ONESHOOT | BOKU TO OTOUTO-CHAN | BAEKTAO

Title: BOKU TO OTOUTO-CHAN

IMG-20130605-WA000

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Byun Baekhyun, Huang Zitao

Supporting Cast: Park Chanyeol, Wufan, OC

Genre: Family, Brothership, little bit romance

Pair: BAEKTAO.Slight Chanbaek and Kristao.

Length: oneshoot

 

Ingat! Ingat! Baca pairing dengan jelas ya ini bukan FF chanbaek ato kristao, tapi ini FF BAEKTAO = BAEKHYUN + ZITAO.

 

Iya jadi ya, saya sebenernya sebagai pecinta uke dan berbiaskan selalu uke sejak pertama kali kenal k-pop…saya memendam rasa akan pairing ukexuke seperti Jaejoong-Junsu, Key-Taemin, Kyungsoo-Luhan, Baekhyun-Zitao. Tapi tetep kalo soal aliran mah, always SEME BERKUASA dong! *ini dia contoh orang ga konsisten*

 

Maaf kalo cuap-cuap ini agak panjang, saya emang suka bacot.

 

Sebelumnya saya minta maaf dulu kalo gaya tulisan dan cerita saja kalian ga puas, atau…terlalu kyk anime, lebay dan humor-nya maksa. Percaya ato ngga, akhir2 ini saya lebih suka baca Fict SASUNARU dari pada CHANBAEK, HUNHAN ato KRISTAO.Jadi mungkin agak kebawa suasana juga.

 

Seriuslah, kalo kalian ga suka ga usah lanjut baca!!

 

Saya suka uke polos, bahkan Tao hampir selalu saya buat polos meski kadang tampangnya ga mendukung (?).Bagi yg ga suka ga usah baca!

Saya suka seme yg mengendalikan− yah, yunomisowel lah.Bagi yg ga suka ga usah baca!

 

Trus itu untuk fict sebelumnya, saya dapet inspirasi dari foto teaser Tao yg saya bilang kayak mau nerjang orang -___- yg duduk sambil make sepatu haha! Itu ga sih, soalnya dia keren aja pake baju olahraga gtu…jadi kepikiran buat bikin fict berjudul SHASHIN itu.

 

SEKIAN!

 

Ps: anggap saja kisah ini berlangsung ketika MAMA ERA. Dimana kris masih pirang, chanyeol ganteng dengan rambut coklat terangnya, tao belom diblonde dan baekhyun saya…ga usah dibahaslah ya, dia selalu mengumbar aurat dengan bersikap sok seksi sok imut sok manis, yah emang bener sih~ ntar deh, saja suruh dia segera berhijab.

 

*Lifting: memantulkan bola dengan lutut berkali-kali.

 

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

“Keluarga berawal dari dua orang yang tidak saling mengenal lalu berbagi cinta kasih dan kemudian hidup bersama selamanya.” – Byun Baekhyun.

 

“Aku akan berusaha agar perasaanku tersampaikan padanya, meski aku tak dapat mengatakannya secara langsung.” – Huang Zi Tao.

 

 

~ BOKU TO OTOUTO-CHAN ~

‘Me and My Brother’

9Tails

 

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

 

Papa dan mama berkata kalau mulai saat ini Zitao akan menjadi bagian dari keluarga mereka, menjadi adiknya. Menjadi adik seorang Byun Baekhyun.

 

Tak ada sedikit pun perasaan khusus yang Baekhyun rasakan ketika ia dipertemukan dengan Zitao untuk pertama kali. Ia tidak seperti papa dan mama nya yang nampak senang serta menerima kehadiran Zitao dengan tangan terbuka. Baekhyun hanya berdiam diri, seolah suaranya begitu mahal hingga tak sudi diperdengarkan secara cuma-cuma.

 

Ia menatap anak lelaki bermarga Huang yang setahun lebih muda darinya itu dari puncak kepala hingga pangkal kaki. Anak itu juga hanya berdiam diri.

 

“Baekhyun…” ucap sang ibunda lembut “Zitao memang tidak dapat berbicara, namun ia anak yang pintar dan dapat mengerti apa yang kau ucapkan.Ia hanya butuh sedikit pengertian dari kita untuk berkomunikasi. Mama harap kau−“

 

“Apa?Jadi aku mendapatkan seorang adik yang bisu?”

 

Papa-nya berteriak tak lama setelah Baekhyun membuat kedua mata Zitao berkaca-kaca karena perkataannya yang dianggap tidak sopan…mama-nya pun menampilkan wajah yang terkejut seakan tak yakin bahwa yang baru saja berkata pedas itu adalah Baekhyun, putranya sendiri.

 

Silahkan saja jika kedua orang tuanya hendak mengganggap Zitao sebagai bagian dari keluarga ini, sebagai putra mereka, sebagai adik Baekhyun.

 

Namun tidak dengan dirinya.Zitao bahkan bukan orang Korea Selatan.

Zitao bukan adiknya.Zitao hanya anak adopsi.

 

Tapi…mengapa ada bayangan Minhyun dalam diri Zitao…

 

……………

 

Pertama kalinya ia berbicara pada Zitao adalah ketika mendapati anak yang berstatus sebagai adik angkatnya itu menjatuhkan foto Minhyun hingga kaca figura-nya retak dan membuat frame-nya patah.

 

“Apa yang kau lakukan dikamarku!!” teriak Baekhyun membiarkan amarahnya meledak.

 

Tentu Zitao yang bisu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuhnya sempat menegang sesaat ketika Baekhyun berteriak dan setelah itu…ia hanya menundukan kepala.  Baekhyun dengan nafas memburu akibat menahan amarah, menatap Zitao tajam kemudian segera merendahkan tubuh untuk merapikan figura foto yang tak berbentuk lagi dilantai.Zitao bermaksud mengulurkan tangan dan membantunya, namun Baekhyun kembali berteriak.

 

“Jangan ikut campur!!Pergi saja kau!!”

 

Namun Zitao tetap bersikukuh ingin bertanggung jawab,ia tetap membersihkan serpihan kaca sampai ketika Baekhyun menepis tangannya kuat hingga ia meringis sakit.

 

“Kubilang pergi!!Pergi dari sini!!”

 

Seketika tubuh Zitao membeku.Dan Baekhyun kembali berkutat dengan potongan figura foto Minhyun tanpa peduli pada Zitao yang berlari meninggalkannya, entah kemana.Baekhyun tak peduli jika nantinya anak itu mengadu pada papa dan mama.

 

Baekhyun tak peduli apa alasan Zitao, sengaja atau tidak…anak itu telah merusak foto Minhyun, foto kenangan Minhyun yang sangat berharga.

 

……………

 

Ini adalah Korea Selatan.Negara maju dengan beragam ideologi serta pola pikir dan kebiasaan hidup.Seoul, pusat pemerintahan Korea Selatan. Kota paling maju dalam segala bidang, kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah.

 

Zitao harus mencamkan hal ini baik-baik dalam dirinya…bahwa kini ia hidup ditanah orang lain. Bukan tanah milik bangsanya.

 

Setiap individu pasti akan menganggap aneh pada individu lain yang berbeda dengannya dalam segi apa pun. Entah itu mulai dari hal sepele seperti tinggi badan, warna rambut, latar belakang dan social…mau pun kebangsaan.

 

Hal yang sangat berlaku pada Huang Zitao ketika ia memulai masa baru pendidikannya disebuah sekolah swasta bersama anak-anak Korea Selatan lainnya.

 

Ia bukannya tidak mengerti bahasa Korea, bukan. Tidak sama sekali. Ia hanya bisu, demi Tuhan. Zitao hanya tidak mampu mengeluarkan suaranya seperti manusia normal.Ia masih dapat memahami apa yang pengajarnya jelaskan ketika waktu pembelajaran berlangsung, atau ketika teman sekelasnya berkasak-kusuk membicarakan keanehan dan kelainan dirinya dibanding anak-anak lain.

 

“Berani-beraninya anak cacat sepertimu menempatkan diri diantara kami!!!”

 

“Kau dibuang orang tua-mu, ya?!!”

 

“Katakan sesuatu!! Oh, ya aku lupa kau ini ‘kan bisu!!”

 

Son of Bitch!!

 

Tidak seindah dalam drama Korea yang kabarnya sangat booming hingga kemancanegara dan digemari sebagian besar kaum hawa dari segala lapisan dan usia. Pelajar Korea Selatan dengan segala ideologi-nya tak kan segan-segan untuk melakukan penindasan, mereka tidak akan setengah-setengah dalam menunjukan siapa yang terkuat. Seperti halnya seorang fans wanita yang akan mencerca wanita lain yang mendekati idola pria mereka.

 

Zitao memang tak memiliki seseorang yangia gilai hingga fanatik, ia juga tidak dekat dengan seorang idola pria mana pun. Namun ia harus ‘mengenyangkan’ diri dengan hal yang disebut pem-bully-an. Ia mengalaminya hampir setiap hari kecuali hari minggu…ia bahkan harus menghindari makan di kantin sekolah untuk mengurangi tingkat penindasan terhadap dirinya dalam sehari.

 

Ia paham mengapa harus mengalami semua ini…ia cukup cepat tanggap meski tak ada seorang pun yang mengatakan padanya karena ia memang tak memiliki teman sama sekali.

 

Karena ia bukan orang Korea…

Karena ia bisu.

 

.

.

.

 

Baekhyun mendapati sosok Zitao ketika ia menyusuri lorong kelas hendak menuju ruang music…ia sempat memerhatikan penampilan anak itu yang nampak sangat jauh dari kata rapi dan baik. Sekujur tubuh Zitao basah, bahkan rambut dan ujung sepatunya, tiap langkah yang Zitao ambil meninggalkan jejak air berbentuk tapak sepatu.

