoba untuk sempurna, tapi gaada orang yang sempurna kan?

Author mohon doanya buat UNAS yang diadain tanggal 22-25 April nanti, doanya gak muluk muluk kok… Semoga aku bisa dapet nilai baik.

 

Jonanda Taw present

Twitter           @JoNandaTaw

Facebook        Jonanda Taw

Copyright ©2013

 

~Happy Reading~

 

Degup ini masih sama seperti dulu

Hati ini masih sama seperti dulu

Rindu ini masih sama seperti dulu

Harap ini masih sama seperti dulu

Cinta ini masih sama seperti dulu

 

Mencoba melupakanmu sama dengan membunuh diriku perlahan

Berpaling darimu sama dengan merenggut nafasku tuk hidup

Dan aku tak akan bisa

Karena untukmu, telah kuserahkan cinta abadiku

 

 

 

Ferrari merah-mu berhenti tepat didepan sebuah rumah sederhana yang dihimpit dua apartemen besar disebelahnya. Kau tak langsung turun dari mobil. Matamu yang ditenggeri kacamata hitam dengan gaya retro itu hanya meneliti lekuk-lekuk bangunan yang mungkin umurnya sudah belasan tahun itu.

Itu rumah mungil Huang Zitao.

Kau terpekur sejenak. Tao, sudah berapa lama kita tak bertemu?

Setelah kejadian memalukan tentang penolakan Tao padamu, kau sempat berkata padanya kalau kau tak akan menemuinya lagi. Seumur hidupmu. Tak akan mengurusi keperluannya lagi. Tak akan peduli keadaannya lagi. Dan kau menyesal mengatakan itu semua. Kau tak bisa melakukannya.

Sepatu sport putih-mu mulai menapak aspal jalanan Seoul yang membeku karena musim dingin. Jaket tebalmu masih bisa menghalau segala hawa dingin yang menusuk. Kau melepas kacamatamu. Menghalangi segala halauan pandang. Memandang tempat dimana Tao tinggal selama ini. Berusaha mencari sisa-sisa jejak Tao disana.

Rumah itu sepi, seperti tak berpenghuni. Atau memang saat itu memang saat itu para penghuninya tidak berada dirumah? Tidak mungkin, ini bukan hari kerja dan biasanya Tao akan berdiam diri dirumah pada hari libur.

Bola matamu terpaku pada satu titik. Pupilmu melebar dan membuat bagian iris-mu terpantul cahaya mentari yang mengintip dibalik awan tipis yang menggelantung di langit sore itu. Lalu kau tersenyum. Jendela kamar Tao.

Dulu, saat kau belum meluncurkan album baru-mu setelah lulus dari universitas, jika kau melewati jalanan rumah Tao ini kau akan langsung menatap lekat jendela itu. Bahkan beberapa kali melihat siluet Tao yang sedang belajar pada malam hari. Namun akhir-akhir ini, kesempatan itu hilang.

Dan kau merindukan Tao.

 

 

~Satu tahun yang lalu~

 

Kris mengerutkan alisnya tak mengerti. Bagaimana bisa Huang Zitao menolak cinta Kris yang ditawarkan padanya? “Ke…kenapa Tao?”

Pria panda itu menunduk sejenak, lalu menatap bening mata ber-lens­-kan hazel itu dalam. “Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Dan kurasa, saat ini aku belum siap menerima segala tafsir tentang cinta.”

Kris tertawa kaku. “Cinta adalah perasaan yang perlahan kurasakan padamu…,” rajuknya.

Tao menggeleng, masih menepis. “Aku tak mengerti.”

Kris menggengnam kedua tangan Tao diatas meja. “Maka aku akan menuntunmu sampai kau mengerti.”

Kelopak mata Tao perlahan menutup, dan ia menarik tangannya pelan-pelan. Ia menunduk.

Sedangkan Kris, masih berusaha menyusun kata-kata untuk membujuk Tao yang makin nampak manis itu.

Tao mulai mengangkat wajahnya. “Mr.Wu, apa itu cinta?”

Kris tersenyum tipis. “Cinta adalah…” ucapannya terhenti.

“Apa itu cinta?” ulang Tao.

Diam menyelimuti keduanya. Hanya terdengar bisik-bisik para murid diluar kelas yang menonton kejadian itu.

Tao tersenyum tipis kearah Kris yang masih terpekur memikirkan jawaban yang tepat. “Mr.Wu, terimakasih telah menawarkanku cinta…” Lalu ia memutar kursi rodanya. Berbalik pergi.

Dan Kris, hanya bisa menatap kosong cupscake panda didepannya yang tersenyum.

 

 

 

Kesempurnaan cinta itu kembali merayap dalam hatiku

Kembali mengulurkan jemarinya menggapaiku

Dan juga dirimu

 

 

 

“Anda mencari anggota keluarga Huang?”

Kau menoleh keasal suara dibelakangmu. Seorang lelaki dipinggir jalan dengan lebar lima meter yang tak terlalu ramai itu menghampirimu dengan hati-hati agar tak tertabrak lalu lalang kendaraan yang hendak menuju kerumah masing-masing. Hari sudah sangat sore. Mentari mulai merembeskan cahaya keoranye-annya kelangit.

Kau mengangguk menjawab pertanyaan pria yang ternyata punya senyum manis itu.

“Heung? Kau Kris Wu, kan?” kagetnya.

Kau hanya nyengir, menunjukkan deretan gigi putihmu lalu kembali mengangguk kecil. “Pasti mencari Huang Zitao.”

Kau menoleh kembali kearah rumah itu, lalu menatap pria didepanmu lagi. “Apa dia ada didalam?”

Pria dengan eyeliner tipis itu membelalakkan matanya. “Kau tak tahu tentang keadaan Tao saat ini?”

Kau menggeleng.

“Sudah berapa lama kalian tak berkomunikasi?”

Sedikit berpikir, “Sekitar beberapa bulan. Mungkin satu tahun lalu.”

Pria itu mengangguk, “Pantas saja ia tak pernah bercerita tentangmu lagi padaku.”

Kau terdiam sejenak. “Memangnya Tao dimana?”

“Rumah sakit,” jawabnya singkat.

Kembali, kau mengangguk, “Ternyata penyakit jantung ayahnya begitu buruk ya?”

“Ini bukan penyakit ayahnya. Dan ternyata kau juga tau profil ayah Tao, ya?”

“Ya,” balasmu singkat. “Jadi, kenapa Tao ke rumah sakit?”

“Opname.”

Opname? Rawat inap? “Apa?!!”

Pria itu mengangguk singkat, “Sudah hampir dua bulan.”

Kakimu lemas. Tao dirawat dirumah sakit selama dua bulan? Apakah dia sakit parah? Luka karena kecelakaan fatal? “Enngg… kau…”

Pria itu tersenyum. “Baekhyun. Byun Baekhyun.”

“Ehm ya. Baekhyun hyung, bisa mengantarku ke Tao sekarang?”

Pria cantik bernama Baekhyun itu malah tertawa kecil. “Hyung? Umurku dan Tao hanya berselisil satu tahun. Kau cukup memanggilku Baekhyun saja. Lagipula kalau aku lebih tua darimu, aku tetap tak suka dipanggil hyung oleh ‘orang asing’.”

Kris terpekur mendengar rentetan jawaban panjang itu.

“Aku akan mengantarmu.”

 

 

 

Dunia akan menangis bila bidadarinya tergolek rapuh

Dan aku adalah bagian dunia yang akan menangis paling sendu untukmu

 

 

Kau mengemudikan mobilmu dengan kaku. Tanganmu sedikit gemetar memegang setir. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa Tao saja membuatmu frustasi. Pria panda itu sedikit menyusahkan, kan?

“Rileks, Kris. Tao pria yang kuat. Dan aku yakin dia tidak kenapa-kenapa.”

Kau mendesah pelan, “Kenapa ia tak memberitahuku?”

Kau melihat Baekhyun menoleh kearahmu dari sudut mata amber brown pasangan-mu, lalu ia kembali menatap jalanan. Gelap sudah terajut sempurna di angkasa. “Untuk apa? Kalian, kan, hanya seorang murid dan mantan guru. Dari keteranganmu yang tak berkomunikasi dengan Tao selama setahun saja, sudah menjadi salah satu indikasi bahwa Tao tak wajib memberitahukan keadaannya padamu.”

