ONESHOT | HANASE

Title: Hanase

 H

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Baekhyun

Supporting Cast: Chanyeol, Kyungsoo, Joonmyeon, Luhan, Tao, Jongin

Genre: Romansu (Baekhyun Centric)

Length: 1Shoot

Disclaimer: Exo punya siapa ga tau -_____-

Summary: hanya pembicaraan Baekhyun dengan para anggota lain.

 

AOOOOOOOOOOO~

KETEMU LAGI!

 

Jangan heran kalo saya bikin cerita dengan EXO sebagai EXO, semua member pasti pada jadi ibu rumah tangga. Bisa aja saya bikin kris jago masak, Tao suka cuci piring, Chanyeol jemur baju ato Jongin sikat kamar mandi (eh, cocok bener~ haha!) maklum mereka anak baru didunia persilatan, jangan harap dikasih yang mewah-mewah sama menejemen sebelum kerja rodi yang menghasilkan uang banyak.

 

Terus karena ini Cuma FF ya, plis kalo ada hal aneh abaikan aja. Misal aslinya Tao anak yang pendiem kayak putri jawa, disini saya bikin pecicilan kayak SonGoku, tolong jangan dibahas…iya saya tau, namanya juga fanfiction.

 

Terus kalo Chanyeol saya bilang disini jelek, tolong jangan protes soalnya itu emang kenyataan…hahaha! /bugh! *becanda, saya cinta chanyeol #Chanyeolcemungudh*

 

Terakhir!

 

KARENA INI CERITA FIKSI, GUNAKAN IMAJINASI ANDA! JANGAN GUNAKAN INGATAN ANDA! IMAJINASI KITA ITU LUAS, AYO BERIMAJINASI *bentangin pelangi ala squidward*

 

Kita menuju cerita!

 

Siap!

 

Pasang sabuk pengaman!

 

Pegangan dengan erat!

 

CAPCUS!!

 

ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ ᴥ

 

Wufan berkata kalau sifatnya memang kekanakan.

 

Joonmyeon juga berkata kalau Baekhyun adalah anggota yang paling kekanakan setelah Sehun, Jongin dan Tao.

 

Minseok berpendapat kalau Sehun, Jongin dan Tao masih pantas bersifat kekanakan karena mereka memang masih anak-anak.

 

Namun mereka tidak mempermasalahkan semua itu, saudaranya sama sekali tak pernah berpendapat kalau dirinya merepotkan. Semua orang memiliki jangka waktu tersendiri untuk belajar bagaimana menjadi dewasa.Bukan hanya fisik, pun dewasa dalam masalah kesungguhan dan keteguhan hati.

 

Sebenarnya Baekhyun tidak begitu memahaminya, selama ini ia hidup dengan caranya sendiri, dengan menuruti kata hatinya, dengan melakukan apa yang menurutnya adalah benar.

 

Begitu pula pada awal ia menjalin hubungan dengan Chanyeol. Pria tampan bertubuh tinggi dan tegap, pemilik senyum nan menawan, penuh bakat serta dapat melakukan hal apa pun dengan lebih baik dari Baekhyun. 

 

Chanyeol begitu sempurna dimata Baekhyun.Menjadikan sosoknya sebagai tujuan dan panutan hidup Baekhyun. Baekhyun memandangnya sebagaimana ia memandang pada seseorang yang dapat membimbingnya meraih masa depan cerah. Chanyeol adalah seseorang yang selalu mampu memacu keinginan hatinya agar menjadi lebih baik lagi, seseorang yang menjadi alasan mengapa semangat tak pernah redup dalam dirinya.

 

Ia mencintai Chanyeol…dengan sepenuh hati.

Chanyeol adalah segalanya.

 

Chanyeol…

 

“Kita bisa merahasiakan semua ini dari Baekhyun.”

 

“Tapi aku tidak bisa melukai perasaannya!”

 

“Lalu bagaimana denganku?Apa kau tega melihatku terluka…

 

−Kyungsoo?”

 

Chanyeol mengatakan semua hal itu pada Kyungsoo.Dengan penuh perasaan seperti yang kerap kali dilakukannya pada Baekhyun.

 

Mereka berciuman mesra.

 

Baekhyun masih membeku ditempatnya, menyaksikan semua kejadian yang begitu menyayat hatinya tersebut.Ia mengepalkan kedua tangan erat, hingga gemetar. Sesuatu yang keras namun kasat mata seolah menghantam dadanya dengan keras berkali-kali, ia sampai berfikir mungkin beberapa detik lagi ia akan terbatuk dan memuntahkan darah kental. Rasanya sangat sakit, sungguh− Baekhyun membutuhkan sesuatu untuk mengoyak dadanya dan mengeluarkan hal yang membuat tubuhnya merasa sakit bukan main, namun bagaimana mungkin?Untuk bergerak saja rasanya begitu sulit, oksigen pun nampaknya menjauh karena nafas ini begitu sesak.

 

Kedua matanya seperti terbakar.

 

“Chan…yeol…”

 

Dan air kesedihan nan murni itu pun menetes melintasi kedua pipi putih bersihnya.

 

ᴥᴥ

ᴥᴥᴥ

 

Rahasia mengenai hubungan gelap Chanyeol dan Kyungsoo telah tersebar, semua anggota keluarga mengetahuinya. Diawali dari Tao yang menceritakan kejadiannya kepada Wufan, memang kebetulan saat itu ia beserta Sehun tengah bersama Baekhyun menangkap basah Chanyeol dan Kyungsoo disebuah ruang kosong di studio rekaman. Sehun pun menceritakannya kepada Luhan.Keduanya sama-sama membeku seperti Baekhyun, hanya dapat menelan liur paksa guna melegakan kerongkongan masing-masing yang terasa begitu tercekat.

 

“Dimana Baekhyun?” tanya Joonmyeon pada Tao setibanya ia ruangan tempat mereka biasa berlatih gerakan tari.

 

Tao menggeleng pelan “Tidak tahu.Tapi dia pasti kembali sebelum waktu istirahat selesai.”

 

“Apa sebaiknya kuhubungi dia?”

 

“Sebaiknya jangan.” cegah Tao ketika Joonmyeon mengeluarkan sebuah smartphone putih dari dalam tasnya “Aku rasa dia membutuhkan waktu untuk merenung, hatinya masih terguncang, jangan ganggu dia.”

 

Joonmyeon memandang raut wajah Tao yang terselimuti rasa cemas. Sejenak keduanya saling memandang sampai akhirnya keberadaan Chanyeol disudut ruangan menarik perhatian mereka, lelaki bertubuh tinggi itu nampak tengah berbicara serius dengan Kyungsoo, entah apa yang mereka bicarakan…Tao dan Joonmyeon hanya dapat menangkap pergerakan dari mulut keduanya saja. Satu yang lebih tua menghela nafas.

 

“Baiklah. Aku sependapat denganmu.” ucapnya seraya memasukan kembali ponsel kedalam tas.

 

Tao tersenyum tipis kemudian, membiarkan Joonmyeon menarik lengannya dan memudahkannya untuk berdiri…melanjutkan sesi latihan yang sempat tertunda.

 

.

.

.

 

Tidak banyak yang berubah.Semua berjalan seperti biasa seolah pengkhianatan Chanyeol bukanlah masalah besar dan belum termasuk tindak kekerasan psikologis.Meski pada kenyataan jiwanya terguncang cukup parah, namun hal ini adalah keputusan terbaik bagi kekompakkan grup music mereka. Sebagai satu keluarga yang berjalan dijalan yang sama, satu keluarga yang hidup dan melakukan kegiatan sebagai satu kesatuan…satu saja permasalahan pribadi anggotanya, tak mungkin dijadikan alasan untuk saling menyalahkan. Tidak ada yang memutuskan akan memihak Chanyeol atau Baekhyun, tidak ada pula seorang pun yang membela Baekhyun dengan menghujat Chanyeol habis-habisan walau faktanya Baekhyunlah yang menderita karena pengkhianatan Chanyeol.

 

Semua memutuskan berdiam diri, memercayakan pada Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo untuk menarik keputusan terbaik.

 

Semakin banyak campur tangan, maka akan semakin rumit karena perasaan adalah hal yang sulit dipahami.

 

“Baekhyun-hyung.” ucap suara khas milik seseorang yang amat Baekhyun kenal.

 

Pemuda manis itu mengangkat kedua kelopak mata, menghadapkan mutiara hitam didalam sana pada langit biru yang cerah. Kini ia memang berada diatap gedung manajemen, mencari tempat teduh untuk menyediri dan merebahkan tubuh seraya mendengarkan music lewat iPod.

