Kris Complex Chapter 3

P.S From Hyobin : *lagi di IGD karena diabetes baca FF ini* JJang yo JJang for TERMAKAN SEHUN *cipoks*

 

 

Title : Kris Complex

kris complex

Author : Termakan Sehun yang kece badai cetar membahana~

Genre : Manis, asem, asin !

Rated : ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Cast : Panda Tao dan Abang Ben Ben.

 

 

LAMLEKOOOOMMMMMM~

Ih senengnya ketemu kalian lagi… apa kabar anak anak? Semoga baik-baik aja ya… nah sekarang kita mulai pelajarannya… *eh salah gaul gue* HAHAHAHA

Aduh, akhirnya bisa memunculkan part tiga nya juga ya, setelah persemedian yang aku lakukan selama berbulan bulan hahaha. Maklum orang BUSY ya begini ini /yuhuuu sombong sombong. Timpuk aja kalo sombong mah! Hahah AMPUN.

Maaf ya, buat reader yang udah nunggu nunggu kelanjutan ini FF abal. Empat bulan ya, hihihihihi *chuckled* ma’aaaaaaf banget soalnya emang beneran lagi sibuk banget. Di maklumin yaaaaa ceman cemaaaan :*

Ma’af juga kalo jadinya standart banget soalnya… hmm… *menghela nafas* udah lama gak nulis, mau nulis lagi kok ‘feel-nya’ ilaaaanggg… jangan di timpukin ya gue.

Here we go~

 

 

 

 

────────────────────────•••••••••••••────────────────────────

 

Part 3…

 

“Kau…” Kris mengehembuskan nafasnya panjang ketika jarak wajah diantara keduanya semakin hilang. Hingga Tao dapat merasakan nafas yang baru saja di hembus Kris tepat di hidung bangirnya. “Cantik sekali…”

Oh Tuhan! Bolehkah ia mati sekarang juga….????!!!!

 

 

Tao mengerjapkan matanya bingung. Sesaat ia harus menata perasaannya berada sedekat ini dengan Kris. Selama sepersekian detik ia harus berhenti bernafas. Ia tidak lagi dapat berfikir apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah ini. Kris memegang lembut kedua sisi rahang Tao.

“Ya…Hey…lepaskan…!” Rengek Tao percuma. Ia menutup matanya rapat-rapat. Namun goncangan keras di kepala nya membuatnya terpaksa membuka matanya lagi.

“Kenapa kau menutup matamu, bocah bodoh? Kau tidak berfikir, aku akan menciummu bukan?”

Kris tertawa seraya menepuk-nepuk pipi Tao. Seketika rahang lelaki bersurai hitam pekat itu mengeras. Ia menggertakkan giginya. Ingin sekali Tao memukul kepala orang mabuk di hadapannya ini. Tapi rasanya, jika berada dalam posisi ini, dapat bernafas pun telah menjadi suatu anugrah indah untuk Tao.

“Kau aneh.”

Tao membulatkan matanya mendengar lontaran tersebut. “Kalau aku aneh, aku sudah berada di parody sirkus.” Ia mencoba menenangkan dirinya dengan melontarkan lelucon.

“Tidak. Kau ini memang aneh…”

Usaha Tao tidak berhasil. Kris masih tidak mau menjauh darinya. Bahkan ia tetap menatap Tao dengan intens. Seolah-olah ia memasang mesin bor di matanya, yang siap untuk melubangi mata Tao.

Seulas senyum tiba-tiba terlukis di ujung bibir Kris. Demi Tuhan! Pikiran Tao kosong total. Dirasanya ia akan segera meleleh seperti lilin yang dibakar api. Tapi Tao tetap berusaha menatap mata Kris. Entah, keengganan seakan berubah menjadi hal yang tidak ingin Tao lewatkan.

“Kau…” Kris mendongakkan kepala Tao. “Terlalu cantik untuk ukuran lelaki… apa kau perempuan? Huh?”

Semuanya berhenti seketika. Pertanyaan Kris terasa menohok palung hatinya. Menembus jantung yang masih berfungsi dalam rongga dada Tao. Ia tidak habis pikir Kris akan mengira bahwa dirinya adalah perempuan. Ia hanya termangu, membuka mulut tak percaya. Apa perlu ku tunjukan senjataku? Dasar dokter gila!!!

Tao menghembuskan nafasnya panjang. Mengumpulkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk membalas ocehan Kris. “Euisangnim!!! Kau ini sedang mabuk. Seharusnya kau tidur saja seperti orang normal lainnya. Tidak perlu mengatakan hal hal konyol! Lagipula aku heran, kau masih bisa sadar, padahal kau sudah menghabiskan berbotol-botol soju. Jangan merengek, lebih baik tidur sana!” Sahut Tao sembari mendorong keras tubuh Kris.

Kris berusaha bangkit dan duduk. Ia mengerang tertahan, lalu mengusap-usap pinggangnya.

“Ah, siapa yang mabuk…? Aku sadar… HAHHHHH.. Pinggangku!!!”

“Euisangnim, baik-baik saja?” Tao berjongkok mendekati Kris, seraya membantu menggosok-gosok pinggangnya yang sakit.

“Ini lah balasan untuk Euisangnim, karena Euisangnim berperilaku aneh terhadapku! Lain kali jika Euisangnim sedang mabuk, berperilakulah sesopan mungkin. Euisangnim baik baik saja kan???”

Dengan tatapan yang masih sempurna untuk ukuran orang yang sedang mabuk berat, Kris mendongak memandang Tao. Nyaris saja Tao terjengkang karena terkejut. Kris memegang pundak Tao kuat-kuat, membuat Tao menghentikan nafasnya untuk kesekian kali. Namun ternyata Kris hanya ingin berdiri dengan berpegang pada pundak Tao.

“Aku sudah sadar sepenuhnya, jadi aku harus minum lagi. Atau… aku makan daging asap saja? Bunga Dandelion? Nyam… Nyam…”

Sadar apanya? Bahkan bicaranya saja masih melantur! Tao menepuk keningnya lalu mengernyit. Ya Tuhan! Bagaimana bisa, ada makhluk sekacau ini. “Baiklah-baiklah..terserah kau saja. Aku mau turun. Aku harus mempersiapkan diri untukdunia intern besok.” Tao berdiri dan membalikkan badannya cepat. Ia takut, ia akan berubah menjadi monster jika terus berada di samping pusat virusnya. Ingat!!! Bagaimanapun, bagi Tao… Kris tetaplah virus.

“Etsss…” Kris menahan langkah Tao dengan mencengkeram lengannya. “Kau tidak boleh kemana-mana hari ini.”

