ONESHOOT | SHASHIN

Author: Nine-tailed Fox

Title: Shashin

sashin

Cast: Anggota keluarga bahagia

Genre: Kegombalan dalam rumah tangga.

Rate: K. T. M. PG. NC. *pilih yang paling benar dengan cara dilingkari*

Length: satu jam saja kujumpa denganmu, satu jam saja kubercumbu rayu, satu jam saja…

 

Bagi yg masih bingung, semua akan terjawab ketika anda membaca FF ini nanti. Terinspirasi setelah melihat teaser Tao yg kayaknya siap nerjang orang itu -_____-

 Oke, iya saya tau kan awalnya bilang ga terlalu ngefeel bikin Kristao. Tapi ya gimana coba kalo tiap hari ngobrol sama bos Hyobin yg diomongin selalu KRIS to the TAO ???

 

 Hyobin: Kyaaaa! Kakak, Tao bla bla bla…! Kristao bla bla bla kak!!!

Saya: *ngorok* eh, ga kok bohong. Saya tetap mendengarkan dengan manis supaya mirip sama baekhyun *apa coba?*

 

Selain itu, saya nih ya kalo inget Hunhan…selalu tindak kriminil yang kepikiran, kalo inget Chanbaek selalu kebodoran yang saya pikirin *calon cast opeje nih*

Jadi kalo kristao ini genrenya apa? Kegombalan dalam rumah tangga.

Sebenernya sih saya sukanya sama Tao doang…sama Wufan mah…*buang muka* > ga tau diri

 

Oqeseepphh~

Cukup! Mulai serius nih ya.

 

Ada beberapa istilah yang muncul.

Hakama: pakaian yang bentuknya kayak seragam karate, judo, taekwondo…yah semacam itu.

Liong: Naga panjang. Bukan yg punya sayap ya, bukan.

 

Selain itu karena ini hanya FF, mohon abaikan hal yg sepele!

 

OH IYA! SHASHIN ITU BAHASA JEPANG, ARTINYA FOTO/POTRET

 

Sekian~

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

Wufan memutuskan untuk bersih-bersih rumah ketika hari minggu, jelas ia libur dari pekerjaannya sebagai seorang editor disalah satu kantor penerbitan. Biasanya bukan dirinya yang melakukan perkerjaan rumah tangga semacam ini, namun yah…tidak ada salahnya sesekali meringankan beban ‘orang itu’.

 

Dimulai dari pekerjaan ringan seusai sarapan, mencuci piring. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk kemudian melanjutkannya dengan acara laundry yang cukup banyak, ia bersyukur cuaca hari ini cerah dan hanya sedikit berawan. Selagi menunggu cuciannya kering, Wufan melanjutkan dengan membersihkan lantai, langkah pertama…ia menggunakan vacuum cleaner untuk menghisap segala kotoran yang ada dilantai mau pun karpet.

 

Ia mendesah pelan. Sudah tiga puluh menit berlalu, pekerjaan ini ternyata lumayan melelahkan karena mengharuskan seluruh tubuh untuk bergerak. Hebat juga ‘orang itu’ melakukannya sebanyak empat kali dalam seminggu.

 

Wufan tak mematikan mesin vacuum ketika dirinya memutuskan untuk membersihkan ruang dimana ia biasa menyimpan buku-buku, berkas, sertifikat –segala sesuatu yang berhubungan dengan alat tulis dan kertas− ruangan ini sebenarnya berlantai kayu, namun cukup berdebu karena dipenuhi oleh kertas yang mudah sekali tertempel debu. Pemuda bertubuh tegap itu mendorong penyedot kesudut ruangan yang cukup berdebu, terus menyusuri lantai dan berujung pada bagian bawah rak yang terisi penuh dengan buku, entah buku apa saja itu…Wufan tak dapat mengingatnya. Ia mengeluarkan sebuah kemoceng –yang terbuat dari bulu unggas− warna hitam yang sengaja ia bawa dengan cara menyelipkannya dipinggang, diantara sabuk dan celananya.

 

Ia tak perlu berjinjit untuk menggapai bagian teratas rak, tubuh tingginya memberi keuntungan disaat-saat seperti ini. Wufan terus menepuk permukaan yang berdebu dengan alat kebersihan ditangannya, sampai pada susunan ketiga, tepat didepan batang hidungnya…ia menemukan satu jilid yang bertuliskan ‘Zitao’s Album’ pada tepiannya. Pemilik surai berwarna keemasan itu tersenyum tipis, ia memutuskan untuk mengambil benda itu dan dalam keadaan berdiri setelah mematikan mesin vacuum, ia mulai membuka halaman pertama album tersebut.

 

Terdapat didalamnya, selembar foto penuh satu halaman –album foto ini cukup besar ukurannya− terlapisi plastic, potret seorang anak…Wufan dapat menebak usia anak itu kurang lebih enam atau tujuh tahun.

 

Dan dibagian bawah foto tersebut, tercetak tulisan ‘Our Beloved Little Zitao’ berwarna hitam.

 

Senyum tipis kembali mengembang diparasnya yang rupawan. Ia menatap cukup lekat, potret Zitao yang ketika itu tengah menoleh kebelakang ketika hendak berangkat sekolah, melihat dari seragam dan tas ransel yang melekat ditubuh kecilnya. Dalam potret itu, Zitao tersenyum lebar…menggemaskan sekali, kedua tangannya memegang tali ranselnya, helaian surai hitam dikepalanya sedikit berdiri karena terhempas angin sepoi kala itu dan mata tipisnya semakin menipis tertarik senyumannya.

 

Wufan sedikit terharu, sungguh besar cinta kedua orang tua Zitao kepada bayi kecil mereka.

 

Ia membuka halaman selanjutnya. Pandangannya segera tertuju pada potret yang menggambarkan Zitao tengah berdiri di dekat ayunan taman kanak-kanak tempatnya sekolah.

 

Disana, di ujung bawah kanan potret tersebut, tertempel sebuah potongan kertas merah muda yang bertuliskan:

 

12 Maret 1998. Huang Zitao, 5 Tahun. Kelas bunga matahari.

Bermain meniru Ninja, jangan sampai terluka ♥

 

Siapa lagi yang rajin melakukan hal sepele semacam itu selain ibunda Zitao sendiri? Ah, baginya tentu tidak ada yang telalu sepele atau tidak demi bayi kecilnya Huang Zitao.

 

Beliau juga pernah menceritakan kejadiannya saat itu, Wufan ingat dengan sangat jelas.

 

Ketika itu:

 

“Bu Guru!” seru Zitao dengan suara lantang.

 

“Yes, Zitao.Ada apa?”

 

“Bolehkah, Zitao meminjam sebuah kain?”

 

Sang guru muda itu terlihat bingung “Untuk apa?”

 

“Aku ingin menjadi ninja!!”

 

Sang guru semakin bingung, ditambah heran, ditambah khawatir. Namun ia tetap memberikan selembar kain putih bersih kepada murid kecilnya itu, mungkin sapu tangan atau kain perca sisa prakarya kelas. Zitao menerimanya seraya tersenyum senang, ia segera mengenakannya untuk menutupi sebagian wajahnya, dari hidung sampai dagu. Setelah itu, segeralah sang Little Huang berlari keluar kelas, dengan gaya lari yang aneh –setelah ditanya lagi, ternyata ia meniru gaya lari ninja dalam film animasi kegemarannya−

 

Wufan terkekeh pelan.Sungguh lucu sekali Zitao ketika itu, perutnya terasa berguncang ketika selesai mendengarkan cerita Nyonya Huang. Sementara Zitao, hanya memutar malas kedua bola matanya…ia telah terbiasa dengan kebiasaan sang bunda yang hobi sekali menceritakan masa kecilnya kepada orang lain. Itu adalah tanda cinta kasih, kata beliau.

