TRUST Chapter 4

Published:10/01/2013

Updated: 01/05/2013

Annyeong~ Aku sedang GOODMOOD karena Tao UlangTahun !!! YEAAY!!!

TRUST update!! *sujud*

Makasih bgt buat dukungannya di TRUST chapter sebelumnya yaaah. Aku seneng bgt ternyata FF aku bisa diterima. Dan kejadiaan tidak mengenakan beberapa hari yang lalu ttg ‘plagiat gila’ (ini serius) semoga g keulang lagi. *merinding*

 

PS: SMUT di chapter ini mungkin gbanyak. Tapi di chap selanjutnya…*senyum malaikat*

For LarasYang / Mousekey : Waiting for your Taoris FF HAHAHAHA!!! I’ll be waiting here, with love :* this FF special for you and ALL of runrunkas’s reader!

 

Nah~ ENJOY!!

 

#HappyZiTaoDay

 

 

 

TRUST

 TRUST

AUTHOR : KIM HYOBIN

Main : KAIHAN / KAILU FANFICTION

Cast : KIM JONGIN – LUHAN

Other : HUNHAN – HUNSOO – KAISOO

Genre : Drama , Romance , School Life , Hurt, MATURE!

BL / BOYS LOVE / YAOI

 

 

“Inspirated by JAR OF HEART – Christina Perry”

 

 

NO NC in this Fanfiction but I used MATURE genre! MATURE !

So just for 15 +

 

Hey, ‘HANTU’ (SIDER), I WARN YOU !

 

FOR PLAGIATOR! DONT AND NEVER TOUCH MY FANFIC! FOR GOD SAKE, I HATE YOU SO MUCH! GO TO HELL!

*Gue mungkin gtau tapi Tuhan maha tahu dan bijaksana. Bukan gue yang bales, tapi Tuhan yang akan bales.*

 

 

 

 

 

“Bagaimana ini, hyung? Aku … aku menyukaimu.”

 

 

PART 4

 

 

Luhan membulatkan matanya saat mendengar pengakuan Jongin. Dadanya berdebar- debar tidak karuan dan parahnya wajah Luhan sudah semerah tomat. Apa yang Jongin katakan? Ia menyukai Luhan? Yang benar saja!!

 

“K..Kau! Jangan bercanda!”

 

Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan… menyentuh pipi merah Luhan dengan ujung hidungnya. Membuat Luhan kembali membulatkan mata. Jongin hanya melakukan hal itu tanpa bermaksud mencium Luhan… hanya ingin menyentuh perasaan.

 

“Lepaskan!!” Luhan mencoba mendorong tubuh Jongin dan ia berhasil membuat namja tampan itu menjauhkan wajahnya dari wajah Luhan. Kini mata itu kembali tertaut. Namun mata Luhan nampak berat dan memerah. Ada yang terluka didalam hatinya, ia tidak tahu.

 

“Kumohon.. jangan permainkan aku…”

 

Jongin tersenyum tipis dan mengusap air mata dari pipi Luhan. Ia membawa tubuh Luhan duduk. Mereka duduk diatas ranjang, berhadapan. Luhan menutup wajahnya dengan telapak tangan Dan tubuhnya bergetar karena tangisan.

 

“Hyung… kenapa kau menangis?”

 

Luhan menggeleng. “Aku… aku hanya takut mendengar ucapan.. seperti itu..”

 

Jongin menghela nafas pelan dan menarik tangan Luhan dari wajahnya. Tetapi namja manis itu tetap saja bersikeras menutupi wajahnya yang sedang menangis. Membuat Jongin tidak bisa berbuat terlampau banyak dan membiarkan. Mungkin Luhan sedang benar- benar tidak ingin dipaksa.

 

“Aku hanya mengatakan bahwa aku menyukai..hyung. Apa aku membuatmu.. bersedih?”

 

Luhan menggeleng.

 

“Hyung, aku serius.”

 

Seketika itu, Luhan membuka tangannya dari wajah. Membuat Jongin sedikit tersentak karena wajah Luhan penuh air mata. Wajahnya bahkan memerah dan itu sedikit membuat Jongin menyesal. Sungguh, kali ini ia yang membuat Luhan menangis seperti itu… ia menyesal.

 

“Kita… baru saja berkenalan dan.. bahkan aku belum mempercayaimu! Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau menyukaiku? Kita baru saling bicara kurang dari seminggu yang lalu. Apa yang kau pikirkan?”

 

“Apa aku harus menunggu bertahun- tahun untuk mengatakan bagaimana perasaanku padamu, Luhan-hyung?”

 

“Bukan—bukan itu maksudku! Tidakkah kau mengerti? Perasaan yang terlalu cepat tumbuh… akan hilang dengan cepat pula! Kau pikir aku mau percaya dengan ucapanmu? Jangan menganggapku murahan, Kim Jongin.” Luhan memukul kecil dada Jongin.

 

“…kalau begitu, izinkan aku membuktikan… bahwa aku tidak main- main, hyung. Mungkin ini memang terlalu cepat… namun, apa hyung tahu? Jika aku menganggapmu murahan, aku tidak segan- segan menyerangmu.”

 

“Berhenti bicara, Kim Jongin!!” Luhan terisak pelan.

 

“Hyung tahu bagaimana diriku yang tidak puas dengan satu kekasih. Aku selalu main- main dan jika yang kini berdua denganku dikamar hotel ini bukan hyung… mungkin aku sudah melakukan banyak hal dengannya. Jujur saja tubuhmu benar- benar menggodaku. Namun aku tidak menyentuhmu sama sekali.”

 

Luhan terdiam, menatap tajam wajah Jongin yang sangat serius. Dari sorot matanya, nampak Jongin tidak main- main. Wajah itu menunjukkan sebuah kesungguhan.

 

“Karena aku menghargaimu Luhan-hyung… aku tidak berani menyentuhmu.”

 

Deg

 

Luhan tersentak.

 

“…karena hyung tidak mengijinkanku menyentuhmu.. dan hatiku juga tidak bisa membiarkan aku melakukan sesuatu yang dapat menyakitimu… semua itu membuktikan bahwa aku, menganggapku spesial dan berbeda.”

 

Luhan menunduk. Menyembunyikan wajah merahnya. Ya Tuhan, ia bersumpah baru kali ini mendengar sebuah pernyataan manis yang begitu tulus. Wajah Jongin yang serius membuat Luhan tidak menangkap kebohongan apapun selain ketulusan.  

 

“Aku tidak memaksamu menjadi kekasihku atau semacamnya. Aku tahu, hyung pasti akan memikirkan dengan sangat matang. Karena… kau pernah disakiti dan aku mengerti itu.”

 

“Jong..in..” Luhan memegang tangan Jongin erat dan menggeleng pelan. Batapa pengertiannya sosok Jongin. Ia begitu dewasa dan tidak pernah memaksa. “Maaf… aku memang harus memikirkannya.. lagipula.. kau hanya menyukai, bukan?”

 

“Jika kini aku menyukaimu.. tidak tertutup kemungkinan aku akan mencintaimu dengan cepat, hyung.”

 

“Semuanya memiliki proses, Jongin.”

 

“Dan aku sudah melalui proses itu sejak aku bertemu denganmu.”

 

DEG

 

Apa yang harus Luhan katakan lagi kini? Jongin benar- benar melumpuhkan pikirannya dengan cepat. Jongin membuatnya ingin merubah sesuatu didalam hatinya. Berbagai pernyataan yang terurai dengan amat manis itu, membuat Luhan tidak bisa mengatakan apapun lagi selain membenarkan didalam hati.

 

Namun ia masih terlalu takut untuk… mempercayai seseorang terlalu cepat seperti ini.

 

 

“Jongin… setelah badai reda. Aku ingin kita langsung pulang.”

 

Hanya itulah kata- kata yang diucapkan Luhan setelahnya. Membuat Jongin menghela nafas pelan dan mengangguk.

 

“Baik, hyung.”

 

 

 

 

 

 

Kau tahu aku bisa melakukan apapun untukmu

Kau tahu bahwa aku bisa melumpuhkan dunia untukmu

Terlalu cepatkah?

Tidak… perasaan memang seperti itu

Jika kau tidak percaya

Kau bisa membunuhku.

 

 

 

 

Jongin dan Luhan kini berada didalam kereta menuju Seoul. Akhirnya mereka bisa pulang ke Seoul setelah menunggu hujan reda sejam yang lalu. Kini sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dan kedua namja itu sama sekali tidak bicara satu patah katapun. Mereka diam dan larut akan pikiran masing- masing.

 

Luhan hanya menunduk dan melipat tangannya didada. Sedangkan Jongin mencoba untuk tidur sedari tadi. Jujur saja ia lumayan bosan dengan keadaan tidak alami seperti ini. Sempat ia berfikir, mengapa ia mengatakan perasaannya secepat ini pada Luhan? Bukannya ia menyesal, namun ia juga tidak mau jika Luhan menjauhinya dan terlihat seperti itu. Luhan bahkan tidak merespon ucapan Jongin saat ia mencoba mengajak Luhan berbicara.

