TAORIS FF | BELOVED Part 7

Publised: 3 AGUSTUS 2012

Updated: 19 MEI 2013

 

EXO KAMBEEKKKK ULALALA UYEEYYYY!!! MAMAMAMAMA TURN BACK!! #apalah! *maaf masih heboh! Ayo exostan, penantian kita selama ini sudah terbayar~ (makanya jgn ikut fanwar g penting yah ^^)

HAY! Hyobin minta maaf (lagi dan selalu) ini FF ngandat amat yak. Tapi ini CHAPTER BELOVED TERPANJANG yang pernah aku buat. Soalnya ini chapter rame bgt =_= KaiSoo ada, ChanBaek ada, HunHan juga nyempil walau dikit #plak Apalagi KrisTao ama KaiTao yang sudah gerah *digebukin Kris diranjang #EH

P.S: FREELANCE buka lagi setelah aku UAS! Doakan IP saya diatas 3,5 yah TAT #minta restu dulu. Ini ff terakhir yang aku post ampe aku selesai UAS. HWAITING!!!

 

 

BELOVED

Author : Kim Hyobin a.k.a Rana Nabila

 beloved

 

TAORIS FANFICTION

Cast : Wu Yifan / Kris – Huang Zitao

Pair : KrisTao / TaoRis

Other : Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Do Kyungsoo – Lu Han – Oh Sehoon / Sehun – Kim Jongin / Kai

Other Pair : Baekyeol / Chanbaek –  HunHan – ChanSoo/ ChanDo – KaiTao

GENRE: SMUT IN THIS CHAPTER, School Life, Drama , Romance

Disclamer : EXO belong to SMEnt and EXOstan, but THIS story is MINE! *etapi Chanyeol milik saya *tabok saja saya tabok!

Words: 10.697

 

Warning : YAOI / BL / Boy x Boy

 

PLAGIAT! GINI AJA DEH! NGAPAIN LO NAMBAH DOSA BUAT MASUK NERAKA KARENA NYURI FF JELEK ABAL ALAY PUNYA GUE? SUDI LO MASUK NERAKA GEGARA PLAGIAT FF ALAY GUE? DOSA UDAH BEJIBUN, PERBANYAK PAHALA AJA!

 

 

Don’t LIKE ? Don’t READ , Don’t TOUCH !

 

 

 

Tangkap aku..

Jika memang disaat itu kau berhasil menangkapku

Aku akan menjadi milikmu selamanya

 

 

Part 7

 

 

Tao Point of View

 

Kris ge jahat! Dia benar- benar jahat sekali! Apa maunya jika ia memang tahu sejak awal? Aku menahan semuanya untuk dirinya. Aku menahan perasaanku agar terus bersabar atas ulah Kai untuk dirinya. Semua untuk dirinya.. aku merasa dibodoh- bodohi. Sungguh…

 

Oh Tuhan, untuk apa aku menahan semuanya?

 

Untuk apa aku membiarkan Kai menyentuhku?

 

Membiarkan Kai mengikat hubungan denganku karena masa laluku yang Kris ge… ketahui dengan jelas. Ini konyol! Tentu saja konyol.. Jika Kris ge mengatakannya jauh lebih cepat, aku tidak perlu melakukan semua ini, bukan?   

 

Aku melakukan semua ini untuk Kris ge!

 

 

 

Puk

 

Sial, aku hanya bisa berhenti berlari dan duduk ditaman bermain ini. Aku sungguh bodoh! Aku sungguh..

 

 

 

Tapi…

 

 

DEG

 

 

Ini salah.

 

 

Aku tidak bisa menyalahkan Kris ge.

 

 

Tidak! Tidak!

 

 

Demi Tuhan.. Apa yang telah aku lakukan?

 

 

 

 

Normal Point of View

 

Tao terduduk disalah satu ayunan taman bermain. Dia duduk disana menunduk dalam dengan mata memerah. Dia tidak menangis lagi. Dia sudah lelah menjadi anak yang cengeng. Ia selalu berusaha berubah, menangis.. dulu ia sangka dengan menangis ia bisa lega. Dengan menangis ia bisa lepas.. akan tetapi kini menangis malah membuatnya terlihat lemah dan menyedihkan. Ia ingin menjadi Tao yang kuat! Tao yang bisa mempertahankan dirinya. Namun…

 

“Ugh..” Tao kembali menangis, sesegera mungkin ia mengusap pipi merahnya. Ia benci mengetahui kenyataan bahwa ia masih saja Tao yang cengeng. Tidak berubah walau ia sudah hidup nyaris 17 tahun lamanya. Sudah sangat sering ia ingatkan bahwa dirinya adalah seorang laki- laki. Tapi tetap saja… Sifat cengeng dan suka menangis itu sangat sulit hilang.

 

“Ugh.. Mama… Papa..” Bisik Tao lirih sekali. Miris, selalu.. tiap Tao merasa sedih ia akan mengingat ibu dan ayahnya. Dia dibesarkan oleh kasih sayang penuh kedua orangtua nya sebelum.. semua cobaan mengambil kedua orangtua Tao. Dalam usia yang cukup muda, anak semanja Tao harus menjalani kehidupan keras seorang diri. Awalnya sulit bahkan ia rasanya ingin bunuh diri sewaktu itu. Tetapi… Tao tahu bahwa ia bukan pengecut. 

 

Dia akan menjadi Tao yang kuat!

 

 

“Need some help?”

 

 

Suara berat menghentikan tangisan Tao ketika ia melihat seseorang berdiri dihadapannya. Ia dongakkan wajah, menatap seseorang yang amat ia kenal. Seseorang yang tengah tersenyum menenangkan dan mengusap wajah basah Tao sekilas.

 

 

“Chanyeol..hyung…” Tao malah menunduk setelah tahu siapa yang datang.

 

 

Chanyeol ikut duduk disalah satu ayunan kosong, tepat disamping Tao. Senyuman tipis menghiasi wajah tampan Chanyeol.  “Hey.. Aku langsung berlari dari toko aksesoris karena melihatmu berlari sambil menangis. Kau tahu, Kyungsoo pasti akan membunuhku jika kami kembali bertemu nanti.”

 

Tao mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangan pada Chanyeol. “Kalau hyung sedang bersama Kyungsoo-hyung.. Mengapa mengejarku?”

 

Chanyeol tertawa pelan dan mengusap kepala Tao seakan pemuda itu seekor anak anjing yang menggemaskan. “Begini Mr. Huang Zitao.. Kau adalah orang yang amaaaatt disayangi oleh sahabat baikku. Jika aku melihatmu menangis seperti ini.. Tentu aku mengkhawatirkanmu.” Jelas Chanyeol memamerkan gigi rapihnya.

 

“Sahabat baik.. Hyung?”

 

“Haruskah aku sebutkan namanya dengan jelas?”

 

Tao kembali menunduk dan menggenggam erat rantai ayunan. “Kris… Ge..ya?”

 

 

Diam sejenak. Hanya angin dan keheningan yang menguasai keadaan dua pemuda itu beberapa saat. Hingga terdengar desahan pelan dari si tampan.

 

“Apa yang membuatmu ragu, Zitao?” tanya Chanyeol tanpa basa basi.

 

 

“Aku tidak ragu!” Jawab Tao tegas.

 

 

Mengerti sekali apa yang dimaksud oleh Chanyeol. Pasti semuanya menyangkut tentang Kris, bukan? Chanyeol amat menyayangi Kris karena mereka sudah bersahabat sejak usia mereka amat muda. Mungkin sejak didalam kandungan ibu mereka, Kris dan Chanyeol sudah berteman. Keluarga mereka juga menjalin hubungan baik. Apalagi ayah dan ibu Kris dengan ayah dan ibu Chanyeol, mereka berteman sejak masih bersekolah.

 

“Lantas?” Tanya Chanyeol lagi.

 

“Aku hanya merasa ditipu.. Ini konyol..hyung..” Si panda bergumam lirih.

 

Chanyeol mengusap rambut Tao lembut. Kini  mereka bertatapan dan betapa tampannya wajah Chanyeol dengan senyuman penuh kharisma dan kasih sayang seperti itu. Tao jadi mengerti mengapa Kyungsoo begitu sulit melepas Chanyeol. Pemuda tampan berparas jenaka tersebut memiliki pesona luar biasa.

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dengan Kris..” Mulai Chanyeol. “..tapi Zitao, kau harus tahu. Aku tidak pernah melihat Kris yang seperti ‘Kris’ jika sedang bersamamu. Kris yang begitu berbeda, hidup, dan punya satu tujuan. Yaitu… Dirimu.”

 

Deg

 

Tao terdiam mendengar ucapan yang lancar keluar dari tutur Chanyeol. Bisa Tao lihat jika pemuda tampan yang tengah menatap langit cerah siang itu tersenyum amat manis. Apakah ia sedang mengingat sahabatnya, Kris?

 

“..kami sudah berteman sejak kami belum bisa bicara. Belajar menggunakan sumpit bersama, berebut mainan, menangis bersama dikala ibu kami terlambat menjemput, dan… Sudah selama itu kami berteman, tidak sekalipun aku melihat Kris yang serius mengikat sebuah hubungan.” Kali ini kaki Chanyeol mulai berpijak dan menganyun agar ayunan itu bergerak sedikit, hanya terayun sedikit.

 

“Dia mulai tertarik pada Luhan sejak kami naik kekelas 3. Tetapi Luhan sama sekali tidak menggubrisnya, dan Kris memang tidak suka ada yang mengacuhkannya. Dia menjauhi Luhan begitu saja.”

 

Tao tetap diam mendengarkan ucapan Chanyeol yang masih bersambung.

 

“Kemudian suatu hari, dengan anehnya.. Seorang Kris mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkanku.. Dia mengatakan bahwa perhatiannya teralih pada seorang pemuda lugu yang ia lihat sekilas ketika pemuda lugu tersebut sedang berceloteh kesal sembari mengerucutkan bibirnya di taman belakang sekolah.”

 

DEG

 

Mata Tao membulat sempurna. Ah, dia ingat.. Waktu itu di taman belakang sekolah, tepatnya saat jam istirahat, dia hanya sedang curhat pada boneka panda-nya. Dia memang sedang kesal karena Sehun mengatakan dirinya lebih mirip dengan kucing daripada panda. Yah, karena hal itulah Tao amat teramat sangat kesal pada Sehun hingga enggan berbicara dengan Sehun selama sejam.

 

Dan…

 

Astaga! Kris melihatnya?!

 

“Apakah kau pikir itu hal yang wajar? Maksudku… Alasannya tertarik padamu sungguh tak wajar bagiku. Biasanya dia akan tertarik pada seseorang dengan suatu alasan seperti..orang itu cantik atau dia lembut atau..sesuatu dari fisik dan sifat orang tersebut. Namun…” Chanyeol kali ini bangkit dari ayunan dan berdiri tepat dihadapan Tao yang masih duduk diayunan.

 

“Aku tidak menyangka dia akan jatuh cinta pada pemuda yang jauh dari kriteria awal yang ia suka, Zitao.” Lanjut Chanyeol. “Betapa berartinya dirimu untuknya. Kumohon, mengertilah bagaimana diri Kris.. Kumohon..”

 

Deg

 

Tao merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik saat mendengar semua yang diucapkan oleh Chanyeol. Jujur saja, wajah Tao bahkan dihiasi semburat merah padam dan matanya kembali memanas. Dia bekap wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Menyembunyi warna merah padam yang menurut Chanyeol amat menggemaskan diwajah inosen Tao.

 

Chanyeol mendekat dan membuka tangkupan wajah Tao, ia lihat si pemalu dengan wajah merah padam dan mata tergenang. Bibir mungil merah muda milik Tao mengerucut dan bergetar. Seketika itu air mata jauh diiringi senyuman malu Tao. “Aku.. Maaf membuat hyung selalu menahan diri untuk mengatakan semuanya padaku.. Hyung begitu menyayangi Kris ge.”

 

Mata Chanyeol membulat karena ucapan polos Tao, lalu kembali pemuda tampan itu tersenyum amat manis. Ia tarik tubuh Tao masuk kedalam rangkulannya. Membisikkan disana..

 

“Terima kasih.. Sudah hadir didunia ini untuk Kris.. Huang Zitao.”

 

 

 

 

 

Kyungsoo terdiam ditempat. Mata bulat indah miliknya terbelalak dan memerah. Sejenak ia menunduk dalam dan.. Ia menangis. Ia tidak menyangka akan menemukan Chanyeol.. Tengah memeluk seseorang seperti itu disebuah taman dekat dengan jalan raya. Chanyeol tiba- tiba menghilang dari sisinya kemudian setelah ia berlari mencari Chanyeol. Yang ia lihat malah pemandangan seperti itu. Oh Tuhan, Chanyeol bahkan belum pernah memeluknya seperti itu. Dan kini yang ia lihat.. Tao, anak yang ia sangka merebut perhatian Chanyeol darinya.. Anak yang bukan apa- apa ketimbang dirinya, tengah membalas pelukan Chanyeol-nya.