Kau kalah dengan ucapan Baekhyun, Kris.

“Dia sakit apa?”

“GBS.”

Kau menoleh sejenak, “GBS?”

Baekhyun mengangguk, masih tetap menatap jalanan. “Guillain Barre Syndrome. Penyakit syaraf.”

Oh Tuhan… Mendengar kata syndrome saja membuatmu merinding. “Apa itu penyakit parah?”

“Bisa membuat kelumpuhan permanen. Dan perasaan sakit yang menyiksa seumur hidup. Tergantung tingkat keparahannya.”

Matamu membelalak lebar. Hampir saja mobilmu oleng. Dan kembali, untung jalanan tak begitu ramai malam itu. “Se…seumur…hidup? Tak bisa disembuhkan?”

Baekhyun tak langsung menjawab. Mungkin sedang berpikir. “Yang kutahu obatnya sangat mahal. Itupun tak akan menyembuhkannya secara total.”

            Tao, kenapa kau suka sekali membuatku khawatir?

“Tao bukan berasal dari keluarga kaya. Dia hanya dirawat inap agar saat penyakitnya mulai kambuh, dokter masih bisa memberi beberapa obat yang akan meredakan sedikit rasa sakitnya.”

Tanpa Baekhyun jelaskan-pun kau tau bahwa keluarga Tao adalah keluarga kurang mampu. Sekelibat kenangan tentang kacamata panda dan kursi roda berdecit itu kembali datang. “Apa Tao masih memakai kursi roda lamanya? Apa kacamatanya diganti?”

“Ia masih memakai kacamata pemberianmu,” ucap Baekhyun sambil menoleh kearahmu. “Kursi roda itu sudah rusak berat, tapi ia masih menyimpannya dikamar. Dan para tetangganya─termasuk aku─memutuskan untuk membantu keluarga mereka membeli kursi roda bermesin agar dia tak terlalu kelelahan.”

Kau tersenyum tipis, “Terimakasih, Baekhyun.”

Ferrari-mu berbelok masuk ke sebuah pelataran rumah sakit ternama di Seoul. Lalu segera mencari tempat parkir yang pas. Kau juga masih ingat bahwa Tao sering berhubungan dengan lapangan parkir mobil sekolah.

Pertanyaan pertama Baekhyun sesudah keluar dari mobilmu adalah, “Apa kau sedang tidak sibuk, Kris?”

Kau yang baru keluar dari mobil karena sibuk memakai alat penyamaran─topi, kacamata, dan syal yang menutup dagu serta sebagian bibirmu─hanya menggeleng. Lalu beberapa detik kemudian, saat kalian sudah mulai masuk ke gedung rumah sakit, kau menjawab pelan. “Malam ini aku tidak ada jadwal apapun. Aku memang sengaja meluangkannya agar bisa bertemu Tao.” Kau tersenyum tipis, lalu melanjutkan kalimatmu. “Tapi aku malah bertemu Tao di tempat seperti ini.”

Kalian sedang berada didalam lift, kau berhadap-hadapan dengan Baekhyun yang membelakangi pintu lift. “Aku tau bagaimana perasaanmu. Sedikit banyak, aku pernah mengalaminya.”

Kau tak menjawab, hanya menatap mata Baekhyun yang terpaku ke besi pegangan tangan. Menunggu kelanjutan cerita Baekhyun, itupun kalau ia bersedia membaginya padamu.

“Cinta pertamaku di SMP juga pernah sakit parah saat kami sudah lama tak bertemu. Saat itu aku harus pergi ke Thailand untuk mewakili sekolah dalam lomba menyanyi. Dan saat aku pulang,” Baekhyun tersenyum sendu. Sama dengan senyum Tao yang sering ia berikan padamu. “Chanyeol bahkan sudah tak dapat memanggil namaku.”

Baekhyun begitu terbuka. Dan jika Tao menceritakan keadaanmu pada Baekhyun, itu artinya Baekhyun adalah salah satu orang yang dekat dengan Tao. Mungkin sikap terbuka dan tenang milik Baekhyun yang membuat mereka dekat.

“Kanker laring… Itu juga yang membuatku berhenti menyanyi. Menyanyi mengingatkanku padanya.”

Pintu lift terbuka, kalian melangkah perlahan. “Apa dia….”

“Ya. Dia meninggalkanku dengan cara yang begitu sempurna. Dia memberi senyum terindahnya untukku pada hari terakhirnya,” jawab Baekhyun datar. Walau nada getar masih sedikit terdengar. “Tenang saja, Kris. Kurasa Tao jauh lebih kuat dari Park Chanyeol yang bodoh itu,” lanjutnya lalu tertawa kaku.

Baekhyun memang hangat dan menyenangkan.

Tiba-tiba langkah Baekhyun terhenti. Kau juga menghentikan laju kaki jenjangmu, sedikit berbalik sambil menjejalkan tangan ke saku. “Ada apa?”

“Orang yang menangis itu,” Baekhyun menunjuk seorang wanita dan pria yang sepertinya sepasang suami istri yang berjarak sekitar 15 meter dari mereka. Kau mengikuti arah tunjuk Baekhyun itu. “Itu orag tua Tao. Pasti ada sesuatu.”

Baekhyun berlari meninggalkamu, lalu berjongkok didepan orang yang disebut Baekhyun sebagai ayah Tao. Kau tak berpindah posisi sama sekali, hanya memandang dari jauh drama sederhana itu. Ayah Tao semakin menangis, walau suaranya tak terdengar kencang. Sebenarnya ada apa?

Kau melangkah perlahan. Semakin dekat dengan kedua orang tua Tao dan Baekhyun, perlahan kau mendengar sayup-sayup orang yang berteriak kesakitan.

Baekhyun menatapmu yang berdiri tepat disebelahnya, lalu berdiri. “Huang ajussi, ini Kris.”

Ayah Tao menghapus airmatanya dengan punggung tangannya yang mulai keriput. “Silahkan duduk,” ucapnya lalu berdiri. Mempersilahkanmu duduk. Tapi kau menolak.

“Kris ini mantan guru Tao.”

Kau tersenyum kecil, lalu melepas kacamata dan syal yang mengantung di lehermu. “Senang berkenalan dengan Anda,” ucapmu lalu menunduk hormat. Kalau kau dan Tao berjodoh, berarti mereka juga akan menjadi mertua-mu.

“Kau, bukannya artis terkenal itu?” tanya ibu Tao.

Kau hanya tertawa kecil.

“Tidak kusangka putraku punya guru artis,” ibu Tao tersenyum sendu. Dan caranya tersenyum sama persis seperti Tao. Membuatmu makin rindu dengan kehadirannya.

“Ehhhmm… Tao… ada dimana?” tanyamu hati-hati.

“Dia ada didalam,” jawab ayah Tao.

Kau tersenyum, “Boleh aku melihatnya?”

Baekhyun mencekal tanganmu lembut, “Sedang ada dokter. Penyakitnya kambuh.”

Mendengar jawaban Baekhyun, kau hanya bisa terdiam cukup lama.

Seorang dokter dan dua suster keluar dari pintu ruangan yang Kau punggungi. “Biarkan dia istirahat. Dia pasti sangat lelah berteriak-teriak seperti tadi. Obat itu hanya bertahan sekitar dua jam, karena kami tak bisa memberi dosis lebih lagi.”

Kalian semua mengangguk pelan.

“Tuan Huang, saya sarankan anda segera menyiapkan dana untuk pengobatannya. Dia masih sangat muda untuk menderita lebih lama. Permisi…” ucap Dokter itu, lalu berlalu perlahan.

Kau harus menyalamatkan Tao! Harus! Dengan cara apapun! “Ehhmm… Dokter!”

Dokter itu menoleh kearahmu, “Ya?”

Kau mendekat beberapa langkah. “Pasien bernama Huang Zitao, serahkan seluruh biaya pengobatannya padaku.”

 

 

So bad..a person a like you..
Why did you much difficulty take my heart without my permission?
Im living with so
But you dont even know.

(Saranghamnida – Tim Hwang)

 

 

Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Lewat dari perkiraan dokter, Tao tertidur lebih lama. Atau mungkin pengaruh obat memang sudah habis dan Tao tetap melanjutkan tidurnya.

