“Le Portrait de Petit T.A.O” Part 2

Published: 28/12/2012 

Updated: 02/05/2013 

Jjang yo jjang! Annyeong~

Aku post malem karena ini Ff HORROR. #plak

Maaf yah, update dari Chap 1 ke Chap 2 ampe makan waktu berbulan- bulan, lima bulanan ya TAT. Thanks for reader support on twitter, facebook runrunka, and BBm. That’s really help me :”) Thank you.

Still on Tao Birthday, right? Maybe this FF special for Tao, OMG what can I say >//< #HappyZiTaoDay

 

ENJOY~

 

 line

“Le Portrait de Petit T.A.O”

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

 LPTPT

Genre: Fantasy, Horror, Romance, Psychology, Blood, Magic, Murder, Goth

Main Pair : TAORIS / KRISTAO / FANTAO

Cast : Wufan – Huang Zitao – Lu Han –Suho – Byun Baekhyun

 

BOYS LOVE / YAOI

 

Inspirated by “ Le Portrait de Petit Cossette”

Story : Cossette House / ANIPLEX

Art : ASUKA Katsura

 

 

Warning : Cerita ini hanya fiksi dan semua yang saya tulis berdasarkan kisah komik itu sendiri. Tidak melibatkan ajaran agama ataupun komisi tertentu.

 

THIS IS FICTION!

FICTION!

NOT REAL AT ALL!!!

 

DONT LIKE DONT READ!!!

 

PLAGIAT? NEVER TOUCH MY FF THEN GO TO HELL IF YOU WANNA COPY MY FF! *Seriously, I HATE U SO MUCH!

 

 

 

FOR ALL TAORIS SHIPPER and WHO LOVES TAORIS

 

 

 

אּאּאּ

 

 

Aku adalah manusia Universitas seni biasa. Sepulang dari kegiatan perkuliahanku, aku kerja paruh waktu di sebuah toko yang menjual barang antik. Melewati hari- hari normal yang damai sembari mengeluhkannya.

 

Yah.. aku dahulunya adalah mahasiswa seni yang seperti itu…

 

..Benar.

 

 

Sampai akhirnya khayalan itu muncul didepanku.

 

 

 

אּאּאּ

 

Saat inipun mereka selalu mencariku

Marah demi diriku

Mengeluh demi diriku

Menjadi gila demi diriku

 

Mereka adalah peninggalanku

 

Amukan setia pada diriku

Menanti pertemuanku dengan mereka

 

 

אּאּאּ

 

 

“Le Portrait de Petit T.A.O”

 

 

Part 2

 

 

 

-Hari ini disebuah stasiun kereta api Seoul terjadi bunuh diri— kejadian bunuh diri ini bukan yang pertama— Me—ngingat diperon itu sudah terjadi lebih dari— 5 kali kejadian bunuh diri dalam 2 minggu terakhir—

 

 

“Ah! Radio ini memang barang kuno! Suara beritanya terputus- putus.” keluh Suho saat memeriksa radio kuno yang baru saja datang. Radio dengan bentuk unik, salah satu pesanan pelanggannya dari Swedish.

 

Wufan hanya diam saja tanpa menanggapi perkataan sang pemilik toko antik itu. Ia sibuk memidahkan barang- barang dari gudang. Ekspresinya tetap dingin dan itu sedikit menakutkan karena dari hari kehari sosok Wufan semakin saja nampak tidak bersahabat. Bukan hanya itu, sorot mata Wufan bahkan sering kali terlihat kosong.

 

Jujur saja Suho menyadarinya,  salah satu pegawainya jadi sedikit aneh. Bukannya menduga- duga hal buruk terjadi pada Wufan. Namun tetap saja, Wufan semakin hari nampak semakin pendiam dan benar- benar berbeda dari Wufan yang dulu. Walau dahulunya sosok Wufan tidak terlalu ramah, namun pemuda itu tidak seperti sekarang. Berangsur.. sinar disosoknya… hilang.

 

 

 

“Kau sering melamun sekarang.. ada keluhan?” tanya Suho saat Wufan memberikan catatan barang yang baru saja dipindahkan dari gudang ketoko.

 

“Aku? Tidak.. hanya sedang banyak pikiran, bos Suho.” Jawab Wufan acuh, tanpa senyuman.

 

“Luhan izin karena ada acara dikampusnya. Jadi kau pasti lelah sekali bekerja sendiri. Kau sudah bisa istirahat.”

 

Wufan mengangguk. “Terima kasih, bos Suho.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

“Haahh..” desah Wufan pelan.

 

Wufan mendudukkan tubuhnya dibangku biasa tempat ia mengistirahatkan tubuhnya. Ia tatap sekeliling gudang yang lumayan luas dan sesak akan barang- barang dagangan, kemudian tatapan matanya kembali teralih pada.. lukisan potret diri Tao yang masih tergantung disana.

 

DEG

 

Ia mengingat lagi.. kejadian kemarin.. dimana ia mengatakan bersedia membantu Tao untuk mengumpulkan  peralatan.. ya setidaknya Tao menyebutnya seperti itu. ..Peralatan yang menyaksikan kematiannya dan terlumuri oleh darahnya. Ini memang tidak masuk akal, tetapi keberadaan Tao yang jelas untuknya jauh lebih tidak masuk akal. Apakah ia mengalami penyakit pada mentalnya? Entahlah.

 

Satu hal yang Wufan mengerti dari semua tanda tanya besar itu… Tao bukan manusia! Dia.. dia makhluk halus atau.. apa sebutannya? Hantu? Ghost? Evil? Setan? Devil? Entahlah.. apapun sebutan untuk mahkluk seperti Tao, Wufan tidak peduli.

 

Yang ia pikirkan hanya sosok menawan serba hitam yang dilingkupi kesedihan. Mata hitam yang terlihat selalu habis menangis, bibir mungil dengan lengkungan unik yang merekah bagaikan darah, tubuh tinggi yang dibalut dengan pakaian hitam ketat yang mengekspos lekuk tubuhnya dengan jelas.. serta suara lembut itu. Suaranya lembut, bening dan jernih.. seperti bukan suara yang berasal dari bumi. Samar.. tetapi amat menghanyutkan.

 

Suara menakjubkan itu…

 

…Sama sekali tidak bisa Wufan lupakan walau hanya sedetik.

 

 

 

“Wufan.”

 

 

DEG

 

 

Wufan terlonjak dari duduknya, ia terkejut sekali melihat—Tao, tiba- tiba tegak dihadapannya. Menatap lurus namja tampan yang nyaris terjatuh dari kursi duduk, Tao tanpa ekspresi seperti biasa. Tidak menanggapi tingkah …err.. mungkin konyol Wufan yang nyaris terjatuh dari kursi. Yah, apakah setan tidak memiliki selera humor? Itu tidak penting!

 

 

“T—ao..” desis Wufan pelan dan berdiri tegak. Wufan terlihat pucat, belum terbiasa dengan penampakan yang selalu tiba- tiba dilakukan Tao. Sebisa mungkin ia mengatur nafasnya agar tidak terdengar memburu karena jantungnya berdegup dengan kencang. Hey, jangan tertawakan dia. Wufan sudah cukup berani menghadapi makhluk yang bukan manusia seperti Tao, bukan? Itu cukup hebat! 

 

 

Tao yang –selalu- sama sekali tidak menanggapi kelakuan Wufan yang kini mulai tersenyum kaku kearahnya. “Lagi- lagi terjadi sesuatu yang tidak baik..”

 

 

“Eh?” Wufan mengerutkan keningnya. Tao memang tidak kenal basa basi. Dia langsung berkata kepokok permasalah tanpa memperdulikan kebingungan yang masih saja membelenggu Wufan. Anak itu penuh misteri.

 

 

“…’Peralatan’ milikku… membimbing manusia menuju bencana. Mereka harus segera dikembalikan pada diriku.. Kalau tidak, akan terjadi sesuatu yang lebih gawat lagi.”

 

 

Wufan mengangguk pelan, berusaha mengerti kemudian menggaruk tengkuknya. Tao mengamati wajah Wufan yang kebingungan. Tao tahu betul pemuda tampan bertubuh tinggi itu pasti masih sangat bingung dengan semuanya.

 

 

Namun.. Wufan harus tahu satu hal…

 

 

“Berhati- hatilah, Wufan. Kau yang paling dalam bahaya.”

 

 

“Hah?” Wufan mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Apa? Kenapa aku yang paling dalam bahaya?”

 

 

 “Mereka.. ‘Peralatan’ itu…  mendendam padamu.” Jawab Tao tetap dengan suara lembut yang dingin. Bahkan saat mengatakan pernyataan mengerikan itu, wajah Tao tetap saja dingin dan kaku. Tanpa kasih sayang. Tanpa peduli bahwa hal itu akan menambah misteri yang membelenggu Wufan dalam kesesakkan atas kepastian apakah ia hanya bermimpi atau tidak.

 

“Dendam? Aku tidak .. aku tidak mengerti.”

 

Tao menunduk sesaat dan matanya kembali menatap mata Wufan yang tertekuk kebingungan. Tidak ada yang salah.. karena Wufan manusia. Pikirannya sebatas ingatan dalam tubuhnya sekarang.. bukan masa lalunya jauh beratus- ratus tahun silam.