 

Tap

 

Tangisan Kyungsoo terhenti ketika melihat seseorang terhenti disampingnya. Ia, seorang pemuda berkulit coklat tengah menekukkan kedua alisnya marah. Kyungsoo melihat kedua tangan pemuda itu terkepal dan Kyungsoo mengerti satu hal. Pemuda tampan -yang entah sejak kapan ada disana- juga tidak menyukai adengan Chanyeol dan Tao dihadapan mereka. Well, jarak yang sangat jauh membuat Chanyeol dan Tao tidak menyadari bahwa Kyungsoo dan pemuda berkulit coklat- Kai, mengamati mereka dari sana.

 

“Brengsek!!!” bengis Kai dan melangkah cepat kearah Chanyeol dan Tao. Reflek saja Kyungsoo menggenggam tangan Kai agar tidak berjalan kesana. Membuat Kai terkejut dan membulatkan matanya menatap Kyungsoo dengan tajam.

 

“Hey!” teriak Kai ketika Kyungsoo malah menariknya menjauh dari sana dan bersembunyi disalah satu tembok. “Kau lihat lelaki jangkung itu memeluk kekasihku!”

 

Kyungsoo menatap tajam Kai dengan mata beloknya. Dan ajaib, Kai langsung terdiam ketika melihat mata Kyungsoo memelototinya. Jujur saja, mata besar Kyungsoo sedikit membuat Kai ciut. Menyeramkan, batin Kai.

 

“Lelaki jangkung yang kau katakan adalah kekasihku! Park Chanyeol! Kau pikir aku tidak tahu kau akan memukulnya, oeh! Tidak akan kubiarkan!”

 

Kai mengernyit, nampaknya mata bulat Kyungsoo hanya sebentar untuk menyihir dirinya agar tetap diam. “Kau kekasihnya? Oh, bagus! Kalau begitu katakan pada Chanyeol sunbaenim agar TIDAK usah mengganggu kekasihku Tao.”

 

“Hah? Aku tidak salah dengar? Chanyeol tidak pernah mengganggu kekasihmu! Hooh, ternyata Tao sialan itu sudah memiliki kekasih..” Kyungsoo memiringkan mata dan menatap remeh Kai. “..kau tidak bisa menjaga kekasihmu, oeh?! Selalu berkeliaran disekitar kekasihku!”

 

Kai geram melihat pandangan remeh Kyungsoo kearahnya. Dan baru kali ini ada yang memandang Kai dengan tatapan sesinis itu. Tidak habis pikir memang, mengapa pemuda berwajah manis itu bisa memberikan tatapan merendah seperti itu?

 

“Ck! Jika wajahmu tidak seperti wanita, kau sudah kutampar.” Dengus Kai pelan.

 

“Apa!!! Kau mengataiku seperti wanita?”

 

“Kalau iya kenapa?”

 

“Kau menyebalkan!” Kyungsoo memukul- mukul Kai dengan kedua tangannya. Sontak membuat Kai ingin menghindar.. Tapi, lengan itu mungil sekali. Kepalannya kecil, sehingga ketika membentur tubuh Kai sama sekali tidak terasa sakit. Kai memperhatikan pemuda manis yang kini masih memukul- mukulnya.

 

“Ugh..”

 

Kyungsoo tiba- tiba menangis.

 

“Heehh!! Kenapa kau menangis?! Kau yang memukulku tapi kau yang mena—“ Kai terdiam ketika melihat bulir air mata jatuh dipipi tembam Kyungsoo semakin banyak. Wajahnya memerah dan mata besarnya mengerjap, mengeluarkan lebih banyak lagi air mata.

 

Dan satu hal yang paling Kai benci didunia ini..adalah air mata.

 

Karena air mata adalah kenangan buruknya…dengan Tao.

 

Pemuda manis yang sejak kecil suka menangis itu membuat Kai selalu benci dan semakin benci dengan air mata. Dia pikir, Tao amat tampan dan cantik dalam waktu yang bersamaan. Namun setiap Tao menangis, Kai merasa sakit..karena Tao terlihat amat menderita dan terluka. Hal itu yang menyebabkan Kai benci sekali melihat orang menangis, apalagi Tao. Kai tidak mau Tao terlihat menderita. Dia ingin..pemuda berwajah seperti panda itu selalu bahagia.

 

 

Walau.. Kai benci mengakui itu.

 

 

“Kau berisik.” Ujar Kai tajam pada Kyungsoo yang masih menangis.

 

 

“Kau yang.. Ughh..” Kyungsoo malah terisak lebih kencang.

 

 

Kai memutar bola matanya dan dia harus cepat menghentikan tangisan Kyungsoo karena orang- orang yang berlalu lalang mulai menatap tajam kearah mereka.

 

“Hey! Diamlah! Nanti mereka menyangka aku yang membuatmu menangiss!!” Kai mengipas- ngipaskan tangannya kearah Kyungsoo. “Berhentilah, bocah pendek!”

 

“Namaku Kyungsoo! Ugh! Uweeee!!!” Kyungsoo kembali menangis dan kini memukul Kai tambah brutal. “Dasar beruang jelek!”

 

Deg

 

Kai membulatkan matanya ketika mendengar Kyungsoo menyebutnya.. ‘Beruang’..?

 

 

 

“Kai seperti beruang! Saat didekapan Kai rasanya hangat… padahal Kai tidak punya bulu seperti beruang. Aneh ya~” Seru anak manis berusia 5 tahun tersebut menggunakan bahasa China yang amat lucu.

 

Kai mendengus, wajahnya memerah dan ia sangat malu dengan ucapan si manis yang tengah bermain ditaman belakang rumahnya. Keluarga anak manis yang seumuran dengannya itu sedang berkunjung ke Korea.“Kau bicara apa, Tao?”

 

Padahal Kai mengetahui secara pasti ucapan Tao karena ibu Kai adalah orang China. Namun ucapan tajam itu tidak membuat anak bermata panda takut, ia tersenyum.

 

“Kai mau menjadi boneka beruangku?”

 

“Eh?” si tampan mengerjap.

 

“Agar aku bisa memeluk Kai setiap malam ketika aku tidur.. ketika aku kedinginan. Karena Kai hangat.”

 

 

 

Grep—

 

 

Kai memegang kedua tangan Kyungsoo untuk menghentikan gerakan Kyungsoo. Kali ini Kyungsoo terdiam melihat tatapan tajam Kai kerahnya, hanya sesegukan kecil yang terdengar. “Kau tahu dari mana tentang beruang?”

 

“Hah? Aku.. Aku hanya berfikir kau mirip beruang karena tubuh besarmu itu! Lepaskan!! Ugh!”

 

Kai melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kyungsoo. Seketika itu Kai berfikir bahwa ia sangat konyol. Mengingat kenangan masa lalu nya dengan Tao. Beruang dan Panda… Ah, sudah lama sekali.

 

Kai berjalan selangkah dan menatap Tao yang sudah tidak berpelukan lagi dengan Chanyeol. Kini nampak Tao tersipu malu dengan wajah yang memerah. Wajah Tao amat cantik jika tersenyum apalagi memerah seperti itu. Sangat jarang wajah tampan Tao terlihat cantik memang, pemuda bermata panda itu tidak termasuk pemuda berkategori cantik pada umumnya. Tetapi.. Tao cantik, dimata Kai. Tao amat cantik melebihi siapapun.

 

Ia menyukai senyuman bahagia Tao jika sedang tersipu seperti itu.

 

Kai tidak perduli dengan berbagai perkataan orang lain perihal diri Tao. Dia mengetahui dengan jelas siapa dan bagaimana Tao sejak mereka belum tumbuh dewasa. Kai tahu semuanya.. Kai tahu. 

 

 

 

“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.” Bisik Kai lirih sekali.

 

 

 

Kyungsoo yang berada dibelakang Kai tidak sengaja mendengar ucapan lirih penuh tekanan tersebut. Kyungsoo berdiri disamping Kai dan betapa terkejutnya ia ketika pemuda yang Kyungsoo cap sebagai lelaki kasar itu, memperlihatkan wajah terluka ketika menatap Tao dan Chanyeol.

 

Kini Tao dan Chanyeol sudah berjalan pergi dari sana, masih saja Kai tidak bergerak dari posisinya. Hanya menatap kedua punggung pemuda yang semakin menjauh. Kyungsoo yang melihat itu, bermaksud mengejar tetapi…

 

Grep

 

.. Ia terhenti.

 

 

“Mau ap—“ Kyungsoo menelan semua ucapannya saat Kai mengarahkan tatapan mata yang menghanyutkan itu kepada Kyungsoo. Mata itu memerintah Kyungsoo untuk diam dan mendengarkan.

 

 

 

“Bisakah kau mengatakan alasan mengapa manusia bisa menangis?”

 

 

 

I will try..

…To fix you

 

 

 

Chanyeol mengantarkan Tao hingga apartemen Kris. Mobil mewah miliknya terhenti tepat dipelantaran parkir apartemen bergaya modern tempat Kris tinggal. Tao menghela nafas pelan dan mengetuk kedua jari telunjuknya.

 

“Bagaimana cara.. Kris ge..pulang, hyung? Dia..tidak bawa mobil..kita pergi dengan mobilmu tadi pagi.” Ujar Tao terbata- bata. Oh, dia mengkhawatirkan Kris.

 

“Apa guna kaki panjangnya?”

 

“Tapi—“

 

“Jangan mengkhawatirkan hal itu, Tao. Mungkin Kris sudah ada diapartemen. Mau kutemani masuk?”

 

Tao menggeleng. “Aku..bisa sendiri.”

 

Chanyeol tersenyum dan mengusap rambut Tao sayang. Entah mengapa naluri kebapakan Chanyeol malah keluar jika bersama anak panda ini.

 

“Terima kasih, hyung.” Tao tersenyum tipis dan membuka pintu mobil Chanyeol. Ia langkahkan kakinya keluar dari mobil dan menutupnya tidak terlalu keras. Tao menunduk dalam sesaat kearah mobil Chanyeol kemudian masuk kedalam gedung apartemen.

 

Chanyeol menghela nafas pelan lalu meraih ponselnya dari saku kemeja. Ia menelpon seseorang. Dan ketika sambungan telpon itu tersambung…

 

 

 

“Kris- sayang~ Merindukanku?”

 

“Aku tutup.”

 

“Yah! Tungguuuu!! Kau sensitif sekali, ck! Aku hanya ingin tahu kau ada dimana?”

 

“Sedang jalan kaki menuju apartemenku. Puas?”

 

Chanyeol memutar bola matanya. “Apa gunanya pemerintahan Korea menambah jumlah bus kalau begitu, oeh?! Kau bodoh sekali!”

 

“Salahkan aku yang sama sekali tidak mengerti cara menggunakan sarana transportasi masyarakat umum! Kau pikir aku pernah menaiki bus selama hidupku! Jangan bercanda, Park Chanyeol! Aku tidak sudi berhimpitan dengan manusia yang tidak kukenal.” Omel Kris dengan suara yang terdengar amat kesal.

 

“Wow! Mood mu sedang buruk sekali?” Chanyeol terperangah mendengar ocehan panjang lebar Kris. “Aku akan menjemputmu. Kau dimana?”

 

“Kalau kau menjemputku.. Temani aku keapartemen Tao. Aku sudah mencarinya kemana- mana tapi tidak ketemu!!”

 

Chanyeol tersenyum penuh kemenangan. “Tenang saja. Aku akan mengantarmu langsung keapartemenmu.”

 

“Ha? Aku bilang ingin mencari Ta-“

 

“Makanya aku akan antar kau keapartemenmu. Dia sedang menunggumu.”

 

“APA! BAGAIMANA BIS- AAAAH! PARK CHANYEOL, TIDAK USAH MENJEMPUTKU!!! SUDAH DEKAT!!! AKU AKAN BERLARI KE APARTEMEN! – trek-”

 

“Tunggu! Kris! Aiiishhhh!”

 

Chanyeol bergumam kesal karena Kris mematikan sambungan telpon begitu saja. Chanyeol lalu menatap ponselnya dan mengerjapkan mata bingung. “Hah?”

 

Sebentar—

 

Kris lebih memilih berlari dari pada dijemput?

 

KRIS BERLARI? PANGERAN PEMALAS ITU BERLARI HANYA UNTUK LEBIH CEPAT MENEMUI TAO? SEORANG HUANG ZITAO?

 

 

“Sepertinya aku harus berkenalan secara resmi dengan ‘Kris’ yang ini. Dia benar- benar jauh berbeda.” Chanyeol terkekeh pelan.

 

 

Dan saat Chanyeol kembali menghidupkan mesin mobilnya, dengan jelas ia melihat Kris yang tengah berlari masuk kedalam apartemen. Mulut Chanyeol menyetak huruf  ‘O’ seketika itu. Takjub melihat Kris yang berlari secepat kilat. Tidak pernah ia melihat seorang Kris seperti itu!  