 

Jongin lirik jam tangannya, kurang dari 10 menit lagi mereka akan tiba di Seoul. Bisa ia tebak Luhan akan berlari keluar kereta dan langsung meninggalkannya.

 

Dan…

 

Saat kereta itu berhenti tepat distatiun kereta bawah tanah Seoul, Luhan langsung berdiri dan berlari keluar. Meninggalkan Jongin yang masih duduk. Ia menghela nafas pendek dan berjalan cepat mengikuti Luhan. Tebakannya benar, bukan? Luhan menghindarinya.

 

 

“Luhan-hyung!!” panggil Jongin saat mereka sudah berjalan bersama ditepi jalan raya. Luhan menyeberangi jalan dan tidak mengindahkan panggilan Jongin. Mereka kembali berjalan beriringan ditepi jalan. Hingga langkah kaki Luhan masuk kedaerah perumahannya, Jongin tetap mengikuti.

 

Benar- benar Luhan sangat ingin sendirian sekarang, Jongin entah mengapa membuatnya gelisah dan tidak bisa tenang. Jantungnya yang seperti akan meledak, pipinya yang panas jika ia dan Jongin berdekatan serta gejala aneh lainnya.

 

“Hyung!!” Jongin memegangi tangan Luhan, membuat kedua pemuda itu berhenti dan saling pandang. Luhan langsung menundukkan wajahnya, bahkan mata tajam Jongin bisa membuat hatinya mati rasa. Bergejolak tak tertahankan.

 

“Jongin.. kumohon.”

 

Deg

 

Jongin membulatkan matanya. Senyuman aneh terlukis dibibir tebal namja tampan itu. Lalu ia melepas tangkupan tangannya dari pergelangan tangan Luhan. Ia mengangguk pelan dan mundur selangkah.

 

“Baik. Sampai jumpa lagi..Luhan-hyung.”

 

Setelah mengatakan hal itu, Jongin berbalik badan. Berjalan menjauh dari posisi Luhan yang masih saja menunduk dalam. Luhan mengepalkan tangannya dan berbalik badan. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Masih menunduk dan diam saja.

 

Luhan tidak sadar, Jongin sesaat membalikkan tubuhnya. Menatap punggung kurus Luhan yang sudah berjalan menjauh. Langkah Luhan pelan sekali namun ia tidak berhenti berjalan. Jongin menghela nafas, ia kemudian kembali membalikkan tubuhnya. Berjalan menjauh..

 

“Hyung.. aku akan memberikanmu waktu. Sampai kau sadar… akan keberadaanku.”

 

 

 

 

“Aku pulang.” Ujar Luhan lemah. Ia melepaskan sepatunya dan menghela nafas panjang saat ia tidak menemukan siapapun didalam rumahnya. Mungkin Kyungsoo pergi sekolah, pikir Luhan. Setelah kepenatan yang ia rasakan, ingin sekali Luhan beristirahat. Ia hanya ingin tidur dengan tenang dan sejenak melupakan kegalauan hatinya.

 

 

Klek

 

Saat Luhan membuka pintu kamarnya, ia belum menyadari seseorang tengah tidur diranjangnya. Luhan menutup pintu kamarnya dan meletakkan tas sekolah diatas meja belajar. Dan ia melihat beberapa obat dan air putih ada diatas meja belajarnya. Ia mengerutkan dahi. Sejenak dari ekor matanya, ia menyadari sesuatu bergerak diatas ranjang.

 

“MWO!!” Pekik Luhan keras saat tahu seseorang tengah tidur diranjangnya. Orang itu membelakang, namun dengan sangat sadar.. Luhan tahu siapa namja itu. Mata Luhan yang awalnya menyipit nampak memerah.

 

“Se—Sehun?”

 

Benar, Sehun.. masih tertidur dikamar Luhan. Melihat obat- obatan dan air putih hangat yang ada dimeja belajarnya dan keadaan Sehun, Luhan bisa sedikit membaca situasi yang terjadi. Apakah Sehun sedang sakit?

 

Langkah kaki yang begitu pelan, memandu Luhan untuk mendekati ranjangnya. Ia lihat tubuh Sehun bergerak teratur. Sehun masih tertidur rupanya. Memberanikan diri namja cantik itu duduk ditepi ranjangnya, melayangkan tangannya untuk menyentuh pundak Sehun.

 

Deg

 

Seketika itu Luhan menarik kembali telapak tangannya yang nyaris menyentuh pundak Sehun. Ia menggeleng cepat dan menggigit bibir bawahnya.

 

“Tidak, Luhan!!” bisik namja cantik itu.

 

Grek

 

Sehun berbalik badan tiba- tiba dan kini matanya terbuka. Menatap tajam Luhan yang masih duduk ditepi ranjangnya. Mata kedua namja itu tertaut dan Luhan reflek akan berdiri sampai akhirnya Sehun menarik tangan Luhan, mengakibatkan namja cantik itu jatuh menimpa tubuh Sehun yang ada diatas ranjang. 

 

Demi Tuhan, bahkan Luhan merasakan Sehun kini menarik tengkuk Luhan dan mencium bibir mungil itu dengan cepat. Membuat Luhan ingin memberontak, ia ingin melepaskan perangkap tubuh Sehun pada tubuhnya. Ciuman liar yang amat menuntut. Membuat pergulatan organ didalam mulut mereka bergerak liar.

 

“Hmmp!!” Luhan berusaha bangkit namun ia tidak kuasa melawan kekuatan Sehun yang jauh lebih kuat darinya.

 

Dalam sekejap Sehun membawa tubuh Luhan berada dibawahnya, mereka masih berciuman dan itu membuat Luhan semakin ingin melepaskan dirinya dari Sehun. Kulit Sehun panas, nafasnya panas dan sentuhannya panas. Sehun demam, bisa tertangkap oleh Luhan. Namun ia tidak mengerti mengapa kini Sehun menciumnya?

 

“Se—Aaaah!!” Luhan tersentak saat Sehun menggigit lehernya. Luhan terus mencoba mendorong dada Sehun. Leher Luhan terasa panas akibat sengatan lidah dan bibir Sehun. Lihai sekali, Sehun terus membuat tanda kemerahan disana.

 

Luhan mencengkram lengan baju Sehun, ia menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya. Sentuhan Sehun benar- benar membuatnya mabuk. Seakan menyeretnya kembali masuk kedalam lubang hitam.

 

DEG

 

Mata bulat Luhan terbelalak. Tidak bisa lagi! Luhan akan terhanyut lebih dalam jika Sehun tidak menghentikan perbuatannya. Ia tidak mau!! Sehun pasti hanya mempermainkannya dan…

 

KYUNGSOO!!!

 

Luhan mengingat adik kesayangannya. Kyungsoo, apa yang ia lakukan? Sehun adalah kekasih adiknya dan… kini Sehun sedang menggerayangi tubuhnya. Menciumi tubuhnya, mencetak beberapa tanda cinta dileher jenjang Luhan, membiarkan tangan Sehun masuk kedalam kemeja yang ia gunakan.

 

Ini salah Luhan!

 

“Hentikan!!” Sekuat tenaga Luhan mendorong tubuh Sehun. Secepat kilat Luhan bangkit dari ranjang, nafasnya terengah- engah dan keadaannya seketika berantakan. Apalagi tanda kemerahan yang menguasai lehernya. “Kau brengsek!!”

 

Sehun menatap Luhan tanpa bicara. Ia masih duduk diatas ranjang Luhan dan bersandar pada dinding yang menempel dengan tempat tidur Luhan. Entah sejak kapan Sehun bisa tersenyum selicik itu. Luhan langsung pucat, terdiam.

 

“Aku brengsek? Benar, Lu. Aku memang orang seperti itu.”

 

Luhan bisa menebak ia akan menangis namun sebisa mungkin ia tahan keinginan itu. Ia benar- benar tidak mau terlihat lemah dihadapan Sehun. Bukankah ia sudah bertekad menjadi Luhan yang kuat? Tanpa dibayangi oleh namja bernama Sehun!

 

“…Mana Kyungsoo dan apa yang kau lakukan dikamarku!!”

 

“Kyungsoo pergi ke supermarket dan … aku sedang sakit, hanya beristirahat dikamarmu untuk sementara waktu.”

 

“Kau bisa pindah kekamar Kyungsoo!”

 

“Aku tidak kuat berjalan.” Jawab Sehun merebahkan tubuhnya diranjang Luhan.

 

Sehun sama sekali tidak nampak bersalah, apa yang ada dipikiran namja tampan itu sebenarnya? Berkali- kalipun Luhan berfikir maksud tindakan liar Sehun baru saja, tetap tidak ada jawaban. Status Sehun jelas kekasih Kyungsoo dan Sehun tidak berhak bertindak seperti tadi! Sama sekali tidak dan pembenaran akan hal itu tidak akan pernah ada!

 

 

“…Sebenarnya apa maumu?”