 

 

“Jika saatnya tiba.. kau akan mengerti dengan sendirinya.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

Pemuda tinggi itu berjalan pulang dari toko barang antik Suho. Pukul 4 sore, adalah jam pulang Wufan atau lebih tepatnya memang  toko yang menjual barang antik itu sudah tutup. Entah karena efek apa, Wufan mudah merasa lelah kini. Apa mungkin karena berbagai kejadian aneh yang ia alami kini?

 

Ia melangkah kakinya, mengamati sekeliling dengan tidak fokus. Karena didalam pikirannya, kembali memutar pembicaraannya dengan Tao saat waktu istirahat kerjanya tadi.

 

 

“Mereka.. ‘Peralatan’ itu…  mendendam padamu.”­­-

 

 

“Dendam? Mengapa?” bisik Kris pelan sekali.

 

 

Setelah Tao mengatakan bahwa suatu saat Wufan akan mengerti, sosok namja manis itu langsung menghilang begitu saja. Meninggalkan Kris dalam misteri baru tentang… alasan Tao meminta pertolongannya untuk mengumpulkan peralatan yang Tao maksud. Alasan sebenarnya mengapa Tao masuk kedalam hidupnya dan mengacaukan semua yang Wufan anggap masuk akal.

 

 

-“Aku ingin kau menolongku.. dari keabadian ini.”-

 

 

Wufan kembali teringat perkataan Tao. Benar.. Keabadian yang dimaksud oleh Tao itu seperti apa? Mengapa ia minta dilepaskan dari kebadian yang ia bilang melingkupinya?

 

Memangnya apa yang bisa Wufan lakukan?

 

Apa Tao masih terusik dan tidak bisa tenang karena peralatannya masih mendendam? Namun.. Hey! ‘Peralatan’ yang disebut Tao semuanya adalah benda mati, bukan?

 

 

 

Apakah benda mati juga memiliki sebuah ingatan?

 

 

Tap

 

 

“He?” 

 

Wufan baru menyadari kini ia berada—diperon sebuah stasiun. Ia tatap sekelilingnya, manusia yang berlalu lalang di peron statiun itu. Ia bahkan sudah berdiri tepat didepan sebuah real kereta, bersamaan dengan orang- orang lain yang sedang menunggu kereta. Walau tidak banyak.

 

Tapi— Bagaimana bisa ia sudah berada disini? Apakah kakinya tanpa sadar membawanya ke statiun? Ia bukanlah pengguna jasa kereta karena apartemen kecilnya terletak dekat dengan toko barang antik milik Suho. Dan ini terletak jauh dari arah apartemen Wufan.

 

 

Lalu.. mengapa ia bisa berada disana?

 

 

TEEKK

 

 

SIINGGG

 

 

Wufan melihat dibagian kakinya tiba- tiba tersinari sebuah cahaya berwarna putih. Tidak asing karena sinar itu tidak mencurigakan sama sekali. Hanya pantulan cahaya matahari.. namun mengapa Wufan begitu terkejut?

 

“Pan..Pantulan sinar matahari?” bisik Wufan pelan kemudian melihat arah pantulan cahaya tersebut darimana berasal. Ia ikuti arah lurus pantulan cahaya itu berasal dengan perlahan hingga mengarahkan wajah tampan Wufan pada….

 

…Sebuah apartemen tinggi yang tepat berada diseberang statiun, jaraknya cukup jauh. Karena hanya dari lantai 15 keatas yang bisa dilihat dari sana.

 

Dan.. Wufan dengan samar melihat sebuah cermin berbingkai unik disalah satu jendela apartemen bertingkat 25 itu. Sebuah cermin yang menghadap keluar jendela dan pantulan sinar matahari yang turun terpantul melalui cermin itu hingga ketempat Wufan berdiri.

 

Heran memang, mengapa pantulan sinar dari cermin sangat jauh tersebut bisa memantul hingga ketempat ia berdiri?

 

Namun..

 

“Agh!!” tiba- tiba kaki panjang Wufan seperti tertarik kedekat rel kereta listrik itu. Wufan merasakan kakinya berjalan sendiri, seakan ditarik paksa oleh sesuatu, kakinya tertarik tepat sejajar dengan arah datang cahaya. Anehnya, mengapa orang- orang lain malah seperti tidak melihatnya?

 

“Shit!!” umpat Wufan terus berusaha mengendalikan kakinya yang seakan tidak mendengarkan perintah tubuhnya. Ia semakin mendekati rel dan..

 

Oh Tuhan!!

 

 Sebuah kereta baru saja tiba. Tetapi kaki Wufan terus berjalan menuju rel itu. Harus cepat dihentikan!! Jika Wufan tidak berhenti mendekati rel tersebut. Ia akan hancur karena kereta tersebut semakin dekat dengan peron. Tolong dirinya, Tuhan!!!

 

Selangkah lagi, Wufan akan terjatuh keatas rel dan..

 

“A—agh!! Sial!!” Keringat dingin sudah mengucur dikulit Wufan. Apa dia akan jatuh keatas lintasan kereta itu? Apakah dia akan mati? Shit! Wufan terus berusaha..

 

 

“Tolong aku!!”

 

 

GREP

 

.

.

.

.

 

Seseorang memegang lengannya.

 

Wufan membuka mata yang entah sejak kapan menutup. Seperti pasrah atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan beruntung kereta yang baru saja lewat itu tidak menghantam tubuh Wufan karena pemuda itu terhenti ditempat yang tepat. Bayangkan satu langkah lagi jika Wufan melangkah, tubuhnya akan hancur dihantam oleh kereta.

 

 

 

“Berhati- hatilah.. disini.. cahayanya menggenang.”

 

Suara Tao membuat Wufan tersentak. Dengan tubuhnya yang masih kaku dan keringat dingin yang menyeruak dari pori- pori kulitnya, Wufan mengarahkan wajahnya kesamping. Melihat Tao yang memegangi lengannya sangat erat.

 

Sekali lagi…

 

Wufan merasakan kulit Tao yang sedingin es.. namun genggaman itu lembut. Tao menarik lengan Wufan agar lebih menjauh dari tempat itu kemudian menunjuk cahaya yang menggenang disana akibat pantulan kaca cermin.. benar.

 

“Cahaya itu … terpantul dari kaca cermin milikku, Wufan. Cermin yang dahulunya terlumuri oleh darahku saat.. jantungku ditusuk oleh pedang panjang.”

 

DEG

 

Wufan merasa semakin lemas. Siapa yang tidak merasa lemas jika ada seseorang.. ah maksudnya sebuah jiwa atau roh yang dengan gamblang menceritakan perihal kematiannya. Dan jangan lupakan bahwa ia nyaris saja hancur oleh kereta listrik.

 

Tangan putih Tao kemudian lepas dari lengan Kris, membuat namja tampan itu sedikit kecewa. Namun setelah itu ia kembali mengingat sesuatu yang seharusnya ia ucapkan.

 

“Tao.. terima kasih telah menolongku.” Wufan tersenyum manis sekali walau wajahnya terlihat pucat sekali.

 

Mata hitam Tao membulat saat melihat senyuman tulus Wufan. Ia terdiam sejenak, lalu mata itu kembali sendu seperti biasa. “Benar, Wufan.. kau benar. Aku.. menolongmu.”

 

Kesedihan.

 

Sekali lagi Wufan melihat kesedihan dimata Tao. Kesedihan yang begitu pekat dan sangat menyesakkan. Wufan kini melihat namja manis itu menunduk dalam dan itu membuat Wufan jadi  sedih melihat namja manis itu tertunduk. Ya.. Wufan sedih. Padahal sejak ia dilahirkan, ia jarang sekali merasa sedih walau ia acap kali marah akan sesuatu.

 

“Tao.. kena—“

 

 

 

“WAAAA!!”

 

 

Teriakan itu kemudian mengejutkan Wufan dan Tao, sekejap Wufan menangkap seseorang ditarik paksa seperti yang terjadi pada dirinya tadi. Ternyata lelaki tersebut tidak sengaja meletakkan kakinya diarah genangan cahaya tersebut.

 

“Shit!”

 

Wufan tanpa menunggu langsung berlari kearah namja tersebut, membuat Tao mengerutkan keningnya saat melihat Wufan berlari kearah anak yang nyaris mendekati rel.  Wufan lalu menarik tubuh namja itu cepat sebelum sempat jatuh keatas rel. Sebuah kereta kembali melewati mereka dengan sangat kencang, membuat angin disekitar itu ribut sesaat.

 

 

“Kau …baik- baik saja?” tanya Wufan pada namja yang masih memakai seragam sekolah itu, nafas Wufan naik turun. 

 

“Te.. terima kasih… haa.. Kau benar- benar menolongku.” Anak itu menunduk sopan sembari mengatur nafasnya yang parah. Wajahnya pucat, tentu saja! Dia nyaris saja hancur ditabrak kereta.

 

“Lain kali berhati- hatilah.” Wufan melepas genggaman tangannya dari lengan anak itu. Setelah menunduk dalam anak itu pergi meninggalkan Wufan dengan wajah kebingungan. Ya dia pasti bingung. 