 

Namun suara Jongin yang meski pun pelan, entah mengapa tetap mampu menembus indera pendengarannya…mungkin ia tidak focus pada lagu-lagu yang mengalun ditelinganya.

 

“Ya, Jongin…ada apa?” Baekhyun berdiri, menghentikan lagu yang berputar lalu melepas earphone dari telinganya.

 

Jongin melangkah pelan, mendekat dengan wajah tertunduk “Bagaimana keadaanmu?”

 

“Lumayan, meski belum sepenuhnya merasa baik…” jawabnya setelah menggendikkan kedua bahunya.

 

Didengarnya Jongin mendengung paham sebelum pemuda yang pandai menggerakan tubuh sesuai alunan music dalam berbagai jenis itu kembali melangkah, kali ini mendekati pagar atap yang membatasinya dengan pemandangan kota metropolitan, Seoul dibawah sana.

 

Angin berhembus lembut seolah memikat Baekhyun untuk mengikuti apa yang Jongin lakukan.

 

Keduanya kini memandang hamparan bangunan yang membentuk kota dalam diam.

 

Baekhyun cukup bahagia menerima rasa simpati dari semua saudaranya. Sehun bahkan memberinya banyak makanan manis yang katanya dapat membangkitkan tenaga serta mengundang perasaan gembira.

 

Terbongkarnya rahasia Chanyeol dan Kyungsoo seolah bagaikan martil raksasa yang menghantam pilar kepercayaan diantara mereka, memberikan satu retakan jelas dalam hubungan antar anggota.Mengacu pada pepatah ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’ jurang pemisah nampak jelas tercipta…tak ada yang berkenan angkat bicara, semua seolah merasa terluka, bahkan Joonmyeon dan Wufan turut terjerumus dalam kekalutan hubungan cinta segitiga Chanyeol-Baekhyun-Kyungsoo.

 

“Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Chanyeol-hyung?”

 

“Entahlah…aku…” Baekhyun menghela nafas, raut wajahnya berubah murung “Aku tidak tahu, aku bingung.Tiap kali merenung dan memikirkannya…kepalaku mendadak pening.”

 

Jongin tersenyum tipis, ada jejak kesedihan disana walau hanya sedikit “Maafkan Kyungsoo…”

 

Kali ini giliran Baekhyun yang tersenyum dan mencoba berlapang hati “Tidak ada yang salah disini.”

 

Senyum tipis menjadi perwakilan kata-kata yang tak sanggup mereka ucapkan. Baekhyun memahami bagaimana perasaan Jongin mendapati fakta bahwa orang yang ia cintai secara diam-diam ternyata menjadi kekasih gelap kekasih orang lain, rasanya seperti…apakah didunia ini laki-laki hanya Park Chanyeol seorang? Seberapa lamban otak Kyungsoo bekerja hingga tak sanggup berfikir jernih dengan bersedia menjadi yang nomor dua untuk pria seperti Chanyeol?

 

Dalam hal ini, Baekhyun merasa ia tidak sendirian…ada orang lain yang merasakan kepahitan sama seperti dirinya.

 

“Hyung…”

 

“Hm?”

 

“Maukah kau…memberikan Chanyeol kepada Kyungsoo?”

 

Satu kalimat dari Jongin yang membuat raga serta jiwanya terguncang, ia kaget− tentu saja! Apa ia pikir Chanyeol adalah sebuah benda yang dapat begitu saja diberikan kepada orang lain, Baekhyun pikir. Tapi melihat setitik ketulusan terpancar dikedua mata Jongin, ia membisu…begitu murni niat pemuda itu hingga ia tak sanggup berkata-kata.

 

Hingga seperti ini kah Jongin bersedia berkorban demi kebahagiaan Kyungsoo?

 

Dengan mengorbankan perasaannya sendiri? Membiarkan tubuh serta hatinya berdarah-darah karena luka dan derita yang mungkin akan diterimanya ketika melihat orang yang ia cintai bahagia dalam dekapan orang lain?

 

“Jongin, kau−“

 

“Aku tahu aku jahat, Hyung.Kau boleh membenciku atau menyumpahiku agar masuk neraka kelak ketika menutup mata.Tapi anggaplah ini sebagai permohonan seumur hidupku, sebagai gantinya aku tidak keberatan jika harus menjadi budakmu dikehidupan selanjutnya.”

 

Baekhyun menelan liur paksa, tatapan kesungguhan Jongin membuat tubuhnya gemetar…ia merasa gentar, gentar akan Jongin yang terlihat lebih dewasa dan tegar darinya “Jongin, kau…bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Sadarkah kau jika yang kita bicarakan saat ini adalah Kyungsoo?Seseorang yang telah mencuri hatimu seutuhnya, dan kau menginginkan dia untuk bahagia ditangan Chanyeol?Kau sungguh mencintainya atau tidak?!”

 

“Aku mencintainya, Hyung!” sahut Jongin cepat, Baekhyun sedikit tersentak “Aku mencintainya…karena itulah aku menginginkan kebahagiaan untuknya.Tak peduli dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun.Aku hanya ingin ia hidup bahagia meski aku tak dapat memiliknya.”

 

Sekali lagi Baekhyun tertegun.Ia tak mengira Jongin memiliki sisi dewasa yang begitu sulit dipercaya…Jongin terlihat matang dan sempurna sebagai seorang lelaki.

 

“Cinta itu tidak seperti proses jual-beli, kau tahu ‘kan? Meski bertepuk sebelah tangan, cinta tetap lah cinta.Cintaku tidak membutuhkan balasan darinya, aku tulus dengan perasaanku ini.”

 

“Jongin…”

 

“Maaf aku tidak memedulikan bagaimana perasaan Baekhyun-hyung.Tapi yang kuinginkan saat ini hanya kebahagiaan untuk Kyungsoo…maafkan aku, Hyung. Maafkan aku…”

 

Raut wajah Jongin nampak sangat menderita, anak itu seolah menahan rasa sakit yang teramat sangat…hal yang seakan bagai belati tak kasat mata yang menyayat hati Baekhyun secara perlahan.

 

Dadanya bergemuruh, ia tak sanggup menolak walau dalam hatinya masih meneriakan kata cinta untuk Chanyeol.

 

Apakah Jongin tahu jika cinta bukanlah goresan pensil yang akan lenyap dengan mudah saat kita menghapusnya? Apakah Jongin menyadari jika cinta bukanlah selayak asap yang akan sirna hanya dengan sekali hembusan nafas? Apakah Jongin juga memahami jika cinta tidaklah seperti puntung rokok yang akanhabis dalam sekejap jika dihisap terus menerus?

 

Cinta itu…bagaikan batu karang yang tak kan pernah terkikis oleh deburan ombak.

 

Namun cinta pun begitu rapuh layaknya gelembung sabun…jika tersentuh sedikit saja, ia akan pecah dan menghilang.

 

Ombak pengkhianatan Chanyeol telah mengikis batu karang cinta di hati Baekhyun sedikit demi sedikit…kenangan buruk itu akan menjelma menjadi mata pisau paling tajam, yang akan terus meninggalkan bekas luka.

 

Baekhyun tak pernah mengira seberapa banyak luka Jongin ketimbang dirinya.Namun luka dihati Jongin sepertinya sembuh dengan cepat.Mengapa?Baekhyun bertanya dalam hati.

 

Tentu, karena Jongin memiliki hati yang lapang.Pemikirannya tentang cinta, tidak melewati batas kesederhanaan.

 

Baekhyun tersenyum tipis, ia belum siap memberikan kepastian pada Jongin untuk saat ini.

 

“Aku kagum padamu, Jongin.” ucapnya pelan, seraya mengusap puncak kepala sang pemilik bakat menari tanpa batas.

 

.

.

.

 

“Cara tiap manusia memandang cinta, tidaklah selalu sama.” ucap Joonmyeon setelah ia mendapatkan posisi duduk yang nyaman.

 

“Maksud, hyung?”

 

Joonmyeon mengulum senyum sejenak, hanya tipis namun terkesan teduh dan menenangkan perasaan.Langit malam kelam sangat berlawanan dengan kulitnya yang putih bersinar, membuatnya nampak semakin bercahaya dan tampan.Ia menengadah menatap langit malam bertabur bintang seraya menggenggam erat cangkir coklat panas ditangannya guna mengusir rasa dingin.

 

“Ada orang yang berfikir jika mencintai tidak harus memiliki.Ada pula orang yang berfikir jika kita mencintai, kita harus dapat memilikinya dan membuatnya bahagia.” lanjut Joonmyeon dengan tetap memandang langit.