 

 

Suara Luhan terdengar bergetar, ia tidak bisa membaca maksud Sehun. Beberapa detik yang lalu, ia menyerang Luhan. Dan jika Luhan tidak menghentikannya, bisa saja Sehun tidak akan menghentikan hasratnya hingga mereka melakukan hal yang lebih jauh. Padahal… Sehun menyukai Kyungsoo namun mengapa… Sehun benar- benar tidak bisa ia mengerti.

 

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” bukan jawaban yang Sehun berikan.

 

“Setelah kau menyakitiku.. jangan harap kau bisa menyakiti Kyungsoo.” Luhan berbalik badan dan langsung berjalan keluar kamar. Meninggalkan Sehun yang hanya diam menatapi kepergian Luhan. Sejenak Sehun menutup matanya lalu menghela nafas pelan.

 

 

“Kau gila, Oh Sehun.” desis Sehun frustasi.

 

 

 

 

Blam

 

Luhan masuk kedalam kamar mandi. Ia membuka pakaiannya cepat dan melihat dengan jelas pada cermin besar yang ada disana. Melihat bekas ciuman Sehun dilehernya. Yang benar saja, bahkan beberapa bekas ciuman itu nampak berwarna keunguan. Tidak hanya satu tanda disana, parahnya bekas ciuman Sehun memenuhi leher bagian kanannya.

 

“Bagaimana cara aku menutupinya!” lirih Luhan pilu. Air matanya saat itu tertetes, Luhan terduduk dilantai kamar mandi yang tidak terlalu basah. Ia pegang lehernya dengan kedua tangannya. Ia menangis, namun tidak terisak. Ia hanya diam dan menangis.

 

“—Jongin..”

 

Luhan bangkit dan menghidupkan keran pada bath tub, ia sengaja memilih air dingin. Ia pandangi bath tub yang sedang terisi oleh air, tatapan mata Luhan masih saja berkaca- kaca. Beberapa kali nampak air mata jatuh tertetes begitu saja.

 

Srak

 

Luhan membuka celana panjangnya, membiarkan tubuhnya tidak terlapisi oleh satu helai benangpun. Ia rebahkan tubuhnya kedalam bath tub yang sudah terisi lebih dari setengah, membiarkan tubuhnya basah dan ujung rambutnya meruncing karena terkena air.

 

Dingin.

 

Luhan menutup mata, membiarkan shower yang tergantung diatas bathtub hidup dan membasuh kepalanya hingga seluruh tubuh Luhan basah kuyub. Rintik yang tercipta dari air shower menyapu wajah Luhan. Kepala Luhan tersandar pada sisi bathtub bagian atas.

 

Rasanya ia ingin membersihkan dirinya dari… sentuhan Sehun.

 

Wajah Luhan memerah, air hangat dari pelupuk mata Luhan yang terpejam berbaur dengan air shower yang menyentuh wajahnya. Ia memeluk tubuhnya didalam air, membuat sedikit riakan saat lututnya tertekuk.

 

“Jongin.. maaf. Maafkan aku…”

 

 

 

Kini mengapa kau yang kuingat?

Mengapa kau yang ingin kupeluk?

Dan mengapa—kau yang aku inginkan untuk menenangkanku?

 

 

 

Klek

 

Kyungsoo masuk kedalam rumahnya dan melihat sepatu Luhan sudah ada dilemari sepatu. Senyuman riang terlihat dibibirnya. Ia meletakkan belanjaannya diatas meja dapur lalu berlari kelantai dua menuju kamar Luhan.

 

“Luhan-hyung!!” pekik Kyungsoo keras saat memasuki kamar Luhan.

 

“Kyungsoo, kau sudah pulang?” sapa Sehun yang masih berbaring.

 

“Lho? Sehun-hyung, mana Luhan-hyung?” Padahal dia yakin Luhan akan langsung kekamarnya. Ah benar juga, ada Sehun dikamar Luhan. Mungkin namja itu tidak mau mengganggu Sehun istirahat dan memutuskan ketempat lain.

 

“Tadi dia kemari sebentar namun setelahnya ia keluar kamar.. mungkin dia sedang mandi. Aku mendengar gemercik air tadinya.” Jawab Sehun lembut. Tidak rasa bersalah yang terlihat.

 

Kyungsoo menghela nafas lega dan mengangguk. “Kalau begitu… hyung lanjutkan istirahat. Aku akan berberes rumah dulu. Apalagi aku akan menyiapkan makan siang, Luhan hyung mungkin saja belum makan.”

 

Sehun perlahan duduk diranjang. “Kyungsoo, sepertinya aku sudah agak baikan. Bagaimana kalau aku pulang saja?”

 

 

 

 

 

Blam

 

 

Luhan keluar dari kamar mandi setelah lebih dari lima belas menit berendam. Ia memakai baju mandi berwarna putih dan saat ia akan berjalan kekamarnya. Sebenarnya ia juga menunggu Sehun pergi, bersyukur sekali ia mendengar suara Sehun saat pamit dan berterima kasih kepada Kyungsoo. Bisa gila ia jika masih melihat Sehun saat ini.

 

Luhan mendengar suara pergerakan didapur. Ia berjalan pelan menuju dapur dan melihat adiknya sedang memasak. Senyuman tipis penuh arti Luhan layangkan. Ia langsung merasa bersalah saat melihat adik kecilnya yang polos itu.

 

 

Siapa yang tidak merasa brengsek jika kekasih adiknya sendiri tadi menjamahi tubuhnya?

 

 

Sedetik kemudian Luhan memegang lehernya yang penuh dengan tanda kemerahan. Ia menunduk dalam. Rasanya begitu kotor ia saat ini. Namun semua diluar kendalinya, Sehun begitu kuat hingga Luhan nyaris tidak bisa melawan. Sehun begitu kejam—hingga Luhan nyaris terbawa dalam permainannya..

 

 

“Kyungsoo.”

 

 

Panggilan lembut itu membuat aktifitas Kyungsoo terhenti, ia membalikkan tubuhnya dan melihat Luhan, sang kakak kesayangannya, berjalan mendekat.

 

“Hyung, aigoo! Kau tahu bagaimana leganya aku melihatmu?! Kau benar- benar membuatku khawatir!” cercah Kyungsoo sembari memeluk tubuh Luhan erat. Luhan tentu saja membalas pelukan Kyungsoo.. ia cium pelan pundak adik tersayangnya, Kyungsoo, sembari mempererat pelukan.

 

 

“Maafkan aku.” Bisik Luhan lirih sekali.

 

 

“Untuk apa, hyung?” Ternyata Kyungsoo mendengar ucapan lirih Luhan.

 

 

Ucapan maaf itu tentu saja diucapkan Luhan bukan tanpa alasan. Banyak sekali hal yang menuntut Luhan untuk minta maaf pada adik tersayangnya, Kyungsoo. Akan tetapi alasan paling kuat akan hal itu adalah.. Sehun. Namun Luhan tidak akan mengatakan apapun tentang hal yang menyangkut dengan Sehun dan dirinya pada Kyungsoo. Luhan akan menyimpannya, jika dapat seumur hidup.

 

 

“Hyung?” panggil Kyungsoo sekali lagi.

 

 

Luhan menghela nafas pelan dan melepas pelukannya, ia tatap pemuda manis dihadapannya dengan senyuman. Kyungsoo memang sangat manis.. Luhan selalu bangga dan senang hati melihat keelokan sang adik. Tangan Luhan mengusap pipi Kyungsoo lalu mencium pipi merah itu dengan perasaan. Sedetik kemudian Luhan kembali memeluk Kyungsoo.

 

 

“Maafkan hyung-mu yang bodoh ini, Kyungsoo.. Maaf.” Bisik Luhan lagi.

 

 

Kyungsoo mengerjapkan matanya dengan bingung, ada apa dengan Luhan? Mengapa kakak laki- lakinya yang cantik ini meminta maaf, bahkan tidak hanya sekali. Sorot mata Luhan juga nampak terluka. Tapi.. Kyungsoo tidak bertanya lagi, ia usap punggung Luhan dengan kasih sayang. Kyungsoo kembali tersentak ketika ia menyadari satu hal…

 

 

 

.. Luhan sedang menangis. 

 

 

 

Aku tidak mau sesuatu merenggutmu dari sisiku

Aku tidak akan rela..

 

Sekali aku kehilanganmu

.. hatimu tidak akan kembali padaku.

 

 

 

Kyungsoo menutup pintu kamar Luhan dengan amat pelan. Ia menghela nafas lega kemudian menumpukan keningnya pada pintu kamar Luhan, pemuda manis itu menutup matanya sesaat. Ia kembali mengingat bagaimana Luhan menangis, meraung dan meminta maaf pada Kyungsoo berkali- kali disela isakannya.

 

“Ada apa, hyung? Mengapa kau terus minta maaf sedangkan kau tidak menjelaskan kesalahanmu padaku?” bisik Kyungsoo kemudian berjalan menuju kamarnya sangat perlahan tanpa suara. Ia takut membangunkan Luhan, sangat sulit membuat pemuda cantik itu tenang. Ia bahkan tertidur setelah menangis tanpa henti nyaris setengah jam lamanya.