 

Mata tajam Wufan kini teralih pada cahaya yang mulai menghilang. Karena matahari sudah semakin turun, pantulan sinar itu semakin sedikit.. menghilang kemudian lenyap.

 

“Siapapun yang terkena cahaya tersebut… mereka akan berujung pada bencana. Wufan, dugaan bunuh diri pada setiap kasus yang terjadi di peron ini.. adalah ulah peralatanku.”

 

Wufan perlahan mengangguk dan menunjukkan bangunan tepat berada disebelah wilayah statiun. Walau terletak lumayan jauh dari tempat mereka berdiri, nyaris 600 meter. Namun  Wufan tahu.. pantulan cahaya itu berasal dari sana.

 

“Disana.” Tunjuk Wufan. “Aku melihat pantulan itu dari sana.”

 

Tao tetap diam memperhatikan wajah tampan Wufan. Membuat Wufan menyadari bahwa dari tadi ternyata Tao memandangi wajahnya dengan taat. Wajahnya sedikit memerah, Wufan tersenyum tipis.

 

“Kenapa?” Wufan mengangguk tengkuknya.

 

“Kau mengenal manusia tadi? Manusia yang kau tolong?” tanya Tao pelan sekali.

 

“Ti—Tidak.”

 

Tao menyerngit. “Lalu… kenapa kau menolongnya?”

 

Wufan mengangkat bahunya. “Karena manusia harus saling tolong menolong. Memangnya ada yang salah?”

 

Tao menunduk. “Aku.. hanya tidak paham dengan hal seperti itu.”

 

“Eh?”

 

Tao menggeleng, kemudian ia kembali mendongakkan wajahnya menatap Wufan dalam. Terus saja berjuta misteri tergambar dalam ekspresi wajah Tao yang dingin dan cantik itu. Membuat Wufan sulit membaca maksud yang sebenarnya dari ekspresi wajah Tao. Sulit sekali.

 

 

Sebenarnya apa yang Tao pikirkan?

 

 

“Ayo! Kita harus mengambil kembali cermin itu.” Tao membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Wufan. Namja tampan itu kemudian hanya kembali mendesah pelan dan berjalan mengikuti Tao dari belakang. Mereka keluar dari statiun itu.

 

 

 

“Hey! Tadi lelaki itu bicara sendiri, kan?” Ungkap seorang ibu yang ada disana sembari menenteng barang belanjaannya kepada salah satu temannya. Mereka memandangi punggung Wufan yang menghilang dibalik pondasi peron.

 

“Iya, tidak kusangka lelaki setampan itu gila. Pakaiannya seperti mahasiswa.”

 

“Aigoo~ anak muda jaman sekarang.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

I know you still there

Watching me

 

 

אּאּאּ

 

 

Kaki panjang Wufan menaiki tangga apartemen sederhana itu. Menurut pengamatannya, jendela yang terbuka itu terletak pada apartemen dilantai 17. Tidak ada lift diapartemen sederhana itu. Menyusahkan memang. Wufan sudah mengeluh dari tadi, berbeda dengan Tao yang diam sembari terus melangkah.

 

Wufan sempat berfikir, mengapa Tao tidak menggunakan kekuatannya yang bisa muncul diberbagai tempat dengan tiba- tiba. Wufan rasa Tao bisa dengan mudah berada diapartemen itu tanpa menaiki tangga seperti ini.

 

Tap

 

Langkah mereka terhenti dilantai 17 gedung itu. Wufan mengatur nafasnya yang terdengar berantakan, kakinya benar- benar penat sekali.

 

“Astaga! Ada yang menyewa apartemen seperti ini?! Sungguh membingungkan!” keluh Wufan.

 

“Dari lantai 3 ada lift, Wufan. Kau saja yang tidak menggunakan.” Ujar Tao dengan suara polos.

 

“Apa! Lantas mengapa kau tidak mengatakannya padaku?” Wufan terkejut mendengar ucapan santai Tao. Ya Tuhan bisa saja anak ini menyiksanya dengan perkataan konyol yang benar- benar terlambat diucapkan.

 

Tao menggidikkan bahunya dan dengan tatapan tak bersalah memandang Wufan. “Kau tidak bertanya.”

 

Dengan acuh Tao berjalan meninggalkan Wufan yang sudah sedikit geram dengan sikap Tao yang dingin dan acuh tak acuh. Tetapi rasa kesal itu langsung memudar saat ia melihat Tao yang kembali berjalan kearahnya dan mengarahkan tangan putihnya pada Wufan.

 

“Apa?” tanya Wufan bingung menatap Tao.

 

“Aku bantu kau berjalan.”

 

Wufan mengerjapkan matanya melihat mata dingin Tao yang hitam kelam. Namun Wufan tahu.. ah apa anak ini merasa bersalah? Lucunya…

 

Grep

 

Wufan tersenyum dan menyambut uluran tangan Tao. Membuat sang pemuda cantik itu sedikit terkejut karena Wufan begitu erat menggenggam tangannya. Kedua pemuda itu diam sesaat, saling memandangi benik mata satu sama lain. Seakan menyelami tatapan lekat yang menghubungkan dunia mereka. Dunia yang berbeda—

 

Tao mengarahkan pandangan matanya ketempat lain. Membuat Wufan perlahan memegangi dagu runcing pemuda misterius itu dan kembali mengarahkan tatapannya tepat searah wajah tampan Wufan.

 

 

“Kenapa kau memilihku, Tao?”

 

 

Mata Tao membulat. Mungkin ia tidak menyangka Wufan akan bertanya hal semacam itu padanya secepat ini. Wufan menuntut jawaban dari namja cantik itu. Berharap mendapatkan jawaban dari tanda tanya besar yang selama ini membelenggunya. Dan tetap saja Tao bungkam seribu bahasa.

 

“Tao? Apakah dahulu… mungkin dikehidupan sebelumnya.. kita saling mengenal?”

 

Kali ini Tao terlihat gelagapan dan tidak tenang. Alis mata Tao tertaut bingung, ia tatap tangannya yang masih bergenggaman dengan tangan Wufan. “Jangan membahas hal itu sekarang.” Jawab Tao cepat.

 

“Aku berhak tahu karena aku bingung sekali. Semua yang terjadi padaku setelah kita bertemu bukanlah hal normal yang bisa kucerna dengan akal sehat, Tao.”

 

Tao menggeleng cepat. “Kumohon.. jangan desak aku. Bersabarlah.”

 

Mata basah itu kembali dilihat Wufan. Tao tidak menangis, namun matanya basah. Terlihat amat sedih dan menderita. Tidak pernah Wufan lihat seseorang memiliki mata sesendu itu. Seakan sorot mata itu melambangkan penderitaan yang selama ini ia alami. Seperti menahan sesuatu agar tetap terjaga dan tidak meledak.

 

Sedikit gamang, Wufan mengangguk dan tersenyum tipis. “Ma—Maafkan aku.. baik! Aku akan mengikuti semua ucapanmu walau aku bingung…. jangan bersedih seperti itu. Tersenyumlah.”

 

“Eh?”  kali ini Tao tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Wufan.

 

Wufan hanya tersenyum dan mengangguk mantap. “Aku ingin melihat senyuman manismu. Aku… aku hanya.. ah! Maaf.. aku aneh sekali.”

 

Tao mengerjapkan mata. “Kau menolongku.. apa karena ingin melihat senyum—ku?”

 

Kini kedua tangan Wufan menggengam tangan Tao. Menautkan mata mereka yang memancarkan sinar yang berbeda. “Ya ! Karena aku pikir… kau akan tersenyum bahagia walau sekilas saja.”

 

“Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menolongku hanya karena itu?”

 

 

“Kurasa tidak hanya itu… Mungkin memang aneh atau aku terlampau picik.. tapi aku ingin berada didekatmu. Kau seperti sosok yang selama ini kucari.. dan akhirnya aku menemukanmu… aku menemukanmu, Tao… karena itu aku ingin menolong dan menjagamu.”

 

Wufan serius sekali mengatakannya, membuat Tao kembali memasang ekspresi wajah terkejut. Pemuda cantik dari garis kegelapan itu kembali terlihat seperti ingin menangis. Mengapa.. Mengapa ia begitu terlihat lemah dan rapuh kini?

 

 

“Kau salah.” Tao menggeleng cepat.

 

 

Ekspresi sedih tidak hilang menghiasi wajah cantik Tao. Membuat Wufan bingung sekali dibuatnya. Mengapa kesedihan itu harus melingkupi Tao? Bukankah ia sudah mengatakan hal manis… semata- mata agar Tao tahu bahwa ia memang tulus ingin membantu dan semua itu agar Tao bisa tersenyum.

 

 

Agar Tao bahagia—

 

 

Omong kosong.

 

 

“Apa yang salah?”

 

 

Tao mengarahkan tatapan matanya kearah lain dan ia lepaskan tangannya dari genggaman tangan Wufan. Sepertinya pemuda misterius itu tidak sudi dikekang saat ini. Sedetik kemudian Tao menghilang dengan tiba- tiba. Sosok Tao sudah tidak ada lagi dihadapannya.

 

Kosong.