 

Terdengar beberapa siswa terkikik dan berbisik sambil sesekali melirik Zitao.

 

Baekhyun hanya diam, ia bahkan tak melirik Zitao ketika mereka berpapasan dan saling melewati begitu saja.

 

.

.

.

 

“Aku melihat Zitao diseret ke toilet oleh Joohee dan para pengikutnya.Tidakkah sebaiknya kau melakukan sesuatu?”

 

“Tidak ada hubungannya denganku.”Ketus Baekhyun tanpa menghentikan permainan piano-nya.

 

Chanyeol menghela nafas dan melanjutkan “Tapi Zitao itu adikmu ‘kan…meski hanya adopsi.”

 

Suara dentingan piano berhenti mengalir, jemari lentik Baekhyun tak lagi menari diatas tuts melainkan hanya terdiam kaku.Ia benci jika harus diingatkan pada kenyataan bahwa Zitao adalah adik adopsinya…lagipula mengapa harus Chanyeol yang mengatakan hal itu.

 

Papa, mama bahkan Chanyeol…mengapa semua orang membela Zitao?

 

“Mengapa tidak dirimu saja yang melakukan sesuatu?” ucap Baekhyun melanjutkan kembali lantunan piano-nya.

 

“Aku?” Chanyeol menunjuk batang hidungnya sendiri lalu mendengus “Kurasa kau lebih berhak atas hal itu, kau itu kakaknya…”

 

Baekhyun untuk kedua kali menghentikan dawai permainannya…ia menghela nafas berat dan menatap tajam jejeran tuts dihadapannya.

 

Papa, mama bahkan Chanyeol…mengapa semua orang mengatakan bahwa ia adalah kakak dari Zitao?

 

“Dia tidak ada hubungan darah denganku.”

 

“Apa itu penting?Sampai kapan kau akan menjadi manusia berdarah dingin, huh?”

 

Dan sampai kapan Chanyeol akan terus bersikap dingin terhadapnya, Baekhyun bertanya dalam hati. Untuk beberapa detik ia iri pada Zitao yang mendapat pembelaan dari Chanyeol. Namun hal tersebut tak dapat mengubah betapa bencinya Baekhyun akan hubungan yang dijalin secara paksa antara dirinya dan Zitao.

 

Saudara?

Huh~ jangan membuat lelucon.

Minhyun saja…sudah lebih dari cukup.

 

“Baiklah.” Ucap Baekhyun seraya bangkit dari kurisnya dan melangkah kehadapan Chanyeol, ia sedikit menegadah untuk menatap pemuda yang lebih tinggi sekitar 15-20 senti darinya itu dan tersenyum “Aku akan melakukan sesuatu untuk anak adopsi itu kalau…kau menciumku…dibibir.”

 

Suasana hening beberapa detik. Chanyeol berkedip menatap paras manis dihadapannya dengan raut wajah layaknya orang dungu, seolah tak paham apa yang Baekhyun ucapkan.

 

“Heh~” pemuda bersurai cokalt terang itu tertawa sinis, membuat pemuda berparas manis dihadapannya mendelik “Lebih baik Zitao tak perlu ditolong sama sekali daripada harus menerima pertolongan dengan pamrih darimu.”

 

“Apa?”

 

“Bermimpilah.Tak ada sedikit pun minatku untuk mencium-mu.”

 

Lalu berbalik dan melangkah menjauhi Baekhyun seraya menyusupkan kedua tangan dalam saku celana.Ketika berada tepat dihadapan pintu, Chanyeol berbalik karena Baekhyun memanggilnya.

 

“Hei, ada yang salah?Kita ini sudah bertunangan, Park Chanyeol!”

 

Chanyeol lagi-lagi mendengus dan berkata seraya menyambung langkah “Tunangan?Maaf, aku lupa!”

 

Tanpa peduli bahwa ketika itu Baekhyun menatapnya dengan pandangan penuh luka.

 

……………

 

Dua minggu sudah Zitao menjadi bagian dari keluarga Byun. Sang papa memang memberinya nama Korea agar ia lebih mudah berbaur, namun Zitao memutuskan untuk tetap menggunakan nama China-nya karena merasa kurang cocok menyandang nama Korea.

 

Sudah diputuskan juga kalau Zitao tak akan ikut diantar-jemput sekolah dengan menggunakan mobilbersama Baekhyun. Zitao menolak lebih dulu sebelum Baekhyun sempat melancarkan keberatannya…dengan alasan agar lebih hafal jalan dan tempat di Seoul, sang papa mengizinkan meski sang mama tetap memaksanya naik mobil bersama sang kakak –hingga saat ini−.

 

Kedua orang tua-nya benar-benar memanjakan dan mencintai anak adopsi itu dengan sepenuh hati, Baekhyun sama sekali tidak merasa iri…ia hanya berfikir sikap mereka terlalu berlebihan.

 

Seperti saat ini, Baekhyun hanya mendengus seraya memutar kedua bola matanya jengah…melihat sang mama memaksa memasukan kotak bekal kedalam tas sekolah Zitao, oh manisnya− Zitao tentu tak sanggup menolak dan hanya tersenyum kaku serta menuruti semua keinginan ibu angkatnya tersebut.

 

Yah, baguslah…toh anak itu pun tidak akan makan dikantin sekolah nantinya untuk menghindari penindasan. Hal yang bagus ia membawa bekal sendiri untuk makan siang.

 

“Baekhyun, cepatlah. Supir Jang sudah selesai memandaskan mobil!” seru sang bunda dari dapur.

 

Baekhyun dengan cepat segera menyelesaikan simpul tali sepatu kets-nya “Iya, aku tahu mama.”

 

Ketika ia hendak berdiri dari duduknya di kursi teras, tanpa sengaja tangannya menyentuh tas Zitao yang diletakan dimeja teras hingga terjatuh dan membuat beberapa isi-nya tercecer dilantai.

 

Kedua mata Baekhyun begitu saja mengamati isi tas Zitao yang tercecer. Ada kotak pensil, kotak bekal, dompet, buku saku dan…kotak…obat?

 

Zitao akan membawa kotak obat berukuran mini itu kesekolah? Meski terdapat lambang P3K merah pada permukaan kotak, namun karena transparan…dengan jelas Baekhyun dapat melihat apa saja yang terdapat didalam sana. Plester, satu gulung perban, cairan antiseptic dan cairan pereda luka.Semua itu terdapat dalam kotak mini sebesar genggaman tangan.

 

Zitao…

Apa dia bodoh?

Seberapa pasrahnya dia terus ditindas sampai membawa kotak obat sendiri untuk mengobati luka-luka yang mungkin akan didapatnya nanti disekolah?

 

Baekhyun terus dengan pemikirannya sampai ketika Zitao muncul dan segera merapikan isi tasnya.

 

“Kenapa…?” ucap Baekhyun tiba-tiba membuat Zitao terdiam dan menengadah untuk menatapnya “Kenapa kau tidak melawan?Apa kau bodoh? Fisik dan kekuatanmu jelas lebih besar dari mereka, mengapa kau tidak melawan?!”

 

Zitao terbelalak seusai sang kakak selesai dengan kalimatnya. Ia terkejut nampaknya, mendapati bahwa kini Baekhyun tengah bebicara padanya? Oh sungguh, itu adalah kejadian langka yang sangat Zitao harapkan untuk terjadi. Tidak peduli apa yang akan Baekhyun katakan, Zitao sungguh sangat gembira dapat mendengar suara kakak angkatnya tersebut.

 

“Ada apa?! Mengapa kau seperti itu?!Meski bisu tidak seharusnya kau menampilkan raut wajah bodoh seperti itu!”

 

Ia kesal, ia kelas dengan sikap Zitao yang menurutnya seperti kura-kura. Lamban dan bertele-tele seperti orang bodoh…ah− tidak.Apa pun yang Zitao lakukan, Baekhyun selalu tidak menyukainya…Baekhyun membencinya, sosok Zitao sungguh membuat matanya iritasi karena−

 

−karena Zitao seperti…Minhyun.

 

Dan Zitao pun berdiri hingga kini keduanya saling berhadapan…lama mereka bertukar pandang sampai akhirnya satu yang lebih muda tersenyum lembut seraya menggeleng pelan.

 

Setelah itu Zitao membungkuk sopan dan segera berlari meninggalkan Baekhyun.

 

Kini tinggalah Baekhyun seorang diri diteras rumah, mengabaikan bunyi klakson sang supir yang begitu mengusik pagi. Bayangan punggung sempit Zitao seolah masih jelas berada dihadapannya, meski pada kenyataannya sosok Zitao telah menghilang ketika anak itu melewati gerbang rumah.

 

“Bodoh.”Gumamnya pelan “Dasar anak bodoh.”

 

.

.

.

 

Seberapa tipis perbedaan antara polos, bodoh, baik hati dan naïf…Baekhyun sama sekali tidak pernah memikirkannya. Namun hal tersebut terfikirkan begitu saja dalam kepalanya, ketika ia bertemu dengan sosok Huang Zitao. Ia menduga sebelumnya, bahwa orang semacam itu hanya akan dapat ditemui dalam drama, novel atau pun komik romantic. Namun sekali lagi Huang Zitao melakukan hal diluar perkiraan dengan membelokkan semua praduga-nya tersebut.

 

Zitao dengan bodohnya, mengetik ‘Aku hanya terpeleset.’ dilayar smartphone-nya ketika papa menanyakan perihal lebam dipipinya.Ia pun akan menunjukan kalimat ‘Aku terantuk pilar saat melangkah tanpa menatap kedepan.’ dalam layar ponselnya ketika mama bertanya alasan dibalik luka dan memar pada keningnya.