 

Kyungsoo mengingat betul tanda kemerahan disekitar leher Luhan. Banyak sekali dan terlihat amat jelas, bahkan dibeberapa titik berwarna biru. Apakah darah Luhan membeku? Apakah Luhan sedang sakit? Pemuda manis itu terus saja bertanya- tanya didalam hati. Kyungsoo tidak mengerti apa yang dilakukan Luhan hingga kulit lehernya bisa seperti itu. Kyungsoo belum mengerti.

 

 

“Saat makan malam akan kutanyakan.” Tekad Kyungsoo.

 

 

 

 

 

“Sehun-ah.. benar- benar tidak bisa?” Luhan menunduk kecewa, lagi. Ia genggam erat ponselnya dengan gamang.

 

-“Maaf, Luhan. Aku kembali membatalkan janjiku.”-

 

“Kenapa? Kau tidak mau bertemu denganku?”

 

Hanya keheningan yang didapat Luhan dari sambungan telponnnya diseberang sana. Luhan meyakini seseorang bernama Sehun itu masih disana karena helaan nafas pelan dan berat. “Sehun-ah..”

 

-“Aku ingin menemui seorang teman.”- Jawab Sehun dengan nada suara malas.

 

“Siapa?”

 

-“Mengapa kau terlalu banyak bertanya, Luhan?”-

 

“Aku hanya kesal! Kau membatalkan janji kita hanya karena seorang temanmu? Aku ini kekasihmu, Oh Sehun!”

 

-“Dia akan pergi ke Jepang untuk berlibur untuk beberapa hari, mengertilah! Mungkin aku tidak akan menemuinya dalam waktu dekat.”-

 

Luhan mengerutkan keningnya. Membicarakan tentang Jepang, Luhan jadi ingat bahwa Kyungsoo juga akan pergi ke Jepang lusa esok untuk mengunjungi ayah dan ibu mereka. Luhan tidak ikut karena salah satu mata pelajarannya ada yang mengulang untuk diuji kembali. Akan tetapi sebuah ide muncul.

 

“Baiklah.. tapi lusa besok kau mau datang kerumahku? Keluargaku tidak ada dirumah ketika itu.” Luhan menggigit bibir bawahnya. Berharap Sehun mau menerima ajakannya. Sehun dan ia sangat sangat jarang bertemu akhir- akhir ini. Pasti alasan Sehun selalu kuat hingga Luhan hanya bisa mendesah kecewa ketika janji mereka harus dibatalkan.

 

-“Oke.. Lusa aku akan kerumahmu, Luhan. Lagipula ada yang ingin aku bicarakan..”-

 

Sorakan Luhan atas jawaban itu bukanlah pertanda baik ketika hari itu datang. Luhan yang lugu tidak tahu apapun yang ada dibalik hubungan mereka. Kepercayaan dan harapan Luhan amat besar pada pemuda tampan bermata sendu itu. Hingga rasanya ia rela membelah tubuhnya agar Sehun tetap berada disisinya. Tetap bersamanya—

 

 

Dan ketika hari itu datang…

 

 

..Luhan—

 

 

.. bukan lagi Luhan yang sama.

 

 

 

Pemuda cantik itu mengerjapkan matanya perlahan, ia terbangun. “Mimpi..” bisik Luhan lirih.

 

Ia baru saja memimpikan masa lalunya dengan.. Sehun? Aissh.. Mengapa kenangan menyakitkan itu harus terputar ulang diotak Luhan? Padahal pemuda itu sudah bertekad untuk melupakan Sehun. Apa gunanya ia berteriak dipantai kalau begitu?

 

Perlahan ia mengusap matanya dan menatap sekitar.. kamarnya. Luhan mendudukkan diri diatas ranjang. Ah, apakah ia tertidur setelah ia menangis?

 

 

“Kyungsoo!!” Luhan bangkit dari ranjang tiba- tiba dan itu membuatnya pening sesaat. Matanya memburam dan sontak tubuhnya terhuyung kembali untuk duduk diatas ranjang. Luhan mengusap keningnya, mengurut perlahan. “Ughh… Pusing..”

 

Setelah Luhan rasa tubuhnya mulai membaik, ia berdiri secara perlahan. Tidak mau mengulang kesalahan yang sama tentunya, Luhan melakukan semuanya dengan perlahan. Ia baru saja bangun tidur, tubuh Luhan belum sepenuhnya sadar untuk melakukan aktifitas tiba- tiba.

 

Tap

 

Langkah kaki Luhan terhenti ketika ia melihat tas ranselnya diatas meja belajar. Gelas dan obat- obatan Sehun tadinya sudah tidak ada lagi disana. Kyungsoo sudah merapikan kamar Luhan tampaknya.

 

Ia berjalan menuju meja belajar kemudian membuka tas ransel itu, ia lihat pakaian atau baju kaos Jongin yang ia gunakan untuk tidur tadi malam. Senyuman pemuda cantik itu tiba- tiba merekah dan.. matanya memerah. Ia menggeleng pelan kemudian menggapai tablet miliknya dari dalam tas, membuka kunci beranda dan.. senyuman manis kembali terlukis dari sosok indah Luhan. Ia begitu lega dan senang ketika melihat wallpaper itu..

 

 

Jongin—

 

Air mata Luhan tertitik saat itu dan ia mengusapnya cepat. Seakan foto Jongin yang terpajang sebagai wallpaper tablet itu sedang menatapnya. Pose konyol Jongin memang yang terbaik, selalu membuat Luhan senang dikala hatinya bimbang. Sepertinya obat untuk Luhan hanya foto konyol Jongin untuk saat ini.

 

Ya—

 

Untuk saat ini saja, kah?

 

 

Senyum Luhan tiba- tiba menghilang, ia mengusap layar tablet-nya seakan yang ia usap adalah wajah Jongin. Sedetik kemudian Luhan terduduk dilantai sembari memeluk tablet- nya dengan amat erat, Luhan menutup mata. Membayangkan wajah Jongin dengan berbagai ekspresi dan perilaku anehnya. Perilaku yang selalu Luhan rasa manis dan menghanyutkannya. Perilaku yang membuat Luhan lega dan gelisah disaat bersamaan.

 

 

“Ini yang aku takutkan…” bisik Luhan begitu redam.

 

 

Kembali Luhan menatap layar tablet-nya, memandangi sosok Jongin yang selalu membuatnya lega. Sekali lagi, Luhan mengusap layar tablet tersebut seakan mengusap wajah Jongin secara langsung. “..aku takut jika berharap kembali.. takut, Jongin.”

 

 

Untuk memberimu cintaku

Bukanlah masalah mudah—

 

Aku hanya takut dan.. perlu waktu..

Sudikah kau menunggu?

 

Lelahkah dirimu .. menungguku?

 

 

Kyungsoo dan Luhan sedang makan malam diruang makan kediaman mereka. Kedua pemuda itu awalnya diam akan tetapi Kyungsoo selalu berusaha membuka pembicaraan. Ia tidak menyinggung apapun tentang kejadian tadi siang, ia bahkan tidak bertanya Luhan pergi dengan siapa kemarin malam, atau perihal tanda kemerahan yang terlukis di leher Luhan.

 

“Jadi kau tidak sekolah tadinya?” tanya Luhan ketika Kyungsoo mengatakan bahwa dirinya sibuk memasak dan membersihkan rumah tadi siang sembari menunggu kepulangan Luhan.

 

“Nde~ Aku tidak bisa konsentrasi pada apapun.. apalagi Sehun-hyung sedang sakit.” Jawab Kyungsoo sembari menyuap makanannya. Luhan hanya menunduk ketika nama Sehun dengan polosnya diucapkan oleh sosok Kyungsoo.

 

Melihat perubahan dari wajah Luhan, Kyungsoo langsung mengusap pipi Luhan dan mengarahkan wajah kakaknya kembali menatap mata bulat milik Kyungsoo. Luhan tersenyum tipis dan menggenggam telapak tangan Kyungsoo. Dan terlihat mata Luhan tergenang oleh air mata. Seperti ada kasa tebal yang menyelimuti mata bulat Luhan.

 

 

“Ada apa, hyung? Jangan membuatku khawatir.”

 

 

“Kyungsoo.. apapun yang terjadi.. hyung akan melindungimu.”

 

 

 

 

Diceritakan pada suatu waktu.. sudah lama sekali. Seorang pemuda manis bertemu dengan pemuda tampan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, padahal mereka belum mengenal satu sama lain sebelumnya. Mereka hanya bertemu karena sekolah mereka tidak terlalu jauh, berjarak satu gang. Pemuda manis bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Eik Mok dan pemuda tampan bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Chae Shim.

 

Mereka bertemu ketika kebetulan saja sama- sama terlambat dan tidak diperkenankan masuk lagi. Pemuda manis melihat pemuda tampan sedang menolong seekor anjing kecil yang terperangkap didalam selokan didekat gang. Pemuda manis yang ingin pulang kerumahnya, malah mendekati pemuda tampan yang tertawa riang karena ia berhasil menyelamatkan anak anjing yang lucu itu dari selokan yang cukup dalam.