 

“Kaki panjang memang bisa diandalkan! Hahahaha!” Tawa Chanyeol pecah kemudian melajukan mobilnya keluar dari pelantaran parkir gedung apartemen. Ia kembali menelpon seseorang dengan senyuman merekah.

 

“Hallo.. My Byunnieee~  Baekhyunnieee~ Hari ini hari baik. Aku kerumahmu, yaaahh~ muaaaacchhh~” 

 

 

 

ΩΩΩ

 

 

Kris berlari masuk kedalam apartemennya, begitu masuk dilobi apartemen itu Kris langsung memasuki lift menuju lantai atas apartemennya. Nafas memburu sedikit bising memang, bersyukur hanya dirinya yang berada didalam lift. Ia terduduk sesaat sembari mengatur nafasnya. Ketika lift terhenti dilantai yang ia tuju, Kris berjalan cepat menuju apartemennya dan..

 

.. Kris baru menyadari kunci apartemen dipegang olehnya. Bagaimana cara Tao masuk? Astaga! Apakah kini Tao menunggunya didepan pintu?

 

Benar saja, Kris kembali berlari lebih cepat. Ia berbelok dan.. Ia terhenti ketika melihat seseorang duduk didepan pintu apartemen. Orang itu duduk memeluk kakinya dan membenamkan wajah diantara lutut. Kris berjalan pelan mendekati. Kemudian ia berhenti tepat didepan pemuda manis berambut hitam. Tao.

 

 

 

“Aku pulang.” Kalimat yang diucapkan Kris.

 

 

Tao yang sudah menyadari keberadaan Kris tetap menunduk, malah mempererat pelukan kakinya. Melihat Tao yang sama sekali tidak bergerak dari tempat, kali ini pemuda tampan itu menumpukan lututnya dilantai. Kali ini.. Sungguh hanya pada Tao, Kris mau merendah untuk seseorang.

 

 

“Tao…”

 

 

Pemuda berambut hitam masih saja betah diposisinya. Tetapi, Kris mendengar isakan halus. Apakah Tao sedang menangis?

 

 

“Maaf.”

 

Kris berbisik dengan hati- hati. Ia mendekatkan wajahnya pada puncak kepala Tao dan mengecupnya amat singkat. Tangan kekar Kris menangkup tubuh Tao hangat. Dan pemuda manis itu masih saja terisak. Kris tidak tega mendengarkan isakan Tao. Dia tidak tega. Sungguh!

 

Dengan berat hati, Kris membuka pelukannya dan kembali berdiri. Pelan Kris membuka pintu apartemen dengan kartu keamanan. Kris membuka pintu itu lebar- lebar. Kemudian mengangkat tubuh Tao, begitu perlahan. Tidak memberikan perlawanan, Tao hanya menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kris menutup pintu menggunakan sebelah kaki. Lalu membawa tubuh Tao berbaring diatas sofa besar empuk yang berhadapan dengan sebuah televisi layar besar.

 

Tao menggelungkan tubuhnya seperti kucing diatas sofa, ia masih menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Seakan malu jika Kris melihat wajah berantakannya. Wajahnya yang basah.

 

Kris kembali menumpukan lututnya dilantai. Ia usap lembut rambut hitam halus milik Tao. Jika ditanya, Kris kali ini takut untuk berbicara. Dia benar- benar harus berhati- hati menghadapi Tao. Takut jika ucapannya kembali menyakiti Tao. Kris bersumpah tidak pernah bermaksud membuat Tao seperti ini. Rasa bersalah sudah merasukinya.

 

 

“Tao..” Panggil Kris dengan suara berat, namun sangat lembut.

 

 

Isakan itu terhenti, Kris menghela nafas lega dan perlahan membuka tangkupan tangan Tao dari wajahnya. Memperlihatkan wajah basah pemuda manis memerah, hidung dan bibir mungil Tao bahkan terlihat amat merah. Senyuman lembutlah yang Kris berikan, menuntun Tao untuk duduk diatas sofa. Kris ikut duduk disamping Tao dan mengusap wajah itu agar bersih dari air mata. Sesegukan kecil masih terdengar lolos dari bibir Tao.

 

“Maafkan aku.. Kris ge..” Bisik Tao begitu pelan sembari menatap Kris dengan mata mengerjap lucu. Dan yang terjadi pada Kris.. Bisa dilihat jika kini ia membulatkan matanya tak percaya. Ia tidak mengerti mengapa Tao minta maaf padanya? Padahal jelas- jelas.. posisi Kris tadinya adalah posisi dipersalahkan.

 

“Ke…napa?” Tanya Kris terbata.

 

Tao menggeleng pelan dan menggenggam tangan Kris amat erat. “Terima kasih, ge. Terima kasih.”

 

Kini Kris benar- benar gemas setengah mati pada Tao. Wajahnya yang memerah dan basah itu begitu menggemaskan bagi Kris. Apalagi bibir merah muda basah yang kini mengerucut. Demi Tuhan, Tao tengah menguji pertahanan dirinya (lagi).

 

Tetapi.. Kris tidak ingin jika ia mengambil langkah sembarangan (lagi). Tao bisa menangis (lagi) karenanya. Tao bisa salah paham (lagi). Satu hal yang harus dilakukan oleh Kris jika berhadapan dengan Tao.. yaitu berhati-hati. Kris hanya mengusap puncak kepala Tao dan tersenyum pada pemuda manis yang masih menatapnya. Hal itu saja sudah membuat Tao merespon dengan keterkejutan.

 

“Aku tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa untuk tidak menyakitimu. Kadang yang aku pikir benar, bisa saja salah dimatamu.. Aku..” Kris menunduk sejenak dan kembali tersenyum. Akan tetapi Tao tahu.. Ekspresi itu terluka. Kris mungkin sudah nyaris putus asa.. bukannya bermaksud menyerah. Hanya saja, kini ia sudah memberikan hatinya pada Tao. Kini.. ia berfikir.. biarkan dia yang mengikuti kemauan Tao.

 

“Aku kewalahan menghadapimu.. Walau.. Aku tidak akan menyerah, kau tahu?” Mungkin Kris juga bisa mengerti bagaimana perasaan yang dirasakan Kai selama ini. Menghadapi Tao bukanlah hal yang mudah. Kesabaran luar biasa.. seakan tidak ada habisnya untuk meyakinkan pemuda manis yang tengah menatap Kris tajam dengan mata merahnya yang menggemaskan.

 

Tao menunduk namun Kris membawa wajah Tao untuk kembali menatapnya. “Mulai sekarang, Tao.. Beritahu apa yang harus kulakukan agar aku mengerti cara membahagiakanmu.”

 

 

ΩΩΩ

 

 

“Haaahh!!!”

 

Kyungsoo menghela nafas berat, berkali- kali. Ia tatap pemuda yang tengah duduk berhadapan dengannya jengah. Pemuda tampan yang hanya menatap tajam kedua tangannya diatas meja. Ah, mereka sedang berada di sebuah kafe kecil ditengah kota.

 

“Sebenarnya kau mau bertanya hal apa?!” Buka Kyungsoo sudah tidak sabar.

 

Kai menatap lurus Kyungsoo seketika, berhasil membuat pemuda manis didepannya memutar bola mata. “Beri aku sedikit waktu..aku hanya malu bertanya hal yang tidak jantan seperti itu.”

 

“Terserah.. Jika tidak ada yang ingin kau katakan. Aku pergi saja.” Kyungsoo bangkit dari duduknya akan tetapi sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. Membuat Kyungsoo memutar bola matanya cepat. “Apa lagi? Aaghh.. Demi Tuhan! Aku bahkan tidak tahu siapa namamu!”

 

“Namaku Kai.”

 

Kyungsoo menggertakkan giginya geram. “Kai-sshi, tolong lepaskan tanganku sekarang juga karena aku ingin menemui kekasihku yang bodoh itu lalu memarahinya karena ia meninggalkanku di toko aksesoris dan menemukannya berpelukan dengan Tao sialan itu!”

 

“Tolong jangan memanggil Tao dengan sebutan seperti itu!” ucapan Kai jauh lebih mengintimidasi.

 

“Terserah! Aku tidak peduli!” Sergah Kyungsoo sinis.

 

“Aagh! Baik! Aku minta maaf karena sudah membuatku bosan, nah sekarang.. Tolong duduk lagi.. Errr- siapa namamu?” Kali ini Kai rasa yang ia hadapi adalah pemuda dengan kelakuan seperti wanita. Please!

 

Kyungsoo memutar bola matanya malas. “Do Kyungsoo.”

 

“Baiklah, Kyungsoo-sshi.”

 

Masih dengan tampang malas, Kyungsoo kembali duduk diposisinya. Menatap Jongin dengan tajam setelah itu. “Cepat, apa inti pertanyaanmu!”

 

Kai memulai. “Kenapa kau menangis tadinya? Apa aku.. Menyakitimu? Padahal kau yang memukulku.”

 

“Bukan karena itu! Jinjja! Sudah jelas karena aku sedih.” Kyungsoo memutar bola matanya, lagi.

 

“Sedih?” Kai mengerjapkan mata seakan ia mengerti akan sesuatu.

 

“Iya! Aku terluka karena melihat kekasihku berpelukan dengan orang lain.”

 

“Kau terluka? Dimana?” Jongin memperhatikan tubuh Kyungsoo.

 

Demi Tuhan, Kyungsoo dibuat terperangah oleh sosok pemuda tampan dihadapannya. Oh, baiklah! Pertanyaannya sangat polos, bukan? Tidakkah pemuda itu mengerti?

 

“Jangan bergurau! Kau bodoh, ya?” Kyungsoo tidak habis pikir. “Jika aku bersedih berarti yang sakit adalah hatiku! Bukan luka kasat mata seperti itu!”

 

Kai nampak terdiam sejenak.. kemudian mengangguk. “Jadi… Hati…”

 

“Sebenarnya apa yang kau pertanyakan sedari tadi? Tidakkah kau bisa memahami?”

 

Dengan tatapan mata tajam dan menghanyutkannya, Kai memandang Kyungsoo lurus. Dan Kyungsoo tersentak ketika ia menyadari bahwa betapa memikatnya sosok dihadapannya itu. Malas sekali Kyungsoo mengakuinya, akan tetapi.. Kai benar- benar mempesona.

 

“Kyungsoo-sshi.. Jika dia menangis ketika bersamaku.. Apa berarti aku.. Aku yang membuatnya bersedih?”

 

Deg

 

Kyungsoo membulatkan matanya ketika dimata memikat itu, terpancar sinar luka yang amat kentara. Bolehkah Kyungsoo berkata bahkan pemuda itu memiliki tatapan polos walau tertutup oleh wajah kerasnya.

 

 

“…apa aku telah menyakitinya?”

 

 

Pertanyaan Kai membuat Kyungsoo bingung sekaligus bersedih. Tidak tahu mengapa ia hanya merasa sedih ketika ditanya seperti itu. “Tergantung.. Apa yang sudah kau lakukan hingga berfikir seperti itu?”

 

Kai menunduk lalu memejamkan matanya. “Aku hanya.. Cintaku terlampau besar padanya, hingga aku tak menyadari selama ini.. Dia terluka… Karena diriku… Ya Tuhan..”

 

 

ΩΩΩ

 

 

Malam menjelang, seakan menyembunyikan peristiwa yang siang tadi terjadi. Kris dan Tao tidak banyak bicara setelahnya. Kini, Tao sedang membuat makan malam dan Kris berada dikamarnya. Sedari tadi, Kris hanya berada dikamarnya dan bermain game internet. Sama sekali tidak ada pembicaraan dengan Tao. Ia mengurung diri dikamar.

 

 

 

Tao menghela nafas lega ketika makanan yang ia masak sudah lengkap semua. Ia membuatkan sari buah apel untuk Kris dan meletakkan diatas meja. Pemuda berwajah panda itu kemudian berjalan mendekati kamar Kris.

 

“Hwaiting!” Bisik Tao pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya agar tidak ragu untuk mengetuk pintu kamar Kris.

 

 

Tok

 

 

Ceklek

 

Tao sontak mundur karena baru sekali ia mengetuk pintu kamar itu, Kris sudah membukanya. Mata Tao mengerjap ketika Kris berdiri dihadapannya sembari tersenyum.

 

“Ya? Kau membutuhkan sesuatu?” Tanya Kris berusaha terlihat wajar. Padahal ia langsung menerjang pintu ketika Tao mengetuknya. Pandai sekali pangeran ini!

 

“Aku hanya ingin mengatakan makan malam sudah siap, ge.” Jelas Tao sembari tersenyum, senyuman kaku tentunya. Ini bisa dikatakan keadaan terkaku sepanjang mereka bersama. Disatu sisi, Kris takut mengambil tindakan dan disisi lain, Tao takut sekali memulai karena ia pikir…

 

 

..Kris mulai menjauhinya.

 

 

 

“Hey.”