 

Sontak Wufan mendesah keras dan mengacak- acak rambutnya sendiri. “TAO! Aissh! Mengapa dia suka sekali menghilang dan muncul secara tiba- tiba!!” keluh Wufan.

 

 

אּאּאּ

 

 

Aku mendengarnya

Teriakan monster memanggil namaku

Kemudian dia mengisahkan sesuatu—

 

 

 

 

Akhirnya Wufan melanjutkan langkah kakinya. Menatap lorong dengan berbagai pintu dengan nomor berurutan. Dengan taat Wufan memandangi satu persatu pintu apartemen itu, berharap ia mengetahui dimana pastinya apartemen yang menyimpan cermin unik milik Tao.

 

 

DEG

 

 

Tiba- tiba Wufan menghentikan langkahnya di salah satu pintu apartemen yang terletak tidak terlampau pojok. Ia tatap pintu apartemen itu dengan lekat. Jantungnya berdetak tak karuan. Seakan sesuatu menariknya untuk masuk kedalam apartemen itu. Ajaib, apakah ia bisa merasakan ‘peralatan’ Tao?

 

Tangan Wufan yang sedikit gemetar sudah mengarah pada kenop pintu apartemen ini. Memutarnya perlahan dan..

 

…pintu itu terbuka lebar.

 

 

Klek—

 

 

DEG

 

 

“Hah?”

 

Wufan terkesiap karena tiba- tiba ia tidak berada diapartemen itu lagi.. melainkan disebuah rumah.. ah mungkin istana. Bergayakan arsitektur Eropa pada abad 17-an. Ia berada disebuah kamar yang amat megah dan luas. Seperti kamar putri raja atau sejenisnya. Yang pasti semua perkakas kamar itu nampak megah dan unik. Dan—Kuno.

 

 

“Kelopak bunga?” bisik Wufan melihat lantai marmer sekelilingnya penuh dengan kelopak bunga mawar berwarna merah darah. Ia memacu langkahnya pada sebuah pintu yang sedikit terbuka didalam kamar itu. Pintu yang sepertinya menghubungkan ruangan terpisah dari kamar tersebut. Apakah ia bisa menemukan Tao disana? Mengapa tempat itu begitu familiar bagi Wufan?

 

 

Seakan dia pernah datang kesana—

 

 

Klek—

 

 

Wufan membuka pintu itu lebih lebar dan…

 

 

CRAASSS

 

 

Darah terpecik dari jantung yang sobek, mengaburkan semua cairan wangian besi berwarna merah pekat kesegala penjuru. Begitu tajam sudut pedang itu.. Menghabisi— Sosok namja manis bersurai hitam yang begitu memilukan, darah dari dadanya tertetes tak henti. Seakan tubuhnya itu hanya onggokan kapas tak berharga.

 

 

“T—TAO!”

 

 

Pekik Wufan saat melihat dengan langsung… langsung….. Tao tersungkur dengan pedang panjang menembus dadanya dilantai yang bertabur kelopak bunga mawar merah. –Oh, sangat indah ketika tubuh sempurna bermandikan darah itu tergeletak dilantai bertabur bunga mawar merah—

 

—Darah mencemari pakaian putih yang ia kenakan. Cipratan darah mengenai sebuah cermin mungil, jam tua yang tiba- tiba berbunyi hingga memekakkan telinga, kanvas lukisan kosong, piano tua serta sebuah gelas unik dan.. sebuah boneka.

 

TENG

 

TENG

 

 

“TAO!!” Wufan akan berlari cepat kearah jasad Tao yang berlumuran darah namun…

 

 

BRUAK

 

 

… seketika itu ia ambruk terduduk sembari memegangi kepalanya yang amat pusing dan berdengung. Bunyi jam tua itu sekan membawa tubuh Wufan menyelami masa lalu. Tidak! Tunggu—dia harus menyelamatkan Tao! Mengapa tubuhnya kini seakan tidak menurutinya? Mengapa kepalanya seperti ingin pecah?!!!

 

 

TENG

 

TENG

 

 

“AAAGGGGGGHHHH!! TIDAK!!” Teriak Wufan keras sekali saat kembali melihat jasad Tao yang berlumuran darah tidak jauh dari tempatnya meringkuh. Melihat mata Tao yang basah oleh air mata. Oh Tuhan apa yang terjadi dengan Tao.. matanya yang basah terlihat menderita. Dia tidak bernafas lagi..

 

“TAO!!”

 

Apakah Tao meninggal?

 

 

Wufan berusaha merangkak ketempat jasad itu terbaring. Nafas namja tampan itu seperti dihimpit, ingin rasanya ia menangis. Ia sama sekali tidak rela! Ia tidak rela kematian merampas ‘Tao-nya’ seperti itu!!

 

Namun melihat jasad namja manis itu jauh menyakitkan bagi Wufan…. Dia tidak mau percaya—

 

 

“Ta—o!!”

 

 

Mengapa aku tidak pernah sampai ketempatmu, Tao?

 

 

“Tidak!! TIDAK!!”

 

 

BERNAFASLAH!!!

 

 

KUMOHON!

 

 

“TAO!!”

 

 

BUKA MATAMU, TAO!!

 

.

.

.

 

Kematian itu lancang

Merampasmu dari sisiku

Padahal—

 

Aku menginginkan keabadianmu yang sempurna

 

.

.

.

 

 

“WUFAN!!”

 

“HNNG!!!”

 

Wufan membuka matanya lebar- lebar. Ia tersentak, melihat sekelilingnya. Pemuda tampan itu masih berada didepan pintu apartemen yang terbuka tadi, Ia sudah kembali kedunia nyata rupanya. dia sudah kembali.. Oh Tuhan, betapa leganya ia.

 

Tubuh Wufan gemetaran hebat, baju yang ia kenakan sudah basah oleh keringat dingin, ia masih terduduk memegangi kepalanya. Nafas Wufan menderu hebat. Seakan ia baru saja berlari tanpa henti selama berjam- jam. Jika diperhatikan wajah pucat Wufan sama seperti manusia yang akan mati beberapa saat lagi. Keadaannya menyedihkan—berantakan, lebih tepatnya.

 

“T—Tao?”

 

Tao.

 

Benar—ada Tao berdiri disana.

 

Berdiri dihadapan Wufan dengan keadaan tanpa luka sama sekali, bahkan sudah berada didalam kamar apartemen itu sembari memeluk sebuah cermin dengan ukiran kayu unik disekelilingnya, cermin.

 

Cermin berukuran kurang lebih 30 x 20 cm itu adalah salah salah satu benda yang Wufan lihat tergoreskan oleh darah Tao.

 

‘Peralatan.’

 

Tanpa banyak bicara dan tidak terlalu mengindahkan Wufan yang sudah pucat seperti mayat. Tao berjalan dengan irama khasnya, menarik tangan Wufan hingga pemuda itu berdiri tegap. Mata Wufan memandang sosok yang tadi dilihatnya mati bersimbah darah beberapa detik yang lalu… masih tidak percaya, sosok yang ia lihat mati itu kini bergerak, melirik, memandangnya, bahkan—menyentuhnya.

 

Tao—

 

 

Tao kusayang—

 

 

 

“Kita pergi, Wufan.”

 

 

אּאּאּ

 

 

Is it someting missing?

 

Is it someone missing me?

 

 

אּאּאּ

 

 

Dalam sekejap, Wufan berada diapartemen sederhananya. Tao begitu mudah berpindah dari satu tempat ketempat lain. Seperti kekuatan teleportasi saja. Dan Lihatlah—Kini mereka sudah berada diruang tengah apartemen Wufan.

 

BRUAK

 

Wufan kembali ambruk, ia terduduk dilantai dan nafasnya terengah- engah. Masih pucat dan kedua alisnya semakin tertekuk. Ia masih berfikir—mencari jawaban atas semua yang baru saja terjadi. Ketakutan atas perasaan kehilangan pada sosok itu. Sejak kapan.. Sejak kapan Wufan, seorang mahasiswa seni biasa yang hidup dengan membosankan, kini merasa hidupnya penuh dengan lubang mematikan? Siap menyerapnya hingga hancur dan terlupakan?

 

 

Sejak kapan—

 

 

Tao menatap dingin pemuda tampan yang kini kembali mengatur nafasnya. Meringkuh dilantai dingin apartemennya yang mulai gelap. Sepertinya senja akan usai.

 

Perlahan pemuda cantik itu meletakkan cermin peninggalannya yang begitu indah,  memasukkan cermin itu kedalam lemari kosong milik Wufan. Lukisan potret diri Tao juga sudah berada didalam lemari kosong itu. Entah kapan namja cantik itu memindahkannya keapartemen Wufan.

 

 

 

 

“Kau melihat ingatan peralatanku, Wufan.” mulai Tao setelah menutup lemari itu, seperti berbisik. Ia alihkan pandangan matanya pada Wufan yang masih terduduk dilantai. Wajahnya menunduk namun Tao tahu betul pemuda tampan itu pasti sangat pucat.