 

Menyadari seorang pemuda manis tengah mengamatinya, si tampan mengerjapkan mata dan tersenyum amat manis. Pakaiannya yang sedikit kotor tidak menghilangkan kesan tampan dan mempesona miliknya. Ia memiringkan wajah dan memperlihatkan anak anjing mungil yang berhasil sitampan selamatkan.

 

 

“Lucu, ya.” ujarnya pada si manis yang menatap anak anjing itu gemas.

 

 

Pemuda manis mengangguk dan mengeluarkan sapu tangan dari saku jas sekolahnya, dengan reflek mengusap noda diwajah si tampan. Mata bulat milik pemuda manis berhasil menghipnotis pemuda tampan itu untuk tidak bersuara, membiarkan sapu tangan beraroma apel itu mengusap wajahnya hingga bersih.

 

 

“Kau juga lucu.” Pemuda manis terkekeh dan kembali memasukkan sapu tangannya.

 

 

Dan disaat itu, pemuda tampan merasakan sebuah perasaan bergemuruh ketika ia melihat pesolek si manis lebih dalam. Ia tatap mata bulat besar dan bibir tebal serta ulasan senyuman amat manis, tubuh mungil yang jauh lebih kecil dari tubuhnya dan jemari tangannya yang lentik. Semuanya menyihir si tampan agar matanya tidak teralih pada sosok si manis.

 

Ketika pemuda manis bermaksud berjalan kembali, si tampan bersuara dan menghentikan langkah pendek tersebut.

 

“Tunggu! Maukah menemaniku untuk membersihkan anak anjing ini ditaman terdekat?” 

 

Pemuda manis mengerjapkan matanya dan wajahnya terlihat merona. Pipi putihnya kini bertabur rona merah muda, manis. Sedetik kemudian si manis mengangguk, menyetujui ucapan pemuda tampan yang kini bersorak keras.

 

Itulah pertemuan mereka.. dikala mereka masih berumur 13 tahun. Dikala semua pikiran mereka masih saja tidak terlampau rumit. Namun..

 

 

… pertemuan itu mengakibatkan sebuah luka perih didalam hati masing- masing setelah semua terpaksa terhenti beberapa tahun setelahnya.

 

 

Belum ada akhir dari kisah cinta mereka.

 

 

 

Hingga kini—

 

 

 

 

Jongin menutup buku pelajarannya dengan malas. Ia baru saja mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Ia memang sering sekali membolos saat jam pelajaran, namun nilai rata- rata pemuda itu selalu memuaskan. Ia tekun jika memang harus menyelesaikan sesuatu. Ia lirik jendela kamarnya dengan taat, beberapa saat. Mengamati langit malam yang amat indah.

 

Bukanlah tanpa alasan dirinya meyukai bintang- bintang, dahulu sekali.. pemuda yang ia sukai memiliki mata seterang bintang dan seindah bulan. Sejak saat itu jika ia merindukan pemuda itu, ia akan selalu menatap langit berbintang. Namun anehnya rasa rindu itu bahkan semakin memuncak, hingga kini ia masih saja memikirkan pemuda itu. masih mencari keberadaan pemuda itu dan.. ia ingin bertanya alasan mengapa pemuda itu tidak datang dihari terakhir kelulusan.. Mengapa pemuda itu tidak memberi jawaban.

 

 

Kembali.. Jongin menggeleng cepat dan menutup jendela kamarnya. Sejak tadi ia mengamati bintang sembari mengerjakan tugas sekolah. Sudah menjadi kebiasaan bagi Jongin untuk menatap bintang jika malam sudah larut. Jika hujan tiba, Jongin pasti akan selalu saja merasa sedih. Ia jadi tidak bisa melihat bintang, bukan?

 

 

 

Tetapi—

 

 

Kini—bukan hal itu lagi yang Jongin pikirkan. Melainkan pemuda cantik yang beberapa hari terakhir menganggu pikirannya. Pemuda yang bahkan jauh lebih terang daripada bintang manapun yang pernah dilihat oleh Jongin. Pemuda bermulut tajam, bersikap dingin, dan selalu marah- marah pada Jongin. Pemuda berwajah boneka dan memiliki mata bersorot sendu, seakan beban yang ia tanggung seberat bumi dan alam semesta. Berlebihan? Tidak, karena Jongin tahu dari sorot mata itu, si cantik meminta pertolongan walau ia tidak mau memberitahu secara gamblang. 

 

 

 

Luhan—

 

 

Setelah Jongin bertemu dengan Luhan.. Jongin sedikit banyak bisa merasakan bahwa ia memang tidak boleh terlalu hanyut didalam masa lalunya. Ia pikir, hanya percintaannya saja yang tidak pernah berjalan lancar dahulunya. Namun penderitaan Luhan ternyata jauh lebih mengerikan dari rasa sakit yang ia rasa selama ini.. dalam penantian panjang-nya, Jongin merasa bahwa kesesakan mulai meninggalkannya.. karena Luhan.

 

Ia mengusap wajahnya dan menjatuhkan diri diranjang, mendesah pelan saat ia mengingat kembali bahwa kemarin.. ia baru saja menyatakan perasaannya pada Luhan? Oh Tuhan! Sebenarnya ucapan itu tidak keluar begitu saja dari bibir Jongin. Banyak yang ia pikirkan hingga kata- kata itu terucap dengan jelas. Jongin takut mengulangnya—

 

 

Ia takut masa lalunya terulang kembali.

 

 

Ia takut terlambat mengucapkan hal itu kepada orang yang ia sukai lagi.

 

 

“Luhan-hyung… Luhan… Luhan..” bisik Jongin menyengkram erat alas ranjangnya, ia benamkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang memerah.

 

 

“Sejak kapan.. bayanganmu menghilang dari pikiranku.. Kyungsoo?”

  

 

 

Salahkah diriku merasa kau..

..mulai pudar?

 

Kini…

 

Dirinya bahkan jauh lebih membuatku gila.

 

 

 

Keesokan harinya.

 

Luhan memasuki koridor sekolahnya dengan langkah cepat seperti biasa, mengacuhkan beberapa pemuda yang menyapanya. Well, wajah cantik Luhan memang membuatnya populer dikalangan murid lelaki bahkan murid perempuan. Namun, sifat Luhan yang kurang ramah dan ia lebih menyukai kesendirian, Luhan jadi tidak memiliki teman yang dekat dengannya. Teman sekedar menyapa atau bersenda gurau ia memilikinya, namun teman baik? Luhan bahkan jijik untuk mengatakannya. Rasa sakit pengkhianatan sudah ia rasakan, maka ia tidak mau lagi memiliki ikatan yang nantinya akan berakhir juga. Ia.. ia tidak mau!

 

“Luhan-hyung!”

 

Langkah Luhan seketika terhenti, padahal selangkah lagi ia akan memasuki kelasnya. Tetapi suara panggilan itu serasa membuat tubuh Luhan lumpuh seketika. Mata bulat Luhan mengerjap cepat dan perlahan ia membalikkan tubuhnya. Mengarahkan tatapan mata pada sosok yang kini menghela nafas lega.

 

“Mau apa..” serang Luhan tanpa kesan ramah sedikitpun. “…Jongin?”

 

Jongin tertawa pelan dan menunjuk sesuatu yang mengalung dileher Luhan. “Mengapa hyung memakai syal? Tidak panas, hyung?”

 

Luhan mundur satu langkah dan membuang muka kearah samping kiri. “Aku flu.”

 

Jongin mengerutkan keningnya, kali ini wajahnya nampak serius. Ia perhatikan wajah Luhan yang memerah, namun dapat Jongin tangkap dari ekspresi samar itu. Luhan tengah menahan sesuatu. Ingin sekali pemuda itu bertanya, bertanya keadaan Luhan. Tetapi sorot wajah Luhan benar- benar tidak ingin diganggu untuk saat ini.

 

“Baiklah!” Jongin mundur beberapa langkah. “Jangan bicara terlalu banyak, hyung. Tenggorokanmu bisa sakit.. dan… Jika kau membutuhkanku..” lalu Jongin mengambil sebuah pena dan kertas memo dari dalam tas. Menuliskan sesuatu dengan cepat kemudian mengarahkan kertas memo tersebut kearah Luhan.

 

“..hubungi aku.” Jongin memberikan kertas memo yang tertuliskan nomor ponsel Jongin.

 

Dengan ragu- ragu Luhan mengambil secarik kertas tersebut dari tangan Jongin. Menatap sekilas pada sosok tampan pemuda yang kini tersenyum tipis pada dirinya. Luhan berbalik tubuh dan masuk kedalam kelasnya. Meninggalkan Jongin yang masih saja berdiri disana, menunduk kemudian kembali berjalan menuju kelasnya.

 

Jongin tidak ingin menganggu Luhan dulu.

 

 

Dia tidak akan mendesak.

 

 

 

 

Luhan mendudukkan diri, ia menatap tajam deretan nomor yang tertera pada kertas memo mungil itu dengan taat. Tulisan tangan Jongin tidak terlalu bagus, akan tetapi.. Luhan merasa hatinya bergemuruh. Oh tidak, hanya melihat tulisan tangan Jongin. Luhan bisa merasakan debaran jantung yang tidak normal?

