ONESHOT | HUNHAN | KURONEKO (BLACK CAT)

From Hyobin : THIS FF SPECIAL FROM NINE TAILED FOX FOR HUNHAN MONTH (APRIL)~ 

~HAPPY HUNHAN MONTH~ 

line

Title: KURONEKO (BLACK CAT)

kuroneko

Author: Nine-tailed Fox

Pair: Thehun-Yuhan

Genre: Supranatural, little bit horror

Length: 1 Shot

Rate: Lansia -______-

 

CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, BILA ADA KESAMAAN NAMA, TOKOH, LATAR DAN KEJADIAN HAL TERSEBUT TIDAK DISENGAJA *eaa FTV banget*

 

GA ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI DENGAN KEYAKINAN/AGAMA.

 

LIAT GENRE SEBELOM BACA….< udah pake huruf gede nih ya~

 

……………………………………………………………..

 

Ada sebuah kisah…

 

Tentang seekor kucing hitam. Ia selalu kesepian, tidak ada yang mau menemaninya bermain…semua makhluk membencinya. Tidak ada yang mau berdekatan dengannya.

 

Sang kucing selalu menangis sambil berkata…

 

“Temani aku bermain…”

 

“Siapa pun, temani aku bermain.”

“Aku tidak mau kesepian…”

 

Sang kucing pun terus menangis tersedu-sedu…hingga air matanya mengering, hingga air matanya habis mengalir, hingga air matanya menjelma menjadi darah.

 

… …

… … …

 

Luhan berhenti melangkah didepan sebuah gang yang menampilkan jalan buntu, diujung jalan tersebut terdapatlah tumpukan sampah kotor dengan aroma menyengat.

 

“Luhan, mengapa berhenti?” tanya sang sahabat, Baekhyun. Ia dan Luhan memang sering berangkat sekolah bersama.

 

Tak mendapat jawaban dari Luhan, ia pun mengarahkan pandangannya kemana sejak tadi Luhan terpaku. Baekhyun segera menutup mulutnya yang entah sejak kapan terbuka seolah hendak menjerit ketakutan, ia pun menangkup wajah sahabatnya tersebut kearah wajahnya sendiri. Luhan memandang Baekhyun penuh tanya.

 

“Apa yang kau lakukan, Baekhyun?”

 

“Tidak, tidak…jangan lihat kesana…” ucap Baekhyun gelisah, ia masih mempertahankan posisi wajah Luhan menghadap kearahnya.

 

“Huh? Bicara apa kau ini…” Luhan semakin bingung.

 

“Kau tidak lihat disana ada kucing hitam?” sambung Baekhyun menatap tajam Luhan langsung kearah matanya “Kucing hitam itu pertanda kesialan. Kalau terus memandanginya seperti itu…kita bisa tertimpa kesialan seumur hidup!”

 

“Apa?”

 

“Ah, sudahlah! Sebaiknya kita bergegas, pelajaran akan dimulai sebentar lagi.”

 

Tanpa sempat Luhan protes, Baekhyun telah lebih dulu menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana.

 

Mereka berjalan dengan tergesa. Baekhyun seolah-olah ingin segera pergi sejauh mungkin dari sana sehingga Luhan terkesan bagai diseret olehnya. Namun meski demikian, Luhan diam-diam masih memikirkannya…seekor anak kucing berbulu hitam didekat tumpukan sampah diujung jalan buntu tadi. Anak kucing berbulu hitam, hitam pekat seluruhnya tanpa celah…tengah menjilati kaki kanan depannya yang sepertinya tengah terluka.

 

Terbayang jelas dalam ingatan Luhan. Bagaimana kucing tersebut mengeong kesakitan, menjilati lukanya dengan tergesa. Juga bagaimana…ketika kucing itu menoleh dan menatapnya tajam.

 

“Baekhyun…” ucap Luhan membuat ia serta temannya tersebut berhenti berjalan.

 

Sang pemilik nama yang dipanggil pun menoleh “Ada apa?”

 

“Ung~ sepertinya aku melupakan sesuatu…”

 

“Apa? Kau…disaat seperti ini…!” gusar Baekhyun mencubit pipi Luhan antara gemas dan kesal “Yasudah, ayo kita kembali.”

 

“Ah, tidak! Jangan!” cegah Luhan membuat Baekhyun berbalik dan langsung menatapnya penuh tanya “Se-sebentar lagi sudah waktunya masuk kelas. Aku tidak ingin kau terlambat…sebaiknya kau duluan saja, aku bisa melakukannya seorang diri.”

 

“Kau yakin?”

 

“Tentu saja.”

 

Baekhyun terlihat berfikir sejenak, tanpa ia sadari Luhan meneguk liur dalam mulutnya secara diam-diam “Baiklah kalau itu mau mu.” Ucap Baekhyun pada akhirnya “Aku duluan, ok?! Sampai jumpa disekolah! Jangan lama-lama, bergegaslah!”

 

“Iya, aku mengerti!”

 

Seusai berkata demikian, lelaki bertubuh lebih pendek dari Luhan yang bernama Byun Baekhyun itu segera melangkah meninggalkan sahabatnya. Kali ini ia berlari seraya melihat jam yang melingkari tangan kirinya. Dari jarak ini gedung sekolah mereka telah terlihat, hanya perlu beberapa menit berlari untuk dapat sampai kesana.

 

Luhan memandang punggung sempit Baekhyun yang semakin mengecil didepannya. Hingga ketika sosok teman manisnya itu telah benar-benar lenyap dari pandangan, barulah ia berbalik dan berlari kearah yang berlawanan.

 

Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang terlupakan…

 

Ia hanya ingin kembali ketempat dimana ia melihat anak kucing hitam tersebut.

 

Sesampainya disana, Luhan menghela nafas panjang karena ia masih dapat menemukan seekor kucing hitam yang mengusik pikirannya sejak tadi. Tanpa memedulikan aroma tidak sedap dari tumpukan sampah, juga fakta betapa kotornya tempat tersebut, Luhan melangkah mendekati sang anak kucing, sejenak mengamati perilakunya dalam menjilati luka dikaki kanan depannya.

 

Luhan merendahkan tubuhnya dan mengelus puncak kepala sang kucing “Kau terluka?”

 

Sang kucing mengeong merasakan keberadaan seseorang didekatnya, ia masih menjilati luka dikakinya, namun sempat ia menutup mata menikmati rasa nyaman ketika Luhan beralih mengusap dagunya.

 

“Aku akan mengobati luka-mu kucing manis…” ucap Luhan seraya mengangkat tubuh sang kucing dan menempatkannya diatas pangkuan, ia mengulurkan tangan kebelakang, meraba kantung tas ranselnya dan mengeluarkan sebotol obat cair pereda luka dan tisu.

 

Dengan tekun ia melakukannya, sesekali bergumam guna menenangkan sang kucing yang tengah merasa kesakitan saat ini. Luka dikaki kucing itu cukup parah, mungkin akibat perkelahian dengan kucing liar lain, namun untunglah tidak banyak mengeluarkan darah…dalam hati Luhan merasa sedikit lega.

 

“Nah, sudah selesai…” Luhan menurunkan kucing itu ketempat semula.

 

Ia mengeluarkan sebuah sosis dari saku celananya, membuka plastiknya lalu memberikannya pada sang kucing. Sosis yang sengaja ia bawa untuk cemilan didalam kelas, Luhan memang memiliki kebiasaan diam-diam makan dikelas.

 

Luhan mengusap puncak kepala makhluk berkaki empat yang kini tengah makan dengan lahap itu, tersenyum karena merasa sedikit senang melihatnya.

 

“Mengapa kau sendirian? Dimana temanmu yang lain, kucing kecil?” ujarnya sambil terus mengusap kepala berbulu hitam legam sang kucing.

 

Sang kucing mengeong, suaranya terdengar jernih namun sedikit melengking. Layaknya garpu tala yang apabila digetarkan akan membuat telinga ini berdengung. Entah mengapa Luhan merasa, kalau dadanya seolah terhimpit sesuatu yang membuatnya menahan nafas tiap kali mendengar suara kucing ini.

 

“Kucing hitam itu pertanda kesialan. Kalau terus memandanginya seperti itu…kita bisa tertimpa kesialan seumur hidup!”

 

Luhan buru-buru menepis pemikiran negative itu dari kepalanya, ia tak mungkin memercayai hal tidak rasional semacam itu. Kesialan bisa menimpa siapa saja, dimana saja dan kapan saja…bukan hanya karena melihat kucing hitam tentunya.

 

Sang kucing kembali mengeong, memecah dunia khayal dikepala Luhan.

 

Pemuda berparas cantik itu menoleh dan mendapati sang kucing hitam yang tengah menatapnya lekat. Kedua mata kucing itu terbuka lebar, memperlihatkan dengan jelas lensa matanya yang berwarna kuning namun pupilnya berwarna hitam pekat, sepekat jutaan helai bulu ditubuhnya.

 

Luhan merasa mata kucing itu menghipnotisnya, membuatnya sejenak merasa bagai menembus dunia lain.

 

Mata itu…layaknya sebuah lubang hitam besar diangkasa luar nan megah.

 

Terdengar bunyi alarm yang memecah keheningan. Alarm dari jam digital dipergelangan tangan kiri Luhan.

 

“Oh, gawat!! Aku terlambat! Matilah aku!!” paniknya seraya berdiri tegap, untuk beberapa saat Luhan tak tahu harus melakukan apa dan hanya ribut sendiri ditempat “Sial, bagaimana ini! Oh, sebaiknya aku pergi sekarang! Selamat tinggal kucing kecil!”

