HUNHAN | ONESHOOT| Futago: Synchrone

Author: Nine-tailed Fox

futago

Title: Futago: Synchrone

Cast: Oh Sehun – Sehun

          Lu Han – Luhan

Other Cast: Byun Baekhyun – Baekhyun

                  Park Chanyeol – Chanyeol

Genre : ROMANCE, BOYS LOVE, INCEST

Rate: Mature

 

Cerita ini terinspirasi ketika saya inget sama kembar Hitachiin dalam anime Ouran Koukou Hosutobu dan saat mendengarkan lagu Chara idola saya di Vocaloid yaitu Kagamine Kyoudai.

 

Pertama kali seumur hidup ya saya bikin IN to the CEST. Haha! Luar biasa!

 

Oh ya, sekedar pemberitahuan ya…saya memang author tapi saya bukan fans EXO, saya hanya menyukai Couple yang saya anggap serasi seperti Hunhan atau Chanbaek. Kaisoo sama Taoris suka juga tapi bukan otepe dan ga terlalu feel bikin cerita mengenai mereka.

 

Jadi mohon maaf kalo selama saya nulis disini kebanyakan Hunhan ato Chanbaek.

Tolong jangan protes…mohon dimengerti karena saya masih amatir yg nulis pake perasaan dan emosi. Saya bukan profesional yang bisa nulis dalam segala kondisi dan situasi dengan menggunakan karakter yang berbeda-beda.

 

Apa yang saya suka…itu yang saya tulis.

*malah ceramah

 

Hehe, maaf biar ga pada salah paham aja.

 

LANJUT DONG!

YUK YAK YUUUUUUKKKK~

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

 

“Ayo kita bertaruh!”

 

“Bisakah kau menebak…diantara kami…”

 

“Yang mana Luhan…

 

…dan yang mana Sehun.”

 

……

………

 

Boku wa kimi. Kimi wa boku

 

“Aku adalah kau. Kau adalah aku”

 

 

Luhan terbangun kala sinar mentari berusaha menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar, menembus jutaan lubang serat benang tirai jendela. Ia memegang kepalanya yang terasa pening. Darah rendah. Ingin sekali rasanya menjambak helaian surai madu dikepalanya guna mengurangi rasa tak mengenakan tersebut.

 

“E-eegh~ pusing…” keluhnya dengan suara parau.

 

Ia berniat meninggalkan ranjang namun tubuhnya berhenti bergerak ketika merasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggang rampingnya. Luhan menoleh dan menatap sosok rupawan disebelahnya dengan mata sayu, ia mendesah pelan…hampir saja Luhan melupakan kalau semalam ia tidur lagi diranjang Sehun. Perlahan Luhan melepaskan tangan Sehun dari tubuhnya dan segera beranjak menuju kamar mandi yang memang ada dikamar mereka.

 

Suara percikan shower mulai terdengar samar dari luar kamar mandi, disusul oleh senandung pelan tanpa syair.

 

Sehun terbangun dan segera menyadari bahwa Luhan tidak ada disampingnya. Ia menyibak selimut dan membiarkan telapak kakinya merasakan dingin lantai kamar. Mendengar suara-suara dari kamar mandi, ia segera menyadari jika pastilah Luhan didalam sana. Pemuda berkulit putih itu menguap sejenak lalu mengusak helai darkbrown dikepalanya.

 

“Luhan, kau sedang mandi?” tanya Sehun didepan pintu kamar mandi seraya menggeliat, merentangkan kedua tangannya.

 

“Ung! Aku tidak akan lama!” balas suara dari dalam sana.

 

Sehun hanya mendengus kemudian melepas satu-persatu pakaian ditubuhnya dan menjatuhkannya begitu saja dilantai “Tidak perlu, aku akan masuk…”

 

“Okay, masuklah…”

 

Hawa hangat segera menyapa tubuh polos Sehun ketika ia memasuki kamar mandi, Luhan mandi dengan menggunakan air panas rupanya.

 

“Kau kedinginan?”

 

“Tidak, hanya saja…aku sedikit pusing.”

 

Sehun yang awalnya hendak meraih tube facialwash diatas wastafel, menoleh dan menemukan Luhan dibawah shower, tengah kesulitan menggosok punggunggnya. Ia lalu mengabaikan tube facialwash-nya dan melangkah mendekati pemuda bertubuh mungil tersebut, hingga tubuh tegapnya turut merasakan hangat butiran air yang berjatuhan dari lubang shower. Kemudian merampas begitu saja sponge sabun dari tangan Luhan

 

“Ah, terima kasih…” ucap Luhan ketika Sehun mulai menggosok punggungnya dengan sponge penuh busa beraroma lemon segar.

 

“Jika merasa tidak baik, seharusnya tidak perlu mandi pagi…”

 

“Tubuhku juga berkeringat. Semalaman kau memelukku erat sampai terasa gerah, bodoh!”

 

Sehun tersenyum tanpa menyeka buliran air hangat yang membasahi parasnya “Maaf, kebiasaanku…”

 

“Cih, seenaknya…”

 

.

.

.

 

Sehun mulai merasa risih karena sejak memasuki gedung sekolah, Luhan terus saja memandanginya tanpa henti. Namun hebatnya, pemuda bertubuh mungil itu sama sekali tak mengalami hambatan meski berjalan tanpa memandang kedepan.

 

“Hei, Sehun…” ucap Luhan mendahului mulut Sehun yang hendak mengeluarkan suara.

 

“Hm?”

 

“Berapa…tinggimu sekarang?”

 

Tatapan penuh tanya kini melayang pada sang pemilik mulut yang baru saja bertanya. Detik selanjutnya Sehun nampak berfikir seraya memandang sejenak langit-langit koridor kelas.

 

“Hmm…182 sentimeter…seingatku…”

 

Luhan berdecak kesal “Sialan. Aku lahir lebih dahulu mengapa selalu dirimu yang lebih segala-galanya dariku? Sebagai kakak, tidak seharusnya aku menengadah ketika menatapmu!”

 

“Sayang sekali, kakak…” ujar Sehun sedikit mencibir dengan senyum jahil diwajah tampannya “Sebagai kakak, kau juga harus selalu mengalah dariku.”

 

“Heh, bersyukurlah kau memiliki kakak yang selalu bermurah hati sepertiku.”

 

Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong kelas. Suasana mulai ramai dikarenakan pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.

 

“Sebentar, aku mau ketoilet.” Ucap Luhan seraya menunjuk pintu toilet didepan mereka. Sehun tak mengatakan apapun kecuali hanya mengikuti langkah saudaranya kedalam sana.