 

Wufan membuka halaman selanjutnya.

 

Kali ini pandangannya segera tertancap pada sebuah potret yang tentu saja berbeda dari sebelumnya. Sudah pasti potret sang Little Huang, dalam balutan hakama (seragam Karate) yang nampak longgar ditubuhnya, pinggangnya terikat sabuk putih cukup panjang, ia berdiri didepan sebuah pintu masuk, tepat disamping papan nama dojo tempatnya berlatih yang berdiri tegap.

 

Potongan kertas merah muda disana, bertuliskan:

 

20 Juni 1999. Huang Zitao, 6 Tahun. Kelas 1 SD.

Hari pertama berlatih karate. Semangat!!

 

Zitao berpose dengan tangan kiri berkacak pinggang, sementara tangan kanan membentuk V-Sign andalannya…ia tersenyum lebar memamerkan deretan rapi gigi susu putihnya.

 

Kejadian saat itu:

 

Sang pelatih memberi komando “Gerakan pertama!!Pukulan ringan!!”

 

“HEEAA!!”

 

Menggemaskan sekali Tao~

 

Kembali sang pelatih menyuarakan komando-nya “Gerakan kedua!! Tendangan!!”

 

“OSSHH!!”

 

Hampir seluruh orang tua murid yang hadir disana, merona merah dengan mata berbinar memandang seorang anak yang berada dibarisan paling depan. Siapa lagi kalau bukan sang Little Huang. Menjadi kebanggan tersendiri tentu saja, bagi sang ibunda.

 

Wufan berangan-angan seraya terus menatap foto tersebut. Seandainya ia melihat kejadiannya langsung dan tak hanya mendengar cerita Nyonya Huang, pastilah Zitao akan jauh lebih lucu dan menggemaskan daripada dalam bayangannya.

 

Ah, masa lalu.

 

Ia pun membuka halaman selanjutnya.

 

Kedua matanya yang beriris coklat pekat itu segera tertuju pada potret Zitao yang lain, yang berada dihalaman itu. Potret Zitao kecil, masih dalam balutan seragam karate, kali ini sabuknya berwarna hijau dan tubuhnya sedikit lebih tinggi.Dalam portet itu, Zitao berdiri diatas podium seraya menyandang sebuah piala dan medali emas dilehernya.

 

Potongan kertas pink yang tertempel disana, bertuliskan:

 

4 April 2002. Huang Zitao, 9 Tahun. Kelas 4 SD.

Selamat juara pertama, Zitao kami yang hebat!

 

Wufan mengingat langsung kejadiannya. Karena ketika itu, ia merupakan kakak kelas Zitao disebuah sekolah dasar swasta. Zitao kelas 4 SD ketika itu sedangkan dirinya sendiri telah menginjak kelas 6 SD. Dihari tersebut tengah diadakan kejuaraan Karate tingkat Sekolah dasar se-provinsi.

 

Kejadiannya adalah:

 

Sebenarnya bila tidak dipaksa, Wufan enggan mendatangi gedung olah raga kota sepulang sekolah…jika tidak teman baiknya, Luhan memaksa. Maka tak heran jika setelah acara selesai, Wufan berjalan menuju pintu keluar dengan terus menguap bosan, tak menghiraukan Luhan yang terus mengoceh bagaimana serunya pertandingan, meski sayang sekali sepupunya yang bernama Yixing, harus kalah dibabak semi final.

 

Wufan terus melangkah seraya menatap langit, jenuh…baginya pertandingan ini membosankan…terlebih, ia bukanlah pedofil yang akan berteriak girang melihat para anak kecil melakukan tindak kekerasan seperti tadi.

 

Sampai ketika sebuah suara membuyarkan dunia angan dikepalanya.

 

“Papa!!Mama!!!”

 

Bocah lelaki yang ketika itu masih memiliki surai kelam dikepalanya –belum diwarnai− segera menatap lurus kedepan…disana, nampak seorang anak lelaki memakai hakama ditubuhnya, tanpa alas kaki, tengah berlari cepat seraya melambai-lambaikan kalung medali emas ditangan kirinya.

 

“Aku berhasil! Aku menang!! Horeee!! Yeaayy!! Hehehe~!!” teriaknya riang sambil terus berlari melewati Wufan.

 

Gerak reflex Wufan memaksanya untuk turut menoleh, langkahnya pun terhenti, mengabaikan Luhan yang terus berjalan meninggalkannya.

 

Entah mengapa, ia tertegun…ketika penglihatannya dihadapkan pada sebuah kejadian dimana seorang pria muda tengah mengangkat tubuh anak kecil yang membawa medali itu tinggi, sementara wanita muda disebelahnya hanya tertawa riang. Ketiga orang itu tertawa lepas…amat bahagia dimata Wufan.

 

Sinar yang mereka pancarkan, terasa hangat.

 

Mungkin Zitao memang terlahir untuk menjadi atlet sejati. Tanpa harus bersusah payah tubuh kecilnya ketika itu mampu mengingat semua latihan dan pelajaran yang diajarkan oleh pelatihnya dengan baik, ia juga mendengar kalau nilai pelajaran olah raga Zitao selalu menjadi yang tertinggi selama enam tahun.

 

Wufan berfikir, jika saat itu ia tak datang untuk melihat pertandingan karate…kira-kira apa yang akan ia rasakan saat ini?

 

Pemuda berparas tampan layaknya sang pangeran itu membuka halaman berikutnya.

 

Potret lain sang Little Huang segera menarik perhatiannya. Dalam potret itu Zitao tengah duduk diatas lintasan lari, mengikat sebelah tali sepatunya…ia mengenakan seragam olah raga berupa celana pendek berwarna biru tua dan kaus putih, seragam olah raga sekolah dasar-nya.

 

Tertulis diatas potongan kertas merah muda yang tertempel disana.

 

10 Agustus 2004. Huang Zitao, 11 Tahun. Kelas 6 SD.

Latihan untuk festival olah raga terakhir. Harus menang!!

 

Potret tersebut membuat Wufan teringat akan kejadian ditanggal yang sama dengan tanggal yang tercantum pada note merah muda difoto. Ketika itu tentu saja ia telah lulus SD dan melanjutkan pendidikan ke sekolah Menengah pertama.

 

Hanya saja:

 

Satu hari membosankan ketika pelajaran usai lebih awal karena para staf pengajar mengadakan rapat guna menyambut midtest beberapa minggu lagi.Wufan yang saat itu duduk dikelas delapan, memilih pulang ketimbang menghabiskan waktu sia-sia disekolah, beberapa temannya sering melakukan hal itu. Sangat disayangkan Luhan pindah ke Korea Selatan saat kenaikan kelas, ia merasa cukup kehilangan akan teman baiknya tersebut.

 

Menengadah menatap langit biru, nampak cerah dengan kumpulan awan putih yang mengarak diatas sana. Cuaca masih sangat cerah, sangat disayangkan ia pikir jika saat seperti ini dihabiskan dengan mengurung diri didalam rumah.

 

Daripada pulang, Wufan memutuskan untuk mengunjungi sekolah dasar tempat ia bersekolah dulu.

 

Hal yang terpikirkan pertama kali ketika tiba didepan gerbang sekolah dasarnya dulu, adalah untuk melihat anak yang dahulu memenangkan kejuaraan karate dan mendapatkan medali emas, jika diperhitungan mungkin anak itu sudah menduduki kelas enam, mengingat desas-desus yang menyebutkan bahwa kejuaraan tersebut dimenangkan anak kelas empat SD.

 

Menjadi pusat perhatian karena dirinya mengenakan seragam yang berbeda, Wufan terus melangkah menuju sasana karate. Berharap dapat bertemu…atau sekedar melihat bocah tersebut.