 

“Lalu kau…termasuk yang mana, hyung?”

 

Pertanyaan Baekhyun membuatnya menoleh, sempat senyumnya pudar ketika menatap wajah sendu saudaranya tersebut.Namun dengan cepat kedua belah bibirnya mengukir senyum baru yang tetap nampak tenuh dan menenangkan hati.

 

Ia mengusap tengkuknya dengan kikuk.

 

“Aku…aku tidak memikirkan hal yang rumit semacam itu.Aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum, ingin selalu melindunginya dan merengkuhnya ketika kesedihan melanda.Bahkan tak jarang terfikirkan hal-hal menggairahkan yang dapat kulakukan bersamanya.”

 

“Hyung!”

 

“Haha! Okay, aku memang mesum. Semua laki-laki normal pasti begitu, benar?” ujar Joonmyeon jahil, dengan berat hati Baekhyun mengangguk pelan “Karena cinta itu tidak seperti nafsu atau keegoisan, Baekhyun.Ciuman, seks, berpelukan dan hal-hal lainnya akan terasa berbeda jika kita melakukannya atas dasar cinta.”

 

Baekhyun teringat akan ciuman yang dilakukan Chanyeol dan Kyungsoo. Mereka begitu menikmatinya, saling mencurahkan perasaan satu sama lain…bahkan sanggup membuat tubuhnya bergetar.

 

Meski telah berusaha untuk melupakan, berkali-kali otaknya menolak untuk mengingat kepingan kenangan pahit tersebut…semua sia-sia belaka, ingatan keji itu senantiasa membayangi kotak memori dikepalanya.Setiap hari rasanya seolah ada awan mendung yang selalu bernaung diatas tubuhnya, langit tak lagi nampak cerah dan semua jenis makanan terasa hambar dilidah.

 

Baekhyun merasa hancur, ia merasa sebagian dirinya hilang…perasaannya yang tercurah dengan sepenuh hati, Chanyeol abaikan begitu saja.

 

Ia menyayangi Kyungsoo, Kyungsoo sangat baik, Kyungsoo selalu membuatkan makanan apa pun yang ia inginkan. Baekhyun pun sangat menyukai tawa Kyungsoo, suara Kyungsoo dan polahnya yang menggemaskan, mata besarnya, pipi empuknya…

 

−ia takut berhadapan dengan Kyungsoo. Baekhyun takut jika pada akhirnya…ia akan kalah.

 

“He-hei…B-Baekhyun! Waaa− ada apa denganmu?!!” Joonmyeon tiba-tiba berseru panic.

 

“Ha?”

 

“Kau…menangis…”

 

Joonmyeon menatapnya dengan wajah panic, seolah-olah dia lah yang menyebabkan Baekhyun menangis.

 

“Eh?”

 

Butuh waktu beberapa kedipan mata, Baekhyun menyentuh permukaan pipinya dan merasakan sesuatu yang basah disana…ia tersadar−

 

“A…ku? Kenapa…menangis?” ia mengusap kasar pipinya dengan punggung tangan, berkali-kali meski tak berguna karena buliran bening itu terus saja meluncur dari pelupuk matanya. Baekhyun tertawa kecil “Ada apa denganku? Heh~ memalukan…”

 

Hancur…Baekhyun benar-benar hancur dimata Joonmyeon, hingga ia turut merasa seolah dadanya terluka parah dan mengucurkan darah. Baekhyun terus berusaha menghapus air matanya sampai kulit wajahnya memerah.

 

Joonmyeon tidak ingin mengatakan ‘percuma’ ia tak ingin mengatakan sepatah kata pun karena takut hal tersebut dapat menjadi belati yang akan melukai hati Baekhyun semakin dalam.

 

Ia cukup tahu, ia cukup mengerti.

 

“Sepertinya…a-aku…merindukan ayah dan ibuku di…rumah, Hyung…”

 

“Baekhyun…”

 

“Kenapa…tidak mau berhenti~ air mata sialan.” ucap Baekhyun dengan suaranya yang tersendat-sendat.

 

Satu yang lebih tua menghela nafas pelan, sebelum akhirnya berdiri dengan kedua lutut, menghampiri lalu merangkul leher Baekhyun, membenamkan wajah manis penuh air mata itu didadanya yang hangat. Perlahan-lahan Joonmyeon dapat merasakan kaus yang melekat ditubuhnya sedikit basah, seiring dengan semakin jelasnya isakan yang terdengar.Dan dengan lembut…sebelah tangannya menepuk puncak kepala Baekhyun.

 

“Aku ingin pulang, Hyung…tempat ini seperti neraka, hiks~ aku ingin pulang…aku rindu ayah ibu…”

 

Baekhyun sama sekali tak membalas rengkuhannya, bukan masalah…meski hanya sedikit, setidaknya Joonmyeon ingin meringankan kesedihan saudaranya yang satu ini.

 

Baekhyun memang manja…iya, dia manja.

Semua orang pun manja−

 

−dan hanya mementingkan diri sendiri.

 

Penglihatan Joonmyeon menangkap sosok Chanyeol berdiri tak jauh darinya dan Baekhyun, hanya saja posisi Baekhyun membelakangi sehingga hanya dirinyalah yang ketika itu berbenturan pandang dengan pemuda bertubuh tinggi tersebut.

 

Tatapan Chanyeol sendu…namun kedua tangannya terkepal seolah tengah menekan amarah yang bergemuruh dalam dirinya.

 

Joonmyeon mengerti…namun ia tak ingin mengomentari apapun. Ia hanya terus membisu dan memalingkan tatapan dari sosok Chanyeol.

 

……………

 

Baekhyun melangkah sepanjang lorong kantor dalam gedung manajemen, kedua tangannya menenteng masing-masing satu paper bag cukup besar. Ia bersenandung pelan sambil tersenyum tipis, membayangkan betapa menyenangkannya menghabiskan waktu membaca manga sepanjang hari saat libur nanti. Changmin, seniornya dalam satu manajemen, berbaik hati meminjamkannya dua puluh jilid sekaligus, lengkap tanpa ada yang terlewati. Sebenarnya Baekhyun belum tahu jelas bagaimana ceritanya, ia hanya pernah sekali membaca review-nya di internet. Fullmetal Alchemist judulnya…sepertinya akan menarik, Changmin saja sampai tergila-gila.

 

“Baekhyun.”

 

Langkah kakinya terhenti seketika, kala sebuah suara yang sangat ia kenali menghampiri indera pendengarannya.

 

Suara yang telah lama tak didengarnya sedekat ini.

 

Senyumnya pudar seketika “Chanyeol…”

 

Pemuda bertubuh tinggi itu berdiri dihadapannya kini.Ia tetap tampan, bagaimana pun cara Baekhyun memandangnya, walau dengan sorot mata penuh luka. Pegangan Baekhyun terhadap tali tas mengerat, ia gugup, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dalam sekejap…tatapan tajam Chanyeol, membuatnya sulit mengambil nafas.

 

“Apa yang sedang kau lakukan? Biarkan aku membantumu.” Chanyeol berjalan mendekat lalu berusaha mengambil salah satu kantung kertas dari tangan Baekhyun.

 

Namun sang pemuda manis menolak.

 

“Ti-tidak perlu.Aku bisa membawa semua ini sendiri.” gugup Baekhyun dengan gerakan kecil menghindari gapaian tangan Chanyeol.

 

Chanyeol menghela nafas, tak sedikit pun rasa kaget menghampiri raut wajahnya. Ia tetap tenang dan menatap Baekhyun lekat, namun yang ditatap terlihat susah payah menghindari terjadinya benturan pandang.

 

“Ada apa dengamu?”

 

Pemuda bertubuh tinggi itu mengulurkan sebelah tangan, mencoba untuk menyentuh pipi Baekhyun…namun sekali lagi, Baekhyun menghindarinya…sangat jelas menghindarinya, bahkan Baekhyun pun nampak kaget dengan reaksinya yang sedikit berlebihan itu.

 

Keduanya terdiam, Baekhyun bernafas dengan terengah, merasa lelah akibat degup jantungnya yang terlampau diluar kendali. Sementara Chanyeol menatapnya tidak percaya…

 

Baekhyun…menolaknya?

 

“M-maaf…aku hanya sedikit kaget−“

 

Pemuda manis itu tak mampu menyelesaikan kalimatnya karena Chanyeol menyudutkannya disalah satu sisi dinding.

 

Kedua tas kertas terjatuh dari tangan Baekhyun.

 

Tangan Chanyeol yang mencengkram kedua bahunya terasa hangat− tidak, panas…sentuhan Chanyeol terasa panas menembus kain ditubuhnya dan mengalir dipembulu darahnya.