 

Luhan menghampiri salah satu washtafel, air mengalir begitu saja ketika ia mendekatkan kedua tangannya pada mulut keran. Sementara Sehun hanya diam bersandar pada salah satu sisi dinding seraya menyusupkan kedua tangan dalam saku celana seragamnya.

 

“Ah, aku lupa memberitahumu.” Ucap Luhan membuat Sehun mendelik kearahnya. Mereka saling melempar pandang melalui cermin washtafel “Ayah dan ibu…mereka menghubungiku lewat video call saat kau sedang tidur siang kemarin. Sepertinya bulan ini mereka tetap tidak bisa pulang karena─”

 

“Akh! Enggh~ hentikan…akh, Chanyeol…kubilang─”

 

Pemuda bertubuh mungil itu menghentikan ucapannya. Tatapannya pada Sehun berubah menjadi sedikit bingung. Keduanya menoleh kearah sumber suara, salah satu pintu bilik toilet nampak bergetar serta terdengar suara berisik seperti benturan dan…desahan─

 

“Ini tidak akan butuh waktu lama, Baekhyun. Masih ada beberapa menit sebelum masuk, hm?”

 

“Kubilang, akh─ setidaknya…ja-jangan seka…si-sialhh~”

 

Luhan mengeringkan tangannya dengan beberapa lembar tisu yang diambilnya dari slot yang tersedia disisi cermin. Ia dan Sehun masih menatap pintu bilik sumber kebisingan tersebut.

 

“Akh~ Cukup, hentikan!!” kali ini terdengar suara seperti benturan yang cukup keras, tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan sosok seorang lelaki bertubuh mungil seperti Luhan dengan wajah manisnya yang nampak kesal. Ia tengah memperbaiki kancing seragamnnya yang kacau ketika itu. “Menyusahkan! Bisakah kau tidak berbuat seperti itu padaku sehari saja?!”

 

Disusul keluarnya seorang lelaki lain, kali ini bertubuh jauh lebih tinggi dan tegap, bersurai gelap dan mengenakan seragamnya secara asal…dari tempat yang sama.

 

“Selamat pagi! Luhan, Sehun!” ucapnya ceria. Ia bahkan tidak mengenakan dasi dan membiarkan ujung kemejanya diluar celana begitu saja.

 

“Pagi yang menyusahkan, hm? Chanyeol.” Sahut Luhan setelah melempar gumpalan tisu-nya kedalam tempat sampah.

 

“100 persen tepat sekali, Luhan!! Apa kau tahu, aku baru saja meletakan tasku diatas meja dan orang ini langsung menyeretku kedalam toi─ hmppph! Hei, sialan! lepaskan─ hmmph!”

 

Luhan dan Sehun nampak tertegun melihat betapa gesitnya Chanyeol ketika ia merengkuh Baekhyun dari belakang dan segera membekap mulutnya hingga pemuda yang merupakan kekasihnya itu kesulitan bicara…dan juga bernapas.

 

Chanyeol lalu mendekatkan mulutnya ketelinga Baekhyun dan berbisik pelan “Akan lebih baik jika kau menjerit dan mendesahkan namaku ketimbang berbicara tak karuan seperti itu, sayang.”

 

Sepercik sengatan listrik segera menggelitik sekujur tubuh Baekhyun dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dengan wajah merona merah, sekuat tenaga ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya tersebut.

 

“Aku-tidak-akan-sudi!!” ejeknya seraya menjulurkan lidah kemudian berlari begitu saja meninggalkan toilet.

 

Chanyeol berdecak dan mengacak helaian hitam pekat dikepalanya “Menyusahkan saja.” Keluhnya sambil melangkah mendekati pintu, namun ia menoleh kepada Sehun dan Luhan tepat sebelum memijakan kaki diluar pintu “Tolong katakan pada guru kalau aku dan Baekhyun izin tidak masuk kelas sampai istirahat siang nanti. Okay? Thank you! Bye!”

 

Hening menyeruak. Tak terdengar lagi suara langkah Baekhyun yang berlari atau pun Chanyeol yang berjalan dengan santai.

 

“Ah, soal ayah dan ibu yang tadi kau bicarakan…bagaimana kelanjutannya?” tanya Sehun menyadarkan Luhan yang pada awalnya masih terdiam menatap pintu dimana Baekhyun dan Chanyeol menghilang.

 

“Oh, mengenai itu…seperti biasa, mereka tidak akan pulang lagi bulan ini karena masalah pekerjaan. Besok mereka akan bertolak ke China atau kemana…entahlah.”

 

“Heeehh~ aku bertaruh kalau mereka tidak ingat alamat rumah kita.” Sehun mencibir.

 

“Haha! Mungkin saja.”

 

Bunyi bel terdengar nyaring memaksa Luhan dan Sehun untuk berlari menuju kelas mereka.

 

……………

 

Bokutachi wa futago dakara

 

“Karena kami adalah kembar.”

 

 

“Ini apa? Cupcake coklat?”

 

“Hm.” Sehun menangguk tanpa mengalihkan perhatian dari layar notebook dihadapannya, pemuda berkulit putih ini telah berkutat dengan benda elektronik canggih itu sejak sekitar 20 menit lalu.

 

“Kau mendapatkannya darimana?” tanya Luhan lagi, kali ini ia terlihat mengendus aroma coklat yang menguar dari kotak ditangannya.

 

“Erika.”

 

“Erika? Siapa?”

 

“Erika Takagi. Murid pindahan dikelas sebelah.”

 

“Dia orang Jepang?”

 

“Begitulah.”

 

Luhan terdiam memandangi kotak imut ditangannya. Terdapat gambar dan tulisan lucu dengan warna yang menarik disana. Feminine sekali gadis yang memberikan benda ini pada Sehun, ia pikir…meski pun belum pernah bertemu dan melihat sosoknya secara langsung.

 

“Aku rasa gadis bernama Erika itu menyukaimu, Sehun.”

 

“Oh ya? Aku juga berfikir seperti itu.”

 

“Lalu?”

 

“Biasa saja.”

 

Mulut kecilnya kembali bungkam. Luhan kembali merasakannya, perasaan aneh yang kerap kali menghampiri hatinya ketika orang lain mencoba menjalin tali kedekatan dengan adik kembarnya itu. Ia memainkan kotak berisi cupcake ditangannya…seraya memikirkan hal-hal random yang membuat seisi kepalanya bagaikan diaduk-aduk dengan brutal. Memang, ini bukan kali pertama Sehun didekati seorang gadis ─atau bahkan laki-laki─ adik kembarnya itu memiliki cukup banyak penggemar, sering mendapat surat cinta dan juga kerap kali difoto secara diam-diam oleh pencari bakat yang berkeliaran dijalan, tidak heran jika esoknya foto Sehun terpampang jelas sebagai ‘Siswa SMA paling menawan’ dalam majalah, urutan pertama.