 

Suara berat Kris memecah lamunan Tao, membuat pemuda yang tadi menunduk kini kembali memandang wajah tampan Kris.

 

“Ya?”

 

Kris menggaruk tengkuknya dan membuka pintu kamar lebih lebar, Tao mengerutkan kening tidak mengerti. Akan tetapi Tao mengikuti kakinya yang menuntun langkah pelan itu memasuki kamar Kris. Padahal Kris tidak mengatakan apapun, namun Tao tahu. Bahwa Kris mengajaknya masuk.

 

Klap

 

Pintu kamar Kris tertutup, kemudian Tao mengamati kamar Kris yang rapi, hanya alas ranjang pemuda itu yang sedikit berantakan. “Kamarmu rapi, ge.” Ujar Tao tidak mengerti.

 

Kris tertawa pelan. “Aku mengajakmu masuk bukan untuk merapikan kamarku.”

 

“Lantas?”

 

Kris berjalan sembari menggengam jemari Tao menuju ranjangnya, membawa tubuh pemuda itu duduk bersamanya ditepi ranjang. Oh, tidak! Jantung Tao berdebar- debar saat tahu bahwa ia menduduki ranjang Kris. Yang benar saja, didalam pikiran Tao yang lugu itu, ranjang adalah daerah privasi. Maksudnya, Tao selalu menganggap hanya orang yang akan menjadi pendampingnya yang boleh menduduki ranjang miliknya.

 

“Kau melamun?”

 

“Ah! Tidak!” Tao menggeleng dengan cepat. Pikiran bodoh apa yang ia pikirkan baru saja. Tentu saja pemikiran Kris dengan dirinya berbeda!

 

Kris menghela nafas panjang dan mengulurkan tangannya kearah Tao. Membuat pemuda itu mengerutkan keningnya lagi. Belum mengerti maksud Kris mengulurkan tangannya kearah Tao.

 

“Pijat!” Perintah Kris.

 

“Ehh!!!”

 

“Mengapa terkejut? Ini bagian dari pekerjaanmu, bukan? Seorang istri harus mematuhi suaminya.” Jawab Kris santai. Sebenarnya ia berkata seperti itu bukan tanpa sebab. Dia hanya mencari alasan masuk akal untuk berkomunikasi dengan Tao. Tidak berfikir ucapan spontan itu akan—

 

 

“Jadi aku istri Kris-ge?”

 

 

DUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRR!!!!

 

 

Pertanyaan polos dari Tao membuat organ didalam tubuh Kris meledak. Oh, tidak! Oh, tidaaakkkkk!!!! Mata Kris terbelalak, mulutnya terkatup dan wajahnya semerah kepiting. Tunggu! Pertanyaan bodoh apa yang Tao katakan baru saja? Akan tetapi perjanjian kerja mereka kan memang seperti itu, kan? Apa Tao lupa? Tidak mungkin~ Namun haruskah Tao bertanya seperti itu? Selugu itu?

 

Dan kini apa yang harus Kris jawab pada pemuda bersorot mata polos yang sedang memandangnya taat?

 

Demi Tuhan!

 

 

“La—lakukan saja.”

 

Tao mengangguk dan memperbaiki posisinya duduk diatas ranjang Kris. Meletakkan kedua tangannya pada lengan Kris yang kuat dan kokoh. Perlahan Tao mulai memijat lengan Kris, membiarkan pemuda tampan yang kini tampak tenang, menjerit didalam hati. Wajah tampan Kris memerah ketika memandang wajah Tao yang fokus pada lengannya. Sungguh, anak ini lihai sekali memijat lengan Kris. Apakah karena anak ini sangat terampil bekerja?

 

Kali ini dengan inisiatif sendiri, Tao duduk kearah punggung Kris dan meletakkan kedua tangannya pada pundak kokoh pemuda tampan itu. Sedikit membuat Kris tercekat namun ia tetap diam. Mencoba mencerna apa yang akan Tao lakukan. Hey, Kris! Buang pikiran mesummu!!

 

“Sepertinya beberapa bagian tubuhmu kaku, ge.”

 

“Be—Begitu, kah?” Tanya Kris mencoba sewajar mungkin. Padahal jantungnya sudah berpesta pora didalam sana.

 

Deg

 

Pijatan pertama membuat Kris kembali terlonjak, dan kali ini Tao sadar bahwa tubuh Kris seakan terlonjak kaget ketika Tao meremas pundaknya. “Ada apa, ge?”

 

“Tidak—aku… Aku hanya—“

 

“Sakit?” Tanya Tao polos.

 

“Ya! Iyaa! Disana sakit.” Alasan Kris cepat. Mana mungkin ia mengatakan pada Tao bahwa apa yang didalam pikirannya sekarang ini adalah fantasi liar yang tidak boleh dipertontonkan untuk anak dibawah umur.

 

“Aku akan pelan- pelan.” Tao mengangguk dan memperlunak pijatannya dipundak Kris. Pemuda tampan itu memejamkan mata, mencoba men-stabil-kan detakan jantung yang kini nyaris membuatnya lebih peka. Kris berharap keadaan hening itu tidak membuat Tao mendengarkan detakan jantung Kris yang menggila. Demi Tuhan! Ini menyeramkan!!!

 

 

“Tao.”

 

Panggilan Kris memecah keheningan yang dari tadi menguasai. Tao mendongakkan sedikit wajahnya pada salah satu sisi pundak Kris. “Apa, ge?”

 

Kris menuduk sejenak kemudian menghela nafas. “Aku minta maaf.. Karena.. Membuatmu menangis tadi.”

 

Tao membulatkan mata dan gerakan memijatnya terhenti saat itu. Mata bulat Tao mengerjap kemudian pemuda itu ikut menunduk. “Aku.. Aku hanya terkejut ketika ge ternyata.. mengetahui semuanya… tentang masa laluku.”

 

“Mengapa kau berpikir aku akan.. Menjauhimu kalau aku mengetahui masa lalumu?”

 

DEG

 

Pertanyaan Kris langsung menohok hati Tao. Menacap langsung pada hati Tao yang sudah terlampau takut berharap pada sebuah hubungan. Ya, Tao memang sudah tahu dengan jelas bagaimana perasaannya pada Kris. Dia tahu dengan jelas, apalagi tadinya Chanyeol mengatakan semuanya hingga Tao mengerti.

 

 

Arti dirinya untuk Kris.

 

 

“Tao?”

 

“Aku tidak mau membahasnya, ge.”

 

Jawaban Tao tidak sesuai dengan harapan Kris. Disatu sisi, Kris ingin tahu apapun tentang Tao. Apapun masalah yang dulu pernah merundung pemuda manis itu, Kris ingin menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan Tao dan.. Semua akan baik- baik saja. Agar Tao mengerti bahwa Kris sangat bersungguh- sungguh dalam maksud dan niatnya untuk menjaga Tao.

 

 

“Apa aku tidak bisa kau percayai?”

 

 

Tao melepas kedua tangannya dari pundak Kris, dia menunduk dan memilin ujung baju kaos milik Kris yang ia kenakan, yah, baju itu nampak tidak terlalu besar saat dikenakan oleh Tao. Pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya dan menghela nafas pelan. Bisa Kris rasakan jika Tao sekarang tengah kebingungan. Dengan perlahan Kris menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Tao. Pemuda manis itu mendongakkan wajahnya ketika Kris sudah duduk berhadapan dengannya diatas ranjang. Sudut lutut mereka yang terlipat bersentuhan. Menandakan betapa dekatnya jarak mereka kini.  

 

“Mengapa kau nampak gelisah, Tao? Kau mengkhawatirkan sesuatu?”

 

Pertanyaan Kris membuat si manis menggeleng pelan. Ia masih memilin ujung baju kaos yang ia kenakan dan terlihat sangat- sangat.. menggemaskan. Tao kini ada dihadapannya, duduk bersamanya di—

.

 

.

 

.

di—RANJANG?!! OH TUHAN! OH TUHAN!! KRIS TEGARKAN HATIMU!!

 

 

DEG

 

Wajah Kris langsung berwarna semerah kepiting rebus. Matanya tidak fokus dan terlihat salah tingkah. Oh Tuhan! Mengapa kau terlihat seperti itu, Kris? Memangnya kau pernah gugup jika bersama orang lain diatas ranjang? Hey!

 

 

Keadaan hening.

 

 

Tao sibuk dengan pikiran masa lalunya. Bingung akan jujur dan menceritakan semuanya pada Kris atau tidak. Bukannya dia tidak mau, akan tetapi keberadaan Kris masih membuat Tao takut berharap dan takut ditinggalkan. Dia begitu tidak ingin jika nanti Kris meninggalkannya.

 

Sedangkan si pangeran—

 

Berkutat dengan pikirannya yang kini sedang duduk diatas ranjang yang sama dengan Tao. BERHADAPAN! Kris memang tidak pernah memikirkan hal aneh atau tidak- tidak (Ini meragukan) tentang Tao hingga hal sensitif seperti ini. Namun tetap saja, bagaimana rasanya berada disatu ranjang yang sama bersama orang yang selalu diinginkan keberadaan dan selalu dipikirkan?

 

 

“Ge—makanan sudah siap.”

 

Sepertinya si panda sudah tidak betah berdiam diri pada keheningan kamar megah Kris. Ia tersenyum malu- malu kemudian bangkit dari ranjang Kris. Merangkak menuju tepian ranjang, membuat Kris menelan liur ketika memperhatikan tubuh Tao yang—sudahlah!

 

“Tu—tunggu!!” Kris membalikkan tubuhnya dengan cepat, tapi tetap duduk diatas ranjang. Tao yang sudah berdiri, kehilangan keseimbangannya ketika Kris tiba- tiba menarik pergelangan tangannya. Membuat tubuh Tao limbung..

 

“WAAA!!!”

 

 

…dan jatuh—

 

 

Bruk

 

 

—menghimpit tubuh Kris yang berada diatas ranjang,

 

 

DEG

 

 

Tao terdiam ketika melihat tubuhnya berada diatas tubuh Kris. Lebih tepatnya, tubuh itu menghimpit tubuh Kris. Dan pemandangan indah dinikmati oleh Tao, pastinya. Wajah tampan Kris tepat berada 1 centi didepan wajahnya. Berekspresi sama dengan Tao yang membulatkan matanya. Rona merah keduanya tampak amat manis jika diperhatikan. Namun bukannya memperbaiki posisi mereka, Tao dan Kris terdiam beberapa saat. Seperti menitik wajah masing- masing yang begitu dekat. Hembusan nafas menggelitik wajah mereka, siapa peduli. Mereka hanya mengamati keindahan itu. Tidak ada yang salah, bukan?

 

Dan dengan sangat perlahan, Kris membalikkan posisinya. Mengurung tubuh Tao yang kini berada dibawah si pangeran. Mata bulat Tao semakin saja melebar ketika Kris memeluknya dan menyembunyikan wajah tampan itu dipotongan leher Tao. Menggelitik wajah dan telinga pemuda panda itu ketika helaian halus rambut pirang Kris menggodanya. Wajah Tao tidak bisa lagi dikatakan merah, sangat merah!

 

“Aromamu… apakah selalu semanis ini?”

 

Ya Tuhan! Tao menggigit bibir bawahnya, saat bisikan Kris menyergap pada pendengaran tajam si panda. Semakin saja memacu dendangan detak jantung mengerikan yang selalu mengganggunya. Tenanglah, tenanglah Huang Zitao!

 

“Gege.. suka?”

 

Tao langsung membekap mulutnya dengan sebelah tangan yang bebas karena satu tangannya dihimpit oleh Kris. Sungguh polos atau terlalu lugu—mengapa dia menanyakan hal seperti itu? Ini sama saja mengundang, kan?

 

Kris menyeringai, ia mengangkat wajahnya. Menatap tajam pada si panda manis yang memejamkan matanya rapat- rapat hingga sekeliling matanya mengerut serta membekap mulutnya sendiri. Oh sungguh lucu, Huang Zitao. Rambut hitam sehalus bulu kucing pemuda manis itu berantakan sekali ketika ia juga menggeleng cepat- cepat. Apa yang dilakukan Tao manis sebenarnya?

 

“Aku suka.”

 

Jawaban Kris membuyarkan semua usaha Tao. Mata panda menggemaskan itu terbuka lebar, kemudian terpatok pada mata tajam seperti Angry Bird yang ada beberapa centi dihadapannya. Kris tersenyum amat manis, mengusap wajah Tao dengan lembut dan sayang. Melepas dekapan tangan pemuda itu dari bibir mungil berwarna marah muda. Bibir mungil berbentuk unik itu sudah bisa membuat Kris terpaku sesaat.

 

“Kau cantik—Tao. Sungguh.”

 

Sebenarnya Kris sedang merayu atau berkata jujur? Apa dia tidak sadar jika pemuda manis tersebut tengah berusaha dengan sangat untuk menghentikan kelabilan dekat jantungnya. Bisa- bisa dia meninggal karena gagal jantung jika pemuda bak pangeran itu terus saja mengumandangkan kata- kata manis.