 

Tubuh ini, masih sangat mengenali sentuhan sang kekasih.

 

“Ch-Chanyeol…?”

 

Sang pemilik nama yang disebut tak mengatakan apapun, ia hanya mempertipis ruang antara dirinya dan Baekhyun, sampai permukaan kain ditubuh mereka saling bersentuhan, menutup celah bagi sekumpulan oksigen untuk mengudara. Mendekatkan wajahnya, hingga tercium aroma stroberi yang merupakan aroma pelembab bibir Baekhyun.

 

“Ja-jangan!!”

 

Chanyeol tersentak, tubuhnya membeku. Perlahan ia membuka matanya yang entah sejak kapan telah terpejam. Ia melihat dihadapannya, Baekhyun menutupi wajahnya dengan kedua tangan dalam posisi bersilangan, tubuh kecilnya pun gemetar, apa Baekhyun merasa takut?

 

Kedua belah bibirnya menggeram pelan. Cengkramannya pada kedua bahu Baekhyun bertambah erat hingga sang pemilik meringis kecil.

 

“Kenapa…kenapa?” gumamnya lirih.

 

Pertama kali Baekhyun menolaknya, sangat menolaknya…dan rasanya bagaikan, sebuah pasak raksasa menghujam jantungnya dengan tepat.

 

Baekhyun menurunkan kedua tangannya, ia mendunduk “Karena aku…aku merasa tak lagi memiliki hak untuk menerima sentuhanmu. Tolong…lepaskan tangamu, Chanyeol…”

 

Kedua tangan Chanyeol terjatuh dengan lemas.

 

Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, Baekhyun mengambil kedua tas kertasnya dan segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

 

“Maafkan aku.”

 

Langkah Baekhyun terhenti.

 

“Maafkan aku…” suara Chanyeol terdengar sekali lagi.

 

Baekhyun terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbalik untuk kembali berhadapan langsung dengan sosok pemuda yang sejujurnya hingga detik ini, masih memenuhi relung hatinya.

 

“Pernah sekali aku berharap, jika saja aku ini buta…yaitu saat melihatmu dan Kyungsoo ketika itu, berciuman.Aku tidak bisa melupakannya.Setiap hari, selalu, terus-menerus, sampai rasanya hampir gila…bayangan kalian berbagi kehangatan kecil kala itu, menguasai isi kepalaku.”

 

Baekhyun menghela nafas pelan lalu menghapus lintasan air mata yang entah sejak kapan telah menodai wajah putihnya.

 

“Kau telah menggali lubang dihatiku, lubang yang teramat dalam…yang tidak mungkin untuk ditutup kembali.”

 

.

.

.

 

“Ah! Hujan!” pekik Baekhyun seraya menadah tangan menerima tetesan air mata langit.

 

Air yang jatuh semakin banyak, Baekhyun menghadapkan wajahnya pada langit…satu persatu tetes air menghantam kulit wajahnya.Dingin namun menyejukan, badai dihatinya seolah mereda.

 

Tanpa sadar kedua matanya terpejam, belah bibirnya melukiskan senyum tipis.

 

“Baekhyun! Jangan diam saja disana! Cepat naik, hujan akan semakin deras!!”

 

Suara melengking Jongdae menghancurkan renungannya bersama hujan.Ia mengangguk paham dan segera menaiki Mini Bus yang akan membawa mereka kembali ke asrama.

 

Sempat ia bertemu pandang dengan Chanyeol melalui kaca spion depan, Chanyeol duduk paling belakang sementara dirinya dibaris tengah. Baekhyun memilih menghindari tatapan tajam pemuda tampan itu dan memasang earphone dikedua telinganya.

 

Baekhyun memejamkan mata ketika lagu mulai berputar.

 

 

Saat lelap tak kunjung menjemput, aku sangat senang ketikakau menggenggam tanganku.

 

Tolong yakinkan jika hari esok akan datang meski itu hanya dusta belaka.

 

Terima kasih telah menyadari keberadaanku, walau aku hanyalah sebuah konstelasi kecil.

 

Jika kita dapat bertemu diantara serpihan debu bintang, alangkah indah seandainya perasaanku tak berubah sama sekali.

 

(Rokutosei no Yoru. OST of No.6)

 

……………

 

Sudah seminggu sejak Baekhyun bertukar kamar dengan Wufan, kini ia menempati kamar yang sama dengan Tao. Tiap kamar menggunakan Single Bed bertingkat yang bagian bawahnya dapat ditarik, sebabnya agar tidak mudah terkena debu ketika kamar kosong saat M-Group sedang tidak menetap di Korea.Tao menempati kasur atas sementara dirinya menggunakan kasur bawah.

 

Namun malam tetaplah malam yang akan terus berlalu tanpa peduli dirinya dapat terlelap atau tidak.

 

“Baekhyun.Apa kau sudah tidur?”

 

Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik selimut, jujur saja sebenarnya ia sama sekali tidak bisa tidur “Kenapa? Kau merindukan gege tersayangmu?”

 

“Sudah kuduga kau belum tidur.”Tao menghadapkan tubuhnya kepada langit-langit, menyikap selimutnya hingga sebatas pinggang “Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu, tahu!!”

 

“Aku?Ada apa denganku?”

 

Tao menghela nafas, menyikap keseluruhan selimutnya lalu memposisikan tubuhnya duduk ditepi ranjang, telapak kakinya menapak dikasur tempat Baekhyun berbaring “Sepertinya jiwamu terguncang terlalu parah sampai mengganggu kinerja otakmu, ya?”

 

“Serius, Tao. Ada apa dengamu? Aku yang bermasalah mengapa kau yang heboh?” kini Baekhyun telah duduk dalam posisi bersila diatas kasurnya.

 

Sekali lagi Tao menghela nafas, lelah menghadapi sikap Baekhyun yang seolah tidak memedulikan perasaannya sendiri. Dimata Tao, Baekhyun kini tengah berlagak kuat dengan hatinya yang telah berubah menjadi puing-puing, dan ia tetap saja terlihat menderita, telihat payah serta lemah.

 

“Kau tidak perlu menahan diri, Baekhyun…” gumam Tao seraya kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur.

 

Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari kedua belah bibir Baekhyun, ia membisu…merasa sia-sia jika harus bersikap sok kuat dihadapan Tao. Jika terus memaksakan diri, Baekhyun merasa seperti orang bodoh.

 

Yah, kini Tao pasti menganggapnya bodoh.

 

“Mau tidur disampingku tidak?” ajak Tao.

 

Sejenak Baekhyun melebarkan mata, sedikit terkejut dengan ucapan Tao yang tiba-tiba mengajaknya tidur bersama. Namun ia pikir itu bukan hal buruk, dengan segera Baekhyun meninggalkan kasurnya dan melompat keatas kasur Tao.

 

Kini mereka berada dibawah satu selimut. Dalam posisi telungkup dengan selimut menutupi dari ujung kaki hingga puncak kepala, jari kaki mereka saling bersentuhan diujung sana.

 

“Tao…”

 

“Hm?”

 

“Menurutmu…apa yang sebaiknya kulakukan?” ucap Baekhyun memulai pembicaraan.

 

Tao terdiam memandang wajah Baekhyun yang tampak murung, sinar dimatanya nampak redup…sangat tidak sesuai dengan jati dirinya dalam music video mereka yang pertama.

 

Menurut Tao, Baekhyun sangat tidak cocok dengan sifat muram. Karenanya, bagi Tao…yang saat ini berada disebelahnya bukanlah diri Baekhyun yang sesungguhnya.

 

Pemuda asal China itu membuang nafas hingga kedua pipinya sedikit mengembung.

 

“Sejak kejadian itu, aku tidak lagi menaruh perhatianku pada Chanyeol, asal kau tahu saja.” ujar Tao yang menyadari bahwa Baekhyun sedikit meliriknya “Sekarang, melihatnya saja walau hanya satu detik pun aku tidak sudi.Kalau melihat wajahnya, aku merasa sangat ingin melayangkan pukulanku bertubi-tubi padanya.

 

“Tao−“

 

Satu yang lebih muda melentangkan tubuh menghadap langit-langit “Aku benci orang yang berselingkuh, aku benci pengkhianatan. Jika Wufan bermain hati dengan orang lain dibelakangku, aku tidak mau lagi jadi kekasihnya. Meski hati ini masih mencintainya, namun luka tetaplah luka…aku bukan orang bodoh yang akan kembali pada orang yang telah menghancurkan hatiku.”