 

Mengapa?

Luhan sendiri tidak mengerti mengapa hati kecilnya mempermasalahkan hal tersebut.

 

“Kau boleh menghabiskannya. Benda itu sengaja kusimpan untukmu.”

 

“Eh?” Luhan berpaling memandang Sehun yang entah sejak kapan telah menatapnya. Pemuda berparas cantik itu mendengus “Kau tidak keberatan? Gadis itu memberikannya untukmu, bukan untukku…”

 

Sehun menghela nafas dan kembali memutar kursinya menghadap notebook. “Bukan masalah. Kita sudah terbiasa berbagi segala sesuatunya.”

 

Luhan tersenyum tipis. Ia merasa cukup puas, karena Sehun akan selalu mengutamakan kepentingan dirinya.

 

“Thanks.”

 

.

.

.

 

Saat ini jam telah menunjukan pukul Sembilan malam, dan karena udara cukup mampu memancing peluh, Luhan memutuskan untuk tidur hanya dengan mengenakan kaus dalam tipis dan celana training hitam panjang. Ia sudah siap diatas kasur, belum berbaring…pemuda bersurai coklat-madu itu menyempatkan diri menghabiskan waktu dengan bermain Play station Portable-nya.

 

Detik selanjutnya terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, uap air segera mengepul dari dalam sana, disusul keluarnya seorang pemuda tampan tengah bertelanjang dada seraya mengeringkan surai gelap dikepalanya dengan selembar handuk putih.

 

Sehun memandang saudara kembarnya yang bertingkah laku seperti anak sekolah dasar, begitu bersemangat memainkan PSP ditangannya.

 

“Ada sisa pasta gigi disikat gigi-ku. Berhentilah membeli sikat gigi dengan warna dan model yang sama denganku.“ ucap Sehun seraya melempar handuknya ke atas ranjang, bukan masalah…karena malam ini keduanya telah berencana untuk tidur diranjang Luhan.

 

“Maaf. Kebiasaanku…” sahut Luhan tak acuh tanpa mengabaikan PSP-nya sedikit pun.

 

“Cih, seenaknya.” Rutuk Sehun yang mulai melangkah mendekat kemudian menaiki ranjang Luhan. Menempatkan dirinya tepat dibelakang saudara kembarnya yang tengah duduk bersila memainkan PSP.

 

Sehun merengkuh pinggang ramping Luhan erat, dengan kedua tangannya. Luhan mulai kehilangan focus bermain PSP-nya…ujung dagu bangir Sehun menyentuh pundak kanannya, terasa hangat.

 

“Ada apa?”

 

Pemuda berkulit putih nyaris pucat itu tak menjawab. Ia merendahkan tali kaus dalam ditubuh Luhan agar dapat lebih leluasa mengecup pundak lembut kembarannya tersebut.

 

Tanpa perlu melihat langsung, Sehun dapat mengetahui dan merasakannya…kini Luhan tengah tersipu.

 

“…Sehun?”

 

“Aku tidak merindukan ayah dan ibu. Aku tidak peduli mereka akan kembali atau tidak. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus menghabiskan sisa hidupku tanpa kehadiran mereka.”

 

Rasa ketertegunan membuat tubuh Luhan membeku, ia masih memegang PSP-nya meski jemari kecilnya tak lagi bergerak menekan berbagai tombol disana.

 

Kedua orang tua mereka adalah orang yang tak pernah berhenti mengejar karir. Sejak kecil Luhan dan Sehun dibesarkan oleh pengasuh sementara orang tua mereka sendiri sibuk bekerja keberbagai tempat, meninggalkan anak kembar mereka tanpa dapat membedakan yang mana Luhan dan yang mana Sehun.

 

Sehun dan Luhan adalah kembar identik sampai usia 10 tahun, sejak saat itu…mereka tumbuh dengan postur tubuh dan wajah yang berbeda. Dimana Sehun menjelma menjadi pemuda bertubuh tinggi sempurna, rupawan dan merupakan dambaan para gadis mau pun lelaki. Sementara Luhan, ia tumbuh sebagai pemuda berparas manis, bertubuh mungil dan lebih banyak didambakan lelaki ketimbang perempuan…kebalikan dari Sehun.

 

Namun semua perbedaan itu tak mengubah kenyataan bahwa mereka lahir dari satu telur yang terbelah menjadi dua.

 

Luhan tersenyum tipis lalu sedikit menoleh, bermaksud untuk melihat wajah Sehun…ia dapat merasakan puncak hidung Sehun mengenai pipi empuknya.

 

“Aku juga…tidak membutuhkan mereka.” Ucapnya lirih dengan kedua tangan memegang erat tangan Sehun yang melingkari pinggangnya.

 

Dan kemudian Luhan pun sedikit memutar tubuhnya agar ia dapat menatap lekat wajah Sehun, menangkupnya lembut dan mengecup pelan tiap lekuk pahatan indah tersebut.

 

……………

 

Futago wa hitotsu dake kokoro ga aru kara

 

“Karena kembar hanya memiliki satu hati.”

 

 

“Aku ditembak.”

 

“HAH?!”

 

“Maksudku, seseorang menyatakan perasaannya padaku…”

 

“O-oohh…” Luhan mengambil gigitan kedua roti coklat ditangannya, perasaannya tiba-tiba saja menjadi kacau.

 

Keduanya kini tengah berdiri didekat jendela lorong kelas, waktunya istirahat siang namun baik Luhan atau pun Sehun sama sekali tak berniat mendatangi kafetaria sekolah untuk makan siang. Mereka lebih memilih membeli beberapa bungkus camilan lalu memakannya bersama sambil mengobrol dan bersenda gurau. Semua berlangsung wajar seperti biasa, sampai ketika Sehun membuka percakapan perihal seseorang yang menyatakan perasaan kepadanya.

 

Hal yang paling membuat Luhan gundah…adalah ketika seseorang mencoba menjalin tali kedekatan dengan Sehun.

 

Dan kini…

 

“Siapa…orangnya?”

 

“Gadis yang memberiku cupcake coklat beberapa waktu lalu.” Tanpa ragu Sehun menjawab.

 

Luhan menelan rotinya dan menghela nafas “Sudah kuduga. Seperti apa dia?”

 

“Lihat saja…dia ada didepan pintu kelas 3-D, sedang bersenda gurau dengan temannya.”

 

Tanpa bertanya lebih lanjut Luhan segera melayangkan tatapannya ketitik yang baru saja Sehun sebutkan. Tanpa sadar mulut mungilnya sedikit terbuka ketika menemukan seorang gadis yang nampak menawan dengan senyum cerahnya.

 

“Dia Erika, yang mengenakan jepit rambut berbentuk cherry.”