Kau sudah terbiasa melihat wajah Tao yang pemalu dan pendiam juga selalu terhalangi kacamata dan selalu menunduk saat ia merasa tak nyaman dipandang orang lain. Namun kini, kau tengah melihat bagian lain dari pria itu, wajah Tao yang polos. Lingkar mata hitam dibawah matanya semakin terlihat.

Kadang, kau bingung harus menyebut tipikal wajah Tao seperti apa. Dia tampan saat ia serius. Dia terlihat manis saat ia menunduk atau terlihat bingung. Dan Tao terlihat cantik saat senyum sendu khas-nya menghias wajah yang kian tirus itu.

Tao bukan orang paling sempurna yang pernah kau temui. Tapi hari-harimu akan terasa sempurna saat bertemu dengannya.

Kecuali hari ini.

Sekian lama memantapkan hati, kau meraih jemari tangan kanan Tao dalam hening. Meremasnya perlahan dengan kedua tanganmu yang lebih lencir. Kau tersenyum kecil.

Ini kali pertamamu menggenggam tangan itu lagi setelah sekian lama. Kau merindukan tangan dingin ini. Bahkan kulit ari-mu juga berkata demikian saat tangan kalian mulai menyentuh satu sama lain.

“Aku begitu merindukanmu, Tao…”

Tao tak menjawab. Rentetan garis-garis hijau tak beraturan pada layar monitor disamping Tao yang hanya sedikit melambat. Semakin tenang…

“Sihir apa yang kau lakukan hingga membuatku candu?”

Ia tetap tak menjawabmu, tapi Tao mempererat genggaman tangannya. Kau tersenyum.

“Tao, kau bajingan terkejam yang pernah kutemui.”

Ya, dia bajingan karena membuatmu jatuh cinta tapi tak mau bertanggung jawab dan malah menolak cintamu.

Kau mendekatkan tangan itu kearah bibirmu, mengecup puncaknya perlahan bagai seorang putri. “Jangan membuatku khawatir, atau aku akan mati gila memikirkanmu… Okay?”

Sekali lagi kau mengecup bagian itu. “Sampai detik ini aku masih mencintaimu. Dan kau harus tau itu…”

Kau terdiam sejenak memikirkan kata apa lagi yang harus kau uraikan. “Banyak yang ingin kukatakan padamu, Panda. Jadi, kembalilah untukku…”

 

 

Kesalahan terbesarku adalah membiarkanmu pergi

Kini kita sedang bertemu

Aku tahu kau tak melihatku

Tapi aku akan tetap disini memandangmu dibalik remang rembulan

Dan tak akan mengulang kesalahanku kembali

 

 

~Lu Han Point of View~

“Kau jadi gila-gilaan kerja begini. Ada apa?”

Kris sedang membaca proposal penawaran menjadi bintang iklan sabun mandi yang tawaran honornya sangat menggiurkan. Tapi, Kris biasanya akan langsung menolak mentah-mentah tawaran pekerjaan yang membutuhkan penggambilan gambar dengan harus mengekspose bagian tubuhnya. Aku jadi curiga bahwa dia sedang ada masalah keuangan.

“Aku tidak apa-apa. Hanya jenuh dan butuh pekerjaan menantang,” jawabnya masih fokus pada kertas-kertas dalam map merah itu.

“Kenapa malah menolak iklan mobil jeep dan malah lebih tertarik dengan iklan sabun mandi yang menurutmu vulgar itu? Bukannya syuting di hutan sambil menyetir jeep di medan yang berat lebih menantang daripada harus mengambil gambarmu yang setengah telanjang di kamar mandi dan dilihat banyak orang?”

Kris melirik kearahku sekilas, lalu mengambil pensil mekanik merah yang tergeletak diatas meja juga selembar kertas kosong. “Sekali-sekali aku juga harus memberikan fanservice untuk para fans wanitaku.”

“Jangan lupa pada fans pria gay-mu.”

Dia sedikit mencibir diantara kesibukannya  mengalikan angka-angka yang tak kumengerti maksudnya. “Mereka juga termasuk.”

Kucondongkan tubuhku lebih maju untuk melihat hasil perkaliannya. “Itu apa?”

“Kertas dengan angka-angka,” jawabnya.

Alisku berkerut, “Kau punya utang pada bank?”

Kris menggeleng.

“Kau perlu uang untuk membeli apartemen baru?”

Kris menggeleng lagi.

“Atau kau perlu uang untuk kawin lari bersama si Panda yang kau temui minggu lalu itu?”

TAKK! Kepalaku jadi terasa sakit karena dipukul Kris dengan pensil.

“Jangan memberikan asumsi bodoh. Aku sedang serius, Lulu.”

Baiklah, aku diam dan hanya menghabiskan bubble tea yang diantarkan Sehun untukku sambil menonton TV kabel.

“US$ 52000.00…” desah Kris pelan. Dan aku berhasil menguping walau jarak kami sekarang sekitar tiga meter.

“Lulu…”

“Hmm?”

“Bisa kau memberiku sekitar US$ 52000.00 minggu ini?”

Mataku terbelalak. “Untuk apa uang sebanyak itu?”

Kris mengangkat bahunya, tak berani memandangku. “Yaa… aku memerlukan itu sekarang juga. Itu cuma uang muka kok, kita tak perlu membayarnya sekarang juga. Bisa dicicil. Tapi mungkin minggu depan tagihannya akan lebih membengkak.”

Aku meletakkan gelas plastik bubble tea-ku dengan kasar diatas meja dan berjalan mendekati Kris sambil memicingkan mata. “Benar kan? Kau terlibat hutang dengan bank? Kalau kau butuh uang kenapa kau tak memintanya?”

“Sudah kubilang kalau aku tak punya utang dengan bank!”

“Lalu apa? Oh, atau kau punya utang judi? Krissie sayang, kenapa kau malah berjudi?”

Kris kembali memukul kepalaku dengan pensil, “Jangan mencerewetiku seperti ibu-ibu.”

Mataku mengerjap. “Lalu kau perlu uang sebanyak itu dalam minggu ini untuk apa? Kau juga bekerja seperti sedang dicekik rentenir. Bahkan kau menerima pekerjaan-pekerjaan yang kau benci.”

Kris menunduk. Berpikir, mungkin, kemudian menatapku. “Aku perlu itu untuk uang muka pengobatan Tao.”

Aku tak mengerti. “Ada apa dengan pria itu?”

Kris menghembuskan nafas pelan. “Dia terkena penyakit Guillain Barre Syndrome. Kata keluarganya, karena penyakit itu, Tao sampai tinggal kelas karena sering tak masuk kelas dan ia hampir kehilangan beasiswanya. Ia juga sering mengerang kesakitan saat makan, buang air, dan terasa berat saat bernafas.” Ucapan Kris terhenti. Matanya menerawang ke arah yang tak jelas. “Aku tak ingin melihatnya lebih menderita, Lu…” lanjutnya lirih.

Aku sudah bekerja dengan Kris lima tahun terakhir. Dan aku juga tahu beberapa pria yang dulu juga dekat dan sempat menjadi kekasih Kris. Kris tak sekalut ini saat Yixing jatuh bangkrut dan hampir dipenjara karena diduga terlibat dengan kasus korupsi ayahnya. Kris juga tak sepanik ini saat Joonmyun hampir kehabisan darah karena 7 tusukan yang diberikan seseorang yang ia lawan saat ia dirampok.

Tapi, untuk kasus Tao, sepertinya ada sedikit pengecualian. Aku sedikit tahu tentang Guillain Barre Syndrome dari mantan teman SMA-ku yang minggu lalu, secara kebetulan, bertemu denganku di swalayan dekat apartemenku. Dia juga tengah meneliti tentang penyebab GBS, selain syaraf peripheral yang membengkak. Dan setahuku, pada kasus tertentu GBS akan menyerang tubuh penderitanya sendiri, sedikit mirip dengan lupus. Walau dalam konteks yang berbeda.

“Kau benar-benar tetap mencintainya, bahkan walaupun ia tak mencintaimu?”