 

Kedua orang tua-nya tidak tahu saja bahwa setiap hari anak angkat kesayangan mereka selalu membawa kotak obat mini kesekolah.

 

Baekhyun tidak habis fikir, cukup dengan membeberkan fakta bahwa ia kerap ditindas disekolah…sang papa akan bertindak dan semua selesai. Atau bisa juga Baekhyun melaporkan hal yang sesungguhnya terjadi pada papa dan mama…namun, ah− sudahlah, sejak kapan masalah Zitao menyita perhatian dan fikirannya seperti ini.

 

“Hei bisu, tangkap bolanya dengan benar!!

 

Lamunan Baekhyun runtuh seketika saat lengkingan tajam seorang siswa menghantam gendang telinganya, kepalanya menoleh begitu saja keluar jendela dan mendapati belasan siswa kelas dua yang tengah mengenakan seragam olah raga dilapangan sekolah.

 

Beberapa siswa membentuk gerombolan tersendiri ditepi lapangan, mereka membentuk sebuah lingkaran kecil dengan satu orang siswa berada ditengah-tengah.Siswa tersebut terduduk dengan wajah menunduk, sementara salah satu yang berdiri memantul-mantulkan bola sepak tepat dikepalanya, beberapa ada yang menendang tubuh siswa itu, ada pula yang menyiramnya dengan minuman kaleng atau melemparnya dengan sampah. Tak ada seorang pun yang berniat menolong siswa malang tersebut, mereka semua berpura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.

 

Baekhyun menghela nafas berat tanpa mengalihkan tatapannya dari gerombolan penindas dan tertindas disana…tanpa sadar kedua tangannya terkepal erat diatas melihat dengan jelas Zitao ditindas habis-habisan.

 

Ini pertama kali ia melihat Zitao ditindas secara langsung. Ternyata seperti ini…lalu bagaimana jika mereka menindas Zitao ditoilet, kelas dan kantin?Apa yang mereka lakukan? Memasukan kepalanya dalam kloset? Menyiram tubuhnya dengan semangkuk mie panas atau mencoret-coret mejanya dengan kata-kata kotor mau pun kasar?

 

Tanpa sadar gigi Baekhyun menimbulkan suara gemertak kecil.Timbul secercah rasa kesal dan dongkol dihatinya.

 

Dasar…anak…idiot, pikir Baekhyun.

 

“Baru pertama kali ini aku melihat…−” ucap suara khas seseorang yang duduk tepat didepan Baekhyun.Seorang pemuda, bersurai coklat terang, bertubuh lebih tinggi dan tengah sibuk mencatat pelajaran dengan pensil mekanik ditangan kanannya sementara tangan kirinya digunakan untuk menopang wajahnya “Seorang saudara yang hanya diam saja seperti orang idiot melihat saudaranya sendiri ditindas habis-habisan.”

 

Kening Baekhyun berkerut, menatap tajam sosok Chanyeol yang duduk didepannya. Kelas mereka berada dilantai tiga dan tempat duduk mereka berada dalam satu deret paling dekat dengan jendela.

 

“Maksudmu?” ucap Baekhyun pelan.

 

“Kau ternyata sangat idiot sampai tidak mengerti apa maksudku.”Chanyeol berkata dingin.

 

Baekhyun sangat ingin menggebrak meja ketika itu, namun ia menahan diri mengingat saat ini ia dan Chanyeol masih berada dikelas dan pelajaran masih berlangsung.

 

Pemuda berparas manis itu menghela nafas lagi, kali ini lebih pelan. Sifat dingin dan ketus Chanyeol itu…ia sudah sangat terbiasa “Kau…tidak bisakah kau berkata sedikit manis pada tunanganmu sendiri? Kau selalu saja mengurusi Zitao, kau itu−“

 

“Tunangan, tunangan, tunangan.Mengapa kau selalu mengikutsertakan kata itu setiap kali kita berbicara?Bukankah semua ini adalah keinginanmu sepihak?Untuk apa aku berpura-pura membuka diri akan hubungan konyol ini?”

 

Kedua belah bibir Baekhyun terkatup rapat dalam sekejap.Ia menatap terkejut punggung kokoh pemuda dihadapannya, yang hingga saat ini masih enggan menoleh untuk bertemu pandang walau hanya sekejap mata.

 

“Kau terlalu egois, Baekhyun.Kau bahkan tidak bisa menerima kenyataan cintamu bertepuk sebelah tangan.Aku muak…dengan segala tingkahmu.” Ucap Chanyeol sebelum akhirnya ia keluar meninggalkan kelas karena bel istirahat siang telah berbunyi.

 

Meninggalkan seorang pemuda yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.Pemuda itu lalu membenamkan wajah dalam lipatan kedua tangannya diatas meja.

 

Ia benci papa dan mama.

Ia benci Zitao.

Dan ia…membenci Chanyeol.

 

.

.

.

 

“Banyak yang terjadi hari ini, Minhyun.” Ucap Baekhyun dengan senyum pahit menggores paras manisnya.

 

Dimainkannya sebuket bunga daisy oranye ditangannya. Hari ini cerah dan angin berhembus lembut menimbulkan arus melodi yang khas ditelinga, warna matahari redup diatas sana sangat cocok bersanding dengan daisy oranye ditangannya. Bunga kesukaan Minhyun…atau setidaknya, bunga yang ia anggap sangat cocok dengan kepribadian Minhyun.

 

“Hari ini tidak hujan dan sangat cerah, bukan begitu Minhyun?”

 

Baekhyun meletakan saputangannya diatas tanah berumput dan kemudian menggunakannya sebagai alas duduk.

 

“Bagaimana kabarmu disana?Aku, papa dan mama baik-baik saja…kami selalu mendoakanmu dan terus berharap yang terbaik untukmu meski kita tak lagi hidup bersama.”

 

Minhyun yang selalu ia sebutkan namanya tentu tak kan menyuarakan sepatah kata pun…hanya menghadiahkan sekelumit sunyi pada sang pemilik mata sendu yang menatapnya.

 

“Chanyeol masih bersikap ketus padaku, dia tak pernah berubah. Aku tidak tahu apa salahku sampai dia membenciku, dia berkata kalau aku ini egois. Apa itu benar, Minhyun?” ucap Baekhyun lagi kala ingatannya kembali ke-saat pelajaran matematika tengah berlangsung siang tadi. Pemuda manis ini tersenyum tipis. “Yah, aku memang egois.Sepeninggal dirimu, papa dan mama selalu memanjakanku.Mereka tidak ingin aku kesepian karena kau tidak ada, Minhyun.”

 

Angin berhembus lagi, mengacaukan tatanan surai hitam legam dikepala Baekhyun…memaksa lelaki manis itu menggerakan jemari lentiknya guna menyingkirkan helaian poni yang menghalangi pandangannya.

 

“Keluarga kita bertambah satu orang− tidak, maksudku hanya papa dan mama yang beranggapan seperti itu. Tapi aku…aku−“

 

Ia termenung, menundukan kepala seraya menggigit bibir bawahnya sedikit keras…sekelebat bayangan Zitao mulai bermunculan dalam kepalanya. Zitao yang ceria, baik hati dan tegar, bisu tak membuatnya menyerah dalam berusaha melakukan segala hal.

 

Termasuk menyentuh hati Baekhyun dengan segala kekurangannya.Keterdiamannya.

Seperti…Minhyun.

 

“Dia…dia anak yang baik, Minhyun. Sorot matanya…sama sepertimu. Sendu dan mengundang rasa iba.”

 

Baekhyun menjambak segenggam helaian poni rambutnya, ia meringis pilu…kepalanya mulai terasa pening memikirkan semua hal yang mengusik kehidupannya akhir-akhir ini. Chanyeol, Zitao dan…Minhyun.

 

“Aku takut, Minhyun. Aku takut berdekatan dengan Zitao, aku takut bersentuhan dengannya, aku takut bertatapan dengannya…aku takut…akan mengulang…kesalahan yang sama.”

 

Diletakannya sebuket bunga daisy putih yang ia bawa, diatas sebuah gundukan tanah berumput hijau segar dengan sebuah batu nisan putih bertahta disana.

 

Batu nisan berukirkan nama−

 

−Byun Minhyun.

 

……………

 

Jika Zitao pernah menemukan istilah Tsundere dalam shoujou-manga yang dibacanya, mungkin Baekhyun adalah penjelmaan yang cocok untuk istilah tersebut didunia nyata.

 

Meski kerap kali bersikap acuh tak acuh, Zitao tahu kalau Baekhyun bukannya orang jahat seperti anak-anak yang selalu menindasnya disekolah. Mereka memang jarang bertukar kata atau mungkin hampir tidak pernah sama sekali. Namun bukan berarti Zitao sama sekali tak pernah mengamati kakak angkat-nya tersebut.

 

Baekhyun sangat suka makanan manis.

Buah kesukaan Baekhyun adalah stroberi, bluberi dan beri lainnya.

Baekhyun sangat suka minum susu coklat.

Sarapan kesukaan Baekhyun adalah pancake dengan siraman saus coklat.

Kudapan kegemarannya adalah rumput laut goreng.

Baekhyun sangat suka mendengarkan music pop rock.

Band idola-nya adalah The Gazzete.

Baekhyun sudah bertunangan dengan Chanyeol.

Baekhyun sangat menyukai− mencintai Chanyeol.

Baekhyun sering melamun.

Baekhyun sangat suka memandangi foto Minhyun dengan mata sendu.

Baekhyun−

 

−adalah…kakak.