Tao menelan ludahnya kasar. “Yah! Euisangnim… Kau sendiri yang berkata aku akan bekerja full time mulai besok… Jadi aku harus mempersiapkannya mulai sekarang kan?”

“Ah… Lupakan itu sejenak. Jangan menjadi kuno. Saat ini, kau hanya perlu berada disisiku. Mengerti, Hwang Zitao?”

Kris mendekatkan tubuhnya yang lunglai kearah Tao. Mengacak-acak surai kehitaman Tao perlahan, sebelum akhirnya jatuh tertidur di punggung Tao. Tao merasa sekujur tubuhnya memanas. Pipinya memerah serasa baru di panggang di mesin sauna selama berhari-hari.

Aaahh,,, aku pasrah saja. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Tapi lelaki ini selalu membuatku ingin mengumpat!

Tao terdiam sejenak dan kemudian membopong tubuh Kris –yang notabene lebih tinggi darinya- ke belakang punggungnya. Terseok keluar dari tempat rahasia Kris. Tempat yang benar-benar rahasia. Ini, RAHASIA!!!

 

 

Sebagai orang baru dalam dunia medis, lapangan pertama yang efektif sebagai pembelajaran adalah Departemen Darurat. Sepanjang hari pasien selalu berdatangan. Oleh karena itu para Intern dipastikan akan mendapat begitu banyak pengalaman. Mulai dari pasien kecelakaan, penembakan, keracunan, penderita pencernaan dan lain sebagainya.

“Annyeonghassimnikka…!!!”

Seruan para Intern termasuk Tao menggema di sudut Departemen Darurat. Semacam memberikan salam pagi terhadap kepala pembimbing mereka saat ini.

“Oke, jadi kalian adalah orang yang akan membuat masalah baru di rumah sakit ini?”

Lelaki pemilik rambut pirang mengingatkan tentang istilah pembuat masalah baru yang berlaku bagi para mahasiswa magang. Sebenarnya tidak seberapa, hanya sebuah peringatan bahwa para mahasiswa tersebut memang selalu membuat masalah. Maklum saja transformasi dari seorang mahasiswa menjadi berstatus intern itu bukan hal yang mudah. Lelaki tersebut bersendekap. Menatap satu persatu para mahasiswa di hadapannya.

“Baiklah, ingat selalu peraturannya, jangan berani melakukan tindakan tanpa izin, jangan membuat keputusan sendiri, jangan mendahului para Residen atau Professor dan satu hal yang paling penting…”

Lelaki yang menggunakan pengenal Kris Wu tersebut memberikan jeda, “Jangan pernah membantah. Ingat bahwa kalian adalah…” Kris kembali mendelik tajam seolah mereka adalah mangsa baru yang siap untuk di terkam.

“Pengacau besar!” Dengan penuh semangat para mahasiswa menjawab kelanjutan kata-kata yang Kris inginkan.

“Baiklah, kembali bertugas.”

Para Intern membungkuk seiring dengan berlalunya Kris. Sedangkan Tao masih menatap punggung tegap lelaki tersebut. Sedikit terheran, auranya begitu berbeda dengan lelaki yang menghabiskan beberapa botol soju di rooftop kemarin. Mabuk, dan berbicara seenaknya saja. Lucu sekali… jangan-jangan orang itu memang punya dua kepribadian?

Beberapa detik kemudian suasana berubah menjadi hiruk pikuk. Suara-suara melengking, gerakan-gerakan kalang kabut, dan lusinan krisis tidak terduga. Semuanya harus ditangani serempak. Tao kemudian berlari menyesuaikan diri dengan para dokter lainnya, mencoba memfokuskan pikiran dengan suara-suara membingungkan di sekelilingnya.

Beberapa perawat berlarian mendorong sebuah bed berisikan lelaki yang tidak sadarkan diri. Perawat tersebut segera menempatkannya pada ruang darurat untuk segera di tangani.

“Kenapa pasien ini?”

Kris yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Tao bertanya kepada petugas ambulans yang membawanya kemari. Namun keluarganya menjawab.

“Ayah tiba-tiba kehilangan kesadarannya ketika menyalakan microwave. Ia baru saja pulang dari libur panjangnya keliling Eropa.”

Kris mengangguk mengerti, kemudian memeriksa keadaan pasien tersebut, memerintahkan sebagian perawat untuk memasang infus dan alat penunjang pernafasan lainnya, sebagian lagi menggiring keluarganya keluar ruang darurat. “Pasien ini mengalami gangguan aritmia kritis. Tao-sshi, ambil sampel darahnya. Minseok-sshi, tolong tanyakan kepada keluarganya tentang riwayat penyakit pasien ini.”

Dua orang yang di sebut Kris saling pandang, kemudian berlari menjalankan tugas masing-masing. Tao meraih beberapa jarum suntik. Meraba-raba arteri yang berada pada tekukan lengan pasien, kemudian menusukkan spuit pada tempat tersebut. Namun baru saja ia akan menarik pelatuk spuitnya (jarum suntik), seorang intern lain berteriak. “Denyut nadinya berhenti!!!”

Tao mendongak melihat layar monitor yang menunjukkan keaktifan listrik jantung sang pasien. Mendadak, rasa gugup melanda. Layar tersebut menampakkan garis hijau lurus tanpa lekukan seperti bukit. Haruskah ia melihat kematian seseorang secepat ini?

“Bodoh, kenapa melamun? Lakukan CPR!”

Teriakan Kris menggugah kegugupan Tao. Dengan kikuk, ia berdiri di sisi kiri pasien. Menempatkan kedua tangannya di dada sang tak berdaya. “Satu, dua, tiga, empat, lima….Sepuluh.” Mengulang-ulangnya dan terus mengulang lagi. Keringat dingin menetes di pelipisnya, tatkala layar monitor tersebut tak kunjung menunjukkan kehidupan jantung sang pasien. Ia terus berusaha memberikan CPR kepada pasien tersebut.

“Ganti tangan.” Tiba-tiba Kris berseru. Dengan kondisi yang masih panic, Tao merubah posisi tangan kiri yang sejak tadi berada di bawah menjadi di atas tangan kanan, lalu memulai CPR lagi. Tindakan tersebut sontak membuat Kris berdecak dengan tawa mengernyit.

“Bodoh sekali kau ini. Ganti tangan yang ku maksud adalah tukar posisi dengan kawanmu! Kau sudah kehilangan kekuatanmu. Jangan bermain-main dengan nyawa! Pasien ini manusia bukan cadaver(mayat yang menjadi alat praktek di fakultas kedokteran). Suster Shin, tolong suntikkan 0,05 gr, Epinefrin.”