Kris diam dan tak langsung menjawabku. Air mukanya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras (lagi). Mungkin tentang perasaannya, tentang hatinya, atau juga tentang keadaan Tao saat ini. Lalu Kris tersenyum tipis kearahku, “Lu, tak ada yang tahu bahwa ia berbohong kan?”

Aku tertawa kaku, singkat. “Aku tahu kau sangat berharap bahwa ia sedang berbohong saat itu.”

“Atau mungkin ia belum sadar bahwa ia juga mencintaiku.”

Kembali kutatap wajah Kris, “Kalaupun dia berbohong atau terlambat menyadari perasaannya, apa ia masih mencintaimu sampai detik ini?”

Kris menghembuskan nafas panjang, memutar kursinya membelakangiku. Jawabannya kutunggu dengan sabar. “Semoga, Lu. Semoga…”

 

 

Semua rasa yang terpendam itu perlahan menguap

Sinarmu mengalahkan semuanya, Kasih

Sedang apa? Kau dimana?

Aku sudah lelah menantimu menjemputku kembali

Ayo… Bawaku lagi dalam kastil cintamu…

Bawaku pergi dari semua fana ini…

 

 

~Baekhyun Point of View~

 

Aku sedang berada di kamar Tao sekarang. Sepulang jam kuliah terakhir, selalu kusempatkan datang untuk menemani atau sekedar melihat keadaan Tao dari luar kamar. Dokter baru saja menyuntikkan sebotol kecil imunoglobine kedua Tao untuk hari ini. Total, sudah seminggu lebih Tao mendapat perawatan perawatan mahal yang sebenarnya dibiayai penuh oleh Kris itu. Dan ternyata Tao sudah bisa bernafas lebih ringan.

“Bagaimana rasanya, Tao? Apa masih sering kesemutan setelah disuntik?” tanyaku setelah dokter Kim dan susternya keluar dari ruangan Tao.

Tao menggeleng. Aku duduk di kursi sebelah ranjangnya. “Jadi sebenarnya siapa yang bersedia membayari seluruh pengobatan-ku, hyung? Aku tahu obat-obat itu sangat mahal. Jadi mana mungkin ayahku bisa membayar semuanya.”

Setelah cukup membaik, Tao lebih cerewet.

“Kan sudah kubilang, aku tak tahu.”

Tao mengerucutkan bibirnya, lalu menarik selimut panda yang kubawakan kemarin sampai menutupi wajahnya. “Tak ada yang mau memberitahuku. Kejam!”

Aku menggeleng pelan melihat tingkahnya.

Kris memang berpesan agar jangan memberitahu Tao kalau sebenarnya Kris yang membiayai semuanya. Obat-obat mahal-nya, kamar VIP-nya, juga dokter-dokter terbaik di kota Seoul. Dan kami semua─keluarga Tao, aku, serta manager Kris yang cantik itu─setuju untuk menutup mulut.

Perlahan kusingkap selimutnya, dan kulihat Tao yang memejamkan matanya sambil tetap cemberut. “Tuhan punya cara  yang indah untuk membuat umat-Nya bahagia, Tao…” bujukku agar dia berhenti merajuk. Bertahun-tahun sudah aku melatihnya, dan 90% usahaku berhasil.

Tao membalikkan tubuhnya menghadapku, mengerjapkan mata sipitnya yang berkantung. Sudah lama dia tak memakai kacamata, harusnya dia sudah cukup terbiasa. “Aku akan lebih bahagia kalau aku bisa berterimakasih pada orang yang menolongku, hyung. Dia sudah membantuku, membantu keluargaku. Walau aku tak tahu nominalnya, kuyakin ia mengeluarkan biaya yang tak sedikit untukku.”

Sebenarnya, Tao, kedua orangtuamu bahkan hampir bersujud sambil menangis kencang di kaki Kris saat pria itu berkata kalau ia akan membiayai pengobatanmu malam itu. “Pasti ada yang membalas kebaikan hatinya, walau itu bukan dirimu.”

“Hyung, aku bukan orang yang suka berhutang budi. Aku sudah berhutang budi padamu, pada Kris, pada…”

“Ssstt…” cegahku sambil menempelkan telunjuk ke bibirku sendiri. Lalu kuselimuti lagi tubuhnya sampai sebatas dada.

Dan ia akhirnya diam. “Tidurlah…” Lalu ia segera memejamkan mata.

Aku berpindah ke sofa. Duduk santai menyelonjorkan kakiku yang pegal karena pengambilan nilai marathon tadi pagi. Kuambil majalah kesehatan edisi lama yang ada dikolong meja, dan membacanya asal. Aku masih akan menunggu Tao, sampai salah satu dari orangtuanya datang. Dan pasti Tuan atau Nyonya Huang tak akan tega meninggalkanku disini bersama Tao sampai larut malam.

“Hyung…” Tao mulai merajuk lagi.

Aku masih pada posisiku. “Ada apa, Tao?”

“Aku ingin susu coklat…”

Kuhembuskan nafas perlahan, berjalan kearah kulkas kecil disudut ruangan dan mengambil susu coklat kemasan lalu memberikannya kearah Tao. Tak lupa dengan sedotannya.

Tao meminumnya perlahan, sekilas terlihat mengulur waktu.

Saat aku mulai berbalik, ia akhirnya membuka mulut. “Aku merindukan Mr.Wu…”

Aku cukup kaget mendengarnya. Sudah sangat lama Tao tak pernah menyinggung semua tentang Kris lagi.

“Semalam, aku sempat bermimpi Mr.Wu datang menjengukku.”

Dan semalam, saat Tao tertidur, Kris memang datang menjenguk. Kudengar dari ibu Tao.

“Itu kan cuma mimpi…” ujarku.

“Tapi menurut hyung, apa dia tahu kalau aku sakit?”

Aku mengedikkan bahu, pura-pura tak tahu. “Masih mempunyai perasaan padanya?”

Dan kini giliran Tao yang mengedikkan bahu sambil menggeleng lemah. Ia meletakkan kotak susunya di meja dekat ranjang, lalu mulai menyelimuti tubuhnya lagi. “Kata hyung, perasaan yang kurasakan pada Mr.Wu itu cinta. Benarkah?”

Kembali kududukkan diriku di kursi dekat ranjang Tao, “Yang tahu tentang perasaan seseorang, ya, orang itu sendiri, Tao.”

Jemari kurus Tao semakin mempererat genggaman pada selimutnya, menariknya lebih sampai menutupi bibir. Matanya menerawang bagai menembus langit-langit kamar inap berwarna hijau cerah ini. “Aku terlalu bodoh ya?”

“Kau jenius dalam ilmu pengetahuan. Tapi bodoh dalam ilmu hati,” sindirku.

Dan dia malah terkekeh kecil.

“Aku akan mengetes-mu.”

Tao menoleh kearahku, matanya melebar.

“Kalau Kris disini, apa yang akan kau katakan?”

“Meminta maaf karena aku selalu menyusahkannya, dulu.”

“Kalau Kris disini, apa yang akan kau minta darinya?”

Tao terdiam sejenak, “Jangan pergi lagi.”

“Kalau Kris disini dan memintamu menjadi kekasihnya, apa jawabanmu?”

Kali ini, Tao terdiam cukup lama. Ia menggigit bibir bawahnya,matanya mengedar ke penjuru ruangan. Tao pandai menyembunyikan perasaan, tapi tidak didepanku.

“Hyung, hanya keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama kan?”

Aku mengangguk.

Tao tersenyum, “Aku tak mau menjadi keledai bodoh.”

Kukerutkan alisku. “Jadi, jawabannya?”

Senyumnya melebar, “Ya.”

 

 

Manakah yang lebih dulu tenggelam?

Punggungmu yang merapat di tikungan jalan,

atau senja yang samar, lalu menghilang?

 

Manakah yang lebih dulu terhanyut?

Kekecewaanku akan sosokmu,

atau cinta yang telah lama dirajut?

 

 

Suster Jung adalah suster favourite-mu selama berbulan-bulan kau harus bertahan hidup di rumah sakit ini. Mata kucing dengan pupil kecilnya, rambut kecoklatan alami yang selalu digulung rapi dengan jaring tipis, dan gigi gingsul yang mengintip dibalik senyum ramahnya selalu membuatmu nyaman. Apalagi Ryu Minwoo, putranya yang baru berumur empat tahun dan selalu ia bawa bekerja seminggu sekali terkadang bisa menyelingi jenuhmu disini.