 

Luhan mengabaikan ucapan Sehun dan terus saja menatap lekat gadis bernama Erika itu, gadis yang membuat nafasnya tercekat.

 

Satu kesimpulan terangkai dengan cepat diotaknya…gadis itu…pantas bersanding dengan Sehun.

 

“Bagaimana menurutmu?”

 

“U-uh…itu─”

 

Mulut Luhan berhenti bersuara ketika menyadari bahwa Erika tengah menatap kearahnya, tidak…menatap Sehun lebih tepatnya. Gadis itu tersenyum riang sebelum akhirnya meninggalkan teman-temannya untuk menghampiri Sehun.

 

“Bolehkah aku pergi bersamanya?”

 

“U-uh…yeah, tentu saja…”

 

“Baiklah, sampai nanti kalau begitu.”

 

Gadis itu datang untuk mengajak Sehun pergi bersamanya, entah kemana, ia hanya membisikkan pada Sehun. Tak ada yang dapat Luhan lakukan selain hanya mengangguk dan memberikan jawaban postif, ia tidak sanggup menolak permohonan Sehun…meski dadanya bagaikan disayat secara perlahan.

 

Kini Sehun berjalan bersama orang lain, tertawa bersama orang lain, berbicara dengan orang lain dan bersentuhan dengan orang lain.

 

Sehun…kotor.

 

“Eh, Luhan?” ucap suara nyaring yang membuyarkan lamunannya.

 

“B-Baekhyun?”

 

“Apa yang kau lakukan, jangan diam saja, kau menghalangi jalan…” lanjut Baekhyun seraya menarik Luhan sedikit menepi. Ia sedikit heran karena tak menemukan kehadiran Sehun disekitar pemuda bertubuh mungil tersebut “Dimana Sehun?”

 

“Dia pergi…dengan gadis bernama Erika.”

 

“Eh?! Gadis yang katanya menyukai Sehun itu kah?” tanya Baekhyun memastikan yang segera disambut anggukan kepala oleh Luhan “Gadis yang sangat bersemangat, mungkin sebentar lagi mereka akan segera menjalin hubungan…”

 

Menjalin…hubungan

…kah?

 

.

.

.

 

Sehun belum kembali kerumah, ia tak langsung pulang melainkan pergi ketempat lain, sepertinya…Luhan tak perlu susah payah menerka dengan siapa saudara kembarnya itu menghabiskan waktu, sudah pasti…gadis bernama Erika.

 

Pemuda bertubuh mungil itu tengah duduk dilantai bersandar pada kaki ranjang dan berhadapan dengan televisi layar datar. Kamar mereka cukup besar dengan dua ranjang single dan satu kamar mandi, dilengkapi televisi serta seperangkat personal computer untuk masing-masing, tak lupa sebuah kulkas mini dan dispenser. Tentu saja kedua orang tua mereka selalu mencukupi ─bahkan melebihkan─ kebutuhan keduanya, sebagai ganti kebersamaan mereka sebagai satu keluarga…katanya.

 

Sejak dilahirkan, ia dan Sehun selalu menempati kamar yang sama…mereka menolak tegas ketika ayah dan ibunya hendak memisahkan kamar mereka.

 

Semua sudah jelas…karena mereka kembar, tidak ada alasan untuk tidak bersama.

 

Luhan memeluk erat kedua lututnya. Suasana kamar terasa hampa tanpa kehadiran Sehun, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali ia membatalkan niatan untuk menghubungi ponsel Sehun, Luhan merasa ia tak memiliki alasan yang kuat, toh nanti Sehun juga akan pulang…ia hanya perlu menunggu, meski rasanya tak sanggup lebih lama lagi menunggu.

 

Terdengar suara terbukanya pintu.

 

Sosok pemuda tampan berkulit seputih salju segera didapatinya berdiri diambang pintu ketika Luhan menoleh, Sehun…masih dalam seragam lengkapnya serta tas ransel yang menggantung hanya dipundak kanannya saja.

 

Sehun tersenyum lembut, namun Luhan membalasnya dengan tersenyum masam.

 

“Kau belum tidur?” tanya Sehun selagi menutup pintu lalu meletakan tas ranselnya diatas meja belajar.

 

“Ung.” Luhan mengangguk lalu kembali menatap televisi “Aku masih ingin melihat acara di televisi…”

 

Kening Sehun berkerut, sejak kapan Luhan suka menyaksikan acara stand up comedy? pikirnya…lagipula saudaranya itu sama sekali tidak tertawa dan malah menatap kosong siaran tersebut. Merasa ada yang aneh, pemuda rupawan itu memutuskan untuk menghampiri Luhan…tepat duduk dihadapan saudara kembarnya tersebut. Luhan sama sekali tak protes meski pada kenyataannya Sehun menghalangi pandangannya pada televisi.

 

“Tolong lepaskan dasi seragamku.” ucap Sehun seraya menarik kasar dasi yang melingkar dilehernya.

 

Luhan terdiam beberapa saat, matanya berkedip beberapa kali membuat Sehun tersenyum tipis…sebelum akhirnya ia mendesah lalu melepaskan dasi seragam Sehun dengan gerakan lembut.

 

“Kau memikirkan hubunganku dengan Erika?” tanya Sehun seolah dapat membaca pikiran Luhan.

 

Kedua pipi putih Luhan segera diresapi rona kemerahan, tanpa sadar ia menggenggam erat dasi seragam Sehun ditangannya.

 

“U-uh…”

 

Sehun tertawa kecil “Sudahlah, tak perlu kau katakan pun…aku dapat menebak seluruh isi kepalamu.”

 

“Yeah, selalu dan akan selalu seperti itu.” ujar Luhan seraya mendudukan diri ditepi ranjang disusul oleh Sehun yang melakukan hal serupa. “Aku hanya cemas, bodoh! Kau pergi tanpa memberi kabar…”

 

“Lalu mengapa kau tidak menghubungi ponselku saja?”

 

“Heh~ Ha-hal itu tidak terpikirkan olehku!” kilah Luhan yang gugup mengucapkan kebohongan.

 

“Oh ya? Padahal aku sangat berharap kau menelponku, menanyakan keberadaanku juga memintaku segera pulang.”

 

Rona kemerahan segera kembali meresapi pipi putih Luhan, kali ini disertai debaran jantungnya yang berpacu cepat layaknya bom waktu…melihat senyum lembut diwajah saudara kembarnya itu ketika ia mengutarakan harapannya.

 

Luhan meneguk liur-nya beberapa kali. Bibirnya terasa kelu dan kamus kata-kata dikepalanya bagaikan lenyap begitu saja.

 

‘Aku tidak suka gadis itu. Jangan berdekatan dengannya. Jangan bersentuhan dengannya dan jangan pergi bersamanya.’