Kris meninggikan suaranya, kemudian memberikan instruksi kepada Intern lain untuk melakukan CPR. “Satu, dua, tiga, empat…Sepuluh. Satu, dua, tiga, empat, lima….”

Tidak menunggu lama, suara melengking dari monitor memberikan pergerakan keatas pada garis hijau disana. Kelegaan terpancar jelas dari wajah Tao dan semua orang yang berada di ruangan tersebut. kecuali Kris, wajahnya masih sangat datar. Seolah mengantisipasi kemungkinan yang terjadi nanti.

“Lanjutkan pengambilan sample darah, kemudian kirim ke ruang CT Scan.” Kris mengerling tajam pada Tao yang nampak tenang bergelut dengan perasaan bangga karena baru saja menyelamatkan pasien dari kehilangan denyut nadi.

“Hey, kau… tidak mendengarku?” Ulang Kris.

Kembali Tao menoleh kikuk, “Ya?”

“Sampai kapan kau akan membiarkan spuit kosong menancap pada lengan pasien, huh? Itu akan membuatnya infeksi!!! Cepat ambil darahnya!”

Tao seakan tertohok, ia hampir saja melakukan hal yang bodoh lagi. Segera ia beralih kembali ke sisi lengan pasien. Namun naas, baru beberapa langkah ia berjalan, kakinya terantuk kursi pijakan untuk melakukan CPR. Tubuhnya terjerembab di bawah ranjang pesakitan. Ia menutup matanya rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa malunya lalu kembali berdiri.

Kris dan seluruh orang yang berada dalam ruangan tersebut terkekeh sejenak. Anak ini benar-benar berasal dari luar planet bumi sepertinya. Bahkan masih bisa berbuat konyol di saat keadaan darurat.

Saat Tao telah berdiri kembali, ia mencabut spuit yang lama, kemudian kembali mencari pembuluh arteri yang lain untuk di ambil sample darahnya. Masih menggunakan proses yang sama, Tao melakukannya dengan sangat hati-hati. Sementara itu, Kris sekali lagi memeriksa keadaan fisik pasien tersebut, namun tiba-tiba Tao berseru, “Hemoglobinnya turun, haruskah kita memberikannya transfusi?”

Kris melepas stetoskop di telinganya, melirik angker kepada lelaki surai hitam tersebut. “Yah! Sudah kubilang jangan memberikan keputusan sendiri. Lakukan saja perintahku… bawa ke ruang CT Scan!!! STAT!!!”

(Stat, adalah bahasa latin, berasal dari suku kata statim yang artinya ‘Segera’). Mendengar bentakan tersebut Tao memalingkan wajahnya dari lelaki di hadapannya. Dengan segera menggiring pasien tersebut menuju ruang yang diperintahkan oleh Kris. Ia mengurut dadanya berkali-kali. Sedikit tidak menyangka bahwa lelaki bersurai pirang tersebut bisa sangat mengerikan ketika berada di balik jas putihnya.

 

 

Sore itu, Tao termenung di salah satu meja ruang istirahat di lantai lima. Ruangan tersebut bersambung dengan kantin rumah sakit yang menyediakan berbagai macam makanan. Tao yang sedari tadi belum mengisi perutnya dengan makanan apapun merasa sanga~t lapar. Apalagi tenaganya terkuras habis oleh lelaki bertubuh seperti tiang listrik yang merajai unit darurat.

Di ruangan tersebut sebenarnya sangat ramai, mengingat begitu banyaknya intern-ship mahasiswa yang baru datang. Bahkan ada yang jauh jauh datang dari Hongdae kemari. Dan pada kesempatan kali ini, semua pembicaraan para mahasiswa pengacau itu sama persis.

“Ah, jantungku berdebar kencang sekali. Bahkan nyeri di ulu hati, semoga bukan serangan jantung.”

“Ujung selangka ku sangat pegal, bukan tanda-tanda hernia kan?”

Semua sibuk menjadi analisistant sendiri. Sepertinya mereka begitu bangga dengan status mereka masing-masing saat ini. Tao sendiri sedang menanti Sehun –yang ia titipi pesan dua sandwich daging extra large- tidak menyadari bahwa Sehun sekarang sudah di hadapannya.

“Bagaimana hari ini?” Tanya Sehun membuka pembicaraan.

Kepala Tao memutar menatap Sehun dengan pandangan kosong. Tao menyunggingkan senyum hampa di ujung bibirnya, kemudian bergerak maju mendekati wajah Sehun.

“Kau tahu tidak, apa arti menjemukan?”

Baiklah, jawaban Tao memang sedikit tidak masuk akal. Namun Sehun menerimanya dengan menggelengkan kepalanya setelah menyuapkan satu sendok sup jagung asparagus kesukaannya.

“Menjemukan adalah ketika kau merasa otakmu hilang di telan benda tidak terlihat. Dan semuanya menjadi kosong seperti kertas putih tanpa tulisan. Terombang-ambing di lautan penuh sesak. Yang membuat kita tidak dapat bernafas dengan bebas. Seperti tercekik oleh tangan-tangan halus yang begitu menggiurkan. Sumpak sekali.” Ujar Tao melanjutkan.

“Oh, begitu ya? Tapi sebenarnya…” Sehun mengerjapkan matanya bingung. “Apa sih maksudmu?”

Tao menegakkan posisi duduknya, kemudian menggigit lebar-lebar sandwich daging pesanannya. “Dasar, bodoh! Menegangkan sekali. Aku hampir saja gila.”

Sehun mengatupkan bibirnya rapat-rapat kemudian memukul kepala Tao dengan sendok sup bekas mulutnya. “Kalau menegangkan bilang saja menegangkan, tidak usah bertele tele. Kau bukan Shakespeare!”

Tao memegangi kepalanya, memandang jijik atas apa yang baru saja di lakukan sahabatnya sesaat yang lalu sambil terus mengunyah makanannya. “Bagaimana denganmu?”

Sehun tersenyum menyuap supnya lagi. “Gugup. Menegangkan. Tapi sangat menyenangkan. Aku masih bisa mengatasi semuanya kok.”

“Kwon Sungjun Euisangnim pasti orang yang sa~ngat baik, teliti dan tidak semena-mena. Berbeda sekali dengan dokter tiang listrik itu. Ia hampir saja membuatku menelfon rumah sakit jiwa. Aku rasa, lelaki itu mengidap temperamental tinggi yang datangnya tidak terduga. Kadang datang kadang menghilang. Membuatku frustasi.” Gerutu Tao panjang lebar.