Suster Jung baru saja mengganti infus-mu, dan langsung menyalakan teve. Kebiasaanmu tiga bulan terakhir, sejak pindah keruang VIP dan diberi pengobatan gratis oleh orang yang kau tak tahu dia siapa, kau selalu meminta Suster Jung untuk menyalakan teve saat ia datang untuk mengusir rasa bosanmu.

“Orang tua-mu itu hebat ya, Tao,” ucap Suster Jung padamu kala itu.

Suster Jung mulai menyuntikkan sebotol kecil obat bening ke suatu lubang khusus di selang infus-mu. Tanganmu sudah penuh oleh bekas jarum infus. Kau bahkan juga pernah diinfus di bagian kaki. “Hebat kenapa, Suster?” tanyamu.

“Bekerja keras untuk anaknya yang sakit, baru beristirahat harus buru-buru menemanimu di rumah sakit sampai keesokan harinya.”

Kau tersenyum, “Aku tidak meminta untuk ditemani. Mereka yang tidak mendengarkanku.”

Suster Jung tersenyum. “Untung ya Baekhyun yang bukan saudaramu saja masih sangat peduli padamu.”

Kau kembali tersenyum.

Program edukasi di salah satu stasiun teve yang selalu kau tonton terpotong oleh iklan. Dan dalam iklan alat kontrasepsi itu kau menemukan wajah Kris disana. “Ck,” decakmu pelan. “Kemarin iklan sabun mandi, lalu iklan pakaian renang. Sekarang malah iklan kontrasepsi. Managernya yang bodoh atau memang dia yang suka pada iklan mesum sih?”

Suster Jung jadi ikut memperhatikan layar teve. “Oh, Kris Wu.”

Kau mengangguk. “Dia jadi berbeda dari dulu. Iya, sih, dia jadi banyak job sekarang. Tapi kebanyakan job-nya malah tak bermutu. Kudengar-dengar dia akan bermain di Death Bell III. Pasti film itu akan lebih ehm dari seri sebelumnya.”

Suster Jung membereskan peralatannya, lalu menyiapkan obat-obat Tao yang ada didalam laci. “Walaupun dia mesum, Kris kan tetap tampan dan baik.”

“Memang, sih.” Kau menatap punggung Suster Jung yang sedikit membelakangimu. “Kok, suster tahu Kris orangnya baik?”

Suster Jung menghampirimu sambil memberikan segelas air putih dan menyodorkan piring kecil berisi beberapa butir obat padamu. Lalu kau meminumnya satu persatu, kau tidak suka meminum obat sekaligus. “Tentu! Dia, kan, orang yang bersedia membiayai seluruh pengobatanmu sampai tuntas. Suster Cha juga sering menemukannya berada di kamarmu pada tengah malam saat kau tidur. Kau kira kami tak tahu, ya? Tao, kau ada hubungan khusus dengannya kan?”

Dan secara tak sadar, saat mendengar itu semua, kau langsung menyemburkan air minummu sambil membelalakkan mata kaget.

Untung Suster Jung tidak tepat berada didepanmu…

 

 

~Lu Han Point of View~

 

Latihan vocal dan dance Kris sudah berakhir sejak setengah jam lalu, tapi bodohnya si Naga itu malah baru mandi sekarang. Aku punya janji bertemu dengan Sehun dua jam lagi, dan aku bahkan belum bersiap-siap. Aku juga tak bisa meninggalkan Kris karena seluruh barangnya ada padaku saat ini.

iPhone Kris berbunyi. Tertera nama Baekhyun Byun di layarnya. Kubiarkan saja, karena aku tahu itu bukan seseorang yang berhubungan dengan pekerjaan Kris. Pribadi. Jadi aku tidak akan mengangkatnya.

iPhone itu berbunyi lagi. Bukan nama Baekhyun Byun, melainkan Ayah Tao. Untuk apa ayah Tao menelpon?

Perasaanku tak enak. Walau ini urusan pribadi Kris, setidaknya aku tahu siapa orang yang menelponnya. Jadi aku masih punya hak untuk mengangkatnya saat Kris tak ada. Seperti sekarang.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo. Nak Kris…”

Aku tersenyum. “Ini bukan Kris. Aku managernya. Ada yang bisa dibantu?”

“Ehhmm.. Baiklah. Tolong beritahu pada Kris, ya? Ini gawat.”

Gawat? “Ya, tentu saja.”

“Tao mengamuk. Ia mencabut infus dan beberapa selang obatnya. Tadi juga sempat jatuh ke lantai dan merangkak ingin pergi dari rumah sakit.”

Mulutku sedikit terbuka. Anak itu nekat sekali.

“Tao sudah tahu kalau Kris yang membiayai semuanya.”

Belum sempat aku memberikan respon pada ayah Tao, Kris tiba-tiba menepuk pundakku. Aku menoleh, menemukan-nya sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk kering. “Ada apa? Sampai kaku begitu.”

“Tao mengamuk. Ia sudah tau kalau semua uang pengobatannya dari-mu,” ucapku pelan.

Dan sekejap kemudian, Kris berlari keluar ruangan. Menghempas handuknya kelantai. Mengambil kunci mobilnya diatas meja sambil berteriak, “Bangsat!!”

Sedangkan aku membatu, kaget akan respeknya. Seperti saat aku kaget terhadap ulah nekat Tao. Dan tak kuhiraukan suara ayah Tao yang memanggilku dari balik sambungan telepon.

 

 

Tenanglah Cantik…

Ada aku disini, bersedia memelukmu

Kenapa kau menjauh?

Kenapa semakin menjauh?

Cantik…

Aku disini, menangis untukmu

 

 

Kau berlari secepat kau bisa. Mengebut secepat kau bisa. Berpikir secepat kau bisa.

Bagaimana Tao tahu tentang semua ini?

Bukankah kau sudah memberitahu keluarga Tao, Baekhyun, dan Luhan agar tak berbicara apapun tentang dalih-mu membiayai pengobatan Tao? Bukankah hal ini juga belum bocor ke media? Darimana? Darimana?

Kau membuka pintu kamar Tao dengan kasar. Hampir membanting. Tao berada didalam, dengan tangan terikat. Kaki-nya tertutup selimut, tapi Kris tak melihat tali apapun yang melingkar di bagian kaki ranjang. Tentu, Tao tak akan menggerakkan bagian lumpuh itu. Ada kedua orang tua Tao dan Baekhyun didalam.

Kau mendekat perlahan, Tao belum menoleh kearahmu. Di wajahnya terpasang masker oksigen. Dan saat kau memperhatikan tangannya, infus di pergelangannya mengeluarkan banyak darah.

Tao menggerakkan lehernya, menatapmu, lalu memicingkan matanya. “Pe…per…gi…” ucapnya lirih, suaranya serak.

“Panda…”

“Kubilang pergi…Mr.Wu,” ujarnya dengan suara lebih keras. Kaku. Penuh benci.

Kau tetap mendekat, menggenggam tangan kanannya yang tak dipasang infus. Ia memberontak, dengan tenaga yang lemah sekali. “Kenapa kau menyuruhku pergi?”

“Karena kau yang bilang kalau kau tak akan mau menemuiku lagi setelah kejadian itu…”

Kau teringat akan kata-katamu saat itu. Saat kau ditolak oleh Tao. Kau mengatakannya dengan nada yang sama dengan nada ucapan Tao barusan. Kaku. Penuh benci. Dan yang lebih parah kau juga menyipratkan genangan air ke arah Tao dengan roda-roda Ferrari-mu. “Ak…aku…”

“Kalaupun aku mati tak akan banyak orang yang bersedih.” Tao menatap orangtuanya dan Baekhyun sekilas. “Hanya ada Ayah, Ibu, dan Baekhyun hyung yang menangis di pemakamanku.” Tao melepaskan tanganmu dan menjauhkannya. “Tidak apa jika aku tetap sakit. Aku sudah terbiasa… Berhenti membantu pengobatanku.”

“Aku juga jadi salah satu orang yang akan menangis untukmu… Dan aku tak akan menghentikan membayar semua biaya perawatanmu disini.”