 

“Oh Tuhan..” Luhan meremas kertas memo tersebut dan menggenggamnya erat. Membawa kepalan tangan yang membungkus memo kecil itu menempel pada keningnya. Luhan menutup mata perlahan. Ia memikirkan pemuda itu. pikirannya terpusat pada pemuda itu. hanya pemuda itu.. Mengapa?

 

Mengapa.. Jongin?

 

Apakah Jongin sosok Jongin sudah.. menggantikan sosok Sehun dihati Luhan?

 

 

Sudahkah?

 

 

“Jongin..” bisik Luhan lirih.

 

 

 

 

 

“Jongin-aahh~” panggil seorang pemuda cantik ketika melihat Jongin berjalan kekelasnya. Pemuda cantik bertubuh mungil itu langsung menerjang Jongin dengan pelukan dan mengecup pipi Jongin dengan mesra. Yah, Jongin sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu. ia hanya tersenyum tipis dan mendorong pelan tubuh pemuda cantik itu agar menjauhinya.

 

“Mwoya~ Kenapa? Kau jarang sekali kini bermain denganku.” Pemuda cantik itu mengerucutkan bibirnya.

 

“Ah~ Hahahahaha~ Maaf, ya. Aku sibuk akhir- akhir ini.” Jongin masih mencoba untuk ramah. Baiklah, diapun tak mengingat secara pasti pemuda cantik yang ada dihadapannya. Salahkan ketidakpeduliannya pada setiap pemuda cantik yang ia kencani.  

 

“Sibuk dengan Luhan-sshi, bukan? Jinjja~ Luhan memang cantik, dia seperti boneka. Tetapi mulutnya tajam dan dia tidak ramah. Menyerah saja, Jongin-ah~”

 

Jongin menghela nafas pelan dan mengangkat bahunya. “Menyerah? Maaf saja.. Menyerah bukanlah sesuatu yang dilakukan Kim Jongin.”

 

Setelah itu, Jongin melanjutkan langkah kakinya menuju kelas. Ia meninggalkan pemuda cantik yang terlihat sebal tersebut begitu saja. Melangkah dengan ringan sambil bersenandung. Jongin kemudian terhenti didepan kantin dan mengerutkan keningnya.

 

“Kurasa Luhan-hyung membutuhkannya.”

 

Jongin melangkah masuk kedalam kantin terus bersenandung riang.

 

 

 

 

Jam istirahat sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Luhan bergerak tak nyaman sembari memperbaiki letak syal yang ia kenakan. Demi Tuhan, Luhan amat kepanasan sebenarnya. Namun jika ia tidak memakai syal tersebut, tanda kemerahan yang dicetak Sehun dilehernya bisa terlihat. Pasti orang- orang akan menganggap Luhan yang tidak- tidak.

 

“Luhan-sshi.”

 

Luhan mendongakkan wajahnya dan melihat seorang teman sekelasnya sudah berdiri tepat didepan bangku Luhan, gadis cantik tersebut mengarahkan sebuah minuman hangat pada Luhan berbarengan sebuah memo kecil tertempel dipermukaan minuman kaleng hangat tersebut.

 

“Dari seseorang.” Ujar gadis itu kemudian pergi begitu saja.

 

Luhan  mengerjapkan matanya lalu kembali menatap minuman kaleng yang ada ditangannya. Sedikit merasa penasaran, ia ambi memo kecil bergambarkan pororo. Ia baca deretan tulisan kecil disana.

 

 

 

Semoga cepat sembuh, Luhan-hyung!!

Aku rindu celoteh tajammu ketika memarahiku~

-Jongin

 

 

Deg

 

Dada Luhan berdesir lembut, ia tertawa pelan dan menggelengkan kepala pelan. Ia amati minuman hangat yang ada ditangannya sembari mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipi. Luhan amat menggemaskan jika diperhatikan.

 

“Jongin pabo!!” desis Luhan pelan. “Aku sedang kepanasan, tahu! Mengapa kau memberiku minuman hangat. Jinjaa!! Dia percaya aku sakit flu—“

 

 

Deg

 

 

Apa dia mengkhawatirkanku?

 

 

Luhan membulatkan matanya ketika, dadanya berdebar tak karuan hanya karena memikirkan, mungkin saja Jongin mengkhawatirkannya. Pipi manis itu bersemu merah, bukan karena kepanasan lagi.. bukan! Itu semua karena efek ganjil yang Luhan rasakan dihatinya. Jangan bertanya lagi karena siapa? Bisa dipastikan karena … Jongin~

 

 

“Paboo!!! Luhan paboo!!”  pemuda cantik itu kemudian menepuk- nepuk pipinya lembut. Entah ingin menutup rona itu atau memanipulasi detakan jantung. Oh Tuhan! Kenapa jantung malang Luhan tidak juga berhenti berpesta? Seperti ada ratusan bom yang meledak disekelilingnya, demi apapun! Jantung Luhan benar- benar berdetak abnormal hanya dengan memikirkan Jongin?

 

 

Kenapa?

 

 

Apa dia…

 

 

… menyukai Jongin?

 

 

“YA!! MATI SAJA KAU LUHAN!!” Pemuda cantik itu malah berteriak pada dirinya sendiri. Mengakibatkan fokus mata murid- murid lain teralih padanya. Teriakan pemuda itu bisa dikatakan tidaklah pelan. Dengan mata yang benar- benar tidak ramah, Luhan memandangi teman sekelasnya bergantian. “Apa yang kalian lihat, oeh?!”

 

Luhan berdiri dari duduknya dan langsung berjalan cepat keluar kelas, menggenggam kaleng minuman itu ditangan kanannya dengan erat. Wajah Luhan merah semerah merahnya. Tidak jelas kini Luhan malu karena apa yang pasti isi kepala pemuda itu hanya Jongin.

 

Baiklah! Dia harus membuktikan bahwa ia tidak menyukai Jongin! Ia harus menemui Jongin dan menjelaskan semuanya!

 

Tap

 

Langkah kaki Luhan terhenti didepan kelas si tampan, Jongin. Menilik kedalam seperti mengendap- endap dan—mengapa tidak ada mahluk seksi yang dicari oleh Luhan? Kemana dia?

 

Sembari menggerakkan kepalanya, Luhan terus mencari Jongin. Kali saja, Jongin sedang berbaur dengan teman sekelasnya, akan tetapi.. tidak ada! Jongin benar- benar tidak ada didalam kelasnya. Namun Luhan melihat tas Jongin ada dibangku pemuda itu. Nampaknya Luhan dengan tidak sengaja menghapal tas milik Jongin.

 

 

Luhan meninggalkan kelas tersebut dan berjalan menuju perpustakaan, mungkin Jongin ada disana. Jangan lupa Luhan pernah bertemu Jongin yang sedang—err—bercumbu dengan seorang pemuda cantik di perpustakaan. Akan tetapi… sudah dua putaran pemuda cantik itu mengelilingi perpustakaan, Jongin tidak juga ditemukan.

 

“Hya!! Kemana dia?!”

 

Luhan mulai kesal, ia dengan masih menggenggam minuman pemberian Jongin, sedikit berlari menuju atap sekolah. Langkahnya benar- benar letih jika diperhatikan. Apalagi keringat diwajah Luhan membuat ia terlihat berantakan. Ingat jika Luhan tengah memakai syal. Bisa dibayangkan betapa panas tubuh Luhan sekarang.

 

Klek

 

Dan sesampai diatas atap—

 

 

Jongin tetap tidak ada.

 

 

Jongin tidak ada.

 

 

“Mwoya..” bisik Luhan lemah.

 

 

“..dimana..?”

 

 

Luhan terduduk dilantai lusuh atap sekolah dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Menghela nafas sedalam- dalamnya seraya menarik pelan syal tersebut dari leher putih milik Luhan, leher Luhan.. yang masih tercetak dengan jelas beberapa bekas gigitan Sehun kemarin. Bersyukur tidak ada satupun orang disana selain dirinya. kembali mata bulat itu menatap minuman kaleng dari Jongin. Ia usap minuman kaleng tersebut dengan jemari lentik kemerahan Luhan.

 

 

“Bodoh!” bisik Luhan seraya tersenyum. “Mengapa tidak memberikannya langsung padaku! Pabo Jongin!! Pabo!!”

 

Puk

 

Pemuda manis itu kemudian merebahkan tubuhnya disana, membiarkan sinar matahari dan angin dengan sepoian lemah menyentuh tubuh mungil Luhan. Rasanya lega sekali ketika syal mungil tersebut tidak lagi melingkar dileher. Terasa panas dan tidak nyaman.

 

Dengan berbantalkan syal itu, Luhan menengadahkan kepalanya menatap langit pagi menjelang siang. Masih pukul 10 pagi, sinar matahari terasa sangat sehat jika menerpa kulit. Menyebabkan kulit putih Luhan berwarna kemerahan. Oh Tuhan, jika ada seseorang disana melihat wajah Luhan yang memerah dan bersinar. Bisa dipastikan bahwa orang itu akan berteriak bahwa baru saja melihat dengan seorang malaikat.