 

 

Tao berjalan kearah Wufan, menumpukan lututnya dilantai tepat dihadapan Wufan kemudian memeluk pemuda tampan tersebut, mengusap rambut coklat terang Wufan. Membuat Wufan yang awalnya terkejut, langsung membalas pelukan Tao. Menyesapi rasa dingin kulit Tao yang benar- benar membuatnya candu. Wangi khas harum mawar merah yang tidak pernah ia lupakan sejak mengenal Tao. Bunga mawar merah yang menghiasi jasad mati Tao—Tidak! Jangan pikirkan itu!

 

 

Jangan ingat lagi, Wufan!

 

 

 

 

“Maaf.. kau jadi melihat hal yang menyeramkan.” Bisik Tao tepat ditelinga Wufan. Sedikit menyentuhkan bibir mungilnya didaun telinga pemuda tampan yang tengah mempererat pelukan tersebut.

 

“Kukira kau benar- benar.. mati…. Kita tidak akan .. bertemu lagi.” suara Kris bergetar hebat. Ia terus mempererat pelukannya pada lekukan pinggang Tao, membuat jarak mereka benar- benar hilang. Mereka masih terduduk disana, membiarkan bunyi jarum jam menguasai ruang. Membiarkan Tao, merasakan detak jantung Wufan yang seperti akan meledak.

 

Tao terus mengusap rambut Wufan lembut. Merasakan tubuh Wufan yang masih bergetar, menatap sendu Wufan yang masih memeluknya. Wufan membenamkan wajahnya didada Tao. Seakan mencari detak jantung pemuda cantik itu walau ia sama sekali tidak mendengar bunyi detakan sama sekali. jantung—apakah Tao memiliki jantung? Tentu, dahulu.. ketika ia masih hidup.

 

 

“Aku disini. Jangan khawatir.”

 

 

Wufan mengangguk. Mencoba menenangkan tubuhnya, demi Tuhan! Mengapa Wufan bisa terlihat se-menyedihkan itu? Dia lelaki! Tidak seharusnya bersikap seperti ini, bukan? Apalagi dihadapan Tao.. dia tidak mau terlihat lemah.

 

Ia menegak liurnya dan perlahan melepaskan pelukan mereka. Kondisi Wufan sudah mulai stabil, Tao kemudian berdiri dengan perlahan dan membantu Wufan untuk ikut berdiri. Pemuda tampan itu masih menatap Tao dengan teliti. Seakan takut kejadian itu terulang lagi.. kematian yang menyapa sang namja cantik itu entah kapan.

 

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Tao kemudian.

 

 

Wufan mengalihkan pandangannya dan duduk disofa tunggal sejajar dengan meja mini dan televisi. Tao tetap diam ditempat, mengamati Wufan yang kini menghela nafas berat. Apakah ia mengeluh? Kemudian Wufan mengarahkan tangannya pada Tao, membuat pemuda cantik itu melangkahkan kakinya mendekati Wufan yang masih duduk dengan wajah pucat. Menurut pada Wufan.

 

 

“Duduk disini.” Wufan penepuk pangkuannya.

 

 

Tao hanya mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

 

 

Wufan tersenyum lemah lalu menarik lembut pergelangan tangan Tao. Menuntun tubuh Tao untuk duduk dipangkuannya. Kemudian mengalungkan kedua lengan Tao dilehernya yang panjang. Pemuda cantik itu hanya mengikuti tanpa ekspresi. Tatapan mata mereka yang begitu dekat membuat kedua pemuda itu terdiam. Saling meneliti lekukan wajah masing- masing yang sempurna. Hidung bangir mereka bersentuhan beberapa saat.

 

Tanpa ragu, Wufan mengusap pelan pipi kenyal Tao. “Aku ingin tidur sebentar… jangan pergi dan tetaplah duduk dipangkuanku. Agar aku bisa merasakanmu.”

 

Tao membulatkan matanya.. sedikit tercekat dengan perkataan Wufan. Merasakannya?

 

 

Wufan ingin merasakan … keberadaan Tao?

 

 

“Jangan pergi, Tao.”

 

 

Wufan perlahan menutup matanya. Membiarkan Tao menatap wajah Wufan yang terlihat benar- benar kelelahan. Mengamati wajah tampan Wufan yang sejak dahulu—selalu Tao anggap sempurna. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi nafas yang teratur dan dengkuran halus. Wufan sudah tertidur, rupanya. Tao merebahkan kepalanya dicelah leher jenjang Wufan. Membiarkan rambut hitamnya menyentuh pipi tirus Wufan dengan nakal.

 

 

-“Tao.. terima kasih telah menolongku.”-

 

 

Tao kembali mengingat ucapan Wufan saat di peron kereta itu.

 

 

Menolong?

 

Tidak.. itu hanya karena aku membutuhkan pembimbing. Padahal semua itu terjadi akibat dari bayanganmu sendiri, Wufan.

 

 

Tao mengangkat wajahnya, kembali memandang wajah Wufan yang tertidur. Ia dekatkan hidungnya, menyentuh hidung Wufan yang menghembuskan nafas beraturan. Namja cantik itu mencium pelan mata Wufan yang tertutup lalu kembali menyembunyikan wajahnya diceruk leher Wufan.

 

 

“Selamat tidur, Wufan.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

 

—Berikan ketenangan abadi pada mereka

 

 

Terangilah mereka dengan cahaya yang tidak pernah padam—

 

 

 

Seorang gadis muda berumur 14 tahun memainkan piano tua itu dengan wajah ketakutan. Matanya berbelalak dan jemarinya sudah berdarah akibat permainan piano yang ia lakukan tanpa henti.

 

 

—Kunyanyikan pujian bagi-Mu

 

Kupenuhi sumpahku pada-Mu—

 

 

 

Orang tua remaja putri itu hanya menangis menatap sang anak yang seperti kesetanan memainkan piano tua hadiah dari kakek anak itu. Sudah 3 hari anak mereka memainkan piano itu tanpa henti. Saat disergah untuk berhenti, anak perempuan itu melawan dan mengancam akan bunuh diri.

 

 

—Kunyanyikan lagu pujian bagi-mu

 

Tempat terbaik adalah di Zion – Jerusalem—

 

 

 

-Aku tidak ingin memainkan piano ini-

 

 

Anak perempuan itu terus menekan tuts piano sembari tertawa dan sesekali terisak. Rambutnya acak- acakan.

 

 

-Tolong-

 

 

 

 

“Hentikan.. kutukan ini— HAHAHAHAHA!!“ desis anak itu penuh dengan air mata sembari tertawa keras.

 

 

 

Semua manusia akan kembali pada- Nya—

 

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

“Jadi korban bunuh diri pertama diperon statiun yang itu memiliki cermin antik. Astaga.. mengapa barang- barang antik jadi menyimpan kutukan tersendiri seperti ini.” ujar Luhan sembari menunjuk berita pada halaman koran.

 

Suho mengangkat bahunya. “Tapi penjualan barang- barang antik jadi meningkat. Aku jadi heran.. apakah banyak orang yang penasaran, ya? Aigoo~ Padahal aku sudah hidup didalam tumpukan barang- barang kuno dalam waktu yang lama. Tapi tidak ada yang terjadi pada diriku.”

 

“Mungkin saja belum, bos.” Goda Luhan.

 

“Ya! Kau mendoakan aku mendapat kutukan?!” Suho memukul pelan lengan Luhan.

 

“Hanya bercanda, bos. Jangan ditanggapi serius.. tapi lihat ini.. cermin itu hilang tiba- tiba. Aneh sekali.” Luhan kembali membaca berita dikoran siang itu.

 

“Mungkin diambil oleh arwahnya yang gentayangan.” Suho menggerakkan tangannya kearah Luhan, menakut- nakuti namja cantik itu.

 

“Hiiiii!! Hentikan, bos Suho!!” Luhan bergidik ngeri.

 

 

 

Tap

 

Wufan melewati Luhan dan Suho yang masih berbicara. Pemuda tampan itu hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Membuat Luhan dan Suho terhenti berbicara kemudian saling pandang. Dengan langkah cepat Wufan mengangkat sebuah kardus barang yang baru datang dan masuk kedalam gudang.

 

“Aku jadi mengkhawatirkannya.” Suho berbisik pada Luhan.

 

“Aku juga, bos. Apa hanya perasaanku atau bagaimana… namun aku pernah melihatnya berbicara sendiri digudang.” Balas Luhan, nampak sekali kekhawatiran menyelimutinya.

 

“Jinjja?” Suho membulatkan matanya.

 

Luhan menghela nafas. “Bagaimana kalau besok aku membawanya refreshing, bos? Besok libur kerja, bukan?”

 

“Ne! Lebih baik kau buat dia sedikit santai. Wajahnya lumayan pucat, mungkin dia kelelahan.” Suho kemudian menyenggol pundak Luhan karena baru saja salah seorang pelanggan masuk kedalam toko. Dengan sigap Luhan melayani pelanggan tua itu.

 

Suho menghela nafas panjang dan menatap pintu gudang dari sana. “Semoga tidak ada yang membuatmu terhanyut, Wufan.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

“Jadi bagaimana? Kau mau ikut?” tanya Luhan saat jam istirahat kerja mereka sembari menikmati makan siang.

 

Wufan mengunyah kimbab, kemudian menggidikkan bahu. “Entahlah, aku rasa kau hanya mencari alasan untuk membuktikan bahwa aku tidak gila.”