 

Keluarga Byun sangat baik.Mereka sudah sangat bermurah hati bersedia mengadopsi anak cacat seperti dirinya dan melimpahi kesehariannya dengan kasih sayang serta perhatian yang berlebih. Memberi tahu mengenai penindasan terhadap dirinya disekolah hanya akan merepotkan keluarga Byun, hanya akan membuat masalah dan beban pikiran mereka bertambah.

 

Zitao sudah bertekad, jika kelak ia berkesempatan lagi untuk merasakan hangatnya sebuah keluarga…ia akan berusaha menjadi orang yang berguna bagi keluarga barunya.

 

Bagi papa…mama−

Dan Baekhyun.

 

“Wow! Lihat itu, Chanyeol! Tunangan-mu ternyata keren sekali!” seru sebuah suara yang memaksa Zitao mengalihkan tatapannya.

 

Ia melempar pandang kearah dimana seorang pemuda bernama Park Chanyeol berada, duduk ditengah lapangan bersama beberapa temannya yang lain. Mereka semua mengenakan seragam olah raga, kelas 3-C hari ini dijadwalkan tes lifting bola sepak. Giliran Chanyeol telah selesai sejak tadi, kini giliran Baekhyun dan seorang siswa lagi, berdua melakukan lifting* ditengah lingkaran yang dibuat para siswa.

 

“Waaaahh− sudah lima menit berlalu. Sudah kuduga tunanganmu itu memang hebat, Chanyeol! Pintar, pandai olah raga…dan cantik!”

 

Entah mengapa Zitao tersenyum tipis mendengar pujian yang terucap dari mulut teman Chanyeol, meski Chanyeol hanya tersenyum masam ketika temannya itu menepuk pundaknya.

 

Bukan hanya Zitao satu-satunya siswa yang menyaksikan tes ini dari pinggir lapangan, banyak siswa dan siswi lain…beberapa dari mereka berteriak menyemangati Baekhyun. Jika saja Zitao dapat mengeluarkan suara, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.

 

Baekhyun termasuk salah satu siswa populer disekolahnya.Ia dikenal sebagai orang yang tenang, anggun dan berkelas…selain itu, Baekhyun juga pintar dibidang akademik dan olahraga. Sangat banyak siswa yang mengaguminya, laki-laki mau pun perempuan. Baekhyun dan Chanyeol, bahkan dianggap sebagai pasangan nomor satu disekolah…karena mereka terlihat sangat serasi dan saling melengkapi satu sama lain, tampan dan manis.

 

Kedua mata Zitao melebar sempurna tatkala tatapannya berbenturan dengan tatapan Baekhyun, mereka sama-sama terkejut sepertinya. Untung saja keseimbangan bola dikaki Baekhyun tidak goyah sama sekali…sampai akhirnya Zitao bergumam−

 

‘Semangat’

 

Yang segera ditanggapi Baekhyun dengan mendengus dan memalingkan wajahnya.

 

Zitao hanya tertawa kecil.

 

.

.

.

 

Zitao, dengan cerita meletakan sebotol minuman dingin diatas meja Baekhyun. Saat ini kelas masih kosong karena pelajaran olah raga belum usai dan para siswa masih berada dilapangan, Zitao berfikir mungkin Baekhyun akan senang meminum air dingin setelah olah raga yang melelahkan dan menguras tenaga.

 

Ia bermaksud meninggalkan kelas ketika sekelompok siswa menghalangi jalannya.

 

“Huang Zitao…kita perlu bicara.”

 

.

.

.

 

-Minuman ini dari Zitao-

 

Baekhyun memutar jengah kedua bola matanya seusai membaca memo kecil yang tertempel dibagian bawah botol.

 

Apa yang ada dipikiran anak adopsi itu, sungguh−

 

Iaduduk dikursi seraya membuka tutup botol lalu meneguknya− eh, meneguk? Baekhyun membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan? Meminum minuman pemberian Zitao?Ukh~ yasudahlah, Baekhyun memilih untuk meneguk saja isi botol tersebut sampai benar-benar tandas. Lalu meletakannya diatas meja dan memandanginya dengan lekat, seolah-olah botol itu adalah sosok sang pemberi.

 

Baekhyun menghela nafas.

 

Jauh dalam lubuk hatinya ia sangat menyadari bahwa keputusannya untuk bersikap buruk pada Zitao adalah salah, namun meski demikian bukan berarti pula ia menyayangi anak berdarah tirai bamboo tersebut.

 

Ia hanya…−

 

−hanya…

 

“Hei, apa kau melihatnya tadi?Lagi-lagi Joohee menindas anak bernama Huang dari China itu.”

 

“Ah, benarkah?”

 

“Hm! Aku melihat anak itu diseret kelapangan, sepertinya kali ini akan lebih sadis dari biasanya. Entah apa yang membuat Joohee begitu membenci anak china itu, aku tidak habis pikir.”

 

Percakapan dua teman sekelas yang tak jauh dari tempat duduknya itu membuat tubuh Baekhyun membeku seketika. Kedua tangannya terkepal tanpa ia sadari. Hawa panas berkumpul disekitar tubuhnya yang mungkin saja sebentar lagi akan terbanjiri peluh.

 

Bodoh kau Zitao, pikirnya dalam hati.

 

Disaat Baekhyun menundukan kepala, bayangan seseorang yang menduduki kursi didepannya terasa mengusik penglihatan.Itu adalah Chanyeol, sudah sangat jelas walau tanpa Baekhyun melihatnya. Pemuda berparas manis itu semakin menggertakan barisan gigi-gigi rapinya.

 

“Jangan katakan apa pun…” ucap Baekhyun pelan, ditujukan untuk pemuda bertubuh tinggi didepannya.

 

Pundak Chanyeol nampak naik lalu turun dengan perlahan, nampaknya pemuda itu tengah menghela nafas “Baguslah kalau kini kau lebih cepat tanggap.”

 

Lagi-lagi Chanyeol berkata ketus, namun Baekhyun tidak peduli sama sekali, sungguh. Saat ini yang ia fikirkan hanyalah bagaimana kondisi Zitao. Ia bahkan tak berani melirik keluar jendela karena takut akan pemandangan mengenaskan yang mungkin nanti akan ditangkap penglihatannya.

 

Namun kali ini hati kecilnya berkata, diambang batas logika dan perasaan…sampai kapan ia akan memperlakukan Zitao layaknya seorang tanpa hubungan sama sekali?

 

Baekhyun yang merasakan kepalanya semakin berat bergegas meninggalkan kelas, mengabaikan bunyi nyaring botol minum kosong yang terjatuh kelantai.Ia berlari menyusuri lorong kelas yang sepi, mungkin semua siswa tengah berkumpul dilapangan menyaksikan penindasan terhadap Zitao.

 

Kaki kecilnya terus berpacu, memaksa penggunakan oksigen berlebih dalam paru-parunya, menghasilkan nafas yang berhembus secara tak teratur dan memburu.Baekhyun bertumpu pada dinding, merasakan dingin permukaan benda keras itu terhadap ujung pundak kecilnya. Nafasnya masih memburu, ia lelah, dadanya terasa tertekan keras oleh sesuatu.

 

“Zi-Zi…tao…”

 

Ia menggumamkan nama adiknya, adik yang belum ia akui hingga saat ini. Apa yang akan ia lakukan sebagai seorang kakak? Apakah menunggu sampai Zitao tewas ditindas dan mayatnya terbujur kaku dilapangan sekolah? Berlumuran darah…sama seperti Minhyun.

 

Minhyun…

 

Jika ia gagal melindungi Minhyun…apakah hal yang sama akan terjadi pada Zitao.

 

Bukankah tidak semua orang berkesempatan untuk memiliki saudara?

 

Apakah hubungan darah itu penting?

 

Bukankah itu tak lebih dari hanya sekedar kiasan belaka.

 

.

.

.

 

Kembali guyuran air kotor membasahi sekujur tubuh Zitao.Ia meringis merasakan pahit dilidahnya serta aroma tidak sedap yang kini menyelimuti seluruh bagian tubuhnya.

 

“Aku benci padamu bisu!!” teriak salah seorang gadis yang Zitao ketahui bernama Joohee, gadis yang baru saja menyiram air kotor –entah berasa dari mana− ketubuhnya.

 

“Kau tidak layak berada disini!!” seru gadis lainnya.

 

“Enyahlah!” bentak gadis yang berbeda.

 

“Kau seperti sampah!” kali ini suara laki-laki.

 

“Anak cacat!”

 

“Tidak berguna!”

 

Dan lagi.Dan lagi.Dan lagi.Mereka terus berteriak didepan banyak siswa.Memaksa Zitao menutup telinganya kuat-kuat, menghindari hinaan dan ceraan bertubi-tubi yang dapat melukai hatinya lebih dalam ketimbang luka pada permukaan kulitnya.Ia pun menundukan kepala, malu untuk menunjukan wajahnya…wajahnya yang tengah menahan tangis, amat sangat lemah dan memalukan.

 

Tenggorokannya bagaikan dihujam ribuan duri.Tak sedikit pun suara terdengar sebagai perlambang kesakitannya.Mulutnya terus bergerak-gerak tidak jelas yang mungkin sangatlah lucu bagi mereka yang menertawainya.

 

Samar-samar ia melihat gadis bernama Joohee itu mengangkat seember yang mungkin berisi air kotor. Zitao benar-benar merasa seperti sampah sekarang…sampah tidak berguna yang sepatutnya dicampakan.

 

Terdengar suara guyuran air.

 

Zitao memejamkan mata kuat-kuat.Menunggu aliran air membasahi mulai dari kepalanya, merembes kedalam kain seragammnya dan membuat basah, kotor dan beraroma menjijikan.