 

Sang kucing hanya mengeong singkat menghantar kepergian Luhan, dengan mata tajamnya yang terus menatap lekat sosok sang penolong.

 

Dan setelah itu ia kembali mengeong…

 

 

Kucing hitam adalah pertanda sial. Oleh sebab itu. tak ada yang mau berdekatan dengannya karena tidak ingin tertimpa malapetaka.

 

Hitam adalah kotor

Hitam adalah keburukan

Hitam adalah aib

Hitam adalah…pertanda buruk

 

Jangan dekati sang kucing hitam…jika tidak ingin tertimpa sial.

 

.

.

.

 

“Astaga! Detensi? Kau terkena detensi disaat kelas kita tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan festival sekolah?” Baekhyun berteriak kesal, menatap Luhan tajam dengan nafas yang memburu karena menahan amarah, kemudian ia lanjut berkata “Bodoh. Bodoh! Bodo~h!”

 

Baekhyun mencubit pipi Luhan, kali ini hanya karena marah…tanpa rasa gemas, sepertinya hal tersebut relah menjadi hobi baginya. Kenapa temannya itu selalu bersikap marsokis seperti ini, Luhan tak habis pikir. Lelaki cantik berdarah asli China itu hanya mampu meringis, tak berani protes karena takut temannya yang cerewet itu akan makin menggila karena jelas sekali ia salah sepenuhnya.

 

“Apa yang membuatmu begitu lama sampai terlambat dan terkena detensi? Sudah kuperingatkan agar bergegas, kenapa kau ini bebal sekali, huh?!!” sambung Baekhyun melanjutkan acara marah-marahnya.

 

“Maafkan aku. Aku juga tidak tahu, waktu berlalu begitu saja…tiba-tiba alarm dijam tanganku berbunyi dan…begitulah~ hehe.” Luhan terkekeh tanpa dosa, ingin sekali rasanya Baekhyun menjitak kepalanya.

 

“Seharusnya aku menemanimu tadi.” Ucap Baekhyun sedikit menyesal, kali ini ia mendudukan diri dibangku sebelah Luhan “Memang benda apa yang kau lupakan dirumah? Atau kau lupa membeli sesuatu?”

 

“Ah─ itu…”

 

Luhan mengusap tengkuknya gugup, diam-diam ia memikirkan alasan yang tepat sebagai jawaban atas pertanyaan Baekhyun. Jika ia mengatakan menemui kucing hitam itu, bisa diapakan oleh Baekhyun nanti? Lagipula, bisa-bisanya Baekhyun memercayai takhayul konyol semacam itu, dia hidup dizaman apa sebenarnya, Luhan kembali tak habis pikir.

 

“Aku mampir ke minimarket untuk membeli cemilan, kau tahu ‘kan kalau aku suka sekali makan diam-diam dikelas saat pelajaran berlangsung?” ujar Luhan pada akhirnya…ternyata pandai juga ia membuat alasan yang cukup masuk akal, pikirnya lega.

 

Terdengar Baekhyun mendengung samar, tanda jika ia merasa cukup maklum…memaklumi kebiasaan Luhan yang hobi mengemil─ atau mengunyah.

 

“Ini gara-gara kita bertemu kucing hitam itu pagi tadi, kau jadi tertimpa sial ‘kan?”

 

“Konyol. Apa hubungannya?” Luhan tersenyum masam seraya mengeluarkan buku paket bahasa inggris, pelajaran selanjutnya.

 

“Karena kucing hitam itu pembawa sial.” Sahut Baekhyun sebelum akhirnya berdiri dan kembali ketempat duduknya di barisan paling depan, hanya selang dua bangku dari tempat duduk Luhan. Namun tak lama ia menoleh pada Luhan “Luhan, maaf…sepertinya aku tidak bisa menunggumu menyelesaikan detensi. Setelah selesai mempersiapkan festival, ibu memintaku segera pulang untuk membantunya membuat kue pesanan. Tidak apa ‘kan?”

 

“Ung~ tentu. Bukan masalah.” Luhan mengangguk sambil melempar senyum.

 

.

.

.

 

Luhan berjalan menyusuri lorong kelas seraya menepuk-nepuk sebelah pundaknya dengan tangan terkepal. Ia merasa cukup pegal setelah menjalani detensi yaitu membuat list baru judul buku yang ada diperpustakaan sekolah, menggunakan PC Tablet milik pengurus tempat tersebut. Tugas yang sangat mudah namun merepotkan mengingat betapa banyaknya koleksi buku milik perpustakaan sekolah ini.

 

Mulut mungilnya mengeluh pelan ketika melihat langit gelap diluar jendela sana. Gedung ini telah sangat sepi, sepertinya hanya tinggal beberapa siswa yang masih bertahan disekolah atau mungkin─ tidak ada sama sekali. Luhan mempercepat langkah ketika menyadari bahwa suasana mulai terasa mencekam.

 

Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh. Luhan segera menatap lantai dan menemukan sesuatu tengah bergulir kearah kakinya.

 

Dan ketika benda tersebut berhenti bergulir diujung sepatunya.

 

“Gyaaaaaa!!!!” Luhan menjerit ketakutan dengan kedua mata yang terbelalak kaget.

 

Pemuda bertubuh kurus itu mundur beberapa langkah terdorong rasa kaget, hingga membentur kaca jendela.

 

Darah disekujur tubuhnya bagai membeku seketika, dadanya terasa terhimpit sesuatu sampai sulit menarik nafas, kedua matanya terbelalak sempurna menatap tengkorak manusia yang kini tergeletak tak berarti dilantai.

 

Tengkorak manusia…

 

Warnanya putih kusam, kotor dengan sedikit noda seperti tanah…seperti…sehabis digali dari kubur. Dua rongga kosong melompong dimana seharusnya bola mata berada, nampak berdebu dan salah satunya disinggahi sarang laba-laba.

 

Luhan menelan liur paksa dengan susah payah…dan bagian wajah tengkorak itu, tepat mengarah padanya.

 

Mata kosong itu menatapnya, nampak kosong dan hampa. Membuat…tubuh kurusnya mengigil.

 

“Ah! Benda itu ada disana!”

 

Dua orang lelaki berseragam sama dengan Luhan berlari kecil mendekatinya, salah satu dari mereka membawa sebuah kotak kardus yang nampaknya berisi banyak barang. Satu yang tak membawa apapun merendahkan tubuh dan memungut tengkorak itu lalu memasukannya kedalam kotak kardus. Mereka mungkin siswa tingkat satu atau dua…Luhan tak pernah melihat mereka sebelumnya.

 

“Apakah senior yang menemukan benda ini?” ucap salah satunya pada Luhan, ia tersenyum ramah dan berkata dengan sopan “Terima kasih, benda ini sangat penting untuk dekorasi rumah hantu kelas kami…”

 

Memang benar sepertinya kedua orang ini adalah adik kelas Luhan, dan mendengar ucapan mereka…tubuh Luhan mendadak terasa lemas, udara dengan lancar keluar masuk indera penciumannya.

 

“Ngg~ Senior…kau…baik-baik saja?” ucap adik kelas Luhan melihat kondisinya yang masih merapat dikaca jendela dengan wajah tegang.

 

Melihat raut cemas kedua adik kelasnya, Luhan segera menggeleng keras…menepis perasaan takut dan khawatir yang sempat menaungi hatinya. Ia kemudian mengangguk dan tersenyum, sebagai jawaban positif untuk kedua adik kelas yang merasa cemas terhadapnya. Setelah itu tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Luhan bergegas menyusuri lorong kelas keluar gedung sekolah.

 

Ia sempat menghela nafas panjang saat kakinya memijak tanah lapang diluar gedung, oh sungguh mengerikan─

 

Melihat langit yang telah benar-benar kelam, Luhan memutuskan untuk segera menyambung langkah menuju gerbang sekolah. Tak peduli kini pukul berapa, ia malas melihat jam tangannya.

 

Diperjalanan menuju rumah, ketika tengah syahdu-nya bersenandung mengusir resah…seekor kucing tanpa diduga melompat didepan Luhan. Gesitnya gerakan hewan berkaki empat tersebut membuat Luhan terpekik kaget dan menarik kaki mundur selangkah seraya mengusap dada.  

 

Kucing tersebut berhenti tepat dibawah lampu jalan. Sorot cahaya kuning lampu memperjelas rupa sang kucing…Luhan menahan nafas, karena kucing tersebut berbulu hitam sempurna tanpa celah.

 

Sang kucing mengeong dan setelah menjilati kakinya, ia melompat menaiki pagar salah satu rumah dan menghilang.

 

Luhan meneguk liur paksa. Ia memutuskan kembali berjalan setelah menenangkan diri sejenak. Namun belum sempat satu langkah ia ambil, tubuh kurusnya terjatuh menghantam lapisan aspal jalan akibat menginjak tali sepatunya sendiri.

 

“Auuhhh~ aduh…” Luhan meringis seraya mencoba untuk bangkit, lututnya terasa sakit dan pedih serta kedua sikunya yang ia gunakan untuk bertumpu agar kepalanya tak sampai terluka, setelah itu ia menepuk kedua tangan…menghapus serpihan pasir dan kerikil yang membuat telapak tangannya terasa perih “Ah, sial~ tali sepatuku putus…”

 

Luhan segera merendahkan tubuh bermaksud menyiasati simpul tali sepatunya, berusaha untuk tidak memedulikan suara kucing mengeong entah darimana, meski tangannya telah gemetar.