 

Luhan mendengus seraya memalingkan wajahnya “Jangan bicara gombal pada kakakmu sendiri! Cepat mandi dan segeralah tidur!” hardiknya sebelum menarik selimut dan merebahkan diri diatas ranjangnya sendiri.

 

“Ya, baiklah…kakak.” sahut Sehun disertai nada meledek. Pemuda yang bertubuh lebih tinggi dari saudara kembarnya itu kemudian melepas seragam ditubuhnya dan menyampirkannya pada sandaran kursi belajar.

 

Luhan terdiam seraya berlindung dibalik selimutnya, ia meneguk liur berkali-kali…tak sanggup lagi menahan diri hingga akhirnya ia mengeluarkan suara “Bagaimana…hubunganmu dengan gadis i─”

 

“Ah, benar juga! Itu yang ingin kutanyakan padamu!”

 

“Eh?” Luhan sedikit menjauhkan kepala dari bantal agar dapat memandang Sehun.

 

“Bagaimana menurutmu? Apa aku harus menerima perasaannya?”

 

“Kau menyukainya?”

 

Sehun terdiam dan mengulum senyum, ia melangkah menghampiri Luhan dan duduk ditepian ranjang…dalam keadaan hanya mengenakan kaus dalam, karena baru hanya kemeja dan jas seragamnya saja yang ia lepas.

 

“Aku…tidak yakin. Tapi jika menurutmu gadis itu baik, akan kupertimbangkan untuk menerima perasaannya.”

 

Benar…

Sehun memang selalu mendahului dirinya diatas segalanya. Ia bahkan tidak yakin akan perasaannya dan meminta pendapat Luhan lebih dulu.

 

Namun akan sampai kapan hal ini terus berlanjut?

Bukankah kelak, mereka akan menyusuri jalan yang berbeda?

 

“Dia gadis yang baik, sepertinya. Selalu tersenyum, ceria dan bersemangat. Dia juga sangat menyukaimu.” ucap Luhan lirih karena menahan rasa tak nyaman dihatinya. Ia kembali meletakan kepalanya diatas bantal dan menghadap kearah yang berlawanan dengan posisi Sehun duduk “Sehun…cobalah…menjalin hubungan dengannya…”

 

……………

 

Dare ni mo bokutachi wo jama dekinai

 

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengusik kami.”

 

 

Jika Luhan mengatakan bahwa bentuk bumi adalah kubus, maka Sehun berpendapat sama.

Jika Luhan mengatakan bahwa gula itu pahit rasanya, maka Sehun akan berpendapat sama.

Jika Luhan berkata bahwa salju itu panas, maka Sehun akan berpendapat sama.

 

Bahkan untuk hal dengan tingkat kesalahan paling fatal sekalipun, Sehun akan tetap menganggukan kepala sambil tersenyum.

 

Sehun akan selalu berkata ‘Ya’

Sehun akan selalu berkata ‘Benar’

Sehun akan selalu berkata ‘Boleh’

 

Maka disinilah Luhan sekarang, memandang dikejauhan ketika Sehun tengah memulai tali kedekatannya dengan gadis asal Jepang bernama Erika. Ia bersentuhan dengan gadis itu, tersenyum kepada gadis itu dan tertawa bersama gadis itu. Sehun melakukan segala yang Luhan katakan…termasuk untuk menerima perasaan Erika meski Luhan sendiri menyadari bahwa Sehun masih ragu akan hatinya.

 

Luhan hanya merasa…jika ia berkata ‘Jangan’ ketika itu…

Ia tak ubahnya bagai seonggok batu hambatan.

 

Dilorong kelas yang sepi, ketika pelajaran telah usai dan seluruh siswa meninggalkan sekolah…Luhan berusaha untuk menyaksikan, berusaha untuk memetik sebuah…sebuah saja kebahagiaan dari senyum Sehun yang ditujukan bukan untuk dirinya.

 

Namun buah yang seharusnya terasa manis itu, tetap saja terasa pahit dihatinya…karena Sehun tidak membagi kebahagian kepadanya, melainkan kepada gadis itu.

 

Luhan hanya mampu berbalik dengan hati sesak, ketika gadis itu dan Sehun berciuman.

 

Ia tak sanggup melihatnya.

 

.

.

.

 

Hari ini giliran dirinya yang pulang terlambat, nyaris mendekati waktu tidur. Luhan dengan gontai melangkah menuju kamar tidurnya dilantai dua. Ia merasa sangat lelah, setelah seharian berkeliaran ditengah kota tanpa tujuan yang jelas…namun jelas dengan maksud menghibur diri.

 

Apa yang akan ia lakukan jika bertemu Sehun nanti?

Apa yang akan ia katakan jika nanti saudara kembarnya itu bertanya perihal kondisinya yang menyedihkan ini?

 

Luhan hanya mampu menghela nafas berat dan membuka pintu kamarnya.

 

“Sudah pulang?”

 

“Ng?” dengan lesu Luhan mengangkat kepalanya dan langsung berhadapan dengan Sehun yang baru saja meninggalkan kamar mandi.

 

Pintu kamar mandi dan pintu kamar memang berdekatan jaraknya. Ia memandang Sehun sejenak, pemuda berkulit putih nyaris pucat itu sepertinya baru saja selesai mandi, tubuhnya hanya tertutupi sehelai handuk merah sebatas pinggang hingga lutut, sementara surai darkbrown-nya terlihat basah hingga beberapa tetes air terjatuh dari ujung surai dikepalanya.

 

Wangi maskulin yang segar dan terkesan dewasa. Sehun memang menggunakan sabun mandi yang berbeda dengannya.

 

Sekali lagi…Luhan hanya menghela nafas “Ng…yah, begitulah.” ucapnya lesu, ia melempar tas ranselnya kesembarang tempat dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja diatas ranjang.

 

“Apa apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Sehun pada Luhan yang menenggelamkan wajahnya pada bantal.

 

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

 

Kali ini giliran Sehun yang menghela nafas. Tak perlu memeras otak untuk menyadari bahwa saudara kembarnya itu kini tengah merasa tertekan, entah mengapa hati Sehun pun turut merasa tak nyaman jika melihatnya.

 

Sehun menyentuh punggung Luhan “Apa yang terjadi? Aku tahu kau tidak berkata jujur, Luhan. Sebenarnya apa yang─”

 

Dengan kasar, Luhan menepis tangan Sehun.

 

“Jangan sentuh aku!!” jeritnya dan menatap kembarannya itu nyalang.

 

‘Jangan sentuh aku! Aku tidak mau bersentuhan denganmu karena kau telah bersentuhan dengan gadis itu! Itu menjijikan!’