 

Ia sudah pasrah−

 

…Zitao sudah

 

“Maafkan aku…”

 

Getar lirih suara seseorang memaksanya mengangkat kelopak mata, perlahan…sosok seseorang semakin jelas dalam penglihatannya.

 

Sekali lagi “Maafkan aku…”

 

Kedua mata Zitao terbuka lebar-lebar…jelas ia melihat wajah Baekhyun tepat dihadapan wajahnya. Bersimpuh dihadapannya, membentangkan jas seragam sekolahnya diatas kepala Zitao hingga ia tak tersiram air kotor sedikit pun, sebaliknya kini tubuh kecil Baekhyun lah yang basah kuyup dan beraroma menjijikan.

 

“Maafkan aku, maafkan aku…” ia terus menguntai kata maaf, disela belah bibirnya yang bergetar karena dingin tersapu angin.

 

Tetesan air kotor dari helaian hitam poni Baekhyun menetes, melintasi pipi putihnya bersama setetes buliran bening nan murni yang tercurah dari pelupuk matanya.

 

“Maafkan aku, Zitao…”

 

Tidak, bukan begitu…Zitao menggeleng pelan. Baekhyun tidak perlu minta maaf, bukankah lebih baik jika mereka berpura-pura tak mengenal satu sama lain agar Baekhyun tak perlu merasa malu.

 

Kini, dihadapan banyak pasang mata yang melihat mereka…Baekhyun membela Zitao si anak cacat yang tertindas?

 

“Mengganggu saja!Minggir kau!!”

 

Salah seorang gadis melemparkan ember kosong kekepala Baekhyun hingga terdengar bunyi benturan yang amat jelas.

 

Zitao panic dan ingin berdiri, namun Baekhyun segera mencegahnya. Ia meninggalkan jas sekolahnya untuk menutupi kepala Zitao, sebelum berdiri lalu melangkah mendekati gadis bernama Joohee itu dengan tatapan menusuk. Gadis tersebut nampak terkejut dan terintimidasi, ia mundur selangkah ketika Baekhyun tepat berada dihadapannya.

 

Pemuda manis itu mengangkat sebelah tangan, mengayunkannya siap melayangkan sebuah tamparan diwajah sang gadis…

 

Namun…ia berhenti−

 

Semua orang terdiam termasuk gadis itu yang nampak gemetar.

 

“Aku…aku tidak sama seperti kalian.”Ucapnya.

 

Baekhyun menarik kembali tangannya dan berbalik untuk menghampiri Zitao, membantu adik angkatnya itu berdiri dan memapahkan menuju ruang kesehatan, sepertinya salah satu kaki Zitao terkilir dan jalannya sedikit terseok.Semua orang menyingkir, memberi jalan untuk mereka lewati.

 

.

.

.

 

“Sepertinya sesampainya dirumah kita harus mandi lagi karena aroma menjijikannya tidak mau hilang, entah air kotor bekas apa itu…jorok sekali mereka.” umpat Baekhyun seraya mengusap surai kelam dikepala Zitao dengan handuk property Unit Kesehatan Sekolah.

 

Zitao hanya mengangguk pelan.

 

Mereka kini berada diruang kesehatan.Sudah mandi dan membersihkan tubuh dengan peralatan seadanya dikamar mandi salah satu ruang klub olahraga.Untung saja hari ini Baekhyun membawa pakaian olahraga karena memang jadwalnya pelajaran tersebut, sementara Zitao dipinjami seragam sisa klub sepak bola beserta celana panjangnya.

 

Baekhyun berdiri dipinggir ranjang dan terus mengusak kepala Zitao agar bocah tersebut tidak masuk angin nantinya.

 

Ia baru berhenti ketika Zitao menyentuh pergelangan tangannya.

 

“Ada apa?Kau ingin aku duduk?”

 

Zitao mengangguk dan Baekhyun pun menduduki kursi yang memang telah tersedia didekat ranjang.Mereka kini berhadapan, hanya saja Zitao lebih tinggi posisinya karena duduk ditepi ranjang.

 

Suasana sunyi. Tak ada suara sedikit pun kecuali suara perputaran jarum jam diruangan ini, baik Baekhyun mau pun Zitao, keduanya bungkam dan hanya saling membenturkan pandang.

 

“Haahhh~”

 

Baekhyun menghela nafas seraya menatap langit-langit. Tentu saja, siapa lagi yang akan berbicara selain dirinya…karena Zitao tak dapat mengeluarkan suara.

 

“Aku memiliki seorang adik laki-laki…” ucap Baekhyun pelan, masih tetap menatap langit-langit sampai beberapa saat “Namanya…Byun Minhyun.”

 

Zitao menunduk, tatapannya pun tak mengarah pada pemuda manis dihadapannya…ia menatap lantai ruang kesehatan.

 

Mama –Nyonya Byun− telah menceritakan segalanya. Mengenai putra mereka yang bernama Byun Minhyun, adik Baekhyun yang telah tutup usia tujuh tahun lalu saat berusia delapan tahun, akibat kecelakaan lalu lintas ketika pulang sekolah…bersama Baekhyun.

 

−bersama kakaknya.

 

“Aku memboncengnya dibelakang, dia memeluk erat pinggangku, aku sengaja melajukan sepeda dengan cepat karena Minhyun berkata kalau ia sangat menyukainya. Tapi karena terlalu cepat dan tidak bisa kukendalikan, aku sangat panic sampai-sampai tak terfikirkan untuk menekan rem…hingga sepeda kami menabrak pembatas jalan dan kami pun terpental tepat ketengah jalan dimana banyak kendaraan melaju kencang…”

 

Baekhyun menatap nanar lantai, sementara Zitao menatap sosoknya lekat.Menemukan untuk pertama kali bahwa sesungguhnya Baekhyun adalah seseorang yang rapuh, layaknya sebuah cermin penuh garis retakan yang tercipta akibat memendam kesedihan serta penderitaan mendalam.

 

Rasa bersalah membuatnya bungkam, kesedihan memaksanya menutup diri…

 

“Dihadapkan pada sosok-mu yang memiliki sorot mata seperti Minhyun…” pemuda manis yang kini bermata sendu itu menatap Zitao mendalam “Aku takut…akan mengulang kesalahan yang sama. Tiap kali memandang wajahmu, selalu terbayang sosok Minhyun yang bermandikan aliran merah menyala.”

 

Pemuda itu memandang kedua tangannya yang mulai gemetar.

 

“Saat itu tubuhku terasa hancur lebur, aku memaksakan diri, menyeret tubuh untuk menghampiri tubuh Minhyun yang terbujur kaku. Aku mengguncangnya keras, berteriak memanggil namanya, air mata diwajahku bercampur dengan darah…tapi dia tidak menjawab sama sekali…dia tidak ada lagi disana. Dan saat aku melihat kedua tanganku…semua…berwarna…merah−”

 

Ucapan Baekhyun terhenti ketika sesuatu yang hangat menyelimuti kedua tangannya.Ia tersadar dari kabut masa lalu yang melingkupi pemikirannya. Dilihatnya kedua tangan putih Zitao menangkup kedua tangannya, rasanya hangat dan tak pernah terkira akan senyaman ini. Pemuda berparas manis itu menggigit kuat bibir bawahnya, menahan ledakan air mata yang mungkin saja akan terjadi pada dirinya.

 

Baekhyun memandang Zitao ketika pemuda itu melepas tangannya, mengambil sebuah buku catatan dan menulis sesuatu disana.

 

-Semua sudah berlalu.-

 

Kalimat itu membuatnya terpana.Zitao selalu pandai merangkai sebuah kalimat sederhana menjadi alat penyejuk hati yang sempurna.

 

Zitao menulis lagi.

 

-Minhyun pun pasti, ingin kakaknya hidup bahagia.Aku sangat bersyukur…dipertemukan dengan kalian, papa, mama dan Baekhyun.-

 

Air mata Baekhyun menetes ketika itu, menuruti gaya gravitasi…turun melintasi pipi putihnya begitu saja. Senyum yang terlukis diwajah Zitao seolah berkata jikalau ia menangis pun, itu tidak apa-apa.

 

Dan Baekhyun pun menangis, jeritannya begitu pilu mengiringi lepasnya semua beban yang selama ini menghimpit jiwanya.

 

……………

 

BAEKHYUN

 

Aku merasa konyol setelah menangis habis-habisan dihadapan Zitao.Wajahku ketika itu sangat jelek, serius.Hidung dan mataku bocor parah, seluruh wajahku merah bahkan telingaku juga.

 

Dihadapan Zitao, aku merasa bagaikan burung yang terlepas dari sangkarnya. Begitu bebas dan lepas.

 

Setelah itu kami berdua mengunjungi makam Minhyun.

 

Papa berkata padaku, alasannya mengangkat Zitao sebagai anak sekaligus adikku…ya, memang benar jika mereka ingin menghiburku, membuatku agar setidaknya dapat melupakan sedikit rasa bersalahku terhadap Minhyun.Sejak kepergiannya, mereka memang selalu memanjakanku, membiarkanku bersikap egois, mengabulkan segala keinginanku sampai-sampai memenuhi permintaan gilaku agar ditunangkan dengan Chanyeol, laki-laki yang kucintai. Semua berlangsung mudah karena kedua orang tua kami memang bersahabat sejak kuliah, namun bagi Chanyeol hal tersebut adalah sebuah kesialan, mungkin− ia tidak mencintaiku, apalagi menerima pertunangan kami secara sukarela. Sempat ia menolak setengah mati, segala cara dilancarkannya mulai dari mogok makan, mogok bicara dan mengurung diri dikamar berhari-hari.