 

 

Ketika malam tiba, sang kucing hitam akan keluar dari persembunyiannya.

Berkelana dari satu tempat ketempat lain untuk mencari teman.

 

Ia sangat lucu.

Bermulut manis dan mengundang rasa iba.

 

“Ayo main denganku…”

 

“Ayo main denganku…”

 

… … … … …

 

Pagi ini seluruh siswa datang kesekolah satu jam lebih awal untuk memantapkan persiapan festival sekolah. Tidak ada kelas yang tidak sibuk, sejak kemarin lorong kelas bahkan telah ramai dengan berbagai dekorasi dan hiasan. Tiap kelas bebas menentukan akan melakukan apa, membuka stand berupa café kecil, kios cuci gudang, stand makanan, band atau pun pertunjukan lain.

 

Kelas Luhan telah memutuskan untuk menampilkan drama, setiap siswa mendapatkan peran baik untuk diatas panggung mau pun dibalik layar.

 

Mereka akan memainkan drama dengan mengambil cerita Alice in Wonderland.

 

Luhan mendapatkan peran sebagai Cheshire cat, sementara Baekhyun berperan sebagai kelinci ajaib. Siswa lain ada yang mendapat peran sebagai ratu hati, prajurit kartu, penata lampu, penulis naskah dan sebagainya.

 

Kini kelas mereka tengah disulap menjadi ruang ganti pemain, sang sutradara sibuk berteriak dan berlarian kesana-kemari mengatur para pemain. Para pemeran pembantu heboh berganti pakaian, ada yang menjadi pohon, matahari atau pun bebatuan. Luhan bahkan dapat dengan jelas mendengar suara lengkingan Baekhyun mengeluh karena tidak suka jika harus mengenakan telinga kelinci imitasi.

 

Namun Luhan sendiri belum berganti pakaian. Dalam kelas hanya dirinyalah yang tampak tenang-tenang saja dan tak terpengaruh kegaduhan. Sejak tadi ia hanya terduduk disudut kelas seraya meratapi ujung jari telunjuknya yang terkena panci panas pagi tadi. Ia menghela nafas, plester bergambar bintang telah merekat sempurna disana menutupi kulitnya yang melepuh…namun rasanya kesal saja, tidak biasanya ia ceroboh dalam memasak. Ditambah lagi, ia nyaris saja terserempet mobil ketika hendak menyebrang jalan saat dalam perjalanan menuju sekolah.

 

Ia pikir, dewi keberuntungan tengah menjauhinya.

 

“Luhan!!” suara lengkingan khas seseorang membelah keributan dalam kelas, membuat Luhan tersentak karena telinganya terasa pengang.

 

Baekhyun…

Dengan lesu Luhan menoleh dan menjawab “Apa…~?”

 

“Kau ini! Jangan diam saja seperti batu! Segeralah bertukar pakaian, sebentar lagi kita akan tampil!” Baekhyun yang telah mengenakan kostumnya dengan rapi menyerahkan satu stel pakaian khas Victorian pada Luhan, lengkap dengan telinga dan ekor kucing imitasi.

 

Kostum dan konsep pertunjukan mereka memang sedikit unik. Mengusung tema bangsawan Victorian kuno, sehingga nampak jika para pemain seperti tengah melakukan Costume Player…kostum Luhan pun banyak dihiasi renda warna hitam. Merasa jika kostum tersebut sangatlah lucu, Luhan tersenyum tipis dan meraihnya…setelah itu segera menuju bilik sederhana disudut lain kelas yang sengaja dibuat sebagai tempat ganti pakaian.

 

“Jangan lama-lama!!”

 

“Iya, aku tahu~”

 

.

.

.

 

Penyebab yang membuatnya melangkah dengan lesu menuju halaman belakang sekolah adalah…karena─ baiklah, siapa yang masih dapat bernafas dengan lancar jika faktanya beberapa menit lalu ia hampir saja tertimpa lampu panggung tepat setelah tirai ditutup?

 

Entah bagaimana hal tersebut dapat terjadi, lampu berukuran sebesar bola basket yang kebetulan berada tepat diatas Luhan tiba-tiba saja melayang turun. Beruntunglah salah satu teman yang bertugas dibalik layar berseru cepat menyadarkannya…dengan reflex yang bagus, Luhan berhasil menghindar meski harus kuat menahan sakit dipunggungnya akibat sedikit terbentur setting panggung. Ia tak dapat membayangkan jika harus dilarikan kerumah sakit karena sekarat tertimpa lampu besar nan panas itu.

 

Masih dengan kostum pertunjukannya, lengkap dengan telinga dan ekor kucing imitasi warna oranye, Luhan berjalan menuju tempat keran air dekat gudang peralatan olah raga. Pakaian ini membuatnya gerah, namun ketua kelas menyuruh para pemain untuk tidak bertukar pakaian dulu demi meramaikan suasana festival. Dalam hati Luhan merutuki sikap seenaknya ketua kelas berkacamata tebal itu…menyebalkan sekali.

 

Ia membuka salah satu keran air yang berderet disana. Merundukan tubuhnya dan menggapai air yang mengalir dengan mulut kecilnya…kedua belah bibirnya terbuka, menjadi celah bagi aliran air untuk masuk kedalam, memanjakan seisi mulut dengan rasa sejuk dan menyenangkan. Luhan memejamkan mata ketika sejuknya air sampai ketenggorokan, ia menikmatinya…rasanya sungguh nyaman dan segar.

 

Tanpa menyadari adanya seseorang, ia melangkah dengan begitu perlahan tanpa menimbulkan suara. Mendekati sosok mungil yang tengah menikmati air keran disana, ia berhenti dan merundukan tubuh, mendekatkan mulut pada aliran air yang keluar dari keran yang sama dengan Luhan.

 

Pemuda berdarah asli China itu terkejut setengah mati saat menemukan wajah orang lain ketika ia membuka mata, terlebih lagi bibir mereka nyaris saja bersentuhan.

 

“Hei!! Apa yang kau lakukan?!!” teriak Luhan antara panic dan malu. Permukaan kulit wajahnya yang putih kini mulai terhiasi semu-semu merah muda, secara kasar mengusap mulut dengan punggung tangan, entah untuk menghapus sisa air disana…atau menghapus kenyataan bahwa ia nyaris saja berciuman dengan orang asing.

 

Orang asing itu selesai menikmati air dan berdiri tegap, turut mengusap mulut dengan punggung tangan. Ia menatap Luhan tanpa dosa, sorot matanya nampak begitu polos dan begitu menarik simpati.

 

“Aku…” orang ─lelaki─ asing itu melirik sekilas keran air lalu kembali menatap Luhan, masih dengan polos “Sedang minum…”

 

“Kenapa kau minum dikeran yang sama denganku? Bukankah masih banyak keran lain! Tolong jangan bersikap seenaknya, aku ini siswa kelas tiga!!”

 

Lelaki asing itu mengerenyit bingung, kepalanya sedikit miring tanda ia sedang berfikir…oh sumpah lucu sekali anak ini, Luhan berteriak dalam hati.

 

“Oh ya? Lalu?” sahutnya enteng.

 

“U-ukh…~”

 

Luhan mengepal erat kedua tangannya. Ia bingung antara tengah menahan gemas atau kesal terhadap sosok asing didepannya…pasalnya, orang asing tersebut membuat ia merasakan keduanya. Gemas dan kesal…anak lelaki asing itu sungguh menarik perhatiannya.

 

“Kau ini─ ah sudahlah, menyebalkan!” Luhan mendengus lalu berbalik bermaksud meninggalkan tempat ini, namun sebelum itu terjadi…tubuhnya terasa tertarik oleh sesuatu hingga ia merasa berat untuk melangkah.

 

“Eh…kakak…” ucap suara lirih dibelakangnya. Luhan menoleh dan mendapati wajah memelas orang asing tersebut “Kakak aku lapar…”

 

“He…?”

 

Mata anak lelaki asing itu mulai berkaca-kaca dan bibirnya merengut lucu “Aku lapar…kakak…”

 

 

“Apakah ada seseorang yang mau bermain denganku?”

 

“Apakah ada seseorang yang mau menjadi temanku?”

 

“Aku kesepian, aku kesepian…”

 

“Kenapa kalian begitu jahat padaku? Mengapa kalian selalu menyebutku pembawa sial? Aku benci kalian semua! Kalian semua jahat! Aku akan membunuh kalian semua!!”

 

.

.

.

 

Luhan menatap lekat seorang anak laki-laki yang saat ini tengah menyantap cookies pemberiannya dengan lahap. Wajahnya sangat tampan, ia seperti anak lelaki yang telah melewati masa pubertas…kulitnya putih bersih tanpa noda sedikit pun, sedikit pucat namun sepertinya halus tanpa celah, tubuhnya tinggi, nyaris menyamai Chanyeol kekasih sahabatnya, Baekhyun…dan surai dikepalanya─ hei, apa pihak sekolah mengizinkan para muridnya mengecat rambut dengan warna terang seperti abu-keperakan?

 

“Hei, kau kelas berapa?”

 

Ia bertanya namun lelaki itu tetap tak bersuara dan terus melahap cookies dalam toples yang didekapnya.

 

“Sebenarnya kelasmu…membuka stand atau caffe?” kedua kali Luhan bertanya namun orang itu tetap membisu.

 

Lelaki bertubuh mungil itu akhirnya bungkam dan lebih memilih untuk kembali mengamati sosok yang kini tengah duduk disampingnya, dibawah pohon halaman belakang sekolah.