 

Baekhyun menyadari bahwa Tao sama dengan Jongin, pemikirannya tentang cinta tidak melewati batas kesederhanaan. Karena itulah mereka…akan selalu dapat menemukan jalannya sendiri.

 

.

.

.

 

Percakapannya dengan Tao dini hari tadi membuat Baekhyun benar-benar kesulitan menjemput mimpi, ia terus terfikir akan tiap kalimat yang terlontar dari mulut Tao. Begitu tegas dan mengena, entah apa yang akan Wufan fikirkan kalau ia juga ikut mendengarnya.

 

Baekhyun menguap sekelurnya ia dari toilet untuk membasuh wajah, ia merasa kelopak matanya begitu berat dan perih. Langkahnya pun terhuyung-huyung bagaikan layangan yang terputus.

 

“Oi, Baekhyun!”

 

Ia menoleh menanggapi suara yang menyebut namanya. Pintu ruangan disebelahnya terbuka lebar, ruang mencuci dengan sebuah mesin cuci, berbagai sabun dan alat kebersihan terdapat didalamnya.Luhan juga ada disana, tengah berusaha mengangkat sebuah keranjang berisi penuh pakaian bersih.Baekhyun tahu karena aroma pewangi yang Luhan gunakan sampai kehidungnya.

 

“Bisa bantu aku menjemur semua ini?”

 

Baekhyun dan Luhan berjalan dengan membawa masing-masing satu keranjang, menuju balkon asrama mereka yang tak seberapa besar itu, namun sekiranya cukup kalau hanya sebagai tempat menjemur pakaian saja.

 

“Aku lupa kalau hari ini giliran Luhan-hyung mencuci.” Baekhyun menyerahkan selembar kaus merah bertuliskan kalimat ‘My Soul, Your Beats’ –milik Sehun− kepada Luhan yang langsung meletakannya dipalang jemuran, lalu menjepitnya agar tidak terbawa angin.

 

“Begitulah, dan aku sial karena akhir-akhir ini sering hujan, membuat pakaian kotor yang harus kucuci jadi menumpuk.”

 

Satu yang lebih muda terkikik kecil melihat kerutan kening Luhan, ia lalu mengambil sepasang kaus kaki entah milik siapa dan menyerahkannya pada Luhan.

 

Cuaca hari ini cerah, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang lebih sering berawan atau mendung. Prakiraan Cuaca ditelevisi memang kerap kali menyebutkan kalau hujan akan turun akhir-akhir ini. Menyebabkan air laut meluap dan sulit mencari waktu yang tepat untuk menjemur pakaian.

 

Baekhyun dikejutkan dengan suara kibaran kain seprai yang tengah Luhan jemur, angin berhembus cukup kencang membuat seluruh kain pakaian melambai dan menimbulkan suara gemuruh kecil.

 

“Oh ya, bagaimana kabarmu dan Chanyeol?” tanya Luhan yang kini membelakangi Baekhyun seraya menepuk-nepuk kain seprai dihadapannya “Maaf sebelumnya, aku tidak ingin membuatmu merasa sedih…hanya saja aku benar-benar ingin tahu keadaan kalian.”

 

Angin berhembus membelai daun telinga, memperdengarkan suara gemuruh yang membuat gendang telinga bergetar.

 

Baekhyun menatap Luhan yang kini tersenyum lembut menghadap kearahnya.Ia tak sanggup mengeluarkan suara…sejenak membebaskan kepalanya dari segala pemikiran menyedihkan yang akan selalu muncul ketika ia mengingat Chanyeol. Dan pengkhianatannya.

 

Mungkin Luhan dapat memberinya nasihat, ia fikir.

 

Mungkin juga pemuda manis berdarah China itu dapat menjadi tempatnya bersandar.

 

“Luhan-hyung…kenapa kau sama sekali tidak pernah memarahi Sehun?”

 

Luhan terdiam dengan kedua mata yang melebar sempurna.

 

“E-eh?”

 

“M-maksudku…kau dan Sehun adalah sepasang kekasih, Sehun lebih muda darimu, ya ‘kan? Ketika Sehun melakukan kesalahan, mengapa kau hanya diam saja dan sama sekali tidak pernah marah? Kau selalu tersenyum dan berkata ‘Jangan difikirkan…’ apa kau takut dia akan berbalik marah kepadamu?  Kau sangat…aneh, Hyung.”

 

Baekhyun selesai dengan kalimatnya.Ia menatap tajam Luhan seolah membutuhkan jawaban secepatnya. Hening sejenak sampai ketika Luhan terlihat mengerutkan keningnya, ia berfikir.

 

“Hmm…” gumam Luhan seraya menempelkan ujung telunjuknya pada permukaan bibir “Aku bukannya tidak ingin marah, aku hanya berfikir benarkah aku tidak memiliki kesalahan sehingga pantas untuk memarahinya?”

 

“Maksudmu?”

 

“Maksudku, hal seperti ini sama saja dengan hubungan antara guru dan muridnya bukan?”

 

“Ha?”

 

“Jika seorang murid melakukan kesalahan, sang gurulah yang harus pertama kali intropeksi diri karena ia lah yang bertanggung jawab atas muridnya. Dan jika Sehun melakukan kesalahan, saat itu juga aku akan merenung dan memikirkan apa kesalahanku sehingga Sehun juga melakukan kesalahan. Mungkin ia kesal dengan sikapku, mungkin dia menganggapku menyebalkan atau mungkin juga…dia jenuh padaku.”

 

Baekhyun tertegun.

Jenuh?

 

“Jadi…Chanyeol jenuh…bosan denganku?”

 

Luhan mulai panic, ia gelagapan melihat reaksi Baekhyun yang semakin terpuruk dan memancarkan kabut hitam disekeliling tubuhnya.

 

“Ti-tidak! Tidak! Bukan itu maksudku…astaga−“Luhan menghela nafas berat, sejujurnya ia sendiri bingung dengan ucapan random yang baru saja ia lontarkan “Itu hanya pemikiranku, Baekhyun sayang. Setiap orang berbeda-beda, terlebih Sehun dan Chanyeol…menurutku kesalahan tidak hanya dapat dilakukan oleh satu pihak. Aku hanya tidak ingin menjadi pihak yang seolah paling menderita, sedangkan aku sendiri tidak memahami bagaimana perasaan Sehun yang sesungguhnya.”

 

Baekhyun mengangkat kepala untuk menatap Luhan dengan mata sendunya…ia dapat melihat bagaimana senyum terlukis diwajah Luhan secara alami, sangat…sangat cantik.

 

“Aku hanya ingin memahami Sehun sepenuhnya…agar aku bisa membuatnya bahagia.”

 

Angin kembali berhembus, membuat tiap lembaran kain melambai dan menimbulkan suara gemuruh kecil.

 

Sejak kejadian itu, Baekhyun hampir selalu menghabiskan waktu untuk merenung…memikirkan betapa menyedihkan kisah percintaannya dengan Chanyeol, cinta pertamanya.Bersikap mengabaikan walau sebenarnya dalam hati menjerit pilu.

 

Baekhyun pikir…selama ini ia hanya memikirkan dirinya sendiri.

 

Ia hanya memikirkan kesalahan Chanyeol dan memupuk kebenciannya pada lelaki tampan itu, tanpa pernah sekali pun memikirkan bagaimana perasaan Chanyeol yang sebenarnya.

 

Dulu ia fikir perasaan cinta ini sedalam lautan…namun nyatanya hanyalah…sedangkal sungai kecil.

 

Tepukan ringan dipundak mengalihkan dunia khayal dikepala Baekhyun…saat tersadar, Luhan telah mengusap sebelah pipi putihnya, lembut sekali.

 

“Sekarang apa yang ingin Baekhyun lakukan, lakukan lah dengan sepenuh hati.Jika kau ingin Chanyeol tetap bersamamu, katakanlah…jika kau ingin melepas Chanyeol, maka lepaskanlah.”

 

……………

 

Hari ini akan dilakukan interview dengan pihak majalah yang hendak memuat berita mengenai comeback mereka. Pihak majalah menyebutkan, bahwa akan dilakukan beberapa sesi pemotretan dan wawancara individual, mereka membutuhkan pendapat masing-masing anggota grup mengenai album baru serta sedikit kesan mengenai keseharian M-Group dan K-Group ketika hidup bersama baik di Korea mau pun China.

 

Akibat pusing yang mendadak menyerang, Baekhyun terpaksa pulang lebih dahulu dengan diantar salah satu staf.Managermereka mengatakan hal ini bukan masalah besar, para anggota lain bisa menggantikannya memberi kesan, sementara untuk foto terpaksa diambil dari foto-foto lama yang sudah ada.