“Tiang listrik?” Sehun yang tengah sibuk menyantap sup kentalnya seketika mengangkat wajahnya. Lagi-lagi Tao membuatnya tidak mengerti. “Kris Euisa maksudmu?”

Tao mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Sehun. Kemudian kembali berbicara setelah menelan tomat, selada dan roti sekaligus. “Tubuhnya tinggi sekali seperti tiang listrik.”

Sehun seketika merasa tersedak oleh butiran jagung yang luput dari mesin penggiling di mulutnya. Ia menepuk dadanya sebelum tertawa terpingkal-pingkal. “Hahahaha, julukan apalagi yang akan kau berikan kepadanya setelah ini? Tao, kau tidak benar-benar jatuh cinta padanya bukan?”

Tao membulatkan mata kucingnya menjadi nampak penuh. Ia hanya berkedip-kedip tanpa bergerak menatap Sehun. Sepertinya ada ulat bulu yang merambat melewati kerongkongannya, gatal sekali. Tentu saja pertanyaan Sehun itu tidak berdasar menurutnya. Sebuah cinta tidak mungkin di awali dengan keadaan yang saling beradu. Bukankah biasanya, cinta selalu di awali oleh hal-hal yang indah?

Beruntung tiba-tiba ponsel Sehun bergetar, menunjukkan ada sebuah panggilan dari seseorang. Sepertinya Luhan –kekasih Sehun. Ada sedikit nada kecewa di balik cara bicara Sehun kali ini. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Tao menangkap Sehun sedang mengerucutkan bibirnya dan berdengung-dengung tidak jelas.

Dua potong sandwich hadir di hadapan Tao lagi, membuat Tao mengabaikan pembicaraan Sehun dengan entah siapa di seberang sana. Ia lebih berkonsentrasi untuk mengunyah makanan yang seharusnya menjadi makan siangnya. Mengunyah lebih lama akan membantu pencernaan melakukan penggilingan.

“Hah! Selalu begini.” Hardik Sehun tiba-tiba.

Tao mendongakkan kepala kembali menatap Sehun dengan pandangan tak yakin. “Luhan ya? Ada apa?”

Sehun mengangguk menangkap indikasi Tao yang begitu cepat menyesuaikan arah pembicaraannya. Sehun meraih pinggiran cangkir kopi tiramisu yang datang bersamaan dengan dua potong sandwich daging Tao terakhir tadi. Menyeruputnya sedikit dan kembali berbicara, “Luhan harus mendampingi Prof. Joe Mc Courtney, ada operasi mendadak. Sepertinya kami gagal berkencan lagi hari ini. Sial!”

Seolah Tao mendapatkan palu untuk memukul mundur Sehun. Tao memposisikan satu tangannya memegangi perutnya. Demi apapun, hal yang baru saja di ceritakan Sehun tadi sangat lucu menurutnya. Kelucuan tersebut hanya bersifat sepihak, karena Sehun membalas dengan senyum kecut. Tao kemudian berdeham menetralisir nada suaranya. Namun gagal.

“Haha-Haha.” Sehun menirukan gaya Tao tertawa dengan sepenuhnya bersungut-sungut.

Tao kembali berdeham, dan mengangkat satu tangan memberi tanda meminta waktu sejenak untuk menelan tawanya. Menyadari bahwa hal yang di tertawakannya sama sekali tidak lucu sebenarnya. “Maaf, aku tidak bermaksud.”

“Sesukamu saja, Hwang Zitao. Telingaku masih tebal.”

“Oh, ayolah Sehun. Jangan di perdulikan lagi. Itu adalah salah satu resiko dalam menjalin hubungan dengan seorang dokter. Bukan begitu?” Kata Tao memastikan. “Ada saatnya nanti kau akan sama persis dengan posisi Luhan saat ini. Percayakan saja semua pada nasib.”

Sehun memang menyadari betul hal itu. Bahwa dalam dunia Luhan, Sehun adalah nomor kesekian. Begitu juga nantinya, dalam hidup Sehun, Luhan adalah yang kesekian. Karena sudah pasti di peringkat pertama adalah pasien. Sehun menyunggingkan senyum di sisi kiri bibirnya.

“Baiklah-baiklah, kau memang pintar sekali bersilat lidah Tuan Hwang! Kalau begitu…” Sehun merogoh kantong saku kemeja yang masih terlapisi oleh jas putih. “Ini untukmu saja.”

Sehun mengulurkan dua potong kertas kepada Tao. Tao mendelik menatap pemberian sepupunya tersebut. Sedetik kemudian ia meraihnya.

“Awalnya aku ingin melihat festival lentera di sepanjang jembatan Banpo bersama Luhan. Tapi apa daya tangan tak sampai. Lebih baik aku berikan kepadamu saja, daripada uangku terbuang percuma. Aku rasa tempat itu cukup menyenangkan untuk melepas penat. Kau bisa mengajak orang ter-de-kat-mu mungkin.” Ujar Sehun dengan menekankan kata ‘terdekat’ dalam caranya berbicara.

Tao hanya mengedikkan bahu, bukan karena menyangsikan pernyataan Sehun. Akan tetapi lebih kepada pikirannya yang mendadak melayang menatap dua tiket tersebut. Hey! Sehun memberikan dua tiket untuknya, dan untuk siapa lagi satu tiket yang tersisa. Bukankah penekanan terhadap kata-katanya tadi sebenarnya menunjukkan sebuah code? Tao belum tahu, atau berpura pura tidak tahu?

“Hmm?” Tao mempertanyakan sebuah tepukan yang mendarat di bahunya.

“Sudah waktunya bertugas lagi.” Kata Sehun seraya beranjak dari tempat duduknya. Baru saja akan melangkah, Sehun mengangkat jari telunjuknya kemudian kembali memandang Tao lekat. “Kau…berhutang jawaban kepadaku Tao.”

Tao seketika meneguk kasar milk tea nya. Membelalak meminta penjelasan lebih pada Sehun namun terlambat. Sehun sudah berlalu meninggalkan Tao yang sebenarnya tengah tertegun mengingat dengan jelas apa pertanyaan yang Sehun butuhkan jawabannya.

 

 

Seharian yang melelahkan bagi Kris tidak terasa telah berakhir, beberapa teman sejawatnya mendahuluinya untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Kris hanya perlu mengkaji semua hal tentang pasien sebelum akhirnya menyambut rumah surganya. Beberapa menit berselang Kris menyambar peralatannya kemudian melangkah menuju lobi untuk menemukan sebuah taksi. Bukan karena ia tidak membawa mobil, tapi karena Kris merasa bahwa dirinya lelah, tidak baik dalam keadaan lelah lalu mengendarai sebuah mobil bukan?