 

“Murid kelas enam sudah tidak lagi mengikuti kegiatan ekstrakulikuler karena akan melakukan persiapan ujian masuk sekolah menengah.”

 

Ucapan pembimbing klub karate membuat raut wajah Wufan sedikit murung, menyadari hal tersebut…pria paruh baya itu segera menambahkan.

 

“Datang saja ke lapangan olah raga, mungkin murid kelas enam yang kau maksud sedang berada disana karena sebagian dari mereka tengah berlatih untuk festival olah raga.”

 

Tanpa pikir panjang, Wufan segera melangkah menuju tempat yang dimaksud…setelah mengucapkan terima kasih seraya membungkuk sopan tentunya.

 

Anak itu memang berada disana ternyata. Tengah melakukan pemanasan dengan beberapa temannya. Wufan memang tidak menampilkan senyumnya, namun siapa yang tahu jika hatinya kini terasa meletup-letup ringan.

 

Peluit panjang berbunyi dan anak itu berlari.

 

Ia berlari paling belakang pada awalnya, namun seiring waktu ia menyusul rekannya yang lain hingga akhirnya berada paling depan. Wufan melihat tubuh anak itu begitu ringan dan lincah, kurus namun berisi dan…lebih tinggi dari sebelumnya tentu saja.

 

Wufan berfikir, jika peri itu nyata…pastilah wujudnya menyerupai anak itu.

 

Gambar dalam potret itu menarik kenangan Wufan akan diri Zitao, membuatnya begitu ingin tertawa karena…yah, sungguh lucu jika anak berusia 13 tahun menguntit anak berusia 11 tahun, ternyata ia memiliki bakat terpendam sebagai seorang stalker.

 

Tak ingin terus berfikir negative, Wufan segera membuka halaman selanjutnya.

 

Potret menarik Zitao lainnya segera memonopoli perhatian sang pemuda rupawan. Disana, Zitao masih mengenakan seragam olah raga…bukan, bukan seragam olahraga sekolah dasar, tapi sekolah menengah pertama berupa celana training merah, kaus hitam yang terlapisi jaket juga merah. Ketika itu sang Little Huang telah menginjak tahun pertamanya disekolah. Ia tersenyum manis didepan pintu gerbang sekolah, tepat disebelah papan nama sekolah…seraya membawa sebuah bola basket dikedua tangannya.

 

Tertulis:

 

4 April 2005. Huang Zitao, 12 Tahun. Kelas 1 SMP.

Kali ini mencoba bermain basket! Kerja keras!

 

Pada potongan kertas merah muda, yang selalu tertempel disetiap foto…dengan tulisan yang berbeda pula.

 

Jika Zitao duduk dikelas satu sudah pasti Wufan berada dikelas tiga, tahun terakhir ia mengenyam pendidikan disekolah menengah pertama. Kebetulan manis pun terjadi, Zitao masuk ke sekolah menengah tempat ia belajar…memang peringkat sekolah ini cukup baik menurut opini public. Namun Wufan sungguh tidak menyangka bahwa ia akan kembali satu sekolah dengan anak itu.

 

Kalau diingat dengan baik, kejadiannya mungkin seperti ini:

 

Sang kapten basket, Wufan. Murid kelas tiga yang juga merupakan siswa paling tampan disekolah ketika itu, merasa cukup terkejut akan hadirnya seorang bocah yang tak asing lagi menurut pandangannya.

 

Wufan pikir, anak itu akan masuk klub karate setelah SMP…terlebih, basket dan karate merupakan olahraga yang sangat berbeda.

 

Anak itu berdiri paling belakang, namun karena ia paling tinggi tak sulit bagi Wufan untuk terus memerhatikan wajah polosnya, yang tak tahu menahu soal basket. Namanya Huang Zitao, Wufan baru mengetahuinya ketika pembimbing mengabsen calon anggota satu persatu.

 

Timbul keinginan untuk sedikit mengerjai anak itu− Zitao…ketika ia mengacungkan tangan setelah pembimbing menanyai siapa diantara mereka semua yang sama sekali belum pernah bermain basket.

 

“Siapa yang bernama Huang Zitao?Maju.”

 

Wufan menahan senyum mengembang diwajahnya ketika melihat Zitao maju tanpa banyak protes.

 

“Apa motivasi-mu masuk klub basket ini?” Tanya sang kapten langsung dengan tegas.

 

“Eh?” yang ditanya nampak terkejut, namun sama sekali tak merasa gentar…hebat. “Ung~ motivasi-ku…tidak ada, sejujurnya. Aku hanya ingin mencoba berbagai hal, basket sepertinya menarik dan keren. Aku pikir, aku bisa menjadi popular kalau masuk klub basket ini!”

 

Gelak tawa semua orang segera pecah begitu mendengar ucapan lugu Zitao, termasuk pembimbing dan teman-teman Wufan. Sementara sang kapten sendiri bersusah payah menahan hasrat untuk menepuk keras keningnya…Little Huang~ apa kau benar-benar sudah lulus SD?

 

“Hei, kau tidak bisa masuk klub basket dengan alasan tak berbobot seperti itu.” Ujar Wufan lemas, terlanjur termakan keluguan dan kepolosan sang Little Huang.

 

“Jangan khawatir, senior!! Aku akan berjuang, aku cukup sering menyaksikan permainan basket di televisi! Aku yakin aku bisa melakukannya!”

 

Kembali timbul keinginan untuk mengerjai Zitao…Wufan menyeringai, entah mengapa rasanya sosok lugu Zitao seolah cocok menjadi sasaran empuk pemanasannya, sang kapten memantulkan bola basketnya kelantai, terus berulang-ulang.

 

“Kau percaya diri sekali. Baiklah, dengan pengetahuanmu itu…kau akan kuterima masuk klub jika berhasil merebut bola dariku dan melakukan Slam Dunk.”

 

Semua tertegun, kecuali Zitao yang nampak sangat antusias,ia tersenyum pasti dan mengangguk mantap “Akan kucoba dan aku pasti akan mampu melakukannya!!”

 

Wufan tersenyum tipis…sang Little Huang, sesuai dugaannya…memang anak yang hebat.

 

Pertandingan Man to Man pun dimulai…keduanya berlari menuju lawan masing-masing. Baik Wufan mau pun Zitao, keduanya sangat gesit dan mengundang decak kagum. Tak diduga Zitao ternyata berhasil merebut bola dari tangan Wufan dan melakukan Slam Dunk dengan indah, mengundang decak kagum lebih banyak dari siapa pun yang hadir digedung olahraga sekolah.

 

“YES!!!”

 

Sudah dapat dipastikan jika Zitao telah menjadi anggota baru klub basket sekolah mereka, semua teman seangkatannya segera mengerubuti dan memujinya. Kecuali Wufan yang hanya tersenyum tipis seraya menatapnya kagum.

 

Sayap sang peri…telah tumbuh menjadi lebih besar dan kokoh rupanya.

 

Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama, karena setahun kemudian…Wufan lulus dari SMP dan memasuki SMA.

 

Wufan mendesah kecil mengabaikan rasa pegal dikakinya setelah sekian lama berdiri mencermati foto masa kecil Zitao. Ketika itu meski sangat ingin, ia tidak mungkin tinggal kelas hanya untuk dapat lebih lama bersama sang Little Huang disekolah, ‘kan? Matilah ia ditangan sang ayahanda jika hal tersebut sungguh terlaksana, entah mengapa jadi merinding.

 

Masih sisa beberapa halaman lagi, pemuda bersurai keemasan itu segera membuka halaman selanjutnya.

 

Satu potret –tentu saja potret Zitao− segera membuatnya terpikat.Dalam potret tersebut, terlihat Zitao dengan mengenakan seragam SMA tengah memarkirkan sepedanya diparkiran khusus sepeda, seraya mengulum lollipop kecil yang gagangnya mencuat keluar dari mulut.