 

Baekhyun merebahkan dirinya disofa, berhadapan dengan televise seraya mengompres kening dengan selembar kain basah. Bukan maksud apa-apa…hanya agar kepalanya merasa sedikit lebih sejuk saja.

 

Sudah satu jam ia sendiri diasrama. Untuk wawancara semacam itu biasanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 jam.Ia mendesah pelan, ia masih harus sendirian dirumah selama dua jam kedepan.

 

Baekhyun meringis, perutnya menimbulkan suara aneh…lapar.

 

“Baekhyun, kau baik-baik saja?”

 

Suara tak asing itu membuat Baekhyun secara tak sadar meninggalkan posisi rebahannya…ia terdiam membiarkan kain basah dikeningnya jatuh kelantai.

 

“Kyungsoo?”

 

Singkat cerita, Kyungsoo sengaja mengambil giliran wawancara paling pertama.Dia jujur mengatakan ingin cepat pulang karena mencemaskan keadaan Baekhyun.

 

“Terima kasih Kyungsoo!” ujar Baekhyun seraya mengusap mulutnya yang sedikit basah sehabis menenggak segelas air putih tadi “Aku terselamatkan~”

 

Kyungsoo hanya tersenyum lalu merapikan meja makan tempat Baekhyun menyantap habis nasi goring kimchi buatannya.Ia membawa semua peralatan makan yang kotor ke bak cuci piring dan mencuci semuanya. Setelah semua selesai, ia menghampiri Baekhyun yang kini tengah duduk disofa menyaksikan saran televise.

 

“Bagaimana wawancaranya?”Baekhyun membuka percakapan tanpa berpaling dari menatap televisi.

 

“Berjalan lancar.Hanya saja karena aku selesai lebih awal, aku tidak tahu bagaimana situasinya sekarang.”

 

“Oh, begitu.”

 

Dilihatnya Baekhyun menikmati acara yang kini disaksikannya, tersenyum tipis membuat Kyungsoo merasa sangat bersalah telah menyakiti hati saudaranya tersebut. Tak pernah sekali pun Baekhyun marah, meski sikapnya memang sedikit lebih dingin…namun pemuda manis itu benar-benar tidak pernah menyumpahi atau mengutuknya.

 

Kyungsoo paham kalau Baekhyun sangat mencintai Chanyeol, ia bahkan tak berani menerka betapa sakit hatinya. Baekhyun pasti menderita, Baekhyun pasti merasa hancur…

 

Pemuda bermata purnama itu memainkan jemarinya dengan gugup, memainnkan ujung kemeja ditubuhnya dengan gelisah.

 

“B-Baekhyun…” panggilnya.

 

Pemilik nama yang disebut menoleh perlahan, menatap Kyungsoo dengan sorot mata tanpa dosa yang membuat Kyungsoo semakin merasa berdosa.

 

“Itu…a-aku…ng~” gugup Kyungsoo terbata, ia terus memainkan jemarinya, bola matanya menatap tak tentu arah pertanda kegelisahannya. Ia pun meneguk liur paksa “Maafkan aku!!”

 

Dan membungkuk dalam dihadapan Baekhyun.Tentu saja Baekhyun terkejut bukan main.

 

“Aku bersalah padamu! Aku memang tidak berguna, aku bodoh! Aku tidak tahu diri karena telah merebut kekasih orang, aku merasa hina, aku merasa malu padamu Baekhyun!”

 

“Kyu—“

 

“Kau boleh memukul—tidak! Bunuh saja aku sekalian! Jangan diam saja! Selama ini kau selalu diam saja, membuatku semakin merasa berdosa! Kenapa kau tidak pernah memarahiku?Kenapa kau tidak pernah menyumpahiku?! Aku telah membuat hubungan kalian hancur, Baekhyun! Jangan diam saja, katakan sesuatu, kata—“

 

Baekhyun melayangkan bantal sofa, menghantam wajah Kyungsoo.

 

“Tenanglah, Kyungsoo.”

 

Hening menyeruak, suara perputaran jarum jam terdengar jelas menggema menghentak jantung…nafas Kyungsoo terengah, isi kepalanya seakan masih kacau sehingga ia mengunci mulutnya rapat.

 

“Ada apa denganmu, Kyungsoo?” ucap Baekhyun tenang.

 

Kyungsoo menghapus peluh yang mulai bermunculan dipelipisnya “Maafkan aku…”

 

Baekhyun menghela nafas pelan, melihat Kyungsoo yang begitu rapuh dan terkekang rasa bersalah…benar, bukan hanya dirinya yang menderita.Ia kemudian melangkah mendekati Kyungsoo dan menepuk kedua pundaknya mantap.

 

“Kyungsoo, jawab pertanyaanku…” ucapnya tegas dengan menatap lekat, lengsung kepada sepasang mata bulat dihadapannya “Apa kau—“

 

Baekhyun menelan liur, dadanya terasa terhimpit sesuatu yang berat hingga tenggorokannya tercekat dan sulit mengeluarkan untaian kalimatnya.

 

Namun…ia telah memutuskan.

 

“Apa kau— benar-benar…menyukai Chanyeol?”

 

Kyungsoo sedikit tertegun, ia masih mengunci rapat mulutnya…namun raut wajah tegas Baekhyun dan cengkramannya yang kuat, membuat Kyungsoo tanpa sadar mengangguk pelan.

 

Oh, begitukah…Baekhyun fikir.

 

“Yasudah kalau begitu.” ujar Baekhyun seraya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

 

.

.

.

 

Makan malam hari ini berlangsung tak jauh berbeda dari biasanya. Jongin, Sehun dan Tao selalu ribut berebut makanan, Joonmyeon hanya tersenyum senang melihat betapa sehatnya para anggota termuda itu, sementara Wufan sibuk mengurut pelipisnya frustasi— ia paling tidak tahan dengan kebisingan sebenarnya, karena itulah merupakan hal yang aneh ia dapat memiliki kekasih seperti Tao yang luar biasa tidak bisa diam.

 

Kyungsoo tetap yang paling banyak memasak hidangan, Yixing dan Minseok hanya membantu dengan mencuci bahan atau mengambil ini-itu yang diperintahkan sang koki.

 

Semua terlihat biasa saja sampai ketika Baekhyun meletakan sumpitnya dan berdiri.

 

Kemudian—

 

“Chanyeol, Kyungsoo…aku mau bicara.”

 

Dan keputusannya adalah…

 

.

.

.

 

Chanyeol tidak percaya akan kenyataan bahwa dirinya kini berada disituasi saat ini. Ia merasa sesuatu kekuatan jahat mengutuk sekujur tubuhnya tanpa ampun. Menghujamkan ribuan paku, menjatuhkan jutaan batu dan…ia seolah dipaksa meneguk racun mematikan yang membuat seluruh bagian tubuh, urat syaraf dan aliran darahnya hancur tak bersisa.

 

Chanyeol merasa kini ia berada dibatas antara realita dan ilusi.

 

Ia merasa bingung apakah ia masih memijak dunia ataukah neraka.

 

“Chanyeol…kuputuskan untuk melepasmu.”

 

Suara lembut itu bagaikan membuat telinganya pengang hingga mencuratkan darah kental.Suara yang biasanya mengucap kasih dan cinta hanya untuknya…kini memutuskan untuk menghentikan semuanya, perjalanan cinta mereka, manisnya kisah-kasih cerita mereka selama ini.

 

Satu kalimat yang melintas dikepala Chanyeol…semua ini gila.

 

“Maafkan aku, Chanyeol…Kyungsoo…” ucap Baekhyun lirih, seraya menundukan kepala.

 

Tuhan, mengapa harus dirinya yang memohon maaf sebelum mulut ini sempat mengucapnya lebih dulu?Kata hati Chanyeol.

 

“Baekhyun, bicara apa kau! Jangan bercanda!” hardik Kyungsoo seraya mengucangkan tubuh Baekhyun, berharap pemuda manis itu sadar dari alam mimpi, namun sepertinya semua itu sia-sia…Baekhyun tidak tengah bermimpi.

 

Baekhyun melepaskan kedua tangan Kyungsoo dari pundaknya dengan hati-hati “Aku mungkin jahat karena memilih untuk mengakhiri semuanya dengan cara seperti ini. Tapi aku tidak sanggup lagi…rasanya seperti hampir gila.Seolah dunia ini terbalik, langit dibawah dan bumi diatas…aku mungkin memang sudah gila.”