“Gangnam-gu Chongdam dong, 157/51.” Ujar Kris menunjukkan alamatnya kepada sopir taksi.

Kris menyandarkan tubuhnya di dalam taksi, memorinya terputar kedalam waktu beberapa tahun yang lalu. Seolah semuanya begitu mudah di sekolah kedokteran. Kris mengenang 4 tahun yang ia habiskan untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Ketika itu ada sekitar 150 siswa seangkatannya. Iatakkan pernah melupakan, ketika pertama kali Kris mengikuti ilmu urai tubuh (anatomy). Para mahasiswa memasuki ruangan putih bertegel yang berisi dua puluh meja yang di atur berderet. Masing masing meja di tutupi kain hijau. Kemudian para mahasiswa di bagi menjadi beberapa kelompok berisi masing masing lima orang, dan setiap kelompok di beri satu meja.

Professornya berucap, “Baiklah silahkan di buka kain penutupnya.” Itulah pertama kali Kris berhadapan dengan mayat. Ia sangat takut akan mual ataupun pusing. Tapi pada kenyataannya, ia malah sangat tenang sekali. Mayat tersebut sudah di bersihkan dan di awetkan, jadi memudahkan Kris untuk menganggapnya hanya sebagai manusia yang pingsan.

Mula-mula para mahasiswa masih bersikap hidmat di dalam ruangan tersebut, “Menghormati jasad orang yang sudah meninggal itu adalah hal mulia.” Begitu opini mereka. Namun, dalam waktu satu minggu saja –dan ini membuat Kris sangat terheran-heran- mereka sudah bisa memakan roti pada waktu pembedahan. Jangan heran jika hal yang mereka lakukan adalah makan. Jujur saja, berhadapan dengan ilmu urai tubuh amat sangat menguras tenaga dan energy, sehingga kita mudah lapar.

Kris kemudian tersenyum samar, ia memang sangat menyukai bidangnya ini. Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil. Tepatnya setelah ibunya meninggal.

Tiba-tiba ponselnya berdering, “Hmmm, aku Kris.”

“Ada pasien kecelakaan di unit darurat, bisakah kau kembali, Euisangnim?”

Ucapan di seberang sana membuat tubuh Kris yang semula bersandar menjadi terduduk. “Baik aku akan segera kembali, tapi sebelumnya tolong katakan bagaimana kondisinya.”

Seorang di seberang sana mengatakan bahwa pendarahan yang sangat banyak terjadi di sekujur tubuhnya, bahkan seluruh persendiannya patah. Lalu Kris memerintahkannya untuk memasang ambu bag, agar oksigen tetap bisa mengalir dengan teratur.

 

“Apa yang terjadi?” Tanya Kris sesaat setelah ia sampai di rumah sakit.

Tao yang masih bertugas menjawab, “Kecelakaan sepeda motor, ia di tabrak oleh bus dan ia tidak mengenakan helm.” Jawab Tao jelas.

Kris memeriksa pasien tak sadarkan diri tersebut, bahkan sebelum melihat wajahnya, ia sudah tahu. “Pasang tiga IV. Aku perlu beberapa unit darah sekarang juga, hubungi bagian personalia untuk mengetahui golongan darahnya.”

“Baik.” Salah satu juru rawat segera melesat menjalankan perintah Kris.

Kris meraba-raba kepala pasien tersebut. “Ada edema berat. Aku perlu foto scan kepala dan X-ray. Jangan sampai ada kesalahan.”

“Baik, Euisangnim.”

“Dan, satu lagi, tolong hubungi dokter ketua departemen saraf dan ortopedi untuk segera turun kemari. Stat.”

Kris menghabiskan beberapa menit berikutnya untuk menyelamatkan nyawa pasien tersebut.beberapa kali hipoksia (rendah oksigen) terjadi. Pendarahannya sangat parah, bahkan setelah hasil X-ray dan CT-scan nya muncul hal yang mustahil di lakukan adalah, SELAMAT. Tapi sebagai Dokter, akan selalu mengingat satu hal, tidak ada pasien yang di perbolehkan untuk mati.

“Tulang tengkoraknya retak, tulang pangkal lengannya patah dan tulang panggulnya bergeser. Tadi sempat mengalami beberapa kali fibrilasi atrial, dan sepertinya juga ada sedikit kememaran dalam otaknya. Coba kau lihat lebih lanjut lagi Professor.” Ucap Kris setelah dua Professorahli saraf dan ortopedi datang.

Dua professor setengah baya itu pun segera memeriksa pasien tersebut, mengangguk-angguk membenarkan ketepatan dugaan Kris.

“Sepertinya ada pendarahan di dasar otaknya. Jika ingin ia sadar kita harus segera melakukan penanganan khusus untuk syarafnya. Tapi… jika ada keretakan di tulang tengkoraknya, aku sedikit bingung harus mendahulukan yang mana.” Jelas dokter ahli saraf.

“Hmm.” Dokter ortopedi mengurut ujung dagunya berkali-kali. “Benar sekali, tulang tengkoraknya retak 3 cm, dan itu jumlah yang cukup beresiko untuk di abaikan begitu saja. Begitu juga pergeseran tulang panggulnya yang cukup signifikan. Ini akan menimbulkan kelumpuhan pada pasien jika ikut di abaikan.”

Kendati tiga dokter itu berjibaku dengan hebat, Tao sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk. Beginikah rasanya menjadi seorang dokter? Beginikah jika nantinya ia harus memutuskan segalanya sendiri? Demi Tuhan hal itu membuatnya ingin tenggelam di dasar bumi terbawah. Ia tahu, pasien yang sedang terbaring itu termasuk dalam kondisi sangat kritis. Dan tiga manusia hebat di hadapannya ini sedang berdiskusi tentang mempertahankan sebuah…

Nyawa.

 

 

Sebagai seorang dokter haruslah memiliki keberanian sangat besar untuk mengambil sebuah tindakan. Ia bagaikan Tuhan yang menggenggam erat nyawa para pasiennya. Tidak main-main, satu kali saja salah langkah, pasti akan merugikan banyak pihak.