 

Suasana bagai membeku, meski udara tak terasa dingin sama sekali. Luhan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan, pertama kali dalam hidupnya ia memperlakukan saudara kembarnya dengan kasar. Kedua matanya yang melebar itu berbenturan langsung dengan mata Sehun yang menampilkan hal serupa, terliputi keterkejutan dan ketidakpercayaan.

 

Sial, tidak, ini tidak benar. Semua kacau. Apa yang terjadi sebenarnya? Dunia apa ini…mengapa ia merasa terpisah jauh dari Sehun?

 

Luhan menundukan kepala, hingga helaian poni rambutnya menutupi mata…tak perlu ia berucap banyak untuk menunjukan penyesalannya pada Sehun “A-aku mau mandi…”

 

Langkahnya masih gontai ketika ia meninggalkan ranjang. Tubuh yang tak seimbang itu akhirnya jatuh tersungkur kelantai, menimbulkan bunyi debuman yang menggema keseluruh penjuru kamar. Pemilih tubuh limbung itu tak langsung berdiri, ia terdiam sebentar membiarkan rasa dingin meresapi pori-pori kulitnya. Kepalanya terasa sakit dan pening…sinar lampu dilangit-langit begitu menyilaukan ketika menatapnya langsung dengan mata dalam waktu lama.

 

Luhan menutup kedua mata dengan lengannya.

Sial, ada apa dengan dirinya?

Tak sepatutnya ia menyakiti Sehun…seseorang yang merupakan dirinya yang lain.

Belahan jiwanya. Kepingan hatinya.

 

“Luhan.”

 

Sang pemilik nama membuka matanya perlahan dan ia terkejut luar biasa kala mendapati wajah Sehun yang begitu dekat dengan penglihatannya.

 

Luhan memberontak. Ia bersikeras menyingkirkan Sehun dari atas tubuhnya, atau setidaknya menjauhi saudara kembarnya tersebut. Sehun yang mengetahui isi pikiran Luhan, telah lebih dulu mencekal kedua tangannya dikedua sisi kepala. Luhan sempat meringis pilu sesaat, membuat Sehun turut merasa sakit.  Namun hal itu tak membuat Luhan menyerah untuk menjauhi Sehun…ia meronta, meraung dan menjerit sekuat tenaga. Membuat Sehun cukup kewalahan…bukan karena kesulitan atau masalah kekuatan.

 

Karena…Luhan menolaknya…belahan jiwanya itu menolak dirinya.

 

“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan gadis itu…jika memang hal itu yang kau harapkan.”

 

Jeritan penolakan itu berhenti. Luhan mulai tenang meski nafasnya terengah…namun kedua matanya terselimuti rasa ketertegunan.

 

Lagi-lagi Sehun…menomorsatukan dirinya.

 

“Ja-jangan bercanda…hubungan kalian bukan seperti waktu sekolah yang dimulai pagi hari dan berakhir pada sore hari.”

 

Sehun menambah kekuatan cengkramannya terhadap tangan Luhan…sang pemilik terdengar mengerang pilu “Aku tidak peduli.”

 

“Kau harus peduli pada kekasihmu…”

 

“Aku tidak peduli pada orang lain! Aku hanya peduli padamu!”

 

Seruan Sehun cukup mampu membuat Luhan tersentak. Terkejut. Tertegun. Tidak percaya. Ia, sebenarnya…sangat ingin bersuka cinta akan hadirnya rona merah muda yang menjadi warna baru memperindah parasnya. Namun sekali lagi, ia mempertegas diri…ia tidak boleh egois, ia dan Sehun memang kembar…tapi bukan berarti mereka akan terus bersama.

 

Akan tiba saatnya dimana Sehun harus berjalan kearah utara sementara dirinya kearah selatan.

Akan tiba saatnya dimana Sehun harus memilih hitam sementara dirinya memilih putih.

Akan tiba saatnya dimana Sehun harus terbang kelangit sementara dirinya bertahan diatas tanah.

 

Dan saat itu…adalah sekarang.

 

“Tidak. Jangan…” ucap Luhan lirih. Ia menatap Sehun sendu…dengan kedua matanya yang telah ternodai serpihan kaca bening “Kita harus berhenti bersikap egois, Sehun…”

 

Kata Luhan yang membuat Sehun merasa lemah. Luhan menolaknya kedua kali…

Mereka satu jiwa…apa salahnya?

 

“Mengapa tidak boleh bersikap egois? Selama ini kita terus bersikap egois terhadap orang lain…sejak dulu aku tidak pernah menganggap siapa pun didunia ini kecuali dirimu. Aku tidak peduli akan penderitaan orang lain selama kau bahagia, Luhan. Mengapa sekarang harus berhenti? Mengapa kini semua harus berubah?”

 

Paras Sehun terlihat seperti tengah menahan sakit. Luhan paham meski tubuh pemuda itu baik-baik saja…namun tidak dengan hatinya. Ia dapat merasakannya…urat syaraf dan pembuluh darah ini saling terkait.

 

“Kita tidak akan bahagia jika hidup terpisah. Kita tak kan pernah sampai ketujuan jika menyusuri jalan yang berbeda. Aku tidak akan memilih hitam jika kau memilih putih. Jika aku malaikat dan kau tetap manusia, akan kupatahkan sayapku agar kaki ini dapat terus berpijak diatas tanah. Kau tahu mengapa?”

 

Luhan terdiam…namun meski begitu Sehun mengerti akan jawaban negatif yang tengah dipikirkan saudara kembarnya itu. Pemuda berkulit putih nyaris pucat itu tersenyum lembut.

 

“Karena kau adalah aku, aku adalah kau. Karena kita kembar. Kembar hanya memiliki satu hati. Tidak ada seorang pun yang dapat mengusik kita.”

 

“Tapi…bagaimana dengan…”

 

Sehun tersenyum lalu membelai lembut sebelah pipi Luhan dengan punggung jemari kokohnya.

 

“Aku memang menyukai Erika…tapi aku jauh lebih menyukai dirimu…”

 

……………

 

Kore wa koi janai, dakedo sore yori wa motto

 

“Ini bukanlah cinta, melainkan lebih dari itu.”

 

 

Kedua kalinya Luhan berada dikoridor kelas ketika sekolah benar-benar telah sepi, bagaikan deja vu atau roll film yang rusak dan menampilkan kejadian sama berulang-ulang. Ia berdiri dikejauhan, memandang Sehun dan calon mantan kekasihnya kini tengah membicarakan sesuatu yang telah lebih dulu ia bicarakan bersama Sehun.