 

Kyungsoo diam sejuta kata. Baekhyun bagai merendahkan diri dihadapannya dan Chanyeol…bagai pembela yang memohon keadilan untuk sang terdakwa dalam meja hijau.

 

Padahal…tidak ada keadilan untuk seorang terdakwa.

Namun Baekhyun bersedia memberikan keadilan miliknya…dengan mengorbankan diri sendiri.

 

Sejak tadi Baekhyun tak melemaskan kepalan kedua tangannya, entah seberapa besar rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya saat ini.Dan entah seberapa keras pula, usahanya menahan tangis hingga suaranya terdengar begitu lirih dan rapuh.

 

“Berada diantara kalian yang saling mencintai, seolah bagai dineraka.Karena itu kuputuskan untuk menyingkir dan memberikan jalan bagi kalian untuk bahagia.”

 

Baekhyun pasti sangat mencintai Chanyeol.

Namun luka dan derita telah menghancurkan dinding kepercayaan dihatinya hingga berkeping-keping.

 

Baekhyun pasti sangat mencintai Chanyeol…hingga ia memutuskan untuk melepas Chanyeol agar pemuda tampan itu dapat memilih jalannya sendiri.

 

Baekhyun pasti merasa sangat sedih, hancur dan terpuruk…hingga ia tak memiliki sisa tenaga lagi untuk marah, mengutuk atau pun menyumpahi.

 

“Terakhir yang ingin kukatakan adalah…aku benar-benar mengharapkan kebahagiaan untuk kalian berdua.”

 

Dan ia pun berlalu pergi terdorong oleh hembusan angin malam…namun Kyungsoo berhasil menarik lengannya dan membuat langkahnya terhenti.

 

Kedua mata sebulat purnama itu nampak digenangi oleh air kesedihan, Kyungsoo menggenggam erat sebelah tangan Baekhyun “Tidak, Baekhyun.Kumohon jangan seperti ini, maafkan aku.”

 

Baekhyun hanya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Kyungsoo “Kau juga berhak merasa bahagia, Kyungsoo.”

 

Kalimat terakhir dari sang pembela sebelum ia pergi dan menghilang. Bukan hanya dari tempat ini…namun juga menghilang dari kehidupan Chanyeol.

 

Lelaki bertubuh tinggi-tegap itu hanya terpaku.Ia masih berfikir jikalau semua ini hanya mimpi atau ilusi atau hanya acting atau hanya…

 

Chanyeol menjatuhkan tubuhnya, kedua kakinya tiba-tiba saja terasa bagai digerogoti jutaan rayap.

 

“Chanyeol!Kau baik-baik saja?!”Kyungsoo berlari menghampirinya.

 

Namun ia seperti mayat hidup…kedua matanya terbuka lebar tetapi pandangannya melayang entah kemana. Ia bernafas namun tak bergerak sama sekali, Chanyeol seperti lumpuh…ia seperti mayat hidup.

 

Ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara.

 

Ia merasa ingin bunuh diri.

 

Bukan Baekhyun yang melepasnya…namun ia sendirilah, yang telah melepas Baekhyun lebih dulu.

 

.

.

.

 

Langkah berat Baekhyun terdengar menuruni anak tangga satu persatu, dengan kepala tertunduk setelah meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo…hanya berdua dibalkon asrama mereka.

 

Ia masih bertahan untuk tidak menjatuhkan bulir air matanya, penglihatannya menjadi sedikit buram akibat air yang menggenang disana. Langkahnya sedikit lunglai hingga ia perlu berpegangan pada tepi tangga.

 

“Baekhyun…”

 

Sebuah suara mengharuskannya mengangkat kepala…tatapannya tetap sendu terhadap Tao yang memanggilnya dengan nada cemas.Baekhyun segera menyeka kedua matanya dengan salah satu punggung tangan yang segera ternodai jejak kesedihan.Tak lama kemudian seulas senyum tipis membentang melalui dua belah bibir kecilnya…Baekhyun tersenyum getir.

 

Ia tak cukup kuat untuk tersenyum lebih dari itu.

 

“Cinta pertamaku berakhir sudah.” ucapnya disela senyum tersebut.

 

Tao segera mengambil langkah dan menyelimuti tubuh kecil Baekhyun dengan pelukan hangatnya.Pemuda asli negeri seberang itu mendorong tengkuk Baekhyun agar bertumpu pada pundaknya.

 

Baekhyun hanya terdiam, dengan bibir yang menempel dibahu Tao, dalam rengkuhan hangat saudara terkasihnya itu, ia menatap semua saudaranya yang lain. Luhan, Minseok, Jongdae, Sehun, Wufan, Yixing dan Joonmyeon…Jongin pun…semua tersenyum tipis. Mereka memahami dirinya, mereka menerima keputusannya…semua bersedia mendampinginya disaat terburuk.

 

Hingga Baekhyun pun tak kuasa lagi menahan diri…dan memilih untuk memperdengarkan dawai kesedihannya yang begitu menyayat hati.

 

……………

 

 

OWARIMASHITA-

 

Jreng!

 

Aku ga suka CHANSOO, makannya saya bikin gantung *ngapain bikin!!*. Enak aja chanyeol mau hepi setelah bikin Baekhyun merana!

*lempar chanyeol pake Baekhyun— eh salah, pake obor*

 

Karakter Luhan disini, sedikit terinspirasi dari tokoh Alicia Florence dalam manga Aria: The Voyage from Neo-Venezia.

 

DEMI TUHAN! *gebuk meja* KALO GA NGERTI CERITA INI, GA USAH KOMEN!

Okay? Gedek baca komen ‘Saya bingung thor.’ Ato ‘Aduh, gimana sih ini jadinya ga ngerti.’ Serius, mending yg ga ngerti jadi SR aja saya ikhlas kok…

 

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih.

Salam serigala. AUUWOOOO!! *lha?

 

Author: *senyum manis depan Kai* Gue numpang teleport dong, cuk…males jalan euy!

Kai: *muka songong* emang gue babu elu?

Author: *todong idung kai pake piso* Kalo elu babu gue emang kenapa? Mau protes?

Kai: *langsung hormat tentara* SIAP BERANGKAT!

 

*kabur*

 

 

249 thoughts on “ONESHOT | HANASE

  1. Huaaaa demiapa ini nge feel banget ㅠㅠ kerenn ㅠㅠ
    Saking nge feelnya aku sampe bisa ngerasain apa yang dirasain Baekhyun ampe nyesek sendiri :’3
    Sakitnya tu disini =_=

    Keep wraiting thor!! ^o^

  2. Demiapa ini nge feel banget ㅠㅠ kerenn ㅠㅠ
    Saking nge feelnya aku sampe bisa ngerasain apa yang diarasain Baekhyun ampe nyesek sendiri :’3
    Sakitnya tu disini =_=

    Keeep wraiting thor!! ^o^

  3. Aigoo mataku berair/? T^T Chanyeolll *kejar pake golok/?* Canyol nyebelin ah disini -_- Hayo lu kan akhirnya/? Baekhyunnya kasian T^T Tapi itu emang jalan terbaik sih daripada dia nyesek gak berhenti-berhenti.Overall, ff nya bagus banget.Keep writing~

  4. sumpah,,,aku nangis TT TT apalagi pas baekhyun memutuskan n ngelepasin chanyeol!!..
    dasar si hanyeol jahat,,teganya kau membuat baekhyunkku menderita,,huaaa!!!!
    .
    .
    thor kenapa harus gini sih perjalanan cita mereka??>..tapi bagus kok,,aku seneng,,;D TT…qaku sedih thorrr..gx kbayang deh kalo jdi si baekhyun

  5. Sayaa ngerti banget thor sama cerita.a😀 sama saya juga ga suka chansoo, sensitif banget dah sama chansoo -_- tp saya suka chanbaek kaibaek baeksoo chankai kaisoo /gak nanya/
    seneng deh pas baek lg trpuruk gitu member lain pada nguatin dy trus apalagi chanyeol d.bikin nyesel ama perbuatan.a
    *rasain tuh yeol -_-

  6. *baekhyunberhatibaja* playlist #hatiyangtersakiti# sedih bgt yampun, kalo gue sih ane bikin tuh orang 2 nyesel senyesel2nya T^T baekhyun yg tabah ya huhu.. Gedek liat chansoo, gausah minta maaplah *brbnentenggolok*😐 . But ff nya kereeeeenn~ bisa mainin emosi readernya!!? Good job😀

  7. Astagaaaa
    aku paling benci ama chansoo
    baek kasihan… ini nyesekk… gimana ngebayangin kalo aku kayaj diaa…. aigoo…baek hebat ngerelain cinta pertamanya… tp untung masih ada yg support si bacon kayak tatao… uwaaaaa hiks hikss… feel nya dapet banget…

  8. Keren masa. chansoo musnah saja sana. pokonya pas baca ini aku terus mikir chanbaek always numb one. tp entah gimana ya apa emg kyungsoo tuh cocok jd pho chanbaek kli ya? /slapped/ AUTHOR GOOD JOB! CHANYEOL SARANGHAEYO /lah/

  9. gue nangis anjir, kejer ini doh x(

    Bekyun galau ya? sini nyanyi belah duren sama om/?
    ceyekitnya tuh di sini /remes dada/?
    ada chan…soo ciuman lagi doh, hati ini remuk sudah, syediiihhh ㅜㅜㅜ demi apa gue gasuka Chan…soo
    Canyul abis diputusin Bekyun langsung linglung, kesian, tapi lebih kesian sama Bekyun… sukurin aja buat Canyul .-.