 

Wajahnya jelas sekali jika ia adalah orang Asia. Ia nampak sangat cocok dengan kostum seperti kostum boneka yang dikenakannya…celana pendek sedikit diatas lutut motif kotak-kotak berwarna campuran merah-hitam, kemeja hitam lengan panjang dengan sedikit renda merah yang menghiasi bagian pergelangan tangannya, dilehernya melingkar apik dasi kupu-kupu besar dengan motif yang sama persis dengan celananya, sementara dikakinya ia mengenakan sepatu boots tinggi dibawah lutut berwarna hitam pekat dengan heels tipis yang membuatnya nampak cukup mewah.

 

Mungkin saja kelas anak ini membuka café dan ia bertugas sebagai pelayan…bukankah ada juga yang seperti itu, Luhan sempat melihatnya saat berkeliling sebentar dengan Baekhyun.

 

“Kau benar-benar kelaparan, ya?” ucap Luhan seraya mengais serpihan kue disekitar dagu anak itu, membuatnya membeku sejenak dan kemudian memandang lelaki berparas manis tersebut sedikit terkejut…sementara yang dipandangi hanya balas menatap bingung “Ke-kenapa…?”

 

Anak itu tak menjawab dan kembali berkutat dengan toples cookies ditangannya. Luhan berdecak kesal…sebal juga rasanya diabaikan seperti ini.

 

“Dengarkan aku. Setelah selesai dengan makananmu, kau harus kembali kekelasmu dan melanjutkan tugasmu difestival…aku juga harus segera pergi dan menemui teman-temanku, paham?”

 

Mendengar ucapan Luhan, anak itu segera menghabiskan sisa kue ditoples hingga mulutnya mengembung karena penuh…susah payah ia mengunyah, sampai akhirnya memutuskan untuk menyambar sebotol air mineral ditangan Luhan dan meneguk isinya cepat agar lebih mudah menelan. Setelah itu ia tergesa mengusap mulutnya dan beralih menatap Luhan dengan ‘mata tanpa dosa’ miliknya.

 

“Aku Sehun!” ucapnya tiba-tiba membuat lelaki bertubuh mungil disampingnya melongo karena kaget “Na-namaku Sehun…aku tidak bersekolah ditempat ini. A-aku hanya merasa kesepian dan mendatangi tempat ini karena sangat ramai. Aku sangat suka keramaian…”

 

Sorot matanya mengundang hati Luhan untuk meng-iba. Mulutnya tertutup rapat mengunci seluruh kata yang hendak ia lontarkan…sosok asing ini membuat Luhan terpana. Paras tampannya, cara bicaranya yang lugu, sorot matanya yang tanpa dosa…sungguh mempesona.

 

“Kakak…apa aku telah melakukan kesalahan? Apakah kau berfikir kalau aku adalah anak nakal?”

 

“Kau…benar-benar bukan salah satu murid disekolah ini?”

 

Lelaki asing itu mengangguk pelan “U-ung~ maafkan aku…”

 

Luhan diam sejenak lalu menghela nafas, ia mengambil toples dan botol mineral dari anak yang mengaku bernama Sehun tersebut.

 

Senyum terlukis diwajah cantik Luhan “Tidak apa. Kau sama sekali tidak melakukan hal buruk, Sehun. Aku hanya sedikit salah paham.” Ucap Luhan lembut seraya bangkit dari duduknya “Setelah ini kau bebas pergi atau tinggal jika masih ingin menikmati festival…tapi sayangnya aku harus kembali ketempat teman-temanku. Selamat tinggal, Sehun.”

 

Lelaki bertubuh mungil itu mulai melangkah meninggalkan Sehun, namun langkahnya terhenti karena panggilan Sehun dan ia pun segera menoleh kebelakang.

 

“Kakak…aku kesepian dan tidak punya teman. Apa aku boleh menemuimu setiap hari? Aku berjanji tidak akan nakal, tidak akan membuat masalah dan jadi anak baik…bolehkah?”                                         

 

Sehun telah berdiri dibawah naungan pohon, bayang-bayang dedaunan tecetak jelas diwajah putihnya. Luhan memandangnya sendu, kembali rasa iba muncul kepermukaan hatinya…mengapa sosok Sehun dapat dengan begitu mudahnya menarik hati?

 

Apakah bertemu dengan Sehun…merupakan hadiah dari dewi keberuntungan setelah kesialan yang terus menimpanya akhir-akhir ini?

 

“Ya, tentu saja…” ucap Luhan pada akhirnya, bibir tipisnya begitu saja melukiskan sebuah senyum tulus “Kau bisa datang kapan pun…selama tidak menggangguku belajar…”

 

… … … … …

 

Tiga hari setelah festival berakhir, kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung seperti semula. Setiap sudut sekolah telah terbebas dari segala macam dekorasi festival dan semua kelas kembali berfungsi sebagaimana seharusnya.

 

Hari ini kegiatan belajar dikelas Luhan diawali dengan pelajaran olah raga. Separuh siswa bermain basket digedung indoor, sementara separuh sisanya bermain futsal dilapangan outdoor. Luhan memilih bermain sepak bola sementara Baekhyun bermain basket.

 

Terlihat kini Luhan bersama tim-nya tengah beradu ketangkasan merebut bola dengan tim lawan. Dengan tubuh kecil dan kurus, gerakan lincah serta gesit…Luhan terlihat seperti pemain pro yang begitu mahir mengolah kulit bundar tersebut, bukan hal aneh sebenarnya karena sepak bola memanglah olah raga favorit lelaki manis berdarah asli China tersebut.

 

“Chanyeol, terima ini!” seru Luhan langsung mengoper bola pada Chanyeol yang berlari mengiringinya.

 

Chanyeol mampu menerima bola dengan mulus, sambil terus men-dribble ia berlari menuju gawang…Luhan mengirinya dibelakang.

 

Sampai sebuah suara…meruntuhkan konsentrasinya.

 

“Kakak!!”

 

Langkah Luhan segera terhenti mendengar panggilan yang ia yakin ditujukan kepadanya meski tanpa menyebut nama. Entah sejak kapan warna suara tersebut terekam jelas dalam ingatannya, sehingga mustahil baginya untuk melupakan.

 

Pandangannya tertuju begitu saja kearah asal suara, kedua matanya mendapati sosok yang akhir-akhir ini selalu hadir didekatnya. Sehun. Berdiri dipinggir lapangan sepi, ia mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi seraya melambaikannya, tak lupa senyum lebar terukir jelas diwajah rupawan-nya yang berkulit putih-pucat itu. Luhan tersenyum kecil, mengapa anak itu senang sekali mengenakan pakaian seperti kostum boneka?

 

“Luhan awas!!!”

 

Suara Chanyeol menggelegar menusuk gendang telinganya. Luhan terhenyak dan segera mendapati sebuah benda bundar melesat dengan cepat kearahnya. Kepalanya kosong ketika itu, ia tak menggerakan kaki sedikit pun dan tetap bertahan…

 

Hingga bola tersebut…menghantam perut kecilnya dengan telak.

 

Luhan pun ambruk sambil merintih kesakitan dengan kedua tangan memeluk perutnya erat-erat.

 

.

.

.

 

“Aku dan Chanyeol akan kembali kekelas, benar kau akan baik-baik saja?” tanya Baekhyun memastikan setelah menutupi kaki Luhan dengan selimut.

 

Pemuda yang berbaring diranjang ruang kesehatan mengangguk lemah “Hm…aku baik-baik saja, kembali lah kekelas, pelajaran selanjutnya akan segera dimulai ‘kan?”

 

“Baiklah kalau begitu. Istirahatlah, aku akan kembali saat istirahat siang. Okay?”

 

“Aku mengerti…”

 

Baekhyun tersenyum simpul kemudian melangkah menghampiri Chanyeol yang telah menunggunya didekat pintu, keduanya melambaikan tangan sejenak sebelum benar-benar meninggalkan ruang kesehatan meninggalkan Luhan seorang diri.

 

Pintu geser ruang kesehatan telah tertutup. Kini suasana terasa sunyi dan hening…hanya terdengar suara hembusan angin yang menyusup melalui jendela terbuka, mengibas tirai meninggalkan jejak kesejukan yang sangat terasa ditengah musim panas. Luhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum bangkit dari posisi berbaringnya, mendorong tubuh hingga punggungnya bersentuhan dengan kepala ranjang.

 

Ia meringis, sepertinya bukan hanya perutnya yang sakit tapi juga punggungnya.

 

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu…Luhan menoleh dan mendapati pintu bergeser terbuka. Himpunan helai berwarna abu-keperakan mencuat dari tepi pintu, Luhan tersenyum tipis.

 

“Sehun…?” ucapnya pelan, mengundang sang pemilik telinga kucing hitam menunjukan sosok dirinya secara utuh “Kemarilah…”

 

Sehun melangkah masuk dengan wajah murung, kepalanya tertunduk sedih dan nampaknya sedikit ragu untuk mendekat. Luhan menatap lekat sosok Sehun…yang mengenakan pakaian berupa celana biru gelap pendek diatas lutut, kemeja putih dilapisi jas berwarna sama dengan celananya, dasi panjang hitam yang dijepit dengan pin berwarna emas, sepatu boots hitam setengah betis, terdapat untaian rantai serta beberapa bros yang terpasang pada bagian jasnya…memberikan sentuhan klasik dan mewah. Oh~ Sehun benar-benar seperti boneka.