 

“Gege.. bicara.. apa?”

 

Bisikan lirih dengan suara super lembut Tao memancing Kris yang berotak lumayan mes—lupakan! Memancing Kris untuk tidak melahap si panda saat itu juga. Mengapa bibir merah muda Tao terlihat begitu menggoda? Mengapa tubuh Tao yang hangat seakan merayunya melakukan hal yang lebih dan lebih—hey! Ini mulai menjurus ke hal dewasa!

 

Hanya dengan mengusap wajah manis itu, Kris bisa merasakan detak jantung Tao yang berdebar- debar. Sama seperti jantungnya. Dan seorang Kris jarang sekali berdebar-  debar. Baginya hidup adalah permainan, tinggal seperti apa kita memainkan permainan itu hingga keluar sebagai pemenang. Maka itu dia tidak pernah serius untuk menjalin hubungan selama ini. Takut terikat dan.. kalah.

 

Tetapi Huang Zitao berbeda!

 

Membuat seorang Kris rela kalah dan bertekuk lutut atas dirinya. Seorang Kris yang tidak mau bersusah payah menjadi mati- matian demi dirinya. Seorang Kris yang selalu meremehkan orang lain menjadi merendah untuk dirinya. Merubah seorang Kris.. karena keberadaannya.  

 

Hidung bangir si tampan mulai mendekat, menyentuh kulit bagian bawah hidung Tao hingga hidung pemuda tampan itu sedikit menyentuh bagian bibir Tao bagian atas. Sedetik kemudian, Kris kembali mengangkat wajahnya, memiringkan wajahnya agar bisa memposisikan bibirnya tepat menyentuh bibir Tao. Dan apa yang bisa Tao lakukan jika tidak membulatkan mata ketika bibir Kris nyaris bersentuhan dengan bibirnya. Belum—mereka belum berciuman. Kris masih bertahan diposisi itu seraya menatap tajam mata Tao.

 

Tidak ada yang bicara.

 

Hanya saling menatap.

 

Hingga—dengan perlahan, Tao menutup matanya. Membuat Kris mengerti, Tao tidak menolaknya. Menandakan bahwa tidak masalah jika—kini Kris menciumnya. Dengan sangat perlahan, tanpa paksaan dan penuh akan kasih sayang dari seorang Kris.

 

Kris mencium bibir Tao.

 

Menciumnya dengan lembut tanpa tuntutan apapun. Membiarkan mata mereka terpejam untuk menikmati sentuhan semanis kembang gula. Kris menunggu, menunggu Tao mendorongnya untuk melepas ciuman itu. Akan tetapi, pemuda manis itu tidak melepas atau mendorong tubuh Kris. Itu membuat Kris berusaha memasuki bibir mungil Tao, yang masih saja disambung oleh pemuda manis itu. Tao membuka katub bibirnya dan membiarkan ciuman mereka semakin liar. Meninggalkan kesan lembut sebelumnya. Kini Tao menyengkram alas ranjang Kris. Berusaha mengimbangi ciuman Kris yang membuat ia menahan nafas.

 

Semakin lama, ciuman itu semakin saja menuntut. Tao merasa tubuh dan wajahnya memanas. Ia tidak bisa lagi menahan nafasnya, ia tidak bisa lagi. Akan tetapi Kris tidak melepas ciuman itu barang sedetik. Ia seakan rindu pada sentuhan bibir Tao. Hingga lirihan mungil keluar dari bibir Tao disela- sela ciuman manis mereka, memacu Kris untuk berlaku—

 

 

BRAK

 

 

“AKU DAT—“

 

Teriakan siapa lagi kalau bukan—Chanyeol, mengejutkan kedua insan yang tengah bercumbu. Begitu juga dengan Chanyeol yang menjatuhkan ayam goreng yang ada ditangannya ketika melihat Kris dan Tao tengah—err—tidak perlu dijelaskan lagi, bukan?

 

 

“Ka—KALIAN!!”

 

 

.

.

.

.

 

 

 

“Sudah kukatakan padamu, Kris! Jangan melakukan hal yang tidak- tidak jika kalian belum menjalin hubungan dengan pasti!!” teriak Chanyeol sembari mengayunkan sebuah lipatan koran pada kepala Kris cukup keras. Yang bisa Kris lakukan hanyalah mendengus kesal.

 

Kini mereka bertiga berada diruang tengah apartemen mewah Kris. Pangeran tersebut duduk dilantai sedangkan Tao yang polos duduk manis diatas single sofa yang berada tepat disamping Chanyeol yang tengah memarahi Kris.

 

“Ini semua demi kebaikan Tao, kau mengerti! Bagaimana jika nanti pemuda ini mengangkap yang tidak- tidak atas sikapmu!” Chanyeol terlihat sangat marah. Entah mengapa seperti sang ayah yang takut anak gadis semata wayangnya tercemari pemuda mesum yang mendekatinya. “Tidak tahu jika aku sudah sangat lelah mendengar semua curahan hatimu perihal Zitao? Kau benar- benar, Kris!”

 

“Chanyeol-hyung.”

 

“Diam, Panda! Aku akan menasehati orang ini dulu!”

 

“Tapi—“ Tao langsung diam melihat sorot mata tegas Chanyeol.

 

 

“Kris! Kuharap kau menahan semuanya hingga kau dan Tao memiliki hubungan yang sah dan resmi!”

 

Tao yang mendengar ucapan Chanyeol hanya bisa memeluk boneka panda yang tadi dibawakan Chanyeol sembari menyembunyikan wajahnya disana. Dia malu. Tidak ada bedanya dengan Kris yang tengah menggaruk tengkuknya, salah tingkah.

 

“Semua tergantung Tao.”

 

Jawaban Kris membuat Tao tersentak. Hah? Semua tergantung Tao? Tunggu—mengapa Kris bicara begitu? Ternyata panda manis ini tidak mengerti maksud dari ucapan tajam Kris. Ia hanya mengerjapkan matanya menatap Kris dan Chanyeol yang memandangnya silih berganti.

 

“Eh? Mengapa tergantung padaku?”

 

Suara kebingungan Tao membuat Kris dan Chanyeol mendesah. Chanyeol menarik tangan Kris untuk berdiri dengan tegap. Dan dengan pandangan iba serta prihatin, Chanyeol memandang Kris. Menepuk pundak pemuda tampan itu sesaat dan Chanyeol mengerutkan bibirnya seperti akan menangis. Mengejek Kris nampaknya.

 

“Turut berduka, Kris. Dia masih tidak mengerti.” Bisik Chanyeol dengan suara dibuat sedramatisir mungkin.

 

 

Plak

 

Kris langsung melempar sendal rumahnya kearah wajah Chanyeol. Bukannya marah, Happy Virus itu hanya tertawa sembari melempar bantal duduk yang ada didekatnya kearah Kris.

 

“Jangan tertawa, Chanyeol bodoh!!”

 

“HAHAHAHAHAHA! AKU KASIHAN PADAMU KRIS!! WAHAHAHA!!”

 

Merekapun bergelut selayaknya anak kecil. Jika diperhatikan jika tubuh mereka tidak setinggi itu, mereka terlihat seperti anak Taman Kanak-kanak yang berebut mainan. Berguling- guling dilantai, saling jambak dan itu—membuat Tao mengerjapkan matanya, lalu—

 

 

 

“KYAHAHAHAHA!!!”

 

 

Sekarang malah terdengar  suara tawa lembut amat lepas. Menghentikan perilaku kekanak- kanakan Kris dan Chanyeol, kemudian menatap pemuda panda yang masih tertawa. Tao tertawa dengan amat lepas. Terkekeh cukup keras sembari memeluk boneka panda besar itu. Dan—hal itu berhasil menyihir Kris untuk terpaku. Melihat tawa lepas Tao yang tidak pernah ia lihat sama sekali. Tao tertawa—bahagia.

 

“Hihihihi~ Chanyeol hyung dan Kris ge seperti anak kecil saja! Hihi~  memangnya umur kalian berapa?! Oh Tuhan, mataku sampai berair.. haha..” Tao mengusap matanya yang sudah berair. Puas sekali rasanya.

 

Deg

 

Tanpa sadar, Kris tersenyum amat manis menatap Tao yang berusaha menahan tawanya. Ingin sekali ia melihat Tao selalu bahagia seperti itu, tawanya yang lepas seperti anak kecil tanpa dosa dan noda. Kris ingin menjaganya—agar Tao tidak pernah terluka dan menangis didalam rengkuhannya.

 

 

“Manis sekali.. Tao manis sekali, Chanyeol.” bisik Kris pada Chanyeol yang ada disampingnya.

 

Chanyeol hanya mengangguk lalu tersenyum kearah Kris. “Ya..”

 

 

 

 

“Chanyeol! Aku sudah menghangatkan makanan—“

 

Sosok pemuda manis datang dari arah dapur, membuyarkan kegiatan Kris, Chanyeol serta Tao. Menatap sosok mungil berkulit putih dan berparas cantik. Yang diatatap langsung menggarukkan kepalanya, bingung. Apakah dirinya datang disaat yang tidak tepat?

 

“Hahaha~ Hay~” pemuda manis mengayunkan sendok nasi ditangannya sembari tersenyum lebar.

 

 

“Baekhyun-hyung?!!” teriak Tao kaget melihat senior ditempat kerjanya dahulu ada diapartemen Kris.

 

 

“Mwo? Tao? Zitao? Huang Zitao?” Baekhyun menunjuk Tao sembari mengerjapkan mata.

 

 

“Kau membawa Baekhyun?” tanya Kris pada Chanyeol yang mengangguk amat cepat. “Ah~ Annyeong, Baekhyun-sshi!”

 

 

“Annyeong, Kris-sshi.” Baekhyun menunduk sopan kemudian matanya terpatok pada sosok manis yang duduk disofa sembari memeluk boneka panda yang tadi dibeli oleh Chanyeol. Tao bangkit dari duduknya, masih memeluk boneka panda dan menghampiri Baekhyun. Pemuda mungil berparas cantik itu kemudian tersenyum senang ketika Tao berdiri dihadapannya.

 

“Hay, hyung. Lama tidak bertemu.” Sapa Tao lembut.

 

“Aigoo~ dihari pertama kau bekerja, kau langsung menghilang. Aku pikir apa yang terjadi padamu.”

 

“Kris ge menyuruhku untuk berhenti dan bekerja dengannya. Maaf, hyung. Padahal hyung sangat membantuku mempelajari semuanya saat akan bekerja di pub itu.”

 

“Kris? Ah, tidak apa- apa. Tempat itu memang berbahaya untuk pemuda lugu sepertimu.”Baekhyun memandang Chanyeol sesaat. Sepertinya, Baekhyun baru tahu jika pemuda yang selalu Kris dan Chanyeol bicarakan di pub adalah Tao. Chanyeol yang mengerti akan arti tatapan Baekhyun hanya terkekeh pelan.

 

“Hmm~ Kau yang memasak makanan didapur, Tao?”

 

“Iya.. Maaf.. hyung sampai memanaskannya lagi.”

 

“Tidak apa- apa. Ayo, kita kedapur lagiiii~ ”

 

Baekhyun dan Tao berjalan berdua (saja) menuju ruang makan. Meninggalkan kedua pemuda dengan tinggi tubuh diatas rata- rata, teracuhkan kembali. Kris dan Chanyeol saling pandang, kemudian menghela nafas panjang. Keduanya terduduk diatas sofa dan saling bersandar satu sama lain. Mata mereka menerawang kelangit- langit, kemudian keduanya sontak tersenyum manis.

 

“Hey!”

 

“Mmm?” jawab Kris malas.

 

“Kalau aku mengangkat Tao sebagai anakku dengan Baekhyun.. bagaimana?”

 

“Aku tidak sudi memiliki ayah mertua sepertimu.” Kris memutar bola matanya.

 

“Hahaha! Kau lihat Baekhyun sepertinya sangat cocok dengan Tao. Mereka bahkan mengacuhkan kita begitu saja.” Chanyeol mengerucutkan bibirnya.

 

“Tumben berhasil membawa Baekhyun kesini.. Dia tidak bekerja malam ini?” Kris mengangkat punggungnya yang dari tadi bersandar dengan punggung Chanyeol. Akan tetapi ketika Kris melihat ekspresi senang Chanyeol, Kris jadi mengerti.

 

“Coba tebak?”

 

“Kau meniru caraku?”

 

“Tepat! Kini Baekhyun dan aku sudah se-RUMAH dan aku harus berterima kasih pada caramu yang amat ampuh untuk mengajak Tao bekerja denganmu.”

 

Kris memutar bola matanya. “Jadi? Jika kau sudah berani membawa Baekhyun untuk tinggal bersamamu, kau sudah putus dengan Kyungsoo?”

 

“Belum.”