 

1 Mei 2008. Huang Zitao, 15 Tahun. Kelas 1 SMA.

Ketika SMA, sekolah dengan menggunakan sepeda. Sporty ♥

 

Tertulis demikian pada potongan kertas merah muda yang tertempel difoto tersebut…bagus juga, pikir Wufan. Nyonya Huang tak pernah sudi melewati tiap tahap perkembangan buah hati bungsunya,  Her Little Huang…menjadikan kegiatan nostalgia ini tidak terlalu membosankan.

 

Tuhan bermurah hati mengizinkannya untuk kembali mengalami kebetulan yang manis. Zitao lagi-lagi masuk kesekolah yang sama dengannya…sedikit curiga memang, namun sangat tidak mungkin jika anak –yang sangat− tidak peka seperti Zitao menjadi pengagum rahasia apalagi penguntit setianya.

 

Tingkatan mereka sama seperti ketika sekolah menengah pertama, dimana Zitao murid kelas satu sedangkan Wufan kelas tiga.

 

Begini ceritanya:

 

Memasuki gerbang sekolah, Wufan hanya tersenyum ringan menanggapi cerita temannya perihal pertandingan sepak bola yang membuat mereka semua menghabiskan malam tanpa tidur, kecuali Wufan sendiri tentunya. Ia bukanlah maniak bola seperti halnya Luhan…sahabatnya sejak kecil, kini tinggal di Seoul dan sering berkirim e-mail.

 

Tak jauh berbeda ketika SMP, di SMA pun Wufan kembali menjadi pemuda yang paling banyak memiliki penggemar…terutama penggemar perempuan. Nampak banyak sekali siswi yang menyapanya dengan paras merona, Wufan hanya tersenyum tipis dalam membalasnya.

 

Melewati tempat parkir sepeda, langkah Wufan terhenti ketika kedua mata coklat pekatnya menemukan hal yang baginya cukup mengejutkan.

 

Little…Huang?

 

Cukup lama Wufan memerhatikan Zitao yang tengah memarkirkan sepedanya, mulut kecilnya sibuk mengulum lollipop yang membuat sebelah pipinya mengembung.

 

Tunggu sebentar…

Mengapa Little Huang ada disini?

Jangan katakan jika ia bersekolah disini. Ditempat yang sama dengannya.

Little Huang?

Tidak. Akan lebih baik jika semua ini adalah kenyataan.

Wufan tersenyum tipis…tiba-tiba saja perasaan senang dan bersemangat bertambah dalam dirinya, tubuhnya pun terasa lebih ringan seolah mendapatkan kekuatan lebih.

 

Zitao tumbuh dengan baik, menurut penglihatannya. Tubuhnya semakin tinggi dan mungkin akan menjadi lebih tinggi lagi, garis matanya nampak tegas meski sorot yang terpancar tetaplah lugu dan polos.

 

Lagi-lagi Wufan tersenyum tipis lalu kembali melangkah mengejar teman-teman yang telah mendahuluinya.

 

Sang peri…telah pandai mengubah wujudnya menjadi seperti manusia rupanya.

 

“Senior Wufan!!!”

 

Seruan penuh semangat itu mampu menghentikan langkah sang pangeran dengan cepat. Wufan sedikit tersentak, sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh kebelakang…ia mengangkat kedua alisnya kala menemukan− sang Little Huang kini tengah berlari menuju kearahnya.

 

“Wah, tak kusangka ternyata aku tidak salah mengenalimu.” Ucap Tao dengan riang ketika telah berada dihadapan orang yang dipanggilnya, ia tersenyum cerah menyaingi mentari –menurut pandangan Wufan− “Senang sekali kau menjadi kakak kelasku lagi, senior!”

 

Wufan masih terdiam seribu kata. Little Huang dihadapannya ini seolah menyihir sekujur tubuhnya menjadi batu, sangat tidak ia duga jika Zitao, ternyata masih mengingatnya. Padahal dulu, ketika SD mau pun SMP…mereka jarang sekali bertukar kata, terlebih saat SD yang mungkin sama sekali tidak pernah.

 

Dan kini…ia tak tahu harus bereaksi bagaimana.

 

“Mohon bimbingannya juga kali ini!!” ujar Zitao seraya membungkuk hormat.

 

Hingga detik ini Wufan masih tak tahu harus bagaimana bersikap, akhirnya ia hanya tersenyum seperti yang selalu ia lakukan ketika melihat sosok Little Huang.

 

Wufan dan Zitao masih tidak terlalu sering bertukar kata, namun mereka kerap bertegur sapa tiap kali berpapasan atau tak sengaja bertemu disuatu tempat. Menurut informasi yang beredar, ia mengetahui kalau kini Zitao menggeluti olahraga Wushu –masih olahraga− tidak mengejutkan sama sekali, lain halnya jika sang Little Huang memutuskan untuk masuk klub seni merangkai bunga atau klub sains.

 

Banyak orang berkata saat yang menyenangkan itu sangat cepat berlalu…tak terasa satu tahun sudah Zitao bersekolah, ia naik ke kelas dua sementara Wufan lulus dengan baik lalu melanjutkan pendidikannya diluar negeri, kuliah di ibukota Negara Inggris sesuai keinginan ayahnya…London.

 

Semenjak saat itu…tak pernah ada lagi hari-hari indahnya dalam mengamati sosok peri berwujud manusia− Little Huang.

 

Wufan mengusap permukaan plastic yang melapisi potret Zitao itu dengan ujung jemarinya, perlahan seraya mengembangkan seulas senyum.

 

Masih jelas membekas dalam dirinya, ketika dengan berat hati ia pergi meninggalkan China tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Zitao. Huh, Wufan mendengus…memang siapa dirinya bagi Little Huang? Hubungan yang mereka miliki tak lebih dari hanya sekedar senior-junior yang amat sangat jarang bercengkrama. Ia sendiri bingung mengapa kala itu hatinya terasa gundah bukan main.

 

Pemuda rupawan itu menghela nafas.

 

Ternyata peri itu…memang penuh dengan sihir-sihir ajaib.

 

Jemari tangannya bergerak untuk membuka halaman selanjutnya.

 

Potret Zitao yang kali ini menarik perhatiannya adalah sosok sang Little Huang yang telah menjelma menjadi dewasa. Foto hanya menampilkan tubuh ramping Zitao dari kepala hingga sebatas lutut saja.

 

Tengah berjalan ditengah kota dengan latar pepohonan dan pejalan kaki yang sengaja dibuat blur, menjijing sebuat sport bag berbentuk tabung warna merah dengan tulisan besar Adidas hitam pada permukaan salah satu sisinya, sementara tangan lainnya tengah memegang segelas paper cup− yang mungkin saja berisi milk tea, minuman kesukaan sang Little Huang. Mata Zitao tak menatap lurus kamera, namun kearah lain yang sepertinya membuat ia tertarik. Ketika itu musim semi, sepertinya…Zitao mengenakan celana skinny tight jeans warna hitam, kaus V-neck putih dilapisi blazer hitam, bagian lengannya ia tarik sampai siku.

 

Masih terdapat potongan kertas merah muda yang tertempel disana, berbunyi:

 

16 July 2011. Huang Zitao, 18 Tahun. Mahasiswa.

Berjalan-jalan sebentar ditengah kota sebelum memulai latihan rutin ♥

 

Zitao benar-benar menjelma menjadi sosok yang dewasa dalam penampilannya, meski…yah, belum tentu jika untuk urusan pola pikir dan sikap. Tubuhnya ramping dan padat berisi, buah hasil akan hobinya dengan olah raga selama ini. Little Huang memanglah terlahir untuk menjadi seorang atlet sejati…Wufan yakin itu.

 

Ia memang tak mengetahui, siapa pastinya yang mengambil foto Zitao…namun ia mengingat dengan pasti bagaimana kejadiannya ketika itu.