Ia memejamkan matanya. Ekspresi marahnya tiba-tiba berubah menjadi tenang dalam waktu cepat. “Aku tak bisa membayar semua ini, Mr.Wu… Sampai dua puluh tahun-pun, aku tak akan bisa melakukannya.”

“Kau tak perlu melakukan apapun… Kau..”

Ucapanmu terhenti, Tao menyela. “Aku memang tak perlu melakukannya tapi aku harus melakukannya.”

Ayah Tao mendekat kearahmu, merangkul pundakmu yang lebih tinggi darinya. “Aku memang tak seharusnya menyuruhmu pergi. Tapi jangan pikirkan ucapan Tao. Jika kau mau, aku yang akan membayarnya. Aku bersedia menjadi pesuruh-mu.”

“Aku juga bersedia menjadi pembantu-mu, Nak…” sahut ibu Tao. Menampakkan wajah memelasnya kearahmu.

“Ayah dan Ibu bicara apa?! Ini penyakitku! Aku yang berhak membalas semua hutang budi-ku pada Mr.Wu!” bentak Tao dengan suara payah. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Mungkin dia juga tak makan sampai sore ini.

“Kau bisa melakukan apa saja, kan, Kris?” Suara Luhan memecah ketegangan. Tiba-tiba dia sudah berada di ambang pintu dengan menenteng sweatermu, kau bahkan juga baru sadar kalau kau hanya memakai kaus dalam. Pantas saja udara begitu dingin. “Pakai sweater-mu,” Luhan melempar sweater coklat itu kearahmu. Dan dengan sigap kau menangkap dan memakainya.

“Kris bisa membiayai semua pengobatanmu. Kalau kau ingin membayar semuanya. Kau harus menuruti semua mau Kris.” Luhan melirik kearahmu, “Gampang kan?”

Kau mendekat kearah Luhan, mencubit pinggangnya pelan dan berbisik dengan nada kesal. “Apa-apaan?! Aku tak menuntut apapun!”

“Ssstt…” Luhan menempelkan telunjuk ke bibirnya. “Aku punya rencana bagus, Dragon.”

Lalu kau menatap Tao ragu. Semua orang dalam ruangan itu menatap Tao yang memalingkan wajahnya.

“Bagaimana, Huang Zitao?” tanya Luhan yakin, setelah sekian lama kalian memandang pria panda itu.

Tao menoleh, “Aku…,” ia memejamkan matanya sebentar, “Setuju.”

 

~Lu Han Point of View~

 

“Apa maksudmu? Menyuruh Tao melakukan semua mauku? Aku tak mengharapkan apa-apa darinya, Lu!” bentak Kris padaku di lorong depan kamar inap Tao.

Aku mengambil Blackberry-ku, menjawab BBM dari Sehun. “Kau pasti akan suka rencanaku…” jawabku tanpa menatap Kris sedikit-pun.

“Aku tak akan menyukainya, Luhan… Memang aku harus menyuruhnya apa? Menjadi pembantu dirumahku? Hah???”

Aku hanya menyunggingkan senyum sarkastis.

“Nak Kris…” Ibu Tao tiba-tiba keluar dari ruangan.

Kris memalingkan wajahnya dariku. Aku melakukan hal yang sama, menatap wanita pertengahan empat puluhan berbibir tipis itu. “Ya, Nyonya Huang?”

“Kumohon, jangan meminta hal yang sulit pada Tao. Dia anak yang keras kepala… Kau bisa menyuruhku saja, jangan dia…” terdengar nada kekhawatiran yang dalam dari suara lemah itu. Semenjak bertemu dengan kedua orang tua Tao, aku yakin kalau wajah dan cara berbicara Tao mirip ibunya. Sedangkan ayah Tao ‘menyumbangkan’ bentuk tubuh tegap-nya. Walau sekilas Tao terlihat rapuh.

Seorang pria yang mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Tao juga keluar dari ruangan yang sama. Ekspresi marahnya lebih meluap. “Jadi ini maksudmu, Kris?! Berpura-pura baik membiayai pengobatan Tao lalu memanfaatkannya untuk hal yang kami semua tak tahu?!”

“Buk… Bukan begitu, Baekhyun.”

“Baekhyun, sudah, tenanglah…”

“Kalian semua, termasuk Anda, Nyonya Huang, pasti akan menyukai rencanaku.” Aku menggandeng tangan Kris, “Permisi,” ucapku sambil memberikan senyum palsu.

 

Jadi, kupastikan.

Kecewamu itu yang akan terhanyut lebih dulu…

Dan kita akan melanjutkan rajutan kita yang tertunda…

 

 

Kau membuka kotak kado yang diberikan Suster Jung itu perlahan.

“Aku tidak tahu dari siapa,” ucap suster itu.

“Lalu kenapa suster Jung tau ini untukku?”

“Kan diletakkan didepan pintu kamarmu. Untung tak ada yang mengambil. Ayo cepat buka!”

Tali pengikatnya sudah terlepas, dan sekarang kau membuka tutup kotak itu. “Hah? Masih ada kotak lagi.”

“Ya buka saja semuanya…”

Kau membuka kotak kado itu satu persatu. Total ada 4 lapis, dan kau sungguh senang karena pada kotak terakhir terdapat pola panda. “Isinya cuma selembar kertas dan….kelopak mawar.”

“Wooaahh… itu dari pacarmu?”

Dirimu menggeleng, “Aku tak punya pacar.”

Suster Jung mendekatkan wajahnya ke arahmu, menundukkan senyum sarkartis-nya. “Dari Kris Wu ya?”

Matamu membulat, “Bukan! Tentu saja bukan!”

Suster Jung mengedikkan bahu. “Baiklah, terserah apa katamu. Ayo baca suratnya.”

 

Panda, ini perintah pertamaku.

Jangan lagi kau memanggilku ‘Mr.Wu’…

Mulai sekarang, kau hanya boleh memanggilku Gege. Hanya sebutan itu…

Semoga cepat sembuh, Panda-ku…

 

Kris Ge

 

“Benar, dari Kris,” lirihmu.

Suster Jung menjentikkan jarinya. Dia terlalu aktif untuk wanita berumur tiga puluh tahunan. “Isi suratnya?”

Kau melipat kertas itu, memasukkannya ke saku baju rumah sakit-mu. “Rahasia,” ucapmu dingin, tak ingin membahasnya lebih lanjut.

‘Pandaku…’

 

 

~Baekhyun Point of View~

 

Sebelum berangkat kuliah, tiba-tiba ada Luhan didepan rumahku. Menyendenkan tubuhnya pada pagar kayu tua yang tertata rapi mengitari halamanku yang cukup luas, untuk seukuran rumah tradisional Korea yang tak terlalu besar di antara himpitan apartemen mewah. Pria yang baru saja mengganti warna rambutnya menjadi abu-abu itu sedang sibuk dengan ponselnya, jadi aku tak memanggilnya sekeluar-nya aku dari rumah. Hanya kudekati, dan berdiri dibelakangnya sampai ia sadar tentang keberadaanku.

“Aku sudah menunggu selama lima menit,” ujarku santai ketika rasa jenuhku menguap ke permukaan seperti asap kopi luwak yang harganya jutaan itu.

Luhan membalik tubuhnya, meringis sebentar menunjukkan deret gigi putihnya yang mirip Chanyeol─sialan, aku mengingat pria itu─ lalu memasukkan ponselnya ke saku. “Maaf, aku tak tahu.”

Aku mengangguk. “Ada apa?”

“Apanya yang ada apa?” tanyanya dengan tampang bodoh.

Oh Tuhan… “Ada apa sampai kemari pagi-pagi begini? Aku mau berangkat kuliah.”

Luhan melirik jam tangannya, “Kau sudah berangkat jam segini?”

Kugelengkan kepala, “Ke Tao sebentar, lalu jalan kaki ke kampus. Dekat.”

Luhan tersenyum, “Bagus.”

Bagus apanya? Aku tak mengerti.

Luhan berlari kecil ke Nissan Fairlady Z putihnya, mengambil sesuatu di jok depan, dan kembali kearahku dengan cara yang sama. Berlari tanpa tempo dengan kakinya yang kurasa lebih kurus dari kakiku. “Tolong berikan ini ke Tao.”