 

Wajah Chanyeol tanpa dosa tersebut rasanya ingin Kris cakar saja. Oh Tuhan, apakah dia sama sekali tidak merasa bersalah telah membawa Baekhyun tinggal serumah sedangkan ia belum memutuskan hubungannya dengan kekasih sah, Kyungsoo. Walau Kris tidak tahu sebenarnya siapa kekasih sah dari Park Chanyeol. Si ‘Playboy’ itu dari dulu memang tidak pernah berteguh hati pada satu pilihan. Hari ini ia bisa pacaran dengan si A, tidak ada jaminan sejam kemudian Chanyeol tidak memiliki kekasih lagi, si B dan si C atau bahkan si D, E, F, G dan seterusnya. Begitulah Park Chanyeol. Well, hanya dengan Baekhyun lah Chanyeol bertahan hingga setahun lamanya. Sudah termasuk hebat!

 

“Bukan salahku, kan? Aku sudah pernah meminta putus dengan Kyungsoo! Dia saja yang tidak mau!” Chanyeol melempar bantal duduk kearah Kris. Disambung dengan jitakan manis tepat dikening Chanyeol.

 

“Terserah kau! Daripada berfikir menjadikan Zitao anakmu, urus saja Kyungsoo dan Baekhyun! Masalahmu itu masalah berat, tahu!!”

 

“Nde! Aku tahu!” Chanyeol merebahkan kepalanya kepundak Kris dan mendengus kesal. “Kau juga, kan? Kim Jongin dan Tao—hubungan mereka belum berakhir.”

 

Deg

 

Kris tersentak kemudian mendorong kepala Chanyeol untuk tidak bersandar kepundak lebarnya, ia sedikit geli dengan rambut Chanyeol yang menyentuh leher putihnya. “Mereka akan segera berakhir.”

 

“Yakin sekali?” Chanyeol mengusap kepalanya yang didorong Kris tanpa ampun.

 

“Tentu! Kau pikir mengapa kau bisa menemukanku dengan Zitao tengah berciuman, oeh?”

 

“Karena kau mesum.”

 

“YA!!” Kris menarik rambut panjang Chanyeol dengan brutal.

 

“GYAA!! YAA!! WU FAN! LEPASKAN RAMBUTKU!!” Chanyeol berteriak kesakitan. Kris melepas jambakan maut nya pada rambut Chanyeol yang memandang Wufan seakan ingin membunuh pangeran seenaknya itu. “Memangnya aku salah, oeh? Jangan kau pikir aku ini tidak mengenalmu!”

 

Kris memutar bola matanya. “Hanya sedikit—“

 

“NAH!” Chanyeol menunjuk Kris dengan mata terbelalak.

 

“Kubilang hanya sedikit, kan!! Aku ini manusia! Wajar tergoda dengan tubuh Tao, memangnya kau tidak? Agh! Apa yang kita bicarakan?”

 

Chanyeol tertawa pelan dan mengangkat bahunya. “Yah~ Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang. Kau atau Kim Jongin~”

 

Kris tersenyum miring. “Huang Zitao itu milikku. Milik Wufan! Ingat itu!”

 

 

 

ΩΩΩ

 

 

 

Beberapa hari kemudian~

 

 

Kris hanya bisa berdoa jika wanita- wanita batu (fangirl), bisa meninggalkannya barang sejenak saja jika ia sedang ingin memarkir mobil. Demi Tuhan, ini menyusahkan! Walau sudah ada dua satpam yang membantu mobil Kris untuk melaju menuju parkiran sekolah. Tetap saja sulit.

 

Tao mengerjapkan matanya dengan perlahan, takjub dengan semua fangirl tersebut. Ini sudah menjadi pemandangannya sejak pergi kesekolah bersama Kris. Dalam hati Tao benar- benar salut dengan fangirl Kris namun disatu sisi, Tao juga iba melihat Kris yang harus susah payah untuk menjaga laju mobilnya agar tidak menyakiti para fangirl yang mengerumini mobilnya ketika sedang berjalan. Pasti akan sangat sulit mengingat Kris bukanlah tipe orang yang sabaran.

 

“Pelan- pelan saja, ge.” ujar Tao bermaksud memberi semangat.

 

“Sedang kuusahakan! Aagh! Dimana Park ‘Bodoh’ Chanyeol itu disaat kubutuh!” Dengus Kris. Benar saja, para fangirl itu hanya akan menjauh jika mobil mewah Chanyeol menglakson mereka.

 

“Chanyeol hyung bukannya sering terlambat pergi sekolah akhir- akhir ini, ge? Mengapa bisa seperti itu, ya?” Tao meletakkan jari telunjuknya didagu kemudian terlihat berfikir dengan memandang kearah atas.

 

Kris ingin sekali menjawab, “Karena Baekhyun sudah tinggal dengannya, jangan harap si mesum itu bisa menahan dirinya untuk *SENSOR* dengan Baekhyun, dan melakukan *SENSOR* kemudian *SENSOR* lalu *SENSOR* setiap harinya.” Akan tetapi Kris masih sayang pada keluguan Tao. Alhasil Kris hanya menggidikan bahu untuk menjawab ucapan Tao. Sambil menahan tawa sakartis tentunya.

(*Maaf, ucapan Kris diatas penuh dengan konten dewasa.

 

 

Dengan susah payah, Kris berhasil memarkir mobilnya dengan aman. Tetapi cara yang harus ia pikirkan kemudian adalah ‘Bagaimana cara kita keluar dari mobil ini jika mereka masih saja berada diluar?’

 

 

“AAGH!! INI MEMBUATKU FRUSTASI!!!” Kris mengacak- acak rambutnya. “Aiissh!!!”

 

 

Tao mengerjapkan matanya melihat Kris yang nampak putus asa kemudian mengambil ponsel didalam tas, benar saja~ ponsel yang dibelikan oleh Kris untuknya beberapa hari yang lalu. Dengan sangat tertatih dan susah payah, Tao menekan touchscreen ponselnya. Kris memperhatikan Tao yang seperti siput memainkan ponsel, menatap Tao tanpa bicara. Sepertinya Tao sedang mencari kontak seseorang.

 

 

Namun, belum sampai Tao menemukan kontak nama ‘The MOST AWESOME GUY EVER Sehunnah <3’ siapa lagi yang memberi nama kontak itu di ponsel Tao selain Sehun yang waktu itu amat exited melihat ponsel mahal Tao beberapa hari yang lalu. Tunggu saja waktu dimana Kris menemukan nama kontak Sehun diponsel Tao.

 

 

Kembali ketopik, belum sampai Tao menemukan kontak Sehun di ponselnya, teriakan para wanita- wanita batu tersebut terhenti. Termasuk aktifitas mereka yang dari tadi meneriakkan nama Kris, bahkan mereka menjauh dari mobil itu secara perlahan. Kris menyipitkan matanya, awalnya lega. Namun saat melihat seorang lelaki tinggi berkulit sedikit kecoklatan, mendekat. Wajah Kris langsung menegang. Tao yang belum sadar dan masih mencari nama kontak Sehun masih saja sibuk dengan urusannya sendiri, ia pikir Sehun bisa membantu mereka. Tapi—nampaknya sudah tidak perlu.

 

 

Tepat dihadapan mobil Kris, berdiri tegak pemuda tampan yang mempesona. Memiliki mata yang tajam dan menghanyutkan, pemuda yang beberapa waktu lalu pernah baku hantam dengannya. Pemuda bernama—Kim Jongin, Kai.

 

 

Kris dan Kai saling bertatapan tajam ditempat masing- masing. Kalau bisa, Kris akan menghidupkan lagi mesin mobil dan menabrak Kai hingga mati, namun tidak bisa ia lakukan hal memalukan seperti itu didepan Tao. Justru ia akan terlihat amat pengecut, bukan?

 

 

Pemuda tampan bernama Kai tersebut memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, mengangkat bahu dan menyeringai kearah Kris. Tatapan mata Kai teralih pada pemuda manis yang masih sibuk mencari kontak nama Sehun yang duduk disamping Kris. Akan tetapi, Kris tidak membiarkan Kai menatap Tao barang sedetik. Ia bentangkan tangannya didepan Tao, agar Kai tidak bisa melihat Tao. Dan itu membuat Tao sedikit terlonjak dan mengarahkan pandangan matanya kearah Kris.

 

“Ada apa, ge?” Tao heran, mengapa telapak tangan Kris tepat berada didepan wajahnya. Akan tetapi Kris tidak menjawab, fokus matanya masih terarah pada sosok yang ada didepan mobilnya. Baru Tao sadari bahwa fangirl Kris tidak ada lagi disana. Sejak kapan mereka pergi?

 

Namun Tao mulai mengarahkan wajahnya menuju tempat yang Kris lihat dengan wajah tegang dari tadi. Tetapi, tangan Kris menghalangi pemandanganya. Hingga Tao harus menurunkan tangan Kris agar—

 

 

DEG

 

 

Mata Tao membulat seketika, melihat Jongin ada disana. Degupan jantungnya mulai tidak wajar sama sekali. Kris yang melihat ekspresi wajah Tao akhirnya membuka pintu mobilnya dan keluar. Meninggalkan Tao yang masih berada didalam mobil. Kris berdiri disamping mobilnya, menyeringai kearah Kai lalu melipat tangannya didada. Tidak ada bedanya, Kai ikut menyeringai kejam kearah Kris.

 

 

“Boleh aku menjemput kekasihku?” tanya Kai dengan suara penuh tekanan. “Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya.”

 

“Kekasihmu? Siapa?” Kris tidak kalah mengintimidasi.

 

Kai kali ini mengarahkan wajahnya pada Tao yang masih berada didalam mobil, pemuda manis itu terlihat masih menatap Kai ketakutan. Namun—

 

 

DEG

 

 

Tao kembali membulatkan matanya ketika—

 

 

Ketika melihat Kai tersenyum manis kearahnya.

 

 

Senyuman yang amat manis dan terlihat tulus, amat tulus bahkan terlepas dari kesan mengerikan seorang Kai selama ini. Senyuman itu hanya sesaat karena pandangan mata Kai kembali teralih pada Kris yang masih saja waspada memandangi Kai. Didetik itu juga, senyum Kai hilang.

 

“Menjemput simanis yang berada didalam mobilmu, pangeran.”

  

“Jangan bermimpi. Ck!”

 

Kai tersenyum miring lalu melipat tangannya didada. “Bukankah kau yang bermimpi, pangeran? Sudah kukatakan padamu, kau bisa mendapatkan siapapun dengan mudah, bukan? Lalu mengapa Tao? Mengapa harus Huang Zitao??”

 

 

Kris membulatkan matanya ketika mendengar pertanyaan Kai.

 

 

“…Tao adalah kekasihku. Maka—“ Kai berjalan mendekati Kris yang kini langsung bergerak mengarahkan kunci mobilnya dan menekan tombol kunci otomatis agar Kai tidak bisa membuka pintu mobil tersebut untuk menggapai Tao. Kai tersenyum remeh kemudian berdiri tepat dihadapan Kris. Lalu—

 

Deg

 

Kris membulatkan matanya, melihat Kai—seorang Kai membungkuk dalam pada Kris. Menundukkan tubuhnya pada Kris, merendahkan harga dirinya pada Kris. Tahu bagaimana rasanya menunduk seperti itu kepada orang yang paling dibenci? Rasanya bagai dikuliti untuk seorang Kim Jongin. Namun jika hal seperti ini cara ia mendapatkan Tao lagi—akan ia lakukan.

 

 

“Tolong kembalikan kekasihku. Kumohon.”

 

 

Kris tersentak. Apa yang dia katakan baru saja? Memohon? Kim Jongin memohon? Kris ingin sekali tertawa, akan tetapi ia sedang sibuk terkejut dengan apa yang tengah dilakukan Kai saat ini. Dihadapannya, menunduk seakan menyerah dan itu semua ia lakukan untuk—Tao?

 

“Hey! Jangan seper—“

 

 

Dug

 

 

Dug

 

 

Ucapan Kris terhenti saat mendengar ketukan kaca mobilnya, ia melirikkan matanya yang tajam pada kaca mobil tersebut. Melihat Tao mengetuk kaca tersebut dan menatap Kris penuh arti. Mata Tao nampak berkaca- kaca, memerah dan—tunggu ada yang aneh. Mengapa Tao mengipas- ngipas wajahnya dan tubuhnya berkeringat. Kai yang sudah tidak menunduk lagi ikut memperhatikan gerakan ganjil Tao didalam sana.

 

 

A

K

U

 

Ti

Dak

 

Bi

Sa

 

Ber

Na

Fassss

 

 

 

Bruak

 

 

“TAO!!” pekik Kris dan Kai bersamaan. Baru Kris sadari jika ia tidak menghidupkan pendingin didalam mobil dan ia mengunci semua akses udara masuk kedalam mobil. Tentu saja Tao tidak bisa bernafas! Dengan gelapan Kris langsung membuka kunci pintu mobilnya, melihat Tao yang sudah tergolek tidak berdaya. Pingsan.

 

“TAO!”

 

Dan panik lah kedua pemuda tampan itu.

 

.