 

Yah, seperti ini lah:

 

Dihari yang cerah seorang pemuda rupawan bersurai keemasan tengah melangkahkan kaki meninggalkan gedung bank, setelah selesai dengan urusannya menukar mata uang dan mentransfer sejumlah dana kerekeningnya yang lain.

 

Mendekati mobil sedan hitam-nya yang terpakir didepan gedung, ia mengeluarkan kunci dari saku belakang celananya, dan memasukannya kedalam slot kunci saat hendak membuka pintu mobil. Sejenak ia memeriksa barang bawaannya sebelum memasukannya kedalam mobil, memerhatikan keadaan sekitar dan ketika ia hendak menaiki mobil…gerakannya terhenti saat menemukan sosok yang lama tak membuat hatinya meletup-letup seperti detik ini.

 

Pemuda itu melangkah kearahnya, seraya sesekali menyeruput milk tea dalam paper cup ditangannya.

 

Ketika jarak diantara keduanya semakin menipis dan tatapan saling berbenturan, mereka terdiam…gerak pejalan kaki disekitar terasa semakin cepat seolah terburu waktu, sementara waktu diantara mereka berdua bagaikan terhenti.

 

Satu yang bersurai keemasan tersenyum. “Huang…Zitao?”

 

Satu lainnya yang bersurai hitam pekat mengerenyitkan kening, bingung…otaknya mulai bekerja keras menggali memori untuk dapat menemukan siapa sekiranya pemuda tampan bersurai keemasan dihadapannya ini?Parasnya…seperti tidak asing meski suara dan warna rambutnya nampak asing.

 

Tapi…

 

Mulut Zitao terbuka lebar dan kedua matanya membulat sempurna.

 

“Senior Wufan??!!!”

 

 

Akhirnya mereka memutuskan singgah direstoran terdekat untuk sekedar bercengkrama seraya menikmati minuman dingin dihari yang cerah ini.

 

“Jadi…yah, aku cukup kaget senior menghilang begitu saja tanpa kabar. Tapi sama sekali tak terpikirkan olehku untuk mencarimu atau menayakan kabarmu pada teman lain. Hehe~ maaf jika tadi aku sempat melupakanmu…begitulah− hehe.”Ujar Tao tanpa dosa seraya mengusap tengkuknya gugup.

 

Wufan menatap Zitao dengan pandangan datar. Tanpa rasa. Malas. Kau sungguh tidak berubah, ya…Little Huang, tetap saja ‘tumpul’ pikirnya.

 

“Oh, ah…kau memakai piercing sekarang?” ucap Wufan ketika menemukan ada sesuatu yang tak biasa pada telinga kiri Zitao.

 

Pemuda yang ditanya nampak salah tingkah. Dengan pipi merona ia mengusap ujung alisnya, gugup. “Ehm− begitulah…a-apakah terlihat aneh?”

 

Pemilik surai keemasan dihadapannya menggeleng seraya mengembangkan senyum “Sama sekali tidak, aku pikir piercing itu cocok sekali untukmu. Kau terlihat semakin manis…Zitao.”

 

Rona merah muda segera meresapi kedua pipi empuk Zitao, sebenarnya bukan Wufan orang pertama yang mengatakan ia cocok menggunakan piercing…papa, mama dan teman-temanya pun berpendapat serupa. Hanya saja, ketika mendengar Wufan yang mengucapkannya…entah mengapa− ah, pipi Zitao terasa semakin panas ketika memikirkannya.

 

Setelah pembicaraan mengenai piercing, hening menyeruak…tak ada yang memulai pembicaraan kembali, Zitao sibuk memandang keluar jendela sementara Wufan sibuk menatap genangan black coffee dalam gelasnya sambil sesekali melirik sang Little Huang.

 

Sampai ketika, terdengar suara benturan gelas pada meja ketika diletakan Wufan seusai meneguknya sedikit.

 

“Apa hingga saat ini kau masih menekuni bidang wushu…atau sekarang kau hanya seorang mahasiswa biasa?” ucap Wufan seraya menjilat sisa kopi di kedua belah bibirnya.

 

Zitao langsung menjawab dengan semangat, karena mendengar kata Wushu…yah, Wufan sudah dapat menebak apa sekiranya yang akan dikatakan sang Little Huang.

 

“Aku masih bermain Wushu sampai saat ini!” katanya disertai mata yang berbinar “Selama ini aku memang tidak bisa bertahan pada satu kegiatan saja, aku ingin mencoba banyak hal, rasanya…aku ingin seluruh tubuhku tidak berhenti bergerak, senior. Tapi ternyata perasaanku lain pada Wushu. Aku suka Wushu…mungkin sampai tubuhku tidak bisa lagi bergerak.”

 

Ketertegunan menyelimuti sorot mata Wufan. Yah, Zitao memang tidak berubah…ia tetaplah sang Little Huang yang kuat dan hebat.

 

“Kau indah…Zitao…”

 

“Hm?”

 

Sekali lagi Wufan tesenyum, kali ini lebih lebar hingga memperlihatkan sedikit deretan rapi gigi putihnya “Kau indah karena memiliki impian yang luas dan tinggi. Sejak dulu aku merasa tertarik, akan dirimu dan sifatmu yang seperti itu.”

 

Hening kembali menyeruak…

 

Butuh waktu bagi kedua manusia biasa itu untuk mencerna ucapan yang sebelumnya mereka dengar, terutama sang Little Huang yang merasa berat dengan kata ‘Sejak dulu’. Baik, Wufan mau pun Zitao saat ini…masing-masing memiliki rona kemeraan diparas mereka. Satu yang bersurai keemasan masih dapat bersikap tenang dan biasa saja –meski hati serasa ingin meledak− namun sang Little Huang telah lebih dulu menundukan kepala, malu akan parasnya tersipu.

 

“Se-senior sendiri…sekarang bagaimana?Dimana…kau kuliah?”

 

Pertanyaan Zitao mengubah raut wajah Wufan menjadi sedikit lebih serius, dengan suara pelan ia menjawab “Selama ini…sebenarnya aku kuliah dan tinggal di London…Zitao.”

 

“E-eh?”

 

Rona kemerahan yang sempat berbunga diwajah masing-masing sirna seketika. Zitao kini lebih berani menatap langsung pada Wufan .Ia terkejut, sangat…ternyata selama ini Wufan hidup sangat jauh darinya. Pemuda bersurai sekelam langit malam itu tersenyum getir.

 

“Be-begitu kah?Pantas saja kita sama sekali tidak pernah bertemu selama ini…” ucap Zitao sedikit gemetar “Tap-tapi karena kau sudah pulang sekarang…setelah ini, mungkin kita bisa bertemu sesekali waktu ‘kan?”

 

Wufan menghela nafas “Besok aku akan kembali ke London karena masa liburanku sudah habis…”

 

Kedua belah mulut Zitao segera terkatup rapat, ia membisu…tak tahu lagi harus berkata apa, pertemuan dan perpisahan tiba-tiba ini terjadi dalam waktu yang begitu dekat.

 

Ia menunduk dalam, merasa malu memperlihatkan raut kecewa diwajahnya…selain itu, ia pun tak sanggup memandang wajah Wufan yang sebentar lagi akan menghilang dari hadapannya.

 

Percakapaan terhenti, sampai ketika Zitao melihat pada jam dinding restoran yang menunjukan pukul tiga sore kurang sepuluh menit.

 

“Ga…wat.”

 

Kontan saja Zitao segera berdiri dengan panic. Ia tergesa merapikan barang bawaannya dan terburu-buru menghabiskan minumannya.

 

“Ada apa?” tanya Wufan penasaran, ia turut berdiri karena melihat Zitao menggigit bibir bawahnya karena panic.