Ini apa? Jangan-jangan tagihan rumah sakit.

Seperti bisa membaca pikiranku, Luhan menjawab, “Ini rencana yang kubuat tempo hari. Jangan dibuka, biar Tao yang membukanya. Kris menulisnya sendiri.”

Oh, sebuah surat. Tapi kenapa dibungkus setebal ini? Maksudku, kenapa diletakkan dalam kotak kado sebesar ini?

“Aku harap rencanamu yang tak ku mengerti itu tidak membebani Tao, ataupun keluarganya.”

Luhan kembali tersenyum. “Kalau kubilang rencara ini bagus, mau menjadi kurir pribadi kami? Maksudku kurir pribadi Kris…”

Dahiku mengernyit secara tak sadar, artinya aku bingung. “Kurir apa?”

Ia mengedikkan bahu, “Ya…kurir,” jawabnya dengan mata blingsatan, tak tentu arah.

“Kalian berdua aneh,” ujarku. Kenapa gaya bicaraku jadi mirip Tao begini?

“Rencanaku adalah membuat Kris dan Tao menjadi sepasang kekasih,” ucap Luhan. Sedikit membuatku terkejut. Ide pria tua bertampang bocah ini cukup gila. “Kalau mereka jadian, tak ada masalah kan?”

Sedikit berpikir aku diam, “Masalahnya mungkin pada fans Kris.”

“Kris memacari salah satu fansnya, anggap saja ini fans service.”

Gila, apa orang itu tidak mencerna kalimat yang akan diucapkannya dulu? Aku memberikan kotak kado itu kearah Luhan. “Perasaan itu bukan pemaksaan. Permisi.” Aku berbalik, berjalan ke arah halte bus terdekat yang biasa membawaku ke daerah rumah sakit Tao di Nohwon-gu.

“Tao tidak mencintai Kris ya?”

Langkahku terhenti, aku tergugu.

 

 

(o’-‘o)

 

Kau baru saja menjalani terapi untuk melatih tanganmu yang sedikit kehilangan fungsi setelah terkena penyakit(yang menurutmu) kutukan itu. Surter Jung mendorong kursi roda rumah sakit yang kau pakai perlahan, mengoceh sendiri, lebih tepatnya menceritakan suaminya yang seorang Angkatan Laut dan jarang pulang, berharap kau mendengarnya dengan seksama.

Tapi pikiranmu telah terpenuhi oleh sosok Kris.

“Nah…  Selamat datang kembali di kamar…” Suster Jung membuka pintu kamarmu, kau menghembuskan nafas berat.

Tapi pada detik berikutnya, matamu membulat sempurna seperti purnama. Sama saja dengan ‘pengasuh’-mu itu.

Kamarmu yang semula sederhana(hanya berisi beberapa koper baju dan keperluanmu), sekarang jadi hampir penuh dengan boneka dan pernak-pernik berbentuk panda lainnya. Termasuk sebuah kursi spons yang sekilas terlihat seperti bantal jumbo, dan diletakkan disudut ruangan.

Amazing…” takjub Suster Jung.

‘Impossible’ takjub-mu pula dalam hati.

Suster Jung membawamu masuk. Sampai disebelah ranjangmu, ujung jemarimu menyentuh selimut pandamu yang masih berada disana. Lalu berhenti di bantal dengan motif panda pula, namun berbeda bentuk. Beda produksi. Ada sesuatu yang berdesir di jantungmu. Membawa rasa yang sama keseluruh tubuhmu melalui nadimu yang melemah.

Kau mengambil bantal itu, mendekapnya. Ada yang menarik, bau yang tak kau kenal, namun tak asing. Kau menghirup aromanya itu lagi sambil memejamkan mata, mencoba meresapi lebih dalam, mengecap lebih jauh. Matamu terbuka, dan tak sengaja menemukan kartu pos bergambar Naga diatas laci.

Suster Jung mengambil kartu pos itu, membacanya.

 

Perintah keduaku.

Kau harus tidur nyenyak dengan bantal panda itu, harus bisa duduk tenang sambil belajar di kursi panda itu, harus lebih semangat melihat suasana kamar barumu yang jadi mirip penangkaran panda itu.

Itu, itu, dan itu, anggap saja semua menjadi penebus kesalahanku setahun lalu.

Bisa menepatinya, kan?

Your Ge…

 

“Kau tahu ini dari siapa? Memang ada ya, marga ‘Ge’ di Korea?”

Kau tersenyum tipis mendengar pertanyaan konyol Suster Jung. Semakin memeluk batal yang masih ada dalam dekap tanganmu.

‘Kris’…

 

(o’-‘o)

 

 

Luhan masuk ke kamarmu dengan rentetan kalimat ceriwis-nya. “Hay Tao sayang… Ups, aku memanggilmu sayang. Kuharap tak akan ada yang marah padaku. Hey bagaimana kabarmu? Apa kau masih menjalani terapi? Kudengar dari temanku kalau terapi itu begitu menyebalkan. Kuharap kau tidak akan mati ya… Ak..”

“Aku akan lebih cepat mati kalau terlalu lama mendengar ocehanmu.”

Luhan meringis, meletakkan ranselnya diatas sofa, dan kantong plastik putihnya diatas meja depan sofa. Ia menghampirimu, “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan yang mana?” tanyamu bingung.

Luhan memutar bola matanya, “Lupakan.”

Kau mengangguk. “Kenapa kemari?”

Luhan mengerucutkan bibirnya, “Memangnya tak boleh? Di pintumu tak ada tulisan Luhan dilarang masuk, kok!”

Kau diam saja.

“Aku juga ingin tahu keadaanmu. Teman Kris, temanku juga.”

Kau masih diam.

“Oh ya,” Luhan berpaling. Berjalan mengambil kantung plastik putih dimeja dan menghampirimu kembali. “Ini dari Kris,” ucapnya lalu menyodorkan kantung plastik itu padamu.

Sebuah kardus makanan. Dan diatas kardus makanan itu tertempel sebuah kertas. Ada tulisan tangan Kris.

 

Aku membawakanmu camilan makan siang.

Semoga kau suka.

Dan perintahku selanjutnya, jangan menolak camilan yang kubuat sendiri ini! Tak menghargai jerih payahku sama sekali! Jangan mengulangi kejadian dulu.

The Dragon

 

Kau membuka perekat yang menyegel kantung plastik itu. Membukanya perlahan.

Bibir tipismu ternganga kecil. Kau masih mengingat cupscake itu dengan jelas.

Cupscake panda yang menjadi saksi bisu penolakanmu terhadap Kris itu tersenyum padamu yang masih menampakkan wajah shock.

 

(o’-‘o)

 

“Dalam minggu ini, kau sudah boleh pulang. Hanya perlu menjalani beberapa terapi pada tangan dan punggungmu,” ucap dokter Choi padamu dan keluargamu. Baekhyun tak ada disana, ia sedang ada lomba menyanyi di Busan.

Tentu mendengar penjelasan dokter muda berpengalaman itu, kau dan keluargamu bisa bernafas lega.

Mungkin Kris juga, sekarang ia tak perlu kerja mati-matian untuk pengobatanmu yang super mahal itu.

“Kau sudah mulai lancar menulis lagi, kan, Tao?”

Kau mengangguk sambil tersenyum.

“Masih susah berkumur?”

Kau menggeleng.

Dokter Choi tersenyum, merapikan alat-alat kedokterannya. “Mungkin tiga-atau empat hari lagi kau bisa pulang. Akan kukonfirmasi secepatnya.” Dokter Choi berbalik menghadap orang tuamu, “Permisi,” ucapnya sambil menunduk.

Kedua orang tuamu membalas dengan menunduk pula.

Setelah dokter Choi dan suster Cha keluar dari kamarmu, ibumu langsung merangkulmu dan mengecup dahimu pelan. Lalu mengelus rambutmu sambil berkata, “Syukurlah, kau bisa pulang. Ibu rindu melihatmu berkeliaran dirumah dengan kursi roda. Rumah jadi benar-benar sepi tanpamu.”

Kau mengangguk sambil tersenyum. “Aku tahu, Bu. Aku tahu…”

“Kris juga tak perlu susah payah bekerja keras untuk membiayai perawatanmu lagi. Ah…dia benar-benar anak yang baik,” ujar Ayahmu.