 

“Hya! Kau itu membuat kami khawatir. Dan lagi aku pikir kau akan suka karena temanku, Baekhyun, menemukan sebuah piano antik dan piano itu baru datang di Universitas-nya kemarin siang.”

 

 

DEG

 

 

Wufan terhenti, ia telan kasar makanan yang ada dimulutnya. Kemudian memegang tangan Luhan agar pemuda mungil yang kembali melahap jjangmyeon itu melihat Wufan.

 

“Apa?” tanya Luhan.

 

“Piano maksudmu?”

 

“Ne.. sudah kuduga kau tertarik! Piano peninggalan sebuah kerajaan di Prancis sekitar abad 17. Bagaimana.. mau melihatnya bersamaku besok?”

 

“Sepertinya.” Kembali namja tampan itu menyuap kimbab dan mengunyahnya dengan pelan. Tidak mendengarkan sorakan gembira Luhan karena Wufan menyetujui rencananya.

 

 

“Piano… milik Tao ..kah? Yang pasti aku harus memastikan!”  bisik Wufan dalam hati.

 

 

אּאּאּ

 

 

Mengapa kau mau terlibat sejauh ini?

Berhati- hatilah—

Dia hanya makhluk yang mendekatkanmu pada kematian

Memperdayamu hingga kau jatuh dalam pesonanya

Kecantikan yang ia punya adalah tipu muslihat

 

Kau akan hancur ketika ia tertawa—

 

 

 

אּאּאּ

 

 

“Annyeonghaseyo! Byun Baekhyun imnida. Mahasiswa Universitas Seni Dae Gu. Jurusan musik.” Baekhyun membungkuk sopan dihadapan Wufan yang dibalas dengan hal yang sama oleh Wufan.

 

“Wufan imnida. Aku mahasiswa Universitas Gong jurusan Seni Rupa.”

 

“Nah! Sudah berkenalannya.. ayo, tunjukkan piano antik itu pada kami, Byunnie.. Wufan sangat penasaran.” Luhan tersenyum manis sembari melirik Wufan. Yang dilirik malah tersenyum tipis. Ia tidak tertarik dengan kegembiraan Luhan yang berhasil membawanya kesana.

 

“Ah! Baik! Baik! Tapi jangan terlalu banyak berharap, ya. Piano itu barang antik dan sudah sangat lama.. aku takut tidak bisa berbunyi.” Jelas Baekhyun saat mereka bertiga sudah memasuki bangunan Universitas dan menaiki tangga kelantai 3.

 

“Memangnya kau tidak mencoba memainkannya?” tanya Luhan sedikit bingung.

 

Baekhyun terhenti, membuat Wufan dan Luhan ikut berhenti. Perlahan Baekhyun menarik tangan Wufan dan Luhan agar berhenti sebentar disudut tangga. Wajah Baekhyun berubah serius, membuat Wufan jadi penasaran.

 

“Begini… sebenarnya aku mendengar rumor tentang piano itu.”

 

“Rumor apa?” tanya Wufan mulai mencium suatu kejadian yang tidak baik telah terjadi sebelumnya.

 

“Piano itu… sebelum dipindahkan ke Universitas ini, milik seorang anak yang sudah menjadi pianis semenjak kecil. Bayangkan anak gadis berumur 14 tahun yang masih ceria dan manis itu menjadi gila sejak memainkan piano itu… karena itu belum ada mahasiswa yang mencoba memainkannya.” Baekhyun bergidik ngeri.

 

“Mwo?! Jinjjayo?” Luhan ikut merasa takut. “Kalau begitu tidak usah saja kita melihatnya.”

 

“Tapi itu cuma rumor, Lu. Walau.. ada bercak darah yang kulihat di tuts piano itu.”

 

Perkataan Baekhyun baru saja membuat Wufan semakin penasaran. “Antar aku kesana. Aku ingin melihatnya.”

 

 

אּאּאּ

 

 

 

“Woaah! Ternyata piano seperti ini!” seru Luhan saat melihat piano antik itu. Sungguh antik, piano yang cukup mungil, tidak seperti grand piano besar dan uniknya badan piano itu terbuat dari kayu dengan ukiran luar biasa indah. Berwarna putih dengan perpaduan ukiran emas dan perak. Indah serta mewah sekali.

 

Wufan mengerutkan keningnya saat melihat piano itu. Dia memang melihat piano… saat peristiwa tewasnya Tao. Namun ingatannya seperti mengabur dan ia tidak yakin karena saat melihat piano itu.. apakah benar ini milik Tao?

 

 

“Tao! Aku tahu kau disini!” bisik Wufan sangat pelan bahkan tidak terdengar oleh Luhan dan Baekhyun. “Tao… katakan sesuatu tentang piano itu.”

 

 

 

Kedua pemuda cantik berparas peri itu kemudian mendekati piano antik dan Baekhyun duduk dikursi piano, seakan bersiap- siap untuk memainkannya. Entah apa yang mempengaruhi mereka hingga mereka terlihat tidak takut sama sekali.

 

“Aku coba memainkannya yaa~” seru Baekhyun bersemangat.

 

“Ayo! Ayo!!” Luhan bertepuk tangan pelan. Sepertinya dua pemuda manis itu melupakan rumor tentang piano itu sesaat.

 

 

 

“Cegah dia Wufan!!!”

 

 

DEG

 

 

Suara Tao terdengar sangat keras dipendengaran Wufan, dengan cepat namja tampan itu berjalan kearah Baekhyun dan…

 

 

GREP

 

… memegang tangan Baekhyun yang nyaris menyentuh tuts piano. Membuat Baekhyun dan Luhan sangat terkejut karena wajah Wufan tiba- tiba memucat dan menegang.

 

“Jangan—memainkan piano itu. Berbahaya!” Wufan nyaris berteriak.

 

“Ba..Baik.” Baekhyun mengangguk ragu dan berdiri dari kursi mungil itu. Wufan diam dan memandangi piano antik itu taat sekali. Merasa ada yang aneh, Baekhyun menarik Luhan yang masih terdiam melihat tingkah aneh Wufan menuju sudut ruangan.

 

 

 

“Kau yakin temanmu itu baik- baik saja?” Baekhyun melihat Wufan yang masih memandangi piano tanpa berkedip. Seakan ada yang ia perhatikan. Ada yang ia perhatian dari tadi hingga ia tidak berkedip sama sekali.

 

Luhan mengangkat bahunya dan ekspresi wajah Luhan sangat cemas memperhatikan Wufan dari sana. “Aku.. aku benar- benar yakin sekarang… ada yang salah pada dirinya.”

 

 

 

 

 

“Tao..”

 

Wufan tiba- tiba melihat Tao duduk dikursi mungil itu dan memainkan tuts piano dengan sangat lihai. Menyeruakkan bunyi dan melodi kesedihan yang berasal dari hati pemuda manis itu. Instrument yang tidak asing namun menyakitkan. Seperti menggambarkan sebuah kesedihan yang sejak lama tersimpan. Utuh didalam keabadian.

 

 

DEG

 

 

“Eh?” Wufan memperhatikan sekelilingnya.

 

 

Bersamaan dengan melodi yang semakin menggenang, Wufan melihat diruangan itu penuh dengan kupu- kupu hitam serta wangi manis bunga mawar—wangi tubuh Tao. Kelopak mawar berwarna semerah darah yang berhamburan seakan jatuh dari langit dan… dalam sekejap ruangan musik itu sudah menjelma menjadi kamar.. ya kamar itu lagi.. kamar Tao.

 

 

 

Wufan kembali ditarik melompati batas waktu.

 

 

 

DEG

 

 

 

“Kasihan.. kau sudah melukai orang, ya.” suara lembut Tao terdengar terluka. Ia terus memainkan sebuah lagu yang amat menyayat hati. Melantunkan melodi kesedihan dan irama sendu yang begitu syahdu. Irama kematian—

 

 

Tes

 

Tes

 

 

Wufan membulatkan matanya tidak percaya… saat melihat Tao menitikkan air mata dan menghentikan tarian jemari indahnya diatas tuts piano. Pemuda cantik itu terlihat menahan sesuatu dengan tangisannya. Tao meraba piano itu dengan lembut. Menghayatinya hingga berkali- kali air mata pilu tersebut jatuh membasahi pipi dinginnya. “Maafkan aku.. membuatmu terkurung dalam kutukan. Membuatmu mendendam pada kematianku.”

 

 

—Hukumlah mereka yang terkutuk

Saat mereka dijatuhkan dalam api yang menyala—

 

 

Tao kembali menangis, membiarkan isakan pilu terdengar dipendengaran Wufan. Isakan yang membuat Wufan benci terlahir didunia ini. Tubuh tinggi itu bahkan seakan tersayat saat mendengar isakan Tao. Ia melihat pemuda cantik itu menangis dan minta maaf berkali- kali. Seperti meminta pengampunan.

 

 

Oh Tuhan, apa dia sebenarnya merasa tersiksa karena perbuatan peralatannya sendiri.. yang banyak melukai orang lain bahkan berujung dengan maut?