 

“Aku hampir terlambat.”

 

“Terlambat?”

 

“Latihan! Pelatihku orang yang sangat mengerikan, aku bisa mati! Sampai jumpa lagi, senior!!”

 

Zitao berlari meninggalkan meja, namun sebelum ia berlari menjauh…Wufan telah lebih dulu menarik dan menggenggam salah satu tangannya erat, menghentikan langkah Zitao. Sang pemilik tangan menoleh dan menatap pemuda yang menggenggam tangannya penuh Tanya.

 

“Bisa berikan alamat e-mailmu padaku, agar aku tetap dapat menghubungimu setibanya di Inggris nanti?” ucap Wufan panic…seolah tak ingin kehilangan sesuatu.

 

Butuh jeda beberapa detik bagi sang Little Huang…sampai akhirnya senyum terkembang diwajahnya dan ia pun berkata “Ung! Tentu saja!”

 

Yah, itu adalah kejadian paling mendebarkan seumur hidupnya…apa yang mungkin akan terjadi jika saja saat itu ia tak mendapatkan alamat e-mail milik Zitao?

 

Segera saja ia membuka halaman selanjutnya.

 

Kedua matanya segera disambut oleh pemandangan indah potret Zitao yang lain. Kali ini yang menarik perhatiannya adalah foto Zitao ketika mengenakan seragam wushu tanpa lengan khas Negara tirai bambu. Berwarna hitam pekat dengan sulaman benang merah berbentuk naga (Liong) dibagian punggungnya. Foto ini diambil dari belakang, namun Zitao menoleh kesamping sehingga sebagian wajahnya terlihat cukup jelas. Tangan kanannya menyandang sebuah pedang besi yang berkilau, terdapat jalinan tali merah pada bagian gagangnya serta untaian lonceng yang menjuntai dibagian bawah gagang.

 

Kali ini yang tertulis pada potongan kertas merah muda disana adalah:

 

10 Oktober 2012. Huang Zitao, 19 Tahun. Mahasiswa, Atlet wushu nasional.

Detik-detik menjelang babak final. Kami selalu mendukungmu ♥

 

Foto ini diambil, kemungkinan oleh reporter yang hadir pada saat pertandingan. Raut wajah Zitao nampak serius dan penuh percaya diri. Benar-benar memesona setiap mata yang berkesempatan untuk memandangnya.

 

Sejujurnya, Wufan ingin melihat langsung pertandingan Zitao…hanya saja, sayang sekali ketika itu ia masih harus menetap di London untuk menyelesaikan kuliahnya.

 

Hanya lewat internet lah mereka dapat selalu berhubungan:

 

Uap air panas mengepul keluar dari kamar mandi ketika Wufan selesai dengan acara membersihkan tubuhnya. Surai keemasannya nampak lembab dan ia terus mengusapnya dengan selembar handuk warna hitam. Segera ia mengenakan pakaian berupa celana katun pendek dan kaus merah…dan setelah itu menghadapkan dirinya pada layar computer.

 

Ia segera melakukan Log-in pada akun Skype miliknya dan tersenyum kala mendapati sebuah akun lain dalam keadaan on pada daftar temannya. Pemuda rupawan itu pun segera mengetik sebuah percakapan.

 

WFly : Hai, Zitao.

 

Xiao_Huang: ……

 

WFly : Zitao?

 

Xiao_Huang: ……

 

WFly : Little Huang? Kau masih hidup?

 

Xiao_Huang: Maaf, senior. Aku ketiduran dimeja…habis main game. Hehe~

 

WFly : Dasar. Mau video call?

 

Xiao_Huang: Tidak untuk sekarang, maaf sekali lagi. Ada bekas keyboard diwajahku, memalukan.

 

WFly : Oh, baiklah…terserah padamu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat, medali perak juga merupakan prestasi yang cukup memuaskan. Kau sudah berusaha dengan baik, aku yakin. Selamat.

 

Xiao_Huang: Terima kasih. Tapi aku akan lebih senang kalau kau tidak mengucapkannya, senior.

 

WFly : Kenapa?

 

Xiao_Huang: Aku ingin meraih medali emas dan bukannya perak. Hatiku belum merasa lega sama sekali…rasanya…menyebalkan.

 

WFly : Bodoh. Kepingan medali itu hanya akan menjadi rongsokan tak bernilai nantinya. Hatimu yang telah sanggup berlapang dan menerima kekalahan adalah bentuk penghargaan yang tak lekang oleh apapun ‘kan?

 

Xiao_Huang: ……

 

WFly : Jangan hanya karena kalah sekali lalu kau jadi berkecil hati seperti itu. Kesempatan kedua akan selalu datang pada orang yang tak pernah berhenti berusaha. Sampai saat itu tiba kau harus berlatih dan menjadi lebih kuat. Paham?!

 

Xiao_Huang: ……

 

WFly : Jangan tidur lagi!!!

 

Xiao_Huang: Aku tidak tidur, aku hanya sedang bertepuk tangan.

 

WFly : Sebaiknya kau kembali tidur saja.

 

Xiao_Huang: Jangan kejam begitu, senior! Baiklah, sebagai permohonan maaf akan kukirimkan fotoku yang terbaru.

 

WFly : Bisa kau kirimkan foto anak panda saja? Aku baru sadar kalau ternyata mereka sangat menggemaskan.

 

Xiao_Huang: Aku tidak kalah menggemaskan dari anak panda. (Sending File)

 

WFly : (Download File) Foto kapan ini?

 

Xiao_Huang: Saat pertandingan final beberapa hari lalu. Akuilah kalau aku jau~h lebih keren darimu!

 

WFly : Sepertinya kau tambah gemuk.

 

Xiao_Huang has signed out

 

WFly : HEI, TUNGGU DULU!!!

 

Xiao_Huang has signed in

 

Xiao_Huang: Maaf tadi koneksi terputus.

 

WFly : Membuat panic saja…

 

Kira-kira percakapan semacam itulah yang kerap kali terjalin antara Wufan dan Zitao melalu dunia maya. Inginnya, kalau boleh jujur…Wufan −sangat− ingin mengeluarkan kata-kata yang romantis, manis dan puitis. Seperti, ‘Hai, Little Huang bagaimana harimu? Apakah selalu memikirkanku?’ dan bukannya ‘Aku yakin hari ini kau mengalami banyak kesialan. Terlihat dari wajahmu yang suram, atau memang wajahmu selalu seperti itu. Haha!’ juga ‘Hai, Little Huang. Makanan ringan apa yang kau makan hari ini? Apakah manis seperti diriku yang selalu membuatmu tersenyum?’ tidak seperti ‘Jangan makan terus nanti gemuk. Kalau gemuk seluruh stadion akan bergetar saat kau melakukan wushu.’

 

Kalau dipikir lagi sekarang secara matang, mungkin lebih baik ia tidak mencoba untuk berkata gombal pada Zitao. Selain memalukan, percuma saja karena…Zitao itu ‘tumpul’ toh pada akhirnya nanti pemuda maniak sport itu hanya akan balik meledek dirinya.

 

Lanjut kehalaman berikutnya.

 

Kali ini foto wisuda Zitao lah yang menarik perhatiannya.Wufan memandang foto yang nampak seperti foto kelulusan universitas biasa itu dan tersenyum tipis. Zitao mengenakan pakaian toga yang lebar, menutupi jas formal yang ia kenakan dibaliknya…menyandang sebuah tabung berisikan gulungan ijazahnya dan medali kelulusan melingkar dilehernya. Zitao hanya berfoto sendirian, tanpa papa dan mamanya…berlatarkan gedung universitas almamaternya.

 

Tertulis pada potongan kertas merah muda sebagai berikut:

 

4 Mei 2014. Huang Zitao, 21 Tahun. Lulus dari universitas.

Senyum dihari kelulusan. Selamat untuk Zitao kami ♥

Nyonya Huang tak pernah lupa memberikan tanda hati disetiap akhir kesannya terhadap foto Zitao.