 

.

 

 

.

 

 

Disebuah koridor sekolah yang ‘tenang’ dipagi hari—

 

 

“INI SALAHMU!”

 

“BISA- BISANYA KAU MENYALAHKANKU!”

 

“LALU SIAPA YANG MENGUNCI PINTU MOBIL BRENGSEKMU!”

 

“JIKA KAU TIDAK DATANG AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL ITU!”

 

“AKU HANYA INGIN MENGAMBIL TAO KEMBALI! KAU BENAR- BENAR TEBAL MUKA, KRIS!”

 

“BERMIMPILAH MENDAPATKAN TAO KEMBALI!”

 

 

Cekcok antar dua pemuda tampan yang berada diluar ruang kesehatan tersebut amat mengerikan. Tidak ada yang berani menengahi apalagi ikut campur. Kai dengan wajah marah luar biasa dan Kris dengan wajah tak kalah menyeramkan. Bisa dikatakan seperti dua pangeran yang tengah ingin mencabut pedang untuk berebut tahta sebagai raja dihati Huang Zitao. Mengerikan!

 

 

“JIKA TERJADI APA- APA PADA TAO, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASMU! DENDAMKU ABADI PADAMU!” teriak Kai tanpa ampun.

 

“KAU PIKIR AKU MAU TERJADI HAL BURUK PADA ISTRIKU, HAH!” makian Kris tak kalah dengan Kai rupanya.

 

“ISTRI? MULUTMU ITU SEMBARANGAN SEKALI! MAU MERASAKAN MULUTMU KEGUNTING?”

 

“SEBELUM ITU AKAN KUPATAHKAN LEHERMU, BRENGSEK!”

 

 

Sebenarnya—

 

Ada…

 

…Sehun…disana.

 

 

Dan Sehun dengan wajah super datar menatap malas kedua pemuda yang berada didepan pintu ruang kesehatan dimana Tao sedang beristirahat. Sepertinya Kris dan Kai belum menyadari kedatangan Sehun sama sekali. Mereka masih saja beradu argumen dengan lantang. Menghambat Sehun yang ingin melihat keadaan Tao tentu saja.

 

“Permis—“

 

“DIAM KAU, BRENGSEK!”  Maki Kris dan Kai secara bersamaan kearah Sehun yang belum sempat menyelesaikan ucapannya untuk menengahi Kris dan Kai. Kembali, kedua pangeran yang berebut panda tersebut saling maki bahkan sudah mulai bergerak untuk berkelahi. Sehun yang masih saja sangat malas melihat mereka sama sekali tidak berniat menengahi Kris dan Kai yang sudah mulai menyengkram kerah baju masing- masing.

 

 

Dan—

 

 

BYURRRRR

 

 

“WOAA!!”  Kris dan Kai terperangah dengan apa yang baru saja terjadi.

 

 

Mereka terdiam karena baru saja, baru saja mereka mendapat serangan air yang berasal dari—dari pintu ruang kesehatan? Tidak hanya itu, Kris dan Kai kembali terkejut ketika melihat seorang pemuda mungil dengan wajah tertekuk marah memegangi sebuah ember dengan geram. Pemuda berparas cantik itu sudah dipastikan adalah pelaku penyiraman. Sehun yang melihat pemuda cantik itu bertepuk tangan dan tersenyum manis sekali. Sepertinya Sehun sempat menghindar dan ia tidak basah sedikitpun.

 

 

“JAUHI.RUANG.KESEHATAN.INI.SEKARANG.JUGA.DILARANG.MENDEKAT.DENGAN.JARAK.500.METER.!!!”

 

 

BRAKKKKK

 

 

Pintu ruang kesehatan kembali tertutup dengan keras. Meninggalkan Kris dan Kai yang tercengang, baru kali ini mereka melihat sesosok malaikat marah besar dan bolehkah mereka mengatakan bahwa sosok Luhan yang biasanya cantik dan menggemaskan terlihat seperti lelaki perkasa yang bisa mematahkan leher siapapun. Itu membuat mereka syok!!

 

 

“Jangan mencari gara- gara dengan Luhan-hyung jika tidak mau menyesal terlahir didunia ini.”

 

Sehun menepuk pundak Kris dan Kai yang masih terdiam ditempatnya secara bersamaan, kemudian lewat diantara mereka dengan santai lalu masuk kedalam ruang kesehatan. Akan tetapi, kepala Sehun keluar lagi dan tersenyum manis. “Ikuti kata- kata Luhan hyung, jika tidak aku tidak bisa menjamin kalian bisa bertemu dengan Tao lagi.”

 

Brak

 

Pintu ruang kesehatan sudah tertutup rapat. Ingin sekali Kai dan Kris masuk untuk melihat keadaan Tao, akan tetapi mereka juga tidak mau dipersulit menemui Tao nantinya karena ancaman Luhan. Seperti ancaman itu benar- benar pasti dan Luhan sangat jarang marah. Apalagi murka seperti tadi.

 

 

Dengan berat hati Kris dan Kai yang sudah basah kuyub melangkah menjauhi ruang kesehatan. Setidaknya mereka harus berganti pakaian. Well, mereka harus memakai pakaian olahraga sepanjang hari ini nampaknya. Tidak sadar, Kris dan Kai melaju ketempat yang sama, yaitu ruang loker.

 

“Jangan mengikutiku!!”

 

“Kau yang jangan mengikutiku!”

 

“Cari mati, oeh!!”

 

Sampai mereka menghilang masuk keruang loker, masih terdengar makian atau teriakan marah dari salah satunya.

 

 

 

.

 

.

 

.

 

“Haaah!!”

 

Luhan menghela nafas panjang dan meletakkan ember yang tadi ia gunakan untuk menyiram kedua pemuda tampan itu agar diam. Sehun tersenyum manis kearah Luhan yang ditanggapi dengan sungutan. Luhan masih dalam keadaan hati yang tidak baik ternyata. Mendengar makian Kris dan Kai dengan suara besar mereka itu mengerikan! Seperti mendengar pesawat lepas landas!! Luhan tidak suka itu.

 

 

 

“Luhan ge.” Panggil Tao yang duduk diatas ranjang, rupanya Tao sudah sadar. “Maafkan mereka.”

 

Luhan menghela nafas lagi lalu mendekati Tao. “Aaahh! Kenapa Tao yang minta maaf? Mereka memang keterlaluan, lihat saja apa yang mereka lakukan! Jika aku tidak lewat tadi didepan mobil Kris, mungkin mereka masih saja bersiteru siapa yang boleh mengangkatmu ke ruang kesehatan hingga kini.”

 

 

“Jinjja?” Sehun mencoba masuk dalam perbincangan. “Memangnya kenapa kau bisa pingsan, Tao?”

 

 

Tao mengangkat bahunya. “Tidak apa- apa, Sehunnie.”

 

 

“Kalau kau sampai pingsan berarti terjadi sesuatu, kan!” Sehun masih kukuh. Sebenarnya ingin sekali ia mematahkan leher Kris dan Kai yang terus saja mencari masalah menyangkut tentang Tao. Bagaimanapun, Tao adalah sahabat baiknya!

 

 

Tao nampak berfikir kemudian menatap Sehun tajam. “Sehunnie.. Kenapa aku merasa… Bahwa sepertinya aku yang salah.”

 

 

“Eh?”

 

Luhan dan Sehun saling pandang kemudian matanya kembali kearah Tao. Menatap pemuda manis yang masih saja tersenyum sedih. Sehun mendekati Tao lalu mengusap rambut pemuda itu dengan lembut. Tao tahu kalau Sehun berusaha membuatnya tenang.

 

“Maksudmu, Tao?” tanya Sehun merasa perlu penjelasan.

 

“Tadi… Aku… Saat aku melihat Kris ge dan Kai tadi.. Aku mengerti satu hal. Aku mengerti bahwa.. Aku menyiksa mereka, Sehunnie.”

 

Sehun mendengarkan ucapan Tao dengan begitu tenang. “Jadi?”

 

Mata Tao nampak sudah berat. Aduh! Mengapa ia cengeng sekali. Ini bukanlah yang harus membuatnya menangis, bukan? Dengan segala usahanya, Tao menghela nafas pelan lalu mengarahkan pandangan matanya pada Luhan. Ia tatap Luhan dengan sangat taat.

 

“Luhan ge.. maafkan aku.”

 

“Eh?” Luhan menunjukkan dirinya sendiri. “Ke—kenapa Tao?”

 

“Sebenarnya.. Aku dan Kai berpacaran bukan didasari rasa suka. Aku minta maaf telah membuat Luhan ge menangis beberapa kali karena hal ini. Aku minta maaf, ge.”

 

Luhan tersenyum dan duduk ditepi ranjang Tao, mengusap rambut hitam itu dengan sayang. “Justru—hal itu menyadarkanku… bahwa Kai.. tidak pernah melihatku. Kai tidak pernah.. menyukaiku. Tao tidak salah dan aku tidak pernah marah padamu. Benarkan, Sehunnie?”

 

“Ha.. Ah! Iya! Betul sekali!” Sehun memamerkan senyuman lebar miliknya. Sebenarnya ia sedih sekaligus senang mendengar ucapan Luhan. Sedih karena melihat wajah Luhan yang sedih namun bahagia karena Sehun tahu bahwa Luhan sudah menyerah mengenai Kai. Apakah dia memiliki kesempatan?

 

“Terima kasih, ge!” Tao langsung memeluk Luhan dengan sangat erat. “Terima kasih.”

 

“Nah.. kau juga harus menyelesaikannya dengan mereka berdua, kan?” bisik Luhan tepat ditelinga Tao.

 

Tao mengangguk, masih memeluk Luhan dengan erat. “Akan kutegaskan hatiku.”

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Jam istirahat

 

 

Kris dan Kai yang memakai pakaian olahraga kini duduk disebuah kursi. Keduanya nampak jengkel karena disandingkan berdua dikursi taman yang sama. Kelihatan sekali mereka tidak mau bersentuhan satu sama lain. Dihadapan mereka berdiri Tao yang memeluk boneka panda serta Chanyeol yang entah sejak kapan datang kesekolah. Park Chanyeol berlagak seperti seorang ayah dari Tao, ia memegang sebuah kipas Jepang besar. Bertujuan untuk memukul kedua pemuda tampan yang duduk dikursi taman itu jika macam- macam.

 

 

“Tao sayang.. apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kris dengan suara sangat lembut.

 

Kai memutar bola mata. “Ck! Menggelikan!”

 

Kali ini Kris yang memutar bola mata. Jika Tao tidak ada dihadapannya, Kris dipastikan akan baku hantam lagi dengan Kai. Sama hal nya yang dipikirkan oleh Kai yang ingin merobek mulut Kris. Seenaknya memanggil kekasih Kai dengan sebutan sayang. Jangan lupa jika Kai dan Tao belum mengakhiri hubungan mereka.

 

“Dengarkan aku.. Kris ge.. Kai..” Tao berusaha menghentikan perang tatapan mata antara Kris dan Kai. Dan memang ampuh karena suara Tao berhasil membuat kedua pemuda tampan itu mengalihkan pandangannya pada Tao. Chanyeol masih saja menahan tawanya karena melihat tingkah Kris dan Kai yang begitu penurut pada Tao.

 

 

“Begini… Aku—aku ingin minta maaf.”

 

 

Kris dan Kai mengerutkan kening mereka, bingung mengapa Tao minta maaf kepada mereka. Termasuk Chanyeol yang sedari tadi dengan wajah aneh menahan tawa, menatap tajam kearah Tao. Ia ingin bertanya mengapa anaknya dengan Baekhyun ini (Tampaknya Chanyeol sudah mematenkan bahwa Tao adalah anaknya dengan Baekhyun) malah minta maaf kepada Kris dan Kai. Tetapi Tao kembali bersuara.

 

“Kai.. aku minta maaf. Aku benar- benar minta maaf telah menjadi teman yang buruk untuk Kai. Seharusnya aku berterima kasih kepada keluarga Kai yang mau mengasuhku ketika kami pindah ke Korea semenjak papa meninggal. Keluarga Kai juga yang mau membantu pemakaman mama setelah meninggal..” Tao menunduk sembari memilin jemarinya. “Sebenarnya… aku sempat…me.. men… menyukai Kai …walau kau selalu mengasariku sejak kecil.”

 

DEG

 

Kai terhenyak, ia membulatkan mata mendengar ucapan Tao. Yang benar saja—Tao sempat menyukainya? Apa- apaan ini? Mengapa ia sama sekali tidak sadar!

 

“Namun.. entah sejak kapan aku merasa Kai mulai menjauhiku. Kai lebih senang jika tidak bersamaku.. maka aku memutuskan untuk mencoba hidup mandiri dengan tinggal sendiri. Dan sejak itu—Kai benar-  benar tidak mau lagi menemuiku.. bahkan di sekolah. Sampai akhirnya Kai mengancamku pada malam itu.”

 

 

Kali ini Kai menunduk. Oh Tuhan, haruskah ia menyesal sekarang?