 

 

Panggilah kami bersama mereka yang kau berkati

Kami hancur bagaikan debu—

 

 

“Tao.” desis Wufan amat pelan dan mengarahkan tangannya pada pundak Tao yang kini bergetar. “Jangan menangis. Kumohon.. jangan menangis.”

 

 

Berlututlah

 

Bersujudlah dan memohon…

 

 

DEG

 

 

Mata basah Tao yang berlinang air mata kini teralih pada Wufan, menghentikan gerakan tangan Wufan yang belum mencapai pundak pemuda manis itu. Tao menggeleng pelan dan mulutnya terbuka sedikit seakan ia ingin mengatakan sesuatu namun ia kembali merapatkan bibirnya.

 

“Ap—Apa yang ingin kau katakan?” tanya Wufan dengan suara bergetar.

 

Tao menggapai tangan Wufan, mengusapkannya pada pipi basah Tao. Spontan Wufan mengarahkan telapak tangannya yang satu lagi kepipi Tao. Menangkup pipi kenyal itu dengan kedua tangannya, mengusap lembut seakan air mata itu sama sekali tidak berhak mengotori wajah cantik yang tegas milik Tao.  

 

 

“Aku ingin mati, Wufan. Aku ingin hancur menjadi debu… aku ingin lepas dari keabadian ini.”

 

 

Wufan menggeleng cepat. “Apa—“

 

 

Tao melepaskan tangkupan tangan Wufan dari pipinya. Menatap tajam mata Wufan yang membulat akibat ucapan Tao baru saja.

 

 

“…300 tahun lebih… berkali- kali aku melihat kematian… berkali- kali aku melihat semua orang terluka akibat peralatanku. Akhirnya aku menemukan dirimu… karena hanya dirimu yang bisa melihat wujudku… karena ‘kau’ adalah perwujudan dirinya dimasa lalu.”

 

 

Wufan benar- benar tidak mengerti kali ini. “Dirinya? Dimasa lalu? Jelaskan padaku Tao.”

 

 

Tao berdiri dari kursi piano lalu berjalan mundur, menjauhi Wufan. “Belum saatnya kau mengetahui hal pasti akan alasanku memilihmu.”

 

 

“Tao jangan menjauhiku!!” Wufan berjalan mendekati Tao namun….

 

 

Jangan pergi!

 

 

DEG

 

 

Kumohon!

 

 

“—Tao”

 

 

 

Aku sudah terlampau jauh memujamu

Aku terlampau hina memikirkanmu

Aku sudah tidak bisa lagi bangkit berlari meninggalkanmu

 

 

Walau aku tahu—

 

—kau milik kematian.

 

 

 

.

.

.

 

 

 

“WUFAN!! BUKA MATAMU!!”

 

DEG

 

Wufan membuka mata dengan tiba- tiba, mengatur nafasnya yang memburu. Perlahan ia kelilingi pandangannya, sedikit terkejut melihat tubuhnya yang terbaring dipangkuan Luhan. Melihat wajah Luhan yang pucat dan ia sudah menangis serta Baekhyun yang panik didekatnya.

 

“Syukurlah! Dia sudah sadar!” Baekhyun mengambil kipas jepang dan mengayunkannya kearah Wufan. Bertujuan pemuda tampan itu sedikit merasakan angin segar.

 

“Ada.. apa?” tanya Wufan bingung namun kepalanya terasa pusing sekali. Aish! Apa yang terjadi pada dirinya hingga kepalanya seperti dirajam ribuan batu?

 

“Kau pingsan, bodoh! Oh Tuhan! Kupikir apa yang terjadi padamu! Kau tadi seperti tidak bernafas.. wajahmu pucat sekali.” isak Luhan sembari menghapus air matanya.

 

“Maaf..” Wufan mencoba bangkit dan duduk. Baekhyun membantu Wufan agar bersandar pada dinding. Mereka masih berada diruang musik Universitas Baekhyun. Tatapan mata Wufan kembali terpaku pada piano antik milik Tao dahulunya. Namun Tao tidak ada disana lagi.

 

 

Tao tidak ada—

 

 

“Siapa yang kau lihat, Wufan? Kau berkali- kali menyebut nama ‘Tao’ saat kau pingsan tadi.” Luhan menatap Wufan tajam sekaligus penasaran diikuti oleh anggukan Baekhyun.

 

 

Wufan menunduk. “Kita pulang.. sekarang.”

 

 

 

 

אּאּאּ

 

 

Blam

 

 

Wufan mengunci pintu apartemennya, ia baru saja sampai di apartemen setelah pulang dari Universitas Baekhyun. Membiarkan sunyi menguasai apartemen sederhana itu dalam suasana sore. Sinar matahari sudah berwarna orange. Membias warna jingga yang amat indah dari pantulan kaca jendela apartemen Wufan.

 

Ia rebahkan tubuhnya disofa ruang tengah, memijit kepalanya sejenak. Kemudian Wufan menghela nafas pelan saat melihat… piano antik itu sudah berada diapartemen Wufan. Tao sudah membawanya. Piano antik yang terletak tepat disamping lemari yang menyimpan lukisan dan cermin milik Tao.

 

 

“Tao… kau dengar aku?” Wufan mencoba memanggil Tao.

 

 

Namun pemuda itu tidak menampakkan sosoknya sama sekali. Wufan kembali menghela nafas panjang. Mendudukkan tubuhnya yang tadi berbaring kemudian menatap sekeliling apartemennya.

 

 

“Tao.”

 

 

Kembali Wufan mendesah pelan karena Tao tidak juga muncul. Lalu ia merebahkan kembali tubuhnya disofa itu dan…

 

 

Puk

 

… ia merasakan kepalanya sedikit lebih tinggi. Baru ia sadari bahwa… Tao ada disana. Kepala Wufan terbaring nyaman dipangkuan Tao. Tersenyum tipis, Wufan menutup matanya. Menyesapi tangan dingin Tao yang mengusap rambutnya pelan dan lembut sekali.

 

 

“Tetaplah disini, Tao. Jangan katakan kau… akan menghilang.” Bisik Wufan pelan namun cukup membuat tangan Tao terhenti sesaat. Menandakan ia sedikit tercekat dengan ucapan Wufan.

 

 

“Aku disini… Wufan.” Jawab Tao lembut kemudian kembali mengusap rambut Wufan pelan hingga membuat pemuda tampan itu terbuai masuk kealam mimpi. Dengkuran halus Wufan membuat Tao memperhatikan wajah tampan pemuda itu.

 

 

“Maafkan … aku. Maaf… aku tidak bisa merubah keinginan hatiku.”

 

 

 

אּאּאּ

 

 

 

Karena para pendosa akan mendapatkan hukumannya

Hari dimana mereka bangkit dari debu

Itulah akan menjadi hari yang penuh tragis

 

Wahai yang kuasa… bencilah mereka

 

Tuhan-ku..

Berikanlah mereka ketenangan yang abadi

 

 

*terjemahan lagu Verdie ‘Requiem’

 

 

Continue

87 thoughts on ““Le Portrait de Petit T.A.O” Part 2

  1. Aku suka scene KrisTao-nyaa~!! Banyakin lagi moment mereka~~ Ah, jangan-jangan Kris yang pernah membunuh Tao dimasa lalu? Andwae~ Keep Writing!^^

  2. AKHIRNYAAAAAA… EPEP INI UPDATE JUGAAA..
    sumpah yah kak, ini ff serasa lagi liatt film horror tau ga.. untung gue bacanya engga pas malem-malem. siang aja gue merinding. apalagi malem -_- langsung pindah ke kamar mama gue.
    WETSSS, entah kenapa aku suka banget sama gaya penulisan kakak di ff ini. lebih ngena gitu. kesannya misterius. kata-katanya juga bikin waaaawww plus merinding abis. kesan tragedynya kerasa banget. seolah-olah gue yang lagi berada dalam posisi kris.

    dannn… gue ngerasa tao disini manisss bin cantikkkkk banget. penggambaran kakak tentang tao itu bikin gue.. erghh… ini bocah ternyata sialan banget. gitulohh.. cantik-cantik sialan minta dijamah gituu..
    ihhhhh… SUKA BANGET SAMA ADEGAN YANG KRIS TIDUR TERUS TAO DIPANGKUAN DIAAA.. IHHH INI SUKAA.. KAN TUMBEN NIH SI KRIS ENGGA BERPERAN JADI ORANG BRENGSEK. DISINI GUE SETUJU PAKE SANGAT SAMA KRIS YANG SERASA MAU NEMPEL TERUS SAMA TAOO..

    sikap tao disini juga beuh banget. dingin. tapi manisnya masih keliatan. haduhhh.. jadi pengen culikk.. pinjem tao boleh ga sih kak?
    dannn… bagian yang paling membuat gue merinding adalah bagian yang anak kecil lagi main piano sambil ketawa dengan jemari yang berlumuran darahh.
    anjrit.. gue suka plus merinding pulaaa.. sumpah kak itu kebayang terus sampe sekarang.. ihhhhh gilaaa gue merindingg.. sial.