 

 

“Jongin—“ bisik Luhan kini amat lirih. “..aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut…”

 

 

 

Apakah warna yang kau perlihatkan kini adalah nyata

Atau hanya semu penipu hati?

Tolong aku…

Kini aku tak bisa membedakan cinta dan benci lagi—

 

 

 

 

Pemuda tampan yang sedari tadi dicari oleh Luhan kini tengah duduk diayunan. Dimana lagi kalau bukan disana, ditempat rahasianya. Ah, kini Luhan sudah mengetahui tempat rahasia itu. Jadi tempat rahasia Jongin dan—Luhan.

 

Jongin menghela nafas pelan kemudian menatap langit. “Luhan-hyung baik- baik saja tidak, ya? Aku jadi khawatir.”

 

Dengan hentakan, ayunan itu berayun kedepan dan kebelakang, tidak terlalu kencang. Membawa tubuh Jongin ikut berayun pelan. Si tampan tetap saja memikirkan Luhan. Dia cemas sekali pada keadaan Luhan, sepenuhnya Jongin percaya bahwa Luhan sakit flu. Dan Jongin sedikit menyalahkan dirinya, dia berfikir mungkin karena beberapa waktu yang lalu ia mengajak Luhan hingga malam hari kepantai. Jinjja, bagaimana jika karena hal itu?

 

Bruk

 

Jongin menjatuhkan dirinya dari ayunan dan rebah menatap langit biru yang amat cerah. Sinar matahari menyapa wajah tampannya, ia tersenyum ketika angin lemah membuat rerumputan disekitar wajahnya bergerak, menggelitik. Jongin menghela nafas pelan kemudian mengarahkan tangannya keatas langit. Berusaha menggapai langit biru.

 

 

“Hyung.. baru segini saja, aku sudah merindukanmu.”

 

 

Seketika wajah Luhan kembali menguasai pikirannya, ia turunkan tangannya dan melipat diatas dada. Jongin menutup mata pelan, sepertinya dia akan tidur disana hingga pulang sekolah nanti. Semoga saja ia bisa terridur, atau tidak ia pasti akan selalu memikirkan Luhan.

 

“Luhan-hyung— bogoshippo..“

 

 

 

 

Drap

 

Drap

 

Drap

 

 

Luhan berlari kencang menuruni tangga, ia masih dalam keadaan kusut. Bagaimana tidak, ternyata ia ketiduran hingga terkejut atau terbangun karena kerasnya bell pulang sekolah. Betapa kagetnya Luhan ketika melihat teman- teman sekelasnya sudah tidak ada lagi didalam kelas. Oh hebat! Sejak kapan Luhan berani membolos?

 

 

“Mwo!!! Aku melewatkan 3 mata pelajaran.” Luhan langsung merapikan alat tulisnya masuk kedalam tas dan menyandangnya. “Ayah! Ibu! Demi Tuhan, aku tidak bermaksud membolos.. oh tidak! ini sudah kedua kalinya aku membolos pelajaran!!”

 

 

Pemuda cantik itu nampak sangat menyesal, dia tidak pernah berniat melakukan pelanggaran seperti ini. Dengan langkah gotai, Luhan meninggalkan kelasnya. Mengembungkan pipi merahnya dengan menggemaskan ketika ia tahu bahwa hanya tinggal beberapa anak lagi yang berada disekolah. Langkah kaki Luhan yang pendek tidak sadar terhenti didepan sebuah kelas, kelas Jongin (lagi).

 

 

 

“Apa dia sudah pulang?” bisik Luhan pelan. Entah sadar atau tidak, kaki Luhan melangkah masuk kedalam kelas Jongin. Sudah kosong memang, namun ada satu hal yang membuat Luhan membulatkan matanya. Tas Jongin masih ada disana. Luhan mengerjapkan mata pelan kemudian melirik –ternyata Luhan sama sekali tidak melepasnya- minuman kaleng yang ia genggam. Sudah tidak hangat lagi malah.

 

 

 

“Jangan- jangan..”

 

 

Dimana lagi—kalau bukan disana!

 

 

 

 

 

Bruk

 

Luhan melempar tas sekolahnya dan tas sekolah Jongin melewati tembok pagar belakang sekolah. Setelah melipat lengan seragam sekolahnya, Luhan memberanikan diri untuk memanjat pagar tembok tersebut. Kemana lagi kalau bukan ketempat rahasia Jongin –dan dirinya- selama ini?

 

“Jika kakiku patah, kau akan kucincang Kim Jongin!” keluh Luhan.

 

Dengan susah payah, Luhan memanjat pagar tembok itu. Perlu waktu nyaris 15 menit untuk Luhan bisa mencapai atas. Hingga tubuhnya sudah duduk diatas tembok tersebut. Ia tersenyum bangga kemudian membalikkan badannya secara perlahan menuju keseberang pagar tembok. Ternyata mudah, sombong Luhan.

 

 

Akan tetapi—

 

 

“Mencariku?”

 

 

DEG

 

 

Ternyata Luhan melihat Jongin tepat berada dibawahnya, membuka dekapannya seakan ingin menangkap Luhan dari sana. Senyuman khas itu tidak pernah lepas dari bibir Jongin dan itu membuat Luhan—membuat Luhan—

 

 

“Melompatlah kearahku, hyung. Aku akan menangkapmu.”

 

 

DEG

 

 

Oh Tuhan!! Mengapa rasanya jantung mungil Luhan seakan ingin terlonjak keluar dari tubuhnya? Hanya dengan melihat wajah tampan Jongin? Hanya dengan melihat senyuman itu?  Mengapa Jongin begitu bersinar dengan dekapannya yang terbuka untuk menangkap Luhan? MENGAPA?!

 

 

“Tidak bisa! Aku bisa mati kehabisan nafas!!” Luhan menggeleng cepat sembari bergumam.

 

 

Masih dengan  matanya yang membulat, Luhan membalikkan tubuhnya kembali. Tidak jadi meloncat ketempat Jongin berada, malah melompat turun dan berlari kembali menuju gedung sekolah. Itu semua lantas membuat Jongin ingin tertawa. Ya Tuhan, mengapa Luhan selucu itu?

 

 

“YA! Hyung!! Tidak jadi kesini?”

 

 

Tidak ada jawaban dari Luhan, Jongin tahu.. Luhan sudah kabur?

 

 

Jongin melirik tas sekolahnya yang ada dirermputan, Luhan ingin mengantarkan tas ini, kah? Senyuman kembali terlihat diwajah tampan Jongin. Matanya kemudian melirik tas ransel Luhan yang tergeletak disamping tasnya. Jongin menyandang kedua tas itu pada kedua lengannya. Ia terkekeh sembari memanjat pagar tembok yang cukup pendek untuknya.

 

 

“Luhan-hyung, tunggu aku~”

 

 

 

 

[Luhan POV]

 

 

INI GILAAA!!!

 

Ayah! Ibu!!! Bagaiman ini!?!

 

Aku harus cepat pergi dari tempat ini, demi Tuhan! Hanya melihat senyuman dan wajah jelek (maksudku tampan) Jongin dengan senyuman khas itu—JANTUNGKU TERASA AKAN MELEDAK!!!

 

Aku tidak akan berhenti berlari sampai aku keluar dari gedung sekolah! GYAAA!!! Kenapa aku jadi seperti ini? Panik tidak jelas dan ini semua karena Jongin! Karena Jongin! Aku memang tidak bisa bertemu dengannya. Tidak bisa—

 

JONGIN MENGERIKAN!!!

 

 

 

 

Normal POV

 

 

Kaki kecil Luhan ternyata berlari cukup cepat. Baru saja ia keluar dari gerbang sekolah, tanpa menyadari bahwa tas sekolahnya tidak terbawa. Pikiran Luhan pasti amat kalut, apalagi jantungnya yang tidak karuan hanya karena melihat wajah Jongin yang tersenyum. Biarkan Luhan membuang perasaan ‘rindu’ ketika ia melihat senyuman Jongin?! Aahh! Sejak kapan ia merindukan Jongin? Luhan menggeleng cepat. Ia masih berlari kencang sekali, tidak menyadari pemuda tampan yang bernama Jongin tengah mengikuti. Jongin ikut berlari akan tetapi tidak sekencang Luhan. Kalian tahu? Bahkan Jongin masih terkekeh hingga kini.

 

 

Dan Luhan—

 

 

.

.

.

 

 

—Benar- benar berhenti ketika ia sampai didepan rumahnya.

 

 

Bruak

 

Pemuda cantik itu dengan nafas amat pendek terduduk didepan pagar rumahnya, wajah Luhan merah sekali. Keringat jatuh dari tubuh Luhan seperti hujan dan desahan nafas terdengar menderu. Luhan sangat penat, kakinya seperti akan putus karena ia berlari tak henti dari sekolahnya.

 

“Haaahhh!! Haaaa!!! Haaa!!” Luhan mengusap keringat dengan punggung tangannya. “Dia—haaaa! Tidak mungkin—mengikutiku—haaaaaa.. hingga kemar—ri.”