 

“Ada apa, Sehun?” tanya Luhan pada Sehun yang kini berdiri tepat disampingnya, ia menepuk pelan pundak lelaki bersurai abu-keperakan tersebut.

 

Sehun menatapnya masih dengan wajah murung “Maafkan aku, kakak…”

 

“Huh? Untuk apa kau berkata seperti itu?”

 

“Karena aku memanggilmu disaat yang tidak tepat, perutmu terkena bola dan jadi sakit seperti ini. Maafkan aku, maaf…”

 

Sehun menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca…membuat lensa matanya yang berwarna kuning cerah itu nampak berkilau. Hei, Luhan baru menyadari bahwa Sehun memiliki mata berwarna kuning cerah. Sangat tidak biasa untuk orang Asia pada umumnya…indah namun seolah tengah menyembunyikan sesuatu. Misteri tak terungkap kata dan pikiran.

 

Lelaki berparas manis itu tersenyum lembut lalu mengusap puncak kepala bersurai abu-keperakan didekatnya “Aku baik-baik saja. Sehun sama sekali tidak melakukan kesalahan…”

 

Sehun tak mengatakan apa pun lagi, dengan telunjuk kanannya yang mengenakan sebuah cincin perak bentuk tengkorak, ia menyentuh luka lecet ditulang pipi Luhan lalu mengecupnya pelan. Menghadirkan semu-semu merah muda dipipi sang penderita luka.

 

Dari jarak sedekat ini, Luhan dapat melihat dengan jelas bibir Sehun yang semerah darah…serta bulu matanya yang lentik.

 

Luhan hanya berharap…semoga Sehun tak mendengar suara detak jantungnya yang begitu menggebu.

 

“Kakak, kau begitu baik hati…aku sangat senang berada didekatmu…” ujar Sehun dengan wajah mereka yang masih sangat berdekatan.

 

Keduanya melempar senyum, Luhan sekali lagi mengusap puncak kepala Sehun “Aku juga senang berada didekatmu, Sehun benar-benar anak yang baik…”

 

 

Sang kucing hitam yang kesepian akan terus mencari seseorang yang bersedia untuk menjadi temannya.

 

Kucing hitam sangat suka tempat ramai.

Kucing hitam sangat suka makanan manis.

Kucing hitam sangat suka bila seseorang mengusap kepalanya.

 

Bila ia telah menyukai seseorang, maka ia akan selalu mengikutinya…hingga orang itu terus tertimpa sial…dan mati.

 

… … … … …

 

Luhan mengurungkan niatnya membuka pintu rumah ketika mendengar suara seperti hancurnya benda pecah belah. Ia bersandar pada daun pintu dan menghela nafas panjang, mereka bertengkar lagi…ayah dan ibunya.

 

Pemuda bertubuh kecil itu memutuskan untuk menarik langkah, menjauhi rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung nyaman baginya.

 

Saat ini Luhan hanya berfikir…dimanapun…lebih baik daripada disini.

 

Musim panas adalah musim yang menyenangkan bagi sebagian orang. Dimalam hari ketika suhu udara meningkat, adalah hal yang tepat untuk menghabiskan malam dirumah…menikmati semangkuk es buah, minuman bersoda, jus, es krim─ dulu Luhan juga seperti itu, setidaknya sebelum ayah dan ibunya mulai sering bertengkar akan hal yang menurutnya tidak jelas. Mengenai perbedaan pendapat dan pola pikir yang tak lagi sejalan─ atau apalah…mengapa para orang dewasa senang sekali mempersulit diri sendiri?

 

Luhan menempatkan tubuh mungilnya disalah satu ayunan taman, menengadah menatap langit malam yang menyuguhkan kilauan bintang serta pancaran sang rembulan yang memukau penglihatan.

 

Setetes buliran bening meninggalkan pelupuk mata, melintasi pipi putihnya. Luhan segera menghapusnya sebelum mengering dan menghasilkan jejak kesedihan yang jelas.

 

“Ada apa? Mengapa menangis?” ucap sebuah suara yang membuat Luhan langsung menoleh.

 

Sehun telah hadir disisinya…entah sejak kapan menempati ayunan yang awalnya kosong disamping ayunan Luhan.

 

“Sehun…”

 

“Hm? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Sehun lagi dengan senyum lepas dan raut wajah lembut yang seakan siap sedia menerima apa pun keluh kesah Luhan.

 

Terdengar derit besi ayunan karena Sehun sedikit menggoyangkan tubuhnya. Luhan jadi berfikir bagaimana bisa Sehun selalu hadir disekitarnya…diwaktu dan tempat yang tak pernah ia perkirakan sebelumnya. Memang hal tersebut sedikit janggal, namun Luhan sama sekali tak merasa terganggu, ia tidak keberatan dengan keberadaan Sehun. Setidaknya…ia tidak harus sendiri dan merasa kesepian.

 

“Sehun, kau senang sekali mengenakan pakaian seperti itu, ya? Kau seperti boneka saja…”

 

Mendengar ucapan Luhan, Sehun segera memerhatikan sekujur tubuhnya sendiri…kemudian kembali menatap pemuda manis disampingnya dengan wajah sendu “Kenapa? Apakah menurut kakak, aku tidak pantas berpakaian seperti ini?”

 

Kesenduan diwajah Sehun membuat Luhan merasa panic dan langsung menggelengkan kepala cepat “Tidak! Tidak sama sekali! Bukan maksudku membuatmu merasa seperti itu, Sehun.” seru Luhan memburu “A-aku pikir…kau sangat pantas, sampai-sampai terlihat seperti boneka sungguhan. Manis sekali─”

 

Kedua pipi Luhan menghangat memandang sosok Sehun yang malam ini mengenakan celana jeans hitam panjang, membentuk jelas lekuk kaki panjangnya. Sepatu boots pendek sedikit diatas mata kaki juga warna hitam. Kemeja putih yang terlapisi jas merah lengan panjang, pada bagian kedua pergelangan tangan serta leher…terdapat jalinan renda yang memberikan kesan mewah sekaligus menggemaskan. Selain itu, Sehun juga menggenakan untaian rantai dan gelang besi berukiran unik dikedua tangannya.

 

Sehun…sungguh memesonanya.

 

“Sedang apa kau malam hari disini, Sehun?”

 

“Aku datang untuk menemuimu, tentu saja…kakak. Karena kau tengah bersedih saat ini.”

 

“Oh ya? Bagaimana kau tahu kalau aku sedang bersedih?” tanya Luhan yang nampaknya mulai bersemangat menjadi lawan bicara Sehun.

 

Sehun menarik satu sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyum sarat makna yang tak Luhan mengerti sedikit pun.

 

“Karena mata-mu berkata demikian. Apa kakak tahu, kalau mata itu berbicara lebih jujur daripada mulut?”

 

Sejenak Luhan bungkam. Dirinya merasa sedikit ─sangat─ tertegun mendengar ucapan Sehun. Satu persatu pertanyaan mulai bermunculan dalam kepalanya, namun hanya satu…yang membuatnya begitu penasaran hingga menggila.

 

Siapa Sehun sebenarnya?

 

“Kalau boleh, aku ingin menyanyikan sebuah lagu…untukmu.”

 

“Sungguh?” ucap Luhan seraya tersenyum lembut, dilihatnya pemuda misterius disebelahnya menganggukan kepala “Tentu saja, aku akan sangat senang mendengar Sehun bernyanyi untukku…”

 

Sehun menampilkan senyum tipisnya…tampan, pikir Luhan yang kembali merasa jika kedua pipinya sedikit menghangat. Pemuda berkulit putih pucat itu menggangguk pelan seraya menatap Luhan lekat…sesungguhnya, mata kuning itu tak pernah meninggalkan Luhan walau hanya sedetik.

 

Dan Sehun pun…mulai melantunkan suaranya.

 

Ketika langit gelap

 

Sang raja iblis bangkit dari tanah

 

Membunuh manusia satu demi satu serta mengurung jiwa-jiwa mereka dalam penjara yang sempit, kotor dan gelap

 

Dia akan menyayat kulitmu

 

Dia akan memutus urat nadimu

 

Mencabut jantungmu

 

Dan menghancurkan tulang-belulangmu

 

Kini kau hanya seonggok daging tak berarti, tempat cacing dan belatung bersarang

 

Sampai membusuk─

 

“Stop!!” teriak Luhan tiba-tiba.

 

Sehun berhenti mengeluarkan suaranya dan menatap Luhan penuh tanya…ukh~ bagaimana mungkin wajah sepolos dan selugu itu mampu menyanyikan lagu dengan syair menyeramkan seperti tadi?

 

“Ada apa, kakak?”

 

“Kau ini, Sehun! Disaat sedih, seharusnya kau menyanyikan lagu yang gembira untuk menghiburku agar aku turut merasa gembira! Lagumu barusan membuatku merinding…”

 

Luhan memeluk tubuhnya sendiri, mengisyaratkan bahwa ia benar-benar merasa ketakutan dan gelisah. Namun Sehun tetap menatapnya tanpa dosa, seolah tak terjadi sesuatu yang tidak wajar sama sekali…kemudian seulas senyum kembali terbentuk diwajah pucat Sehun, mata kuning cerahnya menatap Luhan dengan begitu lekat, seolah mengikat.

 

“Begitukah?” ucap Sehun pelan, membuat pemuda manis disebelahnya mendelik dan menatapnya penuh tanya…Sehun seolah-olah memiliki dunianya sendiri yang tak dapat Luhan pahami “Tapi…mengapa harus demikian? Apakah sebelumnya aku mengatakan kalau aku bernyanyi untuk menghiburmu…kakak…?”