Tao membawa santai kakinya menyusuri jalanan sepi. Kurang lebih enam belas langkah lagi terdapat sebuah halte, tempat biasanya ia menunggu bus untuk mengantarnya pulang. Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, itu berarti tugasnya hari ini sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Pasien yang terakhir dilihatnya telah di putuskan untuk menjalani operasi bedah kepala total. Namun menurut catatan medis yang baru saja ia bereskan sebelum pulang, terdapat perforasi usus kronis dan kebengkakan pada otot jantung. Prognosisnya kemungkinan dadanya terantuk benda keras ketika kecelakaan terjadi.

Tao membiarkan angannya melayang membayangkan, seandainya ia berada di posisi pasien itu, berhadapan dengan tajamnya pisau bedah, runcingnya jarum anastesi tidak hanya di satu bagian tubuh, tapi di beberapa bagian dalam satu waktu. Hah! bisakah terbayangkan betapa sakitnya?

Tao menghela nafas panjang. Terang saja, hanya melihat para tangan dewa bekerja secara otomatis membuat otot-otot tubuhnya menegang. Bagaimana tidak, berada di antara orang-orang yang berdebat mempertahankan nyawa bukan hal yang mudah. Nampaknya Tao membutuhkan sedikit refreshing, bermain game misalnya.

Lalu Tao teringat akan tiket festival lentera yang di berikan Sehun kepadanya dengan Cuma-Cuma. Tao berfikir bahwa mungkin meluangkan waktu sejenak untuk melihat pertunjukan festival itu tidak ada salahnya.

Lima menit kemudian bus menuju Myeongdong datang, ia memang harus menaiki bus jurusan tersebut untuk bisa mencapai tempat festival lentera. Tanpa pikir panjang Tao memasuki bus tersebut dan segera memilih kursi paling belakang di dekat jendela. Setelah bus berjalan, Tao ingin memasang earphone ke telinganya berniat untuk mendengarkan music. Namun ada seseorang yang lebih menarik perhatiannya. Seseorang yang duduk di seberang kiri Tao.

Seperti Kris Euisangnim…

Tao menatap lelaki itu tanpa henti. Rasa penasarannya terkulik, lelaki itu bersendekap dan wajahnya ditutup oleh topi yang ia kenakan. Tapi jas yang di kenakannya menandakan seseorang itu memang dari Rumah Sakit Gangwoon.

“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu?” Ujar seseorang tersebut mendahului Tao. Ia membuka topinya dan membuat Tao terkejut.

“Euisangnim!!!!!!”

“Hei, bisa tidak kau pelankan suaramu. Aku tidak tuli.” Protes lelaki pemilik surai keemasan.

Tao memutar bola matanya, kemudian menurunkan intonasi suaranya. “Apa yang kau lakukan disini Euisangnim?”

“Melakukan operasi bedah.” Kris menatap Tao tanpa ekspressi. “Kau tidak bisa melihat aku sedang apa?”

Mendengar itu, Tao mengernyit sebal. Berdebat adalah hal yang wajib jika Tao bertemu dengan makhluk spesies yang satu ini. “Euisangnim maksud ku, untuk apa kau naik bus, bukankah mobil pribadimu lebih nyaman, lebih menyenangkan, lebih mewah, leb−”

Tao tidak dapat berbicara lagi ketika Kris tiba-tiba menggeser tubuhnya mendekati Tao, meletakkan kepalanya bersandar pada bahu Tao yang mungil.

“Euisangnim! Apa yang kau lakukan?” Protes Tao tak nyaman.

“Bisa tidak, kau menutup mulutmu sebentar saja?” Kris memerintah dalam keadaan mata tertutup.Ia mencengkeram lengan Tao erat.

Tao tertegun, seolah keinginannya untuk memprotes lenyap. Rasa tidak nyaman pun digantikan oleh debaran jantung yang kuat dan rona merah yang merekah di kedua pipinya. Semakin tidak nyaman memang, tapi raut wajah Kris yang seperti ini membuatnya tidak dapat berkutik.

Lima menit berselang…

“Euisangnim, boleh aku bertanya?”

“Hm…” Gumaman yang di luncurkan Kris, dianggap Tao sebagai jawaban iya.

“Apa… yang ditakuti oleh seorang dokter?” Pertanyaan Tao seolah menjadi sebuah jelaga bagi keduanya. Sebuah pertanyaan yang tidak hanya Tao tujukan untuk Kris, tapi untuk dirinya sendiri. Bahkan Kris sendiri pun kebingungan harus menjawab dengan jawaban seperti apa. Sehingga ia hanya terus saja memejamkan mata.

“Euisangnim kau tertidur?” Tanya Tao terdengar kurang yakin.

Tidak ada sahutan dari mulut Kris. Tao melirik Kris dari sudut matanya, secara otomatis aroma wangi klorofil menyeruak dari rambut Kris. Tidak dapat di pungkiri lagi, lelaki yang tanpa alasan tengah menyandarkan kepalanya di bahu Tao ini sangatlah tampan, yang satu ini tidak usah di ragukan lagi. Tubuhnya tinggi bak model, berisi tapi tidak terlalu kekar. Kulitnya putih susu mulus tanpa noda setitik pun. Rambutnya pirang keemasan di tata acak dengan gel seadanya. Dan tidak boleh tertinggal, Kris sangat wangi dan bersih. Sehingga dalam jarak seperti ini, Tao dapat melihat bulu bulu halus yang menaungi wajah lelaki pirang tersebut. Meskipun perut Tao terasa mulai berkontraksi, dadanya semakin bergolak ingin mencuat, Tao seperti sangat menikmati lakon seperti ini.

“50.000 Won!”

Pekikan tersebut tentu saja mengagetkan Tao yang tengah asyik bergelut dengan dunianya sendiri. Menyadari bahwa Kris yang tadi mengagetkannya, spontan Tao meluruskan pandangannya lagi ke depan. Rona merah semakin terpampang jelas di kedua pipinya.

“Aku bilang 50.000 Won.” Ulang Kris lagi masih dengan posisi yang sama.

“A…apa maksud mu Euisangnim?”

“Mulai hari ini aku akan memasang tarif, bagi siapapun yang memandangiku selekat kau menatapku tadi, aku akan memasang tarif 10.000 Won permenitnya. Dan kau menatapku lima menit jadi 50.000 won.” Kali ini Kris membuka matanya.

“Tsk. Begitu ya?” Tao berdecak sembari mengerucutkan bibirnya, berusaha mendorong tubuh Kris yang entah untuk alasan apa saat ini sedang bergelayut manja seperti seorang puppy di lengannya. Namun ternyata sang puppy tidak mau melepaskan diri dari sang majikan. Tao mendengus pasrah. “Baiklah, jika begitu, aku juga akan memasang tariff setiap kali ada orang yang dengan sengaja mengunakan bahu orang lain sebagai bantal. 100.000 won per-detiknya.”