 

Wufan ingat jika hari kelulusan Zitao bertepatan dengan hari kepulangannya ke Shanghai −mereka memang menetap di Shanghai− dari London.

 

Dan ia telah berjanji pada sang Little Huang…untuk hadir diupacara kelulusannya.

 

Wufan segera melesat meninggalkan Airport setelah melihat arloji ditangannya yang menunjukan bahwa ia telah terlambat 10 menit untuk menghadiri upacara kelulusan Zitao. Beruntungnya, taksi yang ia stop segera berhenti dan tanpa banyak mengoceh langsung ia menaikinya lalu memohon pada sang supir agar melaju kebut tingkat maksimal.

 

Tak peduli meski saat ini ia hanya mengenakan kemeja coklat berlengan sebatas siku dan celana jeans biru tua serta sepatu sneakers putih…yang mungkin keadaanya sedikit berantakan sekarang, ia tak peduli pada semua itu. Ia hanya ingin segera bertemu dengan Zitao.

 

Sempat ia berhenti sejenak untuk membeli seikat bunga cantik, lalu kembali menaiki taksinya dan melanjutkan perjalanan hingga sampailah ketempat tujuan.

 

Pemuda bersurai keemasan itu nampak mencolok diantara kerabat peserta kelulusan yang hadir, ia menjadi pusat perhatian ketika berjalan memasuki gerbang universitas. Dibalik kacamata hitam, kedua matanya meneliti keadaan sekitar untuk mencari keberadaan sang Little Huang dan ia menemukannya diantara banyak orang yang tengah bersuka cita. Tidak seperti yang lain, yang nampak gembira…Zitao nampak kebingungan, menoleh kesana kemari seolah tengah berusaha menemukan seseorang. Seperti anak hilang saja, Wufan pikir.

 

Dengan perasaan berbunga-bunga, sang pemilik surai keemasan melangkah mendekat seraya melepas kacamata hitamnya dan memasukannya dalam saku kemeja “Selamat, Zitao…”

 

Pemilik nama yang disebut menoleh dengan cepat, kegembiraan kini nampak jelas meliputi seluruh paras menawannya. Ia berlari mendekati Wufan…dan menahan diri untuk tidak langsung memeluk pemuda rupawan tersebut. Malu.

 

“Senior, sudah kunantikan kedatangannya sejak tadi!”

 

“Selamat atas kelulusanmu…” ucap Wufan seraya menyerahkan sebuket bunga mawar merah yang ia persiapkan kepada Zitao…pemuda itu menerimanya dengan riang.

 

“Terima kasih…”

 

Wufan tersenyum lembut memandangi sosok Zitao yang nampak senang menerima bunga pemberiannya, sesekali pemuda bersurai kelam itu menghirup aroma bunga yang segar dan cukup harum. Wufan tidak tahu mengapa ia memilih mawar merah, ia hanya merasa kalau bunga itu sangat cocok untuk Zitao.

 

Untuk sang peri kecil yang telah tumbuh menjadi peri dewasa bersosok indah nan menawan.

 

Namun senyum itu tak bertahan lama, tergantikan tatapan sendu dan keraguan hati yang kini menyertainya.

 

Setelah menghela nafas…Wufan berkata…

 

“Zitao, sebenarnya…dalam waktu dekat ini, aku akan segera menikah…”

 

Dan Wufan bersumpah bahwa saat itulah kali pertama ia merasa sangat berdosa…ketika melihat raut kekecewaan mengores paras lugu sang Little Huang.

 

 

Bahkan hingga saat ini pun, Wufan masih belum dapat melupakan raut wajah Zitao ketika itu…sekeras apa pun ia berusaha, ingatan menyedihkan itu tetap menjadi bagian kuat dalam memori otaknya.

 

Helaan nafas pelan terdengar dari kedua belah bibirnya.

 

Jika mengingat kejadian itu, hatinya turut merasa sakit. Raut wajah itu…adalah raut wajah yang sama sekali tak ingin ia lihat dialami oleh sang Little Huang.

 

Tangan kanannya bergerak untuk membuka halaman selanjutnya…halaman terakhir.

 

Dan…

 

 

Terdengarlah suara terbukanya pintu ruangan tempat ia berada.

 

 

“Oh, disini kau rupanya…”

 

Suara lembut menyapanya, Wufan menoleh kearah pintu dan segera mendapati seorang lelaki manis tengah berdiri diambang pintu. Surai dikepalanya berwarna hitam kelam, tubuhnya tinggi dan ramping meski kurus namun cukup padat berisi. Mengenakan sebuah celana pendek baby blue dan sweater putih…

 

“Makan siang sudah siap, ayo makan.”

 

Dan pemuda itu…tersenyum ringan, namun sorot matanya memancarkan kebahagiaan dan ketulusan.

 

“Hm.”Wufan mengangguk “Ayo.”

 

 

Pemuda bertubuh tinggi tegap yang mengenakan celana panjang coklat dan kaus hijau tua lengan panjang itu meletakan album foto Zitao diatas meja begitu saja, dengan halaman terakhir yang terbuka lebar.

 

Ia pun melangkah untuk menghampiri pemuda yang memanggilnya.

 

Pintu ruangan tertutup.

 

Menyisakan album foto yang tergolek diatas meja…pada halaman terakhir yang terbuka lebar tersebut, menampilkan sebuah potret seorang pemuda. Cukup besar ukurannya, hampir memenuhi satu halaman…pemuda dalam potret tersebut hanya disorot dari kepala hingga sebatas dada saja, mengenakan jas serta kemeja putih bersih, bukan dasi yang melingkari lehernya…melainkan sehelai renda putih gading yang ditata sedemikian rupa menyisakan kesan anggun dan mewah. Sebuah rangkaian serat dedaunan hijau segar tersemat diatas kepalanya, dihiasi beberapa bunga kecil berwarna putih…layaknya mahkota. Memegang rangkaian bunga mawar merah yang ia dekatkan pada mulut, seolah tengah menghirup aromanya. Kedua matanya sedikit terpejam memandang kearah bawah.

 

Tercetak sebait rangkaian kata pada bagian bawah foto, yang berbunyi:

 

You’ll always be our beloved Little Zitao

 

Adalah potret Zitao dihari pernikahannya.

 

Pernikahannya dengan….

 

“Aku akan menikah dengan orang yang saat ini berada dihadapanku…” Wufan melanjutkan kata-katanya.

 

Zitao terdiam.

 

“Eh?”

 

Wufan sama sekali tak berniat mengulang kata-katanya, ia memilih untuk tutup mulut…seakan membiarkan sang Little Huang untuk berfikir lebih dalam.

 

Menikah dengan orang yang berada dihapadannya?

Dihadapan…

Seseorang dihadapan Wufan sekarang…adalah…

 

Kedua mata bening Zitao membulat dengan sempurna. Darah disekujur tubuhnya seolah mendidih hingga kepuncak kepala. Mulutnya kelu meski sangat ingin berteriak. Sang Little Huang merasa wajahnya begitu hangat, panas…sampai-sampai rasanya ingin sekali…

 

Ingin sekali…

 

Hiks…

 

“Zi…Zitao…~”

 

Detik selanjutnya, tangis sang Little Huang pun pecah dengan sukses. Menjadikan sang lelaki rupawan panic bukan main.

 

“Zi…Zitao…kau k-kenapa…”

 

Isak tangis masih terus berlangsung, semakin keras dan melipatgandakan perasaan panic dihati Wufan.Cukup untuk menjadi pusat perhatian hampir semua orang.