    IIHHH KAMU MAH KAK BISA AJA BIKIN AKU TERJATUH DAN TERJATUH LAGI PADA EPEPMU.. GIMANA INIII AKU UDAH KENA KIM HYOBIN FANFICTION ADDICTED. GA BISA MOVE ON INI SAMA EPEP MUU.. #lebay

    Iniiii.. pokoknya aku menunggu kelanjutannya kakkk. ini kerennnn.. YO kak ran ran. saranghae :love

  3. Kyaaaa…. keyen banget sumpah dech…
    Romantis banget pas adegan Tao ma Kris.
    Di tunggu secepatnya ya chapter selanjutnya.😀
    Author… Hwaiting….!!!!

  4. blum baca part 1 ._.
    deg-deg’an banget pas Wufan di stasiun, untung aja di tolong sama Tao..
    TaoRisnya so sweet, biasanya wufan kan dibikin kurang ajar tapi disini dibikin nempel trus, ya meskipun masih bersikap dingin..
    ditunggu next partnya :))

  5. hai baru nongol eike, kangen gak? *plakk,ditabok

    weh enakan baca yg ini yah kalo komik jujur berpuluh2 komik aku baca tp suka msih bingung nempatin conversationnya drimna kmna u,u #payah

    lagian ini kan udh di racik sdemikian rupa ama ranachan jd KRISTAO FEELNYA ASTAOGEH~ MENDADAK AUUWOOO~ SAIAAAA~ *kayang di monas

    aku baca jg 9 malem, di kamar mati lampu pake hape mojok, adik ama ibu tidur jdi deh gigitin bantal, badan gelisah deg-degan sembari mata melotot 0_0 *jgn dibayangin, serem

    ga mw bhas apa2 tp mw nyampein..aduh kamu yah bkin aku kepikiran, ini penggambarannya duet antara fantasy angst ama romance(?) DAN BERHASIL SANGAT /opiniku pas moment kristao diatas/ ITU TAO HAIH~ CANTIK DINGIN MENGGIGIT TP TETEP BKIN GEMES..UPAN JUGA NIH TAMPAN DAN ROMANTIS ADOOOOOOHH~ PIPI SAIAAAAA~

    titip 1 kipas jepang byun baek boleh ga? Keanya aku naksir deh ._.v

    part paporit pas tao dgn enteng blg “di lantai 3 ada lift kau saja yg tdk menggunakan” sukses sweatdrop sketika ana _-_ eiguuu~ BABY PANDA unyumumumumu tp ngeselin..upan yg ga bsa mkir jernih 17 LANTAI GA PAKE LIFT? BROJOL DONG EMAK2 BUNTING YG TINGGAL DISITU _-_

    semangat ranachan^^9
    #deepbows

  6. ohh, aku tau manga ini~ aku tau gambaran umum ceritanya tapi aku tetep nunggu lanjutannya loh~ soalnya pasti ada beberapa hal yang beda kan?! iya kan?!

    aku udah baca 2 judul FF disini dan ceritanya bagus-bagus~ tapi kayanya harus punya kesabaran extra karena updatenya lumayan lama ya?! hha xD

    tapi ga masalah sih kalau jalan ceritanya bagus, pembaca juga ga akan nyesel karena harus nunggu berbulan-bulan. semangat semangat. keep writing.

  7. akhirnya update juga🙂
    suka deh sama FF ini, terlebih Genre-nya yg bikin aku bersemangat bacanya><
    lanjutannya seru, sugoii!
    ditunggu update-an chap selanjutnya, tambah lagi blood-nya kalau bisa, eon, hehe^^
    ganbatte!!

  8. kece kece kece !!!!!!!!! yaampun chingu nih ff keren banget,sampe kebawa mimpi, penasaran banget kelanjutannya. cepet2 update yaa🙂

  9. annyeonghaseyo sya readers baru nih😀
    sya kristao hard shippers #gananya

    Daebak bt author.
    Ceritanya keren, bikin penasaran, moment kristaonya romantis, bahasanya beh keren.
    100 jempol deh bt author 😀

    Lanjutkan thor #harus😀

  10. Huaa… Terharu owe baca nyaa😦 .. Bakalan happy ending kan? Harus dong😦 taoris harus bersatu!!! Hidup TaoRis!!

  11. jadi korban peralatan itu gila dan bunuh diri? ahaha untung baek ditahan, kalo nggak bisa gila si doi😄 aku baca ini kayak baca komik horror yaoi hihihi taoris soswit sekali walaupun tao sudah bukan manusia lagi. dan…. ITU SOSWEET SEKALI SAAT ADEGAN TIDUR DI PANGKUAN AHIHIHI *brb mikir mesum*😄 ditunggu ya part selanjutnya :3 semoga cepet dipost hehehe

  12. Anjriitttt mameennnnn!!! Gillaaa aku SUKA SUKA DAN SUKAAAAA BANGEETT SAMA EPEP INIHH Hyobin-shhiii!!!!! Aarrgghhhh >< , trus Kris yg keknya bner2 nempel banget sama tao bner2 bikin saya nge-flyyyy thoorrrr , aaiihhhh bang upan saking cintahnya sama anak saya ampe begitu yaakkk .. Ngahah XDD

    Trus adegan anak kecil yg maen piano sama adegan pembunuhannya tao itu bneran bikin merrinding masa -.-" iihhhhhh gk berani kalo baca malem2 jadinya. Wkwk
    Seepp , ditunggu next partnyaaa🙂

  13. wwuuaaaa…., deabek thorrr….
    mistry bngt, tpi q tetep masih penasaran kenapa tao deketin kris, yahc walau tau cuma kriss yg bisa leat tao…
    kan masih ada yg disembunyikan ama tao??, iihh makin penasaran aja nihc….
    ok dahc dari pada q komen yg gak.karuan…
    llaannjjutt thorrrrr…^~^

  14. Baca ff ini berasa nonton flm horor.tulisan yg rapi,ceritanya dapt bangat.bener”bikin merinding dn penasaran..semoga part depan di jelasin kenapa tao di bunuh dn kenapa ada hubunganya ma si kris.ff yg ada di blog ini semuanya keren bngt,selalu setiap aku baca selalu dapt feel dn emosinya.gaya tulisan yg rapi.

  15. wuahhh…!!!! keren banget thor!!! >< itu yg dimaksud tao dengan ‘dirinya’ siapa ya??? o.O #kepo mode on# nice ff!!🙂 lanjut~😀

  16. wah…. suer demi apa? ni ff tu dae to the bak alias daebak, wah…. pokoknya sweet banget, apalagi waktu pas flashback tu kaya rasanya tu gimana…. gitu, feelnya bener-bener dapet

    lanjutin ya thor… ditunggu next chapnya…. hwaiting!!

  17. Bacanya rada tegang (?)
    jadi kris berperan ya selama 300taun *apaini* ._.
    Uh! Kris mulai tanda-tanda ya sama tau hahaha
    Ditunggu lanjutannya ._.

  18. Huweeee Tao teragis.a dirimu pas mati ._.v
    Berarti peralatan.a kurang boneka ama jam dinding ya? Jangan2 part 3 ending.a lagi. Andwehhhhhh*ngalay O.O
    *kibar bendera KrisTao :v

  19. Ini ff sukes buat gue kacau menganalisis -_-
    Yang ngebunuh tao waktu itu kris dimasalalu kah ? Atau siapa ? (“‾▿‾)

    Lanjot lanjot *bawa obor*

  20. ahhh… sumpah ini serem banget.. tao kenapa kau harus matiii… :'(:'(:'(
    tpi gak pa2.. soalnya ceritanya daebakk bangetttt… gk bsa tidurr taluk and penasaran bangett.. autor good jobbb :-*

  21. pnasara oyyy. . . mncual argumen dikplaku bhwa yg ngbunuh tao itu. . . wufan sendiri. . . mkin gila nih qwe sma taoris couple❤

  22. Itu wufan nyaaaa ya ampun gak tau mau kaya gimana tapi tambah bikin penasaran.. tao itu di masa lalu siapa? Wufan siapanya tao? Tao meninggal kenapa? Bayangin masa prancis zaman dulu rasanya merinding sendiri.. kak, aku suka bagian taorisnyaa banyakin yaaa hahaha ditunggu next chapternya

  23. Aku deg” ama teror” peralatan Tao, Aku deg” ama penggambaran tragedi pembunuhan Tao, apalagi penggambaran hantu Tao ge yang rupawan dan anggun! entr gagal jantung gmn ni eon hyobin?? #wakz nextnya eon, ini bener” daeeeeebaaaakk

  24. wahh!!!! ff nya keceh, update kilat dong!!! gua penasaran sebenarnya tak ini mau ngapain wufan nanti di akhir, dan wufan itu siapa nya tao di masa lalu, dan apakah tao akan mati nanti kalo semua peralatannya ditemukan???
    mm… masih banyak yang gua penasarin!!!! hyaaa!!! updatw cepet!!!

  25. wahh!!!! ff nya keceh, update kilat dong!!! gua penasaran sebenarnya tak ini mau ngapain wufan nanti di akhir, dan wufan itu siapa nya tao di masa lalu, dan apakah tao akan mati nanti kalo semua peralatannya ditemukan???
    mm… masih banyak yang gua penasarin!!!! hyaaa!!! update cepet!!

    kalo udah update kabarin gua lewat fb, namanya annisya qodrina pp nya leo vixx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s