 

Detik selanjutnya Luhan mendengar gadis itu meraung seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Sehun hanya terdiam, tak menenangkan mau pun melakukan sesuatu sebagai bentuk penyesalan hati

 

Luhan meneguk liurnya paksa. Sehun berkata…tidak ada ruang kosong diantara kita, jika ada seseorang yang bersikeras ingin menempatinya, buat dia mengerti agar mengenyahkan diri dengan suka rela.

 

Tidak apa menjadi egois…selama ia dan Sehun akan terus bersama.

 

Luhan terbelalak ketika menyadari bahwa gadis itu tengah melayangkan tangan hendak menyarangkan tamparannya kewajah Sehun, namun sebelum hal tersebut sempat terlaksana…ia telah lebih dulu melesat maju dan mencegahnya.

 

Dengan tatapan penuh amarah…Luhan berkata.

 

“Jika kau melukai Sehun…aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”

 

Wajah gadis itu berubah pucat dengan cepat…ia bagaikan seekor anak ayam yang sebentar lagi akan binasa disantap hewan buas.

 

“Pergilah.” ucap Sehun dengan tenang. Detik selanjutnya gadis itu pergi seraya menangis tersedu-sedu.

 

Kini mereka kembali hanya berdua…seperti semula, seperti seharusnya dan memang sepatutnya demikian.

 

“Sekarang, akan kulakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu…”

 

“Huh? Apa maksudmu?”

 

Sebelum terjadi pembicaraan lebih lanjut, Luhan segera berjinjit dan menarik kerah seragam Sehun, mendekatkan wajah mereka dan mempersatukan bibir kecilnya dengan bibir merah diantara hamparan kulit putih nyaris pucat tersebut.

 

Semua kata terkunci rapat dalam penyatuan kecil mereka. Kedua belah bibir masing-masing saling memanja pasangannya…saling menyalurkan perasaan dan berbagi kehangatan.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sehun ketika mereka menghentikan sejenak penyatuan kecil tersebut untuk bernafas bebas.

 

“Membersihkanmu dari sentuhan gadis itu.”

 

Dan Luhan memulai kembali kegiatan manis yang beberapa detik lalu juga mereka lakukan. Sehun tersenyum ketika dengan sengaja ia membiarkan lidah Luhan agar berhasil memasuki rongga mulutnya

 

“Bersihkanlah sesukamu, kalau begitu…”

 

……………

 

Papa to mama ni ‘oyasumi’ wo itte, heya ni haite, denki wo keshitte…soshite yume wo miro.

 

“Ucapkan selamat tidur pada papa dan mama, masuklah kekamar, matikan lampu…dan bermimpilah.”

 

 

Sungguh menyenangkan ayah dan ibu pulang hari ini meski hanya untuk satu malam saja karena keesokan harinya, mereka harus segera bertolak ke Australia untuk pekerjaan lainnya.

 

Tentu saja ini adalah hal yang membahagiakan dihati Luhan dan Sehun. Hanya seperti itu, tidak lebih dan tidak memberikan kesan berarti bagi keduanya. Ada tidaknya ayah dan ibu mereka, semua sama saja…tidak ada sedikit pun yang berubah. Mereka tetap jarang berbicara satu sama lain dan sekalinya berbicara pun…selalu saja menggunakan bahasa formal, layaknya mitra bisnis. Seperti itulah mereka, anak mereka yang sesungguhnya adalah kerajaan bisnis dan uang mereka yang terus berkembang biak dibank.

 

Bahkan dimeja makan, tempat dimana seharusnya sebuah keluarga menjalin kedekatan dan kehangatan satu sama lain…masalah bisnis dan pekerjaan selalu menjadi topik utama.

 

Sehun dan Luhan makan dengan tenang, lebih menarik memerhatikan makan malam mereka ketimbang saling bertatap muka dengan kedua orang tua mereka yang kini mulai mencela dan merendahkan rekan bisnisnya.

 

“Kami selesai. Terima kasih atas makanannya.”

 

Setelah berkata demikian secara bersamaan, tanpa direncanakan dan tanpa dipikirkan terlebih dahulu, Luhan dan Sehun segera bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Perbincangan kedua orang tua mereka mengenai bisnis masih terus berlanjut ketika itu.

 

Sepasang anak kembar itu hanya terus melangkah menuju kamar mereka…bersama.

 

 

 

 

 

“Aaah~ akh…” desah Luhan pilu ketika Sehun mulai memasuki dirinya.

 

Posisi mereka kini berada dalam satu tempat, Sehun diatas dan Luhan dibawah…tentu saja, ukuran tubuh dan kekuatan jelas menjadi faktor utama untuk menentukan siapa yang lebih dominan…sudah jelas Sehun lah sang dominan.

 

Setetes bulir air mata mengalir dari sudut mata indah Luhan dan Sehun menjilatnya dengan penuh kehati-hatian.

 

“Ke…kenapa aku yang…hh~ se…lalu dibawah…?” ucap Luhan dengan susah payah seraya meremas kuat-kuat seprai alas tidurnya.

 

Sehun tersenyum penuh arti dan terus memperdalam penyatuan tubuh mereka, Luhan terpekik merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Sampai pada puncak kenikmatan duniawi…untuk kedua kalinya Luhan menangis. Dengan mata berair yang indah seperti danau dikala malam bertabur cahaya bintang, ia menatap Sehun sendu.

 

Pemuda berkulit putih pucat yang kini dipenuhi peluh itu membelai salah satu pipi Luhan dengan ujung jemari kokohnya, ia tersenyum lembut.

 

“Bukankah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya?” dan kemudian mengecup kening sang belahan jiwa “Aku menyayangimu, Luhan.”

 

 

………

……

 

“Kau salah!”

 

“Aku bukan Luhan!”

 

“Aku bukan Sehun!”

 

“Siapa yang kalah…

 

…harus pergi selamanya dan jangan kembali!”

 

 

~OWARIMASHITA

 

Maaf kalau ada bahasa jepang yg kacau atau ga sesuai arti…saya masih belajar soalnya~ hehe!

 

Kalau ada kejadian atau bagian lain yg mirip dengan cerita lain…mohon maaf juga sebesar-besarnya, itu sama sekali ga sengaja. Mungkin saya ga sadar kalo udah terinspirasi sama karya tulis orang lain.

 

Sekian!

 

TERIMA KASIH!

 

 

143 thoughts on “HUNHAN | ONESHOOT| Futago: Synchrone

  1. Wewww.. Kereeennnnnnn… Suka banget dah..

    Hunhan Ў∂πğ kek gini aku demen hahaha..

    Incest yah.. Menarik banget..

    Author disini tulisannya bagus semua.. Penuh perasaan bikinnya..

    Daebaakkkk…

  2. Wih keren banget. Aku suka alurnya, keren sumpahhhhhhhhh. Feelnya dapet banget. Penulisannya juga aku suka baanget<3 apalagi castnya Hunhan:$ wkwk. Daebak.