 

Namun sekali lagi, semua keinginanku terkabul karena paksaan papa dan mama kepada kedua orang tua Chanyeol.

 

Aku sangat egois. Karena itulah Chanyeol tidak pernah menyukaiku, ia membenciku. Hal yang sangat masuk akal karena hanya orang bodoh saja yang akan mencintai anak egois, manja dan memuakkan sepertiku.

 

Dan Chanyeol bukanlah orang bodoh.

 

Aku sadar ia terlalu baik untukku. Jika aku seperti ini terus, aku tak kan pernah pantas bersanding dengannya.

 

Kehadiran Zitao membuka mataku, menyadarkanku akan diriku yang sesungguhnya.

 

Aku ingin bahagia, aku tidak ingin terus menerus merasa bersalah dan bergumul dalam kesedihan atas kepergian Minhyun.Aku ingin bahagia, namun bukan berarti aku melupakan Minhyun. Rasa bersalah ini masih akan tetap hadir, hanya saja terkunci rapat didasar hatiku yang terdalam.

 

Aku akan melindungi Minhyun yang berada dalam hatiku.

 

Dan aku akan melindungi Zitao dengan sepenuh hatiku.

 

.

 

ZI TAO

 

Papa berkata padaku, meski Baekhyun selalu bersikap egois, manja dan seenaknya namun semua itu hanyalah penjelmaan kepedihan hatinya. Dibalik sikap egois ia menyembunyikan jeritan hatinya, dibalik sikap manja ia menyembunyikan tangisannya…dan ia bersikap seenaknya karena ingin melarikan diri dari rasa bersalah yang mendera jiwanya dalam waktu lama.

 

Baekhyun sesungguhnya tidak pernah membenciku dan ia pun sesungguhnya sama sekali tak ingin membiarkanku terluka…seandainya Chanyeol mengetahui semua ini.

 

Jika aku mampu bersuara, maka aku akan berteriak tepat ditelinganya ‘Jangan membuat Baekhyun bersedih!!’

 

Aku dapat merasakannya sejak awal, sorot mata Baekhyun seolah selalu memohon pertolongan…ia bagaikan berada dalam jurang penyesalan yang tak berujung.

 

Dengan mengadopsiku, papa berharap Baekhyun dapat kembali merasakan bagaimana rasanya memiliki seseorang untuk ia lindungi. Papa tidak ingin Baekhyun kehilangan lentera hidupnya dan tersesat dijalan yang gelap.

 

Papa ingin Baekhyun mampu memahami isi hatiku, membuka hatinya dan menjelma menjadi manusia berhati tulus yang dapat menerima segala kekuranganku.

 

Aku bisu.

Aku tidak punya suara yang dapat terdengar.

 

Tapi Baekhyun dapat mendengar suaraku…

 

Dengan hatinya.

 

.

 

Baekhyun memandang hamparan suasana kota dipagi hari melalui kaca jendela mobil, ia menopang wajahnya dengan satu tangan sekaligus menyandarkan kepalanya pada kaca. Ia menoleh kesamping, melihat Zitao yang tengah menulis sesuatu pada buku diatas pangkuannya, lalu sejenak menoleh kejendela kemudian menulis lagi dibuku. Entah sedang menulis apa, mengerjakan PR mungkin…Zitao terlihat sangat lucu.

 

Mereka pun tiba digerbang sekolah. Baekhyun segera membuka pintu dan turun dari mobil, ia menunggu beberapa saat sampai Zitao menampakan diri dengan kepala tertunduk.

 

Baekhyun mendengus kesal dan menarik dagu Zitao “Hei, jangan sembunyikan wajahmu seperti itu…”

 

Zitao nampak kaget dan entah mengapa wajahnya bersemu merah muda, melihat hal tersebut Baekhyun tersenyum mantap lalu mulai melangkah memasuki gerbang sekolah.Banyak siswa menatap mereka, kejadian kemarin pastilah penyebabnya…Baekhyun merasa kini dirinya semakin terkenal, diperhatikan banyak pasang mata seperti selebritis. Setidaknya itulah sisi positif yang dapat ia tangkap− selain…ia mendesah singkat sebelum berbalik dan menemukan Zitao berjalan dibelakangnya, sedikit jauh…mungkin anak itu mencoba menjaga jarak.

 

Kali ini Baekhyun berdecak kesal “Kenapa kau ini lamban sekali, huh?”

 

−lalu meraih satu tangan Zitao dan menggenggamnya…mereka berdua memasuki gedung sekolah seraya bertautan tangan.

 

Zitao nampak sedikit panic, namun ia sama sekali tak menolak sentuhan Baekhyun.

 

Bahkan hingga sampai didepan kelas pun, acara tatap-menatap masih terus berlanjut. Dengan jelas Baekhyun bahkan dapat mendengar beberapa siswa berbisik ketika ia lewat bersama Zitao, sepertinya kejadian kemarin benar-benar membuat seisi sekolah gempar. Selain itu ditempat dimana biasanya majalah dinding, pengumuman dan pemberitahuan apapun dalam bentuk tulisan ditempel…terpampang foto besar dirinya tengah memapah Zitao menuju ruang kesehatan.

 

Baekhyun memutar kedua bola matanya “Sungguh berlebihan…” ucapnya jengah.

 

Ia memilih untuk mengabaikan saja berita tak bermutu itu dan berbalik hendak menuju kelas, namun ia tak melihat sosok Zitao yang seharusnya masih berada didekatnya. Beberapa detik pandangannya berkelana, ia menemukan sosok adik angkatnya berada tak jauh didepannya…tengah membantu seorang siswa mengumpulkan kartu perpustakaan yang sepertinya terjatuh dan berhamburan di lantai.

 

Menghela nafas dan melangkah kearah Zitao.Ia melihat wajah siswa yang dibantu oleh Zitao nampak merona ketika siswa itu berlari melewatinya seraya mendekap erat kumpulan kartu perpustakaan ditangannya.

 

Baekhyun hanya berdecak pelan melihatnya.

 

.

.

.

 

“Ada apa memanggilku kemari?” ketus Chanyeol yang mulai memikirkan permintaan aneh apalagi yang akan Baekhyun ucapkan.

 

“Kau selalu dingin kepadaku, Chanyeol.Jadi siapa disini yang berdarah dingin sebenarnya?Aku atau dirimu, huh?”

 

Chanyeol tak menjawab, ia menyusupkan kedua tangannya kedalam saku celana…melempar tatapannya pada genangan air jernih dalam kolam renang sekolah. Baekhyun yang memanggilnya kemari beberapa saat setelah bel tanda sekolah usai berbunyi. Terdengar suara langkah Baekhyun mendekat, ia menghela nafas dan menatap lurus kedepan…sosok Baekhyun telah siap mengulurkan tangan yang tertadah, seolah meminta sesuatu.

 

“Cincin pertunangan kita yang ada padamu, berikan padaku…”

 

Pemuda yang lebih tinggi mengangkat sebelah alisnya “Untuk apa?”

 

“Berikan saja.”

 

Tanpa banyak tanya –dan sebenarnya Chanyeol tak terlalu peduli dengan apa yang akan tunangannya itu lakukan− ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk lingkaran dari salah saku celananya. Baekhyun tersenyum tipis…Chanyeol memang tak pernah sudi mengenakan cincin pertunangannya.

 

Kini benda berbentuk lingkaran yang terbuat dari emas putih itu telah berada ditangan Baekhyun, pemuda berparas manis itu kemudian melepas miliknya sendiri dari jari manis ditangan kirinya.

 

Mengumpulkan keduanya dalam satu genggaman tangan, lalu−

 

−melemparnya kedalam kolam renang.

 

Chanyeol terbelalak seusai mendengar suara benturan air dan benda yang terjatuh kedalamnya, ia menatap tidak percaya kearah kolam renang.

 

“A-apa yang−“

 

“Dengan ini pertunangan kita batal.”

 

Kali ini kedua bola mata Chanyeol bagaikan hendak mental keluar dari tempatnya, masih menatap tidak percaya…kali ini mengarah lurus pada pemuda berparas manis didepannya.

 

“Malam ini, papa dan mama akan datang kekediaman kalian untuk menemui kedua orang tuamu…mereka akan memohon maaf atas batalnya pertunangan kita secara sepihak− dari pihakku tentunya.Tapi sayangnya aku tidak bisa ikut karena papa menghukumku tidak boleh keluar rumah entah sampai kapan.”

 

“Apa?” kening Chanyeol berkerut “Maksudmu?”

 

Baekhyun menghela nafas, satu tangannya terangkat guna menyapu helaian poni yang terhempas hembusan angin sepoi “Aku rasa hubungan seperti pertunangan, terlalu cepat bagi kita…aku sadar jika hubungan semacam itu harus difikirkan dengan matang dan aku sama sekali belum dewasa. Selain itu…lusa kami sekeluarga akan pindah dan menetap di China.”

 

Oh, sungguh−

Baekhyun memberinya banyak kejutan hari ini sampai ia tak sanggup berkata-kata.

 

“Aku menceritakan semua kepada papa dan mama.Tentang penindasan Zitao disekolah, tenang bagaimana sikapku padanya selama ini.Dan karena itu papa fikir akan lebih baik bagi kondisi psikologis Zitao jika ia kembali menetap dikampung halamannya.”Baekhyun berhenti sejenak lalu tertawa kecil “Mereka memarahiku habis-habisan, papa bahkan hendak menamparku jika saja Zitao tidak mencegahnya…dan kini papa hanya menghukumku dengan menjadikanku tahanan rumah.”

 

Hening menyeruak. Chanyeol kehabisan− ia membisu. Ia seperti berhadapan dengan orang lain.