 

Kedua mata Luhan melebar sempurna, ketertegunan mencuat kepermukaan hatinya…ia menelan liur paksa menelan pahit ketakutannya.

 

Apa yang…

Apa yang baru saja…Sehun katakan?

 

“Oh, jadi begitukah?” lanjut sang pemilik kulit pucat tersebut, sorot matanya tak berubah sedikit pun…masih nampak bagakan anak kecil, murni dan tak ternoda sama sekali “Disaat sedih, kita harus berusaha agar kembali merasa gembira…lalu disaat gembira, kita harus berusaha mempertahankan kegembiraan itu agar tak lagi merasa bersedih?”

 

Kedua kalinya Luhan meneguk liur…detik berikutnya, ia melihat Sehun tertawa kecil.

 

“Bukankah hal seperti itu sangat lucu…kakak?” Sehun menatap Luhan lekat “Apa bedanya dengan melarikan diri? Sedih adalah sedih, gembira adalah gembira…mengapa disaat sedih harus berusaha untuk meraih kegembiraan?”

 

Luhan terdiam…tenggorokannya bagai tercekat.

 

“Apa kau takut untuk merasa sedih…kakak? Kau ingin melarikan diri? Kau tidak bisa menerima kenyataan? Kau ingin membohongi dirimu sendiri?”

 

Angin dingin berhembus, rendahnya suhu udara malam mampu menembus lapisan pakaian menusuk kulit membekukan tulang. Bahkan musim panas pun, tak memberikan celah baginya untuk melarikan diri…dari kesedihan dan penderitaan.

 

Setetes buliran bening kembali melakukan terjun bebas dari pelupuk mata, melintasi lapisan kulit putih pipi mungilnya…kali ini Luhan membiarkannya, ia tidak menghapusnya.

 

Mata kuning milik Sehun…seakan menghisapnya…dan mengirimnya kedimensi lain.

 

“Kalau begitu katakan padaku Sehun…katakan─” ucap Luhan lirih, membiarkan buliran air matanya memasuki celah mulut, menghadiahi sedikit rasa asin pada indera pengecapnya “Apakah menurutmu kedua orang tuaku akan baik-baik saja? Mereka tidak akan berpisah dan akan bersama selamanya bukan?”

 

Sehun tersenyum lembut, sangat lembut dan meluluhkan hati…memandang sosok Luhan yang bagaikan memohon belas kasihannya, memohon padanya agar mengatakan suatu kepalsuan manis, memohon padanya agar memberikan jalan keluar untuk melarikan diri menuju lembah dusta.

 

Namun Sehun menggelengkan kepalanya…

 

“Tidak.” Ungkapnya melalui kedua belah bibir merah darahnya “Kedua orang tuamu tidak akan baik-baik saja. Mereka akan berpisah, mereka tidak akan bersama selamanya. Mereka akan hancur…dan menderita.”

 

Buliran bening lain terus berjatuhan dari pelupuk mata Luhan. Dadanya terasa sakit dan sesak…ia merasa terkurung dalam penjara kenyataan yang tak memberikan sedikit pun celah baginya untuk bernafas lega.

 

Jauh dalam lubuk hati…ia membenarkan ucapan Sehun.

Selama ini…Luhan hanyalah seorang tolol yang menggantungkan harapan kosong pada kepalsuan

 

Ia takut merasa sedih, ia takut menderita…ia takut ditinggalkan, ia takut sendirian…ia takut merasa kesepian.

 

Dan Sehun pun kembali bernyanyi, melantunkan lagu mengiringi isak tangis sang manusia pemilik hati yang lemah.

 

Bunuh semua manusia

 

Jangan biarkan satu pun tersisa

 

Jadikan bumi ini sebagai lautan darah

 

 

Dia akan menyayat kulitmu

 

Dia akan memutus urat nadimu

 

Mencabut jantungmu

 

Dan menghancurkan tulang-belulangmu

 

… … … … …

 

Sehun benar…

Ia mengatakan kebenaran yang bahkan belum terjadi layaknya seorang peramal.

 

Kedua orang tua Luhan akhirnya memutuskan untuk berpisah setelah bertengkar hebat hingga menghancurkan seisi rumah. Hal tersebut membuat Luhan urung kembali kerumah, ia tak tahu harus pergi kemana…ia tak tahu harus pulang kemana, ia merasa tak lagi memiliki tempat bernaung.

 

Tanpa tujuan terus melangkah menembus gelapnya malam. Tiap langkah yang ia ambil bagaikan tanpa perasaan sama sekali, Luhan merasa dirinya hampa…kepalanya kosong dan sebuah lubang besar bersarang dihatinya.

 

Bukit kebahagiaan yang dibangunnya selama ini bagai runtuh dalam sekejap, ketika keluarga kecilnya hancur. Air mata tak lagi mengalir, kedua matanya kering layaknya tanah gersang…Luhan tak lagi memiliki sisa tenaga untuk menangis. Kenangan indah bersama ayah dan ibunya kini hanya bagaikan impian semu…kenangan yang hanya akan membuat hati ini kian menderita jika diingat kembali.

 

Detik itu juga Luhan berfikir jika Tuhan membencinya, ayah dan ibunya tak menyayanginya seperti yang ia sangka selama ini…

 

Mereka…jahat.

 

Ketika langit gelap

 

Sang raja iblis bangkit dari tanah

 

Membunuh manusia satu demi satu serta mengurung jiwa-jiwa mereka dalam penjara yang sempit, kotor dan gelap

 

Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara, menyanyikan lagu yang pernah Sehun lantunkan untuknya.

 

Terus menjalin nada diantara untaian langkah kaki…tanah kotor yang ia pijak, terlihat jauh lebih nyaman dibanding kasur empuk nan hangat dikamarnya.

 

Bunuh semua manusia

 

Jangan biarkan satu pun tersisa

 

Jadikan bumi ini sebagai lautan darah

 

“Hai, kakak…”

 

Langkahnya terhenti begitu pula dengan lagu yang belum tuntas ia lantunkan…perlahan mengangkat kepala, membuat mata sendunya dapat menemukan sosok bersurai abu-keperakan tengah berdiri tak jauh darinya.

 

Kedua mata Luhan membulat.

Sehun…

 

Senyum tanpa dosa terlukis jelas diwajah tampannya yang pucat itu, seraya mengulurkan tangan ia berkata “Ayo main bersamaku!”

 

Luhan memandang wajah tersenyum Sehun yang entah bagaimana caranya mampu menyinari hatinya. Perlahan ia mengulurkan tangan guna menggapai uluran tangan Sehun…namun sebelum itu terjadi, Sehun menarik kembali tangannya dan berbalik.

 

“Ah.”

 

“Tangkap aku kalau bisa!” serunya disela gelak tawa.

 

Sang pemilik surai abu-keperakan itu berlari menjauh, membuat Luhan tertegun untuk sejenak…memandang punggung yang tertutupi jas hitam didepannya.

 

“Tu-tunggu Sehun!!”

 

Kaki-kaki kurus itu turut memacu langkah, berlari mengejar, berusaha mempersempit jarak antara dirinya dan pemuda yang berlari didepannya.

 

Sehun sama sekali tak menoleh. Namun Luhan dapat mendengar dengan jelas gelak tawa pemuda berkulit putih pucat tersebut, suara tawa yang begitu menggema memenuhi ruang lingkup pendengaraanya. Ia dan Sehun berlari melawan arus pejalan kaki ditengah kota, meski berada ditengah-tengah lautan manusia…pandangan Luhan hanya tertuju pada sosok Sehun yang mengenakan pakaian berwarna hitam sempurna.

 

Luhan tak membiarkan kecepatannya menurun meski nafas telah tersengal, ia mengulurkan tangan…berusaha menggapai sosok Sehun…

 

Semakin dekat.

 

Dekat…

 

Dekat…

 

Terdengarlah suara klakson kendaraan yang amat sangat memekakan telinga. Disusul beberapa teriakan orang-orang sekitar yang menyerukan namanya.

 

Luhan tersadar dari dunia khayal. Entah sejak kapan ia telah berada ditengah jalan raya, sejenak ia bingung…mencari sosok Sehun yang tak tertangkap indera penglihatannya. Suara klakson terdengar untuk kedua kali, mengundang Luhan menoleh dan segera dihadapkan oleh sebuah bus yang melaju kearahnya dengan cepat dan tepat.

 

Nafas Luhan tercekat, sinar lampu bus menghujani tubuhnya membuat kepalanya terasa pusing.

 

Tubuhnya seolah membeku.

 

Dan detik selanjutnya…Luhan tak merasakan apapun lagi kecuali rasa sakit yang teramat sangat.

 

 

Hitam adalah mati

Hitam adalah kesakitan

Hitam adalah kekosongan

Hitam adalah hampa

 

Kucing hitam, kucing hitam…kasihan sekali dia kesepian. Dijauhi karena membawa sial dan malapetaka bagi makhluk disekitarnya. Ia akan membawa jiwa-jiwa yang suci dan rapuh kedalam dunianya yang kelam, agar tak lagi merasa kesepian.

 

“Akhirnya aku punya teman! Ayo kita bermain selamanya…sampai tubuh ini hancur dan membusuk.”

 

 

Ditengah rasa sakit yang mendera, aroma anyir memenuhi indera penciumannya…pandangannya memburam, satu persatu orang menghampiri tubuhnya yang terkapar tanpa daya. Mereka berteriak minta tolong, berseru untuk menghubungi polisi dan ambulan entah kepada siapa.