 

 

“Kris ge..” Tao kini beralih pada Kris. Pemuda tampan bak pangeran itu malah terlihat sedih, Kris menatap Tao dengan senyuman sedih. “Kris ge selalu membuatku bingung dan takut. Aku tidak pernah yakin dengan semua yang ge lakukan padaku adalah.. benar. Aku takut gege memberiku harapan palsu.. karena gege terlihat begitu terang- terangan mengejarku. Itu—membuatku takut.”

 

Kris tahu dengan jelas, dia tahu dengan jelas bahwa niat baiknya ternyata dipandang salah oleh Tao. Sudah ia duga bahwa Tao akan mengartikan salah setiap perhatiannya. Namun Kris tetap memandang Tao dengan tatapan lembut dan sayang. Ia tidak marah ataupun kesal. Tao yang ia cintai memang seperti ini, kan?

 

“Namun… aku tahu sebenarnya gege berniat baik.” Tao memutus kontak matanya dengan mata Kris. Ia menunduk. “Dan aku begitu berterima kasih pada kebaikan gege padaku.”

 

 

Tao mundur satu langkah. Berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik boneka panda besar yang dibawa oleh Chanyeol (Sebenarnya itu adalah hadiah dari Baekhyun untuk Tao). Ia tidak berani menatap Kris dan Kai sekarang. Namun ia sudah seharusnya melakukan hal ini sebelum semuanya semakin rumit. Kedua pemuda ini sudah jelas jatuh cinta pada Tao. Akan tetapi, bukankah terlalu kejam jika Tao memilih?

 

Maka…

 

 

“Aku minta pada Kris ge dan Kai…” Tao mengangkat wajahnya. “Hingga hari pergelaran seni tiba.. aku… ingin kita menjadi orang asing dulu.”

 

 

“Apa!” teriak Kris tidak terima. “Tidak! Tidak!! Tidak bisa, Tao!”

 

 

“Harus! Harus bisa! Aku tidak akan memilih karena itu akan menyakiti kalian berdua, kan? Lebih baik kalian yang memilihku!” ujar Tao kali ini sangat tegas. “Waktu seminggu itu sangat efektif untuk kalian berfikir dengan matang. Apakah aku pantas menjadi orang yang kalian sayangi…”

 

 

“Tao—“ Kris menggeleng cepat, dia sudah nampak sangat frustasi. “Aku tidak mungkin sanggup… seminggu.. oh Tuhan! Seminggu!! Seminggu itu tujuh hari Tao!! Tujuh hari!”

 

 

Kai mengerti bahwa Tao begitu menjaga perasaan mereka. Tao memang baik hati namun Kai tidak mau Tao menyakiti dirinya sendiri. Pemuda tampan berkulit kecoklatan itu kemudian berdiri, berjalan mendekati Tao dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

 

 

“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, Tao.. jika kesalahpahaman dimasa lalu membuat kita tidak menyatu. Kini aku mengatakan dengan jelas padamu..” Kai tersenyum tipis kemudian ia usap rambut hitam Tao. Apa yang bisa Tao lakukan selain terkejut dengan perlakuan lembut dan ucapan Kai padanya.

 

 

“Aku menyukaimu sejak dulu, panda cengeng.”

 

 

DEG

 

 

Mata Tao terbuka lebar, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kai baru saja. Namun hanya sebentar saja Tao bisa melihat ekspresi kasih diwajah Kai karena pemuda itu sudah berjalan pergi meninggalkan Tao, Kris dan Chanyeol disana. Meninggalkan Tao yang terkejut atas ucapan telak dari Kai. Pernyataan yang ia rasa tidak mungkin ia dengar dari bibir Kim Jongin. Namun—

 

 

 

“Tao..” panggil Kris begitu lemah.

 

Tao mengalihkan matanya yang masih melebar kearah Kris. Mata Tao sudah memerah, dan Kris tahu bahwa Tao kini sedang ingin menangis. Chanyeol yang ada disamping Tao langsung merangkul pundak pemuda panda itu pelan. Mencoba menenangkan anaknya (sepertinya Chanyeol benar- benar sudah merasa sebagai ayah Tao).

 

 

“..Jika itu yang kau inginkan.. aku akan memberimu waktu.” Lanjut Kris pelan. “Namun yang harus kau ingat hingga hari itu tiba..”

 

Kris mengusap pipi Tao dengan lembut lalu mendekatkan wajah mereka. Tidak berbohong dada Tao serasa bergemuruh ketika Kris mulai menaikkan sedikit arah kepalanya menuju.. kening Tao. Menyingkirkan poni itu kemudian—mengecup kening Tao dengan sangat lembut.

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

Tao mengerjapkan matanya pelan, menyebabkan buliran air mata yang tadi ia tahan terjatuh. Beberapa saat tertahan hingga Kris menyudahi kecupan kecil dikening pemuda panda. Menatap lagi benik mata merah yang amat indah milik Tao, Kris tersenyum tipis.

 

 

“Aku mencintaimu.”

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

Kau tahu dengan jelas—

Hatiku yang sesungguhnya…

 

 

Tao berlari meninggalkan Kris dan Chanyeol yang terdiam disana. Kris hanya menatap punggung pemuda manis yang berlari itu dengan sedih. Chanyeol menepuk pundak Kris, seakan memberi semangat pada Kris yang terlihat amat kecewa kini. Seumur hidup Chanyeol, baru kali ini mendengar Kris mengatakan ‘Aku mencintamu’ pada seseorang. Pasti Kris sangat tulus dan begitu menyayangi pemuda panda itu.

 

 

“Aku akan memberimu waktu Tao.. Hingga datang waktu dimana aku menjemputmu.”

 

 

 

Bisik Kris dan Kai didalam hati—

 

 

 

 

CONTINUE

 

 

 

YEAH!!! CHAPTER 8 ADALAH CHAPTER TERAKHIR BELOVED!!!

AKHIRNYAAAA~ FF TAORIS PERTAMA AKU KELAR JUGAAA *sujud dikaki Tao

Udah nyaris setahun ini FF gak tamat- tamat! Seneng ya Allah semoga cepet beres deh!!

Seperti biasaa~ Chapter ENDING di PROTECT! Tinggalkan jejakmu didalam hatiku~  biar aku tahu siapa aja yang mau baca chap akhirnya.

P.S : ADA YANG SUKA SULAY GAAKK?? CONTACT ME PLEASEE~ aku lagi suka sulay nih~ mau nanya nanya fakta sulay. Aku lagi gila bgt sama Kristao Kaisoo ama Sulay~ tengkyu.

 

Satu hal lagi, jangan ada bashing atau ejekan apapun buat FF ini. Aku ga terima bashing – an tokoh, pairing dan lain- lain. AKU BUAT FF BUKAN BUAT FANWAR, okey~ Gak suka Taoris, HunHan, Chanbaek, Kaisoo ga usah baca!!!

 

See you on Beloved 8~

239 thoughts on “TAORIS FF | BELOVED Part 7

  1. Chingu… FFnya daebak!
    Lanjut ya!
    Klo bisa di cepetin, udh g sabar nih!
    Klo bisa jgn d protect! Tpi klo mau protect, bagi PW nya yaaaa… gomawo🙂

  2. Lopek lopek gue sama author nyaa. Gewla gue berasa jadi orang gila. Senyum2 sendiri. Kenapa chapter 8 harus di protect -__- duhilehh

  3. akuuu nangis bacanya
    kasian krisnya
    kai kamu nglah ya
    mndingan kai sama kyungsoo ajh ya,biar chanyeol sma baekhyun..
    ayo dilnjut…
    aku minta pw buat chapter 8 bolh ?
    trus berkrya ya
    hwaithing

  4. ini FF bagus deh, soalnya lengkap aja. ada sisi humorisnya, romantisnya, persahabatan bahkan sampai kompetisinya segala. tapi kalo boleh request ya Hyobin, tolong kurangi ekspresi-ekspresi Korea (misalnya “oeh”) di dalam percakapan para tokohnya. terimakasih
    chap 8 ya Hyobin…..

  5. Demi chanyeol.q yg playboy but i love it!!
    Keren thor ceritax!

    Next thor chap 8.nya, n u know what!? Q nemu n bc nie ff seharian ni dr chap 1 smp 7, nyesel g nemu chap 8’a.
    G ngerasa dosa lu thor ud bkin jntungq dag dig dug g karuan??
    Makax segera update, okeh??
    #reader maksa,hhe

  6. Hiks…hiks sy terharu sama persahabatab kris chanyeol,
    sy baru koment di chap ini karna sy finish.in dulu, eh taunya pas sy dah mulai nangis,
    kenapa tu TBC atau sjenisnya nongol, huweeee~

  7. Omo … lamanya seminggu …. bakalan jd zombi nih bang sekseh dan bang naga @ plak …. daebbak onie😀

  8. HUEH INI KATIAN TAO NYA GALAU. . . Chapter 8 nya kga updte update ? ? ? Kim hyobin please chapter 8 nye #buingbuing

  9. kris jadi mesum gitu.. ingat kris tao masih dibawah umur -_- bersabarlah..
    udah mulai keliatan kaisoo.. apa nanti kai sma si d.o????
    saya tunggu kelanjutannya..
    cepet update ya thoooorrr….

  10. panda yang berhati sepolos kertas putih di angkat anak oleh bapak tower mesum dan ibu eyeliner pengertian. Jatuh cinta dan di cintai oleh pangeran yang coolnya gagal total jika bersama panda & bapak tower. tapi beruang tengsi cinta pertama panda datang kembali dari awal yang super tengsi menjadi super sweety. Rusa cantik jadi rival berat Panda soal peka nggk peka. Tapi raja pereman kelas 2 sangat protectif dan menyayangi panda dan rusa ini. Walau khusus untuk rusa, preman masih bertepuk sebelah kaki dengannya *tabahnya. Si owl yang masih mengharap cinta bapak tower dan salah sasaran cemburu ama panda, Lay ge…. kenapa kau jarang muncul? apa kau selalu dengan Suho oppa??… Nggk cm Tao ge yang galau, aku juga loh #eh so, aku pengeeeeen bgt baca lanjutnya T_T ini DAEBAAAAKKK BANGETTT MANIS ASEM ASIN NANO-NANO KALAH TELAK #maaf perumpamaannya aneh eon *bungkuk” salting* Jang eon! *kasih jempol*

  11. Authooorrr!!! Mana chap 8 nya ?!! Aku nunggu merana nih!!.xD
    Btw, I really love this FF! Its so amazing!
    Feelnya kerasa skaleee~ Aku ikut nangis kok :’). Ini sngat mngharukan dn manis!!
    Aku harap author mau ksih link dn pass chap 8nya ^^ #bow

  12. demi Ayam goreng Chanyeol sayang yg jatoh di kamar Pangeran Kris tadi, aku ketawa ky orang gila pas baca nama Sehun suamiku, di hape Tao.
    Ahahahahaha
    bwd author…
    K.E.R.E.N

  13. Thor, ffnya daebak… rasanya kaya bener bener nyata gitu.. tapi kok chap 8 nya aku ga nemu ya?? minta linknya dong’-‘9

  14. Maaf baru comment
    ceritanya keren, yg ke 8 kok ngga ada??
    tao manis bangeeett, kris jadi rada konyol ya. haha chanyeolnya keren karakternya, suka deh!!
    pokoknya aku dukung TAORIS !!

  15. waaah,, FF TaoRis nya Kereeeen bangettt…
    Kapan Part 8 nya di rilis???
    kalo bisa jangan sampe part 8 aj,, trus lanjut sampe part 10..
    ni ff bagus banget kalo dijadiin Drama tw anime…
    keep Fighting,,
    you are Great Writer…

  16. ni FF keren banget,, Please kapan chapter 8 keluar???
    kalo bisa jangan stop di part 8 lanjut terus..
    Keep writing,, You are great writer..🙂

  17. baru tau kris bisa out of character gitu….
    ngebayangin kris kayak d sini bener2 bikin g nahan
    apalagi krisyeol nya….
    chan banyol banget
    paling suka ma chan deh….
    tao jangan bikin kris sakit hati ya
    panda cuma punya dragon
    TITIK.

  18. Cerita.a daebak banget thor😥 ,
    mian baru komen,tapi kenapa lay oppa nggak muncul lagi ?
    Kenapa kenapa kenapa ?? *mendadak ayu ting ting..
    4 jempol buat author.a,..

  19. Uwaaaaa kenapa selesai disinii eohhT_T
    Apa aku juga harus mengecup kening author biar cepet lanjut/? *plak Ngga lah eon becanda hihi^^ cepetan di lanjut eonn penasaran bacanya dag dig dug serr gitu:3 hehe hwaitingg!!

  20. Entah kenapa lebih suka karakter chanyeol di sini
    Kocak abisss…..hehehheeee….

    Bikin special part dong khusus chan ana baekkie

    Ga sabar nunggu endingnya….
    Please segera di tamatin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s