 

 

Setelah ia yakin nafasnya mulai teratur, Luhan memegangi pagar besi rumahnya dan mencoba berdiri dengan susah payah. Kakinya terasa berat, seperti ada berton- ton batu yang menghimpit. Dengan sekuat tenaga ia—

 

Oh, dia sudah berdiri—

 

 

Bukan!

 

 

Tubuh Luhan terangkat?

 

 

“EH?!”

 

 

Sedetik kemudian, Luhan mengalihkan pandangan matanya kearah belakang dan—mata Luhan membulat ketika melihat pemuda tampan yang tengah tersenyum miring kearahnya. Luhan langsung mengalihkan kembali wajahnya kearah depan dan menepuk keningnya beberapa kali sembari bergumam. Baiklah, setidaknya biarkan Luhan mengutuk dirinya terlebih dahulu karena tidak kuat langsung masuk kedalam rumah.

 

 

“KYAAAAAAAAAAAA!!!” teriak Luhan sembari mengayunkan kakinya yang melayang. Mungilnya tubuh Luhan. “Turunkan aku!!! Jongin paboyaa!! PABO!”

 

 

“Nde~” Jongin hanya bisa tertawa pelan sembari menurunkan tubuh Luhan dengan perlahan, hingga kaki Luhan kembali menapak pada aspal jalanan didepan rumahnya. Suasana sore memang paling romantis. Namun bukan hal itu yang tengan Luhan pikirkan. Ia hanya tidak tahu harus bersikap apa untuk menghadapi Jongin.

 

“Hyung~”

 

Panggilan Jongin malah memperburuk keadaan, Luhan membalikkan tubuhnya dengan menunduk kearah Jongin. Jangan salahkan dirinya yang bahkan tidak berani menatap mata memikat pemuda tampan tersebut. Salahkan pikiran Luhan yang entah mengapa mulai—menginginkan Jongin?

 

 

Tidak! Tidak! jangan membuat Luhan tambah bingung!?

 

 

“Tasmu, hyung. Aku mengikutimu karena tasmu—tertinggal.”

 

Luhan berfikir sejenak dan melirik tasnya yang diarahkan oleh Jongin. Ah! Mengapa ia bisa lupa? Dengan kasar Luhan merampas tasnya dari tangan Jongin tanpa melihat pemuda itu pastinya. “Terima kasih.”

 

“Sama- sama.” Jawab Jongin tersenyum, akan tetapi sayang Luhan tidak mau melihat wajah Jongin. Sedetikpun tidak!

 

Dengan langkah pasti, Luhan berbalik badan lalu membuka pintu pagarnya. Ia bermaksud meninggalkan Jongin begitu saja. Ia berjalan masuk dan—tunggu! Ada keanehan! Mengapa ia mendengar adanya langkah kaki tepat dibelakang?

 

Ah!

 

Luhan memutar bola mata ketika menyadari langkah kaki tepat dibelakangnya itu adalah- siapa lagi- Jongin. Kini Luhan sudah berada didepan pintu rumahnya, dan tepat saat langkah kaki Luhan terhenti. Jongin juga berhenti melangkah.

 

 

“Ada apa lagi, Jongin?”

 

“-Karena Jongin sudah berada dirumahku, bagaimana kalau Jongin masuk dan menikmati secangkir teh hangat bersamaku.-“ ujar Jongin menirukan suara Luhan dengan cukup menggelikan. “Bukankah seharusnya hal itu yang kau katakan, Luhan-hyung?”

 

Entah sudah berapa kali Luhan memutar bola matanya hari ini, ia membalikkan badan (lagi) dan –mencoba- menatap wajah tampan Jongin yang terlihat cerah. Aagh! Sejak kapan Jongin begitu memukau dimata Luhan? Berpura- pura tegas dan tidak peduli, Luhan melipat tangannya didada seraya menatap Jongin tajam.

 

 

“Memangnya kau bisa diusir pulang hanya dengan secangkir teh?”

 

 

Jongin menyeringai. “Hmm~”

 

Ia maju selangkah, membuat Luhan mengerjapkan mata dan berjalan mundur, menghindar. Tidak bisa lagi—punggung Luhan sudah membentur pintu rumahnya. Dengan kata lain, tubuh Luhan terkurung oleh Jongin. Luhan akan mendorong tubuh Jongin agar menjauh darinya, akan tetapi, pemuda tampan itu jauh lebih cepat. Ia genggam kedua pergelangan Luhan dengan kedua tangannya kemudian mengapitnya sejajar dengan pundak Luhan. Pemuda cantik itu benar- benar terkunci.

 

“Lepaskan aku!” Luhan menarik tangannya yang dikunci oleh Jongin. Namun apa daya? Kekuatan Jongin jauh lebih kuat dari pemuda cantik itu.

 

“Tidak mau!” Jongin berbisik tepat didepan wajah Luhan. Membuat pemuda cantik itu terdiam dengan mata yang melebar. Bagaimana tidak? Wajah tampan Jongin hanya satu centi dari wajahnya. Mata mereka terikat cukup dalam, tidak saling mengedip. Memandang satu sama lain.

 

 

“Wajahmu merah, hyung.” Kembali, Jongin berbisik.

 

“Diam—bodoh!”

 

Luhan mengalihkan pandangan matanya kearah lain, akan tetapi itu hanya membuat celah untuk Jongin. Perlahan, Jongin menggerakkan kepalanya untuk mencari potongan leher Luhan. Dan Jongin merasa terganggu saat melihat syal mungil itu mengalung dileher si cantik, dengan senyuman nakal Jongin menggigit syal tersebut dan menariknya hingga terlepas. Otomatis membuat Luhan terkejut bukan main. Jika syal itu dilepas—

 

 

Oh, tidak!

 

 

Benar saja!

 

 

DEG

 

 

Jongin membulatkan matanya ketika melihat dengan jelas tanda kemerahan yang menghiasi leher putih Luhan. Tidak percaya, Jongin memandangi Luhan yang masih saja membuang muka kearah samping. Seingatnya, sewaktu dihotel –dan Jongin yakin sekali akan hal itu- ia tidak pernah menyentuh Luhan. Akan tetapi… tanda kemerahan yang terlihat dileher Luhan sudah bisa dipastikan—

 

 

“Lepaskan aku.” Bisik Luhan lirih.

 

 

Jongin reflek melepas tangannya dari tangan Luhan, bahkan pemuda itu mundur satu langkah menjauhi Luhan yang masih saja tak berani menatap wajah Jongin. Baiklah, wajar Luhan bersikap seperti itu, bukan?

 

 

“Hyung—mengapa dilehermu..”

 

 

“Bukan urusanmu!” sergah Luhan dengan sangat nada suara yang amat dingin.

 

 

“Tapi—“

 

 

 

“Hyung? Kau sudah pulang?”

 

 

DEG

 

 

Luhan dan Jongin langsung mengedarkan pandangan matanya kearah pagar, dan mereka melihat sosok pemuda manis dengan mata bulatnya yang amat memikat, dengan seorang pemuda tampan bak pangeran berdiri tepat dibelakang si manis. Luhan menelan kasar liurnya ketika melihat pemuda tampan tersebut, matanya sempat tertaut sesaat. Segera Luhan mendorong tubuh Jongin.

 

 

“Oh, tidak! Pulanglah, Jong—“

 

 

Ucapan Luhan terhenti ketika melihat ekspresi wajah Jongin yang terlihat amat terkejut dan kaku. Mata Jongin membulat sempurna ketika sosok manis itu membuka pagar rumahnya, namun sosok manis itu kini ikut terdiam ketika pandangan matanya terfokus pada Jongin—

 

Mereka berdua tercekat ditempat dengan mata yang saling membidik satu sama lain. Menatap tidak percaya bahkan sama sekali tidak percaya pada sosok yang mereka perhatikan masing- masing.

 

 

“K…Kkamjong..?”

 

 

“…Kyung…Soo..”

 

 

“Eh?” Luhan memandang Jongin dan Kyungsoo secara bergantian. Bisa dirasakan keanehan yang amat pekat dirasakan Luhan. Menyadari ada sesuatu— ada sesuatu yang Luhan tidak bisa sentuh.

 

Antara—

 

 

 

Jika semuanya kembali seperti yang dulu

Sementara mereka tengah bergenggaman

Apa yang harus kau lakukan?

Hancur?

 

 

 

Continue

 

158 thoughts on “TRUST Chapter 4

  1. Demi apa thor… ini ff bagus bangeettttt… sukaaaaa banget sama ff ini TT HUAAAA Luhan jadi korban… feelnya disini dapet banget thooorrr… maaf karna baru komen di ff ini thor… intinya aku bener2 suka sama ff2 author… thor plis dilanjut TT jangan buat daku mati penasaran…

  2. woww,, sumpah fell ny dapet bgt.. dan haii hyobin,, salam kenal yahh,, maaf komenny dsini,, tp knp gantung yahhh,, lanjut donk.. ihhh penasaran bgt dehhh,, nasibny luhan bakal gmn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s