 

Baekhyun menatap pemuda bertubuh tinggi dihadapannya dengan lekat, lalu tersenyum tipis…namun tulus “Sekarang aku telah dapat menerima cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Menyakitkan memang, tapi aku akan berusaha bertahan.Maafkan aku…untuk selama ini.”

 

Baekhyun masih tersenyum.Sorot matanya ketika itu bagaikan menyentuh hati Chanyeol dengan lembut…membuatnya tertegun.

 

“Aku berharap, keputusan ini membuatmu bahagia…

 

…selamat tinggal.”

 

Dan Baekhyun pun pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri…yang hanya dapat memandang punggung sempitnya menghilang entah kemana.

 

Seakan lenyap bersama hembusan angin.

 

“Jadi kau…benar-benar mengira kalau cintamu bertepuk sebelah tangan?”Chanyeol tersenyum getir “Dasar…bodoh.”

 

……………

 

Zitao yang duduk dikursi tunggu departemen keberangkatan, sibuk mengamati jadwal keberangkatan dan kedatangan yang tertera pada billboard dengan format digital. Cukup pegal juga menengadah karena papan tersebut terpasang diatas, nyaris mendekati langit-langit bandara…keberangkatan Seoul menuju Beijing 30 menit lagi, Zitao menghela nafas lalu menoleh kekiri, ia menemukan orang tua angkatnya berdua tengah berbagi kecupan pipi kanan-kiri− bermesraan. Sementara Baekhyun yang duduk disebelah kanan-nya, tengah asyik berkutat dengan iPad nya seraya menengarkan music melalui earphone.

 

Ia bosan menunggu dan ingin melakukan sesuatu. Ah, sebaiknya ke toilet saja agar tidak menyusahkan ketika dipesawat nanti, pikir Zitao.

 

Akhirnya ia pun menyentuh pundak Baekhyun dan langsung membuat yang disentuh terhenyak.

 

“Ada apa?” tanya Baekhyun pada Zitao seraya melepas earphone dari salah satu telinganya.

 

Zitao mengutarakan keinginannya melalui bahasa isyarat, kening Baekhyun berkerut melihatnya.

 

“Err~ aku belum terlalu mengerti bahasa isyarat, Zitao…” ucap Baekhyun dengan raut wajah bingung, sepertinya masih memikirkan arti bahasa isyarat yang Zitao ucapkan.

 

Sang pengguna bahasa isyarat memutar kedua bola matanya, ia mendengus sebal. Dua hari terakhir di Seoul yang ia habiskan untuk mengajari kakak angkatnya ini berbahasa isyarat belum menampakan hasil memuaskan sepertinya. Dengan malas, ia mengeluarkan smartphone miliknya dan mengetik sesuatu.

 

-Aku ingin ketoilet-

 

Sang kakak membulatkan mulut kecilnya tanpa dosa “Yasudah, pergilah.Jangan lama-lama dan jangan sampai tersesat, cepat kembali.”

 

Zitao hanya mengangguk untuk kemudian beranjak dari tempatnya.

 

Dalam toilet tidak terlalu ramai, hanya ada dirinya dan seorang laki-laki asing berambut pirang dan mengenakan kacamata hitam.Zitao yang kini tengah mencuci tangan –bermain air− diwashtafel tanpa sadar mengamati pria disampingnya.Pria tersebut nampak tengah membersihkan sedikit noda pada kemeja baby blue ditubunya, dilihat dari warna sepertinya itu noda teh atau cola.

 

Sadar akan fakta adanya seseorang yang memandanginya, pria tersebut segera menoleh pada pemuda bersurai hitam kelam disampingnya. Zitao tersentak kaget, terlebih ketika pria itu sedikit menunduk –karena ia sedikit banyak lebih tinggi dari Zitao− dan merendahkan posisi kacamatanya hingga keseluruhan matanya dapat terlihat.

 

Zitao terpana untuk beberapa saat…

 

Karena warna mata pria itu…layaknya langit yang tengah bersedih.

 

Abu-abu.

 

Can I help you?” ucap pria itu pelan yang membuat Zitao terhenyak…pemuda asia itu segera menggelengkan kepalanya, gugup dan− malu.

 

Pria pirang tersebut hanya menggendikkan kedua bahu, mungkin ia sedikit heran karena pemuda bersurai hitam kelam itu tak memperdengarkan suaranya. Namun ia tak terlalu ambil pusing dan segera menyelesaikan urusannya di toilet, lalu ia pergi begitu saja setelah membuang gumpalan tisu kedalam tempat sampah.

 

Kini hanya tersisa Zitao seorang diri dengan rasa keterpesonaan yang masih menyelubungi hatinya.

 

Oh, sungguh indahnya mata itu…ia bersumpah.

 

Tak ingin berlama-lama atau menerima ocehan Baekhyun, Zitao memilih untuk bergegas…namun sebuah kilauan menarik perhatiannya, ia pun menghentikan langkah tepat ditempat pria asing tadi membersihkan kemejanya. Kedua mata kelamnya meneliti apa yang sekiranya ada disana…dan ia menemukannya.

 

Sebuah Pocket Watch berwarna emas.

 

Benda mewah dengan ukiran bentuk sepasang sayap malaikat dibagian depannya.Sepertinya benar-benar terbuat dari emas.Zitao berfikir cepat dan segera menyimpulkan bahwa benda ditangannya kini adalah milik pria asing tadi. Menyadari bertapa berharganya benda tersebut, tanpa pikir panjang ia segera meninggalkan toilet dengan maksud mengejar sang pria asing.

 

Ditengah lautan manusia, akhirnya Zitao menemukan sosok pria yang dicarinya…tinggi tubuh dan warna rambut cerahnya cukup mencolok sehingga mudah dikenali. Segera saja pemuda asli tirai bambu itu berlari kearahnya, sampai ketika seseorang mencekal sebelah tangannya−

 

“Kau pergi kearah yang salah, Zitao.” ucap seseorang yang ternyata adalah Baekhyun setelah Zitao menoleh. “Kita harus pergi sekarang, ayolah…”

 

Zitao berusaha meronta dari genggaman tangan Baekhyun, dan menggerakan mulut mencoba menjelaskan meski hal tersebut sia-sia.

 

“Zitao, berhenti meronta!Kita tidak boleh terlambat, kau paham?!” seru Baekhyun yang mulai kesal sendiri melihat perilaku tidak jelas adiknya itu.

 

Tatapan marah Baekhyun membuat Zitao membeku, ia hanya mengangguk pelan dan pasrah saja ditarik oleh sang kakak menuju waiting room. Sekali ia menoleh kebelakang, untuk melihat punggung kokoh sang lelaki pirang menghilang ditelan kerumunan orang yang memenuhi bandara…dengan menggenggam erat, pocket watch itu ditangannya.

 

.

.

.

 

Seorang pemuda bersurai coklat terang merebahkan tubuhnya diranjang setelah meneguk satu butir aspirin beberapa saat lalu.Ia menghela nafas seraya menatap langit-langit kamarnya yang dilapisi cat biru muda.

 

Tak lama kemudian tangan kanannya meraih rantai kalung dilehernya yang berbandulkan dua buah cincin berlapis emas putih polos dengan ukuran berbeda.Ia memerhatikan bagian dalamnya, terdapat ukiran namanya dan Baekhyun disana…milik Baekhyun yang berukuran kecil sementara miliknya tentu saja yang berukuran sedikit lebih besar.

 

Melihat waktu yang tertera dijam dinding, sudah dapat dipastikan mantan tunangannya itu kini tengah berada didalam pesawat yang membawanya menuju Beijing.

 

Kedua kali pemuda tampan ini membuang nafas, pening masih belum sepenuhnya sirna dari kepala…mungkin setelah bangun tidur ia harus meminum satu pil aspirin lagi. Tidak baik memang berendam di air dalam cuaca dingin selama 3 jam lebih, namun ia harus melakukan hal tersebut untuk dapat menemukan cincin pertunangannya dan Baekhyun yang dilempar lelaki manis itu kedalam kolam renang sekolah. Mengingat dalamnya kolam hampir dua meter…Chanyeol bersin dua kali, sepertinya setelah ini ia akan flu.

 

Baekhyun yah−

Ia berfikir, bayangan Baekhyun kini berkeliaran dalam kepalanya…sosok Baekhyun dalam berbagai ekspresi. Senang, marah, kesal− Chanyeol meremas alas tidurnya.

 

Sial! ia mengumpat dalam hati.

 

“Halo, sepupuku tercinta.Sedang patah hati, eh?”

 

Terdengar suara meledek yang membuat Chanyeol terhenyak dalam sekejap.Pemuda tampan itu segera meninggalkan posisi rebahannya dan menoleh kearah yang diyakininya merupakan asal suara tersebut.

 

Sebelah alis Chanyeol terangkat.

 

“Wufan?”

 

Pemuda pirang yang berdiri diambang pintu dengan senyum meremehkan itu melangkah mendekati ranjang dimana Chanyeol kini duduk, meletakan −melempar− kopor dan tas-nya kesembarang tempat lalu menjatuhkan diri diranjang, tepat disamping Chanyeol…dalam posisi telungkup seraya memeluk sebuah bantal yang terlapisi sprei hitam motif tengkorak.

 

“Ada apa?” tanya Chanyeol “Kau sedang ada masalah?”

 

Wufan diam sejenak sebelum menjawab “Aku kehilangan…”

 

“Kehilangan? Kehilangan keperjakaan-mu maksudnya?” kelakar Chanyeol disusul tawa meledeknya, namun melihat raut wajah suram sang sepupu segera ia membungkam mulut seraya mengusap tengkuknya.

 

“Aku kehilangan jam saku peninggalan ibuku.”