 

Darah segar mengalir dari setiap luka yang ada ditubuhnya…luka yang tak terhitung jumlahnya.

 

Diantara mereka yang berkerumun, samar-samar Luhan dapat menangkap sosok Sehun dikejauhan…pemuda itu berdiri seraya tersenyum riang, sorot mata kuningnya menatap Luhan langsung. Sehun nampak sangat bahagia.

 

Sosok Sehun lalu menjelma menjadi kucing hitam, lalu kembali menjadi Sehun…

 

Kucing hitam

 

Sehun

 

Kucing hitam

 

Sehun

 

 

“Kakak yang baik hati, cepatlah mati dan temani aku. Aku akan membawamu kesuatu tempat, meski gelap namun menyenangkan. Kita akan tinggal…dan bermain disana selamanya.”

 

… … … … …

 

The Other Story in the Other World

 

 

Sebuah ruangan dalam suasana duka mendalam. Sebuah upacara kematian tengah berlangsung dalam temaram cahaya lilin sebagai satu-satunya sumber penerangan. Mereka semua mengenakan pakaian hitam, bertudung lebar hingga menutupi seluruh wajah dan kepala. Berkumpul dihadapan sebuah peti mati hitam yang terletak diatas udakan ujung ruangan…dengan rangkaian bunga mawar hitam mengelilingi tempat penyimpanan jenazah tersebut. Mereka menangis tersedu-sedu, bahkan meraung dengan sangat melengking.

 

Tak lama kemudian, terdengar derit engsel besi…tutup peti mati itu terangkat, sebuah tangan terlilit perban kotor muncul dari dalam, mendorong tutup peti hingga terbuka sepenuhnya.

 

Mereka berhenti tersedu secara bersamaan, hening menyeruak.

 

Tangan itu bertumpu pada tepi peti, menopang sesosok bertubuh mungil untuk meninggalkan posisi berbaringnya didalam peti.

 

Lelaki itu bersurai keemasan, bertubuh mungil serta bermata bulat…dan dengan mata bulatnya tersebut ia menatap sekeliling. Sedikit lebih lama terpaku pada kerumunan berpakaian hitam tak jauh darinya, setelah itu ia memutuskan untuk berdiri menginggalkan peti mati kemudian melangkah pelan menuruni undakan satu persatu.

 

Tepat setelah kakinya menapak lantai, ia menatap sekujur tubuhnya sendiri. Tubuhnya yang mengenakan pakaian putih lusuh, ternodai tak sedikit bercak darah dan kecoklatan yang sepertinya adalah tanah kering. Bagian ujung celana serta lengan nampak habis dan lapuk akibat dikerumuni serangga.

 

Selain itu…terdapat pula lilitan perban kotor dikedua tangan dan kaki, leher serta kening.

 

Luhan meneguk liur tanpa sadar, tempat apa ini sebenarnya…ia bertanya pada diri sendiri.

 

Mereka yang berpakaian hitam menepi secara serempak, memberi jalan bagi Luhan untuk dilewatinya. Melangkah menuju pintu meninggalkan ruangan. Siapa mereka, Luhan sama sekali tak mengenal…wajah mereka sama sekali tak terlihat.

 

Kini Luhan tengah menyusuri lorong, entah ini rumah atau sebuah gedung…ia tidak pernah mendatangi tempat dengan penerangan minim semacam ini. Banyak serangga mati berceceran dimana-mana…terpajang tak sedikit lukisan menyeramkan didinding yang ia lewati.

 

Tiba-tiba terdengar derit besi berkarat mendekat, Luhan menatap lurus kedepan dimana terdapat dua persimpangan kanan dan kiri. Suara derit itu berasal dari arah kanan…tak lama kemudian muncul dari sana, sosok seorang dokter laki-laki tengah mendorong sebuh kursi roda kosong yang berderit bising.

 

Dokter itu memakai seragam operasi, dengan penutup mulut dan kepala serta sarung tangan karet. Ia terus berjalan…matanya melirik Luhan tajam sebelum pergi melewatinya begitu saja.

 

Sorot mata yang seolah menusuk jantung dengan telak.

 

Luhan kembali melangkah, ia berbelok kearah kiri dan hampir saja menjerit tatkala menemukan darah mengalir dari celah dibawah pintu. Darah kental itu terus mengalir, melebar hingga nyaris menyentuh ujung kaki telanjang Luhan.

 

Pintu terbuka secara tiba-tiba membuat Luhan tersentak. Seorang gadis bersurai panjang hitam kelam hingga menutupi sebagian wajahnya keluar dari sana, dia membawa sebuah golok berlumuran darah ditangan kiri…sementara terdapat kepala manusia ditangan kanannya. Ia membawa kepala itu dengan cara menjambak rambut tipis yang tersisa disana, darah masih menetes dari bagian leher yang putus.

 

Kepala itu bergerak…hingga nampaklah dua mata yang terbelalak menatap Luhan tajam, sebelum akhirnya berlalu dan menghilang begitu saja.

 

Pemilik surai keemasan itu meremas dada kirinya…tempat apa ini, tempat apa ini─

 

Ketika langit gelap

 

Sang raja iblis bangkit dari tanah

 

Membunuh manusia satu demi satu serta mengurung jiwa-jiwa mereka dalam penjara yang sempit, kotor dan gelap

 

Dia akan menyayat kulitmu

 

Dia akan memutus urat nadimu

 

Mencabut jantungmu

 

Dan menghancurkan tulang-belulangmu

 

Kini kau hanya seonggok daging tak berarti, tempat cacing dan belatung bersarang

 

Sampai membusuk, sampai membusuk, sampai membusuk

 

Kedua kalinya Luhan tersentak saat mendengar lantunan kata yang tidak asing baginya…ia berbalik, menghadap lorong kosong nan gelap tempat suara nyanyian berasal.

 

Ia melangkah lagi, kearah lorong gelap tersebut. Cukup lama ia melangkah hingga akhirnya menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Cahaya merah terpancar keluar dari pintu, sungguh menarik perhatian. Luhan mendekat dan memasuki ruangan yang ternyata adalah kamar tersebut…terdapat tempat tidur klasik disana, lengkap dengan susunan laci, lemari serta meja rias dan cermin. Namun semua nampak tua, berdebu dan didiami sarang laba-laba.

 

Bunuh semua manusia

 

Jangan biarkan satu pun tersisa

 

Jadikan bumi ini sebagai lautan darah

 

Seseorang duduk diatas ranjang, membelakangi pintu hingga Luhan tak dapat melihat bagaimana rupanya. Ia mengenakan pakaian anak bangsawan kuno seperti boneka…mengingatkannya akan seseorang. Sepasang telinga kucing berwarna hitam mencuat dari kedua sisi kepalanya, juga sebuah ekor yang meliuk-liuk ditubuhnya.

 

Dia akan menyayat kulitmu

 

Dia akan memutus urat nadimu

 

Mencabut jantungmu─

 

“Membosankan!!” ucap sosok itu dengan gusar. Kedua tangannya bergerak-gerak seolah tengah mencari sesuatu.

 

Sosok itu lalu melempar sebuah boneka tanpa kepala tepat didekat kaki Luhan, membuat pemilik surai keemasan itu hampir terpekik.

 

“Tidak adakah sesuatu yang menarik?!!” ucapnya kesal kali ini. Masih duduk membelakangi pintu, mencari-cari sesuatu dan melempar benda yang tidak berkenan dihatinya.

 

Sebuah tengkorak manusia terlempar dan mendarat didekat kaki Luhan lagi, kemudian gigi manusia, tulang manusia serta bola mata manusia

 

“Aku bosan dan ingin bermain!!!”

 

Luhan nyaris menutup kedua telinganya mendengar lengkingan jeritan memekakan tersebut…ia menatap lekat punggung sosok didepannya tersebut. Berkali-kali meneguk liur yang tak jua dapat memuaskan kerongkongannya.

 

“…Sehun.”

 

Tubuh sosok didepannya sedikit menegang…sebelum akhirnya menoleh kebelakang dan segera tersenyum lebar kala mata kuningnya yang menyala berbenturan langsung dengan mata bulat Luhan.

 

“Kakak!”

 

 

“Kakak…kau datang untuk menemaniku bermain kah? Senangnya~”

 

 

~OWARIMASHITA~

 

Ada yg ga ngerti?

Ada yg bingung?

Ada yg takut?

Ada yg mau diajak maen sama Sehun?

 

Alhamdullilah yah…semua itu saya serahkan pada imajinasi pembaca sekalian, karena ini adalah cerita fiksi.

 

YG GA NGERTI GA USAH KOMEN!

Keder baca komen yg bilang: saya ga ngerti thor -___- “

 

Okesip~

Makasih!

Sekian!

Ciaossu!!