Kris seketika mengangkat tubuhnya, membenarkan letak duduknya. Menatap lurus pada wajah Tao yang terlihat sekali ingin menghindari mata Kris meskipun gagal. Kedua mata mereka bertemu dan memancarkan kilatnya masing-masing. Telunjuk Kris teracung tepat di depan dahi Tao dan kemudian mendorongnya. Membuat Tao memundurkan kepalanya otomatis. “Kau ini tidak kreatif sekali Hwang Zitao.”

Bibir Tao semakin mengerucut, menampakkan sisi lain dari seorang Hwang Zitao yang sebenarnya begitu polos. “Ish, jawab pertanyaanku dahulu Euisangnim.”

Kris membenarkan letak duduknya lagi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Kepalanya menunduk, memainkan kedua kakinya yang menggantung. “Kau… ingin jawaban seperti apa?”

Tao mendengung, menepuk nepuk dadanya. “Jawaban yang tulus dari hati.”

Kris menoleh kesamping, meresapi paras Tao yang mendadak hangat. Kris menghela nafas panjang. “Kurasa… ketakutan terdalam dari seorang dokter adalah… ketika mereka tengah tumbuh dalam pengalaman. Setiap pengalaman yang  mereka tempuh bukan hanya sekedar pengalaman yang dapat di kerjakan bersamaan dengan kesalahan dan ketidak hati-hatian.”

Kata-kata Kris membuat Tao ingin sekali menatap wajah lelaki di sampingnya ini. Ia mengalihkan pandangannya, lalu menatap lembut tepat di sepasang iris indah milik Kris.

“Mereka bukan Tuhan, tapi tanggung jawabnya menjadikan mereka seolah hakim bagi sebuah kehidupan orang lain. Bukankah itu sangat mengerikan bagi seorang dokter? Dokter juga manusia, dan manusia tidak pernah ada yang sempurna.”

Tao tersenyum hangat. “Euisangnim… kau tahu tidak? Aku sa~ngat bersyukur bahwa aku belum menjadi dokter sepenuhnya, setidaknya aku masih belum memiliki kewenangan mengambil sebuah keputusan. Sedangkan lihatlah Euisangnim saat ini, Euisangnim tidak bisa berdiskusi dengan siapapun ataupun berbagi dengan orang lain. Kau hanya harus membuat keputusan sendiri. Entah itu kau ketahui atau pun tidak kau ketahui. Kau tetap menjadi hakim bagi nyawa orang lain. Begitu kan?”

Kris tertegun sejenak, parasnya menunjukkan raut tidak percaya.

“Kadang aku berfikir, hanya dengan berusaha keras kita akan dapat menyelesaikan semuanya, apapun yang kita inginkan dapat tercapai dengan usaha keras. Ada yang ingin memiliki hasil yang baik dan bernilai sebanyak ia mencoba. Tapi sebenarnya~ aku menemukan dunia tidak bekerja dengan cara itu. Tidakkah kau tahu, terkadang ketulusan dapat menghianati kita.” Tao menghela nafasnya, menepuk pundak Kris lembut. “Tapi aku percaya di bandingkan dengan ketakutan itu masih ada hal yang lebih penting, yaitu… misi penyelamatan nyawa yang hanya bisa dilakukan oleh kita.”

Kris mengerutkan kening, apa ia tidak salah dengar? Telinganya belum mengalami gangguan bukan? Sepersekian detik seolah Kris terpesona oleh ungkapan Tao. Begitu mengagumkan memang, tapi benarkah ungkapan seperti itu keluar dari mulut seorang Hwang Zitao? Asli? Bukan palsu?

Berkedip… Kris berkedip…

“Kau mengutip dari mana kata-kata sepanjang itu, err… Hwang-Zi-Tao?”

Seolah ada sebuah panci yang menepuk wajah Tao. “A…apa?”

“Dan kita…? Kau tadi mengatakan kita? Itu artinya kau dan~ aku?” Kris meletakkan telunjuknya menghadap pada rautnya sendiri.

Mata Tao membulat sempurna. “Enggg, itu…”

Jawaban Tao yang terbata-bata menggelitik rasa penasaran Kris. Ia memajukan tubuhnya untuk melihat seperti apa paras pemilik surai hitam di sampingnya. “Kita~” Desis Kris lagi.

Tao menggeser duduknya, berusaha untuk memberi jarak yang signifikan di antara mereka, yang sebenarnya hanya sebagai manipulasi keadaan diri Tao sebenarnya. Sebagai tabir untuk pipinya yang berubah menjadi kepiting rebus karena berada sedekat ini dengan Kris.

Kris menyeringai, dilanjutkan dengan kekehan yang berkepanjangan. “Hei Zitao…! Pipimu memerah?”

“Diam!” Tao bergeming, mengalihkan pandangannya pada jalanan di luar jendela.

“Hwang Zitao.” Panggil Kris sekali lagi. Namun Tao hanya mengedikkan sebelah bahunya.

“Hei… Hwang Zitao.” Kris memegang kedua bahu Tao agar berbalik melihatnya. Tao meronta, masih dalam rangka memanipulasi tingkah agar tidak terbaca oleh penyebar virus di sampingnya.

Namun, tidak ada yang tahu bagaimana Sang Pemilik Alam telah memberikan garis tegas terhadap keduanya. Bahwa setiap yang terjadi pasti menurut dasar dari yang telah di tentukan-Nya.

Bus itu berhenti mendadak, membuat tubuh Tao yang tak berpegang pada apapun tidak seimbang dan oleng kebelakang, menimpa satu tubuh lain yang sepertinya di persiapkan untuk menopang ketidak-seimbangan Tao. Saat ini tubuh Tao berada dalam dekapan tangan sigap Kris. Kedua bola mata mereka bertemu, seolah berjibaku kuat antara iris tegas milik Kris dengan bola mata hazelnut milik Tao.

Dalam jarak seperti ini, Kris dapat melihat gurat sempurna yang dimiliki oleh Tao. Mata kucing nya yang tajam, hidung yang nyaris tanpa cacat dan tentu saja bibir tipis semerah delima Tao yang sungguh menggoda. Tatapan Kris seolah menyiratkan ma’na yang baru saja di temukannya. Sudut bibir Kris berkedut melihat keindahan makhluk di hadapannya. Jika Tuhan mengizinkan, sejenak saja tolong hentikan waktu ini.