  3. pertama bca ternyta hunhan kembar.
    si sehun demi apa die slalu nurutin kemauannya luhan….
    auka bgt ma alur n jln crtanya… 😄 …
    aplgi disi2pi chanbaek pas adgn aneh gitu…
    kyaa si luhan agresif ua nyium2 sehun…
    crta yg kren bgt thor

  4. hahaha, emaaaak anakmu barusan baca apa ini mak -___,,,,,,,———
    ini……… ini……… ah pokoknya waktu liat sedikit kalimat “akh”nya Luhan langsung pause baca. “anjir beneran kejadian ternyata”

    aku mau muji cuma aku emg gak bisa muji dgn benar sesuai EYD -_-v tapi sejujurnya ini bagus bangeeeeeettttt. Temanya, alurnya, tokohnya, cara penyampaiannya, rasaya gak ada yang kosong di cerita.

    ah… sudahlah commentnya, mau baca ulang bagian akhirnya lagi /langsungdigampar. ahahaha😄

  5. Keren..hmm..hebat..bagus..
    Kenapa adegan terakhirnya ga ngambil dari awall??aihh..kasian luhan harus berada dibawahh..hhh..okelahh..ffnya keren tapi kalo untuk main castnya hunhann..i would sayyy..i lop youuu..(?)
    terus berkarya semuanyaa..terimakasih atas penyajian hiburan inii~

  6. Alamak! Makin ngeshipper-in mereka. Sweetnya susah diungkapin dgn kata2(?)
    Yang pasti sehun suami saya /bawa kabur sehun/
    Banyakin ff hunhan ya thor.

  7. Kyaaaa bagus bangeeetttttt;____; kawai ini ceritanya, bahasanya, penulisan katanya, feelnya ada, bener2 kyk cerita jepang><

  8. Ini ke-2 kalinya gw baca ini FF. Astogeeeh tetep seperti biasa. Gegulingan xD Sumpah thor, ini FF Incest termanissssssss yang pernah gw baca T^T Typo nya juga hampir kaga ada😀 Daebak pokoknyaaa !!!❤

  9. sempat shock karna gak nyangka kalo hunhan tuh sodara kembar,,, alurnya keren banget!!! aku paling demen nih kalo incest🙂 hehehe //plakk
    paling suka karakter sehun yang keren! sosok calon suami yang baik di masa depan //plakk #apadeh
    nice ff!!! keep writing yah~
    FIGHTING!!!! 😀

  10. woah, keren banget demi apa sumpah ._.
    Incest ya Incest, tapi entah kenapa aku malah mewek ._.
    HunHan, oh~ Sehun yang selalu mendahulukan Luhan ketimbang yang lain nya. dan Luhan yang selalu mengalah demi adiknya Sehun meski harus melukai dirinya sendiri. huaaa~~ Daebakk!! :’)
    keren! demen banget sama FF HunHan yang beginian. selain itu, bahasa, penyampaian nya, alurnya juga keren banget! nge-feel sekali. ah~ entahlah, masih banyak lagi ke-keren-an(?) FF ini. dibaca berkali-kali pun rasanya tetep sama. intinya NICE FANFIC! Keep Writing Author ^^

  11. cerita ini maniss asem pahit kaya nano nano!~ sehun luhan klo jadi brothership pasti gak nyambungg… karena bawaan mereka selalu romanceee kekekeke~~
    almost, penulisan cerita rapi dan gak berbelit2 walaupun ini kek nyeritain antar perasaan ke perasaan jdo bukan cuma langsung diceritain begitu doang (bhs saya membingungkan) -_-
    tapi i likee itttt yehet!

  12. Ff pertama yg buat aku nangis hebatttt (y) itu akhirnya mereka ngelakuin itu ya kan saudara masa gitu” sih.-.

  13. Uwo…bagus bingitzz*ketularan sinetron*oiya mo nanya..kagamine kyoudai itu siapanya kagamine len&kagamine rin?

  14. woaaaah kereeen bgt, tulisan author keren2 deh, cerita nya keren, bahasa dan penyampaiannya juga bagus bgt kalem dan ngfeel bgt deh pokoknya..suka suka sukaaaaa. Terus berkarya ya author, sukses terus😄

  15. astagaaaaa ini keren banget..sumpahh. penulisan nya ak suka bangett. rapi dan mendalam. ngefeel banget..daebak deh xD
    smut nya kurang thor..wakakakk keliatan banget mesumnya xD
    oke fighting thorr😀

  16. Wahhhh kerenn nihh ^^
    Ini ff x ringannn bngtt.. Tapi enak di baca.. Apa lg ada selipan bhs jepang x^^ aq seneng baca x.. Soal x papa q jg org jepang asli.. /gak ada yg nanyak\ aq suka x anime narutoo.. Hahahah (‾⌣‾”٥) nice ff!!!!

  17. keren….. jdi inget teman yg juga kembar…miriiippppp bngt,bhknkdng guru sring salah nyebut nama mereka…
    keep writing….. hwaiting
    ikke..ikke… hyobin
    *teriak pke toa dan seragam cheerleader

  18. telat sih bcnya…tpi….. its daebakkk thor….aku udah nonton animenya thor…. si kembar hitachin itu orangnya ada yg iseng,ada yg pendiam…. mereka juga menjalin hubungan “saudara yang terlarang” hehehehe,,,,

  19. “Siapa yang kalah…harus pergi selamanya dan jangan kembali!”
    Apa maksudnyaaaa ??? aaaa HunHan unyuuu.. tapi kenapa dri kmren aku baca ff yaoi yg ada anunya mulu yee?? aigooo ternodai :3.Keren thor keren!

  20. Waaaa.,… kerennnn!!! HunHan n Author daebak!!! seru banget!!! apalagi bahasa jepangnya, dulang ulang mulu bacanya.. apalagi yang ” papa to mama ni ‘oyasumi’ wo itte, heya ni haite, denki wo keshitte,….. soshite yume wo miro “. itu aku suka banget!! thanks ya author, jadi banyak belajar bahasa jepang deh… lumayanlah… selain kpopers juga otaku… kkkkk~

  21. Author-ssi. FF ini udah di repost sama salah satu akun di Wattpad, dan kayaknya memang tanpa izin dari author sendiri. Aku disini mau ngasih tau karena aku menghargai karya author disini, makanya aku ngelaporin kalo ff ini udah di Repost oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau mau tau, silahkan cek di akun @Zee_moe di wattpad.

  22. Huaaahhh cuman satu kata thor,, daebakkk. Aku suka bngt sma gaya penulisannya author. Ceritanya sweet bngt. Keep faighting for writing thor. Jadi pengen nonton animenya😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s