 

Sang Little Huang…dalam jerit isakannya, merendahkan tubuh, berjongkok dan membenamkan wajahnya dilutut dalam tangkupan kedua lengannya. Menyembunyikan isakan yang sebenarnya masih jelas terdengar walau hanya samar.

 

“Zitao…maafkan aku membuatmu terkejut.”Wufan turut merendahkan tubuh, mengusap lembut puncak kepala bersurai kelam dihadapannya.

 

Pemilik nama masih enggan bersuara, masih belum sudi pula memperlihatkan wajahnya yang entah seperti apa sekarang.

 

“Zitao, jangan menangis…” usapan lembut masih terus Wufan berikan pada puncak kepala sang Little Huang “Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu menangis, kumohon…ucapkanlah sesuatu.”

 

Kali ini Zitao terlihat mengusap kasar wajahnya dengan lengan pakaian toga ditubuhnya, meski kepalanya masih tertunduk.

 

Wufan tersenyum dan mengulurkan tangan membantu menghapus sisa air mata diwajah Zitao, pemuda itu tetap menawan meski setelah menangis cukup kencang “Jadi…bisakah aku mendapatkan jawabanku sekarang?”

 

Zitao sesekali terseguk, kedua belah bibirnya melengkung kebawah dan ia pun…mengangguk pelan.

 

 

 

 

 

Ditempat lain yang tak terlalu jauh. Tempat berkumpulnya para kerabat, wali dan orang tua peserta upacara kelulusan. Mereka bercengkrama, membicarakan keunggulan buah hati masing-masing serta jalan terbaik apa yang akan mereka tempuh setelah lulus kuliah. Ada yang terbahak, ada pula yang hanya tersenyum kecil…semua bahagia, termasuk pasangan Huang.

 

“Papa, mama!!” panggil sebuah suara.

 

Kedua orang yang merasa tak asing lagi dengan suara itu pun segera menoleh disusul beberapa orang yang rupanya juga tertarik akan suara tersebut.

 

Mereka menemukan buah hati mereka, tengah bergandengan tangan dengan seorang pemuda yang ketampanannya cukup membuat terpukau siapa pun.

 

Suasana cukup hening.

 

Sang buah hati yang nampak tegang mulutnya terkatup rapat, namun jelas sekali kalau ia tengah berusaha mengatakan sesuatu. Sementara pemuda disebelahnya hanya tersenyum lembut.

 

“Pa-papa! Mama! D-dia adalah…adalah…

 

Seseorang

 

…yang selama ini.

 

 

Aku…cintai.”

 

 

 

~OWARIMASHITA~

 

 

Mohon maaf kalau ada beberapa bagian cerita yang mirip, saya ga sengaja.

Terimakasih.

 

95 thoughts on “ONESHOOT | SHASHIN

  1. Huaaaahhh.. \(>ㅅ<)/
    Manissss bgd ceritanyaaa (˘⌣˘ʃƪ)

    Aihhh.. Ini keren cerita ffnya thor..
    Aduhh pengen bgd jadi tao klo begini..

    Cinta itu ternyata tidk harus selalu ada didekat kita..
    Dia akan datang dengan sendirinya..
    Aiihhh beruntungggg bener mereka..
    Bikin Geregetnn pokoknya..
    Mantapp thorr.. –b. Aku suka (♥-̮♥ʃƪ)

  2. haduh ceritanya bikin melayang😉
    tao seneng banget ya dikelilingi org yg sayang banget sama dia jadi iri hehe🙂

  3. ribuan kata” yg ada di otak aku klo di simpulkan itu bilang DAEBAK *semiliyar jempol buat authornya
    #udh gitu aja
    #lanjutin nangis bahagianya di rumah

  4. dan….
    che sukses pengen ikutan liat2 potonya tao..
    duuuhh beneran deh masa perkembangannya tao bikin penasaran.. hahahaha.. mamanya rajin buanget, dan kris beruntung bgt bisa liat piku2 tao.. /pengen/

    tao, ak bingung dirimu itu sbnere tau kris ato ga seehh.. ato mgkin sengaja ngikutin masuk ke skolah yg sama ama kris?? kok terakhir2 bilang kalo ‘seseorang yg slama ini aku cintai’ (?) tapi kmu itu polos, gak peka, ato mungkin gak berani berharap…
    apapun lah yg penting udah nikah ama kris che ikut bahagia..😀
    untung kris tahan mental (?)

    ditunggu taoris2 yg lain.. xD terima kasih

  5. Ma..Ma… Ma… MANIS!!!!!!!!
    KYAA….!! Huang Zitao kau sungguh membuatku ingin memakanmu chagiya🙂
    Daebak AUTHOR hebat!!! kau sungguh-sunguh!!! ahhhh.. hebat! manis sekali🙂
    I LIKE IT🙂
    #Bow

  6. Huweeeeee!!!!! Bagus banget huweeeee!!!!!
    Romantis, terharu banget sama ceritanya T.T
    Daebak!!!!! Daebak!!!! Keren banget!!!!!

  7. Senangnya jadi tao bisa bahagia sama benben, ya sempet kaget juga pas si kris bilang mau nikah.
    Feelnya dapet, bagus thor;)

  8. Astagaaaaaaaa… Suka banget ini.. Album kenangan.. Ceritanya detail dan alurnya keren..

    Aku sampai ikut ngebayangin setiap adegannya…

    Huaaaaa.. Author disini daebak smua kalo bikin ff..

    Semoga author bisa bikin Ў∂πğ bagus2 lainnya.. Semangaaattttt…

  9. AAAAWWWW so sweet abiiisssss
    Taaooooo harus bersyukur menemukan orang kayak wufan aaaaaaaaaaaaa
    Ffnya keren thorrr sweet abiss
    Sampe iriiii

  10. Aigoo~
    aku kira Kris bakal nikah sama orang lain…>///<

    Keereenn bgt Author..!!
    Bener2 Daebakkk deh…!!^o^)/

  11. YeAaaayy! Idupppp taoris!!! -(ˆ▽ˆ)/ -(ˆ▽ˆ)-.
    Daebakk thor! :3 as always… Nothing less.. (o^-‘)b ☆
    Kris n’tao berjodoh x ya.. Dimana2 ketemu gitu… Kyk kata ortu: qlu jodoh g bakal lari kemana2 ^o^

  12. Aduh aduh ceritanya gak nahaaaannnn… \(>ww,,,< Cepetan aish kalian nikah dan membahagiakan para KrisTao Shipper aduh aduh tolong dong gue gak bisa berhenti nyengiiiiirrrr!!!

  13. Huwaaaa keren keren kuereeeeeennn buangeeeetttt!!!!
    Hampir aja aku mau marah ama Wufan ge gara-gara aku kira mau nikah ama orang lain, hufh syukurlah ternyata bukan. KrisTao selamanya tak terpisahkan wkwkwk….

  14. ciyus deh! keren banget!
    cara author mendeskripsikan cerita pantas diacungi 12 jempol #tarik jempolnya 12 member EXO#
    aku suka banget!! jadi enggak bosen baca!
    apalagi part KrisTao e-mailan. ampun deh kocak banget tu bedua. pengen dinikahin di KUA!

  15. Another Great Story
    So fluffy, sweet, cute and adorable
    Tao kiyut banget sumpah di ff ini, berasa kaya Tao beneran :3
    Good Work author-nim
    Love u muach #ditendang😄

  16. Alur dan penceritaannya sungguh bagus thor..!
    Serasa melihat kisahnya scra langsung.

    Ah iya, salam kenal.!
    Saya pembaca baru.

    Keep Writing nde^^

  17. Keren banget ….. o.o ….. suka ♥♥kalau ada ff yg kaya gini …🙂 … semangat ya buat onie yang nulis ff nya😉

  18. Waa!!!!!!!!!!!!!! keren^^ Kristao emang udh jodoh., aku jadi nge blush sendiri pas bcanya.,daebak author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s