142 thoughts on “ONESHOT | HUNHAN | KURONEKO (BLACK CAT)

  1. Ni ff buat aku merinding suer -_-v
    Tapi jujur waktu sehun manggil luhan dengan sebutan “kakak!”,aku merasa aku yang dipanggil grr =.=
    Tapi yg masih bingung diakhir cerita luhan ada dimana ya?
    Kok ada dokter,perempuan yg membawa golok?aku penasrannya yg itu aja sih,yg lain mah ngerti,ohiya,seragam sehun yg kayak dianime anime itu ya?:D
    Aku suka sukaa,awalnya masih mikir sehun mengenakan seragam apa,namun waktu aku nonton anime dilaptopku,otakku langsung loading(?),hehehe
    Ffnya horror banget suer ,buat aku merinding,apalagi bacanya malam malam kyaa ;A;
    Sipp aku bakalan baca ff lainnya!!^^

  2. yakkh …kox sehunie jadi jahat sich. authornya tega nich…
    akhirnya……nyeremin……tapi keren. sehunie polosnya nipu, apalagi pas sama lulu..
    bikin ff lain dong thor, tetep hunhan tapi gak pake sehun jahat apalagi nyeremin..ok thor..hehe

  3. Demi apa kak ini buat meremang bulu kodok romaku, serem gila ==”
    Dasar thehun ajak maen luhan yg brbahaya:/
    Ah pokok’a bener” dapet feel serem’a -_- dan jga sngat puas dgn penampilan thehun xD
    Tetep maen ma thehun yg my deer😀

  4. penuh misteri.. hehe sehun disii terkesan arogan ><.. suka suka.. bayangin pake baju yang di tulis sama kakak disini pasti keren… penggambaran suasananya keren, serem, feelnya dapet.. pokonya nice dah… ^_^

  5. Keren thor! Ffnya horror banget bikin merinding.. Grrr.., kasian banget luhan hidupnya menderita hiks hiks, jadi sehun itu kucing hitam itu? Pertama sehun muncul sih aku jg udh nebak pasti sehun itu kucing hitamnya terus aku jg sempet bingung sama seragamnya sehun tp sekarang udh gk lagi kkk, tapi aku mau nanya thor, diakhir cerita sebenernya luhan itu ada dimana? Cm itu doang sih yg gk bisa di tebak dimana tempatnya, terus sehun itu siluman ne ceritanya? Dia pengen balas dendam sama manusia gitu makanya dia jadi manusia? Apa dia mau cari temen dgn cara menjelma jadi manusia terus dia ketemu sama luhan nah kan di ff ini ada perkataan yg ky gini ‘bila ia telah menyukai seseorang, maka ia akan mengikutinya…hingga orang itu terus tertimpa sial…dan mati’ klo gk salah gitu hehe, nah sehun kan suka sama luhan, makanya luhan tertimpa sial dan mati? Setelah dia mati dia harus nemenin sehun main selamanya gitu?
    Sehun jahat banget ngedoain luhan cepet mati biar mereka bisa main bareng hiks😥 makanya luhan main sama aku aja kalo sehunnya jahat *tarik tangan luhan #plak, feel horrornya dapet banget, apa lagi lagunya grrrr bikin merinding suer =.=v tu lagu sehun dapet darimana ya? #sehun: dari tong sampah, kemarin waktu menjelma jadi kucing gua lagi cari makanan ehh gua ketemu mp3 player, gua pencet” aja terus gk sengaja tuh lagu keputer *tampang polos* #ira: hadeuhh *pingsan* but endnya agak ngegantung kalo nih ff di bikin sequelnya bisa gk yah? Soalnya kayanya seru aja gitu kalo ada sequelnya nanti sequelnya jg genrenya kaya gini tapi di tambahin romantisnya aigoo gk kebayang gimana serunya,pasti seru banget deh, kalo boleh saranku yg tadi coba author pertimbangin deh, kalo masalah keputusan itu ada di tangan kakak hehhee..

  6. Sumpret ney imaginasinya tingkat tinggi banget dah..

    Bener bener fantasi banget..

    Saya berasa baca komik supranatural.. Sehun bikin merinding disko disini..

    Nggak mau ah ketemu sehun kalo bentuknya gini.. Takuutttt…

  7. bagus thor gaboong aduh keren banget! Kak thor pinter bikin ff bergenre thriller ya…rada horror… (?)

  8. thor aku bacanya tengah malem sumpah merinding setengah mati -_-V ,sehunnya thor saoloh pas manggil “kakak!” lgsg merinding thor -_- , tapi thor sumpah nih ff keren banget!! KEREN THOR!!

  9. Aku ngerti dan aku takut.

    WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ;;;A;;;

    Aku gak berani lama-lama commentnya mau cepet tutup pagetabnya DX hahahaha tapi ini serius authornim; ini ceritanya keren. Serius.

    Dadah, jjayo! Semangat authornim

  10. 1 kata… : HORROR! Σ( ̄。 ̄ノ)ノ
    Qlu kyk gini mah g mw w dekat2 sama kucing item T.T g mw diajak main sm sehunnie juga😦 w bacany ampe keringat dingin #lebay … Pdhl luhan baik bgt dsni.. Tp malah diajak pergi ke dunia laen ╮(╯_╰”)╭

  11. asli merinding bacanya , Sehunnie yg menggemaskan ternyata menyesatkan /dibantingasli merinding bacanya , Sehunnie yg menggemaskan ternyata menyesatkan /dibantingasli merinding bacanya , Sehunnie yg menggemaskan ternyata menyesatkan /dibantingasli merinding bacanya , Sehunnie yg menggemaskan ternyata menyesatkan /dibanting Sehun/

    yg nggak aku ngerti cuma , dimanakah Luhan berada pas akhir cerita itu ?? cuma itu doank -.-a

  12. Aaaaaaaa gw merinding thor. Keren dan imanjinasi gw tepat. Detaim banget jd bs bayangin sehun seremnya kek apa. Hihi daebak!!

  13. ngebayangin sehun make pakain kaya gitu ngebuat gw senyum senyum sendiri. pasti cuteeee bgt ><
    suka bgt sama ff fantasy kaya gini dan yg satu ini bagus dan ga berblit2^^
    nice ff thor🙂

  14. waow._. seremnya~~ ._.
    merinding thor, suer._.
    huwaaa~~ Sehunnie kepolosanmu membuat orang lain terjerumus. jadi takut kalo liat kucing item. doh-_- nanti kalo nasibnya kayak Luhan gimana? aww.. takut ._. /peluk Chanyeol/ /dilempar Baekki ke kali/ -_-

    ngahaha😄. Btw aku ngebayangin Sehun pake baju kayak boneka malah tambah merinding._. doh, kenapa seolah-olah si Sehun horor banget yak disini-_-.
    tau deh mau komen apalagi, tapi yang jelas. Horornya dapet dan sukses bikin merinding sekaligus ketakutan. apalagi kalo baca nya tengah malem begini._.

  15. Persetan dgn sehun! Akh aku merinding dong ring ding dong /backsound RDD/ /apasih/ lagunya ituloh kak-_-” bayangin sehun kaya boneka bermata kuning yg ternyata kerabat jauh susan dan musuh Tom /lah/ Luhan mending main sama aku /gue ntar make mata merah kayak insto/ *gila-_-* SERU DEG DEG

  16. Serem… Sehun cari korban😀 #plak
    kasian yg jd korban’y Luhan😥
    BTW, Luhan cerita’y sdh meninggal ya pas di bagian akhir? Aku gk mau ah main sma Sehun, mending sama Baek😀

  17. gilaaaaa! Keren banget! Imajinasi author bener2 tinggi dah….. Merinding baca a , tapi aku suka cerita yg begini x3 …. Dan nyanyiannya thi thehun terbayang2 terus dikepalaku…..aaaa~ mengerikan! Tapi aku sukaaa…..kkkk~ , tehun jadi kucing? Pasti unyu deh, tapi sadis banget dia ? …..kesimpulannya , daebakk! Aku suka ff ini….

  18. demi apa thor ini ff horor amat._.
    udah sering baca ff psikopat, horor, deesbe deesbe tapi gak ada yang bisa bikin sampe tegang kayak gini.
    keren banget asli

  19. Thor.. Akh! Sumpah yah. Ini FF keren abiss!! >_<
    aku baca nya sampe ngerasa masuk ke dalam FF ini jadi luhannie!!
    Tapi aku masih gak paham kenapa luhan ada di tempat itu, ada dokter? Cewe berambut panjang bawa golok sama kepala manusia?.
    Tapi jujur ini Dae to the Bak! DAEBBAK!😀

  20. serem sich.. tapi keren..😀🙂

    mainin(?) imajinasi juga *eh?*
    yang pnting daebak!!

    bikin makin cinta sma HunHan.. hehehe~❤❤

  21. Mistis bgt ff ny thor, aigo. Tp ms iia ada mitos kucing htm itu bnr? Menurut ku gk deh,coz aku prnh pny kucing hitam keseluruhan,bkn ny takut tp mlh lucu n pintar, dy kalo buang air pst ke toilet, trlbh kalo pgi hari,sang empuny rumh bru membuka pintu toilet eh itu kucing mlh msuk lebih dlu. But well ffny lumayan bkn tegang. Daebak

  22. Aww bagusss😀 seyemlah.. Kerennn (y) tapi.. Kenapa temanya harus bersangkutan dengan kucing ._. Walaupun ada beberapa typo tapi ketutup sama alur ceritanya ^^ keep write~

  23. sumpah ini horor bgt thor, tegang bacanya serem amat sehunnya kasian jg sama luhan._. Tapi ini kereeeen bgt author, hebat deh.ditunggu ff lainnya author=)

  24. …………………………
    untung ini malam rabu.. sehunnie,suami gue jadi ceyemmm😥 HUAAAAAA,Luhan~~😥 ceritanya psycho banged😥 TAPI 4 JEMPOL BUAT AUTHOR (Jempol tangan & kaki._.) SEHUNNYA YAAMPUUUN psycho bangettt -_- jadi atut ama suami sendiri masa .-. oh ya btw aku readers baru nih thor~ bikin ff hunhan tapi jangan yang psycho lagi yaks :” akuh takutt,bikin yang so sweet aja<3~ lebih cocok sama tokoh mereka yang imut2😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s