“Dia tak mengajukan permintaan yang aneh-aneh, kan?” tanya Ibumu khawatir.

“Semua permintaannya aneh.”

“Hah?! Dia minta apa? Dia memintamu bekerja dirumahnya sampai hutang kita lunas? Tidak kan?”

Kau menggeleng. “Dia cuma menyuruhku memanggilnya ‘Gege’, menyuruhku tidur dengan nyenyak, dan menyuruhku memakan cupscake panda. Hanya itu,” uraimu.

Alis kedua orang tuamu saling mengait, “Permintaan yang aneh.”

Kau mengedikkan bahu.

“Oh ya, tadi Kris datang kerumah dan menitipkan sesuatu,” ujar ayahmu. Lalu ia mengambil amplop coklat dari dalam jaketnya.

“Kenapa ia selalu menitipkan barangnya, sih? Bukannya mengantarkannya langsung saja…”

“Ya mana kami tahu?” jawab Ibumu.

Kau membuka amplop coklat berukuran sedang itu, dan menemukan MP3 Player putih didalamnya. Lengkap dengan headset panda. Kau tersenyum kecil.

Perlahan kau memakai MP3 Player itu, dan menekan tombol play kecil di bagian tengah.

 

Dari detik ke detik

Kita jalani hari

Dari waktu ke waktu

Kita jalani hidup ini

Waktu terasa, sungguh cepat berlalu

Beriring…

Dengan canda tawa kita

 

Di pagi ini

Kuberikan senyum terindah untukmu, oh sayangku…

Di pagi ini

Kuberikan senyum terindahku untukmu, oh sayangku…

Pagi membeku di ruang yang hampa

Terdengar cerita canda tawa kita

Jalani hari

Indah bersamamu

Cerita, kita bersama…

 

Dan tersenyumlah… Tersenyum padaku…

Jalani hari

Indah bersamamu

Cerita, kita bersama…

(Cerita Kita – Fadly Farez{No Record})

 

Itu suara Kris. Kau bisa mengenalinya dengan jelas. Kau fansnya, bukan? Walau begitu, kau tak pernah menyangka kalau Kris yang selalu mengusung genre Hip Hop dan RnB dalam lagu-lagunya bisa menyanyikan lagu semanis ini.

“Sudah puas mendengar suaraku, kan, Panda?”

Kris ternyata juga menyisipkan voice recorder pada MP3 Player ini.

“Karna aku orang baik, maka aku hanya akan membuat 5 permintaan yang harus kau turuti. Dan berdasarkan pengamatan ‘tangan kananku’, kau sudah berhasil melaksanakan 3 permintaan yang kuajukan.”

Kau tersenyum kecil. Tangan kanan? Siapa? Luhan, Baekhyun, Ayah dan Ibu, atau malah Suster Jung?

“Ini permintaan keempatku…”

Permintaan keempat. Tinggal 1 permintaan lagi maka hutangnmu akan lunas. Kau harap.

“Aku minta ruanganmu besok kosong, tepat pukul 9 pagi. Tak boleh ada orang lain selain dirimu. Karna aku ingin berbicara empat mata, privasi. Sesuatu yang penting. Mengerti, kan?”

Secara refleks, kau mengangguk.

“Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Jaga kesehatanmu.  Sampai jumpa, Panda…”

Record itu terhenti setelah bunyi klik samar.

“Kau diberi apa dari Kris?” Tanya ayahmu heran yang melihatmu sedari tadi bertingkah aneh.

“Aku…tidak bisa menjawabnya,” ujarmu jahil.

“Memangnya kenapa?”

Kembali kau tersenyum, “Bukankah kadang kita tidak bisa menjawab suatu pertanyaan karena tidak tahu jawabannya?”

 

 

Ini cintaku

Ini cintamu

Ini cinta kita

Apa masih ada kata ‘ya’ diantara serpihan cinta itu?

 

Baekhyun dan Suster Jung sudah membantu merapikan keadaan kamar inapmu. Kris akan datang. Tamu Besar akan datang. Ia Kris, ia Kris Wu, ia seorang artis, ia mantan gurumu, ia orang yang membiayai pengobatanmu, ia…orang yang penting untukmu.

Pukul 8.59 pagi. Kalau Kris memang tepat waktu, maka ia akan tiba satu menit lagi. Dan sesuai permintaannya, kau sekarang hanya sendiri di ruangan berukuran 5×5 meter itu.

Pintu terbuka perlahan, menimbulkan decit gesekan antara daun pintu dan lantai marmer cream yang masih memantulkan cahaya mentari dari jendela. Kau menoleh.

Seorang pria dengan kacamata patah dan di rekatkan dibagian tengah dengan perekat bening, berkursi roda yang roda-rodanya berdecit, masuk ke ruanganmu sambil memakai seragam yang sama dengan seragam sekolahmu. Pria itu, Kris.

Butuh waktu beberapa detik sampai kau tersadar dari keterpesonaanmu.

“Selamat pagi, Panda…” sapanya.

Kau tersenyum.

Kris juga tersenyum. “Shock melihat penampilanku?” tanya Kris sambil menutup pintu kamar. Dan dengan segera mendorong kursi rodanya dan menghampirimu.

Kau mengangguk perlahan.

“Aku harus bersusah payah meminta Baekhyun mencuri kacamata, seragam, dan kursi roda lamamu ini,” curhatnya memelas. “Untung kau masih menyimpan semuanya. Dan jangan khawatir, aku akan mengembalikannya lagi setelah misiku selesai.”

“Misi apa?” tanyamu lirih.

Kris mendecak, “Ck, sialan. Aku keceplosan.”

Kau tertawa kaku.

Kris mencoba menyentuh tanganmu, tapi kau menghindar. “Baiklah… aku tak akan menyentuhmu sampai waktu yang tepat.”

Waktu yang tepat…

“Kau terlalu bertele-tele, Ge…”

Kris tersenyum kearahmu. “Baguslah kau sudah bisa memanggilku dengan ‘Gege’…”

“Lama,” protesmu.

“Baiklah, aku akan mengajukan permintaan terakhirku padamu. Sebelumnya aku akan bertanya lebih dulu.”

Kau mengerutkan alis.

“Kalau aku bukan artis dan bukan orang kaya, apa kau  akan menerimaku disisimu?”

Kau tak mengerti arah pertanyaannya. Tapi kau mengangguk.

“Kalau aku juga lumpuh, miskin, pengidap GBS, apa kau akan menerimaku disisimu?”

Kau kembali mengangguk. Kau akan menerima Kris apa adanya.

Kris menghembuskan nafas perlahan, “Kalau aku masih Kris yang mencintaimu, apa kau akan menerimaku disisimu?”

 

 

Katakan ‘ya’

Atau aku akan menangis seumur hidup

 

 

“Masih kan?” tanyamu tak yakin, sedikit tekut.

“Kris Wu bodoh.”

Kau sedikit kaget mendengar ucapan Tao. Wajahnya masih serius. Ia ditolak untuk kedua kalinya?

“Kau memintaku untuk menerima cintamu itu kan? Jadi aku harus membayar pengobatan ini dengan cinta, rupanya…” Tao menggosok dagunya. Masih tetap menatap tajam dirimu.

“I…iya.”

Tiba-tiba Tao tersenyum. “Dengan atau tanpa kau minta…” terdengar jeda. Tao menangkup pipimu, memberimu kecupan sekilas di bibir. “Tentu dengan senang hati aku akan selalu mencintaimu.”

Dan sang Naga berhasil menaklukkan si malaikat Panda…

 

~The End~

 

Pic Bonus :

Panda cupscake for Reader from the Dragon…

2

60 thoughts on “[FREELANCE: Jonanda Taw] TwoShot : What Is LOVE? | END

  1. wisss,, syukurlah happy ending!!!
    senengnya liat KrisTao bersatu,,,
    Semoga Tao cepet sembuh dan mereka bisa nikah,,, hehehehe

  2. thor,gara-gara kamu mke “kau”,gk nma orng nya langsung,aku jdi ngerasa kalau tao itu aku,baek itu aku, luhan itu aku,dan semuanya aku. -,- :3 -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s