Sedangkan Tao sendiri pun, seolah sudah terbius dan pasrah oleh apa yang telah di gariskan oleh takdir. Sekujur tubuhnya membeku di tempat ketika lengan kekar Kris menariknya semakin mendekati paras sempurna milik Kris. Lalu siapakah yang akan melewatkan keindahan seperti ini?

Jawabannya~

Lelakibodoh.

Begitu saja, tanpa tahu darimana kekuatannya, sebuah anugerah terindah merasuk menjadi sebuah rasa yang membentuk gugusan bintang warna-warni dan memamerkan binar-binar melalui penyatuan nyata. Sebuah penyatuan yang berarti sebuah ciuman indah. Di awali dari pergerakan bibir Kris yang seolah meminta lebih dari sekadar bersentuhan. Kemudian kepasrahan Tao yang membuat Kris berkuasa sepenuhnya atas bibirnya. Keduanya bergerak seirama dengan nada hati yang mematuk berulang-ulang. Menyesap rasa manis yang menyeruak di iringi percampuran saliva mereka. Sungguh membingungkan, namun memang terjadi. Ada bahagia yang hadir dalam keduanya, merubah kebekuan hati dengan desir hangat temaram rasa.

“Hei anak muda~ kalian tidak ingin turun?”

Suara menggelegar jelas melewati telinga mereka masing-masing. Seolah tertimpa batu besar tepat di perutnya, keduanya menggeliat dan saling menarik diri dari ciuman tersebut. Tao memperbaiki posisi duduknya, membenahi keadaannya yang sedikit berantakan.

“I… iya, Ahjusshi.” Jawab Kris terbata.

Setelah menuruni bus, Tao seakan lupa apa yang akan di lakukannya selanjutnya. Otaknya mendadak kosong. Lalu ia hanya berdiri di sisi halte. Begitu juga Kris yang berdiri di sisi halte lainnya. Keduanya terdiam, kemudian menolehkan kepala secara bersamaan. Menyambungkan lagi pertautan rasa yang tidak begitu di mengerti. Kedua mata itu kembali saling menatap…

Selanjutnya… hanya dapat menyerahkan diri pada takdir~

 

 

To Be Continued~

 

 

 

Huwalaaaaa… di pending lagi wkwkwk

Ma’af ya kalo ngebosenin dan biasa aja… T^T

Ma’af buat Taoris Shipper, FF nya gak sesuai rencana.

Yang komen makasih yang gak komen makasih juga deh, pumpung lagi baik.

 

_with love, Termakan Sehun_

86 thoughts on “Kris Complex Chapter 3

  1. Wooahh, daebakkk !!!
    Kenapa lama sekali noon update nyaaa ?? -_-
    Padahal story ini yang aku tunggu”, dan di update nya hanya segini, lebih panjangan dong noon ._. Biar lebih daebak !
    Kris ge, tao ge kalian kereeenn~

    Update secepetnya ne🙂 fighting for authoorr🙂

  2. Haaaaah , please dilanjutiin kak😥 sumpaah butuh lanjutannya segera😥 , aku kasih semangat 45 buat ngelanjutinnya , semangat (҂’̀O’́)9

  3. Omonaaa °•(>̯┌┐<)•°, TaoRis luv u!!! Keren banget thor. Ακ̤̈u baca sabil nyengir"(?) ğαα jls, sampe" sodaraku bilang "hayo y?!?! Bbm'an ama pacarnya y?" #sorry klo mlah curhat._.v

    Ditunggu lanjutannya thor (#'̀⌣'́)9 Fighting!!!

  4. Udah baca dari duluuuuuuu, tapi kenapa ga dilanjut?!!
    Cepatan lanjut! Bagus loh!
    Penasaran kelanjutannya ^^

  5. akhirnya kissing juga (?) IHIHIHIH

    ga sabar menunggu skinship lainnya..😄 taoris daebak~~!<3

    ini cerita yang paling aku tunggu-tunggu..😄 ditunggu kelanjutannya! fighting~

  6. Aaaaaa manis bangeeett
    Tpi kasian juga si tao ya, kris aneh bgt hahaa
    Lanjut ya thooor aq suka bgt jalan critanyaa🙂

  7. Astaga , saya mimisan bayangin si krease pake jas dokter *lebay*

    Tao apalagi doh kejang2 saya bayanginnyaa *tambah muluk lebaynya*

    Author Updatenya cepet ye -_- penasaran inih >w< *peluktao*

    Gimana gitu kelanjutaannya aabis si krease itu nyosor nyium tao :"

  8. huaa..ceritanya ngena bgt n hampir sama ama yg q rasain coz q jg krja dirumah sakit.emg emergency room tu punya hawa2 bencana.kalo g siap pasti kena damprat.
    daebak bwt author!!next chapt please..

  9. Uwaa… whoa… daebak… keyeeen… aku suka pas di bis… pas.. kisseu.. huahahahahahaha… smoga part selanjutnya ad kisseunya lagi.. amiin… hihihihihi…

    Cepet keluar yah part selanjutnya!!!

  10. uwaaaaa T.T.. kenapa gak update update.. huhuhuuuu…. ayolaah… diupdate.. aku penasaran kak… udah berbul;anbulan. huhuhuuu.. T.T

  11. semakin so sweet aja yah, thor ini mereka kapan jadian ? menikah ? dan punya anak ? *alur kecepetan *gubrak

    demi dewa neptunus (?) aku suka banget, chap 4 nya buruan dan diperpanjang yah, trus minta ditambahin angst nya dong, misalnya tao nangis gegara dimarahin Kris/ Kris keterlaluan gitu ._. biar feel lainnya dapet ><

    buat authornya semangat terusnya yah! HWAITING

  12. demi BH LUHAN Yg dicolong sehun BAGUS kalo kata block b mah ‘VERY GOOD’ . . , . . , . . , ah dilanjutnya jangan kelamaan please . . . ,

  13. Omo … omo …. kyaa uniee …😦 …. tbc nya ganggu …. duh pengen cepet – cepet baca lanjutannya …. tp saya tau bikin cerita itu susah … jd ya saya duduk menunggu plus kopi panas # plak😀

  14. hwaaaaaa….. Ceritanya keren Ba~~ngetttt thor
    Daebakkk.. 😀

    Tao nya juga polos2 gimana gituhhh.. #plakk😄

    Aku suka cerita nya thor….😉

  15. Lanjutkan Kakak!!
    Keren banget /yuhuu/
    Dan ini??? setahun lebihnya banyak banget ya belum dilanjut?
    Masih sibuk uliah ya kak? /SKSD ceritanya/
    kalau gitu semangat aja kak!!
    Jangan lupa buat di lanjut /Eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s