 

Ucapan Wufan tak pelak membuat Chanyeol terperangah, mengingat betapa pentingnya benda tersebut bagi sang sepupu, ia segera memukul kepala Wufan dengan sebuah guling.

 

“Idiot!Benda sepenting itu bagaimana kau bisa menghilangkannya!”

 

“Aku bukan ‘menghilangkan’ tapi ‘kehilangan’ brengsek!” Wufan membalas pukulan Chanyeol dengan guling yang sama, sebelum akhirnya merubah posisi memunggungi pemuda bersurai hitam pekat itu “Entahlah, aku menyadarinya ketika telah menaiki taksi. Aku sempat mendatangi toilet sesaat sebelum meninggalkan bandara dan kupikir aku dapat menemukannya disana.Namun setelah aku kembali ke bandara dan mencarinya…benda itu tidak dapat kutemukan.”

 

“Lalu?”

 

Wufan menghela nafas “Apa boleh buat.Aku harap orang yang menemukannya dapat menjaga benda itu dengan baik.”

 

Chanyeol tak berkomentar apapun, ia menyadari betapa berharganya benda itu bagi Wufan…bukan karena harganya, bukan sama sekali. Melainkan karena kenangan akan sang ibunda yang terdapat pada benda tersebut. Sepupunya itu, pasti merasa sangat kehilangan.

 

“Kau sendiri…” suara pelan Wufan membuat Chanyeol menoleh, pemuda pirang itu masih memunggunginya “Kau tidak benar-benar sedang patah hati ‘kan?”

 

Patah hati…?

Sekali lagi Chanyeol menatap sepasang cincin ditangannya, lalu menggenggamnya erat seraya mengumpat dalam hati.

 

Sial!

 

“Yah, kira-kira begitulah…” ucap Chanyeol pelan.

 

Setelah itu, mereka pun terlelap dalam posisi saling memunggungi.

 

.

.

.

 

“Benda apa itu?” tanya Baekhyun pada Zitao yang duduk disampingnya. Ia merasa sangat penasaran karena sejak pesawat lepas landas beberapa saat yang lalu, adiknya ituterus saja memandangi benda bundar berwarna emas dengan untaian rantai dibagian atasnya.

 

Benda yang nampak sangat mewah.

 

Zitao terlihat mencatat sesuatu pada buku saku-nya, setelah selesai ia segera memperlihatkannya pada Baekhyun.

 

-Seseorang tanpa sengaja meninggalkannya di toilet. Karena tidak sempat dikembalikan, jadi kubawa saja-

 

Baekhyun membulatkan mulut kecilnya “Tapi sepertinya benda itu sangat berharga.”

 

-Aku juga berfikir begitu. Karena itu aku memutuskan untuk menyimpannya, mungkin suatu saat kami bertemu lagi dan aku dapat mengembalikan benda ini- ucap Zitao sebuah kalimat yang tertera dalam buku saku-nya

 

Setelah itu ia memasukan benda bundar itu kedalam tas dan mulai me-rilex-kan diri dengan menempelkan punggungnya pada sandaran kursi dan memejamkan mata.

 

Membiarkan tubuhnya beristirahat sebelum memulai kehidupan baru bersama keluarga barunya.

 

“Terima kasih, Zitao…” ucap Baekhyun pelan yang membuat Zitao tersenyum.

 

~OWARIMASHITA~

 

Udaaahhh!!

Kok jadi kaya kisah cinta Baekhyun sama Tao, ya?

Iya ga sih? Haha! Hayo coba tebak gimana perasaan mereka…apakah Cuma sekedar kaka-adik sajah?

Duh saya seneng deh bikin yg aneh-aneh biar readers keki sendiri, hahaha! *bugh! /ditabok krisyeol*

 

Jadi karena ini focus baektao…silahkan abaikan Chanbaek dan Kristao.

 

MAAF UNTUK TYPO DAN KESALAHAN LAIN YG TIDAK DISENGAJA!!

SEKIAN!

 

ALWAYS KEEP THE FAITH!

137 thoughts on “ONESHOOT | BOKU TO OTOUTO-CHAN | BAEKTAO

  1. Yaaaah (⌣̯̀⌣́)
    Padahal ff nya bagus banget nih, coba kalau bukan one shoot, pasti lebih bagus.
    Kasian nih sama baekhyun
    Ckckck baekhyun… Baekhyun..
    Yang sabar ya buat My Baekki #chuuu~~ (っˆ ³(´⌣`c)

  2. thor aaaaaaaa sebel sih sama baekhyun cuman pas tau alasan kenapa dia begitu gue jadi ngerasa bersalah. apalagi pas baekhyun nangis didepan zitao, serius thor gue mau nangis tapi takut makruh puasanya ha hahahahaha pokoknya yang pas bagian zitao sama baekhyun nyeritain tentang masalalulnya sama kenapa dia diadopsi itu ngena banget. aaahhh itu chanyeol oneng belel aduhduheuh gregetan gue thor. ternyata dia juga suka sama baekhyun, ternyata cinta baekhyun gak bertepuk sebelah tangan ahhhhh jdksjaieu itu juga si tao ketemu kris, ini bakalan ada sequelnya kan ya?iyakan? iya pasti hahaha pokoknya keren deh thor :)))))

  3. Kereenn bgggt !!! feelnya ngena … apalg pas Baekkie buang cincin tunangannya ke kolam, rasanya dada gue ikut meraskan prasaan chanyeol #apaini -__-
    author jjang ! Berkaryalah lbh bnyk🙂

  4. Gitu doang?? #gak nyante
    Ya ampun! Sayang banget ini cerita gak dilanjutin!! Gue udah dari awal nangis trus senyum2 sendiri, eh tiba2 selese… Huaaaahhh…

    Tapi selepas dari itu semua, ini cerita bagus banget deh! Iya deh kayaknya cerita ini mirip sama FF ChanBaek Baby’s Breath. Tapi bukannya menuduh kok kak, gue cuma mau mengutarakan pendapat aja..

    Nangis kejer pas baca adegan Tao disiksa gitu. Apalagi pas di sekolah, gue kayak diabaikan gitu sama semua sahabat gue.. Rasanya sakit.. #malah curhat

    Rasanya komen saya terlalu panjang ya? Wahaa.. gapapa.. *plak
    Jujur! FF ini keren!!

  5. Sequel juseyooo ;_____;
    menyentuh banget demi apa. tao jangan bawa kotak obat kecil. sini gue bawain kotak obat segede truk pertamina mau gak?? ;______;

    ini keren !! keren banget !!

    cuma antara kris dan tao kayak yang ganjel krn ngegantung ;___________;

    *sujud sembah sama author* sequel plis ;;;;;

  6. wauw._. ini keren sumpah. demi tuhan._.
    Brothership antara Tatao sama Bebekyun(?) kerasa banget. tapi ChanBaek sama KrisTao nya gantung ._. dan aku berharap ada sequel #ngelunjak-_- hehehe :p

  7. Kereeenn thoorr^^ sempet emosi dan nyaris banting HP waktu pas adegan Tao di bully…ga tegaa panda seimut(?) Itu di tindas kayak gitu TT^TT

  8. Aku gak terima ff nya segitu aja!! Aku pengen tau alasan chanyeol selalu ketus sama baekhyun padahal dia juga cinta sama baekhyun. Aku juga pengen tau kris sama tao ketemu lagi di mana, kapan, dan seterusnya. Pokoknya aku gak mau tau!! Aku mau sequel, kalo perlu 10 part biar panjang😄
    Please thor terusin kenapa😥

  9. Kesannya greget banget liat tingkah Baekhyun. Gemessss.
    Tapi syukurlah pd akhirnya dinding keras itu hancur jg.
    Kisah cinta ChanBaek sangat lucu-menurutku. Tdk usah di panjangin jg udh pd tau gmn certnya mrk.

    Good Luck KrisTao.

    Keep Writing nde ^^

  10. Ff nya bgus kok kak….. Tapi kurang panjan….. Masa tao ama kris cuma ketemu di toilet bandara sih…. Kan gak romantis…. Hehrhehehe….

    Tapi bagus kak…

  11. Aaaaaaa~ authorrr epep nya kerennn!! aku ngepil banget ampe sedih sedih bacanya, yeollie awal.a nyebelin tapi akhirnya sosweettt… sok bgt dingin akhirnya galaoo juga kan dy d.tinggal baekki,
    Aku suka baektao tp udh thor mereka adik kaka aja, please thor bikin squel chanbaek sama taoris, ksian kan kris cuma nongol bentar doang :3

  12. sequel nya dong Author ^^v hehe.. Bagus thor, nah loh chanyeol kena batunya kan, baektao emg lebih cocok buat jadi brothership, hehe nice ff😀 keep writing !!?

  13. Yaaaaaah aku pikir bakal ada taoris next story😦 tp ini bagus bgt. Ga banyak dialog antara baek sama tao tp feelnya bisa ngena bgt🙂

  14. Yaaaaaah aku pikir bakal ada taoris next story😦 tp ini bagus bgt. Ga banyak dialog antara baek sama tao tp feelnya bisa ngena bgt🙂 sequelnya d tunggu😀

  15. Seharusnya ff ini wajib sequel… soalnya gantung…
    gimana kelanjutan Tao Dan Wuyifan??
    sayang bgt kao ff ini gak Ada sequel nya.. ff ini udah kelewat kereeeeeeeeenn bgt…

  16. wuah,memng sih telat bacanya…nangis jadinya,apalagi pas moments byun-tao,hiks,hwaiting tao…hehehe bacotnya banyak banget,sequel nya dong thor… seru nih…. jeballyo,*puppy eyes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s