    Luhan bijak weh, gantinya ustad Jongdae apa gimana? ‘-‘

  10. Kirain cuma aku doang yg gak suka CHANSOO ehhh ternyata banyak temennya yehet yehet hehehe. Hmmm nyesegg ya allah kalo ada di posisi baekhyun, tapi aku suka keputusan baekhyun yg mutusin chanyeol thorr, biar chanyeol ikutan menderita. Tapi lebih enak lagi kalo di bikin sequel deh thor nanti disana di gambarin penderitaan chanyeol sama kyungsoo gtu, trus baekhyun’y udh bisa move on. Pokoknya bikin CHANSOO sengsara merana berdosa deh yak thorr hehe

  11. Boleh tos kagak? ‘-‘

    Gua setuju banget noh! Saya juga benci Chansoo! Udh deh, Kyungsoo sama Kai aja napaaaah 😱

    Btw, saya sangat suka dengan ff ini *halah sok pake basa baku aja lu* ceritanya sangat menyayat (?) hati 😥

    Aku sakiiiit, aku sakit hatiiii ~ *nyanyi* *digampar author pake swallow ijo sehun* 💔

    Makathih ye eon, buat ff Chanbaeknya. Ane suka laah 👍

    Ditunggu update-an terbarunya 🙆

  12. Maaf agak terlambat komentnya thor soalnya maklum pembaca baru*aduh perkenalan terus mana komentnya, mian*sem ua unek” ku buat ni ff udah tersampaikan oleh readers yg lain jadi bingung mau ngomong apa. Yang jelas satu aku benci sama CHANSOO awas kalian ya tega banget bikin uri oppa nangis*mian lagi, keceplosan* kalo aku gak sayang sma uangku mungkin semua barang yg berhubungan sama chanyeol dan d.o udah ku bakar semua itu paling habis bca ini ff*alay* tapi daebak thor kebawa emosi jadinya pas bca ini. Kamsahabnida*bungkukin badan 90 derajat*.

  13. They are not worried to dream, as well as to long for everything they would such as to view occur to them in their lives.
    As time passes, a mysterious force begins to convince them
    that it will certainly be impossible for them to realize their Personal Tale.”.

  14. HUWAAA~ Mereka putus. Chanyeol jahat banget..
    Kasian kan Baekhyunnie~
    Kenapa sad ending? KENAPA? KENAPA? huks..

  15. Aku emang bukan tipe yang bakal nangis :’v
    Tapi ceritanya sukses bikin sesenggukan (apa bedanya cuk-__-)
    Aaaa kasian Baekhyun u,u kirain dia bakal berakhir sama Kai ;’v
    Tapi ceritanya gak bikin bingung kok ‘-‘/
    Ini mudah dimengerti :’3
    Ohoks nih komen makin gak jelas :’v
    Pokoknya terus berkarya author-nim

  16. Huhuhuhu ambyarrrrr sumpah ya chanyeol di sini tuh ughhh ngeselin banget, nyampe nangis pas baekhyun bilangan cinta pertamanya udah berakhir huhuhu :”( niatnya mau sholat padahal udah wudhu jd batal grgr nangis uh sumpah sedih banget :” authornya bisa banget bikin readers baper huhu bagus bagus aku suka itu(?) btw good job thor, luvv

  17. hai reader baru di blog mu/?
    gilaa keren banget ffnya, gk nyangka bakal kejeng” gitu jdnya /gggg
    nyesek bingit duh duhh gk kuat lg:'(
    aku berharap kalo ada sequelnya, tp isinya pgnnya sih chan menderita gitu trs gk ama kyungsoo jdnya. kyk menyadari perasaan kalo dia sebenernya lbh suka baek /plak
    tp sebel jg ama chan, sebenernya u suka ama siape sih??!?? laginya baek prgi aja u baru nyesel trs sedih, dasar tiang listrik. /emg tiang listrik/ /-_-“/
    duhh aku numpang jelajah isi blogmu ini ya authornim/?
    terus berkarya:v

  18. good job thor gua suka bgt bikinin sequel nya dong gua udah baca berkali kali tapi gk bosen bosen *nangis se ember biar tau gmn chanbaeksoo selanjut nya pengen nya mah chanbaek gk bersatu biar chansoo menderita *ketawa evile

  19. Yosh~
    Sempet menitikkan air mata pas bagian Baekhyun ngomong sama Jongin, lalu sama Suho dan Luhan. Sepertinya mereka bertiga itu motivator dadakan haha. But finally, this fanfict is very awesome. Nemu di blog yang ngerekomen ff ini. Awalnya iseng nyari ff bergenre angst dan ketemu 10080. Telat baca dan nyesel banget. Itu ffnya bagus kebangetan, *lol
    Di susul sama “Hanase” a.k.a “Said”. Baru menyadari sesuatu ketika judulnya terdengar familiar, ternyata authornya pecinta anime, manga dan bau jejepangan *sepertinya haha maaf sotau.
    Jalan ceritanya paham bener. Sayangnya gantung. Entah kenapa setiap ff yang saya baca selalu Kyungsoo yang menjadi penghancur. Nani sore-_-
    Tapi yaudahlah, namanya juga fanfiction yah. Da kitamah apa atuh cuman fans yang bisa mengkhayal setinggi langit dan sepanjang jalan kenangan *naon.
    Jja, matane. Author-san nya udah sughoi pisan sampe bikin saya nangis. Keep writing and ganbarruyo!^^

  20. Baru nemu ini ff dan..GUE NANGIS KEJER SEKEJER KEJERNYA THOR! AAAAAAAA sampe gatau mau ngomong apa,feelnya dapet pake banget,nyelekitnya apa lagi dan CHANSOO? KENAPA!? KENAPA HARUS BAEKHYUN YANG DIGINIIN? *peluk baek*

  21. Kreeennn daebakkkk… Untung author ga memperpanjang chansoo.. Gw ga suka chansoo.. Baca ff ini gw ngerasain rasanya jdi Baekkie, gw benci Kyungsoo (di ff ini).. Rasain lu Yeol !!! Mangkannya jgn pernah nyakitin hati Baekkie !!! Tau rasa lu !!! /Baper gw/ Aaahhhhh lu ngegantungin ChanBaek juga thor..

  22. APA APAAN??!! KENAPA AUTHOR TEGA BANGET SAMA BAEKHYUN?? KENAPA THOR KENPAAAA??😥 *mbak yuni yang sabar ya, aku akan melakukan segala cara agar chanyeol menyesal karena telah melepaskanmu :’)
    mungkin kalau disini dijelasin kenapa chanyeol ninggalin baekhyun dan lebih memilih kyungsoo pasti seru :v

  23. Eh demi apa ini sgini doang ? :-O yaampun kak gantung bgt ini aduh nanggung, gregetnya blm terlampiaskan ini !!
    Bikin si cy terpuruk, menyesal, dan jatuh lah pokoknya enak aja baekhyun saya dikhianatin gt aja !! Kyungsoo juga ih ..
    Asli saya juga ga suka pake bgt chansoo momen tuh

  24. Kalau yang lain pada nyesek bacanya. Aku mah malah bingung. Bukan bingung sama ceritanya kok thor. Aku bingung entu..gini..
    Si Baekhyun bilang “Kau berhak bahagia Kyungsoo..”
    Terus dalem hati aku malah mikirin si Kyungsoo bilang “Kau juga berhak bahagia Baekhyun..”
    Dan bla bla. Jadi seakan akan diimajiasi aku itu,keputusan Baekhyun ga sepenuhnya benar ga sepenuhnya salah (apa maksudnya ya?). Ya gitu deh. Imajinasi saya memang besar. Terus aku suka sikap Luhan diFF ini. Makin lope (hehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s